Anda di halaman 1dari 14

Penyakit Demensia pada Pasien Geriatri

Kurnia Datu Kanoena Lethe


102014199
C6
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
Kurnialethe03@gmail.com

Pendahuluan
Demensia adalah ditandai dengan penurunan fungsi kognitif, perubahan kepribadian, kerusakan
memori, penurunan fungsi intelektual dan perubahan emosi serta kemampuan pengambilan
keputusan. Demensia terjadi secara bertahap, memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahuntahun. Demensia adalah suatu tampilan klinis yang harus didiagnosis, tetapi bukan hanya
diagnosis. Penyebab demensia banyak sekali, tetapi tampilan klinisnya hampir sama.
Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi
aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukan beberapa gangguan dan
perubahan pada tingkah laku harian yang mengganggu ataupun tidak mengganggu.
Demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan
beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.
Pembahasan
Anamnesis
Anamnesis adakah suatu teknik pemeriksaan yang dilakukan lewat suatu percakapan antara
seorang dokter dengan pasiennya secara langsung atau dengan orang lain yang mengetahui
tentang kondisi pasien, untuk mendapatkan data pasien beserta permasalahan medisnya. Tujuan
utama anamnesis adalah memperoleh data atau informasi tentang permasalahan yang sedang
dialami atau dirasakan oleh pasien. Apabila anamnesis dilakukan dengan cermat maka informasi
yang didapat akan sangat berharga bagi penegakan diagnosis, bahkan tidak jarang hanya dari
anamnesis saja seorang dokter sudah dapat menegakkan diagnosis. Selain itu, tujuan anamnesis
dan pemeriksaan fisik adalah mengembangkan pemahaman mengenai masalah medis pasien dan

membuat diagnosa banding. Tujuan berikutnya dari anamnesis adalah untuk membangun
hubungan yang baik antara seorang dokter dan pasiennya. Ada dua jenis anamnesis yang umum
dilakukan, yakni autoanamnesis dan alloanamnesis. Autoanamnesis adalah anamnesis yang
dilakukan langsung terhadap pasiennya. Ini adalah cara anamnesis terbaik karena pasien
sendirilah yang paling tepat untuk menceritakan apa yang sesungguhnya dia rasakan. Pada
pasien yang tidak sadar, sangat lemah, atau sangat sakit untuk menjawab pertanyaan, atau pada
pasien anak-anak, maka perlu orang lain untuk menceritakan permasalahannya. Anamnesis yang
dilakukan ini disebut alloanamnesis.1
Sebuah anamnesis yang baik haruslah mengikuti suatu metode atau sistematika yang baku
sehingga mudah diikuti. Tujuannya adalah agar selama melakukan anamnesis seorang dokter
tidak kehilangan arah, agar tidak ada pertanyaan atau informasi yang terlewat. Sistematika ini
juga berguna dalam pembuatan status pasien agar memudahkan siapa saja yang membacanya.
Sistematika tersebut terdiri dari:1
1. Data umum pasien, seperti nama, umur, alamat, pekerjaan, agama, suku, pendidikan, dan
status perkawinan.
2. Keluhan utama, yaitu keluhan yang di rasakan paling berat oleh pasien sehingga
mendorong pasien datang berobat atau mencari pertolongan medis. Pada skenario yang
didapat keluhan utama pasien pikun sejak 6 bulan yang lalu.
3. Riwayat penyakit sekarang, yaitu dokter memberikan

pertanyaan

mengenai

perkembangan atau perburukan keluhan utama, dan sebagainya. Pada skenario ini pasien
mengeluh sering lupa dan hilangnya ingatan yang baru, tidak dapat mengurus keperluan
dasar sehari-hari dan tidak dapat mengingat nama anggota keluarganya.
4. Riwayat penyakit dahulu, yaitu mengenai penyakit yang dahulu derita pasien, apakah
pasien pernah dirawat dirumah sakit, atau pasien memiliki penyakit kronis seperti
hipertensi, diabetes mellitus, jantung, dan alergi.
5. Riwayat penyakit keluarga, yaitu dokter menanyakan mengenai keadaan keluarga pasien,
riwayat penyakit menahun yang ada di keluarga pasien, dan apakah ada dari keluarga
pasien yang telah meninggal.
Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik juga dapat menentukan tanda-tanda vital pasien yang meliputi pemeriksaan
tekanan darah, pemeriksaan suhu tubuh, pemeriksaan frekuensi nadi, dan pemeriksaan frekuensi
pernapasan.2
a) Pemeriksaan Tekanan Darah
Pemeriksaan tekanan darah merupakan suatu tindakan melakukan pengukuran tekanan
darah,

