Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH SEDIAAN PARENTERAL

INFUSA

NAMA KELOMPOK

Sherlynda A.P

1041311143

Jang Chyntia Yena Santoso

1041311080

Wulang Bagus Asih Saputra

1041411156

SEKOLAH TINGGI YAYASAN PHARMASI


SEMARANG

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya
yang dilimpahkan kepada saya sehingga makalah tentang Komposisi
Cairan Infus ini dapat terselesaikan.
Makalah ini disusun sebagai TUGAS FARMASETIKA DASAR.
Makalah ini disusun juga sebagai bahan acuan dan tambahan
pengetahuan kita tentang Cairan Infus, sehingga kita dapat mengetahui
betapa pentingnya cairan infus untuk tubuh.
Terima kasih saya sampaikan kepada Dosen Pembimbing, yang
telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menularkan
pengetahuan saya kepada para pembaca.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa makalah tentang Cairan
Infus ini masih jauh dari sempurna. Karena itu, kritik dan saran dari
berbagai pihak baik itu ibu Dosen Pembimbing kami maupun para
pembaca sangat diharapkan demi lengkapnya makalah ini. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak terutama bagi pembaca.
Terima kasih.

Semarang, 9 febuary 2016

Daftar Isi

Halaman
Judul..............................................................................................................
.......
Kata
Pengantar......................................................................................................
............. 1
Daftar
Isi..................................................................................................................
........... 2
I
Pendahuluan.................................................................................................
................. 1
1.Latar
Belakang.......................................................................................................
......... 1
2. Tujuan
1
3.
Manfaat.........................................................................................................
..........1
II Pembahasan................................................................................... 2
1.
Pengertian.....................................................................................................
........... 2
2.
Jenis cairan
infus........................................................................................................2

3.
Jenis Nutrisi
Parenteral...............................................................................................7
4.
Contoh
sediaan ........................................................................................................
.11
5.
Macam-macam
sediaan...........................................................................................13
iii
Penutup...................................................................................................... ..
......................18
Daftar
Pustaka.........................................................................................................
................19

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Infus cairan adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum,
ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zatzat makanan dari tubuh.
Fungsi NaCl bagi tubuh yang sehat sebenarnya tidak ada. NaCl 0,9%, misalnya, dulu
dikenalsebagai cairan fisiologis karena dianggap memiliki kandungan cairan yang
menyerupaikandungan cairan tubuh. Biasanya cairan ini digunakan
pada penderita rawat inap yangmemerlukan jalur infus, yang tanpa kelainan pada kandungan
cairan tubuh (dalam artiantidak terdapat perubahan nilai elektrolit dalam tubuh). Namun,
dalam keadaan tertentu(misalnya kadar natrium dalam darah menurun), NaCl dapat
digunakan (secara infus) untukmeningkatkan kadar natrium, tentunya dengan menyesuaikan
persen NaCl yang dibutuhkan.Dengan kata lain NaCl itu juga merupakan molekul yang orang

bilang garem dapur terdiridari Na+ dan Cl- merupakan ion elektrik... berperan dalam natrum
kalium ATP-ase yangintinya semua kerja tubuh yang memerlukan listrik, seperti saraf, otot,
chenel2 reseptor, dll

1.2 Tujuan
Mengetahui tentang komposisi dan pembuatan infus serta mempelajari
tentang sediaan infus
1.2 Manfaat

mengetahui pengertian komposisi dan infus

mengetahui tujuan komposisi cairan infus

mengetahui membuat sediaan infusa

BAB II
PEMBAHASAN
Cairan infus adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke
dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat
makanan dari tubuh.
Jenis Cairan Infus:
1

Cairan hipotonik:

osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah
dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka
cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan
berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel
yang dituju. Digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi, misalnya pada pasien cuci
darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah
tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan

tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan
peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl
45% dan Dekstrosa 2,5%.
2

Cairan Isotonik:

osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen
darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang
mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun).
Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal
jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal
saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
3

Cairan hipertonik:

osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga menarik cairan dan elektrolit
dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah,
meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya kontradiktif
dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%
+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin.
Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya:
4

