Anda di halaman 1dari 33

KONSEP DASAR PENYAKIT GASTRITIS

A. Pengertian
1. Gastritis adalah proses inflamasi pada mukosa dan submukosa lambung
(Sudoyo, 2006).
2. Gastitisadalah suatu peradangan mukosa lambung yang dapat bersifat
akut, kronik, difus, atau lokal yang di sebabkan oleh bakteri atau obatobatan (Price, 2005).
3. Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung. Gambaran klinis yang
ditemukan berupa dispepsia atau indigesti (Mansjoer, 2001).
4. Gastritis adalah peradangan permukaan mukosa lambung yang akut
dengan kerusakan-kerusakan erosi. Erosi karena perlukaan hanya pada
bagian mukosa(Inayah, 2004).
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa gastritis adalah
peradangan pada mukosa lambung dan submukosa lambung yang bersifat
secara akut, kronis, difus atau lokal akibat infeksi dari bakteri, obat-obatan
dan bahan iritan lain, sehingga menyebabkan kerusakan-kerusakan atau
perlukaan yang menyebabkan erosi pada lapisan-lapisan tersebut dengan
gambaran klinis yang ditemukan berupa dispepsia atau indigesti.
B. Anatomi

Gambar 1.
Anatomi Lambung
www.google.com ( gambar lambung )

Lambung adalah bagian dari saluran pencernaan yang dapat mekar


paling banyak terutama didaerah epigaster, dan sebagian di sebelah kiri
daerah hipokondriak dan umbilikal. Lambung terdiri dari bagian atas fundus
uteri berhubungan dengan osofagus melalui orifisium pilorik, terletak di
bawah diapragma di depan pankreas dan limpa, menempel disebelah kiri
fundus uteri.
Secara anatomis lambung terdiri dari :
1. Fundus Fentrikuli, bagian yang menonjol keatas terletak sebelah kiri
osteum kardium dan biasanya penuh berisi gas.
2. Korpus Ventrikuli, setinggi osteum kardium, suatu lekukan pada bagian
bawah kurvantura minor.
3. Antrum Pilorus, bagian lambung berbentuk tabung mempunyai otot yang
tebal membentuk spinter pilorus.
4. Kurvatura Minor, terdapat sebelah kanan lambung terbentang dari osteum
lkardiak sampai ke pilorus.
5. Kurvatura Mayor, lebih panjang dari pada kurvantura minor terbentang
dari sisi kiri osteum kardiakum melalui fundus fentrikuli menuju ke kanan
sampai ke pilorus inferior. Ligamentum gastro lienalis terbentang dari
bagian atas kurvatura mayor sampai ke limpa.
6. Osteum Kardiakum, merupakan tempat dimana osofagus bagian abdomen
masuk ke lambung. Pada bagian ini terdapat orifisium pilorik(Setiadi,
2007).
Lambung terletak dibawah diafragma didepan pankreas dan limfa
menempel pada sebelah kiri fundus. Kedua ujung lambung dilindungi
oleh sfingter yang mengatur pemasukan dan pengeluaran. Sfingter kardia
atau sfingter esofagus bawah, mengalirkan makanan masuk kedalam
lambung

dan mencegah refluks isi lambung memasuki esofagus

kembali. Daerah lambung tempat pembukaan sfingter kardia dikenal


dengan nama daerah kardia. Di saat sfingter pilorikum berelaksasi
makanan masuk ke dalam duodenum dan ketika berkontraksi sfingter ini
akan mencegah terjadinya aliran balik isi usus halus ke dalam lambung.

Sfingter pilorus memiliki arti klinis yang penting karena dapat


mengalami stenosis ( penyempitan pilorus yang menyumbat ) sebagai
komplikasi dari penyakit tukak lambung. Stenosis pilorus atau
pilorospasme terjadi bila serat-serat otot disekelilingnya mengalami
hipertropi atau spasme sehingga sfingter gagal berelaksasi untuk
mengalirkan makanan dari lambung ke dalam duodenum.
Lambung terdiri atas empat bagian yaitu :
a. Tunika serosa atau lapisan luar
Merupakan bagian dari peritonium

viseralis. Dua lapisan

peritonium viseralis menyatu pada kurvatura minor lambung dan


duodenum dan terus memanjang kearah hati, membentuk omentum
minus. Lipatan peritonium yang keluar dari satu organ menuju ke
organ lain disebut sebagai ligamentum. Omentum minor terdiri
atas

ligamentum

hepatogastrikum

dan

hepatoduodenalis

menyokong lambung sepanjang kurvatura minor sampai ke hati.


Pada kurvatura mayor, peritonium terus ke bawah membentuk
omentum mayus, yang menutupi usus halus dari depan seperti
apron besar. Sakus omentum minus adalah tempat yang sering
terjadi penimbunan cairan ( pseudokista pankreatikum ) akibat
komplikasi pankreatitis akut.
b. Lapisan berotot ( Muskularis )
Tersusun dari tiga lapis otot polos yaitu :
1) Lapisan longitudinal, yang paling luar terbentang dari esofagus
ke bawah dan terutama melewati kurvatura minor dan mayor.
2) Lapisan otot sirkuler, yang ditengah merupakan lapisan yang
paling tebal dan terletak di pilorus serta membentuk otot
sfingter dan berada dibawah lapisan pertama.
3) Lapisan oblik, lapisan yang paling dalam merupakan lanjutan
lapisan otot sirkuler esofagus dan paling tebal pada daerah
fundus dan terbentang sampai pilorus.

c. Lapisan submukosa
Terdiri dari jaringan areolar jarang yang menghubungkan lapisan
mukosa dan lapisan muskularis. Jaringan ini memungkinkan
mukosa bergerak bersama gerakan peristaltik. Lapisan ini
mengandung pleksus saraf dan saluran limfe.
d. Lapisan mukosa
Lapisan dalam lambung tersusun dari lipatan-lipatan
longitudinal yang disebut rugae. Ada beberapa tipe kelenjar pada
lapisan ini yaitu :
1) Kelenjar kardia, berada dekat orifisium kardia. Kelenjar ini
mensekresikan mukus.
2) Kelenjar fundus atau gastrik, terletak di fundus dan pada
hampir seluruh korpus lambung. Kelenjar gastrik memiliki tiga
tipe utama sel yaitu :
a) Sel-sel

zimogenik

atau

chief

cell,

mensekresikan

pepsinogen diubah menjadi pepsin dalam suasana asam.


b) Sel-sel parietal, mensekresikan asam hidroklorida dan
faktor instrinsik.

