Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS KONTRIBUSI PERBANKAN SYARIAH

TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA


Abstract
Penelitian ini menguji hubungan dinamis antara perbankan syariah dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia
dengan mengunakan uji kointegrasi dan Vector Error Model (VECM) untuk melihat apakah sistem keuangan
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi atau pertumbuhan ekonomi yang mentransformasi operasional system
perbankan dalam jangka panjang. Kami menggunakan data time series Gross Domestic Product (GDP), Total
Pembiayaan (TP), Total Deposit (TD), Consumer Price Index (INF), dan rasio total ekspor dan impor terhadap
GDP (Openess of Economy: OE). Penelitian ini menemukan bahwa terdadat hubungan jangka panjang antara
sektor perbankan syariah denga pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sementara hasil uji kausalitas Granger
menunjukkan finance-led growth pada model pertama, yaitu sektor perbankan syariah mendorong terjadinya
pertumbuhan ekonomi dan riil output. Pada model kedua menunjukkan bidirectional causality, yaitu adanya
hubungan dua arah atau saling mempengaruhi antara perkembangan perbankan syariah dengan pertumbuhan
ekonomi Indonesia.
Keyword: Gross Domestic Product, total pembiayaan, total deposti, inflasi dan openess of economy.

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Hubungan antara perkembangan sektor keuangan diartikan sebagai peningkatan
volume produk dan jasa perbankan dan lembaga-lembaga intermidiasi lainnya serta transaksi
keuangan di pasar modal dan pertumbuhan ekonomi telah lama menjadi objek penelitian
dalam bidang ilmu ekonomi pembangunan. Sektor keuangan memainkan peran penting
dalam mendorong pertumbuhan berbagai sektor ekonomi. Ini dikarenakan lembaga
perbankan mampu memobilisasi surplus modal dari pihak ketiga untuk diinvestasikan ke
berbagai sector ekonomi yang membutuhkan pembiayaan. Ketika sektor keuangan bertumbuh
secara baik maka akan semakin banya sumber pembiayaan yang dapat dialokasi ke sektorsektor produktif dan akan semakin bertambah pembangun fisik modal yang bisa diciptakan
yang nantinya akan berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan dan kinerja positif sektor keuangan akan berkorelasi positif terhadap
kinerja ekonomi suatu negara. Sektor keuangan bisa menjadi sumber utama pertumbuhan
sektor ril ekonomi. Semakin banyak alokasi dana pihak ketiga perbankan yang dialokasikan
pada sektor-sektor ril maka akan semakin berkurang tingkat pengangguran dan kemiskinan
dalam sebuah perekonomian.
Perbankan syariah sebagai bagian dari sistem perbankan nasional mempunyai peranan
penting dalam perekonomian. Peranan perbankan syariah dalam aktivitas ekonomi tidak jauh
berbeda dengan perbankan konvensional. Keberadaan perbankan syariah dalam system
perbankan nasional di Indonesia diharapkan dapat mendorong perkembangan perekonomian
nasional. Perbedaan mendasar antara perbankan syariah dan konvensional terletak pada
prinsip-prinsip dalam transaksi keuangan dan operasional. Tujuan dan fungsi perbankan
syariah dalam perekonomian adalah (Setiawan, 2006): 1) kemakmuran ekonomi yang meluas,
tingkat kerja yang penuh dan tingkat pertumbuhan yang optimum, 2) keadilan-sosialekonomi dan distribusi pendapatan serta kekayaan yang merata, 3) stabilitas mata uang, 4)
mobilisasi dan investasi tabungan yang menjamin adanya pengembalian yang adil, dan 5)
pelayanan yang efektif.
Salah satau ciri utama perbankan syariah yang berdampak positif terhadap
pertumbuhan sektor ril dan ekonomi adalah lembaga keuangan syariah lebih menekankan
pada peningkatan produktivitas. Lembaga keuangan syariah adalah lembaga keuangan yang