Kristaloid:

bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume expanders) ke
dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat, dan berguna pada pasien yang
memerlukan cairan segera. Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis.
5

Koloid:

ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran
kapiler, dan tetap berada dalam pembuluh darah, maka sifatnya hipertonik, dan dapat menarik
cairan dari luar pembuluh darah. Contohnya adalah albumin dan steroid.
Indikasi Pemasangan Infus melalui Jalur Pembuluh Darah Vena (Peripheral Venous
Cannulation)
1

Pemberian cairan intravena (intravenous fluids).

Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah) dalam jumlah terbatas.

Pemberian kantong darah dan produk darah.

Pemberian obat yang terus-menerus (kontinyu).

Terdapat 3 pilihan dalam pemberian nutrisi yaitu diet oral, nutrisi enteral dan
nutrisi parenteral.

Nutrisi Parenteral adalah suatu bentuk pemberian nutrisi yang diberikan


langsung melalui pembuluh darah tanpa melalui saluran pencernaan
Pemberian nutrisi parenteral hanya efektif untuk pengobatan gangguan nutrisi
bukan untuk penyebab penyakitnya. Pemberian NP dapat dilakukan melalui 2
cara yaitu

Nutrisi Parenteral Sentral.


a) Diberikan melalui central venous,bila konsentrasi > 10% glukosa.
b) Subclavian atau internal vena jugularis digunakan dalam waktu singkat sampai <
4minggu.
c)

jika > 4 minggu,diperlukan permanent cateter seperti implanted vascular access device.

Nutrisi Parenteral Perifer.


a) PPN diberikan melalui peripheral vena.
b) PPN digunakan untuk jangka waktu singkat 5 -7 hari dan ketika pasien perlu konsentrasi
kecil dari karbohidrat dan protein.
c) PPN digunakan untuk mengalirkan isotonic atau mild
hypertonicsolution.High hypertonic solution dapat menyebabkan sclerosis,phlebitis dan
bengkak.
Pemilihan akses apa yang dipakai didasarkan atas pertimbangan:
1. Lama dukungan nutrisi diberikan.
Apabila dukungan nutrisi diberikan tidak lebih dari 14 hari maka dapat digunakan rute
perifer, sebaliknya rute sentral digunakan bila NP direncanakan diberikan lebih dari 14 hari.
2. Konsentrasi larutan.
Pada akses vena sentral dimungkinkan untuk memberikan larutan dengan konsentrasi
tinggi yaitu dekstrosa 25-30% yang merupakan larutan hipersomoler karena, memberikan
osmolalitas sebesar 1200-1500 mOsm/L. Sedangkan dengan akses vena perifer konsentrasi
dekstrosa yang ditoleransi hanya antara 5-10% dengan osmolalitas sebesar 250-500 mOsm/L,
walaupun beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi dekstrosa sampai 12.5%
masih dapat ditoleransi.
Pemberian dari nutrisi parenteral didasarkan atas beberapa dasar fisiologis, yakni:
1. Apabila di dalam aliran darah tidak tercukupi kebutuhan nutrisinya,kekurangan kalori dan
nitrogen dapat terjadi.
2. Apabila terjadi defisiensi nutrisi, proses glukoneogenesis akan berlangsung dalam tubuh
untuk mengubah protein menjadi karbohidrat.
3. Kebutuhan kalori Kurang lebih 1500 kalori/hari,diperlukan oleh rata-rata dewasa untuk
mencegah protein dalam tubuh untuk digunakan.