Faktor instrinsik diperlukan untuk

absorbsi vitamin B12 di dalam usus halus. Kekurangan


faktor instrinsik akan mengakibatkan anemia pernisiosa.
c) Sel-sel mukus ( leher ), di temukan di leher fundus atau
kelenjar-kelenjar gastrik. Sel-sel ini mensekresikan mukus.
Hormon gastrin diproduksi oleh sel G yang terletak pada
daerah pilorus lambung. Gastrin merangsang kelenjar
gastrik

untuk

menghasilkan

asam

hidroklorida

dan

pepsinogen. Substansi lain yang di sekresikan oleh lambung


enzim dan berbagai elektrolit, terutama ion-ion natrium,
kalium, dan klorida(Price, 2005).
Struktur

syaraf

penyokong

lambung

:Persyarafan

lambung sepenuhnya otonom. Suplai saraf parasimpatis untuk


lambung dan duodenum dihantarkan ke dan dari abdomen melalui

saraf vagus. Trunkus vagus mencabangkan ramus gastrik, pilorik,


hepatik, dan seliaka.
Persarafan simpatis adalah melalui saraf splangnikus
major dan

ganglia seliakum. Serabut-serabut eferen

menghantarkan impuls nyeri yang di rangsang oleh peregangan,


kontraksi otot dan peradangan, dan di rasakan di daerah
epigastrium.

Serabut-serabut

eferen

simpatis

menghambat

pergerakan dan sekresi lambung. Pleksus saraf mesentenikus (


auerbach ) dan submukosa ( meissner ) membentuk persarafan
intrinsik dinding lambung dan mengkoordinasi aktivitas motorik
dan sekresi mukosa lambung.Komponen vaskularisasi pada
lambung : Seluruh suplai darah di lambung dan pankreas ( serta
hati, empedu dan limfa ) terutama berasal dari arteri seliaka atau
trunkus seliaka, yang mempercabangkan cabang-cabang yang
ensuplai kurvatura minor dan mayor. Dua cabang arteri yang
penting dalam klinis adalah arteria gastroduodenalis dan arteria
pankreatikoduodenalis ( retroduodenalis ) yang berjalan sepanjang
bulbus posterior duodenum. Tukak dinding posterior duodenum
dapat mengerosi arteri ini dan menyebabkan perdarahan. Darah
vena dari lambung dan duodenum, serta yang berasal dari
pankreas, limpa dan bagian lain saluran cerna berjalan ke hati
melalui vena porta(Price, 2005).
C. Fisiologi
Saluran gastrointestinal (GI) merupakan serangkaian organ muskular
berongga yang dilapisi oleh membran mukosa (selaput lendir). Tujuan kerja
organ ini adalah mengabsorbsi cairan dan nutrisi, menyiapkan makanan untuk
diabsorbsi dan digunakan oleh sel-sel tubuh, serta menyediakan tempat
penyimpanan feses sementara. Saluran GI mengabsorbsi dalam jumlah besar
sehingga fungsi utama sistem GI adalah membuat keseimbangan cairan,
selain menelan cairan dan makanan, saluran GI juga menerima banyak sekresi

dari organ-organ, seperti kandung empedu dan pankreas. Setiap kondisi yang
serius mengganggu absorbsi atau sekresi normal cairan GI, dapat
menyebabkan ketidakseimbangan cairan.
Sistem pencernaan ( mulai dari mulut sampai anus) berfungsi
sebagai berikut :
1. Mulut
Saluran GI secara mekanisme dan kimiawi memecah nutrisi ke
ukuran dan bentuk yang sesuai. Semua organ pencernaan bekerja sama
untuk memastikan bahwa masa atau bolus makanan mencapai daerah
absobrsi nutrisi dengan aman dan efektif. Pencernaan kimiawi dan
mekanisme dimulai dari mulut. Gigi mengunyah makanan, memecahnya
menjadi berukuran yang dapat ditelan. Sekresi saliva mengandung
enzim, seperti ptialin, yang mengawali pencernaan unsur-unsur makanan
tertentu. Saliva mencairkan dan melunakkan bolus makanan di dalam
mulut sehingga lebih mudah di telan(Potter& Perry, 2005).
2. Faring (tekak)
Merupakan organ yang menghubungkan organ mulut dengan
kerongkongan. Di dalam lengkung faring terdapat tonsil yaitu kumpulan
kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan
pertahanan terhadap infeksi. Disini terletak bersimpangan antara jalan
nafas dan jalan makanan, yang letaknya dibelakang rongga mulut dan
rongga hidung, di depan ruas tulang belakang.
Jalan udara dan jalan makanan pada faring terjadi penyilangan. Jalan
udara masuk ke bagian depan terus ke leher bagian depan sedangkan
jalan makanan masuk ke belakang dari jalan nafas dan didepan dari ruas
tulang belakang.Makanan melewati epiglotis lateral melalui ressus
preformis masuk ke esofagus tanpa membahayakan jalan udara. Gerakan
menelan mencegah masuknya makanan ke jalan udara, pada waktu yang
sama jalan udara di tutup sementara. Permulaan menelan, otot mulut dan
lidah kontraksi secara bersamaan (Setiadi, 2007).

3. Esofagus
Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung,
panjangnya sekitar 9 sampai dengan 25 cm dengan diameter sekitar 2,54
cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak di bawah lambung.
Esofagus berawal pada area laringofaring, melewati diafragma dan
hiatus esofagus. Esofagus terletak di belakang trakea dan di depan tulang
punggung setelah melalui torak menembus diafragma masuk ke dalam
abdomen menyambung dengan lambung.Lapisan terdiri dari empat lapis
yaitu mucosa, submucosa, otot (longitudinal dan sirkuler), dan jaringan
ikat renggang. Makanan atau bolus berjalan dalam esofagus karena
gerakan peristaltik, yang berlangsung hanya beberapa detik saja(Setiadi,
2007).
Begitu makanan memasukibagian atas esofagus, makananmakanan berjalan melalui sfingter esofagus bagian atas, yang merupakan
otot sirkular, yang mencegah udara memasuki esofagus dan makanan
mengalami refluks (bergerak ke belakang) kembali ke tenggorok. Bolus
makanan menelusuri esofagus yang panjangnya kira-kira 25 cm.
Makanan didorong oleh gerakan peristaltik lambat yang di hasilkan oleh
kontraksi involunter dan relaksasi otot halus secara bergantian. Pada saat
bagian esofagus berkontraksi diatas bolus makanan, otot sirkular di
bawah (atau di depan) bolus berelaksasi. Kontraksi-relaksasi otot halus
yang saling bergantian ini mendorong makanan menuju gelombang
berikutnya.Dalam 15 detik, bolus makanan bergerak menuruni esofagus
dan mencapai sfingter esofagus bagian bawah. Sfingter esofagus bagian
bawah terletak diantara esofagus dan lambung. Faktor-faktor yang
mempengaruhi tekanan sfingter esofagus bagian bawah meliputi antasid,
yang meminimalkan refluks, dan nikotin serta makanan berlemak, yang
meningkatkan refluk (Potter, 2005).