menekankan konsep asset & production based system (sistem berbasis aset dan produksi)
sebagai ide utamanya. Mudharabah dan musharakah adalah cerminan utama dari ide tersebut.
Melalui pola pembiayaan seperti itu maka sektor ril dan sektor keuangan akan bergerak
secara seimbang. Akibatnya semakin tumbuh perbankan syariah maka akan semakin besar
kontribusinya terhadap kinerja dan pertumbuhan ekonomi. Jumlah kemiskinan dan
pengangguran secara langsung akan teratasi melalui kinerja ekonomi yang baik.
Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia dan memiliki
perekonomian terbesar di Asia Tenggara, tetapi jika dilihat dari segi pangsa pasar industri
keuangan syariah nasional masih jauh tertinggal dengan negara-negara lain, seperti Malaysia
yang pangsa industri keuangannya telah mencapai 20 persen dari total pangsa pasar
perbankan nasionalnya. Namun dengan kinerja ekonomi nasional yang semakin membaik,
pertumbuhan ekonomi 2010 yang diperkirakan melebihi angka 6 persen, Produk Domestik
Bruto (PDB) yang mencapai Rp 6,400 triliun, potensi pangsa pasar keuangan syariah yang
masih terbuka lebar, akan membangun optimisme masa depan industri syariah di Indonesia.
Pertumbuhan lembaga-lembaga keuangan syariah yang cukup signifikan dan
pertumbuhan ekonomi yang tinggi di waktu yang bersamaan menarik minat untuk melakukan
kajian apakah sektor perbankan syariah yang saat ini telah menjadi salah satu sistem
perbankan nasional di Indonesia benar-benar berkontribusi secara empiris dalam
pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. Untuk melakukan hal ini, kami akan
menganalisis hubungan dinamis (dynamic interactions) antara keuangan dan pertumbuhan
dengan menggunakan model apakah perbankan syariah berpengaruh terhadap pertumbuhan
ekonomi atau pertumbuhan ekonomi yang mempengaruhi perbankan syariah.
Proxy sektor keuangan perbankan syariah dalam penelitian ini adalah total
pembiayaan (TP) dan total deposit (DP). Sementara sektor pertumbuhan ekonomi atau riil
output direpresentasikan oleh Gross Domestic Product (GDP). Variabel-variabel lain yang
kami tambahkan dalam model adalah Consumer Price Index (CPI) sebagai representasi
inflasi (INF) dan rasio total ekspor dan impor terhadap GDP sebagai representasi keterbukaan
ekonomi atau openness of economy (OE). Penelitian ini menggunakan data kwartal.
Dikarenakan keterbatasan akses data, maka penelitian ini hanya dari periode 2002.Q32010.Q3.
1.1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan pada pendahuluan atau latar belakang pemikiran yang telah disebutkan di
atas maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:

1. Sektor keuangan (perbankan syariah) yang direpresentasikan oleh total pembiayaan


dan total deposit berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Begitu juga
dengan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang baik akan mendoraong pertumbuhan
perkembangan sektor keuangan (perbankan syariah).
2. Tingkat inflasi dan keterbukaan ekonomi terhadap negara-negara lain dapat
berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
3. Penggunaan model yang bisa menginvestigasi hubungan jangka panjang antara sektor
keuangan perbankan syariah dengan pertumbuhan eknomi/riil sektor Indonesia.
4. Penggunaan model yang bisa melihat sejau mana suatu variabel merespon jika terjadi
inovasi pada variabel-variable yang lain dalam model penelitian yang digunakan.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang belakang dan identifikasi masalah dalam penelitian ini,
maka permasalah yang akan dibahas adalah:
1. Apakah sektor keuangan (perbankan syraiah) berpengaruh terhadap pertumbuhan
ekonomi Indonesia (finance-led growth hypothesis)? Apakah pertumbuhan ekonomi
berpengaruh terhadap perkembangan sektor keuangan (perbankan syraiah) di
Indonesia (growth-led finance hypothesis)?, Apakah terjadi dua hubungan saling
mempengaruhi antara sektor keuangan (perbankan syariah) dan pertumbuhan ekonomi
Indonesia (bidirectional causality hypothesis)? Atau, apakah sektor keuangan
(perbankan syariah) dan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak saling mempengaruhi
(indpendent hypothesis)?
2. Apakah terdapat hubungan jangka panjang antara perkembangan sektor keuangan
(perbakan syariah) dan pertumbuhan ekonomi Indonesia?
3. Seberapa besar variasi suatu variabel jika terjadi inovasi pada variabel-variabel yang
lain dalam model penelitian yang digunakan?
4. Bagaimana respon suatu variabel jika terjadi shock pada variabel-variabel dalam
model penelitian yang digunakan?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Menganalisis kontribusi sektor keuangan (perbankan syariah) terhadap pertumbuhan
eknomi Indonesia.
5

