Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Kuda yang dikenal sebagai hewan herbivora-non ruminansia
memiliki manfaat cukup banyak bagi kehidupan manusia. Dalam sejarah
tercatat bahwa kuda dapat digunakan sebagai bahan pangan melalui
pemanfaatan daging dan susu. Selain itu kuda juga dapat dimanfaatkan
untuk olahraga atau rekreasi, keperluan pertanian secara luas dan sebagai
alat pengangkutan bahkan sebagai kuda perang. Melalui peranannya ini
maka penting untuk dilakukan pelestarian melalui budidaya yang intensif.
Selain pengawinan secara alamiah, inseminasi buatan (IB)
merupakan salah satu teknologi reproduksi yang digunakan untuk
peningkatan produksi dan perbaikan mutu genetik ternak dan sebagai alat
dalam pelaksanaan kebijakan pemuliaan secara nasional. Di Indonesia IB
pada kuda telah dilaksanakan sejak tahun 2000 an, meskipun demikian
sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang optimal, dibandingkan
dengan IB pada ternak lainnya.
Tingkat keberhasilan pengawinan kuda yang masih rendah baik
secara inseminasi maupun kawin alam di Indonesia sudah selayaknya
menjadi suatu titik perhatian. Beberapa hal yang menyebabkan rendahnya
tingkat keberhasilan pengawinan ini adalah minimnya informasi mengenai
lama siklus dan periode estrus pada kuda, sehingga peternak tidak mampu
untuk menentukan waktu optimal kawin pada kuda. Hal ini berbeda jika
dibandingkan dengan ternak lainnya seperti pada sapi, kambing, domba
dan babi tingkat keberhasilan pengawinannya relatif lebih tinggi.
Observasi mengenai lama siklus dan periode estrus secara intensif
sangat dibutuhkan untuk memperoleh tingkat efisiensi reproduksi. Hal ini
dapat dicerminkan melalui tingkat keberhasilan pengawinan yang tinggi.
Detasemen Kavaleri Berkuda merupakan satuan operasional dibawah
pusat kesenjataan kavaleri yang menyelenggarakan peternakan kuda serta
menyelenggarakan tugas-tugas protokoler dan pengembangan olah raga

berkuda nasional. Hal ini dapat dijadikan dasar sebagai suatu sarana untuk
dilakukannya observasi mengenai lama siklus dan periode estrus pada
kuda.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang dapat
diajukan pada makalah ini adalah : Bagaimakah siklus estrus, periode
estrus dan gejala-gejala estrus yang terjadi pada kuda ?
1.3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan makalah ini
adalah : untuk mempelajari lama siklus estrus, periode estrus, dan gejalagejala estrus kuda sehingga waktu optimal kawin dapat ditentukan dengan
tepat agar dapat meningkatkan keberhasilan pengawinan kuda baik secara
alami maupun buatan.
1.4. Manfaat
Manfaat dari penyusunan makalah ini adalah memberikan
informasi mengenai lama siklus estrus, periode estrus, dan gejala-gejala
estrus kuda sehingga waktu optimal kawin dapat ditentukan dengan tepat
agar dapat meningkatkan keberhasilan pengawinan kuda baik secara alami
maupun buatan dan untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan yang
lebih luas.

BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1.

Kuda (Equus caballus)


Kuda merupakan salah satu jenis ternak herbivora-non ruminansia
yang telah terkenal luas. Kuda bersifat nomadik dan kuat serta memiliki
tingkat kecerdasan yang tinggi dan memiliki kemampuan belajar yang
baik dalam mengenal suatu obyek (Kilgour dan Dalton, 1984), dengan
klasifikasi zoologis menurut Blakely dan Bade (1991) adalah :
Kingdom : Animalia (hewan)
Phylum : Chordata (bertulang belakang)
Class : Mammalia (menyusui)
Ordo : Perissodactyla (berteracak tidak memamah biak)
Family : Equidae
Genus : Equus
Spesies : Equus caballus
Selain kuda, keledai juga termasuk kedalam famili Equidae, yang
membedakannya adalah pada spesiesnya yaitu Equus asinus. Keledai
merupakan hewan jinak yang digunakan untuk alat transportasi dan
binatang kesayangan. Banyak persamaan kondisi fisiologis reproduksi
antara keledai dengan kuda (Blanchard dan Taylor, 2005).

2.2.

Fisiologi Reproduksi Kuda Betina


2.2.1. Anatomi Reproduksi
Organ genitalia kuda betina terdiri atas dua buah ovarium,
dua buah tuba fallopii, uterus, vagina dan vulva. Organ reproduksi
kuda betina selengkapnya diperlihatkan pada Gambar 1.

Gambar 1 Organ Reproduksi Kuda Betina


Sumber : Morel (2008)
Ovarium adalah suatu organ primer reproduksi pada betina.
Ovarium dapat bersifat endokrin atau sitogenik karena mempunyai
kemampuan menghasilkan hormon yang akan disalurkan ke dalam
peredaran darah, dan juga penghasil ovum (sel telur) yang
diovulasikan

oleh

ovarium.

Ovarium

berfungsi

dalam

pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum, ovulasi (egg


release)

sintesis

dan

sekresi

hormon-hormon

steroid

(steroidogenesis) (Hafez dan Hafez, 2000a; Morel, 2008).


Pada saat musim kawin ovarium memiliki ukuran panjang
6-8 cm dan lebar 3-4 cm, pada saat itu kondisi ovarium terasa lebih
lembut hal ini terjadi karena adanya sekresi cairan akibat
perkembangan sel folikel. Lain halnya ketika bukan musim kawin
ukuran ovarium cenderung lebih kecil yaitu dengan panjang 2-4
cm dan lebar 2-3 cm, dalam kondisi seperti ini ovarium akan terasa
tidak lembut hal ini disebabkan tidak adanya perkembangan folikel
(Morel, 2008).
Tuba falopii atau oviduct adalah saluran yang berpasangan
dan berkonvulasi yang berfungsi mengantarkan ovum yang
diovulasikan dari ovarium menuju cornua uteri. Ovum yang
diovulasikan oleh ovarium akan diterima oleh infundibulum
menuju ampula tempat terjadinya proses pembuahan (fertilisasi).
Lapisan dalam tuba falopii merupakan membran mukosa yang
berlipat-lipat dilapisi oleh epitel silia kolumner sederhana. Selama

masa estrus dan sebelum kelahiran epitel bersilia tersebut bersifat


sekretoris aktif (Manan, 2002). Panjang rataan dari tuba falopii ini
adalah 25-30 cm (Morel, 2008).
Uterus merupakan organ yang berperan pada saat
kebuntingan

