Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KEGIATAN LUAR DOKTER MUDA PSIKIATRI

PRAKTEK BELAJAR LAPANGAN


KUNJUNGAN RUMAH

Oleh:
Priscilla Dwianggita
1102005063

Pembimbing:
dr. Ketut Putri Ariani, Sp.KJ

DALAM RANGKA MENJALANI


KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN/SMF PSIKIATRI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNUD/RSUP SANGLAH
DENPASAR
2016

LAPORAN KEGIATAN LUAR DOKTER MUDA PSIKIATRI


PRAKTEK BELAJAR LAPANGAN
KUNJUNGAN RUMAH
Pembimbing

: dr. Ketut Putri Ariani, Sp.KJ

Dokter Muda

: Priscilla Dwianggita (1102005063)

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien

: Made Ngurah Oka

Nama Panggilan

: Made

Jenis kelamin

: Laki-laki

Usia

: 29 tahun (1987)

Pendidikan

: SD

Status Perkawinan

: Belum menikah

Pekerjaan

: Tidak bekerja

Agama

: Hindu

Alamat Jalan

: Jalan Padma Gang 7C

Banjar

: Saba

Dusun

:-

Desa

:-

Kecamatan

: Denpasar Timur

Kabupaten

: Badung

Telp. Rumah

:-

Handphone

: 087862011063

Telp. Flexi

:-

Foto KTP/KK

:-

Puskesmas

: Denpasar Timur II

Waktu Kunjungan

: 13 Februari 2016

II. KELUHAN UTAMA


2.1 Autoanamnesis
2.2 Heteroanamnesis
III. AUTOANAMNESIS

:
: Tidak ada keluhan
: Suka berjalan-jalan sendiri

3.1 Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien diwawancarai oleh pemeriksa dalam posisi duduk di depan
rumah. Pasien mengenakan kaos berwarna coklat dan celana jeans yang
kelonggaran dan tampak sobekan di beberapa bagian. Pakaiannya tampak
lusuh dan kotor, serta pasien tidak memakai alas kaki. Pasien berperawakan
tinggi dan kurus, rambut dipotong pendek berwarna hitam, tidak ada jenggot
dan kumis, kulit pasien berwarna sawo matang, kuku tangan dan kaki pasien
pendek tetapi kurang bersih. Pasien diwawancarai menggunakan bahasa
Indonesia dan Bali. Pasien menghisap rokok selama wawancara. Selama
wawancara, pasien dapat menjawab beberapa pertanyaan, kadang pasien
menjawab dengan jawaban yang tidak nyambung, kadang pula tidak mau
menjawab. Ketika pasien sedang menceritakan tentang topik tertentu ia
terlihat bersemangat dalam bercerita. Ketika berbicara pasien terkadang
menatap mata pemeriksa, tetapi lebih banyak pandangan matanya teralihkan
seperti melihat sekelilingnya dan tersenyum sendiri.
Pemeriksa menanyakan nama pasien dan dijawab Made. Pasien dapat
menyebutkan sedang berada di mana, saat ini sore hari, dan tinggal dengan
siapa saja. Pasien dapat menyebutkan nama pemeriksa. Pasien mengatakan
bahwa ia belum makan hari ini. Pasien dapat menceritakan kegiatan yang
dilakukan pasien hari ini yaitu jalan-jalan ke Pasar Agung, membeli rokok,
minum kopi, dan duduk-duduk. Ia mengatakan hari ini ia mendapat uang
100 juta dikasih sama orang, pasien terlihat sangat senang. Saat ditanya
pasien dulu sekolah sampai kelas berapa ia mengatakan sampai kelas 1. Saat
ditanya sampai kelas 1 apa, SD, SMP, atau SMA, pasien hanya menjawab 1.
Lalu pasien mengatakan TK apa den. Saat ditanya apa nama SDnya,
pasien mengatakan kadang ia ingat kadang ia lupa. Saat ditanyakan nama
SMPnya pasien mengatakan bahwa dulu ia pernah kejatuhan kelapa,
pohonnya digoyang-goyang dan kelapanya jatuh di atas kepalanya dan
terbelah menjadi dua. Ia mengatakan kepalanya kuat dan tidak apa-apa.
Saat pemeriksa mengajak pasien berhitung, pasien tidak dapat
menjawab hitungan 100-7, pasien menjawab bahwa dia tidak dapat
berhitung. Pasien tidak dapat melanjutkan peribahasa berakit-rakit ke hulu,

