Anda di halaman 1dari 12

Struktur dan Mekanisme Kerja Otot Tungkai

Kelompok D5
Novalia
Fridolyn Edgar
Nia Uktriae
Anthony Tjajaindra
Kevin Aldriano
Angela Winoto
Sisilia Sintia Dewi
Citra Wulandari

102012079
102014063
102014113
102015033
102015053
102015110
102015184
102015240

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna utara No. 6 Jakarta Barat 11510. Tlp. 5666952
anthony.2015fk033@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak

(sken 9)

Tanpa otot, tulang dan sendi tubuhmu tidak data bergerak. Otot merupakan penggerak
seluruh rangka tubuh, sehingga disebut sebagai alat gerak aktif. Hampir 40 hingga 50 persen
massa tubuh kita merupakan jaringan otot. Masing-masing otot memiliki fungsi kerjanya yang
berbeda satu sama lainnya sesuai dengan letaknya. Otot terbagi menjadi 3 macam, otot polos,
otot lurik, dan otot jantung. Otot polos memiliki inti ditengah dan berbentuk fusiformes. Otot
lurik memiliki bentuk gelondong, dengan initi berada dipinggir dan tersusun atas myofibril. Otot
jantung merupakan gabungan otot polos dan otot rangka, yang dimana memiliki bentuk
gelondong dengan inti di tengah. Otot berkontraksi dengan menggunakan ATP yang di hasilkan
pada proses fosforilasi oksidatif dari hasil pemecahan oksigen serta kalsium yang dikeluarkan
dari endoplasmik retikulum.
Kata Kunci: Otot polos, otot lurik, otot jantung, fosforilasi oksidatif, endoplasmik retikulum.
Abstract
Without muscles, bones and joints of our body cannot move. Muscles are driving the
whole skeleton, known as active moving system. Nearly 40 to 50 percent of our body mass is
muscle tissue. Each muscle has its function are different from each other according to its
location. Muscles are divided into 3 types, smooth muscle, striated muscle, and cardiac muscle.
Smooth muscle has a core in the middle and have fusiform shape. Striated muscle has a spindle
shape, with the original core is located alongside and composed of myofibril. The heart muscle
is a combination of smooth muscle and skeletal muscle, which has a spindle shape with a core in
the middle. Muscles contract by using ATP which is derived in the process of oxidative
phosphorylation of the breakdown of oxygen and calcium released from the endoplasmic
reticulum.
Keywords: smooth muscle, striated muscle, cardiac muscle, oxidative phosporilation,
endoplasmic reticulum.
Pendahuluan
Tubuh manusia terdiri atas tulang yang membentuk struktur tubuh, otot yang
menggerakannya serta sendi yang menjadi poros pergerakan rangka. Di dalam tubuh kita sendiri
terdapat 206 tulang di dalam tubuh kita yang dibagi menjadi ossa axiales (80 ossa) dan ossa

appendiculares (126 ossa).1 Ototlah yang berperan sebagai penggerak seluruh 206 tulang dalam
tubuh manusia beserta organ-organnya.2
Otot di dalam tubuh memiliki 4 ciri umum, yaitu (1) iritabilitas (peka terhadap rangsang),
(2) kontraktil (mampu memendek dan menebal), (3) relaksasi (mampu memanjang, (4) elastisitas
atau mampu kembali ke bentuk semula setelah kontraksi atau relaksasi.1
Pada organ ekstremitas inferior, otot dirancang sebagai penahan berat, keseimbangan dan
pergerakan. Otot dan tulang pada organ ekstremitas bawah cenderung lebih besar dan tebal
dibandingkan dengan organ ekstremitas atas, sesuai dengan fungsinya. Otot paha yang besar dan
tebal dapat menahan tekanan yang lebih besar, sedangkan kaki bertindak sebagai jangkar untuk
mengakarkan badan kita ke tanah.3
Pada penulisan makalah ini, penulis akan meniti beratkan pada pembahasan mengenai
otot baik dari segi makroskopis, maupun mikroskopis, serta mekanisme cara kerja otot
khususnya pada daerah inferior dengan harapan agar pembaca dapat memahami dengan baik
sistem muskular pada tubuh.

