Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung etanol.
Etanol adalah bahan psikoaktif dan mengkonsumsinya menyebabkan
penurunan kesadaran. Penyalahgunaan minuman keras ini merupakan
permasalahan yang cukup berkembang di dunia remaja dan menunjukkan
kecenderungan yang meningkat dari tahun ke tahun, yang akibatnya
dirasakan dalam bentuk perkelahian, munculnya geng-geng remaja dan
perbuatan asusila pada kalangan remaja. Di berbagai negara, penjualan
minuman beralkohol dibatasi ke sejumlah kalangan saja,umumnya orangorang yang telah melewati batas usia tertentu.1
Penyalahgunaan dan ketergantungan alkohol sering disebut sebagai
alkoholisme, tetapi karena alkoholisme tidak mempunyai definisi yang
persis, maka istilah ini tidak digunakan dalam Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSN-IV) atau pada sistem
diagnostik lain yang dikenal secara resmi.2
Konsumsi dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan intoksikasi
akut yang bisa memicu kecelakaan dan kriminalitas, selanjutnya
ketergantungan terhadap alkohol bersama zat psikoktif lainnya akan
menimbulkan masalah disrupsi keluarga, disintegrasi sosial dan penurunan
produktifitas,sehingga mengakibatkan kerugian sosial ekonomi bagi

masyarakat dan negara. Ketersediaan informasi merupakan prasyarat yang


penting untuk mengembangkan program intervensi yang terarah. Dalam
hal ini, walaupun masalah minum alkohol telah menjadi isu umum di
sejumlah daerah, data tentang peminum alkohol di Indonesia, seperti di
banyak negara sedang berkembang lainnya, masih sangat terbatas.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Definisi Alkohol
Istilah alkohol berasal dari bahasa arab al-Kohl, yang berarti suatu
zat yang mudah menguap, dapat didihkan, dan diembunkan. Alkohol atau
alkanol merupakan senyawa karbon yang mengandung gugus hidroksil (OH) dan mempunyai rumus CnH2n+1OH. Alkohol merupakan senyawa
seperti air yang satu hidrogennya diganti oleh rantai atau cincin
hidrokarbon. Sifat fisis alkohol, alkohol mempunyai titik didih yang tinggi
dibandingkan alkana-alkana yang jumlah atom C nya sama. Hal ini
disebabkan antara molekul alkohol membentuk ikatan hidrogen.Rumus
umum alkohol R OH, dengan R adalah suatu alkil baik alifatis maupun
siklik.Dalam alkohol, semakin banyak cabang, semakin rendah titik
didihnya.Sedangkan dalam air, metanol, etanol, propanolol mudah larut
dan hanya butanol yang sedikit larut.Alkohol dapat berupa cairan encer
dan mudah bercampur dengan air dalam segala perbandingan.1

2.1.1. Jenis Alkohol


Etanol merupakan molekul yang lemah, dan dapat dengan mudah
menembus membran sel, serta dapat dengan cepat merata dalam darah dan
jaringan. Kadar alkohol di dalam darah dinyatakan dalam miligram atau
gram etanol per desiliter. Zat-zat lain yang ada dalam minumal beralkohol

meliputi zat molekul yang rendah dan tinggi seperti matanol dan butanol,
aldehide, ester, histamin, fenol, tannins, zat besi, timbal, kobalt, yang
merusak kesehatan peminum berat.4
2.2.

Definisi Intoksikasi Alkohol


Intoksikasi atau keracunan adalah masuknya zat ke dalam tubuh
yang

dapat

mengakibatkan

gangguan

kesehatan

bahkan

dapat

menyebabkan kematian. Semua zat dapat menjadi racun bila diberikan


dalam dosis yang tidak seharusnya. Berbeda dengan alergi, keracunan
memiliki gejala yang bervariasi dan harus ditindaki dengan cepat dan tepat
karena penanganan yang kurang tepat tidak menutup kemungkinan hanya
akan memperparah keracunan yang dialami penderita.5
Intoksikasi akut sering dikaitkan dengan tingkat dosis zat yang
digunakan (dose-dependent), individu dengan kondisi organic tertentu
yang mendasari (misalnya insufisiensi ginjal atau hati) yang dalam dosis
kecil dapat menyebabkan efek intoksikasi berat yang tidak proporsional.6
2.2.1. Tanda-tanda Intoksikasi Alkohol Akut 6
Intoksikasi alkohol akut dapat dikenali dengan gejala-gejala :

