Anda di halaman 1dari 115

ANALISIS PENERAPAN PSAK NO 101-106 DALAM AKUNTANSI

SYARIAH

(Studi Kasus KJKS AN NISA Kab. Pemalang )

SKRIPSI
Disusun dan Diajukan Untuk
Memenuhi dan Melengkapi Syarat
Guna Memenuhi Gelar Sarjana S-1 Dalam Bidang Ekonomi Islam

Disususn Oleh :
SITI SHOLIHAH
052411003

FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARAG
2009

MOTTO

4n<) uIyu ( t9$#u &!uu /3n=ux !$# uz|s (#=y$# %u


t=ys? . $y/ /3m7ts yp9$#u =t9$# =t
Artinya :

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta


orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan
yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu
kerjakan. (At Taubah : 105)

iv

PERSEMBAHAN
Dengan segala kerendahan hati dan rasa syukur kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan rahmat, hidayah serta inayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan karya ilmiah ini dengan baik
Shalawat serta salam tidak lupa penulis haturkan kepada junjungan Nabi
Muhammad SAW yang insyaallah memberikan Syafaat kepada umat Nabi
Muhammad SAW yang beriman.
Tidak lupa karya ini penulis persembahkan untuk:
1. Kedua orang tua penulis, Bapak Moh Taufik dan Ibu Wakhaeni yang selalu
mendoakan penulis sepanjang waktu, yang selalu memberikan dorongan
dikala rapuh, selalu mencurahkan kasih sayangnya yang tiada habis serta
mendidik anaknya agar menjadi seperti anak yang diharapkan. Kepada adikadik: Nur Hasanah, Azimatun Nimah dan Muhammad Khairul Anam (terima
kasih atas kasih sayang, doa dan supportnya)
2. Kepada pihak KJKS An Nisa Kab. Pemalang. Bp Abdullah selaku Manager
Operasional dan Mba Khotimah. (trima kasih banyak atas waktu dan
kemurahan hatinya memberikan informasi)
3. Teman-teman seperjuangan: Ikha, Widya, Sulis, Atul, Asiyah, Evi, Maya,
Ilus, Chil, Ulya, Eka, Nila, Kuri, Dora, Aris, kak Suprek, Munadin, Lukman
Ndut, Alek, Ulin, Waris, Edi, Arif, Edi Sipit, Farik dan Adi (terima kasih atas
semua dukungan morilnya).
4. Kepada : Alfi, Uti, Ertin, Ikha, Azie, Irma, Mba Nur dan Ratna
5. Keluarga Besar Tim KKN Posko 77 Desa Damarjati Kec Sukorejo :Nur
Jannah, Hasan dan Fanani.
6. Keluarga Besar IMPP Komisariat IAIN Walisongo Semarang
7. Dan semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu

DEKLARASI

Dengan penuh kejujuran dan tanggung


jawab, penulis menyatakan bahwa
skripsi ini tidak berisi materi yang
telah atau pernah ditulis oleh orang
lain atau diterbitkan. Dengan demikian
skripsi ini tidak berisi satupun pikiranpikiran orang lain, kecuali informasi
yang terdapat dalam referensi yang
menjadi bahan rujukan.

Semarang, 05 Januari 2010


Deklarator

Siti Sholihah

vi

ABSTRAK

Penerapan akuntansi syariah di Indonesia baru muncul awal tahun 2003


perkembangan lembaga keuangan syariah pada saat ini menuntut agar semua
sistem yang ada baik secara prinsip atau praktek harus sesuai dengan tuntunan
syariah tidak terkecuali dalam pencatatan laporan keuangan yang ditandai dengan
berlakunya PSAK 59 tentang akuntansi perbankan syariah, yang kemudian
direview dengan peraturan PSAK No 101-106. KJKS An Nisa Kab. Pemalang
merupakan lembaga keuangan syariah yang sudah menerapkan peraturan PSAK
No 101-106. tetapi dalam penerapannya kjks an nisa mengalami hambatan yaitu
minimnya sumber daya manusia yang ahli dalam bidang akuntansi syariah, sistem
pengawasan dari badan pengawas internal yang belum optimal, dan pemanfaatan
teknologi informasi yang belum optimal.
Dari latar belakang tersebut timbul permasalahan yaitu: sejauh mana
PSAK No 101-106 diterapkan dalam laporan keuangan KJKS An Nisa Kab.
Pemalang, faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dalam penerapan
PSAK No 101-106 dan daya dukung manajerial apa saja yang dapat
dikembangkan untuk mengimplementasikan PSAK No 101-106 pada KJKS An
Nisa Kab. Pemalang.
Jenis penelitian ini adalah jenis field reseach dan metode penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini menggunakan beberapa langkah yaitu metode
observasi, dokumentasi dan wawancara. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui sejauh mana PSAK No 101-106 diterapkan dalam laporan keuangan,
untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dalam
penerapan PSAK No 101-106, dan untuk mengetahui daya dukung manajerial apa
saja yang dapat dikembangkan untuk mengimplementasi PSAK No 101-106.
Dari hasil penelitian, penulis menemukan bahwa dalam penerapan PSAK
No 101-106 belum semuanya diterapkan. Hal ini disebabkan karena adanya
hambatan yaitu DPS yang kurang fokus terhadap kinerjanya dan SDM yang
kurang memahami peraturan PSAK tersebut. Pada PSAK No 101 tentang
penyajian laporan keuangan, KJKS An Nisa Kab. Pemalang hanya menerapkan
neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas dan laporan
sumber dan penggunaan dana qordhul hasan. Untuk meminimalisasi kendala
dalam penerapan PSAK No 101-106 maka KJKS An Nisa mengoptimalisasi
dalam sistem operasionalisasinya menggunakan sistem softwere MFS online dan
mengikutsertakan pengelolanya dalam pelatihan-pelatihan sesuai dengan
bidangnya. Kjks an nisa juga melakukan dua pengawasan yaitu: pengawasan
preventif dan pengawasan represif
Hubungan kerjasama yang dilakukan oleh KJKS An Nisa dapt menjadi
daya dukung manajerial yang dapat dikembangkan, yaitu melalui hubungan bisnis
dan hubungan non profit yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas anggota
KJKS.

vii

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berbagai
kenikmatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan
judul : Analisis Penerapan PSAK No 101-106 Dalam Akuntansi Syariah (Studi
Kasus KJKS AN NISA Kabupaten Pemalang ). Sholawat dan salam juga
senantiasa tercurah kehadirat Nabi Muhammad SAW yang kita tunggu syafaatnya
di hari akhir
Skripsi ini diajukan untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar
sarjana strata satu (S1) dalam ilmu ekonomi Islam di fakultas Syariah IAIN
Walisongo Semarang.
Pada skripsi ini berisi terdiri dari lima bab yaitu: bab I pendahuluan, bab II
sekilas tinjauan umum tentang PSAK N0 101-106 dalam akuntansi syariah, bab
III berisi penerapan PSAK NO 101-106 dalam akuntansi syariah, bab IV berisi
analisis penerapan PSAK N0 101-106 dalam akuntansi syariah dan bab V yaitu
penutup.
Ucapan terima kasih tak luput penulis haturkan kepada para pihak yang
telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Pihak-pihak tersebut adalah:
1. Drs.H.Muhyiddin,M.Ag selaku Dekan Fakultas Syariah IAIN Walisongo
Semarang
2. Drs.H.Musahadi, M.Ag sabagai pembimbing I yang telah memberikan
bimbingan kepada penulis
3. Ari Kristin P, SE, M. Si sebagai pembimbing II yang telah memberikan
bimbingan kepada penulis yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan
pikiran untuk memberikan pengarahan dan bimbingan dalam menyusun
skripsi ini
4. Para Dosen Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang
5. Bapak Muh Saifullah M. Ag selaku Kajur Prodi Ekonomi Islam
6. Segenap staf dan karyawan Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang yang
telah memberikan sarana dan prasarana dalam penyusunan skripsi ini.

viii

7. Bapak dan Ibu tercinta terima kasih atas doa dan kasih sayangnya untukku
8. Teman-temanku senasib seperjuangan paket EIA angkatan 2005
9. Teman-temanku IMPP Komisariat IAIN Walisongo Semarang.

Semoga Allah senantiasa memberikan balasan yang setimpal atas segala


bantuan dalam wujud apapun dalam penulisan skripsi ini.
Pada akhirnya penulis menyadari bahwa tulisan ini masih banyak
kekurangannya, maka kritik dan saran konstruktif sangat penulis harapkan.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan
penulis khususnya

Semarang, 05 Januari 2010


Penulis

Siti Sholihah

ix

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .......................................................................................

HALAMAN NOTA PERSETUJUAN PEMBIMBING ...............................

ii

HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................

iii

HALAMAN MOTTO .....................................................................................

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN .....................................................................

HALAMAN DEKLARASI .............................................................................

vi

HALAMAN ABSTRAK ................................................................................. vii


KATA PENGANTAR ..................................................................................... viii
HALAMAN DAFTAR ISI...............................................................................
BAB I

: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.............................................................

B. Rumusan Masalah .....................................................................

C. Tujuan Penelitian ...................................................................... 10


D. Manfaat Penelitian .................................................................... 10
E. Kerangka Konseptual ............................................................... 11
F. Telaah Pustaka .......................................................................... 14

xi

G. Metode Penelitian ..................................................................... 15


H. Sistematika Penulisan Skripsi ................................................... 19
BAB II : TINJAUAN UMUM TENTANG PERNYATAAN STANDAR
AKUNTANSI KEUANGAN (PSAK) NO 101-106 DALAM
AKUNTANSI SYARIAH
A. Pengertian Akuntansi ................................................................ 21
B. Prinsip Dasar Akuntansi Syariah .............................................. 25
C. Sistem Badan Pengawas Internal .............................................. 31
1. Arti Pengawasan .................................................................. 31
2. Badan Pengawas Internal .................................................... 32
3. Standarisasi Akuntansi Syariah............................................ 35
BAB III : PENERAPAN PSAK NO 101-106 DALAM AKUNTANSI
SYARIAH DI KJKS AN NISA KABUPATEN PEMALANG
A. Gambaran Umum KJKS An Nisa kab. Pemalang...................... 50
1. Pengertian KJKS ................................................................... 50
2. Latar Belakang KJKS An Nisa Kab. Pemalang .................... 51
3. Stuktur dan Alat Organisasi .................................................. 57
B. Penerapan PSAK No 101-106 dalam Akuntansi Syariah di
KJKS An Nisa Kab. Pemalang .................................................. 62
1. Gambaran Umum Laporan Keuangan KJKS An Nisa ........ 62
2. Konsep Bagi Hasil ............................................................... 65

xi

3. Pembiayaan KJKS An Nisa Kab. Pemalang ....................... 70


BAB IV : ANALISIS TERHADAP PENERAPAN PERNYATAAN
STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN (PSAK) NO 101-106
DI KJKS AN NISA KABUPATEN PEMALANG
A. Analisis terhadap Penerapan PSAK No 101-106 di Lemabaga
Keuangan Syariah KJKS An Nisa Kab. Pemalang ................... 76
B. Analisis terhadap Faktor-Faktor yang Menjadi Penghambat
dalam Penerapan PSAK No 101-016 pada KJKS An Nisa Kab.
pemalang .................................................................................... 83
C. Analisis terhadap Daya Dukung Manajerial yang dapat
Dikembangkan untuk Mengimplementasi PSAK No 101-106
pada KJKS An Nisa Kab. Pemalang ......................................... 88
BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................... 94
B. Saran........................................................................................... 95
C. Penutup ...................................................................................... 96
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

xi

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Skor Jawaban ................................................................................ 15
2.1 Perbedaan BPR Syariah dengan Konvensional ............................ 27
4.1 Hasil Uji Validitas Instrumen ....................................................... 59
4.2 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen.................................................... 60
4.3 Jenis Kelamin Responden ............................................................. 61
4.4 Umur Responden........................................................................... 62
4.5 Pendidikan Responden.................................................................. 63
4.6. Pekerjaan Responden .................................................................... 64
4.7 Kriteria Deskripsi Presentase Variabel Dimensi Reliabilitas ....... 65

xi

4.8 Analisis Deskripsi Presentase Variabel Dimensi Reliabilitas....... 66


4.9 Kriteria Deskripsi Presentase Variabel Etika Pelayanan .............. 67
4.10 Analisis Deskripsi Presentase Variabel Etika Pelayanan............. 68
4.11 Kriteria Deskripsi Presentase Variabel Kepuasan Nasabah......... 69
4.12 Analisis Deskripsi Presentase Variabel Kepuasan Nasabah ........ 69
4.13 Hasil Uji Multikolinearitas .......................................................... 72
4.14 Hasil Uji Autokorelasi ................................................................. 72
4.15 Hasil Analisis Regresi Berganda.................................................. 73
4.16 Hasil koefisisen determinasi ........................................................ 74
4.17 Hasil Analisis Uji F....................................................................... 75

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Model Penelitian ......................................................................... 48


2.2 Kerangka Pemikiran.................................................................... 49
3.1 Struktur Organisasi ..................................................................... 57
4.1 Normal P-P Plot .......................................................................... 71
4.2 Scatterplot ................................................................................... 73

xi

xi

xi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Akhyar Adnan dalam bukunya Akuntansi Syariah: Arah, Prospek dan
Tantangannya mengatakan bahwa akuntansi dan bisnis ibarat ikan dan air,
keduanya tak mungkin dipisahkan. Hal yang sama terjadi pada lembaga
keuangan syariah. Timbul perdebatan: kalau operasi kelembagaan harus secara
syariah, maka akuntansinya juga harus secara syariah. Ada dua kemungkinan,
pertama: bahwa operasi yang ada dibiarkan dengan melakukan praktek
akuntansi yang sudah ada (konvensional), atau kedua: praktek akuntansi
lembaga tersebut harus disesuaikan sepenuhnya dengan syariah Islam dalam
hal ini sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
Syariah.1
Akuntansi syariah, menurut Triyuwono dan Graffikin (1996)
dikatakan, merupakan salah satu upaya mendekonstruksi akuntansi modern ke
dalam bentuk humanis. Tujuan diciptakannya akuntansi syariah adalah
terciptanya peradapan bisnis dengan wawasan humanis, emansipatoris,
teleologikal.2
Dari berbagai macam permasalahan lembaga keuangan syariah
mengenai standar akuntansi yang harus diterapkan dalam lembaga keuangan
1

Ahyar Adnan, Akuntansi Syariah: Arah, Prospek dan Tantangannya, Yogyakarta :


UII Press, 2005, hlm. 82
2
Ibid, hlm 2

syariah yang dalam realitanya tidak banyak diterapkan, penulis hanya akan
menitikberatkan pada penerapan PSAK No 101-106 dalam akuntansi syariah,
dimana dalam laporan keuangan lembaga syariah telah ditetapkan dalam
PSAK No 59, yang telah diperbaharui dengan PSAK No 101-106 karena
istilah atau pernyataan dalam PSAK No 59 dianggap kurang sesuai dengan
prinsip-prinsip syariah, keputusan tersebut telah dilakukan review mendalam
atas draft PSAK oleh Dewan Syariah Nasional MUI, tujuan yang hendak
dicapai Ikatan Akuntan Indonesia adalah bahwa laporan keuangan yang telah
di review tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah yang telah sesuai
dengan fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional MUI dan untuk mengatur
penyajian dan pengungkapan laporan keuangan untuk tujuan umum untuk
entitas syariah periode sebelumnya maupun dengan laporan keuangan syariah
lainnya.3
Dalam sistem ekonomi baik ekonomi Islam maupun ekonomi
konvensional, akuntansi merupakan salah satu bagian dari sistem ekonomi.
Secara umum akuntansi dapat didefinisikan, dengan proses pengidentifikasi,
mengukur dan melaporkan informasi ekonomi untuk memungkinkan adanya
penilaian dan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan
informasi tersebut.4 Akuntansi merupakan salah satu instrument ekonomi yang
penting dalam bisnis, karena dari akuntansi dapat diperoleh sebuah informasi

Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan Jakarta: Salemba Empat,:

Sofyan Syafri Harahap, Akuntansi Islam, Jakarta: Bumi Aksara, cet 2, 1996, hlm.

2007 hlm. 10
27

untuk mengambil keputusan bisnis.5 Akuntansi merupakan pengertian yang


lengkap mengenai fungsi pemegang buku atau setidaknya akan mempunyai
sedikit pengetahuan tentang fungsi akuntansi.
Dengan demikian fungsi akuntansi berguna untuk:
1. Menganalisis dan mencatat yang berhubungan dengan setiap transaksi
2. Meringkas dan melaporkan data akuntansi dalam laporan-laporan
akuntansi
3. Menganalisa

dan

mengartikan

laporan-laporan

untuk

kepentingan

manajemen.6
Hal tersebut diatas sesuai dengan firman Allah SWT




.




Artinya :Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah 179)
tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu
menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu
menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan
menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya......
(Q.S Al baqarah 282)7

Penerapan akuntansi syariah semakin jelas ketika kita mengamati


bahwa yang diperintahkan Allah dalam Q.S al Baqarah 282 adalah kreditur
dan debitur atau tentang pencatatannya, metode ini muncul ketika

5
6

Ibid, hlm 45
Muhammad, Manajemen Bank Syariah, Yogyakarta: UPP AMP YKPN 2002, hlm.

280-281
7

Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Pentafsir Al-Quran,


Semarang: hlm 70

dikeluarkannya PSAK No 101-106 yang ditetapkan pada per 1 September


2007 dari hasil mereview PSAK No 59 yang dianggap lebih sesuai dengan
prinsip-prinsip syariah dan harus diberlakukan lagi untuk mengakomodir para
praktisi di lembaga keuangan syariah, pos-pos tambahan yang disajikan secara
terpisah didasarkan atas penilaian dari
1. Sifat, likuiditas materialitas aset
2. Fungsi pos-pos tersebut dalam entitas syariah
3. Jumlah, sifat dan jangka waktu kewajiban
Menurut Islam, lembaga keuangan yang menerapkan transaksi yang
mengandung unsur gharar tidak diperbolehkan karena Al Quran melarang
dengan tegas semua transaksi bisnis yang mengandung unsur ketidakpastian
dalam segala bentuk apapun.8
Penerapan akuntansi syariah secara praktik khususnya di Indonesia
baru dimulai awal tahun 2003 yang ditandai dengan berlakunya Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK No 59) tentang Akuntansi Perbankan
Syariah. Penerapan akuntansi syariah pada lembaga perbankan syariah saat ini
masih menghadapi kendala-kendala antara lain: 1) minimnya Sumber Daya
Manusia yang ahli dalam bidang akuntansi syariah, 2) prinsip-prinsip bagi
hasil memerlukan kejujuran dari nasabah maupun pengelola bank, 3) sistem
pengawasan dari Badan Pengawas Internal yang belum optimal, 4)
pemanfaatan teknologi informasi yang belum optimal.

