Anda di halaman 1dari 2

NATURAL GAMMA RAY

Log yang menggunakan sinar gamma natural yang disebut dengan


Spectral Gamma Ray Log (SGR). Spectral gamma ray menunjukkan masingmasing unsur radioaktif. Sensor yang dapat dipakai untuk mendeteksi sinar
gamma adalah kristal sodium iodida yang diaktivasi dengan telurium, Na I (Tl).
Di bagian belakang dari detektor ini dilapisi dengan bahan photo katoda yang
mudah melepaskan elektron bila dikenai cahaya. Apabila radiasi sinar gamma
menegnai kristal terjadilah proses photo listrik.
Detektor sinar gamma yang lain adalah PMT (Photo Multiplier Tube).
Pada prinsipnya PMT mula-mula menerima cahaya (sinar ) yang menyebabkan
munculnya elektron pada emitter. Proses ini berlangsung secara bertingkat yang
pada akhirnya diperoleh elektron yang cukup banyak pada kolektor. Elektron yang
cukup banyak ini selanjutnya dapat dialirkan ke rangkaian elektronik berikutnya.
Jadi dari seberkas sinar gamma yang lemah dapat dideteksi keberadaannya setelah
dilewatkan proses di dalam PMT.
Alat SGR dikalibrasi menggunakan 4 sumber komposisi yang diketahui
secara akurat, masing-masing hanya mengandung K 40, U238, Th232, dan satu
mengandung campuran. Setiap sumber ditempatkan di samping detektor dan alat
(tool) digunakan untuk melakukan pengukuran. Kalibrasi ini dirancang
sedemikian rupa sehingga pembacaan dikalibrasi secara akurat pada alat
melaporkan perbedaan jumlah radiasi dari masing-masing sumber radiasi, dan
rata-rata total penghitungan dikalibrasi dengan test pit Houston.
Source: http://earth44.blogspot.co.id/2014/02/gamma-ray-log_13.html

CEMENT BOND LOG

Kegiatan Run CBL (Cement Bond Log) bertujuan untuk mengetahui


kualitas penyemenan awal agar dapat diketahui daerah yang belum tersemen
dengan baik. Cement yang tidak terdistribusi dengan baik dapat mengakibatkan
terjadinya komunikasi antara zona produktif dengan zona air. Jika ini terjadi
kandungan air yang terangkat kepermukaan akan tinggi.
Data log CBL dapat mengidentifikasi rongga yang ada dalam anulus
casing dengan formasi, rongga inilah yang harus diperbaiki sebelum melakukan
perforasi dan produksi sumur. Untuk mengisi rongga tersebut maka dilakukan
penyemenan ulang yang dalam pelaksanaanya bisa dilakukan dengan cara squeeze
cementing .Data log CBL tersebut dapat diketahui berapa panjang interval kolom
cement yang harus diperbaiki.
Prinsip pengukuran CBL adalah merekam harga transit time dan amplitudo
dari gelombang akustik yang dipancarkan oleh transmitter setelah merambat
melalui dinding casing dan fluida pada lubang bor. Semakin rapat hasil cement
maka gelombang yang dikeluarkan akan semakin kecil ( 0-30 mV) sedangkan
semakin teridentifikasi adanya rongga pada kolom cement maka gelombang yang
dikeluarkan semakin besar (> 30 mV). CBL tools alat ini dapat mengidentifikasi
kerapatan cement yang berada dalam annulus, sehingga dapat ditentukan daerah
yang memiliki kerapatan cement yang kurang baik (bad bonding).
Source: http://migasnet04sholeh779.blogspot.co.id/2009_06_01_archive.html