Anda di halaman 1dari 17

Fraktur Transversa Antebrachii Dextra Tengah

dengan Sindrom Kompartemen


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Arjuna
Utara No.6 Kebon-Jeruk-Jakarta Barat 15510
Pendahuluan
Fraktur tulang memiliki pengertian sehubungan dengan hilangnya kontinuitas
tulang, tulang rawan, dan tulang sendi. Berdasarkan klasifikasi secara klinis fraktur
dibagi menjadi dua jenis yaitu fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Fraktur terbuka
adalah fraktur yang berhubungan dengan lingkungan eksternal. Pada fraktur terbuka
ujung tulang yang patah menembus kulit hingga keluar dari bagian tubuh. Sebaliknya,
fraktur tertutup adalah frakur yang tidak berhubungan dengan lingkungan eksternal.
Pada fraktur tertutup tulang yang patah tidak menembus kulit dan tetap berada dalam
bagian tubuh.1 Pada kehidupan sehari-hari ada banyak hal yang dapat menyebabkan
fraktur, mulai dari kecelakaan lalu lintas, terjatuh, penyakit, dsb. Lokasi fraktur pun
beragam, mulai dari fraktur pada femur, regio antebrachii, dan tempat-tempat lainnya.
Dalam PBL kali ini, terdapat kasus mengenai seorang laki-laki berusia 30 tahun
yang dibawa ke UGD RS dengan keluhan nyeri pada lengan bawahnya setelah
terjatuh dari sepeda motornya satu hari yang lalu. Setelah kecelakaan tersebut,
keluarga pasien membawanya kedukun patah tulang untuk diurut. Saat dibawa ke
UGD, pasien mengeluh lengan kanananya sangat nyeri dan tangan kanannya terasa
baal. Pada pemeriksaan fisik tanda-tanda vital dalam batas norma, regio antebrachii
dekstra tengah tampak edema, hyperemis, deformitas. Pada palpasi, nyeri tekan
positif, teraba krepitasi, pulsasi a.Radialis melemah, jari-jari tangan kanan masih
dapat digerakan, akan tetapi terasa sangat nyeri apabila diekstensikan. Berdasarkan
kasus tersebut, pada makalah kali ini akan dijelaskan lebih lengkap mengenai fraktur
terutama fraktur pada regio antebrachii. Semoga makalah kali ini dapat membantu
mahasiswa FK Universitas Kristen Krida Wacana lebih memahami lagi materi yang
terkait dengan kasus diatas.

Pembahasan
Anamnesis
Anamnesis dapat dilakukan kepada pasien secara langsung apabila kondisinya
memungkinkan, namun dapat ditanyakan pula pada orang terdekat atau orang yang
mengantar pasien ke dokter. Sesuai dengan kasus, pertanyaan yang diajukan dapat
meliputi identitas diri, keluhan utama, sejak kapan keluahan utama muncul, keluhan
lain yang mungkin dirasakan, riwayat penyakit yang diderita saat ini, riwayat penyakit
dahulu, pengobatan yang sudah dilakukan dan kondisi sosial ekonomi pasien.
Didapatkan hasil anamnesis sebagai berikut:
Usia
Keluhan Utama
Riwayat Penyakit Sekarang

: 30thn
: Nyeri pada lengan kanannya setelah
terjatuh dari sepeda motor satu hari
yang lalu
: Tangan kanan baal dan lengan kanan

Riwayat Penyakit Dahulu

nyeri
: Pernahkah pasien merasakan nyeri di

Pengobatan yang telah dilakukan

tempat yang sama? Pernahkah pasien


mengalami trauma yang sama?
Adakah faktor patologis?
: Urut di dukun patah tulang

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan meliputi pemeriksaan tanda-tanda vital
(nadi, tekanan darah, suhu, dan pernapasan) dan pemeriksaan muskuloskeletal
(inspeksi-look, palpasi-feel, gerakan-moving). Inspeksi (look) ditujukan untuk melihat
adanya deformitas atau kelainan bentuk seperti bengkak, pemendekan, rotasi,
angulasi, dan fragmen tulang (pada fraktur terbuka). Pada palpasi (feel) akan dilihat
jika ada nyeri tekan, krepitasi, status neurologis dan status vaskuler. Adanyanya
keterbatasan gerak pada daerah faktur menjadi salah satu peninjauan dari pemeriksaan
gerakan (moving).2

Dari hasil pemeriksaan didapatkan:


