Anda di halaman 1dari 22

ANATOMI DAN FISIOLOGI

A. Anatomi dan Fisiologi Urinaria


1. Ginjal
Ginjal adalah organ yang berbentuk kacang berwarna merah tua, panjang 12,5 cm dan
tebalnya 2, 5 cm. Beratnya kurang lebih 125-175 gr pada laki-laki dan 115-155 gr pada
wanita. Ginjal terletak pada bagian rongga abdomn bagian atas stinggi vertebra thorakal
11 dan 12. Ginjal dilindungi oleh otot-otot abdomen, jaringan lemak atau adipose.
Ginjal mnghasilkan hormone eritropoitin yang berfungsi merangsang produksi
ritropoisetil yang merupakan bahan baku sel darah merah sumsum tulang. Hormone ini
dirangsang oleh adanya kekurangan aliran darah.
Fungsi utama ginjal:

Mengeluarkan sisa nitrogen, toksin, ion dan obat-obatan


Mengatur jumlah dan zat-zat kimia dalam tubuh.
Mempertahankan kesimbangan antara air dan garam-garam serta asam dan basa.
Menghasilkan renin, enzim untuk membantu pengaturan tekanan darah.
Mengasilkan hormone eritropoitin yang menstimulasi pembentukan sel-sel darah

merah disumsum tulang.


Membantu dalam pembentukan vitamin D (Tarwoto, wartonah, 2006).

2. Ureter
Setelah urine terbentuk kemudian akan dialirkan ke pelvis ginjal lalu ke bladder
melalui ureter. Lapisan tengah ureter terdiri atas otot-otot yang distimulasi oleh transmisi
impuls elektrik berasal dari syaraf otonom. Akibat gerakan peristaltik ureter maka urine
didorong ke kandung kemih (Tarwoto, wartonah, 2006).
Ureter merupakan stuktut trubuler yang mmiliki panjang 25-30 cm dan berdiameter
1,25 cm pada orang dewasa. Ureter membentang pada posisi retroperitoneum untuk
memasuki kandung kemih didalam rongga panggul (pelvis) pada sambungan
ureterovesikalis. Urine yang keluar dari ureter ke kandung kemih umumnya steril.
(Fundamental Keperawatan vol. 2 edisi 4, 2005)
3. Kandung kemih

Kandung kemih merupakan tempat penampungan urine. Terdiri atas 2 bagian yaitu
bagian fundus atau body yang merupakan otot lingkat, tersususn dari otot detrusol dan
bagian leher yang berhubungan langsung dengan uretra. (Tarwoto, wartonah, 2006).
Kandung kemih merupakan suatu organ cekung yang dapat berdistensi dan tersusun
atas jaringan otot serta merupakan tempat urine dan merupakan organ eksresi. Apabila
kandung kemih berada pada rongga panggul dibelakan simfisis pubis. Pada pria, kandung
kemih terletak pada rektum bagian posterior dan pada wanita kandung kemih terletak
pada dinding anteriour uterus dan vagina. (Fundamental Keperawatan vol. 2 edisi 4,
2005)
4. Uretra
Merupakan saluran pembuangan urine yang langsung keluar tubuh. Kontrol
pengeluaran urine terjadi karena adanya spinter kedua yaitu spinter eksternal yang dapat
dikontrol oleh kesadaran kita. (Tarwoto, wartonah, 2006)
Urine keluar tubuh melalui uretra dan keluar dari kandung kemih melalui meatus
uretra. Dalam kondisi normal aliran urine yang mengalami turbulansi membuat urine
bebas dari bakteri. Membran mukosa melapisi uretra dan kelenjar urtra mensekresi lendir
kedalam saluran uretra. Lendir dianggap bersifat bakteriostatis dan membentuk plak
mukosa untuk mencegah masuknya bekteri. Lapisan otot polos yang tbak mengelilingi
uretra. (Tarwoto, wartonah, 2006).
5. Proses Berkemih
Berkemih merupakan proses pengosongan vesika urinaria (kandung kemih). Vesika
urinaria dapat menimbulkan rangsangan saraf bila urinaria berisi 250 - 450 cc (pada
dewasa) dan 200 - 250 cc (pada anak-anak). (A.Aziz, 2008 : 63)
Mekanisme berkemih terjadi karena vesika urinaria berisi urine yang dapat
menimbulkan rangsangan pada saraf-saraf di dinding vesika urinaria.Kemudian
rangsangan tersebut diteruskan melali medulla spinalis ke pusat pengontrol berkemih
yang terdapat di korterks serebral.Selanjutnya otak memberikan impuls/ragsangan
melalui medulla spinalis neuromotoris di daerah sakral, kemudian terjadi koneksi otot
detrusor dan relaksasi otot sphincter internal. (A.Aziz, 2008 : 63)

