Anda di halaman 1dari 4

Faktor risiko terjadinya kejang demam?

Faktor resiko terjadinya kejang demam yaitu infeksi (OM, UTI, ISPA dan
infeksi saluran cerna), Imunisasi (vaksin MMR setelah 8-14 hari penyuntikan), dan
Genetik (riwayat keluarga kejang demam).
Resiko berulangnya kejang demam :

Riwayat kejang demam dalam keluarga. (ada pada pasien)


Usia kurang dari 14 bulan.
Tingginya suhu tubuh saat kejang.
Bila seluruh faktor di atas ada, kemungkinan 80%.
bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan hanya 10%-15%.
Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar pada tahun pertama.

Resiko terjadinya epilepsi dikemudian hari :

Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam


pertama.
Kejang demam kompleks. (ada pada pasien)
Riwayat epilepsi pada keluarga (orang tua atau saudara kandung).
Lamanya demam.
Setiap faktor risiko meningkatkan kemungkinan 4%-6%.
Kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan kemungkinan 10%-49%.
Tidak dapat dicegah dengan pemberian obat rumat pada kejang demam.

Resiko mengalami kecacatan atau kematian :

Kejadian kecatatan atau kematian sebagai komplikasi kejang demam tidak


pernah dilaporkan.

Bagaimana terapi pada pasien ini?


Terapi kejang demam:
1. Pemberian obat saat demam
a. Antipiretik
Pemberian antipiretik pada saat demam dianjurkan, walaupun tidak
ditemukan bukti bahwa antipiretik saja dapat mengurangi resiko
terjadinya kejang demam.
- PCT 10-15 mg/kgBB/kali, 4x /hari
- Ibuprofen 5-10 mg/kgBB/hari, 3-4x/hari
b. Antikonvulsan (pengobatan intermiten)
- Diazepam 0.3-0.5 mg/kgBB setiap 8 jam pada saat demam
(biasanya selama 2-3 hari) dapat menurunkan resiko berulangnya
kejang demam.

Diazepam secara rektal 5 mg untuk berat badan <10 kg, 10 mg


untuk berat badan >10 kg.
Fenobarbital, karbamazepin, fenitoin pada saat demam tidak
berguna untuk mencegah kejang demam.

2. Pengobatan kejang (anak datang dalam keadaan kejang)


Pemberian diazepam rektal sangat efektif menghentikan kejang dan dapat
diberikan oleh orang tua di rumah. Bila kejang masih berlangsung,
diazepam rektal dapat diulang satu kali sebelum dibawa ke rumah sakit.

Diazepam 0.3-0.5 mg/kgBB i.v atau


rektal: BB< 10 kg 0,5 mg/kg atau 5 mg
BB> 10 kg 0,3 mg/kg atau 20 mg

Kejang

Ulangi Diazepam

Kejang

ABC, cari tanda trauma/infeksi/lumpuh, pasang IV line (lar 1:4


ataui Dextrose), periksa lab (darah rutin, elektrolit, GDS)

Fenitoin 15-20 mg/kgBB i.v bolus


(encerkan dengan NaCl)

Tidak kejang: 12 jam kemudian


Fenitoin 5-7 mg/kgBB/hr i.v

Kejang

Fenobarbital 10-20 mg/kg i.m

Tidak kejang: 12 jam kemudian


Fenitoin 5-7 mg/kg/hr i.v
Fenobarbital 3-4 mg/kg/hr i.m

Kejang

Intubasi / PICU

Midazolam 0,2 mg/kg lanjutkan dengan rumatan


Jika depresi napas ventilator

3. Pemberian antikonvulsan terus-menerus (rumat)


- Fenobarbital 4-5mg/kgBB dibagi 2 dosis dan asam valproat 20-40
mg/kgBB/hari dibagi 2-3 dosis terus menerus dapat menurunkan resiko
berulangnya kejang demam.
- Antikonvulsan rumat diberikan selama 1 tahun. Perlu dipertimbangkan
keuntungan dan kerugian pemberian obat antikovulsan rumat.

Efek samping yang harus diperhatikan pada pemakaian fenobarbital


adalah penurunan fungsi kognitif dan gangguan perilaku.
Sedangkan efek samping asam valproat adalah gangguan fungsi hati
yang berat bila diberikan pada anak <2 tahun disamping harga yang
cukup mahal.
Indikasi antikonvulsan rumat:
1. Kejang lama >15 menit
2. Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah
kejang
3. Kejang fokal/parsial

Pada pasien:
- karena suhu > 38,5C Parasetamol 10-15 mg/kgBB/kali xx mg ~
xx cth
- untuk menurunkan risiko berulangnya kejang demam diazepam 0.30.5 mg/kgBB
- untuk keluhan batuknya ambroxol
Pencegahan
Pencegahan terbaik yaitu mengatasi demam pada anak. Berilah kompres air
hangat dan jangan memakaikan pakaian yang tebal pada anak demam.
Antipiretik dapat diberikan meskipun belum ada bukti mencegah timbulnya
kejang berulang. Di Indonesia pemberian parasetamol dianjurkan dengan dosis
10-15 mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali. Obat
antipiretik lain seperti ibuprofen dapat diberikan dengan dosis 5-10
mg/kg/kali, 3-4 kali sehari.