Anda di halaman 1dari 10

TUGAS ANALISIS BATUAN

Untuk memenuhi matakuliah Analisis Batuan


STRUKTUR DAN TESKTUR BATUAN METAMORF UNTUK MENENTUKAN
LINGKUNGAN PEMBENTUKAN

OLEH:

MARIA MARLEIN WARONG


270110140031
Kelas G
maria.23mawa@gmail.com

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
JATINANGOR
2016
STRUKTUR DAN TESKTUR BATUAN METAMORF UNTUK MENENTUKAN
LINGKUNGAN PEMBENTUKAN
STRUKTUR DAN TESKTUR BATUAN METAMORF UNTUK MENENTUKAN
LINGKUNGAN PEMBENTUKAN

MARIA MARLEIN WARONG


270110140031
Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran Bandung
maria.23mawar@gmail.com
I. ABSTRAK
Batuan yang terjadi karena adanya proses ubahan batuan asal (batuan beku, sediment maupun
metamorf) oleh proses metamorfisme. Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk akibat
proses perubahan tekanan (P), temperatur (T) atau keduanya di mana batuan memasuki
kesetimbangan baru tanpa adanya perubahan komposisi kimia (isokimia) dan tanpa melalui
fasa cair (dalam keadaan padat), dengan temperatur berkisar antara 200-800 derajat C. Proses
metamorfosa membentuk batuan yang sama sekali berbeda dengan batuan asalnya, baik
tekstur dan struktur maupun asosiasi mineral. Perubahan tekanan (P), temperatur (T) atau
keduanya akan mengubah mineral dan hubungan antar butiran/kristalnya bila batas
kestabilannya terlampaui. Selain faktor tekanan dan temperatur, pembentukan batuan
metamorf juga tergantung pada jenis batuan asalnya. Struktur merupakan bentuk dari
handspecimen atau masa batuan yang lebih besar. Struktur Adalah kenampakan batuan yang
berdasarkan ukuran, bentuk atau orientasi unit poligranular batuan tersebut. (Jacson, 1997).
Secara umum struktur batuan metamorf dapat dibadakan menjadi struktur foliasi dan
nonfoliasi.
Kata Kunci: Batuan Metamorf, Tekstur, Struktur, Metamorfisme, Metasomatisme
dantekanan menyebabkan terjadinya
II. PENDAHULUAN
perubahan
komposisi
mineral
- LATAR BELAKANG
penyusun
batuan,perubahan struktur, serta perubahan
Batuan metamorfosa juga disebut sebagai
tekstur.
batuan malihan, demikian pula dengan
Namun, perubahan komposisi kimiatidak
prosesnya, proses malihan. Proses
menyertai proses metamorfosis.Ada tiga je
metamorfisme atau malihan merupakan
nis proses metamorfosis. Yang pertama ad
perubahan himpunan mineral dan tekstur
alah metamorfosis kontak ataumetamorfosi
batuan, namun dibedakan dengan proses
s termal, yaitu metamorfosis yang disebab
diagenesa dan proses pelapukan yang juga
kan oleh perubahan suhu yangsangat
merupakan
proses
dimana
terjadi
tinggi. Yang
kedua,
metamorfosis
perubahan.
Proses
metamorfosa
regional,
metamorphosis
berlangsung akibat perubahan suhu dan
inidisebabkanperubahan tekanan dan temp
tekanan yang tinggi, diatas 2000C dan 300
eratur secara bersamaan, metamorfo-sis di
Mpa (mega pascal), dan dalam keadaan
namik mencakupdaerah yang luas. Yang te
padat. Sedangkan proses diagenesa
rakhir, metamorfosis dinamik, proses peru
berlangsung pada suhu dibawah 2000 C
bahan ini terjadipada kawasan tektonik, ya
dan proses pelapukan pada suhu dan
itu pada daerah sesar.
tekanan normal, jauh dibawahnya, dalam
- TUJUAN
lingkungan atmosfir.
Tekanan dan suhu pada kerak bumi menga
Untuk memahami keterkaitan struktur dan
kibatkan terjadinya metamorfosis padabatu
tekstur
batuan
Metamorf
dengan
an-batuan yang ada di kerak bumi. Batuanlingkungan pembentukannya.
batuan tersebut meliputi batuan bekudan
Untuk Memenuhi tugas Matakuliah
batuan sedimen. Metamorfosis pada
Analisis Batuan oleh Dosen Ibu Aton.
batuan yang disebabkan oleh suhu
- METODE

