Anda di halaman 1dari 4

SISTEM DAN SUMBER MATERIAL REKLAMASI

Reklamasi Pantura March 19, 2015

SISTEM REKLAMASI
Reklamasi memang merupakan proyek yang kompleks dan membutuhkan
keseriusan serta sinergi dari banyak ahli di berbagai bidang. Selain itu,
dibutuhkan teknologi yang sangat mahal plus peralatan dan para ahli yang
berpengalaman untuk melakukan proyek ini. Pelaksanaan reklamasi di Indonesia
juga melibatkan para ahli plus teknologi dari luar negeri yang telah memiliki
pengalaman dan jam terbang lebih banyak dalam mengerjakan proyek-proyek
reklamasi di dunia.
Umumnya, reklamasi perairan dibagi menjadi 2 macam. Pertama, reklamasi yang
menempel atau menyatu dengan garis pantai. Dan, yang kedua, reklamasi lahan
yang terpisah dari pantai daratan induk. Sistem pengembangan yang diterapkan
juga merupakan hal yang penting dalam proyek reklamasi.
Ada empat macam sistem reklamasi sesuai dengan pertimbangan, tujuan
reklamasi, kondisi dan lokasi lahan, serta ketersediaan sumber daya. Keempat
sistem tersebut adalah:
1.

Sistem Timbunan

Pada daerah tropis yang mempunyai curah hujan yang tinggi, sistem ini sangat
cocok untuk diterapkan. Metode inilah yang paling populer di Indonesia. Sistem
ini dilakukan dengan cara menimbun atau mengurug lahan yang akan
direklamasi sampai muka lahan berada di atas muka air laut (high water level).
Dan diikuti dengan langkah-langkah perlidungan sistem perbaikan tanahnya.
Sistem ini didukung oleh berbagai jenis alat-alat besar, seperti alat penggalian
tanah, alat pengambilan dan pengeruk tanah, alat-alat transportasi,
perlengkapan penebaran bahan-bahan tanah urug, dan alat perlengkapan
pemadatan tanah. Pada sistem ini terdapat dua cara kerja, yaitu:

Hydraulic fill

Dibuat tanggul terlebih dahulu baru kemudian dilakukan pengurugan.

Blanket fill

Tanah diurug terlebih dahulu baru kemudian tanggul atau system perlindungan
dbuat.
Daerah yang ketinggiannya di bawah permukaan laut bisa aman terhadap banjir
apabila dibuat tembok penahan air laut sepanjang pantai. Ini merupakan salah
satu keuntungan dari sistem timbunan. Selain itu, tata lingkungan yang baik

dengan perletakan dan tatanan sesuai dengan perencanaan bisa menjadi


rekreasi yang baik untuk pengunjung.
Namun, di samping keuntungan yang diberikan, ada juga kekurangan akibat
sistem ini. Contohnya, peninggian muka air laut karena sebagian daerah telah
ditimbun akan menyebabkan naiknya air hingga ke permukaan. Akibatnya, air
asin dari laut dapat merusak vegetasi. Selain itu, tanah dasar yang lunak serta
tebal dari lapisan reklamasi yang tinggi mempunyai kecenderungan
menyebabkan rendahnya stabilitas timbunan. Ini dapat menyebabkan terjadinya
kelongsoran pada tubuh timbunan.
Material yang digunakan dalam sistem ini, biasanya menggunakan pasir laut
yang diambil dengan cara mengeruk di dasar laut yang berada di tengah laut
dalam. Selain pasir laut, material untuk mengurug juga diambil dari pengerukan
pulau tak berpenghuni atau bukit. Material lainnya juga bisa berasal dari hasil
pengurugan dengan limbah atau sampah yang telah diproses dan dipadatkan.
Reklamasi menggunakan sistem timbunan dengan menggunakan pasir dan
tanah bisa dijumpai pada pembangunan Pluit City. Kawasan ini berdiri di atas
pulau baru hasil reklamasi di teluk Jakarta. Pulau ini berada 5,5 m 7,5 m di atas
permukaan laut. Dalam pembangunannya, pasir dan tanah timbunan dipadatkan
dengan menggunakan teknologi tinggi. Hal ini dilakukan untuk mencegah
penurunan muka tanah.
Pembangunan Pluit City ini tidak terlepas dari keterbatasan lahan di Jakarta.
Selain untuk residensial, sisi positif pembangunan Pluit City antara lain dapat
mempercantik wajah kota. Memperindah lingkungan pantai, meningkatkan
sektor pariwisata dan membuka lapangan kerja. Tidak hanya itu, Pluit City juga
bisa menjadi kawasan bisnis dan ekonomi dengan tersedianya fasilitas kawasan
perkantoran. Alhasil peningkatan kualitas hidup dapat terwujud.
2.

