Anda di halaman 1dari 18

IDENTIFIKASI DAN PENGUKURAN RESIKO

Dosen: Prof. Dr. Cepi Pahlevi, S.E., M.Si.

disusun oleh :
Septian Thahir (P2100215005)
Siti Aminah
(P2100215020)

MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manajemen risiko merupakan salah satu elemen penting dalam menjalankan
bisnis perusahaan karena semakin berkembangnya dunia perusahaan serta
meningkatnya kompleksitas aktivitas perusahaan mengakibatkan meningkatnya
tingkat risiko yang dihadapi perusahaan. Sasaran utama dari implementasi
manajemen risiko adalah melindungi perusahaan terhadap kerugian yang mungkin
timbul. Lembaga perusahaan mengelola risiko dengan menyeimbangkan antara
strategi bisnis dengan pengelolaan risikonya sehingga perusahaan akan mendapatkan
hasil optimal dari operasionalnya.
Kita harus bisa menemukan kerugian potensial yang mungkin
terjadi dan mencari cara untuk menangani risiko tersebut. Dunia
bisnis pun tak luput dari ketidakpastian. Ketidakpastian dalam dunia
bisnis akan menyebabkan terjadinya risiko bisnis. Perusahaan
merencanakan untuk menggencarkan promosi produknya dengan
harapan penjualanya dapat meningkat. Dengan analisis yang
mendalam diperkirakan penjualan setelah adanya promosi besarbesaran

tersebut

dapat

meningkat

sebanyak

20%.

Tetapi

kenyataanya penjualan hanya dapat meningkat 10%. Ini merupakan


salah satu bentuk risiko yang terjadi dalam dunia bisnis. Risiko

dalam bisnis tidak bisa diabaikan begitu saja. Perusahaan perlu


menganalisis
tersebut

kemungkinan

kemudian

menanggulanginya.

kerugian

mengevaluasi
Dengan

potensi

dan

demikian

dalam

mencari

diharapkan

bisnisnya

cara

untuk

bisnis

yang

dijalaninya dapat sukses meraih tujuan dengan mudah. Risiko


merupakan sesuatu yang pasti akan terjadi ketika kita melakukan
suatu tindakan. Risiko adalah berbagai kemungkinan yang terjadi
pada periode tertentu. Risiko sering dikaitkan dengan kerugian. Jadi
risiko adalah ketidakpastian yang mungkin melahirkan kerugian
atau peluang terjadi sesuatu yang bad outcame.
Setiap organisasi perusahaan selalu menanggung risiko.
Risiko, bisnis, kecelakaan kerja, bencana alam, perampokan, dan
pencurian, kebangkrutan adalah beberapa contoh dari risiko yang
lazim terjadi di berbagai perusahaan. Terutama perusahaan yang
tidak melakukan tindakan apa-apa, bahkan tindakan preventif pun
tidak dilakukan. Perusahaan ini tidak melakukan tindakan untuk
pencegahan risiko yang akan timbul nantinya.
1.1 Rumusan masalah
1.
2.
3.
4.

Apa
Apa
Apa
Apa

pengertian dan pentingnya pengukuran resiko?


saja teknik dalam pengukuran resiko??
saja jenis pengukuran resiko?
manfaat pengukuran resiko?

1.2 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui Apa pengertian dan pentingnya pengukuran
resiko
2. Untuk mengetahui Apa saja teknik dalam pengukuran resiko
3. Untuk mengetahui Apa saja jenis pengukuran resiko
4. Untuk mengetahui Apa manfaat pengukuran resiko

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 RISIKO :
Risiko adalah suatu ketidakpastian akan terjadinya suatu peristiwa yang dapat
menimbulkan kerugian.
Klasifikasi Risiko :
1. Risiko murni (Pure risk) :
Adalah suatu peristiwa yang apabila terjadi selalu menimbulkan kerugian atau paling
tidak, break even (tidak untung dan tidak rugi).
Contoh : kebakaran, gempa bumi, banjir, huruhara, kecelakaan dsb.
2. Risiko spekulatif (Speculative risk) :
Adalah suatu peristiwa yang apabila terjadi dapat menimbulkan kerugian, break even
(tidak untung dan tidak rugi) bahkan bisa mendatangkan keuntungan.
Contoh : pemasaran produk baru, meningkatkan harga jual dsb.
3. Risiko fundamental (Fundamental risk) :
Adalah suatu peristiwa dimana sebab maupun akibat yang ditimbulkannya bukan
berasal dari individu dan dampaknya pada umumnya menimpa orang banyak dan
biasanya bersifat katastropal (dalam skala besar).
Risiko ini dapat timbul dari :

a. Peristiwa-peristiwa phisik tertentu yang terjadi diluar kemampuan seseorang.


