Anda di halaman 1dari 3

Nama : Imron Abdul Malik

Nim : H74214013
Prodi : Ilmu Kelauatan

MENGKRITISI ALIRAN YANG DINILAI MENYIMPANG


HIZBUT TAHRIR
Disini saya akan membahas tentang hizbut tahrir yang dimana aliran yang didirikan
oleh syaikh Taqiyuddin al-Nabhani (19056-1978M) yang di nilai oleh kampus UIN Sunan
Ampel sendiri menyimpang dan ilegal karena mereka tidak mengakui bahwa pancasila
sebagai dasar negara indonesia. Mereka mempunyai sitem pemerintahan sendiri yaitu
Khilafah islamiyah.
Secara resmi, Hizbut Tahrir sendiri mendefinisikan dirinya sebagai partai politik yang
berlandaskan islam. Mereka berusaha membuat masyarakat berhukum dengan islam dan
kemudian menggiringnya untuk kembali menegakan khilafah. Mereka juga mengaku bukan
sebagai lembaga rohani, bukan lembaga ilmiah atau pendidikan dan bukan pula lembaga
sosial tetapi murni sebagai lembaga politik. (Al_Tarif bi Hizb al-Tahrir, Beirut : Dar alUmmah 1431H/2010SM)
Hanya saja pada kenyataanya ajaran yang dibawa hizbut tahri tidak lah murni politik,
melainkan mencakup kajian fiqh dan aqidah sebagaimana yang banyak disebutkan dalam
kitab-kitab otoritatif di kalangan mereka. Dalam poin inilah Hizbut Tahrir banyak menuai
kritik tajam karena keluar dari mainstream para ulama.
Adapun bebrapa ajaran pokok Hizbut Tahrir dalam buku-buku yang secara resmi
mereka akui sebagai pandangan pokok:
a. Wajib mendirikan partai politik
Dalam Al-Quran allah berfirman yang artinya
Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan orang yang menyeru pada kebijakan,
meyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang keji merekalah orang-orang yang
beruntung.(Qs. Ali-imron104)
Bagi Hizbut Tahrir, kata ummat atau segolongan orang dalam ayat itu wajib berwujud
sebagai partai politik. Bahkan menurut mereka, amar maruf dan nahi munkar yang paling
penting adalah mengawasi para penguasa (muhasabat al-hukkam) dan memberi nasihat
kepada mereka.
Tentu saja ajaran ini sangat tidak tepat karena di masa Khulafa al-Rasyidin yang
menjadi kiblat semua pemikiran tentang khilafah, justru tidak pernah ada partai poltitk.
Begitu pula pada saat setelah masanya tidak dikenal sitem keparataian yang bertugas untuk

mengawasi para penguasa. Yang ada pada masa lalu hanyalah pribadi-pribadi yang memberi
nasihat kepada penguasa atas nama individu atau kelompoknya bukan kelompok politik.
Selain itu penafsiran seperti ini juga tidak pernah ada dalam kitab-kitab tafsir yang otoritatatif
sehingga terlihat dipaksakan.
Yang lebih kontardiktif, ,eskipun hisbut tahrir menganggap ayat ini sebagai pondasi
pendirianya, tetapi dalam buku mereka yang lainya justru mengatakan kalau amar maruf
nahi munkar bukanlah jalan untuk mendirikan khilafah:
Dalm kitabnya mereka berkata yang artintya:
Tindakan-tindakan amar makruf dan nahi munkar adalah wajib atas kaum muslimin
dalam setiap keadaan..... akan tetapi melakukan kebaikan sayja tidak cukup untuk mendirikan
khilafah dan mengembalikan islam pada kehidupan, negara dan masyarakat. (hizbut tahrir,
minhaj hizab al-tahriri fi al-taghayyur, beirut : dar al-ummah, 2009m)
Bahkan lebih jauh lagi mereka justru merandahkan amr makruf nahi munkar. Dalam
perkataanya mereka berkata yang artinya:
Tindakan-tindakan amar makruf dan nahi munkar hanyalah ucapan saja. (hizbut
tahrir, minhaj hizab al-tahriri fi al-taghayyur, beirut : dar al-ummah, 2009m)
b. Wajib mendirikan khilafah kembali
Mengangkat pemimpin atau khilafah wajib bagi orang muslim, ini sudah maklum
dalam berbagai literatur penting umat ini. Tetapi besikap ekstrim dalam masalah ini juga
tidak bisa dibenarkan. Allah berfirman dalam surat annisa yang artinya
wahai ahli kitab, janganlah kalian ekstrim dalam agama kalian, dan janganlah
berkata atas allah kecuali yang benar. (Qs an-nisa 171)
Hizbut tahrir dalam politik ini berlaku sama, mereka terlalu ekstrim menyikapi
masalah khilafah sehingga seolah-olah khilafah adalah masalah akidah yang penting.
Pendiri hizbut tahrir menyatakan yang artinya :
Mengangkat khalifah adalah wajib dalam kaum muslimin seluruhnya di dunia.
Mengangkat khalifah itu sepertinya halnya mendirikan kewajiban allah yang lain atas kaum
muslimin adalah urusan yang wajib tanpa ada pilihan lain dan tanpa belas kasih didalamnya.
Lalai mengangkat khilaifah adalah maksiat terbesat yang mendapat siksa allah yang paling
keras. (taqiyyudin al-nabhani, al-syaksiyah al-islamiyah, beirut :dar al-ummah
1423H/2003M II,13. Cetak tebal dari penulis).
Perkataan diatas sangat ekstrim sekali karena menganggap khilafah adalah salah satu
kewajiban terpenting dalam islam, yang berarti lebih wajib dari rukun islam mulai syahadat
hingga naik haji. Makin ekstrim lagi ketika dia mengatakan bahwa kebradaan islam
bergantung pada kebradaan khilafah pada suatu negara, ketika khilafah tidak ada maka islam
pun tidak ada, seperti sekarang tidak ada islam. Sepintas perkataan al-Nabhani pengkafiran

