Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu
orang ke sistem peredaran orang lainnya. Tranfusi darah telah mulai dicoba dilakukan sejak abad
ke 15 dan hingga pertengahan abad ke 17, namun berakhir dengan kegagalan, karena cara
pemberiannya dan pada waktu itu dipakai sebagai sumber donornya adalah darah hewan. Melalui
berbagai percobaan dan pengamatan kemudian disimpulkan bahwa manusia yang semestinya
menjadi sumber darah.
Transfusi darah umumnya berhubungan dengan kehilangan darah dalam jumlah besar
yang disebabkan oleh trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah
merah.

Bila digunakan dengan benar, transfusi dapat menyelamatkan jiwa pasien dan

meningkatkan derajat kesehatan. Indikasi tepat transfusi darah dan komponen darah adalah untuk
mengatasi kondisi yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas bermakna yang tidak dapat
diatasi dengan cara lain. Keputusan melakukan transfusi harus selalu berdasarkan penilaian yang
tepat dari segi klinis penyakit dan hasil pemeriksaan laboratorium.
Tranfusi darah memang merupakan upaya untuk menyelamatkan kehidupan dalam
banyak hal, dalam bidang pediatri misalnya dalam perawatan neonates prematur, anak dengan
keganasan, anak dengan kelainan defisiensi atau kelainan komponen darah, dan transplantasi
organ. Namun tranfusi bukanlah tanpa resiko, meskipun telah dilakukan berbagai upaya untuk
memperlancar tindakan tranfusi, namun efek samping reaksi tranfusi atau infeksi akibat tranfusi
tetap mungkin terjadi. Maka bila diingat dan dipahami mengenai keamanannya, indikasinya
perlu diperketat. Apabila memungkinkan, masih perlu dicari alternatif lain untuk mengurangi
pengguanaan tranfusi darah. Pemberian komponen-komponen darah yang diperlukan saja lebih
dibenarkan dibandingkan dengan pemberian darah lengkap (whole blood).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Transfusi
Tranfusi darah adalah suatu rangkaian proses pemindahan darah donor ke dalam
sirkulasi dari resipien sebagai upaya pengobatan. Bahkan sebagai upaya untuk
menyelamatkan kehidupan. Berdasarkan asal darah yang diberikan tranfusi dikenal.
Homologous tranfusi (berasal dari darah orang lain), 2. Autologous tranfusi (berasal dari
diri sendiri).1-3
B. Darah dan Komponennya
Darah yang semula dikategorikan sebagai jaringan tubuh, saat ini telah dimasukkan
sebagai suatu organ tubuh terbesar yang beredar dalam sistem kardiovaskuler, tersusun
dari: Komponen korpuskuler atau seluler dan komponen cairan. Komponen korpuskuler
yaitu materi biologis yang hidup dan bersifat multiantigenik, terdiri dari sel darah merah,
sel darah putih dan keping trombosit, yang kesemuanya dihasilkan dari sel induk yang
senantiasa hidup dalam sumsum tulang. Ketiga jenis sel darah ini memiliki masa hidup
terbatas dan akan mati jika masa hidupnya berakhir. Agar fungsi organ darah tidak ikut
mati, maka secara berkala pada waktu-waktu tertentu, ketiga butiran darah tersebut akan
diganti, diperbarui dengan sel sejenis yang baru. Komponen cair yang juga disebut plasma,
menempati lebih dari 50 volume % organ darah, dengan bagian terbesar dari plasma (90%)
adalah air, bagian kecilnya terdiri dari protein plasma dan elektrolit. Protein plasma yang
penting diantaranya adalah albumin, berbagai fraksi globulin serta protein untuk faktor
pembekuan dan untuk fibrinolisis.1,3-4
Peran penting darah adalah:
a Sebagai organ transportasi, khususnya oksigen (O2), yang dibawa dari paruparu dan diedarkan ke seluruh tubuh dan kemudian mengangkut sisa
pembakaran (CO2) dari jaringan untuk dibuang keluar melalui paru-paru.
Fungsi pertukaran O2 dan CO2 ini dilakukan oleh hemoglobin, yang
terkandung dalam sel darah merah. Protein plasma ikut berfungsi sebagai
sarana transportasi dengan mengikat berbagai materi yang bebas dalam
plasma, untuk metabolisme organ-organ tubuh.3

Sebagai organ pertahanan tubuh (imunologik), khususnya dalam menahan


invasi berbagai jenis mikroba pathogen dan antigen asing. Tranfusi darah
adalah salah satu rangkaian proses pemindahan darah donor ke dalam sirkulasi
darah resipien sebagai upaya pengobatan. Mekanisme pertahanan ini
dilakukan oleh leukosit (granulosit dan limfosit) serta protein plasma khusus

(immunoglobulin).3
Peranan darah dalam menghentikan perdarahan (mekanisme homeostasis)
sebagai upaya untuk mempertahankan volume darah apabila terjadi kerusakan
pada pembuluh darah. Fungsi ini dilakukan oleh mekanisme fibrinolisis,

