Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN

STERILISASI PASTEURILISASI PADA SUSU


DENGAN UJI ORGANOLEPTIK

Nama Kelompok :
ZUMROTU AULIA

(125394003)

SIRLY ASFRINDA Mdt

(125394009)

MUHAMMAD RIADUS S. (125394019)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN
KELUARGA
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN TATA BOGA
2014
LKM I

PENGAWETAN PANGAN DENGAN SUHU TINGGI


PERCOBAAN I :
A. Judul Percobaan
Pengaruh Proses Pasteurisasi terhadap Kualitas Organoleptik Susu Segar
B. Permasalahan :
Bagaimana pengaruh proses pasteurisasi terhadap kualitas organoleptik susu segar ?
C. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui pengaruh proses pasteurisasi terhadap kualitas organoleptik susu
segar.
D. Literatur atau Bacaan
Susu segar merupakan bahan makanan yang bergizi tinggi karena mengandung zat-zat
makanan yang lengkap dan seimbang seperti protein, lemak, karbohidrat, mineral, dan
vitamin yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Nilai gizinya yang tinggi juga
menyebabkan susu merupakan medium yang sangat disukai oleh mikrooganisme untuk
pertumbuhan dan perkembangannya sehingga dalam waktu yang sangat singkat susu
menjadi tidak layak dikonsumsi bila tidak ditangani secara benar.
Mikroorganisme yang berkembang didalam susu selain menyebabkan susu menjadi
rusak juga membahayakan kesehatan masyarakat sebagai konsumen akhir. Disamping itu
penanganan susu yang benar juga dapat menyebabkan daya simpan susu menjadi singkat,
harga jual murah yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi pendapatan peternak
sebagai produsen susu.
Kerusakan pada susu disebabkan oleh terbentuknya asam laktat sebagai hasil
fermentasi laktosa oleh koli. Fermentasi oleh bakteri ini akan menyebabkan aroma susu
menjadi berubah dan tidak disukai oleh konsumen. Untuk meminimalkan kontaminasi
oleh mikroorganisme dan menghambat pertumbuhan bakteri pada susu agar dapat
disimpan lebih lama maka penanganan sesudah pemerahan hendaknya menjadi perhatian
utama peternak.
Susu sangat sedikit (bila tidak boleh dikatakan tidak ada) yang dijual benar-benar
segar, yaitu langsung dari kambing atau sapi perah. Hal ini karena adanya kemungkinan
pencemaran atau kontaminasi oleh berbagai bakteri patogen, seperti bakteri penyebab
typus, diphteri, radang tenggorokan dan TBC. Karena alasan tersebut maka susu yang

akan dijual sebelumnya dipanaskan secukupnya sehingga seluruh bakteri patogen yang
mungkin terdapat di dalamnya dapat dimusnahkan.
Proses pemanasan tersebut disebut pasteurisasi. Pada umumnya proses pasteurisasi
dilakukan dengan mamanaskan susu pada suhu 620C selama 30 menit. Bila ingin lebih
cepat dapat digunakan suhu 720C selama 15 detik. Meskipun bakteri patogen sudah
dimusnahkan, tetapi bakteri non patogen, terutama bakteri pembusuk masih hidup. Jadi
susu pasteurisasi, bukan merupakan susu awet. Dalam penyimpanannya, biasanya susu
pasteurisasi digabungkan dengan metode pendinginan. Untuk memperpanjang daya
simpannya, susu pasteurisasi disimpan pada suhu maksimal 10 0C, lebih dingin lebih
baik. Pada suhu tersebut mikroba pembusuk meskipun tidak mati, tetapi tidak dapat
tumbuh dan berkembang.
Pada saat pasteurisasi, bukan hanya bakteri patogen yang mati, tetapi beberapa jenis
enzim juga dimatikan. Enzim yang terpenting adalah posfatase. Enzim tersebut memiliki
daya tahan panas yang sedikit lebih tinggi daripada bakteri patogen penyebab TBC.
Karena itu, untuk mendeteksi apakah proses pasteurisasi sudah cukup atau belum,
dilakukan tes atau uji posfatase. Bila uji posfatase negatif, proses pasteurisasi sudah baik
atau cukup. Pada umumnya di Industri pengolahan susu, proses pasteurisasi terdiri atas
tahap-tahap sebagai berikut : penerimaan susu segar, pencampuran dan pemanasan,
penyaringan, homogenisasi, pasterurisasi, pendinginan dan pengemasan.
Sifat organleptik merupakan sifat yang subyektif, tetapi merupakan sifat yang sangat
penting. Pengujian ini terdiri dari rasa, aroma, dan warna. Rasa dan aroma dapat
bersinergi membentuk citarasa. Citarasa susu sapi dipengaruhi beberapa faktor. Menurut
Hammer dan Babel (1957) faktor-faktor yang mempengaruhi citarasa susu antara lain:
penyerapan bau, bahan pakan ternak, kondisi ternak, pengaruh sinar matahari, dan
penambahan bahan asing.
Susu sedikit lebih berat daripada air dan karena titik didih suatu cairan dipengaruhi
oleh faktor-faktor yang bertanggung jawab terhadap gravitas spesifiknya, susu mendidih
pada temperatur yang sedikit lebih tinggi daripada air. Air mendidih pada temperatur
2120F (1000C) pada permukaan laut dan susu rata-rata