berfungsi

sebagai

tempat

implantasi,

retensi

(pemeliharaan) dan nutrisi konseptus. Uterus terdiri dari carpus


uteri (badan uterus) dan cornua uteri (tanduk uterus). Corpus uteri
berfungsi sebagai tempat deposisi semen pada saat IB, sedangkan
cornua uteri berfungsi sebagai tempat menempelnya zigot, lalu
berkembang menjadi embrio dan fetus. Secara anatomis dan
histologis, cornua dan corpus uteri memiliki struktur yang sama
yaitu terdiri dari myometrium (otot), perimetrium (selaput
serosa/peritonium), endometrium (mukosa/selaput lendir) (Manan,
2002). Corpus uteri normalnya mempunyai rataan panjang 18-20
cm dengan diameter 8-12 cm, sedangkan untuk cornua uteri
memiliki panjang hingga 25 cm dengan diameter 4-6 cm
mengerucut hingga 1-2 cm mendekati tuba falopii. Uterus pada
kuda dinamakan dengan simplex bipartitus, hal ini disebabkan oleh
ukuran corpus uteri yang lebih besar dibandingkan dengan cornua
uteri (Gambar 2), berbeda dengan ternak lainnya dimana cornua
uteri cenderung lebih besar dan mendominasi (Morel, 2008).

Gambar 2 Uterus
Sumber: Mottershead (1999)

Serviks (Gambar 3) atau leher uterus adalah suatu urat


daging sphincter tubular yaitu otot polos yang sangat kuat yang
terletak antara uterus dan vagina. Serviks mempunyai panjang
antara 5-10 cm dengan diameter antara 1,5-1,7 cm. Saluran serviks
dikenal dengan nama Canalis cervicalis, mempunyai bentuk
berkelok-belok karena dibentuk oleh Annulus cervicalis. Annulus
cervicalis yaitu suatu cincin yang melingkar di Canalis cervicalis.
Cairan mukus yang dikenal sebagai lendir serviks dapat menutupi
lumen pada saat hewan dalam keadaan bunting, tetapi akan
kembali mencair pada saat estrus atau saat proses kelahiran
berlangsung. Adapun fungsi serviks adalah sebagai gerbang yang
kuat, melindungi uterus dari infeksi lingkungan luar (Manan,
2002). Serviks dalam kondisi tidak estrus akan tertutup rapat dan
kuat, berwarna pucat dan mempunyai ukuran panjang rataan 6-8
cm dengan diameter 4-5 cm, sedangkan dalam kondisi estrus otot
serviks akan mengalami relaksasi yang akan memudahkan penis
masuk kedalamnya, selain itu serviks berwarna merah muda dan
terlihat menonjol sehingga vagina kuda yang sedang estrus akan
terlihat lebih besar dan tidak terdapat lipatan (Morel, 2008).
Serviks adalah barier fisik bagi pergerakan mikroorganisme
kedalam saluran reproduksi. Fungsi serviks difasilitasi oleh sekresi
lendir yang kental dan dapat menutupi lumen serviks selama terjadi
kebuntingan. Sekresi lendir pada serviks ini juga mengandung
bahan

yang

disebut

lactoferin

yang

dapat

menghambat

pertumbuhan bakteri (Lestari, 2006).

Gambar 3 Serviks

Sumber: Mottershead (1999)


Vagina termasuk kedalam organ reproduksi bagian luar dan
merupakan gerbang bagi mikroorganisme memasuki tubuh ternak
betina. Vagina memiliki diameter 10 -15 cm dan panjang rata-rata
18 - 23 cm. Dinding vagina yang elastic ini merupakan otot yang
dilapisi oleh mukosa dan dengan keelastisannya dapat membantu
dalam proses kelahiran. Vagina merupakan perlindungan pertama
dalam sistem dan saluran reproduksi yang memiliki pH asam
sehingga dapat membunuh bakteri (Morel, 2008). Vagina
mempunyai fungsi sebagai tempat terjadinya pengawinan, tempat
peletakan semen pada pengawinan alam, dan juga sebagai tempat
penyimpanan vaginal pessary atau spons vaginal pada saat
sinkronisasi estrus. Vestibula adalah bagian tubular dari saluran
reproduksi antara vagina dan labia vulva. Vestibula vagina
memiliki beberapa urat daging sirkuler atau serupa sphincter yang
menutup saluran kelamin dari lingkungan luar sehingga dapat
memperkecil kemungkinan masuknya mikroorganisme kedalam
vagina (Lestari, 2006).
Vulva berada kurang lebih tujuh cm dibawah anus termasuk
ke dalam organ reproduksi bagian luar, yang akan dilalui pada saat
kopulasi sebelum vagina. Otot sphincter vulva memperkecil
kemungkinan masuknya mikroorganisme ke dalam vagina,
demikian pula otot sphincter vestibula memperkecil pergerakan
mikroba menuju arah anterior vagina (Lestari, 2006). Vulva
terletak lurus secara vertikal terhadap anus dan hal ini memberikan
peluang untuk terjadinya kontaminasi yang berasal dari kotoran.
Vulva kuda yang normal tidak boleh memiliki kemiringan lebih
dari 10o dari kondisi vertikal yang sewajarnya (Gambar 4 dan 5),
kondisi bibir vulva harus rapat dan normal (England, 2004).

Gambar 4 Konformasi Vulva Normal dan Abnormal


Sumber : England (2004)

Gambar 5 Vulva Kuda Normal (a) dan Vulva Kuda Abnormal (b)
Sumber : Morel, 2008
Pada bagian dalam vulva terdapat klitoris dan tiga sinus
yang menghasilkan lingkungan yang tidak diinginkan oleh
pertumbuhan bakteri yang menyebabkan penyakit (Morel, 2008).
Vulva terdiri dari dua labia (commissural dorsalis dan ventralis).
Klitoris terdiri dari dua krura atau akar, badan dan kepala (glans).
Klitoris terdiri dari jaringan erektil yang tertutup oleh ephitel dan
dengan sempurna memperoleh inervansi dari ujung-ujung saraf
sensori (Manan, 2002).
2.2.2. Pubertas
Pubertas atau dewasa kelamin didefinisikan sebagai kondisi
dimana

organorgan

reproduksi

mulai

berfungsi

dan

perkembangbiakan dapat terjadi. Menurut England (2004) dan

Morel (2002) pubertas pada kuda terjadi pada umur kurang lebih
18-24 bulan, sedangkan menurut Hafez dan Hafez (2000c) umur
pubertas pada kuda dapat dicapai antara 15 hingga 18 bulan. Pada
hewan

