Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM MIKOLOGI

EKSPLORASI JAMUR ENDOFIT

Oleh
Nama : Yayan Nurkasanah
NIM : 135040201111045
Kelas : D
Asisten : Suswatun Khanifah

JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN


PROGAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) merupakan salah satu produk
hortikultura yang termasuk dalam kelompok sayuran buah yang potensial
sebagai sumber vitamin terutama vitamin A, C, dan vitamin B. Produksi tanaman
tomat di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan
seiring dengan semakin meningkatnya permintaan masyarakat. Akan tetapi
dalam budidaya tomat seringkali mengalami beberapa kendala (Pitojo, 2005).
Adanya serangan penyakit pada tomat merupakan kendala yang paling dominan
daripada jenis gangguan lainnya.
Dalam rangka menjaga produksi tomat agar tetap tinggi dan dapat
memenuhi permintaan masyarakat, perlu dilakukan tindakan pencegahan dan
pengendalian terhadap serangan penyakit pada tanaman tomat. Akan tetapi
pengendalian yang dilakukan masih menggunakan pestisida yang tidak aman
bagi lingkungan. Salah satu alternatif pengendalian penyakit yang aman adalah
pengendalian secara hayati dengan menggunakan jamur endofit yang bersifat
antagonis untuk meningkatkan ketahanan induksi tanaman terhadap penyakit
(Sudantha dan Abadi, 2006). Jamur endofit adalah jamur yang terdapat di dalam
jaringan tanaman seperti daun, bunga, ranting, ataupun akar tanaman. Jamur ini
menginfeksi jaringan tanaman sehat dan mampu menghasilkan mikotoksin,
enzim, serta antibiotik (Carrol, 1988). Dengan adanya jamur endofit di dalam
jaringan

tanaman

akan

memberikan

keuntungan

bagi

tanaman,

yaitu

meningkatnya toleransi tanaman terhadap logam berat, meningkatnya ketahanan


terhadap kekeringan, menekan serangan hama, dan resistensi sistemik terhadap
patogen (Amold et al., 2003 dalam Sudantha dan Abadi, 2006).
Pemahaman yang lebih mendalam mengenai keanekaragaman jamur
endofit di dalam jaringan tanaman dan kemampuan antagonisnya terhadap jamur
patogen perlu dikaji lebih dalam, sehingga lebih jauh dapat diketahui potensi
jamur endofit sebagai agen biokontrol yang dapat mengurangi penggunaan
fungisida dalam pengendalian penyakit.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum eksplorasi jamur endofit ini adalah untuk
mengetahui jenis jamur endofit yang diisolasi dari bagian daun muda, daun tua,
akar dan batang tanaman tomat.
1.3 Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah diharapkan mahasiswa mampu
mengetahui

jenis

jamur

endofit

yang

bermanfaat

bagi

petani

dalam

mengendalikan penyakit pada tanaman tomat dengan menggunakan jamur


endofit yang bersifat antagonis.

II. Tinjauan Pustaka


2.1 Pengertian jamur endofit
Jamur endofit adalah mikroorganisme yang hidup di dalam jaringan
tanaman tanpa menyebabkan kerusakan bagi inang (Khairy, 2012).
Jamur endofit memiliki peran memberi ketahanan tanaman dari cekaman
lingkungan biotik dan abiotik. Jamur endofit terdapat di dalam jaringan tanaman
meliputi daun, bunga, ranting, akar dan bagian-bagian tanaman lainnya.
Mikroorganisme endofit terdapat di dalam jaringan tanaman meliputi jamur,
actinomycetes dan bakteri (Munif, 2003).
Jamur endofit merupakan mikroorganisme yang tertinggal dalam jaringan
tanaman hidup tanpa menyebabkan pengaruh yang merugikan bagi tanaman
tersebut (Bacon dan White, 2000).
Jamur endofit merupakan jamur yang hidup di dalam jaringan tumbuhan
tanpa menimbulkan gejala penyakit pada inangnya. Jamur endofit mampu
menghasilkan senyawa bioaktif misalnya senyawa antibakteri, antifungi, antivirus,
anti malaria dan sebagainya (Strobel dan Daisy 2003).
2.2 Kisaran inang jamur endofit
Jamur endofit merupakan jamur yang terdapat pada sistem jaringan
tanaman yang tidak menyebabkan gejala penyakit pada tanaman inang. Jamur
endofit menghabiskan sebagian bahkan seluruh siklus hidup koloninya di dalam
maupun di luar sel jaringan hidup tanaman inangnya. Kita dapat mengeksplorasi
jamur endofit pada sistem jaringan tumbuhan seperti daun, buah, ranting/batang
maupun akar. Pada beberapa jenis jamur endofit diketahui mampu merangsang
pertumbuhan tanaman dan meningkatkan ketahanan inang terhadap serangan
patogen.
Asosiasi jamur endofit dengan tumbuhan inangnya, oleh Carrol (1988)
digolongkan dalam dua kelompok, yaitu mutualisme konstitutif dan induktif.
Mutualisme konstitutif merupakan asosiasi yang erat antara jamur dengan
tumbuhan terutama rumput-rumputan. Pada kelompok ini jamur endofit
menginfeksi ovula (benih) inang, dan penyebarannya melalui benih serta organ
penyerbukan inang. Mutualisme induktif adalah asosiasi antara jamur dengan
tumbuhan inang, yang penyebarannya terjadi secara bebas melalui air dan

