Anda di halaman 1dari 15

Ganti Balutan

A. Latar Belakang
1. Pengertian Luka
Terganggunya suatu kontinuitas dari suatu bagian tubuh yang bisa diakibatkan oleh
berbagai trauma, baik secara mekanik., panas, kimia, radiasi atau invasi dari mikroorganisme
pathogen.
Berdasarkan proses penyembuhan, dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu:
A. Healing by primary intention
Tepi luka bisa menyatu kembali, permukan bersih, biasanya terjadi karena suatu insisi, tidak
ada jaringan yang hilang. Penyembuhan luka berlangsung dari bagian internal ke ekseternal.
B. Healing by secondary intention
Terdapat sebagian jaringan yang hilang, proses penyembuhan akan berlangsung mulai dari
pembentukan jaringan granulasi pada dasar luka dan sekitarnya.
C. Delayed primary healing (tertiary healing)
Penyembuhan luka berlangsung lambat, biasanya sering disertai dengan infeksi, diperlukan
penutupan luka secara manual.
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Penyembuhan Luka
- usia
- nutrisi
- status immunologi
- penyakit (penyakit metabolic, gangguan vaskularisasi)
- pemakain obat-obatan (steroid dalam jangka waktu lama), menekan respon
inflamasi, meningkatkan resiko infeksi
3. Pengkajian Luka
a. Lokasi dan letak luka
b. Stadium luka
- stadium I : kulit berwarna merah, belum tampak adanya lap. Epidermis yang hilang
- stadium II : hilangnya lap.epidermis sampai batas dermis paling atas
- stadium III : lesi terbuka, penetrasi dalam hingga otot atau tulang
c. Warna dasar luka
- merah : luka bersih, banyak vaskularisasi
- kuning : luka terkontaminasi atau trinfeksi, avaskularisasi
- hitam : jaringan nekrosis, avaskularisasi
d. Bentuk dan ukuran luka
- panjang luka
- lebar luka
- kedalaman luka (membentuk gua, mambentuk sinus)
e. Status vascular
palpasi, edema, temperature kulit.
f. Status neurologik
- fungsi motorik
- fungus sensorik
- fungsi autonom

4. Perencanaan
A. Pemilihan Balutan Luka
Balutan luka (wound dressings) secara khusus telah mengalami perkembangan yang
sangat pesat selama hampir dua dekade ini. Revolusi dalam perawatan luka ini dimulai
dengan adanya hasil penelitian yang dilakukan oleh Professor G.D Winter pada tahun 1962
yang dipublikasikan dalam jurnal Nature tentang keadaan lingkungan yang optimal untuk
penyembuhan luka. Menurut Gitarja (2002), adapun alasan dari teori perawatan luka dengan
suasana lembab ini antara lain:
1. Mempercepat fibrinolisis
Fibrin yang terbentuk pada luka kronis dapat dihilangkan lebih cepat oleh netrofil dan sel
endotel dalam suasana lembab.
2. Mempercepat angiogenesis
Dalam keadaan hipoksia pada perawatan luka tertutup akan merangsang lebih pembentukan
pembuluh darah dengan lebih cepat.
3. Menurunkan resiko infeksi
Kejadian infeksi ternyata relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan perawatan kering.
4. Mempercepat pembentukan Growth factor
Growth factor berperan pada proses penyembuhan luka untuk membentuk stratum corneum
dan angiogenesis, dimana produksi komponen tersebut lebih cepat terbentuk dalam
lingkungan yang lembab.
5. Mempercepat terjadinya pembentukan sel aktif.
Pada keadaan lembab, invasi netrofil yang diikuti oleh makrofag, monosit dan limfosit ke
daerah luka berfungsi lebih dini.
Pada dasarnya prinsip pemilihan balutan yang akan digunakan untuk membalut luka harus
memenuhi kaidah-kaidah berikut ini:
1. Kapasitas balutan untuk dapat menyerap cairan yang dikeluarkan oleh luka
(absorbing)
2. Kemampuan balutan untuk mengangkat jaringan nekrotik dan mengurangi resiko terjadinya
kontaminasi mikroorganisme (non viable tissue removal)
3. Meningkatkan kemampuan rehidrasi luka (wound rehydration)
4. Melindungi dari kehilangan panas tubuh akibat penguapan
5. Kemampuan atau potensi sebagai sarana pengangkut atau pendistribusian antibiotic ke seluruh
bagian luka (Hartmann, 1999; Ovington, 1999)
Dasar pemilihan terapi harus berdasarkan pada :
Apakah suplai telah tersedia?
Bagaimana cara memilih terapi yang tepat?
Bagaimana dengan keterlibatan pasien untuk memilih?
Bagaimana dengan pertimbangan biaya?
Apakah sesuai dengan SOP yang berlaku?
Bagaimana cara mengevaluasi?

