Anda di halaman 1dari 4

1.

1 Reorganisasi
Kadang kala disaat perusahaan mengalami kesulitan maka perusahaan terpaksa harus
bertahan dengan apa yang ada atau memperkecil diri, agar tidak megalami kesulitan yang
makin para. Reorganisasi dalam aspek financial dilakukan untuk memperkecil beban
financial yang tetap sifatnya. Hal ini dilakukan apabila perusahaan sekiranya masih memiliki
prospek yang baik sehingga dapat tertolong nantinya.
Rencana reorganisasi didasarkan pada prinsip keadilan dan kelayakan. Prinsip
keadilan berart semua pihak harus diperlakukan secara adil. Prinsip kelayakan berarti rencana
yang akan dilakukan haruslah layak (bisa). Contoh nya ketika perusahaan memiliki beban
hutang terlalu tinggi sedangkan kemampuan penjualan sangat kecil maka reorganisasi tidak
layak dilakukan.Beberapa perusahaan melakukanreorganisasi dengan merestrukturisasi
hutang mereka. Proses ini dilakukan dengan mengadakan extention atau composition.
Dalam melakukan reorganisasi finansial, ada beberapa langkah yang harus ditempuh
yaitu menaksir nilai perusahaan, dan menentukan struktur modal yang baru :
a) Menentukan nilai perusahaan, yang biasa dilakukan berdasarkan tingkat kapitalisasi.
Misalkan kurator atau pihak penilai memperkirakan perusahaan setelah direorganisasi
dapat menghasilkan pendapatan bersih setahunnya Rp 10 milyar. Tingkat kapitalisasi
untuk perusahaan serupa adalah 20%. Nilai perusahaan dapat dihitung sbb :
(1) Nilai Perusahaan = Rp 10 milyar / 0.2 = Rp 50 milyar.
(2) Pihak lain bisa sampai pada angka yang berbeda, hal ini sangat mungkin terjadi
karena sulit memperkirakan pendapatan bersih dimasa mendatang.
b) Menentukan struktur modal yang baru, struktur modal bertujuan untuk mengurangi beban
tetap (bunga) agar perusahaan dapat berorganisasi dengan fleksibel, dengan cara
mengurangi total hutang perusahaan.
Berikut ini contoh langkah langkah yang dilakukan untuk reorganisasi :
a) Menentukan nilai perusahaan, misalkan pihak curator dan pengdilan memperkirakan
penjualan perusahaan mendatang menapai Rp 75 juta pertahun. Dengan profit margin
sekitar 10%, maka keuntungan yang akan diperoleh adalah Rp 75 juta / 0,01 = Rp 7,5 juta
setahun.

b) Menghitung tingkat kapitalisasi atau tingkat multiple, dan nilai perusahaan. Misalkan
tingkat kapitalisasi perusahaan yang sejenis sekitar 12%, maka Nilai = Rp 7,5 juta / 0,12
= Rp 62,50 juta.
(1) Teknink multiple (seperti PER) juga bisa digunakan, misalkan rasio PER (Price
Earing Ratio) untuk perushaan lain sekitar 8 kali. Rasio tersebut dinilai cukup wajar
untuk perusahaan tersebut. Maka dengan menggunakan teknik ini Nilai perusahaan=
Rp7,5 juta x 8 = Rp 60 juta. Karena dilakukan dengan cara yang berbeda maka hasil
yang diperoleh juga berbeda, misalkan kuratir menentukan nilai perusahaan Rp 60
juta.
c) Menentukan struktur modal yang baru, karena jumlah Rp 60 juta tersebut lebih rendah
disbanding total klaim (total pasiva), maka struktur modal yang baru perlu ditentukan
yang diharapkan akan lebih meringankan beban tetap perusahaan.
Reorganisasi finansial sering dibarengi dengan konsolidasi yaitu membuat perusahaan
jadi lebih ramping secara operasional. Hal ini dilakukan dengan cara :
a. Melakukan penghematan biaya, membatalkan atau menunda pengeluaran yang tidak
b.
c.
d.
e.

perlu.
Menjual aktiva aktiva yang tidak diperlukan.
Divisi (unit bisnis) yang tidak menguntungkan dihilangkan atau digabungkan.
Menunda rencana ekspansi sampai situasi nilai telah menguntungkan.
Memanfaatkan kas yang ada, tidak menambah hutang, dan menjaga liquiditas. Dalam
jangka pendek mungkin sekali profitabilitas dikorbankan (profitabilitas terpaksa negatif).

