Anda di halaman 1dari 5

Keteknikan Pertanian

J.Rekayasa Pangan dan Pert., Vol.4 No. 2 Th. 2016

RANCANG BANGUN ALAT PEMIPIL JAGUNG


(Design of Mechanical Corn Sheller Equipment)
Hayado Tambunan1,2), Achwil Putra Munir1), Sumono1)
1Program

Studi Keteknikan Pertanian, Fakultas Pertanian USU


Jl. Prof. Dr. A. Sofyan No.3 Kampus USU Medan 20155
2) email: h_ayado@yahoo.co.id
Diterima: 10 Juni 2015/ Disetujui: 27 Juli 2015

ABSTRACT
The use of corn sheller is one of post-harvest handling to increase maize production. To support this, we need a corn
sheller driven by electricity. The study was conducted with literature study and observationon corn sheller. Then design
the coupling components of the equipment corn sheller. Effective capacity was115,632 kg / h. The value of the effective
capacity of the equipment was larger than corn sheller driven by human power. Basic cost to be incurred in releasing corn
with this tool was Rp. 78,855/kg in the 1st year, Rp. 73,474/kg in the 2nd year, Rp. 71,683/kg in the 3rd year, Rp. 70,789/kg
in the 4th year, and Rp. 70,254/kg in the 5th year. This equipment will reach break even point if it has been releasing
cornat 5.645,97 kg/year. Net present value of the equipment with 6% interest rate was Rp. 127.291.705,59 which meant
that the business was feasible to run. The internal rate of return was 45,02 %.
Keyword : corn, equipment design, sheller

Produksi jagung dunia menempati


urutan ketiga setelah padi dan gandum. Distribusi
penanaman jagung terus meluas di berbagai
negara di dunia karena tanaman ini mempunyai
daya adaptasi yang luas di daerah subtropik
ataupun tropik. Indonesia merupakan negara
penghasil jagung terbesar di kawasan Asia
Tenggara, maka tidak berlebihan bila Indonesia
merancang
swasembada
jagung
(Rukmana, 1997).
Tanaman jagung termasuk jenis tumbuhan
semusim (annual). Susunan tubuh (morfologi)
tanaman jagung terdiri atas akar, batang, daun,
bunga, dan buah. Sistem perakaran tanaman
jagung terdiri atas akar-akar seminal, koronal,
dan akar udara.
Tanaman
jagung
berjumlah
satu
(mooecus), yaitu bunga jantan terbentuk pada
ujung batang dan bunga betina terletak dibagian
tengah batang pada salah satu ketiak daun.
Tanaman jagung bersifat protandry, yaitu bunga
jantan matang lebih dahulu 1-2 hari daripada
bunga betina. Letak bunga jantan dan bunga
betina terpisah, sehingga menyerbukan
tanaman jagung bersifat menyerbuk silang
(cross pollination).
Tongkol jagung yang masih muda sekali
dan ukurannya kecil yang digunakan sebagai
sayuran pada saat tongkolnya masih lunak dan
butir-butir bijinya masih belum berisi. Buah
jagung yang masih muda ini disebut jagung semi
atau jagung putri (Sutarno, 1995).

PENDAHULUAN
Jagung merupakan kebutuhan yang cukup
penting bagi kehidupan manusia dan merupakan
komoditi tanaman pangan kedua setelah padi.
Akhir-akhir ini tanaman jagung semakin
meningkat penggunaannya, sebab hampir
seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan
untuk berbagai macam keperluan seperti
pembuatan pupuk kompos, kayu bakar, turus
(lanjaran), bahan kertas dan sayuran bahan
dasar/bahan olahan untuk minyak goreng,
tepung maizena, ethanol, dextrin, aseton,
gliserol, perekat, tekstil dan asam organik bahan
listrik nabati.
Jagung menempati posisi penting dalam
perekonomian nasional, khususnya untuk
mendukung perekonomian Sumatera Utara,
karena merupakan sumber karbohidrat sebagai
bahan baku industri pangan, pakan ternak,
unggas dan ikan. Peningkatan produksi
pertanian, khususnya tanaman jagung, sangat
ditentukan oleh meningkatnya pengetahuan
sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan serta
permintaan pasar. Disamping itu para peneliti
dan ilmuan selalu berupaya mencari keunggulan
produksi serta keunggulan lainnya. Tidaklah
mengherankan apabila setiap saat muncul
varietas unggul yang baru dan selalu meminta
tanggapan dari para petani selaku manajer dan
sekaligus melaksanakan usaha taninya seluruh
provinsi di Indonesia dengan luas areal
bervariasi.

