Anda di halaman 1dari 16

Gangguan Fisik, Kepaduan Sosial, dan Insomnia di Lingkungan Tetangga:

Hasil dari Peserta yang Berusia Lebih dari 50 tahun pada Health and
Retirement Study
Lenis P. Chen-Edinboro, Christopher N. Kaufmann, Jura L. Augustinavicius,
Ramin Mojtabai, Jeanine M. Parisi, Alexandra M. V. Wennberg, Michael T.
Smith, dan Adam P. Spira.

ABSTRAK
Latar Belakang: Studi ini ingin menetapkan hubungan antara faktor sosiallingkungan dengan gejala insomnia di lingkungan tetangga pada sampel yang
berusia lebih dari 50 tahun di Amerika Serikat.
Metode: Data dianalisa dari dua gelombang pengambilan data pada Health and
Retirement Study, yaitu tahun 2006 dan 2010, yang menggunakan 7.231 peserta
yang tinggal di Amerika Serikat (3.054 pria dan 4.177 wanita). Predikor utama
ialah gangguan fisik (vandalisme/grafiti, perasaan aman sendirian saat gelap, dan
kebersihan) dan kepaduan sosial (keramahan pada orang-orang, kesediaan
membantu saat dibutuhkan, dan lainnya) di lingkungan tetangga; hasilnya berupa
gejala insomnia, seperti kesulitan memulai tidur, terbangun di tengah malam,
bangun terlalu dini, dan perasaan tidak segar saat bangun tidur.
Hasil: Setelah umur, pendapatan, ras, pendidikan, jenis kelamin, penyakit kronis,
indeks massa tubuh, gejala depresi, merokok, dan konsumsi alkohol disesuaikan,
setiap kenaikan satu unit pada gangguan fisik di lingkungan tetangga berhubungan
dengan penambahan risiko kesulitan memulai tidur (odds ratio (OR) = 1,09
dengan confidence interval (CI) 95% : 1,04-1,14), bangun terlalu dini (OR = 1,05;
CI 95%: 1,00-1,10), dan pada usia lebih dari sama dengan 69 tahun (disesuaikan
dengan semua variabel di atas kecuali variabel umur), yaitu perasaan tidak segar
saat bangun tidur di pagi hari (OR = 1,11; CI 95%: 1,02-1,22 pada tahun 2006).
Kenaikan satu unit pada kepaduan sosial yang rendah dihubungkan dengan risiko
kesulitan memulai tidur (OR = 1,06; CI 95%: 1,01-1,11) dan perasaan tidak segar
saat bangun tidur (OR = 1,09; CI 95%: 1,04-1,15) yang lebih besar.

Kesimpulan: Pada tingkat lingkungan tetangga, faktor dari gangguan fisik dan
kepaduan sosial berhubungan dengan gejala insomnia pada dewasa paruh baya
dan lanjut usia. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi tidur yang berakibat pada
masalah kesehatan pada populasi yang menua.

Kata kunci : insomnia, tidur, lingkungan tetangga, gangguan fisik, kepaduan


sosial, penuaan, lanjut usia, epidemiologi

PENDAHULUAN
Beberapa penelitian mendukung adanya hubungan antara karakteristik lingkungan
sekitar dengan hasil dari tidur. Sebagai contoh, sebuah penelitian skala besar yang
dikerjakan pada orang Australia belakangan ini menemukan bahwa individu yang
tinggal di lingkungan tetangga dengan area yang sedikit hijau memiliki risiko
yang lebih besar pada durasi tidurnya, dan sebuah studi pada remaja MeksikoAmerika menunjukkan mereka yang tinggal di lingkungan dengan kasus
kejahatan yang lebih banyak membutuhkan waktu tidur siang yang lebih lama.
Singh dan Kenney (2013) pada penelitiannya menyatakan bahwa karakteristik
lingkungan tetangga, seperti rasa aman yang rendah, sampah dan kotoran yang
banyak, perumahan yang miskin atau bobrok, dan vandalisme berhubungan
dengan prevalensi masalah tidur yang lebih tinggi pada anak-anak dan remaja di
Amerika Serikat. Hanya sedikit penelitian yang secara spesifik menginvestigasi
faktor lingkungan tetangga sebagai prediktor dari tidur pada orang dewasa yang
berusia lanjut daripada yang menginvestigasi demografik dan status sosial
ekonominya. Oleh karena itu, peneliti sadar bahwa belum adanya suatu penelitian
seperti itu yang telah dilaksanakan pada sampel yang merepresentatifkan secara
nasional orang dewasa berusia lanjut di Amerika Serikat.
Penelitian yang menilai hubungan antara faktor sosial-lingkungan dan
insomnia pada orang dewasa berusia lanjut memiliki kepentingan yang potensial,
dengan mempertimbangkan adanya peningkatan prevalensi insomnia pada orang
yang sudah tua dan adanya hubungan antara insomnia dan kesehatan yang buruk
pada orang dewasa yang berusia lanjut. Maka, tujuan dari penelitian ini adalah
untuk menentukan adanya hubungan antara karakteristik lingkungan tetangga
dengan gejala insomnia di survei nasional pada dewasa paruh baya dan lanjut usia
di Amerika Serikat. Berdasarkan temuan dari beberapa penelitian sebelumnya
mengenai hubungan dari faktor lingkungan tetangga dan hasil dari tidur, peneliti
mengajukan suatu hipotesis bahwa pengukuran skor yang buruk dari gangguan
fisik dan kepaduan sosial di lingkungan tetangga akan berhubungan dengan
meningkatnya kemungkinan terjadinya gejala insomnia. Variabel sosialdemografik dan sosial-ekonomi, seperti ras/etnik dan kemiskinan telah dibuktikan
berhubungan dengan tidur dan berhubungan pula dengan karakteristik sosial

