Anda di halaman 1dari 37

16

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Model Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif/cooperative learninng merupakan
rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompokkelompok

tertentu

untuk

mencapai

tujuan

yang

telah

ditentukan.

Pembelajaran ini membagi siswa kedalam beberapa kelompok kecil yang


dibagi secara heterogen kemudian masing-masing siswa diberi tugas khusus
oleh guru agar tujuan pembelajaran dapat berjalan sesuai yang diharapkan
(Sutirman, 2013:29).
Pembelajaran kooperatif mengandung pengertian sebagai suatu sikap
atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam
bekerja ataupun membantu di antara sesama dalam struktur kerja sama yang
teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana
keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota
kelompok itu sendiri (Etin, 2011:4).
Johnson dalam Isjoni menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif
adalah mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam suatu kelompok kecil
agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang mereka
miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut. Siwa
diharapkan dapat mempelajari suatu materi secara bersama-sama agar dapat
saling membantu dalam mengatasi permasalahan yang sulit (Isjoni, 2012:23).

17

Berdasarkan definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa


pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah suatu model
pembelajaran melalui kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4
sampai 6 siswa yang bersifat heterogen (terdiri atas anggota yang memiliki
kemampuan akademik, jenis kelamin, dan latar belakang sosial yang berbeda)
di mana siswa saling bekerja sama dengan kemampuan yang mereka miliki
dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Model
pembelajaran kooperatif mendorong siswa untuk melakukan kerja sama
dalam

memecahkan

berbagai

permasalahan

yang

ditemui

selama

pembelajaran, siswa dapat bekerja sama dalam menemukan dan merumuskan


alternatif pemecahan terhadap masalah materi pelajaran yang dihadapi. Guru
tidak lagi mendominasi dalam proses pembelajaran berlangsung, tetapi siswa
dituntut untuk berbagi informasi dengan siswa yang lainnya.
2. Unsur-unsur Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam
kelompok tetapi terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan. Terdapat unsurunsur dasar model pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan
pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan yang tidak menugaskan
siswa pada tugas-tugas tertentu. Roger dan David Johnson dalam Anita Lie
(2008: 31-34) menjelaskan untuk mencapai hasil yang maksimal dalam
pembelajaran ini ada lima unsur model pembelajaran gotong royong yang
harus diterapkan pada saat diskusi berlangsung. Lima unsur tersebut adalah
sebagai berikut:
1) Saling Ketergantungan Positif

18

Keberhasilan pembelajaran kooperatif dalam penyelesaian tugas


tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Keberhasilan
kerja kelompok ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota kelompok.
Mereka bertanggung jawab untuk mempelajari bahan yang ditugaskan kepada
kelompok dan juga bertanggung jawab menjamin semua anggota kelompok
secara individu mempelajari bahan yang ditugaskan tersebut. Oleh karena itu,
semua anggota dalam kelompok akan merasakan saling ketergantungan.
2) Tanggung Jawab Perseorangan
Tanggung jawab perseorangan artinya setiap siswa akan merasa
bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Unsur ini merupakan
akibat langsung dari unsur yang pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat
menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, maka setiap siswa akan
merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik dalam mengerjakan
tugas yang diberikan oleh gurunya. Oleh karena itu keberhasilan kelompok
tergantung pada setiap anggotanya, maka setiap anggota kelompok harus
memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugasnya. Setiap anggota harus
memberikan yang terbaik untuk keberhasilan kelompoknya dalam menangani
permasalah yang dipelajari secara bersama-sama.
3) Interaksi Tatap Muka
Interaksi tatap muka yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada
setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan
diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok
lain. Interaksi terjadi antar siswa tanpa adanya perantara. Inti dari unsur ini

19

adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi


kekurangan masing-masing. Para anggota kelompok perlu diberi kesempatan
satu sama lain dalam kegiatan tatap muka dan interaksi pribadi.
4) Partisipasi dan Komunikasi
Partisipasi dan komunikasi melatih siswa untuk dapat berpartisipasi
aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran. Kemampuan ini
sangat penting sebagai bekal siswa dalam kehidupan di masyarakat kelak.
Oleh sebab itu, sebelum melakukan kooperatif guru perlu membekali siswa
dengan

kemampuan

berkomunikasikan.

Seperti

bagaimana

caranya

menyanggah pendapat orang lain tanpa harus menyinggung perasaan orang


tersebut. Masih banyak orang yang kurang sensitif dan kurang bijaksana
dalam menyatakan pendapat mereka.
5) Evaluasi Proses Kelompok
Pemrosesan mengandung arti menilai. Melalui pemrosesan kelompok
dapat diidentifikasi dari urutan atau tahapan kegiatan kelompok dan kegiatan
dari anggota kelompok. Siapa di antara anggota kelompok yang sangat
membantu dan siapa yang tidak membantu. Pengajar perlu menjadwalkan
waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan
hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih
efektif. Dengan Pembelajaran Kooperatif siswa akan memahi materi pelajaran
dengan saling bekerjasama sehingga siswa akan lebih mudah memahami
materi dan diharapkan untuk meningkatkan hasil belajar.
B. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw
1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw

20

Model pembelajaran Jigsaw (model tim ahli) ini telah dikembangkan


dan diuji coba oleh Elliot Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, dan Snapp dari
Universitas Texas, dan diadopsi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas
Hopkins yang berkerjasama dalam mencari solusi model pembelajaran yang
baik yang dapat diterapkan dalam mengatasi permasalahan yang ditemui
dalam proses pembelajaran di sekolah (Isjoni, 2012:25).
Model Jigsaw adalah suatu pembelajaran yang terdiri dari beberapa
anggota dalam suatu kelompok dan bertanggung jawab atas penguasaan
bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada
anggota lain. Dalam Anita Lie (2008:69), Jigsaw didesain untuk
meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri
dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi
yang diberikan tetapi mereka juga harus memberikan dan mengajarkan materi
materi terebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian siswa
saling tergantung dengan yang lain dan harus bekerjasama secara kooperatif
untuk mempelajari materi yang ditugaskan.
Dalam Marno (2009:155), model Jigsaw merupakan salah satu variasi
model collaborative learning yaitu proses belajar kelompok dimana setiap
anggota menyumbangkan informasi, pengalaman, ide, sikap, pendapat,
kemampuan, keterampilan, yang dimilikinya untuk secara bersama saling
meningkatkan pemahan seluruh anggota. Apabila ada siswa yang kesulitan
dalam mempelajari suatu permasalahan mereka akan terbantu oleh anggota
kelompoknya yang memahami permasalahan tersebut.