4. Lambung
Merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paling
banyak terutama di daerah epigaster, lambung terdiri dari bagian atas
fundus uteri berhubungan dengan esofagus melalui orifisium pilorik,
terletak di bawah diafragmadi depan pankreas dan limpa, menempel di
sebelah kiri fundus uteri.
Getah cerna lambung yang dihasilkan antara lain:
a) Pepsin, fungsinya memecah putih telur menjadi asam amino
(albumin dan pepton)
b) Asam garam (HCI), fungsinya mengasamkan makanan, sebagai
antiseptik dan desinfektan dan membuat suasana asam pada
pepsinogen sehingga menjadi pepsin.
c) Renin, fungsinya sebagai ragi yang membekukan susu dan
membentuk kasein dari kasinogen (kasinogen dan protein susu)
d) Lapisan lambung, jumlahnya sedikit yang memecah lemak
menjadi asam lemak yang merangsang getah lambung.
Digesti dalam lambung diantaranya :
a) Digesti protein, pepsinogen yang dieksresi oleh sel chief diubah
menjadi pepsin oleh asam klorida yang disekresi oleh sel parietal.
Pepsin menghidrolisis protein menjadi polipeptida. Dan pepsin
adalah enzim yang hanya bekerja dengan PH dibawah 5
b) Lemak, enzim lipase yang disekresi oleh sel chief menghidrolisis
lemak susu menjadi asam lemak dan gliserol, tetapi aktivitasnya
terbatas dalam kadar PH yang rendah.
c) Karbohidrat, enzim amilase dalam saliva yang menghidrolisis zat
tepung bekerja pada PH netral. Enzim ini terbawa bersama bolus
dan tetap bekerja dalam lambung sampai asiditas lambung
menembus bolus. Lambung tidak mensekresi enzim untuk
mencerna karbohidrat.
Didalam lambung, makanan disimpan untuk sementara dan secara
mekanis dan kimiawi dipecah untuk dicerna dan di absorbsi. Lambung

menyekresi asam hidroklorida (HCI), leher, enzim pepsin, dan faktor


intrinsik. Konsentrasi HCI mempengaruhi keasaman lambung dan
keseimbanga asam-basa tubuh. HCI membantu mencampur dan
memecah makanan di lambung. Lendir melindungi mukosa lambung
dari keasaman dan aktifitas enzim. Pepsin mencerna protein, walaupun
tidak banyak pencernaan yang berlangsung dilambung. Faktor intrinsik
adalah komponen penting yang di butuhkan untuk absorbsi vitamin B12
didalam usus dan selanjutnya untuk pembentukan sel darah merah
normal. Kekurangan faktor intrinsik ini mengakibatkan anemia
pernisiosa.Sebelum makanan meninggalkan lambung, makanan diubah
menjadi makanan semicair yang disebut kimus. Kimus lebih mudah
dicerna dan diabsorbsi dari pada makanan padat. Klien yang sebagian
lambungnya diangkat atau yang memiliki pengosongan lambung yang
cepat (seperti pada gastritis) dapat mengalami masalahpencernaan yang
serius karena makanan tidak dipecah menjadi kimus(Potter, 2005)
5. Usus halus
Saluran pencernaan diantara lambung dan usus besar, yang
merupakan tuba terlilit yang merentang dari sfingter pylorus sampai
katupileosekal, tempatnya menyatu dengan usus besar
fungsi usus halus terdiri dari :
a) Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap
melalui kapiler-kapiler darah dan saluran-saluran limfe dengan
proses sebagai berikut :
1) Menyerap protein dalam membentuk asam amino
2) Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida
b) Secara selektif mengabsorbsi produk digesti dan juga air, garam
dan vitamin.
Didalam usus halus terdapat kelenjar yang menghasilkan getah
usus yang menyempurnakan makanan :

a) Enterokinase, mengaktifkan enzim tripsinogen pankreas menjadi


tripsin yang kemudian mengurai protein dan peptida yang lebih
kecil.
b) Aminopeptidase, Tetrapeptidase, dan Dipeptidase yang mengurai
peptida menjadi asam amino bebas.
c) Amilase usus, yang menghidrolisis zat tepung menjadi Disakarida
(maltosa, sukrosa, dan laktosa)
d) Maltase, isomaltase, lactase dan sukrase yang memecah
disakarida maltosa, laktosa, dan sukrosa menjadi monosakarida.
e) Lipase usus yang memecah monogliserida menjadi asam lemak
dan gliserol
f) Erepsin, menyempurnakan pencernaan prtein menjadi asam amino.
g) Laktase, mengubah laktase menjadi monodakarida
h) Maltosa, mengubah maltosa menjadi monosakrida
i) Sukrosa, mengubah sukrosa menjadi monosakarida.
(Setiadi, 2007)
Selama proses pencernaan normal, kimus meninggalkan lambung
dan memasuki usus halus. Usus halus merupakan sebuah saluran dengan
diameter sekitar 2,5 cm dan panjang 6 m. Usus halus di bagi menjadi
tiga bagian : duodenum, jejunum, ileum. Kimus bercampur dengan
enzim-enzim pencernaan ( misal empedu dan amilase ) saat berjalan
melalui usus halus. Segmentasi mengaduk kimus, memecah makanan
lebih lanjut untuk dicerna. Pada saat kimus bercampur, gerakan
peristaltik berikutnya sementara berhenti sehingga memungkinkan
absorbsi.

Kimus

berjalan

perlahan

melalui

usus

halus

untuk

memungkinkan absorbsi.
Kebanyakan nutrisi dan elektrolit diabsorbsi dadalam usus halus.
Enzim dari pankreas (misal amilase) dan empedu dari kandung empedu
dilepaskan kedalam duodenum. Enzim di dalam usus halus memecah
lemak, protein, dan karbohidrat menjadi unsur-unsur dasar. Nutrisi
hampir seluruhnya diabsorbsi oleh duodenum dan jejunum. Ileum

10

mengabsorbsi vitamin-vitamin tertentu, zat besi, dan garam empedu.


Apabila fungsi ileum terganggu, proses pencernaan akan mengalami
perubahan besar. Inflamasi, reseksi bedah, atau obstruksi dapat
mengganggu peristaltik, mengurangi area absorbsi, atau menghambat
aliran kimus (Potter, 2005).
6. Usus besar
Usus besar merupakan bagian akhir dari proses pencernaan, karena
sebagai tempat pembuangan, maka diusus besarsebagian nutrien telah
dicerna dan diabsorbsi dan hanya menyisakan zat-zat yang tidak
tercerna. Biasanya memerlukan waktu dua sampai lima hari untuk
menempuh ujung saluran pencernaan. Dua sampai enam jam di
lambung, enam sampai delapan jam diusus halus, dan sisa waktunya
diusus besar.
Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan
dengan proses ahir isi usus, fungsi usus besar adalah :
a) Menyerap air dan elektrolit 80% sampai 90% dari makanan dan
mengubah dari cairan menjadi massa.
b) Tempat tinggal sejumlah bakteri E. colli, yang mampu mencerna
kecil selulosa dan memproduksi sedikit kalori nutrien bagi tubuh
setiap hari.
c) Memproduksi vitamin antara lain vitamin K, ribovlafin, dan tiamin
serta berbagai gas.
d) Penyiapan selulosa yang berupa hidrat arang dalam tumbuhtumbuhan, buah-buahan, dan sayuran hijau.
(Setiadi, 2007)
Usus besar dibagi menjadi tiga, antara lain :
a) Sekum,
Kimus yang tidak diabsorbsi memasuki sekum melalui
katup ileosekal. Katup ini merupakan lapisan otot sirkular yang
mencegah regurgitasi dan kembalinya isi kolon ke usus halus.