jantan,

pubertas

ditandai

dengan

kesanggupannya

berkopulasi dan menghasilkan spermatozoa yang motil diikuti


dengan perubahan-perubahan kelamin sekunder lainnya. Pubertas
pada kuda betina ditandai oleh terjadinya estrus (England, 2004)
Kuda yang memiliki kerja berat, dewasa kelaminnya akan
tertunda hingga umur 3 4 tahun (Laing, 1979). Kuda betina yang
sudah mengalami pubertas sebaiknya tidak dikawinkan sebelum
mencapai umur dua tahun dan bahkan sebaiknya setelah berumur
tiga tahun. Kuda betina yang dikawinkan pada umur yang lebih
muda, biasanya tingkat kebuntingannya rendah (Blackely dan
Bade, 1991).
2.2.3. Gejala Estrus
Gejala yang timbul saat kuda estrus adalah menurunnya
nafsu makan, terdengarnya suara bersahutan antara betina estrus
dengan teaser. Urinasi saat melihat pejantan (Gambar 15) dan
winking (mendenyut-denyutkan klitoris) (Gambar 16), termasuk
juga dalam suatu kondisi yang menyatakan bahwa kuda betina
tersebut sedang mengalami estrus. Sesaat menjelang akhir estrus
yaitu pada hari ke 3-4 kuda terlihat urinasi dalam jumlah yang
sedikit, tetapi yang dikeluarkan berupa lendir dengan warna krem
hingga putih (Gambar 17). Hal ini diindikasikan sesaat menjelang
ovulasi terkait dengan waktu ovulasi alamiah terjadi pada 48 jam
menjelang

akhir

estrus,

akan

tetapi

untuk

mengetahui

kebenarannya diperlukan penelitian yang lebih lanjut.


Ciri lainnya yang teramati secara visual saat kuda estrus
adalah tidak menolak jika didekati kuda pejantan dan berada dalam
posisi siap kawin (Gambar 18) atau menghampiri pejantan dengan
sendirinya dan memberikan bagian vulvanya (Gambar 19), vulva
kuda yang sedang estrus terlihat lebih besar jika dibandingkan

dengan vulva kuda betina yang tidak estrus. Selain itu, vulva akan
terlihat basah dan biasanya tertinggal lendir yang sudah mengering
pada bagaian vulva (Gambar 20).
Kuda betina yang sedang estrus mengalami peningkatan
frekuensi urinasi sehingga kandang terlihat lebih basah jika
dibandingkan dengan kuda yang tidak estrus dan kuda yang sedang
estrus selalu terlihat mengangkatkan ekornya dalam waktu yang
relatif lama, lain halnya dengan kuda yang tidak estrus ekor terlihat
biasa saja (Gambar 21).
Beberapa gejala estrus yang teramati sesuai dengan
pendapat dari Hafez dan Hafez (2000c) yang menyatakan bahwa
selama estrus vulva kuda betina terlihat lebih besar dan lipatan
pada vulva melonggar dan akan mudah jika ingin dilakukan
pemeriksaan, selaput mukosa vulva membengkak, memerah, basah
dan mengkilap karena dilapisi oleh lendir yang transparan. Selain
itu kuda yang sedang estrus berdiri dalam keadaan seperti akan
urinasi, mengangkatkan ekornya dan terjadi kontraksi pada klitoris.
Begitu pula dengan pendapat Morel (2008), bahwa kuda betina
estrus pada saat didekati kuda jantan akan urinasi, terdiam, ekor
diangkat dan mengambil posisi siap untuk kawin dengan keadaan
vulva yang menutup dan membuka (winking).
2.2.3. Siklus Estrus
Siklus estrus merupakan satu periode dari satu estrus ke
estrus berikutnya atau interval antara timbulnya satu periode estrus
ke permulaan periode estrus berikutnya (Slusher et al., 2004).
Kuda betina digolongkan kedalam "seasonally polyestrus" yang
berarti kuda betina mengalami siklus estrus dalam waktu yang
tertentu setiap tahunnya (pada musim semi dan panas). Hal ini
bertujuan untuk menghindari kelahiran anak kuda dalam kondisi
cuaca yang tidak baik atau ekstrim (Mottershead, 2001). Lama
siklus estrus kuda bervariasi yaitu antara 21 hingga 23 hari
(Slusher

et

al,

2004;

England,

2004).

Beberapa

kuda

10

memperlihatkan keinginan kawin yang besar pada awal musim


kawin selama periode estrus yang panjang tetapi tidak terjadi
ovulasi. Kuda ini mungkin tidak akan subur sampai periode
estrusnya menjadi lebih pendek dan lebih teratur. Kuda lain
mungkin hanya mengalami estrus tenang atau silent heat dimana
terjadi ovulasi tetapi tidak memperlihatkan keinginan untuk kawin.
Banyak kuda semacam ini akan dapat bunting apabila saat estrus
dapat diidentifikasi melalui palpasi rektal serta diamati perubahanperubahan fisik yang terjadi pada vulva, vagina dan serviksnya
(Frandson, 1992).
Fase awal dari siklus estrus ini dianggap sebagai fase
penumpukan atau pemantapan dimana folikel ovarium yang berisi
ovum membesar terutama karena meningkatnya cairan folikel yang
berisi cairan estrogenik. Estrogen yang diserap dari folikel kedalam
aliran

darah

merangsang

peningkatam

vaskularisasi

dan

pertumbuhan sel gamet dalam persiapan untuk estrus dan


kebuntingan yang terjadi (Frandson, 1992).
Siklus estrus pada kuda terdiri dari estrus dan diestrus.
Diestrus adalah periode terakhir dan terlama pada siklus estrus,
yaitu suatu kondisi dimana sel-sel granulosa dari folikel yang
berovulasi pada akhir estrus berubah menjadi sel lutein dan
membentuk corpus luteum (CL). Selanjutnya CL menjadi matang
dan konsentrasi progesteron semakin meningkat. Progesteron ini
menghambat sekeresi Follicle stimulating hormone (FSH) oleh
hipofisa anterior sehingga menghambat pertumbuhan folikel
ovarium dan mencegah terjadinya estrus. Jika kuda itu tidak
bunting, CL akan teregresi dan terjadi perkembangan folikel yang
baru. Diestrus biasanya berlangsung selama 15 sampai dengan 19
hari (Slusher et al., 2004). Menurut Hafez dan Hafez (2000b) dan
(England, 2004) diestrus pada kuda terjadi masing-masing selama
14 hari dan 14-16 hari. Lama diestrus yang bervariasi ini, dapat
disebabkan oleh tiga hal yaitu, terjadinya ovulasi akan tetapi tidak