B. Jenis-jenis balutan dan terapi alternative lainnya


1. Film Dressing
Semi-permeable primary atau secondary dressings
Clear polyurethane yang disertai perekat adhesive
Conformable, anti robek atau tergores
Tidak menyerap eksudat
Indikasi : luka dgn epitelisasi, low exudate, luka insisi
Kontraindikasi : luka terinfeksi, eksudat banyak
Contoh: Tegaderm, Op-site, Mefilm
2. Hydrocolloid
Pectin, gelatin, carboxymethylcellulose dan elastomers
Support autolysis untuk mengangkat jaringan nekrotik atau slough
Occlusive > hypoxic environment untuk mensupport angiogenesis
Waterproof
Indikasi : luka dengan epitelisasi, eksudat minimal
Kontraindikasi : luka yang terinfeksi atau luka grade III-IV
Contoh: Duoderm extra thin, Hydrocoll, Comfeel
3. Alginate
Terbuat dari rumput laut
Membentuk gel diatas permukaan luka
Mudah diangkat dan dibersihkan
Bisa menyebabkan nyeri
Membantu untuk mengangkat jaringan mati
Tersedia dalam bentuk lembaran dan pita
Indikasi : luka dengan eksudat sedang s.d berat
Kontraindikasi : luka dengan jaringan nekrotik dan kering
Contoh : Kaltostat, Sorbalgon, Sorbsan
4. Foam Dressings
Polyurethane
Non-adherent wound contact layer
Highly absorptive
Semi-permeable
Jenis bervariasi
Adhesive dan non-adhesive
Indikasi : eksudat sedang s.d berat
Kontraindikasi : luka dengan eksudat minimal, jaringan nekrotik hitam
Contoh : Cutinova, Lyofoam, Tielle, Allevyn, Versiva
5. Terapi alternatif
Zinc Oxide (ZnO cream)
Madu (Honey)
Sugar paste (gula)

Larvae therapy/Maggot Therapy


Vacuum Assisted Closure
Hyperbaric Oxygen
5. Implementasi
A. Luka dengan eksudat & jaringan nekrotik (sloughy wound)
Bertujuan untuk melunakkan dan mengangkat jaringan mati (slough tissue)
Sel-sel mati terakumulasi dalam eksudat
Untuk merangsang granulasi
Mengkaji kedalaman luka dan jumlah eksudat
Balutan yang dipakai antara lain: hydrogels, hydrocolloids, alginates dan hydrofibre dressings
B. Luka Nekrotik
Bertujuan untuk melunakan dan mengangkat jaringan nekrotik (eschar)
Berikan lingkungan yg kondusif u/autolisis
Kaji kedalaman luka dan jumlah eksudat
Hydrogels, hydrocolloid dressings
C. Luka terinfeksi
Bertujuan untuk mengurangi eksudat, bau dan mempercepat penyembuhan luka
Identifikasi tanda-tanda klinis dari infeksi pada luka
Wound culture systemic antibiotics
Kontrol eksudat dan bau
Ganti balutan tiap hari
Hydrogel, hydrofibre, alginate, metronidazole gel (0,75%), carbon dressings, silver dressings
D. Luka Granulasi
Bertujuan untuk meningkatkan proses granulasi, melindungi jaringan yang baru, jaga
kelembaban luka
Kaji kedalaman luka dan jumlah eksudat
Moist wound surface non-adherent dressing
Treatment overgranulasi
Hydrocolloids, foams, alginates
E. Luka epitelisasi
Bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk re-surfacing
Transparent films, hydrocolloids
Balutan tidak terlalu sering diganti
F. Balutan kombinasi
Tujuan

