Anda di halaman 1dari 11

ENERGI FOSIL DAN ENERGI BARU TERBARUKAN

Energi merupakan kemampuan untuk melakukan kerja (misalnya untuk enrgi


listrik dan mekanika), daya (kekuatan) yang dapat digunakan untuk melakukan
berbagai proses kegiatan. Energi dapat berupa bahan atau tidak terikat pada bahan.
Energi dapat berasal dari bahan bakar, energy terbagi menjadi energi fosil dan energy
yang baru dan terbarukan.
A. ENERGI FOSIL
Energi fosil adalah energi yang dihasilkan dari bahan bakar fosil atau
bahan bakar mineral. Bahan bakar fosil adalah sumber daya alam yang
mengandung hidrokarbon seperti batubara, minyak bumi, dan gas alam.
Penggunaan bahan bakar fosil ini telah menggerakkan pengembangan industry
dan menggantikan kincir angin, tenaga air, dan juga pembakaran kayu untuk
panas.
Untuk menghasilkan listrik, energi dari pembakaran bahan bakar fosil
sering kali digunakan untuk menggerakkan turbin. Pada generator tua sering kali
menggunakan uap yang dihasilkan dari pembakaran untuk memutar turbin, tetapi
dai pembangkait listrik baru gas dari pembakaran digunakan untuk memutar
turbin gas secara langsung.
Pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia merupakan sumber utama
dari karbon dioksida yang merupakab salah satu gas rumah kaca yang dipercayai
menyebabkan pemanasan global. Sejumlah kecil bahan bakar hidrokarbon adalah
bahan bakar bio yang diperoleh dari karbon dioksida di atmosfer dan oleh karena
itu tidak menambah karbon dioksida di udara.
Bahan bakar fosil dapat berasal dari minyak bumi, batubara dan gas alam
(natural gas).
I.
Minyak Bumi
Minyak bumi atau petroleum terdiri dari 2 kata, yaitu petrus yang artinya
karang dan oleum yang artinya minyak. Minyak bumi dijuluki sebagai emas
hitam, merupakan cairan kental berwarna coklat gelap, atau kehijauan yang
mudah terbakar. Minyak bumi diproses di tempat pengilangan minyak dan dipisah
pisahkan hasilnya berdasarkan titik didihnya. Minyak bumi digunakan untuk
kebutuhan energi dan berbagai macam barang dan material yang dibutuhkan
manusia.
I.1. Proses Pembentukan
Minyak bumi adalah hasil dari penguraian (dekomposisi) materi tumbuhan
dan hewan di suatu daerah yang mengalami penurunan secara perlahan. Daerah
tersebut biasanya berupa laut, danau, atau rawa. Sedimentasi diendapkan bersama

sama material tersebut dengan kecepatan pengendapan sedimen yang cukup cepat
agar material organik tersebut dapat tersimpan dan tertimbun dengan baik
sebelum terjadi pembusukan.