11

terlihat gejala estrus atau yang dinamakan dengan silent ovulasi,


adanya keberadaan CL yang persisten yang tidak dapat dilisis oleh
PGF2 atau PGF2 yang dihasilkan tidak cukup untuk melisis CL
dan yang terakhir adalah adanya ovarium yang tidak aktif baik
pada masa transisi maupun bukan musim kawin. Beberapa hal
tersebut dapat menyebabkan perhitungan lama diestrus yang
bervariasi (Morel, 2002).
Siklus estrus terbagi menjadi dua fase yaitu fase luteal dan
fase folikuler. Fase luteal dapat disebut juga dengan diestrus
merupakan suatu kondisi dimana CL dominan, sedangkan fase
folikuler (estrus) adalah fase disaat terjadi perkembangan folikel
dominan. Kuda betina merupakan ternak yang efisien, dia dapat
estrus selama laktasi, tidak seperti ternak lainnya yaitu domba yang
sama-sama tergolong kedalam seasonally polyestrus. Kuda betina
bahkan mampu bunting dan laktasi dalam satu waktu yang sama.
Kuda betina akan terlihat estrus 4-10 hari setelah beranak yang
dinamakan dengan foal heat. Setelah itu kuda betina akan
kembali pada siklus estrus yang regular yaitu 21 hari (Morel,
2002). Kuda betina dapat dikawinkan kembali 2-3 minggu setelah
beranak (Reilas, 2001).
2.2.4. Periode Estrus
Periode estrus pada kuda rata-rata adalah tujuh hari dengan
kisaran 4-8 hari. Ovulasi biasanya terjadi secara spontan menjelang
akhir estrus. Ovulasi akan terjadi pada 24 hingga 48 jam menjelang
akhir estrus dan sebaiknya kuda dikawinkan dua hari menjelang
akhir estrus dan diteruskan pada hari terakhir sebelum masa estrus
berakhir (Hafez dan Hafez, 2000c). Lamanya periode estrus
bervariasi antara 4-7 hari (England, 2004) dan 5-6 hari
(Malinowski, 2008) bahkan dapat mencapai 2-10 hari (Morel,
2002).
Hafez dan Hafez (2000c), menyatakan lama dan siklus
estrus dapat berbeda antar individu kuda betina. Selama estrus

12

vulva kuda betina terlihat lebih besar dan lipatan pada vulva
melonggar dan akan mudah jika ingin dilakukan pemeriksaan.
Selaput mukosa vulva membengkak, memerah, basah dan
mengkilap karena dilapisi oleh lendir yang transparan. Selain itu
kuda yang sedang estrus selalu berdiri dalam keadaan seperti akan
urinasi, mengangkatkan ekornya dan terjadi kontraksi pada klitoris.
Kuda betina estrus pada saat didekati kuda jantan akan urinasi,
terdiam, ekor diangkat dan mengambil posisi siap untuk kawin
dengan kondisi vulva yang menutup dan membuka (Morel, 2008).
2.2.5. Peranan Hormon Selama Siklus Estrus
Hormon yang berperan dalam siklus estrus meliputi:
gonadotropin releasing hormone (GnRH), follicle stimulating
hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH), estrogen,
progesteron, prostaglandin F2, serta

inhibin dan activin

(Mottershead, 2001). Level hormon dan aktivitas ovarium dalam


siklus estrus dapat dilihat secara lengkap pada Gambar 6.

Gambar 6 Level Hormon dan Aktivitas Ovarium pada Siklus Estrus


Sumber : Mottershead (2001)
Gambar 6 memperlihatkan ovulasi terjadi pada hari ke-0
menunjukkan adanya peningkatan LH. Apabila tidak terjadi
kebuntingan maka CL akan mulai teregresi. Corpus luteum
teregresi sempurna pada hari ke-18. Level progesterone akan
menurun seiring dengan teregresinya CL (hari ke-13). Level FSH
akan meningkat yang akan berperan penting dalam pertumbuhan
folikel untuk mempersiapkan terjadinya ovulasi kembali (hari ke

13

19-22 terhitung dari estrus sebelumnya) (Slusher et al., 2004).


Hormon FSH ini akan menurun setelah sel folikel matang, hal ini
terjadi karena adanya inhibin yang dihasilkan oleh sel folikel
tersebut sebagai negatif feedback (umpan balik negatif) terhadap
produksi FSH melalui respon yang disampaikan pada hipofisa
anterior. Selain itu terdapat activin yang dihasilkan oleh cairan
folikel sebagai positif feedback (umpan balik positif) untuk
dihasilkannya FSH setelah terjadi ovulasi, untuk mempersiapkan
perkembangan folikel berikutnya (Morel, 2002).
Gonadotropin releasing hormone (GnRH), disekresikan
oleh hipotalamus dan mempengaruhi kegiatan hormon reproduksi.
Sekresi dari GnRH akan merangsang produksi hormon lain (FSH,
LH). Pada kuda yang sedang estrus GnRH disekresikan secara
terus-menerus setiap dua jam pada diestrus dan dua kali per jam
selama estrus (Mottershead, 2001). Gonadotropin releasing
hormone (GnRH) ini 20% nya berperan dalam mengatur tingkah
laku kuda yang sedang estrus dan 80% lainnya berperan dalam
menstimulasi pelepesan FSH dan LH pada hipofisa anterior
(Morel, 2002).
Hormon estrogen dihasilkan dari folikel yang berfungsi
mengatur tingkah laku yang ditimbulkan selama siklus estrus
berlangsung. Hormon estrogen ini akan meningkat menjelang
estrus. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku
kuda betina yang dapat menerima pejantan (Slusher et al, 2004).
Hormon lainnya seperti FSH dan LH, kedua hormon ini diproduksi
di kelenjar hipofisa dan diatur oleh GnRH. FSH berfungsi
merangsang pematangan sel telur dan pembentukan hormon
estrogen dan LH berfungsi untuk merangsang terjadinya ovulasi
(Mottershead, 2001; Slusher et al, 2004). Menurut Slusher et al.
(2004) konsentrasi LH terendah adalah selama fase luteal dari
pertengahan estrus, naik hanya beberapa hari sebelum estrus atau

14

segera setelah ovulasi, untuk kemudian kembali turun ketingkat


sebelumnya selama beberapa hari berikutnya.
Hormon progesteron yang dihasilkan oleh CL adalah
hormon utama yang bertanggungjawab terhadap kebuntingan
(Mottershead, 2001). Progesteron berperan dalam mempertahankan
kebuntingan hingga menjelang 150 hari kebuntingan. Sejak 150
hari hingga masa akhir kebuntingan yang mempertahankan
kebuntingan

adalah

plasenta

(Slusher

et

al.,2004).

