Anda di halaman 1dari 235

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah


memberikan segala berkat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat
menyelesaikan Laporan Plan of Development dalam acara Plan of
Development Competition pada Oil EXPO 2015. Laporan ini merupakan
laporan akhir dari pelaksanaan PLAN DEVELOPMENT LAPANGAN
BETA, yang dilaksanakan berdasarkan Surat Perlombaan Plan of
Development Competition OIL EXPO 2015 pada bulan Mei 2015.
Penghargaan

dan

ucapan

terima

kasih

yang

tulus

kami

sampaikan kepada semua pihak khususnya kepada Tim POD UPN


Veteran Yogyakarta, Tim Pembimbing POD UPN Veteran Yogyakarta
yang terdiri dari staf Dosen dan alumni, atas segala bantuan, dukungan
dan kerjasamanya yang baik dalam penyediaan data, diskusi, saran serta
monitoring kualitas (quality control) pengolahan data POD selama ini
sehingga studi dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan
kelemahan

yang

ada

di

laporan

ini.

Oleh

karena

itu,

penulis

mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi
pembuatan laporan yang lebih baik kedepan. Harapan kami semoga hasil
studi ini bisa bermanfaat untuk Studi POD dan bisa menjadi tambahan
wawasan dan pengetahuan bagi siapa saja yang membaca.

Yogyakarta, Juni 2015

Team POD UPN Veteran


Yogyakarta

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

DAFTAR GAMBAR

vi

DAFTAR TABEL

xi

BAB I EXECUTIVE SUMMARY

BAB II GEOLOGICAL FINDING AND REVIEWS

2.1. Geologi Regional Cekungan Sumatera Selatan


2.2. Petroleum System Cekungan Sumatera Selatan
2.3. Petroleum Play
2.4. Interpretasi Geologi Lapangan Beta

3
21
26
29

BAB III RESERVOIR DESCRIPTION

68

3.1. Kondisi Reservoir


3.2. Hydrocarbon In-Place

68
81

BAB IV CADANGAN DAN RAMALAN PRODUKSI

82

4.1. Klasifikasi Cadangan


4.2. Perhitungan Cadangan Hidrokarbon
4.3. Simulasi Reservoir
4.4. Inflow Performance Relationship

82
84
91
97

BAB V DRILLING AND COMPLETION

102

5.1. Geologi Regional Cekungan Sumatra Selatan


5.2. Tujuan Pemboran
5.3. Data Sumur
5.4. Ringkasan Operasi Pemboran
5.5. Program Pahat
5.6. Program BHA
5.7. Perencanaan Desain Lumpur (Mud Program)
5.8. Casing Design
5.9. Program Semen
5.10. Profil Sumur
5.11. Completion
5.12. Desain BOP

102
113
113
114
115
115
116
117
118
119
121
121

iii

5.13.Waktu Rencana Pelaksanaan Pemboran dan Estimasi Biaya


Pemboran
121
5.14. Program Kerja
125
BAB VI FASILITAS PRODUKSI

133

6.1. Fasilitas Sumuran


6.2. Fasilitas Transportasi ke Stasiun Pengumpul
6.3. Fasilitas Stasiun Pengumpul

133
135
136

BAB VII FIELD DEVELOPMENT SCENARIO

145

7.1. Sejarah Lapangan Beta


7.2. Tahapan Pengembangan Lapangan.
7.3. Skenario Pengembangan Lapangan.
7.4. Strategi Pengembangan Lapangan

145
145
146
152

BAB VIII HSE DAN CSR

157

8.1. Perumusan Masalah


157
8.2. Safety Golden Rules Pt. Sangsaka Energy
157
8.3.Tujuan Dan Manfaat Melakukan Eba (Environmental Baseline
Assessment)
158
8.4. Penerapan Safety Training Observation Program (Stop)
159
8.5. Lokasi Kajian
161
8.6. Analisis Penentuan Kawasan Sensitif
163
8.7. Pelaksanaan
175
8.8. Corporate Social Responsibility (Csr)
183
BAB IX ABANDONMENT AND SITE RESTORATION PLAN

192

9.1. Proses Abandonment Pada Sumur


9.2. Proses Restorasi Pada Site Pemboran Dan Abandont Well

192
194

BAB X PROJECT SCHEDULE & ORGANIZATION

196

BAB XI LOCAL CONTENT

198

BAB XII COMERCIAL

201

12.1. Biaya Proyek


12.2. Analisa Keekonomian Skenario.
12.3. Analisa Sensitivitas.
12.4. Kesimpulan Keekonomian

201
205
214
216

iv

BAB XIII CONCLUTION AND RECOMENNDATION

218

13.1. CONCLUTION
13.2. RECOMENNDATION

218
218

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Fisiografi dan batas Cekungan Sumatera Selatan


(Hutchison,1996).

Gambar 2.2. Fisiografi dan Lokasi Kavling Sumur Beta.

Gambar 2.3. Kolom staritgrafi Cekungan Sumatera Selatan (Van


Bemmelen 1973).

Gambar 2.4. Pembentukan Cekungan Belakang Busur di Pulau


Sumatera (Heidrick dan Aulia, 1993)

14

Gambar 2.5. Fase Kompresi Jurasik Awal Sampai Kapur dan


Elipsoid Model(Pulonggono dkk, 1992).

16

Gambar 2.6. Fase Tensional Kapur Akhir Sampai Tersier Awal dan
Elipsoid Model (Pulonggono dkk, 1992)

17

Gambar 2.7. Fase Kompresi Miosen Tengah Sampai Sekarang dan


Elipsoid Model (Pulonggono dkk, 1992)

18

Gambar 2.8. Kiri: Struktur Geologi Regional Cekungan Sumatera Selatan


(De Coster (1974))
19
Gambar 2.9. Tektonostratigrafi Cekungan Sumatera Selatan (Kingston,
1988).
21
Gambar 2.10. Diagram segitiga Sub-Cekungan Jambi (Manaf dan
Mujahidin, 1993).

22

Gambar 2.11.Petroleum System Cekungan Sumatera Selatan (Barber


2005 )
25
Gambar 2.12.Petroleum system dan tektonostratigrafi Cekugan Sumatera
Seletan
28
Gambar 2.13.Petroleum System Cekungan Sumatera Selatan berkaitan
dengan migrasi Hidrokarbon
29
Gambar 2.14. Korelasi Stratigrafi Sumur Beta

30

Gambar 2.15. Korealsi Struktur sumur Beta arah SW NE

32

Gambar 2.16. Line SW NE sesimik dan basemap

33

Gambar 2.17. Line seismik ESE WNW dan basemap

34

Gambar 2.18. Struktur Beta skala 1 : 250.000

35

Gambar 2.19. Peta Sturktur Beta skala 1 : 25.000

35

Gambar 2.20. Interpretasi lingkungan Pengendapan di Sumur Beta

39

vi

Gambar 2.21. Peta Fasies Lapisan Z 380

40

Gambar 2.22. Peta Fasies Lapisan Z 450

41

Gambar 2.23. Peta Fasies Lapisan Z 650

43

Gambar 2.24. Peta top structure lapisan Z 380

45

Gambar 2.25. Peta bottom structure dari lapisan Z 380

45

Gambar 2.26. Peta 3D depth structure dari lapisan Z 380

46

Gambar 2.27. Peta top structure dari lapisan Z 450

47

Gambar 2.28. Peta bottom structure dari lapisan Z 450

47

Gambar 2.30. Peta 3D depth structure dari lapisan Z 450

48

Gambar 2.31. Peta Top structure dari lapisan Z 650

49

Gambar 2.32. Peta Bottom structure dari lapisan Z 650

49

Gambar 2.33. Peta 3D structure dari lapisan Z 650

50

Gambar 2.34. Peta isopach net-sand lapisan Z 380

51

Gambar 2.35. Peta isopach net-sand lapisan Z 450

52

Gambar 2.36. Peta isopach net-sand lapisan Z 650

53

Gambar 2.37. Peta distribusi porositas efektif lapisan Z 380

54

Gambar 2.38. Peta distribusi porositas efektif lapisan Z 450

55

Gambar 2.39. Peta distribusi porositas efektif lapisan Z 650

56

Gambar 2.40. Peta distribusi permeabilitas lapisan Z 380

57

Gambar 2.41. Peta distribusi permeabilitas lapisan Z 450

58

Gambar 2.42. Peta distribusi permeabilitas lapisan Z 650

59

Gambar 2.43. Peta Oil Pay lapisan Z 380

61

Gambar 2.44. Peta Oil Pay lapisan Z 450

63

Gambar 2.45. Peta Oil Pay lapisan Z 650

65

Gambar 3.1. Kurva Permeabilitas Relatif Sistem Minyak-Air

73

Gambar 3.2. Kurva Permeabilitas Relatif Sistem Gas-Minyak

73

Gambar 3.3. (a) Viskositas oil vs Tekanan; (b) FVF oil vs Tekanan; (c)
GOR vs Tekanan untuk Lapisan Z380
77
Gambar 3.4. (a) Viskositas oil vs Tekanan; (b) FVF oil vs Tekanan; (c)
GOR vs Tekanan untuk Lapisan Z450
78
Gambar 3.5. (a) Viskositas oil vs Tekanan; (b) FVF oil vs Tekanan; (c)
GOR vs Tekanan untuk Lapisan Z650
79

vii

Gambar 3.6. Diagram Fasa Volatile Oil

80

Gambar 4.1. Klasifikasi cadangan berdasarkan PRMS 2007

82

Gambar 4.2. Data Sumuran Dalam Penentuan Kriteria Cadangan secara


Vertikal
85
Gambar 4.3. Penentuan Kategori Cadangan pada Lapisan Z 380 A

85

Gambar 4.4. Penentuan Kategori Cadangan pada Lapisan Z 450 A

86

Gambar 4.5. Penentuan Kategori Cadangan pada Lapisan Z 650 A

86

Gambar 4.6. 3D Depth Structure (mD) Lapangan Beta

93

Gambar 4.7. 3D Isopermeability (mD) Lapangan Beta

93

Gambar 4.8. 3D Isoporosity (mD) Lapangan Beta

94

Gambar 4.9 Analisa Nodal Untuk Sumur Dengan Komplesi Vertical 2 Zona
(450, 650) (Ql = 160 BLPD, Pwf = 320 psia)
97
Gambar 4.10 Analisa Nodal Untuk Sumur Dengan Komplesi Vertical
3 zona (380, 450, 650) (Ql = 305 BLPD, Pwf = 295
psia)

98

Gambar 4.11 Analisa Nodal Untuk Sumur Komplesi Horizontal 3 Zona


(380, 450, 650) Radial 2 Arah 200 m (Ql = 455 BLPD,
Pwf = 240)
98
Gambar 4.12 Analisa Nodal Untuk Sumur Dengan Komplesi Horizontal 3
Zona (380, 450, 650) Radial 4 Arah 200 m (Ql = 760 BLPD,
Pwf = 220 psia)
99
Gambar 4.13 Analisa Nodal Untuk Sumur Dengan Komplesi Horizontal 3
Zona (380, 450, 650) 400 m (Ql = 170 BLPD, Pwf = 250
psia)
99
Gambar 4.14 Analisa Nodal Untuk Sumur Dengan Komplesi Horizontal 2
Zona (450, 650) 200 m (Ql = 160 BLPD, 240 psia)
100
Gambar 4.15 Analisa Nodal Untuk Sumur Dengan Komplesi Horizontal 2
Zona (450, 650) 400 m (Ql= 220 BLPD, Pwf = 249
psia)
100
Gambar 5.1. Peta Lokasi Kavling Beta

102

Gambar 5.2. Peta lokasi Cekungan Sumatra Selatan

103

Gambar 5.3. Fisiografi cekungan Sumatra Selatan

105

Gambar 5.4. Kolom staritgrafi cekungan Sumatra Selatan

107

Gambar 5.5. Estimasi Waktu Pemboran

123

Gambar 6.1 Jalur Pipa Salur Lapangan Beta

135

viii

Gambar 6.2 Skema Fasilitas di Stasiun Pengumpul Lapangan Beta

140

Gambar 6.3 Skema Water Treatment Plant OPUS II

141

Gambar 7.1 Grafik Perbandingan Produksi setiap Skenario

151

Gambar 7.2 Grafik Perbandingan kumulatif Produksi setiap Skenario

151

Gambar 8.1. Siklus STOP

160

Gambar 8.2. Lokasi Lapangan Beta

162

Gambar 8.3. Lokasi Sumur Beta

163

Gambar 8.4 Peta Kawasan Rawan Bencana Kab Musi Banyuasin

168

Gambar 8.5 Peta kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi Kabupaten


Musi Banyuasin
169
Gambar 8.6 Peta kawasan Rawan Bencana Kekeringan Kabupaten Musi
Banyuasin
169
Gambar 8.7 Peta Penggunaan lahan kawasan Musi Banyuasin

171

Gambar 8.8. Diagram Alir Management K3 di PT Sangsaka Energy

176

Gambar 8.9. Proses Pengelolaan Limbah Wilayah Kerja


Pertambangan

178

Gambar 9.1. Abandon Well single completion

193

Gambar 9.2. Abandon Well Comingle completion

194

Gambar 9.3 Abandon Well

195

Gambar 10.1 Schedule Skenario 1

196

Gambar 10.2 Schedule Skenario 2

196

Gambar 10.3 Schedule Skenario 3

197

Gambar 10.4 Schedule Skenario 4

197

Gambar 12.1. Skema PSC di Indonesia

201

Gambar 12.2 Grafik Perbandingan Cashflow Government dan


Contractor

205

Gambar 12.3 Grafik Perbandingan Cashflow Government dan Contractor


Skenario 1
207
Gambar 12.4 Grafik Perbandingan Cashflow Government dan Contractor
Skenario 2

208

Gambar 12.5 Grafik Perbandingan Cashflow Government dan Contractor


Skenario 3
210
Gambar 12.6 Grafik Perbandingan Cashflow Government dan Contractor

ix

Skenario 4

211

Gambar 12.7 Goverment Take & Investasi

213

Gambar 12.8 Contractor Take & Investasi

213

Gambar 12.9. Spider Diagram ROR

214

Gambar 12.10. Spider Diagram NPV Contractor

215

Gambar 12.11. Spider Diagram NPV Government

215

DAFTAR TABEL

Tabel II-1. Nilai Kedalaman TVDSS lapisan Zonia Interest

31

Tabel II-2. Nilai Properti Petrofisika Pada Z 380

37

Tabel II-3. Nilai Properti Petrofisika Pada Z 450

37

Tabel II-4. Nilai Properti Petrofisika Pada Z 650

37

Tabel II-5. Properti Petrofisik Core sumur Beta 4

38

Tabel II-6. Ketebalan gross sand lapisan interest.

39

Tabel II-7. Tabel Net Sand Tiap Lapisan Reservoir

51

Tabel II-8. Persebaran nilai Porositas efektif Lapisan reservoir

54

TabelII-9. Persebaran Permeabilitas tiap sumur

57

Tabel II-10. Perhitungan Volume Bulk C1 Lapisan Z 380

62

Tabel II-11. Perhitungan Volume Bulk C2 Lapisan Z 380

62

Tabel II-12. Perhitungan Volume Bulk C1 Lapisan Z 450

64

Tabel II-13. Perhitungan Volume Bulk C2 Lapisan Z 380

64

Tabel II-14. Perhitungan Volume Bulk Lapisan Z 650

66

Tabel III-1. Kondisi Mula-mula Reservoir Tiap Lapisan

68

Tabel III-2. Jenis Alat Log yang digunakan di Lapangan Beta

69

Tabel III-3. Porositas Efektif Rata-rata tiap Lapisan

70

Tabel III-4. Data Tekanan Kapiler

71

Tabel III-5. End Poin Data Kurva Permeabilitas Relatif

74

Tabel III-6. Data densitas dan API gravity tiap lapisan

70

Tabel III-7. Data viskositas dan FVF formasi tiap lapisan hasil simulasi 70
Tabel III-8. Original Oil In-Place dengan Metode Volumetrik

81

Tabel IV-1. Data properti reservoir perhitungan P1.

87

Tabel IV-2. Data properti reservoir perhitungan P2.

88

Tabel IV-3. Data properti reservoir perhitungan P3.

88

Tabel IV-4. Cadangan Lapangan Beta

89

Tabel IV-5. Harga Estimate Ultimate Recovery tiap Lapisan

90

Tabel IV-6 Karakteristik Pemodelan Reservoir Untuk Lapangan Beta

92

xi

Tabel IV-7 Perbandingan OOIP Hasil Simulasi dan Volumetrik

95

Tabel IV-8 Scenario Pengembangan Lapangan Beta

96

Tabel V-1. Skenario

114

Tabel V-2. Bit Program

115

Tabel V-3. Program BHA

116

Tabel V-4. Program Lumpur

117

Tabel V-5. Perencanaan Casing

118

Tabel V-6. Program Semen

118

Tabel V-7. Estimasi Waktu Pemboran

122

Tabel V-8. Estimasi Biaya Pemboran

123

Tabel VI-1 Performa WTP OPUS II

143

Tabel VI-2 Perancanaan Pengadaan Fasilitas Produksi Lap Beta

143

Tabel VII-1 Skenario 1

147

Tabel VII-2 Skenario 2

148

Tabel VII-3 Skenario 3

149

Tabel VII-4 Skenario 4

150

Tabel VII-5 Np dan RF Tiap Skenario Pengembangan Lapangan Beta 150


Tabel VIII.1. DAS Kabupaten Musi Banyuasin

166

Tabel XI-I Daftar TKDN Lapangan Beta

200

Tabel XII-1 Hasil Keekonomian Basecase

205

Tabel XII-2 Hasil Keekonomian Skenario 1

206

Tabel XII-3 Hasil Keekonomian Skenario 2

208

Tabel XII-4 Hasil Keekonomian Skenario 3

209

Tabel XII-5 Hasil Keekonomian Skenario 4

211

Tabel XII-6 Perbandingan Keekonomian Tiap Skenario

212

xii

BAB I
EXECUTIVE SUMMARY

Struktur Beta berada di Cekungan Sumatra selan, secara geografis


terletak di sekitar Musi banyu asin. Target reservoir yang akan
dikembangkan yaitu batupasir Formasi Air benakat yang terdiri dari 5
lapisan yaitu Z380, R10, Z450, Z550 dan Z650. Namun hanya 3 lapisan
yang akan di produksikan yaitu Z380, Z450, dan Z650.Batuan tudung/ seal
rock secara regional untuk reservoir air benakat, shale formasi muara enim
dan shale sisipan tuff formasi air benakat. Pengendapan formasi air benakat
secara regional dapat ditafsirkan sebagai fase regresi yang ditandai dengan
endpan laut dangkal yang terprogradasi menjadi lingkungan transisisi.
Perangkap yang terbentuk adalah tipe struktur antiklin tersesar yang
berarah relative NW SE.
Berdasarkan data yang ada dapat diketahui Porositas rata-rata
lapisan Z380 porositas 0.17 dan saturasi air rata-rata 0.3, sedangkan
lapisan Z450 porositas 0.17 dan saturasi air rata-rata 0.3 dan lapisan
terakhir yaitu lapisan Z650 porositas rata-rata 0.15 dan saturasi awal 0.3.
Dari hasil perhitungan cadangan dengan metode volumetrik, kandungan
minyak mula-mula (OOIP) pada lapisan Z380 sebesar 5.122 MMSTB, OOIP
pada lapisan Z450 sebesar 11.437 MMSTB dan pada lapisan Z650 sebesar
4.889, sehingga total OOIP dari ketiga lapisan tersebut sebesar 21.45
MMSTB.
Perhitungan penentuan kategori cadangan dilakukan berdasarkan
pendekatan volumetrik berdasarkan data tes sumur, interpretasi logging,
data produksi porositas. Dari hasil pendekatan secara volumetrik untuk P1
(lapisan Z380+Z450+Z650) = 5.189 MMbbl dan untuk 2P (lapisan
Z380+Z450+Z650)

20.277

MMbbl,

sedangkan

3P

(lapisan

Z380+Z450+Z650) = 21.449 MMbbl. Kategori cadangan 2P dipilih sebagai


perhitungan untuk penentuan reserves production forecast yaitu sebesar
1

4.928 untuk lapisan Z380, 10.459 MMbbl untuk lapisan Z450 dan 4.889
MMSTB untuk lapisan Z650.
Berdasarkan perhitungan JJ Arps (depletion drive) nilai RF lapisan
Z380 sebesar 43.22 %, RF lapisan Z450 sebesar 37.31% dan Z650 sebesar
35,42 %. Dari JJ Arps ini dapat di estimasi seberapa besar minyak yang
dapat diproduksikan dari ooip yang dimiliki oleh reservoir. Lapangan beta
hanya diberikan pada kontraktor pada 30 desember 2003 dan lapangan ini
diberikan kontrak selama 30 tahun. Lapangan ini hanya memiliki 4 sumur,
Sumur pertama dibuat pada tahun 2007 dan sumur-sumur yang ada
diproduksikan pada awal tahun 2010.
Untuk melakukan prediksi pada lapangan beta dpergunakan metode
simulasi reservoir. Dari data geologi dan reservoir yang ada, dapat dibuat
model reservoir untuk dilakukan simulasi. Dari simulasi ini dapat diketahui
performance produksi. Sehingga dapat dilakukan prediksi seberapa besar
hidrokarbon

yang

dapat

diproduksikan

dari

reservoir.untuk

dapat

mendapatkan recovery yang semaksimal mungkin, maka dapat dilakukan


skenario-skenario pengembangan lapangan.
Terdapat 4 Skenario pengembangan lapangan Angelo, dari skenario
yang diberikan berdasarkan dari segi teknis maupun segi keekonomian,
maka dipilihlah skenario 3. Skenario 3 ini terdiri dari (Basecase + 4 infill
vertikal, 3 Infill Horizontal, 3 infill Multilateral, 2 injeksi gas dan 1 injeksi air.).
Skenario ini dipilih karena dengan melakukan investasi sebesar 74,677,535
US$ akan memberikan keuntungan yang baik berdasarkan indikator
keekonomian, yaitu ROR yang didapatkan dari perhitungan skenario 3
sebesar 19.68% dan POT sebesar 4.38 tahun, Net Cash Flow untuk
kontraktor sebesar 36,585,945 US$ dan Net Cash Flow untuk pemerintah
sebesar 203,119,938 US$.

BAB II
GEOLOGICAL FINDING AND REVIEWS

2.1. Geologi Regional Cekungan Sumatera Selatan


2.1.1. Fisiografi Cekungan Sumatera Selatan
Cekungan

Sumatera

Selatan

merupakan

cekungan

yang

menghasilkan hidrokarbon paling produktif dalam tatanan cekungan


belakang busur. Cekungan ini dibatasi oleh Selat Malaka di bagian Timur,
Tinggian Tigapuluh di Utara, serta bentangan Bukit Barisan di bagian Barat.
Daerahnya hampir semua berada di darat dan hanya sebagian kecil di lepas
pantai. Cekungan Sumatera Selatan mencakup luas area sekitar 119.000
km2 dengan ketebalan sedimen tersier rata-rata 3.5 km. Secara fisiografis
bagian Selatan dari Sumatera ini dapat dibagi menjadi 4 (empat) bagian,
yaitu:
1.Cekungan Sumatera Selatan,
2.Bukit Barisan dan Tinggian Lampung,
3.Cekungan Bengkulu, meliputi lepas pantai antara daratan Sumatera dan
rangkaian pulau di sebelah Barat Sumatera,
4.Rangkaian kepulauan (fore arc ridge) di sebelah Barat, yang membentuk
suatu busur bukan gunung api di sebelah Barat Pulau Sumatera
(Gambar 2.1.).

Gambar 2.1. Fisiografi dan batas Cekungan Sumatera Selatan


(Hutchison,1996).

Sedangkan fisiografi berserta lokasi daerah telitian, yaitu lokasi


sumur beta berada pada Cekungan Sumatera Selatan ditampilkan pada
Gambar 2.2. berikut:

Gambar 2.2. Fisiografi dan Lokasi Kavling Sumur Beta.

Berdasarkan konsep Tektonik Lempeng, kedudukan cekungan


migas Tersier di Indonesia bagian Barat berkaitan dengan busur
kepulauan. Dalam sistem ini dikenal adanya cekungan busur belakang,
cekungan busur depan dan cekungan antar busur.
Cekungan

Sumatera

Selatan

telah

mengalami

empat

kali

orogenesa, yakni pada zaman Mezosoikum Tengah, Jura Awal Kapur


Awal, Kapur Akhir Tersier Awal, Plio-Pleistosen. Setelah orogenesa
terakhir dihasilkan kondisi struktur geologi regional seperti terlihat pada
saat ini, yaitu:

Zone Sesar Semangko, merupakan hasil tumbukan antara


Lempeng Sumatera Hindia dan Pulau Sumatera, akibat tumbukan
ini menimbulkan gerak sesar geser menganan (right lateral)
diantara keduanya.

Perlipatan dengan arah utama Barat Laut Tenggara, sebagai


hasil efek gaya kopel sesar Semangko.

Sesar-sesar yang berasosiasi dengan perlipatan dan sesar-sesar


Pra Tersier yang mengalami peremajaan.

2.1.2. Stratigrafi Regional Cekungan Sumatera Selatan


Tatanan stratigrafi pada dasarnya terdiri dari satu siklus besar
sedimentasi dimulai dari fase transgresi pada awal siklus dan fase regresi
pada akhir silkusnya. Secara detail siklus ini dimulai oleh siklus non marin
yaitu dengan diendapkannya Formasi Lahat pada Oligosen Awal dan
kemudian diikuti oleh Formasi Talang Akar yang diendapkan secara tidak
selaras di atasnya. Menurut Adiwidjaja dan De Coster (1973), Formasi
Talang Akar merupakan suatu endapan kipas alluvial dan endapan sungai
teranyam (braided stream deposit) yang mengisi suatu cekungan. Fase
transgresi terus berlangsung hingga Miosen Awal dimana pada kala ini
berkembang batuan karbonat yang diendapkan pada lingkungan back reef,
fore reef, dan intertidal (Formasi Batu Raja) pada bagian atas Formasi
Talang

Akar.

Fase

Transgresi

maksimum
5

ditunjukkan

dengan

diendapkannya Formasi Gumai bagian bawah secara selaras di atas


Formasi Baturaja yang terdiri dari serpih laut dalam.
Fase regresi dimulai dengan diendapkannya Formasi Gumai bagian
atas dan diikuti oleh pengendapkan Formasi Air Benakat yang didominasi
oleh litologi batupasir pada lingkungan pantai dan delta. Formasi Air
Benakat diendapkan secara selaras di atas Formasi Gumai. Pada Pliosen
Awal, laut menjadi semakin dangkal dimana lingkungan pengendapan
berubah menjadi laut dangkal, paludal, dataran delta, dan non marin yang
dicirikan oleh perselingan antara batupasir dan batulempung dengan
sisipan berupa batubara (Formasi Muara Enim). Tipe pengendapan ini
berlangsung hingga Pliosen Akhir dimana diendapkannya lapisan batupasir
tufaan, pumice dan konglemerat.
Berdasarkan penelitian terdahulu urutan sedimentasi Tersier di
Cekungan Sumatera Selatan dibagi menjadi dua tahap pengendapan, yaitu
tahap genang laut dan tahap susut laut. Sedimen sedimen yang terbentuk
pada tahap genang laut disebut Kelompok Telisa (De Coster, 1974, Spruyt,
1956), dari umur Eosen Awal hingga Miosen Tengah terdiri atas Formasi
Lahat.

Gambar 2.3. Kolom staritgrafi Cekungan Sumatera Selatan (Van


Bemmelen 1973).
Sedimentasi yang terjadi di Cekungan Sumatera Selatan berlangsung
pada dua fase (Jackson, 1961), yaitu:
-

Fase transgresi, diendapkan dari kelompok Telisa, yang terdiri dari


Formasi Lahat, Formasi Talang Akar, Formasi Baturaja, dan Formasi
Gumai. Kelompok Telisa ini diendapakan secara tidak selaras di atas
Batuan induk Pra-Tersier.

Fase regresi, pada fase ini dihasilkan endapan dari kelompok


Palembang yang terdiri dari Formasi Air Benakat, Formasi Muara
enim, dan Formasi Kasai.
7

Berikut adalah penjabaran stratigrafi dari tua ke muda:


1. Batuan Dasar
Batuan Dasar, Batuan Pra-Tersier atau basement terdiri dari
kompleks batuan Paleozoikum dan batuan Mesozoikum, batuan
metamorf, batuan beku dan batuan karbonat. Batuan Paleozoikum
Akhir dan Mesozoikum tersingkap dengan baik di Bukit Barisan,
Pegunungan Tigapuluh, dan Pegunungan Duabelas berupa batuan
karbonat berumur Permian, granit, dan filit. Batuan dasar yang
tersingkap di Pegunungan Tigapuluh terdiri dari filit yang terlipat kuat
berwarna kecoklatan berumur Permian (Simanjuntak, dkk., 1991).
Lebih ke arah Utara tersingkap Granit yang telah mengalami
pelapukan kuat. Warna pelapukan adalah merah dengan butir-butir
kuarsa terlepas akibat pelapukan tersebut. Kontak antara granit dan
filit tidak teramati karena selain kontak tersebut tertutupi pelapukan
yang kuat, daerah ini juga tertutup hutan yang lebat. Menurut
Simanjuntak, et.al (1991) umur granit adalah Jura. Hal ini berarti
granit mengintrusi batuan filit.
2. Formasi Lahat (LAF)
Menurut Spruyt (1956), Formasi ini terletak secara tidak
selaras di atas batuan dasar, yang terdiri atas lapisan-lapisan tipis
tuf andesitik yang secara berangsur berubah keatas menjadi batu
lempung tufan. Selain itu breksi andesit berselingan dengan lava
andesit, yang terdapat dibagian bawah. Batulempung tufan,
segarnya berwarna hijau dan lapuknya berwarna ungu sampai
merah keunguan. Menurut De Coster (1973) formasi ini terdiri dari
tuf, aglomerat, batulempung, batupasir tufan, konglomeratan dan
breksi yang berumur Eosen Akhir hingga Oligosen Awal. Formasi ini
diendapkan dalam air tawar daratan. Ketebalan dan litologi sangat
bervariasi dari satu tempat ke tempat yang lainnya karena bentuk
cekungan yang tidak teratur, selanjutnya pada umur Eosen hingga
Miosen Awal, tejadi kegiatan vulkanik yang menghasilkan andesit
8

(Westerveld, 1941 vide of side katilli 1941), kegiatan ini mencapai


puncaknya pada umur Oligosen Akhir sedangkan batuannya disebut
sebagai batuan Lava Andesit tua yang juga mengintrusi batuan
yang diendapkan pada Zaman Tersier Awal. Formasi Talang Akar
pada Sub Cekungan Jambi terdiri dari batulanau, batupasir dan
sisipan batubara yang diendapkan pada lingkungan laut dangkal
hingga transisi. Menurut Pulunggono, 1976, Formasi Talang Akar
berumur Oligosen Akhir hingga Miosen Awal dan diendapkan secara
selaras di atas Formasi Lahat. Bagian bawah formasi ini terdiri dari
batupasir kasar, serpih dan sisipan batubara. Sedangkan di bagian
atasnya berupa perselingan antara batupasir dan serpih. Ketebalan
Formasi Talang Akar berkisar antara 400 850 m.
3. Formasi Talang Akar (TAF)
Nama Talang Akar berasal dari Talang Akar Stage (Martin,
1952) nama lain yang pernah digunakan adalah Houthorizont
(Musper, 1937) dan Lower Telisa Member (Marks, 1956). Formasi
Talang akar dibeberapa tempat bersentuhan langsung secara tidak
selaras dengan batuan Pra Tersier. Formasi ini dibeberapa tempat
menindih selaras Formasi Lahat (De Coster, 1974), hubungan itu
disebut rumpang stratigrafi, ia juga menafsirkan hubungan stratigrafi
diantara kedua formasi tersebut selaras terutama dibagian
tengahnya, ini diperoleh dari data pemboran sumur Limau yang
terletak disebelah Barat Daya Kota Prabumulih (Pertamina, 1981),
Formasi Talang Akar dibagi menjadi dua, yaitu Anggota Gritsand
terdiri atas batupasir, yang mengandung kuarsa dan ukuran butirnya
pada bagian bawah kasar dan semakin atas semakin halus. Pada
bagian

teratas

batupasir

ini

berubah

menjadi

batupasir

konglomeratan atau breksian. Batupasir berwarna putih sampai


coklat keabuan dan mengandung mika, terkadang terdapat selangseling batulempung coklat dengan batubara, pada anggota ini
terdapat sisa-sisa tumbuhan dan batubara, ketebalannya antara 40
9

830 meter. Sedimen-sedimen ini merupakan endapan fluviatil


sampai delta (Spruyt, 1956), juga masih menurut Spruyt (1956)
anggota transisi pada bagian bawahnya terdiri atas selang-seling
batupasir kuarsa berukuran halus sampai sedang dan batulempung
serta lapisan batubara. Batupasir pada bagian atas berselang-seling
dengan batugamping tipis dan batupasir gampingan, napal,
batulempung gampingan dan serpih. Anggota ini mengandung fosilfosil Molusca, Crustacea, sisa ikan foram besar dan foram kecil,
diendapkan pada lingkungan paralis, litoral, delta, sampai tepi laut
dangkal dan berangsur menuju laut terbuka kearah cekungan.
Formasi ini berumur Oligosen Akhir hingga Miosen Awal. Ketebalan
formasi ini pada bagian Selatan cekungan mencapai 460 610
meter, sedangkan pada bagian Utara cekungan mempunyai
ketebalan kurang lebih 300 meter (De Coster, 1974).
4. Formasi Baturaja (BRF)
Menurut Spruyt (1956), formasi ini diendapkan secara selaras
diatas Formasi Talang Akar. Terdiri dari batugamping terumbu dan
batupasir gampingan. Di Gunung Gumai tersingkap dari bawah
keatas berturut-turut napal tufaan, lapisan batugamping koral,
batupasir napalan kelabu putih, batugamping ini mengandung foram
besar antara lain Spiroclypes spp, Eulipidina Formosa Schl, dan
Molusca. Ketebalannya antara 19 - 150 meter dan berumur Miosen
Awal. Lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal. Penamaan
Formasi Baturaja pertama kali dikemukakan oleh Van Bemmelen
(1932) sebagai Baturaja Stage, Baturaja Kalk Steen (Musper,
1973) Crbituiden Kalk (v.d. Schilden, 1949; Martin, 1952), Middle
Telisa Member (Marks, 1956), Baturaja Kalk Sten Formatie (Spruyt,
1956), dan Telisa Limestone (De Coster, 1974).

10

5. Formasi Gumai (GUF)


Formasi ini diendapkan setelah Formasi Baturaja dan
merupakan hasil pengendapan sedimen-sedimen yang terjadi pada
waktu genang laut mencapai puncaknya. Hubungannya dengan
Formasi Baturaja pada tepi cekungan atau daerah dalam cekungan
yang dangkal adalah selaras, tetapi pada beberapa tempat di pusatpusat cekungan atau pada bagian cekungan yang dalam terkadang
menjari dengan Formasi Baturaja (Pulonggono, 1986). Menurut
Spruyt (1956) Formasi ini terdiri atas napal tufaan berwarna kelabu
cerah sampai kelabu gelap. Kadang-kadang terdapat lapisan-lapisan
batupasir glaukonit yang keras, tuff, breksi tuff, lempung serpih dan
lapisan tipis batugamping. Endapan sediment pada formasi ini
banyak mengandung Globigerina sp. dan napal yang mengeras.
Westerfeld (1941) menyebutkan bahwa lapisan-lapisan Telisa
adalah seri monoton dari serpih dan napal yan mengandung
Globigerina sp. dengan selingan tufa juga lapisan pasir glaukonit.
Umur dari formasi ini adalah Awal Miosen Tengah (Tf2) (Van
Bemmelen, 1949) sedangkan menurut Pulonggono (1986) berumur
Miosen Awal hingga Miosen Tengah (N9 N12).
6. Formasi Air Benakat (ABF)
Menurut Spruyt (1956), formasi ini merupakan tahap awal dari
siklus pengendapan Kelompok Palembang, yaitu pada saat
permulaan dari endapan susut laut. Formasi ini berumur dari Miosen
Akhir hingga Pliosen. Litologinya terdiri atas batupasir tufaan, sedikit
atau banyak lempung tufaan yang berselang-seling dengan
batugamping napalan atau batupasirnya semakin keatas semakin
berkurang kandungan glaukonitnya. Pada formasi ini dijumpai
Globigerina sp., tetapi banyak mengadung Rotalia spp. Pada bagian
atas banyak dijumpai Molusca dan sisa tumbuhan. Di Limau, dalam
penyelidikan Spruyt (1956) ditemukan serpih lempungan yang
berwarna biru sampai coklat kelabu, serpih lempung pasiran dan
11

batupasir tufaan. Di daerah Jambi ditemukan berupa batulempung


kebiruan, napal, serpih pasiran dan batupasir yang mengandung
Mollusca, glaukonit kadang-kadang gampingan. Diendapkan dalam
lingkungan pengendapan neritik bagian bawah dan berangsur kelaut
dangkal bagian atas (De Coster, 1974). Ketebalan formasi ini
berkisar 250 1550 meter. Lokasi tipe formasi ini , menurut Musper
(1937), terletak diantara Air Benakat dan Air Benakat Kecil (kurang
lebih 40 km sebelah Utara-Baratlaut Muara Enim (Lembar Lahat).
Nama lainnya adalah Onder Palembang Lagen (Musper, 1937),
Lower Palembang Member (Marks, 1956), Air Benakat and en Klai
Formatie (Spruyt, 1956).
7. Formasi Muara Enim (MEF)
Menurut Spruyt (1956) formasi in terlatak selaras diatas
Formasi Air Benakat. Formasi ini dapat dibagi menjadi dua anggota
a dan anggota b. Anggota a disebut juga Anggota Coklat (Brown
Member) terdiri atas batulempung dan batupasir coklat sampai
coklat kelabu, batupasir berukuran halus sampai sedang. Didaerah
Palembang terdapat juga lapisan batubara. Anggota b disebut juga
Anggota Hijau Kebiruan (Blue Green Member) terdiri atas
batulempung pasiran dan batulempung tufaan yang berwarna biru
hijau, beberapa lapisan batubara berwarna merah-tua gelap,
batupasir kasar halus berwarna putih sampai kelabu terang.
Batupasir pada formasi ini dapat mengandung glaukonit dan debris
volkanik. Pada formasi ini terdapat oksida besi berupa konkresikonkresi dan silisified wood. Sedangkan batubara yang terdapat
pada formasi ini umumnya berupa lignit. Pada anggota a terkadang
dijumpai kandungan Foraminifera dan Mollusca selain batubara dan
sisa tumbuhan, sedangkan pada anggota b selain batubara dan
sisa tumbuhan tidak dijumpai fosil kecuali foram air payau
Haplophragmoides spp (Spruyt, 1956). Ketebalan formasi ini sekitar
450 -750 meter. Anggota a diendapkan pada lingkungan litoral yang
12

berangsur berubah kelingkungan air payau dan darat (Spruyt, 1956).


