Anda di halaman 1dari 3

Pengertian Tasawuf

Wacana tasawuf mengarahkan pikiran kita pada orang-orang


saleh, banyak ibadah, menjaga tingkah laku pergaulannya dengan
Allah SWT., dengan sesama manusia, dengan mahluk lain dan selalu
ingin dekat dengan Allah pencipta semua mahluk. Namun demikian
istilah ini merupakan istilah yang disandarkan pada sebuag gerakan
batiniah dalam usaha untuk mendekkatkan diri seorang hamba
kepada sang Khalik. Untuk lebih mengetahui apa tasawuf itu,
terlebih dahulu perlu diketahui pengertiannya.
1.

Pengertian tasawuf secara etimologi.


Asal istilah tasawuf merujuk ke beberapa kata:

a.

artinya suci bersih.[1] Dalam pengertian ini orang yang ingin dekat dengan Allah

SWT., aktifitasnya banyak diarahkan pada pensucian diri dalam rangka dekat dengan Allah swt.
Artinya Allah maha Suci tidak mungkin bisa didekati kecuali oleh orang-orang yang memelihara
kesucian. Bishr bin al-Harith berkata:sufi adalah orang yang hatinya suci/tulus kepada Allah.[2]
b. artinya barisan atau barisan terdepan.[3] Orang yang ingin dekat dengan Allah, pasti
sudah kuat imannya. Oleh karena itu selalu ada pada barisan terdepan dalam hal ibadah.[4]
c. artinya penghuni serambi (masjid). Istilah ini disandarkan kepada orang yang ingin
selalu dekat dengan Allah SWT., maka mereka ikut juga hijrah dengan Nabi dari Mekah ke
Madinah. Di Madinah merreka tinggalnya di serambi masjid.[5]
d.

artinya wol,

bulu binatang kasar. Orang yang selalu dekat dengan Allah swa., hanya

memakai alat berpakaian bulu binatang yang kasar, domba, unta dan sebagainya, ini hanya
pandangan saya karena kaum sufi tidak mencirikan dirinya dengan memakai pakaian dari bulu.
[6]
e. Pendapat yang lain mengatakan bahwa istilah Tasawuf derasal dari bahasa Yunani
yaituSophos atau Shofia artinya hikmah atau bijaksana. Pendapat ini merupakan pendapat
mayoritas kaum orientalis. Ahli-ahli sofia adalah orang yang ahli dalam filsafat atau
kebijaksanaan. Mereka menambahkan bahwa dalam tradisi Arab kata sofia direduksi menjadi
kata shufiya untuk menunjukkan kepada orang-orang ahli ibadah dan ahli filsafat agama.[7]
Dari limat pendapat di atas, maka secara etimologis kata tasawuf lebih dekat dengan kata

. Sebagaimana pendapat Ibn Khaldun bahwa kata Sufi merupakan kata jadian dari
kataSuf. Tapi perlu diingat, bukan sekedar karena ia memakai pakaian yang terbuat dari kain

bulu dan wol kasar maka seseorang disebut sufi. Seseorang menggunakan wol hanya sebagai
symbol kesucian, mereka menyiksa dan menekan hawa nafsu dan berjalan di jalan Nabi.[8]
2.

Pengertian tasawuf secara terminology


Ada banyak definisi yang telah dibuat oleh untuk menjelaskan pengertian tasawuf secara
terminology. Berikut beberapa diantaranya:
Menurut Abu Qasim al-Qusyaeri (376-466), tasawuf ialah penjabaran ajaran Alquran,
sunnah,

berjuang

mengendalikan

hawa

nafsu,

menjauhi

perbuatan

bidah,

mengendalikansyahwat, dan menghindari sikap meringankan ibadah.[9]