ataksia dan bicara cadel/tak jelas


emosi labil dan disinhibisi
napas berbau alkohol
mood yang bervariasi

Komplikasi akut pada intoksikasi atau overdosis :


paralisis

pernapasan,

biasanya

bila

muntahan

masuk

saluran

pernapasan
4

sleep apnoea
aritmia jantung fatal ketika kadar alkohol darah lebih dari 0,4 mg/ml
Gejala klinis sehubungan dengan overdosis alkohol dapat meliputi:
penurunan kesadaran, stupor atau koma
perubahan status mental
kulit dingin dan lembab, suhu tubuh
2.2.2. Efek Terhadap Perilaku, Toleransi dan Ketergantungan
Efek suatu obat tergantjng pada dosis, kenaikan kadarnya di dalam
plasma, adanya obat lain dan riwayat pemakaian obat di masa lalu. Pada
pemakaian alkohol, adanya penurunanatau kenaikan kadarnya di dalam
darah, efeknya akan sangat tergantung kadar alkohol pada keadaan
sebelumnya.4
Meskipun secara nyata intoksikasi akan terjadi bila kandungan
alkohol dalam darah setidaknya 80 -100mg/dL, akan tetapi, perubahan
perilaku, psikomolar, dan kesadaran akan terlihat pada kadar antara 20
30mg/dL (misalnya setelah minum 1 2 gelas). Tidur yang dalam tetapi
tidak nyenyak dapat terjadi pada kadar 2 kali kadar intoksifikasi,
sedangkan kematian dapat terjadi pada kadar 300-400mg/dL.4
Efek intoksifikasi alkohol berhubungan dengan reseptor gamma
amino butyric acid (GABA) dan menghambat reseptor N Methyl D
aspartat (NMDA)4
2.2.3. Pengaruh Alkohol Pada Sistem Organ
Meskipun minum 1 atau 2 gelas sehari pada orang sehat dan tidak
hamil dapat menyebabkan efek yang menguntungkan, tetapi pada dosis
alkohol yang lebih tinggi adalah toksis untuk kebanyakan organ tubuh. 4
5

A. Sususan Saraf Pusat


Hampir 35% peminum pernah mengalami black out, suatu episode
amnesia anterograde sementara, dimana seseorang akan melupakan apa
yang terjadi selama minum alkohol. Masalah lain yang sering terjadi ialah
penurunan pada gerakan bola mata dan tidur yang dalam, dan kadangkadang menimbulkan ganggaun mimpi, yang akhirnya alkohol akan
merelaksasi otot-otot faring dan dapat menyebabkan ngorok dan
eksaserbasi apnea dalam tidur dan ini terjadi pada laki-lakidengan usia di
atas 60 tahun dengan presentasi sekitar 75%. Dosis yang kronis dapat
menyebabkan neuropati perifer pada
menunjukkan

gejala

mati

rasa

di

5-15% peminum, pasien


kedua

kaki,

gatal

dan

kesemutan.Halusinasi pendengaran dan delusi paranoid dapat terjadi pada


1-10% peminum.4
B. Sistem Gastrointestinal
Esofagus dan Lambung
Pengaruh alkohol yang akut dapat menyebabkan inflamasi pada esofagus
dan lambung, menyebabkan distress pada epigastrium dan perdarahan
gastrointestinal. Pada pemakaian yang kronik menyebabkan muntah yang
hebat dan dapat menyebabkan lesi Mallory Weis yaitu memanjang dalam
mukosa pada daerah gastroesophageal junction.4
Pankreas dan Liver
Kejadian pankreatitis akut (2.5% pertahun) hampir mendekati 3 kali lipat
dibandingkan populasi yang umu. Alkohol mengganggu glukoneogenesis
di dalam hati dan mengakibatkan penurunan produksi gula dari glikogen,
6