259

Keteknikan Pertanian

J.Rekayasa Pangan dan Pert., Vol.4 No. 2 Th. 2016

membina pemakaian jenis atau kelompok jenis


alat dan mesin pertanian yang serasii atau yang
sesuai dengan keadaan wilayah setempat
(Hardjosentono, dkk., 2000). Penelitian ini
bertujuan untuk mendesain, membuat, dan
menguji alat pemipil jagung.

Setelah jagung dipanen dan dikeringkan,


proses selanjutnya adalah pemipilan. Pada
dasarnya memipil jagung hampir sama dengan
proses perontokan gabah, yaitu memisahkan bijibiji dari tempat pelekatan. Jagung melekat pada
tongkolnya, maka antara biji dan tongkolnya
perlu dipisahkan.
Dewasa ini telah banyak digunakan alat
pemipil, mulai alat pemipil yang sederhana
samapai yang modern. Keseluruhan alat tersebut
dibuat agar tenaga dan waktu yang digunakan
untuk memipil lebih hemat. Penggunaan alat
pemipil ini biasa terjadi pada usaha tani yang
cukup besar atau luas. Usaha dibidang bisnis
pertanian membutuhkan perhitungan yang
cermat dan lebih efisien sehingga perlu sarana
tersebut. Tetapi petani pada umumnya masih
menggunakan tangan atau alat yang sederhana.
Perkembangan teknologi menyebabkan
perkembangan alat pemipil jagung, yang saat ini
sudah tersedia alat yang digerakkan dengan
listrik, diesel atau kincir, bukan tenaga manusia
lagi. Dinegara maju seperti Amerika yang dikenal
sebagai penghasil jagung, peralatannya pun
cukup canggih. Mulai petik sampai pipil dilakukan
sekaligus di lahan pada saat panen. Setelah
jagung terlepas dari tongkol, biji-biji jagung harus
dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak
dikehendaki, sehingga tidak menurunkan kualitas
jagung. Sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji
hampa, kotoran selama petik ataupun pada
waktu pemipilan dipisahkan. Tindakan ini sangat
bermanfaat untuk menhindari atau menekan
serangan jamur dan hama selama dalam
penyimpanan.disamping
itu
juga
dapat
memperbaiki peredaran udara.
Pemisahan biji yang akan digunakan
sehingga benih terutama penanaman dengan
mesin penanam, biasanya membutuhkan
keseragaman bentuk dan ukuran butirnya. Maka
pemisahan ini sangat penting untuk menambah
efisiensi penanaman dengan mesin. Ada
berbagai cara membersihkan atau memisahkan
jagung dari campuran kotoran. Tetapi pemisahan
dengan cara ditampi seperti pada proses
pembersihan padi, akan mendapatkan hasil yang
baik (Aak, 1993).
Ilmu mekanisasi pertanian di Indonesia
telah dipraktekkan atau dilaksanakan untuk
mendukung berbagai usaha pembangunan
pertanian terutama di bidang usaha swasembada
pangan. Dengan mempertimbangkan aspek
kepadatan penduduk, nilai sosial ekonomi,
danteknis, maka pengembangan mekanisasi
pertanian di Indonesia dilaksanakan melalui
sistem
pengembangan
selektif.
Sistem
mekanisasi pertanian selektif adalah usaha
memperkenalkan,
mengembangkan,
dan