Afzlur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam jilid IV Penerjemah Soeroyo Nastangin,


Yogyakarta: PT Dana Bhakti Wakaf, 1996, hlm. 162

Tujuan laporan keuangan tersebut antara lain kepatuhan lembaga


keuangan syariah terhadap prinsip syariah. Penerapan akuntansi syariah pada
lembaga keuangan syariah juga memerlukan independensi dari Badan
Pengawas Internal KJKS untuk melakukan pengawasan kegiatan operasional
KJKS agar penyajian laporan keuangan syariah sesuai dengan prinsip-prinsip
pertanggungjawaban, keadilan dan kebenaran
Perbedaan yang mencolok akan tampak antara standar konvensional
untuk perbankan konvensional dan standar akuntansi perbankan syariah.
Kalau dilihat lebih jauh, perbedaan ini lebih disebabkan karena perbedaan
paradigma dasar dari kedua jenis industri. Yang pada kenyataannya membawa
perbedaan produk dan jasa yang ditawarkan. Sehingga konsekuensinya adalah
terjadinya perbedaan standar akuntansinya.9
Kerangka Dasar Akuntansi Keuangan versi AAO-IFI dituangkan
dalam FSA No 2, ini meliputi 9 bab, termasuk pengantar dan pernyataan
adopsi oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan AAO-IFI. Tidak seperti
halnya akuntansi keuangan konvensional, akuntansi bank syariah menuntut
lebih banyak bentuk laporan sebagai berikut.10
a) Laporan posisi keuangan
b) Laporan laba rugi
c) Laporan arus kas
d) Laporan laba ditahan

Muhammad, Dwi Suwiknyo, Akuntansi Perbakan Syariah, Yogyakarta: Trust


Media Publishing, 2009, hlm. 98
10
Sri Nurhayati, Wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia, Jakarta: Salemba Empat,
2009, hlm 101

e) Laporan perubahan dalam investasi terbatas


f) Laporan sumber dan penggunaan dana zakat serta dana sosial
g) Laporan sumber dan pengguaan dana dalam qardhul hasan
Empat laporan pertama adalah unsur-unsur laporan keuangan yang
sudah dikenal selama ini secara konvensioanal, sedangkan tiga terakhir
bersifat khas. Ketiga laporan yang terakhir ini muncul akibat perbedaan peran
dan fungsi lembaga keuangan syariah dan konvensional.
IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) sebagai lembaga pembuat standar
akuntansi memiliki beberapa alternatif dalam menyusun Standar Akuntansi
Syariah. Alternatif tersebut dapat dilihat dari aspek kekhususan bisnis syariah,
IAI dapat dihadapkan pada dua alternatif.11 Alternatif pertama adalah
membuat standar yang pengelolaannya merupakan kesinambungan dari
rangkaian strandar akuntansi. Dalam pengertian, standar hanya dibuat untuk
memenuhi kepentingan lembaga keuangan syariah yang ada saat ini sehingga
cukup disisipkan diantara standar konvensional yang ada. Adapun alternatif
yang kedua adalah membuat standar yang pengelolaannya secara khusus
diarahkan untuk pengembangan bisnis syariah. Sebagai konsekuensinya,
penyusunan Standar Akuntansi Syariah dikelola secara khusus dan tidak
hanya disisipkan di antara standar konvensional yang ada (misalnya nomor
PSAK yang dibuat secara khusus seperti PSAK Syariah No 101 tentang
Penyajian Laporan Keuangan Syariah, PSAK No 102 tentang Akuntansi
Murabahah, PSAK No 103 tentang Akuntansi Salam, PSAK No 104 tentang
11

2002, hlm. 204

Muhammad, Pengantar Akuntansi Syariah edisi ke 2, Jakarta: Salemba Empat,

Akuntansi Istishna, PSAK No 105 tentang Akuntansi Mudharabah, PSAK No


106 tentang Akuntansi Musyarakah).12
IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) dalam hal ini memilih alternatif
pertama yang lebih bersifat pemenuhan kepentingan sesaat dan tidak dalam
kerangka pengembangan dunia bisnis yang Islam. Sekiranya IAI ingin
mengembangkan dunia bisnis yang Islami, alternatif kedua lebih tepat untuk
digunakan. Penggunaan alternatif yang kedua akan memberikan pemahaman
bahwa standar akuntansi untuk lembaga yang berbasis syariah akan terus
dikaji dan dikembangkan, sehingga dapat dimisalkan nanti akan ada PSAK
Syariah No 2 untuk Asuransi Syariah, dan PSAK No 3 untuk Lembaga
Zakat.13
Kemunculan PSAK No 101-106 sebagai Pedoman Dasar Penyusunan
Dan Penyajian Laporan Keuangan (PDPPLK) Syariah relatif baru bagi
perkembangan dunia usaha di tanah air ini, dan standar tersebut harus sudah
diterapkan per 1 Januari 2008. KJKS merupakan salah satu lembaga keuangan
syariah yang menerapkan PSAK No 101-106, karena PSAK bukan hanya
sebagai acuan transaksi perbankan, tetapi juga mengatur seluruh transaksi
laporan keuangan pada lembaga keuangan syariah yang mengandung
informasi tentang kepatuhan terhadap prinsip syariah. Kerangka dasar ini
berlaku untuk laporan keuangan untuk semua jenis perusahaan komersial, baik
sektor publik maupun sektor swasta.14

12

Muhammad, Dwi Suwiknyo, op. cit, hlm. 38


Ibid, hlm. 205
14
Iwan Triyuwono, Menyibak Akuntansi Syariah, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2006,
13

hlm. 75

KJKS An Nisa kab. Pemalang didirikan oleh masyarakat setempat


yaitu tokoh-tokoh masyarakat dan anggota masyarakat lainnya. Seperti camat
kepala desa, pimpinan ormas dsb.15 Cacatan mendasar bahwa Bmt di
Indonesia berbadan hukum koperasi. Sehingga seluruh gerak dan langkahnya
sejalan dengan ketentuan yang ada tentang perkoperasian selain juga sesuai
dengan prinsip-prinsip syariah. Hal ini dijelaskan dalam ketentuan pengaturan
koperasi BMT diatur dengan Keputusan Menteri Koperasi Usaha Kecil dan
Menengah no 91 tahun 2004 (Kepmen No 91/Kep/M.KUKM/IX/2004).dalam
ketentuan ini, koperasi BMT disebut sebagai Koperasi Jasa Keuangan Syariah
(KJKS).16
Koperasi yang melaksanakan jasa keuangan pola syariah dan telah
mendapatkan pengesahan akta pendirian atau pengesahan perubahan anggaran
dasar, wajib menggunakan nama Koperasi Jasa Keuangan Syariah atau Unit
Jasa Keuangan Syariah pada papan nama, stempel serta kop surat yang
digunakan dalam melakukan usahanya.17
Koperasi

Jasa

Keuangan

Syariah

pengembangan

ekonomi

kerakyatan

mengutamakan

Ibadah,

pemberdayaan

yang

(KJKS)

didirikan

berbasis

syariah

Zakat,

Infaq

dan

untuk
dengan

Shodaqoh,

pemberdayaan usaha mikro, pembentukan SDM Lembaga Keuangan Syariah,


dan menggunakan teknologi seperti penggunaan softwere MFS online.
15

Pedoman Kebijakan Manajemen Lembaga Keuangan Syariah KJKS An Nisa Kab.


Pemalang, 2008, hlm 25
16
Kepmen No: 91/Kep/M.KUKM/IX/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan
Usaha Koperasi Jasa Keuangan Syariah.
17
Kepmen No: 91/Kep/M.KUKM/IX/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan
Usaha Koperasi Jasa Keuangan Syariah, Bab V Pengelolaan Bagian Keempat, Penggunaan Nama
pasal 19

KJKS dalam menerapkan PSAK No 101-106 yang kesesuaiannya


dengan prinsip-prinsip syariah dalam mengatur seluruh transaksinya
dimaksudkan agar dalam melakukan transaksi tidak melenceng dari Standar
Akuntansi tentang pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan.
Melihat dari latar belakang masalah tersebut, penulis merasa tertarik
untuk mengetahui lebih jauh tentang bagaimana penerapan atau pelaksanaan
akuntansi syariah pada KJKS An Nisa Kab. Pemalang apakah sudah sesuai
dengan PSAK Syariah No 101-106, hambatan-hambatan dalam penerapan
PSAK No 101-106 dalam akuntansi syariah serta daya dukung manajerial
yang dapat dikembangkan dalam penerapan PSAK No 101-106.
Sehingga dalam skripsi ini penulis akan mengambil judul ANALISIS
PENERAPAN PSAK NO 101-106 DALAM AKUNTANSI SYARIAH
(Studi Kasus di KJKS An-Nisa Kabupaten Pemalang)

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka pokok permasalahan dalam
penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Sejauh mana PSAK No 101-106 diterapkan dalam laporan keuangan pada
KJKS An Nisa Kab. Pemalang
2. Faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dalam penerapan PSAK
No 101-106 pada KJKS An Nisa Kab. Pemalang

10

3. Daya dukung Manajerial apa saja yang dapat dikembangkan untuk


mengimplementasikan PSAK No 101-106 pada KJKS An Nisa Kab.
Pemalang

C. Tujuan Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memenuhi tujuan-tujuan
penelitian
1. Untuk menjelaskan sejauh mana PSAK diterapkan dalam laporan
keuangan pada KJKS An-Nisa Kab. Pemalang.
2. Untuk menjelaskan faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dalam
penerapan PSAK No 101-106 pada KJKS An Nisa kab. Pemalang
3. Untuk menjelaskan daya dukung Manajerial apa saja yang dapat
dikembangkan untuk mengimplementasikan PSAK No 101-106 pada
KJKS An Nisa Kab. Pemalang

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi penulis sebagai wahana penerapan pengetahuan yang telah didapat
selama masa kuliah.
2. Memberikan kontribusi kepada masyarakat luas pemahaman tentang
manfaat PSAK dalam laporan keuangan di lembaga keuangan syariah.
3. Bagi pihak lain dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan bahan
perbandingan untuk melakukan penelitian selanjutnya.

11

E. Kerangka Konseptual
1.

Akuntansi Syariah
Kalau kita cermati Surat Al Baqarah ayat 282, Allah memerintahkan
untuk melakukan penelitian secara benar atas segala transaksi yang pernah
terjadi selama melakukan muamalah. Dari hasil penulisan tersebut dapat
digunakan sebagai informasi untuk menentukan apa yang akan diperbuat
oleh seseorang. Sehubungan dengan ini, beberapa definisi akuntansi dapat
disajikan disini, diantaranya.18
APB (Accounting Principle Board) mendefinisikan sebagai berikut:
akuntansi adalah suatu kegiatan jasa yang fungsinya memberikan
informasi kuantitatif umumnya dalam ukuran uang, mengenai suatu badan
ekonomi yang dimaksudkan untuk digunakan dalam pengambilan
keputusan ekonomi, yang digunakan untuk memilih diantara beberapa
alternatif.
AICPA (American Institute of Certified Public Accountant )
mendefinisikan sebagai berikut: Akuntansi adalah seni pencatatan,
penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran
moneter, transaksi, dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat
keuangan dan termasuk penafsiran hasil-hasilnya.
Dalam buku A Statement of Basic Accounting Theory dinyatakan
bahwa

18

akuntansi

loc. cit, hlm. 27-28

adalah

proses

pengidentifikasi

mengukur,

dan

12

menyampaikan informasi dalam hal pertimbangan dalam pengambilan


kesimpulan oleh para pemakai.
Sedangkan penerapan akuntansi sesuai syariah adalah proses
akuntansi terjadi implikasi atas nilai-nilai yang terkandung dalam ayatayat Al Quran yaitu sifat tanggung jawab, adil, dan benar merupakan
nilai yang esensial dalam akuntansi.
Berkaitan dengan tujuan penerapan akuntansi sesuai syariah yaitu
untuk membantu keadilan sosial dan ekonomi serta mengakui pemenuhan
kewajiban kepada stakeholders, sosial dan Tuhan.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Q.S Al Hadiid ayat 24

24




Artinya :(Yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia
berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari
perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji (Q.S. al-hadiid:
24).19

2. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) NO 101-106


Dikeluarkannya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan PSAK No
101-106 tentang Akuntansi Perbankan Syariah oleh Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI) merupakan angin segar bagi praktek akuntansi di Bank
Syariah. Sebab pernyataan ini bertujuan untuk mengatur perlakuan
akuntansi (Pengakuan, Pengukuran, Penyajian, dan Pengungkapan)
transaksi khusus yang berkaitan dengan Bank syariah.
19

Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Pentafsir Al-Quran,


semarang: hlm 904

13

Pernyataan ini berlaku untuk entitas Syariah dan konvensional.20


Hal-hal umum yang tidak diatur dalam pernyataan ini mengacu pada
pernyataan standar akuntansi yang berlaku umum sepanjang tidak
bertentangan dengan prinsip syariah.
Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstuktur dari posisi
keuangan dan kinerja dari suatu entitas syariah. Tujuan laporan keuangan
untuk tujuan umum adalah memberikan informasi tentang posisi
keuangan, kinerja dan arus kas entitas syariah yang bermanfaat bagi
sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat
keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukan pertanggungjawaban
manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan
kepada mereka. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, suatu laporan
keuangan menyajikan informasi mengenai entitas syariah meliputi:
a. Aset
b.

Kewajiban

c.

Dana syirkah kontemporer

d.

Ekuitas

e.

Pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian

f. Arus kas
g.

20

Dana kebajikan

Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, Jakarta: Salemba Empat,


2007 hlm. 7

14

F. Telaah Pustaka
Dalam melakukan penelitian skripsi ini, penulis bukanlah yang pertama
yang membahas penerapan PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan)
ada beberapa karya yang dapat penulis pakai sebagai bahan rujukan untuk
mendukung dalam penulisan skripsi yang penulis angkat, antara lain: .
Iwan Triyuwono mengatakan dalam bukunya, Menyibak Akuntansi
Syariah,21 dalam konteks bisnis perbankan Islam, hal yang melandasi tindakan
muslim adalah adanya konsep manajemen amanah. Munculnya hal ini
mengidentifikasikan bagaimana seseorang mampu mengambil peran pihak
lain dan menciptakan peran dalam rangka mengekpresikannya dalam dunia
nyata.
Menurut Sofyan S Harahap dalam bukunya, Akuntansi Pengawasan Dan
Manajemen Dalam Perspektif Islam, Jakarta FEU Trisakti 1992 mengatakan
bahwa akuntansi dalam Islam mempunyai fungsi yang sangat penting.
Menurutnya bila keadaan jadi lebih rumit dan akan menimbulkan persoalan
dikalangan masyarakat dikarenakan adanya penipuan. Untuk itu beliau
menganjurkan untuk mencatatnya agar terhindar dari hal-hal tersebut.22
Adapun skripsi yang penulis temukan antara lain
Skripsi yang ditulis M Haris Halimi Mahasiswa angkatan 2004 jurusan
Muamalah yaitu Analisis Terhadap Penerapan Akrual Basis di Bank
Muamalat Islam Semarang dalam Perspektif Islam. Skripsi ini menerangkan
tentang penerapan metode akrual basis terhadap PSAK 59 di Bank Muamalat
21

Iwan Triyuwono, loc. cit, hlm. 89


Sofyan S Harahap, Akuntansi Pengawasan dan Manajemen dalam Perspektif
Islam, Jakarta: FEU Trisakti, 1992, hlm 71
22

15

Islam Semarang dalam perspektif Islam. Akrual basis merupakan landasan


dari PSAK No 59 yang disahkan 1 Mei 2002 berlaku efektif untuk
penyusunan dan penyajian laporan keuangan yang dimulai 1 Januari 2003. 23
Dari beberapa rujukan tersebut, penulis menyimpulkan bahwa penelitian
yang penulis lakukan adalah tidak sama dengan beberapa rujukan tersebut
dalam beberapa aspek-aspek yang diteliti yaitu berkisar pada penelitian
tentang penerapan PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) No 101106 dalam akuntansi syariah pada kjks an nisa kab. Pemalang.
Untuk itu penulis merasa tertarik untuk meneliti lebih rinci berkaitan
dengan PSAK (Pernyatan Standar Akuntansi Keuangan) dalam akuntansi
syariah, sedikit berbeda dengan penelitian sebelumnya, penulis akan
membahas tentang penerapan PSAK No 101-106 hasil review PSAK No 59
yaitu tentang sejauhmana kerangka dasar tersebut diterapkan, faktor-faktor apa
saja yang menjadi penghambat dalam penerapan PSAK dan daya dukung
manajerial apa saja yang bisa dikembangkan untuk mengimplementasikan
PSAK No 101-106

G. Metode Penelitian
Adapun metode penulisan yang perlu dan sesuai dengan judul
penelitian ini adalah pembahasan yang didasarkan pada penelitian lapangan,
oleh karena itu penulis ingin menggunakan beberapa metode sebagai berikut:

23

M. Haris Halimi, Analisis Terhadap Penerapan Akrual Basis di Bank Muamalat


Islam Semarang dalam Perspektif Islam, Jurusan Muamalah Fakultas Syariah IAIN Walisongo
Semarang, 2004

16

1.

Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yaitu
penelitian yang subyeknya mengenai gejala-gejala, peristiwa-peristiwa,
dan fenomena yang terjadi pada lingkungan sekitar, baik masyarakat,
organisasi, lembaga atau Negara yang bersifat non pustaka. Maka dalam
hal ini tujuan penelitian adalah mengenai Analisis Penerapan PSAK No
101-106 Dalam Akuntansi Syariah (Studi Kasus di KJKS An-Nisa
Kabupaten Pemalang).

2. Sumber Data
a. Data Primer
Data yang diperoleh dari subyek penelitian dengan mengambil data
secara langsung pada subyek sebagai sumber informasi utama yang
dicari.24 Yaitu data-data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan
Manajer Operasional KJKS An Nisa Kab. Pemalang
b.

Data Sekunder
Data-data yang mendukung pembahasan penelitian. Untuk itu
beberapa sumber buku atau data yang akan membantu mengkaji secara
kritis diantaranya buku-buku yang terkait dengan penelitian yaitu
tentang Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No 101-106

3. Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang penulis gunakan adalah sebagai berikut.