Urine dilepaskan dari vesika urinaria tetapi masih tertahan sphincter eksternal. Jika
waktu dan tempat memungkinkan akan menyebabkan relaksasi sphincter eksternal dan
urine kemungkinan dikeluarkan (berkemih). (A.Aziz, 2008 : 64)
6. Ciri-ciri urine yang normal
Jumlahnya rata-rata 1-2 liter sehari, tetapi berbeda-beda sesuai dengan jumlah
cairan yang dimasukan. Banyaknya bertambah pula bila terlampau banyak makan
makanan yang mengandung protein, sehingga tersedia cukup cairan yang

melarutkan ureanya.
Warnanya bening oranye pucat tanpa endapan, tetapi adakalanya jonjot lendir tipis
tampak terapung di dalamnya.
Baunya tajam
Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan PH rata-rata 6.
Berat jenis berkisar dari 1,010 sampai 1,025
(Pearce, 2009 : 305)

7. Komposisi urine normal:


a. Air (96%)
b. Larutan (4%)
Larutan organik : urea, ammonia, kreatin, dan asam urat.
Larutan anorganik : natrium (sodium), klorida, kalium (potassium), sulfat,
magnesium, fosfor. Natrium klorida merupakan garam yang paling
banyak.
B. Anatomi dan Fisiologi Fekal
1. Saluran gastrointestinal bagian atas
Makanan yang masuk akan dicerna secara mekanik dan kimiawi dimulut dan
dilambuung dengan bantuan enzim, asam lambung. Selanjutnya maknan yang sudah
dalam bentuk chyme didorong ke usus halus.
2. Saluran gastrointestinal bagian bawah
Saluran gastrointestinal bawah meliputi usus halus dan usus besar. Usus halus terdiri
atas duodenum, jejunum, dan ileum yang panjangnya kira-kira 6 meter dan diameter 2,5
cm. Usus besar terdiri atas cecum, colon, dan rectum yang kemudian bermuara pada
anus. Panjang usus besar sekitar 1,5 meter dan diameternya kira-kira 6 cm. Usus
menerima zat makanan yang sudah berbentuk chyme (setengah padat) dari lambung

untuk mengabsorrpsi air, nutrien, dan elektrolit. Usus sendiri mensekresi mucus,
potassium, bikarbonat, dan enzim.
Chyme bergerak arena adanya peristaltik usus dan akan berkumpul menjadi feses di
usus besar. Dari makan sampai mencapai rektum normalnya diperlukan waktu 12 jam.
Gerakan haustral adalah gerakan untuk mendorong materi cair dan semipadat sepanjang
kolon, gerkan peristaltik adalah berupa gelombang, gerakan maju ke anus. (Tarwoto
Wartonah : 2006 hal 67)
3. Proses defekasi
Defekasi adalah proses pembuangan atau pengeluaran sisa metabolisme berupa feses
dan flatus yang berasal dari saluran pencernaan melalui anus. Dalam proses defekasi
terjadi dua macam refleks yaitu :
a. Refleks defekasi instrinsik
Refleks ini berawal dari feses yang masuk ke rektum sehingga terjadi distensi
rektum, yang kemudian menyebabkan rangsnagan pada flektus mesentrikus dan
terjadilah gerakan peristaltik. Setelah feses tiba di anus, secara sistematis spinter
interna relaksasi maka terjadilah defekasi.
b. Refleks defekasi parasimpatis
Feses yang masuk ke rektum akan merangsang saraf rektum yang kemudian
diteruskan ke spinal cord. Dari spinal cord kemudian dikembalikan ke kolon
desenden, sigmoid dan rektum yang menyebabkan intensifnyaa peristaltik, relaksasi
spinter interna, maka terjadinya defekasi.
Dorongan feses juga dipengaruhi oleh kontraksi otot andomen, tekanan
diafragma, dan kontraksi otot elevator. Defekasi dipermudah oleh fleksi otopt femur
dan posisi jongkok. Gas yang dihasilkan dalam proses pencernaan normalnya 7-10
liter/24 jam. Jenis gas yang terbanyak adlah CO2 , metana H2S, O2 dan nitrogen.
Fese terdiri atas 75% air dan 25% materi padat. Feses normalnya berwarna coklat
karena pengaruh sterkobilin, mobilin dan aktivitas bakteri. Bau khas karena pengaruh
dari mikroorganisme. Konsistensinya lembek namun berbentuk. (Tarwoto Wartonah :
2006 hal 67)

SISTEM ELIMINASI
Eliminasi merupakan proses pembuangan sisa-sisa metabolisme tubuh. Pembuangan
dapat melalui urine dan bowel/ fekal (tarwoto, wartonah, 2006).
A. Pengertian
1. Eliminasi Urin

Eliminasi urine adalah proses pembuangan sisa-sisa metabolisme. Eliminasi urine


normalnya adalah pengeluaran cairan.Proses pengeluaran ini sangat bergantung pada fungsifungsi organ eliminasi seperti ginjal, ureter, bladder, dan uretra. (A.Aziz, 2008 : 62)
Gangguan eliminasi urin adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau
berisiko mengalami disfungsi eliminasi urine. Biasanya orang yang mengalami gangguan
eliminasi urin akan dilakukan kateterisasi urine, yaitu tindakan memasukan selang kateter ke
dalam kandung kemih melalui uretra dengan tujuan mengeluarkan urine.