yaitu

hasil

dari

curah

jantung

dan

tahanan

perifer,

menggunakan

sphygmomanometer. Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding arteri.
Tekanan ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti curah jantung, ketegangan
arteri, dan volume laju serta kekentalan (viskositas) darah. Tekanan darah terjadi akibat
fenomena siklis. Tekanan puncak terjadi saat ventrikel berkontraksi yang disebut tekanan
sistolik, sedangkan tekanan terendah terjadi saat jantung beristirahat yang disebut tekanan
diastolik. Tekanan darah digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap tekanan
diastolik dengan nilai dewasa normal berkisar dari 100/60 mmHg sampai 140/90 mmHg.
Rata-rata tekanan darah normal biasanya 120/80 mmHg. 2 Pada kasus ini diketahu bahwa
hasil pemeriksaan tekanan darah pada pasien adalah 160/100 mmHg (hipertensi).
b) Pemeriksaan Suhu Tubuh
Pemeriksaan suhu tubuh dapat dilakukan di beberapa tempat yaitu rectum, ketiak, dan
mulur. Suhu tubuh yang diukur di mulut secara tradisional sebesar 98,6 oF atau 37oC
dianggap normal. Namun, ternyata suhu tubuh bervariasi sepanjang hari berkisan dari
96oF (35,5oC) pada pagi hari hingga 99,9 oF (37,7oC) pada malam hari dengan rerata
keseluruhan 98,2oF atau 36,7oC. pada kasus ini disebutkan bahwa hasil pengukuran suhu
tubuh pasien adalah 36oC yang berarti suhu tubuh pasien tersebut normal.3
c) Pemeriksaan Frekuensi Nadi
Pemeriksaan denyut nadi merupakan pemeriksaan pada pembuluh nadi atau arteri,
dengan cara menghitung kecepatan/loncatan aliran darah yang dapat teraba pada berbagai
titik tubuh melalui perabaan. Pemeriksaan nadi dihitung selama satu menit penuh,
meliputi frekuensi, keteraturan, dan isi. Frekuensi denyut nadi sangat bervariasi,
tergantung jenis kelamin, jenis pekerjaan, dan usia.2
Batasan dan klasifikasinya adalah sebagai berikut bayi baru dilahirkan (1-3 bulan) 120140 kali/menit, bayi 4 bbulan-2 tahun 80-150 kali/menit, anak 2-10 tahun 70-110
kali/menit, anak >10 tahun 55-90 kali/menit, dewasa 60-90 kali/menit, dan usia lanjut

yang sehat 60-100 kali/menit.3 Pada skenario disebutkan bahwa frekuensi nadi pasien
adalah 78 kali/menit (normal).
d) Pemeriksaan Frekuensi Napas
Pemeriksaan frekuensi pernapasan dilakukan dengan menghitung jumlah pernapasan,
yaitu indpirasi yang diikuti ekspirasi dalam satu menit penuh. Batasan normal beraneka
ragan tergantung usia. Pada bayi 30-60 kali/ menit, anak-anak 20-30 kali/menit, remaja
15-24 kali/menit, dan dewasa 16-20 kali/ menit.2 Dalam kasus ini, pasien tersebut
mempunyai hasil pernapasan 18 kali/menit yang masih dalam batas normal.
Pemeriksaan Penunjang
Tes laboratorium pada pasien demensia tidak dilakukan dengan serta merta pada semua kasus.
Penyebab yang reversible dan dapat diatasi seharusnya tidak boleh terlewat. Pemeriksaan fungsi
tiroid, kadar vitamin B12, darah lengkap, elektrolit, dan VDRL direkomendasikan untuk
diperiksa secara rutin. Pemeriksaan tambahan yang perlu dipertimbangkan adalah pungsi lumbal,
fungsi hati, fungsi ginjal, pemeriksaan toksin di urin/darah, dan Apolipoprotein E.
Pemeriksaan penunjang yang juga direkomendasikan adalah CT/MRI kepala. Pemeriksaan ini
dapat mengidentifikasi tumor primer atau sekunder, lokasi area infark, hematoma subdural, dan
memperkirakan adanya hidrosefalus bertekanan normal atau penyakit white matter yang luas.
MRI dan CT juga dapat mendukung diagnosis penyakit Alzheimer, terutama bila terdapat atrofi
hipokampus selain adanya atrofi kortikal yang difus. Abnormalitas white matter yang luas
berkorelasi dengan demensia vaskular. Peran pencitraan fungsional seperti single photon
emission computed tomography (SPECT) dan positron emission tomography (PET) scanning
masih dalam penelitian. SPECT dan PET scanning dapat menunjukkan hipoperfusi atau
hipometabolisme