Metode yang digunakan dalam paper ini


menggunakan metode sekunder dimana
berdasarkan literatur yang telah ada.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Struktur dan Tekstur Batuan
Metamorf
Pada
umumnya
metamorfisme
berlangsung dibawah differential stress
dan hasilnya adalah tekstur yang sejajar.
Apabila prosesnya terus berlangsung,
mineral-mineral pipih misalnya mika dan
khlorit mulai berkembang dan tumbuh
berorientasi, yang lembaran-lembarannya
berarah tegak lurus stress maksimum.
Lembaran-lembaran mika baru yang
sejajar ini membentuk tekstur planar yang
disebut foliasi (foliation), berasal kata
folium (bahasa Latin) yang berarti daun.
Batuan yang berfoliasi cenderung mudah
pecah sebagai lembaran.
Strukur Adalah kenampakan batuan yang
berdasarkan ukuran, bentuk atau orientasi
unit poligranular batuan tersebut. (Jacson,
1997). Secara umum struktur batuan
metamorf dapat dibadakan menjadi
struktur foliasi dan nonfoliasi (Jacson,
1997).

1) Tekstur
foliasi,
yaitu
adanya
kesejajaran orientasi mineral yang
memperlihatkan adanya perlapisan dan
kenampakan kelurusan.

Tekstur slaty, butirannya sangat halus (<


0,1 mm), kelurusan pada orientasi
planardan
subplanar,
pecahannya
berlembar. Contoh batuannya adalah slate.

Tekstur phylitic, berbutir sangat halus


sampai halus (kurang dari 0,5 mm), contoh
batuannya adalah phylite.

Tekstur schistose, berbutir halus sampai


sangat kasar (>1 mm), contoh batuannya
adalah schist.

2). Tekstur Non Foliasi, yaitu yang tidak


memperlihatkan adanya penjajaran mineral
penyusun batuan metamorf.
Tekstur gneissose, berbutir halus sampai
sangat kasar, memperlihatkan perlapisan
karena adanya perbedaan mineralogi.

Marble
Quartzite
Greenstone
Anthracite
Amfibolite

DARI
BATUGAMPING
DAN
BATUPASIR
Hasil metamorfose dari batugamping
(limestone) dan batupasir (sandstone)
adalah marmer (marble) dan kuarsit

(quartzite). Baik batugamping maupun


batupasir kuarsa (jika murni), mengandung
bahan yang dapat membentuk lembaran
atau mineral berstruktur rantai. Akibatnya
marmer
dan
kuarsit
kurang
memperlihatkan foliasi.
MARMER (MARBLE)
Marmer terdiri dari butir-butir kalsit,
berbutir kasar, kristalin dan saling
mengunci. Saat rekristalisasi batugamping,
bidang perlapisan, fossil dan segala ciri
batuan sedimen sebagian besar hilang.
Hasil akhirnya adalah batuan berbesar
butir seragam, dengan tekstur tersendiri,
seperti gula. Marmer murni, seluruhnya
terdiri dari kalsit, berwarna putih bersih.
Pengotoran pada marmer oleh bahan
organik, pirit, limonit dan sedikit silikat
membuat marmer berwarna.

Merupakan batuan Metamorf non


foliasi yang didominasi mineral Klorit.

Adalah batuan halus metamof nin


foliasi tanpa komposisi tertentu.
Hornfells
ini
dihasilkan
dari
metamorfisme kontak.

KUARSIT (QUARTZITE)

Kuarsit terjadi dari batupasir yang ronggarongga antar butir aslinya terisi silika dan
rekristalisasi massa seluruhnya. Kadangkadang masih terlihat samar-samar
gambaran butiran-butiran sedimen dahulu,
namun bagaimanapun juga rekristalisasi
telah mengubah seluruh struktur butiran
semula.

Hornfells

Antrhacite

Anthracite dalah batu metamorf yang keras


dan tersusun dari Mineral batubara.
Memiliki kandungan karbon yang sangat
tinggu dan dapat terbakar jika dipanaskan.

Amphibolite

Tebentuk dari rekristalisasi akibat tekanan


yang tinggi. Tersusun dari mineral
Amphibole, Plagioklas, dan sedikit kuarsa.