Gambar 1. Crude Oil


Seiring berjalannya waktu geologi dan daerah pengendapan yang semakin
terbenam ke dalam permukaan bumi, karena bertambahnya berat oleh sedimen
dan material di atasnya, atau karena adanya gaya tektonik yang menyebabkan
penurunan. Material organik mengalami tekanan dan suhu yang sangat tinggi.
Proses tersebut menimbulkan perubahan kimiawi dari material tersebut.
Perubahan material ini merupakan cikal bakal terbentuknya campuran
hidrokarbon yang kompleks, baik hidrokarbon yang berupa cairan ataupun gas,
yang akan menjadi minyak bumi.
Kenaikan suhu terhadap kedalam rata rata yaitu sekitar 20-55 derajat
celcius per kilometer. Habitat minyak baru akan terbentuk pada suhu sekitar 65150 derajat celcius, yang biasanya ada pada kedalaman 1.5-3 km. Pada kedalaman
3-6 km batuan reservoir akan lebih didominasi oleh gas daripada minyak.
Pada umumnya. Minyak bumi biasanya terendapkan dalam batuan
sedimen berpori baik yang memiliki nilai porositas 45% (reservoir yang sangat
baik). Karena semakin lama batuan tersebut terendapkan dan tertimbun material
di atasnya, maka batuan tersebut akan terkompaksi dan hal ini mengakibatkan
nilai orositasnya berkurang. Minyak, gas, dan air akan terkumpul di ruang pori
pori dari batuan berpori tersebut. Dikarenakan oleh gaya gravitasi, maka fluida
tersebut bergerak di dalam batuan secara perlahan. Batuan yang dapat meloloskan
fluida disebut sebagai batuan yang permeabel. Permeabilitas batuan dapat
memisahkan gas, minyak bumi, dan air secara fisis berdasarkan densitasnya.
Minyak dan gas yang berdensitas lebih ringan daripada air akan bergerak naik ke
atas sampai ke permukaan sebagai rembesan atau terperangkap di dalam jebakan.
I.2. Komposisi Kimia
Jika dilihat secara kasat mata, minyak bumi hanya berisikan minyak
mentah saja, tapi dalam penggunaan sehari hari ternyata juga digunakan dalam

bentuk hidrokarbon padat, cair, dan gas. Berikut adalah komposisi elemen dari
minyak bumi.
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Elemen
Persentase
Karbon (C)
83 87 %
Hidrogen (H)
10 14 %
Nitrogen (N)
1.1 2 %
Oksigen (O)
0.05 - 1.5 %
Sulfur (S)
0.05 6 %
Logam
< 0.1 %
Tabel 1. Komposisi Minyak Bumi

I.3. Proses Penambangan


Proses penambangan minyak bumi, terdiri dari beberapa tahap yaitu :
1. Seismik, Proses ini bertujuan untuk mencari tempat yang memiliki kandungan
minyak bumi. Dengan menggunakan gelompang akustik yang merambat ke
lapisan tanah. Gelombanng ini direfleksikan dan ditangkap lagi oleh sensor.
Dari proses perambatan gelombanng ini akan diolah dan terlihat lapisan
lapisan tanah untuk diolah dan dimana yang mengandung minyak.
2. Drilling and Well Construction, Proses ini disebut juga proses pengeboran
minyak. Pada proses ini biasanya menggunakan rig. Perlu diketahui dalam
proses ini ada kemungkinan blow out (tekanan dari dalam tanah yang tidak
bisa dikontrol, langsung ke permukaan), jadi harus ada pengendalian tekanan
dari dalam tanah. Tekanan dari dalam tanah lebih besar dari tekanan atmosfer,
untuk mengimbanginya biasanya digunakan lumpur dengan berat jenis
tertentu yang menciptakan tekanan hidrostatik yang bisa menahan tekanan
dari dalam.
3. Well Logging, Proses ini memetakan lapisan tanah dan mengambil sample
yang akan dicek kandungannya
4. Well Testing, Proses ini adalah proses dimana lapisan yang diperkirakan
megandung minyak, ditembak secara eksplosif. Setelah itu minyak yang
terkandung diantara pori pori batuan akan mengalir menuju tempat dengan
tekanan yang lebih kecil (permukaan).
5. Well Completion, Proses ini adalah proses instalasi aksesoris sumur sebelum
nantinya sumur akan siap diproduksi. Fungsi utamanya adalah menyaring
pasir yang dihasilkan setelah proses penembakan dalam well testing. Pasir
yang sampai ke permukaandapat mengikis pipa produksi.
6. Produksi, Proses dimana sumur siap diproduksi dan nantinya akan diolah ke
tempat penyulingan.
I.4. Proses Pengolahan
Proses pengolahan minyak bumi adalah sebagai berikut :