2. Eliminasi Fekal
Eliminasi alvi (buang air besar) merupakan proses pengosongan usus. Terdapat dua pusat
yang menguasai refleks untuk buang air besar yang terletak di medulla dan sumsum tulang
belakang. (A.Aziz, 2008 : 71)
Gangguan eliminasi fekal adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau
berisiko tinggi mengalami statis pada usus besar, mengakibatkan jarang buang air besar,
keras, feses kering. Untuk mengatasi gangguan eliminasi fekal biasanya dilakukan huknah,
baik huknah tinggi maupun huknah rendah. Memasukkan cairan hangat melalui anus sampai
ke kolon desenden dengan menggunakan kanul rekti.

B. Masalah-masalah pada Eliminasi


1. Masalah-masalah dalam eliminasi urin :
a. Retensi, yaitu adanya penumpukan urine didalam kandung kemih dan ketidak
sanggupan kandung kemih untuk mengosongkan diri.
b. Inkontinensi urine, yaitu ketidaksanggupan sementara atau permanen otot sfingter
eksterna untuk mengontrol keluarnya urine dari kandung kemih.

c. Enuresis, Sering terjadi pada anak-anak, umumnya terjadi pada malam hari (nocturnal
enuresis), dapat terjadi satu kali atau lebih dalam semalam.
d. Urgency, adalah perasaan seseorang untuk berkemih.
e. Dysuria, adanya rasa sakit atau kesulitan dalam berkemih.
f. Polyuria, Produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh ginjal, seperti 2.500
ml/hari, tanpa adanya peningkatan intake cairan.
g. Urinari suppresi, adalah berhenti mendadak produksi urine

2. Masalah eliminasi fekal yang sering ditemukan yaitu:


a. Konstipasi, merupakan gejala, bukan penyakit yaitu menurunnya frekuensi BAB
disertai dengan pengeluaran feses yang sulit, keras, dan mengejan. BAB yang keras
dapat menyebabkan nyeri rektum. Kondisi ini terjadi karena feses berada di intestinal
lebih lama, sehingga banyak air diserap.
b. Impaction, merupakan akibat konstipasi yang tidak teratur, sehingga tumpukan feses
yang keras di rektum tidak bisa dikeluarkan. Impaction berat, tumpukan feses sampai
pada kolon sigmoid.
c. Diare, merupakan BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak berbentuk. Isi
intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat. Iritasi di dalam kolon
merupakan faktor tambahan yang menyebabkan meningkatkan sekresi mukosa.
Akibatnya feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontrol dan menahan
BAB.
d. Inkontinensia fecal, yaitu suatu keadaan tidak mampu mengontrol BAB dan udara
dari anus, BAB encer dan jumlahnya banyak. Umumnya disertai dengan gangguan
fungsi spingter anal, penyakit neuromuskuler, trauma spinal cord dan tumor spingter

anal eksternal. Pada situasi tertentu secara mental pasien sadar akan kebutuhan BAB
tapi tidak sadar secara fisik. Kebutuhan dasar pasien tergantung pada perawat.
e. Flatulens, yaitu menumpuknya gas pada lumen intestinal, dinding usus meregang dan
distended, merasa penuh, nyeri dan kram. Biasanya gas keluar melalui mulut
(sendawa) atau anus (flatus). Hal-hal yang menyebabkan peningkatan gas di usus
adalah pemecahan makanan oleh bakteri yang menghasilkan gas metan, pembusukan
di usus yang menghasilkan CO2.
f. Hemoroid, yaitu dilatasi pembengkakan vena pada dinding rektum (bisa internal atau
eksternal). Hal ini terjadi pada defekasi yang keras, kehamilan, gagal jantung dan
penyakit hati menahun. Perdarahan dapat terjadi dengan mudah jika dinding
pembuluh darah teregang. Jika terjadi infla-masi dan pengerasan, maka pasien merasa
panas dan gatal. Kadang-kadang BAB dilupakan oleh pasien, karena saat BAB
menimbulkan nyeri. Akibatnya pasien mengalami konstipasi.

C. Etiologi
1. Gangguan Eliminasi Urin
a. Intake cairan
Jumlah dan type makanan merupakan faktor utama yang mempengaruhi output urine
atau defekasi. Seperti protein dan sodium mempengaruhi jumlah urine yang keluar,
kopi meningkatkan pembentukan urine intake cairan dari kebutuhan, akibatnya output
urine lebih banyak.
b. Aktivitas
Aktifitas sangat dibutuhkan untuk mempertahankan tonus otot. Eliminasi urine
membutuhkan tonus otot kandung kemih yang baik untuk tonus sfingter internal dan
eksternal. Hilangnya tonus otot kandung kemih terjadi pada masyarakat yang
menggunakan kateter untuk periode waktu yang lama. Karena urine secara terus
menerus dialirkan keluar kandung kemih, otot-otot itu tidak pernah merenggang dan
dapat menjadi tidak berfungsi. Aktifitas yang lebih berat akan mempengaruhi jumlah
urine yang diproduksi, hal ini disebabkan karena lebih besar metabolisme tubuh
c. Obstruksi; batu ginjal, pertumbuhan jaringan abnormal, striktur urethra
d. Infeksi
e. Kehamilan

f.
g.
h.
i.
j.