Greenstone

Gambar 3.5

Metamorfisme regional terjadi pada batas


subduksi lempeng, seperti terlihat pada
gambar 3.6.
Metamorfisme
timbunan
(burial
metamorphisml) terjadi pada bagian bawah
tumpukan
tebal
sedimen
yang
terakumulasi
pada
paparan
benua
(continental shelf) dan lereng benua
(continental slope).
Suhu dan tekanan karakteristik untuk
fasies metamorfosis sekis biru dan eklogit
B. Lingkungan
keterbentukan
tercapai saat batuan kerak tertarik kebawah
Batuan Metamorf
dengan cepat oleh lempeng yang
- ZONA METAMORFISME
menunjam. Pada kondisi demikian tekanan
naik lebih cepat dibandingkan dengan suhu
Derajat metamorfisme dicirikan oleh
dan hasilnya adalah batuan metamorf
himpunan mineral baru yang tumbuh pada
tekanan tinggi - suhu rendah, fasies
kondisi tertentu (derajat rendah, menengah
metamorf sekis biru dan eklogit. Kondisi
dan tinggi). Mineral-mineral tersebut
karakteristik fasies metamorf sekis hijau
dinamakan mineral indeks, umumnya
dan amfibolit terdapat dimana kerak
adalah klorit, biotit, garnet, staurolit,
menebal akibat tumbukan benua atau
kyanit,dan
silimanit.
Tempat-tempat
pemanasan oleh magma yang naik.
pemunculan pertama mineral indeks diplot
Tumbukan benua umumnya merupakan
pada peta.
penyebab metamorfisme regional dan
aktivitas magma.
Magma yang menghasilkan gunung api
strato terjadi oleh peleburan parsial basah
kerak samudra yang menunjam. Magma
juga merupakan sumber panas untuk
larutan hidrotermal yang menghasilkan
endapan bijih.
Adanya sumber-daya mineral di bumi,
adalah berkat kombinasi proses-proses
magmatik,
metamorfisme,
dan
metasomatik, yang semuanya terjadi akibat
bal. Pada bagian bawah massa yang menebal terjadi metamorfose regional. (Skinner, 1992)
tetonik lempeng.
Garis yang menghubungkan lokasi-lokasi
di awal pemunculan mineral indeks yang
sama dinamakan garis-isograd. Konsep
isograd
banyak
digunakan
dalam
mempelajari
semua
jenis
batuan
metamorfosa. Dan daerah diantara garis
isograd dalam peta dinamakan zona
metamorfisme, misalnya zona-biotit dan
sebagainya.

Gambar 3.7

metamorfisme sekis- biru


dan eklogit. Gradient
geotermal C pada Gambar 3.6. (3) Zona metamorfisme sekis hijau dan am
TEKTONIK
LEMPENG,

METAMORFISME
METASOMATISME

DAN

FASIES METAMORFISME

Hasil pengamatan batuan metamorf


diberbagai tempat di bumi memperlihatkan
bahwa komposisi kimia batuan metamorf
hanya sedikit terubah oleh proses
metamorfisme. Perubahan utama yang
terjadi
adalah
bertambah
atau
berkurangnya volatile, H2O dan CO2,
tetapi bahan utamanya, seperti SiO2, Al2O3
dan CaO tidak berubah. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa himpunan mineral
batuan metamorf dari batuan sedimen atau
batuan beku ditentukan oleh suhu dan
tekanan saat metamorfisme berlangsung.
Berdasarkan kesimpulan ini, Pennti Eskola
dari Finlandia (1915), mengusulkan
konsep fasies metamorfisme. Yang
intinya menyatakan bahwa dari komposisi
batuan tertentu, himpunan mineral yang
mencapai
keseimbangan
selama
metamorfisme dibawah kisaran kondisi
fisik tertentu, termasuk dalam fasies
metamorfisme yang sama.
Prinsip fasies metamorfisme, bersamaan
dengan gradient geotermal dan kondisi
geologi diperlihatkan dalam gambar 3.6.
-

METASOMATISME

Proses metamorfisme berkaitan dengan


komposisi tetap dan sejumlah cairan yang
relatif sedikit.
Sedikitnya cairan disebabkan volume poripori batuan yang termetamorf kecil, dan
pelepasan H2O dan CO2 dari mineralmineral yang termetamof berlangsung
lambat dibandingkan keluar dengan
segera. Oleh karena itu hanya cukup untuk
proses metamorf, dan tidak cukup untuk
melarutkan dan mengubah komposisi
batuan.
Pada kondisi tertentu perbandingan air dan
batuan dapat besar, 10 : 1 bahkan sampai
100 : 1, misalnya mengalirnya cairan yang
banyak melalui rekahan terbuka pada
batuan. Batuannya dapat terubah (altered)
secara drastis oleh penambahan ion-ion
baru, melarutkan batuan atau keduaduanya.
Proses dimana komposisi kimia batuan
terubah oleh penambahan atau pelepasan