Contoh : gempa bumi, banjir, angin topan.
b. Sifat masyarakat atau gejala masyarakat dimana kita hidup.
Contoh : perang, inflasi, perubahan mode.
4. Risiko partikular (Particular risk) :
Adalah suatu risiko yang penyebabnya dilakukan oleh individu-individu dan
dampaknya terbatas.
Contoh : kebakaran, pencurian, kecelakaan dsb.
Klasifikasi umum dari perils :
a. Natural Perils : corrotion, erosion, earthquake, flood, hail, landslide, lightning, rust,
volcanic eruption, wind (tornado, hurricane, typhoon, tempest), dll.
b. Human Perils : Arson, changes of temperature, chemical leakage, contamination,
dust, electrical overload, explosion, fire and smoke, extortion, pollution, radioactive
contamination, riot, sabotage, strikes, terrorism, shrinkage, theft, forgery, fraud,
malicious, vandalism, war, vibration, dll.
c. Economic Perils : changes in consumer tastes, currency fluctuation, depreciation,
inflation, obsolescence, recession, stock market declines, technological advances,
expropriation, confiscation dll.
2.2 IDENTIFIKASI DAN PENGUKURAN RISIKO
Jika risiko tidak bisa diidentifikasi, maka risiko tidak bisa diukur. Jika risiko tidak
bisa diukur, maka kita tidak bisa mengelola risiko.

Manajemen Risiko Adalah sistem pengawasan risiko dan perlindungan atas harta
benda, keuntungan, serta keuangan suatu Perusahaan atas kemungkinan timbulnya
suatu kerugian karena adanya risiko tersebut atau dengan kata lain,
Manajemen risiko adalah suatu proses mengidentifikasi, mengukur risiko, serta
membentuk strategi untuk mengelolanya melalui sumber daya yang tersedia. Strategi
yang dapat digunakan antara lain mentransfer risiko pada pihak lain, menghindari
risiko, mengurangi efek buruk dari risiko dan menerima sebagian maupun seluruh
konsekuensi dari risiko tertentu.
Tujuan Manajemen Risiko :
Menekan atau menghapuskan risiko yang apabila terjadi dapat mengakibatkan
kerugian atau tidak dapat tercapainya tujuan Perusahaan.
Kebutuhan untuk Manajemen Risiko :
1. Mengerti risiko, potensi tingkat dampaknya atas frekuensi terjadinya insiden
yang tidak dapat diterima.
2. Semua Manajer harus memperhatikan dan mengelola risiko yang merupakan
bagian dari pekerjaannya sehari-hari.
Proses Manajemen Risiko :
1. Identifikasi risiko.
2. Analisa dan evaluasi terhadap risiko yaitu mengukur, mengendalikan, mengurangi
risiko.
3. Penanganan / treatment risiko.

4. Monitor / pengawasan risiko dan review.


5. Komunikasi dan konsultasi.
2.3 Proses Manajemen Resiko:
I. Identifikasi Risiko
Proses ini meliputi identifikasi risiko yang mungkin terjadi dalam suatu
aktivitas usaha. Identifikasi risiko secara akurat dan komplet sangatlah vital dalam
manajemen risiko. Salah satu aspek penting dalam identifikasi risiko adalah
mendaftar risiko yang mungkin terjadi sebanyak mungkin. Teknik-teknik yang dapat
digunakan dalam identifikasi risiko antara lain:
Brainstorming
Survei
Wawancara
Informasi historis
Kelompok kerja, dll.
II. Analisa Risiko
Setelah melakukan identifikasi risiko, maka tahap berikutnya adalah
pengukuran risiko dengan cara melihat potensial terjadinya seberapa besar severity
(kerusakan) dan probabilitas terjadinya risiko tersebut. Penentuan probabilitas
terjadinya suatu event sangatlah subyektif dan lebih berdasarkan nalar dan
pengalaman. Beberapa risiko memang mudah untuk diukur, namun sangatlah sulit
untuk memastikan probabilitas suatu kejadian yang sangat jarang terjadi. Sehingga,