Tindakan

Rehidrasi

Hydrogel + film
atau hanya hydrocolloid

Debridement (deslough)

Hydrogel + film/foam
Atau hanya hydrocolloid
Atau alginate + film/foam
Atau hydrofibre + film/foam

Manage eksudat sedang


s.d berat

Extra absorbent foam


Atau extra absorbent alginate + foam
Atau hydrofibre + foam
Atau cavity filler plus foam

6. Evaluasi dan Monitoring Luka


Dimensi luka : size, depth, length, width
Photography
Wound assessment charts
Frekuensi pengkajian
Plan of care
7. Dokumentasi Perawatan Luka
- Potential masalah
- Komunikasi yang adekuat
- Continuity of care
- Mengkaji perkembangan terapi atau masalah lain yang timbul
- Harus bersifat faktual, tidak subjektif
- Wound assessment charts

B. Mengganti Balutan
1. Pengertian Mengganti Balutan
Melakukan perawatan pada luka dengan cara mamantau keadaan luka,
melakukan
penggatian balutan (ganti verban) dan mencegah
terjadinya infeksi,yiatu dengan cara mengganti balutan yang kotor dengan balutan yang
bersih.
2. Tujuan
1. Meningkatkan penyembuhan luka dengan mengabsorbsi cairan dan dapat menjaga
kebersihan luka
2. Melindungi luka dari kontaminasi
3. Dapat menolong hemostatis ( bila menggunakan elastis verband )
4. Membantu menutupnya tepi luka secara sempurna

5. Menurunkan pergerakan dan trauma


6. Menutupi keadaan luka yang tidak menyenangkan
3. Indikadi
Pada balutan yang sudah kotor
4. Kontra Indikasi
1. Pembalut dapat menimbulkan situasi gelap, hangat dan lembab sehingga
mikroorganisme dapat hidup
2. Pembalut dapat menyebabkan iritasi pada luka melalui gesekan gesekan pembalut.
5. Bahan yang Digunakan dalam Perawatan Luka
a. Sodium Klorida 0,9 %
Sodium klorida adalah larutan fisiologis yang ada di seluruh tubuh karena antikseptik
ini ini tidak ada reaksi hipersensitivitas dari sodium klorida. Normal saline aman digunakan
muntuk kondisi apapun (Lilley & Aucker, 1999). Sodium klorida atau natrium klorida
mempunyai Na dan Cl yang sama seperti plasma. Larutan ini tidak mempengaruhi sel darah
merah (Handerson, 1992). Sodium klorida tersedia dalam beberapa konsentrasi, yang paling
sering adalah sodium klorida 0,9 %. Ini adalah konsentrasi normal dari sodium klorida dan
untuk antiseptik ini sodium klorida disebut juga normal saline (Lilley & Aucker, 1999).
Merupakan larutan isotonis aman untuk tubuh, tidak iritan, melindungi granulasi jaringan dari
kondisi kering, menjaga kelembaban sekitar luka dan membantu luka menjalani proses
penyembuhan serta mudah didapat dan harga antiseptik lebih murah
b. Larutan povodine-iodine.
Iodine adalah element non metalik yang tersedia dalam bentuk garam yang
dikombinasi dengan bahan lain Walaupun iodine bahan non metalik iodine berwarna hitam
kebiru-biruan, kilau metalik dan bau yang khas. Iodine hanya larut sedikit di air, tetapi dapat
larut secara keseluruhan dalam antiseptik dan larutan sodium iodide encer. Iodide antiseptik
dan solution keduanya aktif melawan spora tergantung konsentrasi dan waktu pelaksanaan
(Lilley & Aucker, 1999).
Larutan ini akan melepaskan iodium anorganik bila kontak dengan kulit atau selaput
Antiseptik sehingga cocok untuk luka kotor dan terinfeksi bakteri gram positif dan antiseptik,
spora, jamur, dan protozoa. Bahan ini agak iritan dan antiseptik serta meninggalkan residu
(Sodikin, 2002). Studi menunjukan bahwa antiseptic seperti povodine iodine toxic terhadap
sel (Thompson. J, 2000). Iodine dengan konsentrasi > 3 % dapat memberi rasa panas pada
kulit. Rasa terbakar akan nampak dengan iodine ketika daerah yang dirawat ditutup dengan
balutan oklusif kulit dapat ternoda dan menyebabkan iritasi dan nyeri pada sisi luka. (Lilley
& Aucker, 1999).