temporal-parietal

pada

penyakit

Alzheimer

dan

hipoperfusi

atau

hipometabolisme frontotemporal pada FTD.4


Differential Diagnosis
Mild Cognitive Impairment (MCI)
MCI didefinisikan sebagai fungsi kognitif dibawah normal tetapi tidak cukup untuk diagnosis
demensia. MCI berbeda dengan penyakit Alzheimer atau demensia lainnya; perubahan kognitif
pada MCI tidak berat dan tidak mengganggu aktivitas harian. Tidak semua penderita MCI

mengalami perburukan, sebagian dapat mengalami perbaikan.5 Akan tetapi, diketahui bahwa
individu dengan MCI memiliki peningkatan resiko untuk menjadi Alzheimer, terutama jika
masalah utama adalah memori.
Prevalensi MCI meningkat seiring usia, yait 10% pada usia 70-79 tahun dan 25% pada usia 8089 tahun. Petersen melaporkan bahwa 10-15% MCI akan berlanjut menjadi demensia setiap
tahun. Penyebab MCI belum sepenuhnya dimengerti. Para ahli percaya bahwa pada beberapa
kasus terdapat perubahan otak yang merupakan tahap paling awal penyakit Alzheimer dan
demensia lainnya. faktor risiko yang dihubungkan dengan MCI antara lain, usia lanjut, riwayat
keluarga yang menderita demensia, merokok, dan kondisi yang meningkatkan risiko penyakit
kardiovaskular.6
MCI dapat diklasifikasikan berdasarkan keterlibatan fungsi memori menjadi subtype amnestic
MCI dan non-amnestic MCI. Dengan amnestic MCI, seseorang dapat melupakan informasi
penting yang seharusnya dapat diingat dengan mudah, seperti pertemuan, percakapan, dan
kejadian yang baru berlalu, namun, kapasitas kognitif lainnya seperti fungsi eksekutif, bahasa,
dan kemampuan visuospasial masih baik, dan aktivitas fungsional masih normal. Amnestic MCI
mungkin pertanda penyakit Alzheimer, karena banyak penderita amnestic MCI menjadi penderita
Alzheimer dalam 6 tahun. Kemampuan berpikir berdampak pada saat membuat keputusan dan
menyelesaikan tugas kompleks. Jenis ini merupakan tipe MCI yang relative jarang dan
biasanyanya tidak dihubungkan dengan penyakit Alzheimer. Non-amnestic MCI dapat
dihubungkan dengan penyakit serebrovaskuler, degenerasi lobus frontotemporal, penyakit
Parkinson atau penyebab patologi yang tidak spesifik.5,6
Working Diagnosis
Diagnosis ini bersifat sementara yang bertujuan memberikan arah bagi tindakan penyelamatan
pasien. Diagnosis ini dapat saja berubah, tergantung keluahan klinis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan laboratorium yang dilakukan selanjutnya. Berdasarkan skenario yang ada dapat
disimpulkan working diagnosisnya adalah demensia.
Demensia merupakan masalah besar dan serius yang dihadapi oleh negara-negara maju, dan
telah pula menjadi masalah kesehatan yang mulai muncul di negara-negara berkembang seperti
Indonesia. Hal ini disebabkan oleh makin mengemukannya penyakit-penyakit degeneratif (yang

