Anda di halaman 1dari 6

Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Kesehatan Indonesia dalam

menghadapi MEA
Salah satu indikator keberhasilan pembangunan ekonomi suatu Bangsa ialah
pertumbuhan ekonomi yang mengharapkan perubahan ekonomi yang lebih baik.
Pertumbuhan ekonomi tersebut dilakukan mulai dari pembenahan internal kondisi
perekonomian di suatu negara bahkan sampai melakukan kerjasama internasional
dalam segala bidang untuk dapat memberikan kontribusi positif demi percepatan
pertumbuhan ekonomi. Salah satu kerja sama internasional itu adalah Indonesia
dengan sembilan negara lainnya membentuk ASEAN Community 2015 atau
Komunitas ASEAN 2015 dengan tujuan yang baik. untuk meningkatkan stabilitas
perekonomian dikawasan ASEAN.
Kerja sama ini mulai disetujui di akhir Desember 2015, Indonesia mulai
memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (ASEAN Economic Community) atau
MEA akan membuka pintu perdagangan barang, jasa, modal dan investasi yang akan
bergerak bebas antar negara anggota. Produk impor maupun ekspor dapat keluar
masuk tanpa harus membayar bea cukai dan prosedur yang lebh mudah.Dengan
harapan mampu mengatasi masalah-masalah dibidang ekonomi antar negara ASEAN.
Tenaga kerja terampil juga akan dipermudah untuk bekerja di negara lain, tentunya
profesi dokter menjadi salah satunya. Akibatnya, tenaga kerja terampil harus siap
bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain.
Implementasi MEA merupakan peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia,
karena MEA juga membuka arus tenaga kerja terampil, tidak hanya pada sektor
industri namun juga disektor kesehatan. Tenaga kesehatan Indonesia tak hanya
memiliki peluang yang sangat besar untuk mengisi lapangan pekerjaan yang semakin
terbuka luas namun juga memiliki tantangan harus siap bersaing dengan tenaga
kesehatan dari negara lain.
Menurut studi yang dilakukan oleh ERIA (Economic Research Institute for
ASEAN and East Asia), dalam beberapa tahun terakhir perpindahan tenaga kerja

profesional antar negara ASEAN mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan


terdapat negara yang kelebihan tenga kerja terampil dan kekurangan tenaga kerja
terampil akibat pebedaan pemerataan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi.
Perbedaan ini mendorong pertukaran dari tenaga kerja kesehatan antar negara
anggota. Faktor yang mempengarui pertukaran tenga kerja adalah gaji yang lebih
tinggi dan faktor geografi, sosial, budaya dan bahasa juga menentukan lokasi tujuan
tenaga kerja terampil..
Lantas, Apakah tenaga kerja kesehatan di Indonesia sudah cukup terampil
bersaing dengan tenaga kerja kesehatan negeri lain? Adanya fakta menunjukkan
bahwa peringkat daya saing Indonesia periode 2012-2013 berada diposisi 50 dari 144
negara, masih berada dibawah Singapura yang diposisi kedua, Malaysia diposisi ke
dua puluh lima, Brunei diposisi dua puluh delapan, dan Thailand diposisi tiga puluh
delapan. Melihat kondisi seperti ini, ada beberapa hal yang menjadi faktor rendahnya
daya saing Indonesia menurut kajian Kementerian Perindustrian RI yaitu kinerja
logistik, tarif pajak, suku bunga bank, serta produktivitas tenaga kerja.
Produktivitas tenaga kerja sangat di pengaruhi kualitas SDM suatu negara, hal
ini merupakan salah satu isu yang sentar dibicarakan menjelang diberlakukan MEA.
Oleh karena itu, bagaimanakah sumber daya tenaga kerja kesehatan Indonesia dalam
mengahadapi MEA ? Mampukah bersaing dengan tenaga kerja kesehatan dari negara
lain ?
Sebelum Indonesia terjun dalam MEA, sejumlah permasalahan kesehatan
masyarakat menjadi hambatan dan tantangan bagi negeri ini untuk dapat bersaing
dengan negara ASEAN lain. Salah satu permasalahannya adalah rendahnya kualitas
sumber daya masyarakat kesehatan baik dari segi tingkat pendidikan ataupun
keahlian yang belum memadai Adanya kesenjangan kualitas dan kompetensi lulusan
pendidikan tinggi kesehatan yang tidak sejalan dengan tuntutan kerja dimana tenaga
kerja yang dihasilkan tidak siap pakai. Contohnya ; Keberadaan bidan ke daerahdaerah sudah cukup merata, namun angka kematian ibu tidak juga turun, ternyata

