Anda di halaman 1dari 139

2012

Anatomi Tumbuhan
Buku Bacaan

Buku ini berisikan tentang segala fenomena yang ada pada tumbuhan.
Dari sitologi, histologi, organ vegetatif, organ generatif, serta buah dan biji.
Semua yang ditulis dalam buku ini segala fenomena yang telah ditemukan oleh
Dr. Endang Kartini A. M., M. S. Apt.

E-learning UM
S1 Biologi

M. Munzaini Abdillah
University of Malang Press
5/20/2012

BACAAN I
PENGGUNAAN MIKROSKOP

A. Pertanyaan berikut memandu saudara untuk memahami kegunaan mikroskop


1. Dapatkah saudara melihat sel yang menyusun jaringan daun dengan menggunakan mata
telanjang?
.....................................................................................................................................................
2. Dapatkah saudara melihat sel yang menyusun jaringan daun dengan alat bantu lup?
.....................................................................................................................................................
3. Apakah dengan menggunakan mikroskop saudara dapat melihat sel yang menyusun jaringan
daun?
.....................................................................................................................................................
4. Pernahkan saudara menggunakan mikroskop?
.....................................................................................................................................................
5. Apabila saudara pernah menggunakan mikroskop, maka ceritakanlah:
a. obyek yang pernah saudara amati!
.....................................................................................................................................................
b. jenis mikroskop apa yang saudara gunakan!
.....................................................................................................................................................
c. cara membuat bahan amatan atau sediaan pada mikroskop
.....................................................................................................................................................
6. Pada obyek yang pernah saudara amati di mikroskop, pernahkah saudara:
a. menambahkan reagen tertentu untuk memperjelas obyek!
.....................................................................................................................................................
b. mengukur panjang dan lebar obyek
.....................................................................................................................................................
B. Materi berikut memandu saudara untuk mengenal lebih lanjut macam-macam
mikroskop dan bagian-bagian mikroskop
1. Mikroskop Cahaya Monokuler
a. Bagian-bagian mikroskop cahaya monokuler

b. Cara mengoperasikan mikroskop cahaya monokuler


Perhatikan urutan penggunaan mikroskop pada gambar 2 berikut!

Langkah-langkah mempersiapkan mikroskop.


1. Mikroskop diletakkan di atas meja
2. Bagian-bagian mikroskop kecuali lensa dan cermin dibersihkan dengan lap
3. Lensa dan cermin di bersihkan dengan dengan kertas lensa, kemudian sekrup halus
diputar sampai penuh ke bawah. Lensa obyektif dipasang dengan perbesaran yang
paling lemah, misal 10 kali

4. Diafragma diputar hingga lubang yang mempunyai ukuran terbesar berada satu garis
dengan lubang yang terdapat pada meja benda
5. Mata praktikan ditempelkan pada lensa okuler untuk melihat cahaya yang masuk.
Cermin diputar ke arah sumber cahaya sehingga ketika dilihat pada lensa okuler
didapat suatu bidang pandang yang putih, keadaan ini menandakan mikroskop dalam
posisi ini siap digunakan

Langkah-langkah mengoperasikan mikroskop


1. Preparat diletakkan pada meja benda, kemudian mata ditempelkan ke lensa okuler.
2. Sekrup halus diputar ke atas atau ke bawah secara perlahan-lahan sampai diperoleh
bayangan yang jelas.

Langkah-langkah mengembalikan mikroskop


1. Preparat diambil dari meja benda
2. Lensa okuler dibersihkan dengan kertas lensa
3. Meja benda dibersihkan dengan menggunakan lap bersih
4. Diafragma ditutup dengan mengarahkan tuas pada posisi MIN
5. Mikroskop dikembalikan pada tempat penyimpanan
2. Mikrokop Cahaya Binokuler
a. Bagian-bagian mikroskop cahaya binokuler

Keterangan
1. lensa okuler
9. diafragma
2. sekrup pemutar arah lensa okuler
10. sekrup halus
3. revolver
11. sekrup kasar
4. lensa obyektif
12. kondensor
5. penjepit preparat
13. lampu (sumber cahaya)
6. meja benda
14. tombol ON dan OFF
7. skala nonius
15. tempat sambungan ke sumber listrik
8. sekrup penggerak meja benda
16. pengatur besar kecil nyala lampu
b. Langkah-langkah Mengoperasikan Mikroskop Cahaya Binokuler

1. Kabel ditancapkan pada mikroskop dan sumber listrik.


2. Tombol "ON" dinyalakan sehingga lampu akan menyala. Terang cahaya lampu dapat
diperbesar dengan menggeser pengatur besar kecil cahaya lampu mikroskop.
3. Tuas diafragma digeser dari posisi MIN ke posisi MAX atau mendekati MAX agar
diperoleh pencahayaan yang terang pada obyek yang sedang diamati.
4. Preparat di pasang pada meja benda.
5. Objek pada mikroskop pertama kali dicari pada perbesaran lemah (4 x 10) dengan cara
memutar sekrup kasar mikroskop.
6. Obyek dapat diperbesar atau diperjelas dengan menambah ukuran lensa okuler.
Penambahan ukuran lensa okler dilakukan dengan menggeser revolver.
7. Perubahan lensa okuler menyebabkan obyek yang telah tampak pada perbesaran lemah
akan menjadi kabur. Obyek yang menjadi kabur dapat diperjelas dengan menggeser
sekrup halus. Sekrup kasar mikroskop sebaiknya tidak digunakan ketika memperjelas
obyek. Penggunaan sekrup kasar pada perbesaran kuat dapat menyebabkan pecahnya
kaca benda atau preparat yang sedang diamati.

8. Kedua mata praktikan sebaiknya tetap terbuka ketika melakukan pengamatan obyek.
Kebiasaan menutup salah satu mata saat pengamatan menyebabkan mata cepat lelah.
9. Ketika pengamatan berakhir maka kembalikanlah posisi lensa okuler pada perbesaran
terkecil (4 x 10) kemudian turunkan meja benda dengan cara menggeser makrometer
mikroskop.
10. Preparat dari meja benda dilepaskan.
11. Tuas diafragma menuju posisi MIN, kemudian lampu mikroskop diredupkan.
12. a. Tombol OFF ditekan.
b. Kondensor diturunkan.
c. Lensa okuler dilap dengan kertas lensa.
d. Meja benda dilap dengan lap bersih.
13. Kabel dilepaskan dari sumber listrik .
14. Kabel dilipat dan dikembalikan pada posisi semula.
15. Mikroskop dikembalikan ke tempat penyimpanan.

BACAAN II
PREPARAT

2.1 Preparat
Obyek yang diletakkan pada meja benda yang akan diamati dengan menggunakan lensa
obyektif dan lensa okuler pada mikroskop dinamakan preparat. Pembuatan preparat dapat
dilakukan dengan mengiris secara vertikal (tegak) dan horisontal (mendatar). Melalui
pengirisan dengan arah vertikal dan horisontal akan diperoleh obyek dengan penampang
melintang dan membujur.
Penampang melintang adalah sayatan yang tegak lurus dengan sumbu panjang (dapat
dilihat pada gambar 6a, sedangkan penampang membujur adalah sayatan yang sejajar sumbu
panjang. Sayatan membujur dapat dibuat dengan arah radial (menuju pusat) yang dapat dilihat
pada gambar 6b atau sejajar dengan bidang yang melalui pusat dan arah tangensial (gambar
6c).

Gambar 7. Penampang obkek: a)penampang melintang, b)penampang membujur radial, c)


penampang membujur tangensial
2.2 Pembuatan Preparat
Alat-alat yang diperlukan dalam pembuatan preparat segar, yaitu:

Keterangan:
1. silet
2. kaca benda
3. kaca penutup
4. empulur ketela pohon
5. jarum pentul atau jarum preparat

6. tempat air
7. pipet tetes
8. kertas tisu
9. kuas

2.3 Contoh Langkah-langkah dalam Pembuatan Preparat


a. Preparat Irisan Melintang Daun Mahkota Bunga

1.
2.
3.
4.
5.
6.

7.
8.

9.

Kaca benda dibersihkan dari kotoran yang menempel.


Air diteteskan pada kaca benda.
Daun mahkota bunga dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil.
Empulur ketela pohon yang berfungsi untuk mempermudah pengirisan bahan yang
berupa lembaran dibelah kurang lebih 0,5-1 cm.
Potongan daun mahkota dimasukkan dalam celah pada empulur. Sisa-sisa daun
mahkota yang tidak terjepit dipotong.
Potongan daun mahkota yang telah terjepit bersama dengan empulur diiris dengan silet
setipis mungkin. Arah silet ketika mengiris mengarah ke praktikan. Hasil irisan yang
tipis ditandai dengan lembaran yang sangat kecil dan transparan.
Hasil irisan diambil dengan menggunakan jarum pentul atau kuas yang telah dibasahi
dengan air, kemudian diletakkan pada tetesan air pada kaca benda.
Kaca penutup diletakkan dengan pelan-pelan pada hasil irisan yang telah diletakkan
dalam tetesan air. Jarum preparat digunakan untuk membantu peletakan kaca penutup.
Sisa tetes air yang keluar dari kaca penutup sebaiknya diserap dengan kertas hisap atau
tisu.
Kaca benda bagian bawah dilap agar sisa-sisa air pada permukaan bawah kaca benda
tidak membasahi meja benda mikroskop.

b. Preparat Irisan Melintang Tangkai daun

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Gambar 9. Langkah-langkah pembuatan preparat sayatan paradermal daun


Kaca benda dibersihkan dari kotoran yang menempel.
Air diteteskan pada kaca benda.
Tangkai daun dipotong melintang terlebih dahulu agar diperoleh permukaan yang rata.
Permukaan yang serong menyebabkan hasil hasil irisan (preparat) yang tidak baik.
Tangkai daun diiris secara melintang setipis mungkin. Arah irisan mengarah ke
praktikan. Hasil irisan yang baik berupa lembaran tipis yang transparan.
Hasil irisan diletakkan pada tetesan air dalam kaca benda, kemudian ditutup dengan kaca
penutup.
Kaca benda bagian bawah dilap agar sisa-sisa air pada permukaan bawah kaca benda
tidak membasahi meja benda mikroskop.

c. Preparat Irisan Membujur Batang

Gambar 10. Langkah=langkah dalam pembuatan preparat irisan membujur batang


1. Kaca benda dibersihkan dari kotoran yang menempel.
2. Air diteteskan pada kaca benda.
3. Batang dipotong membujur terlebih dahulu agar diperoleh permukaan yang rata.
Permukaan yang tidak rata menyebabkan hasil hasil irisan (preparat) yang tidak baik.
Pemotongan disesuaikan dengan bagian yang akan kita amati.

4. Batang diiris secara membujur setipis mungkin. Arah irisan mengarah ke praktikan.
Hasil irisan yang baik berupa lembaran tipis yang transparan.
5. Hasil irisan diletakkan pada tetesan air dalam kaca benda, kemudian ditutup dengan
kaca penutup.
6. Kaca benda bagian bawah dilap agar sisa-sisa air pada permukaan bawah kaca benda
tidak membasahi meja benda mikroskop.
d. Preparat Sayatan Paradermal Daun

Gambar 11. Langkah-langkah dalm pembuatan preparat sayatan paradermal daun


1.
2.
3.
4.

Kaca benda dibersihkan dari kotoran yang menempel.


Air diteteskan pada kaca benda.
Salah satu sisi helaian daun ditempelkan pada batang pensil.
Sisa helaian daun yang tidak menempel pada batang pensil dijepit dengan tangan
sehingga permukaan daun yang menempel pada batang pensil dapat melekat erat.
5. Permukaan daun yang menempel erat pada batang pensil di sayat setipis mungkin
dengan silet. Hasil sayatan yang belum terputus dapat diperlebar dengan bantuan pinset
atau terus disayat dengan silet.
6. Hasil sayatan diletakkan pada tetesan air dalam kaca benda, kemudian ditutup dengan
kaca penutup.
7. Kaca benda bagian bawah dilap agar sisa-sisa air pada permukaan bawah kaca benda
tidak membasahi meja benda mikroskop.
2.4 Ketentuan Menggambar Hasil Pengamatan dalam Buku Laporan Praktikum
Anatomi Tumbuhan
1. Isilah biodata saudara secara lengkap.
2. Lengkapilah buku saudara dengan foto.
3. Gunakan pensil dengan ujung yang lancip.
4. Gunakan karet penghapus yang baik
5. Tulislah tujuan praktikum pada setiap topik, sebelum kegiatan praktikum dimulai.
6. Aturlah lembar kertas dalam buku laporan saudaraa dengan format seperti pada gambar
12.
7. Gambar tidak perlu di beri warna

2.5 Penggunaan Reagensia


Reagensia di dalam pengamatan mikroskopik diperlukan untuk memperjelas obyek
pengamatan. Obyek pengamatan diperjelas dengan cara menghilangkan zat-zat yang
menganggu pengamatan. Contoh zat yang dapat menganggu pengamatan adalah pigmen
klorofil. Pigmen klorofil dalam pengamatan, dapat menganggu praktikan ketika melihat bentuk
sel. Pigmen klorofil dapat dihilangkan dengan reagen kloral hidrat. Reagensia, dalam
pengamatan juga diperlukan untuk mendeteksi komponen-komponen dalam sel. Tabel 1
berikut menjelaskan tentang beberapa kegunaan reagensia.
Tabel 1. Kegunaan Reagensia
No. Reagensia
1.
IKI

2.

3.

4.

5.

6.

Keterangan
- Pendeteksian butir amilum, reaksi positif ditandai dengan
warna ungu sampai biru kehitaman
- Pewarnaah untuk inti sel, flagela, dan silia
Kloral hidrat
- Penjernihan preparat
- Melarutkan kristal kalsium oksalat secara lambat (3-4
minggu)
Asam asetat glasial Pendeteksi kristal kalsium oksalat, yang ditandai dengan
(CH3COOH)
tidak tidak larutnya kristal kalsium oksalat, biasa digunakan
bersama dengan HCl pekat (25%-31%)
HCl pekat (25%- Pendeteksi kristal kalsium oksalat dan kalsium karbonat,
31%)
yang ditandai dengan larutnya kristal dalam sel ketika dalam
preparat ditambahkan reagen
Floroglusin
Penambahan Floroglusin dengan HCl pekat dalam volume
yang sama dapat mendeteksi adanya lignin. Pemanasan akan
mempercepat reaksi
Milllon
Pendeteksi butir aleuron. Setelah preparat ditetesi dengan

reagen Millon, perlu dipanaskan di api langsung dan harus


dijaga agar tidak sampai kering. Reaksi positip ditandai
dengan timbulnya warna merah pada bahan
7.
Sudan III atau IV
Pendetaksi: minyak, minyak atsiri, suberin atau kutin. Reaksi
positip ditandai dengan warna merah
8.
Asam pikrat
Pendeteksi adanya butir aleuron
9.
Mayer
Pendeteksi adanya alkaloid, reaksi positip ditandai dengan
timbulnya endapan putih pada larutan
10. Biru metilen
Mendeteksi sel yang hidup
11. FeCl3
Pendeteksi adanya tanin, reaksi positip ditandai dengan
timbulnya warna hitam pada bahan
12. Tinta Bak
Pendeteksi adanya lendir
13. Alkohol 70%
Melarutkan minyak dan pigmen klorofil
14. Gliserin 5-10%
Pengawet preparat
15. KOH atau NaOH Penjernih preparat
3%
16. Anilin sulfat
Pendeteksi adanya lignin, reaksi positip ditandai dengan
timbulnya warna kuning
Langkah-langkah dalam menggunakan reagensia
a. Preparat segar yang sedang diamati di bawah mikroskop sebaiknya dilepaskan terlebih
dahulu dari meja benda. Pemberian langsung reagen pada preparat segar yang masih
terpasang pada meja benda dapat mengakibatkan lensa obyektif terkena reagen sehingga
menjadi kotor. Kotoran yang menempel pada lensa obyektif sangat sulit dibersihkan.
b. Reagen diteteskan pada salah satu sisi kaca penutup, kemudian bagian sisi yang
berlawanan dengan tetesan reagen diletakkan kertas hisap sehingga reagen dapat masuk
dalam kaca penutup dan menyentuh irisan.
c. Sisa reagen yang menempel pada sisi atas kaca benda dilap hingga bersih
d. Sebelum preparat segar dipasang kembali pada meja benda, bagian bawah kaca benda
perlu dilap hingga bersih.
e. Setelah bersih, preparat segar dapat dipasang kembali dan selanjutnya praktikan dapat
mengamati hasil reaksi yang terjadi.
2.6 Penggunaan Mikrometer
Pengukuran panjang dan lebar sel memerlukan mikrometer okuler. Sebelum
mikrometer okuler digunakan untuk mengukur, diperlukan mikrometer obyektif. Mikrometer
obyektif sudah memiliki harga baku. Mikrometer obyektif diperlukan untuk menghitung besar
satu skala pada mikrometer okuler. Kegiatan untuk mengetahui berapa besar nilai satu skala
mikrometer okuler pada suatu perbesaran mikroskop tertentu disebut peneraan. Besar satu
skala mikrometer okuler di tiap-tiap perbesaran tidak sama sehingga peneraan perlu dilakukan
pada setiap perbesaran. Besar satu skala mikrometer okuler pada tiap-tiap mikroskop juga tidak
sama sehingga peneraan juga perlu dilakukan pada masing-masing mikroskop. Langkahlangkah dalam peneraan:
1. mikrometer okuler dipasang pada lensa okuler,
2. mikrometer obyektif dipasang pada meja benda mikroskop,

3. posisi skala mikrometer okuler dengan skala mikrometer obyektif diatur hingga masingmasing skala berada dalam satu garis,
4. ujung garis skala mikrometer okuler dibandingkan dengan garis skala mikrometer
obyektif hingga diperoleh satu garis skala mikrometer okuler yang berada dalam satu
garis skala mikrometer obyektif; misalnya garis skala ke-20 mikrometer okuler berada
dalam satu garis skala ke-14 pada mikrometer obyektif,
5. besar skala 1 mikrometer okuler (dalam satuan mikron) dihitung dengan rumus:
garis skala mikrometer obyektif yang berada satu garis dengan skala mikrometer
okuler X ukuran satu skala mikrometer obyektif garis skala mirkometer okuler yang
berada satu garis dengan skala mikrometer obyektif sehingga, apabila diperoleh garis
skala ke-20 mikrometer okuler berada dalam satu garis skala ke-14 pada mikrometer
obyektif maka besar satu mikrometer okuler dapat dihitung :
14 x 0.01 mm = 0,007 mm x1000 = 7 mikron
20
setelah diketahui besar 1 skala mikometer okuler (misalnya 1 skala = 7 mikron),
dapat dihitung ukuran (misalnya panjang dan lebar) suatu sel,
6. pengukuran dilakukan dengan tetap memasang mikrometer okuler ketika sedang
mengamati suatu sel, panjang sel sama dengan jumlah skala mikrometer okuler yang
memenuhi panjang sel dikalikan hasil peneraan satu skala mikrometer okuler.

2.7 Pengukuran Luas Bidang Pandang Mikroskop


Luas bidang pandang mikroskop dihitung pada perbesaran lensa obyektif tertentu.
Langkah- langkah dalam menghitung luas bidang mikroskop dijelaskan sebagai berikut:
1. Preparat dipasang pada meja benda.
2. Obyek yang digunakan sebagai penanda dicari pada preparat, hingga terlihat jelas pada
perbesaran (misalnya 10x40).
3. Obyek penanda diletakkan pada salah satu sisi bidang pandang mikroskop, misalnya
obyek diletakkan di batas kiri bidang pandang.
4. Mencatat posisi obyek penanda dengan melihat skala nonius (misalnya skala nonius
menunjukkan angka 40/20).
5. Obyek penanda yang terletak di batas kiri bidang pandang dipindah ke batas kanan
dengan menggeser meja benda mikroskop. Mencatat perubahan skala nonius (skala
nonius menunjukkan angka 41/20).
6. Selisih skala nonius adalah diameter bidang pandang mikroskop.
Menghitung luas bidang pandang mikroskop:
1 skala nonius = 1 mm
diameter bidang pandang mikroskop = 41/20 40/20 = 1 mm
jari-jari bidang pandang mikroskop = 1 mm/2 = 0,5 mm
luas bidang pandang mikroskop = x r2 = 22/7 x 0,52= 0,785 mm2.