Lokasi tipenya terletak di Muara Enim, Kampong Minyak, Lembar
Lahat (Tobler, 1906).
8. Formasi Kasai (KAF)
Formasi ini mengakhiri siklus susut laut (De Coster dan
Adiwijaya, 1973). Pada bagian bawah terdiri atas batupasir tufan
dengan beberapa selingan batulempung tufan, kemudian terdapat
konglomerat selang-seling lapisan-lapisan batulempung tufan dan
batupasir yang lepas, pada bagian teratas terdapat lapisan tuf
batuapung yang mengandung sisa tumbuhan dan kayu terkersikkan
berstruktur sediment silang siur, lignit terdapat sebagai lensa-lensa
dalam batupasir dan batulempung tufan (Spruyt, 1956). Tobler
(1906) menemukan moluska air tawar Viviparus spp dan Union spp,
umurnya diduga Plio-Plistosen. Lingkungan pengendapan air payau
sampai darat. Satuan ini terlempar luas dibagian Timur Lembar dan
tebalnya mencapai 35 meter.
9. Endapan Quarter
Satuan
terpengaruh

ini

merupakan

oleh

orogenesa

Litologi

termuda

Plio-Plistosen.

yang

tidak

Golongan

ini

diendapkan secara tidak selaras di atas formasi yang lebih tua yang
teridi dari batupasir, fragmen-fragmen konglemerat berukuran kerikil
hingga bongkah, hadir batuan volkanik andesitik-basaltik berwarna
gelap. Satuan ini berumur resen.
2.1.3 Tatanan Tektonik Regional Cekungan Sumatera Selatan
Pulau

Sumatera

terletak

di

Barat

Daya

dari

Kontinen Sundaland dan merupakan jalur konvergensi antara Lempeng


Hindia-Australia

yang

menyusup

di

sebelah

Barat

Lempeng

Eurasia/Sundaland yang menghasilkan subduksi sepanjang Palung


Sunda dan pergerakan lateral menganan dari Sistem Sesar Sumatera.

13

Gambar 2.4. Pembentukan Cekungan Belakang Busur di Pulau


Sumatera (Heidrick dan Aulia, 1993).
Subduksi dari Lempeng Hindia-Australia dengan batas Lempeng
Asia pada masa Paleogen diperkirakan telah menyebabkan rotasi
Lempeng Asia termasuk Sumatera searah jarum jam. Perubahan posisi
Sumatera yang sebelumnya berarah E-W menjadi SE-NW dimulai pada
Eosen-Oligosen.

Perubahan

tersebut

juga

mengindikasikan

meningkatnya pergerakan sesar mendatar Sumatera seiring dengan


rotasi. Subduksi oblique dan pengaruh sistem mendatar Sumatera
menjadikan kompleksitas regim stress dan pola strain pada Sumatera
(Darman dan Sidi, 2000). Karakteristik Awal Tersier Sumatera ditandai
dengan pembentukkan cekungan-cekungan belakang busur sepanjang
Pulau Sumatera, akibat lateral escape collision India Australia, yaitu
Cekungan Sumatera Utara, Cekungan Sumatera Tengah, dan Cekungan
Sumatera Selatan (Gambar 2.4.).
Pulau

Sumatera

diinterpretasikan

dibentuk

oleh

kolisi

dan suturing dari mikrokontinen di Akhir Pra-Tersier (Pulunggono dan


Cameron, 1984; dalam Barber dkk, 2005). Sekarang Lempeng Samudera
Hindia subduksi di bawah Lempeng Benua Eurasia pada arah N20E
14

dengan rata-rata pergerakannya 6 7 cm/tahun. Konfigurasi cekungan


pada daerah Sumatera berhubungan langsung dengan kehadiran dari
subduksi yang menyebabkan non-volcanic fore-arc dan volcano-plutonik
back-arc. Sumatera dapat dibagi menjadi 5 bagian (Darman dan Sidi,
2000):
1. Sunda outer-arc ridge, berada sepanjang batas cekungan forearc Sunda dan yang memisahkan dari lereng trench.
2. Cekungan Fore-arc Sunda, terbentang antara akresi non-vulkanik
punggungan outer-arcdengan bagian di bawah permukaan dan
volkanik back-arc Sumatera.
3. Cekungan Back-arc Sumatera, meliputi Cekungan Sumatera Utara,
Tengah, dan Selatan. Sistem ini berkembang sejalan dengan depresi
yang berbeda pada bagian bawah Bukit Barisan.
4. Bukit Barisan, terjadi pada bagian axial dari pulaunya dan terbentuk
terutama pada Perm-Karbon hingga batuan Mesozoik.
5. Intra-arc Sumatera, dipisahkan oleh uplift berikutnya dan erosi dari
daerah pengendapan terdahulu sehingga memiliki litologi yang mirip
pada fore-arc dan back-arc basin.
Peristiwa Tektonik yang berperan dalam perkembangan Pulau
Sumatera dan Cekungan Sumatera Selatan menurut Pulonggono dkk
(1992) adalah:

Fase kompresi yang berlangsung dari Jurasik awal sampai


Kapur. Tektonik ini menghasilkan sesar geser dekstral WNW
ESE seperti Sesar Lematang, Kepayang, Saka, Pantai Selatan
Lampung, Musi Lineament dan N S trend. Terjadi wrench
movement dan intrusi granit berumur Jurasik Kapur

15

Gambar 2.5. Fase Kompresi Jurasik Awal Sampai Kapur dan Elipsoid
Model(Pulonggono dkk, 1992).

Fase tensional pada Kapur Akhir sampai Tersier Awal yang


menghasilkan sesar normal dan sesar tumbuh berarah N S dan
WNW ESE. Sedimentasi mengisi cekungan atau terban di atas
batuan dasar bersamaan dengan kegiatan gunung api. Terjadi
pengisian awal dari cekungan yaitu Formasi Lahat. Pull apart
basin dan negative flower structure.

16

Gambar 2.6. Fase Tensional Kapur Akhir Sampai Tersier Awal dan
Elipsoid Model (Pulonggono dkk, 1992).

Fase ketiga yaitu adanya aktivitas tektonik Miosen atau Intra


Miosen menyebabkan pengangkatan tepi-tepi cekungan dan
diikuti

pengendapan

bahan-bahan

klastika.

Yaitu

terendapkannya Formasi Talang Akar, Formasi Baturaja,


Formasi Gumai, Formasi Air Benakat, dan Formasi Muara Enim.

Fase keempat berupa gerak kompresional pada Plio-Plistosen


menyebabkan sebagian Formasi Air Benakat dan Formasi
Muara Enim telah menjadi tinggian tererosi, sedangkan pada
daerah

yang

relatif

turun

diendapkan

Formasi

Kasai.

Selanjutnya, terjadi pengangkatan dan perlipatan berarah Barat


laut di seluruh daerah cekungan yang mengakhiri pengendapan
Tersier.

17

Gambar 2.7. Fase Kompresi Miosen Tengah Sampai Sekarang dan


Elipsoid Model (Pulonggono dkk, 1992).
2.1.4. Struktur Geologi Regional Cekungan Sumatera Selatan
Sumatera Selatan dan Sumatera Tengah mempunyai karakter
sedimentasi yang sama. Cekungan Sumatera Selatan terbentuk pada back
arc basin dan sub cekungan palembang mempunyai kedalaman lebih dari
4 km yang memanjang dengan arah NW SE . Sediment tersier mencapai
kedalaman 5 km di pusat cekungan. Cekungan cekungan ini terkelilingi oleh
tinggian Pra-Tersier basement seperti Tinggian Tigapuluh di bagian Utara,
Musi dan Kuang Platform di bagian Selatan, Palembang, Tamiang serta
Tinggian Lampung di bagian Timur.
Sturktur di Sumatera Selatan terlihat dari singkapan batuan PraTersier dari Tinggian Tiga Puluh, Tinggian Dua Belas di Utara dan di
sepanjang Bukit Barisan. Struktur lipatan berkembang pesat pada 3 daerah
, yaitu Palembang, Pendopo, dan Muara Enim Antiklinorium, dimana
dulunya adalah pusat cekungan dan sedimenya tebal. Antiklinorium
Palembang melampar berarah tenggara dari Tinggian tigapuluh menuju
palembang. Yang membentuk antiklinorium berarah NW SE dengan
geometri Asimetrikal antiklin dan sinklin. Semakin ke arah Utara Antiklin
mempunyai sayap bagian selatan yang semakin terjal, sementara lipatan di

18

bagian selatan, mempunyai sayap bagian utara yang makin terjal


(Pulunggono 1986).

Gambar 2.8. Kiri: Struktur Geologi Regional Cekungan Sumatera


Selatan (De Coster (1974)).
Di Antiklinorium Limau, di Barat daya palembang, lipatan cenderung
memiliki arah WNW ESE, dimana sayap yang terjal berada di bagian
selatan lipatan. Antiklin Muara Enim sampai Timur Pegunungan Gumai di
bagian Selatan cekungan membentuk seri lipatan periclinal asimetrikal,
dimana sayap menjadi lebih terjal ke arah ENE (Pulonggono 1986). Lipatan
antiklin scara garis besar ditempati oleh batuan batuan tersier berumur tua
pada bagian pusatnya, sementara sinklin ditempati batuan berumur muda
seperti Plio-Pleistosen Formasi Kasai pada bagian tengah sinkiln. Menurut
data seismik, dari ditemukanya ketidakselarasan pada daerah Selatan
cekungan, yang diisi oleh sedimen kuarter, dapat menjadi bukti bahwa
deformasi cekungan tersier terjadi pada Pleistosen. Pada saat subduksi
menjadi intesif karena pergerakan lempeng australia yang menujam
19

dibawah lempeng eurasia, maka aktivitas volkanisme dan pengankatan


pegunungan barisan menyebabkan regresi yang mengendapkan batuan
batuan berumur Miosen Pleistosen secara luas. Pada Pelistosen,
cekungan terkena gaya kompresi yang berearah NE SW, mengreaktivasi
sesar di basement dan mengankat basement blok yang semula turun,
membentuk lipatan berarah NW SE.
2.1.5. Tektonostratigrafi Regional Cekungan Sumatera Selatan
Akibat lateral escape dari colisi antara hindia dan australian plate,
membentuk cekungan tersier salah satunya adalah cekungan di Sumatera
slatan. Pengendapan pertama adalah formasi lemat dan lahat, dimana
tersingkap di kaki bukit pegunungan tigapuluh dan pegunungan Duabelas,
dan teridentifikasi dari seismik dan lubang bor sepanjang

graben di

cekungan. Endapan ini merupakan endapan yang berasosiasi dengan


granite wash. Lingkungan pengendapan diinterpretasikan adalah alluvial
fan, fluviatil sampai lacustrine dan diatasnya diendapkan formasi talang
akar. Pada batas cekungan, formasi talang akar ini secara tidak selaras
diendapkan berdekatan dengan basement. Subsiden terjadi sepanjang
batas sesar yang terus terjadi saat pengendapan talang akar, yang
menandakan fase transgresi yang diikuti oleh pengendapan formasi Batu
raja secara setempat pada tinggia basement, menandakan lingkungan
yang marine sepenuhnya kemudian diendapkan formasi gumai yang
melampar dari tinggian lampung sampai cekungan sunda. Formasi kasai
diendapkan secara tidak selaras diatas formasi muara enim. Mengandung
fragmen volkanik menandakan bahwa pengangkatan bukit barisan dan
erupsi dari gunung api.

20

Gambar 2.9. Tektonostratigrafi Cekungan Sumatera Selatan


(Kingston, 1988).
2.2. Petroleum System Cekungan Sumatera Selatan
2.2.1. Batuan Induk
Minyak dan gas bumi banyak diproduksi dari reservoir batupasir
Formasi Air Benakat dan batupasir Formasi Talang Akar. Batuan induk
yang paling baik didapat dari Formasi Gumai berupa endapan syn-rift
berlingkungan fluvio-deltaik, laut marginal, dan lakustrin lokal dengan
tambahan fasies batubara dari Formasi Lahat dan Lemat berumur Eosen
Akhir - Oligosen Awal.

21

Gambar 2.10. Diagram segitiga Sub-Cekungan Jambi (Manaf dan


Mujahidin, 1993).
Serpih lakustrin Formasi Lahat juga merupakan batuan induk yang
bagus dan kemungkinan terdapat di Muara Enim Deep. Sementara serpih
dan batubara Formasi Talang Akar juga potensial untuk dijadikan batuan
induk penghasil hidrokarbon karena kadar TOC-nya mencapai 5%. Material
organiknya bertipe humic dan campuran yang dievaluasi memiliki
kecenderungan menghasilkan minyak atau gas. Formasi Baturaja juga
mengindikasikan adanya batuan induk yang terbatas yang terdiri dari
material humic yang dapat menghasilkan gas.
Serpih Formasi Gumai yang tersebar secara luas merupakan potensi
batuan induk yang signifikan; material organik humic dan sapropelic hadir
pada serpih Formasi Gumai dengan kadar nilai TOC beberapa persen dan
memiliki kecenderungan menghasilkan minyak.

22

2.2.1.1.

Formasi Lemat atau Formasi Lahat bagian atas

Variasi litologi berupa respon perubahan lingkungan darat menuju ke


air payau. TOC nya sekitar 1,5 - 2,0% dengan 50% kerogen dari material
sapropel (data Sumur Bentayan-13). Formasi Lahat dapat menjadi batuan
induk yang baik dengan variasi fasies kerogen dan tidak konsisten secara
lateral.
2.2.1.2.

Formasi Talang Akar

Variasi fasies batuan induk Formasi Talang Akar berupa dataran


pantai, estuari, laguna, dan laut marginal dengan kisaran kadar TOC < 0.5%
- 77% dengan rata-rata 2,31% kebanyakan berupa material humic, vitrinit,
leptinit dan sapropel yang cenderung menghasilkan minyak.
Dapat disimpulkan bahwa Formasi Talang Akar diendapkan pada
lingkungan laut dangkal hingga paralik dan dapat menghasilkan minyak
pada kondisi optimum dan gas/kondensat pada tingkat kematangan lanjut.
Formasi lain yang berperan sebagai batuan induk adalah Formasi
Gumai dan Air Benakat dengan kadar TOC rata-rata 1,2% yang terdiri dari
material

sapropel,

menghasilkan

gas

leptinit,
dan

inertinit

atau

dan

minyak.

humic

Formasi

yang

cenderung

Gumai

bervariasi

kematangannya dari mulai matang dan dapat menghasilkan minyak dan


kondensat gas pada kondisi kematangan yang lebih lanjut; jendela
pembentukan minyaknya dimulai pada 8-15 juta tahun yang lalu.
Formasi Air Benakat terdiri dari serpih, batugamping dan batubara
dengan kadar TOC bervariasi dari <0,5% hingga 53,8% dengan ratarata1,08% yang terdiri dari material organic sapropelik, inertinit, sedikit
humic dan vitrinit dan cederung membentuk gas dengan tingkat
kematangan belum matang-mulai matang.

2.2.2. Reservoir
Berbagai reservoir potensial adalah Formasi Talang Akar hingga
Formasi Muara Enim. Untuk target dangkal, reservoir sedimen klastik
Formasi Air Benakat yang terdiri dari perlapisan batupasir dengan
23

batulempung yang memiliki porositas baik permeabilitas tinggi tetapi


pelamparannya terbatas.

2.2.3. Migrasi
Waktu migrasi pembentukan minyak ditentukan oleh peningkatan
aliran penambahan dan sejarah pengendapan yang berasosiasi dengan
tektonisme Miosen, sementara akumulasi hidrokarbon kemungkinan baru
terdistribusi mengikuti sesar yang berkaitan dengan orogenesa PlioPleistosen.
Migrasi minyak dari Formasi Talang Akar-Lahat menuju ke Formasi
Air Benakat seharusnya melalui sistem sesar normal pada batuan yang
berhenti pada Formasi Air Benakat. Deformasi selanjutnya mengakibatkan
minyak yang terbentuk bermigrasi langsung ke struktur baru dari deformasi
Plio-Plistosen sementara sejumlah minyak merembes ke lapisan reservoir
pada Formasi Air Benakat yang lebih atas.

2.2.4. Batuan Penyekat


Serpih intraformasi dari Formasi Air Benakat menjadi penyekat yang
efektif begitu pula dengan serpih Formasi Talang Akar, serpih Formasi
Gumai dan Formasi Air Benakat. Diantara semuanya, bagian tebal dari
serpih laut Formasi Gumai dipertimbangkan sebagai batuan penyekat
regional untuk hampir semua play Talang Akar dan Baturaja.

2.2.5. Perangkap
Trap pada daerah ini lebih didominasi oleh struktural seperti
antiklinorium, sesar inversi yang menghasilkan lipatan, over thrust ,dll.
Kemudian ada trap stratigrafi berupa reef pada formasi baturaja. Yang
terjadi pada saat tektonik inversion pada kala Pleio Pleistosen. Sementara
Horst dan graben yang tersesarkan dengan intesif dan terkontak langsung
dengan formasi talang akar juga dapat menjadi indikasi dari traping.

24

2.2.6. Kematangan
Dengan menggunakan beberapa parameter geokimia (Tmax vs HI,
VR data vs TTI; Wahab, 1986) terlihat bahwa kebanyakan dari Formasi Air
Benakat belum matang atau mulai matang, Formasi Gumai mulai matangmatang sementara Formasi Talang Akar telah matang dan beberapa telah
lewat matang. Formasi Talang Akar mencapai kematangan pada awal 20
juta tahun yang lalu paling lambat 10 juta tahun yang lalu dan memasuki
fase gas basah pada 2-5 juta tahun lalu.
Karakteristik umum dari properti geokimia batuan dasar di Sumatera
Selatan dapat disimpulkan sebagai berikut:

Gambar 2.11. Petroleum System Cekungan Sumatera Selatan (


Barber 2005 ).

25

2.3. Petroleum Play


Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan back arc basin
dari pulau Sumatera, dimana Formasi Talang Akar, Baturaja, Gumai, Air
Benakat, dan Muara Enim merupakan oil bearing formation.
Pada Kala Eosen, terjadi ekstensional yang diakibatkan dari lateral
escape kolisi India Australia menyebabkan rifting pada beberapa daerah di
Indonesia yang merupakan awal dari pembentukan hidrokarbon. Rifting
pada Sumatera mempunyai pola half graben yang memanjang NE - SW.
Dimana sesar - sesar pada footwall dari basement tersebut akan terjadi
reaktivasi / inversi yang kemudian akan membentuk closure - closure
berarah SE NW. Pada kala Miosen dimungkinkan hidrokarbon mulai
bergerak dan terakumulasi pada saat Plio-Pleistosen.
Pada Kala Oligosen, diendapkan formasi lahat sebagai endapan
synrift, dimana endapan ini mempunyai fasies lakustrin pada lingkungan
darat. Menempati bagian terdalam dari basin dan tersebar secara setempat
di atas batuan dasar. Merupakan batuan sumber dari cekungan Sumatera
Selatan, dengan tipe kerogen I, yaitu oil prone.
Kemudian pada pada Oligosen atas, diendapkan formasi talang akar
yang merupakan fasies fluvio-deltaic dengan endapan sangat tebal. Karena
faasies ini, kemudain formasi talang akar dapat bertindak sebagai sumber
dan reservoir, dimana lingkungan delta lebih cenderung kepada tipe II dan
tipe III yang terdiri dari reservoir berisi gas lebih banyak, penyusun berupa
kerogen vitrinit berasal dari tanaman tingkat tinggi. Reservoir utama yaitu
terletak pada batupasir kuarsa Formasi Talang Akar dimana berfase braided
meander river serta delta dimana sangat baik untuk reservoir.
Pada Miosen bawah, transgresi berlanjut sehingga reef tumbuh pada
tinggian basement yang dimana berkembang menjadi reef build up dengan
penyebaran yang terpisah. Tight dan porous karbonat terdapat pada
formasi ini. Disini fasies mudstone yang merupakan perkembangan dari
back reef, dengan endapan berbutir halus dimungkingkan juga menjadi
batuan sumber sementara pada fasies core reef yang tersusun atas grain
26

supported sampai boundstone merupakan reservoir karbonat dengan tipe


perangkap berupa stratigraphic diagenetic. Dengan tipe porositas berupa
Vuggy, interkristalin, intergranular, dan fracture porosity yang terdistribusi
secara random pada batugamping formasi baturaja, yang terbentuk atas
proses syn sedimentation dan post sedimentation yang terdiri atas fabric
selective dan non fabric selective.
Kemudian pada Formasi Gumai, diendpakn shale tebal yang
merupakan seal / batuan tudung yang sangat baik bagi reservoir di
bawahnya. Kemudian pada Formasi Gumai terdapat sisipan batupasir
secara setempat yang lain adalah endapan turbidit dari submarine fan.
Serta batuan shale yang dapat berpotensi sebagai source rock.
Pada Miosen atas, formasi air benakat dienedapkan pada lingkungan
delta shallow marine dengan hetrolitic sediment, yaitu perselingan
batupasir tipis dengan shale. Merupakan reservoir penghasil minyak bumi.
Kemudian diatasnya diendapkan formasi muara enim dengan status batuan
reservoir dengan butiran yang lebih kasar dan sortasi lebih baik daripada
air benakat. Dimungkingkan sumber berasal dari Formasi Gumai, Lahat
serta Talang Akar.

27

Gambar 2.12. Petroleum system dan tektonostratigrafi Cekugan


Sumatera Seletan
Proses generasi minyak terjadi di kitchen area pada pusat dari basin
itu dan menurut data geokimia , generasi terjadi pada saat Miosen tengah
sampai Pliosen, yang kemudian proses migrasi terjadi pada saat Miosen
sampai Plio-Pleistosen. Kemudain pembentukan jalur migrasi itu sendiri
terjadi pada saat syn-rift dan growth fault pada saat fase sagging tectonic
serta tentu pada saat inversi Plio-Pleistosen. Dimana Minyak pada formasi
lahat dimungkingkan bermigrasi sepanjang jalur jalur sesar pada basement,
sbagian menuju ke atas dan sebagian menuju pada basement fracture open
fracture pada daerah basement high, yang menyebabkan terbentuknya
basement reservoir seperti di Suban milik Pt. Pertamina.
Proses pembentukan trap terjadi pada saat orogenesa dan
stratigraphic trap seperti pinch out, dan diagenetic berasosiasi disini dan
beberapa trap faulted block juga terjadi di daerah ini, serta mengontrol dari
arah sedimentasi. Akumilasi terjadi pada saat Plio-Pleistosen atau setelah
terjadi proses orogenesa sehingga Hidrokarbon dapat terakumulasi. Serta
Proses preservasi terjadi pada saat Plio-Pleistosen Resen, dimana pada
28

Formasi Air Benakat, teridentifikasi ada beberapa minyak yang telah


mengalami biodegradasi yang disbabkan oleh tersingkapnya formasi ini
dan berinteraksi dengan air meteorik.

Gambar 2.13. Petroleum System Cekungan Sumatera Selatan


berkaitan dengan migrasi Hidrokarbon.
2.4 Interpretasi Geologi Lapangan Beta
Sumber referensi untuk interpretasi data sumur pada beta field ini
berasal dari 4 sumur yaitu sumur Beta 1, Beta 2, Beta 3 , dan Beta 4. Kurva
log yang tersedia pada masing-masing log diantaranya log GR, SP, Caliper,
Resistivitas, Sonic, Neutron, Densitas dan AI, serta Data Core test pada
Beta 4. Formasi adalah Air benakat.
2.4.1. Data Log dan Core
2.4.1.1. Korelasi Stratigrafi
Korelasi stratigrafi dibuat untuk mengidentifikasi dan mengontrol
saat menghubungkan dari tubuh suatu zona lapisan reservoir pada log.
Dengan metode sikuen stratigrafi maka datum yang menjadi patokan pada
korelasi stratigrafi adalah unsur unsur sikuen stratigrafi seperti MFS,
transgressive suface, maupun sequence boundary. Untuk mengerjakan ini
maka dilakukan Vshale cut off 50 % untuk menentukan korelasi stratigrafi.
Dari korelasi stratigrafi dapat pula dibuat paleogegrafi dan arah sedimentasi
untuk sebagai analisa awal. Pada Lapangan Beta memperlihatkan bahwa
lapisan lapisan yang dikorelasikan membentuk suatu kemenrusan ke arah

29

cekungan (ke arah Beta 3) dari kemenerusan datum sequence boundary


(SB) tersebut. Metode adalah top down.

Gambar 2.14. Korelasi Stratigrafi Sumur Beta


2.4.1.2. Indentifikasi Lapisan Reservoir
Dengan cara melakukan korelasi stratigrafi dengan datum Maximum
Flooding surface / maximum GR, dan dilakukanya pembagian Vshale cut
off dengan nilai 50%, dimana nilai GR lebih kecil dari 50 % dikategorikan
sebagai zona permeable. Selain itu nilai dari Seperation dari Densita dan
neutron, log resistivitas sebagai indikasi awal kemungkinan zona
hidrokarbon berada serta data hasil perhitungan log berupa Sw, Porosity,
Permeability / Mobility (lampiran) dan data core pada Beta 4. Didapatkan 3
zona Prospek pada tabel di bawah ini. Kemudian menghubungkan lapisan
lapisan yang mempunyai elektrofasies yang hampir sama yang telah
dikontrol oleh korelasi stratigrafi.

30

Tabel II-1. Nilai Kedalaman TVDSS lapisan Zonia Interest


No
Z 380
Z 450

Beta 4
363.5 369
m
428 441 m

Beta 1
367.5 373
m
432 444 m

Z 650

631 646 m

635 650 m

Beta 2
391 -395.5 m
453 467.5
m
665,5 680
m

Beta 3
385 392.5
m
446 460 m
669 679 m

Bedasarkan susunan batuan hasil interpretasi tersebut merupakan


lapisan tipis permiable (batupasir) yang terdapat dalam perselang selingan
antara shale / impermeable rock. Interpretasi merupakan formasi Air
benakat bagian bawah.
2.4.1.3. Korelasi Struktur
Pada 2 jenis log sumur dapat dijelaskan bawha korelasi struktur
dengan menggunakan datum elevasi muka air laut dapat diidentifikasi
bahwa pada jalur korelasi relatif berarah NE SW pada baemap. Dapat
dilihat bahwa sumur Beta 4 dan Beta 1 merupakan daerah tertinggi dari
suatu antiklin / crest. Dimana pada sumur Beta 3 dan Beta 2 merupakan
sumur pada sayap sayap antiklin yang menunjam. Korelasi struktur
digunakan kemudian untuk membuat peta Top dan Bottom Structre serta
fluid outline.

31

Gambar 2.15. Korealsi Struktur sumur Beta arah SW NE


2.4.2. Interpretasi Seismik dan Well Seismic Tie
Setelah dilakukan penginkatan sumur ( Gambar Korealsi sturktur ) ,
menggunakan AI sebagai kunci dari untuk pengikatan kemudian time
struktur tersebut dikonversi kedalam depth struktur dengan menggunakan
data Seismik Sintetis. Dari analisa penarikan horizon target pada wireline
logs, maka dicari kemenerusan dari lapisan tersebut untuk membuat
sebuah korelasi strutur menggunakan data seismik. Pada line sesimik yang
berarah SW NE dapat dilihat bahwa lapisan membentuk suatu geometri
lipatan yang menempel sesar NW SE (sebelah kiri gambar) yang
merupakan bidang inversi dari sesar naik teresebut. Konfigurasi refleksi dari
line ini adalah Paralel Wavy yang menandakan bahwa terjadinya suatu
lipatatan.

32

Gambar 2.16. Line SW NE sesimik dan basemap.


Dari line seismik yang berarah ESE WNW terlihat bahwa terdapat
sesar besat yang membagi sumur Beta 3 (Gambar 2.16) yang menandakan
sesar turun yang kemungkinan merupakan sesar extensional produk dari
sesar inversi. Dapat dilihat bahwa Throw dari Lapisan R1 sangat besar
dibanding Lapisan Z-550 dan R14. Menyatakan bahwa sesar tersebut
kemungkinan makin horizontal ke arah dalam , dilihat dari separation
lapisan dan juxtaposisi pada line seismik. Sumur Beta 3 di bor untuk
mengtehaui sifat dari sesar tersebut,dan memberikan informasi data test
MDT berupa kesamaan pressure dari FWL pada setiap sumur,
kemungkinan merupakan indikasi dari cross leaking fault, dimana sesar itu
mempunyai nilai FWL sama, tetapi OWC pada masing masing
kompartemen belum tentu sama. Pada sesar bererarah hampir E W yang
memisah West Berau dengan Sumur beta 3, merupakan sesar Sealing
menurut data, tetapi masih memproduksi minyak pada kompartemen West
Berau. Konfigurasi Refleksi pada line seismik adalah berupa Paralel Sub
Paralel Wavy, serta disturbed yang menggambarkan terjadinya perlipatan
dan pensesaran. Pola

pemberhetian/Reflection termination

berupa

erosional surface juga terdapat pada bagian atas seismik, yang merupakan

33

suatu bidang unconformity yang kemungkinan diendapkan formasi kasai


diatasnya sebagai Syn Invesion sedimentation.

Gambar 2.17. Line seismik ESE WNW dan basemap.


Dari data seismik yang didapat pada basemap dan well tie,
dimungkinkan bahwa terdapat beberapa sesar hasil dari interpretasi
seismik. Terlihat pahwa jenis perangkap merupakan jenis perangkap
struktur berupa lipatan hasil dari inversi . Yang dimana membentuk closuer
yang kemudian terpatahkan, salah satunya adalah sesar yang membatasi
antara beta 1,2,4 dengan beta 3. Serta teradapat sesar sesar penyerta
berupa sesar turun. Yang kemudian data seismik tersebut dibuat
kedalaman

depth

structure

sehingga

tampak

sesar

sesar

yang

mengelilingin lapangan beta. Pada gambar dibawah, tampak bahwa


terdapat sesar berarah NW SE yang merupakan sesar naik akibat inversi
dari tektonik Plio-Plestosen, sementara pada daerah lain di beta, terdapat
sesar berarah NNE- SSW yang merupakan sesar sesar extensional dari
keberadaan sesar kecil tersebut dapat diinterpretasikan bahwa sesesar
34

tersebut merupakan sesar penyerta sintetik dan antitetik daripada sesar


utama berarah NW SE.

Gambar 2.18. Struktur Beta skala 1 : 250.000

Gambar 2.19. Peta Sturktur Beta skala 1 : 25.000


2.4.3. Analisa Petrofisika
Analisa petrofisika dilakukan untuk mengetahui kualitas properti
batuannya seperti porositas, permeabilitas, dan saturasinya. Nilai porositas,
Sw (saturasi air), dan permeabilitas didapat dari hasil pembacaan log sumur
Beta 1, Beta 2, Beta 3, Beta 4 Harga porositas didapatkan berdasarkan
pembacaan dari dua kurva log, yaitu log densitas dan log neutron. Nilai
35

saturasi air dihitung dengan menggunakan persamaan Archie pada clean


sand (didalam John T. Dewan, 1983), sedangkan nilai permeabilitas
dikarenakan tidak adanya data batuan inti, maka dihitung menggunakan
persamaan empiris Timur (1973). Zona yang mempunyai properti terbaik
adalah Z 380A.

Rumus penentuan porositas:


= .(2.1)
=

+
2

...(2.2)

Dengan,
ma

= Densitas matriks batuan. 2,65 untuk batupasir, 2,71 untuk

batugamping
b

= Densitas bulk dari kurva RHOB

= Densitas fluida

= Porositas berdasarkan log densitas

= Porositas berdasarkan log neutron

ND

= Porositas neutron-densitas

Persamaan untuk mengetahui nilai Sw :

............(2.3)

=
Dengan,
Sw

= Saturasi air

= Konstanta, 1 untuk batugamping, 0,9 untuk batupasir

= Porositas efektif (fraksi)

Rw

= Resistivitas air formasi (ohm.m)

Rt

= True formation resistivity (ohm.m)

Persamaan Timur untuk mengetahui permeabilitas :


4.4

= 0,136 2 ..(2.4)
Dengan,
36

= Permeabilitas (md)

= Porositas efektif (%)

Swirr = Saturasi air tersisa (%)


Berdasarkan hasil evaluasi pada log sumur Beta dan data core
Sumur Beta 4 maka didapatkan nilai properti rata-rata pada tiap lapisan
reservoir yang dapat dilihat pada tabel II-1, tabel II-2, dan tabel II-3.
Tabel II-2. Nilai Properti Petrofisika Pada Z 380
Parameter
Porositas (%)
Permeabilitas
(md)
Sw (%)

Beta 1
0.23

Beta 2
0.201

Beta 3
0.22

Beta 4
0.26

243.66

128.35

13.16

194.57

0.62

0.75

0.77

0.58

Tabel II-3. Nilai Properti Petrofisika Pada Z 450


Parameter
Porositas (%)
Permeabilitas
(md)
Sw (%)

Beta 1
0.19

Beta 2
0.19

Beta 3
0.17

Beta 4
0.22

4.75

13.41

10.05

5.55

0.74

0.75

0.80

0.70

Tabel II-4. Nilai Properti Petrofisika Pada Z 650


Parameter
Porositas (%)
Permeabilitas
(md)
Sw (%)

Beta 1
0.20

Beta 2
0.15

Beta 3
0.09

Beta 4
0.23

16.74

5.11

0.52

17.63

0.80

0.83

0.88

0.73

Pada Beta 4, sumur tersebut diambil sampel berupa Conventional


dan Side wall core untuk Properti dari reservoir tersebut

37

Tabel II-5. Properti Petrofisik Core sumur Beta 4


Parameter

Z 380

Z 450

Z 650

Porositas (%)

0.27

0.23

315

17.63

Permeabilitas
(md)

2.4.4. Lingkungan Pengendapan


Dari hasil data data sumur berupa wireline log dan core serta cutting,
maka diperoleh data untuk menafsirkan lingkungan pengendapan pada
lapangan Beta. Dengan data core pada sumur beta 4 , maka dapat
diinerpretasikan dengan melihat tekstur , sturktur, komposisi mineral dan
bioturbasi pada data core, maka diinterpretasikan sebagai hasil dari
endapan shallow marine sampai offshore. Maka dapat dibagi menjadi
beberapa bagian yaitu:
a. Lower shoreface, yang terbioturbasi secara intensif dengan butiran yang
sangat halus dan batupasir hetrolitik, yang diendapkan pada lower
shoreface, campuran bioturbasi horizontal dan vertikal mengindikasikan
energi yang rendah sampai medium. Pasir pada bagian atas Z 380
merupakan hasil dari Transgrasive revinament yang mengendapkan
kembali bagian dari pasir.
b. Offshor transition zone, inchnofasies berupa Zoophycos indikasi dari
energi rendah. Maka shale dan mudstone menjadi indikasi.
c. Offshore dengan banyaknya bioturbasi dan endapan badai.

Dari data log, interpretasi lingkungan pengendapan adalah shalow


marine low angel clastic ramp. Seperti yang dapat dilihat pada bidang
korelasi stratigrafi. Bedasarkan data core, dilihat dari struktur sedimen
beruma minor cross bedding yang di temukan di FMI, maka diinterpretasi
data arah sumber sedimen adalah relatif dari NW menuju ke SE.

38

Gambar 2.20. Interpretasi lingkungan Pengendapan di Sumur Beta

2.4.4.1. Interpretasi lingkungan Pengendapan Lapisan Reservoir


Dari data wireline log dan core kemudian dibuat korelasi stratigrafi
serta sequence untuk menentukan perubahan lingkungan pengendapan
daripada unit lapisan reservoir pada masing masing interval. Kemudian dari
data pola elektrofasies, ketebalan gross serta data core kemudian dibuat
permodelan fasies dari setiap lapisan reservoir, dengan konep The Present
Is The Key to The Past guna untuk pembuatan peta peta bawah permukaan
selanjutnya. Ketebalan Gross sand disajikan pada tabel dibawah ini.

Tabel II-6. Ketebalan gross sand lapisan interest.


No

Ketebalan Gross (m)


Beta 1

Beta 2

Beta 3

Beta 4

Z 380

5.5

4.5

7.5

5.5

Z 450

12

14.5

14

13

Z 65

15

14.5

10

15

39

2.4.4.1.1. Interpretasi Fasies Z 380

Gambar 2.21. Peta Fasies Lapisan Z 380 .

Terlihat di atas bahwa menurut data yang tersedia berupa log serta
data core dapat dibuat peta penyebaran fasies dari lapisan reservoir Z 380.
Dengan melihat ketebalan Gross sand pada setiap sumur yang kemudian
di plot untuk menginterpretasi fasies. Dari data core didapat bahwa pada
kedalaman 375,65 377,5 m di sumur beta 4, didapatkan bahwa pada
bagian atas core merupakan batupasir yang berukuran medium, semakin
ke bawah semakin bergeradasi menuju halus sangat halus. Dengan
struktur yang terbioturbasi secara intensif, mud drape serta terdapat banyak
cangkang pelechypoda, menandakan bahwa daerah ini diterpretasikan
sebagai lingkungan shallow marine berfasies Offshore transition zone.
Dilihat dari pola elektrofasies yang menandakan bahwa adanya bentukan
Funnel

shape

(Kendall

2003),

penanda

dari

prograding,

yang

diinterpretasikan bagian dari prograding marine shelf. Sementara pada beta


3 terlihat bahwa gross sand mengalami penebalan, dan berbentuk pola
40

Serrated Blocky (Roger, M. Slatt 2006), menandakan bahwa adanya suatu


Sand Barrier yang diinterpretasikan memanjang dari arah relatif NE SW,
yang didasari dari data Peleo current untuk sumber sedimen yang berasal
dari arah relatif SSE NNW dari data core. Arah dari memanjang dari Sand
Barrier dibuat dengan menganggap bahwa garis pantai ( tidak masuk dalam
peta ) mempunyai arah yang relatif tegak lurus dengan sumber sediment.
Garis gelombang menunjuka persebaran dari sand yang searah dengan
paleo shoreline. Semakin keUtara diiterpretasikan semakin ke atah fasies
lower shoreface.

2.4.4.1.2. Interpretasi Fasies Z 450

Gambar 2.22. Peta Fasies Lapisan Z 450 .