24

hlm. 1

Syaifuddin Azwar, Metodologi Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet I, 1998,

17

a. Metode Observasi
Observasi adalah format yang disusun berisi item-item tentang
kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi.25 Metode
observasi ini penulis gunakan untuk mengamati secara langsung
aktivitas di KJKS. Hal ini penulis lakukan sebagai langkah awal dalam
penelitian ini untuk mendapatkan data-data yang akurat. Dalam metode
ini penulis mengobservasi bagaimana penerapan PSAK No 101-106
dalam laporan keuangan di KJKS An-Nisa Kab. Pemalang
b. Metode Dokumentasi
Yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa
catatan, transkip, buku, surat kabar, makalah, notulen, rapat, agenda
dan sebagainya.26 Metode ini dimaksudkan untuk menggali data
kepustakaan dan konsep-konsep serta catatan-catatan yang berkaitan
dengan penerapan akuntansi syariah mengenai sumber acuan khusus
seperti penemuan-penemuan atau hasil penelitian yang sudah atau
sedang dilakukan (jurnal dan skripsi). Dalam hal ini mengenai
penerapan PSAK No 101-106 dalam akuntansi syariah beserta sumbersumber lainnya mengenai faktor-faktor yang menjadi penghambat dan
daya dukung manajerial yang dapat dikembangkan dalam penerapan.
c. Metode Wawancara
Wawancara adalah pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan
secara langsung oleh pewawancara (pengumpulan data) kepada
25

Suharsimi Ari Kunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:


Rineka Cipta, 1998, hlm. 229
26
Ibid, hlm. 231

18

responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat atau direkam


dengan alat perekam).27 Wawancara yang dilakukan secara berencana
kepada pihak yang berkompeten dalam berbagai persoalan yang
terkait. Metode ini digunakan penulis untuk mewawancarai Manajer
Operasional dan staf serta karyawan KJKS An-Nisa Kab. Pemalang
yang berkompeten dibidangnya masing-masing.
4. Metode Analisis Data
Analisis data merupakan upaya mencari dan menata data secara
sistematis. Menurut Parton (1980 : 268) Analisis data adalah proses
mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola dan
satuan uraian dasar.28
Sesudah mengumpulkan data, penulis kemudian melakukan
analisis data dengan metode deskriptif analitis.29 Yaitu data yang
dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan dan kemudian dianalisis. Hal
ini dimaksudkan untuk manganalisis keadaan sebenarnya yang terjadi
dilapangan yaitu menggambarkan secara obyektif bagaimana penerapan
PSAK No 101-106 dalam akuntansi syariah.
Dalam upaya menganalisis, penulis membandingkan antara teori
dan fakta yang dihasilkan dari riset melalui wawancara dengan Manager

27

Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial: Suatu Teknik Penelitian Bidang


Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995, hlm. 67
28
Irwan Sarlito, Metode Penelitian Sosial, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 2000,
cet. Ke-4, hlm. 71
29
Winarno Surachman, Dasar Dan Teknik Reseavh Pengantar Metodologi Ilmiah edisi
ke 5, Bandung: Tarsito, 1972, hlm. 132

19

Operasional KJKS An-Nisa Kab. Pemalang beserta anggota dan karyawan


KJKS An Nisa Kab. Pemalang.

H. Sistematika Penelitian
Untuk memudahkan gambaran dan pemahaman yang sistematis, maka
penulisan skripsi ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I

: PENDAHULUAN
Bab pertama ini menjabarkan abstrak mengenai pokok masalah
yang akan dibahas dalam skripsi. Adapun hal-hal yang akan
disajikan antara lain latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, telaah pustaka, metode penelitian dan
sistematika penulisan.

BAB II

: TINJAUAN UMUM TENTANG PERNYATAAN STANDAR


AKUNTANSI KEUANGAN (PSAK) NO 101-106 DALAM
AKUNTANSI SYARIAH
Bab ini akan menguraikan landasan teori yang menjadi dasar
dalam penulisan penelitiaan ini. Dalam hal ini penulis akan
mengemukakan pengertian akuntansi syariah, prinsip dasar
akuntansi syariah, sistem pengawasan DPS (Dewan Pengawas
Syariah), standarisasi akuntansi keuangan.

BAB III

: PENERAPAN PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI


KEUANGAN (PSAK) NO 101-106 DALAM AKUNTANSI
SYARIAH DI KJKS AN NISA KABUPATEN PEMALANG

20

Bab ini, penulis akan menguraikan mengenai hasil penelitian


lapangan yang berisikan tentang gambaran umum KJKS An-Nisa
Kabupaten Pemalang meliputi pengertian BMT, latar belakang
KJKS An Nisa Kabupaten Pemalang beserta visi misi, dan
struktur dan alat organisasi, serta pelaksanaan penerapan PSAK
No 101-106 dalam akuntansi syariah
BAB IV

: ANALISIS

TERHADAP

PENERAPAN

PERNYATAN

STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN (PSAK) NO 101-106


DI KJKS AN NISA KABUPATEN PEMALANG.
Bab ini merupakan bab inti dari penulisan dan pembahasan
skripsi ini dimana penulis akan menganalisis penerapan PSAK
No 101-106 dalam akuntansi syariah, menganalisis faktor-faktor
hambatan dalam penerapan PSAK No 101-106, dan daya dukung
manajerial

yang

dapat

dikembangkan

dalam

mengimplementasikan PSAK No 101-106 di KJKS An Nisa Kab.


Pemalang.
BAB V

: PENUTUP
Pada bab ini merupakan bab yang terakhir dalam penyusunan
penelitian yang berisi tentang kesimpulan, saran-saran dan
penutup.

21

BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI
KEUANGAN (PSAK) NO 101-106 DALAM AKUNTANSI SYARIAH

A. Pengertian Akuntansi
Ditinjau dari sudut pemakainya, akuntansi dapat didefinisikan sebagai
suatu disiplin yang menyediakan informasi yang diperlukan untuk
melaksanakan kegiatan secara efisien dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan
suatu organisasi 30. Informasi yang dihasilkan akuntansi diperlukan untuk :
1. Membuat perencanaan yang efektif, pengawasan dan pengambilan
keputusan oleh manajemen.
2. Pertanggungjawaban organisasi kepada investor, kreditur dan badan
pemerintah.
Apabila ditinjau dari sudut kegiatannya, akuntansi dapat didefinisikan
sebagai proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, pelaporan, dan
penganalisisan data keuangan suatu organisasi.31 Definisi ini juga
menunjukan bahwa kegiatan akuntansi merupakan tugas yang kompleks dan
menyangkut bermacam-macam kegiatan. Pada dasarnya akuntansi harus:
a. Mengidentifikasikan data mana yang berkaitan atau relevan dengan
keputusan yang akan diambil.
b. Memproses atau menganalisis data yang relevan.
30

Haryono Yusuf, Dasar-Dasar Akuntansi, Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu


Ekonomi YKPN, 2003, hlm. 4
31
Ibid, hlm. 5

21

22

c. Mengubah data menjadi informasi yang dapat digunakan untuk


pengambilan keputusan.
Menurut American Accounting Association (AAA) Akuntansi adalah
proses mengidentifikasi/mengenali, mengukur dan melaporkan informasi
ekonomi untuk memungkinkan adanya penilaian dan pengambilan keputusan
yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan informasi tersebut.32
Belkaoui dalam buku Teori Akuntansinya disebutkan beberapa image
(citra) yang menggambarkan sifat-sifat akuntansi sebagai berikut:33
1. Akuntansi sebagai ideologi, karena akuntansi dinilai menompang atau
subsistem dari ideologi kapitalisme yang mengutamakan kepentingan
pihak pemilik modal.
2. Akuntansi

sebagai

suatu

bahasa,

karena

ia

menyampaikan,

mengkomunikasikan tentang perusahaan kepada pihak lain yang


memerlukan informasi itu. Akuntansi sama dengan bahasa, sama-sama
memiliki aturan gramatika dan terminologi khusus.
3. Akuntansi sebagai suatu cacatan historis, ia hanya mencatat apa yang
sudah terjadi, akuntansi tidak dapat mencatat apa yang akan terjadi di
masa yang akan datang.
4. Akuntansi sebagai suatu realitas ekonomi saat ini, ia sudah merupakan
bagian dari sistem ekonomi dan sistem bisnis.

32
33

Suyoto DKK, Dasar-Dasar Akuntansi, Jakarta: Yudhistira, 2003, hlm. 14


Sofyan S Harahap, Akuntansi Islam, Jakarta: PT. Bumi Aksara, , 2004, hlm. 28

23

5. Akuntansi sebagai suatu sistem informasi karena ia mengolah data menjadi


informasi yang bermanfaat bagi pemakainya untuk pengambilan
keputusan.
6. Akuntansi sebagai suatu komoditi, karena ia sudah menjadi barang
dagangan yang diminati para pemakainya. Mereka yang ahli akuntansi
ternyata dapat menjual keahliannya (komoditi) itu kepada masyarakat.
7. Akuntansi dianggap sebagai pertanggungjawaban, dalam hal ini akuntansi
dianggap

merupakan

sarana

manajemen

pertanggungjawaban

pengelolaannya atas harta kekayaan perusahaan yang diamanahkan


pemiliknya
Hameed (2003) mendefinisikan Akuntansi Islam (syariah) sebagai
proses akuntansi yang menyediakan informasi yang sesuai (tidak hanya
terbatas pada data keuangan) kepada stakeholders sebuah entitas untuk
menjamin bahwa institusi tersebut beroperasi secara berkelanjutan sesuai
dengan prinsip syariah dan membawanya kepada tujuan sosial-ekonomi.
Secara praktek akuntansi adalah kumpulan prosedur-prosedur untuk
mencatat, mengklasifikasikan, mengihtisarkan dan melaporkan dalam bentuk
laporan keuangan transaksi-transaksi yang telah dilaksanakan perusahaan.34
Syariah

berasal

dari

kata

syaraa

yang

berarti

memperkenalkan,

mengedepankan, menetapkan. Yang sering kita sebut hukum syara/syariah.35

34

N. Lapolima, Daniel S Kaswandi, Akuntansi Perbankan, Untuk Transaksi Dalam


Valuta Asing, Jakarta: LPPI, cet ke 3, 1993, hlm 4
35
Cyril, Glasse, The Concise Encyclopedia Of Islam, penerj: Ghufron A Masadi,
Ensiklopedi Islam (ringkas), Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, hlm 382

24

Menurut Triyuwono (1997), dalam mencari bentuknya, akuntansi


syariah berawal dari suatu asumsi bahwa Akuntansi adalah sebuah entitas
yang mempunyai dua arah kekuatan. Artinya, akuntansi tidak hanya dibentuk
oleh lingkungannya, tetapi juga mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi
lingkungannya, termasuk perilaku manusia yang menggunakan informasi
akuntansi.36
Bagaimana akuntan menciptakan sebuah bentuk akuntansi yang
dapat mengarahkan perilaku manusia ke arah perilaku yang etis dan ke arah
terbentuknya peradaban bisnis yang ideal, yaitu peradaban bisnis dengan nilai
humanis, emansipatoris, transendental, dan teleologikal. Dengan kata lain,
tujuan akuntansi syariah adalah menciptakan informasi akuntansi yang syarat
nilai (etika) dapat mempengaruhi perilaku para pengguna (users) informasi
akuntansi ke arah terbentuknya peradaban ideal.37
Dengan demikian akuntansi syariah sebagai alat pertanggungjawaban,
diwakili informasi akuntansi syariah dalam bentuk laporan keuangan yang
sesuai dengan syariah yaitu mematuhi prinsip full disclousure. Laporan
keuangan akuntansi syariah tidak lagi berorientasi pada maksimasi laba, akan
tetapi membawa pesan moral dalam menstimuli perilaku etis dan adil terhadap
semua pihak.38

36

Ahyar Adnan, Akuntansi Syariah: Arah, Prospek dan Tantangannya, Yogyakarta:


UII Press, 2005, hlm. 5
37
ibid, hlm. 16
38
Sri Nurhayati, Wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia, Jakarta: Salemba Empat,
2009, hlm. 88

25

B. Prinsip Dasar Akuntansi Syariah


Prinsip dasar paradigma syariah merupakan multi paradigma yang
holistik, mencakup keseluruhan dimensi wilayah mikro dan makro dalam
kehidupan manusia yang saling terkait. Pertama, dimensi mikro prinsip dasar
paradigma syariah adalah individu yang beriman kepada Allah SWT (tauhid)
serta mentaati segala aturan dan larangan yang tertuang dalam Al-Quran, Al
Hadits, Fiqih, dan hasil ijtihad. Landasan tauhid diperlukan untuk mencapai
tujuan syariah yaitu menciptakan keadilan sosial (al adl wal ihsan) serta
kebahagiaan dunia dan akhirat. Pencapaian tujuan syariah tersebut dilakukan
menggunakan etika dan modal iman (faith), taqwa (piety), kebaikan
(righteoneus/birr), ibadah (worship), tanggungjawab (responsibility/fardh),
usaha

(free

will/ikhtiyar),

hubungan

dengan

Allah

dan

manusia

(Habluminallah dan Habluminannas), serta barokah (blessing).39


Terkait dengan prinsip-prinsip syariah yang mejadi pedoman pada KJKS
An Nisa, sesuai dengan ayat Al Quran Surat Al Hasyar ayat 7.

4n1)9$# %!u =9u Ts 3t)9$# r& &!u 4n?t !$# u!$sr& !$


!$tu 4 3 !$uF{$# tt/ P's! t3t s1 69$# $#u 3|y9$#u 4ytGu9$#u
x !$# ) ( !$# (#)?$#u 4 (#tF$$s t 39pt $tu s 9$# 39s?#u
>$s)9$#

39

Akhyar Adnan, op. cit, hlm. 11

26

Artinya :
Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul Nya
(dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota Maka adalah
untuk Allah, Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu
jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah dia. Dan apa
yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukuman Nya.
(QS. Al Hasyar : 7)40

Kedua, dimensi makro prinsip syariah adalah meliputi wilayah politik,


ekonomi dan sosial. Dalam dimensi politik, menjunjung tinggi musyawarah
dan kerjasama. Sedangkan dalam dimensi ekonomi, melakukan usaha halal,
mematuhi larangan bunga, dan memenuhi kewajiban zakat. Selanjutnya dalam
dimensi sosial yaitu mengutamakan kepentingan umum dan amanah.41
Dalam kerangka konseptual akuntansi syariah tersebut di atas,
dinyatakan bahwa tujuan diselenggarakannya akuntansi syariah adalah
mencapai keadilan sosial-ekonomi, dan sebagai sarana ibadah memenuhi
kewajiban kepada Allah SWT, lingkungan dan individu melalui keterlibatan
institusi dalam kegiatan ekonomi. Produk akhir teknik akuntansi syariah
adalah informasi akuntansi yang akurat untuk menghitung zakat dan
pertanggungjawaban kepada Allah SWT dengan berlandaskan moral, iman
taqwa.

40

Departemen Agama RI, Yayasan penyelenggara penterjemeh/pentafsir al Quran,


semarang: hlm 916
41
Kuat Ismanto, Manajemen Syariah: Implementasi TQM dalam Lembaga Keuangan
Syariah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009, hlm 35

27

Mengingat laporan keuangan merupakan suatu informasi ekonomi yang


digunakan oleh pihak yang memerlukan, maka laporan keuangan itu harus
memenuhi kriteria (syarat-syarat) sebagai berikut:42
1. Relevansi
Merupakan informasi yang disajikan harus ada hubungannya dengan
pihak-pihak yang memerlukan untuk mengambil keputusan.
2. Dapat dimengerti (understandability)
Merupakan informasi/laporan keuangan harus disajikan secara jelas
dan mudah dipahami oleh para pemakai
3. Daya uji (veriviability)
Merupakan informasi/laporan keuangan harus disusun berdasarkan
konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar akuntansi, sehingga dapat diuji
kebenarannya oleh pihak pengukur yang netral
4. Kenetralan
Merupakan informasi yang disajikan harus bersifat umum, objektif
dan tidak memihak pada kepentingan pemakai tertentu
5. Ketepatan waktu
Merupakan informasi yang harus disampaikan sedini mungkin agar
dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi
6. Daya banding
Merupakan informasi dalam laporan keuangan akan lebih berguna
bila dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya

42

Suyoto DKK, op. cit, hlm. 209-210

28

dari perusahaan yang sama maupun dengan laporan keuangan perusahaan


lain pada periode yang sama.
Untuk mencapai daya dukung yang baik diperlukan consistensy
(tetap asas) yaitu satu prinsip yang menyatakan adanya penggunaan
cara/metode akuntansi yang sama dari tahun ke tahun, baik cara
pencatatan setiap terjadi transaksi maupun cara menentukan nilai pada
akhir periode.
7. Kelengkapan
Merupakan informasi yang disajikan harus meliputi semua data
akuntansi keuangan dan memenuhi enam syarat tersebut dan tidak
menyesatkan pembaca.
Dalam
menyediakan

pengambilan
informasi

keputusan
yang

laporan

bermanfaat

bagi

keuangan

bertujuan

pihak-pihak

yang

berkepentingan dalam pengambilan keputusan yang rasional.


Adapun pihak-pihak yang berkepentingan antara lain:43
a) Shahibul maal (pemilik dana)
b) Mudharib (pelaku usaha)
c) Pembayaran Zakat, Infaq, dan Shadaqah
d) Mitra usaha
e) Otoritas pengawasan
f) Pemerintah
g) Lembaga penjamin simpanan
43

2007 hlm. 2

Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, Jakarta: Salemba Empat,

29

h) Masyarakat umum
i) Pelanggan
Satu aspek penting dalam menetapkan struktur teoritis adalah
menetapkan unsur-unsur sebagai berikut:44
1

Harta
Kemungkinan manfaat ekonomi masa depan yang diperoleh atau
dikendalikan oleh suatu perusahaan sebagai hasil dari transaksi-transaksi
atau kejadian-kejadian yang lalu.

2. Kewajiban
Kemungkinan pengorbanan manfaat ekonomi di masa depan yang
berasal dari kewajiban sekarang dari suatu kesatuan tertentu untuk
penyerahan barang dan jasa kepada kesatuan lain di masa yang akan
datang sebagai hasil dari transaksi-transaksi atau kejadian-kejadian yang
lalu.
3. Ekuitas
Nilai sisa dari harta suatu kesatuan setelah dikurangi kewajibannya.
Dalam suatu perusahaan komersial ekuitas adalah kepemilikan.
4. Investasi pemilik
Penambahan dalam harta bersih perusahaan tertentu yang
dihasilkan dari transfer kesatuan lain atau penambahan kepemilikan. Harta
adalah bentuk yang paling umum diterima sebagai investasi pemilik, tetapi

44

55-56

Herman Wibowo, Akuntansi Intermediate, Jakarta: Binarupa Aksara, 1995, hlm

30

penerimaan ini mencakup juga jasa atau kepuasan atau konversi


kewajiban perusahaan.
5. Pembagian kepada pemilik
Pengurangan harta perusahaan tertentu yang ditimbulkan dari
penyerahan barang dan jasa atau terjadinya kewajiban bagi perusahaan
kepada pemiliknya. Pembagian kepada pemilik mengurangi kepemilikan
(ekuitas) dalam suatu perusahaan.
6. Laba komprehensif
Perubahan dalam ekuitas (laba bersih) suatu kesatuan atau suatu
periode dari transaksi dan kejadian serta keadaan lainnya pada sumbersumber bukan pemilik. Ini meliputi semua perubahan dalam ekuitas
selama suatu periode kecuali yang timbul dari investasi pemilik dan
pembagian kepada pemilik.
7. Pendapatan
Arus masuk atau penambahan lain atas harta suatu kesatuan atau
penyelesaian suatu kewajiban selama satu periode dari penyerahan atau
produksi barang, penyerahan jasa, atau aktifitas lain yang merupakan
operasi utama kesatuan tersebut.
8. Beban
Arus keluar atau penggunaan lain dari harta atau terjadinya
kewajiban selama satu periode dari penyerahan atau produksi barang,
penyerahan jasa, atau kegiatan-kegiatan lain yang merupakan operasi
utama kesatuan tersebut.