(removal)
ion-ion
dinamakan
metasomatisme (meta berarti berubah dan
soma, dari bahasa Latin yang berarti
juice).
Biasanya
metasomatisme
berasosiasi dengan metamorfose kontak,
terutama dengan batu gamping, gambar
3.4.
Cairan
metasomatisme
yang
dilepaskan magma yang mendingin,
menembus batuan yang termetamorf.
Karena boleh jadi cairannya membawa
bahan-bahan seperti silika, besi, dan
magnesium dalam larutan, komposisi batu
gamping yang dekat dengan magma yang
mendingin dapat terubah dengan drastis,
dan yang diluar jangkauan cairan tidak
terubah. Tanpa adanya penambahan
material, batu gamping menjadi marmer,
tetapi akibat metasomatisme berubah
menjadi himpunan garnet, pyroksen hijau,
dinamakan diopsit dan kalsit.
- JENIS METAMORFISME
Berdasarkan
kenampakan
hasil
metamorfisme pada batuan, prosesnya
dapat dikelompokkan menjadi deformasi
mekanik (mechanical deformation) dan
rekristalisasi
kimia
(chemical
recrystalisation). Deformasi mekanik
menghancurkan,
menggerus
dan
membentuk foliasi. Rekristalisasi kimia,
merupakan proses perubahan komposisi
mineral serta pembentuk-an mineralmineral baru, dimana H2O dan CO2
terlepas akibat kenaikan suhu. Perbedaan
jenis
metamorfime
mencerminkan
perbeda-an tingkat atau derajat kedua
proses itu.
1 METAMORFISME KATAKLASTIK
(Cataclastic Metamorphism)
Kadang-kadang deformasi mekanik pada
meta-morfisme dapat berlangsung tanpa
disertai rekristalisasi kimia. Meskipun hal
ini jarang terjadi namun apabila terjadi,
sifatnya hanya setempat-setempat saja.
Misalnya batuan berbutir kasar, granit, jika
mengalami deferensial stress yang kuat,
butiran mineralnya hancur dan juga
menjadi halus. Deformasi ini terjadi pada
batuan yang bersifat regas (britle) dan

Gambar 3.4

dinamakan metamorfisme kataklastik.