III. TUGAS
1. Buatlah: preparat irisan melintang umbi kentang dan preparat irisan melintang rimpang
kunyit
2. Reaksikan dengan reagen IKI dan Sudan III
3. Tentukan benda-benda ergastik yang tampak pada masing-masing preparat dengan cara
mereaksikan preparat dengan reagen
4. Lakukanlah peneraan dan hitung ukuran masing-masing benda ergastik pada
perbesaran 10 x 40
5. Setelah melakukan tugas 1-4, saudara dapat menjawab pertanyaan berikut.
a) Benda ergastik apa saja yang terdapat pada masing-masing preparat, jelaskanlah
alasanmu!........................................................................................................................
.........................................................................................................................
b) Deskripsikan bentuk dan besar ukuran butir amilum pada masing-masing preparat!
........................................................................................................................................
.........................................................................................................................

BACAAN III
SITOLOGI

Anatomi tumbuhan mempelajari tentang struktur dalam tubuh tumbuhan tinggi. Tumbuhan
tinggi memiliki bagian pokok yang dinamakan organ vegetatif dan organ generatif. Organ
vegetatif berfungsi untuk melaksanakan metabolisme yang menyebabkan tumbuhan dapat
hidup, sedang organ generatif berfungsi untuk menghasilkan tumbuhan baru yang memiliki
sifat dari kedua induknya.
Organ vegetatif meliputi akar, batang, dan daun. Organ generatif terdiri dari bunga,
buah, dan biji. Masing-masing organ tersusun dari jaringan, dan jaringan tersusun dari
kumpulan sel. Sel merupakan bagian terkecil yang memiliki bentuk dan fungsi tertentu, serta
mampu menjalankan kehidupannya sendiri.
Pemahaman konsep yang lebih mudah dapat dilakukan dengan mempelajari masingmasing bagian dari tubuh tumbuhan. Pemahaman konsep dari tubuh tumbuhan diawali dengan
bagian yang terkecil, yaitu sel.
3.1 Sel
Sel merupakan bagian yang terkecil sehingga tidak tampak jika dilihat dengan mata
telanjang. Mikroskop sangat diperlukan untuk melihat struktur dan bentuk sel. Sel pada
dasarnya terdiri dari wadah dan isinya. Bentuk sel sangat ditentukan oleh dinding selnya. Isi
sel dapat berbentuk cair maupun padat. Dinding sel tersusun dari senyawa kimia yang
termasuk karbohidrat, protein dan lemak. Isi sel juga tersusun dari karbohidrat, protein,
lemak, dan asam nukleat.

Gambar 1. Sel tumbuhan dan bagian-bagian yang terlihat:


ds
: dinding sel
s
: sitoplasma
i
: inti sel
v
: vakuola

: leukoplas

3.2 Dinding Sel


Dinding sel merupakan bagian paling luar dari sel yang berfungsi untuk:
memberi batas antara sel dengan lingkungannya
memberi bentuk pada sel
melindungi isi sel dari agensia perusak yang berada di sekitarnya
menyeleksi bahan makanan yang diperlukan dalam metabolisme
memperkuat sel
Dinding sel hanya terdapat pada tumbuhan, tidak ditemukan pada hewan. Zat- zat kimia yang
menyusun dinding sel di antaranya:
Karbohidrat yang berupa: selulosa, hemi selulosa, pektin.
Protein
Lemak, di antaranya suberin dan lilin
Zat kayu (lignin)
Zat kersik
Cara identifikasi komponen dinding sel dapat dilakukan dengan pemberian reagensia terhadap
preparat penampang melintang dan membujur suatu organ tumbuhan. Reagensia yang
digunakan di antaranya:
I ZnCl2 untuk mendeteksi selulosa. Selulosa akan dihidrolisa oleh ZnCl2 menjadi
amilum yang akan bereaksi dengan Iodium membentuk Iod amilum yang berwarna
biru.
Sudan III/ IV dalam alkohol akan memberikan warna merah pada dinding sel yang
mengandung suberin atau lilin, karena suberin dan lilin larut dalam alkohol seperti
Sudan III/ IV
Phloroglucine dalam akohol + HCl 25% akan memberi warna merah pada dinding sel
yang mengandung lignin.
Dinding sel terdiri dari: dinding primer pada sel tumbuhan yang baru saja terbentuk
dari hasil pembelahan sel. Dinding sekunder dibentuk oleh sitoplasma dan terletak di sebelah
dalam dari ruang sel. Dinding tersier mungkin dibentuk pada sel- sel yang sudah tua atau sel
yang memiliki fungsi khusus.
Ketebalan dinding sel ditentukan oleh lapisan-lapisan penyusunnya. Proses penebalan
dinding sel melalui dua cara, yaitu: (1) aposisi, apabila penebalan dinding dilakukan dengan
melapisi dinding lama dengan substansi yang baru dan (2) intususepsi jika substansi
penebalan disisipkan pada dinding yang lama.
Penebalan dinding sel sangat beragam, karena fungsi dinding sel banyak sehingga
bentuk penebalan disesuaikan dengan fungsi selnya. Keragaman bentuk penebalan dinding sel
ini dapat digunakan sebagai penanda dari bagian tumbuhan dan dari jenis tumbuhannya.
Contoh sel yang memiliki bentuk penebalan variatif di antaranya sel buluh angkut. Penebalan
dapat berbentuk: cincin, spiral, tangga, jala, noktah, Y.
Penebalan dinding sel diperlukan untuk memperkuat sel dan tubuh tumbuhan, akan
tetapi beberapa zat penyusun penebalan kedap terhadap air sehingga akan mencegah
pertukaran zat antara sel dan lingkungannya. Oleh karena itu ada dinding yang tidak
seluruhnya menebal. Bagian dari dinding sel yang tidak mengalami penebalan disebut
noktah.

Dua macam noktah banyak ditemukakan pada dinding sel tumbuhan, yaitu: (1) noktah
sederhana dan (2) noktah halaman. Dinding sel yang memiliki penebalan tebal noktahnya
akan membentuk suatu saluran yang disebut dengan saluran noktah. Dua sel yang
berbatasan dapat memiliki penebalan dinding pada kedua dinding yang berbatasan, sehingga
(saluran) noktah sel yang satu bersambung dengan (saluran) noktah sel yang bersebelahan,
noktah yang demikian dinamakan noktah berpasangan. Noktah dapat juga hanya terjadi
pada salah satu dinding dari dua sel yang berbatasan, noktah yang demikian disebut noktah
tunggal. Noktah ada juga yang berbatasan dengan ruang antar sel, noktah yang demikian
disebut noktah buta. Noktah yang yang salurannya dari ruang antar sel menuju ke lamella
tengah tetap lebarnya disebut noktah sederhana, sedang noktah yang salurannya dari ruang sel
menuju ke lamella tengah melebar sehingga berbentuk seperti corong dinamakan noktah
halaman atau noktah ladam.

Noktah halaman biasanya ditemukan pada sel-sel trakea Pinus yang termasuk
Gymnospermae. Noktah berfungsi sebagai jalan masuk dan keluarnya zat- zat dari sel satu ke
sel lain yang berbatasan, selain itu biasanya di dalam noktah ditemukan benang- benang
plasma yang disebut plasmodesmata. Plasmodesmata menghubungkan sitoplasma dua sel
yang berbatasan. Dua sel yang berbatasan dibatasi oleh dinding sel yang disebut lamella
tengah yang tersusun dari kalsium pektat. Lamella tengah bersifat semi permeabel sehingga
dapat ditembus air dan zat-zat yang larut di dalam air. Lamella tengah yang terdapat di dalam
noktah disebut selaput penutup. Selaput penutup ada bagian yang menebal, disebut torus
dan bagian yang tipis disebut margo.

Gambar 3. Noktah halaman.


A: noktah halaman yang terdapat pada batang Pinus sp.
B: noktah halaman yang digambar skematis, diambil dari (Kraemer, 2000:275)
ds: dinding sel, m: margo, mn: mulut noktah, nh: noktah halaman, rn: ruang noktah, t: torus
Pembentukan dinding sel dilakukan pada saat sel membelah. Cara pembetukan dinding
pemisah antara dua sel anakan dapat dilakukan secara simultan jika dibentuk sekaligus atau
secara suksedan jika dibentuk sedikit demi sedikit.
3.3 Vakuola
Vakuola merupakan ruang di dalam sel yang dibatasi oleh tonoplas, vakuola
mengandung cairan sel yang berupa air dan zat-zat yang terlarut di dalamnya. Fungsi vakuola
untuk mengatur tekanan hidrostatis sel dan menyimpan cadangan makanan dan benda-benda
ergastik. Benda ergastik ada 2 macam, yaitu yang masih dapat digunakan untuk metabolisme
dan ada zat yang sudah tidak diperlukan oleh sel.

Gambar 4. Vakuola sel epidermis daun Rhoeo discolor yang berisi pigmen antosianin

Benda ergastik yang berupa cairan di antaranya pigmen, natrium dan kalium oksalat,
alkaloida, tanin, enzima, madu, minyak atsiri, dan asam organik. Pigmen yang larut dalam
cairan sel antosianida. Warna antosianida tergantung pada pH, jika pH rendah (3-4) berwarna
merah muda, pH netral (5-7) berwarna ungu, pH basa (8-9) berwarna biru muda, kalau pH 1014 berwarna hijau muda sampai kuning.

Gambar 5. Piggmen antosianin yang berwarna merah pada filamentum Passiflora sp.
Alkaloida tidak berwarna tetapi memberikan rasa pahit. Contoh-contoh alkaloida pada
tumbuhan:
Kafein terdapat pada tanaman Coffea sp.
Kina terdapat pada tanaman Cinchona sp.
Tein terdapat pada tanaman Camellia sinensis
Kapsaisin terdapat pada tanaman Capsicum sp.
Teobromin terdapat pada tanaman Theobroma cacao
Cocain terdapat pada tanaman Erythroxylon coca
Morfin terdapat pada tanaman Papaver somniferum
Reagen Mayer (K2HgI4) digunakan untuk mengidentifikasi adanya alkaloid dalam
tumbuhan. Alkaloid akan mengendap dengan warna putih atau kuning jika diberi reagen
Mayer.
Enzima yang terdapat di dalam vakuola misalnya enzima papain pada tanaman Carica
papaya, amilase pada kecambah Oryza sativa atau Zea mays, maltase pada kecambah
Hordeum vulgare, bromeliase pada Ananas commosus. Madu merupakan campuran dari
glukosa, fruktosa dan protein yang larut di dalam vakuola.
Minyak dapat berupa minyak lemak dan minyak atsiri. Minyak lemak tidak mudah
menguap sedang minyak atsiri pada umumnya mudah menguap dan memberi aroma yang
khas sehingga dapat digunakan sebagai pengenal dari tanaman yang menghasilkannya.
Contoh-contoh minyak lemak di antaranya minyak kelapa yang dihasilkan oleh tanaman
Cocos nucifera, minyak sawit yang dihasilkan oleh tanaman Elaeis guineensis, minyak bunga
matahari yang dihasilkan oleh tanaman Helianthus anuus, minyak kedelai yang dihasilkan
oleh tanaman Soja max, minyak jagung yang dihasilkan oleh Zea mays, minyak zaitun yang
dihasilkan oleh tanaman Olea europea Sebagai contoh minyak asiri adalah minyal citrun yang
dihasilkan oleh tanaman Citrus sp., minyak mawar yang dihasilkan oleh tanaman Rosa

sinensis, minyak cengkeh yang dihasilkan oleh tanaman Eugenia caryophyllata, minyak adas
yang dijhasilkan oleh tanaman Foeniculum vulgare, minyak kayu putih yang dihasilkan oleh
tanaman Melaleuca leucadendron. Identifikasi minyak dan minyak atsiri dilakukan dengan
penambahan larutan Sudan III atau Sudan IV dalam alkohol yang akan berwarna merah
karena Sudan III larut di dalam minyak lemak dan minyak atsiri.

Gambar 6. Idioblas minyak atsiri pada Rhizoma Curcuma heyneana.


m1
: idioblas minyak yang belum diuji dengan sudan III
m2
: idioblas minyak yang sudah diuji dengan sudan III, adanya minyak
atsiri ditandai dengan perubahan warna menjadi merah.
Asam-asam organik pada tanaman-tanaman tertentu memberikan rasa asam pada buah
terutama yang masih muda. Contoh-contoh asam organik di antaranya asam sitrat pada
tanaman Citrus sp., asam tartrat pada tanaman Vitis vinifera dan Tamarindus indica, asam
malat pada tanaman Malus pumila, asam askorbat pada tanaman Lycopersicon esculentum,
dan Psidium guaiava.
Benda ergastik yang tidak larut dalam cairan sel di antaranya kristal kalsium oksalat,
butir amilum, butir aleuron. Kristal kalsium oksalat ada yang tunggal dan majemuk dengan
ukuran kecil dan besar, serta bentuk yang bermacam-macam.

Gambar 7. Kristal kalsium oksalat. A dan B: bentuk jarum yang berbentuk rafida. C dan D:
drusse. E: rafida defensif. F: rafida nondefensif. B dan D diambil dari (Kraemer,
2000:186)
Macam-macam bentuk kristal kalsium oksalat tunggal di antaranya bentuk prisma:
kerucut, kubus, balok; prisma kecil disebut bentuk pasir; bentuk jarum atau balok panjang
berujung runcing disebut rafida, bentuk balok panjang berujung tumpul disebut styloid.
Bentuk kristal kalsium oksalat majemuk di antaranya bentuk roset, drusse. Roset merupakan
kumpulan dari rafida atau styloid yang saling bersilang. Bentuk drusse pada umumnya
kumpulan dari bentuk prisma yang bertumpuk-tumpuk seperti bunga. Rafida seringkali
terdapat dalam satu berkas di dalam sel yang memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda
dengan sel-sel disekelilingnya. Sel tersebut dinamakan idioblas rafida. Idioblas rafida ada dua
yaitu idioblas rafida defensif dan non defensif. Idioblas rafida disebut defensif jika pada
kedua ujung atau salah satu ujung dari idioblas didingnya lebih tipis dari bagian yang lain.
Dengan demikian rafida dapat keluar dari idioblas dengan mudah apabila terkena ransang
mekanik seperti dikunyah. Idioblas rafida ini digunakan oleh tumbuhan untuk melindungi diri
pemangsa. Idioblas rafida nondefensif memiliki dinding yang sama ketebalannya di semua
tempat sehingga rafida tidak dapat keluar dari idioblas. Rafida yang berbentuk jarum ini

memiliki ujung yang runcing sehingga kalau ditelan ujung-ujungnya akan menusuk dinding
mulut dan kerongkongan yang akan menyebabkan rasa gatal dan pedih. Kristal kalsium
oksalat tidak larut di dalam asam cuka tetapi larut dalam asam klorida pekat (HCl 25%).

Gambar 8. Butir amilum Rhizoma Curcuma heyneana. h: hilus, l: lemella,


Butir amilum terdiri dari hilus yang dikelilingi oleh lamella. Hilus atau hilum
merupakan titik permulaan terbentuknya butir amilum dalam plastida. Lamela terbentuk di
sekeliling hilus dengan kadar air yang berbeda, sehingga terjadi perbedaan indeks bias yang
menyebabkan lamela tampak berlapis-lapis. Butir amilum terdiri berbagai macam bentuk
tergantung dari jumlah dan letak hilus. Butir amilum berdasar letak hilusnya ada yang
konsentris (hilus terletak di tengah butir), dan eksentris (hilus terletak pada salah satu sisi
butir). Butir amilum berdasar jumlah hilusnya terdiri dari butir amilum tunggal (monoadelph),
setengah majemuk, dan majemuk (poliadelph). Butir amilum tunggal hanya memiliki satu
hilus dikelilingi oleh lamella; butir amilum setengah majemuk memiliki lebih dari satu hilus
yang masing-masing dikelilingi lamella kemudian oleh lamella bersama; butir amilum
majemuk memiliki lebih dari satu hilus yang masing-masing dikelilingi oleh lamella sendirisendiri tetapi berikatan sangat kuat. Butir amilum majemuk terdiri dari dari diadelph,
triadelph, dan poliadelph yang menunjukkan jumlah hilus dalam satu butir amilum. Butir
amilum jika diberi larutan IKI akan memberikan warna biru atau ungu. Butir amilum pada
ketan memberikan warna merah jika diberi IKI karena mengandung amilodekstrin.
Butir aleuron terjadi dari vakuola yang mengandung larutan protein dan biasanya
terdapat pada biji-bijian yang mengalami pengeringan waktu biji masak. Larutan protein yang
tadinya cair pada waktu biji masih muda akan memadat bersama vakuolanya pada saat biji
masak sehingga tampak sebagai butir-butiran yang terdapat di dalam sel. Satu butir aleuron
biasanya mengandung satu kristaloid putih telur yang berbentuk prisma (kuboid atau

heksagonal) yang disertai dengan butiran-butiran bulat yang lebih kecil yang disebut globoid.
Globoid terdiri dari garam kalsium dan magnesium mesoinosith heksafosfor. Selain itu masih
terdapat butiran-butiran kecil seperti titik yang disebut protein amorf. Identifikasi butir
aleuron menggunakan asam pikrat yang akan memberikan warna kuning atau reagen Millon
yang akan memberikan warna kuning sampai merah bata pada butir aleuron.
3.4 Isi Sel
Isi sel terdiri dari dua bagian yang bersifat cair dan padat. Bagian yang bersifat padat
sebenarnya merupakan cairan yang terbungkus oleh membran sehingga tampak seperti padat.
Bagian yang bersifat cair disebut dengan: sitoplasma, plasma sel, sitosol. Bagian yang padat
terdiri dari dua macam, bermembran rangkap dan bermembran tunggal. Bagian yang
bermembran ini dinamakan organela.
Isi sel yang bersifat cair
Sitoplasma
Sitoplasma terdiri dari 3 bagian, bagian terluar disebut ektoplas (membran plasma),
bagian tengah disebut polioplas, dan bagian terdalam disebut tonoplas. Membran plasma
melekat pada dinding sel dan memiliki konsistensi lebih kental dibanding dengan bagian yang
lebih dalam yang disebut polioplas. Bagian terdalam dari sitoplasma membatasi vakuola
dengan polioplas juga memiliki konsistensi yang lebih pekat dibanding polioplas. Organel
terdapat di dalam polioplas, sehingga jika terjadi gerakan plasma organel akan ikut bergerak.
Sitoplasma dapat terlepas dari dinding sel apabila sel terletak dalam larutan yang
bersifat hipertonis terhadap cairan sel. Peristiwa terlepasnya sitoplasma dari dinding sel
dinamakan plasmolisis. Sel yang diletakkan di dalam larutan hipotonis terhadap cairan sel
akan menarik air dari lingkungannya sehingga volume isi sel membesar dan sel akan pecah.
Larutan-larutan yang bersifat hipertonis di antaranya larutan gula 10% ke atas, larutan garam
KNO3 10%. Larutan-larutan ini biasanya digunakan untuk mensimulasikan peristiwa
plasmolisis. Bentuk-bentuk plasmolisis ditentukan oleh permukaan luar plasma, sehingga ada
bentuk cekung, cembung, kramplasmolisis. Pada peristiwa plasmolisis sempurna isi sel
berbentuk globular.
Isi sel yang bersifat padat
Isi sel yang terlihat padat dinamakan organel. Organel juga mengandung cairan yang
selalu berhubungan dengan sitoplasma. Ukuran dari organel bermacam-macam. Inti atau
nukleus memiliki ukuran terbesar, diikuti oleh plastida, mitokondria, mikrosoma, badan Golgi
dan sebagainya. Organel ada yang bermembran rangkap dan ada yang tunggal. Organel yang
bermembran rangkap umumnya berukuran lebih besar dibanding yang bermembran tunggal
sehingga dapat dilihat dengan mikroskop biasa. Organel yang berukuran kecil hanya dapat
dilihat dengan mikroskop yang lebih canggih seperti mikroskop elektron.
1. Inti sel
Inti sel disebut juga dengan nukleus, Kern (Belanda). Inti memiliki membran
rangkap yang juga disebut nuclear envelope. Membran luar berbatasan dengan sitoplasma
dan membran dalam berbatasan dengan cairan inti. Cairan perinuklear terdapat di antara
membran dalam dan membrane luar. Membran inti tidak menutup inti secara rapat tetapi
memiliki pori-pori yang digunakan untuk menghubungkan cairan plasma di dalam dan di
luar inti. Protein yang terdapat di dalam pori inti disebut porin.
Inti berfungsi untuk mengatur metabolisme sel dan reproduksi sel karena di dalam
inti terdapat asam ribosa nukleat (ARN) dan asam deoksi ribosa nukleat (DNA) yang akan

mengatur pembentukan protein-protein yang menyusun enzima dan hormon dalam tubuh
tumbuhan. DNA juga berperan dalam reproduksi tumbuhan karena di dalam inti tersebut
terdapat kromosoma yang tersusun dari DNA yang mengandung sifat-sifat yang akan
diwariskan pada keturunannya jika terjadi pembelahan sel nanti. Kromosoma tidak tampak
pada saat sel tidak membelah atau dalam keadaan istirahat. Kromatin yang tampak sebagai
butiran- butiran halus di dalam inti pada saat sel sadang istirahat itu akan tampak sebagai
benang-benang kromosoma pada waktu sel membelah.
2. Plastida
Plastida merupakan organel yang memiliki membran rangkap dan berukuran lebih
kecil dari inti. Plastida hanya terdapat dalam sel tumbuhan dan tidak terdapat di dalam sel
hewan. Plastida ada yang mengandung zat warna ada juga yang tidak mengandung zat
warna. Plastida yang tidak berwarna disebut leukoplas sedang yang berwarna disebut
kromoplas.
Leukoplas di antaranya meliputi: leukoamiloplas yang membentuk amilum,
elaioplas yang menyimpan lemak atau minyak, dan proteinoplas atau aleuroplas yang
menyimpan protein. Leukoamiloplas yang khusus terdapat dalam tudung akar dinamakan
statolith. Leukoplas pada umumnya berbentuk seperti cakram atau sferis.
Kromoplas mengandug zat warna atau pigmen. Pigmen yang terdapat dalam plastida
berhubungan dengan perannya di dalam fotosintesis. Pigmen-pigmen tersebut di antaranya
klorofil dan xantofil. Plastida yang mengandung pigmen xantofil tetap disebut kromoplas
sedang yang mengandung klorofil disebut kloroplas.