1.2 Likuidasi
Pengertian likuidasi sendiri bisa dilihat dari pendekatan lairan kas dan pendekatan
stock. Dengan pendekatan stock, perusahaan bisa dinyatakan likuidasi jika total kewajiban
lebih besar dari total aktiva. Jika perusahaan mempunyai hutang Rp 1 milyar sementara total
asetnya Rp 500 juta perusahaan bisa dinyataknalikuidasi/bangkrut. Dengan pendekatan aliran
kas, perusahaan akan bangkrut jika tidak menghasilkan aliran kas yang cukup. Dari sudut
pandang stock, perusahaan bisa dinyatakan likuidasi meskipun mungkin masih menghasilkan
kas yang cukup atau prospek yang baik dimasa mendatang.
Likuidasi ditempuh apabila krefitur mendapat prospek perusahaan tidak lagi
menguntungkan walaupun ditambah modal atau merubah kredit menjadi penyertaan. Biasany
kreditur akan meminta perusahaan dilikuidir. Proses likuidasi bisa dilakukan secara formal
maupun tidak formal. Proses likuidasi tidak formal dilakukan dengan pertimbangan untuk
biaya yang lebih murah, aktivita lebih sederhana, kreditur mendapatkan uangnya lebih

banyak dan cepat. Proses likuidasi formal melibatkan pihak ketiga seperti pengadilan,
melalui pihak ketiga pihak pihak yang terlibat dalam kebangkrutan bisa memperoleh
perlindungan dari pihak lainnya. Pengadilan berusaha agar pihak yang terkait mendapatkan
perlakuan yang adil selama proses perbaikan tersebut.
Ada dua alasan teoritis perusahaan memilih jalur formal yaitu permasalahan Common
Pool dan Hold Out :
1) Common Pool, misalkan suatu perusahaan mempunyai nilai hutang nominal sebesar Rp
20 milyar yang berasal dari 10 kreditor dengan besar masing masing adalah sama. Nilai
pasar perusahaan tersebut jika bertahan adalah Rp 15 milyar. Jika dilikuidasi asset
perusahaan bisa dijual dan menghasilkan kas sebesar Rp 10 milyar. Jika perusahaan
memburuk sehingga tidak bisa membayar salah satu hutangnnya maka kreditur bisa
menuntut agar perusahaan dibangkurtkan.
2) Hold-Out, misalkan pada contoh diatas perusahaan berhasil meyakinkan kreditor agar
dilakukan restukturisasi. Hutang yang lama diganti dengan hutang baru yang nilainya
lebih rendah missal 1,4 milyar untuk setiap kreditor. Jika kreditor menetujui total hutang
akan menjadi Rp 14 milyar. Karena nilai perusahaan jika jana terus adalah Rp 15 milyar
maka pemegang saham memperoleh sisa sebesar Rp 1 milyar dengan demikian
perusahaan tidak perlu dilikuidasi dan masih bisa berjalan terus. Kreditor secara
keseluruhan juga diuntungkan disbanding jika bangkrut, karena nilai Rp 14 milyar lebih
besar disbanding dengan Rp 10 milyar.
Kas yang diperoleh dari likuidasi asset perusahaan akan didistribusikan dengan
urutan-urutan tertentu, missal dari yang paling memperoleh hak pertama sampai yang paling
terakhir memperoleh hak.
a) Biaya administrasi yang berkaitan dengan urusan likuidasi, termasuk biaya pengacara,
curator (trustee)
b) Klaim dari kreditor yang muncul dari kegiatan bisnis mulai dari saat kasis dibawa ke
c)
d)
e)
f)

pengadilan sampai ke saat trustee diangkat


Gaji pegawai yang diperoleh dalam waktu 90 hari sesudah petisi kebangkrutan
Premi pensiunan pegawai untuk masa kerja 120 hari petisi kebangkrutan diajukan
Uang muka dari pelanggan yang membeli barang tetapi belum memperoleh barangnya
Pajak pendapatan samapi tiga tahun sebelum kebangkrutan, pajak property sampai
setahun sebelum kebangkrutan, dan semua pajak pendapatan yang masih ditahan oleh

perusahaan
g) Kreditor umum
h) Saham preferen

i) Saham biasa