udara. Jenis ini hanya menginfeksi bagian vegetatif inang dan seringkali berada
dalam keadaan metabolisme inaktif pada periode yang cukup lama.
Jenis tanaman yang tersebar di muka bumi, masing-masing tanaman
mengandung satu atau lebih mikroorganisme endofit yang terdiri dari bakteri dan
jamur yang mampu menghasilkan senyawa biologi atau metabolit yang dapat
berfungsi sebagai antiserangga, zat pengatur tumbuh dan penghasil enzimenzim hidrolitik seperti amilase, selulase, xilanase, ligninase, kitinase (Masyarah,
2009 dalam Kurnia et al., 2014). Hal ini disebabkan oleh jamur endofit merebut
nutrisi dari patogen (kompetisi nutrisi) sehingga terjadi perubahan pada hifa
patogen yang akan menyebabkan pertumbuhan patogen terhambat.
2.3 Peranan jamur endofit
Peranan jamur endofit diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Sebagai agens hayati
Kelompok jamur endofit berperan sebagai agens hayati yaitu Fusarium
solani, Acremonium zeae, Verticillium sp., Phomopis cassiae, Muscodor albus,
Periconia sp. Ampelomyces sp., Neotyphodium lolii dan lain- lain (Gao et al.,
2010). Jamur endofit Lecanicillium lecanii diisolasi dari tanaman kapas dalam
kondisi menguntungkan mampu mengurangi serangan kutu putih (Hermawati,
2007), jamur endofit Colletotrichum trunctatum diisolasi dari tanaman jarak
mengendalikan pertumbuhan patogen Fusarium oxysporum (Hanada et al.,
2010; Kumar dan Kaushik, 2013). Jamur Trichoderma spp. yang dieksplorasi dari
buah kakao mampu bersifat antagonis terhadap jamur Phytophthora palmivora
penyebab busuk buah kakao dan jamur Fusarium sp. hasil eksplorasi di
perakaran tanah kakao (Ditjen perkebunan, 2016).
2. Menghasilkan zat pengatur tumbuh
Zat pengatur tumbuh yang dihasilkan jamur endofit yaitu hormon IAA,
sitokinin, etilen dan giberelin berperan dalam menginduksi ketahanan tanaman
(Obura, 2010).
3. Memberikan ketahanan tanaman
Jamur endofit memberikan ketahanan tanaman terhadap kekeringan,
cekaman logam berat, pH rendah, salinitas dan cekaman suhu tinggi.
Simbiosis mutualistik ini menyebabkan berkurangnya kerusakan pada sel
atau jaringan tanaman, meningkatkan kemampuan bertahan hidup dan
fotosintesis sel jaringan tanaman yang terinfeksi pathogen tanah. Dalam

simbiosis ini, jamur endofit membantu tanaman lebih toleran terhadap faktor
abiotik dan biotik.
Jamur endofit menghasilkan mikotoksin atau metabolit lainnya yang
menyebabkan perubahan fisiologi dan biokimia inang (Clay, 1988) sehingga
keberadaan endofit dalam jaringan tanaman dapat berperan langsung dalam
menghambat perkembangan pathogen dalam tanaman. Endofit juga memiliki
kemampuan menginduksi terbentuknya metabolit sekunder yang bersifat toksik
terhadap herbivora (Clay, 1988). Mikotoksin endofit bermanfaat pada tanaman
berkayu dan rumput-rumputan sebagai ketahanan terinduksi terhadap serangga
herbivora (Carroll, 1988).
2.4 Jamur endofit sebagai agens antagonis patogen tanaman
1. Jamur Trichoderma spp.
Pemanfaatan Jamur Trichoderma spp. Endofit Sebagai Agensia Hayati
Keberadaan jamur Trichoderma spp. endofit dapat ditemukan pada jaringan
tanaman sehat. Keberadaan jamur Trichoderma spp. di dalam jaringan tanaman
sehat mempunyai pengaruh baik bagi tanaman, yaitu dapat meningkatkan
ketahanan tanaman dari serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
Cara eksplorasi dilakukan dengan mengisolasi jaringan tanaman baik itu daun,
batang, akar maupun buah yang sehat dengan menggunakan media water agar
(WA). Penggunaan media WA dilakukan supaya jamur yang tumbuh merupakan
jamur yang benar-benar dari jaringan tanaman. Karena media WA terdiri dari
agar dan air saja, sehingga miskin nutrisi. Jamur endofit akan tumbuh pada
permukaan jaringan tanaman, setelah diinkubasikan pada suhu ruang. Jamur
endofit akan tumbuh di atas jaringan tanaman setelah lebih dari 7 hari inkubasi
pada suhu ruang (Gambar 1).

Gambar 1. a. Isolasi daun kakao sehat untuk mendapatkan jamur endofit b.


Jamur Trichoderma spp. endofit tumbuh di atas permukaan daun (Ditjen
perkebunan, 2016)
Peran endofit sebagai agensia hayati mulai banyak diteliti sejak diketahui
adanya fenomena mengenai kemampuan tanaman dalam menghadapi stres

biotik maupun abiotik terkait dengan keberadaan endofit di dalam jaringannya.


Contoh jamur endofit yang berperan sebagai agen pengendali hayati diantaranya
adalah Trichoderma spp., jamur Trichoderma spp. yang dieksplorasi dari buah
kakao mampu bersifat antagonis terhadap jamur Phytophthora palmivora
penyebab busuk buah kakao dan jamur Fusarium sp. hasil eksplorasi di
perakaran tanah kakao. Endofit mencegah perkembangan penyakit karena
memproduksi siderofor (Kloepper et al. 1980), menghasilkan senyawa metabolit
yang bersifat racun bagi jamur patogen (Schnider-Keel et al. 2000), atau
terjadinya kompetisi ruang dan nutrisi (Kloepper et al. 1999). Endofit juga
memiliki kemampuan untuk mereduksi produksi toksin yang dihasilkan oleh
patogen sehingga tidak patogenik terhadap tanaman atau menginduksi
ketahanan tanaman terhadap serangan patogen. (Yulianti, 2012).
Jamur Trichoderma spp. dalam menekan jamur Phytophthora palmivora
dilakukan dengan cara pelilitan hifanya terhadap jamur patogen yang akan
membentuk struktur seperti kait yang disebut haustorium dan menusuk jamur
patogen. Bersamaan dengan penusukan hifa, jamur itu mengeluarkan enzim
yang akan menghancurkan dinding sel jamur patogen, seperti enzim kitinase dan
b-1-3-glucanase. Akibatnya, hifa jamur patogen akan rusak protoplasmanya
keluar dan jamur akan mati. Secara bersamaan juga terjadi mekanisme
antibiosis, keluarnya senyawa antifungi golongan peptaibol dan senyawa furanon
oleh Trichoderma harzianum yang dapat menghambat pertumbuhan spora dan
hifa jamur patogen (Gambar 2).

