Anda di halaman 1dari 7

PENATALAKSANAAN PERIODE AWAL DAN

FOLLOW-UP
Periode Awal
Pada periode awal bayi baru lahir, maka diperlukan beberapa hal untuk
membuat kondisi bayi stabil di lingkungan yang baru, dan mencegah terjadinya
infeksi pada bayi. Beberapa hal yang perlu dilakukan pada tahap awal ini adalah :
pembersihan kulit dengan air atau sabun bayi, perawatan tali pusat dengan kasa
steril dan alcohol, pemberian tetes mata (Tetrasiklin atau AgNO 3 1%), vitamin K1
1 mg IM, atau vitamin K1 2 mg oral (saat lahir, umur 3-7 hari, dan 1-2 bulan),
menolong ibu untuk memenuhi kebutuhan dasar bayi (kehangatan, pernafasan,
minum, dan mencuci tangan untuk mencegah infeksi), memberikan ASI dalam
jam pertama dan menjaga agar ASI diberikan secara eksklusif, dan mendeteksi
tanda awal problem bayi baru lahir, dan menyarankan ibu dan keluarga jika terjadi
tanda bahaya (malas menghisap, letargi, gangguan nafas, kejang demam, sehu
teraba dingin, perdarahan tali pusat, kuning, muntah terus-menerus, perut
kembung, infeksi berat pada tali pusat, mata, atau kulit). Selain itu, juga perlu
untuk merencanakan perawatan lanjut (rencana imunisasi, dan pemantauan
pertumbuhan berat badan)
Follow-Up Hari ke-1
Pada pemeriksaan pemantauan di hari pertama bayi lahir, perlu dilakukan
pemantauan terhadap pernafasan (normal:30-60 kali per menit), warna kulit
(pucat, kuning, atau merah muda), temperatur (normal : 36,5-37,5 oC), pemberian
ASI, berat badan (normal : turun < 10% pada hari pertama paska kelahiran), BAB
dan BAK (normal frekuensi BAK > 6 kali per hari). Selain itu, tali pusat juga
harus deibersihkan dengan kasa steril dan alkohol, yang diganti 1 kali per hari,
dan tali pusat harus selalu kering dan tidak mengandung darah.
Follow-Up Hari ke-2 dan Hari ke-3

Pada pemeriksaan pemantauan di hari kedua dan ketiga bayi lahir, perlu
dilakukan pemantauan terhadap pemberian ASI (frekuensi, teknik), BAB, BAK,
tanda-tanda infeksi (kulit kemerahan atau pus, eksudat dari tali pusat dan mata,
suhu terlalu tinggi atau rendah, problem feeding dan nafas, kejang), serta berat
badan bayi (penurunan berat badan bayi sebanyak 5-7 % pada hari-hari pertama )
Follow-Up Hari ke-7
Pada pemeriksaan pemantauan di hari ketujuh bayi lahir, perlu dilakukan
pemantauan terhadap ASI, BB (normalnya berat badan bayi pada periode ini akan
mulai meningkat, dan mencapai berat badan saat lahir pada hari ke-14), tandatanda infeksi, warna kulit, dan imunisasi
Follow-Up Hari ke-28
Pada pemeriksaan pemantauan di hari ke-28 bayi lahir, perlu dilakukan
pemantauan terhadap ASI, berat badan (normalnya berat badan bayi akan
meningkat sebanyak 25-30 gram per hari), tanda-tanda infeksi, dan imunisasi.

PEMBERIAN ASI DINI DAN EKSKLUSIF


Definisi
Pemberian ASI secara dini berarti memberikan ASI dalam beberapa menit
setelah bayi lahir. Sedangkan ASI eksklusif berarti bayi hanya diberikan ASI tanpa
cairan atau makanan lain.
Kandungan ASI
ASI merupakan minuman pilihan untuk semua neonatus, termasuk
neonatus prematur. Setelah 2-4 minggu, ASI dari ibu dengan neonatus prematur
telah ditemukan memiliki jumlah protein, antibodi IgA, kolesterol dan asam
lemak yang lebih tinggi dibandingkan ASI dari ibu yang bayinya cukup bulan.
Manfaat pemberian ASI
ASI merupakan sumber makanan yang sempurna bagi bayi yang baru
lahir. Hal tersebut disebabkan karena penyerapan ASI oleh usus lebih bagus