Penyakit; pembesaran kelenjar ptostat


Trauma sumsum tulang belakang
Operasi pada daerah abdomen bawah, pelviks, kandung kemih, urethra.
Umur
Penggunaan obat-obatan

2. Gangguan Eliminasi Fekal


a. Pola diet tidak adekuat/tidak sempurna:
Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi eliminasi feses. Cukupnya
selulosa, serat pada makanan, penting untuk memperbesar volume feses.
Makanantertentu pada beberapa orang sulit atau tidak bisa dicerna. Ketidakmampuan
ini berdampak pada gangguan pencernaan, di beberapa bagian jalur dari pengairan
feses. Makan yang teratur mempengaruhi defekasi. Makan yang tidak teratur dapat
mengganggu keteraturan pola defekasi. Individu yang makan pada waktu yang sama
setiap hari mempunyai suatu keteraturan waktu, respon fisiologi pada pemasukan
makanan dan keteraturan pola aktivitas peristaltik di colon.
b. Cairan
Pemasukan cairan juga mempengaruhi eliminasi feses. Ketika pemasukan cairan
yang adekuat ataupun pengeluaran (cth: urine, muntah) yang berlebihan untuk
beberapa alasan, tubuh melanjutkan untuk mereabsorbsi air dari chyme ketika ia
lewat di sepanjang colon. Dampaknya chyme menjadi lebih kering dari normal,
menghasilkan feses yang keras. Ditambah lagi berkurangnya pemasukan cairan
memperlambat perjalanan chyme di sepanjang intestinal, sehingga meningkatkan
reabsorbsi cairan dari chyme
c. Meningkatnya stress psikologi
Dapat dilihat bahwa stres dapat mempengaruhi defekasi. Penyakit-penyakit tertentu
termasuk diare kronik, seperti ulcus pada collitis, bisa jadi mempunyai komponen
psikologi. Diketahui juga bahwa beberapa orang yagn cemas atau marah dapat
meningkatkan aktivitas peristaltik dan frekuensi diare. Ditambah lagi orang yagn
depresi bisa memperlambat motilitas intestinal, yang berdampak pada konstipasi
d. Kurang aktifitas, kurang berolahraga, berbaring lama.
Pada pasien immobilisasi atau bedrest akan terjadi penurunan gerak peristaltic dan
dapat menyebabkan melambatnya feses menuju rectum dalam waktu lama dan terjadi
reabsorpsi cairan feses sehingga feses mengeras

e. Obat-obatan
Beberapa obat memiliki efek samping yang dapat berpengeruh terhadap eliminasi
yang normal. Beberapa menyebabkan diare; yang lain seperti dosis yang besar dari
tranquilizer tertentu dan diikuti dengan prosedur pemberian morphin dan codein,
menyebabkan konstipasi. Beberapa obat secara langsung mempengaruhi eliminasi.
Laxative adalah obat yang merangsang aktivitas usus dan memudahkan eliminasi
feses. Obat-obatan ini melunakkan feses, mempermudah defekasi. Obat-obatan
tertentu seperti dicyclomine hydrochloride (Bentyl), menekan aktivitas peristaltik
dan kadang-kadang digunakan untuk mengobati diare
f. Usia;

Umur

tidak

hanya

mempengaruhi

karakteristik

feses,

tapi

juga

pengontrolannya. Anak-anak tidak mampu mengontrol eliminasinya sampai sistem


neuromuskular berkembang, biasanya antara umur 2 3 tahun. Orang dewasajuga
mengalami perubahan pengalaman yang dapat mempengaruhi proses pengosongan
lambung. Di antaranya adalah atony (berkurangnya tonus otot yang normal) dari
otot-otot polos colon yang dapat berakibat pada melambatnya peristaltik dan
mengerasnya (mengering) feses, dan menurunnya tonus dari otot-otot perut yagn
juga menurunkan tekanan selama proses pengosongan lambung. Beberapa orang
dewasa juga mengalami penurunan kontrol terhadap muskulus spinkter ani yang
dapat berdampak pada proses defekasi.
g. Penyakit-penyakit seperti obstruksi usus, paralitik ileus, kecelakaan pada spinal cord
dan tumor.
Cedera pada sumsum tulang belakan dan kepala dapat menurunkan stimulus sensori
untuk defekasi. Gangguan mobilitas bisa membatasi kemampuan klien untuk
merespon terhadap keinginan defekasi ketika dia tidak dapat menemukan toilet atau
mendapat bantuan. Akibatnya, klien bisa mengalami konstipasi. Atau seorang klien
bisa mengalami fecal inkontinentia karena sangat berkurangnya fungsi dari spinkter
ani