bidan yang berpraktek didaerah banyak yang hanya berkualifikasi D1, yang tentu saja
keahlian dan keterampilannya kurang memadai dibandingkan dengan bidan dengan
kualifikasi D3 dan D4. untuk meningkatkan kompetensi bidan didaerah, pemerintah
melakukan kebijakan pelatihan jarak jauh (PJJ), namun baru sebagian kecil saja bidan
yang tersentuh. Ini baru contoh kualitas rendah dari profesi bidan, bagaimana dengan
profesi kesehatan lainnya?? Bagaimana nasib SDM kesehatan kita di era MEA, bila
saat ini saja kita belum mampu meningkatkan kualitas tenaga kesehatan secara
maksimal.
Selain dari segi kesenjangan kesenjangan pendidikan, daya saing antar tenaga
kesehatan juga dilihat dari keterampilan tenaga kesehatan itu sendiri. Keterampilan
disini bukan diukur dari sesuai atau tidaknya ia bekerja sesuai kompetensi melainkan
keahlian lainnya yang mendukung kemampuannya seperti identifikasi masalah di
lapangan,bagaimana ia memberikan solusi yang praktis dan cara komunikasi yang
baik. Selain itu tenaga kesehatan yang terampil harus memiliki softskill yang baik
agar posisinya tidak mudah tersaingi dengan tenaga kesehatan asing yang lebih aktif
dan inovatif dalam menjawab masalah kesehatan yang ada di masyarakat
Masalah lain dari masalah tenaga kesehatan Indonesia ialah ketersediaan dan
pemerataan tenaga kesehatan di Indonesia masih jauh dari ideal. Hal ini terlihat dari
fakta yang ada yaitu Indonesia memiliki lebih dari 240 juta penduduk dengan jumlah
dokter hanya 166,920 (per 16 November 2015, KKI). Persoalan ini berakibat pada
kualitas dan aksesbilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Jika tenaga
kesehatan tidak segera tercukupi pada setiap daerah maka akibatnya pemerintah
daerah akan merekrut tenaga medis dengan sistem baru yang bila berkembang akan
menjadi permasalahan tenaga kerja baru.
Selain kesenjangan dalam pendidikan, masalah kesehatan di Indonesia ialah
fasilitas kesehatan yang kurang memadai. Fasilitas kesehatan yang baik dapat
menunjangn tenaga agar dapat bekeja secara maksimal. Infrastruktur kesehatan dan
akses menuju pelayanan kesehatan dapat menjadi penghambat bagi masyarakat untuk

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pada akhirnya, masyarakat menjadi


terlambat memperoleh pelayanan kesehatan, menghasilkan sumber daya manusia
yang kurang mampu bersaing di era persaingan global.
Berkaitan dengan fasilitas kesehatan, beberapa rumah sakit swasta juga masih
menerapkan skema fee-for service untuk gaji dokter, hal ini memberikan peluang gaji
dokter menjadi sangat tinggi. Kebijakan ini tentu akan menarik mintatenaga medis
asing berbondong-bondong masuk ke Indonesia. Dengan masuknya dokter asing,
dokter Indonesia akan bersaing langsung memberikan pelayanan kesehatan ke
masyarakat. Maka dari itu,lagi-lagi dokter Indonesia perlu mempersiapkan
kompetensinya dan keahlian lainnya yang mendukung kemampuannya dengan lebih
baik agar nantinya mampu bersaing dengan tenaga asing.
Dalam mencegah terancamnya pasar tenaga kesehatan Indonesia oleh tenaga
asing, pemerintah memiliki peran penting untuk dapat melakukan upaya perlindungan
terhadap tenaga tenaga kesehatan Indonesia untuk menghadapi ancaman tersebut.
Untuk itu pemerintah telah melakukan berbagai upaya dan strategi dalam mengatur
keberadaan tenaga kesehatan Indonesia dan tenaga kesehatan asing.
Salah satu upaya legal pemerintah ialah dengan mengeluarkan UndangUndang nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan yang berisikan telah
mengatur untuk tenaga kesehatan melakukan tugas dan fungsinya di wilayah NKRI
beserta hak dan kewajiban mereka. Selain itu, juga terdapat peraturan Menteri
Kesehatan nomor 67 tahun 2013 mengenai Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Warga
Negara Asing (TK-WNA) yang diharapkan member perlindungan tenga kesehatan
Indonsia dari tenga kerja asing. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 67 tahun 2013
ini merupakan proteksi terhadap tenaga kesehatan Indonesia agar tidak merasa
terdiskriminasi di negerinya sendiri hal ini sesuai dengan salah satu poin pada
permenkes ini yaitu Pendayagunaan tenakes asing di fasilitas kesehatan harus
didampingi oleh tenakes Indonesia dan Tenakes asing hanya diperbolehkan bekerja
sementara . Selain itu, prinsip pendayagunaan tenaga kerja asing kesehatan di

