Anda di halaman 1dari 3

Dunia kepedulian terangkum dalam dunia keperawatan.

Profesi perawat dipilih


bukanlah karena rasa terpaksa, tetapi dipilih karena panggilan hidup yang siap
dijalaninya sepenuh waktu. Ketika mantap memilih profesi ini, maka harus mantap
pula dan penuh semangat dalam menjalaninya. Profesi perawat ditujukan untuk
memenuhi kepentingan masyarakat, ini berarti prinsip yang mendasari profesi
keperawatan adalah kepentingan masyarakat yang membutuhkan pertolongan,
tanpa membedakan status sosial orang yang akan diberikan pelayanan.
Profesi perawat memiliki suatu wadah organisasi yang dalam mengemban peranan
dan fungsinya diatur oleh suatu kode etik. Hal ini berarti seorang perawat memiliki
suatu organisasi atau badan yang mewadahinya, serta memiliki tanggung jawab
dan tanggung gugat dalam menjalankan kode etik yang berlaku dalam organisasi
yang menaunginya tersebut. Setiap profesi pada dasarnya memiliki otonomi
tersendiri, seperti halnya profesi seorang perawat juga memiliki otonomi dalam
menjalin suatu hubungan kerja sama dengan pihak lain yang berkaitan juga dalam
dunia kesehatan. Profesi perawat harus dapat terbuka dan proaktif bekerja sama
dengan pihak lain yang dapat menunjang kesuksesan pelayanan keperawatan. Halhal itulah yang menjadi prinsip keperawatan secara umum. Namun, bagaimana
dengan keperawatan Islam itu sendiri?.
Keperawatan Islam belum memiliki definisi secara jelas dan resmi. Realitanya belum
ada pernyataan secara etiologis ataupun secara harfiah yang sah mengenai apa itu
keperawatan Islam. Di dalam dunia keperawatan secara umum sendiri,
keperawatan Islam masih sebatas pada memasukkan unsur-unsur keIslaman dalam
tiap tahap pemberian pelayanan kesehatan, misalnya mengucapkan
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh pada setiap bertemu klien, senyum
ramah pada pasien, membaca basmalah pada sebelum dan hamdalah pada
sesudah melakukan tindakan intervensi kepada klien, mengingatkan waktu shalat
kepada klien, membantu klien melakukan ritual shalat sesuai dengan kemampuan
klien, dan sebagainya.
Selama ini, realitanya hanya itu keperawatan Islam yang sudah diterapkan di
sebagian rumah sakit Islam pada umumnya. Rumah sakit Islam secara pemberian
pelayanan kesehatan memberikan pelayanan yang standar atau sama dengan
rumah sakit umum lainnya. Namun, suasananyalah yang berbeda, di rumah sakit
Islam sangat kental sekali suasana keIslamannya, dengan pakaian para perawat
yang sopan dan menutup aurat, memisahkan ruang rawat klien laki-laki maupun
perempuan, pemberi pelayanan kesehatan (perawat) disesuaikan dengan jenis
kelamin klien (perawat laki-laki diutamakan merawat klien laki-laki, begitu juga
sebaliknya), dan mendatangkan ustadz/ustadzah untuk memberikan penguatan
ruhani secara rutin kepada para klien agar dapat menerima ujian sakitnya dengan
sabar dan tetap bertawakal kepada Allah SWT. Jadi, keperawatan Islam yang sudah
diterapkan selama ini masih sebatas pada memasukkan unsur-unsur akhlak atau
perilaku penghormatan serta penghargaan kepada para klien dalam pemberian

pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan masing-masing klien.