31

9. Keuntungan
Penambahan dalam ekuitas dari transaksi tidak langsung suatu
kesatuan dan dari semua transaksi dan kejadian serta situasi lain yang
mempengaruhi kesatuan selama satu periode kecuali yang berasal dari
pendapatan dan investasi pemilik
10. Kerugian
Pengurangan dalam ekuitas dari transaksi tidak langsung atau
insidental suatu kesatuan dan dari semua transaksi, kejadian, dan keadaan
lain yang mempengaruhi kesatuan selama satu periode kecuali yang
berasal dari beban dan pembagian kepada pemilik

C. Sistem Badan Pengawasan Syariah


1. Arti Pengawasan
Pengawasan merupakan bagian dari fungsi manajemen yang khusus
berupaya agar rencana yang sudah ditetapkan dapat tercapai sebagaimana
mestinya.
Pengawasan sering diartikan, sebagaimana beberapa definisi
berikut:45
Henry Fayol, salah seorang perintis ilmu manajemen mengartikan:
pengawasan mencakup upaya memeriksa apakah semua terjadi sesuai
dengan rencana yang ditetapkan, perintah yang ditetapkan dan prinsip

45

Sofyan Safri Harahap, Sistem Pengawasan Manajemen, Jakarta: PT. Pustaka


Quantum, 2001, hlm. 10

32

yang dianut. Juga dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan dan


kesalahan agar dapat dihindari kejadiannya dikemudian hari
Duncan (1975) mendefinisikan pengawasan sebagai berikut:
tindakan yang menentukan apakah rencana tercapai atau tidak
Secara sederhana pengawasan adalah kegiatan yang dilaksanakan
dengan mulus tanpa penyimpangan. Dalam setiap pencapaian tujuan
tercakup fungsi pengawasan (controlling). Fungsi ini merupakan
tanggungjawab yang tidak terpisahkan dari suatu kepemimpinan. Inilah
arti pengawasan yang sebenarnya.
2. Badan Pengawas Internal
Badan Pengawas Internal adalah suatu badan yang dibentuk oleh
lemabag keuangan syariah yang tugasnya yaitu untuk mengawasi jalannya
sistem operasi yang ada di dalam KJKS. Ruang lingkup pengawasan yang
dilakukan yaitu meliputi pengawasan yang menjamin operasionalisasi
KJKS, pengawasan yang menjamin keamanan seluruh aspek sistem secara
syari,

menjamin

keamanan

operasionalisasi

secara

hukum

dan

pengawasan kinerja keuangan.46


Pelaksanaan pengawasan oleh pengurus KJKS An Nisa bersifat
intern audit. Hal tersebut dilakukan untuk menyetujui tingkat kesehatan
KJKS, tertib administrasi dengan berpedoman PSAK agar dilakukan
secara konsisten. Oleh karena itu penempatan orang dalam kepengurusan
KJKS harus memperhatikan sikap, pengetahuan dan keterampilan yang
46

Ahmad Sumiyanto, Menuju Koperasi Modern: Panduan Untuk Pemilik, Pengelola dan
Pemerhati BMT dalam Format Koperasi, Yogakarta: Ises Publising, 2008, hlm. 56

33

mendukung. Dengan kata lain, penempatan SDM yang berkompeten harus


memenuhi syarat knowledge, skill, dan personal qualification yang
meliputi motif, atitude, value, trait, moral and etic dan religion47
Sesuai dengan UU No 25 tahun 1992, fungsi pengawasan ditetapkan
dalam rapat anggota untuk mengawasi kerja pengurus. Berdasarkan tugas
dari rapat anggota bisa meminta lembaga audit untuk melakukan audit
terhadap koperasi sepanjang dibutuhkan. Serta mempunyai wewenang
yaitu

memerikan

pedoman/garis-garis

besar

syariah

baik

untuk

pengarahan maupun untuk penyaluran dana serta kegiatan LKS lainnya.


Dalam penyusunan PSAK tersebut, Komite Akuntansi Syariah
mengacu pada Pernyataan Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia
(PAPSI) dan Bank Indonesia, selain juga pada sejumlah fatwa akad
keuangan syariah yang diterbitkan oleh DSN (Dewan Pengawas Syariah),
MUI sejak tahun 1992 hingga tidak memiliki PSAK khusus. Eksistensi
akuntansi syariah diawali oleh PSAK No 59 yang disahkan pada 1 Mei
2002 dan berlaku mulai 1 Januari 2003.
Fungsi Dewan Syariah Nasional (DSN) adalah sebagai berikut:48
1) Mengawasi produk-produk lembaga keuangan syariah agar sesuai
dengan syariah.
2) Meneliti dan memberi fatwa bagi produk-produk yang dikembangkan
oleh lembaga keuangan syariah.

47
48

Ibid, hlm. 19
ibid, hlm. 21

34

3) Memberikan rekomendasi para ulama yang akan ditugaskan sebagai


Dewan Pengawas Syariah pada suatu lembaga keuangan syariah.
4) Memberikan teguran kepada Lembaga Keuangan Syariah jika
lembaga yang bersangkutan menyimpang dari garis panduan yang
telah ditetapkan.
Fatwa dan PSAK Syariah
Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI

Dewan Standar Akuntansi Keuangan


IAI

No. 04/DSN.MUI/IV/2000

PSAK 102:

Tentang Murabahah

Akuntansi Murabahah

No. 05/DSN.MUI/IV/2000

PSAK 103:

Tentang Jual Beli Salam

Akuntansi Salam

No. 06/DSN.MUI/IV/2000

PSAK 104:

Tentang Jual Beli Istishna

Akuntansi Istishna

No. 07/DSN.MUI/IV/2000

PSAK 105:

Tentang Pembiayaan Mudharabah

Akuntansi Mudharabah

No. 08/DSN.MUI/IV/2000

PSAK 106:

Tentang Pembiayaan Musyarakah

Akuntansi Musyarakah

Diharapkan sinergi DSN-IAI dengan DSAK-IAI akan terus


berkelanjutan, sehingga PSAK Syariah hingga No 200 dapat segera
diimplemetasikan di Indonesia. DSAK-IAI juga senantiasa mengharapkan

35

masukan dari berbagai pihak yang terkait sehingga akan meningkatkan


kualitas standar akuntansi keuangan dimasa depan, termasuk partisipasi
aktif dan masukan atas exposure draft standar akuntansi keuangan yang
akan diterbitkan. Tanpa partisipasi semua pihak , tentunya akan sulit bagi
DSAK-IAI untuk dapat mengembangkan standar akuntansi keuangan
yang akan dibutuhkan.
PSAK merupakan produk Dewan Syariah Akuntansi Keuangan IAI
berlaku hanya dalam tempo 5 tahun. Sementara PSAK No101-106 yang
akan diberlakukan pada 1 Januari 2008 telah disahkan pada 27 Juni 2007.
perbedaan mendasar antara PSAK No 59 dengan PSAK terbaru adalah
pemberlakuan bukan hanya ditujukan untuk entitas Syariah saja tetapi
juga untuk entitas konvensional. Isi dari PSAK ini bukan merupakan
perubahan dari PSAK No 59 tetapi berupa penjelasan dan penambahan
secara detail.49
Pengawasan BMT oleh manajemen/pengelola sesuai dengan
ketentuan UU No 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian. Peraturan
Pemerintah No 9 tahun 1995 dan AD/ART dari BMT/Koperasi tersebut.

D. Standarisasi Akuntansi Keuangan


Akuntansi merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan
bisnis dan ekonomi khususnya, dan kehidupan manusia pada umumnya.
Seiring dengan perkembangan kegiatan bisnis yang diwarnai oleh dinamika

49

Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, loc. cit, hlm. 12

36

semangat Islam dari berbagai komunitas muslim diberbagai Negara di dunia


sejak beberapa dekade belakangan ini, maka akuntansi juga mengalami geliatgeliat serupa. Sehingga berkembanglah wacana akuntansi syariah sejak
munculnya lembaga-lembaga keuangan atau ekonomi syariah. Dalam
perkembangan yang relatif mutakhir di Indonesia, telah berhasil disusun dan
dimasyarakatkan apa yang disebut dengan Pernyataan Standar Akuntansi
Syariah (PSAK) No 59 tentang Perbankan Syariah yang kini telah direview
kembali yaitu PSAK No 101-106
Standar akuntansi pada hakikatnya adalah sebuah aturan main yang
dibangun untuk mencegah penyalahgunaan wewenang oleh satu kelompok
orang atas kelompok yang lain. Dalam akuntansi misalnya, standar disusun
agar ada kesejajaran antara pihak manajemen yang menyusun laporan
keuangan sebagai media pertanggungjawaban dan pihak eksternal sebagai
pembaca dan pengguna informasi.50
1. Pengakuan, Pengukuran, Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan
a)

Aspek Pengakuan dan Pengukuran


Aspek pengakuan memegang peranan penting sebagai
kerangka dasar, karena pengakuan merujuk kepada prinsip yang
mengatur kapan dicatatnya transaksi pendapatan (revenue), beban
(expenses), laba (gain), dan rugi (loss).51 Pada gilirannya konsep
pengakuan akan berperan dalam menentukan aktiva dan pasiva, serta
laba rugi perusahaan.

50

Akhyar Adnan, Akuntansi Syariah Arah, Prospek dan Tantangan, Yogyakarta: UII
Press, 2005, hlm. 79
51
ibit, hlm 53

37

Secara

umum

akuntansi

dipandang

sebagai

disiplin

pengukuran dan pengkomunikasian. Yang dimaksud pengukuran


adalah pelekatan suatu angka kepada obyek atau peristiwa menurut
aturan tertentu.52
Aspek pengukuran juga memegang peranan penting dalam
kaitannya dengan peran laporan akuntansi yang harus menyajikan
data kuantitatif tentang posisi kekayaan perusahaan dalam suatu
waktu tertentu.53 Yang perlu dipertimbangkan dalam aspek ini adalah
atribut apa yang dipakai dalam pengukuran. Aspek pengukuran
hampir

tidak

berbeda

bila

dibandingkan

dengan

akuntansi

konvensional, karena semua atribut yang akan dijadikan acuan harus


mempertimbangkan unsur relevan, reliability, understandability, dan
comparability.
b) Aspek Penyajian dan Pengungkapan
1) Pengakuan, Pengukuran, Penyajian dan Pengungkapan PSAK No
101 Tentang Penyajian Laporan Keuangan.54
Identifikasi
Laporan keuangan diidentifikasikan dan dibedakan secara
jelas dari informasi lain dalam dokumentasi publikasi yang sama.
a. Neraca
Entitas syariah menyajikan asset lancar terpisah dari asset
tidak lancar dan kewajiban jangka pendek terpisah dari
52

Ahmed Riahi, Teori Akuntansi, Jakarta: Salamba Empat, 2000, hlm. 43


op. cit, hlm 54
54
Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, loc cit, hlm 7
53

38

kewajiban jangka panjang kecuali untuk industri tertentu yang


diatur dalam standar akuntansi keuangan khusus. Asset lancar
disajikan menurut ukuran likuiditas sedangkan kewajiban
disajikan menurut urutan jatuh temponya.
Entitas

syariah

harus

mengungkapkan

informasi

mengenai jumlah setiap asset yang akan diterima dan


kewajiban yang akan dibayarkan sebelum dan sesudah 12 bulan
dari tanggal neraca.
b. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi entitas syariah disajikan sedemikian
rupa yang menonjolkan beberapa unsur kinerja keuangan yang
diperlukan bagi penyajian secara wajar. Laporan laba rugi
minimal mencakup pos-pos berikut:55
1. Pendapatan usaha.
2. Bagi hasil untuk pemilik dana
3. Beban usaha
4. Laba atau rugi usaha
5. Pendapatan dan beban non usaha
6. Laba atau rugi dari aktifitas normal
7. Beban pajak
8. Laba dan rugi bersih untuk periode berjalan
c. laporan Perubahan Ekuitas

55

Ibid, hlm 10

39

Perubahan

ekuitas

entitas

syariah

menggambarkan

peningkatan atau penurunan asset bersih atau kekayaan selama


periode bersangkutan berdasarkan prinsip pengukuran tertentu
yang dianut dan harus diungkapkan dalam laporan keuangan.
d. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas disusun berdasarkan ketentuan yang
telah ditetapkan dalam PSAK terkait.
e. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat.
Unsur dasar laporan sumber dan penggunaan dana zakat
meliputi sumber dana, penggunaan dana selama jangka waktu,
serta saldo dana zakat yang menunjukan dana zakat yang belum
disalurkan

pada

tanggal

tertentu.

Dana

zakat

tidak

diperkenankan untuk menutup penyisihan kerugian asset


produktif.
f. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan (Qordhul
Hasan)
Unsur dasar laporan sumber dan penggunaan dana
kebajikan meliputi sumber dan penggunaan dana selama jangka
waktu tertentu, serta saldo dana kebajikan yang menunjukkan
dana kebajikan yang belum disalurkan pada tanggal tertentu.
Penerimaan dana kebajikan oleh entitas syariah diakui sebagai
kewajiban paling likuid dan diakui sebagai pengurang
kewajiban ketika disalurkan.

40

g. Catatan Atas Laporan Keuangan


Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif
atau rincian jumlah yang tertera dalam neraca, laporan laba
rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, laporan
sumber dan penggunaan dana zakat dan laporan penggunaan
dana kebajikan.
2) Pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan PSAK No
102 Tentang Akuntansi Murabahah56
1. Pengakuan dan Pengukuran
a. Akuntansi Untuk Penjualan
1. Pada saat perolehan, asset murabahah diakui

sebagai

persediaan sebesar biaya perolehan.


2. Pengukuran asset murabahah setelah perolehan adalah
sebagai berikut:
a. Jika murabahah pesanan mengikat, maka
1. Dinilai sebesar biaya perolehan
2. Jika terjadi penurunan nilai asset karena usang,
rusak atau kondisi lainnya sebelum diserahkan
kepada nasabah, penurunan nilai tersebut diakui
sebagai beban dan mengurangi nilai asset.
b. Jika murabahah tanpa pesanan atau murabahah
pesanan tidak mengikat, maka

56

Ibid, hlm. 26

41

1. Dinilai berdasarkan biaya perolehan atau nilai


bersih yang dapat direalisasi, mana yang lebih
rendah.
2. Jika nilai bersih yang dapat direalisasi lebih rendah
dari biaya perolehan, maka selisihnya diakui
sebagai kerugian.
3. Keuntungan Murabahah Diakui
a. Pada saat terjadinya penyerahan barang jika dilakukan
secara tangguh yang tidak melebihi satu tahun
b. Selama periode akad sesuai dengan tingkat risiko dan
upaya untuk merealisasikan keuntungan tersebut untuk
transaksi tangguh lebih dari satu tahun. Metodemetode berikut ini digunakan, dan dipilih yang paling
sesuai dengan karakteristik risiko dan upaya transaksi
murabahah
1) Keuntungan

diakui

saat

penyerahan

asset

murabahah. Metode ini terapan untuk murabahah


tangguh dimana risiko penagihan kas dari piutang
murabahah dan beban pengelolaan piutang serta
penagihannya relatif kecil.
2) Keuntungan diakui proporsional dengan besaran
kas yang berhasil ditagih dari piutang murabahah.
Metode ini terapan untuk transaksi murabahah

42

tangguh dimana risiko tidak tertagih relatif besar


dan/atau beban untuk mengelola dan menagih
piutang tersebut relatif besar juga.
3) Keuntungan

diakui

saat

seluruh

piutang

murabahah berhasil ditagih. Metode ini terapan


untuk transaksi murabahah tangguh di mana
risiko

piutang

tidak

tertagih

dan

beban

pengelolaan piutang serta penagihannya cukup


besar.
b. Akuntansi Untuk Pembelian
1. Utang yang timbul dari transaksi murabahah tangguh
diakui sebagai utang murabahah sebesar harga beli yang
disepakati (jumlah yang wajib dibayar).
2. Asset yang diperoleh melalui transaksi murabahah diakui
sebesar biaya perolehan murabahah tunai.
3. Denda yang dikenakan akibat kelalaian dalam melakukan
kewajiban sesuai dengan akad diakui sebagai kerugian.
2. Penyajian
a) Piutang murabahah disajikan sebesar nilai bersih yang dapat
direalisasikan, yaitu saldo piutang murabahah dikurangi
penyisihan kerugian piutang.
b) Margin merupakan tangguhan disajikan sebagai pengurang
piutang murabahah

43

c) Beban murabahah tangguhan disajikan sebagai pengurang


utang murabahah.
3. Pengungkapan
a) Penjual mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan
transaksi murabahah tetapi tidak terbatas pada:
1. Harga perolehan saat murabahah
2. Janji

pemesanan

dalam

murabahah

berdasarkan

pemesanan sebagai kewajiban atau bukan


3. Pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No 101
Tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah
b) Pembali mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan
transaksi murabahah, tetapi tidak terbatas pada:
1. Nilai tunai asset yang diperoleh dari transaksi murabahah
2. Jangka waktu murabahah tangguh
3. Pengungkapan yang diperlukan sesuai psak No 101
Tentang Penyajian Laporan Keuangan.
3) Pengakuan, Pengukuran, Penyajian dan Pengungkapan PSAK No
105 Tentang Akuntansi Mudharabah.57
1. Pengakuan dan Pengukuran
a. Akuntansi Untuk Pemilik Dana
1) Dana mudharabah disalurkan oleh pemilik dana diakui
sebagai investasi mudharabah pada saat pembayaran

57

Ibid, hlm. 35

44

kas atau penyerahan asset nonkas kepada pengelola


dana
2) Pengukuran investasi mudharabah adalah sebagai
berikut:
a) Investasi mudharabah dalam bentuk kas diukir
sebesar jumlah yang dibayarkan
b) Investasi mudharabah dalam bentuk asset nonkas
diukur sebesar nilai wajar asset nonkas pada saat
penyerahan.
3) Jika akad mudharabah berakhir sebelum atau saat akad
jatuh tempo dan belum dibayar oleh pengelola dana,
maka investasi mudharabah diakui sebagai piutang.
4) Kerugian akibat kelalaian atau kesalahan pengelola
dana maka dibebankan pada pengelola dana dan tidak
mengurangi investasi mudharabah
b. Akuntansi Untuk Pengelola Dana
1) Dana yang diterima dari pemilik dana dalam akad
mudharabah diakui sebagai dana syirkah temporer
sebesar jumlah kas atau nilai wajar asset nonkas yang
diterima. Pada akhir periode akuntansi, dana syirkah
termporer diukur sebesar nilai tercatatnya.