6. Persiapan Alat
1. Alat-alat steril
a. Pinset anatomis 1 buah
b. Pinset sirugis 1 buah
c. Gunting bedah/jaringan 1 buah
d. Kassa kering dalam kom tertutup secukupnya
e. Kassa desinfektan dalam kom tertutup
f. sarung tangan 1 pasang
g. korentang/forcep
2. Alat-alat tidak steril
a. Gunting verban 1 buah

b. Plester
c. Pengalas
d. Kom kecil 2 buah (bila dibutuhkan)
e. Nierbeken 2 buah
f. Kapas alcohol
g. Aceton/bensin
h. Sabun cair anti septik
i. NaCl 9 %
j. Cairan antiseptic (bila dibutuhkan)
k. Sarung tangan 1 pasang
l. Masker
m. Air hangat (bila dibutuhkan)
n. Kantong plastic/baskom untuk tempat sampah
7. Pelaksanaan
1. Jelaskan kepada pasien tentang tindakan yang akan dilakukan
2. Dekatkan alat-alat ke pasien
3. Pasang sampiran
4. Perawat cuci tangan
5. Pasang masker dan sarung tangan yang tidak steril
6. Atur posisi pasien sesuai dengan kebutuhan
7. Letakkan pengalas dibawah area luka
8. Letakkan nierbeken didekat pasien
9. Buka balutan lama (hati-hati jangan sampai menyentuh luka) dengan menggunakan pinset
anatomi, buang balutan bekas kedalam nierbeken.
Jika menggunakan plester lepaskan plester dengan cara melepaskan ujungnya dan menahan
kulit dibawahnya, setelah itu tarik secara perlahan sejajar dengan kulit dan kearah balutan.
( Bila masih terdapat sisa perekat dikulit, dapat dihilangkan dengan aceton/ bensin )
10. Bila balutan melekat pada jaringan dibawah, jangan dibasahi, tapi angkat balutan dengan
berlahan
11. Letakkan balutan kotor ke neirbeken lalu buang kekantong plastic, hindari kontaminasi
dengan permukaan luar wadah
12. Kaji lokasi, tipe, jumlah jahitan atau bau dari luka
13. Membuka set balutan steril dan menyiapkan larutan pencuci luka dan obat luka dengan
memperhatikan tehnik aseptic
14. Buka sarung tangan ganti dengan sarung tangan steril
15. Membersihkan luka dengan sabun anti septic atau NaCl 9 %
16. Memberikan obat atau antikbiotik pada area luka (disesuaikan dengan terapi)
17. Menutup luka dengan cara:
a. Balutan kering
1. lapisan pertama kassa kering steril u/ menutupi daerah insisi dan bagian sekeliling
kulit
2. lapisan kedua adalah kassa kering steril yang dapat menyerap
3. lapisan ketiga kassa steril yang tebal pada bagian luar
b. Balutan basah kering
1. lapisan pertama kassa steril yang telah diberi cairan steril atau untuk menutupi area
luka
2. lapisan kedua kasa steril yang lebab yang sifatnya menyerap
3. lapisan ketiga kassa steril yang tebal pada bagian luar
c. Balutan basah basah
1. lapisan pertama kassa steril yang telah diberi dengan cairan fisiologik u/ menutupi

