Anda di halaman 1dari 17

USULAN SKRIPSI

ANDRI SETIAWAN

PERANCANGAN TABUNG BIOGAS ISI 13 KG

Disusun Oleh :
ANDRI SETIAWAN
NIM : 201110120311103

JURUSAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2015

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Didalam kehidupan sehari hari, manusia mempunyai berbagai macam kebutuhan.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut terbagi atas tiga tingkatan yaitu kebutuhan pokok,sekunder
dan tersier. Bahan bakar merupakan salah satu dari berbagai macam kebutuhan manusia yang
tergolong sebagai kebutuhan pokok. Oleh karna kebutuhan bahan bakar merupakan hal yang
sangat vital, maka sangat perlu untuk dilakukan pemeliharaan dan pemanfaatan dengan
sabaik-baiknya. Sekarang ini bahan bakar menggunakan minyak tanah dan LPG (liguid
petroleum gas), tetapi bahan bakar seperti minyak tanah dan LPG terlalu mahal dan tidak
dapat diperbaharui, mayoritas penduduk Indonesia tidak mampu membeli bahan bakar
seperti LPG karena daya beli masyarakat sangatlah rendah ini bias dibuktikan dengan
melihat pendapatan per-kapita masyarakat Indonesia adalah Rp. 1,17 juta perbulan data ini
diambil dari BPLS untuk itu perlu pemanfaatan bahan bakar alternative seperti biogas.
Seperti contoh pemanfaatan biogas, pembuatan instalasi biogas. Instalasi biogas ini di
bangun di dusun kweni, kecamatan sewon, kelurahan panggung harjo, kabupaten bantul,
Yogyakarta.
Didusun kweni sendiri terdapat kandang kelompok sapi sehingga akan lebih
memudahkan ketika akan dibangun sebuah istalasi biogas, karena bahan baku berupa kotoran
sapi yang melimpah dibandingkan dengan kandang terpencar. Menurut Yunus (1987) bahwa
dalam sehari rata-rata seekor sapi menghasilkan 29 kg.
Awalnya masyarakat sekitar lebih banyak meletakkan kotoran sapinya di dekat
kandang sehingga hal ini dapat menimbulkan pencemaran udara, dan baru sedikit yang
dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk organic.

Digester yang dibangun menggunakan tendon air dengan kapasitas 2000 liter
sedangkan penampung gasnya berkapasitas 250 liter. Instalasi biogas ini merupakan
penggabungan antara fixed dome untuk digester dan floating drum untuk penampungan gas.
Digester yang di gunakan di tempatkan sebagian dalam tanah, hal ini di maksudkan
untuk menjaga temperatur tetap stabil sehingga tidak terjadi perubahan temperature.
Perubahan temperature akan mengakibatkan bakteri yang terdapat dalam digester menjadi
tidak optimal atau bahkan mati. Sedangkan penggunaan penampung gas secara floating drum
yakni dimaksudkan agar dapat diamati produksi biogas yang dihasilkan, dengan dihitung
kenaikan penampung gas yang diakibatkan oleh tekanan gas yang berada dalam penampung
gas tersebut.
Instalasi yang dibangun meliputi saluran inlet, digester, saluran outlet dan penampung
gas. Untuk mencegah timbulnya kerak pada dasar digester dan lapisan atas slurry, maka
dibuat sebuah pengaduk manual. Hal ini dikarenakan lapisan kerak dapat mencegah gas
yang akan keluar dari digester (anionim, 1981). Lapisan kerak tersebut dapat mempengaruhi
perkembangan microorganism yang erat hubungannya dengan produksi biogas. Pengadukan
juga memberikan kondisi temperature yang homogeny dalam digester (Taconi dalam Ginting,
2006). Menurut anonim (1981) pengadukan pada gester dapat meningkatkan produksi gas
sebesar 10-15% dibandingkan dengan yang tidak diaduk.
Untuk menghilangkan H2o yang ikut dalam aliran gas maka perlu adanya water trap.
Perangkap H2o biogas akan dilewatkan melalui pipa T yang terhubung dengan tabung air.
Uap air yang ikut bersama biogas diharapkan turun melalui pipa ke tabung penampungan air
(Yunus, 1987).
Biogas sendiri bukanlah teknologi baru dan tergolong teknologi yang mudah, baik
dalam hal pembuatan maupun perawatannya. Tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan
bahwa perawatan menjadi kendala utama dalam berkelanjutan biogas itu sendiri. Untuk
menghindari hal tersebut, sebelum membangun instalasi biogas terlebih dahulu kami
melakukan sosialisasi mengenai biogas. Dalam pembangunannya pun kami melibatkan peran
masyarakat dan menjelaskan teknis penggunaan instalasi biogas ini agar dapat dimanfaatkan
dengan naik. Untuk pemanfaatan gas tersebut belum dapat di tentukan, apakah untuk