khususnya jika terjadi aktifitas homeostasis yang berlebihan.3


Apabila terjadi pengurangan darah yang cukup bermakna dari komponen darah
korpuskuler maupun non korpuskuler akibat kelainan bawaan ataupun karena penyakit yang
didapat, yang tidak dapat diatasi oleh mekanisme homeostasis tubuh dalam waktu singkat
maka diperlukan penggantian dengan tranfusi darah, khususnya dari komponen yang
diperlukan.3-4
C. Indikasi Transfusi Darah
Saat ini darah dan berbagai komponen-komponennya telah dapat dipisah-pisahkan dan
ditransfusikan secara terpisah sesuai kebutuhan. Darah dapat pula disimpan dalam bentuk
komponen-komponen darah yaitu: eritrosit, leukosit, trombosit, plasma dan faktor-faktor
pembekuan darah dengan proses tertentu yaitu dengan Refrigerated Centrifuge.4-6
Transfusi produk darah membawa risiko tertentu dan karena itu harus dilakukan hanya
jika itu meningkatkan prognosis pasien. Transfusi produk-produk darah memiliki risiko
yang mirip dengan transfusi PRC. Bahkan, beberapa risiko seperti cedera paru akut terjadi
lebih sering dengan transfusi plasma. Oleh karena itu, pemberian komponen-komponen
darah yang diperlukan saja lebih dibenarkan dibandingkan dengan pemberian darah lengkap
(Whole Blood). 4,6-7
Dasar pemikiran penggunaan komponen darah antara lain:
1 Lebih efisien, ekonomis, memperkecil reaksi transfuse
2 Lebih rasional, karena darah terdiri dari komponen seluler maupun plasma
yang fungsinya sangat beragam, serta merupakan materi biologis yang bersifat
multiantigenik, sehingga pemberiannya harus memenuhi syarat-syarat variasi
antigen minimal dan kompatibilitas yang baik, Transfusi selain merupakan

live saving therapy juga merupakan replacement therapy sehingga darah yang
3

diberikan haruslah safety blood.


Terdapat berbagai kelebihan terapi komponen dibandingkan dengan terapi
darah lengkap, seperti:
a. Disediakan dalam bentuk konsentrat sehingga mengurangi volume
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

transfusi.
Resiko reaksi imunologik lebih kecil
Pengawetan
Resiko penularan penyakit lebih kecil
Agregasi trombosit dan leukosit dapat dihindari
Pasien akan mendapatkan komponen yang diperlukan saja
Mempermudah masalah logistic
Pengawasan mutu lebih sederhana.6,8
Gambar 1. Jenis Transfusi Darah pada Manusia

1. Transfusi Whole Blood (WBC)


Darah lengkap mempunyai komponen utama yaitu eritrosit, darah lengkap juga
mempunyai kandungan trombosit dan faktor pembekuan labil (V, VIII). Volume darah
sesuai kantong darah yang dipakai yaitu antara lain 250 ml, 350 ml, 450 ml. Dapat
bertahan dalam suhu 42C. Darah lengkap berguna untuk meningkatkan jumlah
eritrosit dan plasma secara bersamaan. Hb meningkat 0,90,12 g/dl dan Ht meningkat 3-4
% post transfusi 450 ml darah lengkap. Tranfusi darah lengkap hanya untuk mengatasi
perdarahan akut dan masif, meningkatkan dan mempertahankan proses pembekuan.
4

Darah lengkap diberikan dengan golongan ABO dan Rh yang diketahui. Dosis pada
pediatrik rata-rata 20 ml/kg, diikuti dengan volume yang diperlukan untuk stabilisasi.
Indikasi pemberian WBC antara lain untuk penggantian volume pada pasien dengan syok
hemoragik, trauma atau luka bakar

dan pasien dengan perdarahan masif dan telah

kehilangan lebih dari 25% dari volume darah total, dimana seluruh komponen darah telah
berkurang. 4,6
Terdapat 3 jenis WBC berdasarkan lama pengambilan, yaitu:
a. Darah Segar
Yaitu darah yang baru diambil dari donor sampai 6 jam sesudah
pengambilan. Keuntungan pemakaian darah segar ialah faktor pembekuannya
masih lengkap termasuk faktor labil (V dan VIII) dan fungsi eritrosit masih
relatif baik. Kerugiannya sulit diperoleh dalam waktu yang tepat karena untuk
pemeriksaan golongan, reaksi silang dan transportasi diperlukan waktu lebih
dari 4 jam dan resiko penularan penyakit relatif banyak.
b. Darah Baru
Yaitu darah yang disimpan antara 6 jam sampai 6 hari sesudah diambil dari
donor. Faktor pembekuan disini sudah hampir habis, dan juga dapat terjadi
peningkatan kadar kalium, amonia, dan asam laktat.
c. Darah Simpan
Darah yang disimpan lebih dari 6 hari sampai 35 hari. Keuntungannya
mudah tersedia setiap saat, bahaya penularan lues dan sitomegalovirus hilang.
Sedang kerugiaannya ialah faktor pembekuan terutama faktor V dan VIII
sudah habis. Kemampuan transportasi oksigen oleh eritrosit menurun yang
disebabkan karena afinitas Hb terhadap oksigen yang tinggi, sehingga
oksigen sukar dilepas ke jaringan. Hal ini disebabkan oleh penurunan kadar
2,3 DPG, kadar kalium, amonia, dan asam laktat tinggi.4
Rumus yang digunakan untuk menghitung kebutuhan whole blood adalah:
Jumlah darah yang dibutuhkan (dalam ml) = 6 x Hb (Hb normal - Hb pasien) x BB

2. Transfusi Packed Red Cell (PRC)


Selama beberapa dekade terakhir keputusan untuk melakukan transfusi
berdasarkan dari aturan 10/30, dimana transfusi dilakukan untuk menjaga konsentrasi
hemoglobin diatas 10g/dL dan hematokrit diatas 30%. Namun, mempertimbangkan
5