2. Menginvestigasi hubungan antara sektor keuangan (perbankan syariah) terhadap


pertumbuhan ekonomi Indonesia.
3. Menguji hubungan jangka panjang antara sektor keuangan (perbankan syariah) dan
pertumbuhan ekonomi Idonesia.
4. Menganalisis variasi suatu variabel jika terjadi inovasi pada variabel-variabel lain
dalam model yang digunakan dan menganalisis respon suatu variabel jika terjadi shock
pada variabel yang lain.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Teori Hubungan Keuangan dan Pertumbuhan Ekonomi
Hubungan antara perkembangan sektor keuangan dan pertumbuhan ekonomi telah
menjadi objek penelitian dalam berbagai literatur ekonomi pembangaunan dan keuangan.
Issu tentang keuangan dan pertumbuhan setidaknya telah dikemukakan sejak abad 19 oleh
Joseph A. Schumpeter (1912) yang mengemukakan urgensi sistem perbankan dan
pertumbuhan tingkat pendapatan nasional dalam pembangunan ekonomi melalui identifikasi
dan pembiayaan pada sektor investasi yang produktif.
Pengembangan teori pertumbuhan ekonomi telah secara luas digunakan sebagai
literatur dalam studi bidang pembangunan ekonomi, makroekonomi dan bidang studi lain
yang ada hubungannya. Beberapa dari teori tersebut diperkenalkan oleh Rostow2, Harrod
(1939), Domar (1946), Lewis (1954) dan Solow (1960). Namun hanya beberapa dari teori
tersebut yang fokus terhadap peranan sektor keuangan dalam mendorong pertumbuhan
ekonomi. Di sisi yang lain, Harrod (1939) dan Domar (1946) berpendapat bahwa untuk
meningkatkan tingkat pertumbuhan maka diperlukan peningkatan investasi baru, sehingga
rasio tabungan nasional dan pendapatan nasional menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi.
Sedangkan Solow (1956) dalam pemikiran neoklasik teori pertumbuhannya adalah hasil
pengembangan dari teori pertumbuhan Harrord-Domar dengan hanya menambahahkan faktor
lain, tenaga kerja (labour) dan memperkenalkan variabel independen ketiga berupa teknologi
dalam persamaan teori pertumbuhan.
Saat ini telah banyak hasil penelitian yang berusaha mengkaji secara empiris dengan
cara mengeksplorasi indikator-indikator yang lebih spesifik untuk menjelaskan hubungan
sebab akibat antara sektor keuangan dan pertumbuhan ekonomi. Setidaknya ada empat
kemungkinan pendekatan yang bisa menjelaskan hubungan sebab akibat antara keuangan dan
pertumbuhan, yaitu: 1) Keuangan adalah faktor penentu pertumbuhan ekonomi (finance-led
growth hypothesis) atau biasa disebut supply-leading view, 2) Keuangan mengikuti
pertumbuhan ekonomi (growth-led finance hypothesis) atau biasa disebut demand-following
view, 3) Hubungan saling mempengaruhi antara keuangan dan pertumbuhan atau biasa
disebut the bidirectional causality view, dan 4) Keuangan dan pertumbuhan tidak saling
berhubungan atau biasa disebut the independent hypothesis.
Pertama adalah the finance-led growth hypothesis atau supply-leading view. Teori
ini secara umum menganggap bahwa sektor keuanganlah yang mendorong pertumbuhan

