Anda di halaman 1dari 15

MANAJEMEN KEUANGAN

MERJER,AKUISISI, RESTRUKTURISASI DAN KEUANGAN INTERNASIONAL

Oleh:
I Gede Rikotama (1515351171)
No.Absen 18

PROGRAM EKSTENSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016

1. MERJER DAN AKUISISI


Merjer dan akuisisi merupakan alternatif untuk melakukan perluasan usaha. Istilah
merjer sering digunakan untuk menunjukkan penggabungan dua perusahaan atau lebih, dan
kemudian tinggal nama sakah satu perusahaan yang bergabung. Akuisisi mirip dengan merjer,
kecuali perusahaan baru akan terbentuk. Pengakuisisi dan yang diakuisisi hilang dan menjadi
perusahaan baru.
1.1 Motif Merjer dan Akuisisi
Mengapa perusahaan bergabung dengan perusahan lain, atau membeli perusahaan
lain? Alasan yang sering dikemukakan adalah lebih cepat dari pada harus membangun unit
usaha sendiri. Transaksi pembelian tersebut akan terjadi kalau pembelian tersebut
menguntungkan kedua belah pihak. Kondisi saling menguntungkan tersebut akan terjadi
kalai dari peristiwa akuisisi atau merjer tersebut diperoleh synergy. Synergy berarti nilai
gabungan dari kedua perusahaan tersebut lebih besar dari penjumlahan masing-masing
nilai perusahaan yang digabungkan.
Synergy dapat berwujud operating maupun financial synergy. Operating synergy
adalah synergy yang dinikmati oleh perusahaan karena kombinasi dari beberapa operasi
sehingga dapat menekan biaya dan/atau menaikkan penghasilan. Financial synergy berasal
dari penghematan yang dinikmati perusahaan yang berasal dari sumber pendanaan.
Disamping alasan-alasan yang diharapkan dapat menimbulkan synergy, kadangkadang akuisisi dilakukan dengan alasan yang meragunakan dan tidak masuk akal, yaitu:
a. Diversifikasi, konsep Capital Assets Pricing Model (CAPM) diketahui bahwa
diversifikasi tidaklah menimbulkan manfaat, karena pasar akan menentukan nilai
perusahaan berdasarkan atas risiko yang tidak bisa dihilangkan dengan diversifikasi.
b. Meningkatkan Pertumbuhan, pertumbuhan akan memperbesar perusahaan, tetapi tanpa
peningkatan efisiensi atau sinergi, maka tidak ada pengaruh positif terhadap pemegang
saham.
c. Meningkatkan EPS, tujuan meningkatkan EPS juga merupakan tujuan yang tidak
masuk akal karena peningkatan EPS belum tentu memberikan nilai tambah terhadap
pemegang saham.
Alasan lainnya yang tidak nampak dari merjer dan akuisisi adalah salah satu
motifnya adalah keinginan manajer untuk mempertahankan sumber daya perusahaan.
Caranya adalah dengan membeli perusahaan lain, yang berarti kas tidak jatuh pihak lain.
1.2 Jenis Merjer dan Akuisisi

Berdasarkan atas cara perluasan yang dilakukan, merjer dan akuisisi dapat
dilakukan dengan cara:
1) Horisontal: penggabungan perusahaan dalam jenis bisnis yang sama
2) Vertikal: penggabungan perusahaan yang mempunyai keterkaitan antara input-output
3) Congeneric: penggabungan perusahaan dalam industri yang sama tetapi tidak
memproduksi produk yang sama dan tidak ada keterkaitan supplier.
4) Conglomerate: penggabungan perusahaan dari industri yang berbeda
Sedangkan merjer dan akuisisi berdasarkan jenis penggabungannya meliput:
1) Akuisisi saham, terjadi bila perusahaan yang mengakuisisi membeli sebagian besar
saham perusahaan yang menjadi target akuisisi. Akuisisi saham dapat dilakukan dengan
cara bersahabat (friendly) dan tidak bersahabat (hostile). Friendly Merger terjadi bila
manajemen kedua belah pihak berunding bersama dan hasil perundingan tersebut akan
diusulkan ke pemilik perusahaan. Hostile Merger terjadi bila manajemen perusahaan
dari acquired company tidak diajak berunding, tetapi perusahaan yang akan
mengakuisisi langsung menawarkan ke pemegang saham acquired company
persyaratan-persyaratan yang dinilai cukup menarik.
2) Akuisisi aset, terjadi bila perusahaan yang mengakuisisi membeli sebagian atau seluruh
aset perusahaan yang menjadi target akusisi. Persetujuan formal dari pemegang saham
perusahaan yang menjadi diperlukan. Bentuk ini akan menghindarkan perusahaan dari
kemungkinan memiliki pemegang saham minoritas.
1.3 Taktik Perusahaan Mempertahankan Diri dari Merjer dan Akuisisi
Secara umum taktik untuk mempertahankan diri dapat diklasifikasikan menjadi dua,
yaitu: sebelum penawaran dan sesudah penawaran. Sebelum penawaran, cara terbaik untuk
mempertahankan diri dari pengambilan oleh perusahaan lain adalah:
1) Mengubahnya menjadi perusahaan persorangan. Dengan menjadi perusahaan
perseorangan, maka kendali ada pada satu tangan, keputusan yang diambil tidak
memerlukan