Contoh Kasus
Seorang laki-laki datang dengan keluhan nyeri pada pergelangan kaki kanannya karena terkilir
sewaktu main sepak bola.
Struktur Makro
Organ ekstremitas inferior termaksud dalam tulang ossa appendiculares yang terbagi atas
cingulum membri inferior (os coxae) dan ossa memberi inferior libera yang terbagi menjadi

regio femoris, region cruris, dan regio pedis. 4,5 Pada regio femuris, dapat ditemukan tulang
femur. Di pada bagian cruris, terdapat tulang tibia dan fibula. Kedua region ini dibatasi oleh
patella. Dibawah region cruris terdapat region pedis yang terbagi atas tarsal, metatarsal, dan
phalang pedis.
Os coxae terbagi atas os ilium, os ischium, dan os pubis. Ketiga tulang ini terhubung
secara sinostosis pada fossa acetabuli. Os coxae akan bersendi dengan os sacrum yang nantinya
akan membentuk rongga panggul.5
Pada region femoris, terdapat tulang femur yang terbagi atas caput, corpus, dan
collum dengan distal dan proximal. Tulang ini bersendi dengan ocetabulum
dalam struktur persendian panggul dan bersendi dengan tulang tibia pada sendi
lutut.6

Pada pangkal paha terbagi atas otot bagian dalam, dan otot bagian luar. Otot pangkal paha
bagian dalam meliputi M. psoas major, M. psoas minor, dan M. iliacus. Sedangkan pada otot
pangkal paha bagian luar terdapat M. gluteus maximus, M. gluteus medius, M. gluteus minimus,
M. piriformis, M. obturator internus, M. gemellus sup et inf, M. quadratus femoris, M. obturator
externus, dan M. tensor fasciae latae.1
Pada regio femoris, otot terbagi atas M. extensor sendi lutut, M. adductor femoris, dan M.
flexor sendi lutut. 1
1. M. ekstensor sendi lutut (paha ventral)
M. sartorius
M. quadriceps femoris
M. articularis genus
2. M. adductor femoris (paha medial)
M. pectineus

M. abductor longus

M. gracilis
M. adductor brevis

M. adductor magnus
M. adductor minimus

3. M flexor sendi lutut. (paha dorsal)


M. biceps femoris
M. semitendinosus
M. semimembranosus
4. Pada regio dekat lutut, ada region yang dinamakan dengan pes anserius, yang dimana
merupakan titik pertemuan antara 3 tendon M. Sartorius, M. gracilis, dan M.
semitendonious. 1
5.

Pada region cruris, region yang meliputi tulang tibia dan fibula, terbagi

atas 3 otot, otot fleksor, otot ekstensor, dan otot peronaei. 1


1. Otot fleksor
a. Otot fleksor lapisan dangkal
M. gastrocnemius
M. soleus
M. plantaris
b. Otot fleksor lapisan dalam

M. popliteus
M. flexor digitorum longus
M. tibialis posterior
M. flexor hallucis longus

2. Otot ekstensor
M. tibialis anterior
M. extensor digitorum longus
M. extensor hallucis longus
M. peroneus tertius
3. Otot peroneus
M. peroneus longus
M. peroneus brevis
4. Pada region pedis, otot-ototnya terbagi atas otot dorsum pedis, dan otot planta pedis. 1
1. Otot dorsum pedis
a. M. ekstensor digitorum brevis
b. M. extensor hallucis brevis
2. Otot planta pedis
a. Otot jari kaki I
M. abductor hallucis
M. flexor halluces brevis
M. adductor hallucis
b. Otot jari kaki V
M. abductor digiti quinti
M. flexor digiti quinti brevis
M. opponens digiti quinti
c. Otot ruang tengah kaki
M. flexor digitorum brevis
M. quadratum plantae
M. lumbricales
M. interossei plantares
M. interossei dorsales
5. Struktur

Gambar 1. Otot Ekstremitas


Bawah.

Mikro
6.

Berdasarkan bentuknya, otot


terbagi atas otot polos, otot lurik, dan otot jantung.7 Otot polos merupakan otot yang
ditemukan pada organ pencernaan dan juga pembuluh darah. Otot ini berbentuk

fusiformis dan memiliki sistem persyarafan otonom yang bekerja secara tidak sadar.
Berbeda dengan otot lurik yang menempel pada tubuh, otot lurik memiliki bentuk
gelondong dengan kedua ujung yang meruncing dan bekerja sesuai dengan komando
syaraf sadar. Otot jantung merupakan sistem otot yang unik. Otot ini memiliki bentuk
bergaris-garis seperti otot lurik, namun bekerja secara tidak sadar seperti otot polos. Otot
jantung juga memiliki kemampuan untuk berkontraksi secara terus menerus, dan bekerja
tanpa dipengaruhi oleh sistem syaraf pusat. Uniknya, otot jantung dapat memperlambat
maupun mempercepat pemompaan darah dengan pengaruh interaksi syaraf simpatetik
dan syaraf parasimpatetik tanpa dapat dipengaruhi secara sadar.1,8

7.
8.

