Anda di halaman 1dari 31

Kalimat Majemuk - Sudah dijelasin bu guru di sekolah tapi masih bingung sama

Kalimat Majemuk? Ayo kali ini kita sama-sama mempelajari apa itu kalimat
majemuk dan apa saja macam-macam dari kalimat majemuk itu.

Kalimat Majemuk

Apa sih sebenarnya pengertian kalimat majemuk itu? Kalau menurut wikipedia
Kalimat Majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih.
Setiap kalimat majemuk mempunyai kata penghubung yang berbeda, sehingga
jenis kalimat tersebut dapat diketahui dengan cara melihat kata penghubung
yang digunakannya.
Kalimat Majemuk itu sendiri ada 4 macam, yaitu kalimat majemuk setara,
kalimat majemuk rapatan, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk
berganda. Namun, yang sering muncul dalam soal dan agak susah untuk
dibedakan yaitu Kalimat Majemuk Setara dan Kalimat Majemuk Bertingkat. Jadi,
kali ini kita akan lebih banyak membahas tentang kedua kalimat majemuk
tersebut.
Oke langsung aja disimak penjelasan dan pengertian mengenai Kalimat
Majemuk Setara, Bertingkat, Rapatan dan Campuran berikut ini.

1. Kalimat Majemuk Setara


Kalimat Majemuk Setara adalah kalimat majemuk yang terdidri atas
beberapa kalimat yang setara atau sederajat kedudukannya, yang masingmasing dapat berdiri sendri. Kalimat Majemuk Setara dibagi menjadi beberapa
jenis, yaitu :
1. Kalimat majemuk setara sejalan
Kalimat majemuk setara sejalan ialah kaliamat majemuk setara yang

terdiri atas beberapa kalimat tunggal yang bersamaan situasinya


Contoh : Juminten pergi ke pasar, Parno berangkat ke bengkel, sedang
Ganes pergi ke kebun binatang.
Penjelasan Contoh Kalimat majemuk setara sejalan diatas :
Kalimat tersebut adalah kalimat majemuk setara sejalan.
Kalimat 1 : Juminten pergi ke pasar.
Juminten = subjek
Pergi = predikat
Ke pasar = keterangan tempat
Kalimat 2 : Norif berangkat ke bengkel
Norif = subjek
Berangkat = predikat
ke bengkel = keterangan tempat
Kalimat 3 : Ganes pergi ke kebun binatang.
a. Ganes = subjek
b. pergi = predikat
c. ke kebun binatang = keterangan tempat
Catatan:
a. Kata-kata yang penghubung yang dapat dipakai dalam kalimat majemuk
setara sejalan ialah: dan, dan lagi, lagi pula, sedang, sedangkan, lalu, kemudian.
b. Dalam meguraikan menurut jabatannya, hendaknya selalu dibiasakan
menempuh cara-car sebagai berikut:
1. Kalimat yang hendak diuraikan dikutip lebih dahulu.
2. Memberi nama kalimat yang akan diuraikan.
3. Kemudian baru bagian-bagian kalimat diuraikan menurut jabatannya sebagai
berikut:
a. Kata-kata yang hendak diuraikan ditempatkan di sebelah kiri.
b. Jabatan-jabatan kalimat ditempatkan di sebelah kanan.
2. Kalimat Majemuk Setara Berlawanan
Kalimat majemuk setara berlawanan ialah kalimat majemuk setara yang terdiri
atas beberapa kalimat tunggal yang isinya menyatakan situasi berlawanan.
Contoh : Adiknya pandai, sedang kakaknya bodoh.
Rahmad berani, tetapi ia tidak mau bertengkar.
Penjelasan Contoh Kalimat majemuk setara berlawanan diatas :

Kalimat tersebut adalah kalimat majemuk setara berlawanan


Kalimat 1 : Rahmad berani
Rahmad = subjek
Berani = predikat
Kalimat 2 : ia tidak mau bertengkar.
Ia = subjek
tidak mau bertengkar = predikat

Catatan:
Kata-kata penhubung yang dapat dipakai dalam kalimat majemuk setara
berlawanan antara lain ialah: sedangkan, tetapi, melainkan, padahal, hanyalah,
walaupun, meskipun, biarpun, kendatipun, jangankan, namun.

3. Kalimat Majemuk Setara yang menyatakan sebab akibat


Kalimat Majemuk Setara yang menyatakan sebab akibat ialah kalimat majemuk
setara yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal yang isi bagian yang satu
menyatakan sebab akibat dari bagian yang lain.
Contoh :
Roy Marten ditahan, karena ia telah membawa sabu-sabu.
Anak itum luka parah, sehingga ia harus dibawa ke rumah sakit.
Penjelasan Contoh Kalimat Majemuk Setara yang menyatakan sebab akibat
diatas :
Roy Martien ditahan, karena ia telah membawa sabu-sabu.
Kalimat tersebut adalah kalimat majemuk setara yang menyatakan sebab akibat.
Kalimat 1 : Roy Martien ditahan
Roy Martien = subjek
ditahan = predikat
Kalimat 2 : ia telah membawa sabu-sabu.
Ia = subjek
telah membawa = predikat
sabu-sabu = objek
Catatan :
Kata-kata penghubung yang dapat dipakai dalam kalimat majemuk setara yang

menyatakan sebab akibat antara lain ialah: sebab, karena, oleh karena itu,
sehingga, maka.