beberapa diantaranya merupakan faktor risiko timbulnya demensia serta makin meningkatnya
usia harapan hidup hampir di seluruh belahan dunia). Studi prevalensi menunjukan bahwa di
Amerika Serikat, pada populasi di atas umur 65 tahun, presentase orang dengan penyakit
Alzheimer (penyebab terbesar demensia) meningkat 2 kali lipat.
Demensia dibedakan menjadi beberapa tipe, yaitu:
a) Demensia Alzheimer
Penyakit Alzheimer adalah salah satu penyakit yang paling mematikan yang paling umum
dan paling ditakuti oleh para lansia. Penyakit ini menyerang sedikitnya 15 juta orang
diseluruh dunia dan merupakan penyebab kematian keenam pada lansia di Amerika.
Demensia tipe ini merupakan penyakit demensia terbanyak hingga mencapai sekitar 50-80%.
Penyakit ini secara perlahan merampas kecerdasan, keawasan, dan bahkan kemampuan
penderitanya untuk mengontrol fungsi tubuh mereka dan akhirnya membunuh mereka.
Diperkirakan sekitar 4,5 juta orang Amerika menderita Alzheimer dan pada tahun 2050
diproyeksikan sekitar 13,2 juta. Risikonya meningkat dengan pesat seiring dengan usia;
sehingga peningkatan usia hidup berarti orang akan bertahan hidup sampai usia dimana
resiko Alzheimer menjadi makin besar. Kriteria diagnosis klinis untuk penyakit Alzheimer
mencakup, demensia yang ditegakkan oleh pemeriksaan klinis dan tercatat dengan
pemeriksaan the mini-mental test, Blessed Demensia Scale atau pemeriksaan sejenis dan
dikonfirmasi oleh tes neuropsikologis; defisit pada dua atau lebih area kognitif; tidak ada
gangguan kesadaran; awitan antara umur 40 dan 90, umumnya setelah umur 65 tahun; dan
tidak adanya kelainan sistemik atau penyakit otak lain yang dapat menyebabkan defisit
progresif pada memori dan kognitif. Diagnosis probable penyakit Alzheimer didukung oleh
penurunan progresif fungsi kognitif spesifik seperti afasia, apraksia, dan agnosia; gangguan
aktivitas hidup sehari-hari dan perubahan pola perilaku; riwayat keluarga dengan gangguan
yang sama, terutama bila sudah dikonfirmasi secara neuropatologi; hasil laboratorium yang
menunjukkan; pungsi lumbal yang normal yang dievaluasi dengan teknik standar; pola
normal atau perubahan yang nonspesifik pada EEG, seperti peningkatan aktivitas slow-wave;
bukti adanya atrofi otak pada pemeriksaan CT progresif dan terdokumentasi oleh
pemeriksaan serial.4
b) Demensia multi-infark

Demensia multi-infark adalah PMO kronis di mana ada indikasi deteriorasi intermiten.
Daripada awitan yang tersembunyi dan berbahaya serta kemajuan yang sama terlihat pada
demensia degeneratif primer tipe Alzheimer, awitan dari demensia multi-infark secara khas
bersifat mendadak dan jalannya selangkah demi selangkah serta berfluktuasi. Defisit yang
terlihat tergantung pada bagian otak yang rusak. Fungsi-fungsi kognitif tertentu dapat
dipengaruhi secara dini, sedangkan bagian lainnya relative tetap tidak rusak. Secara khusus,
gangguan-gangguan pada memori pikiran abstrak, penilaian, kontrol impuls, dan gangguan
kepribadian terlihat. Gejala-gejala yang dihubungkan dengan sindrom demensia terlihat.
Riwayat adanya stroke dengan progresi bertahap dan tidak teratur mengarah pada demensia
multi-infark. Demensia multi-infark umumnya terjadi pada pasien-pasien dengan faktor
risiko hipertensi, fibrilasi atrium, penyakit vaskular perifer, dan diabetes.4,8
c) Demensia fronto-temporal
Demensia frontotemporal dapat mencapai 25% dari seluruh demensia presinilis yang
disebabkan oleh atrofi otak. Penyakit ini terutama timbul antara usia 45 sampai 65 tahun.
Setengahnya diturunkan (dominan autosomal, kromosom 17, lengan panjang). Terdapat atrofi
kortikal fokal disertai astrositosis dan badan inklus intraneural (badan pick) pada sel-sel
piramidalis yang masih normal. Disinhibisi (diantaranya kekerasan), apati dan sedikit
berbicara dengan keterampilan yang berhubungan ruang serta ingatan yang relative normal
bisa membantu untuk membedakan secara klinis penyakit ini dengan demensia Alzheimer.
Perubahan kepribadian, disinhibisi, peningkatan berat badan, atau obsesi terhadap makanan
mengarah pada frontotemporal demensia (FTD), bukan penyakit Alzheimer.4,7
d) Demensia lewy body
Demensia lewy body adalah bentuk demensia dengan karakteristik Alzheimer dan penyakit
Parkinson. Demensia tipe ini mencapai kurang lebih 10-25% kasus demensia. Gejala
demensia ini menyerupai penyakit lain, sehinggan menantang untuk mendiagnosis dengan
benar. Gejala demensia lewy body (LBD) dapat berbeda pada awalnya. Kadang diawali
dengan gangguan gerakan yang terlihat seperti Parkinson, tapi kemudian mereka juga
mengembangkan gejala demensia. Terkadang terdapat gangguan memori yang tampak seperti
Alzheimer pada awalnya, tapi mereka kemudian mengembangkan halusinasi dan masalah
perilaku lainnya. diagnosis LBD dicurigai bila terdapat adanya gejala awal berupa halusinasi