9.

Gambar 2. Otot Polos, Otot Lurik, dan Otot Jantung.9


Otot polos dibagi menjadi 2 tipe berdasarkan jumlah syarafnya. Pada otot polos
tipe multi-unit, pada 1 serat otot terdapat 1 saraf. Oleh sebab itu, otot polos tipe ini
lebih cepat berkontraksi ketika mendapat respon. Berbeda dengan otot polos tipe
viseral yang memiliki 1 syaraf untuk banyak otot dan harus berkomunikasi melalui
gap junction, sehingga cenderung lebih lambat untuk berkontraksi. 1

10.

Bila di lihat dalah mikroskop, otot polos akan menunjukan bentuk fusiformis
dengan bentuk yang membesar di tengah dan lancip di kedua ujungnya yang memiliki

panjang 30 200 m dan diameter 5-10 m dan terletak pada lapisan tunika
muskularis saluran pencernaan dan pembuluh darah. 1
11.

Berbeda dengan otot polos, otot jantung memiliki bentuk sel yang

bercabang-cabang dan memiliki garis gelap terang seperti otot lurik. Namun, yang
membedakan otot jantung dan otot lurik adalah intinya yang berada di tengah seperti otot
polos, dan bekerja secara otonom pula. Otot jantung memiliki diskus interkalaris yang
memisahkan seratnya yang satu dengan serat lainnya. 1,8
12.

Otot rangka tersusun oleh sarkolema, sarkoplasma, nucleus, mitokondria,


reticulum endoplasmic, dan miofibril yang tersusun atas aktin dan myosin. Myofibril
dapat disebut juga sebagai sarkomer. Sarkomer terbentuk atas garis terang (pita I/
isotropik) adalah daerah dimana hanya terdapat filamen tipis/aktin, garis-garis gelap
(pita A/ anisotropik) adalah daerah dimana filamen tipis dan tebal saling bertindihan.
Pada garis gelap terdapat daerah terang yang disebut pita H. Pita H terdiri dari
senyawa aktin. Pada pita I terdapat daerah gelap yang disebut pita Z. Pita Z
merupakan batas antara sarkomer yang satu dengan sarkomer yang lain dan tersusun
atas suatu protein titin.1,8

13.
14.

Gambar 3. Sarkomer.10

15.

Jaringan otot dikelilingi oleh jaringan ikat. Jaringan ikat yang mengelilingi
serabut otot dinamakan endomisium, ada pula jaringan ikat yang mengelilingi berkas
otot dinamakan perimisium, dan jaringan ikat yang mengelilingi kumpulan berkas
otot dinamakan epimisium.

16. Mekanisme Kerja Otot


17.

Otot merupakan jaringan penyusun 40-50 persen dari tubuh kita yang memiliki
fungsi sebagai alat gerak untuk mendorong dan menarik tulang, mempertahankan
postur tubuh untuk menahan tekanan, dan sebagai penghasil panas sebagai pengatur
suhu tubuh. Untuk menyokong fungsinya, otot memiliki karakteristik yang
eksitabilitas, yaitu peka terhadap rangsang, dan respon terhadap stimuli. Selain itu,
otot juga memiliki sifat kontraktilitak (memendek) dan ekstensibilitas (meregang bila
ditarik), serta elastisitas yang dimana akan kembali panjang atau kembali ke bentuk
semula setelah kontraksi atau ekstensi. 1,8

18.

Mekanisme kontraksi otot diawali dengan pelepasan asetilkolin oleh potensial


aksi motor neuron yang ditangkap oleh reseptor Ach dan menyebabkan potensial aksi
otot. setelah Ach di tangkap oleh reseptornya, maka endoplasmic reticulum akan
melepaskan Ca2+ yang nantinya akan berikatan dengan troponin C yang akan
menggeser tropomiosin pada aktin filamen tipis sehingga myosin yang sudah
tertempeli ATP dapat menarik aktin sehingga terjadinya kontraksi. Ketika ATP habis,
maka otot akan kembali berelaksasi. 1,8

19.

Kontraksi otot terbagi menjadi 2 macam, ada kontraksi isotonik, yaitu ketika
tegangan otot lebih besar daripada masa beban, yang mengakibatkan otot memendek

dan beban dapat terangkat. Ada pula kontraksi yang lain, yaitu kontraksi isometrik,
yaitu ketika masa beban lebih besar daripada tegangan otot, sehingga otot tidak
memendek. Kekuatan tegangan otot ini dipengaruhi oleh panjang otot dan jumlah
sarkomer aktin-miosin yang berikatan. 1,8
20.