21

Hisyam (2011:56), model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat


digunakan secara efektif di tiap level di mana siswa telah mendapatkan
keterampilan akademis dari pemahaman, membaca maupun keterampilan
kelompok untuk belajar bersama. Model pembelajaran ini sangat menarik
untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dapat dibagi menjadi
beberapa

bagian

dan

materi

tersebut

tidak

mengharuskan

urutan

penyampaian. Jenis materi yang paling mudah digunakan dalam pembelajaran


kooperatif tipe Jigsaw adalah materi yang bersifat naratif seperti ditemukan
dalam literatur, penelitian sosial, dan ilmu pengetahuan.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
yang dimaksud model pembelajaran tipe Jigsaw adalah tipe pembelajaran
kooperatif dimana siswa, bukan guru yang memiliki tanggung jawab lebih
besar dalam melaksanakan pembelajaran. Tujuan dari Jigsaw ini adalah
mengembangkan kerja tim, keterampilan belajar kooperatif, dan menguasai
pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh apabila mereka
mencoba untuk mempelajari semua materi sendirian.
2. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw
Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terdapat kelompok asal
dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang
beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang yang
beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok
ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang
berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu

22

dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk


kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. Menurut Muhammad
Tholchah Hasan (2003:34) hubungan antara kelompok asal dan kelompok
ahli dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut :
Kelompok Asal

Gambar 2.1 Ilustrasi Kelompok Jigsaw


Adaptasi dari MuhammadKelompok
TholchahAhi
Hasan, et. all. (2003:34)
Menurut Isjoni (2010:54-59), menjelaskan bahwa dalam penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini terdapat beberapa langkahlangkah yang harus dilaksanakan, yaitu sebagai berikut :
1) Pembentukan kelompok kecil
Dalam tahap ini siswa dikelompokkan dalam kelompok-kelompok
kecil, kelompok ini disebut dengan kelompok asal. Untuk mengoptimalkan
manfaat belajar kelompok, keanggotaan kelompok harus heterogen baik dari
segi kemampuan, kinerja dan karakteristik lainnya agar setiap kelompok
setara. Dalam penelitian ini setiap anggota terdiri dari 5-6 orang, dimana dari
tiap-tiap anggota kelompok memiliki kemampuan yang berbeda-beda mulai
dari yang rendah, sedang, dan tinggi, agar saat pembelajaran bisa saling
melengkapi antara anggota yang satu dengan yang lainnya.
2) Pemilihan topik tim

23

Pada langkah ini setiap anggota kelompok diberikan kesempatan


untuk memilih topik yang akan dibahas. Jadi satu orang anggota memilih
topik yang berbeda dengan teman kelompoknya yang lain.
Setelah mendapatkan topik yang akan dibahas, tiap anggota kelompok
berkumpul dengan anggota kelompok lain yang memiliki topik yang sama.
Misalnya, siswa yang memiliki topik tentang pencemaran air berkumpul
dengan anggota dari kelompok yang lain yang memiliki topik yang sama
membentuk kelompok ahli.
3) Diskusi kelompok ahli
Pada langkah ini kelompok ahli yang sudah terbentuk mendiskusikan
bersama-sama mengenai topik yang mereka pilih sampai menguasi tentang
topik tersebut. Apabila siswa menemukan kesulitan saat diskusi, maka guru
berfungsi untuk memberikan arahan.
4) Diskusi kelompok asal
Setelah masing-masing perwakilan dari kelompok asal yang ada
dikelompok ahli menguasai materi yang ditugaskan guru, kemudian masingmasing perwakilan tersebut kembali ke kelompok asalnya. Selanjutnya
masing-masing anggota tersebut saling menjelaskan pada teman satu
kelompoknya sehingga teman satu kelompoknya dapat memahami materi
yang ditugaskan.
5) Memberikan tes atau kuis
Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah siswa sudah dapat
memahami materi yang diberikan. Secara umum penyelenggaraan model

24

belajar Jigsaw dapat menumbuhkan tanggung jawab sehingga terlibat


langsung

secara

aktif

dalam

memahami

suatu

persoalan

dan

menyelesaikannya secara kelompok. Pada kegiatan ini keterlibatan guru


semakin berkurang dalam arti guru tidak menjadi pusat kegiatan kelas. Guru
berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan dan memotivasi siswa untuk
belajar secara mandiri, menumbuhkan rasa tanggung jawab serta siswa akan
merasa senang dapat berdiskusi dengan kelompoknya masing-masing.
3. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif tipe
Jigsaw
a. Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw
Ibrahim (2002:45), menyatakan bahwa cooperative learning tipe
Jigsaw dapat mengembangkan tingkah laku dan hubungan yang lebih baik
antar siswa dan dapat mengembangkan kemampuan akademis siswa. Siswa
belajar lebih banyak dari teman mereka dari pada guru, sehingga mereka
dapat secara mandiri melatih kemampuan dalam memahami permasalahan
yang dikaji secara bersama dengan teman kelompoknya.
Belajar dengan tipe Jigsaw memberikan implikasi positif dalam
belajar diantaranya :
1

Kelompok kecil memberikan dukungan sosial untuk belajar.


Kelompok

kecil

membentuk

suatu

forum

dimana

siswa

menanyakan pertanyaan, mendiskusikan pendapat, belajar dari


pendapat orang lain, memberikan kritik yang membangun dan
menyimpulkan penemuan mereka dalam bentuk tulisan.

25

Kelompok kecil menawarkan kesempatan untuk sukses bagi semua


siswa. Interaksi dalam kelompok dirancang untuk semua anggota
mempelajari konsep dan strategi pemecahan masalah. Siswa yang
menemukan kesulitan memahami konsep pelajaran akan mendapat
keuntungan dengan saling bertukar pikiran dengan teman

kelompoknya sehingga dapat terbantu.


Guru berperan sebagai pendamping dan mengarahkan siswa dalam
mempelajari materi pada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan

materi pada anggota kelompok asalnya.


Pemerataan penguasaan dapat dicapai dalam waktu yang lebih
singkat. Metode Pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih

aktif dalam berbicara dan berpendapat.


b. Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw
Tidak selamanya proses belajar dengan metode Jigsaw berjalan
dengan lancar. Ada beberapa hambatan yang dapat muncul, yang paling
sering terjadi adalah kurang terbiasanya peserta didik dan pengajar dengan
metode ini. Peserta didik dan pengajar masih terbawa kebiasaan metode
ceramah, dimana pemberian materi terjadi secara satu arah. Faktor hambatan
lain adalah kurangnya waktu. Proses metode ini menggunakan waktu yang
lebih banyak, sementara waktu pelaksaan metode ini harus disesuaikan
dengan beban kurikulum. Beberapa hal yang menjadi kelemahan tipe Jigsaw
diantaranya :
1

Pembagian kelompok yang tidak heterogen dimungkinkan


kelompoknya yang anggotanya lemah semua.

26

Penugasan anggota kelompok untuk menjadi ahli sering tidak


disesuaikan antara kemampuan dengan kompetensi yang harus

dipelajari.
Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi dan cederung

mengontrol jalannya diskusi.


Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berfikir rendah akan
mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi ketika sebagai tenaga ahli
sehingga memugkinkan terjadi kesalahan.
C. Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran.
Sudjana (2011:3) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah
perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas
mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dimyati dan Mudjiono
(2013:3-4) juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari suatu
interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar
diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar
merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.
Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemakaran
dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang.
Penguasaan hasil oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku
dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berfikir maupun
keterampilan motorik. Hampir sebagian perilaku yang diperlihatkan
seseorang merupakan hasil belajar. Disekolah hasil belajar dapat dilihat dari
penguasaan siswa akan mata pelajaran yang ditempuh. Tingkat penguasaan
pelajaran atau hasil belajar dalam mata pelajaran tersebut disekolah

27

dilambangkan dengan angka-angka atau huruf, seperti angka 0-10 pada


pendidikan dasar dan menengah dan huruf A, B, C, D pada pendidikan tinggi
(Syaodiah, 2009:102-103).
2. Tipe Hasil Belajar Kognitif
Menurut Sudjana (2009:22), sistem pendidikan nasional, dalam
rumusan tujuan pendidikan baik tujuan kurikuler maupun instruksional
menggunakan hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar
membaginya ke dalam tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif, ranah
psikomotoris. (1).Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual,
(2) ranah afektif berkenaan dengan sikap, (3) ranah psikomotoris berkenaan
dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ketiga ranah
tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah
kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru karena berkaitan
dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran yang
berkenaan langsung dengan pemahamannya terhadap materi.
Neisser dalam (1976) dalam Syah (2010:65), menyatakan bahwa
cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan.
Sementara Chaplin dalam Syah menyatakan istilah kognitif menjadi populer
sebagai salah satu domain atau wilayah/ranah psikologis manusia meliputi
setiap prilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan,
pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesenjangan, dan keyakinan.
Ranah kejiwaaan yang berpusat di otak juga berhubungan dengan konasi
(kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa.
3. Indikator Hasil Belajar

28

Indikator pencapaian hasil belajar biologi di Indonesia pada umumnya


mengacu pada indikator pencapaian hasil belajar menurut Benyamin S.
Bloom, dimana terdapat tiga ranah yang sangat penting untuk menilai hasil
pembelajaran. Ranah-ranah tersebut adalah ranah kognitif, ranah afektif dan
ranah psikomotor.
Hasil belajar yang akan dibahas pada peneletian ini yaitu hasil belajar
kognitif. Hal ini karena tingkat hasil belajar siswa aspek kognitif dapat
memudahkan peneliti untuk menganalisis hasil belajar siswa, hasil belajar
kognitif ini dapat menggambarkan secara umum dari hasil belajar siswa, hasil
belajar kognitif ini dapat menggambarkan secara umum dari hasil belajar
afektif, dan hasil belajar kognitif ini dapat menggambarkan secara umum
hasil belajar afektif, dan hasil belajar psikomotor.
Thobroni (2016:23), mengatakan tujuan aspek kognitif berorientasi
pada kemampuan berfikir yang mencangkup kemampuan intelektual yang
lebih sederhana, yaitu mengingat sampai pada kemampuan memecahkan
masalah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan
beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk
memecahkan masalah tersebut, dengan demikian aspek kognitif adalah
subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering
berwal dari tingkat pengetahuan samapai ke tingkat paling tinggi yaitu
evaluasi.
Adapun indikator dan cara evaluasi kognitif, lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel 2.1 sebagai berikut :

29

Tabel 2.1 Jenis, Indikator dan Cara Evaluasi Hasil Belajar Kognitif
Ranah/Jenis
Prestasi Kognitif
1 Pem
aha
man

Indikator
1
2
3

Inga
tan

1
2

Pem
aha
man

1
2

Pen
erap
an

1
2

Ana
lisis
(pe
meri
ksaa
n
dan
peni
alaia

1
2

Cara Evaluasi
Dapat
menunjukk
an
Dapat
membandin
gkan
Dapat
menghubun
gkan

1. Tes lisan
2. Tes tertulis
3. Observasi

Dapat
menyebutk
an
Dapat
menunjukk
an kembali
Dapat
menjelaska
n
Dapat
mendefinisi
kan dengan
lisan
sendiri

1. Tes lisan
2. Tes tertulis
3. Observasi

Dapat
memberika
n contoh
Dapat
menggunak
an secara
tepat

1. Tes lisan
2. Tes tertulis
3. Observasi

Dapat
menguraika
n
Dapat
mengklasifi
kasikan/
memilahmilah

1. Tes lisan
2. Tes tertulis

1. Tes lisan
2. Tes tertulis

30

n
seca
ra
teliti
)
Sint
esis
(me
mbu
at
pan
dua
n
baru
dan
utuh
)

1
2
3

Dapat
1. Tes lisan
menghubun 2. Tes tertulis
gkan
Dapat
menyimpul
kan
Dapat
menggener
alisasikan
(membuat
prinsip
umum)
(Sumber: Syah, 2008:151)

Revisi Taksonomi Blomm membagi tingkat kemampuan atau tipe


hasil belajar yang termasuk aspek kognitif menjadi enam, yaitu recall,
understand, appy, analyze, avaluate, dan create (Anderson, Krathwohl,
2010). Keenam tingkat ini disusun berjenjang tidak boleh saling mendahului
yang dimulai dari tingkat sederhana samapai pada tingkat yang paling
kompleks, yaitu:
a. Mengingat (Recall) ialah tingkat kemampuan yang hanya meminta
responden (tesstee) untuk mengenal atau mengetahui adanya
konsep, fakta, atau istilah-istilah tanpa harus mengerti, dapat
dinilai, atau dapat menggunakannya. Dalam hal ini tesstee
biasanya hanya dituntut untuk menyebutkan kembali atau
menghapal saja.
b. Memahami (Understand) adalah tingkat kemampuan yang
mengharapkan tesstee mampu memahami arti atau konsep, situasi,

31

serta fakta yang diketahui, tetapi memahami konsep dari masalah


atau fakta yang ditayangkan.
c. Menerapkan (Apply) adalah penggunaan abstraksi pada situasi
kongkret atau situasi khusus. Dalam hal ini tesstee dituntut
kemampuannya untuk menerapkan atau menggunakan apa yang
telah diketahuinya dalam situsi yang baru baginya.
d. Menganalisis (Analyze) yaitu tingkat kemampuan tesstee untuk
menganalisis atau menguraikan komponen-komponen atau unsurunsur pembentukannya. Pada tingkat analisis, tesstee diharapkan
dapat memahami dan memilah-milahnya menjadi bagian-bagian.
e. Menilai (Evaluate) adalah penyatuan unsur-unsur atau bagian bagian ke dalam suatu bentuk yang menyeluruh. Dengan
kemampuan evaluasi seseorang dituntut untuk dapat menemukan
hubungan kausal atau urutan tertentu.
f. Mencipta (Create) adalah kesanggupan memberikan keputusan
tentang nilai sesuatu berdasarkan judgment yang memilikinya, dan
kriteria yang dipakainya. Tipe hasil belajar ini dikategorikan
paling tinggi, dan terkandung semua tipe hasil belajar yang telah
dijelaskan sebelumnya.
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar.
Menurut Slameto (2010:54), bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
hasil belajar banyak jenisnya tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan,
yang terdiri dari :
1) Faktor Intern, yaitu faktor yang ada di dalam diri individu yang
sedang belajar, meliputi faktor jasmaniah (kesehatan dan cacat
tubuh), faktor psikologi (intelegensi, perhatian, respon, bakat,

32

motif, kematangan, dan kesiapan), dan faktor kelelahan (jasmani


dan rohani).
2) Faktor ekstern, yaitu faktor yang berada di luar individu yang
sedang belajar. Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap hasil
belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu keluarga, sekolah
dan masyarakat.
Sementara itu, menurut Syah (2010:129), secara umum faktor-faktor
yang mempengaruhi hasil belajar dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
1) Faktor Internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi
jasmani dan rohani siswa. Merupakan hal yang tidak terlihat
langsung pada diri siswa melainkan ada dalam dirinya seperti
keadaan

psikologis

dan

keadaan

kejiwaannya

yang

ikut

mempengaruhi prilaku siswa.


2) Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis
upaya

belajar

siswa

yang

meliputi

strategi

dan

model

pembelajaran yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan


pembelajaran pada materi-materi pembelajaran.
3) Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis
upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang
digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materimateri pelajaran.
D. Deskripsi Materi Pembelajaran Pencemaran Lingkungan
1. Pengertian Pencemaran Lingkungan
Kehidupan manusia, tidak bisa dipisahkan dari lingkungan alam
maupun lingkungan sosial. Kita bernafas memerlukan udara dari lingkungan
sekitar. Makanan, minuman, menjaga kesehatan semuanya memerlukan
lingkungan. Tentunya hal ini sangat penting untuk kita tetap menjaga dan

33

melestarikan lingkungan, agar keberlangsungan hidup manusia dalam


menjalankan berbagai aktivitasnya dapat berjalan sesuai fungsinya (Aryulina,
2004:30).
Berdasarkan UU 32 tahun 2009 lingkungan hidup adalah kesatuan
ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk
manusia dan pelakunya, yang mempengaruhi, alam itu sendiri, kelangsungan
prikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Sedangkan pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukannya
makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan
atau berubahnya tanah lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses
alam sehingga kualitas lingkungan turun, sampai ketingkat tertentu yang
menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi
sesuai dengan peruntukannya (Karmana, 2005:323).
2. Macam-Macam Pencemaran Lingkungan
Menurut Daryanto (2004:1) pencemaran lingkungan dibedakan ke
dalam empat macam yaitu :
a. Pencemaran Tanah
1) Pengertian pencemaran tanah
Pencemaran tanah menurut Sastrawijaya (2009:77), adalah keadaan
dimana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah lingkungan tanah
alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena kebocoran limbah cair atau
bahan kimia industri, atau fasilitas komersial, penggunaan pestisida,
masuknya air ke permukaan tanah tercemar kedalam lapisan sub-permukaan,
zat kimia, atau limbar air limbah ditempat penimbunan sampah serta limbah
industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat
2) Komponen pencemaran tanah

34

Menurut Wardhana (2004:34), pencemaran daratan pada umumnya


berasal dari limbah berbentuk padat yang dikumpulkan pada suatu tempat
penampungan atau tempat pembuangan sampah (TPS) bahan buangan padat
terdiri dari berbagai macam komponen baik yang bersifat organik maupun
yang anorganik. Bahan padat berupa sampah saat ini sudah menjadi hal yang
lazim dibuang disembarang tempat akibat kurang kesadaran terhadap
lingkungan.
Bahan buangan onorganik sulit di degradasi oleh mikroorganisme
dipisahkan dari bahan buangan organik dan dikumpulkan sesuai dengan sifat
dan jenisnya sendiri. Misalnya terdapat pada jenis logam (besi, aluminium,
seng, dll) (Karmana, 2005:321)
Pencemaran tanah terjadi oleh faktor alami dan faktor perbuatan
manusia. Faktor-faktor tersebut, yakni: (Wardhana, 2004:71-72).
a) Faktor alami
Faktor alami penyebab pencemaran tanah terjadi karena bencana alam
dan peristiwa alam lainnya. Seperti gunung meletus, pencucian hara tanah
oleh air hujan, pembakaran oleh sinar matahari yang terlalu terik dan lain
sebagainya.
b) Faktor buatan
Faktor buatan adalah pecemaran tanah yang diakibatkan oleh aktivitas
manusia. Manusia dalam aktivitasnya menghasilkan berbagai macam polutan,
limbah dan sampah baik organik maupun anorganik yang dibuang ke
lingkugan termasuk tanah. Pembuangan limbah domestik atau rumah tangga,
pertanian, peternakan dan limbah industri.
3) Dampak pencemaran tanah

35

Dampak pencemaran tanah dikategorikan ke dalam dua kelompok,


yaitu dampak langsung dan dampak tidak langsung. Dampak pencemaran
tanah secara langsung dirasakan oleh manusia adalah dampak dari
pembuangan limbah padat organik yang berasal dari kegiatan rumah tangga
dan kegiatan industri olahan bahan makanan.Protein pada limbah padat
organik sangat mudah untuk didegradasi oleh mikroorganisme sehingga akan
tercium bau yang sangat busuk. Dampak langsung akibat pencemaran tanah
adalah adanya timbulan limbah padat dalam jumlah besar yang akan
menimbulkan pemandangan yang tidak sedap, kotor dan kumuh.
Dampak pencemaran tak langsung pada tanah yang tercemar adalah
dampak yang dirasakan oleh manusia melalui media lain yang ditimbulkan
oleh pencemar tanah. Media lain tersebut adalah lanjutan dari dampak
langsung yang semakin berkepanjangan. Seperti banyak wabah nyamuk,
kecoa dan tikus pada daerah yang pengelolaan sampahnya masih berantakan
adalah sumber utama yang menyebabkan penyakit menular. Penyakit menular
yang ditularkan dengan perantaran tikus, lalat dan nyamuk adalah penyakit
pest, kaki gajah (filariasis), malaria dan demam berdarah dan berbagai
penyakit lain yang dapat terjadi.
Berikut contoh pencemaran tanah yang diakibatkan oleh sampah dapat
dilihat pada gambar 2.2 di bawah ini :

36

Gambar 2.2 Pencemaran Tanah


Sumber : http://jasapengetikancibinong.blogspot.co.id/2015/08/pencemaranlingkungan-dan-gambarnya.html
b. Pencemaran Air
1) Pengertian pencemaran air
Pencemaran air menurut Sastrawijaya (2009:100), adalah suatu
perubahan keadaan disuatu tempat penampungan air seperti danau, sungai,
lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Danau, sungai, lautan dan air
tanah dalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan
salah satu bagian dari siklus hidrologi. Selain itu mengalirkan sedimen dari
polutan. Berbagai macam fungsinya sangat membantu kehidupan manusia.
2) Komponen pencemaran air
Menurut Wardhana (2004:32), berbagai macam kegiatan industri dan
teknologi yang ada saat ini apabila tidak disertai dengan program pengelolaan
limbah yang baik akan memungkinkan terjadinya pencemaran air.
Komponen pencemaran air dikelompokkan sebagai berikut :
a) Bahan buangan padat
Bahan buangan padat yang dimaksudkan disini adalah bahan buangan
yang berbentuk padat baik yang kasar (butiran besar) maupun yang halus
(butiran kecil).
b) Bahan buangan organik
Bahan buangan organik pada umumnya berupa limbah yang dapat
membusuk atau terdegradasi oleh mikroorganisme. Oleh karena bahan
buangan organik dapat membusuk atau terdegradasi maka akan sangat
bijaksana apabila bahan buangan yang termasuk kelompok ini tidak
dibuang ke air lingkungan karena akan menaikkan populasi
mikroorganisme.
c) Bahan buangan anorganik
Bahan buangan anorganik pada umumnya berupa limbah yang tidak
dapat membusuk dan sulit didegradasi oleh mikroorganisme. Apabila
bahan buangan anorganik ini masuk ke dalam air linkungan maka akan
terjadi peningkatan jumlah ion logam di dalam air. Bahan buangan
anorganik biasanya berasal dari industri yang melibatkan penggunaan
unsur unsur logam seperti Timbal (Pb), Arsen (As), Kadmium (Cd), Air

