Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pemasangan

instalasi penerangan di rumah tangga idealnya harus

mengikuti standar yang berlaku. Hal ini bertujuan supaya produsen energi listrik
dan pelanggan terhindar dari kerugian.
Instalasi penerangan dibagi menjadi dua yaitu instalasi penerangan in plaster
dan on plaster. Jobsheet untuk semester 3 ini adalah instalasi penerangan in
plaster. Instalasi penerangan in plaster merupakan instalasi listrik yang dilakukan
di dalam bangunan, umumnya ditanam di dalam dinding. Sehingga, pemasangan
instalasi harus benar-benar diperhatikan, mulai perencanaan, pengerjaaan hingga
commissioning.
Dengan semakin pesatnya kebutuhan energi listrik di masyarakat diharapkan
mahasiswa mampu melakukan instalasi penerangan sederhana.
1.2. Tujuan

Memahami job deskripsi yang diberikan

Mampu melakukan perencanaan sebelum melakukan instalasi in plaster

Mampu melakukan instalasi penerangan in plaster (pengawatan &


penyambungan komponen)

Mengetahui prinsip kerja dari instalasi yang dipasang

Mampu pemasangan dan pengawatan sub-panel

Mampu melakukan pengawatan dan pemasangan APP 3 fasa dengan benar

1.3. Batasan Permasalahan


Untuk membatasi masalah yang akan dibahas, maka perlu suatu landasan
wawasan agar tidak menimbulkan pemikiran yang terlalu luas maka akan terfokus
pada permasalahan yang bersifat praktis dalam aplikasi dilapangan dengan
dukungan penguasaan teori.
Oleh karena itu, pembatasan hanya meliputi :
1. Pembahasan mengenai proses penginstalasian di dalam listrik in plester.
2. Pembagian & penyambungan sumber 3 fasa
3. Fungsi kerja serta system kerja beberapa alat dan bahan material serta
rangkaian instalasi listrik in plester.

STANDART OPERATIONAL PROCEDURE


PENERANGAN
I. RUANG LINGKUP
Proses kegiatan praktikun mata kuliah Desain Instalasi Listrik 2, dengan
materi instalasi Penerangan Industri.
II. TUJUAN
Untuk menginstalasi penerangan Industri.
III.CARA KERJA
1. Buat deskripsi rangkaian instalasi Penerangan Industri.
2. Buat gambar layout rangkaian instalasi Penerangan Industri .
3. Buat gambar single line diagram instalasi Penerangan Industri .
4. Buat gambar pengawatan instalasi Penerangan Industri .
5. Buat gambar kelompok beban instalasi Penerangan Industri .
6. Siapkan komponen-komponen yang dibutuhkan sesuai kebutuhan.
7. Periksa kondisi alat dan bahan.
8. Memasang alat dan bahan pada dinding kerja sesuai gambar layout.
9. Merangkai sesuai gambar rangkaian instalasi penerangan industri.
10. Commisioning tanpa tegangan.
11. Cek tahanan isolasi rangkaian.
12. Commisioning dengan bertegangan.
13. Deteksi urutan fasa dengan fasa detector.
14. Cek tegangan sumber.
15. Mintalah persetujuan dari pengawas pekerjaan.
16. Hubungkan & operasikan rangkaian dengan beban lampu.

BAB II
TEORI DASAR DAN
PERENCANAAN
2.1 Definisi Umum
2.1.1 Definisi Instalasi
Instalasi listrik adalah rangkaian dari peralatan listrik yang saling
berhubungan satu sama lain secara listrik yang berada dalam suatu ruang
atau lokasi.
Dari definisi di atas cukup jelas bahwa instalasi listrik itu adalah :
-

Merupakan rangkaian peralatan listrik.


Peralatan listrik tersebut terhubung secara llistrik.
Berada dalam suatu ruang atau lokasi.

2.1.2 Klasifikasi Instalasi


Pada umumnya instalasi listrik dibagi 2 macam, yaitu :
1. Instalasi penerangan listrik.
Adalah instalasi listrik yang digunakan untuk menyalurkan energi
listrik dari sumbernya ( PLN, Genset, dan lainnya ) ke beban
listrik/peralatan rumah tangga ( lampu dan stop kontak ). Pada beban
listrik, energi listrik dari instalasi diubah menjadi cahaya pada lampu,
menjadi panas pada setrika dan sebagainya. Instalasi penerangan
listrik terdiri dari instalasi di dalam gedung dan instalasi di luar
gedung.
2. Instalasi daya listrik.
Adalah instalasi listik yang digunakan untuk menyalurkan energi
listrik dari sumbernya ( PLN, Genset, dan lainnya ) ke motor-motor
listrik. Pada motor listrik, energi listrik diubah menjadi energi
mekanik.
Bila pada sebuah bangunan terdapat instalasi penerangan listrik dan
instalasi daya listrik, maka kedua instalasi ini harus dipisahkan ( panelnya
terpisah ).
2.1.3 Syarat Instalasi

Syarat teknis umum dalam merencanakan sebuah instalasi listrik bagi


instalasi penerangan maupun instalasi daya adalah sebagai berikut :
1. Aman bagi manusia, hewan, atau barang.
2. Material yang dipasang harus mempunyai kualitas yang baik.
3. Penghantar ( kabel ) yang digunakan harus mampu dialiri arus sesuai
dengan kemampuan dan kebutuhan.
4. Kerugian tegangan/voltage drop pada beban tidak boleh melebihi
- 2% dari tegangan nominal pada instalasi penerangan.
- 5% dari tegangan nominal pada instalasi daya.
Agar dalam proses praktik instalasi yang baik dan aman baik dari segi
keamanaan instalasi, penempatan instalasi, tahanan yang digunakan dan
perlengkapan serta bahaya yang mungkin terjadi pada saat pemasangan atau
penggunaan instalasi, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
sebelum melakukan instalasi diantaranya :
-

Dapat memahami gambar serta simbol-simbol yang ada pada


rencana instalasi listrik.

Dapat

mengerti bagaimana

cara

melakukan penyambungan

penghantar ke dalam suatu peralatan instalasi listrik.


-

Dapat mengetahui mengenai pengenalan kode, tanda uji, warna dan


segala bentuk penandaan suatu peralatan listrik.