pada temperatur 212, 3 0F

(100,170C). Variasi titik beku susu sangat kecil, titik didih susu penting dari aspek
properti susu yang berhubungan dengan penguapan air dan panas yang diperlukan untuk
mereduksi susu dengan pendidihan vakum (Nurwanto, 2003).
Pada susu titik didih berkisar 100,54oC. Uji ini untuk menentukan susu masih
dalam keadaan baik atau tidak. Susu yang baik dalam uji didih tidak terja digumpalan,
sehingga uji didih negatif (Mulyani, 2003).

Susu dipengaruhi oleh cara pemanasan yang berbeda. Bila susu dipanaskan
sampai titik didih, terbentuk lapisan tipis pada permukaannya. Lapisan tipis atau film ini
disebabkan oleh koagulasi sejumlah kecil kasein yang berasosiasi dengan sejumlah kecil
garam-garam kalsium dan dalam hal susu penuh. Susu dengan asam yang sedikit tinggi
akan menggumpal bila dididihkan.

Penambahan sedikit soda pada susu sebelum

dididihkan, menurunkan asiditas susu sehingga pada saat mendidih tidak terbentuk
gumpalan. Temperatur koagulasi susu mempunyai hubungan yang erat dengan asiditas.
Gumpalan dapat terbentuk pada susu yang dipasteurisasi pada temperatur 145 0F (62,70C)
dengan waktu 30 menit kemudian segera didinginkan. Susu harus segar dan asiditas
rendah atau susu akan menjendal selama proses pasteurisasi. Proses pembuatan susu
kondensasi adalah dengan pemanasan dan konsentrasi dengan memisahkan sebagian air.
Hasil proses ini adalah komponen susu termasuk asam susu.

Susu kondensasi

mengalami koagulasi pada temperatur yang lebih rendah, oleh karenanya produk segar
harus memiliki asiditas rendah (Muchtadi, 1992).
E. Hipotesis
Ada pengaruh proses pasteurisasi terhadap kualitas organoleptik susu segar.
F. Merencanakan Percobaan untuk Menguji Hipotesis
1. [Mengendalikan variabel]
a. Variabel bebas
Proses Pasteurisasi
b. Variabel terikat
Kualitas organoleptik susu segar meliputi:

Warna
Rasa
Aroma

c. Variabel kontrol
Wadah
Jenis susu
Volume susu
2. Rencana Bahan Dan Alat
a. Bahan
No

Nama Bahan

Jumlah

Susu segar (mentah)


Susu ultra

400 ml
150 ml

Nama Alat

Jumlah

Beaker glass 500 ml


Thermometer
Panci
Autoclave
Pengukus
Kompor
Botol kaca putih bertutup
(cukup untuk 200ml)
Wadah gelas/plastic bening