2. Kalimat Majemuk Bertingkat


Kalimat Majemuk bertingkat ialah kalimat yang terjadi dari beberapa
kalimat tunggal yang kedudukanya tidak setara/ sederajat, yakni yang satu
menjadi bagian yang lain.
Kalimat majemuk bertingkat sesungguhnya berasal dari sebuah kalimat tunggal.
Bagian dari kalimat tunggal tersebut kemudian diganti atau diubah sehingga
menjadi sebuah kalimat baru yang dapat berdiri sendiri.
Bagian kalimat majemuk bertingkat yang berasal dari bagian kalimat tunggal
yang tidak mengalami pergantian/ perubahan dinamakan induk kalimat, sedang
bagian kalimat majemuk yang berasal dari bagian kalimat tunggal yang sudah
mengalami penggantian/ peubahan dinamakan anak kalimat.
Contoh :
Ia datang kemarin. Kalimat tunggal tersebut ialah kalimat tunggal yang
mempunyai keterangan waktu: kemarin. Jika kata kemarin diganti/ diubah
menjadi kalimat yang dapat berdiri sendiri, yakni diubah/ diganti dengan
kalimat: ketika orang sedang makan, maka berubahlah kalimat tunggal tersebut
menjadi kalimat majemuk bertingkat sebagai berikut: Ia datang, ketika orang
sedang datang.
Perkataan: ia datang (yang tidak pernah mengalami perubahan/ pergantian)
dinamai induk kalimat, sedang perkataan: ketika orang sedang makan (yang
mengubah/ mengganti kata kemarin) dinamai anak kalimat.
Macam Anak Kalimat dalam Kalimat Majemuk Bertingkat
Ada bermacam-macam anak kalimat dalam kalimat majemuk bertingkat. Hal itu
bergantung kepada bagian kalimat tunggal mana yang diubh/ digantinya.
Karena itu macam anak kalimat dalam kalimat majemuk bertingkat dapat
diperinci sebagai berikut:
1. Anak kalimat pengganti subyek
Contoh:
Siapa bersalah, akan dihukum.
Yang mencuri sepeda saya, telah ditangkap polisi.

Contoh uraian kalimat:


Yang mencuri sepeda saya, telah ditangkap polisi.
G Kalimat tersebut ialah kalimat majemuk bertingkat
G A. Telah ditangkap polisi = induk kalimat
Ditangkap = predikat
Polisi = obyek/ pelengkap pelaku
Telah = keterangan waktu/ keterangan modalitas.
B. Yang mencuri sepeda saya = anak kalimat pengganti subyek
Yang = subyek
Mencuri = predikat
Sepeda saya = obyek/ pelengkap penderita
Catatan:
Tiap kali hendak menguraikan kalimat majemuk bertingkat, hendaknya lebih
dulu diusahakan mencari/ menyelidiki kalimat tunggal mana yang menjadi asal
kalimat majemuk bertingkat itu. Dengan cara itu kita akan mudah mencari induk
kalimat dan anak kalimat dari kalimat majemuk bertingkat yang hendak kita
uraikan.
2. Anak kalimat pengganti predikat
Anak kalimat pengganti predikat hanya terdapat pada kalimat nominal.
Contoh:
Rumah itu batu. (kalimat tunggal)
Rumah itu bahannya terbuat dari benda keras. (kalimat majemuk bertingkat)
3. Anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap penderita
Contoh:
Basir mencintai Nova. (kalimat tunggal)
Basir mencintai yang sangat dikasihinya. (kalimat majemuk bertingkat)
4. Anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap pelaku
Contoh:
Ali ditikam oleh penjahat. (kalimat tunggal)
Ali ditikam oleh orang yang menggedor pintu rumahnya semalam. (kalimat
majemuk bertingkat)
5. Anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap penyerta
Contoh:
Norief memberikan uang kepada anaknya. (kalimat tunggal)

Norief memberikan uang kepada yang menumpang di Surabaya. (kalimat


majemuk bertingkat)
6. Anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap berkata depan
Contoh:
Ia rindu kepada ibunya. (kalimat tunggal)
Ia rindu kepada yang memeliharanya sejak kecil. (kalimat majemuk bertingkat)
7. Anak kalimat pengganti obyek pasangan
Contoh:
Kami telah berunding dengan Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono. (kalimat
tunggal)
Kami telah berunding dengan yang memimpin negara Indonesia. (kalimat
majemuk bertingkat)
8. Anak kalimat pengganti obyek alat
Contoh:
Norief bersenjatakan pena. (kalimat tunggal)
Norif bersenjatakan yang dibuat untuk menulis. (kalimat majemuk bertingkat)
9. Anak kalimat pengganti keterangan tempat
Contoh:
Henny pergi ke pasar. (kalimat tunggal)
Henny pergi ke yang dikunjungi orang tiap hari. (kalimat majemuk bertingkat)
10. Anak kalimat pengganti keterangan waktu
Contoh:
Anis datang kemarin. (kalimat tunggal)
Anis datang ketika orang sedang sholat. (kalimat majemuk bertingkat)
11. Anak kalimat pengganti keterangan sebab
Contoh:
Basir tidak berkuliah karena sakit. (kalimat tunggal)
Basir tidak berkuliah karena jiwanya terganggu. (kalimat majemuk bertingkat)
12. Anak kalimat pengganti keterangan alasan
Contoh:
Saya tidak pergi karena hujan. (kalimat tunggal)

Saya tidak pergi karena suasana yang tidak mengizinkan. (kalimat majemuk
bertingkat)
13. Anak kalimat pengganti keterangan akibat
Contoh:
Basir dianiaya sehingga sakit. (kalimat tunggal)
Basir dianaya sehingga badannya terbaring. (kalimat majemuk bertingkat)
14. Anak kalimat pengganti keterangan alat
Contoh:
Ia menikam dengan pisau. (kalimat tunggal)
Ia menikam dengan yang dibelinya kemarin. (kalimat majemuk bertingkat)
15. Anak kalimat pengganti keterangan asal
Contoh:
Sepatunya Norief terbuat dari emas. (kalimat tunggal)
Sepatunya Norief terbuat dari bahan yang diinginkannya. (kalimat majemuk
bertingkat)
16. Anak kalimat pengganti keterangan syarat
Contoh:
Kalau begitu, saya tidak mau mengajak . (kalimat tunggal)
Kalau kamu nakal, saya tidak mau mengajak. (kalimat majemuk bertingkat)
17. Anak kalimat pengganti keterangan tujuan
Contoh:
Tora Sudiro belajar keras agar lulus. (kalimat tunggal)
Tora Sudiro belajar keras agar cita-citanya tercapai. (kalimat majemuk
bertingkat)
18. Anak kalimat pengganti keterangan kualitas
Contoh:
Boneng tersenyum manis. (kalimat tunggal)
Boneng tersenyum seperti yang kita lihat. (kalimat majemuk bertingkat)
19. Anak kalimat pengganti keterangan perihal
Contoh:
Dengan tertawa ia menjawab pertanyaan itu. (kalimat tunggal)