dan/atau kepaduan. Peneliti juga berhipotesis lebih jauh lagi bahwa hubungan
antara lingkungan tetangga dan tidur harus bebas dan tidak bergantung pada faktor
demografik dan ekonomi.

METODE
Peserta
Peneliti mempelajari peserta yang terhimpun dalam Health and Retirement Study
(HRS), sebuah penelitian panel longitudinal pada dewasa paruh baya dan lanjut
usia yang dimulai pada tahun 1992 dan disponsori oleh National Institute on
Aging (nomor NIA U01AG009740) dan dikerjakan oleh University of Michigan.
Selain penelitian kohort yang dilaksanakan tahun 1992, lima individual subsampel juga ditambahkan pada tahun 1993, 1998 (2 sub-sampel), 2004, dan 2010.
Data mengenai kesehatan, pekerjaan, kekayaan, dan kesejahteraan dikumpulkan
setiap dua tahun sekali yang diambil dari lebih dari 26.000 individu yang berusia
lebih dari 50 tahun. HRS menggunakan teknik pengambilan sampel multi-stage
area probability sampling menggunakan cluster dari penduduk ras Hitam,
Hispanik, dan Florida. Hasil survey menunjukkan sampel HRS representatif untuk
para penduduk yang berusia paruh baya dan lanjut di Amerika Serikat. Para
peserta HRS diberikan informed consent dan HRS juga telah disetujui oleh Badan
Pengkajian Institusi di University of Michigan dan National Institute on Aging.
Analisa data dibatasi menjadi 7.231 peserta HRS yang berusia lebih dari
50 tahun dengan data yang lengkap minimal satu variabel lingkungan tetangga
dan satu variabel insomnia untuk gelombang tahun 2006. Pada gelombang tahun
2010 didapatkan 5.178 (71,6%) individu yang memiliki data insomnia dan
lingkungan tetangga. Kedua data dari tahun 2006 dan 2010 digunakan untuk
analisa data.

Pengukuran
VARIABEL LINGKUNGAN TETANGGA
Delapan pertanyaan yang berhubungan dengan karakteristik lingkungan tetangga
dimasukkan ke dalam Kuesioner Psikososial dan Gaya Hidup. Pada kuesioner,
peserta diminta untuk menilai tingkat gangguan fisik di lingkungan tetangga yang
terdiri dari empat hal, yaitu vandalisme/grafiti, sampah, rumah kosong/terlantar,
dan perasaan aman saat berjalan sendirian di malam hari; dan menilai kepaduan
sosial yang terdiri dari empat hal, yaitu perasaan menjadi bagian dari lingkungan,
kepercayaan pada orang-orang, keramahan pada orang-orang, dan kesediaan
membantu ketika membutuhkan. Kriteria di atas dinilai dalam jarak sekitar 1 mil
atau waktu tempuh 20 menit dari rumah individu. Penilaian dibuat dengan skala
1-7 seperti skala Likert (secara umum, 1 = skor yang lebih baik, 7 = skor yang
lebih buruk). Skor rata-rata untuk kriteria gangguan fisik di lingkungan tetangga
adalah skala 1-7, dengan angka yang lebih besar menunjukkan gangguan fisik
yang lebih banyak. Sama halnya dengan gangguan fisik, skor rata-rata untuk
kepaduan sosial dinilai dengan skor yang lebih besar menunjukkan kepaduan
sosial yang lebih rendah atau buruk.