ekonomi. Teori ini pada dasarnya mencari hubungan antara keuangan dan pembangunan
ekonomi. Para penganut teori ini meyakini bahwa keberadaan sektor keuangan yang berperan
sebagai lembaga intermediasi antara pihak yang kelebihan modal (surplus unit) dengan pihak
yang kekurangan modal (deficit unit) akan menyediakan alokasi sumber-sember pendanaan
yang efisien yang nantinya akan menggerakkan sektor-sektor ekonomi dalam proses
pertumbuhannya. Hasil penelitian empiris yang dilakukan oleh Xu (2000), Arestis et al
(1996) dan Fase dan Abma (2003) menunjukkan bahwa ekspansi sistem keuangan memiliki
hubungan positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Horrison et al. (1999) dan Blackburn dan
Hung (1998) mengemukakan bahwa fungsi intermediasi lembaga sektor keuangan akan
mendorong pertumbuhan ekonomi karena ini akan mengurangi biaya dalam penilaian proyek.
Jika jumlah proyek meningkat dalam perekonomian yang bertumbuh maka bank akan masuk
ke dalam pasar sebagai bentuk aktivitas bank dan keuntungan akan bertambah. Pertambahan
jumlah bank akan mengurangi rata-rata jarak antara bank dan debitor, mendorong spesialisasi
dan mengurangi biaya intermiediasi. King dan Levini (1993) adalah salah satu yang telah
membuktikan bahwa pertumbuhan sektor keuangan adalah sebagai syarat untuk mencapai
pertumbuhan ekonomi.
Akan tetapi banyak peneliti yang meragukan tentang hipotesis ini (financial-led
growth). Demetriades dan Hussein (1996) dengan menggunakan data tahunan dari 1965
sampai 1992 menemukan diantara negera-negara Asia yang ditelitinya, hanya Sri Lanka yang
membuktikan hipotesis financial-led growth. Studi di Turki dalam periode 1986.Q1 sampai
2006.Q4, Acaravei et al. (2007) hanya menemukan hubungan satu arah dari sektor keuangan
ke pertumbuhan ekonomi, tetapi secara statistik dalam jangka panjang hubungan antara sector
keuangan dan pertumbuhan ekonomi tidak signifikan.
Kedua adalah the growth-led finance hypothesis atau the demand-following view.
Pemikiran ini dikembangkan oleh Robinson (1952), inti pemikirannya adalah perkembangan
sektor keuangan mengikuti pertumbuhan ekonomi atau aktivitas wirausaha (enterprise)
mendorong pertumbuhan sektor keuangan. Jika sektor ekonomi mengalami ekspansi maka
permintaan terhadap produk dan jasa perbankan juga akan mengalami peningkatan, sehingga
dengan sendirinya sektor perbankan akan juga meningkat. Penelitian empiris yang
mendukung hipotesis ini telah banyak dilakukan. Habibullah (1999) dalam penelitiannya
ditujuh negara Asia menemukan Malaysia, Nyamar dan Nepal mendukung hipotesis
growthled finance dan hanya Filipina yang mendukung hipotesis finance-led growth.
Ketiga adalah the bidirectional causality view. Aliran pemikiran ekonomi ini
menggambarkan hubungan dua arah atau saling mempengaruhi antara sektor perkembangan

keuangan dan pertumbuhan ekonomi. Hipotesis ini menyatakan bahwa sebuah negara yang
memiliki perkembangan sektor keuangan yang baik akan mendorong tingkat ekspansi
ekonomi yang tinggi melalui kemajuan teknologi dan inovasi produk dan jasa (Schumpeter,
1912). Kondisi ini kemudian akan menciptakan tingkat permintaan yang tinggi terhadap
produk dan layanan perbankan (Levine, 1997). Jika institusi perbankan merespon secara
efektif terhada permintaan tersebut, maka respon tersebut akan menstimulasi kinerja ekonomi
yang lebih tinggi. Sektor keuangan dan pertumbuhan ekonomi masing-masing saling
berhubungan secara positif dan hubungan ini terjadi secara dua arah (Choong et al. 2003).
Penelitian empiris yang mendukung hipotesis ini juga sudah banyak dilakukan.
Penelitian yang dilakukan oleh Odedokun (1992) dan Luintel dan Khan (1999)
menemukan hubungan dua arah antara sektor keuangan dan pertumbuhan. Sektor keuangan
dan perkembangan ekonomi saling mempengaruhi, pertumbuhan sektor keuangan
menyebabkan ekonomi bertumbuh dan pertumbuhan ekonomi mendorong sektor keuangan
untuk berkembang secara maju. Demetriades dan Husaen (1996) dalam penelitiannya
terhadap negara-negara Asia tidak hanya membuktikan hipotesis the finance-lead
growthdan hipotesis the growth-led finance di antara negara-negara Asia, tapi juga
menemukan hubungan saling mempengaruhi, hubungan dua arah antara sektor keuangan dan
pertumbuhan ekonomi yang terjadi India, Korea Selatan dan Thailan. Hubungan dua arah ini
juga terjadi di Indonesia pada penelitian yang dilakukan oleh Habibullah (1999). Dengan
menggunakan data tahunan dari 1970 sampai 2001 di Turki, Unalmis (2002) menemukan
bahwa dalam jangka panjang dengan menggunakan pendekatan VECM atas nilai koefisiensi
yang terintegrasi menunjukkan bahwa ada hubungan saling mempengaruhi antara keuangan
dan pertumbuhan ekonomi.
Keempat adalah the independent hypothesis atau tidak ada hubungan saling
mempengaruhi antara keuangan dan pertumbuhan ekonomi. Hipotesis ini diperkenalkan oleh
Lucas (1988) yang berpendapat bahwa sektor keuangan dan pertumbuhan ekonomi tidak
memiliki hubungan saling mempengaruhi. Guryay et al. (2007) menguji hubungan antara
sektor keuangan dan pertumbuhan ekonomi untuk negara Cyprus dari periode 1986 sampai
2004. Hasilnya menunjukkan bahwa sektor ekonomi tidak memiliki pengaruh terhadap
pertumbuhan ekonomi di Cyprus. Al-Zubi et al. (2006) menggunakan model yang
dikembangkan oleh Levine pada tahun 1997 yang menggunakan panel data terhadap 11
negara arab dari periode 1980 sampai 2001. Hasilnya menunjukkan bahwa semua indicator
keuangan tidak signifikan dan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Model
yang telah dikembangkan menunjukkan hanya indikator kredit dalam negeri saja yang