Dengan mulut tertawa lebar ia menjawab pertanyaan itu. (kalimat majemuk


bertingkat)
20. Anak kalimat pengganti keterangan perlawanan
Contoh:
Meskipun mendung, ia berangkat juga. (kalimat tunggal)
Meskipun cuaca buruk, ia berangkat juga. (kalimat majemuk bertingkat)
21. Anak kalimat pengganti keterangan kuantitas
Contoh:
Mereka berjalan seratus kilometer. (kalimat tunggal)
Mereka berjalan jauh sekali jaraknya. (kalimat majemuk bertingkat)
22. Anak kalimat pengganti keterangan derajat
Contoh:
Udara itu dingin sekali. (kalimat tunggal)
Uadara itu tak terperikan rasanya. (kalimat majemuk bertingkat)
23. Anak kalimat pengganti keterangan modalitas
Contoh:
Mungkin ia meninggal di sana. (kalimat tunggal)
Desas-desus tersiar ia meninggal di sana. (kalimat majemuk bertingkat)
24. Anak kalimat pengganti keterangan perbandingan
Contoh:
Paimo lebih rajin daripada Mopai. (kalimat tunggal)
Paimo lebih rajin daripada orang yang mirip dengannya itu. (kalimat majemuk
bertingkat)
25. Anak kalimat pengganti keterangan perwatasan
Contoh:
Semua tahanan dibebaskan, kecuali Basir. (kalimat tunggal)
Semua tahanan dibebaskan, kecuali yang berseragam merah jambu itu. (kalimat
majemuk bertingkat)
Cucu Kalimat dalam Kalimat Majemuk Bertingkat
Dalam kalimat majemuk bertingkat kadang-kadang terdapat cucu kalimat, yaitu

anak dari anak kalimat. Cucu kalimat tersebut terjadi jika bagian kalimat dari
anakkalimat diubah/ diganti menjadi sebuah kalimat yang dapat berdiri sendiri.
Contoh:
Norief menyepak bola. (kalimat tunggal)
Ia menyepak yang disenangi oleh adiknya. (kalimat majemuk bertingkat yang
mempunyai anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap penderita)
Ia menyepak yang disenangi oleh yang memakai baju baru itu. (kalimat
majemuk bertingkat yang mempunyai cucu kalimat pengganti obyek/ pelengkap
pelaku pada anak kalimat)

3. Kalimat majemuk rapatan


Kalimat majemuk rapatan yaitu gabungan beberapa kalimat tunggal yang
karena subjek, predikat atau objeknya sama,maka bagian yang sama hanya
disebutkan sekali.
Contoh:
* Pekerjaannya hanya makan. (kalimat tunggal 1)
* Pekerjaannya hanya tidur. (kalimat tunggal 2)
* Pekerjaannya hanya merokok. (kalimat tunggal 3)Pekerjaannya hanya makan,
tidur, dan merokok. (kalimat majemuk rapatan)

4. Kalimat majemuk campuran


Kalimat majemuk campuran yaitu gabungan antara kalimat majemuk setara dan
kalimat majemuk bertingkat. Sekurang-kurangnya terdiri dari tiga kalimat.
Contoh:
* Toni bermain dengan Kevin. (kalimat tunggal 1)
* Rina membaca buku di kamar kemarin. (kalimat tunggal 2, induk kalimat)
* Ketika aku datang ke rumahnya. (anak kalimat sebagai pengganti keterangan
waktu)Toni bermain dengan Kevin, dan Rina membaca buku di kamar, ketika aku
datang ke rumahnya. (kalimat majemuk campuran)

Nah teman, gimana penjelasan mengenai kalimat majemuk diatas? Sudah paham
kan sekarang tentang Kalimat Majemuk? Kalau masih belum, silahkan ditanya
dikotak komentar. Siapa tahu kami atau teman-teman yang lain bisa bantu
menjawab. Jangan pernah malas untuk belajar, Semangat !!!

TATA KALIMAT

A. Frase
Frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas
fungsi. Misalnya: akan datang, kemarin pagi, yang sedang menulis.
Dari batasan di atas dapatlah dikemukakan bahwa frase mempunyai dua sifat, yaitu
a. Frase merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih.
b. Frase merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa, maksudnya prase itu
selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa yaitu: S, P, O, atau K.
Macam-macam frase:
A. Frase endosentrik
Frase endosentrik adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Frase
endosentrik dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu:
1. Frase endosentrik yang koordinatif, yaitu: frase yang terdiri dari unsur-unsur yang setara, ini
dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung.
Misalnya: kakek-nenek pembinaan dan pengembangan
laki bini belajar atau bekerja
2. Frase endosentrik yang atributif, yaitu frase yang terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara.
Karena itu, unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan.
Misalnya: perjalanan panjang
hari libur
Perjalanan, hari merupakan unsur pusat, yaitu: unsur yang secara distribusional sama dengan
seluruh frase dan secara semantik merupakan unsur terpenting, sedangkan unsur lainnya
merupakan atributif.
3. Frase endosentrik yang apositif: frase yang atributnya berupa aposisi/ keterangan tambahan.
Misalnya: Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai.
Dalam frase Susi, anak Pak Saleh secara sematik unsur yang satu, dalam hal ini unsur anak Pak
Saleh, sama dengan unsur lainnya, yaitu Susi. Karena, unsur anak Pak Saleh dapat menggantikan
unsur Susi. Perhatikan jajaran berikut:
Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai
Susi, ., sangat pandai.
., anak Pak Saleh sangat pandai.
Unsur Susi merupakan unsur pusat, sedangkan unsur anak Pak Saleh merupakan aposisi (Ap).
B. Frase Eksosentrik
Frase eksosentrik ialah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya.
Misalnya:
Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di dalam kelas.
Frase di dalam kelas tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Ketidaksamaan itu
dapat dilihat dari jajaran berikut:
Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di .
Siswa kelas 1A sedang bergotong royong . kelas
C. Frase Nominal, frase Verbal, frase Bilangan, frase Keterangan.
1. Frase Nominal: frase yang memiliki distributif yang sama dengan kata
nominal
Misalnya: baju baru, rumah sakit
2. Frase Verbal: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan golongan
kata verbal.
Misalnya: akan berlayar
3. Frase Bilangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata
bilangan.
Misalnya: dua butir telur, sepuluh keping
4. Frase Keterangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata
keterangan.