Pada lapisan Z 450, menurut data log serta data core yang tersedia,
maka dapat diinterpretasikan bahwa lingkungan pengendapan pada
interval ini merupakan lingkungan yang berasosiasi dengan tidal
enviroment. Dapat dilihat dari data core yang berupa batuan hetrolitic yang
dimana perselingan antara batupasir halus dengan shale. Dimana energi
41

pengendapan berkisar antara medium low. Dari data yang didapat,


menunjukan bahwa terdapat bioturbasi yang berkembang secara baik
pencampuran bioturbasi horizontal dan vertikal. Adanya struktur sedimen
minor crossbedding yang menunjukan bidirectional tidal current berarah
hampir N S. Kemudian dilihat dari data pola elektro fasies, pada sumur
beta 4 dan beta 2 menunjukan pola Serrated Blocky ( Roger, M. Slatt 2006
), dimana dalam konteks ini diinterpretasikan sebagai endapan chanel sand
ridges. Tidal chanel sand ridges memanjang relatif N S mengindikasikan
paleo current yang mempunyai arah yang sama. Beta 1, elektrofasies
membentuk pola Serrated Bell shape yang dinterpretasikan sebagai fasies
tidal chanel. Melihat geometri tidal chanel yang kecil, maka spasi mereka di
sumur tidak terlalu jauh. Kemudian sumur beta 3 mempunyai pola yang
memperlihatkan pola Blocky ( Kendall 2003 ) yang diinterpretasikan
merupakan fasies tidal sand flat. Semakin ke arah Selatan, semakin ke arah
shoreface dan semakin ke arah Utara terjadi perubahan dari sand flat
mixed flat mud flat. Dengan asumsi bahwa semakin jauh dengan
shoreline, maka energi semakin lemah sehingga mud tidak dapat tercuci
oleh proses pasang surut dan gelombang laut.

42

2.4.4.1.3. Interpretasi Z 650

Gambar 2.23. Peta Fasies Lapisan Z 650

Dari data yang didapat dan dibuat model fasies untuk lapisan Z650.
Dari datat core menunjukan bahwa pada interval 628.5 649.3 m
memperlihatkan bahwa terdapat batupasir berukuran halus yang terdapat
bioturbasi dan burrow di dalamnya. Dengan komposisi berupa cangkang
pelychepoda dan semen kalsit. Indikasi lain adalah dari aspek biologinya
yang berupa Ichnofacies Ophiomorpha yang mengindikasikan bahwa dapat
hidup pada lingkungan yang mempunyai kadar oksigen yang rendah dan
dapat hidup di semua lingkungan, tetapi lebih spesifik kepada lingkungan
Near Shore. Sementara Zoophycus memberikan informasi bahwa mereka
terdapat pada lingkungan yang lebih dalam. Sementara ichnofacies
Rosselia

pada batupasir memberikan bukti bahwa daerah tersebut

termasuk kedalam shallow marine. Dipadukan oleh data wireline log,


dengan melihat elektrofasies dari kurva Gamma ray yang cenderung
memilki pola Funnel ( Kendall 2003 ) yang dapat memberikan gambaran
43

bahwa daerah tersebut mengalami proses Progradasi. Dari data tersebut


dapat diinterpretasi bahwa pada lapisan Z 650 merupakan Bagian dari
Prograding Marine Shelf dengan fasies Shoreface ,Offshore transtion zone,
dan Offshore zone.

2.4.5. Konsep Play Lapangan Beta


Reservoir berupa lapisan tipis batupasir yang diendapkan pada
lingkungan laut dangkal yang terlipat dan tersesarkan oleh tektonik inversi
Plio-Pleistosen. Dimana lapangan beta adalah bagian dari inversi half
graben yang memungkinkan migrasi hidrokarbon dari batuan sumber
formasi Lahat yang cenderung Oil prone dan sedikit dari formasi Talang
akar yang cenderung Gas prone, melalui bidang sesar inversi yang
kemudian terakumulasi pada batupasir formasi Air benakat. Dimana
lapangan tetangga yaitu West Berau, East Ketaling dan Tempino telah
terbukti memiliki minyak didalamnya.

2.4.6. Interpretasi Geologi Bawah Permukaan


2.4.6.1. Peta Struktur Kedalaman
Peta struktur kedalaman merupakan peta yang menggambarkan
keadaan geometri lapisan batuan. Dari peta ini dapat diketahui bagian
tinggian, rendahan, persebaran, maupun konfigurasi batuan dibawah
permukaan serta struktur geologi yang berkembang. Data seismik sangat
membantu dalam membangun geometri peta bawah permukaan ini, namun
dikarenakan keterbatasan data, pembuatan peta struktur kedalaman ini
berdasarkan dari data 4 sumur yaitu Beta 1, Beta 2, Beta 3, dan Beta 4
yang disamakan dengan pola data top structure yang telah tersedia

44

2.4.6.1.1. Peta kedalaman Lapisan Z 380

Gambar 2.24. Peta top structure lapisan Z 380

Gambar 2.25. Peta bottom structure dari lapisan Z 380

45

Gambar 2.26. Peta 3D depth structure dari lapisan Z 380


Dari peta di atas (gambar 2.24 2.26) terlihat bahwa gambar
tersebut memperlihatkan bentukan geometri berupa antiklin yang terbentuk
pada suatu bidang inversi half graben yang memanjang NW SE. Dengan
bidang yang curang di sebelah Selatan bidang inversi, menandakan bahwa
struktur ini berasosiasi dengan lipatan yang berada di bagian Utara dari
antiklinorium Sumatera Selatan ( Barber 2005 ). Terlihat bahwa sesar sesar
penyerta seperti yang membelah antara Beta 3 dengan sumur Beta lain,
yang merupakan sesar turun dengan bidang Hanging wall berada di bagian
NW . Sesar tersebut merupakan sesar sintetik dan antitetik dari sesar
inversi

besar.

Bedasarkan

geometri,

jenis

perangkap

merupakan

perangkap struktru antiklin yang tesesarkan. Batas FWL (garis hijau)


berada pada kedalaman -383,3 m sstvd. Sesar beratah WSW ENE
merupakan sesar sealing yang membagi closuer menjadi 2 kompartemen
besar.

46

2.4.6.1.2. Peta Kedalaman Lapisan Z 450

Gambar 2.27. Peta top structure dari lapisan Z 450

Gambar 2.28. Peta bottom structure dari lapisan Z 450

47

Gambar 2.30. Peta 3D depth structure dari lapisan Z 450.


Dari peta di atas (gambar 2.27 2.30) lapisan Z 450 memperlihatkan
kenampakan yang hampir serupa dengan lapisan Z 380. Namun,
perbedaan nilai kedalaman yang sangat drastis pada bagian tenggara
hingga ke Barat. Sesar sesar berkembang seperti pada lapisan diatasnya.
Tetapi memperlihatkan dimensi dari sesar yang mengecil seiring dengan
bertambahnya kedalaman. Jenis perangkap sama dengan Z 380. Batas
FWL (garis hijau) berada pada kedalaman -454,8 m sstvd. Dari garis FWL,
pada sesar yang memisahka Beta 3, tampak sebuah offset dari batas FWL,
tetapi mennurt data test sumur, menunjukan tekanan yang sama.
Kemungkinan gejala Cross Leaking Fault terjadi pada 2 kompartemen
yang saling berkomunikasi ini. Tetapi sesar WSW ENE merupakan sesar
sealing yang terjadi setelah akumulasi minyak.

48

2.4.6.1.3. Peta kedalaman Lapisan Z 650

Gambar 2.31. Peta Top structure dari lapisan Z 650

Gambar 2.32. Peta Bottom structure dari lapisan Z 650

49

Gambar 2.33. Peta 3D structure dari lapisan Z 650


Dari peta di atas (gambar 2.31 2.33) lapisan Z 650
memperlihatkan kenampakan yang hampir serupa dengan lapisan Z
380 dan Z 450. Namun, perbedaan nilai kedalaman yang sangat
drastis pada bagian tenggara hingga ke Barat. Sesar sesar
berkembang seperti pada lapisan diatasnya. Tetapi memperlihatkan
dimensi dari sesar yang mengecil seiring dengan bertambahnya
kedalaman serta terdapat sesar yang tidak menerus sampai lapiisan
ini. Jenis perangkap sama dengan lapisan diatasnya. Batas FWL
(garis hijau) berada pada kedalaman -652 m sstvd. Garis FWL tidak
menerus kepada kompartemen yang berada di sebelah Timur sesar
WSW ENE.

2.4.6.2. Peta Ketebalan dan Distribusi Properti Reservoir


2.4.6.2.1. Peta Isopach Net-sand
Peta isopach net-sand (gambar 2.34) merupakan peta yang
menggambarkan ketebalan batupasir yang telah dikurangi kandungan
serpih, sebagai barier permeability. Peta ini dapat menunjukan arah
penyebaran serta distribusi ketebalan lapisan batuan. Pembuatan peta
50

ketebalan ini berdasarkan arah sumber sedimen yang merupakan berarah


N S sampai relatif NW SE serta dengan melihat peta fasies dari
ketebalan gross sand. Nilai ketebalan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel II-7. Tabel Net Sand Tiap Lapisan Reservoir


No
Z 380
Z 450
Z 650

Beta 4
5m
10.5 m
14 m

Beta 1
5m
8.5 m
13 m

Beta 3
6.5 m
8m
8m

Beta 2
3.5 m
10 m
12.5 m

2.4.6.2.1.1. Isopach Net Sand Z 380

Gambar 2.34. Peta isopach net-sand lapisan Z 380

Menurut data yang didapat dari core serta log, yang kemudian
dibangun model fasies serta arah pengendapan, maka dapat dibuat peta
isopach net sand. Dapat dilihat bahwa garis dari kontur tebal net sand
maximal ( ungu ) bernilai 6,5 m. Sementara bewarna merah adalah bernilai
ketebalan 0 m. Kontur sand dibuat dengan memperkirakan kemenerusan

51

dari garis paleo shoreline serta memperkirakan bentukan sand body


geometry berupa sheet. Pasir mengalami penebalan pada daerah offshore
barrier bar, serta ke arah shorface. Dengan memperkirakan FWL
kompartemen 2 di depth sturktur Z 380,dapat diperkirakan pasir menerus
sampai lokasi tersebut.

2.4.6.2.1.2. Isopach Net Sand Z 450

Gambar 2.35. Peta isopach net-sand lapisan Z 450

Bedasarkan data data yang tersedia, maka dapat dibuat peta


isopach net-sand lapisan Z 450. Dimana

diinterpretasikan mempunyai

fasies berupa lingkungan tidal flat shorface. Ketebalan pasir bersih


berkisar antara 10,5 8 m yang terlihat pada sumur. Penebalan terpusat
pada daerah tidal chanel dan tidal sand ridge. Kemudian semakin kearah
offshore, diinterpretasikan kandungan pasir berkurang. Begitu pula ke arah
Utara, kandungan pasir berkurang karena semakin keatas, lingkungan
bergeradasi dari Mixed flat menuju ke Mud flat yang miskin pasir. Pada sand
flat, pasir dapat terlihat memanjang dengan ketebalan yang relatif konstan,
52

karena pasir tersebut diendapkan hasil dari proses tidal dan kemungkinan
adanya wave action.

2.4.6.2.1.3. Isopach Net sand Z 650

Gambar 2.36. Peta isopach net-sand lapisan Z 650

Peta isopach net sand lapisan Z 650 adalah yang paling tebal
diantara 2 lapisan diatasnya, karena termasuk dalam sequence prograding
marine shelf sehingga endapan pasir yang cukup tebal dan sedikit
pengotor.

Pada

gambar

2.36

garis

kontur

ketebalan

net

sand

diinterpretasikan memanjang searah dengan garis paleo shorline, dengan


memperhatikan aspek arah sumber provenance. Dengan lingkungan
pengendapan berupa shorface dan offshore transition zone yang
memungkinkan geometri sand body berupa sheet yang menipis ke arah
cekungan. Dapat dilihat bahwa nilai maksimum dari net sand adalah 14 m
(ungu) yang bergeradasi menuju warna merah pada tepi peta menandakan
habisnya penyebaran pasir pada offshore zone.

53

2.4.6.2.2. Peta Isoporositas


Peta isoporositas menggambarkan distribusi nilai porositas pada
batuan. Peta ini diperoleh dengan cara melakukan evaluasi log dan melalui
persamaan 2.1 dan 2.2 serta core untuk mengetahui nilai porositas
batuannya lalu membuat peta persebarannya dengan menggunakan
metode contouring. Pembuatan kontur nilai porositas sendiri dilakukan
dengan cara interpolasi dan ekstrapolasi dari 4 titik sumur yaitu sumur Beta
1 , Beta 2 , Beta 3, Beta 4. Yang dimana pengkonturan ini dikontrol dengan
peta fasies yang telah dibuat. Berikut nilai persebaran porositas lapisan
reservoir di tiap sumur.

Tabel II-8. Persebaran nilai Porositas efektif Lapisan reservoir


No

Beta 4

Beta 1

Beta 3

Beta 2

Z 380

0,26

0,23

0,22

0,20

Z 450

0,22

0,19

0,17

0,19

Z 650

0,22

0,20

0,09

0,15

2.4.6.2.2.1. Isoporositas Lapisan Z 380

Gambar 2.37. Peta distribusi porositas efektif lapisan Z 380

54

Gambar di atas (gambar 2.37.) memperlihatkan distribusi nilai


porositas efektif pada lapisan Z 380. Nilai porositas sendiri dapat dituliskan
berupa fraksi maupun dalam bentuk persentasi. Berdasarkan analisa log
serta data core, nilai porositas efektif pada lapisan berkisar antara 26.4 %
20.1 %. Dengan dikontrol peta fasies, maka dapat terlihat bahwa pada
fasies offshore sand barrier mempunyai nilai porosita yang cukup besar
dibanding daerah sekelilingnya. Semakin kearah SE, porosity mengecil
karena semakin menuju offshore.

2.4.6.2.2.2. Isoporositas Lapisan Z 450

Gambar 2.38. Peta distribusi porositas efektif lapisan Z 450

Pada gambar diatas menunjukkan distribusi porositas efektif pada


lapisan Z 450. Porositas termasuk kecil dimana berdasarkan evaluasi log
dan data core lapisan ini memiliki nilai porositas berkisar antara 17.6
22.3%. Tampak bahwa porositas terbesar terdapat pada daerah fasies tidal
chanel, tidal sand ridge serta sand flat. Menuju ke arah offshore dan mud
flat, porositas sand mengecil.

55

2.4.6.2.2.3. Isoporositas Lapisan Z 650

Gambar 2.39. Peta distribusi porositas efektif lapisan Z 650

Pada gambar diatas menunjukkan distribusi porositas efektif pada


lapisan Z 650. Porositas termasuk kecil dimana berdasarkan evaluasi log
dan data core lapisan ini memiliki nilai porositas berkisar antara 9 22.9%.
Tampak bahwa porositas terbesar terdapat pada daerah fasies shoreface,
dan mengecil sampai nol pada offshore.

2.4.6.2.3. Peta Isopermeabilitas


Peta isopermeabilitas menunjukkan distribusi nilai permeabilitas
suatu batuan. Permeabilitas sendiri dapat diartikan sebagai suatu
kemampuan batuan untuk mengalirkan fluida, hal ini dimungkinkan jika poripori batuan saling terhubung. Data diambil dari persamaan 2.4, serta data
core sumur beta 4. Pembuaatan peta ini dibuat dengan metode counturing.
Dengan cara interpolasi dan esktrapolasi yang dikontrol oleh fasies
pengendapan sepenuhnya. Peta ini merupakan permeability persebaran
scara XY. Barier permeability berupa tight limestone serta flow unit sangat
diperhatikan dalam pembuatan peta ini, yang dipakai untuk menentukan

56

kedalaman dari titik perforasi yang terdapat limestone. Berikut nilai


persebaran permeabilitas di setiap sumur.
Tabel II-9. Persebaran Permeabilitas tiap sumur
No

Beta 4

Beta 1

Beta 3

Beta 2

Z 380

273.57md

243.12 md

12.95 md

129.34 md

Z 450

5.50 md

4.75 md

10.05 md

13.40 md

Z 650

17.6 md

16.74 md

0.41 md

5.10 md

2.4.6.2.3.1. Isopermeabilitas Z 380

Gambar 2.40. Peta distribusi permeabilitas lapisan Z 380

Gambar 2.40. menunjukkan distribusi nilai permeabilitas batuan


pada lapisan Z 380, nilai permeabilitas lapisan 380 A dapat dikatakan cukup
tinggi, dimana berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan
persamaan 2.4, lapisan ini memiliki nilai permeabilitas antara 273.517
12.95 md. Diinterpretasikan permeabilitas besar karena adanya reworked
dari trasngresive ravinement yang mencuci sebagian besar lempung
sehingga meningkatkan permeabilitas. Fasies sand barrier mempunyai
permeabilitas jelek dimungkinkan kandungan lempung yang tidak tercuci
57

spenuhnya atau mungkin dari distribusi lempungya, mungkin adanya


aktivitas tidal.

2.4.6.2.3.2. Isopermeabilitas Z 450

Gambar 2.41. Peta distribusi permeabilitas lapisan Z 450

Gambar 2.41. menunjukkan distribusi nilai permeabilitas batuan


pada lapisan Z 450, nilai permeabilitas lapisan Z 450 dapat dikatakan
cukup tinggi, dimana berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan
persamaan 2.4, lapisan ini memiliki nilai permeabilitas antara 17.6 4.75
md. Diinterpretasikan permeabilitas sedang karena berhubungan dengan
proses pasang surut yang tidak mencuci semua lempung. Fasies tidal
chanel, tidal chanel ridge dan sand flat mempunyai permeabilitas paliing
baik dimungkinkan karena menglami proses pencucian oleh ombak yang
lebih baik dari pada daerah mixed flat, mud flat , dan offshore. Serta
banyaknya persebaran sisipan barier permeability berupa tight limestone
pada beta 2 dan 4 yang menurunkan nilai permebilitas.

58

2.4.6.2.3.3. Isopermeabilitas Z 650

Gambar 2.42. Peta distribusi permeabilitas lapisan Z 650

Gambar 2.42. menunjukkan distribusi nilai permeabilitas batuan


pada lapisan Z 650, nilai permeabilitas lapisan Z 650 dapat dikatakan
cukup tinggi, dimana berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan
persamaan 2.4, lapisan ini memiliki nilai permeabilitas antara 13.407 0.415
md. Diinterpretasikan permeabilitas sedang - kecil karena sudah menuju
fasies lower shoreface offshore, dimungkinkan distribusi lempung dan
jenis lempung yang menghambat pore thorat. Dikarenakan juga adana
barier permeability berupa tight limestone yang berada di beta 1 dan beta 4
2.4.6.3. Peta Net Pay dan Perhitungan Cadangan
Peta net pay merupakan peta yang menggambarkan ketebalan
lapisan reservoir yang mengandung hidrokarbon. Peta ini merupakan peta
gabungan antara peta struktur kedalaman, fluid outline, dan peta isopach
net sand. Peta ini digunakan sebagai salah satu parameter untuk
menghitung cadangan mula-mula hidrokarbon ditempat.
Metode yang digunakan untuk menghitung hidrokarbon mula-mula
yaitu dengan menggunakan metode volumetric Horizontal Slice, dimana
59

parameter yang diperlukan diantaranya volume bulk reservoir, porositas,


saturasi hidrokarbon, dan faktor formasi (Bgi untuk gas dan Boi untuk
minyak).
Volume bulk reservoir dapat diperoleh dari peta net pay dengan cara
menghitung luasan area yang kemudian dihitung volumenya dengan
menggunakan persamaan pyramidal / trapezoidal.
Persamaan trapezoidal berlaku apabila perbandingan luas area
An+1/An = >0.5 sedangkan persamaan pyramidal berlaku apabila
perbandingan luas area An+1/An = <0.5.
Persamaan Trapezoidal :
=

( + + 1 ) .(2.5)

Persamaan Pyramidal
=

[( + + 1 ) + + 1 ] ..(2.6)

Dengan,
Vb

= Volume bulk reservoir (acre.ft)

= Interval kontur/area (feet)

An

= Luas area yang dilingkupi kontur ke-n (acre)

An+1 = Luas area yang dilingkupi kontur ke-n+1 (acre)


Setelah didapatkan nilai volume bulk reservoir dengan persamaan
2.5 atau 2.6, untuk menghitung nilai OOIP (Original Oil In Place) adalah
dengan menggunakan persamaan:
=

7758 (1)

..(2.7)

Dengan,
OOIP = Original Oil In Place (STB)
7758 = Konstanta konversi acre.ft ke barrels
Vb

= Volume bulk reservoir (acre.ft)

= Porositas efektif batuan (fraksi atau %)

Sw

= Saturasi air (fraksi)

Boi

= Faktor formasi untuk minyak (bbl/STB)


60

2.4.6.3.1. Peta Oil Pay Z 380

Gambar 2.43. Peta Oil Pay lapisan Z 380

Pada gambar diatas merupakan oil net pay dari lapisan Z 380,
dimana dibagi atas 2 kompartemen yang tidak saling berkomunikasi.
Terbagi oleh sesar yang berarah ENE WSW. Kompartemen 1 (C1)
terdapat sesar yang membagi antara Beta 3 dengan Beta lainya, yang
merupakan indikasi sesar cross leaking fault, sehingga bisa dijadikan dalam
1 kompartemen karena blok tersesarkan masih berkomunikasi. Warna
merah pada C1 merupakan ketebalan pasir 6 m. Nilai ketebalan terendah
ditunjukan warna biru.

61

Tabel II-10. Perhitungan Volume Bulk C1 Lapisan Z 380


Area

Luas
(m2)

Luas
(acre)

A0

2,437,500

602.06

A1
A2

2,134,375
1,866,875

h
(feet)

Rumus
yang
digunakan

Volume
bulk
(acre.ft)

0.88

3.28

Trapezoid

1,852.44

0.87

3.28

Trapezoid

1,621.24

0.87

3.28

Trapezoid

1,411.55

0.67

3.28

Trapezoid

1,097.54

0.48

3.28

Pyramid

643.88

0.19

3.280

Pyramid

235.4

1.640

Pyramid

14.18

527.19
461.12

A3

1,616,875

399.37

A4

1,091,875

269.69

A5

530,625

131.06

A6

105,000

25.935000

A7

Rasio
Luas

0
Vbulk Total

6,866.31

Tabel II-11. Perhitungan Volume Bulk C2 Lapisan Z 380


Area

Luas
(m2)

Luas
(acre)

A0

501,250

123.81

A1

216,250

53.41

A2

11,250

2.78

A3

Rasio
Luas

h
(feet)

Rumus
yang
digunakan

Volume bulk
(acre.ft)

0.43

3.28

Pyramid

290.74

0.05

3.28

Pyramid

74.77

0.49

Pyramid

0.45

Vbulk Total

365.95

Setelah mendapatkan nilai vbulk total dari tabel II-10 dan II - 11 di


atas, maka dengan menggunakan persamaan 2.7 untuk menghitung nilai
OOIP adalah sebagai berikut:

OOIP = 7758 x 7,232.43 x 0.17 x ( 1 - 0.3 )


1.148
62

OOIP = 5.81 MMSTB

Berdasarkan hasil perhitungan

di atas, lapisan Z 380 memiliki

cadangan minyak mula-mula sebesar 5.81 MMSTB.


2.4.6.3.2. Peta Oil Pay Z 450

Gambar 2.44. Peta Oil Pay lapisan Z 450

Pada gambar diatas merupakan oil net pay dari lapisan Z 450,
dimana dibagi atas 2 kompartemen yang tidak saling berkomunikasi.
Terbagi oleh sesar yang berarah ENE WSW. Kompartemen 1 ( C1 )
terdapat sesar yang membagi antara Beta 3 dengan Beta lainya, yang
merupakan indikasi sesar cross leaking fault, sehingga bisa dijadikan dalam
1 kompartemen karena blok tersesarkan masih berkomunikasi. Warna
merah keorenan pada C1 merupakan ketebalan pasir 11 m. Nilai ketebalan
terendah ditunjukan warna biru. FWL pada Net sand lebih panjang dan
menerus sampai kepada C2, tetapi terpisah oleh sesar sealing.

63

Dimungkinkan terdapat zona mylonitisasi / juxtaposition yang cukup besar


sehingga tidak bisa saling berkomunikasi.
Tabel II-12. Perhitungan Volume Bulk C1 Lapisan Z 450
Area

Luas
(m2)

Luas
(acre)

A0

3,092,500

763.84

A1

A2

A3

A4
A5
A6

2,750,000

2,427,500

2,125,000

1,107,500

70,000
0

Perbandingan
h
Luas
(feet)

Rumus

Volume
bulk
(acre.ft)

0.88

6.56

Trapezoid

4,734.57

0.88

6.56

Trapezoid

4,195.67

0.87

6.56

Trapezoid

3,689.19

0.52

6.56

Trapeozodi

2,619.51

0.06

6.56

Pyramid

786.56

1.64

Pyramid

9.45

679.25

599.59

524.87

273.55

17.29
0
Vbulk Total

16,034.97

Tabel II-13. Perhitungan Volume Bulk C2 Lapisan Z 380


Area
A0
A1
A2
A3

Luas
(m2)

Luas
(acre)

1,396,250

344.87

358,750
58,750
0

Perbandingan
Luas

h (feet)

Rumus

Volume
bulk
(acre.ft)

0.25

6.56

Pyramid

1,330.48

0.16

6.56

Pyramid

303.98

3.06

Pyramid

14.81

88.61
14.51
0
Vbulk Total
64

1,649.28

Setelah mendapatkan nilai vbulk total dari tabel II- 12 dan tabel II-13
di atas, maka dengan menggunakan persamaan 2.7 untuk menghitung nilai
OOIP adalah sebagai berikut:

OOIP = 7758 x 17,684.2566 x 0.17 x ( 1 - 0.3 )


1.244
OOIP = 13.12 MMSTB

Berdasarkan hasil perhitungan

di atas, lapisan Z 450 memiliki

cadangan minyak mula-mula sebesar 13.12 MMSTB.

2.4.6.3.3. Peta Oil Pay Z 650

Gambar 2.45. Peta Oil Pay lapisan Z 650


Pada gambar diatas merupakan oil net pay dari lapisan Z 650,
terdapat sesar yang membagi antara Beta 3 dengan Beta lainya, yang
merupakan indikasi sesar leaking tidak seperti pada 2 lapisan diatasnya,
offset kontur pada Z 650 sangat kecil sehingga boleh dianggap blok yang
tersesarkan berkomunikasi ditandai dengan offset FWL yang sangat kecil.

65

Tabel II-14. Perhitungan Volume Bulk Lapisan Z 650


Area

Luas
(m2)

Luas
(acre)

A0

2,250,000

555.75

A1

A2

A3

A4
A5
A6
A7
A8

1,812,500

1,462,500

1,147,500

847,500

522,500
235,000
27,500
0

Perbandingan
Luas

h
(feet)

Rumus
yang
digunakan

Volume
bulk
(acre.ft)

0.80

6.56

Trapezo

3,292.11

0.80

6.56

Trapzo

2,653.95

0.78

6.56

Trapezo

2,115.05

0.73

6.56

Trapezo

1,616.68

0.61

6.56

Trapezo

1,110.20

0.44

6.56

Piramid

598.54

0.11

6.56

Piramid

185.24

1.54

Piramid

43.53

447.68

361.23

283.43

209.33

129.05
58.04
6.79
0
Vbulk Total

11,615.33

Setelah mendapatkan nilai vbulk total dari tabel II-14 di atas, maka
dengan menggunakan persamaan 2.7 untuk menghitung nilai OOIP adalah
sebagai berikut:

OOIP = 7758 x 11,615.33703 x 0.15 x ( 1 - 0.3 )


1.451
OOIP = 6.52 MMSTB

66

Berdasarkan hasil perhitungan

di atas, lapisan Z 650 memiliki

cadangan minyak mula-mula sebesar 6.52 MMSTB.

67

BAB III
RESERVOIR DESCRIPTION

Pada bagian ini akan dibahas mengenai tinjauan umum Lapangan


Beta dan karakterisasi reservoir meliputi sifat-sifat fisik fluida, sifat fisik
batuan, tekanan dan temperatur reservoir Lapangan Beta. Sifat fisik batuan
didapatkan dari korelasi data logging dan coring, sedangkan data sifat fisik
fluida diperoleh dari data PVT dan berbagai korelasi yang ada, sesuai
dengan kondisi reservoir sebenarnya.
3.1 Kondisi Reservoir
3.1.1. Kondisi Inisial
Tabel III-1. Kondisi Mula-mula Reservoir Tiap Lapisan
Parameter

Lapisan
Z380

Z450

Z650

Tekanan Inisial, psia

577.70 701.80

954.70

Tekanan Buble point, psia

520.70 626.30

916.70

Temperatur Inisial, oF

135.00 142.00

165.00

Solution GOR (Rs), scf/stb

226.00 346.20

678.00

FVF oil (Boi), bbl/STB

1.148

1.244

1.451

Densitas oil, API

57.90

57.38

56.30

Viskositas oil, cp

0.36

0.33

0.26

Sampel dari fluida reservoir dari Modular Dynamic Tester (MDT) dan
tes produksi jangka panjang dilakukan analisa PVT oleh LEMIGAS dan
Corelab. Namun dari hasil yan didapatkan analisa PVT dari Corelab adalah
lebih cock untuk diterapkan dalam PVT modeling. Dari tabel di atas, analisa
data didapat dari analisa PVT oleh Corelab. Tekanan dan temperatur awal

68

reservoir didapat digunakan untuk memperkirakan kondisi fasa awal dari


fluida hidrokarbon. Untuk ketiga lapisan tersebut, kondisi reservoir masih
undersaturated.
3.1.2. Karakteristik Batuan
Sifat-sifat fisik batuan yang akan dibahas adalah porositas,
permeabilitas, saturasi air, permeabilitas relatif, wettabilitas, tekanan
kapiler. Data tersebut diperoleh dari logging dan laboratorium dan korelasi
yang ada
Beberapa jenis wireline log yang digunakan untuk memperoleh data
sifa fisik batuan di bawah permukaan. Detail jenis alat log yang digunakan
pada empat sumur observasi dapat dilihat pada Tabel III-2 dibawah ini.
Tabel III-2. Jenis Alat Log yang digunakan di Lapangan Beta
Jenis Log
Density

Neutron

Gamma ray

Resistivity

Accoustic

Beta-1
TLD (Three
Detector
Lithodensity
tool)
HGNS (Highresolution
Gamma Ray
and Neutron
Porosity
Sonde)

Beta-2
TLD (Three
Detector
Lithodensity
tool)
HGNS (Highresolution
Gamma Ray
and Neutron
Porosity
Sonde)

NGS (Natural
GR
Spectroscopy)

NGS (Natural
GR
Spectroscopy)

HALS (High
Resolution
Azimuthal
Laterolog
Sond)
DSI (Dipole
Shearsonic
Imager)*

RT Scanner

DSI (Dipole
Shearsonic
Imager)

69

Beta-3
TLD (Three
Detector
Lithodensity
tool)
HGNS (Highresolution
Gamma Ray
and Neutron
Porosity
Sonde)

Beta-4
TLD (Three
Detector
Lithodensity
tool)
HGNS (Highresolution
Gamma Ray
and Neutron
Porosity
Sonde)
HNGS
NGS (Natural
(Hostile
GR
environtment
Spectroscopy)
Natural GR
Spectroscopy)
HALS and
HRLA (High
Resolution
RT Scanner
Laterolog
Array)
DSI (Dipole
DSI (Dipole
Shearsonic
Shearsonic
Imager)
Imager)

DIP Image
NMR

FMS
(Formation
Microscanner)
-

FMI (Formation
Microimager)
-

FMI
(Formation
Microimager)
MR Scanner

FMI
(Formation
Microimager)
MR Scanner

Pressure
Fluid
MDT
MDT
MDT
MDT
Sampling
* sonic log tidak mencakup interval logging keseluruhan dalam sumur Beta1.
Sifat fisik batuan reservoir Lapangan Beta yang memiliki lapisan
batupasir produktif yaitu lapisan Z380, lapisan Z450 dan lapisan Z650 pada
Formasi Air Benakat. Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan terutama
dari data karakteristik log yang menunjukkan bahwa Formasi Air Benakat
terdiri dari perselingan antara batupasir dengan batu lempung.
3.1.2.1. Porositas
Porositas merupakan perbandingan antara volum pori dengan
volume bulk batuan. Porositas efektif terkait terhadap strorativity dari pada
batuan yang ada didalam reservoir, sehingga porositas sangat berpengaruh
terhadap besarnya harga inplace.
Porositas efektif biasanya didapatkan dari log dan juga core. Setelah
di dapatkan harga porositas yang match antara log dan core sehingga
didapatkanlah harga porositas efektif rata-rata untuk masing-masing
lapisan yang akan dikembangkan seperti pada tabel III-3.
Tabel III-3. Porositas Efektif Rata-rata tiap Lapisan
Lapisan

Porositas Efektif Rata-rata

Z380

17%

Z450

17%

Z650

15%

70

3.1.2.2. Tekanan Kapiler


Tekanan kapiler didapat sejatinya didapatkan melalui analisa core
rutin yang mana setiap core yang diuji memiliki porositas dan permeabilitas
tertentu, kemudian hasil uji tiap pengamatan Sw menghasilkan tekanan
kapiler skala lab, yang nantinya dikonversikan menggunakan persamaan JFunction untuk mendapatkan data tekanan kapiler skala reservoir. Berikut
persamaan tekanan kapiler (Pc):
= = ( ) h atau c( w)= (h/144) ( )
h = 144 Pc / ( )
Dimana :
Pc = tekanan kapiler, psi
h = ketinggian di atas free water level, ft
w = massa jenis air, lb/gal
o = massa jenis minyak, lb/gal
144 = konstanta
Karena ketidak-tersediaan data uji core yang mewakili di setiap
lapisan, maka profil tekanan kurva kapiler baik secara laboratorium maupun
secara reservoir dengan penggunaan J-Function tidak dapat dilakukan.
Solusi

yang

diambil

untuk

melakukan

simulasi

reservoir

adalah

menggunakan data Tekanan Kapiler yang diasumsikan seperti yang


disajikan pada tabel III-4.
Tabel III-4. Data Tekanan Kapiler
Saturasi Air (Sw)
0.3
0.3261
0.3557
0.3852
0.4148
0.442
0.4682

Tekanan Kapiler (Pc)


3.038019
2.404119
1.902486
1.505522
1.191386
0.942797
0.746077

71

0.492
0.5159
0.5409
0.5682
0.5966
0.625
0.6523
0.675
0.6989
0.7193
0.7295
0.7375
0.7511
0.7625
1

0.590404
0.467213
0.369726
0.292581
0.231532
0.183222
0.144991
0.114738
0.090797
0.071852
0.05686
0.044996
0.035607
0.031892
0.028177

3.1.2.3. Permeabilitas dan Permeabilitas Relatif


Permeabilitas

dimasing-masing

lapisan

berbeda-beda.

Permeabilitias rata-rata untuk lapisan Z380 yaitu sekitar 133 md, untuk
lapisan Z450 yaitu sekitar 5.3 md, dan untuk lapisan Z650 yait sekitar 8 md.
Untuk penentuan permeabilitas relatif, kita menggunakan asumsi
data permeabilitas relative. Hal ini dikarenankan data SCAL (Special Core
Analysis) tidak diberikan. Sehingga kita mengasumsikan data permeabilitas
relatif yang sama setiap lapisannya sepert Gambar 3.1. dan Gambar 3.2.

72

Gambar 3.1. Kurva Permeabilitas Relatif Sistem Minyak-Air

Gambar 3.2. Kurva Permeabilitas Relatif Sistem Gas-Minyak


Kurva tersebut merepresentasikan kondisi reservoir pada proses
imbibisi yaitu saat dimana fluida yang membasahi batuan (air) mendesak
fluida yang kurang membasahi batuan (minyak). Proses imbibisi tersebut
menggambarkan proses produksi minyak dari reservoir. Selain itu, Gambar
3.1. menunjukkan end point data SCAL sebagai berikut :

73

Tabel III-5. End Poin Data Kurva Permeabilitas Relatif


End Point

Harga

Swc

0.30

Sor

0.24

(Kro)swc

0.66

(Krw)sor

0.29

Dari kurva permeabilitas relatif dapat ditentukan nilai recovery factor


dengan menentukan berapa saturasi minyak yang dapat mengalir dan
saturasi minyak total pada reservoir dengan persamaan berikut :
URF=

movable oil 0.76-0.30


=
= 0.657
total oil
1-0.30

3.1.2.4. Saturasi Air


Data saturasi air didapat dari nilai saturasi pada penentuan tekanan
kapiler. Nilai water connate (Swc) didapat dari kurva permeabilitas relatif
minyak-air sebesar 0.30.
3.1.2.5. Wettabilitas
Kebasahan batuan dapat ditentukan dari kurve kr-sw di atas dengan
menentukan kurva mana ( krw atau kro ) yang paling dekat dengan sumbu
x pada saat Sw = 0.5. Karena yang paling dekat dengan sumbu-X pada
kedua lapisan ialah krw, maka fluida yang membasahi batuan adalah air,
dan disebut sebagai water-wet system reservoir
3.1.2.6. Cut Off Vshale
Untuk menentukan daerah mana yang merupakan reservoir maka
digunakan analisa log sumur pada pembacaan Gamma Ray. Untuk itu
diperlukan penentuan cutoff Vshale dengan persamaan berikut.

74

GR=

GRlog- GRmin
GRmin-GRmax

untuk Cut off Vshale maka diasumsikan Vsh=0.55 untuk menentukan


daerah mana yang merupakan reservoir sehingga pada log dapat dibagi
menjadi 2 daerah :

daerah yang berada disebelah kiri cut off vshale (Vshale < 0.55)
diakui sebagai lapisan reservoir

daerah yang berada disebelah kanan cut off vshale (Vshale > 0.55)
diakui sebagai non-reservoir

3.1.3. Karakteristik Fluida Reservoir


3.1.3.1. Densitas
Densitas adalah sifat fisik fluida reservoir yang mendeskripsikan
berat suatu fluida per satuan volume. Densitas minyak umumnya diukur
pada kondisi standar, yaitu pada temperatur 60 oF. Densitas minyak pada
kondisi standar dievaluasi dalam besaran API gravity. Hubungan antara
densitas dengan API gravity adalah sebagai berikut :
oil,st
water

SG =
API=

141.5
-131.5
SG

Dimana,
API

= API gravity dari stock tank oil

SG

= specific gravity dari stock tank oil, 1 untuk freshwater

oil,st = densitas stock tank oil, lbm/ft3


water = densitas dari freshwater, 62.4 lbm/ft3
dari lapangan Beta ini, hanya diperoleh API gravity dari lapisan A dan B
yang ditunjukkan pada tabel berikut.