45

2) Kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan atau


kelalaian

pengelola

dana

diakui

sebagai

beban

pengelolan dana.
2. Penyajian
1) Pemilik dana menyajikan investasi mudharabah dalam
laporan keuangan sebesar nilai tercatat
2) Pengelola dana menyajikan transaksi mudharabah dalam
laporan keuangan
3. Pengungkapan
1) Pemilik dana mengungkapkan hal-hal terkait transaksi
mudharabah, tetapi tidak terbatas
2) Pengelola

dana

mengungkapkan

hal-hal

terkait

mudharabah, tetapi tidak terbatas


4) Pengakuan, Pengukuran, Penyajian Dan Pengungkapan PSAK No
106 Tentang Akuntansi Musyarakah.58
1. Pengakuan dan Pengukuran
a. Akuntansi Untuk Mitra Aktif
a) Pada Saat Akad
1) Investasi musyarakah diakui pada saat penyerahan
kas atau asset nonkas untuk usaha musyarakah
2) Jika proses penilaian pada nilai wajar menghasilkan
penurunan nilai asset, maka penurunan nilai ini

58

Ibid, hlm. 55

46

langsung

diakui

sebagai

kerugian.

Asset

musyarakah yang telah dinilai sebesar nilai wajar


disusutkan berdasarkan nilai wajar yang baru
b) Selama Akad
a) Bagian mitra aktif atas investasi musyarakah
dengan pengembalian dana mitra pasif diakhir akad
dinilai sebesar
a. Jumlah kas yang diserahkan untuk usaha
musyarakah pada awal akad dikurangi dengan
kerugian (jika ada)
b. Nilai wajar musyarakah nonkas pada saat
penyerahan untuk usaha musyarakah setelah
dikurangi penyusutan dan kerugian (jika ada)
c) Akhir Akad
a) Pada saat akad diakhiri, investasi musyarakah yang
belum dikembalikan kepada mitra pasif diakui
sebagai kewajiban
d) Pengakuan Hasil Usaha
a) Pendapatan usaha musyarakah yang menjadi hak
mitra aktif diakui sebesar haknya sesuai dengan
kesepakatan atas pendapatan usaha musyarakah.
Sedangkan pendapatan usaha mitra pasif diakui

47

sebagai hak pihak mitra pasif atas bagi hasil dan


kewajiban
b) Kerugian

investasi

musyarakah

diakui

sesuai

dengan porsi dana masing-masing mitra dan


mengurangi nilai asset musyarakah
b. Akuntansi Untuk Mitra Pasif
a) Pada Saat Akad.59
1) Investasi musyarakah diakui pada saat pembayaran
kas atau penyerahan asset nonkas kepada mitra aktif
2) Biaya

yang

terjadi

akibat

akad musyarakah

(misalnya biaya studi kelayakan) tidak dapat diakui


sebagai bagian investasi musyarakah kecuali dana
persetujuan dari seluruh mitra
b) Selama Akad
1) Bagian mitra pasif atas investasi musyarakah
dengan pengembalian dana mitra pasif diakhir akad
dinilai sebesar:
a. Jumlah kas yang dibayarkan untuk usaha
musyarakah pada awal akad dikurangi dengan
kerugian (jika ada)

59

Ibid, hlm 59

48

b.

Nilai wajar asset musyarakah nonkas pada saat


penyerahan untuk usaha musyarakah setelah
dikurangi penyusutan dan kerugian (jika ada)

c) Akhir Akad
1) Pada saat akad diakhiri, investasi musyarakah yang
belum dikembalikan oleh mitra aktif diakui sebagai
piutang
d) Pengakuan hasil usaha
1)

Pendapatan usaha investasi musyarakah diakui


sebesar bagian mitra pasif sesuai kesepakatan.
Sedangkan kerugian investasi musyarakah diakui
sesuai dengan porsi dana

2. Penyajian
1) Mitra aktif menyajikan hal-hal yang terkait dengan usaha
musyarakah dalam laporan keuangan
2) Mitra pasif menyajikan hal-hal yang terkait dengan usaha
musyarakah dalam laporan keuangan
3. Pengungkapan
1) Mitra mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan transaksi
musyarakah, tetapi tidak terbatas
a. Isi kesepakatan utama usaha musyarakah, seperti porsi
dana,

pembagian

musyarakah,dll

hasil

usaha,

aktifitas

usaha

49

b. Pengelola usaha, jika tidak ada mitra aktif


c. Pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No 101
tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah
Dalam perkembangannya, standar akuntansi keuangan terus direvisi
secara berkesinambungan, baik berupa penyempurnaan maupun penambahan
standar baru sejak tahun 1994. proses revisi telah dilakukan 6 kali, yaitu
tanggal 10 Oktober 1995, 1 Juni 1996, 1 Juni 1999, 1 April 2002, 1 Oktober
2004, dan 1 September 2007. Buku SAK per 1 September 2007 ini
didalamnya sudah bertambah dibandingkan revisi sebelumnya yaitu tambahan
KDPPLK Syariah, 6 PSAK baru dan 5 PSAK revisi.60
Kerangka dasar ini berlaku untuk laporan keuangan untuk semua jenis
perusahaan komersial, baik sektor publik maupun sektor swasta. Perusahaan
pelopor adalah perusahaan yang laporan keuangannya digunakan oleh
pengguna dengan mengandalkan laporan keuangan tersebut sebagai sumber
utama informasi keuangan.

60

Muhammad, Dwi Suwiknyo, Akuntansi Perbankan Syariah, Yogyakarta: Trust


Media Publishing, 2009, hlm. 29

50

BAB III
PENERAPAN PSAK NO 101-106 DALAM AKUNTANSI SYARIAH DI
KJKS AN NISA KABUPATEN PEMALANG

A. Gambaran Umum KJKJS AN NISA Kab Pemalang


1. Pengertian KJKS
Koperasi jasa keuangan syariah yang sering disebut KJKS adalah
koperasi yang kegiatan usahanya bergerak dibidang pembiayaan, investasi
dan simpanan sesuai pola bagi hasil (syariah).61 Tujuannya yaitu
meningkatkan program pemberdayaan ekonomi khususnya dikalangan
usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi melalui sistem syariah,
mendorong kehidupan ekonomi syariah dalam kegiatan usaha mikro, kecil
dan menengah khususnya dan ekonomi indonesia pada umumnya serta
meningkatkan semangat dan peran serta anggota masyarakat dalam
kegiatan koperasi jasa keuangan syariah.62
Ciri-ciri operasional KJKS:
a. Visi dan misi sosial
b. Memiliki fungsi sebagai mediator antara pemberi Zakat (muzakki) dan
penerima Zakat (mustahik)
c. Tidak diperbolehkan mengambil profit apapun dari operasional

61

Kepmen No: 91/Kep/M.KUKM/IX/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan


Usaha Koperasi Jasa Keuangan Syariah, Bab 1Ketentuan Umum Pasal 1
62
Kepmen No: 91/Kep/M.KUKM/IX/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan
Usaha Koperasi Jasa Keuangan Syariah, Bab II Tujuan Pasal 2

50

51

d. Pembiayaan operasional mengambil hak sebagai amil sebesar 12,5 %


dari keseluruhan dana Zakat yang diterima
2. Latar Belakang KJKS AN NISA Kab Pemalang
BMT didirikan dan dimiliki oleh masyarakat setempat, bukan oleh
orang lain di luar masyarakat tersebut. BMT didirikan oleh tokoh-tokoh
masyarakat dan anggota masyarakat lainnya. Tokoh masyarakat tersebut
seperti tokoh informal (pimpinan ormas, pimpinan agama, pimpinan adat
dsb), pimpinan formal (camat, kepala desa dsb), usahawan, hartawan dan
dermawan.63
KJKS An Nisa didirikan oleh KSU untuk keperluan unit simpan
pinjamnya, sehingga yang dimaksud pendiri adalah sama dengan pendiri
yang di KSU An Nisa Kab Pemalang itu sendiri, namun dengan adanya
perubahan AD/ART yang merubah KSU menjadi KJKS An Nisa maka
secara langsung anggota pendiri KSU An Nisa menjadi anggota KJKS An
Nisa Kab Pemalang.
a. Tujuan Berdirinya KJKS An Nisa Kabupaten Pemalang
Tujuan berdirinya KJKS pada dasarnya merupakan investasi dari
kewajiban setiap muslim (khususnya) untuk beribadah semata-mata
hanya untuk mendapatkan ridho Allah SWT termasuk dalam kegiatan
dalam bidang keuangan maupun perdagangan. Secara umum ada dua
kepentingan yang mendasari dibentuknya KJKS An Nisa Kab.
Pemalang.
63

Pedoman Kebijakan Manajemen Lembaga Keuangan Syariah KJKS An Nisa Kab.


Pemalang, 2008, hlm 12

52

1) Kepentingan Ibadah
Hal ini merupakan manifestasi dari keimanan kepada
larangan Allah SWT tentang pengharaman riba. Dalam beberapa
hal, antara lembaga keuangan konvensional dan syariah memiliki
persamaan, terutama pada sistem teknis penerimaan/simpanan
uang, pelayanan dan teknologi. Namun terdapat banyak perbedaan
mendasar antara keduanya. Perbedaan itu menyangkut aspek legal,
nilai-nilai KJKS, struktur organisasi, penyaluran dana, lingkungan
kerja.
a) Aspek Legal
Untuk lingkup usaha koperasi dan KJKS mengacu kepada
ketentuan yang terdapat di dalam UU No 25 tahun 1992 pasal
43 dan 44 meliputi:
1. Usaha koperasi adalah usaha yang berkaitan dengan
kepentingan anggota untuk meningkatkan usaha dan
kesejahteraan anggota.
2. Kelebihan kemampuan pelayanan koperasi dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang bukan
anggota koperasi.
3. Kopersi menjalankan kegiatan usaha dan berperan utama
disegala bidang kehidupan rakyat.

53

4. Koperasi dapat menyalurkan segala kegiatan usaha simpan


pinjam dari dan untuk anggota koperasi bersangkutan dan
koperasi lain dan / atau anggotanya.
5. Kegiatan usaha simpan pinjam dapat dilaksanakan sebagai
salah satu atau satu-satunya kegiatan usaha koperasi.
6. Pelaksanaan kegiatan usaha simpan pinjam oleh koperasi
diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah.
Selain mengikuti UU No 25 tahun 1992 di atas, legalitas KSP/UPS
juga diperkuat lagi oleh Peraturan Pemerintah No 9 tahun 1995.
Berdasarkan peraturan tersebut maka berlaku ketentuan umum sebagai
berikut64:
1) Kegiatan Usaha Simpan Pinjam adalah kegiatan yang dilakukan untuk
menghimpun dana dan menyalurkan melalui kegiatan usaha simpan
pinjam untuk anggota koperasi bersangkutan, calon anggota koperasi
yang bersangkutan, koperasi lain dan atau anggotanya.
2) Koperasi Simpan Pinjam adalah koperasi yang kegiatannya hanya
usaha simpan pinjam
3) Unit Simpan Pinjam adalah unit koperasi yang bergerak dibidang
simpan pinjam, sebagai bagian dari kegiatan usaha koperasi yang
bersangkutan
4) Sesuai dengan PP No 9 tahun 1995 pasal 5, dijelaskan bahwa koperasi
yang sudah berbadan hukum usahanya di bidang simpan pinjam wajib
64

Wawancara dengan Bp Abdullah selaku Manager Operasional KJKS An Nisa JL


Lumba-Lumba Tanjungsari Pemalang pada hari Jumat tanggal 28 Agustus 2009 pukul 10.00
WIB.

54

mengadakan perubahan anggaran dasar dengan mencantumkan Usaha


Simpan Pinjam sebagai salah satu usahannya
Sedangkan izin usaha dari KJKS AN NISA: IZIN USAHA
KOPERASI, No: 12637a/BH/PAD/KDK-11-11/IV/2005.
Sebagai

organisasi

yang

berorientasi

kedepan

(visionary

organization), KJKS An Nisa juga mempersiapkan kelengkapan strategi


planning yang mengarahkan organisasi. Salah satu hal yang harus ada
dalam visionary organization adalah ideologi inti sebagai berikut:
Adapun Visi dan Misi KJKS An Nisa Kab Pemalang.65
a. Visi:
Suatu Lembaga Keuangan Umat Wahana Bisnis Islami, Mandiri,
dan Berbudi Pekerti dan juga menjadi lembaga keuangan mikro
syariah yang mandiri dan menjadi pilar ekonomi nasional bertaraf
internasional.
b. Misi:
Bisnis: mencapai standar keuangan lembaga mikro syariah dengan
stuktur permodalan 15% dan kualitas aktiva produktif 2,5%.
Sosial: menjadi model lembaga keuangan mikro syariah yang
memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat.
b) Nilai-nilai KJKS An Nisa Kab Pemalang
Menerapkan nilai-nilai Manajemen Qalbu (MQ): Jujur,
Cakap, Kreatif dan Inovatif.66

65

Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid

55

1. Jujur
Implementasi perilaku:
1) Senantiasa memberi informasi benar apa adanya kepada
stakeholder
2) Memberikan laporan yang transparan dan tepat waktu
3) Menepati janji kepada anggota
4) Menjaga keamanan data anggota
5) Berani mengakui kesalahan
6) Tidak menerima suap
2. Cakap
Implementasi perilaku
a) Bekerja keras, cerdas dan ikhlas
b) Bekerja sesuai prosedur
c) Selalu meningkatkan kemampuan diri
d) Tepat dalam penghimpunan dan penyaluran dana
3. Kreatif dan Inovatif
Implementasi perilaku
a) Pandai dan tanggap menjawab peluang pasar
b) Belajar dan berlatih tiada henti
c) Keberanian mengambil langkah dan risiko
d) Berani Mengambil langkah terobosan produk

66

Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid

56

c) Struktur Organisasi
Secara struktur organisasi hampir sama dengan lembaga
keuangan konvensional dan umum. Perbedaan yang mendasar
adalah di lembaga keuangan syariah terdapat Badan Pengawas
Internal. Fungsi dan tugasnya adalah pelaksanaan pengawasan
terhadap jalannya kegiatan KJKS tentang perangkat akuntansi/
sistem pengendalian managemen pelaporan laporan keuangan.
d) Penyaluran Dana / Pembiayaan
Sebagai konsekuensi logis dari ketentuan bahwa lembaga
keuangan syariah harus selalu senantiasa merujuk dan
memenuhi ketentuan syariah dalam opersionalnya, maka dalam
hal penyaluran dana, lembaga keuangan syariah tidak
menyalurkan dananya kepada usaha atau proyek yang
bertentangan dengan ketentuan syariah seperti minuman keras.
e) Lingkungan Kerja dan Budaya Kerja
Budaya kerja dan lingkungan kerja lembaga keuangan
syariah harus kondusif terdapat implementasi nilai-nilai Islam.
Dengan demikian niali-nilai budaya kerja seperti Amanah,
Shiddiq, Jujur, Tabligh, Fathonah, ikhlas dan nilai-nilai lainnya
menjadi built in system dalam kesehariannya.
Sebagai konsekuensi logis dari ketentuan bahwa Lembaga Keuangan
Syariah harus selalu senantiasa merujuk dan memenuhi ketentuan syariah

57

dalam operasionalnya serta kesesuaiannya pada pedoman standar


akuntansi keuangan.67
2) Kepentingan muamalat
Melaksanakan kegiatan usaha untuk meningkatkan taraf
hidup masyarakat. Hal ini menyangkut.68
a. Potensi dana umat Islam.
b. Peran serta umat Islam dalam pengerahan dana masyarakat.
c. Terbukanya

peluang-peluang

usaha

yang

membutuhkan

pendanaan/pembiayaan.
d. Jaminan umat non muslim dalam menggunakan jasa Lembaga
Keuangan Islam
3. Struktur Dan Alat Organisasi
Dalam organisasi KJKS yang berlegalitas koperasi, memiliki
komponen atau alat organisasi yang terdiri dari:69
a) RAT (Rapat Anggota Tahunan)
Rapat anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam
KJKS sehingga seluruh anggota memiliki hak yang sama untuk
meminta keterangan dan pertanggungjawaban dari pegurus dan
pengawas mengenai pengelolaan KJKS. Pelaksanaan rapat anggota
dilaksanakan paling sedikit 1 tahun sekali. Rapat anggota akan
membahas dan menetapkan antara lain:

67
68
69

Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid


Pedoman kebijakan KJKS An Nisa, op. cit, hlm 6
Ibid, hlm. 9

58

1) Anggaran Dasar
2) Kebijakn umum dibidang organisasi, manajemen dan usaha KJKS
3) Pemilihan dan pemberhentian pengurus dan pengawas KJKS.
4) Rencana kerja dan anggaran pendapatan dan belanja
5) Pengesahan laporan
6) Pengesahan, pertanggungjawaban, pengurus dalam pelaksanaan
tugasnya
7) Pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU)
8) Penggabungan dan peleburan pembagian dan pembubaran KJKS
b) Badan Pemeriksa/Pengawas Internal
Badan ini diadakan sebagai bagian dari prinsip kehati-hatian
(prudental) bagi KJKS dalam melaksanakan operasionalnya. Anggota
dewan pemeriksa/pengawas dipilih dari rapat anggota. Badan
Pengawas bertanggungjawab kepada rapat anggota. Tugas dan
tanggungjawab badan pemeriksa/pengawas adalah:70
a) Membuat

kebijakan

umum

dan

melakukan

pengawasan

pelaksanaan kegiatan operasional sehingga sesuai dengan tujuan


lembaga
b) Melakukan pemeriksaan terhadap pengelola KJKS
c) Melakukan pengawasan kegiatan operasional
d) Membuat laporan hasil pengawasan