BAHAN DAN METODE


Bahan-bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah jagung kering, air, plat
stainless steel, baut, mur, plat besi, baja, motor
bakar, puli (pulley), sabuk V (V-belt), bantalan
(bearing), besi bulat padu (poros), besi siku, pipa
besi, baut dan mur, cat dan thinner. Alat-alat
yang digunakan pada penelitian ini adalah mesin
las, mesin bubut, mesin bor, mesin gerinda,
gergaji besi, martil, kikir, obeng, meteran,
stopwatch, kalkulator, dan komputer.
Metode penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode pendekatan
rancangan secara umum yaitu pendekatan
rancangan fungsional dan struktural. Rancangan
fungsional menyangkut dari segi fungsi atau
kegunaan dari setiap elemen atau komponen
penyusun alat pemipil jagung terhadap
komoditas jagung kering sedangkan rancangan
secara struktural menyangkut bagaimana alat ini
dibuat dengan memperhitungkan faktor gaya
yang bekerja pada bahan dan alat.
Penelitian ini terdiri dari dua tahapan, yaitu
tahapan pertama adalah penelitian pendahuluan
berupa studi litelatur dan perancangan alat.
Tahap kedua adalah penelitian utama berupa
proses perakitan dan pengujian alat.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Alat Pemipil Jagung
Alat pemipil jagung
bertujuan untuk
memisahkan biji dari tongkol buah sehingga
diperoleh biji yang bersih. Untuk memisahkan
tongkol dengan biji, alat pemipil jagung mekanis
ini mengunakan motor listrik sebagai tenaga
penggerak dan prinsip kerja pemipilan di lakukan
antara permukaan jagung yang diam dan
permukaan mata pemipil yang terus berputar
(dinamis) dan proses sortasi antara biji dan
tongkol terjadi di mata pemipil, untuk biji jatuh
langsung kebawah penampungan saluran
pengeluaran biji dan tongkol langsung diteruskan
melalui saluran pengeluaran tongkol.
Pada alat pemipil sebelumnya yang berada
dipasaran menggunakan tenaga penggerak,
yaitu menggunakan pengerak semi mekanis
menggunakan tangan dan mekanis mengunakan
motor bakar. Namun pada alat pemipil jagung ini

260

Keteknikan Pertanian

J.Rekayasa Pangan dan Pert., Vol.4 No. 2 Th. 2016

7. Poros putaran
Poros putaran ini merupakan poros yang
berada di dalam silinder. Poros putaran
berfungsi untuk memutar rotor yang
terhubung dengan motor listrik menggunakan
pulley dan v-belt.
8. Puli pemipil
Puli pemipil merupakan komponen alat yang
memutar rotor baik yang digerakkan oleh
motor listrik maupun tenaga manusia.
9. Sabuk V
Sabuk V (v-belt) merupakan komponen alat
yang menghubungkan motor listrik dengan
puli pemipil.

dioperasikan
dengan
tenaga
mekanis,
menggunakan motor listrik. Tujuan menggunakan
motor listrik ini untuk memperingan dan
mempercepat waktu kerja pemipilan tongkol
jagung. Hal ini dikarenakan motor listrik bersifat
ekonomis dan efisien, motor listrik memiliki
efisiensi hingga 95 % (Cooper,1992).
Saluran masuk (hopper) dipilih berbentuk
bulat dan terbuat dari plat besi. Alasan pemilihan
bentuk bulat karena disesuaikan dengan bentuk
jagung. Dan untuk mengendalikan jagung masuk
ke mata pemipil diperlukan roda penarik (roller)
yang berfungsi untuk menarik dan menahan
jagung agar tidak berputar.
Tempat pemipilan tongkol jagung terbuat
dari plat besi dimana di dalamnya terdiri dari
silinder yang berputar (rotor) dan permukaan
pisau pemipil yang berputar juga. Rotor memiliki
dimensi diameter 8,3 cm dan panjang 4,2 cm.
Rotor ini terbuat dari pipa bulat dan dilapisi
dengan stainless stell yang telah dibentuk
memiliki tonjolan atau sering disebut bubble plate
(Budiman, 2012). Tonjolan-tonjolan ini berfungsi
untuk pisau pemipil. Mata pemipil dibentuk
menyerupai trapesium, dengan tujuan jagung
yang akan dipipil terlebih dahulu terpipil melalui
jarak yang lebih besar kemudian melewati jarak
yang lebih kecil sehingga meminalisir jagung
yang tidak terpipil sempurna dari tongkol.
Alat pemipil jagung
ini mempunyai
beberapa komponen penting yaitu:
1. Rangka alat
Rangka alat ini berfungsi sebagai penyokong
komponen-komponen alat lainnya, yang
terbuat dari besi siku. Alat ini mempunyai
panjang 47,9 cm, lebar 29,9 cm, dan tinggi
71,8 cm.
2. Motor listrik
Motor listrik berfungsi sebagai sumber tenaga
mekanis (penggerak). Alat ini menggunakan
motor listrik berdaya 1 HP.
3. Saluran masukan (hopper)
Saluran
masukan
berfungsi
untuk
memasukkan buah jagung yang akan dipipil
ke dalam silinder.
4. Saluran keluaran biji jagung
Saluran keluaran yang berfungsi untuk
menyalurkan biji jagung yang sudah terpipil
dari tongkolnya ke tempat penampungan
yang telah disediakan.
5. Saluran keluaran tongkol jagung
Saluran keluaran yang berfungsi untuk
mengeluarkan tongkol jagung yang sudah
terpisah dari biji jagung.
6. Stator
Stator adalah komponen alat yang terbuat
dari pipa besi dilapisi dengan stainless stell
yang berfungsi memipil kulit jagung.