4. Kebutuhan kalori menigkat terjadi pada pasien dengan penyakit hipermetabolisme, fever,
injury, membutuhkan kalori sampai dengan 10.000 kalori/hari.
5. Proses ini menyediakan kalori yang dibutuhkan dalam konsentrasi yang langsung ke dalam
system intravena yang secara cepat terdilusi menjadi nutrisi yang tepat sesuai toleransi tubuh.
Indikasi Nutrisi Parenteral :
1. Sebagai pengganti untuk oral nasogastrik, bila ini tidak efektif, tidak memungkinkan dan
berbahaya. TPN digunakan dalam kondisi sebagai berikut: kronik vomiting, cancer,
radiotherapy atau chemoteraphy Stroke, Anorexia nervosa
2. Sebagai supplemen untuk pasien yang kehilangan banyak nitrogen ( pasien dengan luka
bakar,kanker metastatic,radiasi dan chemoteraphy.)
3. Mengistirahatkan gastrointestinal :
Gastrointestinal fistula, Extensive inflammatory bowel disease, Intestinal resection, Intestinal
obstruction , multiple gastro intestinal surgery, gastro intestinal trauma, intolerance enteral
feeding yang berat.
1.

Gangguan absorpsi makanan seperti pada fistula enterokunateus, atresia intestinal,


kolitis infektiosa, obstruksi usus halus.
2.
Kondisi dimana usus harus diistirahatkan seperti pada pankreatitis berat, status
preoperatif dengan malnutrisi berat, angina intestinal, stenosis arteri mesenterika, diare
berulang.
3.
Gangguan motilitas usus seperti pada ileus yang berkepanjangan, pseudo-obstruksi
dan skleroderma.
4.
Kondisi dimana jalur enteral tidak dimungkinkan seperti pada gangguan makan,
muntah terus menerus, gangguan hemodinamik, hiperemesis gravidarum.
Metode Pemberian Nutrisi Parenteral
1) Nutrisi parenteral parsial, pemberian sebagian kebutuhan nutrisi melalui
intravena. Sebagian kebutuhan nutrisi harian pasien masih dapat di penuhi
melalui enteral. Cairan yang biasanya digunakan dalam bentuk dekstrosa atau
cairan asam amino
2) Nutrisi parenteral total, pemberian nutrisi melalui jalur intravena ketika
kebutuhan nutrisi sepenuhnya harus dipenuhi melalui cairan infus. Cairan
yang dapat digunakan adalah cairan yang mengandung karbohidrat seperti
Triofusin E1000, cairan yang mengandung asam amino seperti PanAmin G,
dan cairan yang mengandung lemak seperti Intralipid
3) Lokasi pemberian nutrisi secara parenteral melalui vena sentral dapat melalui
vena antikubital pada vena basilika sefalika, vena subklavia, vena jugularis
interna dan eksterna, dan vena femoralis. Nutrisi parenteral melalui perifer
dapat dilakukan pada sebagian vena di daerah tangan dan kaki

Jenis Nutrisi Parenteral


Lemak
Lipid diberikan sebagai larutan isotonis yang dapat diberikan melalui vena perifer .
Lipid diberikan untuk mencegah dan mengoreksi defisiensi asam lemak dan merupakan
nutrien dengan densitas kalori tinggi (9kkal/g) dan pada penggunaan untuk NP sebaiknya
memasok 30-50% energi non nitrogen.. Sebagian besar berasal dari minyak kacang kedelai,
yang komponen utamanya adalah linoleic, oleic, palmitic, linolenic,dan stearic acids.
Emulsi lipid mengandung komponen purified soya bean, fosfolipid dan anhydrous
glycerol. Emulsi lipid 10% mengandung 1.1 kkal/ml. Sedangkan emulsi lipid 20%
mengandung 2.0 kkal/ml. Bila dimungkinkan sebaiknya pemberian intravena emulsi ini
dilakukan selama 24 jam secara kontinyu dan sumber kalori yang berasal dari lipid tidak
boleh melebihi 60% dari total kalori non protein. Penggunaan emulsi lipid 20% lebih
dianjurkan dibandingkan emulsi lipid 10%. Emulsi lipid yang mengandung MCT (middle
chain triglyceride) mempunyai nilai tambah karena MCT tidak ditimbun di hepar atau
jaringan lemak serta mengalami proses hidrolisis dan oksidasi cepat yang juga tidak
tergantung pada karnitin. Pemberian lemak dimulai dengan dosis rendah yang dinaikkan
perlahan-lahan sampai dosis yang diperhitungkan tercapai. Pemberian dapat secara
terusmenerus selama 24 jam atau hanya 18 jam dengan 6 jam istirahat untuk memberikan
kesempatan tubuh melakukan clearance.
Pemberian lemak intravena selain sebagai sumber asam lemak esensial (terutama
asam linoleat) juga sebagai subtrat sumber energi pendamping karbohidrat terutama pada
kasus stress yang meningkat. Bila lemak tidak diberikan dalam program nutrisi parenteral
total bersama subtrat lainnya maka defisiensi asam lemak rantai panjang akan terjadi kira-kira
pada hari ketujuh dengan gejala klinik bertahan sekitar empat minggu. Untuk mencegah
keadaan ini diberikan 500 ml emulsi lemak 10 ml paling sedikit 2 kali seminggu. Monitor
serum lipid 4 jam setelah penghentian pemberian, serta monitor terhadap tes fungsi hati,
untuk mengetahui kegagalan fungsi hati dan ketidakmampuan hati melakukan metabolisme
lemak.