1. Destilasi atau Fraksinasi


Destilasi adalah proses pemisahan fraksi fraksi dalam minyak bumi
berdasarkan perbedaan titik didih. Proses destilasi biasanya dilakukan pada
sebuah tanur tinggi yang kedap udara. Minyak bumi mentah dialirkan ke
dalamnya untuk dipanaskan dalam tekanan 1 atm pada suhu 370 derajat
celcius. Pemanasan minyak mentah ini kemudian membuat fraksi fraksi dalam
minyak bumi terpisah. Fraksi yang memiliki titik didih terendah akan berada
di bagian atas tanur.
2. Cracking
Fraksi fraksi yabng dihasilkan dari proses destilasi kemudian dimurnikan
(refinery) melalui proses cracking. Cracking adalah tahapan pengolahan
minyak bumi yang dilakukan untuk menguraikan molekul molekul besar
senyawa hidrokarbon menjadi molekul molekul hidrokarbon yang lebih kecil,
misalnya pengolahan fraksi minyak solar atau minyak tanah menjadi bensin.
Proses cracking dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu panas (thermal cracking),
katalis (catalytic cracking), dan hydrocracking.
3. Reforming
Setelah dilakukan pemurnian melalui cracking, tahap pengolahan minyak
bumi dilanjutkan dengan reforming. Reforming adalah proses mengubah
struktur molekuol fraksi yang mutunya buruk (rantai karbon lurus) menjadi
fraksi yang mutunya lebih baik (rantai karbon bercabang) yang dilakukan
untuk merubah struktur molekul, maka proses ini juga disebut isomerisasi.
4. Alkilasi dan Polimerisasi
Setelah diperbaiki struktur molekulnya, fraksi fraksi yang dihasilkan dari
pengolahan minyak bumi mentah kemudian melalui proses alkilasi dan
polimerisasi. Alkilasi adalah tahap penambaham jumlah atom pada fraksi
sehingga molekul fraksi menjadi lebih panjang dan bercabang. Proses alkilasi
menggunakan penambahan katalis asam kuat seperti HCl, H2SO4, atau AlCl3
(asam kuat lewis). Sedangkan polimerisasi adalah tahap penggabungan
molekul molekul kecil menjadi molekul yang lebih besar dalam fraksi
sehingga mutu dari produk akhir akan lebih meningkat.
5. Treating
Treating adalah fraksi minyak bumi melalui eliminasi bahan bahan pengotor
yang terikut dalam proses pengolahan atau yang berasal dari bahan baku
minyak mentah. Bahan bahan pengotor yang dihilangkan dalam proses
treating tersebut antara lain bau tidak sedap melalui coper sweetening dan
doctor treating, lumpur dan warna melalui acid treatment, paraffin melalui
dewaxing, aspal melalui deasphalting, dan belerang melalui desulfurizing.
6. Blending

Tahap terakhir yang dilalui dalam proses pengolahan minyak bumi sehingga
menghasilkan bahan siap guna adalah proses blending. Blending adalah
tahapan yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk melalui
penambahan bahan bahan aditif ke dalam fraksi minyak bumi. Bahan bahan
aditif yang digunakan tersebut salah satunya adalah tetra ethyl lead (TEL)
yang digunakan untuk menaikkan bilangan oktan.

Gambar 2. Fraksi Fraksi Minyak Bumi


I.5. Keterdapatan di Indonesia
Minyak bumi terbentuk pada daerah yang mengalami penurunan, oleh
karena itu minyak bumi biasanya berada pada daerah daerah rendah. Minyak
bumi terndapkan pada jebakan (trap). Jebakan adalah lapisan batuan permeabel
dan berpori (reservoir rock) yang dilapisi oleh batuan impermeabel yang
berfungsi sebagai pencegah minyak untuk berpindah ke tempat lain (caprock)
struktur geologi yang dapat menjebak minyak dan gas dapat diklasifikasikan
sebagai berikut.
1. Jebakan struktural, yaitu jebakan yang terbentuk akibat deformasi batuan
batuan reservoir, seperti sesar, antiklin, dll.
2. Jebakan Stratigrafis, yaitu jebakan yang terbentuk oleh pengendapan seperti
reef, kanal, delta, atau erosi batuan reservoir seperti ketidaklarasan sudut
(angular unconformity)
3. Jebakan Kombinasi, yaitu gabungan elemen elemen struktur dari kedua
bentuk di atas.
Indonesia memiliki 60 cekunga sedimen yang tersebar di seluruh wilayah.
Dari jumlah itu, 38 cekungan sudah dilakuakn eksplorasi. Sedangkan 22
cekungan, belum pernah dilakukan kegiatan eksplorasi.
Sebagian besar cekungan yang belum pernah di eksplorasi berada di
Indonesia bagian timur dan berlokasi offshore, antara lain di Sulawesi, Nusa
Tenggara, Halmahera, Maluku, dan Papua.