daripada cairan/makanan lainnya. Selain itu, ASI juga memiliki fungsi proteksi
terhadap infeksi dan diare, dan kandungan kolostrum yang kaya akan vitamin A
dan antibody dapat mencegah bayi dari kuning dan infeksi.
Sedangkan dari faktor psikologis, pemberian ASI dapat meningkatkan
hubungan ibu dengan bayi, dan mencegah hipotermi saat kontak kulit dengan kulit
terjadi. Selain itu, pengisapan bayi pada payudara merangsang pelepasan
oksitoksin, sehingga membantu involusi uterus, dan membantu mengendalikan
perdarahan.
Pemberian ASI juga memberi beberapa keuntungan bagi negara, yaitu
dengan menghemat devisa negara, mengurangi polusi, menghemat subsidi
kesehatan, mengurangi morbiditas dan mortalitas anak, serta dapat menghasilkan
sumber daya manusia yang bermutu, yang kelak akan dapat membangun bangsa.
Mempertahankan Produksi ASI
Ada beberapa cara agar produksi ASI dapat terjaga dan dapat memenuhi
kebutuhan dasar bayi. Pemberian ASI pada tahap awal sebaiknya diberikan pada
setiap saat bayi memintanya (ASI on demand), dan dilakukan sebanyak 10-12 kali
per har atau setiap 2-3 jam sekali. Selain itu, sang ibu juga harus lebih sering
minum dan makan lebih banyak, menghindari alkohol, istirahat cukup, dan
mendapat lingkungan yang bersifat pribadi dan bebas tekanan.
Untuk mengetahui apakah pemberian ASI yang diberikan oleh ibu seudah
cukup atau belum, maka kita dapat mengetahuinya dengan melihat pertumbuhan
berat badan bayi yang cepat, terdapat perubahan pola tidur dalam 3 bulan, dan
perubahan BAB dalam 3 minggu.
Anjuran Pemberian ASI
Pada usia 0-6 bulan, sebaiknya ASI diberikan secara eksklusif (memenuhi
100% kebutuhan bayi). Sedangkan pada usia 6-12 bulan, sebaiknya ASI
memenuhi 60-70% kebutuhan bayi, sehingga perlu diberikan makanan
pendamping ASI yang adekuat, dan pada usia bayi lebih dari 12 bulan, maka
sebaikan ASI memenuhi 30% kebutuhan bayi.

Kriteria Pemberian ASI Eksklusif


Semua neonatus cukup bulan yang sehat, atau neonatus prematur berisiko
rendah ( 34 minggu tanpa masalah pernafasan) merupakan kandidat yang sesuai
untuk pemberian ASI secara eksklusif pada 6 bulan pertama usia bayi. Sedangkan
untuk neonatus yang memperlihatkan gejala-gejala atau tanda-tanda sakit (gawat
pernafasan, pengisapan atau kemampuan menelan yang buruk, letargi, distensi
abdomen atau penurunan berat badan) harus segera dievaluasi untuk disusun
rencana penatalaksanaan nutrisinya.
Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui
Negara Indonesia sangat mendukung pelaksanaan pemberian ASI, bahkan
Negara

Indonesia

mengeluarkan

kebijakan

nasional

untuk

melindungi,

mempromosikan, dan mendukung pemberian ASI. Sehingga, semua rumah sakit


harus mengikuti Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui , seperti
yang tertera pada pernyataan WHO / UNICEF pada tahun 1989 :
1. Memiliki

kebijakan

tertulis

mengenai

pemberian

ASI

yang

dikomunikasikan secara rutin dengan staf pelayanan kesehatan.


2. Melatih semua staf pelayanan kesehatan yang diperlukan.
3. Memberitahukan keuntungan dan penatalaksanaan pemberian ASI pada
semua ibu hamil.
4. Membantu ibu memulai pemberian ASI dalam waktu setengah jam
setelah kelahiran.
5. Memperlihatkan kepada ibu yang belum berpengalaman bagaimana cara
menyusui dan tetap memberikan ASI meskipun ibu terpisah dari neonatus.
6. Tidak memberikan makanan atau minuman lain selain ASI kepada
neonatus kecuali terindikasi secara medis.
7. Mempraktekkan rawat gabung: Mengijinkan ibu dan neonatus untuk
terus bersama-sama 24 jam sehari.
8. Mendorong pemberian ASI setiap saat neonatus memintanya.