INSOMNIA
Peserta penelitian ditanyakan mengenai adanya kesulitan memulai tidur,
masalah terbangun di tengah malam, masalah bangun terlalu dini, dan
perasaan segar ketika bangun di pagi hari. Jawaban yang diberikan akan
dikategorikan menjadi sering, kadang-kadang, dan jarang atau tidak pernah.
Jawaban yang dikategorikan ini akan dikonversikan menjadi angka biner. Khusus
untuk jawaban dari pertanyaan mengenai kesulitan memulai tidur, terbangun di
tengah malam, dan bangun terlalu dini, jawaban berupa sering dan kadangkadang mengindikasi adanya gejala insomnia, sebaliknya jawaban jarang atau
tidak pernah mengindikasi tidak adanya gejala insomnia. Untuk koding variabel
perasaan segar ketika bangun di pagi hari dibalikkan sehingga jawaban
kadang-kadang dan jarang atau tidak pernah menunjukkan adanya gejala
insomnia dan jawaban sering menunjukkan tidak adanya gejala insomnia.

KARAKTERISTIK DEMOGRAFIK DAN KESEHATAN


Variabel demografik seperti usia, jenis kelamin (pria atau wanita), ras (nonHispanik

berkulit

putih/non-Hispanik

berkulit

hitam/Hispanik/lainnya),

pendidikan (tidak tamat SMA atau telah menyelesaikan GED, diploma SMA,
perguruan tinggi atau telah menyelesaikan gelar sarjana), dan total pendapatan
rumah tangga (dikelompokkan menjadi <$25.000, $25.000-49.999, $50.00074.000, $75.000-100.000, dan di atas $100.000) dimasukkan ke dalam analisa
data. Informasi mengenai pendapatan rumah tangga diambil dari data yang telah
diperhitungkan oleh para peneliti RAND. Detail mengenai proses perhitungan
data juga difasilitasi oleh RAND. Pada analisa data juga berisi Indeks Massa
Tubuh (IMT; kg/m2), gejala depresi yang diukur dengan versi 8 butir skor dari
Center for Epidemiologic Studies Depression Scale (CES-D), dan beberapa
kondisi kesehatan yang dilaporkan sendiri termasuk hipertensi, masalah jantung
(misalnya serangan jantung, penyakit jantung koroner, angina, gagal jantung
kongestif, dan masalah jantung lainnya), stroke, diabetes, kanker, dan arthritis.
Variabel penyakit yang berhubungan dengan daya ingat yang dilaporkan sendiri
hanya tersedia pada tahun 2006. Ditambah lagi variabel dementia, kepikunan,
dan gangguan daya ingat serius lainnya dan penyakit Alzheimer yang dilaporkan
sendiri tersedia sebagai dua variabel terpisah, tetapi hanya pada tahun 2010.
Peserta juga melaporkan jika mereka pernah mengonsumsi minuman beralkohol
atau seorang perokok.

Analisa Statistik
Sampel dihitung menggunakan statistik deskriptif dan koefisien korelasi
Spearman antara gangguan fisik dan rendahnya kepaduan sosial di lingkungan
tetangga pada tahun 2006. Untuk setiap gejala insomnia, dicocokkan tiga
multivariabel model Generalized Estimating Equation (GEE) dengan gangguan
fisik atau kepaduan sosial di lingkungan tetangga sebagai prediktor utama dan
gejala insomnia sebagai hasilnya. Model pertama (Model 1) disesuaikan untuk
variabel demografik (umur, pendapatan, pendidikan, ras, dan jenis kelamin);
model kedua (Model 2) dikontrol untuk kovariat tersebut dan IMT, gejala depresi,