pada tahap ini sangtalah penting untuk menentukan dugaan yang terbaik supaya
nantinya kita dapat memprioritaskan dengan baik dalam implementasi perencanaan
manajemen risiko.
Kesulitan dalam pengukuran risiko adalah menentukan kemungkinan terjadi
suatu risiko karena informasi statistik tidak selalu tersedia untuk beberapa risiko
tertentu. Selain itu, mengevaluasi dampak severity (kerusakan) seringkali cukup sulit
untuk asset immateriil.
Dampak

Biaya

Waktu

Kualitas

Sangat

Dana

agak menyimpang

kualitas agak

Rendah

mencukupi

dari target

berkurang namun
masih dapat
digunakan

Rendah

Sedang

Tinggi

membutuhkan

agak menyimpang

gagal untuk memenuhi

dana tambahan

dari target

janji pada stakeholde

membutuhkan

Penundaan

beberapa fungsi tidak

dana tambahan

berdampak terhadap

dapat dimanfaatkan

membutuhkan

stakeholder
gagal memenuhi

gagal untuk memenuhi

dana tambahan yang

deadline

kebutuhan banyak

signifikan

stakeholder

Sangat

membutuhkan

penundaan merusak

proyek tidak efektif

tinggi

dana tambahan yang

proyek

dan tidak berguna

substansial

Setelah mengetahui probabilitas dan dampak dari suatu risiko, maka kita dapat
mengetahui potensi suatu risiko. Untuk mengukur bobot risiko kita dapat
menggunakan skala dari 1-5 sebagai berikut seperti yang disarankan oleh JISC
infoNet:
Skala
1 Sangat rendah

Probabilitas
hampir tidak mungkin

Dampak
terjadi dampak kecil

2 rendah

kadang terjadi

dampak

3 sedang

mungkin tidak terjadi

waktu dan kualitas


dampak sedang pada biaya,

kecil

pada

biaya,

waktu dan kualitas


4 Tinggi

sangat mungkin terjadi

dampak substansial pada


biaya, waktu dan

5 sangat tinggi

hampir pasti

kualitas
terjadi mengancam kesuksesan
proyek

III. Pengelolaan risiko


Jenis-jenis cara mengelola risiko:

1. Risk avoidance
Yaitu memutuskan untuk tidak melakukan aktivitas yang mengandung risiko sama
sekali. Dalam memutuskan untuk melakukannya, maka harus dipertimbangkan
potensial keuntungan dan potensial kerugian yang dihasilkan oleh suatu aktivitas.
2. Risk reduction
Risk reduction atau disebut juga risk mitigation yaitu merupakan metode yang
mengurangi kemungkinan terjadinya suatu risiko ataupun mengurangi dampak
kerusakan yang dihasilkan oleh suatu risiko.
3. Risk transfer
Yatu memindahkan risiko kepada pihak lain, umumnya melalui suatu kontrak
(asuransi) maupun hedging.
4. Risk deferral
Dampak suatu risiko tidak selalu konstan. Risk deferral meliputi menunda aspek
suatu proyek hingga saat dimana probabilitas terjadinya risiko tersebut kecil.
5. Risk retention
Walaupun risiko tertentu dapat dihilangkan dengan cara mengurangi maupun
mentransfernya, namun beberapa risiko harus tetap diterima sebagai bagian penting
dari aktivitas.
IV. Penanganan risiko
1. High probability, high impact : risiko jenis ini umumnya dihindari ataupun
ditransfer.