Tanda-tanda vital

: Normal

Inspeksi

: edema (+), hyperemis (+), deformitas

Palpasi

: nyeri tekan (+), krepitasi (+), pulsasi a.Radialis


Melemah

Gerakan

: Jari-jari tangan masih dapat digerakan, tetapi terasa


sangat nyeri

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Rontgen
Cr unit (computed radiografi) digunakan untuk proses cetak foto rontgen dengan
teknologi komputer dan laser scanner menghasilkan gambar berkualitas tinggi.
Menjamin ketepatan dan kecepatan hasil diagnosa. Alat ini dilengkapi Master View
yang dapat menyimpan data pasien dan foto rontgen hasil pemeriksaan serta dapat
dicetak ulang apabila diperlukan. Fasilitas peralatan mammografi memiliki kualitas
dan resolusi.3
Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk mempelajari gambaran normal tulang
dan sendi, untuk konfirmasi adanya fraktur, untuk melihat sejauh mana pergerakan
dan konfigurasi fragmen serta pergerakannya, untuk menentukan teknik pengobatan,
untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak, untuk menentukan apakah
fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler, untuk melihat adanya keadaan patologis
lain pada tulang, dan untuk melihat adanya benda asing (misalnya peluru).
2. Pemeriksaan CT Scan
Prosedur pemeriksaan ini dapat menunjukan rincian bidang tertentu dari tulang
yang sakit dan dapat memperlihatkan cedera ligamen atau tendon dan tumor jaringan
lunak. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengidentifikasikan lokasi dan panjangnya
patah tulang di daerah yang sulit dievaluasi.2
3. MRI
MRI memberikan kontras yang baik antara rangkaian perisian tubuh yang
berbeda, yang membuatnya sangat berguna dalam pengimejan otak, otot, jantung, dan
kanser berbanding dengan yang lain teknik pengimejan perubatan seperti computed
tomography (CT) atau sinar-X. Tidak seperti CT scan atau tradisional X-ray, MRI
tidak menggunakan.4

4. Pemeriksaan Laboratorium
Pada fraktur, pemeriksaan laboratorium yang perlu diketahui adalah Hb dan
hematokrit sering rendah akibat perdarahan, laju endap darah (LED) meningkat bila
kerusakan jaringan lunak sangat luas. Pada masa penyembuhan fraktur, kadar kalsium
serum dan fosfor akan meningkat didalam darah. Kadar normal kalsium serum adalah
4.5-5.5 mg/l atau 8.0-20.5 mg/dl, sedangkan kadar normal fosfor adalah 2.5-4.0 mg/dl
dalam serum.2
Ada 4 Macam Fraktur:
Fraktur adalah terputusnya keutuhan tulang yang umumnya disebabkan karena
trauma.
1. Fraktur Galeazzi
Fraktur Galeazzi adalah fraktur ulna sepertiga-tengah atau proksimal dengan
disertai dislokasi caput radii. Fraktur ini dapat terjadi saat pasien jatuh dengan tangan
terbuka yang menahan badan, terjadi pula rotasi lengan bawah dalam posisi pronasi
waktu menahan berat badan yang memberi gaya supinasi. Biasanya pada anak-anak
muda laki-laki, jatuh dengan tangan terbuka menahan badan dan terjadi pula rotasi.
Hal ini menyebabkan patah pada radius 1/3 distal dan fragmen distal-proksimal
mengadakan angulasi ke anterior. 5
Gambaran klinis yang dapat ditemui adalah tangan bagian distal dalam posisi
angulasi ke dorsal. Selain itu, pada pergelangan tangan dapat diraba tonjolan ujung
distal ulna. Terapi dapat dilakukan dengan reposisi tertutup. Bila hasilnya baik,
dilakukan immobilisasi dengan gips sirkular di atas siku, dipertahankan 4-6 minggu.
Biasanya hasil reposisi tertutup hasilnya kurang baikm, karena fraktur tidak stabil.
Dalam hal ini diperlukan tindakan operasi reposisi terbuka dengan internal fiksasi.
Tulang radius, dipasang plate-screw atau untramedullary nail. Kalau radius sudah
tereposisi dengan sendirinya dislokasi sendi radius ulna distal akan tereposisi. 5

Gambar 1. Fraktur Galeazzi


2. Fraktur Monteggia
Merupakan fraktur sepertiga proksimal ulna disertai dislokasi sendi radius ulna
proksimal. Fraktur tipe ini dibagi menjadi empat jenis. Jenis pertama merupakan
4

fraktur tengah atau proksima ulna dengan angulasi anterior disertai dislokasi
anterior kaput radius. Jenis kedua, fraktur tengah atau proksimal ulna dengan
angulasi posterior disertai dislokasi posterior kaput radii dan fraktur kaput radii. Jenis
ketiga fraktur ulna distal processes coracoideus dengan dislokasi lateral kaput radio.
Terakhir , fraktur ulna tengah atau proksimal ulna dengan dislokasi anterior kaput
radii dan fraktur proksimal radii di bawah tuberositas bicipitalis. 5
Terapi yang dapat dilakukan adalah dengan reposisi tertutup. Asisten memegang
lengan atas, penolong melakukan tarikan lengan bawah ke distal, kemudian diputar ke
arah supinasi penuh. Setelah itu, dengan jari kepala radius dicoba ditekan ke tempat
semula. Imobiliasi gips sirkuler dilakukan di atas siku dengan posisi siku fleksi 90
dejarat dan posisi lengan bawah supinasi penuh. Bila gagal, dilakukan reposisi
terbuka dengan pemasangan fiksasi interna (plate-screw).5