visual, parkinsonisme, delirium (confusion), gangguan tidur (rapid-eye movement) REM,


atau sindrom Capgras, yaitu delusi bahwa seseorang yang dikenal digantikan oleh penipu.4
Etiologi
Penyebab demensia yang paling sering pada individu yang berusia diatas 65 tahun adalah (1)
penyakit Alzheimer, (2) demensia vaskuler, dan (3) campuran antara keduanya. Ada juga
penyebab lain yang mencapai kira-kira 10% diantaranya adalah demensia Lewy body, penyaikit
Pick, demensia frontotemporal, hidrosefalus tekanan normal, demensia alkoholik, demensia
infeksiosa (misalnya HIV atau sifilis) dan penyakit Parkinson. Banyak jenis demensia yang
melalui evaluai dan penatalaksanaan klinis berhubungan dengan penyebab yang reversible
seperti kelainan metabolik (misalnya hipotiroidisme), defisiensi nutrisi (misalnya defisiensi
vitamin B12 atau defisiensi asam folat), atau sindrom demensia akibat depresi. Berikut ini jenis
dan penyebab demensia pada usia lanjut, (1) keadaan yang secara potensial reversible atau bisa
dihentikan, yaitu intoksikasi (obat, termasuk alkohol, dan lain-lain), infeksi susunan saraf pusat,
gangguan metabolik, gangguan nutrisi, gangguan vaskuler (demensia multi-infark, dan lain-lain),
lesi desak ruang, hidrosefalus tekanan normal, dan depresi; (2) penyakit degeneratif progresif,
yaitu tanpa gejala neurologik penting lain (seperti penyakit Alzheimer, penyakit Pick), dan
dengan gangguan neurologik lain yang prominen (seperti penyakit Parkinson, penyakit
Huntington, kelumpuhan supranuklear progresif, dan penyakit degeneratif lain yang jarang
didapat).9
Epidemiologi
Insidensi demensia meningkat secara bermakna seiring meningkatnya usia. Setelah usia 65
tahun, prevalensi demensia meningkat dua kali lipat setiap pertumbuhan usia lima tahun. Secara
keseluruhan prevalensi demensia pada populasi berusia lebih dari 60 tahun adalah 5,6%.
Penyebab tersering demensia di Amerika Serikat dan Eropa adalah penyakit Alzheimer,
sedangkan di Asia diperkirakan demensia vaskular. Berbagai penelitian menunjukkan laju
insidensi penyakit Alzheimer meningkat secara eksponensial seiring bertambahnya umur,
walaupun terjadi penurunan insidensi pada usia 95 tahun yang diduga karena jumlah subyek di
atas usia 90 tahun. Proporsi perempuan yang menderita Alzheimer lebih banyak dibandingkan
laki-laki. Hal ini disebabkan karena perempuan memiliki harapan hidup lebih baik, bukan karena