signifikan dan memiliki efek positif tehadap pertumbuhan ekonomi, membuktikan bahwa
dominasi sektor publik dalam aktivitas ekonomi dan sektor keuangan masih belum
berkembang dan butuh usaha-usaha agar dapat mengembangkan fungsinya secara efektif di
negara-negara arab. Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Galindo dan Micco (2004)
yang menggunakan data cross section negara menunjukkan bahwa bank-bank milik negara
tidak mendorong pertumbuhan industri-industri manufaktur yang hanya mengandalkan
sumber pembiayaan eksternal untuk operasionalnya.
Sementara itu dalam sistem keuangan Islam, penelitian empiris sejauh ini yang telah
dilakukan untuk menganalisis tingkat efesiensi, superioritas dan stabilitas bank-bank Islam
dibandingkan bank-bank konvensional untuk mencapai target fungsi intermediasi moneter
yang difokuskan pada pencapaian kesinambungan pertumbuhan ril ekonomi, penurunan
inflasi dan pengangguran. Hasinya menunjukkan bahwa sistem keuangan yang tidak
menggunakan bunga (interest-free banking system) adalah lebih unggul dalam mencapai
target moneter (Darrat, 1988). Sementara itu Yousefi et al. (1997) dan Yusuf dan Wilson
(2005) menemukan bahwa tidak ada bukti secara empiris yang menunjukkan keunggulan dan
stabilitias sistem bank non-riba dibandingkan dengan bank yang menggunakan riba (interest
based banking system). Hafas (2007) dalam penelitiannya tentang kontribusi perbankan Islam
terhadap perekonomian Malaysia menemukan adanya hubungan yang signifikan antara
pertumbuhan ekonomi dan dana pihak ketiga yang dikumpulkan oleh bank-bank Islam.
Penelitian secara empiris yang membahas secara spesifik hubungan sektor keuangan Islam
terhadap pertumbuhan ekonomi masih sangat terbatas sekali.
Sementara itu dalam konteks Indonesia, penelitian empiris tentang hubungan sector
keuangan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia telah banyak dilakukan. Hidayati (2009) yang
menginvestigasi hubungan kausalitas antara sektor keuangan dengan pertumbuhan ekonomi
Indonesia. Dengan menggunakan sektor perbankan dan pasar modal sebagai representasi
sektor keuangan, Hayati menggunakan impulse respon function dan variance decomposition
dan menemukan bahwa perubahan pada sektor perbankan lebih berperan dalam menjelaskan
adanya perubahan pada pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan perubahan pada pasar
modal. Sedangkan hasil kausalitas Granger menunjukkan adanya bi-directional causality
antara pertumbuhan ekonomi dan perkembangan volume kredit perbankan, serta kausalitas
satu arah antara perkembangan kapitalisasi pasar saham dan pertumbuhan ekonmi. Inggrid
(2006) dalam penelitiannya yang menggunakan Vector Error Correction Model (VECM)
cenderung mendukung hipotesis bahwa sistem keuangan dapat menjadi mesin pertumbuhan
di Indonesia (the finance-led growth). Berdasarkan uji kausalitas Granger menunjukkan