Indonesia hanyalah untuk mengisi posisi kekurangan tenaga kesehatan dan saling
berbagi pengetahuan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan Indonesia.
Disamping peraturan yang telah dibuat , pemerintah juga harus segera
mengatasi segala masalah kesehatan di Indonesia.dengan memberikan regulasi yang
jelas dan strategis. Contohnya dalam masalah pemerataan tenaga kesehatan
Indonesia. khususnya dokter di Indonesia. Kebijakan yang dapat diambil untuk
jangka panjang adalah menambah jumlah lulusan dokter yang lulus tiap tahunnya
dengan menambah kuota mahasiswa ataupun pendirian fakultas kedokteran baru.
Disamping itu perlunya pemerataan peningkatan mutu tiap fakultas kedokteran di
Indonesia agar mampu bersaing dengan tenaga kesehatan asing dalam lingkup MEA.
Sedangkan untuk jangka pendek strategi yang dapat dilakukan mungkin memberikan
pembatasan waktu kerja atau sistem kontrak kepada tenaga medis asing untuk
beberapa tahun saja (misal 5 tahun), kebijakan ini dapat mengatasi kekurangan dokter
di Indonesia.
Dalam konteks Globalisasi Kesehatan , MEA setidaknya akan mampu
meningkatkan 1) Natural Presence (kehadiran dokter asing yang bekerja di
Indonesia), 2) Commercial presence ( berdirinya Rumah Sakit Swasta kepemilikan
asing) 3) Consumption Abroad (pasien bepergian ke negara lain untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan).
Indonesia sudah waktunya untuk focus dengan point ketiga yaitu dengan
mengembangakan paket wisata medis yang terintegrasi dan terkelola dengan baik
dengan adanya rumah sakit internasional yang banyak didatngi pasien luar negeri.
Memberikan jaminan kualitas pelayanan, fasilitas yang mendukung, penjaminan
mutu, dan penawaran program khusus dapat menarik wisata medis dari berbagai
negara ASEAN untuk berkunjung ke Indonesia.
Siap atau tidak siap, tenaga kesehatan Indonesia harus menyambut
pelaksanaan MEA 2015 dengan semangat yang postif. Semoga MEA dapat
memberikan dampak positif bagi pertumbuhan dan kemajuan Indonesia, semoga

tantangan persaingan global yang ketat menjadi pemacu untuk lebih meningkatkan
kualitas dan kompetensi diri, sehingga SDM kita memiliki daya saing yang tinggi dan
diakui pasar internasional.

Daftar Pustaka
G.T. Suroso, 2015. Masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) dan perekonomian
Indonesia. Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Kementerian Keuangan RI.
Dari http://www.bppk.depkeu.go.id/publikasi/artikel/150-artikel-keuanganumum/20545-masyarakat-ekonomi-asean-mea-dan-perekonomian-indonesia (diunduh
pada 20 Agustus 2016)
BBC Indonesia, 2014. Apa yang harus anda ketahui tentang masyarakat ekonomi
ASEAN..http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/08/140826_pasar_ten
aga_kerja_aec (diunduh pada 19 Agustus 2016)
.Khotib,Margareth. 2015.Tantangan SDM Kesehatan di era MEA 2015.
http://m.kompasiana.com/post/read/694735/3/tantangan-sdm-kesehatan-di-era-mea2015.html (diunduh pada 19 Agustus 2016)
Depkes.2014. Undang- Undang Tenaga Kesehatan No 36 Tahun 2014.
http://www.kemenkopmk.go.id/sites/default/files/produkhukum/UU%20Nomor
%2036%20Tahun%202014.pdf (diunduh pada 20 Agustus 2016)
HAPSA, 2015. Tenaga kesehatan di era masyarakat ekonomi ASEAN. FKM UI. Dari
http://hapsafkmui.tumblr.com/post/119081496653/tenaga-kesehatan-di-eramasyarakat-ekonomi-asean (diunduh pada 20 Agustus 2016)