berenang-renang ke tepian dan tidak tahu artinya karena pasien tidak pernah
mendengar peribahasa tersebut. Pasien tidak dapat membedakan bola tenis
dan jeruk, ketika ditanya pasien hanya tertawa dan mengatakan beda lah.
Saat ditanyakan siapa presiden Indonesia pasien tidak mengetahui siapa
presiden Indonesia pertama dan terakhir.
Saat pemeriksa menanyakan perasaan pasien, pasien menjawab jika
pasien biasa saja. Pasien mengatakan saya habis jalan-jalan sore ke pasar di
sana dapat 100 juta. Saat ditanyakan uang tersebut darimana, pasien
bercerita bahwa ia tadi melihat truk gandeng yang berubah menjadi
transformer di pertigaan pasar dekat lampu merah. Ia terus menceritakan
tentang truk dan transformer sambil memperagakan perubahannya dan
tertawa. Saat dikatakan bahwa transformer hanya ada di film dan tidak
mungkin ada di jalan, pasien terus bercerita bahwa truknya berubah dan
transformer tersebut berwarna biru dan mengatakan bahwa ia memang
melihat transformer sambil tertawa-tawa.
Lalu, pemeriksa bertanya kepada pasien apakah pasien pernah sakit atau
merasa dirinya sakit, pasien mengatakan bahwa ia tidak pernah sakit. Ia
sangat kuat karena ada wahyu yang diberikan kakeknya yang memasuki
dirinya dan memberinya kekuatan. Saat ditanya kekuatan apa yang
diberikan, pasien mengatakan bahwa ada sinar biru yang masuk ke dalam
dirinya, ia diminta untuk melindungi orang. Ketika ditanya apakah pasien
percaya, pasien mengatakan bahwa ia percaya dengan hal tersebut. Saat
ditanya sejak kapan pasien diberikan kekuatan ia mengatakan sudah sejak
lama. Saat ditanya apakah pasien melihat kakeknya, pasien mengatakan ia
melihat kakeknya dan pamannya di tempat sembahyang sambil menunjuk
ke arah tempat sembahyang. Ia mengatakan bahwa kakek dan pamannya
memang menempati tempat tersebut. Saat ditanya apakah pernah melihat
bayangan lain, pasien mengatakan ia pernah melihat ibu-ibu ketika akan ke
toilet tetapi ia tidak takut dan tetap pergi ke toilet.
Saat ditanya apakah pasien pernah dirawat di rumah sakit, pasien
menggelengkan kepalanya. Saat ditanya berapa kali pasien mandi dalam
sehari ia mengatakan 4 kali sambil menunjuk ke arah kamar mandi. Saat