luka
2. lapisa kedua kassa kering steril yang bersifat menyerap
3. lapisan ketiga (paling luar) kassa steril yang sudah dilembabkan dengan cairan
fisiologik
18. Plester dengan rapi
19. Buka sarung tangan dan masukan kedalam nierbeken
20. Lepaskan masker
21. Atur dan rapikan posisi pasien
22. Buka sampiran
23. Evaluasi keadaan umum pasien
24. Rapikan peralatan dan kembalikan ketempatnya dalam keadaan bersih, kering dan rapi
25. perawat cuci tangan
26. Dokumentasikan tindakan dalam catatan keperawatan
8. Hal-Hal yang harus diperhatikan
a. Membalut harus rata, jangan terlalu longgar dan jangan terlalu erat, hal ini untuk
mencegah terjadinya pembendungan. Contoh pada kaki dan tangan
b. Pembalut harus sesuai dengan tujuan, contoh : untuk menjaga agar luka jangan
terkontaminasi, untuk merapatnya luka, atau untuk menghentikan perdarahan
c. Menggunting plester jangan terlalu panjang/ terlalu pendek
d. Pembalut yang kotor/ basah segera diganti. Pada luka operasi tanpa drain sampai angkat
jahitan ( minimal 5 hari ), pembalut yang tepat berada di atas luka tidak boleh diganti. Jadi
bila pembalut kotor/ basah hanya bagian atasnya saja yang diganti, atau pembalut diganti
sesuai dengan instruksi dokter
e. Memperhatikan apakah ada perdarahan, atau kotoran kotoran yang lain untuk menetukan
kapan drain dapat diangkat
f. Memperhatikan komplikasi luka operasi, contoh haematom, adanya pus,
pengerasan, perdarahan, kemerahan atau lecet lecet pada kulit sekitarnya

DAFTAR PUSTAKA

http://irmanthea.blogspot.com/2007/07/definisi-luka-adalah-rusaknya.html
http://www.keperawatan-online.co.cc/2009/01/perawatan-luka-modern.html
http://supriatnastg.blogspot.com/2009/07/mengganti-balutan-luka.html
http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/05/laporan-pendahuluan-tindakan-mengganti.html
Diposkan oleh Sosya Mona Seprianti di 04.34
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

PROSEDUR PERAWATAN LUKA DENGAN BALUTAN


KERING
Senin, April 22, 2013 Prosedur Tindakan Homecare No comments
A. Pengertian
Tindakan pembersihan luka dan penggantian balutan kering
B. Tujuan

1;

Mencegah infeksi sekunder

2;

Luka bersih dan kering

3;

Meminimalkan mikroorganisme

C. Indikasi
Untuk luka atau insisi pembedahan yang mempunyai drainase minimal dan tidak ada jaringan yang hilang
D. Persiapan alat

1;

Satu alat steril sesuai kebutuhan

2;

Plester

3;

Kasa steril dalam tempatnya, perban bila perlu

4;

Sarung tangan bersih

5;

Sarung tangan steril

6;

Larutan normal saline steril (NaCl 0,9 %)

7;

Kantong sampah infeksius

8;

Perlak dan alasnya

9;

Tempat penyimpanan barang steril, seperti bengkok (Piala ginjal) dan mangkuk steril (Kopyes) diatas troli

E. Prosedur

1;

Cek instruksi dokter dan rencana perawatan

2;

Siapkan alat-alat, termasuk peralatan steril di meja/troli

3;

Identifikasi pasien, jelaskan tujuan dan prosedur

4;

Berikan privasi

5;

Tinggikan tempat tidur dan turunkan penghalang tempat tidur untuk bekerja di samping pasien

6;

Tempatkan kantong untuk meletakkan balutan yang kotor di dekat pasien

7;

Cuci tangan

8;

Bentangkan perlak di bawah daerah yang akan diganti balutan

9;

Pakai sarung tangan bersih (tidak steril)

10; Lepaskan plester ke arah luka atau buka ikatan balutan


11; Tuang larutan normal saline pada balutan
12; Lepaskan kasa satu per satu, lalu buang ke kantong plastik
13; Lepaskan sarung tangan
14; Buka set steril dengan tetap mempertahankan kesterilan alat
15; Tuang larutan normal saline ke dalam kopyes dan letakkan beberapa potong kasa di daerah steril tersebut
16; Pakai sarung tangan steril
17; Bersihkan area luka menggunakan kasa, tekan kasa pada daerah depresi atau lubang
18; Kaji luka, ukur, identifikasi tipe dan tentukan apakah ada tanda-tanda infeksi
19; Jika ada selang drain, bersihkan area drain dan sekitar area dengan gerakan sirkulasi (memutar kearah luar).
Jangan menggunakan zat kimia sitotoksik atau yang berbahaya