Gambar 2. Pelilitan hifa jamur Trichoderma spp. pada jamur P. palmivora a. Hifa
jamur Trichoderma spp., b. hifa jamur P. Palmivora ((Ditjen perkebunan, 2016)
Trichoderma spp. endofit juga mampu menghasilkan enzim dan senyawa
antibiosis yang mampu menghambat pertumbuhan patogen. Senyawa antibiosis
itu antara lain gliotoxin, glyoviridin dan Trichodermin yang mampu menghambat
pertumbuhan patogen. Hal ini ditunjukkan dengan adanya zona bening yang

terbentuk antara jamur antagonis Trichoderma spp. Dan jamur Fusarium sp.
(Gambar 3).

Gambar 3. Zona bening pada uji antagonisme antara jamur Trichoderma spp.
endofit dengan jamur Fusarium sp. (Ditjen perkebunan, 2016)
Sebagaimana diuraikan di atas, jamur endofit memiliki prospek yang baik
sebagai agensia hayati untuk mengendalikan patogen penyakit tanaman secara
in vitro. Introduksi endofit melalui benih merupakan metode introduksi yang
terbaik karena jauh lebih ekonomis dibandingkan aplikasi di lapangan. Jumlah
inokulum yang diaplikasikan jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan
pemberian di lapangan.
2. Jamur Penicillium spp.
Jamur penicillium merupakan microorganisme yang bersifat saprofit dan
juga berperan sebagai parasit yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga
hama diantaranya adalah uret tebu. Jamur Penicillium spp mampu membunuh
larva uret tebu pada minggu ke 1 sampai ke 8 mortalitas larva uret tebu akibat
patogenisitas spora jamur Penicillium spp pada perlakuan tabur, celup dan
kontrol hasilnya adalah sebagai berikut : hasil analisis ragam menunjukkan
bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh yang nyata terhadap
mortalitas larva L. stigma pada minggu ke 1 , 2, 3 , 4 , sedangkan pada minggu
ke 5 tidak memberikan pengaruh nyata. berpengaruh sangat nyata pada minggu
ke 7 dan ke 8.
Jamur dapat menyerang atau menginfeksi inang nya dengan cara lewat
oral / mulut melalui makanan yang sudah mengandung jamur tersebut , setelah
makanan tertelan oleh serangga hama kemudian jamur menyerang haemocol /
membran darah lalu serangga mati kaku seper ti mumi / terjadi mumifikasi dan
jamur juga bisa menyerang melalui kontak spora yaitu dengan cara spora /
konidia menempel pada kutikula kemudian spora berkecambah, membentuk
benang benang hifa kemudian menembus kedalam tubuh dan menyerang

haemocol / membran darah dan kemudian serangga hama mati kaku setelah itu
jamur berkembang dan menembus keluar kutikula membentuk sinema
sinema ,kemudian membetuk benang benang hifa berwarna putih yang
menyelimuti tubuh serangga ,lalu benang benang hifa membentuk konidiofor
dan konidia/spora yang berwarna hijau keabuan.
Patogenesitas jamur Penicillium spp pada larva L.stigma dalam
pengamatan selama pengujian larva yang terinfeksi terdapat timbulnya gejala
serangan yang ditandai aktifitas gerakannya semakin lamban dan kemampuan
makan nya cenderung menurun. Gabriel dan Riyatno (1989 ) menyatakan bahwa
larva yang terinfeksi jamur tidak mampu membentuk jaringan yang baru untuk
mengganti jaringan lama yang mengalami kerusakan , hal tersebut karena spora
jamur entomopatogen yang masuk kedalam tubuh larva sudah menghambat
proses transportasi makanan didalam tubuh larva. Perlakuan tabur lebih tinggi
dibandingkan dengan perlakuan rendam (celup) hal ini disebabkan karena jamur
yang ditabur dilapangan kesempatan berkembang lebih banyak dan lebih cepat
sehingga kesempatan menginfeksi larva lebih tinggi karena penularan jamur
entomopatogen terhadap inangnya dapat melalui kontak spora antara jamur
dengan larva atau lewat oral (termakannya jamur melalui makanan). Mortalitas
larva tertinggi terjadi pada minggu kedelapan mencapai 86,66 % yang terdapat
pada perlakuan penaburan / tabur. Jamur akan aktif jika sporanya menyentuh
langsung tubuh larva. Apabila kondisi lingkungan (suhu dan kelembaban) sesuai
maka spora akan berkecambah yang diawali dengan pembentukan tabung
kecambah. Selanjutnya tabung kecambah akan memanjang menembus kulit
kutikula larva menuju haemocoel dan kemudian berkembang membentuk hifa
dan mengikuti aliran darah. Hifa menyebar ke seluruh bagian dalam tubuh larva,
hifa terus berkembang membentuk tangkai spora yang mengeluarkan racun yang
mematikan sel sel larva. Kerusakan pada struktur membran sel menyebabkan
sel sel kehilangan air sehingga larva mati. Setelah larva mati hifa terus
berkembang dan menembus kebagian luar tubuh larva melalui lubang lubang
yang ada dipermukaan tubuh larva akibatnya larva terinfeksi jamur, larva mati
tubuhnya mengeras, kaku, dan busuk kering. Tubuh larva mula mula berwarna
putih kemudian berubah menjadi hijau