75

Tabel III-6. Data densitas dan API gravity tiap lapisan


Lapisan

API Gravity

Densitas
lbm/ft3

Z380

57.90

46.62

Z450

57.38

46.75

Z650

56.30

47.02

3.1.3.2. Viskositas dan Faktor Volume Formasi Minyak (Bo)


Viskositas adalah suatu parameter empiris yang digunakan untuk
mendeskripsikan kemampuan resistansi fluida untuk mengalir. Viskositas
minyak dapat dihitung melalui laboratorium, tetapi seringkali besaran ini
diestimasi menggunakan korelasi empiris yang telah dikembangkan,
contohya adalah korelasi Beal (1946), Beggs dan Robinson (1975),
Standing (1981) dan Glaso (1985).
Faktor volume formasi didefinisikan sebagai volume minyak pada
kondisi reservoir dibandingkan dengan volum minyak pada kondisi standar.
Data viskositas dan faktor volum formasi untuk tiap lapisan :
Tabel III-7. Data viskositas dan FVF formasi tiap lapisan hasil
simulasi
Lapisan
Z380
Z450
Z650

Viskositas
(cp)
0.36
0.33
0.26

Boi (rbl/stb)
hasil simulasi
1.1864
1.22364
1.3364

Boi (rbl/stb)
data soal
1.148
1.244
1.451

%
Perbedaan
1.64496
0.82508
4.11135

Profil sifat fisik fluida reservoir seperti FVF, GOR, dan viskostias
minyak dibuat dengan menggunakan korelasi tiap lapisan pada gambar
3.3, gambar 3.4, dan gambar 3.5.

76

Gambar 3.3. (a) Viskositas oil vs Tekanan; (b) FVF oil vs Tekanan; (c)
GOR vs Tekanan untuk Lapisan Z380

77

Gambar 3.4. (a) Viskositas oil vs Tekanan; (b) FVF oil vs Tekanan; (c)
GOR vs Tekanan untuk Lapisan Z450

78

Gambar 3.5. (a) Viskositas oil vs Tekanan; (b) FVF oil vs Tekanan; (c)
GOR vs Tekanan untuk Lapisan Z650

79

3.1.3.3. Kelakuan Fasa Fluida


Dari sifat-sifat fluida dan komposisi masing-masing hidrokarbon
dapat ditentukaan jenis fluida reservoir yang terdapat pada Lapangan Beta.
Hasil uji fluida dalam bentuk diagram fasa mengindikasikan bahwa fluida
struktur Beta merupakan Volatile Oil berdasarkan API gravity yang lebih
besar dari 40. Kelakuan fasa fluida dapat dilihat diagram fasa Gambar 3.6.

Gambar 3.6. Diagram Fasa Volatile Oil


3.1.3.4. Drive Mechanism
Analisa drive mechanisme atau tenaga dorong reservoir Lapangan
Beta dilakukan dengan memanfaatkan data tes produksi pada sumur Beta1 dan tes produksi pada sumur Beta-4.
Data tes produksi menunjukkan bahwa tidak ada yang terproduksi
secara berlanjut pada lapisan Z380 dan lapisan Z650. Namun, pada lapisan
Z450 terpoduski air dengan watercut sekitar 8%. Dari production logging
tool selama tes produksi tidak diketahui sumber dari air yang terproduksi
meskipun lapisan Z450 diperforasi dengan interval 29 meter dan
dinterpretasi dengan data tekanan didapatkan FWL dari lapisan Z450.

80

Dari observasi yang dilakukan dan dari data yang didapatkan


disimpulkan bahwa lapangan beta merupakan reservoir depletion dengan
support air di pinggir lapisan untuk lapisan Z380 dan Z650 namun pada
lapisan Z450 support air di bagian bawah lapisan.
3.2. HYDROCARBON IN-PLACE
Analis perhitungan cadangan pada Lapangan Kamboja dilakukan
berdasarkan metode volumetrik dan data hasil perhitungannya adalah
sebagai berikut :
Tabel III-8. Original Oil In-Place dengan Metode Volumetrik
Lapisan

OOIP

Z380

5.131822

Z450

11.43775

Z650

4.889573

Total

21.4591

81

BAB IV
CADANGAN DAN RAMALAN PRODUKSI

4.1. KLASIFIKASI CADANGAN


Perhitungan cadangan pada Lapangan Beta dilakukan sesuai
kriteria klasifikasi cadangan yang digunakan oleh SKK Migas dan Ditjen
Migas mengacu pada SPE 2001/AAPG/WPC/SPEE yang telah dimodifikasi
berdasarkan karakter reservoir di Indonesia. Definisi cadangan adalah
perkiraan jumlah hidrokarbon yang terdapat di dalam reservoir yang dapat
diproduksikan dengan menggunakan teknologi yang tersedia pada saat ini
sesuai dengan kondisi lapangan. Sedangkan menurut PRMS 2007,
cadangan adalah jumlah cadangan migas yang telah dianalisi baik secara
ilmu kebumian dan didukung oleh data teknik untuk diambil/diproduksikan
secara komersial, pada jangka waktu tertentu dari reservoir yang diketahui
dan di bawah definisi ekonomi, metode operasi dan peraturan pemerintah.

Gambar 4.1. Klasifikasi cadangan berdasarkan PRMS 2007


Secara umum, cadangan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu :
82

1. Proved Reserves
2. Probable Reserves
3. Possible Reserves
4.1.1. Proved Reserves
Proven reserves atau cadangan pasti adalah perkiraan jumlah
hidrokarbon yang ditemukan di dalam batuan reservoir yang terbukti dapat
terproduksikan dengan menggunakan teknologi yang tersedia dengan
tingkat keyakinan 90% berdasarkan data log sumur, geologi dan keteknikan
reservoir serta didukung oleh produksi aktual dan uji alir produksi.
Cadangan terbukti dinotasikan dengan P1.
4.1.2. Probable Reserves
Probable reserves atau cadangan mungkin adalah perkiraan jumlah
hidrokarbon yang ditemukan di dalam batuan reservoir yang mungkin dapat
diproduksikan dengan menggunakan teknologi yang tersedia dengan
tingkat keyakinan 50% berdasarkan data log sumur, geologi dan keteknikan
reservoir tetapi belum / tidak didukung oleh produksi aktual. Cadangan
mungkin dinotasikan dengan P2.
4.1.3. Possible Reserves
Possible reserves atau cadangan harapan adalah perkiraan jumlah
hidrokarbon yang ditemukan di dalam batuan reservoir yang diharapkan
dapat diproduksikan dengan menggunakan teknologi yang tersedia dengan
tingkat keyakinan 10% berdasarkan korelasi data geologi, geofisika,
keteknikan reservoir dan tetapi belum / tidak ada data sumur. Cadangan
harapan dinotasikan dengan P3.

83

4.2. PERHITUNGAN CADANGAN HIDROKARBON


4.2.1. Perhitungan Original Oil In-Place dengan Metode Volumetrik
Lapangan Beta baru memasuki tahap pengembangan tingkat awal
karena belum ada data produksi, tetapi sudah dilakukan Well testing. Ada
tiga klasifikasi cadangan yang diperhitungkan yaitu P1 (Proven), P2
(Probable), P3 (Possible). Perkiraan P1 secara vertikal di Lapangan Beta
ini didasarkan atas data performance produksi sumur, MDT dan radius
sumur yang existing. Maka tidak ada penentuan untuk P2 dan P3 secara
vertikal karena P1 berupa FWL dari test sudah diketahui.
Dalam penentuan cadangan P1, parameter luasan (A) diketahui dari
radius pengurasan sumur yang telah terproduksi. Batas area pada radius
pengurasan untuk P1 adalah 250 meter (berdasarkan batas maksimum
sumur minyak dengan API minyak diatas 30o sesuai ketentuan SKK Migas)
hal ini karena data MDT sumuran tidak memadai. Sehingga untuk sumur
yang berada dalam jangkauan FWL memiliki masing-masing radius sumur
sebesar 250 meter. Sumur yang tidak masuk ke dalam areal Net Pay atau
FWL maka tidak dihitung. Diluar radius tersebut maka akan menjadi bagian
dalam penentuan cadangan P2. Adanya luasan P2 yang diluar struktur
patahan dan tidak ada data sumurnya maka dijadikan luasan P3. Ilustrasi
dapat dilihat pada Gambar berikut ini.

84

Gambar 4.2. Data Sumuran Dalam Penentuan Kriteria Cadangan


secara Vertikal

Gambar 4.3. Penentuan Kategori Cadangan pada Lapisan Z 380

85

Gambar 4.4. Penentuan Kategori Cadangan pada Lapisan Z 450

Gambar 4.5. Penentuan Kategori Cadangan pada Lapisan Z 650


Lapangan Beta ini sudah dalam tahap berproduksi sehingga
mempunyai data produksi. Metode yang digunakan dalam perhitungan
penentuan cadangan adalah dengan cara volumetrik.
86

(1 )

Setiap parameter yang dibutuhkan pada persamaan diatas diperoleh


dari data yang tersedia seperti data geologi dan analisis PVT, interpretasi
log, dan data analisa core. Persamaan metode JJ Arps untuk reservoir
bertenaga dorong air adalah sebagai berikut :

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, RF untuk lapisan Z380


sebesar 43.22%, lapisan Z450 sebesar 37.31% sedangkan lapisan Z650
sebesar 35.42% . Persamaan recovery factor diatas sering digunakan
sebagai nilai RF maksimal reservoir pada saat kondisi awal.
Tabel IV-1. Data properti reservoir yang digunakan untuk perhitungan
P1
Parameter
Z380
Z450
Z650
Unit
Porositas
0.17
0.17
0.15
Fraksi
Vb
1095.32
391.00
338.33 Acrefeet
Saturasi air
0.3
0.3
0.3
Fraksi
Boi
1.148
1.244
1.451
bbl/stb
RF JJ Arps
43.22
37.31
35.42
%
Area P1
1286.67
2688.92 4,120.77
Acre
P1
1.04
1.99
2.31
MMSTB
Jadi total cadangan terbukti (Proved) adalah sebesar 5.34 MMSTB.

87

Tabel IV-2. Data properti reservoir yang digunakan untuk perhitungan


P2
Parameter
Z380
Z450
Z650
Unit
Porositas
0.17
0.17
0.15
Fraksi
Vb
1095.32
391.00
338.33 Acrefeet
Saturasi air
0.3
0.3
0.3
Fraksi
Boi
1.148
1.244
1.451
bbl/stb
RF JJ Arps
43.22
37.31
35.42
%
Area P2
4842.35
11405.12 5589.75
Acre
P2
3.89
8.46
3.14
MMSTB
2P
4.93
10.46
5.45 MMSTB
Jadi total cadangan 2P (Proved + Probable) adalah sebesar 20.84
MMSTB. Besar cadangan mungkin (P2) adalah 15.49 MMSTB.
Tabel IV-3. Data properti reservoir yang digunakan untuk perhitungan
P3
Parameter
Porositas
Vb
Saturasi air
Boi
RF JJ Arps
Area P3
P3
3P

Z380
0.17
1095.32
0.3
1.148
43.22
6369.80
0.19
5.12

Z450
0.17
391.00
0.3
1.244
37.31
1318.14
0.98
11.44

Z650
0.15
338.33
0.3
1.451
35.42
-

Unit
Fraksi
Acrefeet
Fraksi
bbl/stb
%
Acre
MMSTB
MMSTB

Jadi total cadangan 3P (Proved + Probable + Possible) adalah


sebesar 16.56 MMSTB. Besar cadangan harapan (P3) adalah 1.17
MMSTB.
Berdasarkan hasil perhitungan diatas, maka nilai OOIP volumetrik
pada Bab III dapat digantikan dengan nilai OOIP dari 2P, dengan alasan
memiliki derajat kepastian yang lebih baik dikarenakan data yang
digunakan saat perhitungan berasal dari data faktual yaitu data produksi,
DST dan interpretasi log.

88

Jumlah dari cadangan terbukti yang memiliki derajat kepastian 90%


jika ditambahkan dengan cadangan mungkin yang memiliki derajat
kepastian 50% maka akan menghasilkan Reserves Production Forecast.
Berikut ini adalah data selengkapnya jumlah cadangan di Lapangan Beta.
2P = P1 + P2 maka,
P2 = 2P P1
Reserve Production Forecast = 90% P1 + 50% P2
Tabel IV-4. Cadangan Lapangan Beta
Lapisan

Z380
Z450
Z650
Total

Proved
Proved
Reserve
Reserves, Reserves, Production
P1
P2
Forecast
(MMSTB) (MMSTB)
(MMSTB)
1.04
1.99
2.31
5.34

3.89
8.46
3.14
15.49

2.88
6.02
3.65
12.55

4.2.2. Recoverable Reserves (RRo)


Recoverable Reserves (RRo) adalah jumlah minyak dan gas mulamula yang bisa diproduksikan dari reservoir ke permukaan. Data yang
disajikan berdasarkan total produksi minyak (produksi minyak kumulatif)
hingga waktu tertentu dengan notasi Np. Namun Lapangan Beta belum
diproduksikan secara komersial sehingga belum bisa untuk menentukan
kumulatif produksi lapangan.
4.2.3. Recovery Factor (RF)
Recovery factor adalah angka perbandingan antara minyak yang
dapat diproduksikan dengan jumlah minyak mula-mula di reservoir.
Penentuan harga RF berdasarkan persamaan metode JJ Arps untuk
reservoir water drive adalah :

89

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, RF untuk lapisan Z380


sebesar 43.22%, lapisan Z450 sebesar 37.31% sedangkan lapisan Z650
sebesar 35.42%. Persamaan recovery factor diatas sering digunakan
sebagai nilai RF maksimal reservoir pada saat kondisi awal.
=
Dimana : Np = Produksi kumulatif minyak, STB
N = Original oil in place, STB
4.2.4. Estimated Ultimate Recovery (EUR)
Estimated Ultimate Recovery adalah total minyak yang dapat
diproduksikan ke permukaan dengan mekanisme pendorong tertentu dari
reservoir yang bersifat alamiah / natural. Persamaannya adalah :
=
Dimana :

EUR = Estimated Ultimate Recovery, STB


RF

= Recovery Factor, fraksi

OOIP = Original Oil in-place, STB


Tabel IV-5. Harga Estimate Ultimate Recovery tiap Lapisan

Lapisan

RF
(%)

OOIP
(MMSTB)

EUR
(MMSTB)

Z380
Z450
Z650
Total

43.22
37.31
35.42
-

5.13
11.44
4.89
-

2.22
4.27
1.73
8.22

90

4.2.5. Remaining Reserves (RR)


Remaining Reserves (RR) adalah sisa cadangan pada waktu
tertentu untuk suatu reservoir yang merupakan pengambilan maksimum
dikurangi produksi kumulatif hingga waktu tersebut. Persamaannya adalah
sebagai berikut :
=
Dimana :

EUR = Estimated Ultimate Recovery, STB


RR

= Remaining Reserves, STB

Np

= Produksi kumulatif minyak, STB

Karena lapangan ini belum berproduksi maka Remaining Reserve


pada lapangan ini adalah sama besar dengan Estimate Ultimate Recovery.
4.3. SIMULASI RESERVOIR
Tujuan utama dari studi simulasi reservoir adalah untuk memprediksi
kinerja reservoir di masa yang akan datang dan mencari strategi
pengembangan lapangan sehingga diperoleh peningkatan perolehan
minyak dari reservoir dipelajari dapat ditingkatkan. Simulasi reservoir
dengan menggunakan bantuan perangkat komputer memungkinkan
dilakukannya studi yang lebih rinci dengan cara membagi reservoir ke
dalam sejumlah grid dan menerapkan persamaan numerik untuk aliran di
dalam media berpori di tiap grid. Program komputer digital yang digunakan
untuk melakukan perhitungan yang diperlukan dalam studi permodelan
disebut

sebagai model komputer.

Software/perangkat

lunak yang

digunakan pada simulasi ini adalah CMG IMEX 2009 dan dibantu dengan
Petrel untuk pembuatan model geologi.
Secara keseluruhan tahapan simulasi memiliki lima tahap yaitu :
persiapan data, inisialisasi, history matching, peramalan dan analisis.
Setelah

tahapan

simulasi

dilakukan
91

maka

dilakukan

startegi

pengembangan Lapangan Beta yang optimum dan ekonomis berdasarkan


kajian keekonomian.

4.3.1. Model Geologi Lapangan Beta


Untuk pembuatan model geologi dalam simulasi, data yang dibutuhkan
meliputi:
1. Depth Structure Map
2. Isoporosity Map
3. Isopermebility Map
Berdasarkan pada data yang tersedia untuk proses input di dalam
model simulasi diperoleh berdasarkan hasil modelling geologi dengan
menggunakan Petrel. Sehingga untuk pemodelan reservoir berdasarkan
hasil dari pemodelan geologi (statis) digabungkan dengan data reservoir
(dinamis). Karakter pemodelan reservoir yang dibangun berdasarkan data
geologi, data reservoir ditunjukkan pada Tabel IV-6.

Tabel IV-6 Karakteristik Pemodelan Reservoir Untuk Lapangan Beta


Uraian

Lapangan Beta

Jenis Grid

Orthogonal

Jumlah Grid

40 x 33 x 3

Sistem Porositas

Tunggal

Hasil pemodelan Lapangan X Lapisan Y disajikan pada Gambar 4.1.,


Gambar 4.2. dan Gambar 4.3.

92

Gambar 4.6. 3D Depth Structure (mD) Lapangan Beta

Gambar 4.7. 3D Isopermeability (mD) Lapangan Beta

93

Gambar 4.8. 3D Isoporosity (mD) Lapangan Beta


Data Reservoir
Data reservoir yang akan di input kedalam simulator meliputi, data SCAL
dan data PVT yang telah dibahas didalam bab sebelumnya.
Data Produksi
Data Produksi yang akan di input adalah adalah hanya digunakan sebagai
konstrain dari masing-masing sumur Beta-1, Beta-2, Beta-3, dan Beta-4.
Data Tekanan
Data tekanan yang di input kedalam simulator meliputi tekanan awal
reservoir dan tekanan saturasi yang telah dibahas pada bab sebelumnya.

4.3.2. Inisialisasi
Dalam tahap inisialisasi dapat dilihat kondisi awal model reservoir
seperti depth structure, isopermeability, isoporosity, saturasi minyak awal,
saturasi air awal, dan tekanan reservoir awal. Dan model simulasi diperoleh

94

OOIP lapisan Y sebesar 21.459 MMSTB. Tabel memperlihatkan


perbandingan antara OOIP hasil simulasi dengan data geologi volumetrik.

Tabel IV-7 Perbandingan OOIP Hasil Simulasi dan Volumetrik


Lapangan

OOIP, MMSTB
Simulasi

Volumetrik

%Error

21.459

21.459

Beta

4.3.3. History Matching


Tahapan ini merupakan tahapan penyelarasan data produksi
Lapangan Beta berdasarkan waktu produksi masing-masing sumur. Namun
tahapan ini tidak dapat dilakukan karena Lapangan Beta merupakan
Lapangan Eksplorasi yang belum diproduksikan sehingga History matching
tidak dilakukan.

4.3.4. Prediksi (Forecast)


Prediksi atau peramalan (Forecast) merupakan tahap akhir dalam
melakukan simulasi reservoir setelah history matching selesai. Tahapan ini
bertujuan untuk mengetahui atau melihat perilaku reservoir yang disimulasi
pada masa yang akan datang berdasarkan kondisi yang diharapkan. Dalam
hal ini dilakukan production run sampai dengan Januari 2033 (30 tahun).
Pada tahap prediksi ini juga dilakukan berbagai alternative skenario
pengembangan yang bertujuan diperoleh skenario pengembangan yang
optimum. Skenario prediksi Lapangan Beta ini disusun berdasarkan
berbagai pertimbangan, yaitu faktor perolehan,distribusi saturasi minyak,
distribusi saturasi air, porositas, permeabilitas, tekanan serta metode
pengangkatan yang akan dipergunakan.

95

4.3.5. Scenario
Pengembangan Lapangan Beta perlu dilakukan untuk mendapatkan
incremental kumulatif produksi yang sebesar-besarnya dan memberi
keuntungan berdasarkan analisa keekonomian sehingga perlu dilakukan
pemilihan skenario pengembangan yang sesuai pada Lapangan Beta dan
dapat memberikan hasil yang diharapkan. Berikut ini merupakan beberapa
skenario pengembangan dan schedule pengembangan yang mungkin akan
dilakukakan pada Lapangan Beta :
Tabel IV-8 Scenario Pengembangan Lapangan Beta
Skenario

Keterangan

Np, MMSTB

RF, %

Basecase

4 Sumur Vertikal

1.65

7.69

3.29

15.33

3.39

15.79

5.48

25.56

4.53

21.10

Skenario 1

Basecase + 11
Sumur Vertikal
Basecase + 8 Sumur

Skenario 2

Vertikal + 2 sumur
Injeksi Air
Basecase + 4 Sumur
Vertikal + 4 Sumur

Skenario 3

Horizontal + 3 Sumur
Multilateral + 2
Sumur Injeksi Gas +
1 Sumur Injeksi Air
4 Sumur Basecase
Konvert to
Multilateral + 1

Skenario 4

Sumur Vertikal + 1
Sumur Horizontal + 6
Sumur Multilateral +
2 Sumur Injeksi Air

96

4.4. Inflow Performance Relationship


Inflow Performance Relationship (IPR) merupakan suatu hubungan
antara tekanan (biasanya tekanan alir dasar sumur) dan laju produksi fluida
sumuran yang menunjukan kemampuan reservoir untuk mengantarkan
fluida dari reservoir sampai ke dasar sumur (maupun titik inflow lainnya).
Sedangkan Outflow Performance dalam nodal analysis adalah kurva yang
menunjukan peforma aliran (P vs Q) dari titik nodal sampai ke titik batas
dalam analisa nodal. Apabila keduanya digabungkan makan kita dapat
mengetahui kemampuan produksi sumur berdasarkan produktifitas formasi
dan konfigurasi dari peralatan di sumur berdasarkan kehilangan tekanan di
masing-masing komponen.
Pada bab ini tim produksi kami melakukan analisa nodal untuk
perencanaan sumur yang akan diterapkan di lapangan Beta berdasarkan
model simulasi dan data tes sumur dengan hasil analisa dan jenis
konfigurasi sbb:

Gambar 4.9 Analisa Nodal Untuk Sumur Dengan Komplesi Vertical 2


Zona (450, 650) (Ql = 160 BLPD, Pwf = 320 psia)

97

Gambar 4.10 Analisa Nodal Untuk Sumur Dengan Komplesi Vertical 3


zona (380, 450, 650) (Ql = 305 BLPD, Pwf = 295 psia)

Gambar 4.11 Analisa Nodal Untuk Sumur Dengan Komplesi


Horizontal 3 Zona (380, 450, 650) Radial 2 Arah 200 m (Ql = 455 BLPD,
Pwf = 240)

98

Gambar 4.12 Analisa Nodal Untuk Sumur Dengan Komplesi


Horizontal 3 Zona (380, 450, 650) Radial 4 Arah 200 m (Ql = 760 BLPD,
Pwf = 220 psia)

Gambar 4.13 Analisa Nodal Untuk Sumur Dengan Komplesi


Horizontal 3 Zona (380, 450, 650) 400 m (Ql = 170 BLPD, Pwf = 250
psia)

99

Gambar 4.14 Analisa Nodal Untuk Sumur Dengan Komplesi


Horizontal 2 Zona (450, 650) 200 m (Ql = 160 BLPD, 240 psia)

Gambar 4.15 Analisa Nodal Untuk Sumur Dengan Komplesi


Horizontal 2 Zona (450, 650) 400 m (Ql= 220 BLPD, Pwf = 249 psia)
Pada grafik nodal yang dianalisa untuk setiap jenis sumur yang akan
diproduksikan dengan tubing 2 7/8 in, laju alir fluida sudah hampir
100

mendekati Qmax dan dengan penurunan tekanan yang harmpir bisa


diabaikan dari hasil simulasi model reservoir maka kami belum
merencanakan penggunaan bantuan pengankatan buatan. Mungkin
perencanaan pengadaan akan dilakukan untuk POFD selanjutnya saat
kami telah memiliki data rate test actual dari setiap jenis sumur.

101

BAB V
DRILLING AND COMPLETION

5.1. Geologi Regional Cekungan Sumatra Selatan


5.1.1. Fisiografi
Secara fisiografi, lokasi sumur beta berada pada Cekungan
Sumatra Selatan ( gambar 5.1. )

Gambar 5.1. Peta Lokasi Kavling Beta

Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan yang menghasilkan


hidrokarbon paling produktif dalam tatanan cekungan belakang busur
yang terbentuk di timur pantai Sumatera di bagian Barat Indonesia.

102

Gambar 5.2. Peta lokasi Cekungan Sumatra Selatan

Cekungannya dibatasi oleh Selat Malaka di bagian timur, Tinggian


Tigapuluh di utara serta bentangan Bukit Barisan di bagian baratnya.
Daerahnya hampir semua berada di darat dan hanya sebagian kecil di
lepas pantai. Cekungan Sumatera Selatan mencakup luas area sekitar
119.000 km2 dengan ketebalan sedimen tersier rata-rata 3.5 km.
Secara fisiografis bagian selatan dari Sumatera ini dapat dibagi
menjadi 4 (empat) bagian, yaitu :
1. Cekungan Sumatera Selatan,
2. Bukit Barisan dan Tinggian lampung,
3. Cekungan Bengkulu, meliputi lepas pantai antara daratan
Sumatera dan
rangkaian pulau-pulau di sebelah barat Sumatera, dan
4. Rangkaian kepulauan (fore arc ridge) di sebelah barat
Sumatera, yang
membentuk suatu busur tak bergunung-api di sebelah barat
P.

Sumatera (Gambar II.1).

103

Berdasarkan konsep Tektonik Lempeng, kedudukan cekungan


migas Tersier di Indonesia bagian barat berkaitan dengan sistem busur
kepulauan. Dalam sistem ini dikenal adanya cekungan busur belakang,
cekungan busur depan dan cekungan antar busur.
Cekungan

Sumatera

Selatan

telah

mengalami

empat

kali

orogenesa, yakni :
pada zaman Mezosoikum Tengah, Jura Awal Kapur Awal, Kapur Akhir
Tersier
Awal, Plio-Pleistosen. Setelah orogenesa terakhir dihasilkan kondisi
struktur geologi regional seperti terlihat pada saat ini, yaitu :
Zone Sesar Semangko, merupakan hasil tumbukan antara
Lempeng Sumatera
Hindia dan Pulau Sumatera, akibat tumbukan ini menimbulkan
gerak sesar
geser menganan (right lateral) diantara keduanya.
Perlipatan dengan arah utama baratlaut tenggara, sebagai hasil
efek gaya
kopel sesar Semangko.
Sesar-sesar yang berasosiasi dengan perlipatan dan sesar-sesar
Pra Tersier
yang mengalami peremajaan.

Gambar 5.3. Fisiografi cekungan Sumatra Selatan


(Hutchison,1996)
104

Berkenaan dengan posisi dan aktivitas tektonik lempeng maka hampir di


seluruh wilayah bagian selatan-barat P. Sumatera merupakan daerah
yang relatif sering terjadi gempa bumi. Secara seismik telah tercatat
beberapa gempa bumi yang memiliki skala Richter cukup tinggi antara 5
hingga 6.
5.1.2. Stratigrafi Regional
Stratigrafi Regional, Cekungan Sumatra Selatan yang merupakan
cekungan belakang busur (back arc basin) berumur Tersier yang terbentuk
sebagai akibat tumbukan antara Sundaland dan Lempeng Hindia. Secara
Geografis dibatasi oleh Pegunungan Tigapuluh di sebelah utara, Tinggian
Lampung di bagian selatan, Paparan Sunda di sebelah timur, dan Bukit
Barisan di sebelah barat.
Tatanan stratigrafi pada dasarnya terdiri dari satu siklus besar
sedimentasi dimulai dari fase transgresi pada awal siklus dan fase regresi
pada akhir silkusnya. Secara detail siklus ini dimulai oleh siklus non marin
yaitu dengan diendapkannya Formasi Lahat pada Oligosen Awal dan
kemudian diikuti oleh Formasi Talang Akar yang diendapkan secara tidak
selaras di atasnya. Menurut Adiwidjaja dan De Coster (1973), Formasi
Talang Akar merupakan suatu endapan kipas alluvial dan endapan sungai
teranyam (braided stream deposit) yang mengisi suatu cekungan. Fase
transgresi terus berlangsung hingga Miosen Awal dimana pada kala ini
berkembang Batuan karbonat yang diendapkan pada lingkungan back reef,
fore reef, dan intertidal (Formasi Batu Raja) pada bagian atas Formasi
Talang

Akar.

Fase

Transgresi

maksimum

ditunjukkan

dengan

diendapkannya Formasi Gumai bagian bawah secara selaras di atas


Formasi Baturaja yang terdiri dari Batu serpih laut dalam.
Fase regresi dimulai dengan diendapkannya Formasi Gumai bagian
atas dan diikuti oleh pengendapkan Formasi Air Benakat yang didominasi
oleh litologi Batu pasir pada lingkungan pantai dan delta. Formasi Air
Benakat diendapkan secara selaras di atas Formasi Gumai. Pada Pliosen
105

Awal, laut menjadi semakin dangkal dimana lingkungan pengendapan


berubah menjadi laut dangkal, paludal, dataran delta dan non marin yang
dicirikan oleh perselingan antara batupasir dan batulempung dengan
sisipan berupa batubara (Formasi Muara Enim). Tipe pengendapan ini
berlangsung hingga Pliosen Akhir dimana diendapkannya lapisan batupasir
tufaan, pumice dan konglemerat.
Berdasarkan penelitian terdahulu urutan sedimentasi Tersier di
Cekungan Sumatera Selatan dibagi menjadi dua tahap pengendapan, yaitu
tahap genang laut dan tahap susut laut. Sedimen-sedimen yang terbentuk
pada tahap genang laut disebut Kelompok Telisa (De Coster, 1974, Spruyt,
1956), dari umur Eosen Awal hingga Miosen Tengah terdiri atas Formasi
Lahat (LAF)
,

Gambar 5.4. Kolom staritgrafi cekungan Sumatra Selatan


( Van Bemmelen 1973 )
106

Formasi Talang Akar (TAF), Formasi Baturaja (BRF), dan Formasi


Gumai (GUF). Sedangkan yang terbentuk pada tahap susut laut disebut
Kelompok Palembang (Spruyt, 1956) dari umur Miosen Tengah Pliosen
terdiri atas Formasi Air Benakat (ABF), Formasi Muara Enim (MEF), dan
Formsi Kasai (KAF).
Sedimentasi yang terjadi di Cekungan Sumatera Selatan
berlangsung pada dua fase (Jackson, 1961), yaitu :
Fase transgresi, pada fase ini diendapkan dari kelompok Telisa, yang
terdiri dari Formasi Lahat, Formasi Talang Akar, Formasi Baturaja,
dan Formasi Gumai. Kelompok Telisa ini diendapakan secara tidak
selaras diatas Batuan induk Pra-Tersier.
Fase regresi, pada fase ini dihasilkan endapan dari kelompok
Palembang yang terdiri dari Formasi Air Benakat, Formasi Muara
enim, dan Formasi Kasai
A. Batuan Dasar
Batuan Dasar, Batuan Pra-Tersier atau basement terdiri dari
kompleks batuan Paleozoikum dan batuan Mesozoikum, batuan
metamorf, batuan beku dan batuan karbonat. Batuan Paleozoikum
akhir dan batuan Mesozoikum tersingkap dengan baik di Bukit Barisan,
Pegunungan Tigapuluh dan Pegunungan Duabelas berupa batuan
karbonat berumur permian, Granit dan Filit. Batuan dasar yang
tersingkap di Pegunungan Tigapuluh terdiri dari filit yang terlipat kuat
berwarna kecoklatan berumur Permian (Simanjuntak, dkk., 1991).
Lebih ke arah Utara tersingkap Granit yang telah mengalami pelapukan
kuat. Warna pelapukan adalah merah dengan butir-butir kuarsa
terlepas akibat pelapukan tersebut. Kontak antara Granit dan filit tidak
teramati karena selain kontak tersebut tertutupi pelapukan yang kuat,
daerah ini juga tertutup hutan yang lebat.Menurut Simanjuntak, et.al
(1991) umur Granit adalah Jura. Hal ini berarti Granit mengintrusi
batuan filit.

107

B. Formasi Lahat (LAF)


Menurut Spruyt (1956), Formasi ini terletak secara tidak selaras
diatas batuan dasar, yang terdiri atas lapisan-lapisan tipis tuf andesitik
yang secara berangsur berubah keatas menjadi batu lempung tufan.
Selain itu breksi andesit berselingan dengan lava andesit, yang
terdapat dibagian bawah. Batulempung tufan, segarnya berwarna hijau
dan lapuknya berwarna ungu sampai merah keunguan. Menurut De
Coster (1973) formasi ini terdiri dari tuf, aglomerat, batulempung,
batupasir tufan, konglomeratan dan breksi yang berumur Eosen Akhir
hingga Oligosen Awal. Formasi ini diendapkan dalam air tawar daratan.
Ketebalan dan litologi sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat
yang lainnya karena bentuk cekungan yang tidak teratur, selanjutnya
pada umur Eosen hingga Miosen Awal, tejadi kegiatan vulkanik yang
menghasilkan andesit (Westerveld, 1941 vide of side katilli 1941),
kegiatan ini mencapai puncaknya pada umur Oligosen Akhir sedangkan
batuannya disebut sebagai batuan Lava Andesit tua yang juga
mengintrusi batuan yang diendapkan pada Zaman Tersier Awal.
Formasi Talang Akar pada Sub Cekungan Jambi terdiri dari batulanau,
batupasir dan sisipan batubara yang diendapkan pada lingkungan laut
dangkal hingga transisi. Menurut Pulunggono, 1976, Formasi Talang
Akar berumur Oligosen Akhir hingga Miosen Awal dan diendapkan
secara selaras di atas Formasi Lahat. Bagian bawah formasi ini terdiri
dari batupasir kasar, serpih dan sisipan batubara. Sedangkan di bagian
atasnya berupa perselingan antara batupasir dan serpih.
Ketebalan Formasi Talang Akar berkisar antara 400 m 850 m.
C . Formasi Talang Akar (TAF)
Nama Talang Akar berasal dari Talang Akar Stage (Martin, 1952)
nama lain yang pernah digunakan adalah Houthorizont (Musper, 1937)
dan Lower Telisa Member (Marks, 1956). Formasi Talang akar
dibeberapa tempat bersentuhan langsung secara tidak selaras dengan
batuan Pra Tersier. Formasi ini dibeberapa tempat menindih selaras
108

Formasi Lahat (De Coster, 1974), hubungan itu disebut rumpang


stratigrafi, ia juga menafsirkan hubungan stratigrafi diantara kedua
formasi tersebut selaras terutama dibagian tengahnya, ini diperoleh dari
data pemboran sumur Limau yang terletak disebelah Barat Daya Kota
Prabumulih (Pertamina, 1981), Formasi Talang Akar dibagi menjadi
dua, yaitu : Anggota Gritsand terdiri atas batupasir, yang mengandung
kuarsa dan ukuran butirnya pada bagian bawah kasar dan semakin atas
semakin halus. Pada bagian teratas batupasir ini berubah menjadi
batupasir konglomeratan atau breksian. Batupasir berwarna putih
sampai coklat keabuan dan mengandung mika, terkadang terdapat
selang-seling batulempung coklat dengan batubara, pada anggota ini
terdapat sisa-sisa tumbuhan dan batubara, ketebalannya antara 40
830 meter. Sedimen-sedimen ini merupakan endapan fluviatil sampai
delta (Spruyt, 1956), juga masih menurut Spruyt (1956) anggota transisi
pada bagian bawahnya terdiri atas selang-seling batupasir kuarsa
berukuran halus sampai sedang dan batulempung serta lapisan
batubara. Batupasir pada bagian atas berselang-seling dengan
batugamping tipis dan batupasir gampingan, napal, batulempung
gampingan

dan

serpih.

