Anda di halaman 1dari 6

LTM KULTUR SEL

APLIKASI DAN PERKEMBANGAN KULTUR JARINGAN


M. ZAKI ZAHIRSYAH 1406574522

OUTLINE

Aplikasi kultur jaringan


o Dalam bidang holtikultura
o Dalam bidang agronomi
o Dalam bidang pemuliaan tanaman
Sejarah perkembangan kultur jaringan di indonesia

1. APLIKASI KULTUR JARINGAN

1.1 Dalam Bidang Hortikultura


Kultur jaringan sudah diakui sebagai metode baru dalam perbanyakan tanaman. Tanaman yang
pertama berhasil diperbanyak secara besar-besaran melalui kultur jaringan adalah tanaman
anggrek, menyusul berbagai tanaman hias, sayuran, buah-buahan, pangan dan tanaman hortikultura
lainnya. Selain itu juga saat ini telah dikembangkan tanaman perkebunan dan tanaman kehutanan
melalui teknik kultur jaringan. Terutama untuk tanaman yang secara ekonomi menguntungkan
untuk diperbanyak melalui kultur jaringan, sudah banyak dilakukan secara industrial. Dalam
bidang hortikultura, kultur jaringan sangat penting untuk dilakukan terutama pada tanamantanaman yang:
1). Tanaman hibrida yang berasal dari tetua yang tidak menunjukkan male sterility.
2). Tanaman hibrida yang mempunyai keunikan di salah satu organnya (bentuk atau warnabunga,
buah, daun, batang dll).
3). Perbanyakan pohon-pohon elite dan/atau pohon untuk batang bawah.
4). Tanaman yang selalu diperbanyak secara vegetatif, seperti: kentang, pisang, stroberry dll.

Gambar 1. Prinsip kerja kultur jaringan pada tanaman holtikultura (sumber: www.ebiologi.com)

1.2 Dalam Bidang Agronomi


Kultur jaringan sangat membantu dalam usaha eliminasi patogen. Dengan metode ini dapat dipilih
bagian atau sel-sel yang tidak mengandung sel-sel yang tidak mengandung patogen, terutama virus
dan menumbuhkan sel-sel tersebut serta meregenerasikan kembali menjadi tanaman lengkap yang
sehat. Secara konvensional tidak ada cara yang efektif untuk menghilangkan virus dari bahan
tanaman. Kultur meristem yang disertai perlakuan temperatur 38-40 oC selama beberapa waktu,
dapat menghilangkan virus dari bahan tanaman. Bahan yang bebas patogen ini juga memudahkan
pertukaran plasma nutfah internasional.
Seleksi tanaman merupakan kegiatan agronomi yang telah ada sejak manusia mulai
membudidayakan tanaman. Pada metode konvensional, seleksi tanaman memerlukan jumlah
tanaman yang banyak sekali pada lahan yang luas, dengan pemeliharaan yang intensif serta waktu
yang lama. Dengan berkembangnya kultur jaringan, ditemukan hasil yang tidak terduga. Dalam
kultur yang membentuk sel-sel bebas, terjadi variasi somaklonal dalam hal morfologi, produksi,
pola pertumbuhan dan resistensi terhadap penyakit.

Gambar 2. Kultur Jaringan adalah metode pertumbuhan tanaman secara vegetatif (sumber: generasibiologi.com)

1.3 Dalam Bidang Pemuliaan Tananaman


Dalam bidang pemuliaan tanaman yang komersial, banyak ditemui kegagalan pembentukan
embrio yang viable. Kegagalan disebabkan oleh hambatan pada polinasi, pertumbuhan pollen-tube,
fertilisasi dan perkembangan embrio atau endosperm. Setelah kultur protoplasma berkembang,
diharapkan hambatan ini dapat dikurangai dengan metode fusi protoplasma atau injeksi organel
dan sitoplasma dari sel yang satu ke sel lain.

Gambar 3. Proses pemuliaan tanaman dengan kultur sel (sumber: www.naaf.web.id)


2. PERKEMBANGAN KULTUR JARINGAN DI INDONESIA

Perkembangan kultur jaringan di Indonesia terasa sangat lambat, bahkan hampir dikatakan jalan di
tempat jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya, tidaklah heran jika impor bibit anggrek
dalam bentuk flask sempat membanjiri nursery-nursery anggrek di negara kita. Selain
kesenjangan teknologi di lini akademisi, lembaga penelitian, publik dan pecinta anggrek, salah satu
penyebab teknologi ini menjadi sangat lambat perkembangannya adalah karena adanya persepsi
bahwa diperlukan investasi yang sangat mahal untuk membangun sebuah lab kultur jaringan, dan
hanya cocok atau feasible untuk perusahaan.
Bahwa kultur jaringan di Indoensia sangatlah tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga kita
seperti Thailand, Malaysia, singapure dll. Boleh di bilang kita ketinggalan sekitar 30 tahun di

banding yang lain. Sementara tuntutan kebutuhan bibit unggul sudah sangat mendesak dan tidak
dapat dipenuhi dengan cara-cara tradisional.
Tidak hanya masalah kuantitas tapi juga kualitas, yaitu kebutuhan terhadap bibit-bibit yang
berkualitas sudah merupakan hal yang tidak dapat di tawar lagi. Kita memerlukan suatu teknologi
yang dapat mengatasi hal tersebut yaitu teknologi yang dapat diterapkan pada kondisi masyarakat
di Indonesia dan dapat membantu mengatasi permasalahan di masyarakat dalam mengatasi
permasalahan budidaya. Teknologi tersebut adalah Kultur jaringan.
Perkembangan kultur jaringan di Indonesia hanya terbatas pada litbang-litbang, balai-balai, dinas
dan perguruan tinggi. Bahkan ada penelitian yang sudah sejajar dengan penelitian level dunia.
Akan tetapi kalau kita bicara masalah terapan maka Indonesia masih sangat awal sekali. Masih
banyak masyarakat yang heran melihat tanaman dalam botol bahkan kata kultur jaringan saja
merupakan sesuatu yang asing buat mereka. Untuk dapat menerapkan teknologi kultur jaringan
dengan baik di masyarakat, mak diperlukan pendidikan sejak dini pada anak-anak sekolah
sehingga mereka dapat lebih mengenal mengenai kultur jaringan.

DAFTAR PUSTAKA

http://nicedaysblue.web.id/index.php/my-project/39-science-andtech/62-kultur-jaringan [Akses: 17 september 2016 23.40]