Anda di halaman 1dari 15

Tugas Perkembangan Teknologi Media

Stop Pernikahan Anak

OLEH:
YUNI UTAMI (2013120028)
ALMAAS NADHIFTA (2013120031)
UTARI (2013120053)
VIENA ANANDA KRISDAIVANA AMEYLIA (2013120091)
ADIBA PUTRI FAJARI (2013130085)

Fakultas Ilmu Komunikasi


Kampus Tercinta - Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Undang-undang, Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas)
tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Secara umum, anak adalah seorang lelaki
atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas.
Belum lama ini, di Indonesia sedang diberitakan dengan adanya keputusan Mahkamah
Konstitusi yang menolak perubahan isi undang-undang pernikahan Indonesia. Saat ini,
berdasarkan Pasal 7 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, batas usia
menikah bagi perempuan ialah 16 tahun dan pria 19 tahun. Menurut Kepala Perwakilan UNICEF
Indonesia Gunilla Olsson, satu dari enam anak perempuan menikah sebelum berusia 18 tahun
angkanya mencapai 340.000 setiap tahun. Sedangkan 50.000 anak perempuan lain menikah
sebelum usia 15 tahun. Setiap anak-anak ini kehilangan masa kanak-kanaknya. Padahal,
Pengantin muda lebih berisiko untuk putus sekolah; hamil terlalu cepat, yang mengakibatkan
sejumlah risiko kesehatan yang berbahaya bagi ibu dan bayinya; dan terjebak kemiskinan yang
kemudian diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Dengan demikian, perkawinan
anak terus menjadi beban di Indonesia.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan bahwa
angka kematian ibu di Indonesia meningkat dari lima tahun sebelumnya, dari 228 orang per
100.000 persalinan menjadi 359 orang per 100.000. Terjadi peningkatan hampir 200% dari 9.000

orang kematian ibu menjadi hampir 18.000 orang. Dari pernikahan dini tersebut, berdasarkan
pengamatan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional dari data di Kantor Urusan
Agama, jumlah perceraian mencapai 50%.

Provinsi Sulawesi Selatan menjadi daerah dengan angka pernikahan dini di Indonesia.
Angka pernikahan anak di bawah 15 tahun mencapai 6,7 persen, sementara persentase nasional
hanya mencapai 2.46 persen. Sementara, untuk pernikahan 15-19 tahun, Sulawesi Selatan berada
di urutan ketujuh dengan 13,86 persen, di atas persentase nasional 10,80 persen. Sulawesi
Selatan peringkat pertama di Indonesia yang memiliki jumlah cukup banyak pernikahan
anak di bawah usia 15 tahun. Peringkat tujuh di Indonesia untuk pernikahan usia 15-17
tahun. Data itu diungkapkan Kepala Bidang Kualitas Hidup Perlindungan Perempuan dan Anak
Badan Pemberdayaan Perempuan Provinsi Sulawesi Selatan, Nur Anti Madjid, di Kota
Parepare, Jumat (22/11/2013).

Sulawesi Selatan pun kini masuk sebagai wilayah zona "merah" dan dikhawatirkan bakal
menjadi wilayah lost generation. Dampak lost generation sudah terjadi di Kabupaten
Bulukumba. Di mana, ada satu rumah, yang saat ini kosong karena seluruh generasinya telah
meninggal.

Perkawinan bukan hanya sekedar kematang berproduksi melainkan kesiapan mental yang
merupakan faktor penting. Jika hal ini tidak ditangani dengan melakukan pencegahanpencegahan perkawinan anak, banyak hal terjadi seperti kematian ibu yang terus meningkat dan
bahkan ledakan penduduk yang tidak terkendali.

B. Tujuan
Dengan adanya kasus di atas, penulis ingin mengurangi angka perkawinan anak dengan cara
memberikan informasi-informasi mengenai perkawinan anak. Mulai dari banyaknya kasus
perceraian, kematian hingga kemiskinan yang meningkat setiap tahunnya.

BAB II
PEMBAHASAN

Rencana Kegiatan

: Kampanye Pernikahan Anak


Stop Pernikahan Anak

Identifikasi Media Leaflet dalam Kampanye Stop Pernikahan Usia Dini


Definisi

Leaflet adalah Lembaran kertas berukuran kecil mengandung


pesan tercetak untuk disebarkan kepada umum sebagai
informasi mengenai suatu hal atau peristiwa.