Anggota

ini

mengandung

fosil-fosil

Molusca,Crustacea, sisa ikan foram besar dan foram kecil, diendapkan


pada lingkungan paralis, litoral, delta, sampai tepi laut dangkal dan
berangsur menuju laut terbuka kearah cekungan. Formasi ini berumur
Oligosen Akhir hingga Miosen Awal. Ketebalan formasi ini pada bagian
selatan cekungan mencapai 460 610 meter, sedangkan pada bagian
utara cekungan mempunyai ketebalan kurang lebih 300 meter (De
Coster, 1974).
D . Formasi Baturaja (BRF)
Menurut Spruyt (1956), formasi ini diendapkan secara selaras diatas
Formasi Talang Akar. Terdiri dari batugamping terumbu dan batupasir
gampingan. Di gunung Gumai tersingkap dari bawah keatas berturutturut napal tufaan, lapisan batugamping koral, batupasir napalan kelabu
109

putih, batugamping ini mengandung foram besar antara lain


Spiroclypes spp, Eulipidina Formosa Schl, Molusca dan lain
sebagainya. Ketebalannya antara 19 - 150 meter dan berumur Miosen
Awal. Lingkungan Pengendapannya adalah laut dangkal. Penamaan
Formasi Baturaja pertama kali dikemukakan oleh Van Bemmelen
(1932) sebagai Baturaja Stage, Baturaja Kalk Steen (Musper, 1973)
Crbituiden Kalk (v.d. Schilden, 1949; Martin, 1952), Midle Telisa
Member (Marks, 1956), Baturaja Kalk Sten Formatie (Spruyt, 1956)
dan Telisa Limestone (De Coster, 1974). Lokasi tipe Formasi Baturaja
adalah di pabrik semen Baturaja (Van Bemelen, 1932).
E. Formasi Gumai (GUF)
Formasi ini diendapkan setelah Formasi Baturaja dan merupakan
hasil pengendapan sedimen-sedimen yang terjadi pada waktu genang
laut mencapai puncaknya. Hubungannya dengan Formasi Baturaja
pada tepi cekungan atau daerah dalam cekungan yang dangkal adalah
selaras, tetapi pada beberapa tempat di pusat-pusat cekungan atau
pada bagian cekungan yang dalam terkadang menjari dengan Formasi
Baturaja (Pulonggono, 1986). Menurut Spruyt (1956) Formasi ini terdiri
atas napal tufaan berwarna kelabu cerah sampai kelabu gelap.
Kadang-kadang terdapat lapisan-lapisan batupasir glaukonit yang
keras, tuff, breksi tuff, lempung serpih dan lapisan tipis batugamping.
Endapan sediment pada formasi ini banyak mengandungGlobigerina
spp, dan napal yang mengeras. Westerfeld (1941) menyebutkan bahwa
lapisan-lapisan Telisa adalah seri monoton dari serpih dan napal yan
mengandung Globigerina sp dengan selingan tufa juga lapisan pasir
glaukonit. Umur dari formasi ini adalah Awal Miosen Tengah (Tf2) (Van
Bemmelen, 1949) sedangkan menurut Pulonggono (1986) berumur
Miosen Awal hingga Miosen Tengah (N9 N12).
F . Formasi Air Benakat (ABF)
Menurut Spruyt (1956), formasi ini merupakan tahap awal dari siklus
pengendapan Kelompok Palembang, yaitu pada saat permulaan dari
110

endapan susut laut. Formasi ini berumur dari Miosen Akhir hingga
Pliosen. Litologinya terdiri atas batupasir tufaan, sedikit atau banyak
lempung tufaan yang berselang-seling dengan batugamping napalan
atau batupasirnya semakin keatas semakin berkurang kandungan
glaukonitnya. Pada formasi ini dijumpaiGlobigerina spp, tetapi banyak
mengadung Rotalia spp. Pada bagian atas banyak dijumpai Molusca
dan sisa tumbuhan. Di Limau, dalam penyelidikan Spruyt (1956)
ditemukan serpih lempungan yang berwarna biru sampai coklat kelabu,
serpih lempung pasiran dan batupasir tufaan. Di daerah Jambi
ditemukan berupa batulempung kebiruan, napal, serpih pasiran dan
batupasir yang mengandung Mollusca, glaukonit kadang-kadang
gampingan. Diendapkan dalam lingkungan pengendapan neritik bagian
bawah dan berangsur kelaut dangkal bagian atas (De Coster, 1974).
Ketebalan formasi ini berkisar 250 1550 meter. Lokasi tipe formasi ini
, menurut Musper (1937), terletak diantara Air Benakat dan Air Benakat
Kecil (kurang lebih 40 km sebelah utara-baratlaut Muara Enim (Lembar
Lahat). Nama lainnya adalah Onder Palembang Lagen (Musper,
1937), Lower Palembang Member (Marks, 1956), Air Benakat and en
Klai Formatie (Spruyt, 1956).
G. Formasi Muara Enim (MEF)
Menurut Spruyt (1956) formasi in terlatak selaras diatas Formasi Air
Benakat. Formasi ini dapat dibagi menjadi dua anggota a dan anggota
b. Anggota a disebut juga Anggota Coklat (Brown Member) terdiri
atas batulempung dan batupasir coklat sampai coklat kelabu, batupasir
berukuran halus sampai sedang. Didaerah Palembang terdapat juga
lapisan batubara. Anggota b disebut juga Anggota Hijau Kebiruan
(Blue

Green

Member)

terdiri

atas batulempung

pasiran

dan

batulempung tufaan yang berwarna biru hijau, beberapa lapisan


batubara berwarna merah-tua gelap, batupasir kasar halus berwarna
putih sampai kelabu terang. Batupasir pada formasi ini dapat
mengandung glaukonit dan debris volkanik. Pada formasi ini terdapat
111

oksida besi berupa konkresi-konkresi dan silisified wood. Sedangkan


batubara yang terdapat pada formasi ini umumnya berupa lignit. Pada
anggota a terkadang dijumpai kandungan Foraminifera dan Mollusca
selain batubara dan sisa tumbuhan, sedangkan pada anggota b selain
batubara dan sisa tumbuhan tidak dijumpai fosil kecuali foram air payau
Haplophragmoides spp (Spruyt, 1956). Ketebalan formasi ini sekitar
450 -750 meter. Anggota a diendapkan pada lingkungan litoral yang
berangsur berubah kelingkungan air payau dan darat (Spruyt, 1956).
Lokasi tipenya terletak di Muara Enim, Kampong Minyak, Lembar Lahat
(Tobler, 1906)
H. Formasi Kasai (KAF)
Formasi ini mengakhiri siklus susut laut (De Coster dan Adiwijaya,
1973). Pada bagian bawah terdiri atas batupasir tufan dengan
beberapa selingan batulempung tufan, kemudian terdapat konglomerat
selang-seling lapisan-lapisan batulempung tufan dan batupasir yang
lepas, pada bagian teratas terdapat lapisan tuf batuapung yang
mengandung sisa tumbuhan dan kayu terkersikkan berstruktur
sediment silang siur, lignit terdapat sebagai lensa-lensa dalam
batupasir dan batulempung tufan (Spruyt, 1956). Tobler (1906)
menemukan moluska air tawar Viviparus spp dan Union spp, umurnya
diduga Plio-Plistosen. Lingkungan pengendapan air payau sampai
darat. Satuan ini terlempar luas dibagian timur Lembar dan tebalnya
mencapai 35 meter.
J. Endapan Quarter
Satuan ini merupakan Litologi termuda yang tidak terpengaruh oleh
orogenesa Plio-Plistosen. Golongan ini diendapkan secara tidak
selaras di atas formasi yang lebih tua yang teridi dari batupasir,
fragmen-fragmen konglemerat berukuran kerikil hingga bongkah, hadir
batuan volkanik andesitik-basaltik berwarna gelap. Satuan ini berumur
resen.

112

5.2. Tujuan Pemboran


Berdasarkan pemboran meliputi satu sumur pengembangan yaitu
pemboran sumur ini dilakukan untuk mendapatkan tambahan produksi
minyak untuk menambah pasokan minyak. Pemboran dilakukan dengan
vertikal drilling. Pemboran di lakukan dengan target kedalaman yang
berbeda yakni ada yang menembus 3 layer yakni 380, 450, dan 680 m.
Pelaksanaan pemboran untuk menembus formasi air benakat di harapkan
dapat dilaksanakan dengan seefektif dan seefisien mungkin, tanpa
kecelakaan kerja, kerusakan alat, dan kerusakan lingkungan.
Hal diatas mencakup :
Bor formasi sampai kedalaman akhir sesuai program, dengan menembus
semua lapisan target.
Operasi pemboran berpedoman pada aspek Keselamatan, Kesehatan
Kerja dan Lindungan Lingkungan (K3LL)
5.3. Data Sumur
Location Name

: Beta Field

Well Name

: Beta 5, Beta 6, Beta 7, Beta 8, Beta 9, Beta


10, Beta 11, Beta 12, Beta 13, Beta 14, Beta
15, Beta-Inj-1, Beta-Inj-2, Beta-Inj-3.

Drilling Contractor

: Wilayah kerja pertambangan

Skenario

: Infill and Injection Drilling

Well Description

: Infill and Injection Well

Tabel V-1.Skenario
Sumur
Beta 5

Operation
Infill Well (Multilateral 4)

Beta 6

Infill Well (Horizontal)

Beta 7

Infill Well (Vertikal)


113

Zona Produksi
1, 2, 3 Horizontal Section 200
m
1, 2, 3 Horizontal Section 400
m
1, 2, 3

Waktu
Apr-10
Agus-10
Des-10

Beta 8
Beta 9

Infill Well (Vertikal)


Infill Well (Multilateral 2)

Beta 10

Infill Well (Multilateral 4)

Beta 11
Beta 12
Beta 13

Infill Well (Vertikal)


Infill Well (Vertikal)
Infill Well (Vertikal
&Horizontal)
Infill Well (Horizontal)
Infill Well (Horizontal)
Injection Well Gas
Injection Well Water
Injection Well Gas

Beta 14
Beta 15
Beta-Inj-1
Beta-Inj-2
Beta-Inj-3

1, 2, 3
1, 2, 3 Horizontal Section 200
m
1, 2, 3 Horizontal Section 200
m
1, 2, 3
2, 3
1, Horizontal Zona 2 & 3,
Horizontal Section 400 m
2, 3 Horizontal Section 600 m
2, 3 Horizontal Section 400 m
1, 2, 3
1, 2, 3
1, 2, 3

Apr-11
Agus-11
Okt-11
Jan-12
Apr-12
Jun-12
Sept-12
Des-12
Jul-12
Okt-12
Sept-12

5.4. Ringkasan Operasi Pemboran


Sumur ini direncanakan akan dibor vertikal, dengan estimasi hari
kerja sekitar 30 Hari pemboran , pada kedalaman akhir 2230.4 ft TVD.
Operasi pemboran sumur ini diringkas
sebagai berikut
1. Rig masuk Lokasi.
2. Pasang Conductor pipe 20dengan hammer di kedalaman 262.4 ft .

3. Bor formasi dengan pahat 17 menggunakan tricone bit sampai


kedalaman 1232 ft. Pasang dan semen Selubung 13 3/8 dengan guide
shoe, float collar dan centralizer pada casing.
4. Pasang BOP 13 5/8 x 5000 psi

5. Pasang BHA dan bit 12 ,Bor formasi dengan pahat 12 1/4


menggunakan bit tricone sampai kedalaman 1612 ft, masuk dan semen
selubung 9 5/8 di kedalaman 1612 ft dengan guide shoe, float collar
dan centralizer pada casing.
6. Pasang BOP 9 5/8 x 5000 psi.

7. Pasang BHA dan bit 8 1/2,Bor dengan pahat 8 menggunakan


tricone. sampai kedalaman 2230.4 ft. Masuk dan semen Production
Casing 7 di kedalaman 2230.4 ft dengan guide shoe, float collar dan

114

centralizer pada casing.


8. Melakukan horizontal drilling menggunakan coil tubing.
9. Pasang BOP 7 1/6 X 5000 Psi
10. Rig down

5.5. Program Pahat


Pada sumur ini ada 4 trayek yang akan di lakukan yakni trayek
conductor dengan di lakukan penumbukan karena formasi yang di tembus
di anggap lunak, dan 3 trayek lainnya di lakukan proses pemboran dengan
menggunakan Roller Cone Bit dengan gigi pendek . Bit yang digunakan
untuk 3 trayek pemboran. Masing-masing adalah Roller Cone Bit 17 ,
Roller Cone Bit 12 ,dan Roller Cone 8 .
Tabel V-2. Bit Program
Size

IADC Code

Type BIT

Keterangan

26"

Penumbukan

17 1/2"

1,1,5

Roller Cone Bit

Bor,Semen

12 1/4"

1,3,5

Roller Cone Bit

Bor,Semen

8 1/2"

1,3,5

Roller Cone Bit

Bor,Semen

5.6. Program BHA


BHA yang digunakan pada sumur ini adalah BHA sumur 115ertical.
Komponen BHA terdiri dari, Stabilizer, Reamer, Jar, Drill Pipe, dan Drill
Collar.

Tabel V-3. Program BHA


Trayek

17 1/2"

12 1/4"

8 1/2"

Stabilizer

17 1/4"

12 "

8 1/4"

Reamer

17 1/4"

12 1/4"

8 1/2"

115

Drill Collar

10 "

10 "

6 3/4"

Jar

8"

8"

6 1/2"

Drill Pipe

5"

5"

5"

5.7. Perencanaan Desain Lumpur (Mud Program)


Mud program berfungsi sebagai hidrolika pemboran yang
disesuaikan dengan jenis lithologi yang akan ditembus. Sumur ini
menggunakan jenis lumpur yaitu KCL Polymer Muds
Pada trayek conductor casing tidak digunakan lumpur pemboran
karena digunakan metode penumbukan . Untuk selanjutnya trayek surface
casing, trayek intermediate casing, production casing, menggunakan KCL
Polymer Muds.
Lumpur yang digunakan pada interval 0-1232 ft pada surface
casing dengan diameter lubang 17 adalah KCL Polymer Muds yang
berfungsi mengangkat cutting dan menahan tekanan formasi. Pada trayek
ini kita menembus formasi lempung yang dapat menyebabkan terjadinya
swelling, tapi dengan jenis lumpur yang di gunakan ini dapat memilimalisir
terjadinya problem ini.
Lumpur yang digunakan pada interval 0-1612 ft pada intermediate
casing dengan diameter lubang 12 menembus formasi pasir dan juga
lempung dapat menyebabkan terjadinya swelling, tapi dengan jenis lumpur
yang di gunakan ini dapat memilimalisir terjadinya problem ini.
Production casing (0 2230.4 ft) dengan diameter lubang 8 1/2
sama dengan trayek sebelumnya yaitu dengan menggunakan KCL Polymer
Muds.

Tabel V-4. Program Lumpur


MUD PROPERTIES

Surface

Intermediate

Production

Interval (ft)

0 - 1232

1232 1612

1612 2230.4

116

Mud Density (ppg)

8.75 - 9.53

9.53 10.14

10.14 10.75

Plastic Viscosity (cp)

12 - 25

12 - 25

15 - 25

Yield Point (lb/100ft2)

10 20

10 20

10 20

Gel Strength (10 / 10)

6 8 / 8 - 20

6 8 / 8 20

2 8 / 8 - 15

(lb/100ft2)
pH

9 - 11

9 - 11

9 - 11

API Filtrate ( cm3/30 min

10 - 12

10 - 12

5-8

KCL

KCL

KCL

)
Additives
5.8. Casing Design
Casing design pada sumur ini terdiri dari trayek conductor casing,
surface casing, intermediate casing, production casing. Pada trayek
conductor casing menggunakan grade H-40 dan surface casing
menggunakan casing J-55 didasarkan dari perhitungan beban burst
maupun collapse grade ini mampu menahan beban tersebut pada trayek
ini, sama hal nya untuk trayek intermediate menggunakan casing H-40, dan
trayek production menggunakan casing H-40 agar dapat menahan tension,
tekanan burst, tekanan collapse, dan abnormal pressure. Berikut ini adalah
tabel perencanaan casing design :

117

Tabel V-5. Perencanaan Casing


Casing
Size

Depth,ft

Grade
Casing

Berat,lbm/ft Koneksi

Collapse

Burst

Resistance,psi Resistance,psi

20"

262.4

H-40

94

BTC

13 3/8"

1232

J-55

54.5

BTC

1130

2730

9 5/8"

1612

H-40

32.3

BTC

1370

2270

7"

2230.4

H-40

20

BTC

1970

2720

5.9. Program Semen


Semen digunakan untuk memperkuat casing dan mengisolasi
casing dari formasi, Semen yang digunakan adalah kelas G. Pada
penyemenan zona casing produksi densitas berkisar 11.5 ppg untuk tail
dan 10.45 ppg untuk lead. Berikut adalah tabel program semen yang akan
digunakan untuk sumur ini :
Tabel V-6.Program Semen
HOLE SIZE

17

12

Slurry Type

Lead

Lead

Lead

Cement Density

9.63

10.13

10.45

Slurry Type

Tail

Tail

Tail

Cement Density

10.68

11.18

11.5

118

5.10. Profil Sumur


5.10.1.

Profil Penampang Sumur Infill

Conductor

20, H-40, 262.4 ft

Surface

13 3/8, J-55, 1232 ft

Intermediate

9 5/8, H-40, 1612 ft

Production

7, H-40, 2230.4 ft

119

5.10.2. Profil Penampang Sumur Infill Horizontal

5.10.3. Profil Penampang Sumur Infill Multilateral

120

5.11. Completion
Komplesi

sumur

dilakukan

pada

tahap

akhir

atau

tahap

penyempurnaan proses pemboran agar sumur siap produksi. Agar laju


produksi optimum dan tidak menimbulkan efek negatif terhadap formasi,
jenis dan metode komplesi sumur harus sesuai.
Tipe komplesi yang akan digunakan adalah Open Hole Completion,
untuk tipenya yakni Comingle Completion ( ada lebih dari satu lapisan yang
di produksikan ). Untuk X-mastree yang di gunakan adalah 3 1/8 x 2 1/16
x 3000 psi.
Ukurang tubing yang digunakan adalah 2 7/8 untuk mengalirkan
fluida hidrokarbon dari reservoir sampai ke permukaan.
5.12. Desain BOP
Blow Out Preventer merupakan peralatan yang vital dalam proses
pemboran karena berfungsi sebagai pengaman untuk mencegah semburan
liar di permukaan. Lapangan ini merupakan lapangan dengan kedalaman
relatif dangkal. Satu rangkaian BOP terdiri dari :

Annular Preventer

Ram Preventer

Casing Head

Kill Line

Choke Line

5.13. Waktu Rencana Pelaksanaan Pemboran dan Estimasi Biaya


Pemboran
Perencanaan

waktu

pelaksanaan

pemboran

dibuat

untuk

memperkirakan lama operasi pemboran agar dapat memperkirakan biaya


yang digunakan untuk pemboran sumur. Biaya yang dikeluarkan untuk
pembuatan sumur diantaranya adalah biaya rig, casing, pekerja, peralatan,
121

material dan lain-lain. Waktu rencana pelaksanaan pemboran dapat dilihat


pada table dan gambar berikut. Sedangkan biaya-biaya yang dikeluarkan
untuk

membuat

satu

sumur

tersebut

dideskripsikan

dalam AFE

(Authorization For Expendeture) pada table di bawah ini.


Tabel V-7. Estimasi Waktu Pemboran
Ket
AB

BC
CD
D E
EF
FG
GH
HI
IJ
JK
KL

Operation
Preparation
Rig-up, termasuk R/U Top Drive dan stand-up DP &
DC.
Drilling 17.5" OH to 375 m, Circulation, Trip, POOH &
L/D BHA
RIH & 13.3/8" Casing Cementing job, WOC, N/U
WellHead, N/U BOP & Pressure Test
Drilling 12.25" OH to 491 m, Circulation, Trip, POOH &
L/D BHA
RIH & Cement Casing 12.1/4", TSK, N/U WellHead,
N/U & Tes BOP
Drilling 8.5" OH to 680 m, Circulation, Trip, POOH &
L/D BHA
RIH & Cement Casing 7", TSK, N/U WellHead, N/U &
Tes BOP
RIH Scrapper to Liner depth interval, RIH and perform
production casing cementing job
RIH Casing Scrapper, RIH Production String & Set
Packer.
N/D BOP Stack. N/U X-masstree. Production Test
Rig Down
TOTAL OPERASIONAL DAYS

122

Days
0
7

Depth,
M
0
0

9.514509

375

11.99806

375

13.82585

491

15.57709

491

17.66168

680

18.20335

680

19.63662

680

22.87769

680

25.87769
28.87769
28.87769

680
680
680

Gambar 5.5. Estimasi Waktu Pemboran


Tabel V-8. Estimasi Biaya Pemboran
L

WORK

PROGRAM

DESCRIPTION

& BUDGET

E
TANGIBLE COST
1

CASING

111,624

CASING ACCESSORIES

41,551

TUBING

11,066

WELL EQUIPMENT-SURFACE

115,932

WELL EQUIPMENT-SUBSURFACE

13,532

OTHER TANGIBLE COST

TOTAL TANGIBLE COSTS

293,704

INTANGIBLE COSTS
PREPARETION AND TERMINATION
1

SURVEYS

5,119

LOCATION STAKING AND POSITIONING

WELL SITE & ACCESS ROAD PREPARATION

SERVICE LINES & COMMUNICATIONS

2,892

WATER SYSTEMS

274,077

RIGGING UP / RIGGING DOWN

203,363

123

SUB TOTAL

485,450

DRILLING / WORKOVER OPERATIONS


1

CONTRACT RIG

301,099

DRILLING RIG CREW / CONTRACT RIG CREW

MUD, CHEMICAL & ENG SERVICES

203,383

WATER

BITS, REAMERS AND CORE HEADS

34,951

EQUIPMENT RENTAL

81,060

DIRECTIONAL DRILLING AND SURVEYS

DIVING SERVICES

CASING INSTALATION

10

CEMENT, CEMENTING AND PUMPING FEES

107,483

11

OTHER (MONITOR, DISPOSAL & H2S SAFETY SERVICES)

SUB TOTAL

727,976

FORMATION EVALUATION
1

CORING

MUD LOGGING SERVICES

24,928

DRILLSTEM TEST

OPEN HOLE ELECTRICAL LOGGING SERVICES

18,735

SUB TOTAL

43,663

COMPLETION
1

CASING, LINER AND TUBING INSTALLATION

CEMENT, CEMENTING & PUMPING FEES

4,818

CASED HOLE ELECTRICAL LOGGING SERVICES

10,769

PERFORATING AND WIRELINE SERVICES

28,861

STIMULATION TREATMENT

PRODUCTION TEST

SUB TOTAL

44,448

GENERAL
1

SUPERVISION

20,186

INSURANCE

893

PERMITS AND FEES

8,462

MARINE RENTAL AND CHARTERS

124

HELICOPTER AND AVIATION CHARGES

LAND TRANSPORTATION

5,663

OTHER TRANSPORTATION

FUEL AND LUBRICANTS

49,242

CAMP FACILITIES

5,692

10

ALLOCATED OVERHEADS - FIELD OFFICE

11

- JAKARTA OFFICES

51,634
51,634

SUB TOTAL

193,406

TOTAL INTAGIBLE COST


TOTAL COST

1,494,944
1,788,648

- THIS YEARS

1,788,648
1,788,648

TOTAL

5.14. Program Kerja


5.14.1. Persiapan Tajak
Sebelum tajak pastikan lokasi pemboran, logistik dan transportasi,
rig dan semua peralatan telah siap. pastikan juga semua peralatan dan
material, termasuk suku cadang telah siap di lokasi dan lakukan checklist
persiapan tajak, yaitu :
1. Setelah Rig-Up, periksa kembali dan konfirmasikan segala hal yang
berhubungan dengan space-out BOP dan Well Head.
2. Periksa dan lakukan functional test terhadap peratalan Rig,
diyakinkan berfungsi dengan baik.
3. Lakukan inspeksi (safety check list dari instansi yang berwenang)
masalah keselamatan instalasi pengeboran, peralatan pemadam
kebakaran dan peralatan keselamatan kerja, termasuk peralatan
pendeteksi gas beracun H2S, Co2 dan Breathing aparatus.

125

4. Periksa semua tanki lumpur dan peralatan solid control dalam kondisi
kerja yang baik.
5. Periksa persediaan spare part pompa lumpur, komponen rig, dan
persediaan mud screen.
6. Periksa semua peralatan komunikasi, yakinkan berfungsi dengan
baik.
7. Periksa dan pastikan semua komponen Pahat dan Crossover yang
dibutuhkan untuk merangkai BHA telah tersedia dan dalam kondisi
baik.
8. Pastikan semua peralatan dan material sudah tersedia di well site
dan dalam kondisi baik. Pastikan alat untuk peralatan fishing tersedia
komplit dan dalam kondisi yang baik.
9. Siapkan dan pasang handling tools untuk masuk rangkaian BHA dan
Casing semua trayek.
10. Periksa seluruh system sambungan dan diuji sampai tekanan kerja.
11. Lakukan safety meeting di lokasi untuk memastikan seluruh personil
dapat mengetahui tanggung jawab, prosedur dan keselamatan kerja.
12. Pastikan semua material (Mud chemical, casing, dll.) serta peralatan
untuk kebutuhan sumur telah tersedia

5.14.2. Penumbukan Conductor casing 20


Pada trayek ini tidak di lakukan operasi pemboran melainkan dengan
proses penumbukkan selubung ukuran Conductor casing 20 pada
kedalaman 262.4 ft. setelah trayek ini baru di laukan proses pemboran
dengan meggunakan Roller Cone Bit.
5.14.3. Trayek Lubang 17
Kedalaman Trayek : 1232 ft
Lumpur

: KCL Polimer, 8.75 9.53 ppg

Pahat

: Tricone Bit IADC 1,1,5

BOP

: 21 x 5000 psi
126

Casing

: 13 3/8,J-55,54.5 lb/ft,BTC

5.14.3.1. Operasi Pemboran


1. Bor formasi dengan pahat 17 menggunakan tricone bit sampai

kedalaman 1232 ft.. Pasang dan semen Selubung 13 3/8 di


kedalaman 1232 ft dengan guide shoe, float collar dan centralizer
pada casing.
2. Pasang BOP 13 3/8 x 5000 psi. Tes tekanan 2500 psi.
3. Pasang BHA dan bit 12 ,bersiap untuk lanjut melakukan proses

pemboran trayek selanjutnya.


4. Melakukan LOT.

5.14.3.2. Lithologi
Menurut Spruyt (1956) formasi in terlatak selaras diatas Formasi Air
Benakat. Formasi ini dapat dibagi menjadi dua anggota a dan anggota b.
Anggota a disebut juga Anggota Coklat (Brown Member) terdiri atas
batulempung dan batupasir coklat sampai coklat kelabu, batupasir
berukuran halus sampai sedang. Didaerah Palembang terdapat juga
lapisan batubara. Anggota b disebut juga Anggota Hijau Kebiruan (Blue
Green Member) terdiri atas batulempung pasiran dan batulempung tufaan
yang berwarna biru hijau, beberapa lapisan batubara berwarna merah-tua
gelap, batupasir kasar halus berwarna putih sampai kelabu terang.
Ketebalan formasi ini sekitar 450 -750 meter.
5.14.3.3. Pipa Terjepit
Pipa terjepit yakni keadaan di mana rangkaian drill string tidak dapat
berputar ataupun di naik-turunkan, hal ini di antara nya dapat di sebabkan
akibat terjepit dari fomrasi yang mengembang ( swelling clay ) maupun juga
dapat terjadi akibat runtuhan formasi. Pada trayek ini menembus batuan
lempung yang berpotensi untuk terjadinya swelling clay, namun keadaan ini
sudah di antisipasi dengan menggunakan lumpur jenis KCL Polimer yang

127

memang sering di gunakan untuk menembus jenis formasi lempung guna


menghindari terjadinya swelling clay.
5.14.4. Trayek Lubang 12
Kedalaman Trayek : 1612 ft
Lumpur

: KCL Polimer, 9.53 10.14 ppg

Pahat

: Tricone Bit IADC 1,3,5

BOP

: 13 5/8 x 5000 psi

Casing

: 9 5/8,H-32.3 lb/ft, BTC

5.14.4.1. Operasi Pemboran


1. Bor formasi dengan pahat 12 1/4 menggunakan bit tricone
sampai kedalaman 1612 ft, masuk dan semen selubung 9 5/8 di
kedalaman 1612 dengan guide shoe, float collar dan centralizer
casing.
2. Pasang BOP 9 5/8 x 5000 psi, tes tekanan 2500 psi
3. Pasang BHA dan bit 8 1/2, bersiap untuk melanjutkan proses
pemboran trayek produksi.
4. Melakukan LOT.
5.14.4.2. Lithologi
Menurut Spruyt (1956), formasi ini merupakan tahap awal dari siklus
pengendapan Kelompok Palembang, yaitu pada saat permulaan dari
endapan susut laut. Formasi ini berumur dari Miosen Akhir hingga Pliosen.
Litologinya terdiri atas batupasir tufaan, sedikit atau banyak lempung tufaan
yang berselang-seling dengan batugamping napalan atau batupasirnya
semakin keatas semakin berkurang kandungan glaukonitnya. Pada formasi
ini dijumpaiGlobigerina spp, tetapi banyak mengadung Rotalia spp. Pada
bagian atas banyak dijumpai Molusca dan sisa tumbuhan. Di Limau, dalam
penyelidikan Spruyt (1956) ditemukan serpih lempungan yang berwarna

128

biru sampai coklat kelabu, serpih lempung pasiran dan batupasir tufaan.
Ketebalan formasi ini berkisar 250 1550 meter.
5.14.4.3. Pipa Terjepit
Pipa terjepit yakni keadaan di mana rangkaian drill string tidak dapat
berputar ataupun di naik-turunkan, hal ini di antara nya dapat di sebabkan
akibat terjepit dari fomrasi yang mengembang ( swelling clay ) maupun juga
dapat terjadi akibat runtuhan formasi. Pada trayek ini menembus batuan
lempung yang berpotensi untuk terjadinya swelling clay, namun keadaan ini
sudah di antisipasi dengan menggunakan lumpur jenis KCL Polimer yang
memang sering di gunakan untuk menembus jenis formasi lempung guna
menghindari terjadinya swelling clay.
5.14.4. Trayek Lubang 8
Kedalaman Trayek : 2230.4 ft
Lumpur

: KCL Polimer 10.14 10.75 ppg

Pahat

: Tricone Bit IADC 1,3,5

BOP

: 9 5/8 x 5000 psi

Casing

: 7,H 40 lb/ft, BTC

5.14.4.1. Operasi Pemboran


1. Bor dengan pahat 8 menggunakan tricone bit. sampai kedalaman
2230.4 ft. Masuk dan semen Produksi casing 7 di kedalaman 2230.4
ft dengan guide shoe, float collar dan centralizer casing.
2.

Sirkulasikan lubang sampai bersih.

3.

Logging lapisan produktif. Kemudian lakukan completion.

4.

Rig down.

5.14.4.2. Lithologi
Menurut Spruyt (1956), formasi ini merupakan tahap awal dari siklus
129

pengendapan Kelompok Palembang, yaitu pada saat permulaan dari


endapan susut laut. Formasi ini berumur dari Miosen Akhir hingga Pliosen.
Litologinya terdiri atas batupasir tufaan, sedikit atau banyak lempung tufaan
yang berselang-seling dengan batugamping napalan atau batupasirnya
semakin keatas semakin berkurang kandungan glaukonitnya. Pada formasi
ini dijumpaiGlobigerina spp, tetapi banyak mengadung Rotalia spp. Pada
bagian atas banyak dijumpai Molusca dan sisa tumbuhan. Di Limau, dalam
penyelidikan Spruyt (1956) ditemukan serpih lempungan yang berwarna
biru sampai coklat kelabu, serpih lempung pasiran dan batupasir tufaan.
Ketebalan formasi ini berkisar 250 1550 meter.
5.14.4.3. Pipa Terjepit
Pipa terjepit yakni keadaan di mana rangkaian drill string tidak dapat
berputar ataupun di naik-turunkan, hal ini di antara nya dapat di sebabkan
akibat terjepit dari fomrasi yang mengembang ( swelling clay ) maupun juga
dapat terjadi akibat runtuhan formasi. Pada trayek ini menembus batuan
lempung yang berpotensi untuk terjadinya swelling clay, namun keadaan ini
sudah di antisipasi dengan menggunakan lumpur jenis KCL Polimer yang
memang sering di gunakan untuk menembus jenis formasi lempung guna
menghindari terjadinya swelling clay.
5.14.5. Hal Khusus
1. Pasang detector gas beracun pada tempat tempat tertentu di
sekitar cellar dan perangkat bor.
2. Pengambilan serbuk bor dengan pengawasan Well site geologist
3. Composite Log harus di buat menurut pedoman Standard
4. Sebelum operasi dimulai harus dilakukan commisioning dan
functional test terhadap seluruh peralatan Rig dibawah
pengawasan Company Man, dan di yakinkan berfungsi dengan
baik
5. Lumpur agar dicampur dengan anti korosi terhadap metal
6. Pada daerah hilang sirkulasi ( Zona Loss ) atasi dengan material
130

sumbat sampai hilang sirkulasi mengecil , kemudian di ikuti


dengan sumbat semen.
7. Setiap akan menyemen selubung , kondisikan lubang dan
sirkulasai sampai bersih
8. Bila terjadi hambatan pada saat pemboran karena kerusakan
peralatan , cabut rangkaian pahat sampai Casing shoe
9. Apabila terjadi hilang Lumpur , cabut rangkaian minimal 1 (satu )
stand pipa bor secepat mungkin atau sampai shoe selubung ,
untuk menghindari rangkaian terjepit.
11. Bila rangkaian terjepit , segera pompakan dan rendam rangkaian
dengan campuran solar + chemical lubrikasi ( konsentrasi 10
25 % ) selama 3 4 jam, sambil gerakan rangkaian dan kerjakan
jar.
12. Jika terjadi kick langsung tutup BOP, matikan pompa kemudian
cek apakah ada aliran di flow line, jika ada aliran buka chock,
normalkan bottomhole pressure.
13. Penyimpangan program atau pola yang telah di tentukan harus
mendapat persetujuan Pimpinan.
14. Peralatan Safety (BOP, BPM, Relif Valve pompa Lumpur) harus
diperiksa dan di uji sesuai dengan tekanan kerja peralatan
tersebut setiap setelah pemasangan (sebelum mengebor trayek
baru), di bawah pengawasan Company Man dan diyakinkan teruji
dengan baik.
15. Waspada terhadap kemungkinan terjadinya hilang sirkulasi,
jepitan, overpressured dan masalah limbah pemboran.
16. Seluruh program material dapat berubah, tergantung pada
kondisi pemboran.
17. Buat berita acara tajak sumur
penyelesaian/penutupan sumur.

131

dan

berita

acara

5.14.6. Lain-Lain
1. Pengelolaan Lumpur dilaksanakan oleh Mud Engineer disupervisi
oleh Company Man.
2. Deskripsi serbuk bor dan batuan oleh Wellsite Geologist , serta
laporan dibuat sesuai standar
3. Penyemenan dilaksanakan oleh Cementing Services dibawah
pengawasan Company Man.
4. Ikuti SOP pada setiap pelaksanaan kerja, utamakan keselamatan
kerja serta cegah pencemaran lingkungan.
5. Apabila ada perubahan yang prinsip dari program ini harus
dikomunikasikan kepada TIM dan mendapat persetujuan dari
Pimpinan Pusat.
5.14.7. Lindung Lingkungan
1. Pengeloaan Limbah dilaksanakan oleh HSE, Well site Supervisor
dan di bantu oleh Rig Superintentent , Company Man
2. HSE wajib melaporkan ketinggian air limbah
3. Water Disposal dan Water Treatmen harus berfungsi dengan baik
4. Usahakan dapat di lakukan dengan sistim sirkulasi tertutup
5. Hindari kebocoran minyak Pelumas, solar, Lumpur dll

132

BAB VI
FASILITAS PRODUKSI

Setelah memperkirakan kinerja produksi dari suatu lapangan


minyak,

hal

penting

yang

harus

dilakukan

selanjutnya

adalah

merencanakan fasilitas untuk memproduksikan hidrokarbon di lapangan


tersebut. Fasilitas produksi mencakup fasilitas produksi di sumuran, fasilitas
transportasi ke

stasiun pengumpul maupun ke titik lainnya, fasilitas

pemisahan fasa fluida terproduksi, dan fasilitas penyimpanan hidrokarbon.


Pada bab ini akan dibahas tentang fasilitas produksi yang rencanannya
akan kami terapka dalam perencanaan pengenmbangan lapangan Beta.
6.1 Fasilitas Sumuran
1) Kepala Sumur (Wellhead)
Kepala sumur merupakan peralatan kontrol sumur di permukaan yang
terbuat dari besi baja membentuk suatu sistem seal/penyekat untuk
menahan semburan atau kebocoran cairan sumur ke permukaan yang
tersusun atas casing head (casing hanger) dan tubing head (tubing hanger).
1. Casing Head
Merupakan fitting (sambungan) tempat menggantungkan casing.
Diantara casing string pada casing head terdapat seal untuk
menahan aliran fluida keluar. Pada casing head terdapat pula gas
outlet yang berfungsi untuk :
-

Meredusi tekanan gas yang mungkin timbul diantara casing

string.
-

Mengalirkan fluida di annulus (produksi).

2. Tubing Head
Alat ini terletak dibawah x-mastree untuk menggantungkan tubing
dengan sistem keranan (x-mastree). Funsi utama dari tubing head,
adalah :
133

- Sebagai penyokong rangkaian tubing.


- Menutup ruangan antara casing-tubing pada waktu pemasangan
x-mastree atau perbaikan kerangan/valve.
-

Fluida yang mengalir dapat dikontrol dengan adanya connection


diatasnya.

2) X-mass Tree
Alat ini mrupakan susunan kerangan (valve) yang berfungsi sebagai
pengamanan dan pengatur aliran produksi di permukaan yang dicirikan
oleh jumlah sayap/lengan (wing) dimana choke atau bean atau jepitan
berada. Peralatan pada x-mastree terdiri :
1. Manometer tekanan dan temperatur, ditempatkan pada tubing line
dan casing line.
2. Master valve/gate, berfungsi untuk membuka atau menutup sumur,
jumlahnya satu atau tergantung pada kapasitas dan tekanan kerja
sumur.
3. Wing valve/gate, terletak di wing/lengan dan jumlahnya tergantung
kapasitas dan tekanan kerja sumur yang berfungsi untuk
mengarahkan aliran produksi sumur.
4. Choke/bean/jepitan, merupakan valve yang berfungsi sebagai
penahan dan pengatur aliran produksi sumur, melalui lubang (orifice)
yang ada. Ada dua macam choke, yaitu :
-

Positive choke : merupakan valve dimana lubang (orifice) yang ada


sudah mempunyai diameter tertentu, sehingga pengaturan aliran
tergantung pada diameter orificenya.

Adjustable choke : choke ini lebih fleksible karena diameter orifice


dapat diatur sesuai posisi needle terhadap seat sehingga
pengaturan alirannya pun fleksible sesuai keperluan (tekanan dan
laju aliran).

5. Check valve, merupakan valve yang hanya dapat mengalirkan fluida


pada satu arah tertentu yang berfungsi untuk menahan aliran dan
134

tekanan balik dari separator. Pada x-mastree, check valve ini


ditempatkan setelah choke sebelum masuk flow-line.
Penambahan fasilitas di sumuran ini akan sangat tergantung pada
jumlah penambahan sumur infill pada scenario yang di pilih.
Penambahan fasilitas sumuran akan sebanyak jumlah sumur baru yang
akan dibuat.

6.2 Fasilitas Transportasi ke Stasiun Pengumpul


Pada lapangan Beta fluida produksi yang berasal dari sumur akan
dialirkan ke stasiun pengumpul melalui pipa salur dengan diameter 2 7/8 in.
Namun dibeberapa titik akan dipasang manifold dan header berukuran 7 in
untuk menggabungkan beberapa sumur di menjadi satu aliran menuju
stasiun pengumpul. Berikut ini adalah perencanaan jalur pipa berdasarkan
kondisi permukaan di lokasi operasi.

Gambar 6.1 Jalur Pipa Salur Lapangan Beta

135

6.3 Fasilitas Stasiun Pengumpul


Setelah fluida produksi mengalir ke permukaan maka kemudian
fluida produksi tersebut dialirkan menuju stasiun pengumpul melalui pipa
salur. Pada stasiun pengumpul ini kemudian fluida terproduksi akan
dipisahkan menurut fasanya yaitu minyak gas dan air. Fungsi dari
pemisahan ini adalah agar minyak/gas yang terproduksi dapat memenuhi
standar untuk dijual ke konsumen.

Setelah

melalui

serangkaian

proses transportasi dan pemisahan kemudian masing-masing fasa akan


dialirkan menuju fasilitas yang berbeda. Pada lapangan Beta minyak yang
terproduksi

yang telah mengalami serangkaian proses pemisahan akan

ditampung ke dalam storage tank untuk kemudian didistribusikan ke


konsumen melaui pipa, mobil tanki, maupun kapal. Sedangkan gas
teproduksi akan dilakukan dehidrasi dan dikompresi untuk nantinya
diinjeksikan lagi ke reservoir dan di flare, dan air akan ditampung ke tanki
penimbunan dan kemudian di proses di water treatment plant (WTP) yang
telah disiapkan untuk dioalah dan kemudian disiapkan untuk diinjeksikan
kembali ke reservoir.
6.3.1 Proses Separasi Fluida Terproduksi
Pada proses ini, fluida teproduksi akan dilakukan pemisahan sesuai
fasa. Proses ini membutuhkan beberapa fasilitas peralatan di stasiun
pengumpul. Berikut ini adalah penjelasan tentang fasilitas yang rencananya
akan digunakan pada stasiun pengumpul lapangan Beta.
1) Manifold
Manifold adalah serangkaian kerangan atau valve yang berfungsi
untuk menyamakan tekanan dari beberapa aliran fluida sebelum
digabungkan menjadi satu aliran pada pipa header. Header
digunakan pada lapangan Beta untuk menggabungkan aliran dari
beberapa sumur sebelum memasuki stasiun pengumpul untuk
pengolahan selanjutnya.
136

2) Separator Produksi
Separator merupakan vessel yang berfungsi untuk memisahkan
fluida produksi menurut fasanya. Terdapat beberapa separator yang
rencananya akan digunakan pada lapangan Beta yaitu, separator 3
fasa (FWKO) untuk pemisahan tahap pertama fasa minyak, air, dah
gas, dan separator 2 fasa unntuk mengantisipasi masih adanya fasa
gas yang terikut dalam pemisahan tahap pertama.
3) Free Water Knock Out (FWKO)
Free Water Knock Out adalah separator 3 fasa yang fungsi
utamanya adalam memisahkan air yang terproduksi dari minyak
pada fasa bebas.