Gambar 2. Fraktur Monteggia


3. Fraktur Smith
Fraktur Smith merupakan fraktur dislokasi ke arah anterior (volar), karena itu
sering disebut reverse Colles fracture. Fraktur ini biasa terjadi pada orang muda.
Pasien jatuh dengan tangan menahan badan sedang posisi tangan dalam keadaan volar
fleksi pada pergelangan tangan dan pronasi. Garis patahan biasanya transversal,
kadang-kadang intraartikular. Dapat ditemukan penonjolan dorsal fragmen proksimal,
fragmen distal di sisi volar pergelangan, dan deviasi tangan ke radial (garden spade
deformity). Dilakukan reposisi dengan posisi tangan diletakkan dalam posisi
dorsofleksi ringan, deviasi ulnar, dan supinasi maksimal (kebalikan posisi Colles).
Lalu diimobilisasi dengan gips di atas siku selama 4-6 minggu.6

Gambar 3. Fraktur Smith

4. Fraktur Colles
Deformitas pada fraktur ini berbentuk seperti sendok (dinner fork deformity).
Pasien terjatuh dalam keadaan tangan terbuka dan pronasi, tubuh beserta lengan
berputar ke dalam (endorotasi). Tangan terbuka yang terfiksasi di tanah berputar
keluar (eksorotasi/supinasi). Fraktur Metafisis distal radius dengan jarak 2,5 cm dari
permukaan sendi distal radius. Kemudian terdapat adanya dislokasi fragmen distalnya
ke arah posterior/dorsal dengan terdapat subluksasi sendi radioulnar distal. Adanya
avulsi prossesus stiloideus ulna.6
Pada fraktur Colles tanpa dislokasi hanya diperlukan imobilisasi dengan
pemasangan gips psirkular di bawah siku selama 4 minggu. Bila disertai dislokasi
diperlukan tindakan reposisi tertutup. Dilakukan dorsofleksi fragmen distal, traksi
kemudian posisi tangan volar fleksi, deviasi ulna (untuk mengoreksi deviasi radial)
dan diputar ke arah pronasio (untuk mengoreksi supinasi). Imobilisasi ini dilakukan
selama 4-6 minggu.6

Gambar 4. Fraktur Colles


Working Diagnosis
Working Diagnosis yang diambil adalah fraktur tertutup regio antebrachii dekstra
tegah dengan kompartemen sindrom. Diagnosis ini dapat diambil atas dasar
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang serta adanya gejala klinis
yang sesuai. Dari hasil anamnesis diperoleh informasi bahwa adanya riwayat trauma.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan gejala-gejala klinis seperti nyeri, pembengkakan
atau edema, adanya krepitasi, dan pulsasi arteri radialis yang melemah. Tanda-tanda
tersebut menunjukan adanya fraktur yang disertai dengan sindroma kompartemen.
Selain itu detemukan juga gejala lain seperti rasa nyeri saat menggerakan jari-jari
tangan. Pada pemeriksaan penunjang ditemukan adanya fraktur di regio antebrachii
dekstra tengah yang sangat menunjang diagnosis kerja.

4.1 Etiologi
Tulang bersifat relatif rapuh namun mempunyai cukup kekuatan dan gaya pegas
untuk menahan tekanan. Fraktur dapat diakibatkan oleh beberapa hal, diantara
dikarenakan peristiwa trauma, peristiwa kelelahan, ataupun karena faktor patologis.
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang dapat
berupa pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran, atau pun penarikan.
Trauma tersebut bisa didapat dari bermacam aktifitas seperti terjatuh, kecelakaan lalu
lintas, dsb. Bila tekanan kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang
terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak.
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain akibat
tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering dikemukakan pada tibia, fibula
atau matatarsal terutama pada atlet, penari atau calon tentara yang berjalan barisberbaris dalam jarak jauh. Sementara itu fraktur patologik dikarenakan kelemahan
pada tulang. Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut
lunak (misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh.
4.2 Patofisologi
Untuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami kepatahan, kita
harus mengetahui keadaan fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan
tulang patah. Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan
tekanan memuntir (shearing). Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang
menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar dan tarikan.7
Trauma bisa bersifat langsung dan tidak langsung. Trauma langsung menyebabkan
tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang
terjadi biasanya bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.
Disebut trauma tidak langsung apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh
dan daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur
pada klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.
Tekanan pada tulang dapat berupa tekanan berputar yang menyebabkan fraktur
bersifat spiral atau oblik, tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur
transversal, tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi;
dislokasi atau fraktur dislokasi, kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur
komunitif atau memecah. Trauma langsung disertai dengan resistensi pada satu jarak

tertentu akan menyebabkan fraktur oblik atau fraktur Z. Trauma karena tarikan pada
ligamen atau tendo akan menarik sebagian tulang.