musyawarah,

dalam

kaitan

mempertahankan

perusahaan

dari

pengambilalihan oleh perusahaan lain.


2) Mempertahankan proporsi kepemilikan saham pada satu orang atau kelompok orang,
misalnya 50 persen saham dipegang oleh pendirinya dan 30 persen saham dipegang
oleh karyawannya.
3) Meningkatkan skala usaha, skala usaha yang besar akan menyulitkan perusahaan lain
yang ingin membelinya karena tentu diperlukan dana yang besar.
4) Mempertahankan harga saham yang kuat, yang mencerminkan kuatnya manajemen,
prospek pertumbuhan dan kesempatan investasi yang baik.
5) Persyaratan merjer yang makin ketat, misalnya perusahaan menetapkan bahwa merjer
hanya dapat dilakukan apabila disetuji oleh minimal 80% pemegang saham.

6) Membuat perusahaan menjadi tidak menarik untuk diambil alih yang disebut juga
dengan poison pill. Poison pill dilakukan dengan memberikan kepada pemegang saham
perushaan yag akan dibeli untuk menjual sahamnya dengan harga yang tinggi atau
pemberian hak untuk memperoleh saham baru dengan discount yang cukup besar atau
bahkan gratis.
Jika strategi sebelum penawaran tidak berhasil melindungi perusahaan dari
pembelian oleh perusahaan lain, setelah penawaran perusahaan masih dapat melakukan
berbagai cara untuk menggagalkan pertemuan tersebut
1. Mengajukan tuntutan dengan dalih anti monopoli atau jika dirasa harga penawaran
tidak wajar, perusahaan dapat meminta untuk dilakukan harga penawaran lebih baik.
2. Menjual sebagian perusahaan kepada pihak ketiga atau menciptakan hutang yang
semakin besar dengan cara membeli kembali sebagian saham perusahaan.
3. Pembuatan kontrak khusus yang menjamin eksekutif tidak akan kehilangan pekerjaan
atau pemberian kompensasi yang sangat besar apabila terjadi penggabungan
perusahaan. Cara ini disebut Golden Parachut, dimana manajer tidak khawatir akan
kehilangan pekerjaan, kalaupun pembelian jadi dilakukan, manajer akan melakukan
negosiasi untuk menentukan harga yang wajar atau lebih mementingkan kepemtingan
pemegang saham.
1.4 Menaksir Biaya Akuisisi
Asumsi dasar dalam menganalisis biaya akuisisi adalah bahwa pasar modal adalah
efisien, dengan dmeikian harga yang tercantum dibursa adalah harga yang wajar.