Level

progesteron meningkat 24-48 jam setelah ovulasi. Progesteron


dapat menghambat pelepasan LH (Morel, 2002).
Prostaglandin F2 bertanggungjawab terhadap proses
luteolisis dari CL sehingga level progesteron akan turun hal ini
dilakukan untuk melanjutkan proses siklus estrus dan ovulasi.
Hormon PGF2 ini dihasilkan pada sel-sel epithel uterus, berperan
dalam kontraksi otot uterus. Hormon PGF2 pada umumnya
dihasilkan pada hari ke-14 atau 17 setelah ovulasi, yaitu sesaat
sebelum level progesterone turun (Mottershead, 2001; Morel,
2002).
Hormon lain yang terlibat dalam siklus estrus adalah
Oxytocin, ketika diketahui bahwa kuda betina tersebut tidak
mengalami kebuntingan maka hormone oxytocin ini akan
dihasilkan dan diangkut melalui sistem sirkulasi menuju uterus
yang dapat menstimulasi peningkatan pelepasan PGF2 (Morel,
2002). Secara umum skema dari siklus estrus dapat dilihat pada
Gambar 7.

15

Gambar 7 Skema Umum Siklus Estrus


Sumber : Mottershead (2001)
Kontrol endokrin dalam siklus estrus sangat dipengaruhi
oleh photoperiod (lamanya pencahayaan). Menurunnya lama
pencahayaan akan menyebabkan tidak terjadinya estrus. Adanya
cahaya akan dirasakan oleh gland pineal pada pusat otak yang
berperan dalam pembentukan hormon melatonin. Melatonin ini
banyak diproduksi saat kondisi gelap oleh gland pineal, dalam
kondisi pencahayaan yang cukup konsentrasi melatonin ini sangat
rendah. Adanya melatonin akan menghambat pelepasan hormon
GnRH sehingga tidak dihasilkannya hormon FSH dan LH.
Melatonin dibentuk dalam dua fase yaitu photophase (siang hari)
dan scotophase (malam hari), konsentrasi tertinggi berada pada
malam hari (Morel, 2002).
2.3.

Deteksi Estrus
Deteksi estrus perlu dilakukan, karena dalam kondisi estrus kuda
dipersiapkan untuk bunting dan memperoleh anak. Pendeteksian estrus
pada dasarnya dapat dilakukan dengan tiga metode yaitu melaui teasing
system, ultrasonography (USG) dan menggunakan metode palpasi rektal.
Teasing system adalah metode deteksi estrus menggunakan kuda teaser
dengan melihat respon dari kuda betina terhadap kuda pejantan. Metode

16

USG adalah deteksi estrus dengan melihat ukuran folikel dan metode
palpasi rektal adalah deteksi estrus melalui pemeriksaan dan perabaan
pada bagian foosa ovulatori yang akan menonjol sesaat sebelum ovulasi
(Slusher et al., 2004).
Meadows et al. (2003) menyatakan bahwa pendeteksian estrus
menggunakan kuda teaser (kuda pejantan penggoda) yang dilewatkan
pada kumpulan kuda betina akan dapat mengetahui kuda betina yang
sedang estrus, karena kuda betina yang sedang estrus akan menghampiri
kuda teaser tersebut. Metode teasing system ini terdiri dari pen teasing,
paddock teasing, pasture teasing, teasing chute, stall door teasing, teasing
rail, dan teasing mill. Pen teasing (Gambar 8) merupakan salah satu
metode pendeteksian estrus dimana kuda teaser dilewatkan diantara kuda
betina. Kuda teaser dapat dilepas di kandang untuk menghampiri kuda
betina dengan sendirinya atau kuda teaser dapat dikendalikan oleh
peternak. Kandang yang digunakan harus terbuat dari bahan-bahan yang
aman untuk menghindari atau meminimalisir terjadinya kecelakaan
(Meadows et al., 2003).

Gambar 8 Pen Teasing


Paddock teasing dilakukan menggunakan kuda teaser yang diletakkan di
tengah dan dikelilingi oleh kuda betina yang berada didalam kandang.
Metode ini efektif untuk mengetahui kuda mana yang sedang estrus
(Gambar 9).

17

Gambar 9

Paddock

Teasing
Metode Pasture
teasing

sudah

digunakan

dalam

banyak

melakukan pendeteksian estrus akhir-akhir ini. Melalui metode ini


peternak hanya membawa kuda baik jantan maupun betina ke padang
pastura atau padang rumput, dalam kondisi seperti ini akan terlihat tingkah
laku kuda betina yang sedang estrus, kuda betina yang sedang estrus tidak
akan menolak jika dinaiki oleh pejantan ataupun teaser. Biaya yang
dikeluarkan melalui metode ini pun cukup murah, walaupun dalam
pelaksanaannya metode ini biasanya terdapat kecelakaan baik pada
peternak ataupun kudanya. Kelemahan dari metode ini adalah pada kuda
betina yang pemalu dia akan cenderung tidak memperlihatkan keinginan
untuk kawin, bahkan dapat menghindar dari kuda pejantan maupun
peternaknya (Meadows et al., 2003).
Teasing chute merupakan metode pendeteksian estrus yang
menggunakan kandang dengan ukuran panjang 2,44 m, lebar 0,76 m dan
tinggi 1,22 m. Ukuran ini hanya untuk satu ekor kuda betina. Kuda betina
yang akan dideteksi dibawa masuk kedalam kandang tersebut beserta kuda
teaser dan kemudian akan dikeluarkan kembali jika telah diketahui apakah
kuda betina tersebut sedang estrus atau tidak (Meadows et al., 2003).
Stall door teasing merupakan suatu metode dimana kuda betina
yang dikandangkan secara individu didatangi satu persatu oleh kuda
teaser, sehingga akan diketahui kuda betina mana yang sedang estrus. Hal
ini hampir sama dengan teasing rail yang digunakan untuk mendeteksi
kuda betina secara individu dengan adanya pembatas yang memisahkan
antara kuda pejantan dan betina, dalam hal ini baik kuda betina maupun
pejantan masing-masing dibawa oleh peternak untuk didekatkan atau
dipertemukan. Pembatas yang digunakan harus terbuat dari bahan yang
aman dengan ketinggian sekitar 1,22 meter dan panjang 2,44 meter

18

(Gambar 10) (Meadows et al., 2003). Menurut Morel (2002) hal yang
demikian dinamakan dengan Trying board (Gambar 11).