Hal tersebut di atas tidak terlepas dari tujuan dan standarisasi instalasi listrik
yang berfungsi sebagai syarat boleh-tidaknya suatu instalasi dipasang dari
mulai perencanaan, penentuan bahan, sampai pemasangan sebuah instalasi.
Dari sini dapat kita ketahui bahwasanya dalam melakukan pemasangan
instalasi penerangan maka harus memenuhi beberapa prinsip diantaranya :
1. Keandalan.
2. Ketertiban.
3. Ketersediaan.
4. Keindahan.
5. Keamanan.
6. Ekonomis.
2.2 Deskripsi Teori
Praktik instalasi penerangan yang dilakukan pada kali ini berbeda
dengan praktek semester lalu dikarenakan praktik kali ini sudah tidak

menggunakan metode on-plaster. Praktek kali ini benar-benar merangkai


instalasi penerangan didalam tembok. Ditambah lagi dalam praktek ini sudah
diperkenalkan pemasangan sistem 3 fasa di dalam instalasi yang dipasang.
Dari hal dasar tersebut maka dalam pelaksanaanya dari mulai
menghitung sampai memasang tentunya sudah ditetapkan dalam suatu aturan
atau standar pemasangan yang mana hal ini diatur dalam PUIL 2000. Oleh
karena itu dalam pemasangan instalasi listrik harus mengacu pada PUIL 2000
sebagai

acuan

dalam

perancangan,

pemasangan,

pengamanan,

dan

pemeliharaan instalasi dalam bangunan. Peraturan instalasi ketenagalistrikan


untuk perancangan instalasi mengacu pada SNI, IEC, PUIL atau standar lain.
2.2.1 Sistem Sumber Listrik
Di dalam jaringan listrik ada 2 sistem sumber listrik, yaitu sumber 1
fasa dan 3 fasa. Sumber 1 fasa dan 3 fasa yang digunakan pada praktik
merupakan bagian dari JTR ( Jaringan Trgangan Rendah ) namun sumber 1
fasa ini hanya melayani rumah - rumah saja dan tegangan yang disediakan
hanya 220 Volt. Sedangkan sumber 3 fasa digunakan untuk menampung
beban tinggi seperti motor dan peralatan listrik yang membutuhkan daya
tinggi. Sumber listrik 3 fasa mengeluarkan tegangan sebesar 380 V.
Pada Generator AC 3 Fasa yang memiliki 3 belitan penghantar di mana
ketiga penghantar tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga saat generator
itu bekerja maka putaran rotornya akan membuat ketiga 3 penghantar
tersebut berbeda sudut fasanya antara satu sama lain. Misalnya penghantar 1
sudut fasanya 0 derajat terhadap posisi tertentu yang dianggap sebagai titik
referensi, penghantar 2 sudut fasanya 120 derajat terhadap titik referensi,
penghantar 3 sudut fasanya 240 derajat terhadap titik referensi. Jadi
penghantar 1 akan menghasilkan tegangan dengan fasa sebesar 0 derajat,
penghantar 2 akan menghasilkan tegangan dengan fasa sebesar 120 derajat,
dan penghantar 3 akan menghasilkan tegangan dengan fasa sebesar 240
derajat. Setiap sistem sumber baik 1 fasa ataupun 3 fasa mempunyai
kekurangan dan kelebihan tersendiri.
Kekurangan sumber listrik 1 fasa :

Hanya terdiri dari 2 penghantar saja yaitu Fasa dan Netral.

Beban yang besar ditampung oleh 1 penghantar saja.

Pada generator 1 fasa, generator menjadi lebih besar.

Kelebihan sistem 1 fasa:

Lebih simpel karena terdiri hanya 2 penghantar saja dalam jaringan.

Ekonomis.

Kekurangan sistem 3 fasa

Mahal.

Waktu yang di perlukan lebih lama.

Kelebihan sistem 3 fasa:

Tegangan yang besar mampu dibagi menjadi 3 atau 4 penghantar


tergantung dari sistem yang digunakan yaitu R, S, T dan N.

Generator yang menggunakan sistem ini ukuranya lebih kecil.

Simpel.

Gambar 1. Sumber Listrik


Keterangan :

Merah

= Penghantar R

Kuning

= Penghantar S

Hitam

= Penghantar T

Biru

= Penghantar Netral

Hijau/Kuning Hijau

= Penghantar Tanah ( Ground )

Jadi sebenarnya sumber 1 fasa merupakan bagian dari sumber 3 fasa namun
hanya melibatkan 1 penghantar dari 3 penghantar ditambah dengan
penghantar netral.
2.3 Komponen Listrik
Pemasangan instalasi listrik tegangan rendah, untuk instalasi listrik
rumah tinggal/gedung terdapat beberapa pemasangan yang terdiri atas
beberapa peralatan yang akan digunakan dalam praktik instalasi penerangan
diantaranya adalah:
1. Pipa dan Bahan Bantu
2. Kotak Hubung Bagi atau Kotak Panel dan kelengkapannya
3. Saklar dan Kelengkapannya
4. Penghantar
5. Alat Ukur
Untuk pemasangan peralatan tersebut harus sesuai di atas memerlukan
beberapa persyaratan dan standarisasi.
2.3.1 Pipa dan Bahan Bantu
2.3.1.1 Pipa PVC

Gambar 2. Pipa PVC


Pada umumnya pipa instalasi dijual dalam potongan empat meter
dengan diameter yang berbeda-beda. Syarat yang harus dipenuhi pipa
instalasi:

1) Tahan terhadap tekanan mekanis.


2) Tahan panas dan lembab.
3) Tidak boleh menjalarkan nyala api.
4) Permukaan dalam maupun luar pipa instalasi harus licin dan rata
dan dilindungi dengan baik terhadap karat.
Pembengkokkan pipa instalasi ( bending ) harus dilakukan
sedemikian rupa sehingga tidak terjadi penggepengan. Pipa instalasi yang
tidak ditanam harus dipasang dengan baik menggunakan klem yang
cocok. Jarak antara alat-alat penompang tidak boleh melebihi satu meter.
Pipa instalasi PVC memiliki sifat antara lain sebagai berikut :
1) Daya isolasinya baik sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya
gangguan tanah (gangguan tanah dapat menimbulkan kebakaran).
2) Tahan terhadap hampir semua bahan kimia jadi tidak perlu di cat.
3) Tidak menjalarkan nyala api.
4) Mudah digunakan.
Pipa PVC tidak dapat digunakan pada suhu di atas 60 derajat
celcius. Di tempat-tempat yang diperlukan pipa PVC harus dilindung
dari kerusakan mekanis. Dilarang di dalam pipa instalasi baik logam
maupun PVC ada sambungan hantaran, sambungan ini harus ada dalam
kotak sambung / kotak cabang yang diperuntukkan untuk maksud itu.

Pengisian pipa untuk penghantar (PUIL tahun 2000) sebagai berikut :


N Jumlah hantaran dalam
NO

pipa

Faktor pengisian (%)

50% dari luas penampang dalam pipa

33% = 1/3 dari luas penampang dalam pipa

3 atau lebih

40% dari luas penampang dalam pipa.

1
2
2
3
3

Tabel 1. Faktor Pengisian Maksimum Penghantar Dalam Pipa

2.3.1.2 Kotak Hubung atau Kotak Cabang


Untuk mempertimbangkan keamanan dari bahan listrik dan juga
dari segi pelaksanaan pemasangan kabel dalam pipa maka untuk
merangkai pipa instalasi digunakan benda bantu. Untuk membuat
percabangan pada pipa instalasi harus digunakan kotak cabang empat
(crossdos) atau kotak cabang tiga ( Tdos ). Kotak-kotak cabang ini harus
mudah dicapai. Penyambungan kabel dalam sebuah instalasi pipa hanya
boleh dilakukan di dalam kotak cabang.