Gambar 5. Bentuk-Bentuk Fraktur Akibat Trauma dan Tekanan


4.3 Klasifikasi dan Jenis Fraktur8
4.3.1 Berdasarkan Luas dan Garis Fraktur
Klasifikasi dan jenis fraktur berdasarkan luas dan garis fraktur terdiri dari
fraktur komplit dan fraktur tidak komplit. Fraktur komplit adalah kondisi fraktur
dimana garis patah tulang. melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua
korteks tulang. Sementara itu fraktur tidak komplit adalah kondisi fraktur dimana
garis patah tulang tidak melalui seluruh garis penampang tulang.
Fraktur tidak komplit meliputi Hairline fracture (patah retak rambur), Buckle
fracture atau torus fracture, Greenstick, fraktur kominit (garis patah lebih dari satu
dan saling berhubungan), fraktur segmental (garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan), fraktur Multipel (garis patah lebih dari satu tapi pada tulang yang
berlainan tempatnya). Buckle fracture atau torus fracture adalah kondisi bila terjadi
lipatan pada satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya, biasanya
pada distal radius anak-anak. Greenstick yaitu patah tulang yang terjadi pada anakanak atau pada dewasa yang disebut dengan fraktur inkomplit. Fraktur tulang hanya
mengenai salah satu sisi korteks tulang.

4.3.2

Gambar 6. Fraktur Komplit dan Tidak Komplit


Berdasarkan Bentuk dan Jumlah Garis Patah
Berdasarkan bentuk dan jumlah garis patah, fraktur terdiri dari fraktur

kominit (garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan), fraktur segmental (garis
patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan), dan fraktur multipel (garis patah lebih
8

dari satu tapi pada tulang yang berlainan tempatnya, misalnya fraktur humerus,
fraktur femur dansebagainya).
4.3.3 Berdasarkan Posisi Fragmen
Berdasarkan posisi fragmen dibagi menjadi undisplaced (tidak bergeser)
fraktur dimana garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser dan
Displaced (bergeser) fraktur dimana terjadi pergeseran antara dua fragmen fraktur.

4.3.4

Gambar 7. Fraktur Undisplaced dan Displaced


Berdasarkan Hubungan Fraktur dengan Dunia Luar
Berdasarkan hubungan fraktur dengan dunia luar dibagi menjadi tertutup dan

terbuka. Fraktur tertutup yaitu fraktur tulang masih berada di dalam tubuh dan tidak
adanya perlukaan pada kulit. Fraktur terbuka yaitu fraktur tulang keluar dari tubuh
menembus kulit yang disertai dengan adanya perlukaan pada kulit.

4.3.5

Gambar 8. Fraktur Tebuka dan Tertutup


Berdasarkan Bentuk Garis Fraktur dan Hubungan dengan Mekanisme
Trauma
Transversal yaitu patah yang melintangi tulang, biasanya disebabkan

hantaman keras dan sering terjadi pada lengan dan kaki. Oblik (miring) yaiut patah
tulang yang menimbulkan sudut miring terhadap sumbu panjang tulangnya. Spiral
yaitu patah yang disebabkan gerakan memuntir secara tiba-tiba, biasanya terjadi pada
tulang lengan atau kaki. Kompresi (impresi) yaitu patah tulang dimana satu area