Menurut Ahmad Amin tasawuf ialah bertekun dalam ibadah, berhubungan langsung
dengan Allah SWT., menjauhkan diri dari kemewahan duniawi, berlaku zuhud terhadap yang
diburu oleh orang banyak, dan menghindari dari mahluk dalam berkhalwat untuk beribadah.[10]
Sedang tasawuf menurut Zakaria al- Anshari ialah mengajarkan cara untuk mensucikan
diri, meningkatkan akhlak, berlaku zuhud terhadap yang diburu oleh orang banyak, dan
menghindari dari mahluk dalam berkhalwat untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah dan
memperoleh hubungan langsung dengannya.[11]
Dan menurut Ibrahim Hilal dalam bukunya Tasawuf Antara Agama dan Filsafat, bahwa
tasawuf pada umumnya bermakna menempuh kehidupan zuhud, menghindari gemerlap
kehidupan dunia, rela hidup dalam keprihatinan, melakukan berbagai jenis amalan ibadah,
melaparkan diri, mengerjakan shalat malam, dan melakukan berbagai jenis wirid sampai fisik
atau dimensi jasmani seseorang menjadi lemah dan dimensi jiwa atau ruhani menjadi kuat.[12]
Apabila melihat beberapa definisi diatas, maka dapat diperoleh
ungkapan yang singkat dan padat yang mencakup dua segi yang keduanya
membentuk satu kesatuan yang saling menunjang dalam mendefinisikan
tasawuf yang pertama adalah cara dan yang kedua adalah tujuan. Cara,
diantaranya melaksanakan berbagai rangkaian peribadatan, latihan-latihan
rohani sepeerti zuhud. Sedangkan tujuannya ialah mendekatkan diri kepada
sang Khalik yang puncaknya ialah penyaksian (masyadah).

Pengertian Akhlak
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab, jamak dari khuluqun yang menurut bahasa
berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kata tersebut mengandung segisegi persesuaian dengan perkataan khalqun yang berarti kejadian, yang juga erat

hubungannya dengan khaliq yang berarti pencipta; demikian pula dengan mkhluqun yang
berarti yang diciptakan.

Dilihat dari sudut bahasa (etimologi), perkataan akhlak (bahsa Arab) adalah bentuk
jamak dari kata Khulk. Khulk di dalam kamus Al-Munjid berarti budi pekerti, perangai,
tingkah laku atau tabiat. Di dalam Dairatul Maarif dikatakan Akhlak ialah sifat-sifat
manusia yang terdidik.[4]
Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa akhlak ialah sifat-sifat yang dibawa
manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya. Sifat itu dapat
lahir berupa perbuatan baik, disebut akhlak yang mulia, atau perbuatan buruk, disebut
akhlak yang tercela sesuai dengan pembinaannya.
1. Pengertian Budi Pekerti
Secara etimologi, budi pekerti berasal dari dua kata, yaitu budi dan pekerti. Kata budi berarti nalar,
pikiran atau watak. Sedangkan pekerti berarti penggawean, watak, tabiat atau akhlak. Budi pekerti
yang dimaksud adalah penanaman dan pengembangan nilai, sikap dan perilaku peserta didik sesuai
dengan nilai-nilai budi pekerti luhur. Seperti: sopan santun, berdisiplin, bertanggung jawab, ikhlas,
jujur dan lain sebagainya.
Istilah budi pekerti dalam kajian Islam lebih dikenal dengan akhlak. Dalam Bahasa Indonesia istilah
akhlak disepadankan dengan budi pekerti. Dalam bahasa Arab akhlak artinya tabiat, perangai,
kebiasaan. Dalam pembahasan mengenai pendidikan budi pekerti kiranya belum begitu banyak
yang membahas secara spesifik. Biarpun ada dengan menggunakan istilah moral atau akhlak. Hal
itu karena akhlak sangat berkaitan dengan moral. Jika pengertian agama dan moral tersebut
dihubungkan satu dengan lainnya tampak saling berkaitan dengan erat. Dalam konteks hubungan
ini jika diambil ajaran agama, maka moral adalah sangat penting bahkan yang terpenting, dimana
kejujuran, kebenaran, keadilan, dan pengabdian adalah diantara sifat-sifat yang terpenting dalam
agama.