D. Faktor predisposisi/Faktor pencetus


1. Respon keinginan awal untuk berkemih atau defekasi.
Beberapa

masyarakat mempunyai kebiasaan mengabaikan respon awal untuk

berkemih atau defekasi. Akibatnya urine banyak tertahan di kandung kemih. Begitu pula
dengan feses menjadi mengeras karena terlalu lama di rectum dan terjadi reabsorbsi
cairan.
2. Gaya hidup.
Banyak segi gaya hidup mempengaruhi seseorang dalam hal eliminasi urine dan
defekasi. Tersedianya fasilitas toilet atau kamar mandi dapat mempengaruhi frekuensi
eliminasi dan defekasi. Praktek eliminasi keluarga dapat mempengaruhi tingkah laku.
3. Stress psikologi
Meningkatnya stress seseorang dapat mengakibatkan meningkatnya frekuensi
keinginan berkemih, hal ini karena meningkatnya sensitif untuk keinginan berkemih dan
atau meningkatnya jumlah urine yang diproduksi.
4. Tingkat perkembangan.
Tingkat perkembangan juga akan mempengaruhi pola berkemih. Pada wanita hamil
kapasitas kandung kemihnya menurun karena adanya tekanan dari fetus atau adanya
lebih sering berkemih. Pada usia tua terjadi penurunan tonus otot kandung kemih dan
penurunan gerakan peristaltik intestinal.
5. Kondisi Patologis.
Demam dapat menurunkan produksi urine (jumlah & karakter).
6. Obat-obatan, diuretiik dapat meningkatkan output urine. Analgetik dapat terjadi retensi
urine.

E. Patofisiologi
1. Gangguan Eliminasi Urin
Gangguan pada eliminasi sangat beragam seperti yang telah dijelaskan di atas.
Masing-masing gangguan tersebut disebabkan oleh etiologi yang berbeda. Pada pasien
dengan usia tua, trauma yang menyebabkan cedera medulla spinal, akan menyebabkan
gangguan dalam mengkontrol urin/ inkontinensia urin. Gangguan traumatik pada tulang
belakang bisa mengakibatkan kerusakan pada medulla spinalis. Lesi traumatik pada medulla
spinalis tidak selalu terjadi bersama-sama dengan adanya fraktur atau dislokasi. Tanpa
kerusakan yang nyata pada tulang belakang, efek traumatiknya bisa mengakibatkan efek
yang nyata di medulla spinallis. Cedera medulla spinalis (CMS) merupakan salah satu
penyebab gangguan fungsi saraf termasuk pada persyarafan berkemih dan defekasi.
Komplikasi cedera spinal dapat menyebabkan syok neurogenik dikaitkan dengan
cedera medulla spinalis yang umumnya dikaitkan sebagai syok spinal. Syok spinal
merupakan depresi tiba-tiba aktivitas reflex pada medulla spinalis (areflexia) di bawah
tingkat cedera. Dalam kondisi ini, otot-otot yang dipersyarafi oleh bagian segmen medulla
yang ada di bawah tingkat lesi menjadi paralisis komplet dan fleksid, dan refleks-refleksnya
tidak ada. Hal ini mempengaruhi refleks yang merangsang fungsi berkemih dan defekasi.
Distensi usus dan ileus paralitik disebabkan oleh depresi refleks yang dapat diatasi dengan
dekompresi usus (Brunner & Suddarth, 2002). Hal senada disampaikan Sjamsuhidajat
(2004), pada komplikasi syok spinal terdapat tanda gangguan fungsi autonom berupa kulit
kering karena tidak berkeringat dan hipotensi ortostatik serta gangguan fungsi kandung
kemih dan gangguan defekasi.
Proses berkemih melibatkan 2 proses yang berbeda yaitu pengisian dan penyimpanan
urine dan pengosongan kandung kemih. Hal ini saling berlawanan dan bergantian secara
normal. Aktivitas otot-otot kandung kemih dalam hal penyimpanan dan pengeluaran urin
dikontrol oleh sistem saraf otonom dan somatik. Selama fase pengisian, pengaruh sistem
saraf simpatis terhadap kandung kemih menjadi bertekanan rendah dengan meningkatkan
resistensi saluran kemih. Penyimpanan urin dikoordinasikan oleh hambatan sistem simpatis
dari aktivitas kontraktil otot detrusor yang dikaitkan dengan peningkatan tekanan otot dari
leher kandung kemih dan proksimal uretra.
Pengeluaran urine secara normal timbul akibat dari kontraksi yang simultan otot
detrusor dan relaksasi saluran kemih. Hal ini dipengaruhi oleh sistem saraf parasimpatis yang