cairan yang melaluinya serta suhu dan
Apabila metamofisme berlanjut maka
tekanan.
butiran dan fragmen batuan akan menjadi
lonjong (elongated), dan berkembanglah
3.4.3 METAMORFISME TIMBUNAN
foliasi.
(Burial Metamorphism)
.2 METAMORFISME KONTAK (Contact
Sedimen bersama perselingan piroklastik
Metamorphism)
yang tertimbun sangat dalam pada
Metamorfisme kontak terjadi akibat intrusi
cekungan dapat mencapai suhu 3000 atau
tubuh magma panas pada batuan yang
lebih. Adanya H2O yang terperangkap
dingin dalam kerak bumi. Akibat kenaikan
dalam pori-pori sedimen mempercepat
suhu, maka rekristalisasi kimia memegang
proses rekristalisasi kimia dan membantu
peran utama. Sedangkan deformasi
pembentuk-an mineral-mineral baru. Oleh
mekanik sangat kecil, bahkan tidak ada,
karena sedimen yang mengandung air
karena stress disekitar magma relatif
lebih bersifat cair dari pada padat, maka
homogen. Batuan yang terkena intrusi
tegasan (stress) yang bekerja lebih bersifat
mengalami
pemanasan
dan
homogen, bukan deferensial. Akibatnya
termetamorfosa, membentuk satu lapisan
pada metamorfisme timbunan pengaruh
disekitar terobosan yang dinamakan
deformasi mekanik kecil sekali sehingga
aureole metamorphic, batuan ubahan.
teksturnya mirip dengan batuan asalnya,
Tebal lapisan batuan ubahan pada
meskipun himpunan mineralnya sama
metamorfisme kontak tergantung pada
sekali berbeda.
besarnya tubuh intrusi dan kandungan H2O
didalam batuan yang diterobos. Misalnya
pada korok atau sill lapisannya hanya
beberapa meter, tetapi tanpa H2O hanya
beberapa centimeter lebarnya. Batuan
metamorf kontak yang terjadi, keras terdiri
dari mineral berbutir seragam dan halus
yang saling mengunci (interlocking),
dinamakan Hornfels. Pada terobosan besar,
bergaris tengah sampai ribuan meter
tuk satu seri kulit
konsentris
dalam
aureole,
dengan himpunan mineral yang khas. Lanau diantara lapis
mempunyai
energi
panas
jauh masing-masing
lebih besar
Ciri khas untuk metamorfisme ini adalah
dari pada terobosan kecil, dan dapat
kelompok mineral zeolit, yang merupakan
mengandung banyak uap H2O. Aureol
kelompok mineral berstruktur kristal
yang terbentuk dapat sampai ratusan meter
polymer silikat. Komposisi kimianya sama
lebarnya dan berbutir kasar. Didalam
dengan kelompok felspar, yang juga
aureol metamorf lebar ini yang telah
mengandung
H2O.
Metamorfisme
dilalui cairan, terjadi zonasi himpunan
timbunan merupakan tahap pertama
mineral yang konentris. Zona himpunan
setelah diagenesa, terjadi pada cekungan
mineral ini mencirikan kisaran suhu
sedimen yang dalam, seperti palungtertentu. Dekat dengan terobosan, dimana
palung pada batas lempeng. Apabila suhu
suhu sangat tinggi, dijumpai mineraldan tekanan naik, maka metamorfisme
mineral anhidrous, garnet dan piroksen.
timbunan
meningkat
menjadi
Kemudian
dijumpai
mineral-mineral
metamorfisme regioanal.
hidrous seperti amfibol dan epidot.
4 METAMORFISME REGIONAL
Selanjutnya mika dan klorit, gambar 3.4.
Batuan metamorf yang umum dijumpai
Zonasi
himpunan-himpunan
mineral
pada kerak benua dengan penyebaran yang
tersebut tekstunya tergantung pada
sangat luas, sampai puluhan ribu kilometer
komposisi kimia batuan yang diterobos,
persegi,
dibentuk
oleh
proses

Gambar 3.6

metamorfisme
regional.
Pada
tekanan lebih besar dibandingkan dengan
metamorfisme ini melibatkan juga
suhu.
deformasi mekanik selain rekristalisasi
Berdasarkan kecepatan penimbunan, dari
kimia. Oleh karena itu batuannya
batuan yang sama, dapat terjadi dua batuan
memperlihatkan adanya foliasi.
metamorf yang berbeda, karena perbedaan
Batuan metamorf regional pada umumnya
suhu dan tekanan yang mempengaruhinya.
dijumpai pada deretan pegunungan atau
yang sudah tererosi, berupa batu sabak
LARUTAN HIDROTERMAL
(slate), filit, sekis dan gneiss. Deretan
DAN CEBAKAN MINERAL
pegunungan dengan batuan metamof
Cairan yang menyebabkan metasomatisme
regional terbentuk akibat subduksi atau
kaya akan H2O dan bersuhu 2500 C atau
tumbukan (collision) kerak benua. Pada
lebih dinamakan larutan hidrotermal (dari
saat tumbukan benua, batuan sedimen
bahasa Yunani, hidro- air dan termal sepanjang batas lempeng mengalami
panas). Larutan hidrotermal membentuk
diferensial stress yang intensif.Dan
urat-urat (veins) dengan mengendapkan
mengakibatkan berkembangnya foliasi
bahan yang terlarut seperti kwarsa atau
yang khas pada batusabak, sekis, dan
kalsit dalam rekahan-rekahan.
gneiss. Sekis hijau dan amfibolit juga
Selain itu dapat juga menghasilkan ubahan
merupakan hasil metamorfisme regional,
pada batuan yang dialirinya. Larutan
umumnya dijumpai dimana segmen kerak
hidrotermal mempunyai peranan penting
samudra purba yang berkomposisi basaltis
dalam pembentukan cebakan mineral
bersatu dengan kerak benua dan kemudian
berharga., dengan membentuk urat-urat
termetamorfosa.
Gambar
3.5
dan alterasi batuan. Cebakan mineral
memperlihatkan bagaimana terjadinya
berharga hasil larutan hidrotermal lebih
metamorfisme regional.
banyak dijumpai dari pada tipe lainnya.
Saat satu segmen kerak mengalami stress,
Komposisi utama larutan hidrotermal
kompresi horizontal, batuan dalam kerak
adalah air.
terlipat dan melenglung (buckling).
Akibatnya kerak akan menebal pada satu
tempat, seperti diperlihatkan pada gambar
3.5. Dasar kerak yang menebal akan
terdorong lebih kedalam selubung.
Akibatnya bagian dasar kerak tersebut
mengalami peningkatan suhu dan tekanan,
dan mineral-mineral baru mulai tumbuh.
Aliran panas dari dasar keatas sangat
lambat karena batuan bukan penghantar
panas yang baik. Pencapaian panas sangat
bergantung pada kedalaman dan waktu
batuan yang terbenam dalam timbunan
ontak. Kurva B adalah gradient geotermal normal unutk benua. Kurva C adalah gradient geotermal yang berkembang d
yang menebal. Bila perlipatan dan
penebalan berlangsung sangat lambat,
Dalam airnya selalu mengandung garampemanasan timbunan sesuai dengan suhu
garam, sodium khlorida, potasium
pada bagian batas mantel dan kerak
khlorida, kalsium sulfat, dan kalsium
(gradient geotermal benua). Sedangkan
khloride. Kadar garam terlarut bervariasi,
jika penimbunan berlangsung sangat cepat,
berkisar dari salinitas air laut, 3.5 persen
seperti halnya pada daerah subduksi,
berat, sampai puluhan kalinya. Larutan
sedimen tertarik dan terseret kebawah ,
yang sangat asin (barin) dapat
timbunan
sedimen
tidak
sempat
melarutkan sedikit mineral-mineral yang
mengalami pemanasan, sehingga peran