merokok, dan konsumsi alkohol; dan model ketiga (Model 3) yang telah lengkap
penyesuaiannya dikontrol untuk kovariat tersebut dan kondisi kesehatan. Oleh
karena pendapatan dari para penduduk sangat berhubungan dengan karakteristik
lingkungan tetangga, penelitian ini juga melakukan analisa sensitivitas pada
model tersebut dengan memasukkan dan tidak memasukkan pendapatan sebagai
kovariat. Variabel penyakit dementia/Alzheimer yang berbeda tersedia pada tahun
2006 dan 2010, maka dilakukan analisa sensitivitas kedua yang menggunakan
data dari tahun 2006 dan 2010 di mana ketiga kovariat dikontrol pada tiga analisa
terpisah dan hasilnya dibandingkan dari hasil analisa ketiga model.
Ketiga model menginklusi data dari tahun 2006 dan 2010 bila
memungkinkan, dengan prediktor, hasil, dan mayoritas kovariat (selain jenis
kelamin, ras, dan pendidikan) diperbolehkan untuk waktu yang berbeda-beda
antara tahun 2006 dan 2010. Semua kovariat kecuali jenis kelamin, ras, dan
pendidikan, nilai dari karakteristik demografiknya diambil dari tahun 2006 dan
2010.
Para penganalisa mengaplikasikan beban survei untuk memastikan data
tersebut representatif secara nasional. Untuk menghasilkan estimasi populasi ratarata dari hubungan antara karakteristik lingkungan tetangga dan insomnia, dan
untuk menerangkan terdapatnya kebebasan yang kurang antara tahun 2006 dan
2010, analisa akan menggunakan GEE dengan logit link, keluarga binomial, dan
estimator varian yang kuat; yang terakhir sesuai untuk analisa data dari individu
yang sama akibat poin yang berulang kali. Istilah interaksi juga termasuk dalam
variabel lingkungan tetangga dan usia untuk menginvestigasi hubungan antara
karakteristik lingkungan tetangga dan insomnia seiring bertambahnya usia.
Analisa data dikerjakan menggunakan Stata Version 12.1 dan data yang berasal
dari HRS.

HASIL
Secara keseluruhan, 54% dari 7.231 peserta adalah wanita (Tabel 1). Sekitar 82%
peserta memiliki ras non-Hispanik berkulit putih, 9% non-Hispanik berkulit
hitam, dan kurang lebih 7% adalah ras Hispanik. Terdapat sekitar 21% peserta

yang tidak tamat SMA atau menyelesaikan GED, hampir separuh peserta
memiliki diploma SMA, dan kurang lebih 30% peserta pernah belajar di
perguruan tinggi atau pendidikan yang lebih tinggi. Kurang lebih setengah dari
keseluruhan peserta memiliki pendapatan kurang dari $50.000, sementara 20%
peserta memiliki pendapatan sebesar $10.000 atau lebih. Pada tahun 2006, angka
median untuk umur adalah 68 tahun dan rerata IMT adalah 28,4 (berat badan
berlebih). Sebagian besar individu dilaporkan memiliki hipertensi, 19% individu
memiliki

diabetes,

dan

sekitar

22%

mengalami

kejadian

serangan

jantung/koroner; sekitar 5% dari individu mengalami stroke. Sekitar 13% peserta


dilaporkan mengidap kanker dan 56% lainnya arthritis. Lebih dari 25% peserta
adalah perokok dan lebih dari separuh (55%) peserta pernah mengonsumsi
minuman beralkohol. Untuk gejala insomnia, lebih dari 40% peserta mengaku
memiliki kesulitan memulai tidur, bangun terlalu dini, dan perasaan tidak segar
ketiga bangun tidur. Pada tahun 2006, skor rerata untuk gangguan fisik di
lingkungan tetangga adalah 2,4 dan skor rerata untuk kepaduan sosial di
lingkungan tetangga adalah 2,5 (rentang 1-7, 7 = paling buruk). Dari analisa yang
telah dilakukan, gangguan fisik dan kepaduan sosial yang rendah di lingkungan
tetangga cukup berkorelasi (r = 0,46, p < 0,001 pada tahun 2006). Oleh sebab itu,
kami menghalangi untuk menginvestigasi kontribusi variabel tersebut secara
terpisah terhadap gejala insomnia dalam satu model yang sama.
Gangguan fisik di lingkungan tetangga
Setelah dilakukan penyesuaian terhadap umur, jenis kelamin, ras, pendapatan, dan
pendidikan (Model 1), setiap satu poin yang lebih tinggi pada gangguan fisik di
lingkungan tetangga, terdapat 11% risiko kesulitan memulai tidur yang lebih
tinggi (OR = 1,11; CI 95%: 1,08-1,15; Tabel 2). Maka, skor gangguan fisik di
lingkungan tetangga yang lebih tinggi berhubungan dengan risiko yang lebih
besar pula untuk kesulitan memulai tidur, terbangun di tengah malam, dan
masalah bangun terlalu dini (Model 1). Setelah itu, dilakukan penyesuaian
terhadap BMI, gejala depresi, merokok, dan konsumsi alkohol (Model 2).
Didapatkan peningkatan gangguan fisik di lingkungan tetangga yang tetap
berkorelasi dengan risiko yang lebih besar untuk kesulitan memulai tidur (OR =
1,10; CI 95%: 1,05-1,15) dan bangun terlalu dini (OR = 1,05; CI 95%: 1,01-1,11),

