Anda di halaman 1dari 4

Laporan Kasus

HERNIA DIAFRAGMATIKA KONGENITAL

Disusun oleh:
Annisa Ul Hasanah
1508434464

Pembimbing:
dr. NAZARDI OYONG, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RSUD ARIFIN ACHMAD PROVINSI RIAU
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kelainan bawaan atau kongenital adalah kelainan yang didapatkan bayi dari

dalam kandungan dan dapat disebabkan oleh faktor genetik dan non genetik.
Kelainan kongenital merupakan masalah global yang sering dihadapi oleh negara
berkembang.1,2
Hernia diafragmatika adalah masuknya organ-organ abdomen ke dalam
rongga dada melalui sebuah defek pada diafragma. 3 Hernia diafragmatika merupakan
salah satu kelainan kongenital yang cukup sering terjadi pada bayi baru lahir dengan
insiden 1 per 2000 kelahiran hidup dan sekitar 8% dari seluruh kelainan kongenital.
Sekitar 85% sampai 90% kasus, hernia terletak di sisi kiri dan lengkung usus,
lambung, limpa dan sebagian hati dapat masuk ke dalam rongga thorak. 4,5
Angka kematian sulit diketahui karena penyebab kematian sering tidak
diketahui sebelum neonatus dibawa ke fasilitas kesehatan, namun diperkirakan sekitar
40-62% angka kematian yang juga dipengaruhi oleh timbulnya keadaan lain pada
neonatus seperti prematuritas, berat bayi lahir rendah dan adanya early
pneumothorax.6
Secara umum hernia diafragmatika dibagi menjadi tiga, yaitu hernia
bochdalek, hernia morgagni dan hiatus hernia. Hernia bochdalek disebabkan oleh
kegagalan penutupan membran pleuroperitoneal kiri. Hernia morgagni disebabkan
oleh otot rusuk dan sternal yang gagal untuk bersatu dan hiatus hernia adalah
masuknya esofagus abdominal dan cardia gaster ke dalam rongga dada melalui
pelebaran di hiatus esofagus. Menurut prevalensi dari ketiga jenis hernia
diafragmatika angka kejadian hernia bochdalek adalah yang paling sering terjadi pada
setiap kelahiran hidup. Sedangkan pada hernia morgagni biasanya asimtomatik. 3,7
Terapi yang dilakukan pada hernia diafgragmatika adalah pembedahan darurat
terutama apabila ditemukan insufisiensi jantung-paru pada neonatus.

Hernia

diafragma kongenital (HDK) yang bertahan setelah koreksi bedah memiliki masalah
pada pernapasan yang diakibatkan oleh hipoplasia paru akibat desakan organ viseral
sebelumnya. Pasien dengan HDK yang setelah dilakukan koreksi bedah dapat
mengalami gangguan, yaitu gangguan pertumbuhan, gangguan makan, gagal tumbuh,
keterlambatan neurokognitif, gangguan pendengaran, gangguan tingkah laku pada
masa kanak-kanak dan remaja karena efek dari penggunaan terapi seperti terapi
extracorporeal membrane oxygenation (ECMO).9 Dilaporkan oleh peneliti di bidang
bedah pediatrik bahwa angka kematian pada kejadian setelah operasi perbaikan
hernia diafragma kongenital sangat rendah. 10