perempuan lebih mudah menderita Alzheimer. Tingkat pendidikan yang rendak juga disebutkan
berhubungan dengan risiko terjadinya Alzheimer. Faktor-faktor lain yang dari berbagai penelitian
diketahui berhubungan dengan penyakit Alzheimer adalah hipertensi, diabetes mellitus,
dislipidemia, berbagai faktor risiko timbulnya aterosklerosis dan gangguan sirkulasi pembuluh
darah otak. Demensia vaskular paling sering pada laki-laki, khususnya mereka dengan hipertensi
yang telah ada sebelumnya atau faktor risiko kardiovaskular lainnya. insiden meningkat sesuai
dengan peningkatan umur.9
Patofisiologi
Pada penelitian terbukti bahwa, penurunan kadar Cholin Asetiltransferase mempunyai korelasi
langsung dengan hasil test mental score/aktifitas intelektual menurun dan juga peninggian
jumlah plague senile. Aktifitas kholinergik bersumber terutama pada basal fortebrain nucleus of
mainert, locus ceruleus, dan dorsal raphe nuclei. Secara ringkas bahwa proses demensia adalah
terjadinya perubahan neuro kimiawi yang tersebut dibawah ini:10
a. Pengurangan neurotransmitter klasik: asetilkolin, noradrenalin dan metabolitnya, dan
dopamine.
b. Pengurangan amino acid neurotransmitter: glutamat, glisin, GABA (asam gmmaaminobutirat).
c. Pengurangan enzim-enzim: asetilkolin esterase, GAD (adalah enzim yang dibutuhkan
untuk memproduksi neurotransmiter GABA), dan katalase.
d. Pengurangan neuropeptida: somatostatin, dll.
Khusus pada demensia Alzheimer disamping yang diatas, kemungkinan penyebab lain yang ikut
berperan adalah adanya efek genetik (serin protease inhibitor) sehubungan dengan deposit
A4Beta

amyloid

peptide

pada

kromosom

21

sehingga

menyebabkan

pembentukan

neurofibrillary tangles dan senile plaque dan granulofacuolar degenerasi lebih dini.10
Gambaran Klinik
Ada dua tipe demensia yang paling banyak ditemukan, yaitu tipe demensia Alzheimer dan
demensia vaskular (demensia multi-infark).
1. Demensia Alzheimer
Dikenal juga dengan nama Demensia Degeneratif Primer yaitu suatu keadaan yang
meliputi perubahan dari jumlah, struktur, dan fungsi neuron di daerah tertentu dari
korteks otak. Demensia Alzheimer merupakan sindrom demensia akibat gangguan neuro-

degeneratif (penuaan saraf) yang berlangsung progresif lambat, terjadi kematian sel-sel
dan menimbulkan gejala klinis dalam kurun waktu 30 tahun.
Awalnya ditemukan gejala mudah lupa (forgetfulness) yang menyebabkan penderita tidak
mampu menyebutkan kata yang benar, berlanjut dengan kesulitan mengenal benda dan
akhirnya tidak mampu menggunakan barang-barang sekalipun yang termudah. Hal ini
disebabkan adanya gangguan kognitif sehingga timbul gejala neuropsikiatrik seperti,
waham (curiga, sampai menuduh ada yang mencuri barangnya), halusinasi pendengaran
atau penglihatan, agitasi (gelisa, mengacau), depresi, gangguan tidur, nafsu makan dan
gangguan aktifitas psikomotor, berkelana. Demensia Alzheimer terbagi atas 3 stadium,
yaitu:11
a) Stadium I
Berlangsung 2-4 tahun disebut stadium amnestik dengan gejala gangguan memori,
berhitung dan aktifitas spontan menurun. Fungsi memori yang terganggu adalah
memori baru atau lupa hal baru yang dialami. Namun aktifitas rutin dalam keluarga
tidak terganggu, fungsi motorik dan sensorik serta koordinasi atau keseimbangan
masih normal.11
b) Stadium II
Berlangsung selama 2-10 tahun, dengan gejala:
- Disorientasi, gangguan bahasa (afasia)
- Penderita mudah bingung, mudah agresif dan ingin berkelana
- Penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita tidak dapat melakukan
kegiatan sampai selesai, tidak mengenal anggota keluarganya, tidak ingat sudah
-

melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi.


Gangguan fungsi bahasa sehingga sulit menemukan kata-kata dan tak lancar
berbicara, lupa apa yang suadah diucapkan sehingga sering mengulang
pembicaraan, tidak mengerti pembicaraan yang kompleks sehingga salah

pengertian.
Dan ada gangguan visuospasial, menyebabkan penderita mudah tersesat di

lingkungannya.
Sifat kepribadian yang kurang baik yang dimiliki sebelumnya menjadi lebih

menonjol, misalnya sikap curiga, bandel dan suka bertengkar.