1 buah
1
1
1
1
1
2

1
2
b. Alat
No
1
2
3
4
5
6
7
8

3. Rencana Cara Kerja


a) Masukkan susu segar 400 ml ke dalam beaker glass
b) Panaskan susu tersebut dengan memasukkan beaker glass ke dalam panci berisi air
lebih tinggi dari permukaan susu. Suhu susu diukur 65C dipertahankan selama 15
menit.
c) Pisahkan susu menjadi dua bagaian. Pertama susu sebanyak 200 ml dimasukkan
dalam botol tertutup kemudian disimpan pada suhu 4C (sampel A). bagian kedua,
susu dalam keadaan panas dimasukkan pada botol sebanyak 200 ml. jangan
sampai penuh, dan jangan ditutup terlebih dahulu. Catatlah tinggi head spacenya,
yaitu ruang di antara permukaan susu dengan tutup botol.
d) Susu dalam botol 2 dibiarkan 2-3 menit atau head space terisi uap air, lalu botol
e)
f)
g)
h)

ditutup rapat.
Masukkan botol ke dalam autoklaf atau dandang yang sudah disiapkan.
Panaskan hingga suhu 121C selama 15-30 menit (sampel B)
Pindah sampel A dan B, masing-masing tuang dalam beaker glass, lalu amati.
Siapkan sampel C. susu ultra 150 ml dituangkan ke dalam beaker glass 200 ml,

lalu amati.
i) Siapkan sampel D, susu segar (mentah) 100 ml dituangkan ke dalam wadah
beaker glass, lalu amati.
G. Pengamatan
[Keterampilan

melakukan

pengamatan]

Lakukan

pengamatan

terhadap

pasteurisasi dan bandingkan dengan susu segar dengan membuat tabel pengamatan:
Kriteria
Warna

Pasteurisasi
Putih

UHT
Susu Segar
Putih Tulang (Sangat Putih Jernih
Putih)

susu

Aroma

Tajam

Segar, Sangat Tajam Amis beraroma khas


karena

bercampur susu segar

Kekentalan

dengan cream
Kurang Kental/lebih Paling Kental

Lebih Encer

Rasa

kental dr susu segar


Hambar,
sedikit Gurih, Sedikit Manis

Tawar, Amis

Amis, Sedikit Gurih

H. Analisis Data
[Keterampilan menganalisis data] Catat semua argumentasi dari anggota kelompok
mengenai hasil pengamatan. Lengkapi argumentasi saudara dengan teori-teori
pendukung yang bersumber dari pustaka baik berupa buku maupun jurnal hasil
penelitian.
1) Susu Pasteurisasi merupakan susu yang baik karena proses pemanasan untuk
membunuh Jasad-Jasad renik yang dapat membahayakan kesehatan. Seperti yang
telah diketahui, bakteri/kuman penyakit TBC dan Thypus dapat juga berasal dari susu.
Karena Pasteurisasi juga dapat membunuh jasad renik pembusuk yang memperpendek
daya simpan susu, maka susu yang sudah dipasteurisasi relatif lebih awet daripada
susu segar.
2) Susu UHT merupakan susu yang sehat dan segar.karena susu UHT memiliki waktu
pemanasan yang singkat artinya untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu serta untuk
mendapatkan aroma, warna, dan rasa yang reelatif tidak berubah seperti aslinya.
Semua kuman atau mikroorganisme termasuk bakteri pantogen dihancurkan oleh suhu
ultra tinggi, maka dari itu susu UHT lebih baik dari pada susu segar.
3) Susu segar merupakan minuman segar bergizi tinggi, susu segar mengandung zat-zat
yang diperlukan untuk pertumbuhan badan, yaitu: karbohidrat, protein, lemak,
mineral, dan vitamin A, B, dan D. Namun susu segar sangat mudah rusak.
I. Kesimpulan
[Keterampilan membuat kesimpulan] Tulislah kesimpulan dari percobaan yang saudara
lakukan.
Dari ketiga susu tersebut, semua memiliki warna, aroma, kekentalan, serta rasa yang
berbeda-beda itu artinya semua jenis susu sebenarnya baik untuk dikonsumsi untuk
tumbuh, namun bedanya hanya cara penjamah minuman memperlakukan susu tersebut,
baik melalui proses pasteurisasi, UHT, dan susu segar asli.