2. Low probability, high impact : respon paling tepat untuk tipe risiko ini adalah
dihindari. Dan jika masih terjadi, maka lakukan mitigasi risiko serta
kembangkan contingency plan.
3. High probability, low impact : mitigasi risiko dan kembangkan contingency
plan
4. Low probability, low impact : efek dari risiko ini dapat dikurangi, namun
biayanya dapat saja melebihi dampak yang dihasilkan. Dalam kasus ini
mungkin lebih baik untuk menerima efek dari risiko tersebut.
5. Contingency plan: Untuk risiko yang mungkin terjadi maka perlu
dipersiapkan contingency plan seandainya benar-benar terjadi. Contingency
plan haruslah sesuai dan proporsional terhadap dampak risiko tersebut. Dalam
banyak kasus seringkali lebih efisien untuk mengalokasikan sejumlah sumber
daya untuk mengurangi risiko dibandingkan mengembangkan contingency
plan yang jika diimplementasikan akan lebih mahal. Namun beberapa
scenario memang membutuhkan full contingency plan, tergantung pada
proyeknya. Namun jangan sampai tertukar antara contingency planning
dengan re-planning normal yang memang dibutuhkan karena adanya
perubahan dalam proyek yang berjalan.
V. Implementasi Manajemen Risiko
Setelah memilih respon yang akan digunakan untuk menangani risiko, maka
saatnya untuk mengimplementasikan metode yang telah direncanakan tersebut.
VI. Monitoring Risiko

Mengidentifikasi, menganalisa dan merencanakan suatu risiko merupakan


bagian penting dalam perencanaan suatu proyek. Namun, manajemen risiko tidaklah
berhenti sampai disana saja. Praktek, pengalaman dan terjadinya kerugian akan
membutuhkan suatu perubahan dalam rencana dan keputusan mengenai penanganan
suatu risiko. Sangatlah penting untuk selalu memonitor proses dari awal mulai dari
identifikasi risiko dan pengukuran risiko untuk mengetahui keefektifan respon yang
telah dipilih dan untuk mengidentifikasi adanya risiko yang baru maupun berubah.
Sehingga, ketika suatu risiko terjadi maka respon yang dipilih akan sesuai dan
diimplementasikan secara efektif.

2.4 Siklus Manajemen Risiko :


Pertama kali resiko perlu diidentifikasikan, kemudian dipelajari karakteristik
dari risiko tersebutm serta melakukan evaluasi. Pemahaman akan karakteristik
tersebut digunakan untuk merumuskan metode yang tepat untuk mengelola risiko
tersebut. Berikutnya melakukan prioritisasi risiko, mengukur tinggi rendahnya risiko
dan dampak risiko terhadap perusahaan (kuantifikasi), kemudian risiko difokuskan
kepada risiko yang paling relevan atau berdampak paling besar bagi perusahaan,
kemudian mengelola resiko tersebut. Setela pengelolaan dilakukan revisit atau
kaji/evaluasi ulang tahapan yang sudah dilakukan, untuk meningkatkan efektifitas
manajemen risiko.

TEHNIK IDENTIFIKASI RISIKO


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Analisis Sekuen Risiko


Identifikasi Sumber-Sumber Risiko
Melihat Laporan Keuangan
Analisis Flow Chart Kegiatan Dan Operasi Perusahaan
Analisis Kontrak
Catatan Statistik Kerugian Perusahaan
Survey/Wawancara Terhadap Manajer Perusahaan

Risiko mempunyai sekuen dari sumber risiko sampai kemudian munculnya


kerugian karena risiko tsb. Conoth, ada sumber risiko yaitu api. Api bisa
menyebabkan kebakaran. Kemudian ada faktor risiko yang menjadi katalis, yaitu
mempercepat/memperbesar kemungkinan munculnya kejadian yang tidak diinginkan.
Misal. Minyak tanah ditaruh dekat kompor. Situasi tsb meningkatkan kemungkinan
terjadinya kebakaran. Jika terjadi kebakaran maka gedung yang ditempati kompor
akan terbakar. Dengan kata lain, gedung tersebut menghadapi eksposur thd risiko
kebakaran, kemudian terjadi peril (kejadian yg tidak diinginkan) yaitu kebakaran yg
mengakibatkan kerugian.
Melalui analisis sekuen tsb, kita bisa melakukan pencegahan munculnya peril
dengan fokus pada sekuen yg terjadi. Contoh, api mungkin tidak bisa dihilangkan,
tapi kita bisa mengendalikan risiko dengan menjauhkan minyak tanah dari kompor,