Karbohidrat
KH diberikan dalam jumlah 40-45% dari kalori total. Beberapa jenis karbohidrat yang
lazim menjadi sumber energi dengan perbedaan jalur metabolismenya adalah : glukosa,
fruktosa, sorbitokl, maltose, xylitol.
Tidak seperti glukosa maka, bahwa maltosa ,fruktosa ,sarbitol dan xylitol untuk
menembus dinding sel tidak memerlukan insulin. Maltosa meskipun tidak memerlukan
insulin untuk masuk sel , tetapi proses intraselluler mutlak masih memerlukannya sehingga
maltose masih memerlukan insulin untuk proses intrasel. Demikian pula pemberian fruktosa
yang berlebihan akan berakibat kurang baik.
Oleh karena itu perlu diketahui dosis aman dari masing-masing karbohidrat :
1)

Glikosa ( Dektrose ) : 6 gram / KgBB /Hari.

2)

Fruktosa / Sarbitol

: 3 gram / Kg BB/hari.

3)

Xylitol / maltose

: 1,5 gram /KgBB /hari.

Campuran GFX ( Glukosa ,Gfruktosa, Xylitol ) yang ideal secara metabolik adalah dengan
perbandingan GEX = 4:2:1
Protein/ Asam Amino
Jumlah protein hendaknya sebesar 15% dari kalori total serta rasio antara
kalori nitrogen dan kalori nonnitrogen sebesar 1:150-200 untuk meningkatkan
efisiensi penggunaan protein oleh tubuh. Beberapa asam amino (aa) selain aa
esensial, dianggap esensial pada bayi terutama bayi BBLR, yaitu taurin dan
sistein karena enzim sistationase pada hepar belum mencukupi untuk merubah
metionin menjadi sistein dan taurin. Asam amino arginin penting dan
diperlukan/esensial pada keadaan stres metabolik dan kadarnya lebih tinggi
pada larutan aa. Pediatri, sebaliknya aa. Glutamin tidak ditambahkan pada
larutan karena tubuh sudah mempunyai enzim glutamin sintetase yang dapat
mensintesis glutamin dari glutamat. dan amonia. Asam amino rantai cabang (leusin,

isoleusin dan valin) kadarnya lebih tinggi pada larutan aa yang diperuntukkan kasus
hepatologi untuk mencegah dan mengobati ensefalopati hepatik.

Selain kalori yang dipenuhi dengan karbohidrat dan lemak , tubuh masih memerlukan
asam amino untuk regenerasi sel , enzym dan visceral protein. Pemberian protein / asam
amino tidak untuk menjadi sumber energi karena itu pemberian protein / asam amino harus
dilindungi kalori yang cukup, agar asam amino yang diberikan ini tidak dibakar menjadi
energi ( glukoneogenesis). Jangan memberikan asam amino jika kebutuhan kalori belum
dipenuhi.

Mikronutrien dan Immunonutrien


Mineral dan elektrolit pada NP diperlukan kalsium (Ca), fosfor (P), natrium
(Na), kalium (K), klorida (Cl), asetat dan magnesium (Mg) dengan
perhatian khusus pada kadar Ca dan P sehubungan dengan kemungkinan
terjadinya presipitasi.