Gambar 10. Teasing Rails

Gambar 11. Trying Board


Sumber : Morel (2002)
Teasing mill merupakan suatu variasi yang menarik dalam
pendeteksian estrus. Digunakan kandang yang berbentuk melingkar, pada
pusat kandang merupakan tempat kuda pejantan yang berfungsi sebagai
teaser, kuda teaser terlebih dahulu dimasukkan kedalam kandang
kemudian diikuti oleh kuda betina yang dikandangkan secara individu
dengan kondisi melingkar mengelilingi kuda pejantan (Gambar 12). Kuda
teaser akan menghampiri kuda betina satu per satu untuk diketahui estrus
atau tidaknya. Apabila pendeteksian ini sudah selesai, maka kuda betina
lainnya dapat dimasukkan segera menggantikan kuda betina sebelumnya.
(Meadows et al., 2003).

19

Grambar 12. Teasing Mill


2.4.

Faktor yang Mempengaruhi Lama Siklus dan Periode Estrus


Faktor-faktor yang mempengaruhi lama siklus dan periode estrus
ini adalah faktor iklim, pencahayaan (fotoperioditas), pakan dan umur.
Kuda yang berada di negara empat musim bersifat seasonally polyestrus
(estrus yang berulang pada musim kawinnya) yang terjadi pada akhir
musim semi, panas hingga awal musim gugur sekitar bulan Mei hingga
Oktober (England, 2004). Terjadinya musim kawin pada kuda di daerah
subtropis terkait dengan pembentukan hormon melatonin yang dibentuk
pada saat gelap, dikarenakan pada musim gugur dan musim dingin kondisi
gelap jauh lebih panjang dibandingkan dengan terang, hal ini
mengakibatkan konsentrasi melatonin yang terbentuk tinggi, sehingga
menekan

pelepasan

GnRH

dari

hipothalamus.

Dengan

tidak

disekresikannya GnRH, maka FSH dan LH tidak dihasilkan oleh hipofisa,


padahal FSH dan LH adalah hormon yang berperan dalam perkembangan
folikel dan ovulasi. Kondisi ini disebut dengan anestrus dimana kuda tidak
mengalami estrus (England, 2004).
Kuda di negara empat musim akan mengalami beberapa fase
menuju siklus estrus yang normal yaitu terdiri dari kondisi anestrus, masa
transisi, dan fase ovulatori (masa estrus) (Gambar 13). Pada musim dingin
pertengahan November hingga pertengahan Februari kuda pada umumnya
berada dalam kondisi anestrus. Masa transisi dimulai pada saat menjelang
musim semi pertengahan Februari hingga Mei, folikel pada kondisi ini
berukuran kecil dan tidak memiliki kemampuan untuk berovulasi,

20

sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama sampai folikel tersebut


matang dan mampu berovulasi yang ditandai sebagai awal dimulainya
siklus estrus secara normal.

Gambar 13. Fase Siklus Estrus Kuda Betina pada Iklim Subtropis
Sumber : Slusher et al. (2004)
Lamanya estrus pada kuda betina dipengaruhi oleh beberapa faktor
yaitu: (1) ovarium kebanyakan dikelilingi oleh sebuah lapisan serosa dan
beberapa folikel bermigrasi untuk mencapai foosa ovulatoris sehingga
terjadi ovulasi; (2) ovarium kurang sensitif terhadap hormon FSH daripada
spesies lain (unggas dan domba), sehingga proses sebelum ovulasi (pre
ovulatory) dalam perkembangan folikelnya memerlukan waktu yang lama
untuk mencapai ukuran yang maksimal; dan (3) kadar LH yang rendah
dibandingkan dengan kadar FSH dan hal tersebut menyebabkan
tertundanya ovulasi (Hafez dan Hafez, 2000c). Kuda atau pun ternak lain
dapat mengalami keterlambatan ovulasi. Ovulasi yang tidak sempurna atau
ovulasi yang tertunda dapat terjadi akibat adanya kekurangan nutrisi yang
dibutuhkan. Kekurangan nutrisi pada ternak dapat menyebabkan
penurunan perkembangan folikel ovarium (Gil, 2003; Robinson, 1996).
Schillo et al. (1992) menyatakan bahwa energi tubuh yang cukup
diperlukan untuk memproduksi LH. Selain itu dinyatakan pula bahwa
pengaruh nutrisi dan musim lebih menentukan mekanisme fisologis
reproduksi pada ternak dibandingkan dengan manajemen, terutama dalam
pencapaian umur pubertas.
Menurut Carnevale (2008) umur akan mempengaruhi fungsi dari
ovarium dinyatakan pula bahwa kuda betina yang berumur 17-19 tahun
akan menunjukkan siklus estrus yang lebih panjang jika dibandingkan
dengan kuda umur 5-7 tahun. Pada kuda betina umur 17-19 tahun fase

21

folikuler semakin pendek dengan laju pertumbuhan folikel yang lambat.


Hal ini disebabkan konsentrasi FSH yang tinggi pada saat fase luteal
sehingga terdapat folikel dominan pada akhir fase luteal, tanpa diiringi
aleh peningkatan LH, dan pada saat fase folikuler konsentrasi hormone
estrogen yang dihasilkan rendah. Lama fase luteal (diestrus) tidak terjadi
perbedaan diantara kuda yang berumur 17-19 tahun dengan kuda yang
berumur 5-7 tahun. Selain itu ukuran folikel yang diovulasikan oleh kuda
betina yang tua cenderung memiliki ukuran yang lebih kecil.
2.5.

Kebutuhan Zat Makanan Untuk Kuda


Pengetahuan mengenai kebutuhan zat-zat makanan untuk kuda
belum diketahui luas dibanding ternak lain (sapi, domba, dan lain
sebagainya). Seperti halnya ternak lain, kuda memerlukan air, karbohidrat,
protein, mineral, vitamin untuk hidup pokok (beristirahat), bekerja
(misalnya untuk berlari), reproduksi (bunting dan berlaktasi) dan
pertumbuhan. Beberapa faktor yang menentukan kebutuhan zat makanan
antara lain temperatur, umur, berat badan, lama bekerja/hari dan kondisi
fisiologis ternak (Parakkasi, 1986).
2.5.1. Air
Air merupakan salah satu komponen nutrient yang sangat
penting pada kuda, kurang dari 20% air yang terkandung dalam
tubuh dapat menyebabkan kematian. Air dibutuhkan untuk
memenuhi kehidupan pokok dan membentuk sel, tulang, dan
merupakan sumber utama dalam membentuk cairan dalam tubuh
seperti darah dan limpa (kelenjar getah bening). Air juga dapat
membawa zat-zat makanan kedalam tubuh dan keluar tubuh seperti
saliva, urin, dan keringat. Air merupakan sesuatu yangvital dan
memiliki fungsi metabolisme dalam sistem pencernaan (McBane,
1995).
2.5.2. Energi
Energi sangat penting untuk hidup pokok, berproduksi dan
bereproduksi (bunting dan laktasi). Setelah kebutuhan-kebutuhan