transmisi dari pathogen melalui darah dan biaya transfusi yang mahal maka pada
akhirnya berdasarkan konsensus dari National Institute of Health pada tahun 1988
diputuskan kriteria tersebut bukan merupakan indikasi untuk melakukan transfusi PRC,
dan berbagai faktor yang berhubungan dengan keadaan klinis pasien dan kebutuhan
pengangkutan oksigen merupakan pertimbangkan untuk melakukan trasnfusi PRC.5
Ada bukti berkualitas tinggi yang menunjukkan bahwa membatasi transfusi darah
dengan pemicu transfusi kadar Hb 7-8 g/dl atau adanya gejala anemia aman dan tidak
berhubungan dengan peningkatan mortalitas dibandingkan dengan transfusi liberal.
Dengan demikian, strategi membatasi transfusi sangat dianjurkan pada pembedahan dan
dan pasien kritis. Ada bukti moderat untuk penggunaan plasma dan transfusi trombosit
pada pasien yang menerima transfusi darah masif. Tidak ada cukup bukti untuk yang
mendukung penggunaan plasma, trombosit dan kriopresipitat dalam keadaan klinis
lainnya.5-6
American Society of Anesthesiologists menggunakan kadar hemoglobin dari 6 g /
dL sebagai pemicu untuk transfusi, meskipun data yang lebih baru sarankan menurun
kematian dengan konsentrasi hemoglobin preanesthetic lebih besar dari 8 g / dL,
khususnya pada pasien transplantasi ginjal.8
Strategi transfusi restriktif telah didukung oleh Transfusion Requirements in
Critical Care (TRICC) trial, yang diterbitkan pada tahun 1999. Persidangan TRICC
mendokumentasikan tren keseluruhan terhadap penurunan angka kematian 30 hari dan
penurunan angka kematian secara signifikan di antara pasien yang lebih muda dari 55
tahun dalam kelompok menggunakan pemicu hemoglobin transfusi 7 g / dL dibandingkan
dengan lebih liberal. Para peneliti menyimpulkan bahwa strategi transfusi restriktif
setidaknya sama efektifnya dengan dan mungkin lebih unggul dibandingkan strategi
transfusi liberal pada pasien sakit kritis. Pengecualian untuk paradigma ini pasien dengan
infark miokard akut dan angina tidak stabil. Sebuah ulasan dari Cochrane database
memperkuat gagasan ini.8
Batasan yang dapat digunakan untuk pemberian transfuse adalah sebagai berikut:
a. Pada pembedahan atau perawatan kritis. Gunakan Hb dari <7g/dL sebagai
panduan untuk transfusi sel darah merah.
b. Pada penyakit kardiovaskular, pertimbangkan transfusi pada Hb <8g/dL atau
gejala misalnya sakit dada, hipotensi atau takikardi tidak responsif terhadap

resusitasi cairan; atau gagal jantung.Radioterapi - bukti Terbatas untuk


menjaga Hb lebih besar dari 10g/dL
c. Pada anemia kronis. Menjaga Hb untuk mencegah gejala anemia. Hb >8g/dL
sesuai untuk sebagian besar pasien.Pasien dengan penyakit sel sabit
membutuhkan batas Hb lebih rendah untuk transfusi, sebaiknya didiskusikan
dengan ahli hematologi.8
Indikasi pemberian PRC untuk transfusi antara lain adalah untuk anemia baik oleh
karena perdarahan ataupun disebabkan oleh faktor lain seperti kelainan kongenital
(anemia sel sabit, thalassemia), kelainan produksi (porfiria, defisiensi vitamin B12, asam
folat), dan penyakit kronis (keganasan, infeksi kronis). Pemberian PRC diberikan jika
terjadi kekurangan hemoglobin tanpa disertai defisiensi dari komponen darah lainnya.
Transfusi PRC menyediakan tiga efek yang menguntungkan: sirkulasi (volume-terkait),
rheologi (viskositas) dan pembawa oksigen. Transfusi darah saat ini tidak
direkomendasikan untuk ekspansi volume saja, kecuali dalam kasus-kasus perdarahan
parah. Demikian pula, transfusi diperlukan untuk meningkatkan viskositas hanya dalam
kasus-kasus hemodilusi parah. viskositas tinggi itu sendiri dapat menghambat sirkulasi.
Transfusi darah juga tidak segera meningkatkan pengiriman oksigen atau pemanfaatan
pada tingkat jaringan. Oleh karena itu, situasi klinis di mana transfusi darah bermanfaat
untuk pasien dan meningkatkan hasil terbatas. Keputusan untuk melakukan transfusi sel
darah merah harus didasarkan pada proses berpikir logis dengan tujuan pemulihan
oksigenasi jaringan. Oleh karena itu, transfusi sel darah merah secara logis dimulai dalam
situasi dimana terdapat bukti klinis adanya hipoksia yang dimanifestasikan oleh
hipoperfusi, termasuk asidosis laktat dan peningkatan base excess (bila tidak disebabkan
oleh asidosis metabolik hiperkloremik). Selain itu, preload kinerja jantung responsif
harus diperbaiki oleh volume plasma ekspansi eksklusif sesuai restorasi masa sel darah
merah. Dalam hal ini, agen pressor dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja jantung
jika dinilai tidak memadai, dan transfusi massa sel darah merah dapat digunakan untuk
mendukung pengiriman oksigen pada eng organ. Perdarahan tidak dapat segera
dikendalikan karena kelainan anatomi, koagulopati, atau lokasi di lingkungan yang keras
menghalangi kontrol perdarahan, dan PRC transfusi dapat memperpanjang hidup sampai
kontrol perdarahan dicapai.5-8
Kebutuhan darah pada transfuse PRC dapat dihitung dengan rumus:
7