tampaknya tidak larut, seperti emas,


khalkopyrit, galena dan sfalerit.
Larutan
hidrotermal
terjadi
dalam
beberapa cara. Salah satunya adalah saat
magma yang terjadi oleh peleburan parsial
basah yang mendingin dan mengkristal, air
yang menyebabkan peleburan parsial
basah dilepaskan. Namun tidak sebagai air
murni, tapi mengandung semua unsur yang
dapat larut yang terdapat dalam magma,
seperti NaCl, dan unsur-unsur kimia,
emas, perak, tembaga, timbal, zinc,
merkuri dan molybdinum, yang tidak
terikat kwarsa, feldspar, dan mineral lain
dengan substitusi ion.
Suhu yang tinggi meningkatkan efektivitas
larutan sangat asin ini untuk membentuk
endapan mineral hidrotermal. Volkanisme
dan panas merupakan satu kesatuan. Oleh
karena itu wajar bila banyak endapan
mineral berasosiasi dengan batuan
volkanik panas yang dimasuki air yang
bersirkulasi di kedalaman, yang berasal
dari air hujan atau air laut. Banyak sekali
endapan mineral dijumpai pada bagian atas
tumpukan volkanik, yang diendapkan saat
larutan hidrotermal yang bergerak naik,
mendingin dan mengendapkan mineral
bijih.
IV. SIMPULAN
1. Struktur merupakan bentuk dari
handspecimen atau masa batuan yang
lebih besar. Struktur dibedakand ari
teksture berdasarkan skalanya diman
teksture merupakan bentuk mikroskopis

yang sidudun oleh ukuran, bentuk,


orientasi, dan hubungan butirnya. Pada
batuan metamorf struktur terjadi karena
proses deformasi.
2. Tekstur batuan metamorf yang
dicirikan dengan tekstur batuan asal
sudah tidak kelihatan lagi atau
memperlihatkan kenampakan yang sama
sekali baru, Tekstur yang berkembang
selama proses metamorfisme secara
tipikal penamaanya mengikuti kata-kata
yang mempunyai akhiran -blastik.
Contohnya, batuan metamorf yang
berkomposisi kristal-kristal berukuran
seragam disebut dengan granoblastik.
Secara umum satu atau lebih mineral
yang hadir berbeda lebih besar dari ratarata; kristal yang lebih besar tersebut
dinamakan porphiroblast.
V. REFERENSI
Deer, W.A., R.A. Howie & J.
Zussman, 1966. An Introduction to the
rock
forming
minerals.
Longman,
England: 1-528.
Miyashiro,
A.,
1973.
Metamorphism and Metamorphic Belts.
Allen and Unwin.
Winkler,
H.G.F.,
1974,
Petrogenensis of Meramorphic Rock, New
York; Springer Verlag New York Inc. Hal.
278-319.
http://www.geosci.ipfw.edu/PhysSys/Unit_
4/metam.html