Contoh 1
PT WISTA memiliki 10 juta lembar saham dengan harga RP 8.000 per lembar dibeli oleh
PT RIAN dengan harga Rp 9.000 per lembar. PT RIAN A memiliki 50 juta lembar saham
dengan harga perlembar Rp 12.000. diharapkan dengan akuisisi tersebut PT RIAN akan
dapat menghemat biaya sebesar Rp 1.000 juta pada tahun depan, dan penghematan tersebut
diharapkan meningkat sebesar 10% per tahun selamanya. Apabila tingkat keuntungan yang
layak adalah 17%, berapakah biaya akuisisi dan manfaat akuisisi tersebut?
Jawab:
Biaya Akuisi

= 10 jta (Rp 9.000 Rp 8.000)


= Rp 10 milyar
Manfaat akuisisi
= 1000 juta/ (0.17-0.10)
= Rp 14,3 milyar
Manfaat akuisisi bisa dihitung dengan rumus:
PVAS-(PVA+PVS)
Keterangan:

PVR
PVW
PVwR

= nilai equity perusahaan A = Rp 600 milyar


= nilai equity perusahaan S = Rp 80 milyar
= nilai gabungan equity PT A dan PT S setelah mendapat synergy
(600 M+80 M+ 14,3 M) = Rp 694,3 M

Dengan demikian manfaat akuisisi :


PVAS-(PVA+PVS)
= Rp 694,3 M (Rp 600 M + Rp 80 M)
= Rp 14,30 Milyar
Manfaat bersih (NPV)

= Rp 14,3 M Rp 10 M
= Rp 4,30 Milyar

Dengan demikian, kalau peristiwa akuisisi memberikan manfaat bersih, maka biaya
yang ditanggung oleh acquired company akan lebih besar apabila dibandingkan dengan
akuisisi secara tunai. Sebaliknya yang terjadi kalau akuisisi tersebut memberika kerugian
bagi acquiring company.

Contoh 2
PT. A merencanakan akan mengakuisisi PT. B. data kedua perusahaan tersebut adalah
sebagai berikut:

1. EPS
2. Harga saham lembar saham
3. PER
4. Jumlah lembar saham
5. Laba setelah pajak
6. Nilai pasar equity

PT.A
Rp 2.000
Rp 20.000
10x
10 juta
Rp 20 milyar
Rp 200 milyar

PT.B
Rp 2.000
Rp 8.000
4x
10 juta
Rp 20 milyar
Rp 80 milyar

Misalkan PT. A dapat membeli PT. B dengan harga seperti saat ini dengan cara menukar
saham, an diharapkan tidak terjadi synergy. Bagaimana EPS, harga saham, PER, jumlah
lembar saham, lba setelah pajak dan nilai equity setelah merjer? Apa kesimpulan yang
dapat kita peroleh?
Jawab:
Perhitungaan akan lebih mudah kalau dimilai dengan menghitung:
(1) Laba setelah pajak = Rp 20 milyar + Rp 20 milyar = Rp 40 milyar
(2) Nilai pasar equity = Rp 200 milyar + Rp 80 milyar = Rp 280 milyar
(3) Jumlah lembar saham = 10 juta + (Rp 80 milyar/Rp 20.000) = 14 juta lembar
(4) Dengan demikian bisa dihitung EPS, harga saham dan PER
PT.A

PT.B

PT. A (setelah merjer)