tetapi tidak terdapat korelasi yang signifikan untuk terbangun di tengah malam
(OR = 1,04; CI 95%: 0,99-1,09). Kemudian, ditambahkan penyesuaian untuk
kondisi kesehatan (Model 3), didapatkan setiap peningkatan satu poin pada
gangguan fisik di lingkungan tetangga berhubungan dengan peningkatan risiko
sebesar 9% untuk kesulitan memulai tidur (OR = 1,09; CI 95%: 1,04-1,14) dan
5% untuk bangun terlalu dini (OR = 1,05; CI 95%: 1,00-1,10).
Tabel 1. Karakteristik Peserta pada tahun 2006
KARAKTERISTIK
Usia (tahun)
Jenis Kelamin
Pria
Wanita
Ras
Non-Hispanik berkulit putih/Kaukasia
Non-Hispanik berkulit hitam/Afrika Amerika
Hispanik
Lainnya
Pendidikan (n = 7.215)
< SMA
Diploma SMA
Pernah/menyelesaikan perguruan tinggi
Gelar sarjana
Pendapatan
<$25.000
$25.000-49.999
$50.000-74.999
$75.000-99.999
$100.000
Kondisi Kesehatan (rentang n: 7.198-7.230)
Serangan jantung, penyakit jantung koroner,
angina, dan lainnya
Hipertensi
Stroke
Diabetes
Kanker
Arthritis
Konsumsi alkohol (n = 7.230)
Perokok (n = 4.057)
BMI (n = 7.138)
CES-D

n (%), MEDIAN (IQR),


ATAU RERATA
STANDAR EROR
68 (60, 75)
3.054 (46,0)
4.177 (54,0)
5.650 (82,3)
909 (8,9)
576 (7,3)
96 (1,5)
1.706 (20,7)
3.625 (49,1)
1.242 (19,9)
642 (10,4)
2.256 (27,7)
2.102 (26,4)
1.111 (16,0)
647 (9,7)
1.115 (20,2)
1.806 (22,0)
4.148 (52,7)
421 (5,0)
1.469 (18,8)
1,119 (13,2)
4.418 (55,9)
3.735 (55,0)
915 (25,7)
28,4 0,1
1 (0,2)

Gejala Insomnia
Kesulitan memulai tidur (n = 7.229)
Terbangun di tengah malam (n = 7.226)
Bangun terlalu dini (n = 7.229)
Perasaan tidak segar saat bangun (n = 7.226)
Karakteristik Lingkungan Tetangga
Gangguan fisik (n = 6.935)
Kepaduan sosial (n = 6.949)

3.122 (43,0)
4.414 (60,4)
3.044 (42,1)
2.810 (41,4)
2,4 0,03
2,5 0,02

Hubungan antara gangguan fisik di lingkungan tetangga dengan usia


sangat signifikan untuk perasaan tidak segar saat bangun tidur pada model yang
telah dilakukan penyesuaian lengkap (p = 0,046). Oleh sebab itu, dilakukan
analisa statifikasi berdasarkan waktu (2006 vs. 2010) dan berdasarkan angka
median umur, setelah menggabungkan data dari tahun 2006 dan 2010 (<69 vs.
69). Dari analisa tersebut ditemukan bahwa tidak ada asosiasi antara gangguan di
lingkungan tetangga dengan perasaan segar saat bangun tidur pada orang dewasa
yang berumur <69 tahun pada tahun 2006 dan 2010. Namun, gangguan yang lebih
besar berhubungan dengan risiko yang lebih besar pula pada perasaan tidak segar
saat bangun tidur pada orang dewasa berusia 69 tahun di tahun 2006 (OR = 1,11;
CI 95%: 1,02-1,22; Tabel 3) dan 2010 (OR = 1,18 CI 95%: 1,08-1,28; Tabel 3).
Kepaduan sosial di lingkungan tetangga
Tabel 4 menunjukkan hubungan yang serupa antara rendahnya kepaduan sosial
dan gejala insomnia seperti pada gangguan fisik di lingkungan tetangga. Model 1
menunjukkan adanya korelasi antara kepaduan sosial yang buruk dengan risiko
keempat gejala insomnia yang lebih besar secara signifikan. Hasil ini tetap
signifikan pada model yang telah dilakukan penyesuaian lengkap untuk kesulitan
memulai tidur (OR = 1,06; CI 95%: 1,01-1,11) dan perasaan tidak segar saat
bangun tidur di pagi hari (OR = 1,09; CI 95%: 1,04-1,15; Tabel 4). Untuk setiap
kejadian ini, kepaduan sosial yang lebih buruk memiliki hubungan dengan
peningkatan risiko gejala tersebut sebesar 6% dan 9% secara berurutan.
Analisa sensitivitas
Pada analisa sensitivitas, pendapatan dieksklusi dari model dengan gangguan fisik
dan kepaduan sosial di lingkungan tetangga sebagai prediktor, dan didapatkan