11

b) Kolon
Walupun kimus yang berair memasuki kolon, volume air
menurun saat kimus bergerak di sepanjang kolon. Kolon dibagi
menjadi kolon asenden, kolon tranversal, kolon desenden, dan
kolon sigmoid. Kolon di bangun oleh jaringan otot, yang
memungkinkanya menampung dan mengeliminasi produk buangan
dalam jumlah besar.Kolon mempunyai empat fungsi yang saling
berkaitan : absorbsi, proteksi, sekresi, dan eliminasi. Sejumlah
besar volume air., natrium dan klorida diabsorbsi oleh kolon setiap
hari. Pada waktu makanan bergerak melalui kolon, terjadi
kontraksi haustral. Kontraksi ini sama dengan kontraksi segmental
usus halus, tetapi berlangsung lebih lama sampai 5 menit.
Kontraksi membentuk kantung berukuran besar didinding kolon,
menyediakan

daerah

permukaan

yang

luas

untuk

absorbsi.Sebanyak 2,5 liter air dapat diabsorbsi oleh kolon dalam


24 jam. Rata-rata 55 mEq natrium dan 23 mEq klorida diabsorbsi
setiap hari. Jumlah air yang diabsorbsi dari kimus bergantung pada
kecepatan pergerakan isi kolon. Kimus dalam kondisi normal
bersifat lunak, berbentuk masa. Apabila kecepatan kontraksi
peristaltik berlangsung dengan cepat secara abnormal, waktu untuk
absorbsi air berkurang sehingga feses akan menjadi encer. Apabila
kontraksi peristaltik melambat, air akan terus diabsorbsi sehingga
terbentuk masa feses yang keras, mengakibatkan konstipasi.
Kolon melindungi dirinya dengan melepaskan suplai lendir.
Lendir dalam kondisinormal berwarna jernih sampai buram dengan
konsistensi berserabut. Lendir melumasi kolon, mencegah trauma
pada dinding bagian dalamnya. Lubrikasi terutama penting pada
ujung distal kolon, tempat isi kolon menjadi lebih kering dan lebih
keras.Fungsi sekresi kolon membantu keseimbangan asam-basa.
Bikarbonat disekresi untuk mengganti klorida. Sekitar 4 sampai 9
mEq kalium dilepaskan setiap hari oleh usus besar. Perubahan

12

serius pada fungsi kolon, seperti diare, dapat mengakibatkan


ketidak seimbangan elektrolit.
Ahirnya, kolon mengeliminasikan produk buangan dan gas
(flatus). Flatus timbul akibat menelan gas, difusi gas dari aliran
darah ke dalam usus, dan kerja bakteri pada karbohidrat yang tidak
dapat diabsorbsi. Fermentasi karbohidrat (seperti yang terjadi pada
kubis dan bawang) menghasilkan gas didalam usus, yang dapat
menstimulasiperistaltik. Orang dewasa dalam kondisi normal
menghasilkan 400 sampai 700 ml flatus setiap hari.Kontraksi
peristaltik yang lambat menggerakan isi usus ke kolon. Isi usus
adalah stimulus utama untuk terjadinya kontraksi. Produk buangan
dan gas memberikan tekanan pada dinding kolon. Lapisan otot
meregang,menstimulasi reflek

yang menimbulkan kontraksi.

Gerakan peristaltik masamendorong makanan yang tidak tercerna


menuju rektum. Gerakan ini hanya terjadi tiga sampai empat kali
sehari, tidak seperti gelombang peristaltis yang seering timbul
didalam usus halus.
c) Rektum
Produk buangan yang mencapai bagian kolon sigmoid,
disebut feses. Sigmoid menyimpan feses sampai beberapa saat
sebelum defekasi.dalam kondisi normal, rektum tidak berisi feses
sampai defekasi. Rektum dibangun oleh lipatan-lipatan jaringan
vertikal dan tranversal. Setiap lipatan vertikal berisi sebuah arteri
dan lebih dari satu vena.
Apabila masa feses atau gas bergerak ke dalam rektum
untuk membuat dindingnya berdistensi, maka proses defekasi
dimulai. Proses ini melibatkan kontrol volunter dan kontrol
involunter. Sfingter interna adalah sebuah otot polos yang
dipersarafi oleh sistem saraf otonom. Saat rektum mengalami
distensi, saraf sensorik dstimulasi dan membawa impuls-impuls
yang menyebabkan relaksasi sfingter interna, memungkinkan lebih

banyak feses yang memasuki rektum. Pada saat yang sama, impuls
bergerak ke otak untuk menciptakan suatu kesadaran bahwa
individu perlu melakukan defekasi.
(Potter, 2005)
7. Defekasi
Menurut Setiadi ( 2007), defekasi sebagian merupakan
refleks, sebagian lagi merupakan aktivitas volunter ( yaitu dengan
mengejan terjadi kontraksi diafragma dan otot abdominal untuk
meningkatkan tekanan intra abdominal )
Komposisi feses mengandung :
a) Air mencapai 75% sampai 80%
b) Sepertiga materi padatnya adalah bakteri
c) Dan sisanya yang 2% sampai 3% adalah nitrogen, zat sisa organik
dan anorganik dari sekresi pencernaan, serta mucus dan lemak.
d) Feses juga mengandung sejumlah bakteri kasar, atau serat dan
selulosa yang tidak tercerna.
e) Warna coklat berasal dari pigmen empedu
f) Dan bau berasal dari kerja bakteri.
D. Klasifikasi
1. Gastritis Akut
Gastritis akut adalah inflamasi akut mukosa lambung pada
sebagian besar merupakan penyakit yang ringan dan sembuh sempurna.
Salah satu bentuk gastritis akut yang manifestasi klinisnya adalah:
a) Gastritis akut erosif
Disebut erosif apabila kerusakan yang terjadi tidak lebih dalam dari
pada mukosa muscolaris (otot-otot pelapis lambung).
b) Gastritis akut hemoragic
Disebut hemoragic karena pada penyakit ini akan dijumpai
perdarahan mukosa lambung dalan berbagai derajat dan terjadi erosi