ditanya apakah pasien sering merokok, ia menjawab jarang. Ia juga


menyangkal mengonsumsi alkohol, ia mengatakan kakaknya yang suka
mirum arak mabuk-mabukkan dengan temannya. Saat ditanya bagaimana
tidurnya, pasien mengatakan baik dan tidak pernah mimpi buruk. Lalu, tibatiba pasien bercerita tentang hujan deras yang turun disertai angin puting
beliung yang berputar tiga kali hingga pohon tumbang dan atap runtuh.
Setelah selesai bercerita pasien kembali diam.
Kemudian saat ditanya apakah pasien masih ingat dengan masa
kecilnya, ia hanya terdiam. Lalu, ia mengatakan pada umur 1 tahun ia
pernah ditabrak oleh mobil Kijang sambil menunjukkan bekas lukanya di
dahi dan di kaki. Ia mengatakan bahwa ia terpental sejauh 1 meter, lalu
orang yang menabraknya yang menanggung biaya rumah sakit. Saat
dikatakan apakah pasien yakin masih mengingatnya karena pasien baru
berumur 1 tahun, pasien mengatakan ya dan menirukan suara orang-orang
saat itu, tabrak lari, tabrak lari!.
Saat ditanyakan berapa jumlah saudara pasien ia mengatakan ada 5
bersaudara. Ia berkata,Putu Ayu Patmi, Nyoman Ngurah Oka, Gede Antara
nama bapak, Nyoman Kerti, dan Nyoman Ngurah Oka. Saat ditanya pasien
anak keberapa pasien mengatakan ia anak ketiga. Saat ditanya apakah
ayahnya masih ada, pasien mengatakan ayahnya sudah meninggal. Ia
bercerita bahwa ayahnya keras karena mantan veteran. Saat ditanya apakah
dulu pasien pernah dimarahi atau dipukul, pasien mengatakan ya dulu pas
kecil. Saat ditanyakan mengenai ibunya, pasien mengatakan bahwa ibunya
juga pernah disiksa makanya kedua orangtua bercerai. Saat ditanyakan
mengenai ayahnya, ibunya, atau masa kecilnya pasien terlihat enggan
bercerta dan hanya diam lalu menceritakan topik lainnya.
Pasien mengatakan bahwa ibunya adalah orang Jawa dan dari
Banyuwangi. Ia mengatakan bahwa ibunya sudah pergi kabur menikah
dengan traktor dan membawa kabur uang 100 juta. Saat ditanya apakah
pasien masih ingat dengan ibunya, pasien mengatakan ia tahu di mana
rumah ibunya. Lalu, ia bercerita bahwa ia pernah pergi ke Banyuwangi
untuk mencari ibunya dengan menumpang di truk gandeng yang membawa

sembako. Ia bercerita bahwa saat itu ia bersembunyi di bawah terpal karena


takut dirazia KTP, lalu ia berhasil lewat dari polisi dan pindah ke kursi
depan. Ia bercerita dengan bersemangat sambil memperagakan gerakangerakan.
Kemudian pasien bercerita bahwa di Banyuwangi sedang ada bentrok
atau rusuh/geng motor yang membawa senjata dan mengejarnya. Saat itu, ia
mencoba untuk menghabisi geng motor tersebut dan berseru, Yihaaa...
Makan nih geng motor, mampus lu sekarang, enak ya! Ia mengatakan ia
membuka pintu truk dan membuat motor tersebut terjatuh. Ketika ditanya
apakah pasien bertemu ibunya, pasien tidak menjawab dan terus bercerita
mengenai aksinya melawan geng motor. Saat ditanya bagaimana pasien
kembali ke Bali, pasien mengatakan ia menumpang bus dan berkata pada
supir bus,numpang 1 ke bali. Ia lalu kembali menceritakan tentang truk
yang dia tumpangi. Ia mengatakan bahwa truk tersebut hampir kecelakaan
menabrak kereta api, untung dia menginjak rem mendadak. Saat ditanya
apakah pasien yang menyetir mobil, ia mengatakan ia kasihan dengan supir
bus yang mengantuk sehingga ia yang menggantikan membawa mobil. Saat
ditanya siapa yang mengajarkan membawa mobil, pasien mengatakan
bahwa supir bus yang mengajarinya dan itu sangat gampang, ia dengan
gampang mengingat bahwa untuk maju ke depan menggunakan gigi 8, ke
belakang gigi 6, dan untuk berhenti gigi 2.
Setelah itu, ditanyakan apa saja aktivitas pasien sehari-hari dan ia
mengatakan ia suka jalan-jalan untuk mencari hiburan. Ia juga mengatakan
ia suka nonton TV, yaitu AnTV di kamarnya. Ia lalu bercerita bahwa di atas
awan ia melihat sayap peri dan ada peri yang terbang di atas awan. Ia
mengatakan bahwa peri tersebut sedang mengawasinya dan bertanya-tanya
apa yang sedang pasien lakukan. Pasien lalu menyuruh peri ke tempatnya
tetapi si peri malu dan kembali ke atas awan. Lalu ia bercerita bahwa peri
yang malu tadi namanya adalah Nusanperi penangga langit. Saat ditanya di
mana ia melihat peri tersebut ia mengatakan bahwa ia melihatnya di TV di
film Bavir. Saat ditanyakan bahwa artinya ia tidak pernah melihat langsung
atau benaran, pasien mengatakan bahwa si peri berkata padanya jika ia ingin