Gambar 3. Peta Cadangan Minyak Bumi di Indonesia


II. Natural Gas
Gas Bumi atau gas alam, adalah bahan bakar fosil berbentuk gas yang
utamanya terdiri dari metana (CH4). Gas Bumi tidak berwarna, dan memiliki sifat
yang sangat mudah terbakar.
II.1. Proses Pembentukan
Gas alam merupakan bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharui,
seperti minyak bumi dan batubara. Gas alam terbentuk dari tumbuhan, binatang,
dan mikroorganisme yang hidup jutaan tahun yang lalu, lalu tertimbun di lapisan
tanah atau di bawah laut. Dengan adanya tekanan dan temperatur yang sangat
tinggi di dalam bumi dalam waktu yang lama, menyebabkan ikatan karbon pada
timbunan organik tersebut terlepas. Semakin dalam deposit tertimbun di perut
bumi, semakin tinggi temperaturnya. Pada temperatur yang tidak terlalu tinggi,
biasanya terdapat minyak bumi yang lebih banyak dibandingkan gas alam. Begitu
juga sebaliknya, semakin tinggi temperatur, gas alam yang dihasilkan akan lebih
banyak. Jadi, pada intinya pembentukan gas bumi sama dengan pembentukan
minyak bumi hanya saja dilanjutkan dengan suhu yang lebih tinggi.
II.2. Komposisi Kimia
gas alam merupakan suatu campuran gas yang mudah terbakar yang
tersusun atas gas gas hidrokarbon. Selain metana gas alam juga terdiri dari gas
gas lainnya. Komposisinya adalah sebagai berikut :

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Komposisi
Persentase
Metana (CH4)
70 - 90 %
Etana (C2H6)
0 - 20 %
Propana (C3H8)
0 - 20 %
Butana (C4H10)
0 - 20 %
Karbon Dioksida (CO2)
0-8%
Oksigen (O2)
0 - 0.2 %
Nitrogen (N2)
0-5%
Hidrogen Sulfida (H2S)
0-5%
Gas Langka (A, He, Xe, Ne)
Tak tentu
Tabel 2. Komposisi Kimia Gas Alam

II.3. Proses Penambangan


Pada intinya proses penambangan gas bumi bersamaan dengan proses
penambangan minyak bumi hanya saja terdapat perbedaan dari proses
penyimpanan dan transportasi. Metode penyimpanan gas alam dilakukan dengan
cara Natural Gas Underground Storage, yakni suatu ruangan raksasa di bawah
tanah yang biasanya disebut sebagai salt dome. Pada musim panas, saat
pemakaian gas jauh berkurang, gas alam diinjeksikan melalui kompresor
kompresor gas ke dalam kubah di dalam tanah. Pada musim dingin yang
dibutuhkan penghangat, gas dari dalam tanah dikeluarkan untuk disalurkan ke
konsumen.
Pada dasarnya sistem trasnportasi gas alam meliputi :
1. Transportasi melalui pipa salur
2. Transportasi dalam bentuk Liquified Natural Gas (LNG), dengan kapal tanker
untuk pengangkutan jarak jauh
3. Transportasi dalam bentuk Compressed Natural Gas (CNG), baik di daratan
dengan road tanker maupun dengan kapal tanker CNG di laut, untuk jarak
dekat dan menengah.
II.4. Proses Pengolahan
Secara umum, pengolahan Natural Gas adalah sebagai berikut :
1. Bahan baku gas alam dari lapangan dilewatkan melalui knock out drum untuk
memisahkan kondensat cair sebelum memasuki kilang
2. Karbon dioksida dipisahkan oleh penyerapan kimia dengan amine proses
3. Pemisahan air dengan molecular sieve
4. Propana, butana, dan kondensat dipisahkan dari feed natural gas dalam
column fraksinasi
5. Pendinginan natural gas dengan propane refrigation
6. Pendinginan tahap akhir dengan pencairan natural gas dilakukan di kriogenik
utama pada heat exchanger dengan menggunakan komponen pendingin multi
sebagai media pendingin.