Gambar 9. Contoh bentuk-bentuk plastida. A: klorplas pada daun tanaman Capsicum annuum.
B: kromoplas pada buah Lycopersicon esculentum.
Kromoplas terdapat pada bagian tumbuhan yang berwarna merah, kuning atau oranye
seperti wortel, buah yang masak, mahkota bunga. Kromoplas pada wortel memiliki bentuk
yang bermacam-macam misal seperti baji, spiral, segi empat, batang, kuboid.

Gambar 10. Contoh bentuk-bentuk khromoplas. Diambil dari (Kraemer, 2000: 139).
Kromoplas dapat berkembang dari leukoplas dan sebaliknya. Buah yang masih mentah
biasanya berwarna hijau tetapi setelah masak menjadi kuning kemudian merah karena terjadi
perubahan warna dari klorofil menjadi xantofil.
Plastida yang berwarna hijau biasanya terdapat pada daun karena plastida tersebut
mengandung zat warna hijau daun atau klorofil yang sangat berperan di dalam fotosintesis.
Bagian tanaman yang terdedah sinar juga akan berwarna hijau meskipun biasanya tidak
berwarna, sebagai contoh umbi kentang yang muncul di atas tanah akan menjadi hijau.
Plastida yang berwarna hijau dinamakan kloroplas. Leukoplas yang biasanya terdapat pada
umbi kentang berubah menjadi kloroplas jika terdedah oleh sinar. Kloroplas sudah banyak
diteliti sehingga diketahui strukturnya secara rinci. Kloroplas pada tumbuhan tinggi biasanya
berbentuk cakram sedang pada tumbuhan rendah terutama alga memiliki bentuk yang
bermacam-macam. Bentuk bintang terdapat pada Meugeotia, bentuk jala pada Hydrodiction,
bentuk spiral pada Spirogyra, bentuk bulan sabit.
Kloroplas memiliki membran rangkap, di sebelah dalam terdapat tilakoid yang
berbentuk pita, pada bagian tertentu pita tersebut melipat-lipat, kemudian terurai lagi, lipatan
tersebut membentuk suatu tumpukan yang disebut grana. Klorofil terdapat di dalam grana

tersebut. Klorofil berfungsi untuk menangkap sinar dan kemudian mengubah sinar yang
mengandung energi elektromagnetik menjadi energi kimia untuk membentuk gula dari air dan
karbon dioksida dari udara. Reaksi terang fotosintesis terjadi di dalam grana sedangkan reaksi
gelap terjadi di stroma. Gula yang terbentuk akan dipecah lagi untuk menghasilkan energi
yang dapat digunakan untuk menjalankan fungsi kehidupan seperti gerak, bernafas dan
sebagainya. Kelebihan gula akan diangkut ke tempat tertentu dan di polimerisasi membentuk
butir amilum.
3. Mitokondria
Di dalam sitoplasma setiap sel terdapat badan-badan kecil (disebut mitokondria)
yang bersifat mikroskopik dengan jumlah yang bervariasi, pada sel hati tikus mencapai
2500 setiap sel; kecuali pada bakteri, alga biru, sel tulang belakang manusia tidak terdapat
mitokondria. Mitokondria berukuran 0,2-0,3 mikrometer dengan bentuk yang selalu
dinamik, yaitu bentuk sferis sampai tongkat.
Setiap mitokondria memiliki selubung dua lapis, yaitu membran luar dan membran
dalam. Di antara dua membran terdapat ruangan yang berisi cairan koenzima. Perluasan
dari membran dalam mitokondria ke dalam ruang dalam membentuk serangkaian lipatan
yang disebut krista. Krista mitokondria sel tumbuhan lebih pendek bila dibandingkan
dengan sel hewan. Krista berperan di dalam memperluas permukaan dalam mitokondria.
Ruangan yang berada di sebelah dalam krista di sebut matriks mitokondria. Matriks
biasanya homogen, tetapi kadang-kadang mengandung granula.
Mitokondria memiliki 2 fungsi penting, yaitu:
a. Memecah karbohidrat, protein, lemak menjadi molekul yang lebih kecil. Di dalam
proses pemecahan terjadi pemindahan energi. Proses pemecahan berlangsung dalam
beberapa tahap dan setiap tahap dikontrol oleh enzima. Semua reaksi yang
menghasilkan energi ini disebut oksidasi.
b. Energi yang dihasilkan tidak dikeluarkan dalam bentuk panas tetapi dalam bentuk
molekul lain yang mengandung fosfat yang disimpan untuk proses fosforilasi dalam
bentuk ikatan fosfat yang berenergi tinggi yang disebut adenosin triphosfat (ATP).
Molekul ATP ini disekresi mitokondria dan digunakan dalam sel jika diperlukan
energi.
4. Retikulum Endoplasmik
Retikulum endoplasma terdiri dari sistem membran yang dibatasi sisternal (seperti
kantung) yang meluas dalam berbagai tingkatan dari membran inti ke dalam membran
plasma sampai di luar sel. Membran retikulum endoplasma ada yang memiliki ribosom
sehingga disebut dengan retikulum endoplasma kasar (RE kasar atau granuler) atau di
membran tidak terdapat ribosom sehingga disebut retikulum endoplasma halus (RE halus
atau agranuler).
RE kasar berhubungan dengan sintesis protein sedangkan RE halus berhubungan
dengan sintesis lemak, misalnya lipida dari kelenjar sebasea atau hormon steroida. RE
merupakan suatu sitoskeleton yang memberikan permukaan reaksi kimia, jalur untuk
transport bahan, tempat pengumpulan bahan yang disintesis.
5. Ribosoma
Ribosoma adalah granula yang sangat kecil, berukuran kurang dari 1 mikron. Di
dalam mikroskop elektron ribosom tampak sebagai badan yang berbentuk sferis sampai
elips. Ribosoma terdapat di dalam semua sel dan berada di dalam sel yang mensintesis

protein. Ribosoma selain terdapat dalam sitoplasma juga ada yang berikatan dengan
retikulum endoplasma. Fungsi ribosoma berhubungan dengan sintesis protein seluler.
6. Lisosoma
Lisosoma memiliki bentuk sferis, tongkat, atau berbentuk tidak beraturan. Lisosoma
memiliki ukuran 0,4-0,8 mikrometer atau ada yang sampai 5 mikrometer misalnya pada
ginjal mamalia. Lisosoma diitemukan dalam kebanyakan sel hewan dan sel-sel yang
menyusun daerah meristematik tumbuhan. Di dalam lisosoma terdapat enzima
hproteidrolitik. Produk yang berasal dari lisosoma akan dikeluarkan dan masuk ke dalam
mitokondria untuk dipecah selanjutnya pada proses respirasi. Lisosoma juga berhubungan
dengan digesti protein.
7. Sferosoma
Sferosoma biasanya berbentuk sferis, memiliki diameter 0,5-1 mikrometer dan
diselubungi membran. Sferosoma berhubungan dengan sintesis lipida dan bahan-bahan
yang sejenis.
8. Mikrotubuli
Pada tahun 1963 Ledbetter dan Porter pertama kali menunjukkan struktur halus yang
berbentuk tubuler memanjang, terdapat dibagian tepi sitoplasma beberapa sel tumbuhan.
Mikrotubuli biasanya ditemukan menempel pada dinding sel. Diduga mikrotubuli
bertanggung jawab terhadap sintesis selulosa. Srtukur tubulus akan nampak jelas ketika
proses pembelahan, yaitu sebagai benang sitoplasmik.
9. Kompleks Golgi
Beberapa ahli memberikan pendapat tentang pemberian istilah kompleks golgi.
Istilah kompleks golgi umumnya diberikan pada kelompok vertebrata sedangkan diktiosom
diberikan pada kelompok invertebrata dan tumbuhan. Kompleks golgi tidak ditemukan
dalam bakteri dan alga biru. Di dalam sel, kompleks golgi terdiri dari (1) kantung pipih
atau sisterna yang mengumpul secara konsentris; (2) vakuola besar yaitu berupa kantung
pipih yang meluas, terdapat di tepi kompleks; (3) vesikula yang terikat dengan sisterna.
Kompleks golgi berfungsi dalam pembuatan produk sekresi sel, menyimpan dan tempat
terjadinya modifikasi lipida.
3.5 Bentuk-Bentuk Sel
Sel penyusun tubuh tumbuhan memiliki berbagai macam bentuk disesuaikan dengan
fungsinya. Bentuk-bentuk sel meliputi isodiametris, poligonal, benang, silindris, bintang,
bercabang-cabang, taji, ginjal, halter, jarum pentul, bola. Bentuk poligonal di antaranya
kuboid, balok. Sel ada juga yang memiliki bentuk tidak teratur, misalnya pada sel penyusun
parenkima lipatan. Bentuk-bentuk sel dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Gambar 11. Bentuk sel isodiametris pada parenkima korteks akar Impatiens balsamina

Gambar 12. Bentuk sel heksagonal

Gambar 13. Bentuk sel serabut pada serabut sklerenkima xilem tanaman Melaleuca
leucadendron

Gambar 14. Bentuk sel silindris A: trakea xilem, B: parenkima kalus Curcuma heyneana

Gambar 15. Bentuk sel bintang pada parenkima pelepah daun Canna sp.

Gambar 16. Bentuk sel taji pada trikoma daun Sofa max

Gambar 17. Bentuk sel ginjal pada kelompok tumbuhan dikotil.

Gambar 18. Bentuk sel jarum pada trikoma glandular Mucuna puriens

3.6 Pembelahan Sel


Pembelahan sel ditujukan untuk menambah jumlah sel dalam tubuh makhluk hidup
sehingga makhluk hidup dapat tumbuh. Sel-sel baru juga diperlukan untuk menggantikan selsel tubuh yang sudah mati sehingga jumlah sel dalam makhluk hidup tetap. Pembelahan sel
yang demikian terjadi pada sel-sel penyusun tubuh atau sel somatik. Pembelahan sel dapat
juga digunakan untuk bereproduksi membentuk individu baru, seperti proses terbentuknya
zygot.
Reproduksi merupakan salah satu ciri dari makhluk hidup. Pembelahan sel pada
makhluk hidup ada beberapa macam, yaitu: pembelahan aseksual, seksual, dan bertunas.
Pembelahan sel aseksual yang ditujukan untuk bereproduksi terjadi pada mikroorganisme
yang termasuk prokariot. Pembelahan sel pada organisme eukariot yang ditujukan untuk
bereproduksi biasanya melalui perkawinan antara organism jantan dengan betina. Pembelahan
yang demikian disebut dengan pembelahan secara seksual. Pembelahan pada sel khamir
terjadi dengan bertunas.
Pembelahan Aseksual
Organisme prokariot memiliki materi genetik yang belum terwadahi di dalam inti.
Keberadaan gen dibawa oleh molekul DNA yang berikatan dengan protein membentuk
kromosoma. Kromosoma berasal dari kata chromo yang berarti warna dan soma yang
berarti badan, kromosoma dapat mengikat warna tertentu yang digunakan dalam teknik
mikroskopi.
Kromosoma eukariotik lebih kompleks dibandingkan dengan prokariotik. Jumlah
kromosoma organisme eukariotik tergantung pada spesiesnya, sebagai contoh
kromosoma manusia berjumlah 46 sedang pada anjing berjumlah 78. Kromosoma
eukariotik mengalami duplikasi dulu sebelum sel membelah. Belahan kromosoma disebut
kromatid. Kromatid mengandung molekul DNA yang identik dengan DNA kromosoma.
Kromatid saling bertautan, pertautan yang paling lekat terjadi di bagian yang disebut
sentromer. Kromatida saling berpisah pada saat sel membelah, masing-masing kromatida
tadi menjadi kromosoma yang identik dengan kromosoma asal. Masing-masing
kromosoma baru menuju ke sel anakan sehingga sel anakan memiliki jumlah kromosoma
sesuai dengan induknya.
Siklus Pembelahan Sel
Siklus pembelahan sel meliputi dua tahapan besar, yaitu interfase dan fase mitotik.
Sel pada saat interfase (istirahat membelah) melakukan metabolisme secara aktif dan
bertugas aktif menjalankan fungsinya. Sel dalam fase ini menaikkan suplai protein,
membentuk banyak organel sitoplasmik seperti mitokondria dan ribosoma, serta
menambah besar ukuran sel.
Interfase dibagi menjadi 3 tahap, yaitu G1, S, dan G2. Sel tumbuh dalam ketiga
subtahap tersebut tetapi kromosoma hanya mengalami duplikasi pada subtahap S.
Kromosoma pada subtahap S awal hanya tunggal sedang pada tahap akhir masing-masing
kromosoma mengandung 2 kromatid. Tahap G2 sel melanjutkan pertumbuhan dan
mempersiapkan diri untuk membelah.
Fase mitotik dibagi menjadi 2 tahap yaitu fase mitosis dan sitokinesis. Nukleus dan
isinya termasuk kromosoma membelah dan terbagi dalam 2 inti anakan. Tahap ini juga
disebut kariokinesis, selanjutnya sitoplasma terbagi 2 mengelilingi inti anakan, kemudian
terbentuk dinding pemisah, jadi dari satu sel induk menjadi 2 sel anakan.

Biologiawan membedakan fase-fase pembelahan menjadi 5 fase (tahap), yaitu: 1)


profase, 2) metafase, 3) anafase, 4) telofase, dan 5) interfase. Ciri-ciri setiap fase sebagai
berikut.
1. Profase
Serabut kromatin dalam inti menggulung rapat dan melipat, tampak sebagai
kromosoma yang berpisah-pisah, nukleoli menghilang, kemudian kromosoma
membelah menjadi 2 kromatid yang saling bertautan pada sentromer. Spindel mitotik
dalam sitoplasma mulai terbentuk, mikrotubuli tumbuh cepat keluar dari sentrosoma
(pada hewan) kemudian bergerak ke luar dari masing-masing kromosoma.
2. Prometafase
Dinding inti pecah menjadi beberapa fragmen kemudian lenyap. Mikrotubuli
yang muncul dari sentrosoma di kutub mencapai sentromer di kromosoma. Setiap
kromatid memiliki protein yang disebut kinetochore yang dilekati beberapa
mikrotubuli yang memacu kromosoma untuk bergerak menuju ke tengah sel (bidang
equatorial).
3. Metafase
Benang spindel tidak terbentuk sempurna (fragmoplas) dan kromosoma berjajar
di bidang equatorial. Ke-2 kinetochore menghadap masing-masing kutub. Stadium ini
kalau dilihat dari atas menunjukkan gambaran seperti bintang, masing-masing
kromosoma berbentuk lengan dari bintang; maka disebut juga aster stadium.
4. Anafase
Anafase dimulai dari lepasnya ikatan kedua kromatid. Kromatid yang
berpasangan masing-masing bergerak ke arah kutub membentuk dua bidang yang
saling menjauh kalau di lihat dari atas maka disebut disaster stadium. Semua
kromatida mengumpul dikedua kutub masing-masing.
5. Telofase
Telofase merupakan gerakan kembali ke semula, semua kromosoma mengumpul
di masing-masing kutub, benang-benang kromatin menjadi longgar dan terbentuk
dinding inti sehingga terjadi dua inti anakan. Benang spindel menghilang pada akhir
telofase.
6. Sitokinesis
Sitokinesis terjadi setelah sitoplasma terbagi 2 mengelilingi inti anakan dan
terjadi bidang pemisah sehingga terbentuk 2 sel anakan.

Kesimpulan
Mitosis adalah proses pembelahan inti yang diikuti oleh pembelahan sel sehingga
menghasilkan 2 sel anakan yang memiliki jumlah kromosoma sama dan identik dengan
induknya. Sel anakan bersifat diploid.
Meiosis merupakan tipe pembelahan sel yang menghasilkan gamet yang bersifat
haploid dari organisme yang diploid. Meiosis dimulai dari replikasi kromosoma seperti
mitosis yang diikuti oleh pembelahan 2 sel yang disebut dengan meiosis I dan meiosis II.
Pembelahan ini menghasilkan 4 sel anakan. Dua sel anakan dari mitosis masing-masing
memiliki 1 set kromosoma (haploid) sehingga meiosis menghasilkan 4 sel anakan dengan
jumlah kromosoma setengah induknya. Fase-fase di dalam meiosis I, dijelaskan sebagai
berikut.
1. Interfase
Seperti yang terjadi dalam mitosis, kromosoma mengalami duplikasi selanjutnya
membelah menjadi kromatid yang identik serta saling berlekatan, tetapi kromosoma tidak
terlihat secara mikroskopik tetapi yang terlihat hanya massa kromatin.
2. Profase I
Kromatin menggulung sehingga kromosoma tampak secara mikroskopik. Proses ini
disebut dengan sinapsis yang ditandai dengan adanya 2 kromosom homolog yang masingmasing terdiri dari 2 kromatid, bentukan ini disebut tetrad. Kromatid kedua kromosom
homolog bertukar segmen selama sinapsis, proses ini dinamakan crossing over. Kromosom
dari satu kromatid mungkin berbeda dengan pasangan homolognya, kemudian terjadi
penyatuan kembali informasi genetik. Nukleoli menghilang pada saat kromosoma
berkondensasi, membran inti pecah menjadi beberapa fragmen dan tetrad kromosom keluar
menuju bidang equatorial.
3. Metafase I
Tetrad kromosom menempatkan diri pada bidang equatorial dengan masing-masing
kromosoma terkondensasi dan tebal. Masing-masing kromatid masih dalam keadaan terikat
kemudian mikrotubuli spindel melekat pada kinetochore di sentromer. Setiap tetrad dari
kromosom homolog saling berikatan dengan sisi crossing over. Masing-masing
kromosoma tadi ditarik ke kutub.
4. Anafase I
Kromosoma berpindah ke kutub, setelah pindah kromosoma membelah lagi sehingga
tampak ada dobel kromosoma. Masing-masing dobel kromosoma pecah, dan menuju
kutub.
5. Telofase I
Setelah kromosoma mengumpul pada kutub-kutubnya, kemudian terjadi sitokinesis
hingga terbentuk 2 sel anakan yang bersifat haploid. Fase-fase pada meiosis II sama
dengan fase-fase pada mitosis, hanya diawali oleh 2 sel anakan yang bersifat haploid.