Misalnya: tadi pagi, besok sore


5. Frase Depan: frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frase
sebagai aksinnya.
Misalnya: di halaman sekolah, dari desa
D. Frase Ambigu
Frase ambigu artinya kegandaan makna yang menimbulkan keraguan atau mengaburkan maksud
kalimat. Makna ganda seperti itu disebut ambigu.
Misalnya: Perusahaan pakaian milik perancang busana wanita terkenal, tempat mamaku bekerja,
berbaik hati mau melunaskan semua tunggakan sekolahku.
Frase perancang busana wanita dapat menimbulkan pengertian ganda:
1. Perancang busana yang berjenis kelamin wanita.
2. Perancang yang menciptakan model busana untuk wanita.
B. Klausa
Klausa adalah satuan gramatika yang terdiri dari subjek (S) dan predikat (P) baik disertai objek
(O), dan keterangan (K), serta memilki potensi untuk menjadi kalimat. Misalnya: banyak orang
mengatakan.
Unsur inti klausa ialah subjek (S) dan predikat (P).
Penggolongan klausa:
1. Berdasarkan unsur intinya
2. Berdasarkan ada tidaknya kata negatif yang secara gramatik menegatifkan
predikat
3. Berdasarkan kategori kata atau frase yang menduduki fungsi predikat
C. Kalimat
a. Pengertian
Kalimat adalah satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih yang mengandung pikiran yang
lengkap dan punya pola intonasi akhir.
Contoh: Ayah membaca koran di teras belakang.
b. Pola-pola kalimat
Sebuah kalimat luas dapat dipulangkan pada pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar
pembentukan kalimat luas itu.
o Pola kalimat I = kata benda-kata kerja
Contoh: Adik menangis. Anjing dipukul.
Pola kalimat I disebut kalimat verbal
o Pola kalimat II = kata benda-kata sifat
Contoh: Anak malas. Gunung tinggi.
Pola kalimat II disebut pola kalimat atributif
o Pola kalimat III = kata benda-kata benda
Contoh: Bapak pengarang. Paman Guru
Pola pikir kalimat III disebut kalimat nominal atau kalimat ekuasional. Kalimat ini mengandung
kata kerja bantu, seperti: adalah, menjadi, merupakan.
o Pola kalimat IV (pola tambahan) = kata benda-adverbial
Contoh: Ibu ke pasar. Ayah dari kantor.
Pola kalimat IV disebut kalimat adverbial
D. Jenis Kalimat
1. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas dua unsur inti pembentukan kalimat
(subjek dan predikat) dan boleh diperluas dengan salah satu atau lebih unsur-unsur tambahan
(objek dan keterangan), asalkan unsur-unsur tambahan itu tidak membentuk pola kalimat baru.
Kalimat Tunggal

Susunan Pola Kalimat

Ayah merokok.Adik minum susu.Ibumenyimp S-PS-P-OS-P-O-K


an uang di dalam laci.

2. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat-kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih. Kalimat
majemuk dapat terjadi dari:
a. Sebuah kalimat tunggal yang bagian-bagiannya diperluas sedemikian rupa sehingga perluasan
itu membentuk satu atau lebih pola kalimat baru, di samping pola yang sudah ada.
Misalnya: Anak itu membaca puisi. (kalimat tunggal)
Anak yang menyapu di perpustakaan itu sedang membaca puisi.
(subjek pada kalimat pertama diperluas)
b. Penggabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal sehingga kalimat yang baru mengandung
dua atau lebih pola kalimat.
Misalnya: Susi menulis surat (kalimat tunggal I)
Bapak membaca koran (kalimat tunggal II)
Susi menulis surat dan Bapak membaca koran.
Berdasarkan sifat hubungannya, kalimat majemuk dapat dibedakan atas kalimat majemuk setara,
kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran.
1) Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang hubungan antara pola-pola kalimatnya
sederajat. Kalimat majemuk setara terdiri atas:
a. Kalimat majemuk setara menggabungkan. Biasanya menggunakan kata-kata tugas: dan, serta,
lagipula, dan sebagainya.
Misalnya: Sisca anak yang baik lagi pula sangat pandai.
b. Kalimat majemuk serta memilih. Biasanya memakai kata tugas: atau, baik, maupun.
Misalnya: Bapak minum teh atau Bapak makan nasi.
c. Kalimat majemuk setara perlawanan. Biasanya memakai kata tugas: tetapi, melainkan.
Misalnya: Dia sangat rajin, tetapi adiknya sangat pemalas.
2) Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk yang terdiri dari perluasan kalimat tunggal, bagian kalimat yang diperluas
sehingga membentuk kalimat baru yang disebut anak kalimat. Sedangkan kalimat asal (bagian
tetap) disebut induk kalimat. Ditinjau dari unsur kalimat yang mengalami perluasan dikenal
adanya:
a. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat penggati subjek.
Misalnya: Diakuinya hal itu
PS
Diakuinya bahwa ia yang memukul anak itu.
anak kalimat pengganti subjek
b. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti predikat.
Misalnya: Katanya begitu
Katanya bahwa ia tidak sengaja menjatuhkan gelas itu.
anak kalimat pengganti predikat
c. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti objek.
Misalnya: Mereka sudah mengetahui hal itu.
SPO
Mereka sudah mengetahui bahwa saya yang mengambilnya.
anak kalimat pengganti objek
d. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti keterangan.
Misalnya: Ayah pulang malam hari
SPK
Ayah pulang ketika kami makan malam
anak kalimat pengganti keterangan
3) Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk hasil perluasan atau hasil gabungan