1. EPS
2. Harga saham lembar saham
3. PER
4. Jumlah lembar saham
5. Laba setelah pajak
6. Nilai pasar equity

Rp 2.000
Rp 20.000
10x
10 juta
Rp 20 milyar
Rp 200 milyar

Rp 2.000
Rp 8.000
4x
10 juta
Rp 20 milyar
Rp 80 milyar

Rp 2.857
Rp 20.000
7x
14 juta
Rp 40 milyar
Rp 280 milyar

Harga saham PT A setelah merjer tetap Rp 20.000,00 tetapi EPS dilaporkan lebih tinggi.
Apanila kita keliru memperhatikan jumlah EPS sebagai ukuran keberhasilan akuisisi, maka
kita akan mengatakan bahwa akuisisi tersebut baik bagi pemegang saham PT. A. padahal
sebenarnya kemakmuran pemegang saham PT. A tidak berubah.
Contoh 3
Sekarang misalkan dari rencana akuisisi tersebut diharapkan akan diperoleh manfaat senilai
Rp 20 milyar. Sewaktu PT. A menawarkan pertukaran saham, para pemegang saham B
setuju, asalkan saham mereka ditukar dengan 5 juta lembar saham. Berapa harga saham PT.
A yang baru? Apakah akuisisi tersebut menguntungkan para pemegang saham yang lama?
Mengapa?
Jawab:
Dengan menukar 10 juta lembar saham PT. B dengan 5 juta lembar saham PT. A,
maka jumlah lembar saham akan menjadi 15 juta lembar saham. Apabila diharapkan
diperoleh manfaat senilai Rp 20 milyar, maka PVAB = 200 + 80 + 20 = Rp 300 milyar.
Dengan demikian maka harga saham setelah akuisisi akan menjadi Rp 300
milyar/15 juta = Rp 20.000,00. Ini berarti bagi pemegang saham lama akuisisi tersebut
tidak memberikan manfaat satu rupiahpun. Seluruh manfaat (sebesar Rp 20 milyar)
dinikmati oleh bekas pemegang saham PT. B
Contoh 4
PT A yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman merencanakan untuk
mengakuisisi PT C yang juga bergerak dalam bidang makanan dan minuman. Dari akuisisi
tersebut diharapkan akan dapat dihemat biaya promosi dan distribusi sebesar Rp 1,50
milyar pada tahun depan, dan diperkirakan akan meningkat sebesar 10% per tahun
selamanya. Perusahaan saat ini telah membayar pajak penghasilan dengan tariff 35%.
Harga saham PT. C sebelum rencana akuisisi ini dibicarakan adalah Rp 5.000 per lembar,
dengan jumlah yang beredar sebanyak 6 juta lembar. Perusahaan menggunakan tingkat
bunga sebesar 18% untuk mengevaluasi rencana investasi. Apabila para pemegang saham
PT. A menyatakan bahwa mereka haruslah dapat menikmati manfaat akuisisi tersebut
minimal sebesar 50%, berapakah harga maksimum yang akan ditawarkan pada PT. C?
Jawab:

Dengan penghematan biaya sebesar Rp 1,50 milyar pada tahun depan, maka
tambahan kas masuk setelah pajak akan sebesar (1-0,35) Rp 1,50 milyat = Rp 975 juta.
Dengan demikian manfaat dari akuisisi tersebut diharapkan akan sebesar 975 juta/(0,180,10) = Rp 12.187,50 juta.
Karena manfaat yang diinginkan dinikmati oleh pemegang saham PT. A adalah 50%nya, maka yang boleh dinikmati oleh pemegang saham PT. C (sebagai biaya bagi
pemegang saham PT. A) adalah =: 50% x Rp 12.187,50 juta = Rp 6.093,75 juta
Dengan jumlah lembar saham sebanyak 6 juta lembar, maka kenaikan harga saham
yang dapat ditolerir adalah Rp 6.093,75/6 juta = Rp 1.015 (dibulatkan). Harga maksimum
yang akan ditawarkan ke PT. C adalah : Rp 6.000 + Rp 1.015 = Rp 7.015
2. RESTRUKTURISASI,
Perusahaan tidak selalu berjalan sesuai rencana, tentunya dalam perjalanan suatu
perusahaan pasti akan menghadapi kesulitan. Kesulitan yang cukup mengganggu kelancaran
perjalanan perusahaan adalah yang terkait mengenai keuangan perusahaan tersebut baik
kesulitan keuangan ringan dan juga lebih serius yaitu tidak solvabel.
Ketika sudah memasuki tahap solvabel ini terdapat dua penyelesaian untuk
mengatasinya yaitu liquidasi atau reorganisasi. Liquidasi dipilih jika nilai liquidasi lebih besar
dibanding dengan nilai perusahaan bila diteruskan. Reorganisasi dipilih jika perusahaan masih
menunjukan prospek yang baik.
Penyelesaian secara informal ditempuh apabila masalah belum begitu parah, masalah
perusahaan hanya bersifat sementara dan prospek masa depan masih bagus. Cara informal yang
biasa ditempuh :
a. Perpanjangan (extension): dilakukan dengan memperpanjang jatuh tempo hutang
hutang.
b. Komposisi (composition): dilakukan dengan mengurangi besarnya tagihan.
c. Liquidasi: jika nilai liquidasi lebih besar dari nilai going concern.
Pemecahan secara formal ditempuh apabila masalah sudah parah, kerditur dan pemasok
dana lainnya ingin mempunyai jaminan keamanan da keadilan. Pemecahan secara formal
melibatkan pihak ketiga yaitu pengadilan. Dengan cara:
a. Apabila nilai perusahaan lebih besar dari nilai perusahaan liquidasi, dilakukan
reorganisasi dengan merubah struktur modal menjadi struktur modal yang layak.
Perubahan bisa dilakukan melalui perpanjangan, perubahan komposisi, atau keduanya.