atau menggunakan kompor listrik, atau memasang tabung pemadam kebakaran, atau
memasang alarm asap kebakaran.
2.5 IDENTIFIKASI SUMBER-SUMBER RISIKO
a. LINGKUNGAN FISIK: bangunan yang dimakan usia sehingga menjadi
rapuh, sungai yang bisa menyebabkan banjir, gempa bumi, badai, topan,
vandalism (pengrusakan).
b. LINGKUNGAN SOSIAL: kerusuhan sosial, demonstrasi, konflik dengan
masyarakat local, pemogokan pegawai, pencurian, perampokan.
c. LINGKUNGAN POLITIK: perubahan perundangan, perubahan peraturan,
konflik antar Negara yang mendorong boikot produk perusahaan.
d. LINGKUNGAN LEGAL: gugatan karena gagal mematuhi peraturan dan
perundangan yang berlaku
e. LINGKUNGAN OPERASIONAL: kecelakaan kerja, kerusakan mesin,
kegagalan sistem computer, serangan virus terhadap komputer
f. LINGKUNGAN EKONOMI: kelesuan ekonomi (resesi), inflasi yang tidak
terkendali.
g. KONSUMEN : keluhan dari konsumen yang mengakibatkan kekecewaan dan
tidak mau lagi membeli produk perusahaan, konsumen merasa dirugikan
kemudian menuntut perusahaan
h. SUPLIER : pasokan dari supplier tidak datang sesuai dengan yang diharapkan
(terlambat atau spesifikasinya berbeda)
i. PESAING : pesaing meluncurkan produk baru yang lebih baik, pesaing
menurunkan harga yang bisa mengakibatkan persaingan harga yg menurunkan
tingkat keuntungan perusahaan

j. REGULATOR : perusahaan gagal mematuhi peraturan atau perundangan yang


berlaku, perubahan perundangan yang berlaku yang mengakibatkan
perusahaan merugi (misal upah minimum naik, aturan pesangon, dsb).

2.6 Teknik pendukung lain untuk mengidentifikasi risiko :


a. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN, Melihat rekening-rekening dalam
laporan keuangan, Menganalisis risiko-risiko yang bisa muncul dari rekeningrekening tersebut, Misal, kas. Risiko apa saja yang bisa muncul dari kas
tersebut??, Hutang. Risiko apa saja yang bisa muncul dari hutang??
b. ANALISIS FLOW CHART OPERASI PERUSAHAAN, Metode ini berusaha
melihat sumber-sumber risiko dari flow-chart kegiatan dan operasi
perusahaan.Metode sangat sesuai untuk risiko tertentu, seperti risiko dari
proses produksi. Proses produksi dimulai dari masuknya input tertentu,
pengerjaan input tersebut, sampai menjadi output tertentu. Dalam rangkaian
kegiatan produksi tersebut, ada kemungkinan munculnya kejadian yang tidak
diinginkan, misal kecelakaan kerja, kerusakaan mesin, dan sebagainya.
Dengan mengamati rangkaian prosesnya, kita akan bisa melihat atau

melokalisir terjadinya kejadian tersebut, kemudian bisa mengidentifikasi


sumber risiko yang menyebabkan kejadian negatif tersebut.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen resiko adalah


suatu proses mengidentifikasi, mengukur resiko, serta membentuk strategi untuk
mengelolanya melalui sumber daya yang tersedia.
Manajemen resiko adalah bagian penting dari strategi manajemen semua
wirausaha. Proses di mana suatu organisasi yang sesuai metodenya dapat
menunjukkan resiko yang terjadi pada suatu aktivitas menuju keberhasilan di dalam
masing-masing aktivitas dari semua aktivitas. Fokus dari manajemen resiko yang
baik adalah identifikasi dan cara mengatasi resiko

DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia
https://acc.dau.mil/
http://ahds.ac.uk
http://www.jiscinfonet.ac.uk/InfoKits/risk-management
http://chiruluma558.blogspot.co.id/