- Depresi berat prevalensinya 15-20%
- Sistem motorik dan sensorik masih baik.
c) Stadium III, stadium ini dicapai setelah penyakit berlangsung 6-12 tahun. Gejala
klinisnya anatara lain:11
- Penderita menjadi vegetatif yaitu akinetik (tidak bergerak) dan membisu

Daya intelektual serta memori memburuk sehingga tidak mengenal keluarganya

sendiri
- Tidak bisa mengendalikan buang air besar/kecil
- Untuk melakukan kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan orang lain
- Kematian terjadi akibat infeksi atau trauma/kecelakaan.
2. Demensia vaskular
Untuk gejala klinis demensia tipe vaskular, disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah di
otak. Dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat terjadinya demensia.
Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat gangguan sirkulasi darah otak,
sehingga depresi itu dapat diduga sebagai demensia vaskular.
Gejala depresi lebih sering dijumpai pada demensia vaskular daripada demensia
Alzheimer. Kriteria dari demensia vaskular mencakup:12
1. Gangguan vaskular yang mengacu pada semua jenis gangguan peredaran darah otak,
stroke.
2. Kemunduran kognitif meliputi semua jenis kemunduran.
3. Faktor risiko yang berperan adalah diabetes, hipertensi, hiperkolesterolemi, penyakit
jantung, obesitas, dan fisik inaktif.
Faktor

risiko

demensia

vaskular

sering

kurang

memperoleh

perhatian

dari

penyandangnya. Salah satu yang belum banyak diketahui masyarakat tentang demensia
vaskular adalah kemunduran fungsi kognitif, karena kemunduran kognitif ini biasanya
terjadi secara perlahan-lahan dan samar-samar. Biasanya hal ini sulit diketahui oleh
penyandangnya. Dan pengamat yang paling tepat adalah pasangannya. Faktor risiko
tersebut diatas bisa menyebabkan kemunduran fungsi kognitif, kemunduran perilaku dan
aktifitas hidup sehari-hari.12
Penatalaksanaan
Terapi suportif
a. Berikan perawatan fisik yang baik, misalnya nutrisi yang bagus, kacamata, alat bantu
dengar, alat proteksi (untuk anak tangga, kompor, obat-obatan), dan lain-lain. Sewaktuwaktu mungkin perlu pembatasan secara fisik.
b. Pertahankan pasien dalam lingkungan yang sudah dikenalnya dengan baik, jika
memungkinkan. Usahakan agar pasien dikelilingi oleh teman-teman lamanya dan bendabenda yang biasa ada didekatnya. Tingkatkan daya pengertian dan partisipasi anggota
keluarga. Pertahankan keterlibatan pasien melalui kontak personal, orientasi yang sering

(mengingatkan nama hari, jam). Diskusikan berita actual bersama pasien. Gunakan
kalender, radio, televisi. Aktivitas harian dibuat terstruktur dan terencana.
c. Bantulah untuk mempertahankan rasa percaya diri pasien. Perlakukan mereka sebagai
orang dewasa. Rencana diarahkan kepada kekuatan/kelebihan pasien. Bersikaplah
menerima dan menghargai pasien.
d. Hindari kegelapan dan lingkungan yang terisolasi; juga hindari stimulasi yang
berlebihan.13
Terapi simptomatik
Kondisi psikiatrik memerlukan dosis kecil obat-obatan yang sesuai
a. Ansietas akut, kegelisahan, agresi, agitasi: sebagai contoh, haloperidol 0,5 mg per oral 3
kali sehari (atau kurang); risperidon 1 mg per oral satu kali sehari. Hentikan setelah 4-6
minggu.
b. Ansietas nonpsikotik, agitasi: diazepam 2 mg per oral dua kali sehari, venlafaxin XR.
Hentikan setelah 4-6 minggu.
c. Agitasi kronis: SSRI (missal, fluoksetin 10-20 mg/hari) atau buspiron (15 mg dua kali
sehari); juga pertimbangkan beta bloker dosis rendah.
d. Depresi: pertimbangkan SSRI dan anti depresan baru lainnya dahulu; dengan trisiklik
mulai perlahan-lahan dan tingkatkan sampai ada efek, misalnya desipramin 75-150 mg
per oral sehari.
e. Insomnia: hanya untuk penggunaan jangka pendek missal, termazepam 15 mg per oral
sebelum tidur. 13
Prognosis
Dari pemeriksaan klinis penderita probable Alzheimer menunjukan bahwa nilai prognostik
bergantung pada 3 faktor yaitu, derajat besarnya penyakit, variabilitas gambaran klinis,
perbedaan individual seperti usia, keluarga demensia, dan jenis kelamin. Ketiga faktor ini diuji
secara statistik, ternyata faktor pertama yang paling mempengaruhi prognostik penderita
Alzheimer. Pasien dengan penyakit Alzheimer mempunyai angka harapan hidup rata-rata 4-10
tahun sesudah diagnosis dan biasanya meninggal dunia akibat infeksi sekunder.4
Prognosis demensia vaskular lebih bervariasi dari penyakit Alzheimer. Berdasarkan beberapa
penelitian, demensia vaskular dapat memperpendek jangka waktu hidup sebanyak 50% pada
lelaki, individu dengan tingkat edukasi yang rendah dan pada individu dengan hasil uji neurologi