Jumlah darah yang dibutuhkan(dalam ml)= 3 x Hb (Hb normal -Hb pasien) x BB


Beberapa prinsip yang perlu diketahui dalam transfusi PRC adalah:
a. Jika alasan untuk anemia tidak diketahui, ambil sampel darah untuk diagnosis
pra-transfusi.
b. Jika penyebab dapat diidentifikasi, misalnya defisiensi vitamin B12, asam
folat, kekurangan zat besi, hemolisis, mulai pengobatan segera. Jika mungkin
menghindari transfusi.
c. Transfusi perioperatif dapat dikurangi dengan penghentian agen anti-platelet,
antikoagulan dan pengobatan anemia pra-operasi.
d. Pasien harus diberi informasi tentang risiko dan manfaat dari transfusi.
Indikasi dan persetujuan pasien harus didokumentasikan pada catatan
transfusi.
e. Volume darah (Hb yang diinginkan) tergantung pada berat tubuh pasien
(biasanya 4ml / kg kenaikan 1g /dl). Tingkat transfusi dan kebutuhan
diuretik tergantung pada risiko dari kelebihan cairan, misalnya meningkat
pada lansia (> 70 tahun), gagal jantung, gangguan ginjal, anemia kronis,
hipoalbuminemia atau bukti overload cairan saat ini.
f. Pada kehilangan darah akut dalam keadaan darurat, lakukan resusitasi oleh
dokter yang berpengalaman. Transfusi jika total kehilangan darah >30%.4-5
3. Transfusi Trombosit
Selama setengah abad terakhir, transfusi trombosit telah menjadi terapi yang
efektif untuk pencegahan dan pengobatan perdarahan. Transfusi trombosit memainkan
peran penting dalam regimen terapi untuk pasien dengan penyakit hematologi/onkologi
yang menyebabkan trombositopenia berat baik dalam perjalanan penyakit mereka atau
pada saat mengikuti terapi sitostatik. Seperti komponen darah lainnya, transfusi trombosit
memiliki tingkat keamanan tinggi sejauh penularan infeksi dapat disingkirkan. Namun,
transfusi trombosit konsentrat disertai dengan frekuensi tinggi reaksi demam dan
anafilaktik. Dalam kasus yang jarang terjadi, penerima konsentrat trombosit terancam
oleh reaksi parah komplikasi septik karena kontaminasi bakteri dari konsentrat trombosit,
cedera paru akut yang berhubungan dengan transfusi dan episode anafilaksis parah.
Transfusi

trombosit

terbukti

bermanfaat

menghentikan

perdarahan

karena

trombositopenia. Transfusi trombosit digunakan untuk mengontrol, atau mencegah,


pendarahan yang berkaitan dengan prosedur medis pada pasien dengan trombositopenia
8

atau disfungsi trombosit. Komponen trombosit mempunyai masa simpan sampai dengan
3 hari.9-10
Indikasi pemberian komponen trombosit ialah :
a. Setiap perdarahan spontan dengan jumlah trombosit kurang dari 50.000/mm3.
Misalnya perdarahan pada penderita ITP, leukemia, anemia aplastik, demam
berdarah, DIC dan aplasia sumsum tulang karena pemberian sitostatika
terhadap tumor ganas.
b. Splenektomi pada hipersplenisme penderita thalasemia maupun hipertensi
portal juga memerlukan pemberian suspensi trombosit prabedah.
c. Pada kehilangan darah pada saat operasi, selain transfusi sel darah merah,
substitusi trombosit dan faktor koagulasi juga diperlukan.5,7,9
Transfusi trombosit biasanya diperlukan pada pasien perdarahan dengan jumlah
trombosit dibawah 50.000/mm3 tapi jarang di atas 100.000/mm3 . Jika nilai berada di
antara dua ini, transfusi dipertimbangkan dalam kasus disfungsi trombosit (misalnya,
terapi clopidogrel), perdarahan masif, dan operasi di ruang terbatas seperti pada operasi
mata dan otak.4,7
Respon buruk dari transfusi trombosit mungkin karena, misalnya: demam, sepsis,
DIC, splenomegali, obat-obatan tertentu (amfoterisin B, ciprofloxacin, vankomisin,
heparin), vaskulitis, graft-versus-host disease (GVHD) atau penyebab imunologi, seperti
Human Leukocyte Antigen (HLA) atau Human Platelet Alloantigens (HPA).7
Satu jam setelah transfusi 8 unit trombosit (yaitu, 2 bungkus = dosis rata-rata
dewasa) jumlah trombosit biasanya meningkat 40.000-50.000mm3, dan pada keesokan
harinya setelah transfusi setidaknya sekitar 60% dari kenaikan masih dapat ditemukan.8
4. Transfusi Fresh Frozen Plasma (FFP)
Fresh Frozen Plasma (plasma beku segar) adalah bagian cair dari darah lengkap
yang dipisahkan kemudian dibekukan dalam waktu 8 jam setelah pengambilan darah.
Hingga sekarang, komponen ini masih diberikan untuk defisiensi berbagai factor
pembekuan. (Bila ada/ tersedia, harus diberikan factor pembekuan yang spesifik sesuai
dengan defisiensinya). FFP ditransfusikan untuk mengganti kekurangan protein plasma
yang secara klinis nyata, dan defisiensi faktor pembekuan II, V, VII, X dan XI.
Kebutuhan akan plasma beku segar bervariasi menurut faktor spesifik yang akan
diganti.4,6
9

Komponen ini dapat diberikan pada trauma dengan perdarahan hebat atau renjatan
(syok), penyakit hati berat, imunodefisiensi tanpa ketersediaan preparat khusus, dan pada
bayi dengan enteropati disertai kehilangan protein (protein losing enteropathy). Meskipun
demikian, penggunaan komponen ini sekarang semakin berkurang. Dan bila diperlukan,
maka dosisnya 20-40 ml/ kgBB/hari.8
Indikasi lain transfusi plasma beku segar adalah sebagai cairan pengganti selama
penggantian plasma pada penderita dengan ITP (Idiopathic thrombocytopaenic purpura)
atau keadaan lain dimana plasma beku segar diharapkan bermanfaat, misalnya tukar
plasma pada penderita dengan perdarahan dan koagulopati berat. Plasma secara
konvensional digunakan untuk menggantikan faktor pembekuan pada pasien yang
menerima transfusi masif (70 ml / KgBB dalam 24 jam atau lebih dari 50% dari volume
darah dalam 3 jam), untuk pengembalian koagulasi pada efek warfarin, pada defisiensi
faktor pembekuan, dan dalam kasus-kasus. Transfusi plasma beku segar tidak lagi
dianjurkan untuk penderita dengan hemofilia A atau B yang berat, karena sudah tersedia
konsentrat faktor VIII dan IX yang lebih aman. Plasma beku segar tidak dianjurkan untuk
koreksi hipovolemia atau sebagai terapi pengganti imunoglobulin karena ada alternatif
yang lebih aman, seperti larutan albumin atau imunoglobulin intravena. Pada neonatus,
transfusi plasma beku segar memerlukan pertimbangan khusus.4,8
5. Kriopresipitat
Kriopresipitat dibuat dengan membekukan plasma segar hingga -65C, lalu
dicairkan 18 jam pada suhu 4C, disentrifugasi, dan diendapkan. Kandungan yang
dimiliki oleh kriopresipitat antara lain adalah fibrinogen 150-250mg, faktor pembekuan
VIII 80-150 IU, faktor von Willebrand 100-150 IU, dan Faktor XIII 50-75 IU.4,6-8
Setiap unit akan meningkatkan tingkat fibrinogen oleh 5 sampai 10 mg per dL
(0,15-0,29 umol per L), dengan tujuan mempertahankan tingkat fibrinogen minimal 100
mg per dL (2,94 umol per L). Dosis umum pada dewasa adalah 10 unit. Rekomendasi
kriopresipitat untuk dosis rejimen pada neonatus bervariasi, mulai dari 2 mL
kriopresipitat per kg untuk 1 unit kriopresipitat (15 sampai 20 mL) per 7 kg.4
Secara keseluruhan, penggunaan kriopresipitat dapat digunakan pada keadaan:
a. Hemofilia.
b. von Willebrand disease. pemberian dilakukan pada pasien yang tidak
responsive dengan desmopressin.
10