ikut main film Bavir ia diminta untuk menunggu di tepi sungai dan si peri
akan turun ke bawah menjemputnya. Pasien terus menceritakan tentang peri,
monster api, bola api, percakapannya dengan peri, terutama tentang peri
yang akan menjemputnya. Ia mengatakan bahwa si peri berkata demikian
padanya,Tunggu kami di sungai tempat biasa, kami akan menjemputmu,
jangan kemana-mana nanti kami bingung mencarimu.
Saat ditanya apakah pasien pernah melihat peri selain di TV ia
mengatakan tidak pernah. Saat dikatakan bahwa bila ia hanya melihat di TV
berarti peri tersebut hanya film dan tidak nyata, pasien mengatakan bahwa
peri tidak dapat keluar dari TV karena ada layar kaca dan muka si peri
kebesaran sehingga ketika pasien melihat ke TV, peri akan malu dan
menutup mukanya. Saat ditanyakan mengapa hanya pasien yang dapat
melihat peri tersebut, pasien mengatakan bahwa peri tidak bisa bahasa Bali
hanya bisa bahasa Indonesia. Saat ditanyakan sekali lagi apakah peri hanya
ada di TV, pasien mengatakan tidak, peri yang berada di alam peri di film
Bavir jalan-jalan ke sini dan mereka berasal dari Planet Mars. Lalu pasien
menyebutkan nama-nama peri tersebut yang menurutnya berjumlah 7 orang.
Saat ditanya apakah pasien mendengar langsung suara dari perkataan
peri tersebut, pasien mengatakan bahwa ia mendengarnya karena alam peri
berada di atas Planet Mars sehingga pasien dapat mendengar percakapan
peri tersebut dan bukan dari TV. Saat ditanyakan mengapa pemeriksa dan
orang lain tidak bisa dengar, pasien mengatakan bahwa si peri malu, tidak
bisa bahasa Bali, dan pasien terus menceritakan tentang peri dan
pertarungan peri dengan para monster. Pasien juga mengatakan bahwa jika
ia dibawa ke alam peri ia akan menumpas kejahatan dan melindungi peri
karena ia tidak tahan melihat peri harus berdapan dengan orang jahat. Ia
akan menyayangi peri seperi Balperi menyayangi anaknya, Bavir. Ia akan
memeluk para peri dan mengajari mereka merokok. Dan bila peri sakit
karena rokok, ia akan meminta peri memberinya kekuatan dan ia akan
menggunakan kekuatan tersebut yang keluar dari tangannya untuk
menghisap penyakit-penyakit para peri. Pasien juga mengatakan bahwa bila
ia ingat film Bavir ia tidak bisa tidur karena akan memikirkan peri. Ketika ia

makan pun ia akan memikirkan apakah peri sudah makan atau belum. Saat
bercerita tentang peri pasien terlihat senang, aktif memperagakan gerakangerakan, tertawa-tawa, dan ketika pembicaraannya dipotong atau ditanya hal
lain pasien kadang diam dan melanjutnya ceritanya dan sesekali menjawab
pertanyaan pemeriksa.
Lalu, tiba-tiba pasien berkata bahwa ia mau bekerja agar ia tidak
bingung dan bisa dapat uang, jadi tukang bersih-bersih pun tidak apa-apa.
Saat ditanya untuk apa uangnya, pasien mengatakan bahwa ia ingin syuting
sinetron bali atau film seperti film Dono, Kasino, Indro. Kemudian ia
membicarakan tentang film Dono Kasino Indro. Setelah selesai, ia akan
kembali membicarakan tentang peri-peri hingga tiba saatnya pemeriksa
mengakhiri wawancara dan pamit untuk pulang.
IV. HETEROANAMNESIS
4.1 Riwayat Penyakit Sekarang
Adik pasien mengatakan bahwa pasien sering berbicara sendiri dan
tertawa-tertawa sendiri. Saat diajak bicara, pasien dapat menjawab pertanyaan
adiknya walaupun ketika diajak mengobrol pasien akan mulai bercerita
tentang bermacam-macam hal yang aneh, seperti tentang leluhur, ayahnya,
kekuatan yang pasien miliki, film-film, dan yang paling sering adalah tentang
peri. Pasien juga dikeluhkan suka jalan-jalan keluar rumah tanpa kenal waktu.
Dikatakan bahwa pasien sering jalan-jalan ke pasar dan bila pergi ia hanya
akan kembali jika uangnya habis atau ditangkap oleh Satpol PP. Namun, saat
ini pasien dikatakan sudah tidak sesering dahulu jalan-jalannya, kemungkinan
karena pasien tahu bahwa ia tidak punya KTP dan saat ini banyak aksi
kejahatan. Pasien sering berkata pada adiknya bahwa bila ia punya KTP ia
akan pergi mencari ibunya.
Menurut adik pasien, pasien setiap hari diberikan uang 20 ribu oleh
adiknya dan bila kurang ia akan minta ke adiknya. Pasien akan mencari
makan sendiri, ia akan ke pasar untuk beli jajan, kopi, dan rokok. Pasien
jarang sekali makan di rumah. Adik pasien mengatakan bahwa pasien jarang
mandi, ia baru akan mandi bila diingatkan secara lembut atau ada tamu yang