37

Raksa (Hg), Kroom (Cr), Nikel (Ni), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg),
Kobalt (Co) dan lain-lain
d) Bahan buangan olahan bahan makanan
Air lingkungan yang mengandung bahan buangan olahan bahan makanan
akan mengandung banyak mikroorganisme, termasuk pula di dalamnya
bakteri pathogen. Mengingat akan hal ini maka pembuangan limbah yang
berasal dari industri pengelolaan bahan makanan perlu mendapat
pengawasan yang seksama agar bakteri pathogen yang berbahaya bagi
manusia tidak berkembang di dalam air lingkungan.
e) Bahan buangan cairan berminyak
Minyak tidak dapat larut di dalam air, melainkan akan mengapung di atas
permukaan air. Bahan buangan yang cairan berminyak yang dibuang ke
air lingkungan akan mengapung menutupi air, kalau bahan buangan
cairan berminyak mengandung senyawa yang volatil maka akan terjadi
penguapan dan luasan permukaan minyak yang menutupi permukaan air
akan surut.
f) Bahan buangan zat kimia
Bahan buangan zat kimia banyak ragamnya, tetapi yang dimaksudkan
dalam kelompok ini adalah bahan pencemaran air berupa :
(1) Sabun (deterjen, sampo, dan bahan pembersih lainnya).
(2) Bahan pemberantas hama.
(3) Zat warna kimia.
(4) Larutan penyakit kulit.
(5) Zat radioaktif.
3) Dampak pencemaran air
Menurut Sastrawijaya (2009:110), dampak pencemaran air yang
disebabkan oleh limbah pemukiman mendatangkan akibat atau dampak
diantaranya :
a) Berkurangnya jumlah oksigen terlarut dalam air karena sebagian
besar oksigen digunakan oleh bakteri untuk melakukan proses
pembusukan sampah.
b) Sampah anorganik ke sungai, dapat berakibat menghalangi cahaya
matahari sehingga menghambat proses fotosintesis dari tumbuhan
air dan alga yang menghasilkan oksigen.
c) Detergen sangat sukar untuk diuraikan oleh bakteri sehingga akan
tetap aktif untuk jangka waktu yang lama dalam air mencemari air
dan meracuni berbagai organism air.
d) Penggunaan detergen secara besar besaran juga meningkatkan
senyawa fosfat pada air sungai atau danau yang merangsang
pertumbuhan gangguan ganggang dan eceng gondok (Eicheria
crapis).
e) Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali
menyebabkan permukaan air danau atau tertutup sehingga

38

menghalangi masuknya cahaya matahari dan mengakibatkan


terhambatnya proses fotosintesis.
f) Tumbuhan air (eceng gondok dan ganggang) yang mati membawa
akibat proses pembusukan tumbuhan ini akan menghabiskan
persediaan oksigen.
g) Material pembusukan tumbuhan air menyebabkan pendangkalan.
Berikut contoh pencemaran air yang diakibatkan oleh limbah industtri
dapat dilihat pada gambar 2.3 di bawah ini :

Gambar 2.3 Pencemaran Air


Sumber : http://jasapengetikancibinong.blogspot.co.id/2015/08/pencemaranlingkungan-dan-gambarnya.html
Adapun tercemar atau tidaknya suatu perairan bisa dideteksi dengan
indikator-indikator yang dapat diukur dan dilihat seperti pada kriteria yang
ada di bawah ini :
a) Adanya peningkatan suhu
b) Adanya perubahan pH (Potensial Hidrogen) atau konsentrasi
ion Hidrogen
c) Adanya perubahan warna, rasa dan bau
d) Timbulnya endapan, kolodial dan bahan terlarut
e) Adanya mikroorganisme
f) Meningkatnya radioaktivitas air lingkungan
g) Ditandai dengan peristiwa eutrofikasi, atau masuknya nutrient
berlebih terutama pada buangan pertanian dan buangan limbah
rumah tangga dalam jasad air.
Lebih lanjut Wardhana (2004:156), menambahkan terdapat beberapa
indikator untuk mengetahui sesuatu perairan tercemar atau tidak tercemar,
diantaranya :

39

a) Pengamatan secara fisik, yaitu pengamatan pencemaran air


berdasarkan tingkat kejernihan (kekeruhan), perubahan suhu
air, perubahan rasa dan warna air
b) Pengamatan secara kimiawi, yaitu pengamatan pencemaran air
berdasarkan zat kimia yang terlarut, perubahan pH
c) Pengamatan secara biologis, yaitu pengamatan pencemaran air
yang berdasarkan mikroorganisme yang ada di dalam air,
terutama ada tidaknya bakteri pathogen.
Menurut (Daryano, 2004:162) terdapat beberapa cara untuk mengelola
air yang sudah tercemar, diantaranya :
a) Proses penanganan primer
Penanganan primer terdiri dari beberapa tahap, diantaranya:
(1) Penyaringan.
(2) Pengendapan.
(3) Pemisahan endapan.
b) Proses penanganan sekunder
Penanganan sekunder biasa disebut dengan proses lumpur aktif. Pada
proses ini kecepatan aktivitas bakteri ditingkatkan dengan cara memasukkan
udara dan lumpur yang mengandung bakteri ke dalam tangki sehingga lebih
banyak mengalami kontak dengan air buangan yang sebelumnya telah
mengalami proses penanganan primer.
c) Proses penanganan tersier
Proses penanganan primer dan sekunder terhadap air yang tercemar
dapat menurunkan nilai BOD air dan menghilangka bakteri yang berbahaya,
tetapi keduanya tidak dapat menghilangkan komponen organik dan
komponen anorganik. Salah satu contoh tahap proses penanganan air
tercemar adalah sebagai berikut:
(1) Penanganan primer, membuang bahan-bahan yang
mengendap atau mengapung.
(2) Penanganan sekunder, proses dekomposisi bahan-bahan
padatan biologis
(3) Pengendapan, menghilangkan komponen-komponen
fosfor dan padatan tersuspensi.
(4) Absorpsi, menghilangkan bahan-bahan organik terlarut.
(5) Elektrodialisis, menurunkan konsentrasi garam-garam
terlarut sampai pada konsentrasi air semula sebelum air
digunakan.
(6) Chlorinasi, menghilangkan organisme penyebab
penyakit. merupakan salah satu bentuk pengolahan air
yang bertujuan untuk membunuh kuman dan