yang berarti hilangnya kontunuitas mukosa lambung pada beberapa


tempat, menyertai inflamasi pada mukosa lambung tersebut.
( Hirlan, 2001)
2. Gastritis Kronis
Menurut Muttaqin, (2011) Gastritis kronis adalah suatu peradangan
permukaan mukosa lambung yang bersifat menahun. Gastritis kronik
diklasifikasikan dengan tiga perbedaan sebagai berikut :
a) Gastritis superfisial, dengan manifestasi kemerahan ; edema , serta
perdarahan dan erosi mukosa.
b) Gastritis atrofik, dimana peradangan terjadi di seluruh lapisan
mukosa pada perkembanganya dihubungkan dengan ulkus dan
kanker lambung, serta anemia pernisiosa. Hal ini merupakan
karakteristik dari penurunan jumlah sel parietal dan sel chief.
c) Gastritis hipertrofik, suatu kondisi dengan terbentuknya nodulnodul pada mukosa lambung yang bersifat iregular, tipis, dan
hemoragik.
E. Etiologi
Menurut Muttaqin(2011) Penyebab dari gastritis antara lain :
1. Obat-obatan, seperti obat antiinflamasi nonsteroid / OAINS (indometasin,
ibuprofen, dan asam salisilat), sulfonamide, steroid, kokain, agen
kemoterapi (mitomisin, 5-fluora-2-deoxyuriine), salisilat, dan digitalis
bersifat mengiritasi mukosa lambung.
2. Minuman beralkohol ; seperti : whisky,vodka, dan gin.
3. Infeksi bakteri ; seperti H. pylor (paling sering), H. heilmanii, streptococci,
staphylococci, proteus spesies, clostridium spesies, E. coli, tuberculosis,
dan secondary syphilis.
4. Infeksi virus oleh Sitomegalovirus
5. Infeksi jamur ; candidiasis, histoplasmosis, dan phycomycosis.

6. Stress fisik yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma, pembedahan,
gagal napas, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf pusat, dan refluks ususlambung.
7. Makanan dan minuman yang bersifat iritan . makanan berbumbu dan
minuman dengan kandungan kafein dan alkohol merupakan agen-agen
iritasi mukosa lambung.
8. Garam empedu, terjadi pada kondisi refluks garam empedu ( komponen
penting alkali untuk aktivasi enzim-enzim gastrointestinal) dari usus kecil
ke mukosa lambungsehingga menimbulkan respon peradangan mukosa.
9. Iskemia, hal ini berhubungan dengan akibat penurunan aliran darah ke
lambung.
10. Trauma langsung lambung, berhubungan dengan keseimbangan antara
agresi dan mekanisme pertahanan umtuk menjaga integritas mukosa, yang
dapat menimbulkan respon peradangan pada mukosa lambung.
F. Patofisiologi
1. Gastritis Akut
Gastritis Akut

dapat disebabkan oleh karena stress, zat kimia

obat-obatan dan alkohol, makanan yang pedas, panas maupun asam. Pada
pasien yang mengalami strees akan terjadi perangsangan saraf simpatis
NV (Nervus Vagus), yang akan meningkatkan produksi asam klorida
(HCl) didalam lambung akan menimbulkan rasa mual, muntah dan
anoreksia.Zat

kimia

maupun

makanan

yang

merangsang

akan

menyebabkan sel epitel kolumner, yang berfungsi untuk menghasilkan


mukus mengurangi produksinya. Sedangkan mukus itu fungsinya untuk
memproteksi mukosa lambung agar tidak ikut tercerna respon mukosa
lambung karena penurunan sekresi mukus bervariasi diantaranya
vasodilitasi sel mukosa gaster. Lapisan mukosa gaster terdapat enzim
yang memproduksi asam klorida atau

HCl, terutama daerah

fundus.Vasodilitasi mukosa gaster akan menyebabkan produksi HCl


meningkat. Anoreksia juga dapat menyebabkan rasa nyeri, rasa nyeri ini

ditimbulkan oleh karena kontak HCl dengan mukosa gaster. Respon


mukosa lambung akibat penurunan sekresi mukus dapat berupa
pengelupasan. Pengelupasan sel mukosa gaster akan mengakibatkan erosi
memicu

timbulnya

pendarahan.

Pendarahan

yang

terjadi

dapat

mengancam hidup penderita, namun dapat juga berhenti sendiri karena


proses regenerasi, sehingga erosi menghilang dalam waktu 24-48 jam
setelah pendarahan(Price dan Wilson, 2000)
2. Gastritis Kronis
Inflamasi lambung yang lama dapat disebabkan oleh ulkus
benigna atau maligna dari lambung atau oleh bakteri helicobactery pylory
( H. pylory ) Gastritis Kronis dapat diklasifikasikan sebagai tipe A / tipe
B, tipe A ( sering disebut sebagai gastritis autoimun ) diakibatkan dari
perubahan sel parietal, yang menimbulkan atrofi dan infiltrasi seluler. Hal
ini dihubungkan dengan penyakit autoimun seperti anemia pernisiosa dan
terjadi pada fundus atau korpus dari lambung. Tipe B ( kadang disebut
sebagai gastritis

) mempengaruhi antrum dan

pylorus ( ujung bawah

lambung dekat duodenum ) ini dihubungkan dengan bakteri Pylory.


Faktor diet seperti minum panas atau pedas, penggunaan atau obat-obatan
dan alkohol, merokok, atau refluks isi usus kedalam lambung. (Smeltzer
dan Bare, 2001)
G. Manifestasi Klinis
Gambaran klinis pada gastritis yaitu:
1. Gastritis Akut, gambaran klinis meliputi:
a) Dapat terjadi ulserasi superfisial dan dapat menimbulkan hemoragi.
b) Rasa tidak nyaman pada abdomen dengan sakit kepala, kelesuan,
mual, dan anoreksia. disertai muntah dan cegukan.
c) Beberapa pasien menunjukkan asimptomatik.
d) Dapat terjadi kolik dan diare jika makanan yang mengiritasi tidak
dimuntahkan, tetapi malah mencapai usus.

e) Pasien biasanya pulih kembali sekitar sehari, meskipun nafsu


mungkin akan hilang selama 2 sampai 3 hari. (Smeltzer, 2001)
2. Gastritis Kronis
Pasien dengan Gastritis tipe A secara khusus asimtomatik kecuali
untuk gejala defisiensi vitamin B12 . pada gastritis tipe B, pasien
mengeluh anoreksia ( nafsu makan menurun ), nyeri ulu hati setelah
makan, kembung, rasa asam di mulut, atau mual dan muntah. (Smeltzer
dan Bare, 2001)
H. PemeriksaanDiagnosik
Pemeriksaan dignostik menurut Dermawan( 2010) dan Doenges( 2000 )
sebagai berikut :
1. Radiology: sinar x gastrointestinal bagian atas
2. Endoskopy : gastroscopy ditemukan muksa yang hiperemik
3. Laboratorium: mengetahui kadar asam hidroklorida
4. EGD

(Esofagagastriduodenoskopi):

tes

diagnostik

kunci

untuk

perdarahan gastritis, dilakukan untuk melihat sisi perdarahan atau derajat


ulkus jaringan atau cidera
5. Pemeriksaan Histopatologi:

tampak kerusakan mukosa karena erosi

tidak pernah melewati mukosa muskularis.