b. Apabila nilai perusahaan lebih kecil dari nilai perusahaan diliquidasi, liquidasi lebih
baik dilakukan. Liquidasi dengan menjual aset aset perusahaan, kemudian didistribusi
ke pemasok modal dibawah pengawasan pihak ketiga.
Berkaitan dengan masalah keunagan ini maka akan dibahas beberapa hal yang terkait
diantaranya : restrukturisasi, reorganisasi, dan liquidasi.
Restrukturisasi adalah kegiatan merubah struktur perusahaan, dalam hal ini bisa
berarti membesar atau makin kecil. Restrukturisasi yang semakin mengecil merupakan
kegiatan perusahaan untuk merampingkan usahanya sebagai akibat unit kegiatan tersebut
tidak ekonomis lagi atau karena kesulitan keuangan yang dialami perusahaan.
Restrukturisasi ini bisa dilakukan dengan penjualan unit unit kegiatan (sell off) atau
pemisahan unit unit kegiatan tersebut dari kegiatan perusahaan (spin off), menarik diri
dari pasar modal dengan going private atau leverage buy out.
Sell off, perusahaan yang mempunyai unit kegiatan yang beraneka ragam, pada
suatu ketika dianggap unit unit tersebut dianggap tidak ekonoms lagi. Kondisi ini
disebabkan kemungkinan karena tingkat kegiatannya terlalu rendah sehingga sulit
mencapai economics of scale. Apabila unit kegiatan tersebut dianggap merupakan beban
perusahaan, maka perusahaan bisa menjual unit kegiatan tersebut apakah dilakukan secara
tunai atau dengan pertukaran saham.
Contoh : Perusahaan rokok PT. CIGARETE

memiliki perkebunan, karena

perusahaan mengalami kesulitan keuangan maka PT CIGARETE tersebut bisa menjual


unit perkebunan yang dimiliki kepada PT TEBACO sebagai perusahaan perkebunan
tembakau yang dilakukan sebagai perusahaan perkebunan tembakau yang dilakukan secara
tunai atau pertukaran saham. Apabila cara terakhir ditempuh, maka PT TEBACO ikut
memiliki saham PT CIGARETE.
Spin off, dilakukan apabila unit kegiatan yang dimiliki suatu perusahaan dipisahkan
dan berdiri sendiri menjadi perusahaan baru. Dengan demikian perushaan baru yang
terpisah tersebut memiliki manajemen sendiri yang independen dalam mengambil
keputusan. Alasan spin off dilakukan adalah agar unit kegiatan yang dipisahkan memiliki
manajemen tersendiri, sehingga dapat mengambil keputusan lebih cepat, efisien dan
bertanggungjawab.
Mengurangi beban beban yang menghimpit perusahaan dengan beberapa cara
diantaranya dengan :
a) Extention, melalui perpanjangan kreditor bersedia memperpanjang masa jatuh tempo
hutangnya.
b) Komposisi, dilakukan melalui perubahan nilai hutang lama.

c) Going Private, perusahan menarik diri untuk tidak terdaftar lagi di pasar modal hal ini
bisa dilakukan dengan membeli saham saham yang sudah dipublish. Alasan
dilakukannya going private menganggap bahwa go public dinilai membebani
perusahaan.
d) Leverage buy out, perusahaan menarik diri untuk tidak terdaftar lagi di pasar modal
yang dilakukan dengan menggunakan dana pihak ketiga. Hal ini berarti bahwa saham
saham tersebut dibeli dengan sumber dana pinjaman yang dijamin dengan aktiva dan
arus kas perusahaan.