akan datang atau harus disuap dengan uang jajan, bila tidak ia akan kesal.
Pakaian pasien juga selalu lusuh karena tidak pernah dicuci. Jika dibelikan
baju baru, baju tersebut akan ditukar menjadi baju lain yang lebih lusuh oleh
anak-anak nakal di jalan, sehingga adik pasien jarang sekali membelikannya
baju. Dikatakan juga bahwa pasien bila di rumah akan terus berada di
kamarnya biasanya menonton TV dan hanya sesekali berada di pekarangan
rumah. Bila ia sedang duduk-duduk di pekarangan rumah, pasien terkadang
akan bermain bersama keponakannya.
Pasien juga dikatakan mudah bergaul, ia sangat senang mengajak ngobrol
orang-orang yang lewat di sekitarnya. Bila ada yang mengusili pasien atau
pasien dilarang untuk melakukan sesuatu atau disuruh mandi, pasien akan
kesal tetapi pasien tidak pernah mengamuk. Ia hanya akan diam dan berada di
kamarnya, ia tidak pernah sekali pun melukai orang di sekelilingnya.
4.2 Riwayat Penyakit Dahulu:
Saat ditanyakan mengenai riwayat penyakitnya kepada adik pasien, pasien
dikatakan memiliki keanehan/berbeda dengan anak lainnya sejak kecil. Hal
ini baru disadari oleh adik pasien ketika ia berada di kelas 1 SD. Saat itu,
kakaknya yaitu pasien yang seharusnya berada di kelas 4 SD, sekelas
dengannya di kelas 1. Saat itu, dikatakan pasien tidak fokus terhadap
pelajaran, ia tidak dapat menyerap pelajaran, dan malas belajar. Pasien tidak
naik ke kelas 2 SD dan berhenti sekolah sejak itu. Adik pasien tidak tahu
riwayat pasien dari ia lahir hinga balita karena usia adik pasien hanya
berselisih 2 tahun dari pasien dan orang tuanya tidak pernah bercerita apapun
padanya. Ia pernah bertanya pada ayahnya mengapa kakaknya berbeda,
ayahnya berkata bahwa kakaknya dahulu minum minyak tanah.
Adik pasien baru mulai menyadari gejala penyakitnya saat pasien berusia
kurang lebih 10 tahun. Pasien suka berbicara sendiri terkadang senyum
sendiri dan lambat dalam melakukan sesuatu. Perubahan yang jelas tampak
ketika pasien berusia kurang lebih 14 tahun, setelah ibu pasien meninggalkan
rumah tanpa meninggalkan pesan apapun. Saat itu pasien sering hilang dari
rumah dan baru ditemukan beberapa hari setelahnya. Pasien juga dikatakan