40

mengoksidasi bahan-bahan kimia dalam air. Klorin ini


banyak digunakan dalam pengolahan limbah industri.
c. Pencemaran Udara
1) Pengertian pencemaran udara
Pencemaran udara diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat
asing di dalam udara yang menyebabkan perubahan susunan (komposisi)
udara dari keadaan normalnya (Wardhana, 2004:187). Dalam hal ini
pecemaran udara yang diakibatkan oleh zat polutan sehingga udara tidak
bersih lagi dan menyebabkan gangguan terhadap kenyamanan hidup manusia
atau makhluk hidup sekitarnya akibatnya lingkugan menjadi tidak nyaman
dan tidak sehat.
Berikut adalah rincian komposisi udara bersih dan kering bisa dilihat
dalam Tabel 2.2 berikut.
Tabel 2.2 Komposisi Udara Bersih dan Kering
Macam Gas
Nitrogen (N2)
Oksigen (O2)
Argon (Ar)
Karbondioksida (CO2)
Helium (He)
Neon (Ne)
Xenon (Xe)
Kripton (Kr)
Metana (CH4)
Karbon Monoksida (CO)
Macam Gas
Amoniak (NH3)
Nitrat Oksida (N2O)
Hidrogen Sulfida (H2S)

Volume (%)
78
21
0,94
0,03
0,01
0,01
0,01
0,01
Sedikit sekali
Sedikit sekali
Volume (%)
Sedikit sekali
Sedikit sekali
Sedikit sekali
Sumber: Wardhana (2004:188)

41

Keberadaan pencemar udara dapat diakibatkan oleh sumber alami dan


kegiatan manusia. Adapun bahan pencemar yang berasal dari sumber alami
digambarkan pada tabel 2.3 berikut.
Tabel 2.3 Sumber Bahan Alami Pencemar Udara
Sumber
Gunung Berapi
Kebakaran Hutan
Tumpukkan Biomassa
Angin, Badai
Rawa

Bahan Pencemar
H2S, SO2 dan debu
CO, CO2, NO2, dan partikulat
Metana, H2S
Debu partikulat
Metana H2S
Sumber: Wardhana(2004:190)

Kemajuan teknologi adalah faktor utama penyebab terjadinya


pencemaran udara yang diakibatkan oleh aktivitas manusia. Polusi udara
tersebut bisa berasal dari:
2) Komponen pencemaran udara
Aryulia (2004:310), udara di daerah perkotaan yang mempunyai
banyak kegiatan industri dan teknologi serta lalu lintas yang pada, udaranya
relatif sudah tidak bersih lagi. Udara di daerah industri kotor terkena
bermacam-macam pencemar.
Menurut Wardhana (2004:192), penyebab pencemar udara dibagi
kedalam dua macam yaitu:
a) Penyebab udara karena faktor internal (secara alamiah). Contohnya:
(1) Debu yang berterbangan akibat tertiup oleh angin
(2) Abu (debu) yang dikeluarkan oleh gunung berapi berikut beserta
gas-gas vulkaniknya
(3) Proses pembusukan sampah organik, dan lain-lain
b) Penyebab udara karena faktor eksternal (karena ulah manusia).
Contohnya:
(1) Hasil pembakaran bahan dasar fosil
(2) Debu atau serbuk yang keluar dari aktivitas industri
(3) Pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara dan lain-lain.

42

Bahan pencampur yang melebihi ambang batas akan menyebabkan


udara tercemar sehingga mengganggu kesehatan manusia. Bahan pecemar
dan dampaknya bagi kesehatan manusia dapat dilihat pada tabel 2.4 berikut.
Tabel 2.4 Macam-macam bahan pencemar dan pengaruhnya bagi kesehatan
No

Bahan Pencemar

Sumber

Dampak kesehatan

Karbon Monoksida
(CO)

Hasil pembakaran tidak


sempurna kendaraan
bermotor
Pembakaran arang batu dan
minyak bumi, industri logam

Belerang Oksida (SO2)

Asam belerang (H2S)

Proses industri seperti:


pabrik kertas dan pabrik gula

Pusing, pandangan kabur,


penurunan koordinasi
saraf sampai kematian
Iritasi mata, saluran
pernafasan, gejala
penyakit jantung
Pusing, sakit mata, dan
bau

Nitrogen Oksida (NO2)

Proses pembakaran suhu


tinggi dan proses kimia

Kanker paru-paru,
bronchitis, iritasi

Karbon Monoksida

Industri, asap rokok, asap


mobil, dll

Kanker, iritasi saluran


pernafasan

KarboDioksida (CO2)

Asap kendaraan, asap rokok,


buangan pabrik, dan lainlain

Green house effect

Clorofluorocarbon (CFC) Aerosol, hair spray, AC,


kulkas

Racun terhadap manusia

Partikel

Mengotori bangunan dan


bahan makanan,
mengganggu saluran
pernafasan

Kegiatan pembangunan
industri logam,
penambangan, dll

Sumber : Daryanto (2004:180)


Berikut contoh pencemaran tanah yang diakibatkan oleh asap
pabrik dapat dilihat pada gambar 2.4 dibawah ini :

43

Gambar 2.4 Pencemaran udara


Sumber : http://jasapengetikancibinong.blogspot.co.id/2015/08/pencemaranlingkungan-dan-gambarnya.html
c) Dampak pencemaran lingkungan
Menurut Wardhana (2004), dampak pencemaran udara yang berasal
dari beberapa aktivitas manusia diantaranya:
1) Dampak Kerusakan Lapisan Ozon dan Efek Rumah Kaca atau
Global Warming
Lapisan ozon merupakan lapisan atmosfer bumi yang berfungsi
sebagai pelindung dari sinar ultraviolet yang datang berlebihan dari matahari.
Apabila lapisan ini rusak secara otomatis sinar ultra violet tidak akan
tersaring dan akan merusak kulit manusia, selain dapat menyebabkan kanker
kulit, sinar ultraviolet juga dapat mengakibatkan suhu bumi menjadi naik.
Jika hal ini terjadi maka bumi tidak akan nyaman lagi bagi keberlangsungan
hidup manusia. Kenaikan suhu bumi dapat menyebabkan mencairnya es di
kutub sehingga permukaan laut akan naik dan bibir pantai akan bergeser dan
tempat-tempat yang terletak di tepi pantai akan tenggelam.
Selain karena rusaknya lapisan ozon, kenaikan suhu bumi juga
diakibatkan oleh efek rumah kaca (Green House Effect).Efek rumah kaca
dapat terjadi karena meningkatnya kadar gas CO2 di udara yang semakin lama
semakin mengumpul dan akan membentuk lapisan perisai. Dengan adanya
lapisan perisai panas yang dihasilkan dari bumi tidak dapat dengan bebas
keluar dan akan dikembalikan lagi ke bumi, sehingga keadaan bumi akan
semakin panas. Efek rumah kaca dapat ditimbulkan oleh beberapa macam gas

44

hasil sisa buangan, diantaranya Gas Clorofleuro Carbon (CFC) dan Gas
Karbon Dioksida (CO2).
Mekanisme pemanasan global dapat dilihat pada gambar 2.5 di bawah ini :

Gambar 2.5 Pemanasan Global (Green House Effect)