Gambar 4. Diagram Proses LNG


II.5. Keterdapatan di Indonesia
Keterdapatan gas alam sama dengan tempat terdapatnya minyak bumi,
yakni di jebakan jebakan. Di Indonesia keterdapatan gas alam contohnya di
Sumatera Selatan, Daerah Laut Jawa (offshore) dan di Aceh.

Gambar 5. Peta Cadangan Gas Bumi di Indonesia


III. Batubara
Batubara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya dalah
batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya
terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur unsur utamanya terdiri dari
karbon, hidrogen, dan oksigen.
Batubara juga memiliki sifat sifat fisik dan kimia yang kompleks dan
dapat ditemui dalam berbagai bentuk.
III.1. Proses Pembentukan
Secara ringkas, proses pembentukan batubara terjadi dalam 2 tahap, yaitu :
1. Tahap Diagenetik atau Biokimia, Proses ini juga disebut sebagai proses
penggambutan, dimulai pada saat tumbuhan yang telah mati mengalami
pembusukan (terdeposisi) menjadi humus. Humus ini kemudian diubah
menjadi gambut oleh bakteri anaerobic dan fungi hingga lignit terbentuk.

Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar air,
tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses
pembusukan dan kompaksi material organik serta membentuk gambut.
2. Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit
menjadi bituminus dan akhirnya antrasit.
Secara lebih rinci, proses pembentukan batubara dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1. Pembusukan, bagian bagian tumbuhan yang lunak akan diuraikan oleh
bakteri anaerob.
2. Pengendapan, tumbuhan yang telah mengalami proses pembusukan
selanjutnya akan mengalami proses pengendapan, biasanya di lingkungan
yang berair. Akumulasi dari endapan ini dengan endapan endapan sebelumnya
akhirnya akan membentuk lapisan gambut.
3. Dekomposisi, lapisan gambut akan mengalami perubahan melalui proses
biokimia dan mengakibatkan keluarnya air dan sebagian hilangnya sebagian
unsur karbondalam bentuk karbon dioksida, karbon monoksida, dan metana.
Secara relatif, unsur karbon akan bertambah dengan adanya pelepasan unsur
atau senyawa tersebut.
4. Geoteknik, lapisan gambut akan mengalami kompaksi akibat adanya gaya
tektonik dan kemudian akan mengalami perlipatan dan pataha. Batubara low
grade dapat berubah menjadi high grade apabila gaya tektonik yang terjadi
adalah gaya tektonik aktif, karena gaya tektonik aktif dapat menyebabkan
terjadinya intrusi atau keluarnya magma. Selain itu, lingkungan pembentukan
batubara yang berair juga dapat berubah menjadi area darat dengan adanya
gaya tektonik setting tertentu.
5. Erosi, merupakan proses pengikisan pada permukaan batubara yang telah
mengalami proses geoteknik. Permukaan yang telah terkelupas akibat erosi
inilah yang hingga saat ini dieksploitasi manusia
III.2. Komposisi Kimia
Pada dasarnya terdapat dua jenis material pembentuk batubara, yaitu
1. Combustible material, bahan atau material yang mudah terbakar. Material
tersebut umumnya terdiri dari Fixed carbon, senyawa hidrokarbon, total
sulfur, senyawa hidrogen, dll.
2. Non-combustible material, bahan atau material yang tidak dapat terbakar.
Material tersebut umumnya terdiri dari senyawa anorganik (SiO 2, Al2O3,
Fe2O3, TiO2, Mn3O4, CaO, MgO, Na2O, K2O dan senyawa logam lainnya)
yang akan membentuk abu dalam batubara.
No Peringkat Batubara
Rumus Kimia
.