20; Pasang beberapa kasa pada drain


21; Tutup daerah luka dengan kasa steril
22; Lepaskan sarung
23; Plester hanya

tangan dan masukkan ke dalam kantong sampah infeksius

pada bagian ujung-ujung balutan, plester montgomeri dapat digunakan untuk mencegah iritasi

kulit yang berlebihan dan kerusakan yang disebabkan oleh ganti balutan yang sering. Untuk daerah tertentu,
dapat ditambah gulungan perban untuk memperkuat fiksasi

24; Kembalikan pasien ke posisi semula. Turunkan tempat tidur dan kembali naikkan penghalang tempat tidur
25; Buang materi yang kotor ke dalam wadah yang tepat (sampah infeksius)
26; Cuci tangan
27; Bereskan alat-alat

Laparatomy merupakan prosedur pembedahan yang melibatkan suatu insisi pada dinding abdomen
hingga ke cavitas abdomen (Sjamsurihidayat dan Jong, 1997). Ditambahkan pula bahwa laparatomi merupakan
teknik sayatan yang dilakukan pada daerah abdomen yang dapat dilakukan pada bedah digestif dan obgyn.
Adapun tindakan bedah digestif yang sering dilakukan dengan tenik insisi laparatomi ini adalah herniotomi,
gasterektomi, kolesistoduodenostomi, hepatorektomi, splenoktomi, apendektomi, kolostomi, hemoroidektomi
dfan fistuloktomi. Sedangkan tindkan bedah obgyn yang sering dilakukan dengan tindakan laoparatomi adalah
berbagai jenis operasi pada uterus, operasi pada tuba fallopi, dan operasi ovarium, yang meliputi hissterektomi,
baik histerektomi total, radikal, eksenterasi pelvic, salpingooferektomi bilateral.
Ada 4 cara insisi pembedahan yang dilakukan, antara lain (Yunichrist, 2008):

b.

a.

Midline incision : Metode insisi yang paling sering digunakan, karena sedikit perdarahan,
eksplorasi dapat lebih luas, cepat di buka dan di tutup, serta tidak memotong ligamen dan saraf.
Namun demikian, kerugian jenis insis ini adalah terjadinya hernia cikatrialis. Indikasinya pada
eksplorasi gaster, pankreas, hepar, dan lien serta di bawah umbilikus untuk eksplorasi ginekologis,
rektosigmoid, dan organ dalam pelvis.

b.

Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah ( 2,5 cm), panjang (12,5 cm). Terbagi atas 2
yaitu, paramedian kanan dan kiri, dengan indikasi pada jenis operasi lambung, eksplorasi
pankreas, organ pelvis, usus bagian bagian bawah, serta plenoktomi. Paramedian insicion
memiliki keuntungan antara lain : merupakan bentuk insisi anatomis dan fisiologis, tidak memotong
ligamen dan saraf, dan insisi mudah diperluas ke arah atas dan bawah

c.

Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan
colesistotomy dan splenektomy.

d.

Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah 4 cm di atas anterior
spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendectomy

Indikasi Tindakan Laparatomi

Ada banyak indikasi dilakukannya laparatomi, dibawah ini akan dipaparkan, diantaranya :
1.

Trauma abdomen (tumpul atau tajam)


Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur yang terletak diantara
diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul atau yang menusuk (Ignativicus &
Workman, 2006). Dibedakan atas 2 jenis yaitu :
Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium) yang disebabkan oleh
: luka tusuk, luka tembak. Dan jenis kedua yaitu trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi
kedalam rongga peritoneum) yang dapat disebabkan oleh pukulan, benturan, ledakan, deselerasi,
kompresi atau sabuk pengaman (sit-belt).

2.

Peritonitis
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membrane serosa rongga abdomen, yang
diklasifikasikan atas primer, sekunder dan tersier. Peritonitis primer dapat disebabkan
oleh spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hepar kronis. Peritonitis sekunder
disebabkan oleh perforasi appendicitis, perforasi gaster dan penyakit ulkus duodenale, perforasi
kolon (paling sering kolon sigmoid), sementara proses pembedahan merupakan penyebab
peritonitis tersier.