Sistem Polder

Sistem ini dilakukan pada lokasi dengan posisi drainase yang baik. Untuk
Indonesia yang memiliki curah hujan yang sangat tinggi, sistem reklamasi ini
kurang cocok untuk diterapkan. Sistem ini dilakukan dengan cara mengeringkan
daerah yang akan direklamasi dengan memompa air yang berada didalam
tanggul kedap air, untuk kemudian dibuang keluar dari daerah lahan reklamasi.
Keberhasilan dari sistem ini sendiri adalah menjaga atau mempertahankan
kondisi muka air tanah sehingga diperlukan kemampuan pompa untuk mengatur
ketinggian muka air tersebut. Kemudian, sistem ini dapat di klasifikasikan
menjadi dua, yaitu:

Polder dalam

Air yang disedot dari polder tidak langsung dibuang ke laut, tetapi disalurkan ke
waduk-waduk tampungan atau ke saluran tertentu di luar polder, kemudian baru
dialirkan ke laut.

Polder luar

Air dari polder langsung dibuang ke laut.


Keuntungan sistem ini adalah volume tanah urugan sangatlah kecil. Terutama
jika lahan tidak perlu ditinggikan. Namun, kekurangannya adalah diperlukan
biaya yang cukup besar untuk pembuatan tanggul, sistem kanal, dan saluran
serta sistem pompa. Sistem ini sangat bergantung pada pompa. Jika pompa
mati, maka kawasan akan tergenang air.
Selain itu, untuk menyiapkan tanah reklamasi tersebut membutuhkan waktu
yang cukup lama. Setiap tetes air buangan yang jatuh pada kawasan polder
harus dikendalikan dengan bantuan pompa untuk menciptakan semacam
drainase. Oleh karena itu, perlu disosialisasikan konsep pengendalian
pengembangan sistem polder berkelanjutan. Hal ini dilakukan sebagai langkah
antisipasi terhadap perubahan pembangunan yang sangat mempengaruhi dan
berdampak pada lingkungan.
3.

Sistem Kombinasi Polder dan Timbunan

Reklamasi cara ini merupakan gabungan system polder dan system timbunan,
yaitu setelah lahan diperoleh dengan metode pemompaan, lalu lahan tersebut
ditimbun sampai ketinggian tertentu sehingga perbedaan elevasi antara lahan
reklamasi dan muka air laut tidak besar.
Keuntungan sistem ini adalah meningkatkan kinerja sistem polder yang
bergantung pada pompa. Jika nantinya pompa mati, hal itu tidak akan terjadi
masalah karena daerah yang kering telah ditimbun sehingga dapat menekan
biaya. Banjir juga bisa lebih efektif ditangani karena system polder mampu
mengendalikan banjir dan genangan akibat air dari hulu. Sedangkan sistem
timbunan membuat permukaan laut bisa aman terhadap banjir, apabila dibuat
tembok penahan air laut di sepanjang pantai.
Namun, kekurangan sistem ini adalah rentan terhadap terjadinya penurunan
daya dukung tanah sehingga menyebabkan rendahnya stabilitas timbunan. Hal
ini pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya kelongsoran pada tubuh
timbunan. Hal lain yang menjadi pertimbangan penting adalah musnahnya
tempat hidup hewan laut dan tumbuhan laut sehingga keseimbangan alam
menjadi terganggu. Bila ini terus dibiarkan, akan memicu global warming. Sudah
banyak Negara yang menerapkan system ini untuk mencapai efektivitas dari
proyek reklamasi yang dilakukan.
4.