Perbandingan tahapan pembelahan mitosis dan meiosis dapat dilihat pada gambar berikut.

BACAAN IV
HISTOLOGI

4.1 Pengantar Materi


Pertanyaan 1-5 mengantar saudara untuk memahami arti dan macam jaringan yang
menyusun tubuh tumbuhan!
1. Apakah sel-sel yang menyusun bagian kayu memiliki susunan yang sama dengan sel-sel
helaian daun, atau daging buah; berikan pendapat saudara!
..................................................................................................................................................
..................................................................................................................................................
2. Apakah sel-sel yang menyusun bagian kayu memiliki fungsi sama dengan sel-sel helaian
daun, atau daging buah; berikan pendapat saudara!
..................................................................................................................................................
..................................................................................................................................................
3. Apakah sel-sel yang menyusun bagian kayu, helaian daun, dan daging buah; berasal dari sel
induk yang sama; berikan pendapat saudara!
..................................................................................................................................................
..................................................................................................................................................
4. Berdasarkan jawaban pertanyaan 1-3 rumuskanlah pengertian jaringan!
..................................................................................................................................................
..................................................................................................................................................
5. Saudara dapat menjawab pertanyaan ini setelah mempelajari materi histologi tumbuhan
terlebih dahulu!
a. Sebutkan macam-macam jaringan yang terdapat dalam pertanyaan 1 atau 2!
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
b. Lengkapilah macam-macam jaringan yang belum muncul dalam jawaban no. 5.a.
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................

4.2 Jaringan
Jaringan adalah sekelompok sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Jaringan
yang terdapat di dalam tubuh tumbuhan bermacam-macam. Bentuk sel penyusun jaringan
disesuaikan dengan fungsi jaringan. Pengelompokan jenis jaringan dapat dilakukan berdasar:
a) asalnya, b) sifatnya, c) fungsinya, serta d) jenis sel penyusunnya.
Jaringan dapat berasal dari embrio, jaringan sebelumnya, atau jaringan lainnya. Jaringan
dapat tumbuh dan berkembang sehingga ada jaringan yang sel penyusunnya masih dapat
tumbuh dan berkembang, jaringan demikian disebut jaringan muda, sedangkan jaringan yang
sudah tidak mengalami pertumbuhan dan perkembangan disebut jaringan dewasa atau
jaringan permanen.Jaringan muda sel-sel penyusunnya terus membelah atau bersifat
meristematik.
Jaringan menurut fungsinya dibedakan menjadi jaringan: dasar, penunjang, pengangkut,
pelindung, meristem. Jaringan menurut asalnya, ada jaringan primer dan sekunder. Jaringan
menurut sifatnya dibedakan menjadi jaringan muda dan jaringan dewasa.
1. Jaringan menurut asalnya
Jaringan penyusun tubuh tumbuhan berasal dari embrio yang terdapat di dalam biji.
Jaringan yang berasal dari embrio disebut jaringan primer. Embrio mengandung jaringan
calon batang beserta calon daun dan akar yang akan membentuk organ-organ tersebut.
Pertumbuhan pada tumbuhan disebabkan oleh pertumbuhan jaringan penyusun yang
berasal dari embrio, pertumbuhan demikian dinamakan pertumbuhan primer. Sel-sel
jaringan primer akan tumbuh dan berkembang mencapai ukuran tertentu dan dapat
berfungsi secara maksimal menghasilkan jaringan dewasa. Jaringan dewasa tidak memiliki
sifat meristematik sehingga tidak dapat membelah atau tumbuh lagi.Jaringan dewasa yang
dalam keadaan tertentu dapat bersifat meristematik kembali membentuk meristem
sekunder. Jaringan yang berasal dari pembelahan sel-sel meristem sekunder disebut
jaringan sekunder. Contoh jaringan sekunder: kambium, kambium intervasikuler, dan
kambium gabus.

4.3 Meristem
Meristem pada tumbuhan terdapat di daerah pucuk atau ujung dari batang, akar, dan
daun. Meristem yang terdapat di antara kedua ujung disebut meristem interkalar. Meristem
yang terletak di samping disebut meristem lateral. Meristem ujung batang membentuk
daun dan memperpanjang batang, sedang meristem ujung akar akan memperpanjang akar.
Meristem interkalar akan memperpanjang ruas batang dan meristem lateral (samping) yang
biasa disebut kambium akan memperluas atau menambah diameter batang.
Pertumbuhan memanjang baik akar atau batang dilakukan oleh meristem primer
sedang pertumbuhan membesar dilakukan oleh meristem sekunder. Beberapa teori

meristem dikemukakan beberapa ahli anatomi. Teori-teori tersebut meliputi teori: sel
apikal, histogen, meristemdasar, dan tunika korpus.
a) Teori Sel Apikal
Teori ini dikemukakan oleh Nageli.Teori ini mengatakan bahwa titik tumbuh
terdiri dari satu sel yang berbentuk tetraeder , terdapat pada ujung dan letaknya terbalik.
Bagian runcing di bawah dan bagian dasar terletak di atas. Sel yang berbentuk tetraeder
tersebut membelah ke segala arah, membentuk banyak sel yang selanjutnya mengalami
diferensiasi menjadi jaringan penyusun tubuh tumbuhan.

Gambar 2. Sel Tetraeder (st) pada bagian apikal tumbuhan paku. Sumber: dokumen
pribadi.
b) Teori Histogen
Teori histogen dikemukakan oleh Hanstein, menyatakan bahwa meristem (titik
tumbuh) terdiri dari 3 lapisan jaringan. Lapisan terluar disebut dermatogen, yang akan
membentuk epidermis yang menyelubungi seluruh tubuh tumbuhan. Lapisan terdalam
disebut plerome, yang akan membentuk stele. Stele berisi jaringan angkut dan jaringan
lainnya. Lapisan di antara dermatogen dan plerome dinamakan periblem, yang akan
membentuk korteks.
c) Teori Meristem Dasar
Teori ini dikemukakan oleh Haberlandt. Teori meristem dasar menyatakan bahwa
meristem terdiri dari 4 daerah, yaitu: promeristem yang akan membentuk meristem,
prokambium yang akan membentuk jaringan berkas pengangkut, meristem dasar yang
akan membentuk jaringan dasar sebagai pengisi seluruh tubuh tumbuhan, dan jaringan
protoderm yang akan membentuk epidermis.
Promeristem akan membelah membentuk jaringan yang tetap meristematik dan
sebagian lagi menjadi jaringan dewasa. Prokambium akan membentuk jaringan xilem,
floem, dan kambium. Protoderm akan membentuk epidermis dan derivatnya. Jaringan
meristem dasar akan membentuk parenkima yang mengisi seluruh tubuh tumbuhan.

d) Teori Tunika Korpus


Teori Tunika Korpus dikemukakan oleh Alexander Schmidt. Teori ini
mengatakan bahwa meristerm terdiri dari 2 daerah yang disebut daerah tunika dan
korpus. Tunika akan menghasilkan epidermis dan sebagian korteks, sedangkan korpus
akan membentuk sebagian korteks dan stele. Korteks meliputi: parenkima
korteks,jaringan penguat, dan lain-lain. Stele meliputi parenkima stele, xilem danfloem,
serta empulur kalau ada.
4.4 Jaringan Sederhana
Jaringan sederhana hanya tersusun dari satu jenis saja. Contoh-contoh jaringan
sederhana di antaranya jaringan dasar dan penguat. Jaringan sederhana hanya memiliki
satu fungsi saja.
a. Jaringan Parenkima
Parenkima merupakan jaringan yang mengisi seluruh tubuh tumbuhan. Jaringan
ini dapat mengalami dediferensiasi menjadi jaringan yang meristematik yang sel-selnya
dapat membelah terus. Parenkima di sebut juga jaringan dasar atau jaringan pengisi.
Jaringan ini dibentuk oleh meristem dasar (ground meristem) seperti yang dikemukakan
oleh Haberlandt dalam teorinya yang disebut teori meristem dasar. Parenkima ada
bermacam-macam fungsi tergantung bentuk sel penyusunnya.
Sel-sel penyusun parenkima pada umumnya berdinding tipis, kaya sitoplasma,
dan berorganel lengkap. Sel-sel parenkima dapat berbentuk: isodiametris, silindris,
bintang, atau seperti tulang. Sel-sel parenkima dapat tersusun rapat atau membentuk
ruang antar selyang kecil-kecil atau ruang antar sel yang luas.
Parenkima yang tersusun dari sel-sel berbentuk bintang disebut parenkima bintang
(aktinenkima). Parenkima yang tersusun dari sel-sel berbentuk isodiametris dan
memiliki ruang antar sel kecil-kesil sehingga seperti spons disebut parenkima sponsa.
Parenkima yang tersusun dari sel-sel berbentuk silindris dan tersusun rapat disebut
parenkima tiang (palisade parenkima). Parenkima bintang seringkali memiliki ruang
antar sel yang luas sehingga dapat digunakan untuk menyimpan udara. Parenkima yang

memiliki ruang antar sel luas dinamakan aerenkima. Aerenkima umumnya terdapat
pada pelepah daun terutama tumbuhan air, sehingga tumbuhan air dapat mengapung.
Parenkima yang terdapat di dalam mesofil daun pada umumnya mengandung
kloroplas sehingga menyebabkan daun berwarna hijau. Parenkima yang mengandung
kloroplas disebut klorenkima. Fungsi dari klorenkima untuk berfotosintesis. Parenkima
dapat juga mengandung pigmen-pigmen lain, seperti antosianin dan flavonoida,
parenkima yang demikian umumnya terdapat pada mahkota bunga sehingga bunga
berwarna-warni.

Parenkima ada juga yang berisi cadangan makanan yang berupa butir amilum,
tetes minyak, minyak atsiri, lendir,protein (butir aleuron), parenkima tersebut
dinamakan parenkima cadangan. Parenkima-parenkima ini biasanya terdapat dalam biji,
umbi akar, umbi batang,buah, bunga, daun, dan batang. Berbagai kristal kalsium oksalat
juga mungkin ditemukan pada sel-sel parenkima, demikian juga getah dihasilkan oleh
parenkima yang berfungsi sebagai jaringan sekretori.

4.5 Jaringan Penguat


Jaringan penguat disebut juga dengan stereom. Sel-sel penyusun jaringan ini dinding
selnya memiliki penebalan. Penebalan dinding sel dapat tersusun dari selulosa, lignin,
pektin. Jaringan penguat dapat digolongkan menjadi 2 yaitu kolenkima dan sklerenkima.
1) Kolenkima
Kolenkima biasanya terdapat di daerah permukaan batang, di bawah epidermis
batang atau kosta, tangkai daun, tangkai bunga. Kolenkima terdapat pada organ yang
masih mengalami pertumbuhan. Jaringan ini bersifat plastis dan sel penyusunnya hidup.
Penebalan dinding sel penyusunnya tidak merata. Kolenkima dapat berupa lingkaran
yang utuh atau berkelompok terputus-putus. Penebalan dinding sel dapat terjadi pada
sudut-sudut sel yang demikian itu dinamakan kolenkima sudut atau anguler. Kolenkima
lameler memiliki penebalan pada dinding luar dan dinding dalamnya berkesinambungan
antara sel yang berbatasan sehingga berbentuk seperti pita kolenkima lakuner, dinding
sel penyusunnya menebal pada daerah yang berbatasan pada ruang antar sel. Tumbuhan
yang termasuk dalam Family Apocynaceae, seperti Alamanda, Nerium oleander
memiliki kolenkima yang sel penyusunnya menebal di seluruh bagian sehingga lumen
tampak bulat dan dikelilingi penebalan berbentuk cincin. Kolenkima yang demikian
dinamakan kolenkima annuler atau cincin.
Penelitian yang pernah dilakukan Murwani, dkk (1995) menunjukkan bahwa
dalam satu tumbuhan dapat ditemukan 3 bentuk kolenkima yaitu kolenkima lakuner,
lameler, dan anguler. Kolenkima dapat berubah menjadi meristematik kembali
membentuk felogen.

2) Sklerenkima
Jaringan penguat yang terdapat di dalam organ-organ yang masih tumbuh tetapi
terutama di organ yang sudah tidak mengalami pertumbuhan, di sekeliling berkas
pengangkut dan pada batang monokotil atau pada akar dikotil. Penebalan dinding sel
sklerenkima berupa selulosa dan lignin. Sel-sel sklerenkima umumnya sudah mati.
Jaringan tersebut bersifat elastis . Bentuk sel penyusun sklerenkima ada 2 macam yaitu
sel serabut dan sel batu. Sklerenkima yang berbentuk serabut disebut sklerenkima dan
yang berbentuk batu disebut sklereida.
Serabut sklerenkima ada yang pendek dan ada yang panjang, sehingga tumbuhan
yang banyak mengandung serabut sklerenkima digunakan sebagai tanaman serat.
Contoh-contoh tanaman serat di antaranya rosella, rami, Agave,kelapa. Sklereida yang

berbentuk silindris dengan dinding tebal disebut makrosklereida yang terdapat pada
kulit biji kacang-kacangan. Osteosklereida, penebalan dinding selnya berbentuk seperti
tulang, dinding bagian dalam dan luar tipis sedangkan dinding samping tebal.
Osteosklereida pada umumnya terdapat pada kulit biji Pisum sativum. Trikosklereida
berbentuk seperti rambut, kedua ujungnya runcing, terdapat di antara sel-sel aerenkima,
alat pengampung enceng gondok (Eichornia crassipes).Asterosklereida memiliki
bentuk sel yang berlengan, terdapat pada daun teh (Camellia sinensis).

4.6 Jaringan Kompleks


Jaringan kompleks tersusun lebih dari satu jenis sel dan memiliki fungsi lebih dari
satu. Sebagai contoh jaringan kompleks adalah jaringan pengangkut dan jaringan
pelindung.
1) Jaringan Pengangkut
Jaringan pengangkut terdiri dari 2 macam , yaitu xilem dan floem.
a. Xilem
Jaringan yang mengangkut air dan zat-zat yang terlarut di dalamnya dari akar
menuju daun disebut xilem. Xilem terdiri dari beberapa macam sel, yaitu sel
parenkimaxilem, serabut xilem, sel buluh trakea,dan trakeida. Sel buluh trakea dan
trakeida disebut unsur vassal. Sel parenkimaxilem bertugas memberi makan sel
buluh. Sel serabut sklerenkima berfungsi sebagai penguat. Sel trakea dan trakeida
berfungsi sebagai jalan atau saluran pengangkut air.

Sel-sel trakeadan trakeida memiliki penebalan dinding dengan berbagai pola.


Bentuk penebalan dapat berupa cincin, sehingga buluhnya disebut buluh cincin;
penebalan buluh juga dapat berbentuk spiral, jala, noktah. Nama buluh disesuaikan
dengan penebalan dinding selnya. Penebalan dinding trakea dan trakeida terdiri
darilignin, sehingga sebagai pengangkut, xilem juga berfungsi sebagai
penguat.Tumbuhan Gymnospermae tidak memiliki trakea.

b. Floem
Floem berfungsi untuk mengangkut makanan dari daun ke seluruh tubuh
tumbuhan. Floem juga tersusun dari jenis sel seperti: parenkima floem, serabut
sklerenkima, buluh tapis, dan sel pengiring. Sel pengiring diduga sebagai pemberi
makan pada buluh tapis dan penutup luka. Serabut sklerenkima juga berfungsi
sebagai penguat. Pada umumnya serabut sklerenkima pada floem bersifat lentur
sering disebut dengan libiform. Buluh tapis memiliki penebalan dinding yang tidak
merata, antar buluh memiliki noktah-noktah. Floem selalu terdapat bersamaan
dengan xilem, sehingga selain sebagai pengangkut juga berfungsi sebagai penguat.
Unsur-unsur penyusun floem disebut sebagai unsur kribal. Tumbuhan yang termasuk
kelompok Gymnospermae tidak memiliki sel pengiring, peran sel pengiring
digantikan oleh sel albuminus. Satu sel buluh tapis dapat didampingi lebih dari satu
sel pengiring. Sel pengiring masih memiliki inti dan bersifat hidup.

Tipe-Tipe Berkas Pengangkut


Xilem dan floem selalu bersama -sama membentuk suatu berkas yang dinamakan
berkas pengangkut. Berbagai berkas pengangkut ditemukan pada berbagai organ dan

kelompok tumbuhan seperti monokotil dan dikotil. Berkas pengangkut ditemukan


berkesinambungan mulai dari akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji. Tipe berkas
pengangkut pada akar baik dikotil dan monokotil disebut tipe radial karena letak xilem dan
floem berganti-ganti ke arah pusat.

Berkas pengangkut pada batang monokotil berbeda dengan batang dikotil. Berkas
pengangkut pada batang monokotil disebut tipe kolateral tertutup, karena floem berada di
sebelah luar xilem dan tidak dibatasi oleh kambium. Oleh karena itu, batang monokotil
pembesaran ke sampingnya lambat. Berkas pengangkut pada dikotil memiliki letak xilem dan
floem sama seperti monokotil, tetapi di antara xilem dan floem terdapat kambium. Adanya
kambium pada dikotil menyebabkan letak xilem primer dan floemprimer akan berjauhan
setelah kambium membentuk xilem sekunder dan floem sekunder. Tipe berkas pengangkut
pada dikotil disebut kolateral terbuka.

Pada Cucurbitaceae atau berkas pengangkut di costa Nerium oleander memiliki


penyimpangan tipe berkas pengangkut (anomali) karena terdapat 2 floem, yaitu floem luar
dan floem dalam yang dipisahkan oleh xilem dan kambium. Antara floem luar dengan xilem
terdapat kambium, sedang antara xilem dengan floem terdapat kambium penghubung.
Penyimpangan yang lain terjadi jika floem mengelilingi xilem atau sebaliknya.Tipe berkas
pengangkut yang demikian disebut tipe konsentris. Tipe konsentris amfivasal terjadi bila
floem dikelilingi xilem, sebaliknya jika xilem dikelilingi floem disebut konsentris amfikribal.
Contoh konsentris amfivasal terdapat padabatang Aloe, contoh tipe konsentris amfikribal
terdapat pada filamentum Lilium.

Sistem Jaringan

Sistem jaringan terdiri dari beberapa jaringan yang memiliki satu fungsi. Sistem
jaringan pada tumbuhan terdiri dari 3 sistem, yaitu: pelindung (epidermis dan derivatnya),
kulit (kortek), dan silinder pusat (stele).
Epidermis tersusun dari sel-sel yang dinding luarnya dilapisi kutikula, susunan selnya
rapat sehingga dapat mencegah penguapan yang berlebihan. Sel-sel epidermis ada yang
membentuk tonjolan-tonjolan ke luar yang pendek atau panjang, dan membentuk celah yang
diapit oleh sel penutup. Celah beserta sel penutup tadi dinamakan stoma. Semua derivat
epidermis berfungsi untuk melindungi bagian dalam tubuh tumbuhan sehingga sistemnya
disebut dengan sistem jaringan pelindung. Epidermis pada tumbuhan yang termasuk Poaceae
dan Cyperaceae membentuk sel yang susunannya seperti kipas, yang disebut dengan sel kipas.

Sistem jaringan teridri dari: sistem jaringan pelindung (epidermis), sistem jaringan kulit
(korteks), dan sistem jaringan silinder pusat (stele).
1) Derivat epidermis yang berbentuk tonjolan
Tonjolan yang pendek pada umumnya tidak dibatasi oleh sekat dan berbentuk
setengah bola disebut papilla. Papila pada umumnya terdapat pada epidermis dan mahkota
bunga sehingga apabila diraba akan teras seperti beludru.
Tonjolan yang panjang umumnya dibatasi oleh sekat disebut trikoma. Trikoma ada
yang hanya terdiri dari satu sel panjang, ada pula yang terdiri dari beberapa sel membentuk
satu deretan (uniseriate) atau beberapa deretan (multiseriate). Trikoma yang demikian
disebut rambut penutup. Fungsi trikoma ini untuk mencegah penguapan. Trikoma ada yang
membentuk kelenjar di bagian ujungnya seperti trikoma yang terdapat pada daun Nicotiana
tabacum sehingga daun tembakau menghasilkan nikotin, yang jika digunakan dalam
jumlah sedikit akan menimbulkan rasa segar, tetapi dalam jumlah banyak nikotin berfungsi
sebagai depresan. Pembentukan kelenjar mungkin terjadi pada bagian basal seperti pada
trikoma daun Artocarpuscommunis, Fleeorga interrupta yang jika tersentuh akan
mengeluarkan suatu zat asam formiat sehingga menimbulkan rasa gatal dan pedih.
Trikoma yang demikian dinamakan trikoma glanduler (kelenjar). Trikoma glanduler pada
umumnya digunakan untuk perlindungan terhadap serangan makhluk lain.
Trikoma glanduler ada yang berbentuk sisik dengan satu sel tangkai tangkai dan sel
kepala yang berjumlah: 2, 4, 6, atau 8. Contoh trikoma demikian terdapat pada tanaman
Ortosiphon stamineus, Mentha piperita, Baileria sp. (landep), dan lain-lain. Trikoma
glanduler pada Mentha menghasilkan mentol.