mempunyai neurotransmiter utama yaitu asetilkholin, suatu agen kolinergik. Selama fase
pengisian, impuls afferen ditransmisikan ke saraf sensoris pada ujung ganglion dorsal spinal
sakral segmen 2-4 dan informasikan ke batang otak. Impuls saraf dari batang otak
menghambat aliran parasimpatis dari pusat kemih sakral spinal. Selama fase pengosongan
kandung kemih, hambatan pada aliran parasimpatis sakral dihentikan dan timbul kontraksi
otot detrusor.
Hambatan aliran simpatis pada kandung kemih menimbulkan relaksasi pada otot uretra
trigonal dan proksimal. Impuls berjalan sepanjang nervus pudendus untuk merelaksasikan
otot halus dan skelet dari sphincter eksterna. Hasilnya keluarnya urine dengan resistensi
saluran yang minimal. Pasien post operasi dan post partum merupakan bagian yang
terbanyak menyebabkan retensi urine akut. Fenomena ini terjadi akibat dari trauma kandung
kemih dan edema sekunder akibat tindakan pembedahan atau obstetri, epidural anestesi,
obat-obat narkotik, peregangan atau trauma saraf pelvik, hematoma pelvik, nyeri insisi
episiotomi atau abdominal, khususnya pada pasien yang mengosongkan kandung kemihnya
dengan manuver Valsalva. Retensi urine pos operasi biasanya membaik sejalan dengan waktu
dan drainase kandung kemih yang adekuat.
2. Gangguan Eliminasi Fekal
Defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum. Hal ini juga disebut bowel
movement. Frekwensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari
sampai 2 atau 3 kali perminggu. Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. Ketika
gelombang peristaltik mendorong feses kedalam kolon sigmoid dan rektum, saraf sensoris
dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar terhadap kebutuhan untuk defekasi.
Defekasi biasanya dimulai oleh dua refleks defekasi yaitu refleks defekasi instrinsik.
Ketika feses masuk kedalam rektum, pengembangan dinding rektum memberi suatu signal
yang menyebar melalui pleksus mesentrikus untuk memulai gelombang peristaltik pada
kolon desenden, kolon sigmoid, dan didalam rektum. Gelombang ini menekan feses kearah
anus. Begitu gelombang peristaltik mendekati anus, spingter anal interna tidak menutup dan
bila spingter eksternal tenang maka feses keluar.
Refleks defekasi kedua yaitu parasimpatis. Ketika serat saraf dalam rektum
dirangsang, signal diteruskan ke spinal cord (sakral 2 4) dan kemudian kembali ke kolon
desenden, kolon sigmoid dan rektum. Sinyal sinyal parasimpatis ini meningkatkan
gelombang peristaltik, melemaskan spingter anus internal dan meningkatkan refleks defekasi

instrinsik. Spingter anus individu duduk ditoilet atau bedpan, spingter anus eksternal tenang
dengan sendirinya.
Pengeluaran feses dibantu oleh kontraksi otot-otot perut dan diaphragma yang akan
meningkatkan tekanan abdominal dan oleh kontraksi muskulus levator ani pada dasar
panggul yang menggerakkan feses melalui saluran anus. Defekasi normal dipermudah
dengan refleksi paha yang meningkatkan tekanan di dalam perut dan posisi duduk yang
meningkatkan tekanan kebawah kearah rektum. Jika refleks defekasi diabaikan atau jika
defekasi dihambat secara sengaja dengan mengkontraksikan muskulus spingter eksternal,
maka rasa terdesak untuk defekasi secara berulang dapat menghasilkan rektum meluas untuk
menampung kumpulan feses. Cairan feses di absorpsi sehingga feses menjadi keras dan
terjadi konstipasi.
F. Tanda dan gejala
1. Tanda Gangguan Eliminasi urin
a. Retensi Urin
1). Ketidak nyamanan daerah pubis.
2). Distensi dan ketidaksanggupan untuk berkemih.
3). Urine yang keluar dengan intake tidak seimbang.
4). Meningkatnya keinginan berkemih dan resah
5). Ketidaksanggupan untuk berkemih
b. Inkontinensia urin
1). pasien tidak dapat menahan keinginan BAK sebelum sampai di WC
2). pasien sering mengompol
2. Tanda Gangguan Eliminasi Fekal
a. Konstipasi
1). Menurunnya frekuensi BAB
2). Pengeluaran feses yang sulit, keras dan mengejan
3). Nyeri rektum
b. Impaction
1). Tidak BAB
2). anoreksia
3). Kembung/kram
4). nyeri rektum
c. Diare
1). BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak berbentuk
2). Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat
3). Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang menyebabkan meningkatkan
sekresi mukosa.
4). feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontrol dan menahan BAB.
d. Inkontinensia Fekal