3.

Sumbatan pada usus halus dan besar (Obstruksi)


Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya) aliran normal isi usus
sepanjang saluran usus. Obstruksi usus biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsinoma dan
perkembangannya lambat. Sebagian dasar dari obstruksi justru mengenai usus halus. Obstruksi
total usus halus merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan
pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup. Penyebabnya dapat berupa perlengketan
(lengkung usus menjadi melekat pada area yang sembuh secara lambat atau pada jaringan parut
setelah pembedahan abdomen), Intusepsi
(salah satu bagian dari usus menyusup kedalam
bagian lain yang ada dibawahnya akibat penyempitan lumen usus), Volvulus (usus besar yang
mempunyai mesocolon dapat terpuntir sendiri dengan demikian menimbulkan penyumbatan
dengan menutupnya gelungan usus yang terjadi amat distensi), hernia (protrusi usus melalui area
yang lemah dalam usus atau dinding dan otot abdomen), dan tumor (tumor yang ada dalam dinding
usus meluas kelumen usus atau tumor diluar usus menyebabkan tekanan pada dinding usus).

4.

Apendisitis mengacu pada radang apendiks, suatu tambahan seperti kantong yang tak berfungsi
terletak pada bagian inferior dari sekum. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah
obstruksi lumen oleh fases yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa
menyebabkan inflamasi.

5.

Tumor abdomen

6.

pancreatitis (inflammation of the pancreas)

7.

abscesses (a localized area of infection)

8.

adhesions (bands of scar tissue that form after trauma or surgery)

9.

diverticulitis (inflammation of sac-like structures in the walls of the intestines)

10. intestinal perforation


11. ectopic pregnancy (pregnancy occurring outside of the uterus)
12. foreign bodies (e.g., a bullet in a gunshot victim)
13. internal bleeding
c.

Post Op Laparatomi

Post op atau Post operatif Laparatomi merupakan tahapan setelah proses pembedahan pada area
abdomen (laparatomi) dilakukan. Dalam Perry dan Potter (2005) dipaparkan bahwa tindakan post operatif
dilakukan dalam 2 tahap yaitu periode pemulihan segera dan pemulihan berkelanjutan setelah fase post
operatif. Proses pemulihan tersebut membutuhkan perawatan post laparatomi. Perawatan post laparatomi
adalah bentuk pelayanan perawatan yang di berikan kepadaklien yang telah menjalani operasi pembedahan
abdomen.
Tujuan perawatan post laparatomi, antara lain:
1.

Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.

2.

Mempercepat penyembuhan.

3.

Mengembalikan fungsi klien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi.

4.

Mempertahankan konsep diri klien.

5.

Mempersiapkan klien pulang.

Komplikasi
1.

Syok
Digambarkan sebagai tidak memadainya oksigenasi selular yang disertai dengan ketidakmampuan
untuk mengekspresikan produk metabolisme. Manifestasi Klinis :

2.

a.

Pucat

b.

Kulit dingin dan terasa basah

c.

Pernafasan cepat

d.

Sianosis pada bibir, gusi dan lidah

e.

Nadi cepat, lemah dan bergetar

f.

Penurunan tekanan nadi

g.

Tekanan darah rendah dan urine pekat.

Hemorrhagi
a.

H. Primer : terjadi pada waktu pembedahan

b.

H. Intermediari : beberapa jam setelah pembedahan ketika kenaikan tekanan darah ke tingkat
normalnya melepaskan bekuan yang tersangkut dengan tidak aman dari pembuluh darah yang
tidak terikat

c.

H. Sekunder : beberapa waktu setelah pembedahan bila ligatur slip karena pembuluh darah
tidak terikat dengan baik atau menjadi terinfeksi atau mengalami erosi oleh selang drainage.

Manifestasi Klinis Hemorrhagi : Gelisah, , terus bergerak, merasa haus, kulit dingin-basah-pucat,
nadi meningkat, suhu turun, pernafasan cepat dan dalam, bibir dan konjungtiva pucat dan pasien
melemah.
3.

Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.


Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 - 14 hari setelah operasi. Bahaya besar
tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran
darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak.

4.

Buruknya integriats kulit sehubungan dengan luka infeksi.