Sistem Drainase

System ini banyak dipakai untuk wilayah pesisir yang datar dan relatif rendah
dari wilayah lain di sekitarnya, tetapi elevasi muka tanahnya masih tinggi dari
pada elevasi muka air laut. Wilayah ini bisa berupa daerah rawa pasang surut.
Dengan membuatkan sistem drainase yang baik dengan pintu-pintu pengatur,
wilayah pesisir ini dapat dimanfaatkan untuk daerah pemukiman dan pertanian.
Keuntungan sistem drainase adalah biaya yang digunakan jauh lebih murah
karena tidak menggunakan alat pompa dan material yang digunakan tidak
terlalu banyak. Daerah reklamasi pun bisa dijadikan juga sebagai kawasan
industri dan pabrik-pabrik.

Adapun kekurangannya adalah dampak dari limbah-limbah industri atau pabrik


bisa mengakibatkan lingkungan sekitar daerah reklamasi tercemar. Dampak
lingkungan lainnya dari proyek reklamasi pantai adalah meningkatnya potensi
banjir. Hal ini karena proyek tersebut dapat mengubah bentang alam
(geomorfologi) dan aliran air (hidrologi) di kawasan reklamasi tersebut. Sejumlah
Negara yang menggunakan sistem reklamasi drainase antara lain Amerika
Serikat, Kanada, Hungaria, Polandia dan Lain-lain.

SUMBER MATERIAL REKLAMASI


Hal lain yang perlu diperhatikan selain teknologi yang tepat dengan kondisi
perairan, adalah material urugan reklamasi. Jenis material, volume kebutuhan
material, lokasi sumber material, waktu yang tersedia dan juga biaya,
merupakan aspek yang perlu dijadikan bahan pertimbangan. Jenis material bisa
berbentuk pasir, batu, maupun tanah. Sementara itu, sumber material bisa
berasal dari daratan maupun dasar laut.

Sumber material daratan dapat berupa bukit atau deposit datar. Sumber
material yang berupa bukit umumnya batuan beku (andesit) dan tanah
urugan (soil cover), sedangkan sumber deposit datar pada umumnya berupa
material pasir (endapan alluvial). Sumber material dari bukit dapat digali
dengan bantuan wheel-dredger, yaitu alat penggeruk di mana pegeruknya
terpasang pada suatu roda yang diputar. Berbeda dengan material dari
bukit, material dari deposit datar digali menggunakan alat penggalian,
seperti excavator. Bahan yang sudah digali dengan wheel-dredger,
kemudian diangkut dengan menggunakan ban berjalan (belt conveyor).
Sebagai tempat penampungan biasanya digunakan tongkang berukuran
besar. Selain itu baru material diangkut ke lokasi lahan reklamasi
menggunakan tongkang-tongkang kecil.

Sumber timbunan yang berlokasi di laut, yaitu berupa pasir endapan di dasar
laut. Pengambilan pasir endapan di dasar laut tersebut untuk kapasitas besar
dilakukan dengan menggunakan cutter suction dredger yang dimuatkan di kapal
itu sendiri (hopper dredger) atau ke tongkang. Kemudian, dibawa ke lokasi di
mana material tersebut dipompakan ke lahan yang akan diurug. Selain itu
pengambilannya bisa menggunakan grab-dredger yang dipasang di atas suatu
tongkang besar