3. Aspergillus sp.

Aspergillus sp. merupakan salah satu jenis mikroorganisme yang


termasuk jamur dan termasuk dalam mikroorganisme eukariotik. Habitat asli
Aspergillus adalah dalam tanah dan tumbuh optimum pada kondisi yang
menguntungkan meliputi kadar air yang tinggi dan suhu tinggi 35 - 37 0C atau
lebih tinggi. Ciri-ciri spesifik Aspergillus adalah hifa septat dan miselium
bercabang, sedangkan hifa yang muncul di dalam permukaan umumnya hifa
fertil. Koloni jamur berkelompok dengan konidiofora septat atau nonseptat,
muncul dari foot cell, yakni miselium yang membengkak di bagian pangkal dan
berdinding tebal. Konidiofor membengkak menjadi fesikel pada ujungnya,
selanjutnya terbentuk dan tumbuh konidia (Waluyo, 2007). Kepala konidia
berbentuk bulat, dinding konidiofor tipis berwarna putih atau berwarna
kecoklatan. Vesikula berbentuk bulat hingga semi bulat dan berdiameter 50- 100
m. Fialid terbentuk pada metula dan berukuran 7-9,5 x 3-4 m. Metula berwarna
putih hingga coklat. Konidia berbentuk bulat hingga semibulat, berukuran 3,5-5
m, dan berwarna coklat (Gandjar et al., 1999).
Jamur A. niger memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan
cendawan patogen karena memproduksi enzim hidrolitik seperti lipase, protease,
selulase, pektinase (Schuster et al., 2002). A. niger juga menghasilkan enzim
ekstraseluler diantaranya enzim kitinase, -amilase, -amilase, glukoamilase,
katalase,

laktase,

Mekanisme

invertase

penghambatan

(Ratledge,

1994

dalam

cendawan

Aspergillus

Oktaviania,
sp.

yaitu

2007).
dengan

menghasilkan enzim khitinase dan -1, 3 glucanase (Laminarinase) yang


mempunyai kemampuan untuk memecah komponen dinding sel cendawan
patogen.

III. METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Isolasi jamur endofit
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah gelas kimia untuk wadah
sterilisasi pinset dan gunting, bunsen untuk mensterilkan alat yang akan
digunakan, pinset untuk mengambil potongan daun, akar dan batang yang akan
diisolasi, cawan petri untuk merendam potongan daun, akar dan batang tanaman
tomat serta sebagai wadah media PDA, penggaris untuk mengukur potongan
daun, akar dan batang tanaman tomat yang akan digunakan,korek apai untuk
menyalakan Bunsen dan kamera untuk mendokumentasikan.
Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah potongan daun, akar dan
batang tanaman tomat yang akan diisolasi, NaOCl 1 dan 2 % untuk mensterilkan
potongan daun, akar dan batang tanaman tomat, alkohol 70% untuk
mensterilkan potongan daun, akar dan batang tanaman tomat, aquades untuk
mensterilkan potongan daun, akar dan batang tanaman tomat, tissue steril untuk
meniriskan potongan daun, akar dan batang sebelum ditanam, media PDA untuk
media tanam, wrapping untuk membungkus cawan petri setelah isolasi, spirtus
untuk bahan bakar bunsen dan kertas label untuk memberi label pada cawan
petri.
3.1.2 Purifikasi
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah jarum ose untuk mengambil
koloni jamur endofit setelah diisolasi, bunsen untuk mensterilkan jarum ose, dan
korek api untuk menyalakan api bunsen.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah media PDA untuk
media tanam jamur endofit setelah diisolasi, alkohol 70% untuk mensterilkan alat,
spirtus untuk bahan bakar bunsen, plastik wraping untuk membungkus cawan
petri agar tetap steril, isolat jamur untuk objek purifikasi.
3.1.3 Identifikasi
Alat yang digunakan adalah jarum ose untuk mengambil hifa jamur,
bunsen untuk mensterilkan alat, korek api untuk menyalakan api bunsen, kaca
preparat untuk meletakkan hifa jamur, cover glass untuk menutup hifa jamur
pada kaca preparat, mikroskop untuk mengamati kenampakan mikriskopis jamur.

Bahan yang digunakan adalah akohol 70% untuk mensterilkan alat,


spirtus untuk bakan bakar bunsen, tissue untuk membersihkan kaca preparat
dan cover glass, isolat jamur sebagai objek pengamatan.
3.2 Cara Kerja ( Analisa Perlakuan )
3.2.1 Isolasi Jamur Endofit
Siapkan alat dan bahan
Sterilisasi alat-alat yang akan digunakan
Spesimen dicuci menggunakan air mengalir
Potong bagian akar, daun, buah, batang tanaman ( 5 cm)
Rendam bagian tanaman yang telah dipotong pada NaOCl 1 %, alkohol,
aquades 2 kali masing-masing 1 menit

Tiriskan spesimen yang telah direndam pada tisu


Tanam spesimen pada PDA dan beri label
Tutup dengan wrapping dan bungkus menggunakan kertas
Amati setiap hari selama 1 minggu
Dokumentasi
Isolasi dilakukan dengan mengambilan sampel bagian tanaman tomat
sehat meliputi: daun muda, daun tua, akar dan batang. Tahapan dari isolasi
jamur endofit diawali dengan pencucian sampel daun, batang dan akar pada air
mengalir sampai bersih, kemudian diambil beberapa helai daun muda dan tua,
batang dan akar yang telah dipotong 5 cm dan dibawa ke Laminar Air Flow
Cabinet (LAFC) untuk kegiatan isolasi. Namun hal ini tidak dilakuan. Potongan
contoh tanaman kemudian disterilkan dengan cara merendam potongan daun
dan batang dalam NaOCl 1% dan akar pada NaOCl 2% selama 1 menit. NaOCl
1% dan 2 % diperoleh dari pengenceren bayclin. Setelah direndam pada NaOCl

kemudian direndam dalam alkohol 70% selama 1 menit dan dibilas dengan
menggunakan aquades steril sebanyak dua kali masing-masing 1 menit. Setelah
itu, potongan sampel dikeringkan diatas tissue steril, potongan diperkecil dengan
ukuran 1 cm dengan menggunakan scalpel steril dan kemudian ditanam pada
media PDA.
Sebagai kontrol, aquades bilasan terakhir diambil 1 ml dan dituang ke
media PDA. Isolat kemudian diinkubasi pada suhu 25-30oC selama 5-7 hari atau
sampai jamur tumbuh memenuhi cawan petri (full plate).
3.2.2 Purifikasi
Siapkan alat dan bahan
Sterilisasi tempat dan alat yang akan digunakan
Ambil sejumlah kecil koloni
Dekatkan pada bunsen yang menyala
Letakkan di media PDA
Wrapping dan pelabelan
Amati dan foto