J. Daftar Pustaka
Wardana,Agung Setya. 2012. Teknologi Pengolahan Susu. http://pangan.unisri.ac. id/wpcontent/uploads/2012/11/BPK-Susu-2012.pdf diakses pada tanggal 06 Oktober 2014
pukul 23.55 WIB.
Saleh, Eniza. 2004. Teknologi Pengolahan Susu Dan Hasil Ikutan Ternak.
http://pascapanen.litbang.deptan.go.id/assets/media/publikasi/juknis_susu.pdf
diakses pada tanggal 06 Oktober 2014 pukul 23.56 WIB.
Lestari,D.

2012.

Penelitian

kualitas

susu

segar

sapi.

repository.unhas.ac.id/

bitstream/.../skripsi.docx? diakses pada tanggal 08 Oktober 2014 pukul 15.00 WIB.

PERCOBAAN II
A. Judul Percobaan
Pengaruh Proses Sterilisasi terhadap Kualitas Organoleptik Susu Segar
B. Permasalahan :
Bagaimana pengaruhsterilisasi terhadap kualitas organoleptik susu segar ?
C. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui pengaruh sterilisasi terhadap kualitas organoleptik susu segar.
D. Literatur atau Bacaan
Susu segar merupakan bahan makanan yang bergizi tinggi karena mengandung zat-zat
makanan yang lengkap dan seimbang seperti protein, lemak, karbohidrat, mineral, dan
vitamin yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Nilai gizinya yang tinggi juga
menyebabkan susu merupakan medium yang sangat disukai oleh mikrooganisme untuk
pertumbuhan dan perkembangannya sehingga dalam waktu yang sangat singkat susu
menjadi tidak layak dikonsumsi bila tidak ditangani secara benar.
Mikroorganisme yang berkembang didalam susu selain menyebabkan susu menjadi
rusak juga membahayakan kesehatan masyarakat sebagai konsumen akhir. Disamping itu
penanganan susu yang benar juga dapat menyebabkan daya simpan susu menjadi singkat,
harga jual murah yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi pendapatan peternak
sebagai produsen susu.
Kerusakan pada susu disebabkan oleh terbentuknya asam laktat sebagai hasil
fermentasi laktosa oleh koli. Fermentasi oleh bakteri ini akan menyebabkan aroma susu
menjadi berubah dan tidak disukai oleh konsumen. Untuk meminimalkan kontaminasi
oleh mikroorganisme dan menghambat pertumbuhan bakteri pada susu agar dapat
disimpan lebih lama maka penanganan sesudah pemerahan hendaknya

menjadi

perhatian utama peternak.


Sterilisasi susu adalah proses pengawetan susu yang dilakukan dengan cara
memanaskan susu sampai mencapai temperatur di atas titik didih, sehingga bakteri
maupun kuman berikut sporanya akan mati semua. Pembuatan susu sterilisasi dapat
dilakukan dengan cara:
1. Sistem UHT yaitu susu dipanaskan sampai suhu 137 C 140 C selama 2 5 detik.
2. Mengemas susu dalam wadah hermetis kemudian memanaskannya pada suhu 110 C
121 C selama 20 45 detik.

Cara sterilisasi susu ini memerlukan peralatan yang khusus dengan biaya yang relatif
mahal. Oleh karena itu sterilisasi susu umumnya dilakukan oleh industri-industri
pengolahan susu (Mekir, 1986).
Susu sterilisasi dibuat dari susu cair segar yang diolah menggunakan pemanasan
dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang sangat singkat untuk membunuh seluruh
mikroba, sehingga memiliki mutu yang sangat baik. Namun, citarasa susunya sudah tidak
terlalu bagus karena telah melalui proses pemanasan dengan suhu tinggi. Kelebihan
proses ini tidak menghilangkan kandungan nutrisi mikro seperti vitamin dan mineral
(Manik, 2006).
Kandungan nutrisi susu sterilisasi telah diformulasikan menyerupai susu segar dan
susu formula bubuk. Kandungannya tidak kurang dari 3,25 persen lemak susu dan 8,25
persen padatan bukan lemak. Susu yang telah mengalami proses sterilisasi dapat
disimpan dalam suhu ruangan (Rahayu, 2010).
Kerusakan susu sterilisasi ditandai oleh timbulnya bau dan rasa yang masam. Selain
menghasilkan gas, aktivitas fermentasi oleh mikroba pembusuk juga menghasilkan
alkohol dan asam-asam organik yang menyebabkan susu menjadi berflavor dan beraroma
masam (Ali dkk., 2003).
Susu sedikit lebih berat daripada air dan karena titik didih suatu cairan dipengaruhi
oleh faktor-faktor yang bertanggung jawab terhadap gravitas spesifiknya, susu mendidih
pada temperatur yang sedikit lebih tinggi daripada air. Air mendidih pada temperatur
2120F (1000C) pada permukaanlaut dan susu rata-rata