70

Wawancara dengan Bp Abdullah , ibid

59

c) Pengurus
Pengurus adalah orang-orang dipilih oleh anggota KJKS dalam
rapat anggota. Pada tahap awal pendirian, pengurus biasanya dipilih
dari badan pendiri. Persyaratan pemilihan pengurus dicantumkan
dalam AD/ART secara umum. Pada KJKS An Nisa ketentuan
pengurus adalah sebagai berikut:71
1. Pengurus KJKS dipilih dari dan oleh anggota yang merupakan
anggota biasa di KJKS An Nisa
2. Pengurus KJKS terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris,
bendahara dan pembantu umum
3. Pengurus bertanggung jawab atas perkembangan KJKS dalam
memeriksa KJKS, memberi pengarahan, mengontrol pengelola.
Membantu pengelola untuk memecahkan masalah yang dihadapi
serta memberikan laporan kepada badan pendiri dan anggota KJKS
4. Pada KJKS An Nisa masa kerja pengurus adalah 5 tahun sekali.
Setiap tahun pengurus KJKS dan pengelola harus membuat laporan
pertanggungjawaban.
d) Anggaran Dasar Dan Anggaran Rumah Tangga
Sebagai lembaga keuangan yang berbadan hukum koperasi,
maka salah satu syarat lain dalam alat organisasi di KJKS adalah
adanya Anggaran Dasar dan Anggara Rumah Tangga (AD/ART).72

71
72

Pedoman kebijakan KJKS An Nisa, op. cit, hlm. 11


Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid

60

STRUKTUR ORGANISASI KJKS AN NISA


Pengawas

: Kaeni, BA
H. R. Abdurahim Sidik

Pengurus

1. Ketua

: Dra. Hj. Siti Muslimah

2. Wakil Ketua

: Drs. H. Machrus, AR

3. Sekretaris

: Hj. Rofiah, Bsc

4. Bendahara

: Nurhidayati

5. Pembantu Umum : Joko Riyanto


General Manajer

: Syafrudin Fitri

Pengelola

: 19 orang

Pengelola tetap

: 19 orang

Struktur pengelolaan
General Manager

: Syafrudin Fitri, SE

Manajer operasional

: Abdullah

Manajer marketing

: Joko Riyanto

Kabag akt, adm & pemb

: Khotimah

Kabag EDP

: Dwi Budi Susilo, S.Kom

Kabag remedial

: Joko Riyanto

Teller I

: Sulistiyowati

Teller II

: Arumiyati, AMD

Teller III

: Endang Susilowati

Marketing

: Kusmaryani
Akin Abiding

61

B. Penerapan PSAK N0 101-106 Dalam Akuntansi Syariah di KJKS AN


NISA Kab Pemalang.
1. Gambaran Umum Laporan Keuangan KJKS AN NISA
Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari sebuah siklus akunting
dan sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan manajemen. Untuk
itu laporan keuangan harus mencerminkan kondisi yang sesungguhnya dan
memenuhi standar sebagai pedoman untuk pengambilan keputusan
a) Tujuan
Laporan keuangan dikeluarkan bertujuan untuk memberikan:
1) Informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai posisi
keuangan KJKS An Nisa Kab. Pemalang pada periode yang
bersangkutan
2) Informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai hasil usaha
KJKS An Nisa Kab. Pemalang selama periode akuntansi tersebut
3) Informasi

keuangan

untuk

membantu

dalam

pengambilan

keputusan manajemen
4) Informasi penting lainnya yang relevan dengan laporan keuangan
yang bersangkutan
b) Perangkat laporan keuangan KJKS An Nisa Kab. Pemalang 73
1) Neraca
Unsur-unsur neraca meliputi aktiva, kewajiban dan modal.
Penyajian pada neraca atau pengungkapan pada cacatan atas aktiva

73

Pedoman kebijakan KJKS An Nisa, op. cit, hlm. 124

62

yang dibiayai oleh pemilik dana investasi terkait, dicatat secara


terpisah.
Dengan memperhatikan ketentuan dalam Pedoman Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK), maka penyajian pada neraca
mencakup pos-pos sebagai berikut:74
a. Aktiva
1. Kas
2. Penempatan pada Bank lain
3. Piutang
4. Pembiayaan
5. Perlengkapan
6. Persediaan
7. Aktiva tetap dan akumulasi penyusutan
8. Aktiva lain-lain
b. Kewajiban dan Modal
1

Kewajiban lancar

Tabungan

Deposito

Kewajiban lancar lainnya

Kewajiban jangka panjang

c. Modal
1

74

Modal sendiri

Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid

63

Saldo laba/rugi

2) Laporan Rugi Laba


KJKS An Nisa menyajikan laporan laba rugi dengan
mengelompokan pendapatan dan biaya menurut karateristik dan
disusun

dalam

bentuk

berjenjang

yang

menggambarkan

pendapatan dan biaya yang berasal dari kegiatan utama lembaga


dan kegiatan lainnya
Dengan memperhatikan ketentuan dalam PSAK, penyajian
dalam laporan laba rugi mencakup tetapi tidak terbatas pada pospos pendapatan dan biaya sebagai berikut:
a. Pendapatan operasional
b. Pendapatan non operasional
c. Biaya operasional
d. Biaya non operasional
3) Laporan Arus Kas
Laporan arus kas adalah laporan yang menyajikan arus masuk
dan arus keluar kas atau setara kas dari aktivitas operasi, investasi
dan pendanaan. Setara kas adalah investasi yang bersifat sangat
liquid, berjangka pendek dan dapat dicairkan dalam jumpa tertentu
tanpa menghadapi risiko perubahan nilai yang signifikan
4) Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan perubahan ekuitas menggambarkan peningkatan atau
penurunan aktiva bersih atau kekayaan selama periode yang

64

bersangkutan berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut


dan harus diungkapkan dalam laporan keuangan.
5) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qordhul Hasan
Pengungkapan hal-hal yang berkaitan dengan laporan sumber
dan penggunaan dana qordhul hasan dalam catatan laporan
keuangan mencakup tetapi tidak terbatas pada:
a. Periode yang dicakup laporan sumber dan penggunaan dana
qordhul hasan
b. Rincian saldo qordhul hasan pada awal dan akhir periode
berdasarkan sumber
c. Jumlah dana yang disalurkan dan sumber dana yang diterima
selama periode laporan berdasarkan jenisnya
6) Catatan Atas Laporan Keuangan
Merupakan laporan aktiva tetap/investasi yang dimiliki KJKS
An Nisa yang mengungkapkan harga perolehan, tanggal perolehan,
umur ekonomis, nilai residu, tarif penyusutan dan biaya
penyusutan tiap bulannya.

2. Konsep Bagi Hasil 75


a. Pemilik dana menyimpan dananya di KJKS yang bertindak sebagai
pengelola

75

Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid

65

b. KJKS mengelola dana tersebut dalam sistem dana pool (pool of fund),
yang selanjutnya akan menginvestasikan dana tersebut kedalam
usaha/kegiatan yang layak dan menguntungkan serta memenuhi
kaidah-kaidah syariah.
c. KJKS dan anggota (pemilik dana) menandatangani akad yang berisi
mengenai

ruang

lingkup

kerjasama

(jumlah

nominal

yang

diinvestasikan, besarnya nisbah, dan jangka waktu kesepakatan


berlaku).
d. Sumber Dana KJKS terdiri dari:
Simpanan : tabungan dan simpanan berjangka
Modal : simpanan pokok, simpanan wajib, dan lain-lain
Hutang pihak lain
Sumber dana yang berasal dari hutang pihal lain (bank
maupun sumber lain) merupakan sumber dana yang wajib
dikembalikan

sesuai

dengan

jadwalnya.

Sedangkan

untuk

simpanan dan modal akan memperolah bagi hasil dengan


perhitungan-perhitungan mempergunakan konsep bagi hasil.76
Adapun Permodalan KJKS An Nisa dapat diperoleh dari 2
(dua) sumber yaitu:
1. Modal yang dihimpun dari dalam koperasinya itu sendiri

76

Pedoman kebijakan KJKS An Nisa, op. cit, hlm. 41

66

Modal ini disebut dengan modal sendiri atau kekayaan bersih


atau modal permanen. Modal sendiri dapat diperoleh dari
beberapa sumber:77

Modal Awal

Simpanan Pokok

Simpanan Wajib
a) Modal awal
modal awal pada KJKS minimal adalah Rp
15.000.000 sesuai dengan Kepmen. Modal ini relatif
kecil tentunya dengan kebutuhan pembiayaan yang
diperlukan.
Bagi KJKS yang berupa Unit Simpan Pinjam,
modal awal sendiri yang digunakan dalam operasi
tergantung

dari

koperasi

induknya,

sesuai

anggaran/sebatas anggaran unit yang ditetapkan (awalya


dinamakan modal tetap) sesuai dengan Kepmen
sejumlah Rp 8.000.000.- sehingga penambahan modal
untuk usahanya tergantung dari penambahan dari modal
koperasinya.
b) Simpanan Pokok
1) Simpanan pokok dibayarkan satu kali atau dapat
diangsur 4 kali

77

Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid

67

2) Besarnya simpanan pokok minimal diatur dalan


anggaran dasar KJKS An Nisa
3) Cara pembayaran simpanan pokok dari sumbersumber dana tersebut bisa sekaligus ataupun
diangsur sesuai dengan ART dari KJKS An Nisa
4) Penyetoran dapat dilakukan oleh yang bersangkutan
atau yang diberi kuasa
5) Atas kesepakatan anggota KJKS An Nisa, simpanan
pokok ini dapat ditambah
6) Simpanan pokok tidak dapat diambil selama yang
bersangkutan masih menjadi anggota koperasi
c) Simpanan wajib
1) Simpanan wajib dibayarkan oleh semua anggota
secara teratur setiap bulan
2) Besarnya simpanan wajib adalah sama untuk setiap
anggota. Hal tersebut diatur dalam Anggaran Dasar
KJKS An Nisa Kab. Pemalang
3) Besarnya simpanan wajib ditentukan atas dasar
kesepakatan anggota dengan mendasarkan pada
kemampuan anggota yang paling rendah
4) Simpanan wajib tidak boleh diambil selama yang
bersangkutan masih menjadi anggota KJKS An Nisa

68

2. Modal yang dihimpun dari luar koperasi.


Modal ini ada batas waktu dalam penggunaannya. Dilihat dari
sifat modal yang dihimpun dari luar koperasi ini ada 2 (dua)
jenis, yaitu:
Modal Pinjaman
Modal Penyertaan
a) Modal Pinjaman
Modal dari luar koperasi yang bersifat pinjaman terdiri
dari:
1) Pinjaman jangka pendek atau kewajiban jangka
pendek,

yaitu

jenis

pinjaman

yang

masa

penggunaannya dan masa pengembaliannya tidak


lebih dari satu tahun dan sebaiknya digunakan untuk
penambahan modal usaha. Pinjaman jangka pendek ii
dapat diperoleh dari: pinjaman bank, pinjaman
koperasi dan pinjaman dari anggota
2) Pinjaman jangka panjang atau kewajiban jangka
panjang yaitu jenis pinjaman yang penggunaanya
masa pengembaliannya lebih dari satu tahun. Jenis
pinjaman ini bisa berupa pembiayaan investasi dari
pembiayaan lainnya. Pemilikan jenis-jenis pinjaman
ini biasanya digunakan digunakan untuk pemilikan
aktiva tetap guna menunjang usaha simpan pinjam.

69

b) Modal Penyertaan
Modal dari luar koperasi yang bersifat penyertaan. Dapat
dihimpun dari anggota dan bukan anggota. Modal yang
dihimpun dari penyertaan ini dapat digunakan untuk
pemilikan aktiva tetap atau aktiva lancar.

3. Pembiayaan KJKS AN NISA Kab. Pemalang


1) Al Murabahah
a. Pengertian
Pembiayaan Murabahah adalah pembiayaan dengan sistem
jual beli dimana KJKS dapat membantu anggotanya dengan
pembiayaan pembelian barang yang dibutuhkan untuk modal
usaha.
Penggunaan pembiayaan adalah untuk usaha yang produktif
yaitu keperluan modal kerja dan pembelian sarana usaha
Prioritas

penggunaan

pembiayaan

adalah

sektor

perdagangan, pertanian, industri (home industry) dan jasa:


b. Penetapan harga jual
1. Harga jual kepada anggota adalah harga beli barang ditambah
keuntungan KJKS. Besarnya keuntungan ditentukan oleh
KJKS. Untuk umum: 42-60% per tahun.78

78

ibid

70

Untuk motor: 36% per tahun (umum/anggota koperasi).


Besarnya keuntungan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai
dengan kebijakan KJKS.
2. Untuk memudahkan penerapan pembiayaan murabahah di
KJKS, penetapan harga jual dari KJKS kepada anggota dapat
disesuaikan dengan tabel angsuran murabahah
3. Setoran pembiayaan terdiri dari

Angsuran pokok

Angsuran margin keuntungan

c. Syarat-syarat Pembiayaan
1. Calon anggota pembiayaan adalah:
a) Anggota biasa, anggota luar biasa maupun calon anggota
yang bertempat tinggal di wilayah lingkungan KJKS
khususnya dan kota Pemalang serta anggota di luar daerah
Pemalang yang memenuhi kriteria.
b) Mempunyai usaha/penghasilan
c) Lulus dari wawancara dan kelayakan kuantitatif tim KJKS
d) Anggota yang masih mempunyai hutang pembiayaan tidak
diperkenankan untuk mengambil pembiayaan, sebelum
melunasi
manajemen

hutangnya

atau

dengan

persetujuan

dari

71

2. Plafon (besarnya) pembiayaan pernasabah


Besarnya pembiayaan pernasabah ditentukan minimum
Rp 50.000 dan maksimum sebesar Rp. 50juta atau berdasarkan
kebijaksanaan manajemen dan pengurus.
d. Jaminan
1) Jaminan utama adalah barang yang dibiayai
2) Jaminan tambahan
Jika dirasakan perlu KJKS dapat meminta jaminan tambahan.
Jenis dan nilai jaminan ditentukan oleh KJKS pada saat
mengajukan permohonan pembiayaan, misalnya surat tanah
atau kendaraan bermotor.79
e. Biaya pembiayaan
1) Dalam pembiayaan ini tidak dipungut biaya administrasi
(fee/provisi)
2) Biaya meterai dipungut sesuai dengan aturan yang berlaku
f. Skema Pembiayaan Murabahah
1) Rencana pengembalian pokok pembiayaan dan bagi hasil
disesuaikan dengan sumber pendapatan/penghasilan yang
diperoleh dari pembiayaan tersebut
2) Bila terjadi kerugian, maka kerugian dalam bentuk uang akan
ditanggung oleh KJKS, sedangkan anggota akan menanggung

79

ibid

72

kerugian dalam bentuk kehilangan usaha, nama baik (reputasi)


dan waktu
2) Al Mudharabah
a) Pengertian
Pembiayaan Mudharabah adalah suatu perjanjian usaha
antara pemilik modal dengan pengusaha, dimana pihak pemilik
modal menyediakan seluruh dana yang diperlukan dan pihak
pengusaha melakukan pengelolaan atas usaha.
Hasil usaha bersama ini dibagi sesuai dengan kesepakatan
pada waktu penanda tanganan perjanjian pembiayaan yang
dituangkan dalam bentuk nisbah bagi hasil (misalnya 70:30).80
Pada pembiayaan mudharabah, KJKS bertindak sebagai
pihak yang menyediakan dana (shahibul maal) dan anggota yang
menerima

pembiayaan

bertindak

sebagai

pengelola

dana

(mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha.


Dari pembiayaan ini, KJKS akan memperoleh bagi hasil
keuntungan yang diperoleh dari anggota (mudharib) sebesar
nisbah porsi yang telah disepakati. Perjanjian bagi hasil mulai
diberlakukan secara efektif setelah proyek investasinya selesai,
atau objek yang dibiayai telah dapat menghasilkan pendapatan
sesuai jangka waktu yang disepakati.
b) Tata cara perhitungan bagi hasil

80

ibid

73

1) Bagi hasil dihitung berdasarkan pendapatan (hasil usaha


anggota,

bukan

keuntungan

yang

diperoleh

anggota

pembiayaan)
2) Besarnya nisbah bagi hasil untuk pembiayaan ini ditentukan
sesuai kesepakatan antara KJKS dengan anggota
3) Besarnya nisbah tersebut oleh KJKS dilakukan dengan
mempertimbangkan tingkat keuntungan yang ingin diperoleh
KJKS
4) Nilai perhitungan bagi hasil akan menggunakan pembulatan
angka
3) Penyediaan Dana Qardh
a) Pengertian
Yang dimaksud dengan dana qardh adalah penyediaan dana
kepada anggota yang pemberiannya tanpa mengharapkan imbalan,
namun tidak menutup kemungkinan adanya upaya pembayaran
fee/bagi hasil dari anggota atau minimal pembayaran kembali
pokok tagihan, meskipun akad yang dibuat pada prinsipnya saling
bantu membantu dan bukan transaksi komersial81
b) Sumber
Mengingat sifat penyediaan dana qardh yang tidak
memberikan keuntungan finansial, maka pendanaan qardh dapat
diambil dari modal KJKS sendiri atau dana dari Infaq, Shadaqah

81

Pedoman Kebijakan KJKS An Nisa op. cit, hlm. 77

74

dan atau dari sumber pendanaan/transaksi non komersial dan


hibah.82
c) Tujuan83
1) Sebagai dana untuk sumbangan apabila terjadi musibah atau
kecelakaan
2) Sebagai dana produktif, sesuai dengan keputusan KJKS
berdasarkan persetujuan dari Dewan Syariah

82
83

Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid


Ibid

75

BAB IV
ANALISIS TERHADAP PENERAPAN PSAK NO 101-106 DALAM
AKUNTANSI SYARIAH DI KJKS AN NISA KAB. PEMALANG

A. Analisis terhadap Penerapan PSAK NO 101-106 di Lembaga Keuangan


Syariah KJKS AN NISA Kab Pemalang
KJKS adalah unit terkecil dari srtuktur lembaga keuangan syariah yang
berbasis koperasi, tetapi prinsip-prinsip syariah yang dipergunakan dalam
penghimpunan dana dan penyalurannya menggunakan prinsip syariah. Oleh
sebab itu sistem pencatatannya juga harus mengacu pada pernyataan standar
akuntansi yang berbasis syariah, dan pernyataan standar sekarang yang
digunakan adalah PSAK No 101-106.
KJKS An Nisa merupakan salah satu lembaga keuangan yang
menerapkan PSAK No 101-106 yang telah dikeluarkan oleh IAI pada tahun
2007, dengan berasaskan pancasila dan UUD 1945 serta berlandaskan prinsip
syariah

Islam,

keimanan,

keterpaduan,

kekeluargaan,

kebersamaan,

kemandirian, dan profesionalisme. Yang pada awal berdirinya masih


menerapkan PSAK No 59, tetapi setelah dikeluarkannya PSAK No 101-106
atas rekomendasi dari Dinas Koperasi Jateng maka KJKS An Nisa
merubah/menggantinya dengan menerapkan PSAK No 101-106.
Menurut pengamatan penulis, KJKS An Nisa menerapkan laporan
keuangan yang sesuai dengan PSAK No 101-106 karena dalam penerapannya
KJKS An Nisa menerapkan neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas,