Tiga grup nutrient utama yang termasuk dalam immunonutrient adalah:


1) Amino acids (arginine, glutamin, glycin )
2) Fatty acid.
3) Nucleotide.

Nutrient nutrient tersebut diatas adalah ingredients yang memegang peran penting
dalam proses wound healing peningkatan sistem immune dan mencegah proses
inflamasi kesemuanya essenstial untuk proses penyembuhan yang pada pasien-pasien
critical ill sangat menurun. Kombinasi dari nutrient-nutrient tersebut diatas, saat ini
ditambahkan dalam support nutrisi dengan nama Immune Monulating Nutrition
(IMN) atau immunonutrition.
Vitamin

Vitamin merupakan
komponen nutrisi yang esensial dan berperan sebagai ko-ensim pada
berbagai reaksi metabolik. Pada pemberian vitamin i.v sebagian akan
hilang karena diabsorbsi atau menempel pada kantong /botol dan slang
infus yang digunakan atau rusak karena terpajan cahaya, sehingga tidak
mudah untuk menentukan dosis vitamin pada NP.

Contoh sediaan
Nutrisi Parenteral Total

1.

Clinimix N9G15E
Larutan steril, non pirogenik untuk infus intravena. Dikemas dalam satu kantong dengan dua
bagian: satu berisi larutan asam amino dengan elektrolit, bagian yang lain berisi glukosa
dengan kalsium. Tersedia dalam ukuran 1 liter
Composition:
Nitrogen (g) 4.6 Asam Amino (g) 28 Glukosa 75 (g) 75 Total kalori (kkal) 410 Kalori glukosa
(kkal) 300 Natrium (mmol) 35 Kalium (mmol) 30 Magnesium (mmol) 2.5 Kalsium (mmol)
2.3 Asetat (mmol) 50 Klorida (mmol) 40 Fosfat dalam HPO4 (mmol) 15 pH 6 Osmolaritas
(mOsm/l) 845
2. Minofusin Paed
larutan asam amino 5% bebas karbohidrat, mengandung elektrolit dan vitamin, terutama
untuk anak-anak dan bayi. Bagian dari larutan nutrisi parenteral pada prematur dan bayi.
Memberi protein pembangun, elektrolit, vitamin dan air pada kasus di mana pemberian
peroral tidak cukup atau tidak memungkinkan, kasus di mana kebutuhan protein meningkat,
defisiensi protein atau katabolisme protein.
Komposisi:
Tiap 1000 ml mengandung:
L-Isoleusin

2.511 g

L-Leusin

2.790 g

L-Lisin

2.092 g

L-Metionin

0.976 g

L-Fenilalanin

1.813 g

L-Treonin

1.743 g

L-Triptofan

0.558 g

L-Valin

2.092 g

L-Arginin

3.487 g

L-Histidin

0.698 g

L-Alanin

9.254 g

L-Aspartic acid

4.045 g

N-Acetyl-L-cysteine

0.160 g

L-Glutamic acid

9.500 g

Glisin

3.845 g

L-Prolin

4.185 g

N-Acetyl-L-tyrosine

0.344 g

Nicotinamide

0.060 g

Piridoksin hidroklorida

0.040 g

Riboflavin-5-phosphate sodium
salt

0.0025 g

Kalium hidroksida

1.403 g

Natrium hidroksida

1.200 g

Kalsium klorida

0.735 g

Magnesium asetat

0.536 g

Contoh sediaan Nutrisi Parenteral parsial


Cernevit
adalah preparat multivitamin yang larut dalam air maupun lemak (kecuali vitamin K)
dikombinasi dengan mixed micelles (glycocholic acid dan lecithin). Mengingat kebutuhan
vitamin tubuh yang mungkin berkurang karena berbagai situasi stress (trauma, bedah, luka
bakar, infeksi) yang dapat memperlambat proses penyembuhan.
Beberapa cairan infus yang biasa di gunakan, yaitu ;
Ranger laktat (RL).
Ranger laktat adalah larutan isotonis yang paling mirip dengan cairan ekstraseluler (cairan
diluar sel). Larutan RL juga bisa di gunakan untuk menormalisasi tekanan darah pada pasien
combustio, 18 sampai 24 jam setelah terjadi cedera luka bakar.
Larutan RL juga termasuk salah satu cairan kristaloid yang bisa digunakan untuk terapi
sindroma syok, kombustio, serta hipovolemia dengan asidosis metabolik.