10

tidak adanya poin estimasi atau hubungan yang signifikan secara statistik yang
berubah secara bermakna apabila dibandingkan dengan model yang menginklusi
pendapatan (hasil tidak dilampirkan).
Tabel 2. Hubungan antara Gangguan Fisik di Lingkungan Tetangga dan
Gejala Insomnia

Kesulitan memulai tidur


Tidak
Ya
Wald test (x2)
Masalah terbangun di
tengah malam
Tidak
Ya
Wald test (x2)
Masalah bangun terlalu
dini
Tidak
Ya
Wald test (x2)

Model 1, OR (95%
CI)

Model 2, OR (95% Model 3, OR (95%


CI)
CI)

(Ref)
1,11*** (1,085-1,15)
351,9

(Ref)
1,10*** (1,05-1,15)
388,4

(Ref)
1,09*** (1,04-1,14)
419,2

(Ref)
1,05* (1,01-1,08)
173,9

(Ref)
1,04 (0,99-1,09)
191,8

(Ref)
1,03 (0,98-1,08)
227,5

(Ref)
1,08*** (1,05-1,12)
157,6

(Ref)
1,05* (1,01-1,11)
223,1

(Ref)
1,05* (1,00-1,10)
246,0

*p < 0,05, **p < 0,01, ***p < 0,001.

Tabel 3. Hubungan antara Gangguan Fisik di Lingkungan Tetangga dengan


Perasaan Tidak Segar saat Bangun Tidur di Pagi Hari, Distratifikasi
berdasarkan Waktu dan Usia
ODDS RATIO
(95% CI)

TAHUN: 2006
USIA <69 THN
(n=2.067)

Perasaan tidak
segar
saat
bangun tidur di
pagi hari
Tidak
(Ref)
Ya
0,99 (0,91-1,08)
Wald test (x2) 158,7

TAHUN: 2006
USIA 69 THN
(n=1.769)

TAHUN: 2010
USIA <69 THN
(n=1.040)

TAHUN: 2010
USIA 69 THN
(n=1.621)

(Ref)
1,11* (1,02-1,22)
185,1

(Ref)
1,09 (0,97-1,23)
131,4

(Ref)
1,18***(1,08-1,28)
165,8

*p < 0,05, **p < 0,01, ***p < 0,001.

Pada analisa sensitivitas yang kedua ditambahkan variabel penyakit yang


berhubungan dengan daya ingat pada tahun 2006, variabel penyakit Alzheimer
pada tahun 2010, atau variabel dementia, kepikunan, atau gangguan daya ingat

11

serius lainnya pada tahun 2010 ke dalam Model 3. Walaupun sebagian besar
hasilnya tidak berubah, hasil dari satu korelasi antara kepaduan sosial dan
perasaan tidak segar saat bangun tidur (OR = 1,09; CI 95%: 1,001,19, p = 0,047)
turun di bawah angka signifikan setelah menginklusi variabel dementia/kepikunan
pada tahun 2010 (OR = 1,09; CI 95%: 1,00 1,18, p = 0,056). Hubungan antara
kepaduan sosial dan perasaan segar saat bangun tidur tetap signifikan dan tidak
berubah secara bermakna setelah diinklusi variabel penyakit Alzheimer pada
tahun 2010 dan variabel penyakit yang berhubungan dengan daya ingat pada
tahun 2006 (data tidak dilampirkan).

PEMBAHASAN
Pada penelitian ini, didapatkan bahwa di lingkungan tetangga, gangguan fisik
yang lebih tinggi dan kepaduan sosial yang lebih rendah berhubungan dengan
risiko yang lebih besar untuk kesulitan memulai tidur, serta gangguan fisik yang
lebih tinggi memiliki asosiasi dengan bangun terlalu dini di pagi hari. Rendahnya
kepaduan sosial memiliki korelasi dengan risiko perasaan tidak segar saat bangun
tidur yang lebih besar pada semua kelompok umur; gangguan fisik yang tinggi
hanya berhubungan dengan risiko yang lebih besar untuk perasaan tidak segar saat
bangun tidur pada individu yang berusia 69 tahun atau lebih. Korelasi ini tidak
berubah setelah dilakukan penyesuaian untuk beberapa variabel demografik dan
kondisi kesehatan, sehingga menunjukkan bahwa karakteristik lingkungan
tetangga memberikan efek independen untuk insomnia pada orang dewasa paruh
baya dan lanjut usia di Amerika Serikat. Ditambah lagi asosiasi yang berbedabeda antara gangguan di lingkungan tetangga dan insomnia berdasarkan kelompok
umur menunjukkan bahwa pada orang yang berusia 69 tahun atau lebih, tidurnya
lebih sensitif pada efek yang diakibatkan oleh gangguan di lingkungan tetangga
daripada orang tua yang berusia di bawah 69 tahun.
Beberapa