76

laporan perubahan ekuitas, dan laporan sumber dan penggunaan dana Qordhul
Hasan.
Neraca adalah suatu laporan keuangan yang menggambarkan posisi
keuangan atau kekayaan perusahaan pada saat tertentu. Keadaan keangan ini
ditunjukan dengan jumlah harta yang dimiliki yang disebut pasiva. Dengan
kata lain, pasiva merupakan sumber-sumber yang digunakan untuk investasi.
Oleh karena itu, ini dapat dilihat dalam neraca bahwa jumlah aktiva akan sama
besar dengan jumlah pasiva.84
Dalam laporan laba dan rugi pada KJKS An Nisa dapat dilihat pada
perhitungan SHU KJKS An Nisa yang harus memberikan gambaran mengenai
pendapatan yang diperoleh serta beban yang dikeluarkan selama periode
akuntansi tertentu. Yaitu dengan mengelompokan masing-masing jenis
pendapatan dan beban sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Karena
dalam psak 101 tentang penyajian laporan keuangan, laporan laba rugi
mencakup pos-pos: pendapatan usaha, bagi hasil untuk pemilik dana, beban
usaha, laba rugi usaha, pendapatan dan beban non usaha.
Beberapa hal yang perlu dipahami dalam penyusunan laporan arus kas
adalah bahwa arus kas dari aktivitas operasi dalam laporan arus kas dapat
disusun menggunakan dua metode, yaitu langsung dan tidak langsung.85
Menurut hemat penulis, KJKS An Nisa disarankan untuk menggunakan
metode langsung karena dalam penyusunannya menggunakan buku besar kas

84

Wawancara dengan Bp Abdullah selaku Manager Operasional KJKS An Nisa JL


Lumba-Lumba Tanjungsari Pemalang pada hari Jumat tanggal 28 Agustus 2009 pukul 10.00
WIB.
85
Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid

77

dan setara kas dengan menggolongkan menjadi beberapa jenis kelompok


utama penerimaan maupun pengeluaran.
Catatan atas laporan keuangan ini sangat berguna untuk memahami
kondisi suatu organisasi secara komprehensif. Karena anggota KJKS An Nisa
hanya akan mendapatkan informasi dan dapat mempengaruhi kelangsungan
hidup lembaga.
Untuk menjalankan standar akuntansi keuangan KJKS An Nisa Kab.
Pemalang sangat berpegang teguh terhadap prinsip syariah. Yaitu prinsipprinsip bisnis dalam Islam yang meliputi (1) prinsip kesatuan (tauhid), (2)
prinsip kebolehan (ibahah), (3) prinsip keadilan, (4) prinsip kehendak bebas,
(5) prinsip pertanggungjawaban, (6) prinsip kebenaran, kebajikan dan
kejujuran, (7) prinsip kerelaan, (8) prinsip kemanfaatan, (9) prinsip haramnya
riba.86
Pembiayaan murabahah merupakan salah satu produk penyaluran dana
yang cukup digemari oleh KJKS An Nisa karena karakteristiknya yang
profitable, hal itu dapat dilihat pada neraca laporan keuangan, karena mudah
dalam penerapan dan dengan risiko yang ringan untuk diperhitungkan. Dalam
penerapan KJKS An Nisa bertindak sebagai pembeli sekaligus penjual barang
halal tertentu yang dibutuhkan anggota. Caranya, mula-mula KJKS An Nisa
membeli barang sebagaimana yang dimaksud oleh pihak ketiga dengan harga
tertentu secara langsung atau melalui wakil yang ditunjuk. Selanjutnya barang

86

Kuat Ismanto, Manajemen Syariah: Implementasi TQM Dalam Lembaga Keuangan


Syariah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009, hlm. 26

78

tersebut dijual kepada anggota dengan harga tertentu setelah ditambah


keuntungan yang disepakati bersama.87
Dalam pengadaan barang untuk keperluan usaha, KJKS An Nisa Kab.
Pemalang mengenakan jaminan dengan persyaratan tertentu kepada
nasabahnya selama pemberlakuan persyaratan tersebut tidak membebani
kedua belah pihak dan sudah disepakati bersama.
Dalam pembiayaan murabahah besarnya keuntungan ditentukan oleh
KJKS, yang besarnya antara lain 42-60% pertahun. Kesepakatan margin harus
ditentukan satu kali pada awal akad dan tidak berubah selama periode akad
dan angsuran pembiayaan selama periode akad harus dilakukan secara
proporsional.88
KJKS An Nisa dapat memberikan potongan dari total kewajiban
pembayaran, hanya kepada anggota yang telah melakukan kewajiban
pembayaran cicilannya dengan tepat waktu atau anggota yang mengalami
penurunan kemampuan pembayaran. Besar potongan murabahah kepada
anggota tidak boleh diperjanjikan dalam akad.89
Karena dalam PSAK No 102 tentang akuntansi murabahah dijelaskan
bahwa

pemberian potongan pelunasan piutang dapat dilakukan dengan dua

metode yaitu: diberikan pada saat pelunasan dan diberikan setelah pelunasan.
90

87
88

Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid

Pedoman Kebijakan Manajemen Lembaga Keuangan Syariah KJKS An Nisa Kab.


Pemalang, 2008, hlm 73
89
Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid
90
Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, Jakarta: Salemba Empat,
2007 hlm. 104

79

Apabila terjadi kerugian, maka kerugian dalam bentuk uang akan


ditanggung oleh KJKS An Nisa, sedangkan anggota akan menanggung
kerugian dalam bentuk kehilangan usaha, nama baik (reputasi) dan waktu.
Pada akhir masa usaha, Mudharib harus mengembalikan modal usaha
kepada Shahibul Maal yang ditambah sejumlah keuntungan dari bagi hasil
yang besarnya didasarkan pada nisbah bagi hasil yang telah disepakati
bersama.
KJKS An Nisa Kab. Pemalang juga menawarkan produk penghimpunan
dana dengan menunjukan cara-cara penentuan dan perhitungan dan porsi bagi
hasil. Akan tetapi tidak diperkenankan menjanjikan pemberian keuntungan
tetap perbulan dalam jumlah tertentu dengan sistem persentase sebagaimana
lazim berlaku dalam tatanan lembaga keuangan konvensional, atau juga dalam
jumlah tertentu atas dasar kalkulasi angka-angka rupiah. Nisbah bagi hasil
yang telah disepakati tidak dapat diubah sepanjang jangka waktu investasi,
kecuali atas dasar kesepakatan bersama.91
KJKS An Nisa merasa kesulitan pada saat menawarkan produk
mudharabah kepada masyarakat. Mereka hampir selalu gagal memberikan
jawaban

yang

memuaskan

ketika

calon

anggota

mengajukan

pertanyaan,berapa besar bagi hasil (keuntungan) yang saya terima setiap


bulan jika saya menyimpan dana dalam jumlah sekian di KJKS An Nisa.
Persoalannya adalah, jika calon anggota diberikan jawaban sesuai dengan
syariah, calon anggota cenderung meragukan dan menganggap mudharabah

91

Ibid, hlm. 105

80

berpotensi mengancam keselamatan dananya, atau paling tidak, ia diyakini


tidak memberikan jaminan perolehan keuntungan atas dananya yang
dipercayakan untuk dikelola secara syariah di KJKS An Nisa Kab.
Pemalang.92
Ada beberapa cara yang sebenarnya dapat dilakukan pengelola produk
mudharabah tanpa harus menyalahi prinsip-prinsip perjanjian mudharabah itu
sendiri. Salah satu diantaranya adalah memajang neraca dan laporan laba rugi
KJKS bulan sebelumnya serta contoh cara perhitungan bagi hasil simpanan
mudharabah yang ditawarkan.93 Hal ini dimaksudkan untuk memberitahu
calon anggota mengenai besarnya perolehan bagi hasil perbulan yang
dimungkinkan atas total dana yang dipercayakan kepada KJKS An Nisa.
Untuk melakukan kegiatan usaha perhitungan bagi hasil dihitung
berdasarkan pendapatan (hasil usaha anggota, bukan keuntungan yang
diperoleh anggota pembiayaan). Pada prinsipnya penyaluran mudharabah
tidak ada jaminan akan tetapi KJKS An Nisa dapat meminta jaminan untuk
mengatisipasi risiko apabila anggota tidak dapat memenuhi kewajiban
sebagaimana dimuat dalam akad karena kelalaian atau kecurangan. Jaminan
tersebut hanya dapat dicairkan apabila pengelola dana terbukti melakukan
pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad.94
Pada pembiayaan musyarakah pihak KJKS An Nisa dan anggota samasama bertindak sebagai mitra usaha yang menyediakan dana atau barang untuk

92

Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid


Ahmad Sumiyanto, op. cit, hlm 114
94
Ikatan Akuntan Indonesia, op. cit, hlm. 108
93

81

membiayai suatu kegiatan usaha tertentu.95 Anggota bertindak sebagai


pengelola usaha dan pihak KJKS An Nisa sebagai mitra usaha sesuai dengan
tugas dan wewenang yang disepakati.
Pembagian keuntungan dari pengelolaan dana dinyatakan dalam bentuk
nisbah yang telah disepakati. Nsbah bagi hasil yang telah disepakati tidak
dapat berubah sepanjang jangka aqktu investasi, kecuali atas dasar
kesepakatan kedua belah pihak.96
Pembagian keuntungan dapat dilakukan dengan metode bagi untung
(profit sharing) atau metode bagi pendapatan (revenue sharing).97
Dalam perjanjian produk pembiayaan musyarakah dipercayakan untuk
menjalankan usaha musyarakah dengan tidak boleh melakukan tindakan
seperti: menggabungkan dana usaha dengan dana pribadi, menjalankan usaha
dengan pihak lain tanpa seiring pemilik modal lainnya, serta memberi
pinjaman kepada pihak lain.
Apabila dalam perjanjian tersebut salah satu pihak mengundurkan diri,
dikarenakan beberapa hal yaitu meninggal dunia, kehilangan kecakapannya
bertindak hukum, maka modal tersebut hilang atau usaha tersebut
hancur/gagal.98 Dan apabila usaha tersebut dapat berjalan maka biaya yang
timbul dari pelaksanaan usaha dan jangka waktu usaha harus diketahui
bersama dan usaha yang dijalankan harus disebutkan dalam akad.

95

Pedoman Kebijakan KJKS An Nisa Kab. Pemalang, op. cit, hlm 81


Ibid, hlm. 85
97
Ahmad Sumiyanto, op. cit, hlm 49
98
Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid
96

82

Hasil penelitian menunjukan bahwa penyajian laporan keuangan KJKS


An Nisa Kab. Pemalang sesuai dengan tujuan laporan keuangan antara lain
kepatuhan KJKS An Nisa Kab. Pemalang terhadap prinsip-prinsip syariah
serta mampu memberikan informasi kepada anggotanya yang tujuannya
menghendaki seluruh fakta keuangan yang penting.
langkah-langkah yang harus dilakukan agar manfaat pengelolaan kas
dapat diperoleh dengan baik yaitu sebagai berikut:99
a) Menyusun rencana yang jelas tentang jenis, jumlah dan waktu uang yang
akan diterima atau dikeluarkan
b) Mengadministrasikan setiap penerimaan maupun pengeluaran dalam
sistem akuntansi dan pembukuan yang baik
c) Memonitor secara berkala sesuai siklus kegiatan transaksi pengeluaran
maupun penerimaan uang kas
d) Mengevaluasi apakah realisasi, penerimaan dan pengeluaran yang
dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
e) Mengendalikan pendapatan agar pengeluaran sesuai dengan rencana.
Artinya pengeluaran tidak kurang dari jumlah yang diharapkan dan
pengeluaran tidak melebihi jumlah pendapatan yang telah ditetapkan
f) Memeriksa apakah jumlah uang tunai yang ada cocok dengan saldo kas
terakhir yang tercatat dalam pembukuan
g) Menempatkan secara aman kas akhir yang ada pada setiap akhir hari kerja

99

Ahmad Sumiyanto, op. cit, Hlm 192

83

B. Analisis terhadap Faktor-Faktor yang Menjadi Penghambat Dalam


Penerapan PSAK NO 101-106 pada KJKS AN NISA Kab. Pemalang
Sebuah penerapan suatu sistem dalam lembaga keuangan tidak akan
berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Pastilah ada
faktor-faktor yang menjadi penghambat dan faktor-faktor yang menjadi daya
dukung manajerial.
Berhubungan dengan penerapan PSAK dalam laporan keuangan, KJKS
mengalami beberapa faktor-faktor penghambat, yaitu aspek SDM dan sistem
pengawasan dari badan pengawas internal yang belum optimal. Pada aspek
SDM, SDM merupakan faktor kunci keberhasilan KJKS. Rumusan sistem dan
standar operation procedur (SOP) yang canggih tidak akan mampu dijalankan
apabila manusia sebagai subyeknya tidak mampu, tidak menguasai dan tidak
memiliki motivasi, tidak melaksanakan sistem secara benar dan akurat serta
kurangnya pemahaman dalam memahami PSAK No 101-106. Untuk
mengurangi ketidakpahaman, maka KJKS mengikutsertakan pengelola dalam
pelatihan-pelatihan

sesuai

dengan

bidangnya

masing-masing.

Guna

meningkatkan kualitas SDM dan terlaksananya kualitas standar SDM secara


efektif dan efisien. Oleh karena itu perlu di perlukan sebuah proses
penyediaan, penyiapan, dan pengembangan serta pemeliharaan SDM yang
baik dan profesional100

100

Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid

84

Adapun kebijakan pengembangan tersebut dapat dilakukan101


1. Program pendidikan anggota dan calon anggota. Untuk meningkatkan
kualitas sumber daya manusia anggotanya, KJKS harus mempunyai
program pendidikan bagi anggota dan calon anggotanya. Ini terutama
dalam rangka meningkatkan pemahaman terhadap standar akuntansi yang
menjadi pedoman dalam laporan keuangan
2. Status keanggotaan. Ini sangat penting terutama untuk:
a. Untuk memperjelas status keanggotaan seseorang, KJKS wajib
memiliki prosedur standar pendaftaran anggota.
b. Calon anggota yang belum memenuhi standar pendaftaran anggota
tidak dapat digolongkan sebagai anggota koperasi BMT (KJKS). Dan
apabila

seseorang

telah

memenuhi

persyaratan

dan

prosedur

pendaftaran anggota yang telah ditetapkan oleh koperasi BMT, maka


orang tersebut dapat digolongkan sebagai anggota.
Pada sistem pengawasan internal, bahwa pengawasan merupakan unsur
yang dibentuk untuk memastikan bahwa sasaran dan tujuan organisasi dari
sistem operasi yang dibentuk akan dapat tercapai. Karena pemberian tugas
pengawasan ditetapkan dalam rapat anggota, oleh karena itu dalam
mengangkat orang kedalam kepengurusannya harus benar-benar diperhatikan
yaitu seperti aspek sikap, pengetahuan dan ketrampilan yang mendukung.
Pengawasan KJKS oleh manajemen/pengelola sesuai dengan ketentuan
UU No 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian. PP No 9 tahun 1995 dan

101

ibid, hlm 82

85

AD/ART dari KJKS/Koperasi tersebut. Adapun penanggung jawab fungsional


pengawasannya KJKS dapat diberikan kepada Badan Pengawas dan pengurus
pada manajemen organisasi KJKS.
Berdasarkan UU No 25 tahun 1992 pasal 32 ayat 1 dan penjelasan pasal
38, bahwa apabila pengurus mengangkat pengelola usaha maka tugas
pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan usaha dilakukan oleh pengurus.
Sedangkan apabila pengawas tidak mengangkat pengelola dalam arti pengurus
sekaligus sebagai pengelola maka perlu adanya badan pengawas yang bersifat
tetap atau temporer yang ditetapkan oleh rapat anggota, guna melakukan
pengawasan terhadap pelaksanaan manajemen.102
Pada KJKS An Nisa Kab. Pemalang, fungsi pengawasan dilakukan oleh
Badan Pengawas yang bersifat tetap yang sekaligus sebagai Badan Pengawas
untuk unit-unit lain dibawah naungan KJKS An Nisa. Badan Pengawas di
KJKS An Nisa, selain menjalankan fungsi sebagai Badan Pengawas Syariah
dan juga menjalankan fungsi pengawasan untuk internal KJKS An Nisa. Oleh
karena itu dalam melakukan pengawasan di KJKS An Nisa tidak seoptimal
mungkin, sebab kedudukan Dewan Syariah menyatu Badan Pengawas yang
membidangi syariah.103
Pengawasan dapat diartikan sebagai kegiatan mengamati, meneliti proses
kegiatan dari mulai perencanaan sampai dengan pelaksanaan serta melakukan
tindakan yang diperlukan untuk memeriksa dan memperbaiki penyimpangan

102
103

Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid


Ibid

86

yang terjadi agar sesuai dengan rencana pencapaian tujuan secara efektif dan
efisien.104
Untuk menghindari penyimpangan yang dilakukan oleh pengelola dalam
sistem pengendalian manajemen operasional maka KJKS An Nisa perlu
dilakukan pengawasan antara lain:105
1) Pengawasan preventif
Pengawasan preventif adalah pengawasan yang dilakukan secara
terus-menerus

untuk

menghindari

terjadinya

penyimpangan

yang

dilakukan oleh pengelola dan mengetahui lebih dini adanya penyimpangan


sehingga dapat diambil langkah penyelesaian segera oleh manajemen
KJKS.
2) Pengawasan represif
Adalah pengawasan yang dilakukan secara langkah penyelesaian
yang

diperlukan

setelah

diketahui

adanya

penyimpangan

dan

penyelewengan dalam pengelolan KJKS. Jenis pengawasan ini dilakukan


dengan melakukan pemeriksaan administrasi fisik terhadap sebab-sebab
terjadinya penyimpangan dengan membuat berita acara pemeriksaan
dengan team pemeriksa yang ditugaskan.
Penerapan akuntansi syariah pada lembaga keuangan syariah dilakukan
oleh Badan Pengawas Internal. Independensi diperlukan oleh BPI (Badan
Pengawas Internal) dalam pengawasan supaya dalam penyajian laporan

104

Kuat Ismanto, Manajemen Syariah: Implementasi TQM dalam Lembaga Keuangan


Syariah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009, 76
105

Pedoman Kebijakan KJKS An Nisa, op. cit, hlm 12

87

keuangan syariah sesuai dengan prinsip-prinsip pertanggungjawaban, keadilan


dan kebenaran.
Menurut hemat penulis, pengawasan dalam suatu lembaga keuangan
syariah sangat mempengaruhi penerapan akad-akad yang digunakan apakah
sudah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Hal tersebut akan sangat
memberikan manfaat bagi nasabah/anggotanya. Hanya saja pengawasan yang
ada pada manajemen operasional KJKS An Nisa belum terumuskan dengan
baik, karena kedudukan Dewan Syariah menyatu dengan Badan Pengawas
yang membidangi syariah.
Berkaitan dengan faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam
penerapan PSAK tersebut, menurut hemat penulis sebaiknya perlu diadakan
pembahasan tentang manajemen operasional KJKS yang handal. Maksudnya
manajemen yang dapat dikembangkan secara konseptual.
Secara konseptual, manajemen dibagi menjadi dua macam, yaitu
manajemen menunjuk pada orang dan manajemen menunjuk pada proses
Manajemen menunjuk pada orang berarti berkaitan dengan pengelola yang ada
dalam organisasi. Kaitannya dengan koperasi BMT (KJKS) berarti merujuk
pada apa yang sering kita sebut perangkat organisasi koperasi BMT (KJKS).
Mengenai hal ini ada beberapa versi perangkat organisasi KJKS, diantaranya
adalah:106

106

Ahmad Sumiyanto, loc. cit, hlm 61

88

a) Menurut UU No. 12 Tahun 1967 tentang Koperasi, yang termasuk Alat


Perlengkapan Organisasi Koperasi (APOK) adalah Rapat Anggota,
Pengurus dan Badan Pemeriksa.
b) Menurut UU No. 25 Tahun 1992 tentang Koperasi, yang termasuk
Perangkat Organisasi Koperasi adalah Rapat Anggota, Pengurus dan
Pengawas.
Adapun manajemen menunjuk pada proses yang lebih cenderung pada
pelaksanaan fungsi-fungsi yang dijalankan dalam manajemen.107 Oleh karena
itu, kita bisa merujuk pada pendapat para ahli yang bisa dijadikan sebagai
arahan. G.R Terry dalam bukunya principle of manajement, mengatakan
bahwa manajemen adalah suatu proses yang khas, terdiri dari tindakantindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian yang
dilakukan menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan
melalui pemanfaatan sumber daya manusia.