4) Seperator Tes
Separator tes adalah separator tiga fasa yang fungsinya adalah
untuk mengetahui laju alir minyak, air, dan gas dari suatu sumur.
5) Knock Out Drum
KO Drum adalah vessel yang digunakan untuk memisahkan fasa
cairan yang mungkin masih terikut dari fasa gas sebelum dikompresi
atau diflare.
6) Oil Skimmer Vessel
Oil skimmer adalah alat yang digunakan untuk memisahkan fasa
minyak yang masih terbawa oleh aliran air dari pemisahan tahap
pertama.

137

7) Level Controller
Level controller merupakan alat yang digunakan untuk mengontrol
tinggi kolom fluida di dalam suatu vessel. Alat ini bekerja dengan
secara kontinyu mengukur level fluida dalam alat dan memberikan
signal kepada control valve untuk membuka dan menutup untuk
menyesuiakan tinggi kolom fluida di dalam vessel.
8) Pressure Controller
Pressure controller adalah alat yang digunakan untuk mengatur
tekanan yang ada di dalam suatu vessel. Alat ini bekerja dengan cara
memberikan signal kepada control valve untuk membuka dan
menutup

untuk menyesuaikan tekanan gas di dalam valve.

Biasanya melibatkan blanket gas untuk menambah tekanan vessel


bila dianggap kurang.
9) Storage Tank
Storage tank merupakan tanki yang digunakan untuk menyimpan
fluida terproduksi yang telah berhasil dipisahkan maupun bahan
kimia. Storage tank yang digunakan untuk penyimpanan minyak di
lapangan Beta didesain menggunakan storage tank tipe floating roof
untuk mengantisipasi tekanan uap yang terbentuk pada tanki.
10) Gas Scrubber (suction)
Gas scrubber merupakan peralatan pemisah yang digunakan untuk
menagkap butiran cairan yang terikut dalam gas sebagai liquid
carryover sebelum masuk ke kompresor agar kompresor terhindar
dari kerusakan akibat adanya cairan.
11) Flare Pit
Flare pit adalah alat yang digunakan untuk membakar gas
terproduksi yang tidak digunakan. Pada lapangan Beta, flare pit
138

dipasang diatas tower untuk alasan keselamatan. Sebagian gas


tetap dibakar walaupun pada dasarnya akan dikembalikan ke
reservoir. Hal ini dilakukan atas dasar alasan safety untuk
mengantisipasi adanya lonjakan produksi gas yang melebihi
kemampuan fasilitas produksi.
12) Kompresor
Kompresor adalah alat yang digunakan untuk menambah tekanan
gas sepanjang aliran produksi dan injeksi lapangan Beta. Pada
lapangan Beta gas akan dikompresi sampai tekanan injeksi dengan
3 tahap dengan rasio kompresi sekitar2 untuk tiap stagenya.

139

Gambar 6.2 Skema Fasilitas di Stasiun Pengumpul Lapangan


Beta

140

Dari skema terlihat pada stasiun pengumpul lapangan Beta


digunakan dua header yang berbeda. Header yang pertama dan utama
adalah header produksi yang mengalirkan menuju FWKO. Header kedua
adalah test header yang digunakan untuk operasi tes sumur.
6.3.2 Water Treatment Plant
Air formasi yang ikut terproduksi pada produksi minyak di lapangan
Beta setelah dipisahkan dari skimmer akan menjalani serangkaian proses
untuk memastikan kualitas air agar layak diinjeksikan kembali ke reservoir
di lapangan Beta. Pada lapangan Beta ini Wilayah kerja pertambangan
berencana bekerja sama dengan pihak ketiga yaitu Veolio Water
Management yaitu perusahaan penyedia teknologi pemurnian air limbah
dengan memilih produk OPUS II yang mereka tawarkan dengan kapasitas
3200 BWPD.

Gambar 6.3 Skema Water Treatment Plant OPUS II


Teknologi OPUS II terdiri dari serangkaian proses treatment yang
melibatkan chemical softening, filtrasi membrane, ion echange softening,
dan reverse osmosis yang dioperasikan pada pH yang dinaikan. Proses
pretreatment sebelum proses RO didesain untuk mengurangi minyak
bebas, hardness, logam, dan padatan terlarut pada air terproduksi. Proses

141

RO dilakukan pada pH yang dinaikan yang secara efektif mengotrol zat


partikel, biologi, dan organic pengotor, dan mencegah pembentukan scale
akibat silica, dan menghilangkan silica, zat organic, dan boron.
Pada teknologi OPUS II, feed water pertama kali menjalani proses
softening kimia, yang merupakan pemisahan minyak bebas dan padatan
dari air yang menggunakan teknologi ultrafiltrasi CeraMem. Proses ini terdiri
dari serangkaian tanki reaksi yang dilanjutkan pada tanki kristalisasi yang
dilengkapi dengan teknologi pencampuran Turbomix yang mengakibatkan
pengendapan dari kekerasan dan logam pada feed water dan kristalisasi
padatan yang terbentuk dari pengendapan. Air yang sudah dilembutkan
dan padatan yang sudam mengkristal kemudian diproses melalui sistem
ultrafiltrasi membrane keramik yang dioperasikan dengan prinsip cross-flow
untuk menghilangkan minyak bebas, kekerasan total, dan padatan yang
terendapkan pada konsentrasi yang lebih rendah. Limbah padatan dari
proses CeraMem secara kontinyu di proses kembali pada tanki kristalisasi
dan dibersihkan secara berkala. Filtrat dari proses CeraMem kemudian ditreat dengan ion exchange softening memanfaatkan resin Weak Acid
Cation (WAC) pada bentuk sodium untuk pemisahan kekerasan dan logam
terlarut menjadi konsentrasi yang lebih rendah tanpa koreksi pH. Air yang
telah melewati treatment awal kemudian ditekan melewati RO yang
dioperasikan dengan pH yang dinaikan pada mode pass tunggal atau
ganda untuk mengurangi TDS, boron, dan zat organic.
Sebelum air produksi diinjeksikan kembali ke reservoir, sebelumnya
air akan diambil untuk dianalisa di laboratorium. Hasil analisa seharusnya
akan berada dibawah ambang batas baku injeksi air yang diizinkan oleh
Kepmen KLH atau SK Gubernur airnya dibuang ke lingkungan. Apabila
melebihi standard KLH/Gubernur air akan diproses kembali.

142

Tabel VI-1 Performa WTP OPUS II

6.3.3 Perencanaan Pengadaan Fasilitas Produksi Lapagan Beta


Dalam perencanaan pengembangan lapangan Beta, perusahaan
kami akan melakukan pengadaan fasilitas produksi untuk medukung
operasi kami di Lapangan Beta. Perencanaan pengadaan fasilitas produksi
ini dirancang berdasarkan kemampuan produksi lapangan yang dihasilkan
dari simulasi reservoir.
Berdasarkan analisa kebutuhan fasilitas produksi pada skenario
pengembangan yang akan dilakukan, maka beberapa fasilitas yang
diajukan untuk ditambahkan adalah sebagai berikut:
Tabel VI-2 Perancanaan Pengadaan Fasilitas Produksi Lapangan
Beta
Item

Sizing

FWKO

48" OD x

Horizontal

10'

3 phase Test

24" OD x

Separator

10'

2 phase

36" OD x

Separator

10'

Liq

Gas

Capacity

Capacity

BPD

MMSCFD

3170

WP

Unit

35

720

780

9.2

720

3325

14.8

720

143

Oil Skimmer
Vessel

3000

Knock Out Drum

1
7 MMSCFD

Gas Scrubber

Compressor

Booster Pump

Water Treatment

3200

Oil Tank

5000

Water Tank

5000

Backup Tank

3000

Plant

Manifold

Pipeline 2 7/8 in
Christmast
Three
Well Head
Power
Generator 1000

Kva
Flare Stack Unit

144

BAB VII
FIELD DEVELOPMENT SCENARIO

7.1.

Sejarah Lapangan Beta


Lapangan Beta adalah lapangan yang telah diberikan pemerintah

pada 30 desember 2003 dan lapangan ini diberikan kontrak selama 30


tahun. Lapangan ini terdapat formasi air bekanat yang batuannya adalah
batuan pasir dan memiliki 5 lapisan yaitu Z380, R10, Z450, Z550 and Z650.
Namun yang akan dikembangkan pada lapangan ini hanya 3 lapisan yaitu
Z380, Z550 and Z650.
Lapangan ini pada saat ini telah melewati tahap eksplorasi dengan
membuat 4 sumur. Sumur beta 1 di buat pertamakali 4 maret 2007, sumur
ini di buat untuk mengetahui apakah benar reservoir memiliki kandungan
minyak. Kemudian sumur beta 2 di buat untuk dapat mengetahui contak
antara air dan minyak (WOC) pada reservoir. Selanjutnya sumur beta 3di
buat untuk dapat mengetahui jenis sesar yang membagi antara beta 1 dan
beta 2 dan mengetahui batas hidrokarbon yang searah. Dan yang terakhir
beta 4 di buat untuk di puncak antiklin dapat mengetahui stratigrafi secara
detail dari lapisan atas sampai lapisan bawah yang mungkin tidak dapat
ditembus oleh sumur 1.
7.2.

Tahapan Pengembangan Lapangan.


Lapangan beta belum berpoduksi, namun setelah dihitung

menggunakan volumetrik pada reservoir air bekanat ini memiliki OOIP


sebesar 21,45 MMSTB dan recovery factor yang di hitung menggunakan
JJ.Arps sebesar 35%. Selain itu hasil analisa dari data-data yang ada
menyatakan bahwa agar lapangan ini dapat dikembangkan. Berdasarkan
data yang ada, maka dapat menggunakan simulasi reservoir untuk
mensimulasikan dan prediksi produksi dari reservoir tersebut.
145

Untuk dapat merubah lapangan beta dari lapangan eksplorasi


menjadi

lapangan

eksplorasi,

dapat

dilakukan

dengan

cara

menamambahkan sumur infill baik secara vertical, horizontal maupun


Multilateral drilling. Selain itu untuk sumur injeksi (injeksi gas atau air) dapat
pula ditambahakan untuk dapat menguras hidrokarbon yang tersisa.
Perencanaan

pengembangan

lapangan

tersebut

didasarkan

atas

pertimbangan-pertimbangan yang mencakup beberapa aspek baik ditinjau


secara geologi, reservoir, pemboran, produksi dan keekonomian lapangan
yang paling memungkinkan.
7.3.

Skenario Pengembangan Lapangan.


Seperti

yang

telah

disebutkan

sebelumnya

pengembangan

lapangan yang dilakukan yaitu dengan cara pemboran sumur infill dan
penambahan sumur injeksi. mempertimbangkan aspek-aspek yang telah
disebutkan di atas juga didasarkan pada pertimbangan faktor perolehan,
distribusi saturasi air, permeabilitas, porositas, volume clay dan tekanan.
Pada kali ini akan dilakukan skenario yang dilakukan sebanyak 4 skenario,
meliputi :

Skenario 1.
Basecase + Dilakukan 11 sumur infill vertikal.

Skenario 2.
Basecase + Dilakukan 8 sumur infill vertikal dan 2 sumur injeksi air.

Skenario 3.
Basecase + 4 infill vertikal, 3 Infill Horizontal, 3 infill Multilateral, 2
injeksi gas dan 1 injeksi air.

Skenario 4.
Basecase + penambahan Multilateral pada sumur Beta 1,2,3 dan 4,
1 infill vertikal, 1 infill horizontal, 6 sumur infill Multilateral dan 2
injeksi air.
Seperti yang udah dijelas bahwa metode yang dilakukan untuk

meramalkan produksi menggunakan analisa simulasi reservoir. Melalui ini


146

akan

diketahui

seberapa

besar

minyak

yang

diperoleh

dengan

penambahan skenario-skenario yang ada. Berikut adalah tabel kegiatan


skenario pengembangan lapangan :
Tabel VII-1 Skenario 1
Skenario 1
No

Nama Kegiatan

Tanggal
Pembuatan

Infill Vertikal BETA 5

Feb-10

Infill Vertikal BETA 6

Jun-10

Infill Vertikal BETA 7

Nov-10

Infill Vertikal BETA 8

Mar-11

Infill Vertikal BETA 9

Feb-11

Infill Vertikal BETA 10

Oct-11

Infill Vertikal BETA 11

Dec-11

Infill Vertikal BETA 12

Mar-12

Infill Vertikal BETA 13

May-12

10

Infill Vertikal BETA 14

Jul-12

11

Infill Vertikal BETA 15

Oct-12

147

Tabel VII-2 Skenario 2


Skenario 2
No

Nama Kegiatan

Tanggal
Pembuatan

Infill Vertikal BETA 5

Feb-10

Infill Vertikal BETA 6

Jun-10

Infill Vertikal BETA 7

Nov-10

Infill Vertikal BETA 8

Mar-11

Infill Vertikal BETA 9

Feb-11

Infill Vertikal BETA 10

Oct-11

Infill Vertikal BETA 11

Dec-11

Infill Vertikal BETA 12

Mar-12

Injeksi air -1

Jun-12

10

Injeksi air -2

Oct-12

148

Tabel VII-3 Skenario 3


Skenario 3
No

Nama Kegiatan

Tanggal
Pembuatan

Infill Multilateral BETA 5

Feb-10

Infill Horizontal BETA 6

Jun-10

Infill Vertikal BETA 7

Nov-10

Infill Vertikal BETA 8

Mar-11

Infill Multilateral BETA 9

Feb-11

Infill Multilateral BETA

Oct-11

10
7

Infill Vertikal BETA 11

Dec-11

Infill Vertikal BETA 12

Mar-12

InfillHorizontal BETA 13

May-12

10

Infill Horizontal BETA

Jul-12

14
11

Infill Horizontal BETA

Oct-12

15
12

Injeksi gas -1

Jun-12

13

Injeksi gas -2

Nov-12

14

Injeksi air -1

Dec-12

149

Tabel VII-4 Skenario 4


Skenario 4
No

Nama Kegiatan

Tanggal
Pembuatan

Multilateral Beta 1

Sep-09

Multilateral Beta 2

Oct-09

Multilateral Beta 3

Nov-09

Multilateral Beta 4

Dec-09

Infill Vertikal BETA 5

Feb-10

Infill Multilateral BETA 6

Jun-10

Infill Multilateral BETA 7

Nov-10

Infill Multilateral BETA 8

Mar-11

Infill Multilateral BETA 9

May-11

10

Infill Horizontal BETA 10

Oct-11

11

Infill Multilateral BETA

Dec-11

11
12

Infill Multilateral BETA

Mar-12

12
13

Injeksi air -1

Mar-12

14

Injeksi air -2

Jun-12

Tabel VII-5 Np dan RF Tiap Skenario Pengembangan Lapangan Beta


Skenario Kumulatif produksi (MMSTB)

Recovery factor (%)

3.29

15.33

3.39

15.79

5.48

25.56

4.53

21.10

150

Produksi minyak (MMSTB)

6.00
5.00
4.00
3.00
2.00
1.00
0.00
1
basecase

skenario 1

skenario 2

skenario 3

skenario 4

Gambar 7.1 Grafik Perbandingan Produksi setiap Skenario

Perbandingan Kumulatif Produksi tiap Skenario


6,000,000.00

Cumulative Production

5,000,000.00
4,000,000.00
3,000,000.00
2,000,000.00
1,000,000.00
0.00
2009

2014

2019

2024

2029

2034

Tahun
cumulative oil Skenario 1

cumulative oil Skenario 2

cumulative oil Skenario 3

cumulative oil Skenario 4

Gambar 7.2 Grafik Perbandingan kumulatif Produksi setiap Skenario


Berdasarkan tabel dan grafik di atas dapat diketahui skenario
manakah yang dapat menghasilkan kumulatif produksi total dan recovery
151

total. Pada setiap skenario tentunya akan menghasilkan kumulatif produksi


total dan recovery total yang berbeda-beda, dikarenakan perlakuan yang
dilakukan pada setiap skenario yang berbeda. Pada skenario dilakukan
pemboran infill secara Multilateral dan gas flooding memiliki recovery paling
besar karena dapat menguras secara luas dan gas dapat mendesak minyak
dengan baik.
Penambahan sutau kegiatan pada lapangan dapat memberikan
perolehan minyak yang signifikan. Bisa diambil kesimpulan bahwa semakin
banyak kegiatan yang dilakukan akan dapat memperoleh minyak yang
besar pula. Namun, untuk memilih skenario yang akan dipergunakan,
tidaklah cukup hanya dengan memperhatikan tingkat perolehan minyak dan
recovery faktor yang didapatkan. Namun haruslah memperhitungkan aspek
keekonomian.
7.4.

Strategi Pengembangan Lapangan


Selain

menjelaskan

mengenai

rencana

skenario

dari

pengembangan Lapangan Beta, pada bab ini juga akan diberikan strategi
pengembangan lapangan kedepannya, guna menjaga produksi dari sumursumur pada Lapangan Beta. ini tetap berproduksi secara optimum.
7.4.1. Pencegahan Korosi pada peralatan di bawah sumur dan
permukaan.
Korosi merupakan suatu hal yang menyebabkan terjadinya lubang
pada besi. Dalam industry perminyakan penggunaan besi atau baja
sangatlah banyak digunakan pada semua bidang. Terjadinya korosi ini
dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan yang ada. Jika terjadi
kerusakan maka dapat menghambat proses produksi dijalankan. Suatu
contoh bila tubing didalam lubang sobor terjadi korosi dan menyebabkan
kebocoran, maka proses produksi dapat terganggu dan hasil produksi tidak
sesuai target. Berikut adalah cara pencegahan korosi :
Pencegahan Timbulnya Problem Korosi

152

Ada beberapa jalan untuk mencegah/mengurangi terjadinya korosi,


yaitu :
1. Pemilihan Material
Besi dan baja adalah logam-logam yang sangat biasa digunakan dalam
operasi perminyakan. Pemilihan logam harus memperhatikan lingkungan
yang korosif. Adanya H2S, dimana pengaruh hidrogen dapat merapuhkan
strength dan daya tahan logam.
2. Engineering Design
Rencana yang tepat untuk susunan peralatan dan pemasangan
akan dapat memungkinkan untuk dilakukan perbaikan dan perawatan
dimasa yang akan datang untuk mengontrol korosi. Banyak jenis korosi
yang dapat dikurangi dengan engineering design yang tepat. Ada beberapa
problem korosi yang sangat umum diakibatkan oleh design yang kurang
tepat, yaitu :
- Adanya celah-celah penyebab penghimpunan sel-sel korosi
- Sistem aliran yang buruk dari saluran dan peralatan dapat
menyebabkan penghimpunan sel korosi
- Penyambungan logam yang tidak cocok juga dapat menyebabkan
terjadinya korosi
3. Coating ( Perlapisan )
Terdapat dua jenis coating, yaitu : metalic coating dan plastic coating.
Coating adalah melapisi peralatan dengan menggunakan bahan-bahan
pelapis tertentu.
a. Metalic Coating
Biasanya dipakai zinc atau alumunium karena metal ini memberikan hasil
yang baik dan ekonomis sedangkan chroming coating biasanya dipakai
untuk sistem pompa.
b. Plastic Coating
Plastik yang digunakan untuk coating ada dua macam, yaitu thermoplastic
yang menjadi lunak jika dipanaskan dan thermo setting plastic yang menjadi
makin keras jika dipanaskan. Ketebalan coating ada yang tipis ( thin film )

153

dengan ukuran 5 7 mils ( 1/100 in ), sedangkan coating dengan ketebalan


12 25 mils disebut thick mil coating. Thick coating dianjurkan untuk korosi
yang serius.
4. Chemical Inhibitor
Chemical inhibitor digunakan untuk mengurangi terjadinya korosi.
Berdasarkan komposisinya ada dua jenis inhibitor, yaitu :
- Organic Inhibitor
Biasanya mengandung nitrogen, belerang atau struktur asetilen. Dipakai
untuk sumur-sumur gas kondensat, sumur minyak dan dalam pengasaman.
Inhibitor organik ini dimasukkan kedalam sistem dalam bentuk cairan dan
dipompakan dengan pompa kimia serta untuk memudahkan pemakaian,
maka zat kimia diencerkan. Inhibitor diinjeksikan kedalam sistem secara
kontinyu. Inhibitor yang baik dan efektif pada konsentrasi antara 15 30
ppm.
- Anorganic Inhibitor
Biasanya berupa kromat, fosfat, nitrit, arsenit dan lain-lain. Dipakai pada
sistem tertentu pada peralatan pendingin, pengasaman pada suhu tinggi
dan pada permukaan baja yang akan dicat.
5. Cathodic Protection
Digunakan pada peralatan-peralatan yang berada dalam larutan
elektrolit untuk mencegah korosi pada permukaan baja. Cara ini
memberikan hasil yang baik pada pipe line, casing, tangki dan sebagainya.
Cathodic protection tidak akan bekerja dalam kondisi atmosfir atau pipa
yang berisi gas atau minyak, sebab keadaan sekelilingnya merupakan
konduktor yang jelek.
6. Galvanic Cell dan Metal Tahan Korosi
Galvanic Cell merupakan perbedaan potensial listrik yang terjadi jika
dua buah metal yang berbeda dimasukkan ke dalam elektrolit yang sama
(larutan asam atau garam), jika perbedaan potensial itu dihubungkan
dengan kawat maka akan timbul arus listrik melalui kawat tersebut.

154

Peralatan-peralatan yang berada dalam air atau larutan garam atau


basa cenderung mengalami korosi lebih besar yang disebabkan karena
adanya galvanic cell ini. Cara mengatasi yang terbaik adalah melapisi
(coating) atau menggunakan metal tahan korosi seperti monel atau
stainless steel.

155

BAB VIII
HEALTH SAFETY AND ENVIRONMENT AND CORPORATE SOCIAL
RESPONSIBILITY

Health, safety and environment (HSE) merupakan hal yang sangat


penting bagi setiap perusahaan yang bergerak di indusiti minyak dan gas
bumi (migas). Disamping memiliki high technology dan high cost, juga
mempunyai tingkat resiko kecelakaan kerja yang lebih tinggi (high risk).
Dengan

demikian,

aturan

tentang

Kesehatan,

Keselamatan

dan

Lingkungan Hidup (HSE) di industri migas merupakan hal yang mutlak


harus

diberlakukan.

Melindungi

dan

menjaga

kesehatan

pekerja,

keamanan pekerja serta keadaan dan kelestarian lingkungan baik secara


fisik

maupun

sosial

harus

menjadi

prioritas

perusahaan

dalam

mengembangkan suatu lapangan. Oleh sebab itu, Penerapan prinsip HSE


sangat efektif apabila diberlakukan sejak dibangunnya suatu perusahaan
atau dimulainya suatu kegiatan serta dalam pelaksanaannya dibutuhkan
manajemen yang baik agar kegiatan industri tersebut tidak menyebabkan
dampak negatif terhadap lingkungan baik secara fisik maupun sosial dan
juga

untuk

mencegah,

mengurangi bahkan

meminimalkan

resiko

kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan konsep ini tidak boleh


dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat
kerja yang dapat menghabisakan banyak biaya untuk perusahaan,
melainkan harus sebagai investasi jangka panjang yang dapat memberi
keuntungan untuk perusahaan pada masa yang akan datang dan
berkelanjutan.
Untuk

membuat

suatu

pembangunan

suatu

industri

yang

berkelanjutan perlu dilakukan studi awal terkait kondisi lingkungan sebelum


konstruksi dan operasi dijalankan. Analisis mengenai dampak lingkungan
yang akan terjadi dan potensi dari suatu daerah serta permasalahannya
harus diketahui sejak awal untuk membangun suatu perencanaan yang
156

baik. Sebagai mana yang dikemukaka oleh Hadi (2001) menyatakan bahwa
pembangunan berkelanjutan secara implisit juga mengandung arti untuk
memaksimalkan keuntungan pembangunan dengan tetap menjaga kualitas
dari sumber daya alam dan pengelolaan lingkungan bagi industri di bidang
usaha minyak dan gas bumi merupakan hal terpenting dari suatu kegiatan
usaha yang harus dilakukan agar industri dapat berjalan dengan baik dan
berkelanjutan.
Corporate Social Responsibility merupakan bentuk tanggung jawab
suatu

perusahaan

dalam

membantu

pemerintah

daerah

guna

meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Corporate Social Responsibility


(CSR) berlandaskan UU No. 22 Tahun 2001 tentang Undang-Undang
Minyak dan Gas Bumi Bab VIII pasal 40 ayat 3,4,5 dan 6 yang berisikan
badan usaha dan bentuk usaha tetap yang melaksanakan kegiatan usaha
minyak dan gas bumi ikut bertanggung jawab dalam mengembangkan
lingkungan dan masyarakat setempat.
8.1. PERUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengelolaan pada bidang HSE yang cocok untuk
pengembangan

Lapangan Beta.

2. Bagaimana program CSR yang sesuai untuk daerah Lapangan Beta,


sebagai bentuk tanggung

jawab sosial dalam pemberdayaan

masyarakat sekitar daerah Lapangan Beta.


3. Bagaimana rona lingkungan awal yang terdapat pada Lapangan Beta
baik itu penggunaan lahan dan daerah sensitif yang terdapat pada
Lapangan Beta dan sekitaranya.
4. Bagaimana nilai perubahan dari pembangunan dan pengembangan
kemajuan pada Lapangan Beta baik jenis maupun besarnya dampak
yang ditumbulkan dari operasi Lapangan Beta dan sekitarnya.
5. Bagaimana perusahaan melakukan perbaikan dan penyempurnaan
terus menerus berdasarkan hasil evaluasi untuk menciptakan HSE
yang baik di lingkungan perusahaan.

157

8.2. SAFETY GOLDEN RULES WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN


1. Pertama-tama Berpikirlah & Rencanakan
Penilaian resiko yang terperinci dan perencanaan yang baik sebelum
memulai perkerjaan membantu anda untuk dalam memilh APD (alat
pelindung diri) yang tepat dan menyelesaikan pekerjaan dengan aman
dan effisien.
2. Hentikan segera jika tidak aman
Keputusan anda untuk menghentikan pekerjaan yang tidak aman akan
mendapat

dukungan

dari

semua

manajer

Wilayah

Kerja

Pertambangan .
3. Laporkan tindakan & kondisi tidak aman
Melaporkan semua kecelakan dan kejadian / nyaris celaka akan
menyelamatkan nyawa dan tidak melaporkan dapat dihukum.
8.3. TUJUAN DAN MANFAAT MELAKUKAN EBA (ENVIRONMENTAL
BASELINE ASSESSMENT)
Tujuan dari pelaksanaan Environmental Baseline Assessment (EBA) ini
yaitu :
4. Mengetahui pengelolaan lingkungan yang seharusnya dilakukan
untuk proyek pengembangan Lapangan Beta.
5. Mengetahui kondisi karakteristik rona lingkungan awal dari
Lapangan Beta baik itu penggunaan lahan serta kawasan sensitif
disekitar lokasi operasi.
6. Mengetahui penilaian yang menggambarkan apa yang bisa terjadi
pada dasar yang merupakan hasil proyek pembangunan dan
pengembangan Lapangan Beta dengan memprediksi besarnya
dampak. Istilah besarnya digunakan sebagai singkatan untuk
mencakup semua dimensi meramalkan dampak yang meliputi :
a) Sifat perubahan (apa yang dipengaruhi dan bagaimana).
b) Batas geografisnya dan distribusi.

158

c) Ukurannya, skala atau intensitas.


d) Durasi, frekuensi,reversibilitas dan
e) Jika relevan, kemungkinan dampak yang terjadi sebagai akibat
dari disengaja atau tidak direncanakan peristiwa.
Manfaat dari pelaksanaan Environmental Basseline Assessment
(EBA) pada Lapangan Beta ini :
7. Sebagai bahan pertimbangan SKK Migas serta Pemda dalam
memberikan izin pengembangan Lapangan Beta, Kecamatan
Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
8. Sebagai media informasi bagi masyarakat yang berbeda di
wilayah sekitar lokasi operasi mengenai dampak lingkungan serta
tindakan peminimalisirkan dampak oleh pihak Kontrak Karya
Kerjasama (KKKS).
8.4. PENERAPAN SAFETY TRAINING OBSERVATION PROGRAM
(STOP)
STOP merupakan singkatan dari Safety Training

Observation

Program. Program ini merupakan suatu program PEDULI untuk


menunjukan bahwa kita peduli terhadap orang lain dengan mengamati,
berbicara dan diskusi mengenai permasalahan keselamatan kerja serta
memberikan kepada mereka penghargaan kepada mereka untuk
mendorong praktek kerja yang aman , dan memberikan umpan balik untuk
menghilangkan perilaku yang beresiko.
STOP didasarkan pada ide bahwa keselamatan kerja adalah
tanggung jawab bersama semua orang. Ini membantu para pekerja melihat
keselamatan kerja dari sudut pandang baru, sehingga mereka dapat
membantu mereka sendiri dan rekan kerja mereka untuk bekerja dengan
aman . Program ini mendorong cara berpikir dimana keselamatan kerja
adalah diskusi yang terjadi setiap hari , bukan hanya ketika melakukan
observasi formal.

159

8.4.1. Maksud dan Tujuan Safety Training Observation Program


(STOP)
9. Memastikan semua karyawan mampu mendefinisikan istilah bahaya dan
meningkatkan keterampilan pengenalan bahaya.
10.

Menghilangkan kejadian dengan menangani perilaku karyawan yang

aman dan tidak aman di lingkungan kerja.


11.

Merubah perilaku dengan memngamati orang dan memberikan

umpan balik untuk mendorong praktek kerja yang aman dan


menghilangkan perilaku yang beresiko.
8.4.2. Siklus Observasi Safety Training Observation Program (STOP)

Gambar 8.1. Siklus STOP


Berikut adalah Siklus Observasi Safety Training Observation Program
(STOP) yaitu :
1.

Pertama kali anda harus MEMUTUSKAN untuk melakukan


observasi keselamatan.

2.

Berikutnya anda harus BERHENTI didekat para karyawan


sehingga anda bisa melihat apa yang sedang merka lakukan.

3.

Kemudian MENGAMATI karyawan dengan cara yang


seksama dan sistematis , perhatikan segala sesuatu yang
dikerjakan, fokuskan pada perilaku aman dan tidak aman.

4.

Setelah anda mengamati karyawan, anda BERTINDAK . Hal


ini

melibatkan

pembicaraan

160

dengan

karyawan

yang

bersangkutan, hal ini juga untuk membina tata kerja yang


aman dan memperhatikan perilaku yang beresiko.
5.

Pada sewaktu waktu setelah anda bertindak dengan cara


berbicara kepada karyawan, anda MELAPOR observasi dan
tindakan anda meanggunakan Kartu observasi keselamatan
STOP.

8.4.3. Teknik Observasi Safety Training Observation Program (STOP)


Bicaralah dengan orang yang bersangkutan hingga dia memahami
mengapa tindakannya yang tidak aman berbahaya.
Gunakan Sikap bertanya :
1.

Cedera APA yang dapat terjadi JIKA hal yang tak terduga terjadi?

2.

BAGAIMANA pekerjaan ini dapat dilakukan dengan lebih aman.

3.

Gunakan akal sehat anda dan tindakan untuk mencegah


terulangnya kejadian

dan harus sesuai dengan kebijakan

perusahaan
4.

Gunakan observasi total :

5.

LOOK ABBI (above, below, behind and inside - Lihat atas,


bawah, belakang dan didalam)

6.

Dengarkan adanya getaran dan suara yang tidak biasa (aneh).

7.

Cium adanya bau yang tidak biasa.

8.

Rasakan adanya suhu dan getaran yang tidak biasa.

9.

Gunakan siklus observasi keselamatan kerja

10. Rencanakan, berhenti, bertindak, dan laporkan.


8.5. LOKASI KAJIAN
Secara administratif lokasi Lapangan Beta sebagian besar berada di
Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Secara geografis Kabupaten Musi Banyuasin terletak pada posisi 1,3 - 4
LS dan 103 - 105 BT dengan batas wilayah sebelah Barat berbatasan
dengan Kabupaten, sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Jambi,
sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Muara Enim , sebelah

161

Timur berbatasan Kabupaten Banyuasin. Cakupan wilayah administrasi


pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin saat ini terdiri dari 14 Kecamatan,
236 desa dan 13 kelurahan, dengan luas wilayah 14.265,96 Km 2. Pola
penggunaan lahan menurut data GIS (Geographic Information System)
Bapeda Kabupaten Musi Banyuasin, wilayah seluas 204.011 Ha tersebut
terdiri dari Sawah Irigasi 121.355 Ha (59,50%); Sawah tadah hujan 12.420
ha (06,09%); Perkebunan 42.130 ha (15,75%); Pemukiman 17.980 ha
(08,81%); Empang 12.600 ha (06.18%); Lainnya 7.526 ha (03,67%).
LOKASI LAPANGAN

Gambar 8.2. Lokasi Lapangan Beta


Sedangkan Kecamatan Bayung lencir berada di bagian perbatasan
Provinsi Jambi. Bayung Lencir terletak di bagian utara dari Kabupaten Musi
Banyuasin dan berada sekitar 51 kilometer di sebelah Selatan Kota Jambi
itu sendiri. Secara topografi , wilayah Bayung Lencir berada di dataran
rendah berawa. Koordinat Bayung Lencir berada pada 6 28' 0" lintang
Selatan dan 108 17' 0" bujur Timur. Kecamatan Bayung Lencir berbatasan
langsung dengan Provinsi Jambi di bagian Barat , di sebelah Selatan
berbatasan dengan Tungkal Jaya dan Batanghari Leko, Kecamatan Lalan
di bagian Timur, Provinsi Jambi Utara. Luas wilayah 4.847 km2.

162

Gambar 8.3. Lokasi Sumur Beta


8.6 ANALISIS PENENTUAN KAWASAN SENSITIF
Pembangunan dan pengembangan di lapangan Beta akan
membutuhkan Production rig untuk melakukan eksploitasi secara onshore
dan pembangunan jaringan pipa untuk mengirim minyak hasil produksi dari
lapangan Beta menuju ke stasiun pengumpul yang berada di daerah
Balongan. Perlu diketahui deskripsi karakteristik lingkungan dan sosial
untuk menentukan kawasan sensitif dan permasalahan lingkungan baik
fisik maupun sosial yangberada di daerah tersebut.
8.6.1. Bentuk Lahan
Bentuk lahan pada Kecamatan Bayung Lencir

Kabupaten Musi

Banyuasin berupa daratan alluvial pada bagian Timur sakibat aktifitas dari
sungai di tengah kapling dan batuan yang ada di kecamatan Bayung Lencir
terutama disusun oleh endapan aluvium dataran banjir dan back swamp
dikarenakan aktifitas fluviatil dan denudasional di daerah tersebut.

163

8.6.2. Tanah
Wilayah Kecamatan Bayung Lencir memiliki jenis Organosol dan
tanah Gley Humus yang sebagian besar merupakan satuan jenis tanah
yang berada di daerah dataran tinggi yang berbukit-bukit yang tidak jauh
dari pengaruh aliran sungai. Sedangkan daerah yang jauh dari sungai
terdiridari jenis tanah Podzolik Merah Kuning.
Merupakan tanah hasil pelapukan material organik yang sangat
cocok untuk bercocok tanam. Tanah podzolik adalah tanah yang terbentuk
di daerah yang memiliki curah hujan tinggi dan suhu udara rendah. Di
Indonesia jenis tanah ini terdapat di daerah pegunungan. Umumnya, tanah
ini berada di daerah yang memiliki iklim basah dengan curah hujan lebih
dari 2500 mm per tahun. Di Indonesia, tanah ini tersebar di daerah-daerah
dengan topografi pegunungan, seperti Sumatera Utara dan Papua
Barat.Alfisols adalah tanah yang mempunyai epipedon okrik dan horizon
argilik dengan kejenuhan basa sedang sampai tinggi, pada umumnya
tanah ini tidak kering. Jika dilihat dari ciri dan karakteristik tanah ini, bisa di
simpulkan bahwa tanah podzolik merupakan tanah yang tergolong tidak
subur baik itu secara fisik maupun kimianya. Akan tetapi mengingat lahan
yang semakin susah dicari maka tanah podzolik pun menjadi sasaran para
petani untuk melakukan proses bercocok tanam.
8.6.3.Topografi
Berdasarkan topografinya ketinggian wilayah Bayung Lencir pada
umumnya berkisar antara 100 - 200 m diatas permukaan laut. Secara garis
besar morfologi wilayah Kabupaten Musi Banyuasin di bagi menjadi daerah
perbukitan rendah bergelombang dan dataran alluvial. Perbukitan Barisan
menempati daerah

di bagian Barat daya membentuk perbukitan yang

memanjang dengan arah Barat laut - tenggara sedangkan dataran rendah


menempati bagian tengah sampai ke Utara.
8.6.4. Iklim dan curah hujan

164

Letak Kabupaten Musi Banyuasin yang berada di tengah sumatra


membuat suhu udara di Kabupaten Musi Banyuasin cukup tinggi berkisar
antara 22.9 30 C. Tipe iklim di Musi Banyuasin termasuk iklim tropis,
menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson termasuk iklim tipe D (iklim
sedang) dengan karakteristik iklim antara lain:

Suhu udara harian berkisar antara 13,7 dengan suhu udara


tertinggi 17,6 C dan terendah 9 C

Kelembaban udara antara 70-80%

Curah hujan rata-rata tahunan 233,88 mm pertahun dengan


jumlah hari hujan 91 hari

Angin Barat dan angin Timur tertiup secara bergantian setiap


5-6 bulan sekali. (sumber : BMKG Musi Banyuasin 2013).

