Anda di halaman 1dari 26

pengembangan wilayah

(Misra R.P, Regional Development, tahun 1982).


Pengembangan wilayah merupakan upaya
mendorong perkembangan wilayah melalui
pendekatan komprehensif mencakup aspek
fisik, ekonomi dan sosial.

Pengembangan wilayah adalah harmonisasi


perkembangan wilayah. Banyak cara dapat
diterapkan, mulai dari konsep pengembangan
sektoral, basic needs approach sampai
penataan ruang.

1960

1970

Praktek yang dilakukan masih


bersifat sektoral

Maka dari itu penerapannya


masih berupa ekonomi
geografi

sektor
pertanian

Menerapkan pengembangan wilayah dengan


membagi unit lahan berdasarkan kesesuaian
lahan bagi kegiatan pertanian

sektor
pertanahan

Menerapkan perencanaan tata guna tanah


berdasarkan penilaian kondisi dan potensi
lahan

sektor
kehutanan

Memperkenalkan fungsi hutan melalui


kriteria jenis tanah, kemiringan, dan curah
hujan/iklim

sektor
pariwisata
departemen

transmigrasi

Mengembangkan wisata melalui Wilayah


Tujuan Wisata (WTW) dan Daerah Tujuan
Wisata (DTW)

Menetapkan perwilayahan yang dikenal dengan


wilayah pengembangan parsial (WPP), satuan
kawasan pengembangan (SKP), dan satuan
permukiman

pertengahan 1970
Asumsi pengembangan
pusat pertumbuhan akan
menetes ke wilayah
sekitarnya salah

Mulai saat itu mulai


memegang prinsip pareto
optimum

Pusat pertumbuhan menarik


wilayah sekitarnya
menyebabkan terjadinya
metropolitan/megacity.

Dalam mewujudkan optimum


pareto digunakan alat
analisis seperti backwardforward linkages, urban-rural
linkages, shift-share analysis,
dan sebagainya.

pendekatan pareto optimum


Sistem pengembangan
infrastruktur dalam
pengembangan sentrasentra produksi.
Pendekatan satuan wilayah
pengembangan (SWP)
mengintegrasikan unit produksi dengan
wilayah pasar adanya sarana
perhubungan (transport)
Koordinasi antardaerah dan
sinkronisasi program
pembangunan

evaluasi peraktek
pelaksanaan
Program pengembangan
masih bersifat sentralistis dan
sektoral.

Muncul kegiatan untuk


melibatkan daerah dan
masyarakat, tetapi dalam
prakteknya masih merupakan
kegiatan pusat

1980

awal 1980
Ditandai dengan perumusan Strategi
Nasional Pembangunan Perkotaan
(menggunakan konsep growth pole
dalam pembangunannya)

Telah diperkenalkan pendekatan


pembangunan pada tahap pelaksanaan,
yaitu Program Pembangunan Prasarana
Kota Terpadu (P3KT) dalam pemilihan
kota prioritas

Diperkenalkan konsep sustainable


development:
Undang-Undang No.4 Tahun 1982
tentang Ketentuan Pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990
tentang Kriteria dan Pola Pengelolaan
Kawasan Lindung
Dan beberapa peraturan mengenai
analisis dampak lingkungan

Mulai dikenalkan pendekatan wilayah


fungsional pada ecological system untuk
pengelolaan sungai dan perairan.
Satuan Wilayah Sungai (SWS) dan
Daerah Pengaliran Sungai (DPS) sebagai
wilayah unit pengembangan dan
manajemen sumber daya air. Adanya
konsep manajemen sungai satu sungai
satu rencana dan satu manajemen

pertengahan 1980
Mulai dikenalkan
desentralisasi perencanaan
dan ditetapkannya
Peratuan Pemerintah No. 14
Tahun 1987 tentang
Penyerahan Sebagian
Urusan Pemerintahan di
Bidang ke-PU-an kepada
Daerah.
Termasuk penyerahan
urusan rencana tata ruang
yang merupakan bagian
bidang Cipta Karya