Gambar 3. Kotak Cabang Empat dengan Sambungan Lasdop


Kotak sambung

adalah tempat pengaman sambungan kabel,

terbuat dari bahan plastik tujuannya adalah agar tidak menghantarkan


arus sehingga tidak membahayakan. Dengan menggunakan kotak
sambung

kita dapat membagi dan menyambung kabel sesui dengan

kebutuhan. Dalam melakukan penyambungan pada kotak sambung atau


kotak hubung sambungannya harus baik dan kuat dipilin kemudian dililit
dengan benang dan terakhir ditutup dengan lasdop. Lasdop sekilas
memang mirip dengan tutup pasta gigi tetapi fungsinya adalah sebagai
penutup dari sambungan kabel. Dengan menggunakan lasdop dapat
mencegah terjadinya hubung singkat antar penghantar .Serta aman
apabila ada sentuhan dari tangan manusia, Karena bahan dari lasdop
adalah plastik sehingga tidak menghantarkan arus. Supaya isolasi
sambungan baik maka mutu lasdop juga harus baik. Satu lasdop tidak
boleh disambung lebih dari 5 kawat. Jumlah sambungan dalam kotak
cabang harus dibatasi agar kotaknya tetap bisa ditutup dengan baik.
2.3.2 Kotak Hubung Bagi atau Panel Distribusi dan Kelengkapannya
Di samping merancang dan menggambar perencanaan juga harus
merancang pembagian kelompok beban pada setiap ruangan, dimana setiap
konsumen mempunyai peralatan pengatur dan pengoperasian untuk
membagi sumber daya (PLN) yang masuk ke tiap kelompok beban yang
berbeda. Pembagian sumber daya ini memerlukan suatu tempat yang disebut
dengan panel distribusi atau kotak hubung bagi. Pengaturan sumber listik 1
fasa dengan 3 fasa juga dilakukan di kotak panel ini serta penempatan
pengaman-pengaman yang digunakan. Diagram kerja merupakan suatu
gambar rangkaian dari fungsi kerja suatu sistem secara menyeluruh dengan
sederhana dan mudah dimengerti dan digambarkan berdasarkan simbol
simbol instalasi listrik.
Berikut contoh pemasangan panel menurut jenisnya :
a. Komponen diletakkan langsung

pada tembok atau papan kerja

(mounted on the wall) . Cara ini seringkali dikerjakan karena dirasakan


ekonomis, dudukan fuse dirancang sedemikian rupa untuk memudahkan
pengawatan.
b. Komponen komponen pada panel diletakkan didepan, pengawatan
dikerjakan dibelakang panel, kabel keluar disambung langsung dari
rangkaian fuse box untuk kabel masuk dengan kedudukan fuse utama.

c. Komponen pada atau di dalam panel, sistem panel yang dioperasikan


oleh industri, panel ini bisa dipasang untuk berbagai ukuran, sangat
beragam dan hanya membutuhkan ruangan yang kecil, bisa dipakai
sebagai panel meter untuk gedung gedung bertingkat.
d. Panel apartemen, panel jenis ini juga ada 2 macam yaitu pemasangan
dalam dan semi pemasangan dalam (dapat pula untuk pemasangan luar)
seandainya dapat dipakai pada sentral, panel selalu dipasang dalam
apartemen itu sendiri.
Dari keempat panel tersebut diatas, Tipe mounted in the wall yang dipakai di
dalam praktik bengkel karena penggunaanya terutama dipakai dirumah
rumah tinggal, sangat cocok untuk instalasi pada kondisi lingkungan normal.
Satu hal yang sangat umum untuk setiap pembuatan panel menentukan
konstruksi panel yang terpilih, direncanakan harus ekonomis dan sesuai
kondisi lingkungan.
2.3.2.1 Box Panel
Box Panel merupakan suatu kotak dari besi plat, cor atau aluminium.
Kotak panel bisa ditanam di dalam tembok atau hanya sekedar ditempel di
tembok.
Syarat pemasangan kotak panel :
1. Sebagai tindakan pengaman terhadap kemungkinan terjadinya
kegagalan isolasi rangka besi dan kotak hubung bagi yang terbuat
dari logam harus ditanahkan.
2. Hantaran Netral di instalasi konsumen tidak boleh ditanahkan atau
digunakan sebagai pentanahan (ground).
3. Kotak Panel Hubung Bagi harus dipasang ditempat yang mudah
dicapai dari jalan masuk bangunan.
4. Kotak Panel Hubung Bagi harus dipasang sekurangnya 1,5 m di
atas lantai.
5. Tidak boleh dipasang di kamar mandi/kamar kecil dan di atas
kompor.

Pada praktik kali ini, kotak panel terdiri dari line up terminal, fuse,profil,
busbar netral dan PE, dan impulse switch. Rel atau busbar adalah suatu
plat segi empat yang umumnya terbuat dari bahan tembaga.

Gambar 4. Lay Out Kotak Panel

Gambar 5. Wiring Komponen dalam Kotak Panel


2.3.2.2 Terminal

Gambar 6. Terminal
Line up terminal merupakan tempat penyambungan kabel-kabel
fasa yaitu R, S, dan T, netral, grounding agar terjaga dari gesekkan atau
guncangan dari luar. Terminal dapat bekerja pada tegangan max sesuai
dari ketentuan dari name plate biasanya berkisar sampai 500 - 1000 V.
Pada name plate terminal ini menunjukkan beberapa ketentuan dari
berbagai Negara yang memiliki lembaga kelistrikan internasional dimana
penghantar yang diijinkan untuk masuk pada terminal ini adalah antara 1.5
- 4 mm2.
2.3.2.3 Fuse

Gambar 7. Fuse Box


Fuse adalah jenis pengaman alat alat listrik terhadap arus yang
melebihi kapasitas batas khususnya arus hubung singkat, yaitu arus yang
masuk melebihi arus nominal yang dapat menyebabkan kerusakkan
terhadap peralatan listrik. Untuk instalasi instalasi penerangan
umumnya menggunakan fuse yang bagian penghubung arusnya
dinamakan patron dimana di dalamnya berisi kawat lebur yang apabila
dialiri listrik yang lebih besar dari pada yang telah ditentukan maka akan

terjadi lebur, dan hubungan listrik terputus. Fuse selalu dihubungkan


dengan penghantar fasa secara seri karena fungsi dari fuse ialah
mengamankan alat pemakai dari arus lebih yang mungkin mengalir
masuk. Dengan menghubungkan fuse ke penghantar fasa, kerusakan
terhadap peralatan listrik dapat dihindari karena sebelum arus lebih
masuk ke dalam peralatan maka kawat lebur dari fuse akan terputus lebih
dahulu.