adanya bidirectional causality antara output riil dan volume kredit serta one-way causality
yang berasal dari spread menuju output riil. Namun dalam kontesk analisis kontribusi
perbankan syariah terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat minim sekali
bahkan mungkin belum ada, mungkin disebabkan adanya keterbatasan data.
2.2. Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia
Perkembangan sistem ekonomi syariah dalam satu dekade terakhir ini di Indonesia
terlihat semakin pesat. Fenomena bank syariah di Indonesia dimulai dengan berdirinya Bank
Muamalat Indonesia yang operasinya diresmikan pada 1 Mei 1992. Bank Muamalat
Indonesia merupakan Bank Syariah pertama di Indonesia. Kemudian Bank Syariah Mandiri
(BSM) yang merupakan hasil konversi sistem operasi perbankan dari konvensional ke sistem
syariah yang pada 19 November 1999 resmi mengikuti Bank Muamalat dalam menerapkan
sistem syariah. Melalui dengan Dual Banking System, artinya suatu badan usaha perbankan
memiliki dua sistem operasinal sekaligus yaitu konvensional dan syariah, pertumbuhan
lembaga perbankan syariah semakin meningkat. Ada beberapa bank umum syariah saat ini
yang awalnya hanya membuka Unit Usaha Syariah lalu kemudian bermetamorposis menjadi
Bank Umum Syariah diantaranya misalnya BNI Syariah dan BRI Syariah. Proses
pembentukan bank syariah di Indonesia setidaknya melalui tiga cara, yaitu:
1. Mendirikan bank syariah secara langsung dengan full sistem syariah seperti halnya
Bank Muamalat Indonesia (BMI),
2. Melakukan konversi dari bank konvensional ke bank syariah. Inipun biasanya
menggunakan full sistem syariah. Hal ini terjadi pada Bank Syariah Mandiri (BSM)
yang awalnya adalah bank konvensional, dan
3. Membuka divisi syariah, biasanya adalah bank konvensional yang tertarik melakukan
transaksi syariah, hal ini dilakukan dengan cara membuka divisi syariah dengan
menggunakan dual banking system.
Langkah strategis pengembangan perbankan syariah yang berupa pemberian izin
kepada bank umum konvensional untuk membuka kantor cabang Unit Usaha Syariah (UUS)
atau konversi sebuah bank konvensional menjadi bank syariah melalui perubahan UndangUndang perbankan No. 10 tahun 1998 yang mengatur tentang landasan hukum dan jenis-jenis
usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh bank syariah berdampak
signifikant terhadap pertambahan Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah
(UUS).
Tabel 1: Perkembangan Bank Syariah Indonesia

Kelompok

2005

2006

2007

2008

2009

2010

Bank
Bank

10

Syariah
Unit Usaha 19

20

26

27

25

23

Syariah
Bank

92

105

114

131

136

146

550

636

782

1024

1223

1640

Umum

Pembiayaa
n

Rakyat

Syariah
Total
Jumlah
Kantor

Sumber: BI, statistik perbankan syariah, september 2010

Berdasarkan data statistik perbankan syariah Bank Indonesia bulan September 2010,
secara kuantitas, pencapaian perbankan syariah cukup membanggakan dan terus mengalami
peningkatan dalam jumlah bank. Semenjak berdirinya Bank Muamalat Indonesia tahun 1992
sampai 2005 hanya ada 3 Bank Umum Syariah, 19 Unit Usaha Syariah, 92 Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah dengan total jumlah kantor baru mencapai 550. Dalam rentang lima tahun,
dari tahun 2005 sampai 2010, pertumbuhan perbankan syariah lebih dari dua kali lipat.
Jumlah Bank Umum Syariah saat ini telah mencapai 10 unit dengan 23 Unit Usaha Syariah.
Selain itu jumlah Bank Pembiayaan Rakyat Syariah telah mencapai 146 unit dan total jumlah
kantor syariah mencapai 1,640 unit pada saat yang sama.
Tabel 2 menunjukkan perkembangan terakhir indikator-indikator utama perbankan
syariah di Indonesia. Perkembangan asset perbankan syariah meningkat secara signifikan dari
Rp 20,880 milyar tahun 2005 menjadi Rp 83,454 milyar pada September 2010. Sementara itu
Dana Pihak Ketiga dan Jumlah pembiayaan mencapai masing-masing Rp 63,912 milyar dan
Rp 60,970 milyar. Jika dilihat dari rasio pembiayaan yang disalurkan dengan besarnya dana
pihak ketiga (DPK) yang dinyatakan dalam Financing to Deposit Ratio (FDR), maka bank
syariah memiliki rata-rata FDR hampir mencapai 100 persen. Ini mengindikasikan bahwa
dana masyarakat yang dikelola oleh perbankan syariah disalurkan secara langsung ke sectorsektor produktif. Salah satu keunggulan perbankan syariah dari data yang ditunjukkan oleh
tabel 2 di atas bahwa meskipun tingkat FDR yang hampir rata-rata mencapai 100 persen,

tetapi tingkat kegagalan bayar atau Non Performing Financing (NPF) hanya sekitar rata-rata
4 persen.
Tabel 2: Indikator Utama Perbankan Syariah (dalam milyar Rupiah)
Indikator
Aset
DPK
Pembiayaa

2005
20880

2006
28722

2007
36387

2008
49555

2009
66090

2010
83464

n
FDR
NPR
Sumber: BI, statistik perbankan syariah September 2010.