6. Analisa gaster: dapat dilakukan untuk menentukan adanya darah,
mengkaji aktivitas sekretori mukosa gaster, contoh peningkatan asam
hidroklorik dan pembentukan asam noktura
7. l penyebab ulkus duodenal.
8. Feses: tes feses akan positifH. PyloryKreatinin : biasanya tidak
meningkat bila perfusi ginjal di pertahankan.
9. Amonia: dapat meningkat apabila disfungsi hati berat menganggu
metabolisme dan eksresi urea atau transfusi darah lengkap dan jumlah
besar diberikan.
10. Natrium: dapat meningkat sebagai kompensasi hormonal terhadap
simpanan cairan tubuh.

11. Kalium: dapat menurun pada awal karena pengosongan gaster berat atau
muntah atau diare berdarah. Peningkatan kadar kalium dapat terjadi
setelah trasfusi darah.
12. Amilase serum: meningkat dengan ulkus duodenal, kadar rendah diduga
gastritis.
I. Penatalaksanaan
1. Pengobatan pada gastritis meliputi:
a) Antikoagulan: bila ada pendarahan pada lambung
b) Antasida: pada gastritis yang parah, cairan dan elektrolit diberikan
intravena untuk mempertahankan keseimbangan cairan sampai
gejala-gejala mereda, untuk gastritis yang tidak parah diobati dengan
antasida dan istirahat.
c) Histonin: ranitidin dapat diberikan untuk menghambat pembentukan
asam lambung dan kemudian menurunkan iritasi lambung.
d) Sulcralfate: diberikan untuk melindungi mukosa lambung dengan
cara menyeliputinya, untuk mencegah difusi kembali asam dan
pepsin yang menyebabkan iritasi.
e) Pembedahan:

untuk

mengangkat

gangrene

dan

perforasi,

Gastrojejunuskopi/reseksi lambung: mengatasi obstruksi pilorus.


(Dermawan, 2010)
2. Penatalaksanaan pada gastritis secara medis meliputi:
Gastritis akut Diatasi dengan menginstruksikan pasien untuk
menghindari alkohol dan makanan sampai gejala berkurang. Bila pasien
mampu makan melalui mulut, diet mengandung gizi danjurkan. Bila
gejala menetap, cairan perlu diberikan secara parenteral. Bila perdarahan
terjadi, maka penatalaksanaan adalah serupa dengan prosedur yang
dilakukan untuk hemoragik saluran gastrointestinal atas. Bila gastritis
diakibatkan oleh mencerna makanan yang sangat asam atau alkali,
pengobatan terdiri dari pengenceran dan penetralisasian agen penyebab.

a)

Untuk menetralisasi asam, digunakan antasida umum ( missal :


alumunium hidroksida ) untuk menetralisasi alkali, digunakan jus
lemon encer atau cuka encer

b)

Bila korosi luas atau berat, emetik, dan lafase dihindari karena
bahaya perforasi.
terapi pendukung mencakup intubasi, analgesic dan sedative,

antasida, serta cairan intravena. Endoskopi fiberopti mungkin diperlukan.


Pembedahan darurat mungkin diperlukan untuk mengangkat gangrene
atau jaringan perforasi. Gastrojejunostomi atau reseksi lambungmungkin
diperlukan untuk mengatasi obstruksi pilrus. Gastritis kronis diatasi
dengan memodifikasi diet pasien, meningkatkan istiratahat, mengurangi
stress dan memulai farmakoterapi. H. Pilory data diatasi dengan antibiotic
( seperti tetrasiklin atau amoksisilin ) dan garam bismu ( pepto bismo ).
Pasien dengan gastritis A biasanya mengalami malabsorbsi vitamin B12
yang

disebabkan

oleh

adanya

antibody

terhadap

faktor

instrinsik(Smeltzer, 2001)
3.

Penatalaksanaan secara keperawatan meliputi:


a) Tirah baring
b) Mengurangi stress
c)

Diet
Air teh, air kaldu, air jahe dengan soda kemudian diberikan

peroral pada interval yang sering. Makanan yang sudah dihaluskan


seperti pudding, agar-agar dan sup, biasanya dapat ditoleransi setelah
12 24 jam dan kemudian makanan-makanan berikutnya
ditambahkan secara bertahap. Pasien dengan gastritis superficial
yang kronis biasanya berespon terhadap diet sehingga harus
menghindari makanan yang berbumbu banyak atau berminyak.
(Dermawan, 2010)

J. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin dapat terjadi pada gastritis menurut Dermawan
( 2010) adalah:
1. Perdarahan saluran cerna bagian atas
2. Ulkus peptikum, perforasi dan anemia karena gangguan absorbsi
vitamain B12
K. Pengkajian Fokus
1.

Pengkajian Keperawatan
Pengkajian fokus terkait dengan penyakit gastritis meliputi :
a. Pola Pemeliharaan Kesehatan
Menggambarkan

persepsi,

pemeliharaan

dan

penanganan

kesehatan. Persepsi terhadap arti kesehatan dan penatalaksanaan


kesehatan, kemampuan menyusun tujuan, pengetahuan tentang
praktek kesehatan.
b. Pola Nurtisi Metabolik
Menggambarkan masukan nutrisi, balance cairan dan elektrolit,
nafsu makan, pola makan, diet, kesulitan menelan, mual/muntah,
makanan kesukaan.
c. Pola Eliminasi
Menjelaskan

pola

fungsi

eksresi,

kandung

kemih

dan

Kulit. Kebiasaan defekasi, ada tidaknya masalah defekasi, masalah


miksi (oliguri, disuri dll), penggunaan kateter, frekuensi defekasi
dan miksi, Karakteristik urin dan feses, pola input cairan, infeksi
saluran kemih dll.
d. Pola Latihan-Aktivitas
Menggambarkan pola latihan, aktivitas, fungsi pernafasan dan
sirkulasi. Pentingnya latihan/gerak dalam keadaan sehat dan sakit,
gerak tubuh dan kesehatan berhubungan satu sama lain, Range Of
Motion (ROM), riwayat penyakit jantung, frekuensi, irama dan
kedalaman nafas, bunyi nafas riwayat penyakit paru.

e. Pola Kognitif Perseptual


Menjelaskan Persepsi sensori dan kognitif.Pola persepsi sensori
meliputi pengkajian fungsi penglihatan, pendengaran, perasaan,
pembau dan kompensasinya terhadap tubuh. Sedangkan pola
kognitif didalamnya mengandung kemampuan daya ingat klien
terhadap persitiwa yang telah lama terjadi dan atau baru terjadi dan
kemampuan orientasi klien terhadap waktu, tempat, dan nama
(orang, atau benda yang lain).Tingkat pendidikan, persepsi nyeri
dan penanganan nyeri, kemampuan untuk mengikuti, menilai nyeri
skala 0-10, pemakaian alat bantu dengar, melihat, kehilangan
bagian tubuh atau fungsinya, tingkat kesadaran, orientasi pasien,
adakah gangguan penglihatan, pendengaran, persepsi sensori
(nyeri), penciuman dan lain-lain.
f. Pola Istirahat-Tidur
Menggambarkan Pola Tidur, istirahat dan persepasi tentang energi.
Jumlah jam tidur pada siang dan malam, masalah selama tidur,
insomnia atau mimpi buruk, penggunaan obat, mengeluh letih.
g. Pola Konsep Diri-persepsi Diri
Menggambarkan sikap tentang diri sendiri dan persepsi terhadap
kemampuan. Kemampuan konsep diri antara lain gambaran diri,
harga diri, peran, identitas dan ide diri sendiri. Manusia sebagai
system terbuka dimana keseluruhan bagian manusia akan
berinteraksi dengan lingkungannya. Disamping sebagai system
terbuka, manuasia juga sebagai mahkluk bio-psiko-sosio-kultural
spriritual dan dalam pandangan secara holistik.Adanya kecemasan,
ketakutan atau penilaian terhadap diri., dampak sakit terhadap diri,
kontak mata, isyarat non verbal, ekspresi wajah, merasa tak
berdaya, gugup atau relaks.
h. Pola Peran dan Hubungan
Menggambarkan dan mengetahui hubungan dan peran klien
terhadap anggota keluarga dan masyarakat tempat tinggal