pada temperatur 212, 3 0F

(100,170C). Variasi titik beku susu sangat kecil, titik didih susu penting dari aspek
properti susu yang berhubungan dengan penguapan air dan panas yang diperlukan untuk
mereduksi susu dengan pendidihan vakum (Nurwanto, 2003).
Sifat organleptik merupakan sifat yang subyektif, tetapi merupakan sifat yang sangat
penting. Pengujian ini terdiri dari rasa, aroma, dan warna. Rasa dan aroma dapat
bersinergi membentuk citarasa. Citarasa susu sapi dipengaruhi beberapa faktor. Menurut
Hammer dan Babel (1957) faktor-faktor yang mempengaruhi citarasa susu antara lain:
penyerapan bau, bahan pakan ternak, kondisi ternak, pengaruh sinar matahari, dan
penambahan bahan asing.
Pada susu titik didih berkisar 100,54oC. Uji ini untuk menentukan susu masih
dalam keadaan baik atau tidak. Susu yang baik dalam uji didih tidak terjadi gumpalan,
sehingga uji didih negatif (Mulyani, 2003).

Susu dipengaruhi oleh cara pemanasan yang berbeda. Bila susu dipanaskan
sampai titik didih, terbentuklapisan tipis pada permukaannya. Lapisan tipis atau film ini
disebabkan oleh koagulasi sejumlah kecil kasein yang berasosiasi dengan sejumlah kecil
garam-garam kalsium dan dalam hal susu penuh. Susu dengan asam yang sedikit tinggi
akan menggumpal bila dididihkan.

Penambahan sedikit soda pada susu sebelum

dididihkan, menurunkan asi ditas susu sehingga pada saat mendidih tidak terbentuk
gumpalan. Temperatur koagulasi susu mempunyai hubungan yang erat dengan asiditas.
Gumpalan dapat terbentuk pada susu yang dipasteurisasi pada temperatur 145 0F (62,70C)
dengan waktu 30 menit kemudian segera didinginkan. Susu harus segar dan asiditas
rendah atau susu akan menjendal selama proses pasteurisasi. Proses pembuatan susu
kondensasi adalah dengan pemanasan dan konsentrasi dengan memisahkan sebagian air.
Hasil proses ini adalah komponen susu termasuk asam susu.

Susu kondensasi

mengalami koagulasi pada temperatur yang lebih rendah, oleh karenanya produk segar
harus memiliki asiditas rendah (Muchtadi, 1992).
E. Hipotesis
Ada pengaruh proses sterilisasi terhadap kualitas organoleptik susu segar.
F. Merencanakan Percobaan untuk Menguji Hipotesis
1. [Mengendalikan variabel]
a.

Variabel bebas

Proses Sterilisasi

b. Variabel terikat.
Kualitas organoleptik susu:

c.

Warna
Rasa
Aroma
Kekentalan

Variabel kontrol

Wadah susu
Jenis susu
Volume susu

2. Rencana Bahan Dan Alat


a. Bahan

No
1
2

Nama Bahan

Jumlah

Susu segar (mentah)


Susu ultra

400 ml
150 ml

Nama Alat

Jumlah

Beaker glass 500 ml


Thermometer
Panci
Autoclave
Pengukus
Kompor
Botol kaca putih bertutup
(cukup untuk 200ml)
Wadah gelas/plastic bening

