Anda di halaman 1dari 1

TULANG BELULANG

Akhirnya..... Malam ini aku tersungkur di atas kubur... Besok pagi kalau kita bertemu.... Aku
kan kembali jadi mayat bersuara lantang... Di depanmu seolah jantungku berdetak biasa...
Sikapku seolah apa adanya... Dan dingin seperti hari-hari sebelumnya...
Meski tadi sempat kulihat, seperti ada yang aneh dari sorot matamu, seolah ada resah
dibaliknya, dan kuharap akulah karenanya... tapi itu hanyalah semu bayang mataku... ilusi
karena
harapku
terlalu
tinggi...
Rasa
cinta
ini
pasti
telah
mengelabuhi
panca
indraku...
Oh...
inilah
mimpi...
Aku tersungkur di atas kubur... Malam ini kurangkai tulang-belulang... yang remuk hancur
karena rasa penasaran sepanjang hari dari siang tadi. Akibat sorot matamu yang mencipta
jutaan tanya... seolah merajam jiwaku penuh tega. Malam ini kujahit kembali urat-urat nadi...
yang robek tak karuan karena rasa bimbang sepanjang siang hingga kini. Akibat caramu yang
bersikap tak seperti biasanya... melukis jutaan terka... merakit sayap-sayap otakku hingga aku
bisa terbang di antara badai topan... namun kemudian anganku terombang-ambing dalam
penerbangan menuju pulaumu itu. Jatuh kembali di atas kubur diantara pohon-pohon
kemboja. Bersusah payah merangkai kembali semua bagian hidupku, agar besok pagi kita
bisa
bertemu.
Malam ini aku tersungkur di atas kubur... Besok pagi kalau kita bertemu.... Aku kan kembali
jadi mayat bersuara lantang... Di depanmu seolah jantungku berdetak biasa... Sikapku seolah
apa adanya... Dan dingin seperti hari-hari sebelumnya... Itu bukanlah karena aku tak
mencintaimu...
Tapi
karena
aku
terlalu
mencintaimu...
Oh... inilah aku wahai bidadariku yang bergaun putih berkulit putih seputih salju...
Entah besok pagi apakah sorot mata itu akan kembali seperti perahu layar para bajak laut...
merampok semua detik waktuku sepanjang siang hingga malam... menyiksa batinku seolah
aku adalah pendosa di antara orang-orang suci... Mencipta tanya dan terka seperti siang tadi...
"Apakah dia juga mencintaiku?" seperti itulah yang sangat menyiksa hingga hancur
berantakan
seolah
takkan
ada
yang
tersisa...
Namun seadainya benar seperti itu besok pagi, akan kurangkai kembali tulang belulangku
dari tengkorak hingga tulang ujung kaki... agar besoknya aku bisa kembali bertemu
denganmu dan sempat merasakan berharap bagaimana rasanya memiliki sayap... merasakan
berharap bagaimana seolah aku membawamu melayang melintasi gunung-gunung dan
padang savanah tiap-tiap negeri... walau akhirnya hancur kembali dan kurangkai lagi
sepanjang malam hingga penghujung pagi... meski ratusan hari, meski ribuan kali, harus
kuulangi lagi... meski sakit tak terperi... karena betapa besar aku mencintaimu... Oh gadisku
di
dalam
hati
di
dalam
mimpi...
Akulah mayat bersuara lantang... Di depanmu seolah jantungku berdetak biasa... Sikapku
seolah apa adanya... Dan dingin seperti hari-hari sebelumnya... namun aku mencintaimu tak
biasa seperti pria kebanyakan lainnya... Bukan kamu yang menyiksaku, tapi waktu...
waktulah yang kejam.... membuatku harus menjadi mayat bersuara lantang bersikap dingin...
dan kamu mungkin tidak tahu...

Anda mungkin juga menyukai