beberapa kalimat tunggal yang sekurang-kurangnya terdiri atas tiga pola kalimat.
Misalnya: Ketika ia duduk minum-minum, datang seorang pemuda berpakaian bagus, dan
menggunakan kendaraan roda empat.
Ketika ia duduk minum-minum
pola atasan
datang seorang pemuda berpakaian bagus
pola bawahan I
datang menggunakan kendaraan roda empat
pola bawahan II
3. Kalimat Inti, Luas, dan Transformasi
a. Kalimat inti
Kalimat inti adalah kalimat mayor yang hanya terdiri atas dua kata dan sekaligus menjadi inti
kalimat.
Ciri-ciri kalimat inti:
1) Hanya terdiri atas dua kata
2) Kedua kata itu sekaligus menjadi inti kalimat
3) Tata urutannya adalah subjek mendahului predikat
4) Intonasinya adalah intonasi berita yang netral. Artinya: tidak boleh menyebabkan perubahan
atau pergeseran makna laksikalnya..
b. Kalimat luas
Kalimat luas adalah kalimat inti yang sudah diperluas dengan kata-kata baru sehingga tidak hanya
terdiri dari dua kata, tetapi lebih.
c. Kalimat transformasi
Kalimat transformasi merupakan kalimat inti yang sudah mengalami perubahan atas keempat
syarat di atas yang berarti mencakup juga kalimat luas. Namun, kalimat transformasi belum tentu
kalimat luas.
Contoh kalimat Inti, Luas, dan Transformasi
a. Kalimat Inti. Contoh: Adik menangis.
b. Kalimat Luas. Contoh: Radha, Arief, Shinta, Mamas, dan Mila sedang belajar dengan serius,
sewaktu pelajaran matematika.
c. Kalimat transformasi. Contoh:
i) Dengan penambahan jumlah kata tanpa menambah jumlah inti, sekaligus juga adalah kalimat
luas: Adik menangis tersedu-sedu kemarin pagi.
ii) Dengan penambahan jumlah inti sekaligus juga adalah kalimat luas: Adik menangis dan
merengek kepada ayah untuk dibelikan komputer.
iii) Dengan perubahan kata urut kata. Contoh: Menangis adik.
iv) Dengan perubahan intonasi. Contoh: Adik menangis?
4. Kalimat Mayor dan Minor
a. Kalimat mayor
Kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti.
Contoh: Amir mengambil buku itu.
Arif ada di laboratorium.
Kiki pergi ke Bandung.
Ibu segera pergi ke rumah sakit menengok paman, tetapi ayah menunggu kami di rumah Rati
karena kami masih berada di sekolah.
b. Kalimat Minor
Kalimat minor adalah kalimat yang hanya mengandung satu unsur inti atau unsur pusat.
Contoh: Diam!
Sudah siap?
Pergi!
Yang baru!

Kalimat-kalimat di atas mengandung satu unsur inti atau unsur pusat.


Contoh: Amir mengambil.
Arif ada.
Kiki pergi
Ibu berangkat-ayah menunggu.
Karena terdapat dua inti, kalimat tersebut disebut kalimat mayor.
5. Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat berisikan gagasan pembicara atau penulis secara singka, jelas, dan
tepat.
Jelas : berarti mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Singkat : hemat dalam pemakaian atau pemilihan kata-kata.
Tepat : sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.
Kalimat Tidak Efektif
Kalimat tidak efektif adalah kalimat yang tidak memiliki atau mempunyai sifat-sifat yang terdapat
pada kalimat efektif.
Sebab-Sebab Ketidakefektifan Kalimat
1. kontaminasi= merancukan 2 struktur benar 1 struktur salah
contoh:
diperlebar, dilebarkan diperlebarkan (salah)
memperkuat, menguatkan memperkuatkan (salah)
sangat baik, baik sekali sangat baik sekali (salah)
saling memukul, pukul-memukul saling pukul-memukul (salah)
Di sekolah diadakan pentas seni. Sekolah mengadakan pentas seni Sekolah mengadakan pentas
seni (salah)
2. pleonasme= berlebihan, tumpang tindih
contoh :
para hadirin (hadirin sudah jamak, tidak perlu para)
para bapak-bapak (bapak-bapak sudah jamak)
banyak siswa-siswa (banyak siswa)
saling pukul-memukul (pukul-memukul sudah bermakna saling)
agar supaya (agar bersinonim dengan supaya)
disebabkan karena (sebab bersinonim dengan karena)
3. tidak memiliki subjek
contoh:
Buah mangga mengandung vitamin C.(SPO) (benar)
Di dalam buah mangga terkandung vitamin C. (KPS) (benar) ??
Di dalam buah mangga mengandung vitamin C. (KPO) (salah)
4. adanya kata depan yang tidak perlu
Perkembangan daripada teknologi informasi sangat pesat.
Kepada siswa kelas I berkumpul di aula.
Selain daripada bekerja, ia juga kuliah.
5. salah nalar
waktu dan tempat dipersilahkan. (Siapa yang dipersilahkan)
Mobil Pak Dapit mau dijual. (Apakah bisa menolak?)
Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan)
Adik mengajak temannya naik ke atas. (naik selalu ke atas)
Pak, saya minta izin ke belakang. (toilet tidak selalu berada di belakang)
Saya absen dulu anak-anak. (absen: tidak masuk, seharusnya presensi)
gagal lebih untuk subjek bernyawa)
6. kesalahan pembentukan kata
mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan

menyetop seharusnya menstop


mensoal seharusnya menyoal
ilmiawan seharusnya ilmuwan
sejarawan seharusnya ahli sejarah
7. pengaruh bahasa asing
Rumah di mana ia tinggal (the house where he lives ) (seharusnya tempat)
Sebab-sebab daripada perselisihan (cause of the quarrel) (kata daripada dihilangkan)
Saya telah katakan (I have told) (Ingat: pasif persona) (seharusnya telah saya katakan)
8. pengaruh bahasa daerah
sudah pada hadir. (Jawa: wis padha teka) (seharusnya sudah hadir)
oleh saya. (Sunda: ku abdi) (seharusnya diganti dengan kalimat pasif persona)
Jangan-jangan (Jawa: ojo-ojo) (seharusnya mungkin)
.
E. Konjungsi
Konjungsi antarklausa, antarkalimat, dan antarparagraf.
Konjungsi atau kata sambung adalah kata-kata yang menghubungkan bagian-bagian kalimat,
menghubungkan antarkalimat, antarklausa, antarkata, dan antarparagraf.
1. Konjungsi antarklausa
a. Yang sederajat: dan, atau, tetapi, lalu, kemudian.
b. Yang tidak sederajat: ketika, bahwa, karena, meskipun, jika, apabila.
2. Konjungsi antarkalimat: akan tetapi, oleh karena itu, jadi, dengan demikian.
3. Konjungsi antarparagraf: selain itu, adapun, namun.
STRUKTUR KALIMAT BAHASA INDONESIA
Kalimat adalah:Satuan bahasa terkecil dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan suatu
pikiran yang utuh . Dalam suatu kalimat terdiri dari beberapa unsur antara lain subyek,predikat,
obyek ,pelengkap dan keterangan. Kalimat dikatakan sempurna jika minimal memliki unsur
Subyek dan Predikat.
1. Ciri-Ciri Subjek
Jawaban atas Pertanyaan Apa atau Siapa kepada Predikat.
Contoh :
1. Juanda memelihara binatang langka
Siapa memelihara? Jawab : Juanda. (maka juanda adalah S sedangkan
memelihara adalah )
Siapa atau apa Binatang langka ? = tidak ada jawaban
2. Meja itu dibeli oleh paman.
Apa dibeli ? = jawab Meja
Biasanya disertai kata itu,ini,dan yang (yang ,ini,dan itu juga sebagai pembatas antara subyek
dan predikat)
Contoh : Anak itu mengambil bukuku
SP
2 Ciri-Ciri Predikat
Menimbulkan Pertanyaan apa atau siapa.
Dalam hal ini jika predikat maka dengan pertanyaan tersebut akan ada jawabannya.
Perhatikan pada Subyek diatas. Subyek dan predikat ditentukan secara bersama-sama.
Kata Adalah atau Ialah
Predikat kalimat dapat berupa kata adalah atau ialah. Kalimat dengan Predikat demikian itu
terutama digunakan pada kalimat majemuk bertingkat anak kalimat pengganti predikat.
Dapat Disertai Kata-kata Aspek atau Modalitas
Predikat kalimat yang berupa verba atau adjektiva dapat disertai kata-kata aspek seperti telah,
sudah, sedang, belum, dan akan. Kata-kata itu terletak di depan verba atau adjektiva. Kalimat

yang subjeknya berupa nomina bernyawa dapat juga disertai modalitas, kata-kata yang
menyatakan sikap pembicara (subjek), seperti ingin, hendak, dan mau.
3 Ciri-Ciri Objek
Predikat yang berupa verba intransitif (kebanyakan berawalan ber- atau ter-) tidak memerlukan
objek, verba transitif yang memerlukan objek kebanyakan berawalan me-. Ciri-ciri objek ini
sebagai berikut.
Langsung di Belakang Predikat
Objek hanya memiliki tempat di belakang predikat, tidak pernah mendahului predikat.
Dapat Menjadi Subjek Kalimat Pasif
Objek yang hanya terdapat dalam kalimat aktif dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif.
Perubahan dari aktif ke pasif ditandai dengan perubahan unsur objek dalam kalimat aktif menjadi
subjek dalam kalimat pasif yang disertai dengan perubahan bentuk verba predikatnya.
Didahului kata Bahwa
Anak kalimat pengganti nomina ditandai oleh kata bahwa dan anak kalimat ini dapat menjadi
unsur objek dalam kalimat transitif.
4 Ciri-Ciri Pelengkap
Perbedaannya terletak pada kalimat pasif. Pelengkap tidak menjadi subjek dalam kalimat pasif.
Jika terdapat objek dan pelengkap dalam kalimat aktif, objeklah yang menjadi subjek kalimat
pasif, bukan pelengkap. Berikut ciri-ciri pelengkap.
Di Belakang Predikat
Ciri ini sama dengan objek. Perbedaannya, objek langsung di belakang predikat, sedangkan
pelengkap masih dapat disisipi unsur lain, yaitu objek. Contohnya terdapat pada kalimat berikut.
a) Diah mengirimi saya buku baru.
b) Mereka membelikan ayahnya sepeda baru.
Unsur kalimat buku baru, sepeda baru di atas berfungsi sebagai pelengkap dan tidak mendahului
predikat.
Hasil jawaban dari predikat dengan pertanyaan apa.
Contoh :
a. Pemuda itu bersenjatakan parang.
Kata parang adalah pelengkap.
Bersenjatakan apa ? jawab parang ( maka parang sebagai pelengkap )
b. Budi membaca buku.
Membaca apa ? jawab buku (buku sebagai obyek karena dapat
menempati Subyek)
5 Ciri-Ciri Keterangan
Ciri keterangan adalah dapat dipindah pindah posisinya . perhatikan contoh berikut:
Cintya sudah membuat tiga kue dengan bahan itu.
SPOK
Dengan bahan itu Cintya sudah membuat tiga kue .
Cintya dengan bahan itu sudah membuat tiga kue.
Dari jabatan SPOK menjadi KSPO dan SKPO .Jika tidak dapat di pindah maka bukan keterangan.
KALIMAT MAJEMUK
Suatu bentuk kalimat luas hasil penggabungan atau perluasan kalimat tunggal sehingga
membentuk satu pola kalimat baru di samping pola yang ada.
Kalimat majemuk dibagi menjadi :
1.

Kalimat majemuk setara (koordinatif)

2.

Kalimat majemuk rapatan

3.

Kalimat majemuk bertingkat (subordinatif)

4.

Kalimat majemuk campuran


A. Kalimat majemuk Setara
Kalimat majemuk setara adalah :
Kalimat gabung yang hubungan antar pola-pola kalimat di dalamnya sederajat atau seharkat.
Ciri-ciri :

1.

.Kedudukan pola-pola kalimat, sama derajatnya.

2.

Penggabungannya disertai perubahan intonasi.

3.

Berkata tugas/penghubung, pembeda sifat kesetaraan.

4.