Gambar 8. Fuse
Di dalam fuse terdapat 2 penghantar yaitu elemen lebur dan kawat
sinyal. Elemen lebur digunakan sebagai pengaman dari arus hubung
singkat sedangkan kawat sinyal sebagai pemberi informasi jika elemen
lebur putus dengan cara mendorong tanda warna keluar. Di antara 2
penghantar juga terdapat pasir kuarsa untuk melindungi dari percikan api.
Setiap fuse / sekring selalu terdapat keterangan, minimal keterangan
mengenai batas arus dan batas tegangan yaitu 10A / 500V. 10A yaitu
batas arus kawat lebur dan 500 V merupakan batas tegangan kerja fuse.
Pabrik pembuat fuse telah menggunakan tanda warna yang telah
dinormalisasikan untuk menyatakan kekuatan daya tahan arus dari kawat
lebur sebagi berikut :
a. Merah muda

:2A

b. Coklat

:4A

c. Hijau

:6A

d. Merah

: 10 A

e. Abu abu

: 16 A

f. Biru

: 20 A

g. Kuning

: 25 A

h. Hitam

: 35 A

i. Putih

: 50 A

j. Merah tembaga

: 65 A

Gambar 9. Tudung Fuse ( Fuse Cap )


Sedangkan di tudung fuse juga terdapat keterangan seperti pada
fuse namun memiliki arti yang berbeda. Keterangannya sama yaitu 25 A /
500 V. 25 A disini memberi informasi bahwa tudung ini hanya bisa
digunakan pada fuse dengan kemampuan sampai 25A. Sedangkan 500V
merupakan batas tegangan kerja tudung fuse.
2.3.2.4 Profil
Profil ini berfungsi sebagai penahan

komponen komponen yang

menempel di dalam panel namun bentuk profil juga tergantung dari


konstruksinya di dalam panel tersebut. Pada praktik kali ini hanya
menggunakan profil C.

2.3.2.5 MCB (Mini Circuit Breaker)

Gambar 10. MCB 1 Fasa

Gambar 11. MCB 3 Fasa


MCB atau Mini Circuit Breaker merupakan suatu pengaman
pemutus rangkaian / pembatas arus yang dilengkapi dengan pengaman
thermis (bimetal) untuk beban lebih dan juga dilengkapi pengaman relay
untuk arus lebih atau arus hubung singkat. MCB terdiri dari satu
kumparan, satu kontak dan satu pemanas bimetal.

Gambar 12. Skema MCB

Bila terjadi arus lebih, maka bimetal th akan memuai karena panas
kemudian menyebabkan kontak K membuka. Bila terjadi hubung singkat
atau arus lebih yang besar sekali maka kumparan magnetic R akan
memerintahkan kontak K untuk membuka.
Data yang tertera di MCB :
1. ABB
2. C10
3. 6000 A
4. D N S F
Penjelasan

1. ABB
Merupakan perusahaan yang memproduksi MCB.
2. C10
MCB menggunakan kurva pemutusan C dengan arus nominal
MCB sebesar 10 A. Kurva pemutusan terdiri dari L, C, dan D.
Kurva L untuk kemampuan MCB 2 5 kali arus nominal. Kurva
C untuk kemampuan MCB 5 7 kali arus nominal. Kurva D
untuk 5 10 kali arus nominal. Jika MCB digunakan sebagai
pengaman instalasi motor sebaiknya menggunakan MCB dengan
kurva D agar motor bisa starting.

Gambar 13. Kurva Pemutusan C

3. 6000 A
Yaitu nilai Breaking Capacity atau Batas arus maksimal akibat
hubung singkat yang dapat ditahan oleh MCB tanpa mengalami
kerusakan. Jika arus hubung singkatnya melebihi nilai breaking
capacity maka MCB akan langsung rusak.
4. D N S F
Lembaga-lembaga yang sudah melisensi MCB tersebut.
2.3.3 Sakelar dan Kelengkapannya
Sakelar digunakan untuk memutuskan dan menghubungkan
rangkaian listrik secara manual atau otomatis. Pemisah digunakan untuk
memisahkan dan menghubungkan rangkaian listrik dalam keadaan tidak
berbeban. Sakelar dan pemisah harus harus memenuhi beberapa
persyaratan antara lain:
1. Harus dapat dilayani secara aman tanpa memerlukan alat bantu.
2. Jumlahnya harus sedemikian hingga semua pekerjaan pelayanan,
pemeliharaan dan perbaikan pada instalasi dapat dilakukan dengan
aman.
3. Dalam keadaan terbuka, bagian-bagian sakelar atau pemisah yang
bergerak harus tidak bertegangan.
4. Harus tidak dapat menghubungkan dengan sendirinya karena
pengaruh gaya berat.
5. Kemampuan sakelar sekurang-kurangnya harus sesuai dengan daya
alat yang dihubungkannya, tetapi tidak boleh kurang dari 5 A.

2.3.3.1 Saklar Seri

Gambar 14. Sakelar Seri

Saklar seri ini digunakan untuk mengoperasikan 2 buah lampu


sekaligus ataupun salah satu saja. Saklar ini terbuat dari bahan plastik.
Memiliki 8 terminal , 4 untuk terminal in (fasa dari sumber) dan 4 untuk
terminal out (fasa ke beban lampu). Sakelar ini dapat bekerja pada
tegangan 250 V.
2.3.3.2 Saklar Tunggal

Gambar 15. Sakelar Tunggal


Saklar Tunggal ini biasanya digunakan untuk mengoperasikan 1
buah lampu, bisa untuk beberapa lampu namun akan nyala dan padam
bersamaan. Saklar ini terbuat dari bahan plastik. Memiliki 4 terminal , 2
untuk terminal in (fasa dari sumber) dan 2 untuk terminal out (fasa ke
beban lampu). Sakelar ini dapat bekerja pada tegangan 250 V.
2.3.3.3 Fitting

Gambar 16. Fitting Tender

Fitting duduk ini terbuat dari bahan keramik. Digunakan untuk


dudukan lampu berkaki ulir. Memiliki 2 terminal, satu terminal untuk
kabel phasa dan satu lagi untuk kabel netral. Fitting jenis ini memiliki
keunggulan yaitu dapat digunakan untuk penerangan di luar ruangan dan
tidak memerlukan roset kayu sebagai dudukannya, dan secara fisiknya
jauh lebih kuat dari fitting lokal.