22

tersebut terpenuhi, maka kelebihan energi dapat digunakan untuk


bekerja atau disimpan dalam bentuk lemak (energi cadangan).
Kebutuhan energi untuk bekerja terutama ditentukan oleh individu
yang bersangkutan (besar, macam dan berat kerja yang dilakukan).
Terkait dengan hal itu, lambung kuda relatif kurang mempunyai
kapasitas dalam menampung bahan makanan tersebut, maka
kebutuhan

energi

yang

meningkat

dapat

diatasi

dengan

meningkatkan kadar makanan penguat yang kaya akan energi


(bijibijian) dan menurunkan hijauan (Parakkasi, 1986).
Energi

merupakan

suatu

unsur

yang

sangat

dipertimbangkan dalam menyusun ransum kuda yang sedang


tumbuh, sedang laktasi maupun kuda yang sedang dipekerjakan.
Salah satu sumber energi diantaranya adalah serat atau hijauan
yang terdiri dari karbohidrat kompleks yang dapat ditemukan pada
sel tanaman seperti dinding sel, lignin, selullosa dan hemisellulosa
yang terdiri dari beberapa senyawa penyusunnya (McBane, 1995).
Kebutuhan asupan nutrisi disesuaikan berdasarkan kondisi
fisiologis dan bobot badan. Kuda induk yang memiliki bobot badan
400 kg harus memenuhi kebutuhan digestible energy (DE) untuk
maintenance (hidup pokok) sebesar 13,4 Mkal, sedangkan pada
kuda betina bunting sembilan bulan dibutuhkan 14,9 Mkal,
kebutuhan ini cenderung akan meningkat seiring dengan
peningkatan umur kebuntingan, yaitu pada kuda yang sedang
bunting 10 dan 11 bulan masing masing adalah 15,1 dan 16,1
Mkal. Induk laktasi memiliki kebutuhan DE yang lebih besar yaitu
pada kuda sesaat setelah beranak hingga tiga bulan membutuhkan
DE sebanyak 22,9 Mkal dan induk kuda laktasi setelah tiga bulan
hingga penyapihan membutuhkan DE sebanyak 19,7 Mkal (NRC,
1989).
2.5.3. Protein
Kebutuhan lainnya adalah protein yang merupakan salah
satu faktor penting dalam mendukung semua aktivitas tubuh dan

23

perombakan sel-sel dalam tubuh. Protein terdiri dari asam amino


dan ada 25 asam amino yang diketahui di alam, 22 diantaranya
terdapat pada kuda yang dibagi menjadi dua bagian yaitu asam
amino esensial dan asam amino non esensial (McBane, 1995;
Gaman dan Sherringthon, 1994). Jumlah sel dalam tubuh
meningkat selama periode pertumbuhan, sehingga dalam kondisi
seperti ini dibutuhkan protein yang cukup tinggi. Selain itu, protein
penting dalam pembentukan enzim, antibodi dan beberapa hormon
termasuk hormone reproduksi (Gaman dan Sherringthon, 1994).
Crude Protein (CP) yang harus dipenuhi untuk kebutuhan
maintenance (hidup pokok) induk kuda yang memiliki bobot badan
400 kg adalah 536 g, sedangkan pada kuda betina bunting 9, 10
dan 11 bulan dibutuhkan CP masing - masing 654, 666 dan 708 g.
Induk laktasi memiliki kebutuhan CP yang lebih besar yaitu pada
kuda sesaat setelah beranak hingga tiga bulan membutuhkan CP
sebanyak 1.141 g dan induk kuda laktasi setelah tiga bulan hingga
penyapihan membutuhkan CP sebanyak 839 g (NRC, 1989).
2.5.4. Vitamin
Vitamin diperlukan dalam jumlah yang lebih kecil
dibandingkan nutrient lainnya, namun kekurangan vitamin dalam
ransum menyebabkan gangguan metabolisme dan penyakit.
Sebagian besar vitamin dapat diperoleh dari hijauan. Vitamin yang
terdapat dalam pakan bervariasi tergantung pada tipe tanah, iklim,
pemanenan, dan penyimpanan. Hijauan berkualitas yang diperoleh
pada pagi hari biasanya banyak mengandung vitamin. Defisiensi
vitamin dapat terjadi jika kuda banyak mengkonsumsi hijauan
kualitas buruk atau pakan tanpa suplemen vitamin. Sebagian besar
vitamin yang larut dalam air dapat disintesis dari mikroorganisme
dalam usus kuda, namun tidak untuk disimpan. Beberapa
diantaranya terlibat dalam metabolisme atau penggunaan lemak,
protein dan karbohidrat pakan, sehingga berarti pakan yang

24

mengandung banyak energi harus diiringi dengan banyak vitamin


(Abun, 2006).
Vitamin digolongkan kedalam dua macam yaitu vitamin
yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air. Vitamin
yang larut dalam lemak adalah vitamin A, D, E dan K, dapat
disediakan oleh deposit lemak dalam tubuh atau melalui pakan
seperti hijauan yang berada di padang rumput (McBane, 1995).
Vitamin A berfungsi dalam pemeliharaan kesehatan
jaringan-jaringan permukaan, terutama membran selaput lendir
seperti kornea dan saluran pernafasan. Vitamin D diperlukan untuk
pertumbuhan dan pemeliharaan tulang dan gigi. Vitamin D
dibutuhkan untuk absorpsi kalsium dari usus dan untuk
pengambilan kalsium serta fosfor oleh tulang dan gigi (Gaman dan
Sherringthon, 1994). Kuda memperoleh vitamin D dari cahaya
matahari, rumput kering (hay), atau dari penambahan vitamin pada
ransum. Vitamin E merupakan antioksidan alam. Selain itu,
vitamin E dibutuhkan dalam nutrisi baik selama metabolisme
maupun sebagai antioksidan, sehingga keduanya sangat penting
dalam ransum hewan. Secara normal kuda dapat mensintesis
vitamin K dalam usus. Hijauan sebagai salah satu sumber dari
vitamin K. Vitamin K dibutuhkan untuk pembentukan protrombin
(sebagai

penggumpal

darah)

yang

terjadi

dalam

hati.