produksi laktat meningkat dan menurunkan oksidasi asam lemak dan


menyebabkan akumulasi lemak dalam sel hati. Jika lemak banyak
terakumulasi dalam hati bisa menyebabkan Hepatitis yang di induksi oleh
alkphol , kejadian sirosis terjadi pada 15-20% dari peminum.4
Kanker
Minum alkohol 1.5gelas perhari meningkatkan resiko kanker payudara 1.4
kali. Untuk semua jenis kelamin minum lebih dari 4 gelas sehari akan
meningkatkan resiko kanker mulut dan esofagus 3 kali, dan kanker rektum
1.5 kali.4
C. Sistem Hematopoietik
Alkohol dapat menyebabkan kenaikan besarnya sel darah merah (MCV)
dan hal itu menggambarkan efek pada stem sel.pada peminum yang berat
ddengan defisiensi asam folat juga akan terjadi hipersegmentasi neutrofil,
retikulositopenia, dan sumsum tulang yang hiperblastik. Jika ada
malnutrisi juga bisa terjadi perubahan-perubahan sideroblastik. Pada
peminum berat kronis dapat menyebabkan terjadinya penurunan produksi
sel darah putih, menurunnya mobilitas dan adrehensi granulosit dan
berkurangnya respon dari reaksi hipersensitivitas terhadap antigen yang
baru. Dan akhirnya pada peminum berat akan terjadi trombositopenia yang
ringan dan akan membaik dalam beberapa minggu.
D. Sistem Kardiovascular
Efek alkohol yang akut dapat menyebabkan menurunnya kontraktilitas
miokard dan menyebabkan vasodilatasi perifer dengan hasil penurunan

yang ringan pada tekanan darah dan sebagai kompensaasi akan terjadi
peningkatan curah jantung. Pemakaian 3 gelas atau lebih perhari akan
menimbulkan kenaikan tekanan darah tergantung dosis alkoholnya.4
E. Sistem Genitourinaria, Fungsi Seksual dan Perkembangan Bayi
Dalam keadaan akut, dosis alkohol <100mg/dL dapat meningkatkan nafsu
birahi akan tetapi dapat juga menurunkan kemampuan ereksi. Alkohol juga
dapat menyebabkan atrofi testis dbersamaan dengan mengecilnya tubula
seminiferus, menurunnya volume ejakulasi dan jumlah sperma. Pemakaian
yang tinggi pada wanita akan menyebabkan amnorea, menurunnya ukuran
ovarium, hilangnya korpus luteus yang dihubungkan dengan infertilitas
dan abortus spontan. Sindrom pengaruh alkohol pada bayi meliputi
perubahan pada wajah dengan lipatan epicanthal pada mata, kurangnya
pembentukan konka, gigi yang kecil dengan enamel yang buruk, kelainan
atrial kardiak dan septal ventrikuler, lipatan telapak tangan yang abnormal,
hambatan pada pergerakan sendi, mikrosefali dengan retardasi mental.4

2.2.4. Kriteria Diagnostik untuk Intoksikasi Alkohol


A. Baru saja menggunakan alkohol
B. Prilaku maladaptif atau perubahan psikologis yang bermakna secara klinis
(misalnya, prilaku seksual atau agresif yang tidak tepat, labilitas mood,
gangguan pertimbangan, gangguan fungsi sosial atau pekerjaan) yang
berkembang selama atau segera setelah ingesti alkohol
C. Satu (atau lebih) tanda berikut ini, yang berkembang selama atau segera
setelah pemakaian alkohol
1) Bicara cadel
2) Inkoordinasi

3)
4)
5)
6)
D. Gejala

Gaya berjalan tidak mantap


Nistagmus
Gangguan atensi atau daya ingat
Stupor atau koma
tidak disebabkan oleh kondisi medis umum dan tidak lebih baik