Keperawatan Islam dapat ditilik lebih lanjut pada beberapa bidang keperawatan
lainnya, yaitu keperawatan medikal bedah, keperawatan maternitas, keperawatan
anak, keperawatan jiwa, dan keperawatan komunitas. Pada kelima bidang
keperawatan tersebut juga dapat dilihat keperawatan Islam dari sisi penerapannya.
Namun, karena keperawatan Islam belum secara keseluruhan dapat diaplikasikan
langsung kepada pasien, jadi diantara kelima bidang keperawatan tersebut,
realitanya baru beberapa yang sedikit demi sedikit sudah dimasukkan atau sudah
diterapkan unsur-unsur Islam ke dalamnya, seperti bidang keperawatan jiwa,
keperawatan maternitas, dan anak.
Keperawatan Islam yang diterapkan dalam bidang keperawatan jiwa sudah sangat
banyak, karena memang pada dasarnya Islam adalah agama yang menyentuh hati
(ruhani) dan pikiran seseorang sehingga sangat mudah diterapkan pada bidang
keperawatan ini. Pengaplikasian keperawatan Islam dalam bidang ini, misalnya saja,
memotivasi klien untuk dapat menerima terapi pengobatan yang diberikan dokter
agar dapat cepat sembuh atau jika ketika klien sedang marah, maka perawat harus
berusaha membujuk klien agar dapat mengendalikan emosinya dengan cara
mengenyampingkan terlebih dahulu hal yang tidak disukai klien tersebut dan
menganjurkan klien untuk menarik napas dalam, kemudian dikeluarkan, selama
beberapa kali, atau bisa juga dengan membantu klien mengambil air wudhu. Pada
intinya yaitu membangun motivasi atau semangat klien dan meningkatkan mood
klien agar proses pelayanan kesehatan dapat diterima dan berjalan lancar.
Keperawatan Islam yang sudah diterapkan pada bidang keperawatan maternitas,
misalnya melaksanakan proses melahirkan sesuai syari, seperti sebaiknya atau
alangkah lebih baik dokter yang menangani ibu yang melahirkan tersebut adalah
wanita karena sama-sama muhrim, membantu merawat dan membimbing klien
saat menjalani masa nifas atau masa pasca melahirkan, dan sebagainya.
Sedangkan, penerapan keperawatan Islam dalam bidang keperawatan anak
disesuaikan dengan umur dan perkembangan psikologi anak karena ini
mempengaruhi daya tangkap anak terhadap lingkungan dan respon yang akan
dihasilkan si anak terhadap lingkungannya.
Ketika bertemu dengan klien anak, mengucapkan Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh dengan baik, ramah, dan sopan, dan sebelum
memberikan pelayanan kesehatan ataupun melakukan tindakan intervensi kepada
klien anak, sebaiknya agar dapat menarik perhatian si anak dan tidak membuat
takut si anak, seharusnya perawat memberikan stimulus untuk menyenangkan hati
si anak seperti mengajaknya bercerita tentang pengalaman ketika bersekolahnya
terlebih dahulu, mengajak bermain dan bercanda, menceritakan cerita Islam kepada
si anak, setelah itu memberi tahu secara pelan-pelan kepada anak mengenai
tindakan apa yang akan dilakukan disertai menjelaskan tujuan tindakan sesuai

bahasa anak, kemudian dibujuk agar anak dapat mengerti dan mau melakukan
tindakan intervensi tersebut, seperti misalnya minum obat.
Bahkan, jika anak harus disuntik, sebelumnya harus diberi tahu tentang rasanya
disuntik seperti digigit semut, dan mungkin pada saat ini harus sedikit dilakukan
tindakan pemaksaan seperti memegangi anak agar tidak memberontak ketika
disuntik. Setelah selesai, beri penghargaan berupa pujian atau berupa mainan
kepada si anak karena sudah hebat mau meminum obat ataupun sudah mau
disuntik. Dengan begitu, anak tidak akan terlalu merasa trauma. Hal ini sangat
penting karena biasanya klien anak sangat takut dengan obat dengan alasan
obatnya pahit atau takut disuntik karena sakit. Disinilah perawat harus dapat
mengelabui si anak, agar si anak tetap dapat memperoleh pelayanan kesehatan
sesuai kebutuhannya sehingga proses penyembuhannya dapat berjalan cepat.
Sejauh ini realita keperawatan Islam yang diterapkan masih sebatas pengaplikasian
Islam dalam dunia keperawatan secara umum. Keperawatan Islam belum memiliki
definisi secara jelas dan belum memiliki inti utama yang akan membedakannya dari
dunia keperawatan lainnya. Diperlukan suatu acuan yang melandasi keperawatan
Islam tersebut, agar keperawatan Islam memiliki jati diri yang jelas dan dapat diakui
oleh masyarakat atau dapat juga membuat metode baru misalnya dalam hal
pembangun jiwa yang dapat meningkatkan motivasi klien untuk lekas sembuh,
seperti memasukkan metode ESQ ataupun muhasabah (renungan) untuk
membuang jauh-jauh rasa keputusasaan klien terhadap penyakitnya dan
membangkitkan semangatnya untuk segera sembuh dari penyakitnya. Dengan
demikian, banyak hal yang seharusnya dapat dikembangkan dari keperawatan
Islam karena bagaimanapun, dunia akan menjadi indah hanya dengan Islam, karena
Islam adalah rahmatan lil alamin atau rahmat bagi semesta alam. Wallahualam
bish-showab.