yang memburuk. Penyebab kematian adalah komplikasi dari demensia, penyakit kardiovaskular
dan berbagai lain faktor lainnya seperti keganasan.7
Komplikasi
Pada kasus demensia terdapat beberapa komplikasi yang dapat terjadi seperti, ingatan makin
lemah; perubahan personaliti; gangguan percakapan yang menjadi susah dimengerti;
kemurungan; kebimbangan; gangguan psikosis; gangguan saraf seperti lemah sebelah badan;
otot-otot keras dan tremor; hilang kawalan buang air besar dan kecil; hilang upaya menjaga diri
sendiri; peningkatan risiko infeksi di seluruh bagian tubuh (ulkus dekubitus, infeksi saluran
kencing, pneumonia); thromboemboli dan infark miokardium; kejang; kontraktur sendi;
kehilangan kemampuan untuk merawat diri; malnutrisi dan dehidrasi akibat nafsu makan kurang
dan kesulitan menggunakan peralatan; kehilangan kemampuan berinteraksi; dan harapan hidup
berkurang.13
Kesimpulan
Demensia dapat mempengaruhi cara berpikir, kelakuan dan kemampuan untuk melakukan
pekerjaan dasar sehari-hari. Demensia biasanya lebih sering diderita oleh orang yang berusia 65
tahun keatas. Demensia dibagi menjadi beberapa tipe, tapi yang sering terjadi adalah demensia
Alzheimer dan demensia multi-infark. Pada skenario, pasien 65 tahun ini menderita demensia
Alzheimer, yang dimana gejala-gejalanya seperti gangguan daya ingat (misalnya sering lupa
akan kejadian yang baru saja terjadi), sulit fokus (misalnya kesulitan dalam melakukan pekerjaan
sehari-hari), disorientasi (misalnya lupa akan hari dan alamat rumah), perubahan perilaku dan
kepribadian.
Daftar pustaka
1. Kurnia Y, Hidayat D, Hudyono J. Buku panduan keterampilan klinik. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana; 2008; h. 58
2. Potter. Perry Guide to Basic Skill and Prosedur Dasar. Ed 3. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC; 2000
3. Sherwood L. Human physiology: from cells to systems. 6 th ed. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC; 2007; h. 87

4. Sudoyo AW. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid 3. Ed 5. Jakarta: Interna Publishing;
2009; h. 837-43
5. Petersen RC. Mild cognitive impairment in clinical practice. N Eng J Med. 2011; 364:
2227-34.
6. Miller LB, Boeve FB. The behavioral neurology of dementia. Cambridge: Cambridge
University; 2004
7. Mansjoer A. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Ed 3. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI;
2003; h. 427
8. Townsend MC. Diagnosa pada psikiatri. Ed 3. Jakarta : Buku Kedokteran EGC; 2004; h.
97
9. Dewanto G. Panduan praktis diagnosis dan tatalaksana penyakit saraf. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC; 2009; h. 170-184
10. Japardi I. Penyakit alzheimer. Medan: fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara;
2002; h.2-4
11. Davey P. At a glance medicine. Jakarta: Erlangga; 2005; h. 425
12. Rubenstein D, Wayne D, Bradley J. Lecture notes: kedokteran klinis. Ed 6. Jakarta:
Erlangga; 2007; h. 137
13. Tomb DA. Buku saku psikiatri. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2003; h. 81-2
14. Darmojo B. Geriatri ilmu kesehatan usia lanjut. Ed 4. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2009