diterangkan oleh gangguan mental lain


Tabel 1. didasarkan dari DSM-IV, Dignostic and Statistical Manual of Mental
Disorders, ed 4. Hak cipta American Psyciatric Association, Washington 1994.7
2.2.5. Alkohol yang di Oplos8
Miras yang sering digunakan biasanya vodka, anggur merah
beralkohol, anggur putih beralkohol dan bir.
1. Miras dengan minuman berenergi
Untuk mendapatkan cita rasa yang lebih baik, penggemar minuman keras sering
menambahkan suplemen minuman berenergi ke dalam minumannya. Oplosan ini
sering disebut 'Sunrise', dan bisa mengurangi rasa pahit pada bir atau rasa
menyengat pada alkohol yang kadarnya lebih tinggi.
Meski kadar alkohol menjadi sedikit berkurang, efek samping yang lain akan
muncul dalam pengoplosan ini. Dikutip dari detikBandung, Jumat (11/6/2010),
ahli farmasi dari ITB, Joseph I Sigit mengatakan bahwa alkohol dan minuman
berenergi memiliki efek berlawanan. Alkohol bersifat menenangkan, sedangkan
suplemen berfungsi sebagai stimulan. Jika digabungkan, efeknya bisa memicu
gagal jantung.
2. Miras dengan susu
Salah satu jenis oplosan yang sering menyebabkan korban tewas adalah 'Susu
macan' (Lapen), yakni campuran minuman keras yang dicampur dengan susu.
Jenis minuman ini banyak dijual di warung-warung miras tradisional.

Adi (nama samaran), salah satu pelanggan warung semacam itu mengakui adanya
risiko keracunan pada susu macan. Ketika dihubungi detikHealth, pria asal
Yogyakarta ini mengatakan bahwa penyebab keracunan umumnya bukan susu
melainkan jenis alkoholnya. Karena umumnya menggunakan alkohol tradisional,
maka jenis dan kadarnya tidak diketahui oleh pelanggan.
3. Miras dengan cola atau minuman bersoda
Salah satu oplosan yang cukup populer adalah 'Mansion Cola', terdiri dari Vodka
dicampur dengan minuman bersoda. Tujuannya semata-mata untuk memberikan
cita rasa atau menutupi rasa tidak enak pada minuman keras. Salah satu
penggemar Mansion Cola adalah Yono (nama samaran), mahasiswa semester
akhir di Yogyakarta. Menurutnya, selama jenis alkohol yang digunakan aman dan
tidak berlebihan maka tidak ada risiko untuk mencampurnya dengan cola ataupun
sari buah. Yono mengaku mengoplos sendiri Mansion Cola sejak tahun 2003, dan
belum pernah menyebabkan jatuhnya korban keracunan.

4. Miras dengan spiritus atau jenis miras yang lain


Di warung-warung tradisional, pengoplosan beberapa jenis minuman keras
dilakukan untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Minuman yang harganya
mahal seperti Vodka dicampur dengan spiritus, atau jenis minuman keras lain
yang tidak jelas kandungan alkoholnya. Jenis alkohol yang aman dikonsumsi
hingga jumlah tertentu adalah alkohol dengan 2 atom karbon atau etanol.
Sementara alkohol dengan satu atom karbon atau metanol umumnya digunakan

10

sebagai pelarut atau bahan bakar, sehingga sangat beracun jika diminum. Dikutip
dari Medschl.cam.ac.uk, 10 mL methanol cukup untuk menyebabkan kebutaan
dan 30 mL akan menyebabkan dampak lebih fatal termasuk kematian.
5. Miras dengan obat-obatan
Dengan anggapan akan mendongkrak efek alkohol, beberapa orang menambahkan
obat-obatan ke dalam minuman keras. Mulai dari obat tetas mata, obat sakit
kepala, hingga obat nyamuk. Karena akan meningkatkan aktivitas metabolisme,
efek samping paling nyata dari jenis oplosan ini adalah kerusakan hati dan ginjal.
Efek lainnya sangat beragam, tergantung jenis obatnya.

2.2.6. Pemeriksaan Penunjang


> DL
> LFT
> RFT
> EKG

2.2.7. Penatalaksanaan Intoksikasi Alkohol


Penatalaksanaan intoksikasi secara umum5
1.

Stabilisasi

Penatalaksanaan keracunan pada waktu pertama kali berupa tindakan resusitasi


kardiopulmoner yang dilakukan dengan cepat dan tepat berupa pembebasan jalan
napas, perbaikan fungsi pernapasan, dan perbaikan sistem sirkulasi darah.
2.

Dekontaminasi

11

Dekontaminasi merupakan terapi intervensi yang bertujuan untuk menurunkan


pemaparan terhadap racun, mengurangi absorpsi dan mencegah kerusakan.
3.