3. KEUANGAN INTERNASIONAL
3.1 Keuangan Internasional
Keuangan Internasional merupakan instrument yang digunakan untuk membahas arus
dengan skala yang besar dalam Hubungan Internasional. Terjadi banyak problem-problem yang
menyangkut permasalahan keuangan global yang dipengaruhi ekonomi politik sehingga
memerlukan perhatian lebih khusus terhadap permasalahan tersebut. Problem-problem yang
terjadi menyangkut keuangan internasional sudah terjadi beberapa abad terakhir ini,masalah
tersebut timbul dikarenakan terdapat kepentingan-kepentingan dari tiap-tiap negara di dunia
sehingga menyebabkan permasalahan yang bersifat global. Pemerintah terus berusaha mencari
cara yang efisien untuk mengatur dan menentukan kelancaran dari arus keuangan internasional.
Cara atau sistem yang bersifat efisien dan stabil dalam keuangan internasional harus
dapat menyelesaikan 3 permasalahan teknis antara lain sebagai berikut :
(1) Likuiditas
Sistem keuangan ini memberikan suplai terhadap mata uang yang memadai dan tidak
menimbulkan

dampak

inflasi,

membuat

penyesuaian,

membuat

metode

untuk

menyelesaikan permasalahan terhadap ketidak seimbangan neraca pembayaran sehingga


dapat menjalin likuiditas keuangan.
(2) Peraturan
Setiap permasalahan harus dapat diselesaikan dengan sistem keuangan internasional
yang beroperasi secara efisien dan terintegrasi terhadap perekonomian dunia. Setiap rezim
dan sistem keuangan internasional suatu Negara bergantung pada peraturan dan tatanan
politik yang berlaku dalam Negara tersebut. Karena sistem moneter internasional

berpengaruh terhadap kepentingan suatu Negara dan terdapat timbal baik berupa usaha
dari Negara-negara yang mencoba untuk mempengaruhi sistem yang berlaku.
(3) Kepercayaan
Dalam hal ini Negara harus bertanggung jawab dan dapat dipercaya dalam menciptakan
arus keuangan global yang stabil, mengatur laju peredaran mata uang dan menghindarkan
dari dampak buruk inflasi.

3.2 Manajemen Keuangan Internasional


Manajemen keuangan internasional adalah perencanaan, pengorganisasian, dan
pengendalian Keuangan Perusahaan Multinasional (Multinational Corporation yang lazim
disebut MNC). Perusahaan multinasional adalah perusahaan yang beroperasi di seluruh dunia.
Mereka adalah perusahaan-perusahaan besar yang dimiliki oleh kaum kapitalis global yang
pusatnya di Kanada, Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Italia, Perancis, dan Inggris.
Perusahaan-perusahaan itu lazim disebut konglomerat global atau kapitalis global. Mereka
tidak mengenal negara, bangsa, tanah air, dalam mengembangkan kapitalnya. Dewasa ini
perusahaan-perusahaan tersebut menguasai ekonomi dunia, dan menguasai ekonomi negaranegara sedang berkembang di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Tujuan mereka yang utama
adalah mencari keuntungan.
Keuangan internasional penting bagi:
(1) Ekspansi perusahaan multinasional (MultiNational Corporation atau MNC) ke Negaranegara sedang berkembang (NSB),
(2) Ekspansi ideologi globalisasi, dan
(3) Perdagangan Internasional (Ekspor-impor).
Para pemikir ekonomi liberal menyatakan bahwa ekspansi MNC ke negara-negara
sedang berkembang merupakan lokomotif pembangunan di NSB, oleh sebab itu kehadirannya
sangat diharapkan.
Untuk menyakinkan rakyat di negara-negara yang sedang berkembang bahwa MNC itu
penting, dipromosikan ideologi globalisme, tanpa MNC tidak akan ada pembangunan di
negara-negara sedang berkembang karena mereka kukurangan modal, ilmu, teknologi, dan
tenaga ahli.

Manajemen Keuangan Internasional meliputi aktivitas:


(1) Aliran Financial, yaitu arus masuk modal dan pinjaman,
(2) Aliran Riil, yaitu arus masuk barang dagangan barang (bahan baku, barang setengah jadi,
dan barang jadi),
(3) Aliran Budaya, yaitu arus masuk ilmu pengetahuan, teknologi, dan pola pikir serta perilaku.
Hakikatnya manajemen keuangan internasional adalah eksport capital, budaya, dan barang
dagangan dari negara-negara kapitalis maju ke negara-negara sedang berkembang.
Bagi Negara sedang berkembang (NSB) hadirnya MNC adalah merupakan bentuk
kolonisasi modern yang dibawa oleh proses globalisasi. Banyak cendekiawan berinisiatif
melawannya. Mereka mengatakan bahwa globalisasi adalah rekayasa manusia MNC untuk
menguasai ekonomi, sosial, politik, dan budaya (pendidikan) negara-negara sedang
berkembang. Namun, dibalik itu semua ada setitik keuntungan yaitu:
a.
b.