mulai terlihat lebih sering berbicara dan tertawa sendiri, mengajak berbicara
orang-orang yang lewat, dan memiliki kepercayaan mengenai kekuatan
supernatural.
Setelah beberapa kali hilang dan terlihat aneh, pasien dibawa ke Balian
dan pengobatan tradisional beberapa kali, tetapi tidak membaik. Pasien juga
pernah dibawa ke RSJ Bangli dan dirawat di sana lebih dari 5 kali karena
ditangkap oleh Satpol PP. Ketika pasien pulang dari RSJ pasien akan terlihat
lebih normal dan dapat diajak berbicara, tetapi bila obatnya habis pasien akan
mulai berbicara tidak nyambung. Pasien tidak pernah minum obat secara rutin
dan akan minum obat bila diberikan oleh petugas Puskesmas yang datang ke
rumah, itupun harus disuruh oleh adik ipar pasien.
Pasien dikatakan pernah hampir kabur ke Lombok dengan menumpang di
dalam truk. Namun, saat itu ia ditemukan oleh polisi dan diantar kembali ke
rumah karena pasien dapat mengingat alamat rumahnya. Pasien dikatakan
ingin mencari ibunya. Walaupun pasien sering bercerita kepada adiknya bawa
ia pernah ke Banyuwangi, hal tersebut tidak dapat dipastikan oleh adiknya
karena pasien memang sering pergi dari rumah dan baru kembali setelah
beberapa hari dan adik pasien tidak tahu kemana kakaknya pergi.
Sejak kecil, pasien dikatakan memang sedikit terlambat dalam belajar.
Namun, ia dapat bermain dengan anak lainnya walaupun tidak mempunya
teman baik. Pasien tidak pernah menceritakan masalahnya pada adiknya dan
sejak kecil pasien ketakutan dengan ayahnya. Menurut adik pasien, pasien
tidak peka terhadap lingkungan sekitar sehingga ketika ia dimarahi karena
melakukan suatu kesalahan ia akan melakukan kesalahan itu lagi di hari
berikutnya, pasien dikatakan nakal, hanya suka bermain, dan tidak peduli.
Mengenai riwayat sakit fisik pasien seperti tensi tinggi, kencing manis,
jantung, dan hati tidak diketahui, karena pasien dikatakan tidak pernah
diperiksakan ke dokter. Saat ini pasien tidak mengonsumsi obat-obatan.

4.3 Riwayat Keluarga

10

Ayah pasien dikatakan pernah menikah enam kali, tetapi hanya dua yang
dilaporkan yaitu istri pertama dan terakhir. Pasien dikatakan adalah anak
kedua dari tiga bersaudara yang berasal dari istri terakhir. Pasien memiliki
satu kakak perempuan dan satu adik laki-laki. Pasien tinggal bersama adik
laki-laki, istri adik laki-lakinya, beserta anaknya. Dari istri pertama, pasien
memilki dua saudara tiri perempuan. Ayah dan ibu tiri pasien dikatakan sudah
meninggal, ayah meninggal ketika pasien berusia kurang lebih 18 tahun. Ibu
kandung pasien pergi meninggalkan pasien ketika ia berusia kurang lebih 14
tahun karena bercerai dengan ayah pasien. Dikatakan bahwa ibu kandung
pasien telah menikah lagi dengan seorang petani. Ayah pasien dikatakan
adalah seorang veteran sehingga memiliki watak yang keras. Sejak kecil,
ayah pasien sering memarahi dan memukul anak-anaknya, baik ketika
anaknya berbuat salah ataupun tidak. Dikatakan bahwa kakak perempuan
pasien kabur dari rumah karena tidak tahan dengan ayahnya. Pasien pun
dikatakan paling sering dipukul oleh ayahnya karena sejak kecil pasien nakal
dan sering melakukan kesalahan. Pasien dikatakan sangat takut dengan
ayahnya hingga tidak berani pulang ke rumah. Di keluarga dikatakan tidak
ada yang memiliki riwayat penyakit psikiatri maupun sistemik.