c. Hipofibrinogenemia. Kriopresipitat digunakan untuk meningkatkan kadar


fibrinogen pada pasien dengan dysfibrinogenaemia dan hypofibrinogenaemia
(fibrinogen <80-100 mg /dl), perdarahan mikrovaskuler pada pasien yang
menerima transfusi masif ketika fibrinogen tidak dapat diukur dan defisiensi
d.
e.
f.
g.

fibrinogen kongenital.
Perdarahan oleh karena antikoagulan
Hemoragik masif
Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)
Uremic Bleeding7-8

6. Konsentrat faktor VIII


Komponen ini merupakan preparat kering yang mengandung konsentrat faktor
VIII, prokoagulan, yang diperoleh dari kumpulan (pooled) plasma dari sekitar 2.00030.000 donor. Hasil dimurnikan dengan teknik monoclonal, dan dilakukan penonaktifan
virus melalui misalnya pemanasan (heattreated). Pengemasan dalam botol berisi 250 dan
1.000 unit.8
7. Komponen faktor IX
Komponen ini disebut juga kompleks protrombin, mengandung factor pembekuan
yang tergantung vitamin K, yang disintesis di hati, seperti factor VII, IX, X, serta
protrombin. Sebagian ada pula yang mengandung proteinC. Komponen ini biasanya
digunakan untuk pengobatan hemofilia B. Kadang diberikan pada hemofilia yang
mengandung inhibitor factor VIII dan pada beberapa kasus defisiensi factor VII dan X.
Dosis yang dianjurkan adalah 80-100 unit/kgBB setiap 24 jam.8
8. Albumin
Albumin merupakan protein plasma yang dapat diperoleh dengan cara
fraksionisasi Cohn. Larutan 5% albumin bersifat isoosmotik dengan plasma, dan dapat
segera

meningkatkan

volume

darah.

Komponen

ini

digunakan

juga

untuk

hipoproteinemia (terutama hipoalbuminemia), luka bakar hebat, pancreatitis, dan


neonatus dengan hiperbilirubinemia.4,6
Kebutuhan albumin= albumin x BB x 0.8

9. Immunoglobulin
11

Komponen ini merupakan konsentrat larutan materi zat anti dari plasma, dan yang
baku diperoleh dari kumpulan sejumlah besar plasma. Komponen yang hiperimun didapat
dari donor dengan titer tinggi terhadap penyakit seperti varisela, rubella, hepatitisB, atau
rhesus. Biasanya diberikan untuk mengatasi imunodefisiensi, pengobatan infeksi virus
tertentu, atau infeksi bakteri yang tidak dapat diatasi hanya dengan antibiotika dan lainlain. Dosis yang digunakan adalah 1-3 ml/kgBB.4,6
D. Pedoman Transfusi Berdasarkan WHO
World Health Organization menetepakan beberapa poin utama dalam penerapan
transfusi, yaitu:
1. Penggunaan yang tepat dari darah dan produk darah berarti transfusi produk darah
yang aman hanya untuk mengobati kondisi tertentu yang mengarah pada morbiditas
atau mortalitas yang tidak dapat dicegah atau dikelola secara efektif dengan cara lain.
2. Transfusi membawa risiko efek samping dan penularan infeksi. Plasma dapat
mengirimkan sebagian besar infeksi hadir dalam WBC dan hanya ada sangat sedikit
indikasi untuk transfusi.
3. Darah yang didonorkan oleh keluarga membawa risiko infeksi transfusi yang lebih
tinggi dibanding darah yang disumbangkan oleh donor sukarela.
4. Darah tidak sebaiknya ditransfusi kecuali telah diperoleh dari donor yang dipilih
secara tepat, telah diskrining untuk transfusi dan diuji untuk kompatibilitas antara sel
darah merah donor dan antibodi dalam plasma pasien.
5. Kebutuhan transfusi sering dapat dihindari dengan:
- Pencegahan atau diagnosis dini dan pengobatan anemia dan kondisi yang
-

menyebabkan anemia
Koreksi anemia dan penggantian defisiensi besi zat sebelum operasi elektif
Penggunaan alternatif sederhana untuk transfusi, seperti cairan pengganti

Kualitas dan keamanan dari semua darah dan produk darah harus terjamin melalui
proses dari pemilihan donor darah hingga administrasi pasien. Hal ini membutuhkan :
1. Pembentukan layanan transfusi darah terorganisir dengan sistem berkualitas di semua
bidang.
2. Pengumpulan darah hanya dari donor sukarela dari populasi berrisiko rendah dan
prosedur yang ketat untuk menmilih donor.
3. Skrining semua darah yang disumbangkan untuk risiko infeksi: HIV, virus hepatitis,
sifilis dan, di daerah endemis, agen menular lainnya, seperti penyakit Chagas dan
malaria.