Penggumpalan darah sangat diperlukan jika kuda terluka atau


keperluan operasi (Abun, 2006).
Vitamin yang larut dalam air terdiri dari vitamin C dan
kelompok vitamin B. Vitamin C disebut juga asam askorbat,
diperlukan untuk pembentukan jaringan ikat dan membantu
absorpsi zat besi dalam usus halus. Dalam kelompok vitamin B
terdapat tiga vitamin yang sangat penting yaitu tiamin (vitamin
B1), riboflavin (vitamin B2) dan asam askorbat. Tiamin berperan
dalam oksidasi nutrient dan pelepasan energi dalam tubuh.
Riboflavin dan asam nikotinat atau dikenal juga sebagai niasin

25

berfungsi membentuk bagian dari sistem enzim yang penting bagi


oksidasi glukosa dan pelepasan energi dalam sel-sel tubuh.
Vutamin B lainnya adalah asam folat yang penting dalam sintesis
asam nukleat dan pembentukan sel sel darah, vitamin B12 berperan
dalam pertumbuhan serta pembentukan sel darah merah, vitamin
B6 yang merupakan bagian dari sistem enzim yang berperan dalam
sintesis protein, biotin, asam pentotenat dan kolin (Gaman dan
Sherringthon, 1994).
Kebutuhan vitamin A, D, E dan K untuk maintenance
(hidup pokok) secara berturut-turut adalah 2.000, 300, 50 dan 3
(IU/Kg), dengan kebutuhan tiamin dan riboflavin masing-masing
adalah 3 dan 2 (mg/kg). Lain halnya dengan induk kuda yang
sedang bunting dan laktasi, kebutuhan vitamin A, D dan E secara
berturut turut adalah 3.000, 600 dan 80 (IU/Kg), namun untuk
kebutuhan vitamin K belum diketahui secara pasti, akan tetapi
untuk kebutuhan tiamin dan riboflavin sama halnya dengan
kebutuhan maintenance (NRC, 1989).
2.5.5. Mineral
Hal yang tidak kalah pentingnya adalah pemenuhan
kebutuhan

mineral.

Mineral

biasanya

dibutuhkan

untuk

pertumbuhan gigi dan tulang pada kuda dan juga dimanfaatkan


dalam jaringan tubuh dan darah yang berperan dalam reaksi
biokimia dalam tubuh kuda. Mineral dibagi menjadi dua bagian
yaitu

makro-mineral

dan

mikro-mineral.

Makro-mineral

dibutuhkan relatif banyak dalam tubuh jika dibandingkan dengan


mikro-mineral. Makro-mineral terdiri dari Ca (kalsium), P
(Fosfor) , Na (sodium), K (potassium), Cl (klorin), Mg
(magnesium) dan S (sulfur). Sedangkan untuk mikro-mineral yaitu
cobalt (Co), copper (Cu), flourine, iodin (I), zat besi (Fe), Mn
(mangan), Se (selenium), dan zink (Zn) (McBane, 1995; NRC
1989). Secara umum mineral yang dibutuhkan oleh makhluk hidup
meliputi kalsium, klorin, besi, magnesium, fosfor, kalium, natrium

26

dan sulfur. Unsur mineral mempunyai berbagai fungsi didalam


tubuh. Kalsium, fosfor, dan magnesium adalah penyusun tulang
dan gigi. Beberapa unsur, misalnya kalium, fosfor dan sulfur,
terdapat didalam sel-sel tubuh sedangkan unsur-unsur yang lain
terdapat dalam cairan sekeliling sel-sel, seperti natrium dan klorin.
Mineral ini diperlukan dalam sistem anzim tubuh (Gaman dan
Sherringthon, 1994). Kebutuhan Ca, P, Mg dan K yang harus
dipenuhi kuda untuk kebutuhan hidup pokok, bunting dan laktasi
dapat dilihat pada tabel 1.

Sumber : NRC (1989)

27

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan
Dari makalah diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Lama siklus estrus kuda bervariasi yaitu antara 21 hingga 23 hari
(Slusher et al, 2004; England, 2004). Siklus estrus pada kuda terdiri
dari estrus dan diestrus. Menurut Hafez dan Hafez (2000b) dan
(England, 2004) diestrus pada kuda terjadi masing-masing selama 14
hari dan 14-16 hari. Siklus estrus terbagi menjadi dua fase yaitu fase
luteal dan fase folikuler.
2. Periode estrus pada kuda rata-rata adalah tujuh hari dengan kisaran 4-8
hari. Ovulasi biasanya terjadi secara spontan menjelang akhir estrus.
Ovulasi akan terjadi pada 24 hingga 48 jam menjelang akhir estrus.
3. Gejala yang timbul saat kuda estrus adalah menurunnya nafsu makan,
terdengarnya suara bersahutan antara betina estrus dengan teaser. Ciri
lainnya yang teramati secara visual saat kuda estrus adalah tidak
menolak jika didekati kuda pejantan dan berada dalam posisi siap
kawin (Gambar 18) atau menghampiri pejantan dengan sendirinya dan
memberikan bagian vulvanya (Gambar 19).

3.2.

Saran
Dari hasil penulisan makalah kami diatas, kami menyarankan
kepada pembaca bahwa untuk melakukan Inseminasi Buatan dengan baik
dan tepat maka harus memperhatikan terlebih dahulu tentang waktu kuda
mengalami estrus, gejala gejala saat estrus serta periode estrus pada
kuda. Sehingga pelaksanaan Inseminasi Buatan bisa dilakukan diwaktu
yang tepat dan tingkat keberhasilannya tinggi.

28

DAFTAR PUSTAKA
Abun. 2006. Kebutuhan Vitamin Untuk Kuda. Universitas Padjadjaran,
Jatinangor.
Arifiantini, R.I., B Purwantara, T.L. Yusuf, D. Sajuthi, dan Amrozi. 2010. Angka
konsepsi hasil inseminasi semen cair versus semen beku pada kuda yang
disinkronisasi estrus dan ovulasi. J. Med. Pet. Vol 33 No.1: 1-5.
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Ke-4. Terjemahan:
Srigandono, B dan Praseno, K. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Malinowski, K. 2008. Recent advances in reproduction in horse. Rutgers
Cooperative Extension, The State University of New Jersey
Mottershead, J. 1999. Reproductive tract. http://www.equinereproduction.
com/articles/uterus.htm [05 Juni 2014].
Samper, J.C. 2008 Induction of estrus and ovulation: why some mare respond and
others do not. J. Theriogenology. 70: 445-447.
Hafez, E.S.E and B Hafez. 2000c. Horses. In: Hafez E.S.E and B Hafez (Eds).
Reproduction in Farm Animals. 7th ed. Lippincot Willkins & Wilkins,
Philadephia.

29