Sumber: http://www.kidzworld.com/article/4858-understanding-globalwarming
2) Dampak pemakaian Insektisida
Obat pembasmi serangga (insektisida) yang banyak digunakan untuk
menekan tumbuhnya serangga dan meningkatkan produktivitas dari pertanian
ternyata banyak menimbulkan kerugian pada manusia itu sendiri. Insektisida
yang terdapat dalam buah-buahan dan sayuran akan merangsang timbulnya
penyakit kanker. Insektisida yang disemprotkan di sekitar ruangan di rumah
membuat udara dirumah tercemar yang memungkinkan terhirup ke dalam
paru-paru dan berdampak pada penyakit yang ditimbulkan seperti halnya
kandungan insektisida yang terdapat pada sayuran dan buah-buahan.
d. Pencemaran Suara
1) Pengertian pencemaran suara
Pencemaran suara menurut Sastrawijaya (2009:79), adalah gangguan
pada lingkungan yang diakibatkan oleh bunyi atau suara yang mengakibatkan

45

ketidaktentraman makhluk hidup di sekitarnya. Pencemaran suara diakibatkan


suara-suara bervolume tinggi yang membuat daerah sekitarnya menjadi bising
dan tidak menyenangkan. Penilaian terhadap suara yang muncul sebagai
polusi atau tidak merupakan sesuatu subjektif.
Untuk menyatakan kualitas suatu bunyi maka digunakan pengertian
sebagai berikut:
a. Frekuensi bunyi, yaitu jumlah getaran per detik. Satuan bunyi dinyatakan
dalam hertz disigkat Hz.
b. Intesitas Bunyi, yaitu perbandingan tegangan suara yang datang dan
tegangan suara standar yang dapat didengar oleh manusia normal pada
frekuensi 1000 Hz, dengan satuan deci Bell disingkat dB.
Seiring

dengan perkembagan

dan kemajuan

industri, proses

memproduksi bahan maupun jasa dibutuhkan dengan kecepatan tinggi. Pada


akhirnya manusia membutuhkan yang namanya mesin dan juga transportasi.
Pemakaian mesin tersebut merupakan awal daripada pencemaran suara atau
kebisingan baik dengan skala rendah maupun dengan skala kebisingan tinggi.
Semakin cepat suatu kendaraan melaju maka akan semakin keras pula suara
yang dihasilakannya, begitupun sebaliknya (Daryanto, 2004:).
Tabel 2.5 Daftar Skala Intensitas
Desibel (dB)
0 20

Pengaruh
Sangat Tenang

20 40

Tenang

40 60

Sedang

60 80

Kuat

Asal Bunyi
Suara halus, berisik
Suara percakapan,
auditorium, kantor
perorangan
Radio perlahan, Percakapan
kuat, rumah gaduh
Kantor gaduh, radio, jalan
umum

46

80 100

Sangat hiruk

100 120

Menulikan

Jalan hiruk, pluit polisi

Mesin uap, halilintar


Sumber : Daryanto (2004:199)

2) Komponen pencemaran lingkungan


Menurut Wardhana (2004:37), pencemaran suara dapat ditimbulkan
oleh adanya suara bising yang disebabkan oleh suara mesin pabrik, mesin
penggiling padi, mesin las, pesawat, kendaraan bermotor yang berlalu-lalang,
dan suara kereta api. Sesuai dengan keputusan menteri negara lingkungan
hidup tentang baku tingkat kebisingan menyebutkan bahwa kebisingan adalah
bunyi yang tidak diinginkan dari suatu usaha atau keigiatan dalam tingkat dan
waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia.
Menurut asal sumber kebisingan Wardhana (2004:39), telah
mengelompokkan kebisingan ke dalam tiga macam kebisingan, diantaranya :
a) Kebisingan impulsife, yaitu kebisingan yang datangnya tidak secara terus
menerus. Akan tetap, sepotong-sepotong. Salah satu contohnya adalah
kebisingan yang datang dari suara palu yang dipukulkan kepada suatu
benda.
b) Kebisingan kontinyu, yaitu kebisingan yang datang secara terus-menerus
dalam waktu yang cukup lama. Salah satu contohnya kebisingan yang
datang dari mesin yang dijalankan atau dihidupkan.
c) Kebisingan semi kontinyu, yaitu kebisingan kontinyu yang hanya sekejap,
kemudian hilang dan mungkin akan datang lagi. Salah satu contohnya
adalah suatu mobil atau pesawat ketika sedang lewat.
Berikut contoh pencemaran suara yang diakibatkan oleh suara
mobil dapat dilihat pada gambar 2.6 di bawah ini :

47

Gambar 2.6 Pencemaran suara


Sumber : http://jasapengetikancibinong.blogspot.co.id/2015/08/pencemaranlingkungan-dan-gambarnya.html
3) Dampak pencemaran suara
Daryanto (2004:201), mengemukakan bahwa dampak daripada
kebisingan adalah timbulnya gangguan pandangan dan ketulian, mula-mula
pengaruh kebisingan ini hanya sementara dan pengaruhnya akan hilang
setelah kebisingan berlalu. Namun, jika secara terus-menerus berada dalam
lingkungan yang bising daya pandang akan hilang dan tak dapat kembali.
Beberapa dampak yang mungkin terjadi akibat kebisingan adalah :
a) Gangguan komunikasi pada pembicaraan
b) Gangguan konsentrasi dan daya kerja seseorang
Selain itu, gangguan kesehatan yang mungkin terjadi jika seseorang
berada di lingkungan yang bising dalam waktu yang lama, diantaranya :
(1) Meningkatkan tekanan darah
(2) Meningkatkan kolesterol
(3) Melemahkan sistem kerja jantung
(4) Gangguan reproduksi hormone
(5) Gangguan alat pendengaran
(6) Gangguan janin dalam kendungan, dan
(7) Stress atau gangguan jiwa.
Pada era modern ini kebisingan sulit untuk dihindari, maka untuk
meminimalisir dampak langsung adalah sebagai berikut (Daryanto, 2004:20) :
a) Menurunkan kebisingan pada sumbernya, yaitu dengan menempelkan alat
peredam suara pada alat yang mengeluarkan bunyi
b) Memberi penghalang pada jalan transmisi suara, usaha ini dilakukan
dengan jalan memberi isolasi ruangan sehingga suara yang keras sekalipun
tidak akan memasuki ruangan, penamaan tumbuhan di sekitar rumah atau
bangunan dapat meminimalisir kebisingan.
3. Penanganan Limbah
Dalam Irnaningtyas (2013:178), pencemaran disebabkan oleh limbah
dari kegiatan manusia, antara lain sebagai berikut :