1). Tidak mampu mengontrol BAB dan udara dari anus,


2). BAB encer dan jumlahnya banyak
3). Gangguan fungsi spingter anal, penyakit neuromuskuler, trauma spinal cord dan
tumor spingter anal eksternal
e. Flatulens
1). Menumpuknya gas pada lumen intestinal,
2). Dinding usus meregang dan distended, merasa penuh, nyeri dan kram.
3). Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus)
f. Hemoroid
1). pembengkakan vena pada dinding rectum
2). perdarahan jika dinding pembuluh darah vena meregang
3). merasa panas dan gatal jika terjadi inflamasi
4). nyeri
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan USG
2. Pemeriksaan foto rontgen
3. Pemeriksaan laboratorium urin dan feses
H. Pengkajian
1. Riwayat keperawatan eliminasi
Riwayat keperawatan eliminasi fekal dan urin membantu perawat menentukan pola
defekasi normal klien. Perawat mendapatkan suatu gambaran feses normal dan beberapa
perubahan yang terjadi dan mengumpulkan informasi tentang beberapa masalah yang
pernah terjadi berhubungan dengan eliminasi, adanya ostomy dan faktor-faktor yang
mempengaruhi pola eliminasi.
\
Pengkajiannya meliputi:
a. Pola eliminasi
b. Gambaran feses dan perubahan yang terjadi
c. Masalah eliminasi
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi seperti : penggunaan alat bantu, diet, cairan,
aktivitas dan latihan, medikasi dan stress.
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik abdomen terkait dengan eliminasi alvi meliputi inspeksi, auskultasi,
perkusi dan palpasi dikhususkan pada saluran intestinal. Auskultasi dikerjakan sebelum
palpasi, sebab palpasi dapat merubah peristaltik. Pemeriksaan rektum dan anus meliputi
inspeksi dan palpasi. Inspeksi feses, meliputi observasi feses klien terhadap warna,
konsistensi, bentuk permukaan, jumlah, bau dan adanya unsur-unsur abdomen.
Perhatikan tabel berikut :

KARAKTERISTIK FESES NORMAL DAN ABNORMAL


Karakteristik
Normal
Abnormal
Kemungkinan
Warna

Dewasa

Pekat / putih

kecoklatan
Bayi

penyebab
Adanya

pigmen

empedu (obstruksi
:

empedu);

kekuningan

pemeriksaan
diagnostik
menggunakan
Hitam / spt ter.

barium
Obat (spt. Fe); PSPA
(lambung,

usus

halus); diet tinggi


buah

merah

dan

sayur hijau tua (spt.


Bayam)
PSPB (spt. Rektum),

Merah

beberapa makanan
spt bit.
Malabsorbsi

Pucat

lemak;

diet tinggi susu dan


produk susu dan
Orange

atau

hijau
Konsistensi Berbentuk, lunak, Keras, kering
agak

cair

rendah daging.
Infeksi usus
Dehidrasi,
motilitas

lembek,

akibat

basah.

serat,
latihan,

penurunan
usus
kurangnya
kurang
gangguan

emosi dan laksantif


abuse.

Diare

Peningkatan

motilitas

usus (mis. akibat


iritasi kolon oleh
Bentuk

Silinder

(bentuk Mengecil,

rektum)

dgn

bentuk

2,5 cm u/

pensil atau

orang dewasa

seperti

bakteri).
Kondisi
obstruksi
rektum

benang
Jumlah

Bau

Tergantung

diet

(100

400

gr/hari)
Aromatik

: Tajam, pedas

Infeksi, perdarahan

dipenga-ruhi
oleh makanan
yang dimakan
dan
Unsur
pokok

flora

bakteri.
Sejumlah
kecil Pus
bagian

kasar Mukus

makanan
tdk

Infeksi bakteri
Konsidi peradangan

yg Parasit

Perdarahan

dicerna, Darah

potongan bak- Lemak

gastrointestinal
dalam

teri yang mati,

jumlah

sel

besar

epitel,

lemak,
protein,
unsur-unsur
kering cairan
pencernaan
(pigmen
empedu dll)

Benda asing

Malabsorbsi
Salah makan

3. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik saluran gastrointestinal meliputi tehnik visualisasi langsung /
tidak langsung dan pemeriksaan laboratorium terhadap unsur-unsur yang tidak normal.

I.
1.
2.
3.

Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul


Retensi urin berhubungan dengan blockage
Diare berhubungan dengan proses inflamasi
Konstipasi berhubungan dengan kelemahan otot abdominal
J. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi
Retensi urin berhubungan
dengan:
Tekanan
uretra
tinggi,blockage,
hambatan reflek, spingter
kuat
DS:

Disuria

Bladder terasa
penuh
DO :

Distensi bladder

Terdapat urine
residu

Inkontinensia tipe
luapan

Urin output
sedikit/tidak ada

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Hasil
NOC:

Urinary
elimination

Urinary
Contiunence
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama . retensi urin
pasien teratasi dengan
kriteria hasil:

Kandung kemih
kosong secarapenuh

Tidak ada residu


urine >100-200 cc

Intake cairan
dalam rentang normal

Bebas dari ISK

Tidak ada spasme


bladder

Balance cairan
seimbang

Intervensi
NIC :
Urinary Retention Care

Monitor intake dan output

Monitor penggunaan obat


antikolinergik

Monitor derajat distensi


bladder

Instruksikan pada pasien


dan keluarga untuk mencatat
output urine

Sediakan privacy untuk


eliminasi

Stimulasi reflek bladder


dengan kompres dingin pada
abdomen.