Pemurnian dilakukan pada setiap koloni jamur yang dianggap berbeda


berdasarkan morfologi makroskopis yang dapat dilihat dari penampakan warna,
bentuk, dan pola persebaran koloni. Masing-masing jamur dipisahkan, diambil
dengan menggunakan jarum ose kemudian ditumbuhkan kembali pada media
PDA baru. Setiap media ditanam dua koloni jamur yang berbeda diambil dari
hasil isolasi bagian daun muda, daun tua, batang dan akar tanaman tomat sehat.
Sebelum melakukan purifikasi, sterilkan jarum ose yang akan digunakan pada
api bunsen, lalu buka cawan petri yang berisi isolat jamur hasil isolasi. Kemudian
buka media PDA baru dan tanam isolat jamur yang diambil tadi. Tutup cawan
petri dengan menggunakan plastik wrap dan inkubasi selama 5-7 hari pada suhu
ruang (25-28oC).

3.1.3 Identifikasi
Siapkan alat dan bahan
Sterilisasi alat-alat yang akan digunakan
Ambil biakan murni pada hasil purifikasi dengan jarum ose
Letakkan di kaca preparat
Amati dan identifikasi di bawah mikroskop perbesaran
Dokumentasi hasil identifikasi

Tahapan pembuatan preparat jamur yaitu jamur diambil dengan


menggunakan jarum ose kemudian diletakkan pada object glass dan ditutup
dengan cover glass. Preparat harusnya diinkubasi selama 2-3 hari didalam
wadah yang telah dialasi dengan tissue lembab dan ditutup rapat agar tidak
terkontaminasi oleh spora jamur dari udara. Namun tahap tersebut tidak
dilakukan. Identifikasi dilakukan berdasarkan panduan Barnett dan Hunter
(1998). Pengamatan makroskopis meliputi warna koloni, bentuk koloni dalam
cawan petri (konsentris dan tidak konsentris), tekstur koloni dan pertumbuhan
koloni (cm/hari). Pengamatan secara mikroskopis meliputi ada tidaknya septa
pada hifa (bersekat atau tidak bersekat), pertumbuhan hifa (bercabang atau tidak
bercabang), warna hifa dan konidia (gelap atau hialin transparan), ada atau
tidaknya konidia, dan bentuk konidia (bulat, lonjong, berantai atau tidak
beraturan).

IV. Hasil dan Pembahasan


4.1 Hasil dan Pembahasan Isolasi
4.1.1 Hasil
No.

1.

Bagian
Tanaman

Dokumentasi Hasil Isolasi

Daun
muda

Gambar 4. Morfologi koloni


jamur endofit pada media PDA

2.

Kenampakan Makroskopis
Terdapat tiga koloni jamur
yang berbeda. Berwarna
putih halus seperti kapas,
coklat muda dan putih
bagian bawah berwarna
hijau. Bentuk koloni tidak
konsentris. Pola
penyebaran kesamping
dan tepinya tidak merata.

Terdapat dua koloni jamur.


Berwana putih dan abuabu kehitaman. Bentuk
koloninya tidak konsentis.
Pola penyebaran
kesamping dan tepinya
tidak rata.

Daun tua

Gambar 5. Morfologi koloni


jamur endofit pada media PDA

3.

Terdapat tiga koloni jamur.


Berwarna putih kasar,
coklat muda dan putih ada
hijaunya. Bentuk koloni
tidak konsentris. Pola
penyebaran kasamping
dan tepinya tidak merata.

Batang

Gambar 6. Morfologi koloni


jamur endofit pada media PDA

4.

Terdapat dua koloni jamur.


Berwana putih halus dan
putih kehijauan. Bentuk
koloninya tidak konsentis.
Pola penyebaran
kesamping dan tepinya
tidak rata.

Akar

Gambar 7. Morfologi koloni


jamur endofit pada media PDA

4.1.2 Pembahasan
Jamur endofit diisolasi dari tanaman tomat sehat yang diambil bagian
daun baik daun muda maupun tua, akar dan batang yang muda karena banyak
mengandung asam-asam organik dan senyawa fenol senyawa tersebut
mencegah perkembangan pathogen (Mardinus, 2006). Bagian daun, akar dan
batang tomat kemudian dicuci dengan air mengalir selama 5 menit. Kemudian
disterilkan dengan cara merendam potongan daun dan batang dalam NaOCl 1%
dan akar pada NaOCl 2% selama 1 menit. NaOCl 1% dan 2 % diperoleh dari
pengenceren bayclin. Setelah direndam pada NaOCl kemudian direndam dalam
alkohol 70% selama 1 menit dan dibilas dengan menggunakan aquades steril
sebanyak dua kali masing-masing 1 menit. Setelah itu, potongan sampel
dikeringkan diatas tissue steril, potongan diperkecil dengan ukuran 1 cm
dengan menggunakan scalpel steril dan kemudian ditanam pada media PDA.
Dari hasil isolasi jamur endofit dari jaringan daun, batang dan akar
tanaman tomat diperoleh tiga isolate jamur berbeda dari bagian daun muda, dua
isolate berbeda dari daun tua, tiga isolate jamur berbeda dari batang dan dua
isolate berbeda dari bagian akar. Isolate jamur endofit yang diperoleh dari bagian
daun muda tanaman, terdapat tiga koloni jamur yang berbeda. Berwarna putih
halus seperti kapas, coklat muda dan putih dengan kehijauan. Bentuk koloni
tidak konsentris. Pola penyebaran kesamping dan tepinya tidak merata untuk
jamur yang berwarna coklat muda dan putih. jamur yang berwarna putih
kehijauan tepinya rata. Jamur endofit yang berwarna putih tepinya menebal
seperti bagian tengahnya.
Isolat jamur endofit yang diperolah dari bagian daun tua tanaman tomat
terdapat dua koloni jamur. Berwana putih dan abu-abu kehitaman. Bentuk
koloninya tidak konsentis. Pola penyebaran kesamping dan tepinya tidak rata.
Tepi jamur yang berwarna abu-abu kehitaman menipis sedangkan untuk jamur
yang berwarna putih tebal seperti pada bagian tengahnya.
Terdapat empat koloni jamur yang diisolasi dari bagian batang tanaman
tomat. Berwarna putih kasar, coklat muda dan putih ada hijaunya serta putih
kehitaman. Bentuk koloni tidak konsentris. Pola penyebaran kesamping dan
tepinya tidak merata untuk jamur yang berwarna putih dan coklat muda serta
putih kehitaman. Jamur yang berwarna putih kehijauan tepinya merata.