1.
2.
3.
4.

Lignit
C70H5O25
Sub-Bituminus
C75H5O20
Bituminus
C80H5O15
Antrasit
C94H3O3
Tabel 3. Rumus Kimia Batubara
III.3. Cara Penambangan
Metode penambangan batubara dapat dilakukan dengan 2 jenis, yaitu
secara tambang terbuka dan secara tambang bawah tanah. Dengan memperhatikan
nilai ekonomisnya. Metode penambangan dengan sistem tambang terbuka terdiri
dari :
1. Contour Mining
2. Open Pit Mining (Strip Mine)
Sedangkan dengan tambang bawah tanah dibagi menjadi :
1. Room and Pillar
2. Wongawili
3. Longwall
4. Block Caving
5. Dll.
Penambangan secara tambang terbuka, dianggap lebih aman daripada
penambangan dengan sistem tambang bawah tanah. Oleh karena itu penambangan
biasanya dilakukan denga cara tambang terbuka, apabila dianggap tidak ekonomis
maka dilakukan tambanng bawah tanah.
III.4. Pengolahan Batubara
Beberapa cara dalam mengolah batubara antara lain :
1. Peningkatan Kadar Batubara
Peningkatan kadar batubara yang paling sederhana adalah melalui operasi
crushing and grinding dari bingkahan besar menjadi ukuran yang masuk
dalam persayaratan dan pencampuran atau blending antara batubara kualitas
rendah dan kualitas tinggi hingga memenuhi persyaratan spesifikasi teknis
pembeli. Peningkatan kadar yang lebih tinggi dapat dilakukan dengan
pencucian batubara dengan tujuan menurunkan kadar abu. Pencucian batubara
dapat menghilangkan mineral mineral yang mengandung abu dan sulfur.
2. Proses Karbonisasi
Proses karbonisasi merupakan proses peningkatan kualitas batubara dengan
cara dipanaskan dalam tanur pada suhu diatas 800 derajat celcius atau suhu
dibawah 600 derajat celcius dengan dalam lingkungan hampa udara. Proses
ini dapat menghilangkan atau mengurangi kandungan volatile matter dan air.
Produknya dinamakan char.
3. Proses Gasifikasi
Gasifikasi batubara merupakan proses konversi batubara menjadi gas.
Umumnya dilakukan untuk batubara yang tidak dapat digunakan secara

langsung sebagai bahan bakar. Gas yang dihasilkan dapat dimurnikan lagi atau
dapat langsung digunakan sebagai bahan bakar, atau direaksikan dengan
senyawa lain menjadi bentuk cairan. Bahan bakar gas sintetik ini lebih ramah
lingkungan dibandingkan dengan pembakaran langsung dari batubara.
4. Proses Liquifaction
Liquifaction merupaka proses konversi batubara menjadi produk lain seperti
cairan melalui proses pirolisis indirect liquefaction, dan direct liquefaction.
Pada proses pirolisis, cairannya merupakan produk samping dari produksi
kokas. Pada proses indirect liquefaction, batubara digasifikasi menjadi
campuran gas CO dan Hidrogen. Gas ini disebut syngas. Proses direct
liquefaction sering jugas disebut coal hydrogenation. Pada proses ini, batubara
dicampur dengan larutan pendonor hidrogen dan direaksikan dengan hidrogen
atau syngas pada tekanan dan temperature tinggi untuk menghasilkan berbagai
produk bahan bakar cair.
B. ENERGI BARU TERBARUKAN
I. Geothermal (Panas Bumi)
II. Wind Power (Angin)
III. Hydro Power (Air)
IV. Solar Power (Matahari)
V. Ocean Technology Energy Conversion (OTEC)