terhadap kaum muslimin, akan tetapi dengan husnudzhan terhadap sesama muslim mungkin
yang dimaksudkan olehnya pengkafiran itu bukan murni pengkafiran, dalam artian tidak ada
islam yang ideal, akan tetapi diucapkan dengan kalimat yang buruk.
Pada buku yang lain dikatakan bahwa perjuangan mengakan khilafah itu tidak bolleh
perseorangan tapi harus beruapa partai politik. Ini untuk menyal;ahkan orang-orang yang juga
menghendaki berdirinya khilafah, tapi tidak bergabung dengan partai politik. Partai politik
tersebut maka harus menggunakan misi khilafah.
Dengan perkataan al-nabhani hendak berkata bahwa di dunia ini sekarang se mua
orang menanggung dosa yang besar kecuali orang-orang yang ikut dalam hizbut tahrir karena
di dunia ini hanya hizbut tahrir yang terang-terangan mengaku sebagai paratai politik yang
mengusung ide khilafah. Apabila melihat idenya hizbut tahrir yang mengusungkan ide
khilafah, maka orang-orang yang memperjuangkan islam lewat ormas semacam NU,
Muhammadiyah dan lainya tetap dianggap dosa besar karena seperti NU, Muhammadiyah,
dll, tidak mengemban misi hizbut tahrir seperti untuk khilafah.
Sedangkan kita tahu secara persis bahwa yang memperjuangkan selama bertahuntahun untuk mengganti sistem pemerintahan agar menjadi sitem khilafah islamiyah hanyalah
Hizbut tahrir. Dan dengan demikian menggap seluruh muslimnberdosa adalah pandangan
yang tidak tepat.
Allah berfirman yang artinya
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuanya. (Qs albaqarah 286).
Berdasarkan kenyataan seperti ini para imam ahlussunah menggaris bawahi pada
firman allah yang bermaksud berlaku hanya bila MAMPU. Namun disini para imam sudah
pernah memperjuangkan, tetapi bila mampu disini jadi tidak seharusnya diwajibkan untuk
mengganti sitem pemerintahan dengan khilafah islmaiyah.
Mungkin yang terkahir saya ingin menanyakan pertanyaan yang sangat penting untuk
diajukan kepada aliran Hizbut Tahrir adalah siapakah kandidat yang akan diperjuangkan
sebagai khalifah umat islam sedunia???? soalnya Hizbut Tahrir sendiri masih belum pernah
membahas masalah ini padahal disini titik paling penting dari perjuangan ini. Sungguh aneh
gerakan yang memperjuangkan khalifah dengan ekstrem dan telah berani menyatakan seluruh
umat manusia berdosa besar bila tidak ikut mendukung dan bahkan telah menyusun undangundang tentang itu justru tidak mempunyai kandidat yang jelas atau kandidat yang pantas
untuk dijadikan khalfah umat islam sedunia, mungkin saya sendiri memberikan contoh
seperti sosok Nabi Muhammad SAW.