penerangan ataukah memasak di sekitar kandang. Semoga dengan adanya instalasi biogas di
sewon, khususnya di dukuh kweni dapat membantu masyarakat sekitar dan tidak menambah
museum biogas lagi di Indonesia. Untuk itu peran masyarakat sangat penting dalam
berkelanjutan biogas ini. (Yunus, M, 1987)
Biogas sendiri sebagian besar di manfaatkan oleh warga desa yang mempunyai
peternakan, untuk itu pemecahan untuk solusi agar pemanfaatan biogas dapat maksimal,
maka saya merancang tabung sebagai penyimpan/pengemasan biogas.

1.2 Rumusan Masalah.


Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat di rumuskan permasalahan sebagai
berikut :
1. Bagaimana cara merancang tabung untuk biogas kapasitas 13 kg ?
2. Bagaimana menentukan kapasitas tempat penyimpanan/tabung biogas ?

1.3 Batasan Masalah.


Untuk mempermudah analisa dan agar permasalahan lebih terfokus maka di ambil
batasan masalah sebagai berikut :
1. Tabung yang di rancang mempunyai spesifikasi dan kapasitas yang telah di tentukan.
2. Tidak membahas secara detail proses produksinya.
3. Sistem pengelasan tidak di bahas secara detail.
4. Cara memasukkan biogas dan pencairan biogas dari gas menjadi cair tidak di bahas.

1.4 Tujuan Penulisan.


Adapun tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut :

Untuk mendapatkan hasil perancangan berupa gambar dasain tabung dengan kapasitas 13
kg.

1.5 Gambar Konsep.


Berikut adalah gambar konsep tabung biogas yang akan di rancang.

Gambar 1.5 Tabung Biogas Konseptual

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini di bahas tentang proses perancangan tabung biogas, bila di pandang
dari fungsinya sebagai penampung zat cair dan gas, maka tabung biogas dapat di kategorikan
bejana tekan.
Bejana tekan adalah tempat penampungan/penyimpanan zat cair dan gas dengan
tekanan lebih tinggi dari tekanan atmosfir.
2.1

Bahan Yang Digunakan.


Lembaran baja (steel plate) telah banyak di aplikasikan untuk tabung gas di mana

produsen bahan baku terbesar dalam negri seperti PT Krakatau steel telah lama membuat
bahan baku ini dengan spesifikasi SA 516-70 yang di mulai sejak tahun 1992.

Dalam rangka mendukung program pemerintah tenteng konversi energy dari minyak
tanah ke gas LPG, maka PT Krakatau Steel menyediakan bahan baku baja untuk aplikasi
tabung gas 3 kg dengan menggunakan spesifikasi SA 516-70. Seiring dengan kenaikan harga
minyak dunia. Maka program konversi energy ini dipercepat pelaksanaan nya. Hal ini
berdampak pada kebutuhan akan pengadaan tabung LPG meningkat dengan drastic yang
tidak diimbangi dengan pengadaan (supply) tabung LPG yang memadai oleh produsen
tabung gas dalam negri. Keterbatasan pemenuhan tabung gas oleh produsen local dalam
waktu singkat untuk memenuhi kuota tabung gas 3 kg dari pemerintah, maka pemerintah
membuka peluang impor tabung LPG 3 KG dari luar negri. Sementara itu control kualitas
bahan baku (steel plate) secara umum kurang diperhatikan sehingga banyak kejadian dimana
produk tabung mengalami kerusakan (failure) seperti bocor (leak) dan meledak (burst) di
dalam penggunaanya di lapangan.
Untuk itu dilakukan pengkajian karakteristik bahan baku (raw material) untuk
produksi tabung gas 3 kg yang berasal dari produk local dan produk impor secara metalurgi.
Adapaun pengujian yang di lakukan adalah pengujian tarik (tensile testing),
keuletan(elongation), struktur mikro (micro-structure) serta pengamatan inklusi dari kedua
produk terseabut.
Adapun spesifikasi yang dipersyaratkan dalam menggunakan bahan baku (raw
material) untuk tabung gas 3 kg yang berlaku di Indonesia harus memenuhi SA 516-70 dan
persyaratan tabung gas SNI 1452:2007
Spesifikasi bahan yang di gunakan : SA 516-70
Dengan komposisi sebagai berikut :