Terdapat dua koloni jamur pada bagian akar daun. Berwana putih halus
dan putih kehijauan. Bentuk koloninya tidak konsentis. Pola penyebaran
kesamping dan tepinya tidak rata.
4.2 Hasil dan Pembahasan Purifikasi
4.2.1 Hasil
No.

1.

Bagian
Tanaman

Dokumentasi Hasil Isolasi

Daun
muda

Gambar 8. Morfologi koloni


jamur endofit pada media PDA

2.

Kenampakan Makroskopis
Terdapat dua koloni jamur
yang berbeda. Berwarna
putih halus seperti kapas
dan coklat muda. Bentuk
koloni tidak konsentris
untuk jamur berwarna
coklat dan jamur berwarna
putih berbentuk
konsentris. Pola
penyebaran kesamping
dan tepinya tidak merata.

Terdapat dua koloni jamur.


Berwarna kuning
kehijauan dan abu-abu
kehitaman. Bentuk
koloninya tidak konsentis.
Pola penyebaran
kesamping dan tepinya
tidak rata.

Daun tua

Gambar 9. Morfologi koloni


jamur endofit pada media PDA

3.

Terdapat satu koloni


jamur. Berwarna coklat
muda. Bentuk koloni tidak
konsentris. Pola
penyebaran kasamping
dan tepinya tidak merata.
Pertumbuhannya cepat.

Batang

Gambar 10. Morfologi koloni


jamur endofit pada media PDA

4.

Terdapat satu koloni


jamur. Berwana putih
halus. Bentuk koloninya
tidak konsentis. Pola
penyebaran kesamping
dan tepinya tidak rata.

Akar

Gambar 11. Morfologi koloni


jamur endofit pada media PDA
4.2.2 Pembahasan
Purifikasi atau disebut juga pemurnian adalah pemisahan satu jenis
mikroorganisme patogen dari media inokulasi yang terdiri dari beberapa macam
mikroorganisme dalam satu media, purifikasi ini dilakukan untuk memudahkan
dalam pengidentifikasian patogen yang diinginkan. Pemurnian dilakukan pada
setiap koloni jamur yang dianggap berbeda berdasarkan morfologi makroskopis
yang dapat dilihat dari penampakan warna, bentuk, dan pola persebaran koloni.
Masing-masing jamur dipisahkan, diambil dengan menggunakan jarum ose
kemudian ditumbuhkan kembali pada media PDA baru. Setiap media ditanam
dua koloni jamur yang berbeda diambil dari hasil isolasi bagian daun muda, daun
tua, batang dan akar tanaman tomat sehat. Sebelum melakukan purifikasi,
sterilkan jarum ose yang akan digunakan pada api bunsen, lalu buka cawan petri
yang berisi isolat jamur hasil isolasi. Kemudian buka media PDA baru dan tanam
isolat jamur yang diambil tadi. Tutup cawan petri dengan menggunakan plastik
wrap dan inkubasi selama 5-7 hari pada suhu ruang (25-28oC).
Dari hasil isolasi yang dilakukan, hanya diambil dua isolate yang berbeda
dari masing masing bagian tanaman yang akan dipurifikasi dan ditanam pada
cawan yang sama disetiap bagianya. Pada bagian tanaman daun muda terdapat
dua isolate jamur yang dipurifikasi dengan kenampakan makroskopis koloninya
berwarna putih seperti kapas dan coklat muda. Untuk jamur yang berwarna putih
berbentuk konsentris sedangkan jamur berwarna coklat muda tidak konsentris.
Pola pertumbuhan kesamping dan setiap tepinya tidak merata dan tebal seperti
bagian tengahnya.
Pada bagian daun tua tanaman tomat terdapat dua koloni jamur.
Berwarna kuning kehijauan dan abu-abu kehitaman. Bentuk koloninya tidak
konsentis. Pola penyebaran kesamping dan tepinya tidak rata. Pada bagian

batang terdapat satu koloni jamur. Berwarna coklat muda. Bentuk koloni tidak
konsentris.

Pola

penyebaran

kasamping

dan

tepinya

tidak

merata.

Pertumbuhannya cepat. Serta bagian akar tanaman tomat terdapat satu koloni
jamur. Berwana putih halus. Bentuk koloninya tidak konsentis. Pola penyebaran
kesamping dan tepinya tidak rata.

4.3 Hasil dan Pembahasan Identifikasi


4.3.1 Hasil
No.

Bagian
Tanaman

1.

Daun
muda

2.

3.

Dokumentasi Hasil Identifikasi

Dokumentasi Literatur

Gambar 12. Mikroskopis jamur


endofit

Gambar 13. Mikroskopis


jamur Rhizoctonia solani
(Noverita, 2009)

Gambar 14. Mikroskopis jamur


endofit

Gambar 15. Mikroskopis


jamur Aspergillus flavus 1.
Konidia, 2.Vesikel, 3.
Konidiofor, 4. Fialid
(Simanjuntak et al., 2015)

Daun tua

Batang

Gambar 16 Mikroskopis jamur


endofit

Gambar 17. Mikroskopis


jamur Cephalosporium

sp

4.