Pola umum uraian jabatan kata : S-P+S-P


Jenis majemuk Setara
1. Setara Sejalan (kata hubungnya dan, serta, lagi pula dll)
2. Setara memilih
3. Setara berlawanan
4. Setara menguatkan (bahkan)
5. Setara sebab akibat
B. Majemuk Bertingkat.
1. Siswa dapat membuat kalimat majemuk bertingkat
2. Siswa dapat menentukan Kalimat majemuk bertingkat.
1. Membuat Majemuk Bertingkat.
Majemuk bertingkat adalah kalimat luas yang mana perluasannya membentuk klausa
bawahan (anak kalimat)
Cara membuat majemuk bertingkat.
1. Buatlah kalimat tunggal atau kalimat luas terlebih dahulu.
2. Kembangkan salah satu jabatan kalimat menjadi klausa bawahan (anak kalimat )
sesuai dengan anak kalimat apa yg diinginkan
Contoh :Ansar akan menyunting seorang gadis minggu depan.
S
P
O
K
Kalimat diatas akan dijadikan bertingkat anak O
Ansar akan menyunting Wanita cantik yang bernama Mutia Rahman minggu depan
s
p
S
P
Pel K
o

KALIMAT
a.
PENGERTIAN KALIMATKalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri memiliki
pola intonasifinal dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa yang digunakan sebagai

saranauntuk menuangkan dan menyusun gagasan secara terbuka agar dapat dikomunikasikankepada
orang lain, atau bagian ujaran yang mempunyai struktur minimal subjek dan predikat,mempunyai
intonasi dan bermakna b.
CIRI-CIRI KALIMATCiri-ciri sebuah kalimat yang baik dan benar, harus sesuai dengan unsurunsur pembentukan kalimat. Kalimat yang baik harus sesuai dengan kaidah
tata bahasa Indonesia,salah satunya ada subjek, predikat, objek, dan keterangan.1.
Subjek (pokok atau inti pikiran)
Ciri-ciri dari subjek antara lain:

Jawaban atas pertanyaan apa atau siapaPenentuan subjek dapat dilakukan dengan mencari jawaban
pertanyaan apa atau siapayang dinyatakan dalam suatu kalimat. Untuk subjek kalimat yang berupa
manusia, biasanya digunakan kata tanya siapa.

Tidak didahului preposisiSubjek tidak didahului preposisi, seperti dari, dalam, di, ke, kepada. Orang
sering memulaikalimat dengan menggunakan kata-kata seperti itu sehingga menyebabkan kalimatkalimatyang dihasilkan tidak bersubjek.

Menjadi inti dari sebuag pokok pikiran

Berupa kata benda atau frase kata bendaSubjek kebanyakan berupa kata benda atau frase kata benda.
Disamping kata benda,subjek dapat berupa kata kerja atau kata sifat, biasanya disertai kata penunjuk
itu.2.
Predikat
Predikat adalah unsur kalimat yang memerikan atau memberitahukan apa, mengapa, bagaimana atau
berapa tentang subjek kalimat. Predikat memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

Merupakan jawaban atas pertanyaan


apa, bagaimana, mengapa,
atau
berapa
Dilihat dari segi makna, bagian kalimat yang memberikan informasi atas pertanyaan
mengapa
atau
bagaimana
adalah predikat kalimat. Pertanyaan
sebagaiapa
atau
jadi apa
dapat digunakan untuk menentukan predikat yang
berupa nomina penggolong (identifikasi). Kata tanya
berapa
dapat digunakan untuk menentukan predikatyang berupa numeralia (kata bilangan) atau frasa
numeralia.

Dapat didahului kata


ialah, adalah, merupakan

Predikat kalimat dapat berupa kata


adalah
atau
ialah
. Predikat itu terutama
digunakan jika subjek kalimat berupa unsur yang panjang sehingga batas antara subjek dan pelengkap
tidak jelas.


Dapat disertai kata pengingkaran
tidak,
atau
bukan
Predikat dalam bahasa Indonesia mempunyai bentuk pengingkaran yang diwujudkan olehkata
tidak
. Bentuk pengingkaran
tidak
ini digunakan untuk predikat yang berupa verba atauadjektiva. Di samping
tidak
sebagai penanda predikat, kata
bukan
juga merupakan penanda predikat yang berupa nomina atau predikat kata
merupakan
.

Dapat Disertai Kata-kata Aspek atau ModalitasPredikat kalimat yang berupa verba atau adjektiva
dapat disertai kata-kata aspekseperti
telah
,
sudah
,
sedang
,
belum
, dan
akan
. Kata-kata itu terletak di depan verba atauadjektiva. Kalimat yang subjeknya berupa nomina
bernyawa dapat juga disertai modalitas,kata-kata yang menyatakan sikap pembicara (subjek), seperti
ingin
,
hendak
, dan
mau
.

Dapat berupa kata atau kelompok kata kerja, kata atau kelompok kata sifat, kata ataukelompok kata
benda, kata atau kelompok kata bilangan.3.
Objek
Objek adalah unsur kalimat yang dikenai perbuatan atau menderita akibat perbuatansubjek. Objek
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

Langsung mengikuti predikatObjek hanya memiliki tempat di belakang predikat, tidak pernah
mendahului predikat. Dapat menjadi subjek kalimat pasif Objek yang hanya terdapat dalam
kalimat aktifdapat menjadi subjek dalam kalimat pasif. Perubahan dari aktif ke pasif ditandai

dengan perubahan unsur objek dalam kalimat aktif menjadi subjek dalam kalimat pasif yang
disertaidengan perubahan bentuk verba predikatnya.

Tidak didahului kata depan atau preposisiObjek yang selalu menempati posisi di belakang predikat
tidak didahului preposisi.Dengan kata lain, di antara predikat dan objek tidak dapat disisipkan
preposisi.

Dapat didahului kata bahwaAnak kalimat pengganti nomina ditandai oleh kata
bahwa
dan anak kalimat ini dapatmenjadi unsur objek dalam kalimat transitif.4.
Pelengkap
Pelengkap adalah unsur kalimat yang melengkapi predikat dan tidak dikenai perbuatansubjek.
Pelengkap memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

Melengkapi makna kata kerja (predikat)Ciri ini sama dengan objek. Perbedaannya, objek langsung di
belakang predikat,sedangkan pelengkap masih dapat disisipi unsur lain, yaitu objek. Contohnya
terdapat padakalimat berikut.- Diah mengirimi saya
buku baru
.- Mereka membelikan ayahnya
sepeda baru
.