Pada tahun 1844, seorang ilmuwan yang bernama James P Joule mencetuskan
hukum kekekalan energi yang menjelaskan bahwa suatu energi tidak dapat diciptakan
atau dimusnahkan, melainkan di ubah menjadi suatu bentuk yang lain. 11 Hukum ini
yang menjadi dasar efisiensi otot, dimana energi yang kita hasilkan tidak sepenuhnya
digunakan, hanya 18-26% yang kita gunakan. Sisanya akan di konversikan menjadi
energi panas, sehingga muncullah suatu rumus efisiensi otot:
21. Efisiensi Otot = (kerja yang dilakukan / energi yang dibutuhkan) x 100%

22. Metabolisme otot


23.

Otot merupakan tranduser biokimia yang mengubah energi kimia potensial dalam
tubuh menjadi energi kinetik. Agar otot dapat bergerak dengan baik, perlu adanya
ATP dan keratin-P. keratin-P merupakan sumber cadangan energi yang dihasilkan
oleh ATP yang berlebih pada masa istirahat. Ketika keratin-P tidak cukup untuk
melakukan kontraksi, maka akan terjadinya reaksi glikolisis yang memecahkan
glukosa/glikogen menjadi ATP. Bila terjadinya kekurangan oksigen selama kontraksi,
maka akan terjadinya reaksi anaeorob yang akan menghasilkan asam laktat sebagai
produknya. Asam laktat inilah yang nantinya akan menyebabkan rasa pegal pada otot.
ketika otot kembali beristirahat dan mendapatkan suplai oksigen kembali, maka asam
laktat akan dipecah menjadi ATP yang baru.12

24. Perubahan Otot


25.

Sama seperti hal lainnya, otot pun juga dapat mengalami perubahan, yang dimana
perubahan otot terbagi menjadi 2 macam, perubahan secara hipertrofi yang dimana
otot mengalami pembesaran karena menjalani suatu latihan yang mengakibatkan
fibril, lemak, enzim, mitokondria, mioglobin, serta kapiler bertambah. Perubahan
lainnya yaitu atrofi, yang dimana fungsi otot tidak berjalan dengan semestinya
sehingga mengalami kelumpuhan yang disebabkan oleh gangguan pada otak dan saraf
motorik. Perubahan atrofi otot ini dapat di minimalisir dengan menjalani fisioterapi
pasif.1

26. Kesimpulan
27. Terkilirnya kaki seseorang merupakan gangguan pada otot di ekstrimitas bawah
akibat dari peregangan otot yang berlebihan atau dilakukan secara tiba-tiba karena
melakukan gerakan yang salah. Penyebab lainnya adalah keadaan duduk yang tidak
berpindah, sehingga otot menjadi kaku dan rentan terkilir.
28. Daftar Pustaka
1. Sumadikarya IK, Setiabudi IR, Mirza I, Kasim YI, Kindangen K, Salim D, et al. Modul
blok 5: muskuloskeletal 1. Jakarta: Universitas Ukrida; 2016.
2. Wikipedia. 15 Maret 2016.wikipedia.org. Diakses pada 24 Maret 2016.
3. Marklund I, Klassbo M. Effects of lower limb intensive mass practice in poststroke
patients: single-subject experimental design with long-term follow-up. Clin Rehabil.
2006 Jul;20(7):568-76.
4. Widyastuti P, editor. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta : Penerbit Buku
29. Kedokteran EGC ; 2003.
5. Moore KL, Agur AM. Laksman H,alih bahasa. Anatomi klinis dasar. Jakarta: Penerbit
Hipokrates;2006.

6. Putz R, Pabst R. Atlas anatomi manusia sobbota: batang badan, panggul, extremitas bawah. Edisi
ke-22. Jakarta: EGC; 2006.h.275-277.

7. Sloane E. Veldman J,alih bahasa. Anatoni dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC;2002.p.109-30.
8. Hall JE, Guyton AC. Textbook of medical physiology. United States: Elsevier; 2010.
9. Fungsi. 16 April 2015. Fungsi.web.id. Diakses pada 27 Maret 2016.
10. Biologigonz. 31 Oktober 2011. Biologigonz.blogspot.co.id. Diakses pada 27 Maret 2016.
11. Wikipedia. 23 Februari 2016.wikipedia.org. Diakses pada 24 Maret 2016.
12. Tortora GJ, Derrickson BH. Principles of anatomy and physiology: organization, support
and movement, and control systems of the human body. Edisi ke-12. Asia: Wiley; 2009.
h. 337, 404-408.
30.
31.
32.