tulang melekuk kedalam, fraktur ini sering timbul pada tulang tengkorak setalah
pukulan yang keras.
Avulsi yaitu patah tulang dimana fragmen tulang terlepas dari lokasi ligamen
atau inseresi tendon. Remuk yaitu patah tulang dimana bagian dalam tulang berbentuk
seperti spons remuk, biasanya hal ini terjadi pada tulang belakang penderita
osteoporosis. Kominutif yaitu patah tulang dimana terdapat bagian tulang yang pecah
dan pecahan tulang tersebut dapat menyebablan kerusakan jaringan di sekitarnya.
Biasanya disebabkan oleh pukulan langsung atau tubrukan. Impaction yaitu patah
tulang yang disebabkan oleh gaya kompresi sehingga ujung patahan yang satu
menancap ke dalam patahan lainnya tanpa menyebabkan fraktur dislokasi (Lihat
Gambar 5).
4.4 Gejala Klinis8
Berikut merupakan beberapa gejala klinis dari fraktur antebrachii diantaranya
adalah nyeri terus menerus. Spasme otot, deformitas, pemendekan tulang, kreptiasi,
dan pembengkakan.
Deformitas dapat disebabkan oleh karena adanya pergeseran fragmen pada fraktur
lengan dan eksremitas. Deformitas dapat diketahui dengan membandingkan dengan
ekstremitas yang normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi
normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya obat.
Pemendekan tulang dapat terjadi karena kontraksi otot yang melekat diatas dan
dibawah tempat fraktur atau dikarenakan fragmen sering saling melingkupi satu sama
lain.
Krepitasi yaitu yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya
derik tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya.
Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma
dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam
atau beberapa hari setelah cedera.
Selain tanda-tanda tersebut, beberapa kasus fraktur juga ditandai dengan adanya
sindroma kompartemen. Sindroma kompartemen adalah suatu kelainan yang potensial
menimbulkan kedaruratan yaitu dengan adanya peningkatan tekanan interstisial dalam
sebuah ruang tertutup, biasanya kompartemen oseofasial ekstremitas yang
noncompliant, misalnya kompartemen ateral, anterior, dan posterior dalam tungkai
serta kompartemen volar superfisial dan dalam lengan serta pergelangan tangan.
Peningkatan tekanan dapat menyebabkan gangguan mikrovaskular dan nekrosis
jaringan lokal.
10

Penyebab tersering dari sindroma kompratemen akut adalah perdarahan dari


fraktur, trauma jaringan lunak atau luka bakar, cedera arteri, dan penekanan anggota
badan selama kesadaran menurun. Perban atau gips yang restriktif juga dapat menjadi
salah satu penyebab terjadinya sindroma kompartemen.
Pada sindroma kompartemen, terrjadi penimbunan cairan di kompartemen otot,
tetapi fasia fibrosa tidak dapat mengembang sehingga terjadi edema dan tekanan
meningkat. Apabila tidak segera diobati maka dapat mengakibatkan terjadinya
iskemia. Gejala utama adalah nyeri hebat dan edema, tetapi gejala tersebut sering
berkaitan dengan penyebab timbulnya sindroma sehingga diagnosis sering sulit
ditegakkan. Penilaian neurovaskular secara berkala merupakan hal yang sangat perlu
dilakukan.
Gejala klinis yang terjadi pada sindroma kompartemen dikenal dengan 5P yaitu
pain (nyeri), pallor (pucat), pulselessness (berkurangnya denyut nadi), paretesia (rasa
kesemutan), Paralisis. Nyeri yang hebat saat peregangan pasif pada otot-otot yang
terkena, ketika ada trauma langsung. Nyeri merupakan gejala dini yang paling
penting. Terutama jika munculnya nyeri tidak sebanding dengan keadaan klinik (pada
anak-anak tampak semakin gelisah atau memerlukan analgesia lebih banyak dari
biasanya). Otot yang tegang pada kompartemen merupakan gejala yang spesifik dan
sering. Paralisis: Merupakan tanda lambat akibat menurunnya sensasi saraf yang
berlanjut dengan hilangnya fungsi bagian yang terkena sindroma kompartemen.

11

4.5 Komplikasi8
Komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur tulang meliputi dua komplikasi utama
yakni komplikasi dini dan komplikasi lanjut. Komplikasi dini dapat meliputi
kehilangan darah, infeksi, emboli lemak, DVT, dan sindroma kompartemen.
Komplikasi lanjut dapat menyebabkan non-union, delayed union, malunion, dan
terhambatnya pertumbuhan.8
Kehilangan darah terjadi karena trauma yang menyebabkan fraktur terbuka dan
banyak darah yang hilang saat trauma berlangsung. Infeksi dapat terjadi terutama
pada fraktur terbuka. Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan.
Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam.
Bisa terjadi oleh karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan
plat.
Emboli lemak adalah tetesan lemak yang masuk ke dalam pembuluh darah.
Faktor resiko terjadinya emboli lemak pada fraktur meningkat pada laki-laki usia 2040 tahun terutama bagi yang obesitas. Embolus lemak dapat timbul akibat pajanan
sumsum tulang, atau dapat terjadi akibat aktivasi sistem saraf simpatis yang
menimbulkan stimulasi mobilisasi asam lemak bebas setelah trauma. Embolus lemak
yang timbul setelah patah tulang panjang sering tersangkut disirkulasi paru karena ada
robekan dari pembuluh balik yang mempunyai daya tarik kembali terhadap darahdarah kotor yang keluar dari pembuluh balik yang juga mengikutsertakan lemak yang
dapat menimbulkan gawat napas dan gagal napas
Deep Vein Thrombosis, trombosis vena dalam sering terjadi pada individu
yang tidak