Prinsip Kerja Alat Pemipil Jagung


Alat pemipil jagung digerakkan oleh dua
puli, yaitu puli pemipil dan puli gear box.
Mekanisme alat ini ketika alat digerakkan oleh
motor listrik maka puli pemipil dan puli gear box
berputar dengan bersamaan. Puli gear box
berfungsi untuk memperlancar masuknya jagung
kedalam rotor sehingga tidak terjadi penumpukan
buah disaluran masuk. Sedangkan puli pemipil
berfungsi memutar rotor yang dihubungkan oleh
sabuk V dan memutar mata pisau pemipil
langsung dengan jagung sehingga biji dan
tongkol terpisah, kemudian keluar melalui saluran
pengeluaran biji dan saluran pengeluaran
tongkol.
Kapasitas Efektif Alat
Kapasitas efektif alat didefenisikan
sebagai kemampuan alat dan mesin dalam
menghasilkan suatu produk (kg) persatuan waktu
(jam). Dalam hal ini kapasitas efektif alat dihitung
dari perbandingan antara banyaknya jagung
yang dikupas (kg) dengan waktu yang
dibutuhkan selama proses pemipilan (jam).
Tabel 1. Kapasitas efektif alat
Berat
Waktu
Percobaan Bahan Pemipilan
(Kg)
(detik)
I
5
164
II
5
151
III
5
152
Rataan
5
155,67

Kapasitas
Efektif Alat
(Kg/Jam)
110
119
118
115,63

Pada penelitian ini, lama waktu pemipilan


dihitung ketika putaran puli telah stabil yang
bertujuan untuk memperoleh waktu pemipilan
yang akurat. Hal ini dikarenakan putaran puli per
waktunya yang belum konstan sejak dari motor
listrik dihidupkan. Dalam hal ini proses pemipilan
pada setiap ulangan dilakukan secara kontiniu
agar perlakuan pada setiap percobaan menjadi
sama.

261

Keteknikan Pertanian

J.Rekayasa Pangan dan Pert., Vol.4 No. 2 Th. 2016

Pada penelitian ini yang telah dilakukan


dengan menggunakan alat pemipil biji jagung
yang telah dimodifikasi dilakukan percobaan
dengan perlakuan yang sama (5 kg) diperoleh
waktu pemipilan percobaan I adalah 164 detik,
waktu pemipilan percobaan II adalah 151 detik
dan waktu pemipilan percobaan III adalah 152
detik. Perbedaan waktu pemipilan ini diduga
adanya keberagaman bentuk dan diameter
jagung sehingga mempengaruhi proses
pemipilan. Dari hasil penelitian ini diperoleh
waktu pemipilan buah jagung rata - rata dengan
berat 5 kg adalah 155,67 detik. Kapasitas efektif
alat sebesar 115,63 kg/jam. Sehingga, artinya
dalam waktu 1 jam alat ini dapat memipil jagung
sebanyak 115,63 kg

alat ini akan mencapai titik impas apabila telah


memipil jagung sebanyak 5.645,97 kg/tahun.
Net present value
Net present value (NPV) adalah kriteria
yang digunakan untuk mengukur suatu alat layak
atau tidak untuk diusahakan. Dalam
menginvestasikan modal dalam penambahan
alat pada suatu usaha maka NPV ini dapat
dijadikan salah satu alternatif dalam analisis
financial. Besarnya NPV dengan suku bunga 6%
adalah Rp. 127.291.705,59. Hal ini berarti usaha
ini layak untuk dijalankan karena nilainya lebih
besar ataupun sama dengan nol. Hal ini sesuai
dengan kriteria NPV yaitu:
- NPV > 0, berarti usaha yang telah
dilaksanakan menguntungkan
- NPV < 0, berarti sampai dengan n tahun
investasi usaha tidak menguntungkan
- NPV = 0, berarti tambahan manfaat sama
dengan tambahan biaya yang dikeluarkan.