Tonjolan epidermis yang diikuti oleh jaringan didalamnya disebut emergensia.


Contoh dari emergensia adalah duri pada jeruk dan cabang akar.
2) Stoma
Stoma merupakan derivat epidermis yang berbentuk celah diapit oleh dua sel
penutup. Sel tetangga adalah sel epidermis yang berbatasan langsung dengan sel penutup.
Sel penutup biasanya berbentuk ginjal, tetapi pada Poaceae dan Cyperaceae ditemukan sel
penutup berbentuk halter.

Stoma pada dikotil, menurut Metcalfe dan Chalk dibagi menjadi lima macam.
Pembagian ini didasarkan pada jumlah sel tetangga yang mengelilingi sel penutup.
Pembagian stomata menurut Metcalfe dan Chalk meliputi: parasitik, diasitik, anomositik,
dan anisositik.
a. Parasitik
Stoma tipe parasitik memiliki sel penutup berbentuk ginjal dikelilingi 2 sel
tetangga yang memiliki posos panjang sejajar dengan panjang sel penutup atau stoma.
Contoh stoma tipe ini dimiliki oleh Family Rubiaceae.

Gambar16. Stomata tipe parasitik


b. Diasitik
Stoma tipe diasitik memiliki sel penutup berbentuk ginjal dikelilingi 2 sel
tetangga yang memiliki posos tegak lurus dengan panjang sel penutup atau stoma.
Contoh stomatipe ini dimiliki oleh Orthosiphonstamineus.

Gambar 17. Stomata tipe diasitik


c. Anisositik
Stoma tipe anisositik memiliki sel penutup berbentuk ginjal dikelilingi 1 sel
tetangga, salah satu sel tetangga berukuran lebih kecil atau lebih besar dari dua sel
tetangga lainnya. Contoh stoma tipeini dimiliki oleh Nicotiana tabacum.

Gambar 18. Stomata tipe anisositik


c. Anomositik
Stoma tipe anomositik memiliki sel penutup berbentuk ginjal. Sel tetangga stoma
tipe anomositik tidak dapat dibedakan dengan sel epidermis atau dapat dikatakan tidak
memiliki sel tetangga. Contoh stoma tipe ini dimiliki oleh Cucurbita sp.

Gambar 19. Stomata tipe anomositik


Sel penutup stoma biasanya memiliki kloroplas sehingga dapat berfotosintesis. Arah
membuka sel penutup stoma dengan penebalan dinding sel penutup tidak merata dapat
sejajar,tegak lurus, atau miring terhadap permukaan sel epidermis. Stoma dapat
dikelompokkan berdasarkan letak porus terhadap permukaan epidermis. Stomata yang
memiliki porus sejajar dengan permukaan epidermis disebut faneropor sedangkan stoma
yang memiliki letak porus di bawah permukaan epidermis disebut kriptopor.
Tipe stomata pada monokotil biasanya dikelilingi 4, 6, 8 sel tetangga. Jika dikelilingi
oleh 4 sel tetangga disebut tetrasitik. Stoma berfungsi sebagai jalan keluar-masuknya udara
saat fotosintesis dan bernafas. Jumlah stomata per-mm pada setiap jenis tanaman berbeda
sehingga penghitungan indeks stomata dapat digunakan sebagai ciri tambahan untuk
identifikasi tanaman. Indeks stomata adalah persentase perbandingan antara jumlah
stomata dengan jumlah stomata yang ditambah jumlah sel epidermis pada satuan luas 1
mm 2 yang dikalikan dengan angka 100. Indeks stomata dihitung dengan rumus:
keterangan
I: indeks stomata
S: jumlah stomata
E: jumlah sel epidermis.

QUOTE

4.7 Sistem Jaringan Kulit (Korteks)


Sistem jaringan korteks tersusun atas berbagai macam jaringan yang meliputi:
jaringan dasar, jaringan penguat, jaringan sekretorik (kalau ada),dan endodermis. Jaringan
penguat dapat terdiri dari kolenkima, sklerenkima, atau kombinasi antara kolenkima dan

sklerenkima. Endodermis pada umumnya terdiri dari selapis sel dan bersifat parenkimatis.
Jika mengalami penebalan mula-mula terjadi pada dinding radial diikuti dinding dalam
sehingga penebalan berbentuk U. Endodermis dapat terdiri lebih dari 1 lapis dan tersusun
dari sel batu seperti yang terjadi pada korteks Cinamomumburmani. Sel-sel lendir terdapat
pada batang Hibiscus rosasinensis, sel damar pada Pinus merkusii, sel minyak atsiri pada
rimpang Zingiber officinalis, sel getah pada batang Euphorbia sp.
4.8 Silinder Pusat (Stele)
Sistem jaringan stele terdiri dari perisikel yang umumnya terdiri dari 1 lapis sel
parenkimatis yang bersifat hidup, kemudian jaringan angkutxilem dan floem, dan empulur
(jika ada). Jaringan angkut terdiri dari xilem danfloem. Jaringan angkut pada dikotil
terdapat kambium dan pada monokotil tidakterdapat kemabium. Pada silinder pusat
beberapa tanaman memiliki jaringan sekretori. Tipe stele ada bermacam-macam. Tipe stele
didasarkan pada tipeberkas pengangkut dan jaringan penyusun yang lain. Tipe stele
meliputiprotostele, eustele, diktiostele, ataktostele, dan aktinostele.
1) Protostele
Protostele merupakan tipe stele yang paling sederhana, karena di dalam stele
hanya berisi berkas pengangkut saja. Protostele terdapat pada akar yang belum
mengalami pertumbuhan sekunder. Aktinostele merupakan contoh stele yang termasuk
dalam protostele. Tipe aktinostele memiliki tipe berkas pengangkut radial. Di dalam
berkas pengangkut radial letak jari-jari xilem bergantian dengan jari-jari floem. Dalam
tipe berkas pengangkut radial, jari-jari xilem tampak seperti lengan suatu bintang
sehingga tipe stele yang memiliki berkas pengangkut demikian disebut aktinostele.

2. Eustele
Eustele umumnya terdapat pada batang dikotil. Empulur terdapat di bagian paling
tengah dari eustele. Empulur di kelilingi oleh berkas pengangkut yang tersusun
melingkar. Di antara berkas pengangkut ditemukan jaringan parenkima. Eustele
biasanya memiliki tipe berkas pengangkut kolateral terbuka.

3. Diktiostele
Diktiostele memiliki susunan yang sama dengan eustele, hanya tipe berkas
pengangkut pada diktiostele memiliki tipe konsentris.

4. Ataktostele
Ataktostele terdapat pada batang monokotil. Berkas pengangkut pada ataktostele
terletak tersebar dan tidak teratur dan umumnya bertipe kolateral tertutup.

BACAAN V
ORGAN VEGETATIF

5.1 Tubuh Tumbuhan dan Bagian-Bagiannya


Tumbuhan dapat terdiri dari satu sel atau berjuta-juta sel. Struktur Perkembangan
Tumbuhan menitikberatkan pembelajaran pada tumbuhan yang multiseluler terutama
tumbuhan yang termasuk paku-pakuan (Pteridophyta) dan tumbuhan berbiji (Spermatophyta).
Kedua kelompok tumbuhan tadi mempunyai tubuh yang jelas terlihat dengan mata telanjang.
Tubuh tumbuhan tersebut dinamakan kormus.
Kormus terdiri dari tiga bagian pokok, yaitu: akar yang umumnya terdapat di dalam
tanah, batang yang umumnya berada di udara, mendukung bagian-bagian lain yang disebut
daun. Ketiga bagian tersebut dinamakan organ.

Tumbuhan paku-pakuan (Pteridophyta) setelah dewasa akan membentuk sporangium


pada daunnya. Daun yang menghasilkan sporangium dinamakan sporofil. Spora dihasilkan
oleh sporangium. Spora merupakan alat perkembangbiakan dari Pteridophyta. Spermatophyta
(tumbuhan berbiji) menghasilkan bunga yang nanti akan manjadi buah dan mengandung biji
sebagai alat perkembangbiakan.
Tumbuhan pada umumnya paku-pakuan batangnya kurang berkembang dan berada di
dalam tanah. Paku tiang (Alsophilla sp.) mempunyai batang tegak menjulang di udara.
Spermatophyta pada umumnya mempunyai batang yang berada di atas tanah, tetapi ada juga
yang merayap di dalam tanah. Daun-daun terdapat pada batang dan cabang. Daun dan cabang
berasal dari tunas batang yang merupakan perkembangan dari meristem ujung batang. Tunas
mungkin juga terdapat pada ketiak daun. Tunas pada umumnya berupa kuncup (gemma). Ada
dua macam gemma yaitu gemma folifora yang akan menjadi daun, dan gemma alabastrum
atau florifora yang akan membentuk bunga. Alat-alat tambahan yang merupakan tonjolan dari
epidermis yang diikuti oleh jaringan di sebelah dalamnya juga dapat ditemukan di batang.
Tonjolan yang hanya berasal dari sel epidermis disebut rambut (trikoma) atau bulu (pilus).
Sisik ditemukan pula pada batang di samping lenti sel yang tampak sebagai sisik-sisik pada
permukaan batang. Duri (spina) mungkin ditemukan pada batang tumbuhan tertentu seperti
mawar (Rosa sp.), randu (Ceiba pentandra), dadap (Erythrina sp.), jeruk (Citrus sp.) dan lain-

lain. Duri merupakan penjelmaan dahan atau daun. Contoh duri yang merupakan penjelmaan
dari daun, misalnya duri yang terdapat pada kaktus.
Beberapa batang tumbuhan yang merambat (liana) mempunyai alat pembelit (cirrhus)
yang dapat berasal dari dahan atau cabang. Sebagai contoh cirrhus ditemukan pada tanaman
Sechium edule (labu siam, manisah, jipang). Batang dapat berada di dalam tanah dan
merupakan cadangan makanan. Batang tersebut dinamakan umbi batang. Kentang (Solanum
tuberosum) merupakan contoh umbi batang. Batang dapat juga bersama-sama dengan daun
menjelma menjadi umbi lapis (bulbus) sebagai contoh bawang merah (Allium cepa) dan
bawang putih (Allium sativum). Rhizoma juga merupakan penjelmaan batang dan daun yang
merayap di dalam tanah, yang pada umumnya juga sebagai penyimpan cadangan makanan.
Contoh tumbuhan yang membentuk rhizoma adalah tumbuhan yang termasuk dalam familia
Zingiberaceae. Rhizoma disebut juga dengan akar rimpang.
Organ pada tumbuhan yang berfungsi untuk melangsungkan kehidupan tumbuhan
disebut organum nutritivum, sedangkan organ yang berfungsi untuk menghasilkan keturunan
disebut organum reproduktivum. Organum nutritivum disebut juga alat hara atau organ
vegetatif. Organum reproduktivum disebut juga alat perkembangbiakan atau propagule.
5.2 Akar
Akar merupakan bagian kormus yang berfungsi pokok untuk menyerap makanan dari
dalam tanah. Akar tersebut terdiri dari akar pokok (main root/radix primaria) yang dapat
bercabang-cabang sehingga membentuk suatu sistem perakaran. Tumbuhan yang termasuk
dikotil mempunyai satu radix primaria yang merupakan perkembangan radikula pada embrio.
Radix primaria bercabang-cabang dan berumur panjang membentuk sistem perakaran
tunggang. Tumbuhan monokotil mempunyai satu radix primaria yang juga bercabang-cabang
tetapi umumnya terbatas, pada bagian yang sama akan muncul radix adventitia (akar liar)
yang setara denga radix primaria sehingga dari satu tempat muncul banyak akar liar (radix
adventitia) yang besarnya sama. Sistem perakaran ini dinamakan sistem perakaran serabut.

Tumbuhan pada dasarnya mempunyai dua kutub yaitu kutub akar dan kutub batang
yang mempunyai arah pertumbuhan yang berlawanan. Kutub akar membentuk akar yang
tumbuh ke arah bawah sedang kutub batang akan membentuk batang dan daun. Tumbuhan
berbiji mempunyai sifat allorhizi sedang tumbuhan paku bersifat homorhizi.
1. Akar primer memiliki sifat sebagai berikut:
tumbuh menuju pusat bumi (geotropisme positif) dan menuju air (hidrotropisme)
tidak berbuku dan tidak beruas
warna biasanya putih-kuning-coklat
tumbuh terus
bentuk biasanya meruncing sehingga mudah menembus tanah
sel-sel penyusun akar tidak mengandung klorofil
2. Akar berfungsi untuk:
memperkuat/menunjang tubuh tumbuhan seperti pada akar lekat, akar pembelit, akar
tunjang dan sebagainya
menyerap air dan zat-zat yang terlarut di dalamnya dari tanah
mengangkut zat makanan ke bagian yang memerlukan
kadang-kadang untuk menyimpan cadangan makanan.
3. Akar terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
ujung akar (apex radicis) untuk menembus tanah. Bagian ini dilindungi oleh tudung
akar (kaliptra). Titik tumbuh akar dan titik tumbuh tudung akar (kaliptrogen) letaknya
tidak pada lokasi yang sama. Titik tumbuh akar terdapat pada ujung akar sedangkan
kaliptrogen terletak pada pangkal kaliptra.
Batang akar (corpus radicis) pada bagian yang dekat dengan ujung merupakan daerah
penyerapan yang ditumbuhi oleh bulu-bulu akar untuk memperluas permukaan
penyerapan. Bagian yang lebih dekat dengan permukaan tanah merupakan daerah
diferensiasi.
Leher akar (collum) daerah peralihan antara akar dan batang merupakan sambungan
antara batang dan akar.
Cabang akar merupakan bagian yang keluar dari akar pokok dan dapat bercabang lagi,
bagian ini disebut (radix lateralis). Cabang akar dibentuk oleh perisikel.
Serabut akar (fibrilla radicalis) merupakan cabang akar yang halus berbentuk serabut.
Catatan: Akar pokok pada dikotil hanya tumbuh jika tanaman berasal dari biji. Beberapa
tanaman ditanam dengan cara setek akan berubah sistem perakarannya menjadi

sistem perakaran serabut, begitu juga pada peristiwa pencangkokan. Akar yang
tumbuh disebut akar liar (radix adventitia). Akar liar dapat tumbuh dari buku-buku
batang pada tumbuhan tertentu. Tumbuhan parasit seperti benalu (Loranthus sp.)
mempunyai akar yang dapat menyerap makanan dari inangnya. Akar tersebut
dinamakan haustorium. Radix Primaria (akar primer) memiliki ciri sebagai
berikut: Ada yang bercabang, Ada yang tidak bercabang, Ada yang permanen, Ada
yang temporer, terutama pada sistem perakaran serabut.
Sistem perakaran yang dibentuk pada kutub akar ada 2 macam, yaitu sistem perakaran
tunggang dan sistem perakaran serabut. Radix primaria pada sistem perakaran tunggang
bersifat permanen dan bercabang-cabang membentuk suatu sistem. Sistem perakaran ini dapat
dijumpai pada kelas Dicotyledoneae. Sistem perakaran serabut dibentuk oleh radix primaria
yang pertumbuhannya terbatas, akan segera mati (temporer), dan pada kutub akar muncul
radix-radix adventitia yang besarnya sama dengan radix primaria sehingga membentuk suatu
sistem yang terdiri dari banyak akar berbentuk seperti serabut. Sistem perakaran ini terdapat
pada kelas Monocotyledoneae. Sistem perakaran tampak nyata jika tumbuhan ditanam dari
biji.
Akar primer yang tidak bercabang ada yang digunakan untuk menyimpan cadangan
makanan sehingga mempunyai bentuk tertentu, contoh pada tumbuhan lobak dan wortel, akar
berbentuk seperti tombak (fusiformis); sedang pada Beta vulgaris dan bengkoang akar
berbentuk seperti gasing (napiformis). Akar primer yang bercabang ada yang disebut akar
benang (filiformis), akar pokok kecil panjang dengan cabang-cabang akar yang banyak.
Contoh akar benang terdapat pada Phaseolus lunatus.
Tumbuhan hidup di berbagai habitat sehingga perlu menyesuaikan diri, sehingga akar
mempunyai fungsi lain selain untuk menyerap makanan. Berbagai macam akar berdasar
fungsinya, yaitu:
a) akar udara (Radix aureus)
Akar udara tumbuh pada buku batang di atas tanah, menggantung. Contoh pada anggrek
kalajengking, Ficus benjamina (Beringin).

Gambar 3. Akar udara Ficus benjamina


(Beringin). Sumber dokumen pribadi

Gambar 4. Akar udara Anggrek


kalajengjing. Sumber dokumen pribadi

b) akar penggerek/penghisap (haustorium)


Akar penghisap digunakan untuk menyerap makanan dari inang, misalnya pada tumbuhan
parasit (Loranthus sp.)

Gambar 5. Akar hisap Benalu (Loranthus


sp). Sumber dokumen pribadi

c) akar pelekat (Radix adligans)


Akar pelekat keluar dari buku batang liana (tanaman merambat) untuk menempel pada
inang. Akar pelekat berfungsi untuk melekat dan memanjat.

Gambar 6. Akar pelekat pada


Philodendron sp. Sumber dokumen
pribadi

d) akar pembelit (Cirrus radicalis)

Akar pembelit digunakan untuk memanjat tapi dengan memeluk inang, contoh pada
Vanilla planifolia.

Gambar 7. Akar pelekat pada


Philodendron sp. Sumber dokumen
pribadi
e) akar nafas (pneumatophora)

Akar pada tanaman air memiliki cabang yang tumbuh tegak lurus ke atas dari akar
induknya, mempunyai lubang-lubang (pneumatoda) sebagai jalan masuknya udara bagi
tumbuhan yang berguna untuk pernafasan. Akar nafas dapat ditemukan pada Avicennia,
Sonneratia.

Gambar 8. Akar nafas (Avicennia sp).


Sumber dokumen pribadi

f) akar tunjang (akar egrang)


Akar yang tumbuh pada buku-buku batang terutama bagian bawah kemudian masuk ke
dalam tanah, menopang tubuh tumbuhan sehingga tumbuhan tampak seperti berdiri di atas
egrang.

Gambar 9. Akar egrang (Pandanus


tinctorius). Sumber dokumen pribadi

g) akar lutut
Akar yang tumbuh ke atas lalu membelok ke bawah lagi berbentuk seperti lutut berguna untuk
menunjang tubuh tumbuhan. Akar lutut terdapat pada tanaman bakau.

Gambar 10. Akar lutut (Avicennia sp).


Sumber dokumen pribadi

h) akar banir
Akar yang tumbuh ke atas seperti papan untuk menunjang tubuh tumbuhan. Akar banir
terdapat pada tumbuhan Cannarium commune, Delonix regia (flamboyan), Lanaea sp.,
Ceiba pentandra (randu).