bergerak dalam

jangka

waktu

yang

lama

karena

trauma

atau

ketidakmampuannya bergerak seperti pada lazimnya. Shock terjadi karena kehilangan


banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan
menurunnya oksigenasi.
Malunion, adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh
dalam posisi yang tidak pada seharusnya, membentuk sudut atau miring. Kelainan
penyatuan tulang karena penyerasian yang buruk menimbulkan deformitas, angulasi
atau pergeseran tulang dari tempat yang normal.

Delayed union adalah proses

penyembuhan yang berjalan terus tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari
keadaan normal. Nonunion, patah tulang yang tidak menyambung kembali.
Gangren gas, Gas gangren berasal dari infeksi yang disebabkan oleh bakterium
saprophystik gram-positif anaerob yaitu antara lain Clostridium welchii atau
12

clostridium perfringens. Clostridium biasanya akan tumbuh pada luka dalam yang
mengalami penurunan suplai oksigen karena trauma otot. Jika kondisi ini terus terjadi,
maka akan terdapat edema, gelembung gelembung gas pada tempat luka. Tanpa
perawatan, infeksi toksin tersebut dapat berakibat fatal.
Selain komplikasi yang berdasarkan dari fraktur, sindroma kompartemen yang
tidak mendapatkan penangan dengan segera mungkin dan sebaik mungkin juga dapat
menimbulkan berbagai komplikasi.9
Beberapa komplikasinya antara lain: kegagalan dalam mengurangi tekanan
intrakompartemen dapat menyebabkan nekrosis jaringan, selama perfusi kapiler
masih kurang dan menyebabkan hipoksia pada jaringan tersebut.
Kontraktur Volkmann adalah deformitas pada tungkai dan lengan yang merupakan
kelanjutan dari sindroma kompartemen akut yang tidak mendapat terapi selama lebih
dari beberapa minggu atau bulan. Infeksi, hipestesia dan nyeri juga merupakan bagian
dari komplikasi yang mungkin terjadi. Komplikasi sistemik yang dapat timbul dari
sindroma kompartemen meliputi gagal ginjal akut, sepsis, dan Acute Respiratory
Distress Syndrome (ARDS) yang fatal jika terjadi sepsis kegagalan organ secara
multisistem.
4.6 Penatalaksanaan
4.6.1 Penatalaksanaan Fraktur
Non-Medica Mentosa
Untuk fraktur sendiri, prinsip penatalaksanaannya adalah mengembalikan
posisi patahan tulang ke posisi semula (reposisi) dan mempertahankan posisi itu
selama masa penyembuhan fraktur (imobilisasi). Reposisi yang dilakukan tidak harus
mencapai keadaan sepenuhnya seperti semula karena tulang mempunyai kemampuan
untuk menyesuaikan bentuknya kembali seperti bentuk semula (remodelling).10
Kebanyakan fraktur lengan bawah, termasuk fraktur radius saja, fraktur kedua
tulang, dan fraktur yang disertai dislokasi caput radii atau destruksi articulatio
radioulnaris distalis memerlukan reduksi terbuka dan fiksasi interna. Alat yang
digunakan adalah stess shielding dan cara penyembuhan tulang primer.11
Pada fraktur monteggia, reduksi tertutup caput radii dapat dilakukan, diikuti
dengan pemasangan pelat untuk fraktur ulna. Reduksi simultan caput radii akan
terjadi saat fraktur corpus ulnae telah tereduksi secara anatomis dan terfiksasi.