C
S
Mn
Si
P
Tensile strength
Yield strength
Tegangan max

: 0,3 %
: 0,04 %
: 0,85-1,20 %
: 0,15 %
: 0,035 %
: 70.000 psia
: 38.000 psia
: 17.500 psia

(Sumber : www.ancofer.de)

2.2

Pembentukan Lembaran Logam.


Kemampuan untuk menghasilkan berbagai bentuk dari lembaran logam datar dengan

laju produksi yang tinggi merupakan kemajuan teknologi yang nyata menjelang abad ke dua
puluh satu ini.
Pada pokoknya suatu bentuk di hasilkan bahan lembaran logam dapat di lakukan
dengan berbagai proses antara lain :

2.2.1

Proses Pelengkapan (roll bending).


Proses Pembentukan

Proses Pelengkungan (roll bending).


Proses pelengkungan dimaksud untuk memberikan bentuk yang silindris. Mesin ini

terdiri dari tiga roll yang berdiameter sama. Dua buah diantaranya tetap dan yang satu lagi
dapat diatur letaknya. Plat logam masuk diantara roll tersebut dan terjadi pelengkungan.
Diameter akhir dapat diatur dengan mengatur letak roll yang bergerak makin dekat dengan
roll tetap makin kecil diameter akhir mesin ini terdapat dalam berbagai bentuk plat tipis
hingga plat 30 mm. (Amsted, 1995)

Gambar 2.2.1 Pelengkungan Plat

2.2.2

Pembengkokan (bending)
Pembengkokan adalah suatu proses pembentukan yang digunakan untuk mengubah

plat lembaran menjadi bentuk saluran, drum, tabung, tangki dan lain-lain. Definisi dan
istilah-istilah yang digunakan pada pembengkokan di lukiskan pada gambar 2.3 jari-jari
kelengkungan pada sisi bidang cekeng kepada dan permikaan bagian dari lengkungan. (Sirait
Japri, 1990)

Gambar 2.2.2 Proses Pembengkokan Plat

Untuk pekerjaan pembengkokan tertentu jari-jari pembengkokan tidak dapat lebih


kecil dari nilai tertentu karena logam akan mengalami retak di permukaan luar jari-jari
pembengkokan minimum biasanya di nyatakan sebagai kelipatan tebal lembaran.
Ada istilah 3T yang menunjukkan bahwa logam dapat di lengkungkan tanpa retak
sampai jari-jari kelengkungan sama dengan tiga nilai ketebalan plat lembaran. Jari-jari
kelengkungan dianggap sebagai batas pembentukan. Nilai jari-jari minimum pembengkokan
tergantung dari jenis logam. Walau beberapa logam yang sangat ulet mempunyai jari-jari
lengkungan minimum sama dengan nol, yang berarti logam ini dapat dilipat rata, biasanya di
gunakan jari-jari bengkokan lebih besar dari (1/32 inc) untuk mencegah kerusakan dan
kebocoran.
2.2.3 Masalah Yang Timbul Dari Pembengkokan.
Dalam menghitung atau merencanakan operasi dimana plat mengalami proses
pembengkokan, maka harus di perhatikan hal-hal sebagai berikut :

Radius bending minimum


Diameter dalam dari lembaran plat minimum yang dapat di tekuk tanpa terjadi

robekan (crak) pada saat proses pembengkokan. Karena pada operasi pembengkokan plat
mengalami tegangan tekan.