penelitian

lainnya

mendukung

adanya

korelasi

antara

karakteristik lingkungan tetangga dengan hasil dari tidur. DeSantis dan koleganya
(2013) mengidentifikasi sebuah korelasi antara tingginya gangguan di lingkungan
tetangga dengan durasi tidur yang lebih singkat dan hubungan antara tingginya

12

kepaduan sosial dengan rasa kantuk di siang hari, yang telah disesuaikan faktor
demografik, gejala depresi, dan masalah kesehatannya. Namun, hasil penelitian
DeSantis dkk. (2013) berbeda dengan penelitian ini di mana pada penelitiannya
tidak ditemukan adanya hubungan antara faktor lingkungan tetangga dan
insomnia. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya diagnosis dokter dalam
operasionalisasi imsomnia pada penelitian tersebut. Pada penelitian intervensi
perumahan yang dilakukan Simonelli dkk. (2013) ditemukan bahwa perumahan
kumuh yang diperbaiki di Buenos Aires mengarahkan pada peningkatan kualitas
tidur yang diukur dengan Pittsburgh Sleep Quality Index. Pada penelitian
terdahulu (Hanson dan Ostergren, 1987) mendukung adanya hubungan antara
faktor sosial, yaitu frekuensi kontak sosial dan dukungan emosional dengan
insomnia. Faktor sosial lebih dulu telah dihubungkan dengan tidur, tetapi
kepaduan sosial setingkat lingkungan tetangga baru-baru saja menjadi topik yang
menarik (misalnya Mendes de Leon dkk., 2009; DeSantis dkk., 2013). Penelitian
ini turut berkontribusi untuk tulisan ilmiah yang membahas gangguan lingkungan
tetangga/kurangnya kepaduan dan tidur terutama pada aspek karakteristik
lingkungan tetangga sebagai faktor risiko yang berpotensial untuk terjadinya
insomnia pada orang berusia lanjut yang merupakan populasi dengan peningkatan
prevalensi gangguan tidur.
Penelitian mengenai karakteristik lingkungan tetangga dan gejala insomnia
pada orang lanjut usia memiliki implikasi yang penting pada hubungan antara
lingkungan dan kesehatan pada populasi ini. Selain itu, penelitian ini juga
mengusulkan bahwa faktor yang dapat dimodifikasi di lingkungan tetangga
memiliki efek positif pada insomnia, yaitu pada kesehatan secara umum.
Didapatkan bukti yang menunjukkan adanya asosiasi antara tidur yang buruk
dengan buruknya kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan (Reid dkk.,
2006) dan masalah kognitif (Roth dan Ancoli-Israel, 1999), serta penurunan
aktivitas di siang hari, seperti gejala depresi, anxietas, dan kelelahan (Ustinox
dkk., 2010). Maka dari itu, gangguan fisik di lingkungan tetangga dan kurangnya
kepaduan sosial dapat mempengaruhi bermacam-macam faktor kesehatan dan
kualitas hidup secara keseluruhan melalui hubungannya terhadap tidur.

13

Tabel 4. Hubungan antara Rendahnya Kepaduan Sosial di Lingkungan


Tetangga dengan Gejala Insomnia

Kesulitan memulai tidur


Tidak
Ya
Wald test (x2)
Masalah terbangun di
tengah malam
Tidak
Ya
Wald test (x2)
Masalah bangun terlalu
dini
Tidak
Ya
Wald test (x2)
Perasaan tidak segar saat
bangun di pagi hari
Tidak
Ya
Wald test (x2)

Model 1, OR (95%
CI)

Model 2, OR (95% Model 3, OR (95%


CI)
CI)

(Ref)
1,10*** (1,06-1,14)
342,5

(Ref)
1,06* (1,01-1,11)
373,8

(Ref)
1,06* (1,01-1,11)
409,0

(Ref)
1,06** (1,02-1,10)
177,3

(Ref)
1,04 (0,99-1,09)
191,1

(Ref)
1,03 (0,98-1,08)
226,4

(Ref)
1,07*** (1,03-1,10)
152,2

(Ref)
1,02 (0,98-1,07)
219,2

(Ref)
1,02 (0,98-1,07)
242,3

(Ref)
1,15*** (1,11-1,19)
238,4

(Ref)
1,10*** (1,04-1,15)
422,1

(Ref)
1,09*** (1,04-1,15)
468,6

*p < 0,05, **p < 0,01, ***p < 0,001.