13

Bergantung pada stabilitas caput radii setelah reduksi, imobilisasi pascaoperatif dapat
bervariasi dari long arm cast sampai brace fungsional.11
Fraktur colles dan smith juga memiliki cara penanganan yang berbeda dengan
fraktur monteggia. Cara pertama adalah dengan reduksi tertutup dan pemasangan
gips, yang merupakan penanganan fraktur yang tidak memerlukan fiksasi bedah. Cara
ini diindikasikan untuk pasien dengan fraktur tanpa dislokasi atau dengan dislokasi
minimal tanpa kominutif yang banyak. Radiograf pascareduksi harus memperlihatkan
pemulihan kemiringan palmar dan panjang radius.
Ada pula fiksator eksterna yang sangat berguna untuk fraktur kominutif,
fraktur dengan dislokasi yang tidak dapat ditangani dengan reduksi terbuka atau
fiksasi interna. Alat yang digunakan adalah stress-sharing dengan cara penyembuhan
tulang sekunder, dengan disertai pembentukan kalus. Kadang-kadang, pin perkutaneus
atau fiksasi interna dapat digunakan sebagai adjuvan fiksasi eksterna.11
Selain itu, bila frakturnya artikular dengan dislokasi, digunakan metode
reduksi terbuka dan fiksasi interna. Alat yang digunakan adalah stres-shielding untuk
fiksasi pelat dan stress-sharing untuk fiksasi pin. Cara penyembuhannya primer, jika
tercapai fiksasi solid dengan pelat sehingga tidak terbentuk kalus, cara penyembuhan
sekunder jika fiksasi solid tidak tercapai, atau pada pin perkutaneus. Gips pasca oprasi
biasanya dianjurkan selama 2 sampai 6 minggu, bergantung pada stabilitas fiksasi.11
Medika Mentosa
Pada kejadian frakur tulang, akan timbul rasa sakit yang tak tertahankan. Oleh
sebab itu, perlu diberikan obat penghilang rasa sakit dari golongan opioid.8
Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat seperti
opium. Opium yang berasal dari getah Papaver somniferum mengandung sekiar 20
jenis alkaloid diantaranya morfin, kodein, tebain, dan papaverin. Analgesik opioid
terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri, meskipun juga
memperlihatkan berbagai efek farmakodinamik yang lain. Istilah analgesik narkotik
dahulu seringkali digunakan untuk kelompok obat ini, akan tetapi golongan obat ini
dapat menimbulkan analgesia tanpa menyebabkan tidur atau menurunnya kesadaran
maka istilah narkotik menjadi kurang tepat. Yang termasuk golongan opioid adalah
akaloid opium, derivat semisintetik alkaloid opium, senyawa sintetik dengan sifat
farmakologis menyerupai morfin.12
Efek morfin terhadap SSP berupa analgesia dan narkosis. Analgesia oleh
morfin dan opioid lain sudah timbul sebelum pasien tidur dan seringkali analgesia
14

terjadi tanpa disertai tidur. Morfin dosis kecil (5-10 mg) menimbulkan euforia pada
pasien yang sedang menderita nyeri, sedih dan gelisah. Sebaliknya, dosis yang sama
pada orang normal seringkali menimbulkan disforia berupa perasaan kuatir atau takut
disertai mual dan muntah. Efek analgetik yang ditimbulkan oleh opioid terutama
terjadi sebagai akibat kerja opioid pada reseptor . Reseptor dan dapat juga ikut
berperan dalam menimbulkan analgesia terutama pada tingkat spinal.12
Obat yang mengantagonis efek opioid disebut antagonis opioid. Kodein
termasuk golongan agonis lemah sampai sedang dengan struktur dasar fenantren. Efek
morfin dan opioid lain pada susunan saraf pusat usus terutama ditimbulkan karena
bekerja sebagai agonis pada reseptor . Selain itu morfin dan opioid lain juga
mempunyai afinitas yang lebih lemah terhadap reseptor dan .12
Kodein tersedia dalam bentuk basa bebas atau dalam bentuk garam HCL atau
fosfat. Satu tablet mengandung 10,15 atau 30 mg kodein oral kira-kira 1/3 dari efek
analgetik yang ditimbulkan setelah pemberian parenteral. Dosis tunggal 32 mg
kopdein per oral memberikan efek analgetik sama besar dengan efek 600 mg asetosal.
Pemberian kedua obat ini bersamaan akan menyebabkan potensiasi. Dosis kodein
sebagai antitusif ialah 10 mg untuk orang dewasa. Dosis ini setara dengan dosis
morfin 2-4 mg.12
Perlu dilakukan tata laksana terhadap nyeri yang seringkali timbul akibat
fraktur. Pada keadaan tersebut pasien dapat diberikan paracetamol 500 mg hingga
dosis maksimal 3000 mg per hari. Bila respons tidak adekuat dapat ditambah dengan
kodein 10 mg. Langkah selanjutnya adalah dengan menggunakan obat antiinflamasi
nonsteroid seperti ibuprofen 400 mg, 3 kali sehari. Golongan narkotik hendaknya
dihindari karena dapat menyebabkan delirium.12
4.6.2