Akar

Gambar 17. Mikroskopis jamur


endofit

Gambar 18. Mikroskopis


jamur Curvularia clavata 1.
Konidia, 2. Konidiofor

4.3.2 Pembahasan
Jamur endofit yang telah diinkubasi selama 2 x 24 jam pada suhu kamar
diidentifikasi berdasarkan ciri-ciri makroskopis dan mikroskopis. Pengamatan
makroskopis dengan cara langsung melihat warna koloni, warna sebalik koloni
(pigmentasi koloni) dan pola penyebaran koloni jamur endofit. Pengamatan ciriciri mikroskopis meliputi ada tidaknya spora atau konidia, rhizoid, tipe hifa, bentuk
spora dan konidia dengan menggunakan mikroskop. Identifikasi jamur endofit
dilakukan berdasarkan referensi Domsch dan Gams (1980), Burnett dan Hunter
(1972), Gandjar et al.,(1999).
Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan bahwa pada bagian daun
muda tanaman tomat ditemukan jamur R. solani. Koloni saat muda berwarna
putih dan dengan cepat berubah menjadi hitam, tekstur seperti kapas, padat.
Miselim hialin sampai gelap (hitam). Miselium biasanya panjang, bersepta dan
bercabang-cabang. Tubuh buah aseksual dan konidia tidak ditemukan.
Rhizoctonia merupakan salah satu jenis patogen yang paling umum
menyerang bibit tanaman kehutanan di persemaian. Kapang patogen ini
termasuk

suku

Agonomycetaceae,

ordo

Agonomycetales

dan

kelas

Deuteromycetes. Rhizoctonia dikenal sebagai myselia sterelia, karena tidak


menghasilkan konidia (Alexopoulus, 1996). Menurut Dwiatmini dan Kardin
(1999), koloni R. solani berwarna putih, tidak menyebabkan terjadinya
pigmentasi pada media, warna hifa hialin dengan diameter antara 7,5-l0,0 m,
sklerotium menyebar secara acak atau terpusat di pinggir koloni, berukuran l-5
mm berwarna cokelat kehitaman.
Sedangkan untuk bagian tanaman daun tua ditemukan A. flavus. Koloni
A. flavus pada saat muda berwarna putih, dan akan berubah menjadi berwarna
hijau kekuningan setelah membentuk konidia. Kepala konidia berwarna hijau
kekuningan hingga hijau tua kekuninggan, berbentuk bulat, konidiofor berdinding

kasar, hialin. Vesikula berbentuk bulat hingga semi bulat. Fialid langsung duduk
pada vesikula atau pada metule, konidia berbentuk bulat hingga semi bulat,
berwarna hijau pucat.
Menurut Samson et al., (1999), koloni kapang A. flavus berwarna hijau
kekuningan. Kepala konidia khas berbentuk bulat, kemudian merekah menjadi
beberapa kolom, dan berwarna hijau kekuningan hingga hijau tua kekuningan.
Konidiofor berwarna hialin, kasar. Vesikula berbentuk bulat hingga semi bulat,
berdiameter 25 45 m. Fialid duduk lansung pada vesikel atau metule,
berukuran 6 10 x 4,5 5,5 m. Konidia berbentuk bulat hingga semibulat,
dimeter 3 - 6m, hijau dan berduri. kasar. Vesikula berbentuk bulat hingga semi
bulat, berdiameter 25 45 m. Fialid duduk lansung pada vesikel atau metule,
berukuran 6 10 x 4,5 5,5 m. Konidia berbentuk bulat hingga semibulat,
dimeter 3 - 6m, hijau dan berduri.
Untuk bagian batang tanaman tomat memiliki ciri mikroskopis berupa hifa
hialin (tidak memiliki warna), tidak memiliki sekat. Konidia dari jamur tersebut
tidak terlihat saat pengamtan. Hal ini sesuai dengan menurut Zuhriah (2011), ciriciri mikroskopis jamur Cephalosporium sp yaitu hifa dan konidiofor hialin dan
tidak bersekat, konidia hialin, bersel 1, dan berbentuk seperti kapsul yang
bertumpuk pada bagian ujung konidiofor Berdasarkan data dari pengamatan
makroskopis diduga jamur ini termasuk dalam genus Cephalosporium sp.
Jamur hasil purifikasi yang diidentifikasi ditemukan C. clavata. Karakter
makroskopis kapang C. clavata memiliki koloni oval berwarna abu-abu kehijauan
dengan tepi koloni rata, dan tekstur koloni seperti kapas. Karakter mikroskpis
memiliki konidiofor tunggal berwarna coklat, hifa bersekat, porokonidia berbentuk
silinder bersekat 3 tanpa pembengkokan.

V. Penutup
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum jamur endofit, dapat disimpulkan bahwa
pada tanaman tomat yang diamati terdapat jamur endofit. Jamur endofit adalah
jamur yang hidup pada jaringan inang kebanyakan tidak menyebabkan kerugian
bagian inangnya.

Manfaat

jamur

endofit pada tanaman tomat adalah

memberikan ketahanan dari lingkungan maupun patogen tanaman. Dari


identifikasi yang telah dilakukan jamur yang didapat adalah R. solani pada
bagian daun muda, A. flavus pada bagian daun tua tanaman tomat sehat dan C.
clavata pada bagian akar miselium putih.
5.2 Saran
Untuk praktikum semoga jumlah mikroskop laboratorium ditambah dan
kualitasnya lebih memadai. Agar ketika identifikasi tidak bergantian dengan kelas
lain pada jam yang sama. Peralatan praktikum yang terbatas menjadi kendala
saat praktikum, semoga untuk praktikum berikutnya alat-alat praktikum tersedia
dan sesuai dengan SOP yang baik.
Untuk asisten : Mbak Iva yang sabar ya menghadapi adik-adiknya yang
suka menawar, semoga apa yang didiskusikan selama praktikum dapat
bermanfaat. Terima kasih