Analisis Ekonomi
Analisis ekonomi digunakan untuk
menentukan besarnya biaya yang harus
dikeluarkan saat produksi menggunakan alat ini.
Dengan analisis ekonomi dapat diketahui
seberapa besar biaya produksi sehingga
keuntungan alat dapat diperhitungkan. Umumnya
setiap investasi bertujuan untuk mendapatkan
keuntungan. Namun ada juga investasi yang
bukan bertujuan untuk keuntungan, misalnya
investasi dalam bidang sosial kemasyarakatan
atau investasi untuk kebutuhan lingkungan, tetapi
jumlahnya sangat sedikit.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
diperoleh biaya untuk mengupas biji jagung
berbeda tiap tahun. Hal ini disebabkan
perbedaan nilai biaya penyusutan tiap tahun
sehingga mengakibatkan biaya tetap alat tiap
tahun berbeda juga. Diperoleh biaya pemipilan
biji jagung sebesar Rp. 78,855/kg pada tahun
pertama, Rp. 73,474/kg pada tahun ke-2, Rp.
71,683/kg pada tahun ke-3, Rp. 70,789/kg pada
tahun ke-4, dan Rp. 70,254/kg tahun ke-5.

Internal rate of return


Hasil yang didapat dari perhitungan IRR
adalah sebesar 45,02 %.Usaha ini masih layak
dijalankan apabila bunga pinjaman bank tidak
melebihi 45,02 %, jika bunga pinjaman di bank
melebihi angka tersebut maka usaha ini tidak
layak lagi diusahakan. Semakin tinggi bunga
pinjaman di bank maka keuntungan yang
diperoleh dari usaha ini semakin kecil.

KESIMPULAN
1.

2.

Break even point


Analisis titik impas umumnya berhubungan
dengan proses penentuan tingkat produksi untuk
menjamin agar kegiatan usaha yang dilakukan
dapat membiayai sendiri (self financing), dan
selanjutnya dapat berkembang sendiri (self
growing). Dalam analisis ini keuntungan awal
dianggap nol. Manfaat perhitungan titik
impasadalah untuk mengetahui batas produksi
minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar
usaha yang dikelola masih layak untuk
dijalankan. Pada kondisi ini income yang
diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya
operasional tanpa adanya keuntungan.
Alat pemipil kulit jagung ini akan mencapai
BEP pada nilai 5.645,97 kg/tahun.. Hal ini berarti

3.

4.

5.

262

Kapasitas efektif pada alat pemipil biji


jagung mekanis ini adalah sebesar 206,57
kg/jam atau 2.775,16 kg/hari.
Biaya pokok yang harus dikeluarkan dalam
memipil jagung dengan alat pemipil jagung
ini tiap tahunnya adalah Rp. 78,855/kg pada
tahun pertama, Rp. 73,474/kg pada tahun
ke-2, Rp. 71,683/kg pada tahun ke-3,
Rp. 70,789/kg pada tahun ke-4, dan Rp.
70,254/kg tahun ke-5.
Alat ini akan mencapai nilai break even point
apabila telah memipil jagung sebesar
5.645,97 kg/tahun.
Besarnya
NPV
6%
adalah
Rp.
127.291.705,59 > 0, oleh karena itu maka
usaha ini layak untuk dijalankan.
Internal rate of return pada alat ini adalah
sebesar 45,02 %.

Keteknikan Pertanian

J.Rekayasa Pangan dan Pert., Vol.4 No. 2 Th. 2016

Purba R. 1997. Analisa Biaya dan Manfaat. PT.

DAFTAR PUSTAKA

Rineka Cipta. Jakarta.

AAK. 2009. Teknik Bercocok Tanam Jagung.


Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Rukmana R. 1997. Budidaya Baby Corn.


Kanisius. Yogyakarta.

Darun. 2002. Ekonomi Teknik. Jurusan Teknologi


Pertanian Fakultas Pertanian USU, Medan.

Rukmana R. 1997.Usaha Tani Jagung. Kanisius.


Yogyakarta.

Daywin F .J. R .G Sitompul dan Hidayat. 2008.


Mesin-Mesin Budidaya Pertanian di Lahan
Kering.Graha Ilmu. Jakarta

Sukirno. 1999. Mekanisasi Pertanian. UGM.


Yogyakarta.

Nastiti D, P Sriwulan dan R. A Farid. 2008.


Analisis Finansial Agribisnis Pertanian.
BPTP. Kalimantan Timur.

Waldiyono. 2008. Ekonomi Teknik (Konsep Teori


dan Aplikasi). Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

263