SILSILAH KELUARGA

: Tanda meninggal
: laki-laki hidup dan normal
: perempuan hidup dan normal
: pasien
4.4 Riwayat Pengobatan

11

Pasien baru dibawa berobat setelah berusia kurang lebih 14 tahun. Pasien
sudah dibawa ke Balian dan pengobatan tradisional tetapi tidak membaik.
Pasien tidak pernah secara khusus dibawa ke dokter karena pasien selalu
menolak ke dokter dengan mengatakan mengapa orang tidak sakit harus ke
dokter. Pasien sudah lebih dari lima kali dirawat di RSJ Bangli dan terakhir
kurang lebih 2 tahun yang lalu. Pasien dibawa ke RSJ karena ditangkap oleh
Satpol PP dan tidak pernah karena keluhan lainnya. Pasien selalu tidak betah
di RSJ dan ingin segera pulang. Setelah dari RSJ pasien hanya rutin berobat
untuk 1-2 bulan, lalu setelah obatnya habis pasien tidak mengonsumsi obat
lagi. Dikatakan pasien sulit diajak ke dokter dan ketika diajak pasien sedang
pergi ke luar atau sedang kesal. Pasien juga pernah diberikan obat oleh
petugas Puskesmas tetapi itu tidak rutin, terakhir sekitar 3 bulan yang lalu.
Jenis obat yang pernah dikonsumsi tidak diketahui oleh pasien maupun
keluarganya.

V. STATUS PSIKIATRI
Kesan Umum

: penampilan tidak wajar, kontak


verbal cukup, kontak visual kurang

Sensorium dan Kognisi


Kesadaran
Orientasi
Daya ingat
Segera
Jangka pendek
Menengah
Jangka panjang
Intelegensia
Konsentrasi dan Perhatian
Berpikir abstrak

: jernih
: baik (waktu, tempat, orang)
: baik
: baik
: baik
: terganggu
: terganggu
: terganggu
: terganggu

Mood

: euforia

Afek

: inappropriate

Proses Pikir

Bentuk Pikir
Arus Pikir

: nonlogis, nonrealis
: flight of ideas

12

Isi pikir

: waham (+) bizzare, kebesaran,


preokupasi peri

Persepsi

: halusinasi auditorik (+)


halusinasi visual (+) ilusi (-)

Dorongan Instingtual

: insomnia (+) hipobulia (+) raptus(-)

Psikomotor

: meningkat saat pemeriksaan

Tilikan

: 1 (satu)

VI. DIAGNOSIS BANDING


- Skizofrenia Hebefrenik (F 20.1)
- Gangguan Skizoafektif tipe Manik (F25.0)
VI. DIAGNOSIS
Axis 1

Axis 2
Axis 3
Axis 4
Axis 5

: F20.1 Skizofrenia Hebefrenik


Z91.1 Keridakpatuhan terhadap pengobatan
: Ciri kepribadian skizoid
: Tidak ada diagnosis
: Tidak ada diagnosis
: GAF saat pemerikaan
: 40-31
GAF 1 tahun terakhir
: 40-31

VII. TERAPI
- Haloperidol 2 x 2,5 mg
- Clorpromazine 2 x 50 mg
- Trihexypenidil 2 x 2 mg

VIII. PROGNOSIS
Diagnosis

: Skizofrenia Hebefrenik

: Buruk

Onset umur

: Usia muda

: Buruk

Perjalanan penyakit

: Kronis

: Buruk

Faktor genetik

: Tidak ada

: Baik

Pendidikan

: kelas 1 SD

: Buruk

13

Status pernikahan

: Tidak menikah

: Buruk

Perhatian keluarga

: Cukup

: Baik

Lingkungan sosial ekonomi

: Cukup

: Baik

Faktor pencetus

: Belum diketahui

: Buruk

Kepatuhan terhadap terapi

: Tidak Patuh

: Buruk

Ciri kepribadian

: Skizoid

: Buruk

Tilikan

: 1 (Satu)

: Buruk

Penyakit organik

: Tidak ada

: Baik

Kesimpulan : Mengarah ke buruk (Dubius Ad Malam)