Beberapa mekanisme berbeda dapat menjelaskan hubungan antara
gangguan atau kepaduan di lingkungan tetangga dengan insomnia. Pertama, status
kesehatan fisik atau mental dapat berperan sebagai mediator dalam hubungan
antara karakteristik lingkungan tetangga dan kualitas tidur. Perubahan pada
beberapa hipotesis di penelitian ini setelah mengontrol kondisi mental dan
kesehatan, yaitu pada Model 2 dan 3, menunjukkan bahwa adanya kemungkinan
hal tersebut berperan. Kedua, aspek positif dari kehidupan di lingkungan tetangga
dapat berhubungan dengan perasaan aman dan selamat, mengurangi hyperarousal
yang dapat mengganggu tidur. Ketiga, orang-orang yang tidak dapat dipercaya
yang merupakan salah satu komponen dari indeks rendahnya kepaduan sosial,
telah menujukkan adanya asosiasi dengan isolasi sosial yang pada akhirnya
berhubungan dengan aktivasi jalur hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA) yang lebih
besar. Telah dibuktikan bahwa aktivasi HPA dan tingkat kortisol yang tinggi dapat
mengganggu regulasi insomnia dan dapat pula menghubungkan kepaduan sosial
yang rendah dengan tidur yang buruk. Akhirnya, dapat diakui bahwa banyak

14

faktor potensial lainnya yang dapat berperan dalam hubungan antara karakteristik
lingkungan tetangga dengan insomnia, termasuk faktor lingkungan tetangga,
seperti kepadatan perumahan, jenis perumahan, jumlah penduduk, adanya taman
untuk umum, dan kebisingan lingkungan tetangga, maupun jam kerja dan
penggunaan stimulan misalnya kafein. Penelitian selanjutnya sebaiknya lebih
mengeksplorasi faktor-faktor tersebut karena faktor-faktor tersebut berhubungan
dengan karakteristik lingkungan tetangga dan insomnia.
Sampel penelitian yang representatif secara nasional, penilaian gejala
insomnia yang komprehensif, dan investigasi gangguan fisik dan kepaduan sosial
di lingkungan tetangga merupakan beberapa kekuatan dari penelitian ini. Selain
itu, juga dilakukan penyesuaian untuk beberapa variabel yang berpotensi dalam
analisa penelitian ini, yaitu yang memiliki hubungannya antara karakteristik
lingkungan tetangga dan gejala insomnia. Namun, dapat pula terdapat
kemungkinan adanya asosiasi yang diobservasi tumpang tindih dengan variabel
lain yang tidak dapat diukur atau variabel lain yang tidak dimasukkan dalam
analisa. Hal ini dapat mengakibatkan overestimasi dari odds ratio. Keterbatasan
lainnya adalah tidak adanya pengukuran tidur yang objektif dari HRS.
Pengukuran tidur yang objektif (misalnya aktigrafi pergelangan tangan) maupun
mediator yang potensial lainnya yang tidak diinklusi dalam penelitian ini perlu
dipertimbangkan untuk penelitian berikutnya.
Kesimpulannya, pada penelitian ini ditemukan adanya hubungan antara
gangguan lingkungan tetangga yang tinggi dan rendahnya kepaduan sosial yang
dengan risiko yang lebih besar untuk mengalami insomnia pada sampel yang
representatif dari orang tua paruh baya dan lanjut usia di lingkungan. Sejauh ini,
hubungan antara gangguan di lingkungan tetangga dan gangguan tidur merupakan
hubungan sebab akibat, tetapi variabel lainnya yang setingkat lingkungan tetangga
dapat menjadi faktor risiko yang dapat dimodifikasi yang dapat ditargetkan untuk
meningkatkan tidur dan hasil yang berhubungan dengan kesehatan.

15

KONFLIK KEPENTINGAN
Dr. Michael Smith memiliki saham yang setara dalam BMED Technologies yang
mengembangkan material mandiri untuk gangguan perilaku, termasuk insomnia.
Konflik yang berpotensi muncul terhadap topik ini diatur oleh Johns Hopkins
University Conflict of Interest Office. Dr. Ramin Mojtabai telah menerima honor
konsultasi dari Lundbeck Pharmaceuticals. Perusahaan-perusahaan tersebut tidak
memiliki peran apapun dalam penyusunan kuesioner penelitian, pemilihan desain
penelitian, pengumpulan data, analisa data, atau aspek lainnya dalam penelitian
ini.

16