klien.Pekerjaan, tempat tinggal, tidak punya rumah, tingkah laku


yang passive/agresif terhadap orang lain, masalah keuangan dll.
i. Pola Reproduksi/Seksual
Menggambarkan kepuasan atau masalah yang aktual atau
dirasakan dengan seksualitas. Dampak sakit terhadap seksualitas,
riwayat haid, pemeriksaan mamae sendiri, riwayat penyakit
hubungan seksual, pemeriksaan genital.
j. Pola mekanisme koping
Menggambarkan

kemampuan

untuk

menangani

stress

dan

penggunaan systempendukung. Penggunaan obat untuk menangani


stress, interaksi dengan orang terdekat, menangis, kontak mata,
metode koping yang biasa digunakan, efek penyakit terhadap
tingkat stress.
k. Pola Keyakinan Dan Spiritual
Menggambarkan dan Menjelaskan pola nilai, keyakinan termasuk
spiritual.Menerangkan sikap dan keyakinan klien dalam
melaksanakan agama yang dipeluk dan konsekuensinya.Agama,
kegiatan keagamaan dan budaya,berbagi denga orang lain,bukti
melaksanakan nilai dan kepercayaan, mencari bantuan spiritual
dan pantangan dalam agama selama sakit(Perry,2005)(Asmadi,
2008).

L. Pathway
stress

Zat kimia

Makanan yang pedas, panas,


dan asam

Helicobacter pylori
Merusak mukosa lambung
( fundus )

Penurunan produksi
mukus oleh sel
kolumner

Gastritis akut
Merangsang Saraf Simpatis /
Nerus Vagus

Peningkatan produksi HCl


di lambung

Gastritis kronis
Vasodilatasi
sel mukosa
lambung

Pengelupasan sel
mukosa lambung

Erosi

Peningkatan
produksi HCl

Anoreksia, mual, muntah


Anoreksia, mual,
muntah
Terjadi kontak HCl
dengan mukosa
lambung

RESIKO
NUTRISI
KURANG DARI
KEBUTUHAN
TUBUH

Nyeri

Output berlebih

Perubahan sel /
desquamasi

Perdarahan
gaster

Resiko
kekurangan
volume
cairan

Destruksi kelenjar

Hematemesis,
Melena
Krisis situasi
ancaman
kematian
cemas

Metaplasia
( pergantian
mukosa lambung
yang lebih kuat)
Penurunan
elastisitas
mukosa
lambung

Refferensi : Muttaqin (2011), Price dan Wilson (2000), Smeltzer dan Bare, (2001)

28

24

M. Diagnosa Keperawatan

No
1

Diagnosa Keperawatan

NYERI AKUT
Definisi : sensori yang tidak
menyenangkan
dan
pengalaman emosional yang muncul
secara aktual atau potensial,
kerusakan jaringan atau
menggambarkan adanya kerusakan..
Batasan karakteristik :
Laporan secara verbal atau non
verba
l
Fakta dan observasi
Gerakan melindungi
Tingkah laku berhati-hati
Gangguan
tidur
(mata
sayu, tampak capek, sulit atau
gerakan kacau, menyeringai)
Tingkah laku distraksi (jalan-jalan,
menemui orang lain, aktivitas

Tujuan / NOC

Setelah dilakukan tindakan keperawatan


selama
...... x24 jam pasien dapat mengontrol
nyeri
dengan indikator:
Mengenali faktor penyebab
Mengenali onset (lamanya sakit)
Menggunakan metode pencegahan
Menggunakan metode
nonanalgetik untuk mengurangi nyeri
Menggunakan
analgetik
sesuai kebutuhan
Mencari bantuan tenaga kesehatan
Melaporkan gejala pada
tenaga
kesehata
n
Menggunakan sumber-sumber
yang
tersedia

Intervensi / NIC

MANAJEMEN NYERI
Definisi : mengurangi nyeri dan menurunkan
tingkat
nyeri yang dirasakan
pasien. Intervensi :
lakukan
pengkajian
nyeri
secara
komprehensif
termasuk
lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas dan faktor presipitasi
observasi
reaksi
non
verbal
dari
ketidaknyamanan
gunakan teknik komunikasi terapeutik
untuk
mengetahui pengalaman nyeri pasien
kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan
lain
tentang ketidakefektifan kontrol nyeri

25

berulang-ulang)
Respon
autonom
(diaphoresis,
perubahan
tekanan
darah,
perubahan pola nafas, nadi dan
dilatasi pupil)
Tingkah
laku
ekspresif
(gelisah, marah,
menangis,
merintih,
waspada,
napas
panjang,
iritabel)
Berfokus pada diri sendiri
Muka topeng
Fokus menyempit (penurunan
persepsi pada waktu, kerusakan proses
berfikir, penurunan interaksi dengan
orang dan lingkungan)
Perubahan nafsu makan dan
minum
Faktor yang berhubungan :
Agen injury (fisik, biologis, psikologis)

Mengenali gejala-gejala nyeri


Mencatat
pengalaman
nyeri sebelumnya
Melaporkan nyeri sudah terkontrol

Setelah dilakukan tindakan keperawatan


selama
...... x24 jam pasien dapat mengetahui
tingkatan
nyeri dengan indikator:
melaporkan adanya nyeri
luas bagian tubuh yang terpengaruh
frekuensi nyeri
panjangnya episode nyeri
pernyataan nyeri
ekspresi nyeri pada wajah
posisi tubuh protektif
kurangnya istirahat
ketegangan otot
perubahan pada frekuensi pernafasan
perubahan nadi
perubahan tekanan darah
perubahan ukuran pupil
keringat berlebih
kehilangan selera makan

masa lampau
bantu pasien dan keluarga untuk mencari
dan menemukan dukungan
kontrol
lingkungan
yang
dapat
mempengaruhi nyeri
seperti
suhu
ruangan, pencahayaan dan
kebisingan
kurangi faktor presipitasi
pilih
dan
lakukan
penanganan
nyeri (farmakologi, non farmakologi dan
inter personal)
kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan
intervensi
ajarkan tentang teknik non farmakologi
berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
evaluasi keefektifan kontrol nyeri
tingkatkan istirahat
kolaborasikan dengan dokter jika keluhan
dan
tindakan nyeri tidak berhasil
ANALGETIC ADMINISTRATION
Definisi : penggunaan agen farmakologi
untuk menghentikan atau mengurangi nyeri
Intervensi :
tentukan lokasi, karakteristik, kualitas,
dan
derajat nyeri sebelum pemberian obat
cek instruksi dokter tentang jenis obat,
dosis
dan frekuensi