Ciri-Ciri Media Leaflet

Ukuran kertas kecil (sama dengan pamflet, tapi ukuran


lebih kecil),

Tulisan terdiri dari 200-400 huruf dengan tulisan cetak


biasanya juga diselingi gambar-gambar,

Terdiri dari beberapa lipatan kertas, setiap lipatan


memiliki pembahasan yang berkesinambungan

Ukuran

20cm - 30 cm

Bahan Kertas

Art Paper

Tempat Pelaku Media

Pedesaan Sulawesi Selatan

Fungsi

Leaflet berfungsi untuk menyampaikan pesan sebagai informasi


yang mendetail dan sistematis sehingga dapat memudahkan
khalayak dalam memahami pesan. Leaflet bisa juga bertujuan
untuk melakukan suatu promosi.

Kelebihan Media Leaflet

Menarik untuk dilihat

Mudah untuk dimengerti

Merangsang imajinasi dalam pemahaman isi leaflet

Lebih ringkas dalam penyampaian isi informasi

Kekurangan Media Leaflet

Kesalahan dalam mendesign tidak akan menarik


pembaca

Leaflet

hanya

untuk

dibagikan,

tidak

bisa

di

pajang/ditempel

Dibutuhkan kemampuan membaca dan perhatian,


karena tidak bersifat auditif dan visual

Elemen yang digunakan

Jenis Font: Times New Roman


Jenis font ini mengartikan sebuah pesan dapat terlihat
tegas,

kokoh

dan

kuat.

Sehingga

pesan

yang

disampaikan pada leaflet tekesan tegas.

Ukuran Font: 14, 16, dan 18 (untuk judul).


Ukuran leaflet yang tidak terlalu besar menjadi alasan
kami untuk memakai ukuran huruf yang tidak terlalu
besar namun tetap terbaca.

Warna:
Warna Tulisan Putih
Warna putih menggambarkan kebersihan, kedamaian,
dan penggunaan tulisan dengan menggunakan warna
putih dapat terkesan simple dan minimalis sehingga
membuat orang tidak ribet untuk membaca tulisan
berwarna putih apalagi dengan background yang
menggunakan warna gelap warna putih akan mudah
dibaca.
Warna background Merah
Warna

merah

dapat

diartikan

penegasan

untuk

seseorang dapat mentaati informasi yang diberikan,


warna merah juga dapat menarik perhatian, terkesan
berani

dan

memperkuat

kuat,

dapat

motivasi.

merangsang

Berani

dan

saraf
kuat

dan
untuk

menentukan sikap bahwa mereka akan melakukan

perilaku yang direkomendasikan.

Gambar:
Gambar yang disajikan pada leaflet kebayanyakan
menggunakan unsur animasi karena gambar animasi
membuat seseorang akan lebih mudah memahami, dan
gambar animasi pun juga dapat banyak menarik
perhatian orang. Lalu pada leaflet ini kami juga
menyajikan informasi melalui gambaran grafik agar
lebih mudah dipahami oleh pembaca beserta sumber
yang jelas agar para pembaca akan lebih mudah percaya
mengenai informasi yang kami berikan.

8 Tahap Perencanaan Komunikasi


1. Meneliti Sasaran:
o Sasaran Khalayak

: Para orang tua

o Demografis

: -Usia: 25 35 tahun
-Jenis Kelamin: Perempuan dan Laki-Laki
-Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga

o Geografis

: Wilayah : Sulawesi Selatan


Kawasan : Pedesaan

o Psikografis

: Masyarakat mempunyai latar belakang ekonomi


Menengah kebawah yang memiliki pengetahuan yang
kurang mengenai bahaya pernikahan anak, dan mereka
memiliki pendidikan yang rendah.

2. Membatasi Sasaran:
Kami memfokuskan target sasaran kampanye kami kepada penduduk pedesaan yang ada
di daerah Sulawesi Selatan karena bedasarkan data yang kami dapat, daerah pedesaan
merupakan daerah yang paling banyak melakukan pernikahan usia dini dan juga mereka
masih memiliki pengetahuan yang sedikit akan dampak yang ditimbulkan dari pernikahan
anak. Hal ini sangat memprihatikan, maka itu kami ingin mensosialisasikan melalui
media leaflet kepada masyarakat pedesaan mengenai bahaya-bahaya yang akan timbul
apabila melakukan pernikahan usia dini.