Meskipun pangsa pasar perbankan syariah yang pada tahun 2010 ini belum bisa
mencapai target BI sebesar 5 persen, tetapi pelaku perbankan syariah optimis dengan kondisi
ekonomi Indonesia yang cukup stabil serta semangat tinggi bank-bank konvensional yang
berminat untuk masuk ke Industri perbankan syariah baik dengan cara konversi ataupun
membuka unit usaha syariah (UUS). Faktor lain yang akan mendukung geliat pertumbuhan
industri perbankan syariah adalah faktor regulasi yaitu Undang-Undang NO. 42 2009 tentang
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang mengatur tentang pajak transaksi perbankan syariah.

BAB III
DATA DAN METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Sumber Data dan Variabel Penelitian

Penelitian ini menggunakan data time series selama kurun waktu 2002.Q3-2010.Q2.
Data time series tersebut didapatkan melalui website laporan bulanan Bank Indonesia dan
International Financial Statistics (IFS). Adapun variabel yang kami gunakan adalah total
pembiayan (Total Financing) dan total dana pihak ketiga (Total Deposit) perbankan syariah
sebagai representasi sektor keuangan perbankan syariah. Gross Domestic Product (GDP)
sebagai represenatsi pertumbuhan ekonomi. Variabel tambahan lainnya adalah Cunsumer
Price Index (CPI) sebagai represesntasi tingkat inflasi dan OE (openess of economy) sebagai
rasio total impor dan ekspor terhadap nominal GDP sebagai representasi tingkat keterbukaan
ekonomi.
3.2. Model dan Metodologi Penelitian
Variable yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah total Gross Domestic
Product (GDP), total pembiayaan (TF), total dana deposit (TD), Cunsumer Price Index (INF)
dan Openess of Economy (OE). Dalam penelitian ini kami menggunakan dua model untuk
menilai kontribusi sektor perbankan syariah terhadap pertumbuhan ekonomi, yaitu:
GDPt = 1 + 2 TFt + 3 INFt + 4 OEt + t (1)
GDPt = _1 + _2 TDt + _3 INFt + _4 OEt + t (2)
3.2.1. Uji Akar Unit (Unit Root Test)
Estimasi model ekonometrik time series akan meghasilkan kesimpulan yang tidak
berarti ketika data yang digunakan mengandung akar unit (tidak stasioner). Nonstationary
seri akan menghasilkan model yang spurious regression, yaitu kondisi dimana hasil
regresinya menunjukkan nilai koefisiensi deeterminasi yang tinggi, R 2 dan t statistik yang
signifikan, tetapi secara teori tidak memiliki hubungan yang berarti. Time series dikatakan
stasioner jika rata-rata varians dan kovariansnya konstan sepanjang periode waktu. Untuk
melihat stasionaritas variabel time series maka kami menggunakan Augmented Dickey-Fuller
test (ADF test) yang diperkenalkan oleh Dickey Fuller (1979) dan Phillips-Perron test (PP
test) yang diperkenalkan oleh Phillips Perron (1988). Adapun model ADF tes adalah (Gujarati
dan Porter, 2009)3:
Yt= 1 + 2t + t-1 + + t (3)
Adapun 1 dan 2t adalah parameter, t adalah waktu dan tren variabel, menunjukkan
drift t adalah murni noise error term. Jika hipotesis nol (H0) adalah = 0 maka terdapat unit
root, berarti data time series tidak stasioner. Sementara apabila Hipotesis alternative < 0,

berarti time series stasioner. Atau jika nilai statistik ADF secara absolut lebih besar daripada
nilai krits MacKinnon maka hipotesis H0 ditolak, artinya times series stasioner.
Time series yang tidak stasioner dapat dijadikan stasioner melalui proses diferensiasi.
Diferensiasi pada derajat pertama dapat dinyatakan sebagai berikut:
2Yt= 1 + 2Yt-1 + t (4)
Jika data time series telah stasioner maka disebut stasioner pada derajat pertama, I (1).
Adapun PP tes berbeda dengan ADF tes. PP tes fokus pada serial korelasi dan
heteroskedasticity pada error term. Model PP tes adalah:
Zt = _ + t + t-1 + t (5)
Hipotesis nol (H0) adalah = 0, artinya Z tidak stasioner, sedangkan Hipotesis alternatif (H a)
adalah stasioner.
3.2.2. Uji Kointegrasi Johansen (Johansen Cointegration Test)
Kombinasi dari dua seri yang tidak stasioner, akan bergerak ke arah yang sama
menuju ekuilibrium jangka panjangnya dan diferensiasi diantara kedua time series tersebut
akan konstan. Jika demikian halnya, time series tersebut dikatakan saling berkointegrasi,
berarti variabel-variabel tersebut bergerak bersama dan memiliki hubungan jangka panjang.
Untuk menguji secara empiris hubungan jangka panjang antara sektor perbankan
syariah dengan pertumbuhan ekonomi dan hubungan saling mempengaruhi antara keuangan
Islam (perbankan syariah) dengan pertumbuhan ekonomi maka kami menggunakan uji
kointegrasi Johansen.
Tes kointegrasi antara perkembangan sektor keuangan dengan pertumbuhan ekonomi
berdasarkan pendekatan Vector Autocorrelation Regression (VAR) Johansen. Jika vektor Yt
adalah vektor variabel endogen dalam VAR dengan panjang lag p, maka:
Yt = 1Yt-1 + 2Yt-2 + + Yt- + Xt + t, t = 1,.,T, (6)
Dimana:
Wt