Unsur kalimat
buku baru
,
sepeda baru
di atas berfungsi sebagai pelengkap dan tidakmendahului predikat.

Tidak didahului preposisiSeperti objek, pelengkap tidak didahului preposisi. Unsur kalimat yang
didahului preposisi disebut keterangan. Ciri-ciri unsur keterangan dijelaskan setelah bagian ini.

Langsung mengikuti predikat atau objek jika terdapat objek dalam kalimat itu.

Berupa kata/kelompok kata sifat atau klausa.

Tidak dapat menjadi subjek dalam konstruksi pasifnya.


5.
Keterangan
Keterangan merupakan unsur kalimat yang memberikan informasi lebih lanjut tentangsuatu yang
dinyatakan dalam kalimat; misalnya, memberi informasi tentang tempat, waktu,cara, sebab, dan
tujuan. Keterangan ini dapat berupa kata, frasa, atau anak kalimat.Keterangan yang berupa frasa
ditandai oleh preposisi, seperti
di
,
ke
,
dari
,
dalam
,
pada
,
kepada
,
terhadap
,
tentang
,
oleh
, dan
untuk
. Keterangan yang berupa anak kalimatditandai dengan kata penghubung, seperti
ketika
,
karena
,
meskipun
,
supaya

,
jika
, dan
sehingga
. Berikut ini beberapa ciri unsur keterangan.Ciri-ciri keterangan yaitu:

Memberikan informasi tentang waktu, tempat, tujuan, cara, alat, kemiripan, sebab,atau kesalingan.

Memiliki keleluasaan letak atau posisi (dapat di awal, akhir, atau menyisip antarasubjek dan predikat).

Didahului kata depan seperti


di, ke, dari, pada, dalam, dengan,
atau kata penghubung/konjungsi jika berupa anak kalimat

5.
Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat yaitu penggabungan dua kalimat atau lebih
kalimattunggal yang kedudukannya berbeda. Di dalam kalimat majemuk
bertingkat terdapat unsurinduk kalimat dan anak kalimat. Anak kalimat timbul
akibat perluasan pola yang terdapat pada induk kalimat.Berdasarkan kata
penghubungnya (konjungsi), kalimat majemuk bertingkat terdiridari sepuluh
macam, yakni:
Jenis
Konjungsi
syarat jika, kalau, manakala, andaikata, asal(kan)tujuan agar, supaya, biar perla
wanan (konsesif) walaupun, kendati(pun), biarpun penyebaban sebab, karena,
oleh karena pengakibatan maka,
sehinggacara dengan, tanpaalat dengan, tanpa perbandingan seperti, bagaikan,
alih-alih penjelasan Bahwakenyataan PadahalContoh:a.
Kemarin ayah mencuci motor. (induk kalimat) b.
Ketika matahari berada di ufuk timur. (anak kalimat sebagai pengganti
keteranganwaktu)c.
Ketika matahari berada di ufuk timur, ayah mencuci motor. (kalimat
majemuk bertingkat cara 1)d.
Ayah mencuci motor ketika matahari berada di ufuk timur. (kalimat
majemuk bertingkat cara 2)

6.
Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat majemuk campuran yaitu gabungan antara kalimat majemuk setara
dankalimat majemuk bertingkat. Sekurang-kurangnya terdiri dari tiga
kalimat.Contoh:a.
Toni bermain dengan Kevin. (kalimat tunggal 1) b.
Rina membaca buku di kamar kemarin. (kalimat tunggal 2, induk kalimat)c.
Ketika aku datang ke rumahnya. (anak kalimat sebagai pengganti keterangan
waktu)d.
Toni bermain dengan Kevin, dan Rina membaca buku di kamar, ketika aku datang
kerumahnya. (kalimat majemuk campuran)
7.
Kalimat Lengkap
Kalimat lengkap adalah kalimat yang setidaknya terdiri dari gabungan minimal
satu buah subyek dan satu buah predikat. Kalimat Majas termasuk ke dalam
kalimat lengkap.Contoh :a.
Cepot (S) membeli (P) pulpen(O) b.
Si Kancil (S) melompat (P)
8.
Kalimat Tidak Lengkap
Kalimat tidak lengkap adalah kslimst yang tidak sempurna karena hanya
memilikisabyek saja, predikat saja, objek saja atau keterangan saja. Kalimat
tidak lengkap dapat berupa semboyan, salam, perintah, pertanyaan, ajakan,
jawaban, seruan, larangan, sapaan dankekaguman.Contoh :a.
Silahkan dinikmati! b.
Selamat tidur.c.
Jangan nakal!
9.
Kalimat Aktif
Kalimat Aktif adalah kalimat di mana subyeknya melakukan suatu perbuatan
atauaktifitas. Kalimat aktif biasanya diawali oleh awalan me- atau ber- dibagi
menjadi duamacam :a.
Kalimat aktif transitif adalah kalimat yang memiliki obyek
penderitao Ibu membeli sayur.o Dodo menyukai teman sekelasnya.

b.
Kalimat aktif intransitif adalah kalimat yang tidak memiliki obyek
penderitao Adik menangiso Bondan berkelahi
10.
Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subyeknya dikenai suatu perbuatan atau
aktifitas.Kalimat pasif biasanya diawali oleh awalan ter- atau di- .Contoh :a.
Kue bolu dipotong oleh ibu b.
Menteri kehutanan dimintai pertanggung jawaban oleh presidenMengubah
Kalimat Aktif menjadi Kalimat Pasif dan Kalimat Pasif manjadi KalimatAktifUntuk
mengubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif dan juga sebaliknya dapat
dilakukanlangkah-langkah mudah berikut ini :1)
Mengubawalan pada PredikatYaitu menukar awalan me- atau ber- dengan diatau ter- dan begitu sebaliknya.2)
Menukar Subyek dengan Obyek dan sebaliknyaMenukar kata benda yang tadinya
menjadi obyek menjadi subyek dan begitu sebaliknya.