Anda di halaman 1dari 4

Fraksinasi I

Setelah proses ekstraksi, ekstrak kental yang sudah diperoleh kemudian


difraksinasi. Fraksinasi merupakan proses untuk memisahkan komponen utama yang
diinginkan dengan senyawa-senyawa lain yang masih terdapat di dalam ekstrak
berdasarkan sifat kepolarannya.
Fraksinasi dapat dilakukan dengan ekstraksi cair-cair dan kromatografi. Namun
untuk percobaan kali ini, dipilih metode kromatografi yaitu menggunakan kromatografi
cair vakum (KCV). KCV mampu memisahkan ekstrak menjadi fraksi-fraksinya yang
lebih sederhana. Prinsip pemisahan dengan KCV meliputi adsorpsi, desorpsi, elusi, dan
perbedaan tekanan. Sampel (ekstrak kental dari proses ekstraksi sebelumnya) dilarutkan
diteteskan dengan sedikit demi sedikit air dan dibuat serbuk menggunakan adsorben
dengan perbandingan maksimal 1:1. Kemudian sampel dimasukkan kebagian atas kolom
yang telah diisi adsorben. Adsorben yang digunakan dalam sistem KCV adalah Silika Gel
H (tanpa pengikat) dengan ukuran partikel 40-63

m. Selanjutnya kolom dielusi

dengan campuran Toluen:Etil Asetat (7:3) dengan tingkat kepolaran yang meningkat
secara berurutan. Campuran pelarut ini dipilih karena mampu melarutkan piperin dengan
baik serta tidak bersifat toksik. Eluen dimasukkan ke dalam kolom dan akan bergerak
dari tekanan yang tinggi ke tekanan rendah dengan bantuan pompa vakum. Elusi
dilakukan hingga kolom kering pada setiap pengumpulan fraksi. Komponen akan
bergerak lebih cepat meninggalkan kolom bila molekul-molekul komponen tersebut
berinteraksi secara lemah dengan fase diam (Bintang, 2010: 146).
Berikut adalah rincian eluen yang digunakan.
Tabel 1 Daftar Eluen Yang Digunakan Untuk Fraksinasi dengan Kromatografi Cair
Vakum

No.
1.
2.
3.
4.

Campuran (dalam perbandingan = Toluene : EtOAc)


Toluene
Etil Asetat
9
1
8
2
7
3
6
4

Volume
25 mL
25 mL
25 mL
25 mL

5.
6.
7.
8.
9.
10.

5
4
3
2
1
-

5
6
7
8
9
10

25 mL
25 mL
25 mL
25 mL
25 mL
25 mL

Fraksinasi dengan menggunakan metode KCV ini memiliki beberapa


kelebihan dibandingkan dengan metode yang lain yaitu proses pemisahannya lebih
cepat (efisiensi waktu lebih tinggi) jika dibandingkan dengan kromatografi kolom
klasik. Hal ini disebabkan karena proses elusi dipercepat dengan menggunakan
pompa vakum. Selain itu, metode KCV juga dapat memisahkan sampel dalam jumlah
yang banyak (hingga 30 gram sampel). Kemudian metode ini cukup sederhana dalam
pengoperasiannya.

Pemantauan Fraksi I
Setelah proses fraksinasi selesai dilakukan, tahapan selanjutnya adalah
pemantauan fraksi. Pada proses ini, fraksi-fraksi yang telah diperoleh sebelumnya
dipantau dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Metode ini dipilih untuk
identifikasi piperin karena kemudahan analisisnya untuk jumlah senyawa yang
sedikit. Selain itu, waktu pengujian dan keterpisahan analit lebih cepat dan lebih baik
jika dibandingkan dengan menggunakan kromatografi kertas.
Sistem KLT yang digunakan pada proses ini meliputi fase diam berupa Silika
Gel GF254 dan fase gerak berupa campuran Toluen:Etil Asetat (7:3). Silika gel GF254
terdiri dari adsorben berupa silika gel dengan pengikat berupa gipsum dan memiliki
indikator yang mampu berfluoresensi pada panjang gelombang 254 nm. Piperin
merupakan senyawa yang non polar, dalam proses ini pengembang atau fase gerak
yang digunakan harus bersifat non polar pula. Hal ini dikarenakan jika pada proses ini
menggunakan pengembang yang polar, maka piperin akan terdesorpsi dengan kuat
dan akan sulit dideteksi. Oleh karena itu digunakan campuran Toluene:Etil Asetat

(7:3) sebagai pengembang. Berdasarkan literatur, campuran ini merupakan pelarut


ideal sebagai fase gerak untuk pemisahan piperin dalam suatu sampel.
Pada pengujian, juga dibutukan senyawa piperin standar yang diberikan
perlakuan sama dengan senyawa uji untuk selanjutnya dilakukan perbandingan nilai
Rf dan pengamatan warna yang positif terhadap adanya alkaloid.
Sebelum penotolan sampel pada plat KLT, perlu dilakukan penjenuhan
chamber terlebih dahulu. Kemudian senyawa uji dan standar ditotolkan pada plat
yang sama dan dimasukkan ke dalam chamber selama beberapa saat. Setelah fase
gerak mencapai bagian atas plat, plat dikeluarkan dari chamber dan dilakukan analisis
hasil di bawah penyinaran UV 254 nm. Nilai Rf dari senyawa uji dan standar
dibandingkan untuk melihat ada atau tidakya fraksi piperin. Identifikasi piperin
diperoleh dengan pengamatan bercak dengan harga Rf yang identik dengan Rf
senyawa standar. Bercak piperin akan berwarna gelap dibawah UV 254 nm karena
memiliki ikatan rangkap terkonjugasi pada strukturnya. Harga Rf ini diperoleh
dengan cara membagi jarak yang ditempuh oleh senyawa sampel dengan jarak yang
ditempuh fase gerak. Untuk lebih memastikan hasil, dilakukan pula cara yang kedua
yaitu dengan menggunakan penampak bercak dragendorff. Plat yang sudah
dikembangkan disemprotkan dengan pereaksi dragendorff. Pereaksi dragendorff akan
memberikan warna oranye atau jingga pada senyawa uji yang positif mengandung
alkaloid, dimana dalam hal ini piperin termasuk dalam golongan alkaloid.
Fraksi-fraksi dengan harga Rf paling mendekati standar atau yang
menunjukan reaksi positif terhadap pereaksi dragendorff selanjutnya diambil dan
dilakukan proses sub-fraksinasi.

Deri, Inda Rahayu, et al. 2015. Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Alkaloid dari
Cacing Tanah (Lumbricus Rubellus Hoffmeister), Hlm. 435-442.
Gupta, Vishvnath and UK Jain. 2011. Status of piperine content in Ayurvedic
formulation: Method standardization by HPTLC, Research Journal of Pharmaceutical,
Biological and Chemical Sciences Vol. 2: 524-531.
http://www.rjpbcs.com/pdf/2011_2(2)/64.pdf

Sticher, Otto. 2008. Review, Natural Product Isolation, The Royal Society of
Chemistry Journal, 25: 517554. http://disruptechno2.free.fr/FMS/Natural
%20product%20isolation%20(Otto%20Sticher).pdf