= vektor variabel endogen

= parameter matriks

Xt

= d-vektor dari deterministic variable

= vektor innovations

spesifikasi VAR ini dapat dinyatakan dalam bentuk first different sebagai Vector Error
correction (VECM) sebagai berikut:
Yt = 1Yt-1 + 2Yt-2 + + -1Yt-+1 + Yt- + Xt + t, t=1,,T (7)
Dimana:

= adalah estimated parameters

= difference operator

= parameter matriks jangka panjang

Jika tidak terdapat hubungan keintegrasi, model unrestricted VAR dapat diaplikasikan. Tetapi
bila terdapat hubungan kointegrasi antar variabel, model Vector Error Correction (VECM)
yang digunakan.
Jumlah vektor kointegrasi diperoleh dengan melihat signifikansi dari , melalui dua
likelihood test:
Maximum eigenvalue: max = - T ln(1-r+1) (8)

= nilai estimasi eigenvalue yang diperoleh dari estimasi terhadap

= jumah observasi

Trace statistic: trace = - T ln (1

r + 1)

_____

(9)

3.2.3. Uji Kausalitas Granger (Granger Causality) berdasarkan Error Correction Model
Tes kausalitas antara perkembangan sektor keuangan dan pertumbuhan ekonomi
berdasarkan kausalitas Granger. Kausalitas antara dua time series X1t dan X2t pada p order
VAR:
Y1t = 1 + 1l (L) 1t-1 + 12 (L) X2t-1 + _1 ( Xt-1) + 1t (10)
Y2t = 2 + 2l (L) 1t-1 + 22 (L) X2t-1 + _2 ( Xt-1) + 2t (11)
Di mana:
1 dan 2

= konstanta drift ij

= kombinasi linier stasioner dari Y1t-1 dan Y2t-1

persamaan 10 dan 11 dapat dituliskan dalam bentuk singkat sebagai berikut:


Yt = + 1 (L) Yt-1 + Yt-1 + t (12)
Di mana:
Yt = (Y1t, Y2t)

= (1, 2)

(L)

= ij

= _

= first difference operator

= vektor impulse

3.2.4. Variance Decompositions (VDCs) dan Impulse-Response Function (IRFs)

Penelitian

ini

juga

menggunakan

variance

decomposition

(VDCs)

dan

impulseresponse function (IRFs) untuk menggali lebih dalam hubungan dinamis antar
variabel. VDCs memungkinkan kita untuk menguji diluar dari kausalitas sampel antar
variabel di dalam sistem VAR. Metode ini mengukur persentasi dari variasi-variabel yang
bisa dijelaskan oleh variabel yang lain. Dengan kata lain, untuk menunjukkan dampak suatu
variabel terhadap variabel yang lain. Di saat yang bersamaan, VDCs menyajikan informasi
bagaimana sebuah variabel merespon jika terjadi inovasi atau shock pada variabel yang lain.
Akibatnya, dalam konteks penelitian ini, metode ini memungkinkan kita untuk
menginvestigasi pentingnya perkembangan keuangan dalam mengukur variasi pertumbuhan
ekonomi. Untuk menginterpretasikan implikasi ekonomi dari hasil VDCs, maka kami
menggunakan prosedur pengukuran inovasi yang dikembangkan oleh Sim (1980). Prosedur
ini melibatkan dekomposisi peramalan varians error tiap-tiap variabel terhadap komponen
atribut ke dalam inovasinya masing-masing dan ke shock variabel-variabel yang lain di dalam
sistem.
Di sisi lain, IRFs memungkinkan untuk mengetahui respon sementara variabel
terhadap shocknya dan shock variabel-variabel yang lain. Dalam konteks penelitian ini,
melalui IRFs, kita bisa mengukur arah, magnitute dan konsistensi respon pertumbuhan
ekonomi terhadap inovasi yang terjadi di sektor keuangan, inflasi (INF) dan keterbukaan
ekonomi (OE).