Dapat memanfaatkan keunggulan komparatif,


Transfer ilmu pengetahuan dan teknologi.

Risiko yang dihadapi NSB adalah:


a.

Ketidakpastian nilai tukar valuta asing, karena nilai mata uang dapat dipermainkan oleh

b.

kapitalis global,
Risiko negara (country risk) yang tinggi, MNC dapat menguasai politik NSB karena
ekonominya telah dihegemoni dan di dominasi.

Bagaimanapun juga, manajemen keuangan internasional itu penting dipelajari karena dapat:
(1) Membantu manajer keuangan dalam memprediksi kejadian-kejadian internasional dan
dampak kejadian-kejadian internasional terhadap keputusan keuangan perusahaan,
(2) Mengetahui siklus ekonomi dunia (tumbuh, krisis, recovery),
(3) Mengetahui kelebihan MNC dalam memberdayakan NSB sehingga NSB tergantung
kepadanya,
(4) Mengetahui moral bangsa (patriot, kapitalis birokrat, kapitalis komprador),
(5) Memahami karakter MNC yang hanya berorientasi mencari keuntungan tanpa peduli nasib
banyak rakyat yang dikuasainya,
(6) Mengetahui aliran dana dari negara maju ke NSB dan dari NSB ke negara maju.

3.3 Sistem dan Lembaga Keuangan Internasional


Para sejarawan khususnya yang menekuni perjalanan perekonomian dunia, kebanyakan
memandang tahun 1870 sebagai salah satu tonggak sejarah perekonomian dunia, oleh karena
mulai sekitar tahun itulah dalam perekonomian dunia dijumpai adanya jaringan keuangan antar
Negara yang sedemikian luas cakupannya dan sedemikian efektif bekerjanya, sehingga pantas
untuk disebut sebagai sistem keuangan dunia.
Kurun waktu yang mencakup masa satu abad lebih, yang dimulai pada tahun 1870
hingga sekarang ini, secara garis besar bias dibagi menjadi tiga, yaitu: masa pra perang dunia,
masa antar perang dunia, masa pasca perang dunia. Dengan mendasarkan pada
pengelompokkan kurun waktu tersebut, maka akan diuraikan secara garis besar perkembangan
system moneter internasional untuk kurun waktu sekitar dua belas dasawarsa tersebut.

3.4 Sistem Keuangan Internasional


a. Gold Standard System
Gold Standard System adalah sistem keuangan internasional yang didasarkan
pada standar emas hingga menggunakan sistem nilai tukar tetap (fixed exchange rate).
Sistem ini dapat menghilangkan ketidakpastian bila terjadi fluktuasi nilai tukar
sehingga dapat mendorong perdagangan dunia dan diberlakukan hingga sebelum
Perang Dunia I.
Kelemahan standar emas:
a) Negara tidak memiliki kendali terhadap kebijakan moneter karena jumlah uang
beredar ditentukan oleh emas yang mengalir antarnegara
b) Kebijakan moneter dunia menjadi sangat tergantung pada produksi emas (terjadi
deflasi saat produksi emas dunia menurun dan inflasi saat produksi emas dunia
meningkat).
Kelebihan Standar Emas:
a) Diterima dan digunakan masyarakat internasional sebagai alat pembayaran yang
sah.
b) Nilainya cenderung stabil dibanding logam lainnya, sehingga dapat menjaga nilai
stabilitas nilai tukar uang.
c) Membantu perkembangan perekonomian dengan terciptannya sistem moneter yang
seragam.