2.3.3.4 Kotak Kontak

Gambar 17. Kotak Kontak 1 Fasa

Gambar 18. Kotak Kontak 3 Fasa

Kotak kontak merupakan sebuah kotak atau dos yang dipergunakan


untuk menempatkan kabel, sehingga kotak kontak tersebut merupakan
tempat sumber listrik. Bagian dalam kotak kontak terbuat dari porselin
atau bahan cetakan lainnya. Kaki ini dapat juga diletakkan dengan cara
menyekrup pada papan atau dinding. Kotak kontak ini terbuat dari bahan
plastik. Di dalam kotak kontak 1 fasa terdiri dari 3 terminal yaitu terminal
fasa, netral, dan PE (ground) sedangkan untuk kotak kontak 3 fasa terdiri
dari 5 terminal yaitu terminal fasa R, S, T, netral, dan ground. Letak dari
terminal phasa pada posisi kiri dan netral pada sebelah kanan, PE pada
atas atau bawah. Syarat pemasangan kotak-kontak antara lain :
1. Kotak kontak dinding 1 fasa harus dipasang dengan posisi netral
berada di sebelah kanan.
2. Kotak-kontak dinding minimal dipasang 1,25 m di atas tanah. Jika
kurang dari itu maka harus dilengkapi dengan penutup.
3. Kotak kontak dinding dengan kotak pengaman harus dipasang
dengan hantaran pengaman.
4. Kemampuan kotak kontak harus sekurang-kurangnya sesuai
dengan daya alat yang dihubungkan padanya tetapi tidak boleh
kurang dari 5 A.
2.3.4

Penghantar
Untuk instalasi rumah tinggal, penghantarnya harus memiliki luas
penampang minimal 1,5mm2. Penghantar Netral harus memiliki luas
penampang sama dengan luas penampang penghantar fasa dan harus
berwarna biru. Untuk penghantar pentanahan (ground) hanya boleh
menggunakan warna majemuk hijau-kuning dan warna ini tidak boleh
digunakan untuk tujuan lain. Untuk sistem 1 fasa, penghantar fasa
diusahakan berwarna merah. Untuk saluran 3 fasa dengan netral,
kemampuan hantar arus penghantar netral harus sesuai dengan
kemampuan arus maksimum yang mungkin timbul dalam keadaan beban
tak seimbang normal. Dalam saluran 3 fasa semua penghantar fasanya

harus memiliki luas penampang yang sama dan diusahakan bebannya


dibagi serata mungkin atas masing-masing fasa.
2.3.4.1 Kabel NYA

Gambar 19. Kabel NYA


Kabel NYA berinti tunggal, berlapis bahan isolasi PVC, untuk
instalasi luar / kabel udara atau tidak ditanam dalam tanah, kabel standar
PLN. Untuk tegangan nominal 500 V, menggunakan penghantar tembaga
2
padat bulat dengan luas penampang nominal 1,5 mm . Mempunyai

kuat hantar arus 15 A dan nilai nominal pengaman 16 A terutama di dalam


pipa. Kabel NYA digunakan pada saluran instalasi penerangan dan wiring
di dalam panel.
2.3.4.2 Kabel NYY

Gambar 20. Kabel NYY


Merupakan kabel tenaga yaitu penghantar yang berisolasi dan
berselubung PVC berurat 5 masing-masing berwarna merah-kuning-hitambiru-hijau, berpenghantar tembaga bulat pejal dengan luas penampang 2,5
mm2. Kabel ini digunakan untuk penyambungan atau penyaluran daya
listrik dari panel instalasi ke sumber di bengkel listrik.

2.3.5 Alat Ukur


2.3.5.1 Tespen
Digunakan untuk menguji apakah suatu titik bertegangan apa tidak
khususnya pada titik-titik yang akan terhubung dengan beban.

Gambar 21. Penggunaan Tespen


2.3.5.2 Multimeter
Multimeter atau sering disebut juga dengan AVO meter ini adalah
merupakan peralatan yang sangat serbaguna dalam hal mengetahui
kondisi rangkaian pada saat dialiri arus dan atau saat tidak dialiri arus.
Multimeter memiliki banyak kegunaan, antara lain :
1. Mengukur tegangan baik AC / DC ( Voltmeter ).
2. Mengukur arus baik AC / DC ( Amperemeter ).
3. Mengukur tahanan ( ohmmeter )
4. Mengetahui kontinuitas dengan sinyal buzzer atau lampu.

Gambar 22. Multimeter

2.3.5.3 Tang Ampere


Dengan menggunakan tang ampere, pengukuran arus dapat dilakukan
dengan mudah karena kita tidak perlu melepas saluran kabel kemudian
dipasang seri dengan alat ukur. Alat ini dapat digunakan untuk mengukur
tegangan, arus serta hambatan. Untuk mengukur arus pada instalasi yang
terhubung jaringan tegangan rendah cukup menggunakan range 200 pda
tang ampere agar arus dapat terbaca dengan detail.

Gambar 23. Tang Ampere

2.3.5.4 Megger
Megger atau megaohmmeter merupakan alat yang digunakan untuk
menguji kebocoran tegangan karena bocornya isolasi dan mengukur
tahanan isolasi. Dengan menggunakan megger selain dapat mengetahui
adanya hubung singkat, juga dapat mengetahui adanya suatu kebocoran
yang terjadi pada penghantar ataupun pipa pelindung. Buruknya insulasi
jaringan

bisa

mengakibatkan

terjadinya

arus

bocor

dan

bisa

membahayakan nyawa seseorang. Dimungkinkan juga akan menimbulkan


percikan api yang bisa mengakibatkan kebakaran. Alat ini membutuhkan
tegangan listrik sebesar 9 V yang disuplai oleh 6 baterai 1,5 V. Melalui DC
Converter tegangan 9 V dinaikkan hingga 1000 V. Hasil Pengujian dapat
dibaca pada dua alur bacaan.

Gambar 24. Megger


Pengetesan dilakukan dengan pengukuran tingkat kebocoran isolasi
jaringan line / fasa dengan netral, fasa dengan ground, dan fasa dengan
fasa karena kita menggunakan sumber 3 fasa. Sebelum melakukan
pengetesan terlebih dahulu dilakukan pemutusan hubungan komponen
elektronik dan pilot lamp dengan jaringan. Metode pengetesan bisa
dilakukan dengan tegangan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan. Batas
minimum insulasi yang bisa ditolerir untuk pengetesan dengan tegangan
500 VDC adalah 5 Mega Ohm .

Gambar 25. Bagian Bagian Megger


1. Output Jacks, M
Berguna untuk memeriksa isolasi. Kabel penidik merah masuk ke
jacks merah dan hitam masuk ke jacks hitam pula.
2. Input Jacks, ACV
Digunakan untuk pengukuran tegangan AC dan nilai tahanan.
3. Papan Skala
4. Indikator ON
5. ON M Saklar pilih untuk pengukuran tahanan tinggi.
OFF (ACV) Saklar pilih untuk tegangan AC.
Battery Check Untuk memeriksa tegangan baterai.
6. Saklar M Saklar M untuk pilihan mode uji isolasi.
Saklar ACV Untuk mode pengukuran tegangan AC.
7. Pengatur posisi jarum pada angka nol secara mekanik.
2.3.5.5 Phase Sequence Indicator
Phase Sequence Indicator digunakan untuk mengetahui urutan
fasa-fasa pada sumber 3 fasa maupun pada kotak-kontak 3 fasa. Untuk
mengetahui urutan fasa putar selector switch pada phase detect. Alat ini
juga dapat digunakan sebagai voltmeter dengan cara memutar selector
switch pada posisi voltage. Terdapat 3 probes berbeda warna di alat ini,
yaitu merah-putih-biru. Ketiga warna tersebut digunakan untuk masingmasing fasa R-S-T. Urutan fasa dapat dilihat pada putaran indicator. Jika

searah jarum jam makanya merah adalah fasa R, putih fasa S, dan biru fasa
T.