Penatalaksanaan Sindroma Kompartemen4


Tujuan dari penanganan sindrom kompartemen adalah mengurangi defisit

fungsi neurologis dengan lebih dulu mengembalikan aliran darah lokal, melalui bedah
dekompresi. Penanganan kompartemen secara umum meliputi terapi medikal atau
non bedah dan terapi bedah. Terapi Medikal / Non bedah diindikasikan untuk
diagnosa dugaan kompartemen, meliputi: menempatkan extremitas setinggi jantung
untuk mempertahankan ketinggian kompartemen yang minimal.
Elevasi dapat menurunkan aliran darah sehingga memperberat iskemia;
pembukaan gips dan pembalut konstriksi; pada kasus gigitan ular berbisa diberikan
15

anti racun; mengoreksi hipoperfusi dengan cairan kristaloid dan produk darah;
pemakaian diuretik dan manitol dapat mengurangi tekanan kompartemen. Fasciotomi
dilakukan jika tekanan intrakompartemen mencapai >30 mmHg dan ada disfungsi
neuromuskular. Tujuannya yaitu menurunkan tekanan dengan memperbaiki perfusi
otot.
4.7 Prognosis
Pada kasus fraktur, prognosisnya bergantung dari tingkat keparahan serta tata
laksana dari tim medis terhadap pasien dengan korban fraktur. Jika penanganannya
cepat, maka prognosisnya akan lebih baik. Begitu juga sebaliknya. Sedangkan dari
tingkat keparahan, jika fraktur yang di alami ringan, maka proses penyembuhan akan
berlangsung dengan cepat dengan prognosis yang baik. Tapi jikalau pada kasus yang
berat prognosisnya juga akan buruk.bahkan jikalau parah, tindakan yang dapat di
ambil adalah cacat fisik hingga amputasi. Selain itu penderita dengan usia yang lebih
muda akan lebih bagus prognosisnya di banding penderita dengan usia lanjut.
4.8 Preventif2
Pencegahan fraktur dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Pada umumnya
fraktur disebabkan oleh peristiwa trauma benturan atau terjatuh baik ringan maupun
berat. Pada dasarnya upaya pengendalian kecelakaan dan trauma adalah suatu
tindakan pencegahan terhadap peningkatan kasus kecelakaan yang menyebabkan
fraktur. Pencegahan dapat dilakukan dengan upaya menghindari terjadinya trauma
benturan, terjatuh atau kecelakaan lainnya. Dalam melakukan aktifitas yang berat atau
mobilisasi yang cepat dilakukan dengan cara hati hati, memperhatikan pedoman
keselamatan dengan memakai alat pelindung diri.
Kesimpulan
Fraktur tulang adalah hilangnya kontinuitas tulang dan kartilago. Penyebabnya
digolongkan menjadi 3 yaitu fraktur traumatik, fraktur patologis dan fraktur stress.
Gejala klinis yang nampak berupa reaksi peradangan yaitu kemerahan, hiperemia dan
nyeri, tampak deformitas. Jika terdapat oedem, terjadi gangguan sensasi serta
melemahnya

denyut

nadi,

menandakan

adanya

sindrom

kompartemen.

Penatalaksanaanya berupa tindakan non bedah dan bedah (fasciotomi). Sementara itu
penatalaksaan fraktur secara definitif berupa imobilisasi, reduksi dan rehabilitasi.
Prognosisnya baik jika pasien mendapatkan perawatan dengan tepat.

16

Daftar Pustaka
1. Sudoyo AW, et al. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid I. Ed 5. Jakarta: Interna
Publishing; 2009. h. 25-28.
2. Suratun, Heryati, Manurung S, Raenah E. Klien gangguan sistem muskuloskeletal.
Jakarta: EGC; 2008.h.15-32.
3. Pemeriksaan

Rontgen

&

Ultrasonografi

(USG).

2009.

Diunduh

dari

http://www.rsab-harapankita.co.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=17&Itemid=136, 15 Maret 2014.
4. Bickley S. Anamnesis. Bates Guide to physical examination and history taking.
International edition. 10th edition. Lippincott Williams & Wilkins. Wolters Kluwer
Health. 2009.
5. Simbardjo D. Kumpulan kuliah ilmu bedah. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2004.
6. Mahode AA, Halim MJ, Bourman V, Hartanto YB. Terapi dan rehabilitasi fraktur.
Jakarta: EGC; 2011.h.157-175.
7. Rasjad C. Pengantar ilmu bedah ortopedi. Jakarta: Yarsif Watampone; 2007. h.
355-61, 368-9.
8. Grace PA, Borley NR. At a glance ilmu bedah. Edisi ke-3. Jakarta: Erlangga;
2006.
9. Oman KS, Mclain JK, Scheetz LJ. Panduan belajar keperawatan emergensi.
Jakarta: EGC; 2008.h.305-16.
10. Sjamsuhidajat R, Jong WD, penyunting. Buku ajar ilmu bedah. Edisi ke-2.
Jakarta: EGC; 2005. h. 840-68.
11. Thomas MA. Terapi dan rehabiliasi fraktur. Jakarta: EGC; 2011. h. 158-81.
12. Gunawan SG, Nafrialdi RS, Elysabeth, penyunting. Farmakologi dan terapi. Edisi
ke-5. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2012. h. 210-8.

17