d) Adanya kebebasan melebur mata uang emas menjadi bentuk logam emas yang
dapat dijual sebagai logam emas, atau tindakan yang sebaliknya yaitu dapat
menukarkan logam emas menjadi uang emas dalam bentuk koin.
b. Bretton Woods System
Perang Dunia I mengacaukan perdagangan internasional, Negara-negara tidak
dapat mengkonversi mata uang ke dalam emas sehingga Sistem gold standard tidak
dapat digunakan. Maka, diadakanlah pertemuan negara Sekutu pemenang PD II di
Bretton Woods, New Hampshire, untuk mengembangkan sistem moneter internasional.
Pertemuan tersebut melahirkan kesepakatan adanya nilai tukar mata uang tetap
yang dipertahankan oleh bank sentral setiap negara dengan jalan membeli atau menjual
mata uangnya. Rezim ini disebut sebagai rezim nilai tukar tetap atau sistem Bretton
Woods.
c. Sistem Nilai Tukar Tetap
Sistem nilai tukar Bretton Woods didasarkan pada nilai Konversi dolar Amerika
terhadap emas, yaitu $35 per ons. Nilai tukar tetap dijaga oleh bank sentral tiap negara
dengan melakukan intervensi pasar nilai tukar (foreign exchange market), yakni
tindakan jual atau beli aset.

3.5 Lembaga Keuangan Internasional


a. IMF
IMF merupakan lembaga keuangan internasional yang memiliki peran penting dalam
menjaga stabilitas sistem keuangan internasional. Peran tersebut hampir sama dengan
peran bank sentral (mengendalikan kondisi ekonomi/kebijakan moneter negara-negara
anggotanya). Perbedaannya adalah cadangan yang dimiliki IMF berupa mata uang
beberapa negara anggotanya serta tidak memiliki hak mencetak uang.
Tugas IMF:
(1) Mendorong pertumbuhan perdagangan dunia dengan membuat peraturan untuk
menjaga nilai tukar tetap
(2) Memberi pinjaman kepada negara yang mengalami defisit neraca pembayaran
(balance of payment)
(3) Mengumpulkan dan melakukan standardisasi data perekonomian internasional
b. Bank Dunia
Tugas Bank Dunia adalah untuk memberikan pinjaman kepada pemerintah negaranegara anggota (yang juga merupakan negara anggota IMF) atau kepada organisasi
pemerintah / swasta yang dijamin oleh pemerintah. Maka, Bank Dunia dikatakan
sebagai organisasi antarpemerintah (intergovernmental). Pinjaman yang diberikan oleh
Bank Dunia dapat sebagian atau keseluruhan jumlah biaya dari proyek yang diusulkan.
Tugas Bank Dunia:

(1) Menyediakan

pinjaman

jangka

panjang

untuk

membantu

negara-negara

berkembang, seperti membangun waduk, jalan, dan modal fisik lain untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Kelemahan sistem Bretton Woods adalah bahwa IMF tidak dapat menekan negara yang
mengalami surplus untuk meningkatkan nilai mata uang atau melakukan kebijakan
moneter yang ekspansif. Akibatnya, Sistem Bretton Woods tidak dapat digunakan dan
kolaps pada tahun 1971.
Dalam mengevaluasi pendayagunaan dana di suatu negara, Bank Dunia dapat
melakukan:
(1) Mengirim misi ekonomi secara periodik untuk melihat kemajuan dan masalahmasalah

pembangunan

di

negara

tersebut,

serta

mengamati

kebijakan

perekonomiannya.
(2) Memberi konsultasi serta saran-saran mengenai perubahan kebijakan ekonomi yang
diperlukan berdasarkan misi ekonomi tersebut.
c. Asian Development Bank (ADB)
Lembaga keuangan internasional ini didirikan pada tahun 1966 dengan tujuan utama
mendorong pertumbuhan ekonomi dan kerja sama di kawasan Asia dan Timur Jauh.
ADB berfungsi menyalurkan dana, menyokong investasi, dan memberikan bantuan
teknis (technical assistance) kepada negara-negara berkembang yang menjadi
anggotanya.
d. Islamic Development Bank (IDB)
Lembaga keuangan internasional ini didirikan pada tahun 1975 yang bertujuan untuk
memajukan pembangunan ekonomi dan sosial di negara-negara anggota dan
masyarakat Islam, baik secara individual maupun kolektif berdasarkan syariah Islam.

REFRENSI

Wiagustini, Ni Luh Putu.2013.Manajemen Keuangan.Denpasar:Udayana University Press.

http://karyailmiah-irfan.blogspot.com/2010/11/manajemen-keuangan-internasional.html
http://anasunni.wordpress.com/2012/12/25/makalah-ekonomi-internasional/