Gambar 26. Phase Sequence Indicator

2.4

Deskripsi

Proyek yang diberikan kali ini adalah tentang pemasangan Instalasi


Penerangan In Plester dengan supply 3 fasa, dimana didalamnya terdapat
pembagian group beban. Adapun gambar dan rangkaian panelnya terdapat pada
lampiran. Dari gambar, beban akan digolongkan menjadi 3 group.
Dari gambar rekapitulasi daya di atas didapat:

Fasa R akan menyuplai dua lampu (A dan B) yang dikendalikan oleh 1 buah
saklar seri.

Fasa S akan menyuplai 1 buah lampu yang dikendalikan oleh saklar tunggal.

Fasa T akan dihubungkan dengan kotak kontak biasa 3 fasa dan kotak
kontak biasa (KKB) 1 fasa, dan Masing-masing fasa, akan diamankan oleh
sebuah Fuse pada sub panel dan khusus pada fasa R akan ditambahkan
MBC 1 fasa untuk cadangan. Semua beban akan diamankan oleh 1 MCB 3
fasa.
Tahapan praktik dibagi dalam beberapa bagian yang akan dibahas secara

rinci pada sub berikutnya :

Persiapan
Persiapan meliputi pengerjaan deskripsi job, pembagian job, mengatur

schedule kerja, gambar / digram kerja, penyiapan lembar commissioning,


penyiapan dan pengecekan alat & bahan

Pelaksaan
Pelaksanaan meliputi wiring 1 (wiring instalasi in plaster), wiring 2 (wiring

sub-panel) dan wiring 3 (wiring APP 3 fasa).

Commissioning
Commissioning merupakan kegiatan pelaporan / pengecekan terhadap apa

yang telah dikerjakan sebelum dioperasikan secara menyeluruh. Commissioning


dibagi menjadi
a.

Commissioning tak bertegangan

b.

Commissioning bertegangan

c.

Commissioning berbeban

2.5

Pelaksana Proyek
Pembimbing :

1. Bapak Ruwahjoto
2. Bapak Hendro

Anggota :

1. Anggriawan Reza
2. Bonny T
3. Novan Iman
4. Siti Baeda

2.6

Waktu dan Tempat

Waktu praktikum : Semester 3 tahun ajaran 2012-2013

Tempat : Bengkel listrik 1, Gedung AK1.06 Politeknik Negeri Malang

2.7 Prosedur Pengerjaan

No

Uraian Job

Perlakuan
Suda Belu

2.5

1.
2.

Membuat deskripsi instalasi in-plester 3 fasa


Membagi beban masing-masing fasa (rekap

3.
4.

daya)
Mengecek jalur pipa kabel
Membuat gambar lay out, wiring, single

5.

line.
Mengetahui

6.

panjangnya dan pengaman yang digunakan


Menyiapkan peralatan dan komponen2 yang

7.
8.

dibutuhkan serta mengeceknya


Melakukan pengawatan dalam pipa
Memasang komponen sesuai diagram

9.

pengawatan
Wiring
Sub-Panel

10.

komponennya
Menentukan urutan fasa dengan phase

besar

penampang

dan

kabel,

memasang

sequence
11. Wiring APP 3 fasa
12. Cek kontinuitas
13. Cek tahanan isolasi dengan megger
14. Commsioning tak bertegangan
15. Commsioning bertegangan
16. Commsioning berbeban
17. Evaluasi dan pembongkaran
Alat dan Bahan

2.6. Diagram/ Gambar Kerja

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIK
3.1. Deskripsi Instalasi Yang Diminta

Rancangan desain instalasi penerangan tiga fasa ditentukan oleh papan


kerja yang telah disediakan pada dinding. Maka pemasangan instalasi harus
mengikuti perencanaan instalasi pada dinding tersebut (diagram lokasi).
Rancangan instalasi penerangan terdiri dari empat grup :
1. Fuse pertama digunakan untuk penghantar R yaitu mengamankan lampu A
dan B
2. Fuse kedua digunakan untuk penghantar S yaitu mengamankan lampu C
3. Fuse ketiga digunakan untuk penghantar T yaitu mengamankan dua kotak
kontak satu fasa
4. MCB tiga fasa digunakan untuk mengamankan satu kotak kontak tiga fasa
Perencanaan instalasi meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.

Diagram Lokasi
Diagram Single Line
Diagram Pengawatan
Rekapitulasi Daya
Bahan dan Alat yang digunakan

3.2 Tempat Praktik


Praktik instalasi penerangan tiga fasa dilaksanakan di Bengkel Listrik,
Kampus 2 Politeknik Negeri Malang, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 9,
Gedung AK 1.06 dengan kabin nomor 20.

3.3 Pelaksanaan Kerja


3.3.1 Langkah Kerja Praktikum
1. Membuat diagram lokasi instalasi penerangan.
2. Membuat diagram single line diagram instalasi penerangan.
3. Membuat diagram pengawatan instalasi penerangan tersebut untuk
memudahkan pengerjaan.
4. Membuat Rekapitulasi Daya yang akan digunakan.
5. Menyiapkan semua alat dan bahan yang digunakan.
6. Memeriksa kondisi alat dan bahan.

7. Mengukur kabel yang akan dipotong untuk dimasukkan ke pipa.


8. Memasukkan kabel ke dalam pipa dan melakukan penyambungan

1.
2.

sesuai rangkaian di diagram pengawatan.


Memasang komponen-komponen, antara lain :
- 1 saklar seri
- 2 saklar Tukar
- 1 kotak kontak 3 fasa
- 1 kotak kontak 1 fasa
- 3 fitting tender
Menyiapkan panel dan komponennya.
Memasang komponen-komponen panel, antara lain :
- 1 MCB 3 fasa
- 3 fuse
- Terminal
Melakukan wiring di dalam panel.
Melakukan check kontinuitas antara panel dengan titik beban dengan

3.
4.
5.
6.
7.

menggunakan multimeter.
Melakukan tes tahanan isolasi dengan menggunakan megger.
Melakukan wiring antara panel dengan instalasi luar.
Commisioning bertegangan.
Mendeteksi urutan fasa dengan phase sequence indicator.
Mengukur nilai tegangan sumber baik tegangan fasa maupun

9.