12

4. Keadaan laboratorium yang baik di semua aspek pengelompokan darah, pengujian


kompatibilitas, persiapan komponen darah, penyimpanan maupun transportasi darah
dan produk darah.
5. Penghentian tindakan transfusi yang tidak perlu melalui pemeriksaan klinis yang
tepat dari darah dan produk darah, dan penggunaan alternatif sederhana untuk
transfusi.
Transfusi hanya salah satu bagian dari manajemen pasien. Kebutuhan untuk
transfusi sering dapat diminimalkan dengan cara berikut:
1. Pencegahan, diagnosis dini, dan pengobatan anemia atau kondisi yang menyebabkan
anemia. Tingkat hemoglobin pasien sering dapat ditingkatkan oleh zat besi dan
vitamin suplemen tanpa perlu melakukan transfusi. Transfusi PRC hanya diperlukan
jika efek anemia kronis cukup berat sehingga membutuhkan peningkatan hemoglobin
yang cepat.
2. Koreksi anemia dan penggantian zat besi sebelum direncanakan operasi.
3. Penggunaan cairan pengganti intravena dengan kristaloid atau koloid dalam kasus
kehilangan darah akut.
4. Manajemen anestesi dan bedah yang baik, termasuk:
- Menggunakan teknik anestesi dan bedah terbaik untuk meminimalkan
-

kehilangan darah selama operasi.


Menghentikan antikoagulan dan obat anti-platelet sebelum operasi elektif.
Meminimalkan darah yang diambil untuk penggunaan laboratorium, khususnya

pada anak-anak
Menggunakan pendekatan alternatif seperti desmopresin, aprotinin atau
eritropoietin.
Tabel 1. Perbandingan indikasi pemberian WB dan PRC
Whole Blood

Indikasi

Packed Red Cell

Pengganti sel darah merah Pengganti dari sel darah merah


pada kehilangan darah akut pada pasien anemis
dengan hypovolemia
Pasien dengan kebutuhan PRC tidak diberikan jika pasien
transfusi

PRC

dimana dengan tanpa kelainan ataupun

konsentrat ataupun suspense kondisi


PRC tidak tersedia

medis

tertentu

(kehamilan, penyakit jantung)


tidak

menunjukkan

kelainan

13

klinis
Transfusi pengganti
Menurut panduan dari WHO, hampir seluruh operasi elektif tidak mengakibatkan
kehilangan darah yang cukup hingga membutuhkan transfusi darah. Jarang ada
pembenaran untuk penggunaan transfusi darah pra operasi hanya untuk memfasilitasi
operasi elektif. Penggunaan transfusi untuk prosedur bedah elektif bervariasi antara
rumah sakit dan dokter. Perbedaan ini sebagian karena variasi dalam kondisi medis
pasien, tetapi juga disebabkan oleh:
1. Perbedaan dalam teknik bedah dan anestesi
2. Sikap yang berbeda untuk penggunaan darah
3. Perbedaan dalam biaya dan ketersediaan produk darah dan alternatif transfusi.
Pada beberapa pasien, kebutuhan transfusi jelas, tetapi sering sulit untuk memutuskan
apakah transfusi benar-benar diperlukan. Tidak ada satupun alat ukur sederhana yang
menunjukkan bahwa oksigenasi dari jaringan tidak memadai atau menjadi tidak
memadai. Beberapa faktor yang harus diperhitungkan dalam menilai pasien, seperti:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Usia
Riwayat anemia
Gangguan medis
Anestesi (dapat menutupi tanda-tanda klinis)
Konsentrasi hemoglobin
Status cairan.

Penilaian dan manajemen pasien yang teliti sebelum operasi mengurangi morbiditas
dan mortalitas pasien. Dokter bedah yang menilai pasien pre-operasi harus memastikan
apakah pasien memadai untuk dilakukan tindakan operasi dan anestesi. Dokter anestesi
harus membantu ahli bedah dalam persiapan itu. Komunikasi yang baik antara ahli bedah
dan anestesi sangat penting sebelum, selama dan setelah operasi.
Terdapat beberapa teknik anestesi yang dapat mengurangi perdarahan pada pasien,
antara lain:
1. Mencegah episode hipertensi dan takikardi karena aktivitas simpatis yang
berlebihan dengan memastikan tingkat anestesi dan analgesia yang adekuat.
2. Hindari batuk, mengejan dan manuver pasien yang meningkatkan tekanan darah
vena.

14

3. Kontrol ventilasi untuk menghindari retensi karbon dioksida berlebihan atau


hiperkarbia, yang dapat menyebabkan vasodilatasi luas dan meningkatkan
kehilangan darah operatif.
4. Gunakan anestesi regional, khususnya teknik anestesi subarachnoid dan epidural,
untuk mengurangi kehilangan darah saat operasi.
5. Jangan menggunakan teknik anestesi hipotensif untuk mengurangi darah operatif
jika dokter anestesi yang berpengalaman dan fasilitas pemantauan komprehensif
tidak tersedia.
Banyak praktisi akan menerima bahwa ambang batas hemoglobin sekitar 7-8 g/dl
dalam pasien sehat untuk operasi kecil. Namun, hemoglobin pre-operatif sebelum operasi
lebih tinggi akan diperlukan sebelum operasi elektif berikut:
1. Kompensasi yang tidak memadai untuk anemia.
2. Ada kelainan kardiorespirasi.
3. Operasi mayor11
Pada keadaan tertentu seperti pada kehamilan,
Untuk dapat memperkirakan pemberian transfusi, maka perlu diketahui perkiraan
volume darah pada seseorang, sehingga dapat dihitung berapa perkiraan darah yang telah
hilang (metode persentase) atau menggunakan suatu metode yaitu metode hemodilusi
yang menggunakan perhitungan Allowable Blood Loss (ABL). Volume darah pada
neonatus adalah 85-90 ml/KgBB, 80 ml/KgBB, dan sekitar 70ml/KgBB pada dewasa
(dimana biasanya pada wanita 65 ml/KgBB, dan pada pria 75 ml/KgBB). Metode tersebut
dapat dilihat pada table dibawah ini:
Tabel 2. Metode untuk memperkirakan kebutuhan transfusi11
Metode