Berdasarkan Schmidt dan Ferguson tipe iklim untuk kabupaten Musi


Banyuasin termasuk ke dalam iklim tipe A, yaitu sangat basah. Daerah
berikilm sangat basah sangat cocok untuk dikembangkan pertaniannya dan
perkebunannya dengan tersedianya air karena intensitas hujan cukup tinggi
sepanjang tahun. Berdasarkan rata-rata curah hujan per bulan musim
kemarau terjadi pada bulan Juli - September sedangkan musim penghujan
terjadi pada bulan Oktober - Mei.
8.6.5. Hidrologi
Berdasarkan

kondisi

geografis

dan

fisiografi

wilayah

yang

merupakan dataran rendah pada bagian hilir daerah aliran sungai yang
besar, yaitu DAS Lalan dan DAS. Kabupaten Musi Banyuasin menjadi
salah satu wilayah di Sumatera Selatan sebagai daerah sentra pertanian
dan merupakan daerah penyangga pengadaan stok pangan Provinsi dan
Nasional.
A. Daerah Aliran Sungai (DAS)
Kabupaten Musi Banyuasin merupakan daerah rawa dan sungai besar
serta kecil seperti Sungai Musi, Sungai Banyuasin, Sungai Batanghari
165

Leko dan lain-lain. Untuk aliran Sungai Musi yang berada di bagian
Timur dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut. Disamping itu daerah
ini juga terdiri dari lebak dan danau-danau kecil. Kelestarian fungsi
sumber daya air. Berdasarkan pada letak atau posisinya sumber daya
air dibedakan menjadi :
1) Air Permukaan
Sungai-sungai yang mengalir di wilayah Kab. Muba beserta debit ratarata hariannya adalah
sebagai berikut :
Tabel VIII.1. DAS Kabupaten Musi Banyuasin
DAS

PANJANG SUNGAI

LUAS DAS

DEBIT

Sungai Ibul ( Anak Sungai


Musi )
Sungai A. Calik ( Anak
Sungai A.Banyuasin )
Sungai Dawas ( Anak
Sungai A. Calik )
Sungai Supat ( Anak
Sungai A. Calik )
Sungai Keluang ( Anak
Sungai A. Calik )
Sungai Tungkal ( Anak
Sungai A. Calik )
Sungai Lalan ( Anak
Sungai A.Banyuasin )
Sungai Merang ( Anak
Sungai Lalan )
Sungai Bohar ( Anak
Sungai Lalan )
Sungai Medak ( Anak
Sungai Lalan )
Sungai Tungkal ( Anak
Sungai Lalan )
Sungai Serdang ( Anak
Sungai Lalan )
Sungai Meranti ( Anak
Sungai Lalan )
Sungai Kepahiang ( Anak
Sungai Lalan )
Sungai Mangsang ( Anak
Sungai Lalan )

35

14.500

3,3

57

96.400

28

50

6.500

1,6

32

22.600

5,1

19

9.400

2,1

82

149.500

33,6

243

830.300

196,8

66

83.900

24,4

20

10.000

2,2

72

108.300

25,7

25

5.900

1,9

34

8.300

2,4

28

15.100

4,4

16

13.300

3,9

18

7.400

1,8

166

Sungai Mendis ( Anak


Sungai Lalan )
Sungai Batang Hari Leko
(Anak Sungai Musi)
Sungai Kapas (Anak S.
Batang Hari Leko)
Sungai Meranti (Anak S.
Batang Hari Leko)
Sungai Putat (Anak S.
Batang Hari Leko)
Sungai A. Aur (Anak S.
Batang Hari Leko)
Sungai Rampasan (Anak
S. Batang Hari Leko)
Sungai Angit (Anak S.
Batang Hari Leko)
Sungai Kukui (Anak S.
Batang Hari Leko)
Sungai Lalang (Anak S.
Batang Hari Leko)

19

3.900

0,9

176

374.600

103,9

63

71.300

16,9

38

26.400

8,8

38

20.100

8,6

19

12.700

5,4

19

11.600

4,9

13

5.300

2,3

15

10.200

4,3

25

21.900

5,2

Sumber : Dinas PU Cipta Karya dan Pengairan Kab. Musi Banyuasin

Potensi Sumber Air


Wilayah Kabupaten Musi Banyuasin yang memiliki kemampuan

sebagai lahan mata air di wilayah bagian Selatan Kecamatan Haurgeulis


dan Cikedung dan sebagian besar di Wilayah Kabupaten Musi
Banyuasin mempunyai zona lahan air tanah bebas (zona air tanah
dangkal). Air tanah tawar dapat diperoleh dengan cara membuat sumur
bor dalam yang selanjutnya akan memancarkan air tanah tawar. Daerah
Bayung Lencir mermpunyai akumulasi air tanah dalam tawar yang
cukup besar.
8.6.6. Daerah Rawan Bencana
Kabupaten

Musi

Banyuasin

baik

secara

geologi

maupun

berdasarkan topografi memiliki tingkat kerawanan yang tinggi terhadap


beberapa jenis bencana, diantaranya adalah kebakaran, dan kekeringan.
Untuk potensi bencana kegempaan baik tektonik maupun vulkanik di
Kabupaten Musi Banyuasin relatif besar untuk beberapa daerah, hal ini
disebabkan karena letak Musi Banyuasin yang berada di Tegah pulau

167

Sumatera, dan berada di belakang Pegunungan Barisan yang relatif dekat


dari pertemuan antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia yang
berada pantai Selatan sumatera serta jauh dari lokasi keberadaan gunung
berapi. Kawasan rawan bencana dapat dilihat pada Gambar.

Gambar 8.4 Peta kawasan Rawan Bencana Kekeringan Kabupaten


Musi Banyuasin

168

Gambar 8.5 Peta kawasan Rawan Bencana Kabupaten Musi


Banyuasin

Gambar 8.6 Peta kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi Kabupaten


Musi Banyuasin

169

Dikabupaten Musi Banyuasin beberapa daerah yang dikhawatirkan


akan mengalami banjir merupakan daerah yang berada disekitar sepanjang
sungai Musi. Khususnya pada daerah-daerah yang terjadi diwilayah sungai
musi, selain itu wilayah lainnya mencakup sebagian Kec. Bayung Lencir
dengan luasan keseluruhan 30.457,750 Ha. Pengelolaan daerah yang
sering mengalami banjir adalah dengan membatasi kegiatan pembangunan
khususnya perumahan dan permukiman pada daerah tersebut. Pada
beberapa daerah tertentu perlu diarahkan menjadi ruang terbuka hijau
(RTH)
Kebakaran yang terjadi dipengaruhi oelh faktor alam yang berupa
cuaca kering serta faktor manusia yang berupa pembakaran baik sengaja
maupun tidak sengaja, kebakaran ini akan menimbulkan efek panas yang
sangat tinggi sehingga akan meluas dengan cepat kerusakan yang
ditimbulkan berupa kerusakan lingkungan, jiwa dan harta benda. Dampak
lebih

lanjut

adalah

adanya

asap

yang

ditimbulkan

yang

dapat

mengakibatkan pengaruh pada kesehatan terutama pernafassan serta


gangguan

aktivitas

sehari-hari,

seperti

terganggungnya

jadwal

penerbangan. Tebalnya asap juga dapat menggagu cuaca.wialyah


bencana kebakaran ini mencakup wilayah: Kec.Babat Toman, Kec.Bayung
Lencir, Kec Lalan, Kec.Lais, Kec.Plakat Tinggi, Kec. Sanga Desa dengan
luas keseluruhan 218.608,803 Ha.
8.6.7. Kawasan Lindung
Kawasan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi
pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur
tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut
dan memelihara kesuburan tanah atau pun kawasan yang memiliki fungsi
utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber
alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna
kepentingan pembangunan berkelanjutan ( KEPRES RI nomor 32 Tahun
1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung pasal 1 butir 1). Kawasan

170

Lindung yang terdapaat pada daerah sekitar Lpangan stuktur cemara ini
adalah kawasan resapan air dan kawasan sempadan sungai. Perencanaan
pembangunan dan pengawasan sistem pengolaan limbah yang dikasilkan
harus diperatikan agar tidak mengganggu kawasan lindung.

Gambar 8.7 Peta Penggunaan lahan kawasan Musi Banyuasin


8.6.8 Komponen Sosial
A. Infrastuktur
1. Air Bersih
Sebagian besar sumber air bersih di Kecamatan Bayung Lencir
bersumber dari air sumur, baik jenis sumur dangkal maupun dalam. Untuk
jenis sumur dangkal, sumber air dapat mulai ditemukan pada kedalaman 810 meter sudangkan untuk sumur dalam ditemukan sumber air mulai
kedalaman 20-30 meter. Kualitas air yang didapat pun beragam, ada yang
sudah baik namun maih ada juga yang masih buruk karena banyak
mengandung kapur. Kondisi yang demikian menyebabkan untuk konsumsi
sehari-hari perlu dilakukan penyaringan lebih lanjut atau lebih memiloh
untuk membeli air isi ulang untuk kebutuhan memasak dan minum. Akan
tetapi, Pemerintah setempat juga berupaya dalam membantu warga untuk
memenuhi kebutuhan air bersih. Ini tercermin dari seringnya pemerintah

171

memberi bantuan air bersih untuk beberapa desa yang rawan kekeringan
terutama untuk musim kemarau.
2. Telekomunikasi
Sebagian desa di Kecamatan Bayung Lencir ada yang sudah
terjangkau oleh jaringan telepon kabel dan ada juga yang masih belum.
Namun, untuk saat ini walaupun jaringan telpon kabel sudah ada, banyak
warga yang lebih memilih menggunakan handphone yang dianggap lebih
fleksibel dalam kemudahan dan kenyamanan berkomunikasi.
3.Listrik
Semua desa/ kelurahan di Kecamatan Bayung Lencir terlah teraliri
listrik. Daya listrik yang digunakan juga beragam, namun yang
mendominasi adalah daya listrik 450 dan 900 watt.
4. Drainase
Saluran drainase di kecamaatan Bayung Lencir pada umumnya
masih menggunakan sistem drainase dengan sistem gravitasi. Sunngai
merupakan muara akhir dari pembuangan aliran drainase. Hal ini dapat
dilihat dari banyaknya lintasan air sungai di Kecamatan Bayung Lencir.
Sungai-sungai tersebut masih tergolong sungai sungi kecil dan terdapat
sungai besar di Kecamatan Bayung Lencir yaitu sungai cimanuk yang
memiliki luas 4.325 km.
B. Sosial dan Budaya
Kondisi sosial budaya suatu masyarakat merupakan salah satu
indikator tingkat keberhasilan pembangunan yang dapat dilihat secara
kasat mata. Dari berbagai macam kondisi sosial budaya akan dirangkum
dalam beberapa indikator, seperti indikator pendidikan, kesehatan, tingkat
pendapatan, keluarga berencana, dan agama.
1. Agama
Kehidupan beragama diatur dalam UUD 1945 Pasal 29 dan Sila
Pertama Pancasila. Kehidupan beragama dikembangkan dan diarahkan

172

untuk peningkatan akhlak demi kepentingan bersama untuk membangun


masyarakat adil dan makmur. Kabupaten Musi Banyuasin merupakan salah
satu Kabupaten dengan mayoritas penduduknya memeluk Agama Islam.
Pada tahun 2014 penduduk yang beragama Islam tercatat sebanyak
2.053.372 jiwa, sedangkan sisanya tersebar pada empat agama lain seperti
Protestan tercatat sebesar 4.102 jiwa, Katolik 1.982 jiwa, Hindu 257 jiwa,
Budha 213 jiwa dan Konghucu sebanyak 5 jiwa.
2. Kesehatan Dan Keluarga Berencana
Pembangunan

kesehatan

bertujuan

untuk

meningkatkan

kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar
terwujud derajat

kesehatan yang optimal. Untuk

tersebut pondasi adalah

mencapai

tujuan

fasilitas kesehatan yang murah, representatif

serta mudah diakses diharapkan dapat meningkatakan kesadaran untuk


hidup sehat. Jumlah Puskesmas termasuk puskesmas pembantu di
Kabupaten Musi Banyuasin tercatat sebanyak 119 unit. Jumlah tenaga
medis yang bertugas di Kabupaten Musi Banyuasin pada tahun 2014
tercatat sebanyak 1.303 orang. Banyaknya dokter yang melayani penduduk
Musi Banyuasin tercatat sebanyak 75 dokter (termasuk dokter gigi). Sedang
jumlah bidan yaitu 567 orang.
3. Pendidikan
Indikator lain dari keberhasilan pembangunan manusia adalah
kemajuan dibidang pendidikan. Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan
dan Kebudayaan Kabupaten Musi Banyuasin pada tahun ajaran 2012/2013
untuk tingkat Sekolah Dasar jumlah sekolah tercatat sebanyak 885, murid
sebanyak 189.726 orang dan guru sebanyak 9.024. Kemudian di tingkat
SLTP jumlah sekolah tercatat sebanyak 157, murid sebanyak 68.850 orang
dan guru sebanyak 3.625 orang. Sedangkan di tingkat SLTA jumlah sekolah
tercatat sebanyak 51, murid sebanyak 17.954 orang dan guru sebanyak
1.452 orang. Dan untuk Sekolah Menengah Kejuruan tercatat memilik
sekolah sebanyak 61 sekolah, 23.951 murid dan 1.662 guru.

173

C. Kependudukan
Dari data yang diperoleh dari BPS Kabupaten Musi Banyuasin
penduduk di Kabupaten Musi Banyuasin, rata-rata mengalami kesamaan
untuk tiap kecamatan yaitu yang paling ramai berada di pusat kecamatan
karena

disana

banyak

dijumpai

roda

perekonomian,

sedangkan

permukiman yang lain menyebar di wilayah sekitarnya.


Jumlah penduduk Kabupaten Musi Banyuasin tahun 2013 sebanyak
1.868.395 jiwa, dengan komposisi jumlah laki-laki sebanyak 858.942 jiwa
dan jumlah perempuan sebanyak 809.453 jiwa. Jumlah rumah tangga
Kabupaten Musi Banyuasin tahun 2013 sebanyak 488.546 KK. Kecamatan
Musi Banyuasin merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar
sebanyak 106.688 jiwa. Konsentrasi sebaran jumlah penduduk terpusat
pada kecamatan-kecamatan bagian Utara Kabupaten Musi Banyuasin.
Pada akhir Tahun 2012 berdasarkan hasil Registrasi Penduduk
jumlah penduduk Kabupaten Musi Banyuasin tercatat sebanyak 1.844.897
jiwa. Sedangkan pada akhir Tahun 2010 berdasarkan hasil Sensus
Penduduk 2010 angkanya hanya tercatat 1.668.395 jiwa. Bila dibandingkan
dengan hasil Sensus Penduduk 2000 maka terdapat kenaikan rata-rata laju
pertumbuhan penduduksetiap tahunnya 0,54 persen.
D. Ekonomi
Dari segi mata pencarian, Kecamatan Bayung Lencir didominasi
oleh pekerjaan sebagai petani dan buruh tani serta peternak . Hal ini juga
disebabkan oleh pengguaan lahan yang sebagian besar digunakan sebagai
lahan pertanian dan juga untuk pengembangan peternakan khususnya
peternakan sapi dan unggas. Di pidang pertanian dan perkebunan warga
kabupaten Musi Banyuasin bekerja sebagai Petani padi dan perkebunan
mangga.
Dari segi pendapatan per kapita, daerah kabupaten Musi Banyuasin
tergolong rendah dilihan dari banyaknya keluarga miskin di daerah
kabupaten Musi Banyuasin. Hal ini dikarenakan banyak faktor seperti

174

kurangnya

kesadaran

warga

kabupaten

Musi

Banyuasin

tentang

pentingnya pendidikan dilihat dari mimimnya kelulusan wajib sekolah 12


tahun.
8.7 PELAKSANAAN
8.7.1. Health and Safety
Kajian dari aspek HSE menguraikan tentang Kesehatan dan
keselamatan kerja(K3) yang akan diupayakan oleh Wilayah kerja
pertambangan dalam pengembangan Lapangan Beta . Fungsi dari divisi
ini adalah merencanakan, mengatur , mengenalisa dan mengkoordinasikan
pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja dengan tujuan agar
pekerja dapat bekerja dalam suatu lingkungan industri yang aman sesuai
dengan norma keselamatan dan menghindarkan rugi perusahaan. Hal ini
berpedoman pada Undang-undang keselamatan kerja yaitu

UU No.1

Tahun 1970, Peraturan Pemerintahan RI No. 13 Tahun 2003 tentang tenaga


kerja pasal 86 tentang hak perlindungan keselamatan kera, dan pasal 87
tentang sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.

175

Management
review

Commirment
& Policy

act
improvement

check

plan
Implementation

Checking and
Corrective
action

do

Planning

Gambar 8.8. Diagram Alir Management K3 di PT Wilayah kerja


pertambangan
a. Commitment & Policy
Peraturan yang berlaku di daerah tempat beroperasi dan komitmen
perusahaan sebagai acuan perusahaan dalam membuat suatu
kebijakan K3.
b. Planning (perencanaan)
12. Identifikasi kecelakaan, penilaian resiko, menentukan solusinya
13. Membuat standart operasional dan kebutuhan lainnya
14. Penentuan sasaran dan program yang akan dijalankan

Implementation (implementasi)

Pengadaan sumber daya manusia, pembagian peran dan tanggung


jawab, memberi kejelasan otoritas masing-masing peran.

176

Peningkatan kompetensi sumber daya dengan meningkatkan


pelatihan dan kepedulian sumber daya pada pentingnya K3.

Menjalin komunikasi, partisipasi, dan konsultasi antar pekerja

Dokumentasi

Kontrol dokumen

Kontrol operasi

Membuat kesiapsiagaan dan respon terhadap bahaya darurat


(emergency).

Checking and Corrective Action ( Pemantauan dan Koreksi)

Pengukuran dan Pemantauan


1. Evaluasi
2. Identifikasi kecelakaan
3. Memantau kondisi kenyamanan pekerja
4. Koreksi dan pengambilan kebijakan preventif
5. Menyimpan data yang terekam
6. Audit internal

Management Review
Melihat hasil dari program yang telah dijalanan kemudian menentukan

kebijakan manajemen selanjutnya.


8.7.2. Environment
Divisi

Environment

adalah

divisi

yang

berfokus

pada

penanggulangan dampak lingkungan kegiatan operasi pada lapangan


Beta. Dengan tugas melakukan koordinasi, pengawasan serta memimpin
jalannya pemantauan/pengelolaan limbah baik non-B3 maupun limbah B3,
penjagaan fungsi lingkungan selama jalannya operasi, dan penghijauan
lingkungan.
a. Pemantauan dan Pengelolaan Limbah
Pemantauan dan pengelolahan limbah dibagi menjadi dua yaitu
pengelolaan limbah B3 dan Pengelolaan Limbah Non-B3.
177

Gambar 8.9. Proses Pengelolaan Limbah Wilayah Kerja


Pertambangan
b. Pengolahan Limbah Domestik
Unit Sewage Treatment Plant (STP) digunakan untuk mengolah air
limbah domest ik yang berasal dari kegiatan perkantoran, messhall dan
camp agar kualitas air buangannya memenuhi nilai baku mutu sesuai
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup no. 112 tahun 2003.
Pengolahan limbah domestik berdampak penting bagi lingkungan oleh
karena itu pengelolaannya harus dikelola dengan baik.
c. Pengelolaan Bioremidiasi
Pengelolaan Fluida pemboran dan cutting mempunyai kandungan
yang sangat berbahaya bagi lingkungan apabila tidak di-treatment dengan
benar. Fluida pemboran merupakan fluida yang memiliki kandungan kimia

178

dari aditif-aditif yang ditambahkan saat pemboran berlangsung. Cutting


sendiri merupakan serbuk batuan akibat tergerusnya batuan formasi dan
disirkulasikan

oleh

fluida

pemboran

menuju

permukaan,

hal

ini

menyebabkan cutting yang juga memiliki kandungan kimia dari bawah


permukaan juga akan terkontaminasi oleh kandungan kimia fluida
pemboran.
Pertimbangan dari pembuangan fluida pemboran dan cutting adalah
proses dari peralatan treatment yang berkelanjutan sehingga fluida
pemboran dan cutting dapat aman dibuang tanpa mengganggu lingkungan.
berdasarkan kep. No- 03/BAPEDAL/09/1995, parameter yang dianalisa
dari Drill Cutting TCLP (ToxicityCharacteristic Leaching Procedure) dan pH.
Parameter TCLP yang dites adalah Arsen, Barium, Boron, Cadmium,
Chromium, Copper, Lead, Mercury, Selenium, Silver, Zinc. Jenis lumpur
pemboran yang digunakan pada pengembangan lapangan ini sebagai
berikut.
Langkah kerja cutting SBM dengan cara bioremediasi adalah
sebagai berikut :

Cutting SBM yang TPH < 15% dibawa ke BA (Bioremediation


Area ).

Cutting dimasukkan kedalam cutting bin/ cutting bag.

Cutting yang berada di dalam cutting bin / cutting bag disebarkan


secara merata kedalam pit/ pada permukaan tanah yang
dipadatkan

Selanjutnya cutting yang berada didalam pit diberi tambahan/


campuran bulking agent berupa sekam dan atau pasir. Proses
pencampuran dengan menggunakan traktor.

Setelah diberi tambahan bulking agent selanjutnya dilakukan


proses pembajakan dengan mesin pembajak agar bulking agent
dan cutting tercampur.

Setelah dilakukan pembajakan maka diberi tambahan nutrisi


berupa Urea, TSP, KCL.
179

Melakukan penyiraman untuk menjaga kelembaban tanah,


dalam melakukan penyiraman diperlukan peralatan sistem
irigasi.

Dilakukan proses pembajakan kembali untuk mengatasi


terjadinya kekurangan oksigen. Semakin sering dilakukan
pembajakan laju biodegradasi semakin meningkat.

Dilakukan proses pemantauan secara rutin dan kontinyu setiap


2 minggu sekali. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui
konsentrasi hidrokarbon didalam tanah terkontaminasi.

Untuk mengetahui konsentrasi hidrokarbon (TPH) didalam tanah


terkontaminasi berkurang atau < 1% membutuhkan waktu 3-6
bulan.

Setelah dilakukan pemantauan maka dilakukan pengukuran


konsentrasi TPH. Jika konsentrasi TPH < 1% maka cutting yang
berada didalam pit diberi tambahan mikroba dengan cara
disemprotkan. Tetapi jika konsentrasi TPH > 1% maka dilakukan
pembajakan kembali sampai konsentrasi TPH < 1%.

Selanjutnya setelah konsentrasi TPH < 1% dan sesuai dengan


baku mutu lingkungan maka dapat dibuang kelingkungan
sehingga dapat ditanami tanaman penghijauan serta dapat
digunakan sebagai material penimbun.

d. Pengelolaan Limbah B3 dan Non B3


Limbah organik merupakan limbah yang membusuk dan dapat
terurai oleh mikroorganisme. Macam-macam limbah organik yaitu sisa
makanan, metabolisme manusia, kertas, kardus, puntung rokok, kayu,
daun. Sampah organik bisa ditimbun di trash pit atau dibakar di incenetor,
tergantung jenis sampah yang dihasilkan. Sampah basah (limbah dapur,
sisa makanan) dibuang di trash pit. Sampah kering bisa dibuang di trash pit
atau dibakar di incinerator. Proses incinerator adalah proses tempat

180

pembakaran limbah domestik yang berupa kertas, kardus, tissue, puntung


rokok.
Limbah non B3 yang dibakar di incinerator yaitu limbah organik
sebanyak 90 % dan anorganik sebanyak 10 %. Dari hasil pembakaran
incinerator menimbulkan emisi udara yang di periksa per 3-6 bulan,
parameter yang diukur adalah CO dan temperatur. Pembakaran incinerator
terdapat 2 ruangan yaitu primary room dan secondary room. Pembakaran
dilakukan diruang primary room dengan temperatur 6000C 8000C,
kemudian asap yang ditimbulkan dari proses incinerator disaring di
secondary room dengan temperatur 8000C 10000C, sebelum asap keluar
ke alam bebas, cerobong asap disemprot air agar dapat mengurangi emisi
udara, air dari hasil emisi udara tersebut dibuang kelingkungan, acuan baku
mutu yang dikeluarkan oleh KLH.
Insinerator yang dipantau yaitu abu, kemudian abu diolah
berdasarkan standar baku mutu (KLH), baru dibuang kelingkungan dengan
cara abu disaring, sedangkan abu halus dengan cara TCLP (Toxicity
Characteristic Leaching Procedure) kemudian abu kasar dibuat batako.
Berdasarkan SOP dari KLH daya tampung incinerator 15 Kg/jam dalam
sekali rolling dan dalam sehari hanya bisa melakukan pembakaran
sebanyak 75 Kg/hari dan dibagi menjadi 5 kali rolling.
e. Pengelolaan Emisi Udara
Pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat,
energi, dari komponen lain ke dalam udara ambien oleh kegiatan manusia,
sehingga mutu udara turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan
udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya (PP No. 41 Tahun 1999,
Sekertaris Negara PROF. DR. H. Muladi S.H.). Sumber utama emisi:
1. Kompresor turbin
2. Generator turbine
3. Boiler/heater
4. Well testing
5. Drilling dan peralatan atau transportasi yang berkaitan dengan logistik

181

6. Venting
7. Oily Water Treatment Unit (OWTU)
8. Figitve emissions
9. Oil Spill incidents dan Bioremediasi
Gas H2S merupakan gas beracun yang berasal dari formasi bawah
permukaan dan sering dijumpai pada lokasi pemboran. Gas ini sangat
berbahaya karena sangat beracun dan sangat mudah terbakar. Gas ini
dapat membunuh apabila dijumpai pada konsentrasi yang tinggi dan tidak
melaksanakan SOP yang tepat. Gas CO2 juga berasal dari bawah
permukaan dan sangat sensitif terhadap isu polusi udara secara global.
Walaupun tidak terlalu berbahaya, namun gas CO2 juga merupakan salah
satu poin dari HSE yang paling penting. Flaring dapat dilakukan dengan
mengacu pada PERMEN ESDM Nomor 31 Tahun 2012 Tentang
Pelaksanaan Pembakaran Gas Suar Bakar (Flaring) Pada Kegiatan Usaha
Minyak Dan Gas Bumi.
1. Kebisingan
Polusi suara dapat terjadi akibat peralatan-peralatan berat yang
bekerja pada proses pengembangan lapangan. Tingkat

kebisingan

tersebut diukur dan dipantau serta diberikan jarak aman (embarkasi)


sehingga dapat ditentukan jarak aman baik bagi pekerja maupun warga
sekitar yang dekat dengan daerah operasi,

karena dapat berpotensi

menggangu warga, bahkan pada level yang terlampau tinggi

dapat

memahayakan pendengaran tenaga kerja dan warga. Tingkat kebisingan


yang disarankan adalah 85 dB (A) untuk waktu kerja 8 jam/hari, 40
jam/minggu, atau pada kasus jam kerja lembur, waktu keterlibatan dalam
setahun tidak boleh lebih dari 2000 jam. Tingkat kebisingan di ruang
akomodasi yang digunakan untuk kegiatan di luar jam kerja harus tidak
lebih dari 70 dB (A). Namun, tingkat suara 70 dB (A) dapat mengganggu
konsentrasi mental serta kenyamanan tidur. Oleh sebab itu disarankan agar
tingkat kebisingan ruang tidur harus di bawah 45 dB (A). Pada prakteknya,
pengontrolan tingkat kebisingan dan persyaratan untuk perlindungan

182

pendengaran dapat berjalan apabila dibuat peta kebisingan lokasi kerja di


mana seluruh mesin- mesin dijalankan pada beban kerja yang normal.
Tanda-tanda yang menyatakan bahaya bising harus dipasang dan
pelindung telinga yang layak harus tersedia bagi seluruh karyawan yang
bekerja di daerah yang tingkat kebisingannya tinggi. Kebisingan yang
terjadi dipengaruhi sejak awal proses konstruksi hingga operasi
berlangsung.
2. Penjagaan Fungsi Lingkungan Selama Jlannya Operasi dan
Penghijauan Lingkungan
Karena adanya pembangunan akan merubah lahan dan karekteristik
lingkungan suatu wilayah diperlukan pemantauan dan usaha-usaha
pengurangan dampak negatif terhadap lingkungan .
a. Pemantauan Kualitas Air
Pemantauan dilakukan untuk menilai dampak dari kegiatan
operasi terhadap air permukaan maupun air tanah yang ada disekitar
lokasi operasi.
b. Pemantauan Kualitas udara dan suhu
Pemantauan

dilakukan

untuk

melihat

dampak

yang

ditimbulkan selama operasi, penghijauan lahan disekitar lokasi


dilakukan untuk mengurangi dampak operasi terhadap kualitas
udara dan suhu di wilayah tersebut.
8.8. CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)
Corporate Social Resposibility (CSR) berlandaskan UU No.22 Tahun
2001 tentang Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi Bab VIII pasal 40 ayat
3,4,5 dan 6 yang berisikan Badan Usaha dan Bentuk Usaha Tetap yang
melaksanakan kegiatan usaha minyak dan gas bumi ikut bertanggung
jawab dalam mengembangkan lingkungan dan masyarakat setempat.
Program-program CSR dimaknai juga sebagai salah satu upaya
untuk mengatasi kesenjangan dan mencegah timbulnya konflik antara
masyarakat dengan perusahaan. Pemberdayaan komunitas secara
berkesinambungan, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki perusahaan,

183

melalui peran aktif komunitas dengan memanfaatkan potensi yang ada di


dalam masyarakat dan lingkungannya agar meningkat kesejahteraannya
dan mendorong kemandirian masyarakat sekitar wilayah Ring 1
perusahaan, termasuk salah satunya wilayah Struktur Beta. Program yang
diusulkan unuk diimplementasikan di wilayah Lapangan Beta adalah
program Community Empowerment yang difokuskan pada 5 (lima) bidang,
yaitu bidang infrastruktur, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
8.8.1. Community Empowerment
Tujuan dan manfaat Pelaksanaan
a. Tujuan

Mengembangkan potensi dari masyarakat kecamatan Bayung


Lencir.

Meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kecamatan Bayung


Lencir.

Pemerataan pembangunan ekonomi berdasarkan kemampuan dan


potensi komunitas pedesaan.

b. Manfaat
1. Terwujudnya

desa-desa

yang mandiri secara finansial dan

infrastruktur
2. Teratasinya permasalahan ekonomi di desa tersebut
3. Bagi

pemerintah,

Terbangunnya

sistem

pengembangan

pemerintahan desa berbasis ekonomi pedesaan yang kokoh,


mandiri dan berkelanjutan, serta berwawasan lingkungan
4. Bagi Perusahaan Implementasi corporate social responsibility
program

funder

sebagai

wujud

nyata

pengabdian

kepada

masyarakat dan meningkatkan goodwill funder di masyarakat.


c.

Pengembangan Ekowisata

Sebagai Strategi Pelestarian Hutan

Mangrove
Kabupaten Musi Banyuasin yang dikenal sebagai kabupaten yang
tekenal dengan sumberdaya alamnya dan pertaniannya juga dikenal
sebagai daerah yang memiliki potensi pesisir yang sangat menjanjikan.

184

Salah satunya adalah kawasan hutan mangrove. Saat ini Kabupaten Musi
Banyuasin masih meliki hutan mangrove yang berada di sepanjang pesisir
pantai seluas 8.023,55 ha. Hutan ini jika tidak dikelola dengan baik,
diperkirakan luasnya akan terus berkurang dan pada saatnya menjadi
sangat sedikit, sehingga keberadaannya tidak berarti atau berguna bagi
kehidupan organisme lain.
Berkurangnya luasan hutan bakau tersebut telah mengakibatkan :
1. Berkurangnya kemampuan daratan khusunya pantai Musi
Banyuasin dalam menghalangi abrasi pantai akibat gelombang
laut.
1. Penyusupan (intrusi) air laut ke daratan sehingga dapat
mengganggu aktifitas masyarakat
2. Penurunan hasil tagkapan (Produktivitas) ikan di pantai dan laut
lepas Indramaayu yang diduga akibat dari berkurangnya areal
pemijahan dan pembesaran anak-anak ikan (Nursey ground).
Sehingga mengakibatkan turunnya pendapatan para nelayan di
daerah sekitar dan menurunkan taraf hidup dari nelayan
kabupaten Musi Banyuasin.
d. Konsep Ekowisata
Secara konseptual, ekowisata dapat didefinisikan sebagai suatu
konsep pengembangan parawisata berkelanjutan yang bertujuan untuk
mendukung upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya)

dan

meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga


memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat dan pemerintah
setempat.
Definisi ekowisata tersebut diatas mengisyaratkan adanya 3 dimensi
penting ekowisata yaitu :
1. Konservasi : suatu kegiatan wisata tersebut membantu usaha
pelestarian alam setempat dengan dampak negatif seminimal mungkin.

185

2. Pendidikan : wisatawan yang mengikuti wisata tersebut akan


mendapatkan ilmu pengetahuan mengenai keunikan biologis, ekosistem
dan kehidupan sosial di kawasan yang dikunjungi.
3. Sosial : masyarakat mendapat kesempatan untuk menjalankan kegiatan
tersebut.
Perlu dipahami, bahwa tujuan dengan dilaksanakan pembangunan
dan pengembangan kawasan hutan mangrove sebagai obyek wisata alam
dan wisata pendidikan yaitu :
1. Melindungi kawasan hutan bakau sebagai plasma nulfah.
2. Mengembangkan hutan bakau menjadi obyek wisata alam dan
pendidikan yang dapat menarik kunjungan wisatawan .
3. Kawasan hutan bakau sebagai wisata pendidikan akan sangat
bermanfaat sebagai sarana pendidikan lingkungan.
4. Dalam rangka membentuk pola kemitraan usaha untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat setempat, serta peningkatan pendapatan asli
daerah.
Sedangkan sasaran dengan dibangunnya kawasan wisata alam dan
pendidikan di Kabupaten Musi Banyuasin ini adalah dalam rangka
melestarikan fungsi hutan mangrove dan meminimalisir kerusakan hutan
mangrove dari kegiatan penduduk setempat dan stekeholders yang hanya
mengejar keuntungan ekonomi tanpa memperlihatkan fungsi ekologi.
e. Pembangunan dan Pengebangan Kampung Wisata

Profil Komunitas
Kabupaten Musi Banyuasin terkenal sebagai kabupaten sentral

tempat memancing terbesar atau lumbung beras di daerah Sumatra


Selatan

dan sebagai kota rawa. Penataan yang kurang baik dan

dukungan pemerintah setempat menjadi salah satu faktor kurang


berkembangnya industri pertanian dan perkebunan di Kabupaten Musi
Banyuasin.

Potensi-potensi

tersebut

merupakan

sumberadaya

pembangunan yang telah banyak berperan dalam peningkatan


perekonomian masyarakat di Kabupaten Musi Banyuasin selama ini.

186

Mengingat sampai saat ini Kabupaten Musi Banyuasin masih


minim memiliki lokasi wisata yang mempunyai daya tarik bagi wisatawan
nusantara, maka perusahaan Wilayah Kerja Pertambangan bekerja
sama dengan pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin dan PT. Perhutani
untuk membangun dan mengembangkan kawasan kampung wisata.

Konsep Kampung Wisata


Konsep dari pembangunan dan pengembangan kampung wisata

Musi Banyuasin memiliki tujuan utama untuk meningkatkan taraf hidup


petani dengan pemanfaatan lahan pertanian dan perkebunan yang baik
dan terstuktur. Selain untuk meningkatkan taraf hidup petani, kampung
wisata juga bisa di jadikan kawasan wisata edukasi khususnya untuk
wisatawan nusantara yang dialamnya terdapat taman buah, khusunya
taman buah mangga dan tanaman buah lain sebagai saranan wisata
dan pembangunan lahan pertanian serta area outbond di kampung
wisata ini. Selain itu kampung wisata Musi Banyuasin direncanakan
sebagai pusat sanggar Tari yang merupakan tarian khas Sumatera
Selatan.