10.
11.

tegangan line.
8. Meminta persetujuan dari pengawas pekerjaan.
9. Melakukan commissioning berbeban dan bertegangan.
10. Mengukur arus yang mengalir.
3.3.2 Langkah Penyambungan Kabel
1. Kupas dahulu lapisan isolasi kabel-kabel yang akan disambung.
2. Gabungkan ujung-ujung kabel kemudian dipilin dengan menggunakan
tang kombinasi.
3. Melilit benang ke lilitan tembaga tadi.
4. Tutup dengan lasdop.
Sambungan hanya boleh diletakkan di kotak cabang. Keseluruhan sistem
terminasi atau penyambungan yang terdapat diatas hendaknya dilakukan
dengan benar dan kuat atau kencang. Apabila sistem terminasi tidak dilakukan
dengan benar, maka akan mengakibatkan terjadinya panas pada titik sambung
itu, karena bunga api yang ditimbulkan.Panas yang ditimbulkan oleh bunga
api pada satu titik sambungan adalah kehilangan daya atau watt pada suatu
instalasi listrik di tempat itu. Dan untuk menghindari hal itu hendaknya titik
sambung ditekan sekecil mungkin.

3.3.3 Langkah Commisioning


Langkah Commisioning merupakan langkah pengujian instalasi
apakah instalasi yang telah dikerjakan sudah sesuai standart apa tidak
khususnya mengenai keamanannya. Sehingga bila proses commissioning
tidak mengalami hambatan maka baru PLN bisa memberi supply tegangan
ke proyek instalasi yang dikerjakan.
Commisioning terdiri dari 3 tahap :
1. Commissioning tidak bertegangan.
2. Commissioning bertegangan tanpa beban.
3. Commissioning bertegangan dengan beban.
Commisioning tidak bertegangan terdiri dari :
1. Cek fisik semua peralatan yang terpasang.
2. Cek kontinuitas.
3. Cek tahanan isolasi.
Commisioning bertegangan tanpa beban terdiri dari :
1. Mengukur tegangan sumber
2. Mengukur tegangan di titik beban
3. Mendeteksi urutan fasa.
Sedangkan commissioning bertegangan dan berbeban hanya mengukur
setiap arus yang mengalir di semua penghantar dengan dibebani lampu
pijar.
3.3.3.1 Pemeriksaan visual meter
Pemerikasaan visual meter merupakan pemeriksaan kondisi fisik
masing-masing peralatan yang digunakan dalam instalasi. Hal ini
bertujuan untuk mengetahui kerusakan / cacat pada peralatan.
3.3.3.2 Langkah Tes Kontinuitas
1. Pastikan rangkaian yang akan diukur berada pada posisi OFF dan
tidak terhubung dengan sumber tegangan AC.
2. Setel selector switch multimeter pada posisi Ohmmeter
3. Masukkan kabel penyidik warna merah ke lubang jacks merah dan
kabel penyidik warna hitam ke lubang jacks hitam.
4. Hubungkan kabel penyidik warna hitam ke titik akhir rangkaian
misalnya di panel.
5. Sentuhkan kabel penyidik merah ke titik awal rangkaian misalnya di
fitting.

6. Isi check list blanko commissioning pada tabel 3 di lampiran.


Jika penghantar terhubung sempurna / tidak ada yang putus ditengah
rangkaian maka jarum multimeter akan bergerak menuju 0.
3.3.3.3 Pemeriksaan tahanan isolasi
Pemeriksaan tahanan isolasi dengan menggunakan megger bertujuan
untuk mengetahui berapa tahanan isolasi (dalam Mega Ohm) suatu
penghantar. Hal ini digunakan untuk mengetahui kebocoran isolasi
antarpenghantar.
Hal penting yang harus diperhatikan adalah pemeriksaan tahanan
isolasi dilakukan dalam keadaan tidak bertegangan
Langkah pemeriksaan :
1. Pastikan rangkaian yang akan diukur berada pada posisi OFF dan
tidak terhubung dengan sumber tegangan AC.
2. Setel saklar kiri pada posisi ON M dan saklar kanan pada posisi
M Power On indicator akan bekerja.
3. Masukkan kabel penyidik warna merah ke lubang jacks M merah
dan kabel penyidik warna hitam ke lubang jacks M hitam.
4. Hubungkan kabel penyidik warna hitam ke titik netral rangkaian.
5. Sentuhkan kabel penyidik merah bertegangan tinggi ke titik fasa
rangkaian. Hati-hati tersentuh ujung kabel merah karena dapat
tersengat listrik.
6. Bacalah hasil pengukuran pada papan skala. Terkadang hasil
pengukuran kurang memuaskan. Ini terjadi karena kontak antara ujung
kabel penyidik dengan titik yang akan diukur kurang sempurna.
Jika tidak terjadi kebocoran isolasi yang membungkus kabel, jarum akan
tetap menunjuk posisi tak terhingga (~). Jika terjadi kebocoran pada isolasi
kabel, jarum akan bergerak ke kanan dan sesuai standart minimal 5 M.
3.3.3.4 Langkah Mengukur Tegangan AC
1. Putar selector switch multimeter ke tegangan AC ( ACV ) dengan rating
sesuai dengan perkiraan tegangan yang terukur. Misal untuk rumah
biasanya 220 V maka rating yang dipilih cuma 250 V.

2. Pasangkan kedua ujung kabel ( com dan + dari multimeter ) ke kotakkontak yang akan diukur.

3. Baca tegangan yang terukur dengan membaca skala sesuai dengan


rating yang dipilih.

3.3.3.5 Pemeriksaan urutan fasa


Pemeriksaan urutan fasa menggunakan Phase Squence Indicator
dengan langkah sebagai berikut :
1. Putar selector switch ke posisi phase detect.
2. Hubungkan probes merah ke titik sumber yang dianggap sebagai R,
probes putih ke S dan probes biru ke T.
3. Memeriksa urutan fasa sumber.
4. Menyambung panel dengan sumber.
5. Memeriksa urutan fasa pada sisi beban dengan cara yang sama saat
memeriksa urutan fasa sumber namun diperiksa dititik input panel.
Bila urutan fasa pada sumber dan sisi beban sudah sama maka pemasangan
sudah benar.
Pemeriksaan urutan fasa terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Pemeriksaan urutan fasa tanpa beban
2. Pemeriksaan urutan fasa berbeban
3.3.3.6 Pemeriksaan Sirkit Arus untuk Fasa R,S,T menggunakan Tang
Ampere
1. Pasang tang ampere pada salah satu kabel sumber atau supply
peralatan yang sedang terpasang dengan cara dicantolkan
2. Atur selector switch tang ampere dari posisi off ke posisi 200 agar
arusnya dapat diketahui secara jelas.
3. Maka nilai atau besarnya arus akan terlihat dimonitor tang ampere
4. Geser tombol ke Hold untuk mengunci nilai yang terukur. Itulah
besarnya arus listrik yang sedang mengalir pada alat listrik tersebut.