Infeksi luka sering muncul pada 36 - 46 jam setelah operasi. Organisme yang paling sering
menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aureus, mikroorganisme; gram positif. Buruknya integritas

kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi. Dehisensi luka merupakan terbukanya tepitepi luka. Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi.Faktor penyebab
dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan, ketegangan
yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah.

Pencegahan dan Penanganan Komplikasi


1. Syok
Pencegahan :
a.

Terapi penggantian cairan

b.

Menjaga trauma bedah pda tingkat minimum

c.

Pengatasan nyeri dengan membuat pasien senyaman mungkin dan dengan menggunakan
narkotik secara bijaksana

d.

Pemakaian linen yang ringan dan tidak panas (mencegah vasodilatasi)

e.

Ruangan tenang untuk mencegah stres

f.

Posisi supinasi dianjurkan untuk memfasilitasi sirkulasi

g.

Pemantauan tanda vital

Pengobatan :
a.

Pasien dijaga tetap hangat tapi tidak sampai kepanasan

b.

Dibaringkan datar di tempat tidur dengan tungkai dinaikkan

c.

Pemantauan status pernafasan dan CV

d.

Penentuan gas darah dan terapi oksigen melalui intubasi atau nasal kanul jika diindikasikan

e.

Penggantian cairan dan darah kristaloid (ex : RL) atau koloid (ex : komponen darah, albumin,
plasma atau pengganti plasma)

f.

Terapi obat : kardiotonik (meningkatkan efisiensi jantung) atau diuretik (mengurangi retensi
cairan dan edema)

2.

Hemorrhagi

Penatalaksanaan :
1.

Pasien dibaringkan seperti pada posisi pasien syok

2.

Sedatif atau analgetik diberikan sesuai indikasi

3.

Inspeksi luka bedah

4.

Balut kuat jika terjadi perdarahan pada luka operasi

5.

Transfusi darah atau produk darah lainnya

6.

Observasi Vital Signs.

3.

Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.

Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi dan ambulatif dini.
4.

Buruknya integriats kulit sehubungan dengan luka infeksi.

Tindakan pengendalian :

a.

Dorongan kepada pasien untuk batuk dan nafas efektis serta sering mengubah posisi

b.

Penggunaan peralatan steril

c.

Antibiotik dan antimikroba

d.

Mempraktikkan teknik aseptik

e.

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien

f.

Pencegahan kerusakan kulit

g.

Pantau tanda-tanda hemorrhagi dan drainage abnormal

h.

Pantau adanya perdarahan

i.

Perawatan insisi dan balutan

j.

Penggantian selang intravena dan alat invasif lainnya sesuai program.

Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan


1.

Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c.

2.

Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.

3.

Pencegahan infeksi.

4.

Pengembalian Fungsi fisik.


Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk
efektf, latihan mobilisasi dini.

5.

Mempertahankan konsep diri.


Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena adanya
perubahan sehubungan dengan pembedahan. Intervensi perawatan terutama ditujukan pada
pemberian support psikologis, ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahanperubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi.

Source:
Corwin Elizabeth, 2001, Patofisiologi, EGC, Jakarta.
Doegoes, Moorhouse, & Geissler 2000, Rencana asuhan keperawatan edisi 3, EGC,Jakarta.
Encyclopedia
of
Surgery,
3406200259.html.

2002, Laparotomy,

exploratory,http://www.encyclopedia.com/doc/1G2-

Ignativicus, Donna D ; Workman, 2006, Medical Surgical Nursing Critical Thinking for Collaborative
Care, Elsevier Saunders, USA.
Potter & Perry, 2005, Buku Ajar Fundamental Keperawatan Volume 2, EGC, Jakarta.
Sjamsurihidayat dan Jong, 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta.
Smetzer S C, Bare B G, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 2, EGC, Jakarta.
Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987, Edisi II.
Wikipedia, 2010, Laparatomy, diakses pada 11 April 2010, http://en.wikipedia.org/wiki/Laparotomy.
Yenichrist, 2008, Askep Post-Operatif: Peran Perawat Pasca
2010, http://www.yenibeth/wordpress.com/2008/07/01/100/.

Operatif,

diakses

pada

10

April