26

cek riwayat alergi


pilih analgetik yang diperlukan atau
kombinasi dari analgetik ketika
pemberian lebih dari satu
tentukan pilihan analgetik tergantung
tipe dan beratnya nyeri
tentukan analgetik pilihan, rute
pemberian dan dosis optimal
pilih rute pemberian secara IV, IM
untuk pengobatan nyeri secara teratur
monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgetik pertama kali
berikan analgetik tepat waktu terutama
saat nyeri hebat
evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan
gejala (efek samping)
MONITOR CAIRAN
Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake
cairan dan eliminasi
Tentukan kemungkinan faktor resiko
daari
ketidakseimbangan
cairan
(hipertermia, terapi diuretik, kelainan
renal, gagal jantung, diaporesis, disfungsi
hati)
Monitor berat badan
Monitor serum dan elektrolit urine
Monitor serum dan osmolaritas urine
Monitor BP, HR, RR
Monitor tekanan darah orthostatik
dan perubahan irama jantung
Monitor parameter hemodinamik invasif

KEKURANGAN
VOLUME
CAIRAN
Definisi:
penurunan
cairan
intravaskuler,
interstisiil,
dan
atau
mengarah
intravaskuler.
Ini
mengarah ke dehidrasi, kehilangan
cairan dengan pengeluaran sodium.
Batasan
karakteristik:
Kelemahan, kehausan, penurunan
turgor
kulit/lidah,
membran
mukosa
/kulit kering, peningkatan denyut
nadi,
penurunan tekanan darah, penurunan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan


selama
.......x24 jam keseimbangan cairan
pasien
normal dengan indikator :
TD dalam rentang yang diharapkan
CVP dalam rentang yang diharapkan
Tekanan arteri rata-rata dalam
rentang yang diharapkan
Nadi perifer teraba
Keseimbangan intake dan output
dalam
24
jam
Suara nafas tambahan tidak ada
Berat badan stabil

27

tekanan nadi, pengisian vena menurun,


perubahan
status
mental,
konsentrasi
uriine
meningkat,
temperatur
tubuh
meningkat,
hematokrit meninggi, kehilangan berat
badan seketika.
Faktor
yang
berhubungan:
Kehilangan
volume
cairan secara aktif
Kegagaalan
mekanisme pengaturan

KETIDAKSEIMBANGA
N
NUTRISI:
KURANG
DARI
KEBUTUHAN
TUBUH
Definisi:
keadaan
dimana

Tidak ada asites


Tidak ada distensi vena
Tidak ada edema perifer
Hidrasi kulit
Membran mukosa basah
Serum elektrolit dbn
Ht dbn
Tidak ada haus yang abnormal
Tidak ada sunken eyes
Urine putput normal
Mampu berkeringat
Tidak demam

Setelah dilakukan tindakan keperawatan


selama
.......x24 jam status nutrisi pasien
normal
dengan indikator :
Intake nutrien normal
Intake makanan dan cairan normal

Catat secara akurat intake dan output


Monitor membran mukosa dan turgor
kulit, serta rasa haus
Monitor warna dan jumlah

MANAJEMEN CAIRAN
Pertahankan posisi tirah baring selama
masa akut
Kaji adanya peningkatan JVP, edema dan
asites
Tinggikan kaki saat berbaring
Buat jadwal masukan cairan
Monitor intake nutrisi
Timbang BB secara berkala
Monitor TTV
Pantau haluaran urine (karakteristik,
warna, ukuran)
Keseimbangan cairan secara 24 jam
Monitor tanda dan gejala asites dan edema
Ukur lingkaran abdomen, awaaaasi
tetesan infus
Pantau albumin serum
Kaji turgor kulit
MONITOR NUTRISI
Berat badan pasien dalam batas normal
Monitor adanya penurunan berat badan
Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang
biasa dilakuakn
Monitor interaksi anak dan orang tua
selama makan

28

individu
mengalami intake nutrisi yang kurang
dari kebutuhan tubuh untuk memenuhi
kebutuhan metabolik
Faktor
yang
berhubungan:
Ketidakmampuan menelan
Penyakit kronik
Intoleransi makanan
Kesulitan mengunyah
Mual
Muntah
Hilang nafsu makan

Berat badan normal


Massa tubuh normal
Pengukuran biokimia normal

Monitor lingkungan selama makan


Jadwalkan pengobatan dan tindakan
tidak selama jam makan
Monitor kulit kering dan perubahan
pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut kusam,
total protein, Hb dan kadar Ht
Monitor makanan kesukaan
Monitor pertumbuhan dan perkembangan
Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
Monitor kalori dan intake nutrisi
Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidah dan cavitas oval
Catat jika lidah berwarna megenta, scarlet

Setelah dilakukan tindakan keperawatan


selama
.......x24 jam status nutrisi: intake
nutrient pasien adekuat dengan indikator :
intake kalori
intake protein
intake lemak
intake karbohidrat
intake vitamn
intake mineral
intake zat besi

intake kalsium

MANAJEMEN NUTRISI
Kaji adanya alergi makanan
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan nutrisi
yang dibutuhkan
pasien
Anjurkan pasien untuk meningkatkan
intake Fe
Anjurkan pasien untuk meningkatkan
protein dan vitamin C
Berikan subtansi gula
Yakinkan diet yang dimakan
mengandung tinggi serat untuk mencegah

29

konstipasi
Berikan makanan yang terpilih
(sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
Ajarkan pasien bagaimana membuat
catatan makanan harian
Monitor jumlah nutrisi dan kandungan
kalori
Berikan informasi tentang kebutuhan
nutrisi

30

31

DAFTAR PUSTAKA
Citra, Agus. (2004). Tuntunan Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga.
Bandung: Rizqi Press
Doenges, Marilynn E, dkk. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Edisi 3. Alih Bahasa: I
Made Kariasa, dkk. (2001) Jakarta: EGC
Effendy, Nasrul. (1998). Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat, edisi 2.
Jakarta: EGC
Friedman, Marilyn M. (2002). Keperawatan Keluarga Teori dan Prakte, Edisi 3.
Jakarta: EGC.
Hadi, Soeparman. (1999). Ilmu Penyakit Dalam, jilid kedua. Depok: Balai Pustaka
FKUI.
Mansjoer, Arif. (1999). Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ketiga jilid pertama.
Jakarta: Media Aesculapeus
Price, Sylvia A, dkk.( 2005). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit, Edisi 6 Vol I. Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne C.(2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddart, Edisi 8 Vol 2. Jakarta: EGC

32

33