Spring back
Dalam proses pembentukan logam pada proses pembengkokan spring back adalah

suatu proses di mana logam yang telah mengalami proses pembengkokan akan berusaha
kembali ke bentuk semula. Hal ini di karenakan tegangan sisa yang ada dalam logam pada
daerah pembengkokan pada saat beban di hilangkan akan mempengarui bentuk logam
tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi spring back adalah :

a. Jenis material
Makin besar modulus suatu bahan, maka spring back yang akan terjadi akan semakin
kecil. Harga spring back dari suatu bahan logam.
Contoh :

Baja karbon rendah dan bahan lunak spring back yang terjadi 0-20 (crill donalson

hal 735)
Untuk 0,40-0,50 carbon stell dan material yang kekerasannya sedang spring back
yang terjadi sekitar 10-15

b. Radius bending.
Makin besar radius banding maka makin besar pula spring back yang terjadi. Tetapi
jika radius banding kecil akan menimbulkan keretakan atau robekan pada daerah
tekukan.
c. Sudut bending.
Makin besar sudut bending maka semakin besar pula sudut spring back yang terjadi.

2.3

Perhitungan Gaya Pengerollan.


Untuk mempermudahkan perhitungan gaya dan proses pengerolan, maka gaya aksi-

reaksi yang terjadi dapat di asumsikan terjadi sebagai berikut :

Gambar 2.3 Gaya Pengerollan

Benda kerja dengan panjang (1) yang di tumpu pada dua buah roll mendapat gaya tekan
sebesar (P) dari roll atas, maka akan mengakibatkan terjadinya tegangan pada benda kerja.
Dengan memberikan tegangan diatas tegangan elastis dari benda kerja, maka akan terjadi
perubahan plastis pada benda kerja. Dengan berputarnya roll bawah maka seluruh benda
akan kerja akan mendapat gaya tekan yang sama besarnya sehingga di dapatkan bentuk
dengan diameter (D) yang sama. Dengan membolak-balikkan arah putaran roll disertai
penambahan gaya tekan sedikit demi sedikit pada arah kerja, sehingga didapat lingkaran
silindris seperti diinginkan. Akibatnya gaya tekan roll atas, maka benda kerja akan
mengalami gaya pengerollan (F) yang dapat dicari dengan rumus :
F = K.L.S.T

Dimana :
F= gaya pengerollan (Kg)
K= Konstanta pengerollan (0,33-0,6)
L= Panjang pelengkungan (mm)
S= Kekuatan tarik bahan (Kg/mm)

W= Lebar daerah deformasi (mm)

2.3.1

Daya Yang Dibutuhkan


Daya yang dibutuhkan untuk memutar roll adalah :
Nr =
Dimana :

M= momen punter yang terjadi (ton-m)


N= putaran roll (rpm)
Besarnya momen punter yang terjadi adalah :
Mr =
Dimana :
F= Momen punter yang terjadi (ton)
D= Diameter roll (m)
Besarnya momen punter yang terjadi adalah :
Nr =
Dimana :
Vr = Kecepatan pengerollan (m/det)
D = Diameter roll (m)

2.3.2

Menghitung Volume Tabung


Tabung ABPQ memiliki unsur-unsur yaitu :

AB adalah Diagonal
OA,OC dan OB adalah jari-jari
AP dan BQ adalah Tingginya

Gambar 2.3.2 tabung


Sumber : Drs. Didik Sugeng Bangun Ruang Sisi Lengkung
Rumus volume tabung.
Volume tabung = Luas alas x tinggi
Atau . r x t
Karena tabung memiliki alas berbentuk lingkaran, dan luas lingkaran adalah . r maka
volume tabung adalah .r x t
2.4

Contoh Tabung Yang Ada


Sekarang ini penggunaan tabung energy hanya terbatas pada LPG seperti pada

gambar berikut ini contoh tabung LPG dengan kapasitas 3 dan 12 kg :

Gambar 2.4 tabung LPG kapasitas 12 dan 3 kg


Sumber : www.pertamina.com
(pertamina, 2007)

2.5

Komposisi kimia produksi biogas.