3. Penyusunan Isi Pernyataan

Halaman 1:
Stop Pernikahan Anak
Penjelasan : Kami ingin para orangtua untuk tidak lagi
menikahkan anak mereka yang belum cukup umur dan kami
berharap bahwa pernikahan anak dapat segera dihentikan karena
akan menimbulkan banyak dampak yang akan diterima oleh sang
anak.
Kami menggunakan kata Jangan Rampas Hak Anak pada
cover, agar pesan ini dapat disampaikan secara universal oleh
seluruh para orangtua khususnya di daerah Sulawesi Selatan.
Kami menggunakan kata ini karena kami ingin seorang anak
mendapatkan hak dan kewajiban yang sepantasnya mereka
terima.

Halaman 2:
Pada halaman ini kami memberikan penjelasan mengenai
hak dan kewajiban seorang anak, apa yang seharusnya
diterima

dan

dilakukan

oleh

seorang

anak.

Kami

memberikan penjelasan ini agar para orangtua yang


membaca dapat mengetahui hak dan kewajiban anak
sebenarnya sehingga para orangtua tetap dapat menghargai
seorang anak.

Halaman 3:
Pada halaman ini kami akan menyajikan data dengan ilustrasi
menggunakan grafik mengenai tingkat pernikahan anak di
Sulawesi. Data yang kami sajikan bersumber dari Kepala
Bidang Kualitas Hidup Perlindungan Perempuan dan Anak
Badan Pemberdayaan Perempuan Provinsi Sulawesi Selatan.

Halaman 4:
Pada halaman ini kami memberikan penjelasan mengenai
faktor-faktor apa sajakah yang dapat menyebabkan terjadinya
pernikahan anak.

Halaman 5:
Pada halaman ini kami memberikan penjelasan mengenai
dampak dari pernikahan anak. Hal ini kami lakukan agar para
pembaca dapat memahami dan menghindari menikahkan anak
mereka yang belum cukup umur. Disini kami juga akan
memberikan gambaran hal-hal apa yang terjadi pada anak jika
melakukan pernikahan di umur yang belum cukup matang.

Halaman 6:
Pada halaman ini kami akan memberikan penjelasan
mengenai beberapa solusi dari pernikahan anak agar
pernikahan anak dapat segera dihentikan dengan beberapa
cara yang kami sajikan di dalam leaflet.

4. Penentuan Saluran
Kami menggunakan media komunikasi berupa Leaflet. Leaflet dapat memberikan
pejelasan yang komprehensif mengenai tema kami Stop Pernikahan Anak. Kami
menggunakan leaflet karena menurut kami dengan menggunakan leaflet kami dapat
memberikan informasi yang cukup banyak mengenai kasus yang kami akan
sosialisasikan. Unsur yang terdapat dalam pemberian informasi lebih banyak
menggunakan tulisan atau kata-kata, tetapi agar lebih menarik kami menambahkan

beberapa gambaran ilustrasi. Dalam hal ini, kami juga memberikan pesan menggunakan
bahasa yang mudah dipahami oleh sasaran khalayak. Sehingga kami mengharapkan
pesan yang kami sampaikan dapat diterima dan dipahami oleh sasaran khalayak kami.

5. Penentuan Intensitas
Dalam hal ini kami menggunakan gradasi intensitas persuasif atau pembujukan. Kami
menggunakan gradasi intesitas ini karena tujuan pokok kami adalah memberikan
sosialisasi mengenai bahaya dari perkawinan anak. Kami berharap melalui sosialisasi
yang kami lakukan masyarakat didaerah pedesaan Sulawesi Selatan. Dapat melakukan
perilaku yang kami rekomendasikan yaitu dengan tidak menikahkan anak pada usia yang
belum matang karena terdapat bahaya dari sisi kesehatan maupun kesiapan mental
seseorang.

6. Penentuan Frekuensi
Dari kampanye yang kami lakukan mengenai Stop Perkawinan Anak, kami telah
menentukan frekuensi penyebaran informasi mengenai media Leaflet yaitu selama satu
bulan full (periode Januari-Februari 2016) sebanyak 2 kali penyebaran informasi dalam 1
minggu di beberapa Rukun Warga Pedesaan daerah Sulawesi Selatan.