Gambar 11. Akar banir. Sumber


dokumen pribadi

Anatomi Akar
Penampang membujur akar memperlihatkan susunan sebagai berikut:
1. Tudung Akar
Tudung akar terdiri dari sel parenkimatik dalam berbagai tingkat deferensiasi. Fungsi
tudung akar sebagai pelindung ujung akar dalam menembus tanah. Tudung akar memiliki titik
tumbuh tersendiri yang dinamakan kaliptrogen. Tudung akar selalu mengalami kerusakan
pada waktu menembus tanah dan kaliptrogen menggantikan sel-sel tudung akar yang rusak.
Sel-sel kaliptra mengandung butir-butir tepung yang dinamakan tepung statolith. Tepungtepung ini selalu terletak di bagian bawah sel sehingga mengarahkan ujung akar searah

dengan gravitasi bumi. Tepung ini juga berlaku sebagai pemberat sehingga tumbuhan dapat
berdiri tegak. Tudung akar tidak memiliki berkas pengangkut.
2. Ujung Akar
Titik tumbuh akar terdapat di bagian ujung dari akar. Titik tumbuh di daerah ini
membelah ke segala arah sehingga akar bertambah panjang dan bertambah besar. Sel-sel
ujung akar ini mengeluarkan zat-zat tertentu yang dapat mempermudah akar menembus tanah
tetapi juga dapat mengalami kerusakan sehingga dilindungi kaliptra. Ujung akar sudah
memiliki epidermis, korteks, dan stele. Epidermis biasanya tersusun dari selapis sel dan
bersifat permeabel. Korteks tersusun dari sel-sel parenkimatis. Sel-sel endodermis belum
mengalami penebalan. Buluh tapis yang terdapat di daerah stele ujung akar belum mengalami
pemasakan.
3. Daerah Pemanjangan
Daerah pemanjangan sel-selnya tidak bersifat meristematik tetapi mengalami
pembentangan dan bersifat hidup. Daerah ini sudah terdiri dari epidermis, korteks, dan stele.
Korteks terdiri dari sel-sel parenkimatis. Sel-sel endodermis di daerah pemanjangan belum
mengalami penebalan. Buluh tapis yang terdapat di stele daerah pemanjangan sudah
mengalami pemasakan tetapi xilem belum mengalami pemasakan sempurna.
4. Daerah Diferensiasi
Daerah diferensiasi terdiri dari epidermis, korteks, dan stele. Sel-sel epidermis ada yang
membentuk bulu akar. Korteks terdiri dari sel-sel parenkimatis. Endodermis sudah mengalami
penebalan yang berbentuk titik kaspari. Xilem dan floem di stele sudah mengalami
pemasakan.
5. Daerah Peralihan atau Leher Akar
Daerah ini merupakan peralihan antara akar dan batang. Berkas pengangkut mengalami
perubahan dari radial menjadi kolateral atau yang lain. Daerah ini sangat pendek sehingga
akar yang sudah mengalami pertumbuhan sekunder tidak dapat dideteksi daerah peralihannya.

bambar 12. Irisan membujur akar lobak yang memperlihatkan meristem apikal, daerah
pemanjangan dan differensiasi, serta bulu akar.
Penampang Melintang Akar
Akar tersusun dari 3 sistem jaringan yaitu: epidermis, korteks, dan stele.
1. Epidermis
Epidermis akar juga disebut dengan epiblem atau lapisan piliferous. Kebanyakan
akar membentuk bulu akar di daerah dekat dengan meristem apikalnya. Bulu akar tumbuh
dari satu sel epidermis (trikoblas) dan berfungsi sebagai alat penghisap dan penunjang.
Bulu akar dapat bersifat permanen maupun temporer. Dinding sel rambut akar yang
muncul berkesinambungan dengan dinding trikoblas. Trikoblas pada beberapa spesies
memiliki ukuran dan metabolisme yang berbeda dengan sel epidermis yang lain. Pada
umumnnya trikoblas memiliki warna yang lebih gelap dengan sel di sekitarnya.

Epiblem biasanya terdiri dari selapis sel, tetapi pada anggrek epifit akar-akar yang di
udara memiliki epidermis ganda yang disebut dengan velamen. Sel-sel velamen mati dan
dindingnya diperkuat dengan pita lignin. Lapisan terdalam dari velamen biasanya berasal dari
periblem bukan dari dermatogen sehingga disebut dengan eksodermis karena merupakan
lapisan korteks yang paling luar. Eksodermis memiliki sel yang panjang dan sel yang pendek.
Sel panjang dinding radial dan tangensial menebal sedang sel pendek tidak mengalami

penebalan dinding sehingga disebut dengan sel peresap. Velamen diduga berfungsi sebagai
pelindung yang mencegah kehilangan air yang berlebihan. Dulu velamen juga diduga dapat
menyerap dan menyimpan air dari udara, tetapi penelitian selanjutnya menyatakan bahwa
eksodermis impermeabel terhadap air dan zat-zat terlarut di dalamnya.

2. Korteks
Korteks tersusun dari jaringan perenkimatis yang teratur secara radial membentuk
lingkaran konsentris. Pada spesies yang akuatik ditemukan ruang antar sel sehingga terbentuk
aerenkima. Sel-sel korteks seringkali mengandung butir amilum dan kadang-kadang kristal.
Sklerenkima lebih umum dijumpai pada akar monokotil daripada akar dikotil. Kolenkima
kadang-kadang terdapat di dalam akar seperti pada Monstera. Lapisan terdalam dari korteks
biasanya berdiferensiasi menjadi endodermis sedang lapisan terluarnya kadang-kadang
berdeferensiasi menjadi eksodermis yang terletak langsung di bawah epidermis (hipodermis)
dan dindingya mengalami suberisasi.

3. Endodermis
Endodermis umumnya tersusun dari satu lapis sel yang berbeda secara struktural,
fiosiologis, dan fungsional dari lapisan lainnya. Sel endodermis yang masih muda dinding
radialnya mengalami penebalan yang jika dilihat secara melintang tampak secara titik. Titik
tersebut dinamakan titik Caspary yang pada penampang membujur tampak sambungmenyambung seperti pita sehingga disebut pita Caspary. Penebalan dinding sel endodermis
terdiri dari suberin. Proroplas sel endodermis menempel pada bagian yang mengalami
penebalan dilanjutkan ke lamela tengah. Di antara sel endodermis ditemukan sel-sel yang
tidak mengalami penebalan, sel tersebut dinamakan sel peresap. Letak sel peresap pada
umumnya di depan protoxilem.
4. Stele
Jaringan penyusun stele terdiri dari:
a. Perisikel
Perisikel biasanya terdiri dari selapis sel, bersifat parenkimatik, dan terdapat di sebelah
dalam endodermis. Perisikel bersifat meristematik dan berfungsi untuk membentuk
primordia akar lateral, sebagian dari kambium vaskuler, dan felogen. Perisikel kadangkadang disebut dengan perikambium. Monokotil tidak memiliki kambium sehingga
perisikelnya hanya membentuk primordia akar lateral dan felogen.
b. Jaringan Vaskuler
Tipe berkas pengangkut pada akar radial dan tipe stele aktinostele. Letak xilem dan
floem berganti-ganti ke arah pusat. Jari-jari xilem tampak seperti bintang sehingga
dinamakan aktinostele. Xilem mungkin membentuk suatu teras padat yang terletak di
tengah atau empulur yang parenkimatik atau sklerenkimatik seperti pada beberapa akar
monokotil. Akar dapat memiliki satu, dua, tiga, empat, lima, dan banyak jari-jari xilem.
Akar yang memiliki satu jari-jari xilem disebut monarch, jika dua diarch, dan seterusnya,
dan jika banyak disebut poliarch. Xilem pada akar bersifat exarch karena pemasakan
protoxilem ke arah luar sedang metaxilem ke arah dalam. Xilem selalu berkebang ke arah
pusat atau sentripetal. Berkas floem terdiri dari buluh tapis, sel pengiring, dan parenkima
floem. Protoxilem tersusun dari buluh cincin dan spiral sedangkan metaxilem terdiri dari
buluh jala dan noktah.

Contoh-contoh anatomi akar pada tumbuhan di antaranya:


1. Penampang melintang akar Impatiens balsamina
Epidermis akar Impatiens balsamina terdiri dari selapis sel berbentuk persegi panjang
dengan susunan yang rapat. Korteks terdiri kurang lebih 11 lapisan sel-sel parenkimatik
yang berbentuk isodiametrik. Beberapa sel kortek mengandung antosianin sehingga berwarna
merah. Kristal rafida juga dapat ditemukan di dalam beberapa sel kortek. Endodermis tampak
terdiri dari satu lapis, beberapa sel mengalami penebalan pada dinding radial dan tangensial
dalam. Jari-jari xilem dan floem masing-masing 4 buah, empulur parenkimatik dan
menduduki daerah yang sempit. Daerah korteks lebih luas dibandingkan dengan daerah stele.
Sel yang berisi antosianin juga ditemukan dalam stele terutama di daerah floem dan empulur.
Kambium terdapat di daerah antara floem dan xilem.

2. Penampang melintang akar Cinamomum burmani


Epidermis terdiri dari satu lapis sel-sel yang berbentuk isodiametrik dan tersusun rapat.
Korteks terdiri dari lebih kurang 8 lapis sel berbentuk isodiametrik. Kelenjar minyak atsiri
ditemukan pada kortek, sklereida tersusun berkelompok berdekatan dengan endodermis.

Sklereida berwarna kemerahan. Endodermis tersusun satu lapis, diikuti oleh satu lapis
perisikel. Jari-jari xilem terdapat lima buah, letak floem berselang-seling dengan xilem.
Daerah korteks lebih luas dibandingkan dengan daerah stele. Daerah empulur sangat sempit.
Pertumbuhan lebih lanjut tampak pada gambar 18.B yang menunjukkan pertambahan jari-jari
xilem dan daerah empulur bertambah luas. Empulur terdiri dari sel-sel berbentuk isodiametris
dan bersifat sklerenkimatik. Sel-sel kortek lebih memipih, di antara sel-sel parenkima kortek
ditemukan sklereida yang tersusun berkelompok. Floem dan xilem berdampingan tidak secara
radial dan kambium membatasi xilem dan floem. Protoxilem primer berada di sebelah luar
metaxilem primer berjumlah 5 jari-jari. Perkembangan selanjutnya epidermis akan digantikan
oleh periderm.

3. Penampang melintang akar kangkung


Kangkung hidup di air atau di darat memiliki struktur anatomi akar yang unik. Lapisan
luar terdiri dari lapisan periderm, kurang lebih 4 lapis kemudian diikuti lapisan korteks yang
terdiri dari sel-sel parenkimatik berbentuk isodiametrik. Butir amilum berserakan di dalam
parenkima korteks. Ruang udara yang besar sebanyak empat buah terdapat di dalam korteks.
Endodermis terdiri dari selapis sel, perisikel juga selapis sel, protoxilem terdapat di tengah
stele, tidak terdapat empulur di dalam stele. Struktur berkas pengangkut tidak radial lagi tetapi
sudah tampak kolateral terbuka, kambium aktif membelah.

4. Penampang melintang akar Ipomoea batatas

Lapisan terluar berupa periderm, berbentuk segi empat panjang. Sel-sel penyusun
korteks berbentuk tidak teratur. Sel-sel getah tersebar pada daerah korteks. Butir-butir amilum
terdapat dalam sel-sel korteks dan empulur. Berkas pengangkut ada dua macam, yaitu yang
berbentuk berkas-berkas tersusun dalam suatu lingkaran; kambium interfasikuler di antara
berkas pengangkut kolateral terbuka. Berkas pengangkut meduler berupa xilem yang
dikelilingi oleh kambium dan letaknya berserakan tidak teratur. Struktur ini menunjukkan
struktur akar yang berfungsi sebagai cadangan makanan. Akar yang belum mengandung
cadangan makanan memiliki struktur yang berbeda karena tidak memiliki berkas pengangkut
meduler.

5. Penampang melintang akar Daucus carota


Lapisan terluar terdiri dari periderm yang menggantikan epidermis. Korteks tersusun
dari sel-sel parenkimatis berbentuk persegi panjang yang tersusun rapat. Sel-sel tersebut
mengandung butir-butir amilum berbentuk bulat, konsentris, dan majemuk. Kromoplast
berwarna jingga atau merah berbentuk baji. Tetes-tetes minyak juga ditemukan dalam sel
korteks tetapi jumlahnya sedikit. Endodermis tidak tampak jelas, demikian juga perisikelnya.
Floem membentuk lingkaran utuh diikuti kambium. Sel-sel floem juga mengandung butir
amilum tetapi jumlahnya lebih sedikit dibanding dengan yang berada dalam sel kortek. Xilem
bersifat endarch, terdiri dari trakea, trakeida, dan parenkima xilem. Trakea memiliki
penebalan spiral, bentuk Y yang masing-masing berlignin. Empulur hampir tidak ada.
Daerah korteks lebih luas dibandingkan dengann daerah stele.

6. Penampang melintang akar Aloe sp.


Lapisan terluar felem diikuti dengan felogen. Korteks terdiri dari sel parenkimatik
berbentuk isodiametris, makin ke dalam ukurannya makin lebar sampai pada lapisan dekat
dengan endodermis sel-selnya lebih kecil lagi. Endodermis diikuti perisikel yang masingmasing terdiri dari satu lapis. Xilem dan floem berganti-ganti ke arah radial. Empulur bersifat
parenkimatis.

7. Penampang melintang akar palem


Bagian luar terdiri dari epidermis yang terdiri selapis sel. Korteks tersusun dari sel-sel
parenkimatis berbentuk isodiametris tersusun rapat di daerah luar, tetapi di bagian dalam
korteks bersifat sklerenkimatis tersusun rapi radial. Endodermis terdiri dari satu lapis diikuti
oleh perisikel satu lapis juga. Susunan berkas xilem dan floem sangat rapi, tersusun radial.
Protoxilem memiliki diameter yang sangat berbeda dengan metaxilem. Empulur bersifat
sklerenkimatik. Jari-jari xilem berjumlah dua belas
8. Penampang melintang akar Monstera
Lapisan terluar terdiri dari satu lapis epidermis yang tersusun rapat. Sel-sel korteks
berbentuk isodiametris. Rafida ditemukan pada beberapa sel korteks. Drusses juga ditemukan
pada parenkima korteks, tetapi jumlahnya lebih sedikit dibanding rafida. Drusses terdiri dari
beberapa kristal tunggal yang berbentuk prisma. Endodermis terdiri dari satu lapis, di sebelah
dalam endodermis terdapat satu lapis perisikel. Berkas floem terletak berselang-seling dengan
berkas xilem sehingga tipe berkas pengangkut radial. Tipe stele aktinostele dan poliark.
Empulur sebagian parenkimatis dan sebagian sklerenkimatis
9. Penampang melintang akar Dendrobium
Epidermis merupakan lapisan terluar, memiliki bentuk isodiametris. Velamen terdiri
dari sel-sel isodiametris yang makin ke dalam makin besar. Eksodermis tersusun dari satu
lapis sel, berbentuk segienam tegak, keseluruhan dindingnya berlignin. Di bawah eksodermis
ditemukan sel-sel isodiametris berdinding tipis yang mengandung kloroplas. Endodermis
terdiri dari selapis sel berbentuk segi enam tegak yang lebih kecil dibandingkan dengan sel
penyusun eksodermis. Kebanyakan sel endodermis mengalami penebalan lignin tetapi ada
beberapa sel yang tidak mengalami penebalan, sel tersebut dinamakan sel peresap. Floem dan
xilem berseling membentuk berkas pengangkut bertipe radial. Daerah xilem lebih luas
dibandingkan dengan daerah floem. Empulur di bagian luar sklerenkimatik dan di bagian
tengah terdiri dari sel-sel parenkima yang mengandung kloroplas.
10. Penampang melintang akar tunjang
Penampang melintang akar tunjang pada dikotil diambil dari Ficus benjamina
sedangkan penampang melintang akar tunjang pada monokotil di ambil dari tanaman
Pandanus tinctorius.
Penampang melintang akar tunjang F. benjamina terdiri dari selapis sel epidermis
diikuti beberapa lapis sel korteks yang berbentuk isodiametris. Di antara sel-sel korteks
ditemukan sel getah. Bagian terdalam korteks membentuk felogen. Felogen diapit oleh lapisan
sklerenkimatik. Endodermis dan perisikel tidak terlihat jelas. Floem terletak di sebelah dalam
felogen. Di antara floem ditemukan sel-sel getah. Daerah kambium sangat luas membatasi

daerah floem dengan xilem. Daerah xilem lebih luas dibandingkan dengan daerah floem.
Xilem banyak mengandung serabut sklerenkima yang tampak berkelompok. Jari-jari empulur
tampak di antara berkas floem dan xilem. Empulur tersusun dari sel-sel parenkimatik dan
menempati daerah yang sempit.
Penampang melintang P. tinctorius terdiri dari selapis sel epidermis diikuti oleh
beberapa sel sklerenkima, selanjutnya parenkima korteks yang berbentuk isodiametrik.
Bagian korteks luar dan dalam sel-selnya berukuran lebih kecil dibandingkan dengan bagian
tengah korteks. Beberapa ruang udara yang luas ditemukan di antara parenkima korteks
bagian tengah. Sklerenkima membentuk kelompok-kelompok kecil di bagian tengah korteks.
Endodermis terdiri dari selapis sel, diikuti selapis perisikel. Berkas pengangkut bertipe radial.
Daerah empulur sangat sempit. Di antara trakea ditemukan kelompok-kelompok serabut
sklerenkima.
11. Penampang melintang bintil akar
Beberapa tumbuhan memiliki bintil-bintil pada akarnya, seperti pada tumbuhan kacang
tanah, pacar air, dan orok-orok. Bintil akar berkembang sebagai akibat dari masuknya bakteri
yang memfiksasi nitrogen contohnya Rhizobium ke dalam korteks. Bakteri masuk melalui
bulu akar kemudian berkembang biak, terbentuk benang-benang yang diselubungi oleh materi
seperti gom. Benang-benang menembus korteks akar dan berkembang biak. Jumlah sel di
dalam bintil bertambah karena adanya pembelahan dari massa sel yang berbentuk sferis.
Selanjutnya aktifitasnya dilokalisir pada daerah meristem apikal yang tidak ditembus bakteri.
Bagian dari akar yang mengandung bakteri tadi menjadi primordia dari terbentuknya akar
lateral. Epidermis akar pecah dan bintil membesar tetapi tidak muncul dari korteks. Sel-sel
dari korteks akar membelah membentuk lapisan luar dari bintil. Cabang-cabang berkembang
dari jaringan angkut akar yang berada di sekeliling daerah bakteri (Fahn, 1973).
Pembentukan Cabang Akar
Akar pokok biasanya membentuk cabang-cabang akar yang dapat memperkuat tegaknya
tumbuhan dan memperluas daerah penyerapan makanan. Cabang akar bersifat endogen karena
berasal dari perisikel yang terletak di sebelah dalam endodermis. Sebagian sel perisikel mulamula membelah secara tangensial kemudian periklinal dan antiklinal mendesak jaringan di
luarnya dan keluar dari epidermis. Perisikel membentuk seluruh jaringan penyusun cabang
akar mulai dari tudung akar, epidermis akar, korteks dan stele. Pembentukan cabang akar ini
terjadi pada dikotil dan monokotil seperti yang terlihat pada gambar 29 A-C.

5.3 Batang
Batang merupakan bagian pokok tumbuhan karena merupakan tempat kedudukan daun,
bunga, dan buah bagi tumbuhan tinggi. Selain itu batang dapat digunakan untuk menyalurkan
zat-zat bahan makanan dari akar ke organ lain terutama daun.
Sifat-sifat batang pada umumnya: mempunyai bentuk seperti silinder, mempunyai buku
(nodium) yang merupakan tempat kedudukan daun, dan beruas-ruas (internodium), pada
setiap buku dapat tumbuh tunas yang akan berkemnbang menjadi daun (gemma folifera) atau
bunga (gemma florifera) dan batang kecil atau cabang. Ujung batang selalu tumbuh ke arah
sinar (fototropisme positif). Batang dapat berwarna hijau pada waktu muda dan berfungsi
untuk fotosintesis, tetapi setelah dewasa akan berubah warna kecuali pada tumbuhan berumur
pendek, batang tetap berwarna hijau. Selain mengangkut air dan zat-zat bahan makanan dan
air ke daun juga mengangkut zat makanan ke akar.
Beberapa tumbuhan seringkali tidak menampakkan batangnya karena ruas-ruasnya
sangat pendek sehingga yang tampak di atas tanah daun-daun yang berjejal-jejal. Tumbuhan
yang tidak tampak batangnya sering disebut dengan planta acaulis. Daun-daun pada
tumbuhan ini tumbuh membentuk roset daun sebagai contoh lidah buaya (Aloe vera), (jadam,
Adam dan Hawa), sawi (Brassica juncea). Batang pohon kelapa tumbuh ke atas tetapi pada
ujungnya ruas-ruasnya sangat pendek dan membentuk roset, tumbuhan demikian disebut
roset batang. Roset dari kata rosula, contoh tumbuhan yang membentuk roset batang selain
kelapa, yaitu anjuang (Codyline fruticosa) dan Pleomele angustifolia (Pandan suji).
Tumbuhan yang batangnya tampak jelas dapat dibedakan menjadi.
1. Herbaceous (tumbuhan berbatang basah).
Batang tumbuhan tampak berair bahkan kadang-kadang transparan. Contoh
herbaceous: Impatiens balsamina (pacar air), Piperomia pellucida, krokot (Portulaca
oleracea).
2. Lignosus (batang berkayu).
3. Tumbuhan lignosus batangnya keras. Pepohonan (arbores) dan semak-semak (frutices).
Arbores batang tinggi umumnya bercabang-cabang, contohnya: nangka (Artocarpus
integra), manggis (Garcinia mangostoma) dan lain-lain. Frutices biasanya batangnya
pendek berkayu, cabang dekat dengan tanah, contoh: Ixora grandiflora (soka), Gardenia
agusta (kaca piring), Tabernamontana divaricata (rondolali) dan lain-lain.
4. Calmus
Batang rumput-rumputan, batang tidak berkayu, ruas-ruas tampak nyata, seringkali
berongga, contohnya: Oryza sativa tumbuhan yang termasuk Gramineae.