1 buah
1
1
1
1
1
2

b. Alat
No
1
2
3
4
5
6
7
8

3. Rencana Cara Kerja


a) Masukkan susu segar 400 ml ke dalam beaker glass
b) susu tersebut dengan memasukkan beaker glass ke dalam panci berisi air lebih
tinggi dari permukaan susu. Suhu susu diukur 65C dipertahankan selama 15
menit.
c) Pisahkan susu menjadi dua bagaian. Pertama susu sebanyak 200 ml dimasukkan
dalam botol tertutup kemudian disimpan pada suhu 4C (sampel A). bagian kedua,
susu dalam keadaan panas dimasukkan pada botol sebanyak 200 ml. jangan
sampai penuh, dan jangan ditutup terlebih dahulu. Catatlah tinggi head spacenya,
yaitu ruang di antara permukaan susu dengan tutup botol.
d) Susu dalam botol 2 dibiarkan 2-3 menit atau head space terisi uap air, lalu botol
e)
f)
g)
h)

ditutup rapat.
Masukkan botol ke dalam autoklaf atau dandang yang sudah disiapkan.
Panaskan hingga suhu 121C selama 15-30 menit (sampel B)
Pindah sampel A dan B, masing-masing tuang dalam beaker glass, lalu amati.
Siapkan sampel C. susu ultra 150 ml dituangkan ke dalam beaker glass 200 ml,

lalu amati.
i) Siapkan sampel D, susu segar (mentah) 100 ml dituangkan ke dalam wadah
beaker glass, lalu amati.
G. Pengamatan
[Keterampilan melakukan pengamatan] Lakukan pengamatan terhadap susu sterilisasi
dan bandingkan dengan susu segar dengan membuat tabel pengamatan:
Kriteria
Warna

Sterilisasi
Putih Cerah

UHT
Susu Segar
Putih Tulang (sangat Putih Jernih

Aroma

Cukup

Kekentalan

cukup amis
Lebih Kental
pada

putih)
& Segar, sangat kejam Amis beraroma khas

Tajam

khas susu
dari Paling Kental

sterilisasi

(cukup kental)
Asin

Rasa

susu segar
Lebih Encer

Gurih, Sedikit Manis

Tawar, Amis

H. Analisis Data
[Keterampilan menganalisis data] Catat semua argumentasi dari anggota kelompok
mengenai hasil pengamatan. Lengkapi argumentasi saudara dengan teori-teori
pendukung yang bersumber dari pustaka baik berupa buku mapun jurnal hasil penelitian.
1) Susu sterilisasi beraroma lebih tajam, aroma tersebut mungkin dari proses
sterilisasi yang lumayan cukup lama. Susu yang melalui proses sterilisasi
mempunyai kandungan zat gizi yang masih
2) Susu UHT memang terbilang kurang bagus dari pada susu sterlisasi dan susu
segar namun susu UHT memiliki daya simpan yang mencapai 6 bulan
dibandingkan dengan susu sterilisasi dan susu segar yang tidak bisa disimpan
dalam waktu yang lama
3) Susu segar adalah susu dengan penyimpanan yang paling rentan, artinya di
biarkan sebentar, tidak langsung dikonsumsi akan membuat susu menjadi
rusak, namun susu segar adalah susu yang memiliki cita rasa paling baik
diantara susu cair yang telah diproses, karena kandungan asam lemak susu
(asam butirat) masih bagus
I. Kesimpulan
[Keterampilan membuat kesimpulan] Tulislah kesimpulan dari percobaan yang saudara
lakukan.
Dalam proses sterilisasi, bakteri maupun kuman yang ada pada suus pun telah mati
namun proses sterilisasi ini juga memerlukan waktu yang cukup lama.
J. Daftar Pustaka
Wardana,Agung Setya. 2012.Teknologi Pengolahan Susu. http://pangan.unisri.ac. id/wpcontent/uploads/2012/11/BPK-Susu-2012.pdfdiakses pada tanggal 06 Oktober 2014
pukul 23.55 WIB.

Saleh, Eniza. 2004. Teknologi Pengolahan Susu Dan Hasil Ikutan Ternak.
http://pascapanen.litbang.deptan.go.id/assets/media/publikasi/juknis_susu.pdf
diakses pada tanggal 06 Oktober 2014 pukul 23.56 WIB.
Lestari,D.

2012.

Penelitian

kualitas

susu

segar

sapi.

repository.unhas.ac.id/bitstream/.../skripsi.docx? diakses pada tanggal 08 Oktober


2014 pukul 15.00 WIB.