7. Penentuan Waktu
Waktu yang kami tentukan dalam menyebarkan informasi melalui media Leaflet pada
pagi hari dan siang hari, dimana tentunya pada pagi hari banyak masyarakat yang sedang

berkumpul atau mereka tentunya sedang berada dirumah untuk mempersiapkan diri
bergegas melakukan kegiatan mereka sehari-hari.

8. Penentuan Tempat
Selain kami mendatangi masyarakat langsung untuk membagikan Leaflet ke beberapa
wilayah pedesaan, kami juga menyediakan informasi Stop Perkawinan Anak melalui
Leaflet di Balai Desa agar masyarakat yang datang ke Balai Desa dapat membaca
informasi tersebut.
Hal yang Diharapkan
1. Terlaksananya program kampanye Stop Perkawinan Anak di Sulawesi Selatan Yang
diselenggarakan oleh Lembaga Pemerhati Anak bekerja sama dengan Komisi
Perlindungan Anak Indonesia
2. Meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai bahaya dari Pernikahan di usia dini,
yang dapat dilihat dari sisi kesehatan dan sisi kesiapan mental seseorang. Hal ini kami
lakukan agar tidak ada lagi orang tua yang menikahkan anak mereka di umur yang belum
matang.
3. Masyarakat dapat memahami isi pesan yang kami sampaikan dan dapat melakukan
perilaku yang direkomendasikan.
4. Peraturan pemerintah dapat segera diperbaiki yaitu dengan menentukan peraturan
pernikahan menjadi 18 tahun ke atas.

Lembaga Pemerhati Anak

LPA atau Lembaga Pemerhati Anak merupakan yayasan yang memiliki tujuan agar anakanak Indonesia bisa mendapatkan hak untuk belajar dan bermain dimasanya. Dalam hal ini
berkaitan dengan fenomena budaya pernikahan diusia anak pada wilayah-wilayah tertentu di
Indonesia yang mengatas namakan factor ekonomi, dan mencerdaskan orang tua akan
bahayanya menikahkan anak-anak perempuannya diusia yang belum cukup matang.
Dalam logo kami memiliki beberapa arti yaitu sebagai berikut:
-

Warna tulisan yang kami gunakan adalah warna putih. Warna putih dalam logo memberi
kesan bersih, kedamaian, keterbukaan. Keterbukaan dimaksudkan dengan seseorang
siapa saja dapat bergabung serta bekerja sama dengan lembaga kami dan juga
keterbukaan untuk para orangtua yang ingin melakukan konsultasi mengenai anak.
Warna tulisan putih pada logo juga menimbulkan kesan yang simple tidak ribet. Lalu
tulisan pada logo kami juga menggunakan warna merah, dalam psikologis warna, warna
merah merupakan warna yang dapat menarik perhatian, berani dan kuat, dapat
merangsang saraf dan dapat meningkatkan motivasi untuk melakukan tindakan
melindungi anak.

Pada logo kami terdapat gambar beberapa anak. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan
bahwa fokus lembaga kami adalah persoalan mengenai anak. Gambar yang digunakan

menggunakan animasi karena gambar animasi dapat dengan mudah menarik perhatian
seseorang.

Visi dan Misi Lembaga Pemerhati Anak


Visi:
Stop Pernikahan Anak untuk melahirkan generasi yang cerdas
Misi:
1. Meningkatkan pemahaman orang tua tentang hak bermain dan belajar anak, dampak
negative dari pernikahan anak yang telah diatur oleh Negara.
2. Menghilangkan budaya pernikahan usia anak atas dasar mengurangi beban ekonomi
keluarga, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan dan

mempersiapkan diri untuk melahirkan generasi-generasi yang cerdas dan berkualitas.


3. Memberikan motivasi, menjadi wadah, pelindung, dan sahabat bagi orang tua dan anak
dalam mencegah dan mengurangi fenomena pernikahan diusia anak.

DAFTAR PUSTAKA

http://desainlogodesign.com/arti-warna-pada-logo
http://regional.kompas.com/read/2013/11/22/1140288/Angka.Pernikahan.Anak.di.Sulsel.
Tetinggi.Se-Indonesia
http://blog.isi-dsp.ac.id/desakagustin/psikologi-warna
http://omanfaqod.wordpress.com/