5. Calamus
Batang tidak keras, ruas-ruasnya agak panjang dan seringkali berongga, contoh
Fimbristylis globulosa Kunth (mendong) dan tumbuhan yang termasuk Cyperaceae.
Batang mempunyai berbagai macam bentuk diantaranya:
1. teres (bulat) seperti batang papaya (Carica papaya), batang mangga (Mangifera indica),
batang pisang (Musa paradisiaca)

Gambar 1. Pisang (Musa paradisiaca). Sumber: dokumen pribadi.


2. bersegi (angularis), triangularis misal pada batang teki (Cyperus rotundus), quadrangularis
misal pada jinten (Coleus amboinicus), Bidens pilosus
3. pipih melebar seperti daun dan berfungsi seperti daun juga. Ada dua macam jika batang
tumbuh terus dan bercabang disebut kladodia, contoh tumbuhan kaktus (Opuntia vulgaris
Rill) dan batang tumbuh terbatas, contoh Muehlenbeckia platyclada (jakang).

Gambar 2. Batang Muehlenbeckia platyclada (jakang). Sumber: dokumen pribadi.


Permukaan batang juga berbagai macam:
a. laevis (licin) misalnya batang kangkung, jagung, pacar air.
b. costasus (berusuk) punya rigi seperti Piper bettle (sirih).
c. beralur (sulcatus) pada Biden pilosus, Costus caudatus (kenikir).
d. bersayap (alatus) biasanya batang bersegi dan sudutnya mengalami pelebaran contoh pada
Dioscorea alata (uwi) dan Passiflora quadrangularis (markisah).

e. berambut (pilosus) misal pada beberapa Begonia sp.


f. berduri (spinosus) dadap (Erythrina sp.), Euphorbia milli.
g. berbekas-bekas (bekas daun tampak jelas) pada Carica papaya, Ceiba pentandra.
h. memperlihatkan bekas daun penumpu pada Artocarpus communis (kluwih), Artocarpus
integra (nangka).
i. banyak lentisel pada sengon (Albizzia stipulate).
j. batang mengelupas contoh pada Bungur (Lagustrumia speciosa), Psidium guajava (jambu
biji).
Batang tumbuh ke arah sinar matahari (fototropis atau heliotrope) dengan arah
bervariasi sebagai berikut:
a. tegak lurus contoh: kelapa (Cocos nucifera), papaya (Carica papaya).
b. menggantung (dependens, pendalus) contoh anggrek tertentu, Lycopodium.
c. berbaring (humifusus) contoh semangka.
d. menjalar (merayap, repens) contoh Ipomoea reptans, Ipomoea batatas.
e. condong (ascendens)/serong ke atas contoh kacang tanah (Arachis hypogea).
f. metans (mengangguk ke atas) contoh pada bunga matahari.
g. memanjat (scandens).
-

dengan akar pelekat sirih belanda (Philodendron).

dengan akar pembelit Philodendron bipenifolium.

dengan sulur pembelit pada Sechium edule.

dengan daun atau sulur daun pada kembang sungsang.

dengan duri pada Rosa sp., Bougenville.

dengan duri daun pada rotan (Calamus coesius Bl.).

dengan kait pda Mucaria gambir Roxb.

h. membelit dengan arah membelit ke


-

kiri (sinistrum volubilis) pada kembang telang (Clitoria ternatea).

kanan (dextrosum volubilis).

Percabangan pada batang


Tumbuhan monokotil jarang bercabang sedang pada dikotil memkpunyai percabangan dengan
berbagai cara
1. monopodial, batang pokok tumbuh terus contoh pada Pinus sp.

Gambar 3. Batang dengan sumbu minipodial (yang ditunjukkan dengan panah). Sumber:
dokumen pribadi.
2. simpodial cabang lebih panjang dari batang pokok pada sawo kecik (Manilkara bidentata)

Gambar 4. Batang simpodial pada sawo kecik. Sumber: dokumen pribadi.


3. menggarpu (dikotomis) setiap ujung bercabang menjadi dua yang sama besar pada
flamboyan.

Gambar 5. Percabangan menggarpu. Sumber: dokumen pribadi.


Cabang yang besar disebut dahan (ramus) yang kecil disebut ranting. Cabang pada tumbuhan
dibedakan:
a. geragih (flagellum, stolon) contoh Centella asiatica, cabang merayap di atas tanah dan
kentang merayap di dalam tanah

Gambar 6. Geragih pada Centella asiatica. Sumber: dokumen pribadi.


b. wiwilan atau tunas air (Virga singularis), batang tumbuh cepat dan banyak kuncup tidurnya
contoh pada batang coklat (Theobroma cacao)

Gambar 7. Wiwilan pada Theobroma cacao. Sumber: dokumen pribadi,


c. sirung panjang (virga) cabang beruas panjang tidak pernah berbunga
d. sirung pendek (virgula) cabang pendek pendukung bunga dan buah contoh jambu biji.
Cabang tumbuhan dapat membentuk sudut dengan sumbu pokok dengan berbagai variasi
diantaranya.
a. fastigatus contoh pada kopi sudut antara batang dan cabang sangat kecil
b. condong ke atas 45 pada Casuarina equisetifolia
c. mendatar sudut 90 pada randu, ketapang (Terminalia catappa)

Gambar 8. Cabang mendatar dengan sudut 900. Sumber: dokumen pribadi.


d. terkulai (dechiatus), pangkal mendatar ujung terkulai contoh kopi

e. bergantung (pendalus) sudut > 90


Tumbuhan akan mati jika batangnya mati oleh karena ada tumbuhan berumur pendek
dan tumbuhan berumur panjang.
1. Tumbuhan annual (annuus) umur kurang dari 1 tahun contoh palawija: jagung, padi,
kedelai.
2. Tumbuhan bienial (biennis) contoh gula bit (Beta vulgaris)
3. Tumbuhan menahun atau tumbuhsn keras digolongkan dalam semak sedang untuk terna
(herba) berumur panjang contoh empon-empon.
Struktur Anatomi Batang
Perbedaan yang mendasar antara anatomi batang dan akar terletak pada struktur
pembuluh angkutnya. Susunan xilem dan floem pada akar terletak pada radius yang berbeda
dan berseling secara bergantian, sedang pada batang floem dan xilem terletak dalam satu
radius, floem berada di sebelah luar dan xilem di sebelah dalam. Susunan berkas pengangkut
pada akar disebut radial sedangkan pada batang kolateral. Sifat xilem pada akar disebut
eksark karena letak protoxilem berada di sebelah luar metaxilem sedangkan pada batang
disebut endark karena letak protoxilem di sebelah dalam metaxilem. Floem dan xilem pada
batang membentuk suatu berkas yang tersusun di dalam satu lingkaran.
Epidermis batang pada umumnya memiliki stoma dan trikoma pada waktu masih muda
sehingga batang dapat berfungsi sebagai organ fotosintesis. Korteks terdiri dari jaringan
parenkimatik yang mungkin di dalamnya ditemukan jaringan sekretorik misalnya saluran
lendir pada batang Hibiscus sp., sel minyak pada batang Piper betle dan Cinamomum sp.,
saluran resin pada batang Pinus sp.; kristal kalsium oksalat pada batang Impatiens balsamina.
Jaringan penguat pada batang dapat berupa kolenkima dan sklerenkima tergantung jenis
tumbuhannya. Kolenkima di korteks dapat membentuk suatu lingkaran utuh atau terdapat
dalam suatu kelompok-kelompok. Kolenkima dapat mengandung kloroplas dan dapat juga
menjadi meristematik kembali membentuk felogen. Sklerenkima yang ditemukan di korteks
dapat berupa serabut atau sel batu. Sel-sel sklerenkima mati dan berdinding tebal, sklerenkima
dapat berupa lingkaran utuh yang terletak di bawah epidermis atau di sebelah dalam korteks.
Batas antara korteks dan stele terdiri dari selapis sel yang disebut endodermis yang seringkali
pada waktu batang masih muda mengandung butir-butir amilum sehingga disebut dengan
sarung tepung atau floeoterma.
Stele terdiri dari tiga bagian yaitu perisikel, berkas pengangkut dan empulur. Perisikel
dapat terdiri dari satu lapis atau beberapa lapis sel yang berupa parenkima dan sklerenkima

atau parenkima saja. Sklerenkima yang terdapat di stele mungkin terjadi dalam kelompokkelompok yang terpisah atau membentuk lingkaran utuh yang berrada di luar berkas
pengangkut membentuk garis batas yang jelas antara korteks dan stele.
Berkas pengangkut pada batang monokotil merupakan berkas yang terpisah-pisah dan
memiliki tipe kolateral tertutup, seringkali dikelilingi oleh sklerenkima sehingga disebut
kolateral tertutup fibrovaskuler. Berkas pengangkut tersebut tersebar tidak teratur. Berkas
pengangkut pada dikotil ada yang berupa berkas terpisah-pisah tapi tersusun dalam satu
lingkaran atau membentuk satu lingkaran utuh, di antara floem dan xilem ditemukan
kambium. Kambium yang terdapat di dalam berkas pengangkut dinamakan kambium
fasikuler. Di antara berkas pengangkut yang satu dengan yang lain kambiumnya saling
berhubungan, kambium yang menghubungkan dua berkas pengangkut dinamakan kambium
interfasikuler.
Empulur biasanya terdiri dari sel-sel parenkima atau canpuran antara sklerenkima dan
kolenkima. Beberapa tumbuhan empulurnya mengalami desintegrasi sehingga batangnya
berlubang, contohnya pada Ipomoea reptans.
Korteks batang monokotil tidak memiliki batas yang jelas antara korteks dan stelenya.
Berkas pengangkut pada batang monokotil umumnya kolateral tertutup ada yang dikelilingi
oleh sklerenkima baik sebagian atau keseluruhan berkas sehingga disebut kolateral tertutup
fibrovaskuler.
Pertumbuhan Sekunder
Pertumbuhan sekunder terjadi pada batang dikotil maupun monokotil. Titik tumbuh
sekunder pada batang adalah felogen dan kambium vaskuler. Felogen dapat berasal dari
kolenkima, parenkima, atau perisikel. Felogen dapat bersifat monopleuris dan dipleuris.
Felogen monopleuris hanya membentuk felem saja ke arah luar, sedang yang dipleuris keluar
membentuk felem ke arah luar dan ke arah dalam membentuk feloderm. Felem, felogen, dan
feloderm menyusun lapisan periderm yang menggantikan epidermis. Lenti sel dapat terbentuk
pada periderm. Lenti sel berfungsi sebagai jalan keluar masuknya udara untuk bernafas. Lenti
sel tidak dapat membuka dan menutup. Lenti sel terdiri dari celah yang diapit oleh felem, dan
di dalamnya terdapat felogen dan feloderm, dan di dalam celah terdapat sel-sel yang lepas
disebut chorifeloid.
Sel-sel penyusun felem biasasnya berbentuk prisma memanjang tersusun teratur,
berdinding tipis tetapi menganddung suberin sehingga kedap terhadap air. Sel-sel felem mati.
Pada Quercus suber felem sangat tebal dan dapat dipanen setiap tahun setelah tanaman
berumur 10 tahun. Felem dimanfaatkan sebagai gabus yang dapat digunakan untuk tutup
botol, sol sepatu, dan lain-lain. Felogen bersifat meristematis, sel-selnya berbentuk balok,

terdiri dari selapis atau beberapa lapis kalau sedang aktif, dan biasanya berinti. Feloderm
disusun dari sel-sel parenkimatik dan hidup. Susunanya juga teratur seperti felem.
Kambium fasikuler maupun interfasikuler membentuk xilem sekunder ke arah dalam
dan floem sekunder ke arah luar. Kambium faskuler dan interfasikuler tidak terdapat pada
monokotil.
Xilem primer dibentuk sebelum dibentuk kambium interfasikuler. Unsur-unsur xilem
primer yang dibentuk pertama kali disebut protoxilem sedang unsur-unsur yang dibentuk
setelah protoxilem disebut metaxilem.
Pada batang yang telah mengalami pertumbuhan sekunder posisi xilem primer terdesak
ke arah dalam berbatasan langsung dengan sel-sel parenkima empulur sedang floem primer
akan terdesak ke tepi berbatasan langsung dengan parenkima korteks; sehingga pada batang
yang telah mengalami pertumbuhan sekunder daerah korteks tidak terlihat jelas bahkan
mungkin hilang.
Struktur Anatomi Batang Dikotil Herba
1. Batang Pacar Air (Impatiens balsamina)

Epidermis terdiri dari satu lapis sel dengan kutikula tebal. Di sebelah dalam epidermis
ditemukan jaringan penguat berupa kolenkima anguler. Kemudian diikuti oleh jaringan
parenkimatik yang tersusun dari sel isodiametrik dengan ruang sel yang besar. Endodermis
masih tampak jelas, tersusun dari satu lapis sel, diikuti dengan satu lapis sel perikambium.
Berkas pengangkut di dalam stele terdiri dari empat berkas yang masing-masing berkas

dipisahkan oleh parenkima. Floem dan xilem dibatasi oleh kambium. Bagian tengah dari
korteks diisi oleh empulur yang parenkimatik
2. Batang Kangkung (Ipomoea reptans)

Lapisan terluar batang kangkung disusun oleh satu lapis epidermis. Daerah korteks
disusun oleh jaringan penguat yang berupa kolenkima dan parenkima. Jaringan kolenkima
terdiri dari 2-3 lapis sel, terletak di sebelah dalam epidermis. Parenkima terdapat di sebelah
dalam jaringan kolenkima. Lapisan endodermis masih tampak jelas. Daerah silinder pusat di
mulai dari jaringan parenkimatis yang menyusun perisikel, di sebelah dalam lapisan perisikel
ditemukan berkas pengangkut bertipe kolateral terbuka. Kambium ditemukan di antara berkas
floem dan xilem. Kambium interfasikuler terdapat di antara dua berkas pengangkut yang
berbatasan. Pada gambar 10 menunjukkan pertumbuhan sekunder pada batang kankung.
Parenkima empulur ada yang mengalami desintegrasi sehingga tampak adanya rongga di
dalam empulur.
Struktur Anatomi Batang Dikotil Berkayu
Contoh batang dikotil berkayu di antaranya batang keningar (Cinamomum burmani)
dan batang bunga kupu-kupu (Bauhinia purpurea)

1. Batang Cinamomum burmani

Gambar 11. Irisan melintang batang kayu manis (Cinnamomum burmani)A. Tampak
keseluruhan, B. Tampak sebagian, e:epidermis, em: daerah empulur yang parenkimatis, f:
floem, ka: kambium, kol: jar. Kolenkima, skle: sklerenkima, x: silem. Sumber: dokumen
pribadi.
Penampang melintang batang C. burmani menunjukkan struktur anatomi sebagai
berikut: pada gambar 11 memiliki epidermis yang terdiri dari satu lapis. Korteks terdiri dari
beberapa lapis sel parenkimatik dengan beberapa sel yang mengandung antosianin yang
tersebar di antara sel-sel parenkimatik tersebut. Endodermis tidak tampak jelas. Perisikel
terdiri dari beberapa lapis sel yang berupa kelompok sklereida yang dihubungkan dengan
parenkima sehingga membentuk lingkaran utuh. Floem dan xilem dibatasi oleh kambium.
Floem membentuk kelompok-kelompok diselingi oleh parenkima, sedang xilem membentuk
lingkaran utuh. Empulur terdiri dari sel-sel parenkimatik yang memiliki ukuran lebih besar
dari sel-sel disebelah luarnya. Sel-sel empulur yang berbatasan dengan xilem berlignin.
Awal pertumbuhan sekunder pada batang C. burmani diawali dengan aktifitas
kambium gabus dan kambium pembuluh. Kambium gabus berasal dari sel-sel di bawah
epidermis. Kambium gabus pada awalnya hanya tampak di bagian tertentu (gambar A dan B)
. Kambium gabus pada pertumbuhan sekunder yang lebih lanjut, akan terus membelah ke arah
luar dan ke arah dalam sehingga membentuk lapisan periderm yang rata di semua permukaan
batang (gambar C).

Kambium pembuluh membelah ke arah dalam membentuk xilem sekunder dan ke arah
luar membentuk floem sekunder. Kambium pembuluh lebih aktif membelah ke arah dalam
dari pada ke arah luar sehingga lapisan xilem sekunder lebih tebal dari pada floem sekunder
(gambar C). Di antara berkas-berkas xilem sekunder terdapat parenkima jari-jari empulur.
2. Batang bunga kupu-kupu (Bauhinia sp.)
Struktur anatomi batang Bauhinia sp. yang telah mengalami pertumbuhan sekunder
menunjukkan bagian paling luar berupa lapisan periderm yang terdiri dari 3 bagian yang
meliputi felem bagian paling luar, felogen yang bersifat meristematik, dan feloderm yang
berada di sebelah dalam dan berasal dari felogen. Felem terdiri dari beberapa lapis sel yang
dindingnya bergabus, pada beberapa bagian tertentu felem tampak robek sebagai akibat
desakan pertumbuhan jaringan yang berada di sebelah dalamnya. Bagian yang robek tadi
dinamakan lenti sel, yang berfungsi sebagai jalan keluar masuknya udara pada peristiwa
pernafasan. Felogen terdiri dari beberapa lapis sel yang terletak di sebelah dalam felem. Sel
penyusun felogen berbentuk pipih ke arah samping dan selnya hidup. Feloderm berada di
sebelah dalam felogen, terdiri dari sel-sel parenkimatik. Korteks berada di sebelah dalam
lapisan periderm, terdiri dari sel-sel klorenkima. Lapisan endodermis bersifat parenkimatis
sedangkan lapisan perisikel sebagian bersifat sklerenkimatis dan sebagian kecil parenkimatis.
Sel-sel penyusun jaringan floem sekunder berada di sebelah dalam perisikel. Parenkima jarijari floem berada di dalam berkas floem sekunder. Kambium pembuluh tersusun hingga 5
deret sel. Xilem sekunder berada di sebelah dalam kambium pembuluh. Xilem sekunder
terdiri dari trakea dan trakeida yang tersusun dalam satu jari-jari xilem. Parenkima jari-jari
xilem berada di dalam berkas xilem sekunder. Parenkima jari-jari empulur memisahkan antar
berkas pengangkut. Tipe stele pada batang Bauhinia sp. bertipe eustele. Batang Bauhinia sp.
yang diamati belum menunjukkan adanya daerah dilatasi. Daerah empulur disusun oleh selsel yang bersifat parenkimatik.

Struktur Monokotil Berbatang Lunak


1. Batang Jagung (Zea mays)
Lapisan terluar batang jagung disusun oleh satu lapis epidermis. Daerah korteks batang
jagung sempit. Daerah korteks batang jagung terdiri dari 2 sampai 3 lapis sklerenkima yang
terdiri dari sel-sel serabut sklerenkima yang berlignin dan satu sampai dua lapis sel
parenkimatik. Batas daerah korteks dengan silinder pusat tidak jelas. Ukuran sel-sel
parenkima semakin ke dalam semakin besar. Berkas penngangkut yang bertipe kolateral
tertutup fibrovaskuler tersebar di antara sel-sel parenkima. Ukuran berkas pengangkut
semakin ke dalam semakin besar. Ciri khas pada berkas pengangkut batang jagung, xilem
terdiri dari dua trakea besar kemudian dihubungkan dengan satu buluh cincin dan di antara
floem dan xilem ditemukan ruang reksigen. Serabut sklerenkima mengelilingi seluruh berkas
pengangkut. Tipe stele pada batang jagung disebut ataktostele.