Cairan RL berisi Natrium Laktat, C3H5NaO3, Natrium klorida, NaCL, Kalium klorida, KCl,
CaCI2.2H2O, serta air untuk injeksi.
Tempat metabolisme cairan RL terutama pada hati serta sebagian kecil pada ginjal.
Kelebihan dalam memberikan cairan ini dapat mengalami edema pada seluruh badan pasien
sehingga pemakaian larutan RL yang berlebih itu perlu di cegah.
Cairan NaCL berisi sodium chloride beserta air untuk injeksi. Pada kasus Gadar, biasanya
cairan ini di gunakan untuk membantu proses penanganan serta perawatan pada luka.
Dektrose.
Larutan dextrose juga bisa di gunakan sementara untuk mengganti kehilangan cairan dengan
cara melarutkan NaCl 0,45 % dalam larutan dextrose 5 %. Larutan Dektrose juga dapat
diberikan untuk penanganan awal pada pasien hipoglikemia (gula darah rendah).
Larutan dextrose berisi glukosa, C6H12O6, H2O, serta air untuk injeksi.
Jadi secara sederhana bisa kita simpulkan , tujuan dari pemberian terapi cairan di bagi atas
manajemen untuk mengganti kebutuhan harian, juga untuk mengganti kehilangan cairan akut.
NaCL.
Larutan NaCL Juga termasuk cairan kristaloid. Di anjurkan pada penanganan awal syok
hipovolemik dengan hiponatremik, alkalosis metabolik atau hipokhloremia.
Keuntungan menggunakan cairan ini adalah harga lebih murah, mudah di dapat, sedikit efek
samping, tidak menyebabkan raksi alergi, serta mudah di pakai.
OSMOLARITAS
Seperti telah disinggung pada pembahasan pemilihan rute NP, maka pada rute sentral
dimungkinkan untuk memberikan larutan dengan osmolalitas lebih besar. Penelitian
menunjukkan bahwa risiko terjadinya flebitis mulai akan tampak bila osmolalitas larutan
melebihi 600 mOsm/L. Penelitian lain menunjukkan bahwa pada pasien yang mengalami
gangguan aliran darah, endotel vena perifer hanya dapat mentoleransi osmolalitas sebesar 820
mOsm/L selama 8 jam, 690 mOsm/L selama 12 jam dan 550 mOsm/L selama 24 jam.
Dengan perkataan lain toleransi pembuluh darah terhadap osmolalitas menurun bila nutrisi
enteral diberikan makin lama. Berikut ini besar osmolalitas beberapa larutan yang sering
digunakan untuk NP.

Cara menghitung/membuat NP
1. Hitung kebutuhan kalori, protein dan cairan
2. Hitung kebutuhan lipid, umumnya 30% dari jumlah kalori total Kalori dari lipid = total
kalori x 0.3 Konversi kalori lipid ke dalam emulsi lipid (1.1 kkal/ml untuk emulsi 10%, 2
kkal/ml untuk emulsi 20%). Emulsi lipid (ml) = kalori lipid : 1.1 (2 untuk emulsi 20%).
3. Protein
Hitung kebutuhan kalori, umumnya 15% dari total kalori (untuk kebutuhan yang tinggi dapat
mencapai 20-25%). Tentukan jumlah asam amino (protein) dengan membagi kalori yang
berasal dari protein yaitu 4 kkal/g. Kalori dari protein = kalori total x 0.15 Gram protein =
kalori protein :
Apabila digunakan larutan asam amino yang mempunyai konsentrasi 5%, maka jumlah
larutan asam amino yang dibutuhkan (ml) adalah: Gram protein : 0.05
4.Dekstrosa
Hitung kebutuhan kalori yang berasal dari KH. Kalori dekstrosa = kalori total - kalori lipid kalori protein Tentukan konsentrasi larutan dekstrosa yang akan digunakan (misalnya 40%=
40 g/L). Sehingga jumlah larutan yang dibutuhkan = kalori dekstrosa: 0.04