Dekontaminasi pulmonal

Dekontaminasi pulmonal berupa tindakan menjauhkan korban dari pemaparan


inhalasi zat racun, monitor kemungkinan gawat napas dan berikan oksigen lembab
100% dan jika perlu beri ventilator.
4.

Dekontaminasi mata

Dekontaminasi mata berupa tindakan untuk membersihkan mata dari racun yaitu
posisi kepala pasien ditengadahkan dan miring ke posisi mata yang terburuk
kondisinya. Buka kelopak matanya perlahan dan irigasi larutan aquades atau
NaCL 0,9% perlahan sampai zat racunnya diperkirakan sudah hilang.
5.

Dekontaminasi kulit (rambut dan kuku)

Tindakan dekontaminasi paling awal adalah melepaskan pakaian, arloji, sepatu


dan aksesoris lainnnya dan masukkan dalam wadah plastik yang kedap air dan
tutup rapat, cuci bagian kulit yang terkena dengan air mengalir dan disabun
minimal 10 menit selanjutnya keringkan dengan handuk kering dan lembut.
6.

Dekontaminasi gastrointestinal

Penelanan merupakan rute pemaparan yang tersering, sehingga tindakan


pemberian bahan pengikat (karbon aktif), pengenceran atau mengeluarkan isi
kambung dengan cara induksi muntah atau aspirasi dan kumbah lambung dapat
mengurangi jumlah paparan bahan toksik.
7.

Eliminasi

12

Tindakan eliminasi adalah tindakan untuk mempercepat pengeluaran racun yang


sedang beredar dalam darah, atau dalam saluran gastrointestinal setelah lebih dari
4 jam
8.

Antidotum

Pada kebanyakan kasus keracunan sangat sedikit jenis racun yang ada obat
antidotumnya dan sediaan obat antidot yang tersedia secara komersial sangat
sedikit jumlahnya.

Farmakologi Disulfiram
Disulfiram

(antabuse)

menghambat

secara

kompetitif

enzim

aldehida

dehidrogenase, sehingga biasanya minuman segelaspun biasanya menyebabkan


reaksi toksik karena akumulasi asetaldehida didalam darah. Pemberian obat tidak
boleh dimulai sampai 24 jam setelah minuman terakhir pasien. Pasien harus dalam
kesehatan yang baik, sangat termotivasi, dan bekerja sama. Dokter harus
memberitahukan pasien akibat meminum alkohol saat menggunakan obat dan
selama 2 minggu setelahnya.7
Mereka yang menggunakan alkohol sambil meminum disulfiram 250 mg setiap
harinya akan mengalami kemerahan dan perasaan panas pada wajah, sklera,
anggota gerak atas dan dada. Mereka akan menjadi pucat, hipotensif dan mual
juga mengalami malaise yang serius. Pasien juga akan mengalami rasa pusing,
pandangan kabur, palpitasi, sesak dan mati rasa pada anggota gerak. Dengan dosis
lebih dari 250 mg maka dapat terjadi gangguan daya ingat dan konfusi.7
Psikotropika

13

Obat antiansietas dan antidepresan dapat mengobati gejala kecemasan pada pasien
dengan gangguan terkait alkohol.
Terapi obat untuk intoksikasi dan putus alkohol

Masalah klinis

Obat

Jalur

Dosis

Keterangan

Gemetaran dan
agitasi ringan
sampai sedang

chlordiazepoxide

Oral

25-100 mg tiap
4-6 jam

Dosis awal dapat


diulangi tiap 2 jam
sampai pasien
tenang; dosis
selanjutnya harus
ditentukan secara
individual dan
dititrasi

Halusinosis

Diazepam

Oral

Agitasi parah

Lorazepam

Oral

5-20 mg tiap 4-6


jam

chlordiazepoxide

Intravena

Berikan sampai
pasien tenang; dosis
selanjutnya harus
ditentukan secara
indivisual dan
dititrasi