BAB IV

PROSES INPLASTER
4.1. In plaster dalam Tembok
4.1.2. Pemasangan dalam tembok

-. Peralatan yang dibutuhkan :


1. Palu Godam berat 2kg
2. Obeng plus dan minus
3. Tang kombinasi
4. Pahat runcing dan Pahat tumpul
5. Gergaji besi
6. Paku 4cm
7. Meteran
8. Tangga lipat
9. Cetok
10. Penggaris
11. Kapur
12. Penarik kabel

-. Bahan yang dibutuhkan :


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pipa besi
Klem besi
Jaring-jaring besi
Pasir dan semen
In bow dos
Kabel

-. Langkah Kerja
a. Melakukan pengukuran pada tembok dengan penggaris
b. Membuat sketsa pada tembok sesuai dengan diagram lokasi
c. Pahat tembok sesuai dengan garis sketsa yang telah dibuat dan ukuran
pipa sesuai kebutuhan, lalu pahatlah kearah luar tembok agar serpihan
pahatan tidak mencederai kita dan membuat hasil pahatan lebih rapi
karena sesuai dengan sketsa yang dibuat. Setelah itu barulah kita dapat
memahat dari segala sisi sesuai dengan kebutuhan
d. Pahat yang pertama digunakan adalah pahat runcing yaitu untuk
membuat jalan pipa. Pemahatannya dilakukan dengan posisi yang tegak
dan badan lurus dengan jalur pipa yang kita buat
e. Setelah itu gunakan pahat tumpul untuk meratakan dari pahatan runcing
tadi
f. Memasang pipa pada tembok yang telah di bobok, masukkan ujung
pipa bagian bawah ke lubang in bow dos sedangkan ujung pipa bagian
atas sejajar dengan ujung dinding
g. Kemudian pasang jaring-jaring besi pada pipa agar semen dapat
menempel pada pipa

h. Untuk memperkuat pipa yang berjaring-jaring pasanglah dengan klem


besi atau bisa juga dengan memasang paku di sisi kiri dan kanan pipa
dengan jarak antar klem 50cm. Untuk mencegah plesteran masuk ke in
bow dos tutuplah/sumpal tedus dengan plastik atau kertas yang
diremas-remas
i. Tutup tembok yang telah dipasangi pipa dan In Bow dos dengan
plasteran (campuran semen dan pasir)

j. Masukkan kabel yang dibutuhkan ke dalam pipa dan tarik


menggunakan penarik kabel
k. Memasang komponen-komponen sesuai dengan penempatan pada
diagram lokasi

4.1.2. Pemasangan pada bagian atas

-. Peralatan yang dibutuhkan :


1. Tangga
2. Las Listrik
3. Tang
4. Kunci Inggris
5. Gergaji Besi
6. Meteran

-. Bahan yang dibutuhkan :


1. Pipa Besi
2. Rangka Baja
3. Kotak Sambung Baja

-. Langkah Kerja
a. Menyiapkan alat dan bahan
b. Mengukur panjang pipa sesuai dengan kebutuhan

c. Menempatkan pipa dengan menggunakan tangga portable, posisi tangga


dalam keadaan berikut ini:

Kemiringan 75 derajat atau dengan rasio 4:1 lebihkan 1 meter


dari bagian tegak untuk setiap 4 meter panjang penopang.

Panjang ujung tangga paling sedikit 1 meter melebihi titik pijakan


khususnya bila menuju ke landasan kerja atau pijakan, sehingga
anda bisa memelihara berpegangan saat melangkah kedalam atau
keluar dari tangga;

Batang kaki tangga harus berada pada permukaan yang kokoh dan
rata; dan

Puncak tangga harus diikat agar tangga tersebut tidak bergerak.

d. Persyaratan penggunaan tangga:

Hanya satu orang yang boleh berada di tangga. Hal ini untuk
mencegah

seseorang

jatuh

menimpa

anda

dan

mencegah

berlebihnya muatan tangga- batas kapasitas tangga industrial hanya


sekitar 120 kilogram

Selalu menghadap tangga saat naik;

Selalu menghadap tangga saat turun;

Gunakan kedua tangan anda saat naik tangga;

Selalu menjaga kontak tiga titik dengan tangga- dua tangan dan
satu kaki, atau dua kaki dan satu tangan

Gunakan semua anak tangga, jangan melangkahi anak tangga atau


melangkahi dua anak tangga;

Melangkah masuk dan keluar tangga jangan melompat ;

Selalu menjaga tubuh anda berada di tengah antara batang tangga;

Jangan menjangkau lebih dari panjang lengan anda dari tangga


jika anda tidak dapat menjangkaunya, rubah posisi tangga;

Gunakan tali pengerek untuk mengangkut peralatan anda ke lantai


kerja anda- jangan mencoba dan melakukannya saat anda sedang
menaiki tangga; dan

Jika terdapat resiko terglincir di tangga, minta bantuan orang lain


untuk menahan bagian bawah tangga saat anda menggunakannya.

e. Menempatkan pipa sesuai dengan diagram lokasi kemudian pipa di las


pada titik pertemuan antara rangka baja dan pipa

f.

Menempatkan kotak sambung baja sesuai dengan diagram lokasi,


kemudian di las pada pipa

g.

Memasang kabel sesuai dengan diagram pengawatan

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
Dari penjelasan laporan bengkel semester 3 di atas dapat di tarik kesimpulan

bahwa di dalam pemasangan instalasi listrik dapat di lakukan di dalam dinding


yang biasa di sebut instalasi in plaster, yang di bahas pada laporan ini. Dan
pemasangannya juga harus benar-benar di perhatikan. Ada beberapa tahap di
dalam pemasangan instalasi ini, di antaranya:

Perencanaan, sebelum melakukan pemasangan instalasi in plaster peletakanpeletakan pipa maupun komponen listrik harus benar-benar di perhatikan.

Pengerjaan, di dalam instalasi in plaster dalam pengerjaan harus extra teliti


dan hati-hati di dalam pemasagan pipa,penarikan kabel, dan juga pemasagan
komponen namun juga harus memperhitungkan waktu.

5.2

Kritik dan Saran


Dalam melakukan pekerjaan ini dibutuhkan kejujuran dan tanggung jawab

yang tinggi karena apabila terjadi kesalahan akan berakibat fatal pada mahasiswa
dan peralatan. Maka dari itu diusahakan dosen pembimbing menjaga di saat
mahasiswa sedang melaksanakan kegiatan praktek dan diusahakan agar
membimbing, jika mahasiswa menghadapi masalah dalam kegiatan praktek dapat
di tangani secara langsung. Dan menyediakan kotak P3K di dalam ruang bengkel
untuk mengantisipasi kalau ada kecelakaan kerja yang terjadi pada setiap
mahasiswa.

TUGAS BENGKEL LISTRIK III


CARA PEMASANGAN INSTALASI
IN PLASTER
Disusun Oleh :
1.
2.
3.
4.

Anggriawan Reza
Bonny A T
Novan Iman A
Siti Baeda

( 04 )
( 05 )
( 16 )
( 20 )

KELAS D3 TL 2A

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG

2013