9. Tidak memberikan dot atau empeng pada neonatus yang diberi ASI.
10. Mendorong dibentuknya kelompok pendukung ASI dan merujuk para
ibu ke kelompok tersebut ketika mereka keluar dari RS atau klinik.
Rawat Gabung
Rawat gabung antara ibu dan bayinya merupakan salah satu straregi dalam
meningkatkan pemberian ASI kepada bayi yang baru lahir. Adapun manfaat dari
rawat gabung ini adalah agar ibu dan bayi tenang karena selalu bersama, ibu dapat
belajar menyusui dan merawat bayi, bayi dapat menyusu setiap saat, dan ibu dapat
mengenali perubahan normal bayinya.
Posisi Menyusui yang Benar
Untuk menjaga kelangsungan pemberian ASI yang adekuat dari ibu
kepada bayinya, maka posisi ibu dan bayi saat sedang menyusui memiliki peranan
yang penting. Pada saat menyusui, sebaiknya kepala dan tubuh bayi dalam posisi
lurus, menghadap ke payudara dengan hidung menempel di puting ibu, tubuh
neonatus menempel pada tubuh ibu, dan seluruh tubuh neonatus ditahan, tidak
hanya bagian leher dan bahu saja.
Selain itu, untuk memastikan proses menyusui berjalan dengan optimal,
maka perlu juga diperhatikan kelekatan ibu dan bayi pada saat menyusui.
Kelekatan yang baik saat menyusui dapat terlihat dengan dagu bayi yang
menyentuh payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar, bibir bawah terlipat kea rah
luar, dan lebih banyak daerah areola yang terlihat di atas mulut bayi daripada di
bawah mulut bayi.
Jika posisi dan kelekatan pada saat proses menyusui berjalan dengan baik,
maka akan terjadi pengisapan ASI yang efektif oleh bayi tersebut. Adapaun tandatanda pengisapan efektif dapat terlihat jika isapannya lambat dan dalam, kadangkadang ada jeda saat menyusui, bayi terlihat menelan, dan payudara terasa lebih
kosong.

VITAMIN K1
Pemberian vitamin K segera setelah bayi lahir merupakan salah satu
prosedur penting untuk mencegah bayi mengalami gangguan pembekuan darah

pada kemudian hari. Kekurangan vitamin K berisiko tinggi bagi bayi untuk
mengalami perdarahan yang disebut juga Perdarahan Akibat Defisiensi Vitamin K
(PDVK). Permasalahan akibat PDVK adalah terjadinya perdarahan otak dengan
angka kematian 10-50% yang umumnya terjadi pada bayi dalam rentang umur 2
minggu6 bulan, dengan akibat angka kecacatan 30-50%.
Bentuk-bentuk Vitamin K
Vitamin K1 (phylloquinone / phytomenadione / phytonadione)
Merupakan bentuk vitamin K yang larut dalam lemak. Banyak terdapat
pada sayuran hijau, seperti kol, brokoli, bayem, dan tomat.
Vitamin K2 (menaquinone)
Secara normal dibentuk oleh bakteri dalam saluran pencernaan seperti
Bacteroides fragilis dan beberapa strain Escherichia.
Vitamin K3 (menadione) dan Vitamin K4 (menadiole)
Merupakan bentuk vitamin K sintetis yang larut dalam air, namun
sekarang sudah jarang digunakan karena sifatnya yang karsinogenik.
Manfaat vitamin K
Vitamin K termasuk golongan vitamin yang larut dalam lemak, merupakan
salah satu unsur yang berperan dalam modifikasi dan aktivasi beberapa protein
yang berperan dalam proses pembekuan darah seperti faktor-faktor pembekuan II,
VII, IX, X, antikoagulan protein C dan S, dan beberapa protein lain. Bila faktor
pembekuan darah yang tergantung pada vitamin K ini berkurang maka bayi
mudah mengalami perdarahan.
Metode Pemberian pada Neonatus
1 mg IM, 2 mg oral saat lahir, umur 3-7 hari, dan 1-2 bulan

SALEP MATA
Mengingat tingginya angka gonorrhea di Indonesia, maka setiap bayi yang
lahir memiliki resiko terkena konjunctivitis yang didadapt saat bayi melalui jalan

lahir. Oleh karena itu, sebagai profilaksis konjungtivitis neonatal (ophtalmia


neonatorum) akibat Neisseria gonorrhoe atau Chlamydia trachomatis, perlu
diberikan salep mata Tetrasiklin atau AgNO3.
Metode :

salep mata Tetrasiklin Hidroklorida 1% atau Silver Nitrate

AgNO3 1 %, segera setelah bayi lahir, setelah mata dibersihkan dengan kasa steril

PEMOTONGAN TALI PUSAT


Tali pusat dipotong sebelum atau sesudah plasenta lahir tidak begitu
menentukan dan tidak akan mempengaruhi bayi, kecuali pada bayi kurang bulan.
Apabila bayi lahir tidak menangis, maka tali pusat segera dipotong untuk
memudahkan melakukan tindakan resusitasi pada bayi. Tali pusat dipotong 5 cm
dari dinding perut bayi dengan dibuat ikatan baru. Luka tali pusat dibersihkan dan
dirawat dengan alkohol 70% atau povidon iodine 10% serta dibalut kasa steril.
Pembalut tersebut diganti setiap hari atau setiap tali basah atau kotor.
Sebelum memotong tali pusat, dipastikan bahwa tali pusat telah diklem
dengan baik untuk mencegah terjadinya perdarahan. Alat pengikat tali pusat /
klem dan gunting steril harus selalu siap tersedia di ambulans, di kamar bersalin,
ruang penerima bayi, dan ruang perawatan bayi, dan selalu pantau kemungkinan
terjadinya perdarahan dari tali pusat.