Daftar Pustaka
Alexopoulos, C. J., Mims, C. W., and Blackwell, M. (1996). Introductory Mycology.
(4 th ed.). USA: John Wiley and Sons Inc
Bacon CW, White JF. 2000. Microbial Endophytes. New York : Marcel Dekker
Burnett, H.L dan B.B. Hunter. 1972. Illustrated Genera of Imperfect Fungi.
Burgess Publishing Company. Minneapoli. Hal 241
Carrol G. C. 1988. Fungal Endophytes in Stems and Leaves. From Latent
Pathogens to Mutualistic Symbiont. Ecology. 69: 2-9
Dirjen perkebunan. 2016. http://ditjenbun.pertanian.go.id/bbpptpsurabaya/ jamur
%20endofit.pdf. diunduh 22 Mei 2016.
Domsch K. H., W. Gams., T-H Anderson. 1980.Compendium Of Soil Fungi.
Volume1. Academic Press. London.
Dwiatmini, K dan M.K. Kardin. 1999. Rhizoctonia solani Kuhn Penyebab Penyakit
Hawar pada Melati. Hayati 6(3):60-64.
Gabriel B.P. & Riyatno. 1989. Metarhizium anisopliae (Metch) Sor: Taksonomi,
Patologi, Produksi dan Aplikasinya. Jakarta: Direktorat Perlindungan
Tanaman Perkebunan, Departemen Pertanian.
Gandjar, I., Robert A.S., Karin V.D., Ariyanti O., dan Iman S., 1999. Pengenalan
Kapang Tropik Umum. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Gao et al., 2010. Mechanisms of fungal endophytes inplant protection against
pathogens. African Journal of Microbiology Research 4:1346-1351.
Hanada RE, Pomella AWV, Costa HS, Bezerra JL, Loguercio LL, Pereira JO.
2010. Endophytic fungal diversity in Thebroma cacao (cacao) and
Theobroma grandiflorum (cupuacu) trees and their potential for growth
promotion and biocontrol of black-pod disease. Fungal Biol 114:901-910.
Khairy, 2012. Pengaruh Cendawan Endofit Terhadap Hama Dan Pertumbuhan
Tanaman Padi Di Lapangan. Departemen Proteksi Tanaman Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Kloepper, J.W., Leong, J., Teintze, M. & Schroth, M.N. 1980. Enhanced plant
growth by siderophores produced by plant growth-promoting
rhizobacteria. Nature. 286: 885-886.
Kloepper, J.W., R. Rodriguez-Ubana, G.W. Zehnder, J.F. Murphy, E. Sikora, and
C. Fernndez. 1999. Plant root-bacterial interactions in biological control
of soil borne diseases and potential extension to systemic and foliar
diseases. Australasian Plant Pathology 28:21-26.
Kumar S, Kaushik N. 2013. Endophytic fungi isolated from oil-seed crop Jatropha
curcas produces oil and exhibit antifungal activity. Plos One 8(2):1-8.
Kurnia, et al. 2014. Penggunaan jamur endofit untuk mengendalikan Fusarium
oxysporum f.sp. capsici dan Alternaria solani secara in Vitro

Mardinus. 2006. Jamur Patogen Tumbuhan. Yogyakarta: Andalas University


Press.
Munif A. 2003. Peranan Mikroba Endofit Sebagai Agens Hayati Dalam
Mendukung Pembangunan Pertanian Brkelanjutan. Departemen Proteksi
Tanaman, Fakultas pertanian IPB.
Obura, 2010. Root endophytic fungi of tomato and their role as biocontrol agents
of root-knot nematodes Meloidogyne incognita (Kofoid and White)
Chitwood and growth promotion in tomato plants (Lycopersicon
esculentum Mill) [thesis]. Bogor: Graduate School, Bogor Agricultural
University.
Oktaviani Z, 2007. Isolasi, identifikasi, patogenitas dan proses kolonisasi
cendawan entomopatogen pada larva nyamuk Aedes aegypti. (Online).
http://repository.ipb. ac.id/bitstream/handle/123456789/14478/G07zo k.pdf
diunduh tanggal 28 Agustus 2013.
Pitojo, S, 2005. Benih Tomat. Kanisius, Yogyakarta.
Sampson, R. J., Morenoff, J. D., & Earls, F. (1999). Beyond social capital: Spatial
dynamics of collective efficacy for children. American Sociological Review,
64(5), 633-660
Schnider-Keel, U., A. Seematter, M. Maurhofer, C. Blumer, B. K. Duffy, C. GigotBonnefoy, C. Reimmann, R. Notz , G. Defago, D. Hass, and C. Keel.
2000. Autoinduction of 2,4-diacetylphoroglucinol biosynthesis in the
biocontrol agent Pseudomonas fluorescens CHA0 and repression by the
bacterial metabolites salicylate and pyoluteorin. Journal of Bacteriology
182:12151225.
Schuster,S., Pfei ffer,T., Moldenhauer,F., Koch,I. and Dandekar,T. (2002)
Exploring the pathway structure of metabolism: Decomposition into
subnetworks and application to Mycoplasma pneumoniae, Bioinformatics,
18, 351-361.
Strobel G, and Daisy B, 2003. Bioprospecting for microbial endophytes and their
natural products, Microbiology and Molecular Biology Review 67: 491
502.
Sudantha, I. M dan A. L. Abadi., 2007. Identifikasi Jamur Endofit dan Mekanisme
Antagonismenya Terhadap Jamur Fusarium oxysporum f. sp. Vanillae
Pada Tanaman Vanili. Skripsi. Universitas Mataram dan Universitas
Brawijaya.
Waluyo. L. 2007. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang
Yulianti T. 2012. Menggali Potensi Endofit untuk Meningkatkan Kesehatan
Tanaman Tebu Mendukung Peningkatan Produksi Gula Revealing the
Potency of Endophyte to Improve Sugarcane Health Supporting
Acceleration of Sugar Production. Perspektif Vol. 11 No. 2 /Des 2012. Hlm
111 122 ISSN: 1412-8004. Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan
Serat