48

a) Limbah domestik, yaitu limbah yang berasal dari perumahan, pusat


perdagangan, perkantoran, hotel, rumah sakit, dan tempat umum lainnya.
Limbah domestik, misalnya detergen, sampah organik, tinja hewan, dan
tinja manusia.
b) Limbah industri, yaitu limbah yang berasal dari industri (pabrik). Limbah
pertanian, yaitu limbah dari kegiatan pertanian berupa pupuk kimia dan
pestisida.
c) Limbah pertambangan, yaitu limbah yang berasal dari area
pertambangan. Contohnya tambang emas yang menggunakan merkuri
(Hg) untuk memisahkan emas dari bijihnya.
Berdasarkan wujudnya, limbah dapat dibedakan menjadi tiga macam,
yaitu limbah cair, limbah gas, dan limbah padat. Limbah padat.
1) Penanganan limbah cair
Ada dua pendekatan yang dapat dilakukan dalam penanganan cair dan
penanggulangan pencemaran air, yaitu pendekatan non-teknis dan pendekatan
teknis. Pendekatan non-teknis dilakukan dengan penerbitan peraturan sebagai
landasan hokum bagi pengelola badan air dan penghasil limbah, sosialisasi
peraturan, dan penyuluhan pada masyarakat. Sementara itu pendekatan teknis
dilakukan dengan penyediaan atau pengadaan sarana dan prasarana
penanganan limbah, monitoring dan evaluasi.
a) Sistem penanganan limbah cair domestik
Limbah cair domestik ada yang berbahaya, ada pula yang tidak
berbahaya. Limbah cair yang tidak berbahaya misalnya air bekas cucian beras
dan sayuran, dapat dimanfaatkan menyirami tanaman. Pada bagian ini akan
membahas lebih banyak tentang limbah cair berbahaya, yaitu tinja manusia.
Penanganan limbah tinja manusia dapat dilakukan melalui metode :
(1) Cubluk.
(2) Tangki septik konvensional.
(3) Tangki septik biofilter (up-flow filter).
(4) Instalasi pengolahan limbah cair domestic (IPLCD).
(a) Pengolahan pendahuluan (penyaringan).
(b) Pengolahan pertama (pengendapan).
(c) Pengolahan kedua (proses biologi).
(d) Sistem penanganan limbah industri .
b) Sitem penaganan limbah industri

49

Sistem penaganan limbah ini dapat dilakukan melalui penanganan


sistem setempat dan sistem terpusat :
(1) Penanganan sistem setempat. Industri membuat instalasi pengolahan
limbah sendiri. Biasanya penanganan setempat memerlukan biaya besar.
Limbah yang dihasilkan diupayakan sedikit mungkin dan dapat
dimanfaatkan kembali.
(2) Penanganan sistem terpusat. Sistem ini dikembangkan di daerah kawasan
industri yang menghasilkan berbagai jenis limbah berbeda. Apabila
limbah dari berbagai industri dicampur atau disatukan, maka akan
menyulitkan proses pengolahan. Oleh karena itu, masing-masing industri
harus melakukan pengolahan terebih dahulu hingga efluen limbah
memenuhi syarat tertentu sebelum masuk ke jaringan air kotor dan IPAL
(instalasi pengolahan air limbah).
2) Cara penanganan limbah padat (sampah)
Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam menangani limbah padat :
a) Penimbunan tanah (landfill).
b) Penimbunan limbah padat dengan tanah secara berlapis-lapis
(sanitary landfill).
c) Pembakaran (incineration).
d) Penghancuran (pulverization).
e) Pengomposan (composting).
f) Pemanfaatan sebagai makanan ternak (hog feeding).
3) Penanganan limbah gas
Limbah gas dapat berupa gas, embun, uap, kabut, awan, debu, haze
(partikel tersuspensi dalam tetesan air), dan asap. Pada umumnya limbah gas
berasal dari kendaraan bermotor dan industri.
Penanganan limbah gas dapat diakukan dengan menambahkan alat
bantu berikut ini :
a) Filter udara
Filter udara dipasang pada cerobong untuk menyaring kotoran.
Filter udara harus dikontrol secara rutin. Bila filter sudah jenuh (penuh)
dengan debu, maka harus diganti dengan yang baru.
b) Pengendap Siklon (Cyclon Separator)
Pengendap siklon merupakan pengendap debu (abu) yang terdapat
dalam gas buangan atau udara di ruangan pabrik yang berdebu. Prinsip
kerja pengendap siklon adalah memanfaatkan gaya sentrifugal dari udara
udara/gas buangan yang sengaja dihembuskan melalui tepi dinding
tabung siklon sehingga partikel yang relatif berat akan jatuh ke bawah.
c) Filter Basah (Scrubbers atau Wet Collector)

50

Prinsip kerja filter basah adalah membersihkan udara yang kotor


dengan cara menyemprotkan air. Debu akan turun ke bawah saat
mengalami kontak dengan air.
d) Pengendap Sistem Gravitasi
Pengendap sistem gravitasi hanya dapat digunakan untuk
membersihkan udara kotor yang partikelnya berukuran relative besar
(sekitar 50 mikron atau lebih). Prinsip kerja alat ini adalah mengalirkan
udara kotor ke dalam alat yang dibuat sedemikian rupa sehingga pada
saat terjadi perubahan kecepatan secara tiba-tiba (speed drop), partikel
jatuh terkumpul ke bawah akibat gaya gravitasi.
e) Pengendap Elektrostatik
Pengendap elektrostatik digunakan untuk membersihkan udara
kotor dalam volume yang relatif besar dan kotoran dalam udara berupa
aerosol atau uap air. Alat ini dapat membersihkan udara secara cepat.
Udara yang keluar dari alat ini sudah relatif berubah.

51

DAFTAR PUSTAKA
Anderson, L dan Krathwohl, D (2010). Kerangka Landasan untuk Pembelajaran,
pengajaran
dan
assessment
Revisi
Taksonomi
Pendidikan
Bloom.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Aryulia. dkk. 2004. Biologi 1. Jakarta: Erlangga.
Daryanto. 2004. Masalah Pencemaran. Bandung: Tarsito.
Dimyanti dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Etin, Solihatin dan Raharjo. 2011. Cooperative Learning: Analisis Model
Pembelajaran IPS. Jakarta: Bumi Aksara.
Hisyam Zaini, et. all. 2011. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka
Insan Madani.
Ibrahim. 2002. Pembelajaran Cooperative. Surabaya.Universitas Surabaya Press.
Isjoni. 2012. Cooperative Learning: Efektivitas Pembelajaran Kelompok.
Bandung: Alfabeta.
Irnaningtyas. 2013. Biologi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga.
Karmana. 2005. Cerdas Belajar Biologi. Jakarta. Grasindo.
Lie, Anita. 2008. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning
Di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT Grasindo.
Marno dan Idris. 2009. Strategi dan Metode Pembelajaran. Yogjakarta: Ar-ruzz
Media Group.
Sastrawijaya. 2009. Pencemaran Lingkungan. Bandung: PT.Rhineka Cipta.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sudjana, Nana. 2009. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar
Baru Algesindo.
___________ 2011. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Sutirman. 2013. Media Dan Model-Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta:
Graha Ilmu

52

Sastrawijaya. 2009. Pencemaran Lingkungan. Jakarta: Rineka Karya


Syah, Muhibin. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
_____________2010. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung:
Remaja Rosda Karya.
Syaodiah, Nana Sukmadinata. 2009. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Thobroni, M. 2013. Belajar & Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-ruz Media.
Tholchah, Muhammad Hasan, et. all.2013.Metode Penelitian Kualitatif. Malang.
Lembaga Penelitian Universitas Islam Malang.
Wardhana. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Andi Offset.