Sehat

Keterbatasan klinis

Keadaan klinis

rata-rata

buruk

30%

20%

10%

9 g/dl

10 g/dl

11 g/dl

(Ht 27%)

(Ht 30%)

(Ht 33%)

Metode persentase
-

Kehilangan darah yang

dapat diterima
Metode hemodilusi
-

Hemoglobin terendah
yang dapat diterima
(atau Hematokrit)
Rumus ABL adalah:

15

ABL=

volume darah x( Hb/Ht pre opbatas terendah Hb/ Ht)


batas terendah Hb/ Ht

Jika kehilangan darah telah melebihi batas dari ABL atau persentase kehilangan darah,
maka diperlukan pemberian transfusi darah. Selama prosedur tersebut, jika diperlukan
cairan resusitasi, dapat diberikan cairan kristaloid dengan jumlah 3 kali lipat lebih banyak
dibanding cairan yang hilang atau diberikan cairan koloid dengan jumlah yang sama
dengan jumlah kehilangan cairan.11
E. Komplikasi
Tidak semua reaksi transfusi dapat dicegah. Ada langkah-langkah tertentu yang perlu
dilakukan untuk mencegah terjadinya reaksi transfusi, walaupun demikian tetap
diperlukan kewaspadaan dan kesiapan untuk mengatasi setiap reaksi transfusi yang
mungkin terjadi. Ada beberapa jenis reaksi transfusi dan gejalanya bermacam-macam
serta dapat saling tumpang tindih. Oleh karena itu, apabila terjadi reaksi transfusi, maka
langkah umum yang pertama kali dilakukan adalah menghentikan transfusi, tetap
memasang infus untuk pemberian cairan NaCl 0,9% dan segera memberitahu dokter jaga
dan bank darah.7
6. Reaksi Transfusi Hemolitik Akut
Reaksi transfusi hemolitik akut (RTHA) terjadi hampir selalu karena ketidakcocokan
golongan darah ABO (antibodi jenis IgM yang beredar) dan sekitar 90%-nya terjadi
karena kesalahan dalam mencatat identifikasi pasien atau unit darah yang akan diberikan.
Gejala dan tanda yang dapat timbul pada RTHA adalah demam dengan atau tanpa
menggigil, mual, sakit punggung atau dada, sesak napas, urine berkurang,
hemoglobinuria, dan hipotensi. Pada keadaan yang lebih berat dapat terjadi renjatan
(shock), DIC, dan/atau gagal ginjal akut yang dapat berakibat kematian.6-7
Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan tindakan sebagai berikut:
a. Meningkatkan perfusi ginjal
b. Mempertahankan volume intravaskuler
c. Mencegah timbulnya DIC

16

Gambar 2. Kompatibilitas Sel Darah Merah Berdasarkan Golongan


7. Reaksi Transfusi Hemolitik Lambat
Reaksi transfusi hemolitik lambat (RTHL) biasanya disebabkan oleh adanya antibodi
yang beredar yang tidak dapat dideteksi sebelum transfusi dilakukan karena titernya
rendah. Reaksi yang lambat menunjukkan adanya selang waktu untuk meningkatkan
produksi antibodi tersebut. Hemolisis yang terjadi biasanya ekstravaskuler.4,7
Gejala dan tanda yang dapat timbul pada RTHL adalah demam, pucat, ikterus, dan
kadang-kadang hemoglobinuria. Biasanya tidak terjadi hal yang perlu dikuatirkan karena
hemolisis berjalan lambat dan terjadi ekstravaskuler, tetapi dapat pula terjadi seperti pada
RTHA. Apabila gejalanya ringan, biasanya tanpa pengobatan. Bila terjadi hipotensi,
renjatan, dan gagal ginjal, penatalaksanaannya sama seperti pada RTHA.4,7
8. Reaksi Transfusi Non-Hemolitik
a. Demam
Demam merupakan lebih dari 90% gejala reaksi transfusi. Umumnya ringan dan
hilang dengan sendirinya. Dapat terjadi karena antibodi resipien bereaksi dengan
leukosit donor. Demam timbul akibat aktivasi komplemen dan lisisnya sebagian sel
dengan melepaskan pirogen endogen yang kemudian merangsang sintesis
prostaglandin dan pelepasan serotonin dalam hipotalamus. Dapat pula terjadi demam
akibat peranan sitokin (IL-1b dan IL-6). Umumnya reaksi demam tergolong ringan
dan akan hilang dengan sendirinya.4,7
17

b.