Sehingga

tersedia

kawasan

kampung

wisata

yang

berwawasan lingkungan, pendidikan, sosial dan budaya. Selain itu


dengan

dibangunnya

kampung

wisata

Musi

Banyuasin

dapat

meningkatkan roda ekonomi warga sekitar sehingga taraf hidup


masyarakat sekitar dapat berkembang.
8.8.2 Penanggulangan bencana kekeringan ekstrim di Kecamatan
Bayung Lencir
Daerah Kecamatan Bayung Lencir merupakan daerah dengan curah
hujan terendah diantara kecamatan lain yang ada di kabupaten Musi
Banyuasin. Terdapat satu sungai besar pada wilayah ini yaitu sungai
Cimanuk terdapat pada bagian Selatan dari kecamatan Bayung Lencir.
Sebagian besar sumber air bersih di Kecamatan Bayung Lencir bersumber
dari air sumur, baik jenis sumur dangkal maupun dalam.
Untuk jenis sumur dangkal, sumber air dapat ditemukan mulai
kedalaman 8-9 meter sedang untuk sumur dalam dapat ditemukan sumber

187

air mulai kedalaman 20-30 meter. Kualitas air yang dihasilkan pun beragam,
ada yang sudah baik namun ada juga yang masih buruk karena banyak
mengandung kapur. Sebagian daerah kecamatan Bayung Lencir juga
rentan terhadap bencana kekeringan ekstrim saat bulan kemarau tiba
karena kurangnya hutan tadah hujan sebagai tempat persediaan alami dari
air tanah di daerah tersebut.
Pemda

setempat

telah

melakukan

langkah-langkah

untuk

mengurangi dampak dari kekeringan ekstrim yang terjadi di kecamatan


Jepon yaitu dengan memberikan bantuan air bersih dengan menggunakan
bantuan tanki air bersih untuk beberapa desa yang rawan kekeringan
terutama untuk musim kemarau. Dan untuk sektor pertanian ketika musim
kemarau petani akan mengganti tanamannya dengan tanaman dari jenis
palawija yang membutuhkan lebih sedikit air untuk hidup.
1. Pengadaan Air Bersih untuk Kebutuhan Sehari-hari
Kebutuhan akan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari adalah
kebutuhan dasar yang sangat penting bagi masyarakat. Pada musim
kemarau sebagian wilayah Bayung Lencir akan mengalami kekeringan
ekstrim yang menganggu akitvitas dari masyarakat. Berdasarkan keadaan
hidrologi Sumber air tanah dapat ditemukan mulai kedalaman 8-9 meter
sedang untuk sumur dalam dapat ditemukan sumber air tanah mulai
kedalaman 20-30 meter.
Pelaksanaan
1. Melakukan pencarian sumber mata air bersih dan uji kualitas air sumur
dalam.
Proses ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya sumber mata
air yang dapat dimaanfaatkan, dan juga untuk mengetahui kualitas dari
air tanah dalam pada daerah agar dapat menentukan masuk kedalam
kelas baku mutu untuk minum atau hanya untuk kebutuhan sehari-hari.
2. Menentukan sumber air bersih yang digunakan

188

Berdasarkan proses diatas kita dapat mengevaluasi hasilnya apakah


menggunakan sumur atau sumber mata air bedasarkan kuantitas air dan
kualitasnya.
3. Menentukan treatment yang akan digunakan
Berdasarkan uji kualitas dan uji kuantitas akan di desain pengolah air
agar sesuai dengan baku mutu. Bila tidak ekonomis sumber air
didatangkan dari luar kecamatan Bayung Lencir
4. Menentukan alur dan metode distribusi
Penentuan didasarkan pada ketersediaan akses transportasi , jarak,
dana keamanan dari daerah
2. Menghitung kebutuhan air yang diperlukan untuk metode SRI
SRI (System of Rice Intensification) adalah cara budidaya tanaman
padi yang intensif dan efisien dengan proses manajemen sistem perakaran
yang berbasis pada pengelolaan yang seimbang terhadap tanah, tanaman
dan air (Juhendi, 2008). Menurut Tim Balai Irigasi SRI (2009) pada Buku
Seri 19 Penelitian Hemat Air pada SRI, dalam menghitung kebutuhan air
pada irigasi terputus pada metode SRI dilakukan dengan suatu model
neraca air. Model tersebut disimulasikan dalam interval harian, persamaan
tersebut adalah sebagai berikut.
H + I + R = P + Etc + D
Keterangan:
H= perubahan simpanan air (mm),
I= irigasi (mm), P= perkolasi(mm),
E= evapotranspirasi(mm),
D= drainase (mm)
Besar simpanan air dalam tanah dipengaruhi oleh hujan dan irigasi
sebagai komponen air yang masuk dan evapotranspirasi, drainase dan
perkolasi sebagai komponen air yang keluar. Irigasi dan drainase dilakukan
untuk mengatur kondisi air sehingga simpanan air sesuai dengan perlakuan
yang dikehendaki. Pola irigasi terputus pada metode SRI dilakukan dengan
mengairi lahan (dari sumber hujan maupun irigasi) saat terjadi retak rambut

189

atau kandungan air mendekati 80% dari jenuh lapang sampai keadaan
jenuh.
8.8.3. Pelatihan Kewirausahaan dan Keterampilan Kepada Masyarakat
Sekitar Wilayah Kerja Pertambangan
PT. Sangsaka Enegry sekali lagi memberikan wujud kepeduliannya
terhadap masyarakat sekitar daerah operasi Wilayah kerja pertambangan
dengan memberikan pelatihan kewirausahaan kepada masyarakat di
sekitar Wilayah kerja pertambangan agar masyarakat dapat mandiri dalam
kewirausahaan dengan menyediakan sarana kursus dan pelatihan secara
gratis seperti pelatihan mengenai pertanian, perkebunan, perikanan,
menjahit dan lain-lain. Dengan harapan masyarakat sekitar Wilayah Kerja
Pertambangan dapat mandiri dan memiliki keahlian dalam berwirausaha
dan juga untuk menekan angka pengangguran di Kecamatan Bayung
Lencir dan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar.
8.8.4 Beasiswa Wilayah kerja pertambangan
Sebagai wujud bakti pendidikan dan penjaminan mutupendidikan di
daerah operasi Wilayah kerja pertambangan, perusahaan kami membuat
program beasiswa dengan nama Beasiswa Wilayah Kerja Pertambangan.
Program ini khusus diberikan kepada mahasiswa berprestasi atau murid
sma berprestasi yang ingin melanjutkan kuliah namun terkendala biaya.
Dengan harapan para penerima beasiswa ketika lulus nanti mampu
memberikan dampak positif kepada daerah asal mereka kecamatan
Bayung Lencir. Selain biaya mereka juga akan menerima pelatihan dari
beasiswa Wilayah kerja pertambangan yang akan sangat berguna bagi
mereka.
Disini Wilayah Kerja Pertambangan membagi jenis beasiswa menjadi 3
jenis yaitu :
a. Beasiswa siswa/siswi berprestasi

190

Dengan keuntungan dapat melanjutkan perkuliahan secara gratis


di semua Univeritas yang diinginkan siswa/siswi sampai mencapai
sarjana. Dan setelah lulus dapat bergabung secara langsung ke Wilayah
Kerja Pertambangan sebagai tenaga ahli.
b. Beasiswa Mahasiswa Tingkat Lanjut
Beasiswa ini berguna untuk putra dan putri daerah untuk dapat
melanjutkan perkuliahannya ke tingkat Lanjut atau S-2. Dan putra putri
lulusan beasiswa ini juga diberikan kesempatan untuk dapat bekerja
secara langsung di Wilayah Kerja Pertambangan.
c. Beasiswa untuk siswa/siswi tidak mampu
Beasiswa ini di anjurkan bagi siswa / siswi tidak mampu agar
dapat melanjutkan pendidikannya dengan gratis dan menerima
bantuaan berupa peralatan sekolah sampai ke jenjang SMA.

191

BAB IX
ABANDONMENT AND SITE RESTORATION PLAN

Abandonment and Site Restoration (ASR) Plan merupakan rencana


penutupan sumur karena produksi sumur tersebut dianggap sudah tidak
ekonomis lagi. Penutupan sumur harus dilakukan dengan sangat serius
agar

tidak

terjadi

kesalahan

dalam

pelaksanaan

yang

dapat

membahayakan untuk warga dan lingkungan sekitar. Dengan adanya


restorasi pada site, diharapkan kondisi lingkungan pada site tersebut dapat
kembali seperti semula sebelum dilakukan operasi pemboran dan produksi.
Dasar :

UU RI No. 22 Tahun 2001, tentang Minyak dan Gas

9.1. Proses Abandonment Pada Sumur


Beberapa prosedur teknis penutupan suatu lapangan sesuai dengan
standar API, dimulai dari penutupan sumur-sumur di lapangan tersebut.
Diawali dengan monitoring sumur aktif atau sumur mati, tetapi secara
potensi paling aktif, monitoring ini meliputi tekanan, fluid level, tekanan
kepala sumur dan aliran gas di permukaan.

Abandonment sumur terjadi ketika sumur tersebut sudah tidak


produktif atau produksi hidrokarbon yang dihasilkan sudah tidak
ekonomis lagi.

Hal yang harus diperhatikan ketika melakukan abandonment pada


sumur adalah memperhatikan kondisi mud pits agar harus dalam
keadaan kering

Menghilangkan semua sampah-sampah yang ada dan peralatan


yang terletak di wilayah abandont well.

Sumur disemen di tiga titik rawan pada sumur, tebalnya sekitar 30

192

50 meter di setiap titik penyemenan, letaknya yaitu di zona perforasi,


50 m di atas dan di bawah zona top dan bottom perforasi ,
sedangkan
utnuk
chrismast
tree
harus
dilepas atau
diangkat. proses abandon ini biasa nya di laukan dengan
secondary cementing, yakni jenis cemen plug.

Pada proses penutupan sementara, formasi disemen di atas zona


produktif.

Pada proses penutupan secara permanen maka disemen pada


zona produktif.

Setelah semua proses selesai, untuk selanjutnya dibuat data laporan


mengenai abandonment sumur yang ditujukkan kepada Departemen
Migas.
Pembongkaran fasilitas permukaan adalah langkah terakhir yang

dilakukan dalam tahapan penutupan lapangan, selanjutnya lapangan


dikembalikan ke pemerintah, dalam hal ini diwakili oleh SKK MIGAS.

Gambar 9.1. Abandon Well single completion

193

Gambar 9.2. Abandon Well Comingle completion


9.2. Proses Restorasi Pada Site Pemboran Dan Abandont Well
Proses restorasi lokasi pemboran dan abandon well adalah proses
mengembalikan kondisi lingkungan seperti semula sebelum dilakukan
operasi pemboran dan produksi. Limbah pemboran cair di groundpit harus
diolah sampai memenuhi baku mutu limbah yang diizinkan. Groundpit
harus dalam kondisi kering dan ditimbun. Cutting hasil pemboran biasa
digunakan untuk menimbun groundpit, namun sebelum digunakan harus
diolah terlebih dahulu dan dibersihkan dari bahan-bahan beracun. Untuk
total harga ASR persumurnya adalah 150.000 US$.

194

Gambar 9.3 Abandon Well


.

195

BAB X
PROJECT SCHEDULE &ORGANIZATION

Gambar 10.1 Schedule Skenario 1

Gambar 10.2 Schedule Skenario 2

196

Gambar 10.3 Schedule Skenario 3

Gambar 10.4 Schedule Skenario 4

197

BAB XI
LOCAL CONTENT

Berdasarkan pada peraturan pemerintah Indonesia Konten lokal


mengacu pada perangkaian tindakan seperti proses rekrutmen lokal,
pelatihan, pembelian barang dan jasa lokal, yang dirancang untuk
mengembangkan infrastruktur industri dan keterampilan masyarakat di
negara tempat berlangsungnya proyek migas. Peraturan tersebut berisi :
A. Barang kebutuhan operasional Kontraktor KKS terdiri dari:
1. Barang kebutuhan utama, meliputi semua jenis barang dan peralatan
yang dibutuhkan dan harus tersedia dalam kegiatan operasional
eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi serta bersifat spesifik
untuk kegiatan tersebut.
2. Barang kebutuhan pendukung, meliputi semua jenis barang dan
peralatan yang dibutuhkan dan harus tersedia dalam kegiatan
operasional Kontraktor KKS namun tidak bersifat spesifik untuk
kegiatan kegiatan operasional eksplorasi dan produksi minyak dan
gas bumi.
B. Pelaksanaan kegiatan pengadaan barang/jasa khususnya dalam rangka
mengutamakan

penggunaan barang Produksi Dalam Negeri dan

mengutamakan pemanfaatan jasa dalam negeri, menggunakan Buku


Apresiasi Produksi Dalam Negeri (buku APDN), yang diterbitkan oleh
instansi pemerintah yang membidangi industri minyak dan gas bumi.
Kontraktor KKS wajib menggunakan buku APDN tersebut sebagai acuan
untuk menetapkan strategi pengadaan serta menetapkan persyaratan
dan ketentuan pengadaan.Daftar tersebut berisikan informasi tentang:
1. Barang Wajib Dipergunakan, berisi jenis barang kebutuhan utama
kegiatan eksplorasi dan produksi yang telah diproduksi di dalam
negeri dan salah satu pabrikan telah mencapai penjumlahan TKDN

198

ditambah bobot manfaat perusahaan (BMP)minimal 40% (empat


puluh persen).
2. Barang Dimaksimalkan, berisi jenis:
Barang kebutuhan utama yang telah diproduksi di dalam negeri dan
salah satu pabrikan telah mencapai TKDN minimal 25% (dua puluh
lima persen), namun belum ada pabrikan yang mencapai
penjumlahan TKDN ditambah bobot manfaat perusahaan (BMP)
minimal 40% (empat puluh persen).
Barang kebutuhan pendukung yang telah diproduksi didalam negeri
dan salah satu pabrikan telah mencapai TKDN minimal 25% (dua
puluh lima persen).
3.

Barang

Diberdayakan,

berisi

daftar

barang

kebutuhan

kegiatanoperasional Kontraktor KKS yang telah diproduksi di dalam


negeri dan TKDN salah satu pabrikan telah mencapai minimal 5%
(lima persen), namun belum ada pabrikan denganpencapaian TKDN
25% (dua puluh lima persen).
4. Jasa Dalam Negeri, berisi daftar jasa yang telah pernah diselesaikan
oleh Perusahaan Dalam Negeri dan Perusahaan Nasional di wilayah
negara Republik Indonesia dalam kurun waktu 7 (tujuh) tahun terakhir,
dengan pencapaian TKDN minimal 30% (tiga puluh persen).
C. Pada dasarnya proses pengadaan dilakukan dengan metode pelelangan
terbatas bagi barang Produksi Dalam Negeri. Panitia Pengadaan
mengundang semua pabrikan dalam negeri atau agen tunggal yang
bertindak sebagai distributor tunggal yang ditunjuk oleh pabrikan dalam
negeri yang tercantum dalam buku APDN, dengan pencapaian TKDN
minimal 15% (lima belas persen).Berikut adalah tabel pengadaan barang
:

199

Tabel XI-I Daftar TKDN Lapangan Beta


No

Deskripsi barang

% TDKN

Casing

100 %

Bit

0%

Tubing

100 %

Lumpur Pemboran

80 %

Semen pemboran

90 %

Accecories cementing

15 %

Production facilities unit

20 %

Well head

70 %

Manifoild

0%

10

Pipeline

60%

Rata-rata TDKN

53,5 %

Berdasarkan tabel tersebut nilai rata-rata TDKN pengadaan brang


pada lapangan BETA adalah sebesar 53,5 %.

200

BAB XII
COMERCIAL

Di Indonesia suatu perusahaan yang bergerak pada kegiata hulu


Migas haruslah mematuhi perauturan Production Sharing Contract (PSC)
yang diterapkan pemerintah Indonesia. Berikut adalah skema dari PSC
tersebut :

Gambar 12.1. Skema PSC di Indonesia


12.1. Biaya Proyek
Untuk dapat mengetahui apakah skenario yang direncanakan
dapat menguntungkan perlu dilakukan analisa keekonomian, agar kegiatan
yang dilakukan dapat menghasilakn keuntungan yang besar, untuk itu
berikut adalah parameter dan asumsi yang dipergunakan:
Jenis kontrak

: Production Sharing Contract


201

Waktu Proyek

: 24 tahun

Harga minyak

: 85 US$/Bbl

Bagian Negara (Before Tax)

: 33 %

Bagian Kontraktor (Before Tax)

: 67 %

DMO

: 25 %

DMO Fee

: 25 %

FTP

: 10 % ( tidak dibagi dengan kontraktor)

Metode Depresiasi

: Straigline (Selama 5 Tahun)

Pajak (Tax)

: 44%

Discount Rate

: 10 %

Biaya yang dikeluarkan (US$)


1. Capital
A. Pemboran
1. Infill Vertikal Drilling

:1,888,648 US$/sumur (30%)

2. Infill Horizontal Drilling

: 2,100,000 US$/sumur (30%)

3. Infill Multilateral 2 Arah Drilling : 2,550,000 US$/sumur (30%)


4. Infill Multilateral 2 Arah Drilling : 2,700,000 US$/sumur (30%)
5. Biaya Multilateral 2 Arah

: 700,000 US$/sumur (30%)

6. Biaya Multilateral 4 Arah

: 900,000 US$/sumur (30%)

7. Abandont and side Restoration : 100,000 US$/sumur (30%)


B. Fasilitas Produksi
1. Water Tank

: 16,000 US$/Unit (30%)

2. Oil Tank

: 20,000 US$/Unit (30%)

3. Pipe Line

: 850,000 US$/Unit (30%)

4. Manifold

: 9,000 US$/Unit (30%)

5. Flare Header

: 5,000 US$/Unit (30%)

6. Flare Stack

: 8,000 US$/Unit (30%)

7. FKO Drum

: 15,000 US$/Unit (30%)

8. Generator

: 20,000 US$/Unit (30%)

9. Boster Pump

: 12,000 US$/Unit (30%)

10. Water Punp

: 5,000 US$/Unit (30%)

202

11. Water Treatment

: 50,000 US$/Unit (30%)

12. Separator Test

: 100,000 US$/Unit (30%)

13. Manifold

: 10,000 US$/Unit (30%)

14. Separator Production

: 31,000 US$/Unit (30%)

15. CCR

: 180,000 US$/Unit (30%)

16. Metering

: 50,000 US$/Unit (30%)

17. Gas Scrubber

: 30,000 US$/Unit (30%)

18. FWKO

: 30,000 US$/Unit (30%)

19. Oil skimmer

: 25,000 US$/Unit (30%)

20. Equipment for Injection Gas

: 100,000 US$/Unit (30%)

21. Equipment for Injection Water : 100,000 US$/Unit (30%)


2. Non capital
A. Pemboran
2. Infill Vertikal Drilling

: 1,888,648 US$/sumur (70%)

3. Infill Horizontal Drilling

: 2,100,000 US$/sumur (70%)

4. Infill Multilateral 2 Arah Drilling : 2,550,000 US$/sumur (70%)


5. Infill Multilateral 2 Arah Drilling : 2,700,000 US$/sumur (70%)
6. Biaya Multilateral 2 Arah

: 700,000 US$/sumur (70%)

7. Biaya Multilateral 4 Arah

: 900,000 US$/sumur (70%)

8. Abandont and side Restoration : 100,000 US$/sumur (70%)


B. Fasilitas Produksi
1. Water Tank

: 16,000 US$/Unit (70%)

2. Oil Tank

: 20,000 US$/Unit (70%)

3. Pipe Line

: 850,000 US$/Unit (70%)

4. Manifold

: 9,000 US$/Unit (70%)

5. Flare Header

: 5,000 US$/Unit (70%)

6. Flare Stack

: 8,000 US$/Unit (70%)

7. FKO Drum

: 15,000 US$/Unit (70%)

8. Generator

: 20,000 US$/Unit (70%)

9. Boster Pump

: 12,000 US$/Unit (70%)

10. Water Punp

: 5,000 US$/Unit (70%)

203

11. Water Treatment

: 50,000 US$/Unit (70%)

12. Separator Test

: 100,000 US$/Unit (70%)

13. Manifold

: 7,000 US$/Unit (70%)

14. Separator Production

: 31,000 US$/Unit (70%)

15. CCR

: 200,000 US$/Unit (70%)

16. Metering

: 50,000 US$/Unit (70%)

17. Gas Scrubber

: 30,000 US$/Unit (70%)

18. FWKO

: 30,000 US$/Unit (30%)

19. Oil skimmer

: 25,000 US$/Unit (30%)

20. Equipment for Injection Gas

: 100,000 US$/Unit (70%)

21. Equipment for Injection Water : 100,000 US$/Unit (70%)


22. Well Test Analisys

: 5,000 US$/sumur (70%)

23. Core analysis

: 6,000 US$/sumur (70%)

B. Operating Cost
1. Lifting Cost

: 6 US$/Bbl

2. Water treatment cost

: 0.1 US$/Bbl

3. Well Service

: 5,000 US$/ sumur

C. General and Administration

: 500,000 US$/ years

204

12.2. Analisa Keekonomian Skenario.


12.2.1. Base Case
Tabel XII-1 Hasil Keekonomian Basecase
Parameter keekonomian
Produksi Minyak
Harga minyak
Gross revenue
Umur Proyek
Investasi
Biaya Operasi
Net Goverment Take
NCF kontraktor
NPV Kontraktor
ROR Kontraktor
POT Kontraktor
PIR Kontraktor
DPIR Kontraktor

Base Case
1,405,592
65
91,363,542
24
43,983,500
8,506,902
33,669,202
5,539,937
-15,590,556
1.28%
0.13
-0.35

STB
US$/Bbl
US$
Tahun
US$
US$
US$
US$
US$
%
Tahun

GOVERMENT & CONTRACTOR TAKE ($)

NCF Goverment & Contractor Take


Basecase
3,000,000.00
2,500,000.00
2,000,000.00
1,500,000.00
1,000,000.00
500,000.00
0.00
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
TAHUN KE
contractor Take

Government take

Gambar 12.2 Grafik Perbandingan Cashflow Government dan


Contractor

205

Pada skenario ini tidak dilakukan apapun pada lapangan, produksi


hanya mengandalkan dari sumur yang ada. Hanya terdapat 4 sumur yang
berproduksi dari lapangan Beta. Untuk keeokonomian Pay out time tidak
dapat dihitung karena tidak ada keuntungan, namun dapat diketahui bahwa
basecase dapat menghasilkan net cash flow sebesar 5,539,937US$ dan
Net present value sebesar -15,590,556US$. Hal ini sangatlah tidak
menguntungkan, karena analisa besarnya biaya investasi dan biaya
operasi.
12.2.2. Skenario 1 (Basecase + Dilakukan 11 sumur infill vertikal)
Tabel XII-2 Hasil Keekonomian Skenario 1
Parameter keekonomian

Base Case

Produksi Minyak
Harga minyak
Gross revenue
Umur Proyek
Investasi
Biaya Operasi
Net Goverment Take
NCF kontraktor
NPV Kontraktor
ROR Kontraktor
POT Kontraktor
PIR Kontraktor
DPIR Kontraktor

3,325,553.02
65
257,234,573
24
65,251,406
31,085,925
136,726,679
24,302,562
4,499,306
13.87%
5.72
0.37
0.07

206

STB
US$/Bbl
US$
Tahun
US$
US$
US$
US$
US$
%
Tahun

GOVERMENT & CONTRACTOR TAKE ($)

NCF Goverment & Contractor


Take Skenario 1
20,000,000.00
15,000,000.00
10,000,000.00

5,000,000.00
0.00
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
TAHUN KE
contractor Take

Government take

Gambar 12.3 Grafik Perbandingan Cashflow Government dan


Contractor Skenario 1
Skenario 1 ini merupakan skenario dengan cara melakukan 11
sumur infill vertikal. Secara keekonomian untuk kontraktor, skenario ini
menghasilkan netcash flow dan net present value yang kecil. Minyak yang
dihasilkan dari sumur infill yang di buat tidak banyak, sehingga biaya
investasi dan operasi yang di lakukan tidak dapat tertutupi oleh penjualan
minyak hasilproduksi.

207

12.2.2. Skenario 2 (Basecase + Dilakukan 8 sumur infill vertikal dan 2


sumur injeksi air.)
Tabel XII-3 Hasil Keekonomian Skenario 2
Parameter keekonomian

Base Case

Produksi Minyak
Harga minyak
Gross revenue
Umur Proyek
Investasi
Biaya Operasi
Net Goverment Take
NCF kontraktor
NPV Kontraktor
ROR Kontraktor
POT Kontraktor
PIR Kontraktor
DPIR Kontraktor

3,427,065.51
65
263,716,717
24
63,843,478
31,704,267
142,832,993
25,471,977
4,937,832
14.18%
5.55
0.40
0.08

STB
US$/Bbl
US$
Tahun
US$
US$
US$
US$
US$
%
Tahun

GOVERMENT & CONTRACTOR TAKE ($)

NCF Goverment & Contractor


Take Skenario 2
20,000,000.00
15,000,000.00
10,000,000.00
5,000,000.00
0.00
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
TAHUN KE
contractor Take

Government take

Gambar 12.4 Grafik Perbandingan Cashflow Government dan


Contractor Skenario 2

208

Skenario 2 ini merupakan skenario dengan cara melakukan 8 sumur


infill vertikal dan 2 sumur injeksi air. Secara keekonomian untuk kontraktor,
skenario ini menghasilkan skenario ini menghasilkan nilai keekonomian
yang lebih baik daripada skenario 1. Karena nilai produksi yang sedikit lebih
besar dan biaya investasi yang lebih murah, manun secara keekonomian
skenario ini tidak menguntungkan sama seperti scenario 1. Hasil rate of
return masih di bawah nilai MARR yaitu di bawah 15 %.
12.2.3. Skenario 3 (Basecase + 4 infill vertikal, 3 Infill Horizontal, 3 infill
Multilateral, 2 injeksi gas dan 1 injeksi air.)
Tabel XII-4 Hasil Keekonomian Skenario 3
Parameter keekonomian

Base Case

Produksi Minyak
Harga minyak
Gross revenue
Umur Proyek
Investasi
Biaya Operasi
Net Goverment Take
NCF kontraktor
NPV Kontraktor
ROR Kontraktor
POT Kontraktor
PIR Kontraktor
DPIR Kontraktor

5,533,616
65
359,685,072
24
74,677,535
45,554,116
203,119,938
36,585,945
11,275,454
19.68%
4.38
0.49
0.15

209

STB
US$/Bbl
US$
Tahun
US$
US$
US$
US$
US$
%
Tahun

GOVERMENT & CONTRACTOR TAKE ($)

NCF Goverment & Contractor


Take Skenario 3
30,000,000.00
25,000,000.00
20,000,000.00
15,000,000.00
10,000,000.00
5,000,000.00
0.00
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
TAHUN KE
contractor Take

Government take

Gambar 12.5 Grafik Perbandingan Cashflow Government dan


Contractor Skenario 3
Skenario 3 ini merupakan skenario dengan cara melakukan 4 infill
vertikal, 3 Infill Horizontal, 3 infill Multilateral, 2 injeksi gas dan 1 injeksi air.
Secara keekonomian untuk kontraktor, skenario ini menghasilkan nilai
keekonomian paling baik dikarenakan produksi yang besar karena terdapat
sumur Multilateral dan horizontal yang menguras minyak lebih banyak dan
injeksi gas dan air yang membantu mendorong mengakibatkan nilai gross
revenue yang besar. Nilai Rate of Return yang besar berimbas pada
cepatnya investasi kembali (POT) dan nilai net cash flow yang besar.

210

12.2.3. Skenario 4 (Basecase + penambahan Multilateral pada sumur


Beta 1,2,3 dan 4, 1 infill vertikal, 1 infill horizontal, 6 sumur infill
Multilateral dan 2 injeksi air.)
Tabel XII-5 Hasil Keekonomian Skenario 4
Parameter keekonomian

Base Case

Produksi Minyak
Harga minyak
Gross revenue
Umur Proyek
Investasi
Biaya Operasi
Net Goverment Take
NCF kontraktor
NPV Kontraktor
ROR Kontraktor
POT Kontraktor
PIR Kontraktor
DPIR Kontraktor

4,572,873
65
297,236,793
24
82,604,563
38,846,215
149,779,754
26,186,261
5,025,430
14.34%
6.16
0.32
0.06

STB
US$/Bbl
US$
Tahun
US$
US$
US$
US$
US$
%
Tahun

GOVERMENT & CONTRACTOR TAKE ($)

NCF Goverment & Contractor


Take Skenario 4
20,000,000.00
15,000,000.00
10,000,000.00
5,000,000.00
0.00
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
TAHUN KE

contractor Take

Government take

Gambar 12.6 Grafik Perbandingan Cashflow Government dan


Contractor Skenario 4

211

Skenario 4 ini merupakan skenario dengan cara Basecase +


penambahan Multilateral pada sumur Beta 1,2,3 dan 4, 1 infill vertikal, 1
infill horizontal, 6 sumur infill Multilateral dan 2 injeksi air. Dengan scenario
ini di mengusahakan untuk dapat menguras minyak dari reservoir dengan
menggunakan sumur Multilateral. Namun besarnya investasi tidak
sebanding dengan perolehan minyaknya sehingga secara keekonomian
skenario ini menghasilkan nilai keekonomian yang tidak lebih baik dari
skenario 3, karena skenario ini hanya menghasilkan perolehan minyak
yang sedikit namum membutuhkan investasi yang besar.
Untuk memilih skenario yang paling ekonomis, perbandingan
keekonomian dapat dilihat dari tabel dan grafik dibawah ini :
Tabel XII-6 Perbandingan Keekonomian Tiap Skenario
Skenario

Skenario 1

Skenario 2

Skenario 3

Skenario 4

GOVERNMEN
T TAKE (US$)

136,726,67
9

142,832,99
3

203,119,93
8

149,779,75
4

NPV @10%
CONTRACTO
R (US$)

4,499,306

4,937,832

11,275,454

5,025,430

ROR
POT
DPIR
PIR

13.87%
5.72 Tahun
0.07
0.37

14.18%
5.55 Tahun
0.08
0.4

19.70%
4.38 tahun
0.59
0.15

14.34%
6.12 tahun
0.32
0.06

CONTRACTO
R TAKE(US$)

24170561

25335977

36,585,945

26,186,261

Investasi (US$)

65,251,406

63,843,478

74,637,535

82,464,563

212

Goverment Take & Investasi


GOVERMENT TAKE & INVESTASI

250,000,000
203,119,938
200,000,000
150,000,000
100,000,000

136,726,679

149,779,754

142,832,993

65,251,406

63,843,478

74,637,535

82,464,563

50,000,000
0
1

2
Government Take

Investasi

Gambar 12.7 Goverment Take & Investasi

NPV CONTRACTOR & INVESTASI

Contractor Take & Investasi


90000000
80000000
70000000
60000000
50000000
40000000
30000000
20000000
10000000
0

82,464,563
74,637,535
65,251,406

63,843,478

36,585,945
24170561

26,186,261

25335977

2
NPV contractor

Investasi

Gambar 12.8 Contractor Take & Investasi


Berdasarkan perbandingan antara setiap scenario yang ada. Maka
scenario 3 lah yang dipilih dalam proyek ini. Perbandingan yang dilakukan
meliputi indicator keekonomian yaitu berupa pay out time (POT), rate of
return (ROR), net present value (NPV), profite investment ratio (PIR) dan
213

discounted profite investment ratio (DPIR). Selain itu perlu juga dilihat
investasi yang harus dikeluarkan setiap skenario Untuk itu scenario ini
harus dianalisa sensitivitasnya.
12.3. Analisa Sensitivitas.
Harga barang dan jasa di pasar tentunya akan berubah seiring
dengan perubahan waktu, dan perubahan harga ini engikuti mekanisme
pasar. Pada industri Migas, naik turunnya harga ini akan berimbas pada
analisa keekonomian, parameter yang paling berpengaruh yaitu Investasi,
harga minyak dunia dan operating cost. Tidak hanya itu, kemampuan
reservoir untuk memproduksi minyakpun akan mengalami pasang surut,
sehingga sulit untuk mendapatkan nilai pasti berapakah minyak yang dpaat
diperoleh. Perubahan ini akan mengakibatkan indikator ekonomi yang di
hitung akan berubah. Untuk itu diperlukan sensitivitas untuk mengetahui
indikator ekonomi yang akan didapatkan, baik karena perubahan harga
maupun perubahan produksi,berikut adalah grafik sensitivitas yang di buat
berdasarkan skenario 3, (spider diagram) :

Sensitivitas ROR
30%
25%
20%
15%

80%

85%

90%

95%

10%
100%

105%

110%

115%

Sensitivitas
oil production

opex

investasi

oil price

Gambar 12.9. Spider Diagram ROR

214

120%

Sensitivitas NPV CONTRAKTOR


$25,000,000
$20,000,000

$15,000,000
$10,000,000
$5,000,000
oil production

opex

investasi

oil price

$-

80%

85%

90%

95%

100%
105%
Sensitivitas

110%

115%

120%

Gambar 12.10. Spider Diagram NPV Contractor

Sensitivitas NPV GOVERMENT


$160,000,000
$140,000,000
$120,000,000
$100,000,000
$80,000,000
$60,000,000
$40,000,000

80%

85%

$20,000,000
oil production
opex
investasi
$90%
95% Sensitivitas
100%
105%
110%

oil price
115%

120%

Gambar 12.11. Spider Diagram NPV Government


Sensitivitas yang dilakukan adalah senstivitas terhadap Investasi,
operating cost, harga minyak dan produksi minyak yang dinaikan dan
diturunkan 20 % dari nilai aslinya. Dari grafik dapat dilihat pad grafik ROR
nilai sensitivitas harga minyak dan produksi minyak menghasilkan nilai yang
segaris. Hal ini dikarenakan nilai minyak yang berpoduksi dan harga minyak
akan berpengaruh terhadap gross revenue. Kedua naik turunnya nilai ini
dan investasi merupakan nilai yang sangat berpengaruh terhadap rate of

215

return, sedangkan naik turunnya operating cost sebesar 20 % tidak


berpengaruh signifikan, karena nilainya tidak terlalu besar.
Untuk sensitivitas yang dilakukan pada Net present value baik untuk
kontraktor maupun pemerintah, semua parameter sangat berpengaruh
terhadap besar kecilnya net resent value, sama dengan nilai ROR naik
turunnya harga minyak dan produksi minyak akan menghasilkan garis yang
sama, Nilai investasipun

berpengaruh besar pada nilai NPV. serupa

dengan sensitivitas Ror nilai operating cost sangatlah berpengaruh


terhadap nilai net present Value, karena nilainya tidak terlalu besar.
12.4. Kesimpulan Keekonomian.
Setelah diperhitungkan indikator keekonomian pada masing-masing
skenario, maka akan didapat indikator ekonomi yang beragam. Untuk dapat
memilihnya, semua indikator tersebut haruslah diperhatikan. Maka akan
dipilih skenario 3 yaitu Basecase + 4 infill vertikal, 3 Infill Horizontal, 3 infill
Multilateral, 2 injeksi gas dan 1 injeksi air. Indikator ekomomi yang
dihasilkan yaitu NCf sebesar 36,585,945 US$, NPV sebesar 11,275,454
US$, POT 4.38 tahun ROR sebesar 19.70 % dengan investasi sebesar
74,637,535 US$ dan goverment take 203,119,938 US$.
Skenario 3 dipilih memiliki indicator keekonomian yang paling baik.
Scenario lainnya pun memiliki indicator keekonomian yang paling tidak jauh
berbeda dari scenario 3. Namun berdasarkan nilai MARR (minimum
acceptable rate of return) yang sebesar 15 %, hanya scenario 3 sajalah
yang lebih besar dari MARR. Seperti yang diketahui, jika suatu project
melebihi nilai MARR maka proyek itu menguntungkan dan layak untuk
dijalankan. Mamun ROR yang diperoleh dari scenario 3 hanya sebesar
19.7 % hanya memiliki selisih sekitar 4.7 % dari nilai MARR. Kecilnya selisih
tersebut, dikarenakan kecilnya harga minyak, sedangkan besarnya
investasi dan biaya operasi tetap besar. Seperti yang dapat dilihat dari
spider diagram, jika harga minyak lebih besar 20% dari harga minyak 65

216

US$ maka proyek ini dapat menghasilkan nilai ROR sebesar 27.2 %, lebih
besar daripada harga minyak 65 US$.

217

BAB XIII
CONCLUSION AND RECOMMENDATION

13.1. CONCLUSION
1. Lapangan Beta terdiri dari 3 lapisan yang produktif yang masing-masing
memiliki cadangan minyak sebagai berikut:

Lapisan Z380 : 2.22 MMSTB

Lapsian Z450 : 4.27 MMSTB

Lapisan Z650 : 1.73 MMSTB

2. Berdasarkan segi teknis dan segi keekonomisan, skenario yang terbaik


yang dipilih untuk mengembangkan Lapangan Beta adalah skenario 3,
yaitu : 4 Sumur Basecase, 4 Sumur Vertikal, 4 Sumur Horizontal, 3
Sumur Multilateral, 2 Sumur Injeksi Gas, dan 1 Sumur Injeksi Air.
3. Kumulatif produksi minyak Lapangan Beta menggunakan Scenario 3
adalah sebesar 5.48 MMSTB dengan recovery factor sebear 25.56%.
4. Skenario 3 menghasilkan NPV untuk Kontraktor sebesar US$
11,275,454, ROR 19.68%, POT 4.38 tahun, PIR 0.49 dan DPIR 0.15.
13.2. RECOMMENDATION
Berdasarkan hasil studi yang telah dilakukan maka beberapa
rekomendasi yang dapat disampaikan berkenaan dengan pengembangan
Lapangan Beta:
1. Dari skenario 3 belum dapat memproduksikan cadangan sisa
keseluruhan, oleh karena itu diperlukan penambahan sumur infill di
daerah yang belum terkuras serta mengaplikasikan kegiatan Enhanced
Oil Recovery (EOR).
2. Diperlukan untuk melakukan rate test pada sumur yang baru saja dibor
untuk mengetahui performa langsung dari masing-masing sumur serta

218

diperlukan melakukan analisa air formasi untuk menentukan scaling


index.
3. Pengembangan Lapangan dapat dilanjutkan menggunakan Skenario 3
sudah cukup menguntungkan meskipun harga minyak hanya sebesar
65 US$/bbl dan apabila harga minyak meningkat maka hasil
keuntungan yang didapatkan akan lebih besar.

219

DAFTAR PUSTAKA

Adam, N.J, Drilling Engineering A Complete Well Planning Approach,Pen Well


Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1985.
Bourgoyne, A.T, Jr., et.al., Applied Drilling Engineering, SPE Textbook Series,
First Printing, Richardson, Texas, USA, 1986.
Dewan, John T., 1983.Essentials of Modern Open Hole Log Interpretation.Tulsa,
Oklahoma :Penwell Publishing Company.
Glover, Paul W.J., Petrophysic. Department of Geology and Petroleum Geology
University of Aberdeen UK.
Hermawan, Reza A., 2010. Inversi Impedansi Elastik Untuk Identifikasi
Penyebaran Reservoar Batupasir Studi Kasus Lapangan Aditya Formasi
Talang Akar CekunganJawa Barat Utara.Skripsi S-1 TeknikGeofisika
FTM UPN Veteran Yogyakarta. (Tidakdipublikasikan)
Koesoemadinata, R.P., 1980. GeologiMinyak dan Gas BumiJilid 1 EdisiKe
II.Institut Teknologi Bandung, Bandung.
Nopyansyah, T., 2007.StudiPenyebaranReservoarBerdasarkan Data Log, Cutting,
dan Atribut Seismik Pada Lapangan TNP Formasi Cibulakan Atas
Cekungan Jawa Barat Utara, Skripsi-S1 Teknik Geologi FTM UPN
Veterran Yogyakarta. (Tidakdipublikasikan)
Rudi Rubiandini, TeknikPemboranLanjut, JurusanTeknikPerminyakan ITB.

220

POD TEAM UPN VETERAN YOGYAKARTA OIL


EXPO 2015
Director of Production Operation Department
Full name

:Christian Bimo Adi Nugroho

Gender

:Male

Palce, Date of Birth day

: Balikpapan, 23 maret 1993

ID card/ Studen card number

: 113110053

College Major

:Petroleum Engineering

Year of study/ Smester

: 2011 / 8

Mobile phone No

: 081328387837

Email

: chrisbimo@gmail.com

Directr of Comertial and Reservoir Development Department


Full name

: Ade Hardian

Gender

:Male

Palce, Date of Birth day

: Jakarta, 6 maret 1993

ID card/ Studen card number

: 113110007

College Major

:Petroleum Engineering

Year of study/ Smester

: 2011 / 8

Mobile phone No

: 085759076253

Email

: Hardian910@gmail.com

221

Director drilling and completion Department


Full name

: Jhoni wahyudi

Gender

:Male

Palce, Date of Birth day

: Bengkulu,28 Juni 1993

ID card/ Studen card number

: 113110004

College Major

:Petroleum Engineering

Year of study/ Smester

: 2011 / 8

Mobile jhoni_wahyudi04@yahoo.co.id
phone No
: 08984215150
Email

: jhoni_wahyudi04@yahoo.co.id

Director of Subsurface Departement


Full name

: Rifky Adhatama

Gender

:Male

Palce, Date of Birth day

: Jambi,1 Juni 1993

ID card/ Studen card number

: 1131100122

College Major

:Petroleum Engineering

Year of study/ Smester

: 2011 / 8

Mobile phone No

: 0857222200627

Email

: Rifky_adhatama@ymail.com

jhoni_wahyudi04@yahoo.co.id

222

Director of Exploration Department


Full name

: Faris Ahad S

Gender

:Male

Palce, Date of Birth day

: Jakarta,10 Juli 1994

ID card/ Studen card number

: 111120061

College Major

: Geological Engineering

Year of study/ Smester

: 2012 / 6

Mobile phone No

: 085643934932

Email

: dexter_ahad@yahoo.co.id

Tshirt Size

:M

223