Kateterisaai jika perlu

Monitor tanda dan gejala


ISK
(panas,
hematuria,
perubahan
bau
dan
konsistensi urine)

Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi
Diare berhubungan dengan
psikologis: stress dan
cemas tinggi
Situasional: efek dari
medikasi, kontaminasi,
penyalah gunaan laksatif,
penyalah gunaan alkohol,
radiasi, toksin, makanan
per NGT
Fisiologis: proses infeksi,
inflamasi, iritasi,
malabsorbsi, parasit
DS:

Nyeri perut

Urgensi

Kejang perut
DO:

Lebih dari 3 x BAB


perhari

Bising usus hiperaktif

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil
NOC:
NIC :
Diare Management

Bowl Elimination

Kelola pemeriksaan

Fluid Balance
kultur
sensitivitas

Hidration
feses

Electrolit and Acid

Evaluasi
Base Balance
pengobatan
yang
Setelah dilakukan tindakan
berefek
samping
keperawatan selama .
gastrointestinal
diare
pasien
teratasi

Evaluasi
jenis
dengan kriteria hasil:
intake makanan

Tidak ada diare

Monitor
kulit

Feses tidak ada


sekitar
perianal
darah dan mukus
terhadap
adanya

Nyeri perut tidak


iritasi dan ulserasi
ada

Ajarkan
pada

Pola BAB normal


keluarga penggunaan

Elektrolit normal
obat anti diare

Asam basa normal

Instruksikan pada

Hidrasi baik
pasien dan keluarga
(membran mukosa
untuk
mencatat
lembab, tidak panas,
warna,
volume,
vital sign normal,
frekuensi
dan
hematokrit dan urin
konsistensi feses
output dalam batas

Ajarkan
pada
normaL
pasien
tehnik
pengurangan
stress
jika perlu

Kolaburasi
jika
tanda dan gejala diare
menetap

Monitor hasil Lab


(elektrolit
dan
leukosit)

Monitor
turgor
kulit, mukosa oral
sebagai
indikator
dehidrasi

Konsultasi dengan
ahli gizi untuk diet
yang tepat

Diagnosa Keperawatan/ Masalah


Kolaborasi
Konstipasi berhubungan dengan

Fungsi:kelemahan otot
abdominal, Aktivitas fisik tidak
mencukupi

Perilaku defekasi tidak


teratur

Perubahan lingkungan

Toileting tidak adekuat:


posisi defekasi, privasi

Psikologis: depresi, stress


emosi, gangguan mental

Farmakologi: antasid,
antikolinergis, antikonvulsan,
antidepresan, kalsium
karbonat,diuretik, besi, overdosis
laksatif, NSAID, opiat, sedatif.

Mekanis: ketidakseimbangan
elektrolit, hemoroid, gangguan
neurologis, obesitas, obstruksi
pasca bedah, abses rektum,
tumor

Fisiologis: perubahan pola


makan dan jenis makanan,
penurunan motilitas

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Hasil
NOC:

Bowl
Elimination

Hidration
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama . konstipasi
pasien teratasi dengan
kriteria hasil:

Pola BAB dalam


batas normal

Feses lunak

Cairan dan serat


adekuat

Aktivitas adekuat

Hidrasi adekuat

Intervensi
NIC :
Manajemen konstipasi

Identifikasi faktorfaktor
yang
menyebabkan
konstipasi

Monitor
tandatanda
ruptur
bowel/peritonitis

Jelaskan penyebab
dan
rasionalisasi
tindakan pada pasien

Konsultasikan
dengan dokter tentang
peningkatan
dan
penurunan bising usus

Kolaburasi jika ada


tanda dan gejala
konstipasi
yang
menetap

Jelaskan
pada
pasien manfaat diet
(cairan dan serat)
terhadap eliminasi

gastrointestnal, dehidrasi, intake


serat dan cairan kurang, perilaku
makan yang buruk
DS:

Nyeri perut

Ketegangan perut

Anoreksia

Perasaan tekanan pada


rektum

Nyeri kepala

Peningkatan tekanan
abdominal

Mual

Defekasi dengan nyeri


DO:

Feses dengan darah segar

Perubahan pola BAB

Feses berwarna gelap

Penurunan frekuensi BAB

Penurunan volume feses

Distensi abdomen

Feses keras

Bising usus hipo/hiperaktif

Teraba massa abdomen atau


rektal

Perkusi tumpul

Sering flatus

Muntah

Jelaskan pada klien


konsekuensi
menggunakan
laxative dalam waktu
yang lama
Kolaburasi dengan
ahli gizi diet tinggi
serat dan cairan
Dorong
peningkatan aktivitas
yang optimal
Sediakan privacy
dan keamanan selama
BAB

DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, A.Aziz, dkk. 2005. Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : EGC
Pearce, E.C. 2009. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis.Jakarta : PT Gramedia
Potte, P.A dan Perry.A.G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan
Praktik. Edisi 4.Jakarta : EGC
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol 3. enerbit Kedokteran EGC:
Jakarta.