2-10 mg tiap 4-6


jam
0,5 mg/kg atau
12,5 mg/mnt

Kejang putus

Diazepam

Intravena

0,15 mg/kg atau


2,5 mg/mnt

Delirium
tremens

Lorazepam

Intravena

0,1 mg/kg
pada 2,0
mg/mnt

Tabel 2 : Terapi obat untuk intoksikasi dan putus alkohol7


Protap tatalaksana intoksikasi alcohol dari Kepmenkes RI 2010 yaitu:6

Bila terdapat kondisi Hipoglikemia injeksi 50 mg Dextrose 50%

Bila keadaan Koma :

Posisi face down untuk cegah aspirasi

Observasi ketat tanda vital setiap 15 menit

14

Injeksi Tiamine 100 mg i.v untuk profilaksis terjadinya Wernicke

Encephalopathy, lalu 50 ml Dekstrose 50% iv (urutan jangan sampai terbalik)

Problem Perilaku (gaduh/gelisah):

Petugas keamanan dan perawat siap bila pasien agresif

Terapis harus toleran dan tidak membuat pasien takut atau merasa

terancam

Buat suasana tenang dan bila perlu tawarkan makan

Beri dosis rendah sadatif: Lorazepam 1-2 mg atau Haloperidol 5 mg

oral, bila gaduh gelisah berikan sacara parenteral (IM)

2.2.8. Prognosis
Pasien dengan konsumsi alkohol yang banya progonis nya dubia ad
malam disebabkan karena penyebab kematian dalam kasus fatal ialah berhentinya
pernafasan secara mendadak. Merupakan hal yang sangat perlu untuk menentukan
kadar alkohol dalam darah secepat mungkin bila diduga suatu keracunan alkohol.
Bila dugaan klinik keracunan alkohol cukup kuat, pengobatan tidak boleh
terlambat.

15

BAB III
KESIMPULAN
3.1.

Kesimpulan
1. Penyalahgunaan dan ketergantungan alkohol sering disebut sebagai
alkoholisme, tetapi karena alkoholisme tidak mempunyai definisi yang
persis, maka istilah ini tidak digunakan dalam Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSN-IV) atau
pada sistem diagnostik lain yang dikenal secara resmi
2. Intoksikasi alkohol akut dapat dikenali dengan gejala-gejala : ataksia
dan bicara cadel/tak jelas, emosi labil dan disinhibisi, napas berbau
alcohol, mood yang bervariasi.
3. Komplikasi akut pada intoksikasi atau overdosis: paralisis
pernapasan, biasanya bila muntahan masuk saluran pernapasan,
obstructive sleep apnoe, aritmia jantung fatal ketika kadar alkohol
darah lebih dari 0,4 mg/ml, penurunan kesadaran, stupor atau koma,
perubahan status mental, kulit dingin dan lembab, suhu tubuh rendah.
4. Alkohol yang dioplos memberikan intoksikasi yang tinggi pada
peminumnya

16

5. Penatalaksanaan intoksikasi secara umum terdiri dari : stabilisasi,


dekontaminasi, eliminasi, antidotum.

DAFTAR PUSTAKA

1. Pratama VN. Perilaku remaja pengguna minuman keras. Departemen


promosi kesehatan dan ilmu perilaku, FKM Universitas Airlangga
2013.h.145-6
2. Sadock BJ.Sadock VA. Kaplan & Sadocks. Synopsis of Psychiatry
10thed. Lippincott Williams and Wilkins: Philadelphia. 2007.
3. Suhardi. Preferensi peminum alkohol di indonesia menurut riskesdas
2007. Pusat teknologi terapan kesehatan dan epidemiologi klinik: Jakarta,
2007.h.1-9
4. Budiman. Masalah Kesehatan Akibat Alkohol dan Merokok. IPD jilid 1
5.

edisi V , hal 83-88


Bertram G Katzung (1998), Alkohol. Farmakologi Dasar dan Klinik edisi
VI, EGC, hal .369-379

6. Methanol Poisoning Overview. Available from: http://www.antizol.com/


mpoisono.htm (Accesed: 2016, may 28).
7. Modis Medical Jurisprudence and Toxicology. In : Alcohol Intoxication
18th edition.
8. http://health.detik.com/read/2010/06/11/150013/1376381/763/macam-

macam-minuman-oplosan-dan-bahayanya (diakses pada 28 may 2016)

17