5.Tambahkan aquades berdasarkan perhitungan kebutuhan cairan dikurangi dengan jumlah


larutan lipid, protein dan KH
6.Sehingga komposisi akhir larutan NP adalah
............. ml dekstrosa 40%
............. ml asam amino 5%
............. ml emulsi lipid 10% (atau 20%)
............. aquades
Ditambah dengan elektrolit dan trace element. Pemantauan harus dilakukan setiap hari
terhadap keadaan klinis dan komplikasi yang mungkin terjadi, serta pemeriksaan
laboratorium yang dimulai pada awal pemberian NP dan selanjutnya secara berkala
tergantung keperluan/keadaan dan jenis pemeriksaan.
Komplikasi NP Komplikasi NP dapat dikategorikan ke dalam 4 golongan:
1. Pemberian nutrisi tidak adekuat: - under/over nutrition
2. Metabolik: gangguan elektrolit, hypoglikemia, hiperglikemia,
cholestatic jaundice, defisiensi vitamin, asam lemak, asidosis
metabolik dan lainlain.
3. Mekanik: pnemotoraks, hemotoraks, emboli udara dan lain-lain.
4. Infeksi: sepsis, flebitis dan lain-lain.
Penghentian NP
Bila nutrisi enteral sudah dapat diberikan dan ditoleransi, maka NP secara bertahap dapat
dikurangi seiring bertambahnya jumlah nutrisi enteral. Sebaiknya NP parenteral tidak
dihentikan secara mendadak, tetapi dalam 24 jam, bahkan pada neonatus harus dilakukan
dalam 2-3 hari. NP baru dihentikan seluruhnya bila asupan nutrisi enteral sudah mencapai 2/3
kebutuhan.
Rumus
Untuk memahami lebih lanjut, terlebih dahulu kita harus mengetahui rumus dasar
menghitung jumlah tetesan cairan dalam satuan menit dan dalam satuan jam:
Rumus dasar dalam satuan menit

Rumus dasar dalam satuan jam

Dewasa (macro drip)


Infus set macro drip memiliki banyak jenis berdasarkan faktor tetesnya. Infus set yang paling
sering digunakan di instalasi kesehatan Indonesia hanya 2 jenis saja. Berdasarkan merek dan
faktor tetesnya:

Merek Otsuka

faktor tetes = 15 tetes/ml


Merek Terumo
faktor tetes = 20 tetes/ml

Infus Blood set untuk tranfusi memiliki faktor tetes yang sama dengan merek otsuka, 15
tetes/menit.
Infus set macro drip dengan faktor tetes 10 tetes/menit jarang ditemui di Indonesia. Biasanya
hanya terdapat di rumah sakit rujukan pusat, rumah sakit pendidikan, atau rumah sakit
internasional.
Penurunan rumus dewasa
Berikut ini adalah rumus cepat hasil penurunan dari rumus dasar (dalam satuan jam), untuk
pasien dewasa:
o) Merek Otsuka

o) Merek Terumo

Contoh soal 1
Seorang pasien dengan berat 65 kg datang ke klinik dan membutuhkan 2.400 ml cairan RL.
Berapa tetes infus yang dibutuhkan jika kebutuhan cairan pasien mesti dicapai dalam waktu
12 jam? Di klinik tersedia infus set merek Otsuka.
Diketahui:
Cairan = 2.400 ml (cc)
Waktu = 12 jam
Faktor tetes Otsuka = 15 tetes/ml
Jawab:

Jadi, pasien tersebut membutuhkan 50 tetes infus untuk menghabiskan cairan 2400 ml dalam
waktu 12 jam dengan menggunakan infus set Otsuka.
Anak (micro drip)
Lain halnya dengan dewasa, anak dengan berat badan dibawah 7 kg membutuhkan
infus setdengan faktor tetes yang berbeda.