IX. KONDISI SOSIAL
Pasien tinggal di rumah yang tidak terlalu besar dengan luas pekarangan
kira-kira 6 are. Dalam 1 pekarangan tersebut terdapat bangunan rumah
berbentuk L, 1 bale, 1 padmasana, dan halaman rumput yang dibiarkan
kosong. Bangunan kamar teridir dari kamar utama di bagian depan yang
ditempati adik pasien dan sisanya dijadikan 4 kamar kos-kosan. Pasien
tinggal di salah satu kamar kos-kosan tersebut yang terletak di paling pojok.
Rumah pasien terletak antara sawah-sawah yang tidak terlalu luas. Sebelum
sampai di sawah, lingkungan rumah pasien merupakan gang sempit yang
hanya dapat dilalui motor.
Keluarga pasien tergolong keluarga yang sederhana, terlihat dari perabotan
di rumah tersebut yang banyak rusak dan tidak terurus serta tidak didapatkan
barang-barang mewah. Pendapatan sehari-hari keluarga tersebut didapatkan
dari penghasilan adik pasien yang bekerja sebagai supir pengangkut barang.
Pendapatanya cukup hanya untuk makan dan membeli peralatan sehari-hari
seperti alat mandi dan mencuci. Sumber air di keluarga pasien telah
menggunakan sumur di belakang rumah, sumber air tersebut digunakan untuk
minum, memasak, mandi, dan mencuci. Adik pasien telah beberapa kali
berusaha untuk mengajak kakaknya berobat tetapi ia sering menolak. Ia
mengatakan saat ni sedang mengurus KTP dan KK agar dapat dibuatkan
asuransi kesehatan. Adik pasien memilki niat untuk membantu pasien dan

14

mendukungnya. Tetangga sekitar pasien cukup dapat menerima pasien, orangorang yang sering memiliki kegiatan di Banjar juga dapat menerima
keberadaan pasien.
DENAH RUMAH

Keterangan:
1. Dapur dan tempat menjemur baju
2. Ruang kamar (Kamar adik pasien dan keluarga)
3. Kamar kos-kosan
4. Padmasana
5. Bale
X. SIMPULAN
1. Pasien MNO, 29 tahun, dengan diagnosis Skizofrenia Hebefrenik. Saat ini
pasien tidak dalam pengobatan dan tidak terdapat perubahan pada pasien.
2. Kondisi pasien saat ini secara umum dikatakan masih sama saja dari tahun ke
tahun, tidak terdapat perkembangan yang mengarah ke keadaan yang lebih
baik.

15

3. Pasien tinggal bersama adik laki-laki dan keluarganya. Ayah pasien dikatakan
meninggal karena tua. Di keluarga tidak ada yang memilki riwayat penyakit
psikiatri maupun sistemik lainnya.
4. Pasien merupakan seorang yang tidak bekerja karena alasan penyakitnya,
pasien setiap hari akan pergi ke pasar untuk membeli jajanan dan rokok. Di
rumah pasien hanya di kamar menonton TV, ia jarang makan dan mandi.
5. Keluarga pasien adalah keluarga yang sangat sederhana dengan pendapatan
tidak terlalu besar dan hanya cukup untuk membeli makanan dan kebutuhan
sehari-hari.
XI. SARAN
Adapun saran yang dapat saya berikan kepada pasien dan keluarga pasien ialah
sebagai berikut:
1. Pasien di bawa ke sentra pengobatan yang lebih baik oleh keluarga, dapat di
bawa ke RSJ Provinsi Bali dan apabila keluarga pasien merasa tidak mampu,
dapat meminta ke pihak Puskesmas ataupun Dinas Sosial.
2. Selain itu keterlibatan keluarga pasien sangat penting dalam pengobatan
sehingga keluarga dapat terus mendukung dan membantu pasien untuk
minum obat secara teratur.
3. Pasien dan diberikan motivasi serta semangat agar tetap sabar serta
mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa, keluarga diminta mengajak
pasien ke tempat beribadah, untuk beribadah saat pasien gejalanya tidak
terlalu menonjol.
4. Minum obat sesuai dosis yang ditentukan dan dapat di bawa ke Pusksmas
Denpasar Timur sehingga mengetahui fungsi dari obatnya serta efek samping
yang ditimbulkan.
XII. FOTO-FOTO KUNJUNGAN

16

Gambar 1. Pemeriksa dan pasien

Gambar 2. Lokasi rumah pasien

Gambar 3. Pekarangan rumah pasien

Gambar 4. Bale di dalam rumah

17

Gambar 5. Kondisi dapur keluarga pasien

18