Perlu pemberdayaan
daerah di bidang
perencanaan. Kegiatan
yang dikerjakan:
Pembentukan unit
perencanaan di daerah
Penyusunan NSPM dan
pedoman teknis
penataan ruang
Sosialaisasi produk
hukum terkait

Dikenalkan pendekatan
dinamis, partisipatif, dan
tanggap terhadap
dinamika masyarakat dan
melibatkan kepentingan
stakeholders, didukung
pengembangan sistem
informasi penataan ruang
dan sistem informasi
geografis.

Rencana tata ruang


ditegaskan dalam dokumen
rencana pembangunan
(Buku Repelita IV dan V)

evaluasi praktek
pelaksanaan
Penyusunan P3KT sebagai implementasi
Stategi Nasional Pembangunan
Perkotaan hanya mencakup prasarana
keciptakaryaan dan terlepas dari
pembangunan prasarana kota lain

Dalam penerapan sustainable development


ditemukan kesulitan mengintegrasikan
pendekatan pembangunan berdasarkan
wilayah administrasi dan wilayah fungsional.
Sustainable development bersifat makro dan
normative sehingga sulit dilaksanakan.

1990

PP No. 45/1992 tentang


Otonomi Daerah
UU No. 24/1992 tentang
Penataan Ruang

Pertumbuhan dan pemerataan


pembangunan
Peningkatan desentralisasi
Pengembangan kawasan
strategis
Pembangunan berkelanjutan

Reorientasi dan t ransformasi


pembangunan
Action plan harus mampu
memecahkan persoalan strategis
Memanfaatkan keunggulan
kompetitif kawasan

Implementasi
perencanaan
strategis:

Kawasan andalan dan


sektor unggulan sebagai
prioritas

KAPET: Kawasan
Pengembangan
Ekonomi Terpadu
(1996)

akhir 1990
Hilangnya kesadaran masyarakat akan peran
dalam pembangunan

Melemahnya peran swasta dan dunia usaha


dalam investasi

Undang-undang
perda disahkan
Transparansi, partisipasi masyarakat
dalam pembangunan, desentralisasi dan
otoda, penghargaan terhadap HAM

2000

era otonomi daerah

Mengakibatkan biasnya hierarki


dalam sistem perencanaan tata
ruang wilayah. Pada UU No.
24/1992: RTRW Nasional dan
RTRW Propinsi yang menjadi
pedoman bagi daerah tingkat
bawahannya, menjadi tidak
efektif karena daerah
mempunyai kewenangan penuh
dalam penataan ruang
daerahnya

Penyusunan RTRWN berdasarkan tata


ruang kabupaten/kota dan provinsi.
Penyusunan RTRWP harus berdasarkan
kesepakatan antara provinsi dan
kabupaten/kota.
Kewenangan pusat dalam
bidang tata ruang meliputi fasilitasi
kerjasama atau penyelesaian masalah
antar propinsi/daerah, misal melalui
penyusunan RTRW Pulau atau RTRW
Kawasan Jabodetabek.

tahun 2000-an

Konsep dan karakteristik penataan


ruang sebagai alternatif pengganti
perencanaan di era otonomi daerah:
Pendekatan bottom-up dan melibatkan semua
pelaku pembangunan

Menjaga dan meningkatkan mutu


lingkungan sambal mendorong dan
memfasilitasi pembangunan

Transparan dalam perencanaan, implementasi


dan pengendalian

Berwawasan luas, dengan perhatian pada


kawasan lebih detail

Memberi perhatian besar dan pada tuntutan


jangka pendek

Mempunyai visi penmbangunan dan


manajemen pembangunan (applicable)

Realistis terhadap tuntutan dunia usaha dan


masyarakat

Rencana dapat dijadikan pedoman


investasi

thank
you