Micro drip
faktor tetes = 60 tetes/ml

Penurunan rumus anak


Berikut ini adalah rumus cepat hasil penurunan dari rumus dasar (dalam satuan jam) untuk
pasien anak:

Contoh soal anak


Seorang ibu datang membawa bayinya yang sakit ke IGD dengan keluhan diare lebih dari 5
kali. Anak bayi tersebut membutuhkan cairan RL sebanyak 100 ml. Berapa tetes infus yang
dibutuhkan jika kebutuhan cairan pasien mesti dicapai dalam waktu 1 jam?

Jadi, pasien tersebut membutuhkan 100 tetes infus untuk menghabiskan cairan 100 ml dalam
waktu 1 jam dengan menggunakan infus set micro drip.

PRINSIP KERJA CAIRAN INFUS


Dinding sel darah merah mempunyai ketebalan 10 nm dan pori berdiameter
0,8 nm.Molekul air berukuran setengah diameter tersebut, sehingga ion K+ dapat lewat
denganmudah. Ion K+ yang terdapat dalam sel juga berukuran lebih kecil dari pada ukuran
poridinding sel itu, tetapi karena dinding sel bermuatan positif maka ditolak oleh dinding sel.
Jadiselain ukuran partikel muatan juga faktor penentu untuk dapat melalui pori sebuah
selaputsemipermiabel.
Cairan sel darah merah mempunyai tekanan osmotik yang sama dengan larutan NaCl0,92%.
Dengan kata lain cairan sel darah merah isotonik dengan NaCl 0,92%. Jika sel darahmerah
dimasukkan kedalam larutan NaCl 0,92%, air yang masuk keluar dinding sel akansetimbang
(kesetimbangan dinamis). Akan tetapi jika sel darah merah dimasukkan kedalamlarutan Nacl
yang lebih pekat dari 0,92% air akan keluar dari dalam sel dan sel akanmengerut. Larutan
yang demikian dikatakan hipertonik. Sebaliknya jika sel darah merahdimasukkan kedalam
larutan NaCl yang lebih encer dari 0,92%, air akan masuk kedalam seldan sel akan
menggembung dan pecah(plasmolisis). Larutan ini dikatakan sebagai hipotonik

BAB 3
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
1. Nutrisi parenteral tidak bertujuan menggantikan kedudukan nutrisi enteral lewat usus
yang normal. Segera jika usus sudah berfungsi kembali, perlu segera dimulai
nasogastric feeding, dengan sediaan nutrisi enteral yang mudah dicerna. Nutrisi
parenteral dapat diberikan dengan aman jika megikuti pedoman diatas. Karena tubuh
penderita perlu waktu adapatasi terhadap perubahan mekanisme baru maka selama
penyesuaian tersebut jangan memberi beban yang berlebihan.
Perbaikan dari komposisi subtrat nutrisi, perbaikan tehnik, pengetahuan, skala
prioritas dalam support metabolik dan bedside monitor, dibutuhkan untuk mencapai
recovery yang maksimal.
2. Saat ini ditemukan immunonutrition yang bertujuan untuk meningkatkan immune
respons pada pasien-pasien critical ill agar supaya outcome klinis dapat diperbaiki dan
lama rawat rumah sakit dapat diturunkan seperti arginine, glutamine, glycine,
( golongan asam amino),fatty acids, nucleotide.

DAFTAR PUSTAKA
National advisory group on standards and practice guidelines for parenteral
nutrition. Safe practices for parenteral nutrition formulations. J Parenteral &
Enteral Nutr 1998; 22(2):49-66.
https://apotikmakassar.wordpress.com/2012/01/13/nutrisi-parenteral/
http://saripediatri.idai.or.id/pdfile/3-4-6.pdf
http://www.argaaditya.com/2014/03/cara-cepat-menghitung-tetes-infus.html
https://www.academia.edu/9111241/JENIS-JENIS_CAIRAN_INFUS