Reaksi alergi
Reaksi alergi (urtikaria) merupakan bentuk yang paling sering muncul, yang tidak
disertai gejala lainnya. Bila hal ini terjadi, tidak perlu sampai harus menghentikan
transfusi. Reaksi alergi ini diduga terjadi akibat adanya bahan terlarut di dalam
plasma donor yang bereaksi dengan antibodi IgE resipien di permukaan sel-sel mast
dan eosinofil, dan menyebabkan pelepasan histamin. Reaksi alergi ini tidak
berbahaya, tetapi mengakibatkan rasa tidak nyaman dan menimbulkan ketakutan
pada pasien sehingga dapat menunda transfusi. Pemberian antihistamin dapat

c.

menghentikan reaksi tersebut.4,6


Reaksi anafilaktik
Reaksi yang berat ini dapat mengancam jiwa, terutama bila timbul pada pasien
dengan defisiensi antibodi IgA atau yang mempunyai IgG anti IgA dengan titer tinggi.
Reaksinya terjadi dengan cepat, hanya beberapa menit setelah transfusi dimulai.
Aktivasi komplemen dan mediator kimia lainnya meningkatkan permeabilitas
vaskuler dan konstriksi otot polos terutama pada saluran napas yang dapat berakibat
fatal. Gejala dan tanda reaksi anafilaktik biasanya adalah angioedema, muka merah
(flushing), urtikaria, gawat pernapasan, hipotensi, dan renjatan.4,6-7
Penatalaksanaannya adalah :
Menghentikan transfusi dengan segera
Tetap infus dengan NaCl 0,9% atau kristaloid
Berikan antihistamin dan epinefrin.
Berikan dopamin dan kortikosteroid
Beri oksigen bila terjadi hipoksia

9. Efek samping lain dan resiko lain transfusi


a. Komplikasi dari transfusi masif
Transfusi masif adalah transfusi sejumlah darah yang telah disimpan, dengan
volume darah yang lebih besar daripada volume darah resipien dalam waktu 24 jam.
Pada keadaan ini dapat terjadi hipotermia bila darah yang digunakan tidak
dihangatkan, hiperkalemia, hipokalsemia dan kelainan koagulasi karena terjadi
pengenceran dari trombosit dan faktor-faktor pembekuan. Penggunaan darah simpan
dalam waktu yang lama akan menyebabkan terjadinya beberapa komplikasi
18

diantaranya adalah kelainan jantung, asidosis, kegagalan hemostatik, Transfusion


Reaction Acute Lung Injury (TRALI).7
b. Penularan penyakit Infeksi
Hepatitis virus
AIDS (Acquired Immune Deficiency syndrome)
CMV (Citomegalovirus)
c. GVHD (Graft versus Host disease)
GVHD merupakan reaksi/ efek samping lain yang mungkin terjadi pada pasien
dengan imunosupresif. Hal ini terjadi oleh karena limfosit donor berkembang dalam
tubuh resipien dan bereaksi dengan antigen penjamu. Reaksi ini dapat dicegah
dengan pemberian komponen PRC atau WB dengan leukosit rendah.7

Gambar 3. Reaksi Transfusi

19

BAB III
KESIMPULAN
Tranfusi darah adalah suatu rangkaian proses pemindahan darah donor ke dalam sirkulasi
dari resipien sebagai upaya pengobatan. Saat ini, hampir seluruh komponen darah telah dapat
ditransfusikan secara terpisah dan memberikan keuntungan lebih dalam efek klinis. Komponen
darah yang dapat ditransfusikan memiliki kegunaan masing-masing. Transfusi tidak boleh
diberikan tanpa indikasi kuat, transfusi hanya diberikan berupa komponen darah pengganti yang
hilang.
Penggunaan WBC sebagai cairan transfusi telah ditinggalkan saat ini, hal ini disebabkan
oleh karena efek samping yang ditimbulka dapat lebih berat, sehingga jika tidak terdapat indikasi
untuk menggunakan WBC sebaiknya tidak digunakan. PRC adalah cairan pilihan pada penderita
anemia dengan gejala klinis. Indikasi pemberian PRC tidak lagi menggunakan aturan 10/30,
tetapi lebih melihat keadaan penderita. PRC diberikan biasanya pada seseorang dengan Hb < 7
g/dL. Jika terdapat gangguan kardiovaskular, maka sebaiknya batasan untuk transfuse adalah Hb
< 8g/dL. Penggunaan Kriopresipitat tidak direkomendasikan kecuali tidak terdapat konsentrat
faktor VIII,
hipoalbuminemia

Komponen faktor IX, atau FFP. Albumin digunakan pada penderita


dan immunoglobulin diberikan pada penderita infeksi virus tertentu atau

gangguan system imun.


20

Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari transfusi sangatlah banyak, antara lain reaksi
transfusi hemolisis tipe akut, reaksi transfusi hemolisis tipe lambat, reaksi transfusi non
hemolitik, dan berbagai komplikasi lain seperti infeksi atau GVHD. Tidak semua komplikasi
dapat dicegah, namun, umumnya jika terdapat reaksi transfusi dapat dilakukan penghentian
transfusi, monitor tanda vital, dan pemberian IV line untuk pemberian obat-obatan darurat jika
nantinya diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Latief SA, Suryadi KA, Cachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi Kedua,
Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI:2002
2. Sudoyo AW, Setiohadi B. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi Keempat.
Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI:2006.
3. Sherwood L. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. In: Yesdelita N, editor. 6 th ed. Jakarta:
EGC:2012.
4. Yaddanapudi S, Yaddanapudi LN. Indications for blood and blood product transfusion.
Indian J Anaesth. 2014;58(5):53842.
5. Carson JL, Kleinman S. Indications and hemoglobin thresholds for red blood cell
transfusion in the adult. In: Silvergleid, editor. Wolters Kluwer.2016;7948.
6. Transfusion Committee. Clinical Indications for Transfusion 2014. NHS Trust North
Bristol.2014.
7. Sharma S, Sharma P, Tyler LN. Transfusion of Blood and Blood Products: Indications
and Complications. Am Fam Physician. 2011;83(6):719-24.
8. Kaplan LJ. Transfusion and Autotransfusion. In: Besa EC, editor. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/434176-overview#a3. Accessed on: June 3 rd,
2016.

21

9. Kiefel V. Reactions Induced by Platelet Transfusions. Transfus Med Hemother.


2008;35(5):3548.
10. Kiefel V, Knig C, Kroll H, Santoso S. Platelet alloantibodies in transfused patients.
Transfusion. 2001;41(6):766-70.
11. World Health Organization. The Clinical Use of Blood. Geneva. 2002:3-5,9-14,23-4,3740,79-82,86-90,125-6,157-68.

22