C. Analisis terhadap Daya Dukung Manajerial yang dapat Dikembangkan


untuk Mengimplementasikan PSAK NO 101-106 pada KJKS AN NISA
Kab. Pemalang
Sebuah

lembaga

keuangan

syariah

dikatakan

telah

mengalami

perkembangan apabila lembaga keuangan tersebut mampu melaksanakan


faktor-faktor

yang

menjadi

daya

dukung

manajerial

yang

dapat

dikembangkan. Oleh karena itu KJKS An Nisa sedang berupaya melakukan

107

Ibid, hlm. 62

89

hal-hal yang dapat menjadikan KJKS An Nisa berkembang dalam hal ini
memaksimalkan penerapan standar akuntansinya.
Filosofi dasar operasional lembaga keuangan syariah An Nisa dengan
lembaga

keuangan

konvensional

adalah

kepercayaan,

akan

tetapi

implementasi dari kepercayaan bagi lembaga keuangan lebih urgent


dibandingkan dengan lembaga keuangan konvensional. Dalam lembaga
keuangan syariah implementasi dari konsep kepercayaan harus diwujudkan
dalam bentuk transparansi yang benar-benar transparan dalam berbagai hal
terutama dalam pembuatan laporan keuangan baik itu laporan bagi hasil
maupun pencatatan transaksi.
Daya dukung manajerial lainnya yang dapat dikembangkan oleh KJKS
An Nisa Kab. Pemalang adalah hubungan KJKS An Nisa dengan lembaga
lain. Yang tujuannya yaitu untuk kepentingan penambahan modal dan
pengembangan organisasi dan sumber daya manusia yang dimiliki, maka
KJKS An Nisa dapat menjalin hubungan kerjasama dengan lembaga-lembaga
lain, baik itu lembaga pemerintah, maupun non pemerintah, sepanjang hal itu
tidak dipandang merugikan ataupun memberatkan pihak manajemen KJKS An
Nisa Kab. Pemalang.
Faktor-faktor yang dapat dikembangkan di KJKS An Nisa adalah
sebagai berikut:108
1. SDM

108

Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid

90

Sumber daya manusia yang bekerja pada saat kini sudah tidak dapat
dianggap sebagai beban lagi, namun sudah menjadi asset bagi suatu
lembaga keuangan. Karena sumber daya manusia yang berada pada KJKS
merupakan sumber keunggulan yang tidak bisa ditiru oleh entitas bisnis
yang lain. Sebagai konsekuensi dari sumber daya manusia yang
diperlakukan sebagai asset berharga buat KJKS, maka pengelolaan sumber
daya manusia ini perlu ditangani lebih serius dan dikembangkan agar
mereka menjadi manusia yang bertanggungjawab, professional, dan
amanah.
Faktor SDM yang dapat dikembangkan dalam mengimplementasikan
penerapan PSAK No 101-106 yaitu:
1) Meningkatkan kualitas SDI dengan mengikutsertakan pengelola dalam
pelatihan-pelatihan sesuai bidangnya
2) Terlaksananya Standar Penilaian SDI secara efektif dan efisien yang
menggabungkan kepentingan perusahaan dan pengelola.
3) Terlaksananya peraturan kerja sesuai kebijakan manajemen KJKS An
Nisa Kab. Pemalang
4) Mengoptimalkan fungsi Kabag. Remedial secara efektif dalam rangka
penanganan pembiayaan bermasalah.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam mempersiapkan SDM
pengelola handal adalah sebagai berikut:109

109

Ahmad Sumiyanto,op. cit, hlm. 103

91

a. Merekrut secara kekeluargaan atau dapat juga melalui info lowongan


di Koran harian.
b. Mewawancarai kesungguhan kerja calon-calon SDM yang direkrut.
c. Memilih calon SDM untuk diangkat sebagai pengelola sesuai bidang,
kemampuan dan struktur yang ada
d. Mengikutkan SDM dalam pelatihan lembaga keuangan syariah atau
memohon diadakan pelatihan ke-BMT-an kepada BMT-BMT yang
sudah ada.
2. Teknologi
Seiring dengan pengembangan usaha dan minimalisasi risiko dan
peningkatan pelayanan yang prima atau service exellent, rencana kerja
yang dilakukan adalah:110
a. Optimalisasi dan penyempurnaan Softwere MFS online pada
operasionalisasi di KJKS An Nisa
b. Pelatihan komputer untuk pengelola sampai dengan proses sertifikasi
c. Terlaksananya backup data dan perawatan sarana hardware yang
efektif dan baik.
3. Hubungan Kerjasama
Dalam upaya pencapaian target rencana kerja maka perlu
meningkatkan hubungan dengan pihak ketiga baik dalam bidang usaha
maupun meningkatkan manajemen SDI. Kerjasama yang telah dilakukan
adalah:

110

Wawancara dengan Bp Abdullah, ibid

92

a. Meningkatkan hubungan dengan PT Bank Muamalat Indonesia, Tbk


(Share, pembiayaan mikro syariah dan pelatihan SDI).
b. Meningkatkan silaturahim dengan Dinas terkait dalam hal ini Dinas
Koperasi dan Pemerintah Kab. Pemalang
Hubungan ini dapat dibagi manjadi dua, yaitu pola hubungan bisnis
(profit) dan pola hubungan non profit.111
a) Hubungan Bisnis
KJKS An Nisa menjalin kerjasama dengan organisasi
manapun, selama itu sejalan dengan tujuan dan nilai KJKS An Nisa.
Hubungan ini dapat berupa:
1) Upaya

peningkatan

kualitas

KJKS

(program

perbaikan

dan

pengembangan)
2) Upaya peningkatan mutu pelayanan pada nasabah
3) Upaya untuk mencari produk-produk baru
4) Upaya pengembangan kompetensi anggota
b) Hubungan Non Profit
Program ini biasanya berbentuk program sosial yang biasanya
diarahkan pada upaya pengembangan masyarakat miskin ataupun
daerah-daerah minus yang perlu mendapatkan bantuan. Program ini
dapat disinergikan dengan program baitul maal.

111

Ibid

93

4. Sosialisasi
Dalam usaha mengimplementasi perkembangan penerapan PSAK
No 101-106, KJKS An Nisa Kab. Pemalang melakukan sosialisasi kepada
masyarakat untuk mengenalkan akad-akad yang digunakan dalam
pembiayaan yaitu seperti murabahah, mudharabah, dan musyarakah.
Sosialisasi yang dilakukan oleh KJKS An Nisa bertujuan agar masyarakat
lebih tahu dan memahami pedoman standar yang diterapkan yang sesuai
dengan prinsip-prinsip syariah. Sehingga masyarakat tidak ragu-ragu
untuk melakukan suatu transaksi. Biasanya sosialisasi dilakukan pada
jamaah fatayat maupun jamaah muslimat, seringkali sosialisasi juga
dilakukan secara door to door.112

112

ibid

94

BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Setelah peneliti melakukan pembahasan yang mendalam maka penulis
dapat menyimpulkan antara lain sebagai berikut:
1. KJKS An Nisa merupakan salah satu lembaga keuangan yang menerapkan
PSAK No 101-106, oleh sebab itu sistem pencatatannya juga harus
mengacu pada pernyataan standar akuntansi yang berbasis syariah. Karena
laporan keuangan ini sangat berguna untuk memahami kondisi suatu
lembaga keuangan syariah secara komprehensif serta memberikan
informasi tentang posisi keuangan dan kinerja arus kas yang bermanfaat
bagi pengguna lapora. Ini sangat penting terutama dalam rangka membuat
keputusan

ekonomi

serta

menunjukan

pertanggungjawaban

atas

penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada KJKS An


Nisa
2. Bahwa penerapan PSAK No 101-106 dalam laporan keuangan di KJKS
An Nisa Kab. Pemalang mengalami beberapa faktor hambatan, yaitu
faktor SDM dan , Badan Pengawas yang belum optimal. Oleh karena itu
KJKS AN NISA melakukan pelatihan terhadap SDM yang bersangkutan
sesuai bidangnya masing-masing untuk dilatih dan diberi penyuluhan agar
dapat

memahami

konsep-konsep

syariah

dan

pelatihan

tentang

komputerisasi serta SDM yang mengawasi standar operasional. Oleh

95

sebab itu penempatan orang dalam manajemen harus diperhatikan benarbenar karena sangat berpengaruh pada sistem kerja pegawai dalam
pemahaman pedoman standar akuntansi keuangan (PSAK) syariah yang
akan berdampak pada citra dan eksistensi KJKS An Nisa sebagai lembaga
keuangan syariah.
3. daya dukung manajerial yang dapat dikembangkan dalam penerapan
PSAK No 101-106 adalah faktor SDM, teknologi, hubungan kerjasama
serta sosialisasi. Faktor tersebut dapat dikembangkan oleh KJKS An Nisa
yang tujuannya untuk kepentingan penambahan modal dan pengembangan
organisasi dan kualitas SDM yang dimiliki. Dengan menggunakn sistem
informasi yang berbasis komputerisasi maka KJKS An Nisa mampu
menyediakan informasi secara cepat dan akurat.

B. SARAN-SARAN
Sesuai dengan topik permasalahan yang menjadi objek kajian
penyusunan skripsi ini penulis ingin mengemukakan beberapa saran yang
dirasa perlu sebagai bahan pertimbangan antara lain:
1. Hendaknya Lembaga Keuangan Syariah khususnya KJKS An Nisa Kab.
Pemalang

lebih

mensosialisasikan

Pernyataan

Standar

Akuntansi

Keuangan Syariah yang baru yaitu PSAK No 101-106 tentang accounting


recognition (pengakuan akuntansi)
2. Alangkah baiknya jika berbagai pihak yang terkait dalam hal ini manajer
KJKS, pengurus dan para praktisi lembaga keuangan mendialogkan

96

masalah ini dalam satu forum untuk memberikan input dan pelatihan yang
mendasar tentang konsep syariah yang merujuk pada PSAK No 101-106
3. Hendaknya pihak KJKS An Nisa tetap menjaga aturan-aturan akuntansi
yang digunakan dengan mengikuti perubahan standar akuntansi, karena
akan sangat membantu dalam bidang operasionalnya.
4. Tetaplah mengadakan hubungan kerjasama yang baik dengan pihak lain
karena itu sangat membantu suatu Lembaga Keuangan Syariah khususnya
KJKS An Nisa kab. Pemalang dapat terus berkembang seiring berjalannya
waktu.

C. PENUTUP
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT atas berkat rahmat dan
hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Didalam penyajian data-data dan penganalisisan skripsi telah penulis
usahakan seakurat mungkin, akan tetapi dengan tidak mengingkari kedhaifan
penulis, penulis yakin masih banyak kekurangan serta kejanggalan dalam
bahasa dan kata-kata. Hal ini memang keterbatasan kemampuan penulis
sehingga saran dan kritik yang konstruktif tersebut sangat penulis harapkan
dari semua pihak agar penulisan skripsi ini memperoleh kesempurnaan.
Dan akhirnya penulis memanjatkan doa semoga dengan terwujudnya
skripsi ini dapat bermanfaat dan menambah khasanah keilmuan dalam bidang
ekonomi dan akuntansi Islam.
Walhamdulillah hirabbil alamin

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad, Strategi Penelitian Pendidikan Statistic, Bandung : PT.


Bumi Aksara, 1993
Ari Kunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,
Jakarta: Rineka Cipta , 1998
Adnan, Akhyar, Akuntansi Syariah Arah, Prospek dan Tantangan,
Yogyakarta: UII Press, 2005
Hadi Sutrisno, Metodologi Riset, Yogyakarta: UGM Press , 1986

_______________, Sistem Pengawasan Manajemen, Jakarta: PT. Pustaka


Quantum, 2001
Halimi M Haris, Analisis Terhadap Penerapan Akrual Basis Di Bank
Muamalat Islam Semarang dalam Perspektif Islam, Mahasiswa jurusan
Muamalah IAIN Walisongo Semarang, 2004

Harahap, Sofyan Safri, Akuntansi Islam, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2004
Ismanto, Kuat, Manajemen Syariah : Implemenyasi TQM Dalam Lembaga
Keuangan Syariah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009
Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, Jakarta: Salemba
Empat, 2007
Irawan, Soehartono, Metode Penelitian Sosial: Suatu Teknik Penelitian
Bidang Kesejahteraan Sosial Dan Ilmu Sosial Lainnya Bandung:
Remaja Rosdakarya, 1995
Irwan, Sarlito, Metode Penelitian Sosial, Bandung: Remaja Rosda Karya,
2000
Kepmen No: 91/Kep/K.KUKM/IX/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Koperasi Jasa Keuangan Syariah
Muhammad, Manajemen Bank Syariah, Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2002
_______________, Pengantar Akuntansi Syariah edisi 2, Jakarta: Salemba
Persada, 2002

_______________, Pengantar Akuntansi, Jakarta: Salemba Empat, Cet ke I,


2002
_______________, Pengantar Akuntansi Syariah, Yogyakarta: PT Salemba
Emban Patria, 2005
Muhammad, Suwiknyo Dwi, Akuntansi Perbankan Syariah, Yogyakarta: Trust
Media Publishing, 2009
M Syafii Antonio, Apa dan Bagaimana Bank Islam, Yogyakarta: Dana
Bhakti Wakaf, 1992
Nadzir, Mohammad, Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988
Rahman, Afzlur, Doktrin Ekonomi Islam jilid IV Penerjemah Soeroyo
Nastangin, Yogyakarta: PT Dana Bhakti Wakaf, 1996
Riahi, Ahmed, Teori Akuntansi, Jakarta: Salemba Empat, 2006
Surahmad, Winarno, Dasar dan Teknik Research, Bandung, Tarsito, 1986
Sarlito, Irwan, Metode Penelitian Sosial, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya,
cet. Ke-4, , 2000
Suyoto DKK, Dasar-Dasar Akuntansi, Jakarta:Yudhistira, 2001
Sumiyanto, Ahmad, BMT Menuju Koperasi Modern, Yogyakarta: Ises
Publishing, 2008
Azwar, Syaifuddin, Metode Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet 1
1998
Nurhayati Sri, Wasilah, Akuntansi Syariah Indonesia, Jakarta: Salemba
Empat, 2009
Triyuwono, Iwan, Menyibak Akuntansi Syariah, Yogyakarta: Kreasi Wacana,
2006
Wibowo, Herman, Akuntansi Intermediate, Jakarta: Binarupa Aksara, 1995
Winarno, Surachman, Dasar Dan Teknik Research Pengantar Metodologi
Ilmiah, Bandung: Tarsito, 1972
Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al
Quran, Semarang

Yusuf, Haryono, Dasar-Dasar Akuntansi, Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu


Ekonomi YKPN, 2003
Pedoman Kebijakan Manajemen Lembaga Keuangan Syariah BMT AN NISA
Kab. Pemalang, 2008
Wawancara dengan Abdullah, Manajer Operasional KJKS AN NISA Kab.
Pemalang, Jl. Lumba-lumba Tanjungsari Pemalang, pada hari Senin
tanggal 24 Agustus 2009

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Yang membuat daftar riwayat hidup ini :


1. Nama Lengkap

: Siti Sholihah

2. Tempat / Tanggal Lahir

: Pemalang, 08 November 1986

3. Alamat Asal

: JL Mandala NO 31 RT 01 RW 19
Mulyoharjo Pemalang

4. Alamat sekarang

: Nusa Indah I No 33 Ngaliyan-Semarang

5. Riwayat pendidikan

a. SD N 04 Mulyoharjo Pemalang lulus tahun 1999


b. MTs N Model Pemalang lulus tahun 2002
c. MA Mahadhut Thalabah Tegal lulus tahun 2005
d. S1 IAIN Walisongo Semarang lulus tahun 2010
Demikian riwayat hidup ini penulis buat dengan sebenar-benarnya dan kepada
yang berkepentingan harap maklum adanya.

Semarang, 08 Desember 2009


Penulis

Siti Sholihah

DAFTAR KUESIONER
KJKS AN NISA KAB. PEMALANG

1. Kapan KJKS AN NISA Kab. Pemalang didirikan?


2. Berapa jumlah pengurus/anggota dan berapa lama masa kerjanya?
3. Apa visi misi serta landasan hukum yang dijadikan landasan dalam
mendirikan KJKS AN NISA Kab. Pemalang?
4. Bagaimana penerapan PSAK NO 101-106 dalam akuntansi KJKS AN
NISA Kab. Pemalang?
5. Apa kendala yang dihadapi oleh KJKS AN NISA Kab. Pemalang dalam
penerapan PSAK NO 101-106?
6. Sejak kapan PSAK NO 101-106 diterapkan dalam laporan keuangan
KJKS AN NISA Kab. Pemalang?
7. Apa peranan DPS dalam mengawasi jalannya transaksi laporan keuangan
di KJKS AN NISA Kab. Pemalang?
8. Seberapa penting peranan akuntansi dalam laporan keuangan KJKS AN
NISA Kab. Pemalang?
9. Daya dukung Manajerial apa saja yang dapat dikembangkan dalam
penerapan PSAK NO 101-106 di KJKS AN NISA Kab. Pemalang?