Komposisi biogas yang dihasilkan dari fermentasi dari fermentasi tersebut terbeser

adalah gas Methan (CH ). Bahan bakar yang berasal dari gas Bio mengandung :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Methan (CH )
Karbon dioksida (CO )
Nitrogen (N )
Karbon Monoksida (CO)
Oksigen (O )
Hidrogen Sulfida (H S)

54%-70%
27%-35%
0,5%-2%
0,1 %
0,1 %
Kecil.

Gas methan (CH ) yang merupakan komponen utama biogas merupakan bahan
bakar yang berguna karena mempunyai nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu sekitar 48006700 kkal / m, sedangkan gas metana murni mengandung energy 8000 kkal/m.
Ditegaskan (singh,2005) biogas sebagian gas mengandung gas metana (CH ) dan
karbon dioksida (CO ), dan berapa kandungan yang jumblahnya kecil diantaranya Hidrogen
Sulfida (H S) dan Ammonia (NH ) serta hydrogen (H ), Nitrogen yang kandungannya sangat
kecil. Energi yang terkandungdalam biogas tergantung dari konsentrasi metana (CH ).
Semakin tinggi kandungan metana maka semakin besar kandungan energy (nilai kalor) pada
biogas, dan sebaliknya semakin kecil kandungan metana semakin kecil nilai kalor. Kualitas

biogas dapat ditingkatkan dengan memperlakukan beberapa parameter yaitu :


menghilangkan hydrogen suplhur, kandungan air dan karbon dioksida (COC )

2.6

Proses Pengelasan
Proses pengelasan yang cocok pada tabung adalah las ikat dan las akar, karena

melalui 2 proses untuk pembuatan tabung. Proses penyambungan tabung di bagi menjadi 2
bagian yaitu :

Sambungan longitudinal : pada tabung


Sambungan circumferential : antar tabung dengan tabung dan antara tabung dan
head.

2.6.1

Penentuan bentuk alur dan sambungan


Sambungan pada pengelasan ini yaitu tumpul, yang alurnya berbentuk V seperti pada

gambar 2.4 dimana di setiap pengelasan ini setiap tahap di control kualitasnya.

Gambar 2.6.1 Detail Sambungan


Sumber : harsono W.S teknologi pengelasan

2.6.2

Las Ikat
Las ikat merupakan bagian dari las akar. Karena itu mutu las ikat paling tidak harus

sama atau lebih baik dari las utamanya. Las ikat dilakukan sebelum pengelasan utama dengan
maksud untuk mempermudah penyetelan sehingga celah alur sesuai dengan pra-syarat dan
tidak berubah selama penyetelan utama. Untuk proses ini digunakan pengelasan elektroda
terbungkus.
2.6.3

Las Akar
Las lapisan uatama pada celah akar dimana las akar. Las akar ini digunakan untuk

menahan daya tembus dan pemetrasi dari las busur listrik terendam dan merupakan bagian
dari pengelasan utama. Elektroda yang digunakan sama dengan pengelasan ikat.

Gambar 2.6.3 Proses Pembentukan


2.6.4

Back chiping (Alur Las).

Pada penyambungan dengan las akar biasanya terjadi cacat seperti pengerasan, retak,
rongga halus dan pencampuran terak karena penembusan yang kurang atau pendinginan yang
terlalu cepat, sehingga untuk mengurangi hal tersebut, maka sebelum di lakukan las luar (Out
Weld), maka cacat tersebut harus dibuang ini di sebut back chiping.
Cara untuk back chiping adalah pengikisan dengan gerinda. Merupakan
cara paling mudah tetapi waktu yang dibutuhkan lebih lama tetapi alur yang di hasilkan akan
lebih baik dan bersih.

2.6.5

Las Luar
Untuk las luar yang merupakan pengelasan utama digunakan las busur redam

pemilihan ini berdasarkan pada kualitas hasil pengelasan yang baik dengan afisiensi yang
tinggi. Urutan pengelasan ini dilakukan berlapis, lapis, maksud untuk menghindari agar lasan
tidak tembus karena alur yang digunakan besar dan penetrasi.

Gambar 2.6.5 Urutan Pengelasan


Sumber : harsono. W.S teknologi pengelasan