Monokotil berbatang keras


1. Batang Palem Kuning
Batang palem kuning saat muda terbungkus oleh pelepah daun. Irisan melintang batang
palem berbentuk segitiga dengan ujung tumpul. Lapisan terluar batang disusun oleh selapis
sel epidermis. Korteks tampak sempit dan batas antara korteks dengan silinder pusat tidak
jelas. Di sebelah dalam epidermis, terdapat satu sampai dua lapis sel sklerenkima diikuti
dengan parenkima. Di antara jaringan parenkima terdapat berkas pengangkut yang bertipe

kolateral tertutup fibrovaskuler. Serabut sklerenkima yang mengelilingi berkas pengangkut


sangat tebal dan berlignin.

Perbedaan pokok antara batang monokotil dan dikotil terletak pada tipe berkas
pengangkut, jaringan penguat, dan tipe stelenya. Tipe berkas pengangkut pada batang dikotil
yang normal tipe kolateral terbuka. Kambium terdapat di antara xilem dan floem (kambium
faskuler) dan kambium interfasikuler terdapat di antara dua berkas pengangkut. Pertumbuhan
sekunder menyebabkan dua berkas pengangkut yang berbatasan menjadi satu sehingga berkas
pengangkut tampak sebagai satu lingkaran yang utuh. Jaringan penguat pada dikotil dapat
berupa kolenkima yang terdapat di daerah korteks baik berbatasan langsung dengan epidermis
atau terdapat di dalam parenkima. Sklerenkima mungkin terdapat sebagai jaringan penguat
sendiri atau bersama dengan kolenkima di dalam korteks. Tipe berkas pengangkut pada
monokotil disebut kolateral tertutup karena tidak terdapat kambium di antara xilem dan
floem. Kambium interfasikuler juga tidak ada. Letak berkas pengangkut pada monokotil
tersebar. Tipe stele pada dikotil eustele sedang pada batang monokotil ataktostele.
Batang Tumbuhan Dikotil yang Menyimpang
Beberapa tumbuhan dikotil memiliki struktur anatomi yang menyimpang dari normal.
Sebagai contoh berkas pengangkut yang umumnya kolateral, pada tumbuhan tersebut bertipe
bikolateral, konsentris baik amfivasal maupun amfikribral. Berkas pengangkut pada dikotil
normalnya tersusun dalam satu lingkaran tetapi pada beberapa tumbuhan dapat lebih dari satu
lingkaran sehingga ada berkas pengangkut perifer dan medular. Berkas pengangkut yang
perifer tersusun dalam satu lingkaran sedang berkas pengangkut yang terletak di medular

umumnya tersebar. Tipe stele pada dikotil yang normalnya eustele dapat berubah menjadi
diktiostele. Penyimpangan tersebut dinamakan anomali. Contoh-contoh batang yang memiliki
struktur anatomi menyimpang:
1. Sechium edule
Lapisan terluar batang S. edule disusun oleh satu lapis sel epidermis. Daerah korteks
disusun oleh jaringan kolenkima, klorenkima, dan sklerenkima. Kolenkima terletak di sebelah
dalam lapisan epidermis. Kolenkima memiliki tebal 2 sampai 7 lapis sel, disebelah dalam
jaringan kolenkima terdapat 1 sampai 2 lapis sel klorenkima. Jaringan sklerenkima terdapat
setelah jaringan klorenkima. Jaringan sklerenkima memiliki tebal kurang lebih 5 lapis sel.
Batas antara korteks dan silinder pusat tidak jelas. Sel-sel yang menyusun endodermis dan
perisikel bersifat parenkimatis. Berkas pengangkut terdapat di antara sel-sel parenkima yang
menyusun daerah empulur. Berkas pengangkut memiliki tipe bikolateral, dengan susunan
floem luar-kambium-xilem-floem dalam. Tipe bikolateral termasuk sifat anomali. Berkas
pengangkut tersusun dalam satu lingkaran. Adanya pertumbuhan yang tidak sama
menyebabkan berkas pengangkut tampak tersebar. Sel-sel parenkima di daerah empulur ada
yang berdisintegrasi sehingga terbentuk rongga empulur.

2. Batang Piper betle

Bagian terluar dari batang sirih disusun oleh selapis sel epidermis. Daerah korteks
disusun oleh jaringan kolenkima dan sklerenkima. Kolenkima terletak di sebelah dalam
epidermis. Kolenkima memiliki tebal 3-4 lapis. Di sebelah dalam kolenkima terdapat
parenkima yang mengandung koloroplas. Endodermis batang sirih bersifat parenkimatis. Di
sebelah dalam endodermis adalah selapis perisikel yang juga bersifat parenkimatis. Berkas
pengangkut yang terletak di tepi memiliki tipe kolateral terbuka fibrovaskuler. Sklerenkima
yang terdiri dari serabut sklerenkima yang berlignin membentuk lingkaran utuh yang
bergelombang membatasi berkas pengangkut perifer dan medular. Berkas pengangkut yang
terletak di tepi tersusun dalam lingkaran yang rapi. Di daerah tengah atau medular di antara
sel-sel parenkima empulur terdapat berkas pengangkut yang juga bertipe kolateral terbuka.
Berkas pengangkut yang terletak di medular letaknya berseling dengan berkas pengangkut
perifer. Adanya berkas pengangkut yang terletak di medular (di antara parenkima empulur)
merupakan salah satu bentuk anomali pada batang P. betle.

3. Batang Amaranthus sp.

Bagian terluar dari batang bayam disusun oleh selapis sel epidermis. Daerah korteks
disusun oleh beberapa lapis jaringan kolenkima. Kolenkima terletak di sebelah dalam
epidermis. Klorenkima terdapat di sebelah dalam kolenkima. Kristal kalsium oksalat
berbentuk tetrahedral atau prisma yang berukuran sangat kecil sehingga disebut dengan
bentuk pasir terdapat di dalam parenkima korteks. Endodermis batang bayam bersifat
parenkimatis terdiri dari satu lapis, diikuti oleh perikambium. Berkas pengangkut perifer
memiliki tipe kolateral terbuka. Dua berkas pengangkut perifer dipisahkan oleh kambium
interfasikuler. Sel-sel hasil pembelahan kambium interfasikuler ke arah dalam membentuk
jaringan parenkima konjungtif. Berkas pengangkut yang terletak di tepi tersusun dalam
lingkaran yang rapi. Di daerah tengah atau medular di antara sel-sel parenkima empulur
terdapat berkas pengangkut yang juga bertipe kolateral terbuka. Berkas pengangkut yang
terletak di medular tersusun tersebar. Adanya berkas pengangkut yang terletak di medular (di
antara parenkima empulur) merupakan salah satu bentuk anomali pada batang Amaranthus
sp.. Bentuk anomali juga ditunjukkan dengan adanya susunan berkas pengangkut yang
tersebar karena Amaranthus sp. termasuk kelompok dikotil.

4. Batang Begonia sp.

Bagian terluar batang Begonia sp. dilapisi oleh selapis sel epidermis. Di sebelah dalam
epidermis terdapat 6- 7 jaringan kolenkima. Di dalam sel-sel kolonkima juga ditemukan
pigmen antosianin. Di sebelah dalam jaringan kolenkiam adalah jaringan parenkima. Di
dalam sel penyusun jaringan kolenkima dapat ditemukan kloroplas dan kristal kalsium oksalat
dengan bentuk drusse. Lapisan endodermis bersifat parenkimatik. Di sebelah dalam
endodermis adalah perisikel yang juga bersifat parenkimatik. Berkas pengangkut bersifat
kolateral terbuka. Berkas pengangkut dalam silinder pusat tersusun di dalam dua lingkaran
yang berseling, ukuran berkas pengangkut perifer lebih kecil dibandingkan berkas pengangkut
medular.
Batang Monokotil yang Bersifat Anomali
Batang Aloe sp.

Lapisan terluar batang Aloe sp. yang sudah tua disusun oleh lapisan periderm. Di
sebelah dalam lapisan periderm terdapat jaringan parenkima yang menyusun daerah korteks.
Batas antara daerah korteks dengan silinder pusat tidak tampak jelas. Setelah beberapa lapis
parenkima dapat ditemukan sel-sel kambium yang berada di luar berkas pengangkut. Di
sebelah dalam kambium ditemukan berkas pengangkut yang memiliki tipe konsentris
amfivasal dan berkas pengangkut letaknya tersebar di dalam stele. Parenkima terdapat di
antara berkas pengangkut. Keberadaan kambium di luar berkas pembuluh dan tipe berkas
pengangkut konsentris amfivasal merupakan bentuk anomali pada batang Aloe sp.
5.4 Daun
1) Morfologi Daun
Bagian yang tubuh tumbuhan yang berasal dari titik tumbuh ujung batang dan berupa
lembaran yang tipis. Pada umumnya mengandung kloroplas dan berfungsi untuk fotosintesis
dinamakan daun. Secara morfologi, bentuk-bentuk daun dapat dilihat pada gambar 1.

Keterangan gambar 1, dapat dijelaskan sebagai berikut.


1. Bentuk daun jantung (cordatus), Bentuk daun jantung memiliki ciri bentuk bulat telur
dengan bagian pangkal daun berlekuk.
2. Bentuk daun jorong (ovalis atau ellipticus), Bentuk daun jorong memiliki perbandingan
panjang dan lebar 1-2:1.
3. Bentuk daun garis (linearis), Bentuk daun garis memiliki penampang melintang pipih dan
bentangan daun yang panjang.
4. Bentuk daun bulat atau bundar (orbicularis), Bentuk daun bulat atau bundar memiliki
perbandingan panjang dan lebar 1:1.

5. Bentuk daun perisai (peltatus), Bentuk daun perisai memiliki ciri tangkai daun menempel
pada bagian tengah helaian daun.
6. Daun majemuk menjari (palmatus atau digitatus), Daun majemuk dengan anak daun
tersusun memencar pada ujung ibu tangkai daun.
7. Daun majemuk menyirip berselang-seling (interrupte pinnatus), Daun majemuk dengan
anak daun yang berukuran kecil berselang-seling dengan anak daun yang berukuran
besar.
8. Daun majemuk menyirip genap (abrupte pinnatus), Daun majemuk dengan anak daun
yang berpasang-pasangan di kanan dan kiri ibu tulang daun.
9. Bentuk daun jantung sunsang (obcordatus), Bentuk daun yang memiliki bentuk jantung
dengan bagian lancip menempel pada tangkai daun.
10. Daun majemuk menyirip gasal (imparipinnatus), Bentuk daun majemuk dengan dengan
jumlah anak daun gasal, dengan satu anak daun terletak di bagian ujung ibu tulang daun.
11. Bentuk daun delta (deltoideus), Bentuk daun yang memiliki tiga bagian sisi yang hampir
sama.
12. Daun dengan tulang daun melengkung (cervinervis), Daun yang memiliki beberapa
tulang daun dengan: satu tulang daun besar terletak di tengah sedang beberapa tulang
daun yang lain mengikuti arah tepi daun.
13. Bentuk daun anak panah (sagittatus), Bentuk daun dengan ujung yang tajam dengan
bagian pangkal berlekuk dengan sudut yang lancip.
14. Bentuk daun bulat telur (ovatus), Bentuk daun seperti bulat telur.
15. Daun bertoreh tidak merdeka (bercangap menyirip), Daun dengan torehan kurang lebih
setengah panjang tulang daun dengan tulang daun menyirip.
16. Daun bertoreh merdeka (bergerigi/serratus), Daun bertoreh yang tidak merubah bentuk
dasar daun dengan bagian sudut dalam (angulus) lancip dan sudut luar/lekukan (sinus)
juga lancip.
17. Daun bertoreh tidak merdeka (berbagi menjari), Daun dengan torehan melebihi setengah
panjang tulang daun dengan tulang daun menjari.
2) Anatomi Daun
Daun terdiri dari tangkai daun, lamina, kosta, dan vena. Tangkai daun memiliki struktur
anatomi yang mirip dengan batang. Kosta dan vena merupakan lanjutan dari batang tetapi
memiliki arah tumbuh menyamping, sehingga letak berkas pengangkut terbalik dengan berkas
pengangkut pada batang. Xilem pada berkas pengangkut di batang terletak di sebelah dalam
floem sedang pada daun xilem berada di atas floem.

Epidermis daun terdiri dari dua, yaitu epidermis adaksial dan abaksial. Mesofil
merupakan jaringan yang terletak di antara kedua epidermis tersebut. Berkas pengangkut di
dalam mesofil terletak dalam satu deretan. Berkas pengangkut pada vena ukurannya lebih
kecil dibandingkan dengan berkas pengangkut pada kosta, bahkan kadang-kadang
komponenya tereduksi terutama bagian floemnya.
Mesofil pada daun monokotil pada umumnya tidak mengalami diferensiasi dan tersusun
oleh jaringan sponsa. Mesofil pada dikotil pada umumnya berdeferensiasi menjadi palisade
dan sponsa. Jaringan palisade pada umumnya tersusun rapat dan mengandung kloroplas lebih
banyak dibandingkan jaringan sponsa. Jaringan sponsa memiliki banyak ruang antar sel yang
kecil-kecil. Stomata terdapat pada bagian epidermis baik adaksial maupun abaksial maupun
keduanya. Letak stomata dapat sejajar dengan sel epidermis atau lebih tenggelam atau
menonjol. Letak stomata juga disesuaikan dengan lingkungan hidup tumbuhan. Daun
dikategorikan dalam berbagai macam tipe berdasarkan keberadaaan stomata. Daun
epistomatik jika stomata terdapat di bagian adaksial daun, hipostomatik jika stomata berada di
bagian epidermis bawah daun, dan amfistomatik jika stomata terdapat pada kedua epidermis
daun.
Tipe berkas pengangkut pada daun sama dengan pada batang tetapi susunannya floem
dan xilem terbalik. Kolenkima atau sklerenkima sering ditemukan di kosta yang letaknya
langsung di bawah epidermis. Banyak tumbuhan yang berkas pengangkutnya dikelilingi oleh
serabut sklerenkima.
Daun seringkali memiliki struktur yang diadaptasikan dengan lingkungannya, misalnya
daun rumput-rumputan, epidermis atasnya membentuk sel kipas yang digunakan untuk
menggulung daun sehingga dapat mengurangi penguapan. Trikomata juga sering kali
dibentuk dalam rangka untuk melindungi daun dari devisit air yang disebabkan oleh
penguapan yang tinggi. Trikomata juga dapat digunakan untuk melidungi tumbuhan dari
pengganggu karena trikomata tersebut menghasilkan zat-zat yang tidak disukai atau dapat
mematikan penganggu.
Daun dapat dikalsifikasikan menjadi daun yang bersifat ekuifasial jika mesofil tidak
berdefersnsiasi sedang jika mesofil berdeferensiasi menjadi palisade dan sponsa dinamakan
tipe dorsiventral. Daun tertentu memiliki susunan mesofil yang sentris daun tersebut
dikatakan bertipe sentris.
Struktur daun yang menyesuaikan dengan lingkungan yang kekurangan air dinamakan
daun yang xeromorfik, daun yang menyesuaikan dengan lingkungan cukup air dinamakan
mesomorfik, sedang yang menyesuaikan dengan lingkungan banyak air dinamakan
hidromorfik.

Beberapa Contoh Struktur Anatomi Daun


Anatomi Daun Dikotil
Contoh anatomi daun dikotil diantaranya daun Ortosiphon stamineus (kumis kucing) dan
Glycine max (kedelai).
1. Anatomi daun Ortosiphon stamineus
Daun Ortosiphon stamineus memiliki epidermis atas, dengan trikoma nonglanduler
dan trikoma glanduler. Trikoma nonglanduler terdiri dari 3-4 sel yang tersusun dalam satu
deret dan sel paling ujung runcing. Trikoma glanduler berbentuk sisik dengan satu tangkai
dan empat sel kepala. Bagian kosta di bawah epidermis atas dan bawah ditemukan kolenkima
sudut, diikuti dengan parenkima. Berkas pengangkut bertipe kolateral terbuka. Xilem berada
di bagian adaksial dikuti kambium dan floem. Bagian lamina di bawah epidermis atas terdapat
palisade parenkima yang terdiri dari dua lapis. Sel-sel palisade tersebut banyak mengandung
kloroplas. Jaringan sponsa terdapat di sebelah bawah palisade terdiri dari sel-sel isodiametrik
dengan ruang antar sel yang kecil. Stomata ditemukan di kedua permukaan daun, bentuk sel
penutup ginjal diapit dengan dua sel tetangga yang memiliki poros panjang tegak lurus
dengan poros sel penutup, dengan demikian tipe stomata pada Ortosiphon ini dinamakan
diasitik. Tipe daun Ortosiphon ini dinamakan bifasial karena memiliki struktur yang berbeda
kalau dilihat dari permukaan atas dan permukaan bawah. Ditinjau dari keberadaan stomata
daun ini memiliki tipe amfistomatik.

2. Anatomi Daun Glycine max (Kedelai)


Daun Glycine max ini memiliki epidermis atas dan bawah yang dilapisi dengan
kutikula yang tipis. Stomata lebih banyak ditemukan di permukaan bawah meskipun juga
ditemukan di permukaan atas. Bagian kosta di bawah epidermis atas dan di atas epidermis
bawah terdapat kolenkima sudut. Kolenkima atas dan bawah dihubungkan oleh sel-sel
parenkima yang berbentuk isodiametrik. Tipe berkas pengangkut kolateral terbuka dengan
xilem berada di bagian atas dan floem di bawah. Kambium tidak aktif sehingga tidak tampak
terlalu jelas. Parenkima palisade terdapat di sisi kiri dan kanan berkas pengangkut,
berhubungan langsung dengan palisade yang berada di lamina. Kristal kalisum oksalat dengan
bentuk prisma ditemukan di epidermis .
Lamina tersusun dari lapisan epidermis atas diikuti oleh dua lapis palisade parenkima yang
banyak mengandung kloroplas. Sel-sel sponsa berbentuk segitiga berujung tumpul dan
mengandung kloroplas lebih sedikit disbanding dengan palisade. Ruang-ruang antar sel
banyak ditemukan pada jaringan ini. Epidermis bawah terdiri dari selapis sel dengan stomata
yang anomositik tetapi sebagian ada yang bersifat anisositik. Trikoma glanduler dengan satu
sel tangkai dan satu sel kepala. Trikoma nonglanduler terdiri dari beberapa sel yang tersusun
dalam satu deret dengan sel paling ujung runcing.

Contoh-contoh anatomi daun monokotil di antaranya daun Lilium sp. dan


Cymbopogon nardus.

1. Anatomi Daun Lilium sp.


Daun Lilium sp. memiliki tulang daun sejajar, secara anatomis daun tersebut memiliki
lapisan epidermis atas dan bawah yang terdiri dari satu lapis sel dengan bentuk kuboid. dan
memiliki kutikula tipis. Stomata ditemukan di permukaan atas dan bawah, sel penutup
berbentuk ginjal yang dikelilingi oleh empat sel tetangga. Jumlah stomata pada sisi adaksial
dan abaksial sama sehingga daun ini disebut dengan daun yang amfistomatik. Daun lilium sp.
juga dapat disebut dengan daun yang bersifat unilateral atau unifasial karena mesofilnya tidak
berdiferensiasi sehingga kalau dilihat dari sisi abaksial dan abaksial memiliki susunan yang
sama. Mesofil tidak berdeferensiasi menjadi palisade dan sponsa tetapi terdiri dari sel-sel
parenkimatik yang berbentuk isodiametrik. Kloroplas lebih banyak terdapat di lapisan
parenkima mesofil adaksial di bandingkan dengan di sisi abaksial. Berkas pengangkut bersifat
kolateral tertutup.

2. Anatomi Daun Cymbopogon nardus


Daun Cymbopogon nardus memiliki tulang daun sejajar dengan bagian kosta yang
lebih besar dari yang lain. Bagian adaksial kosta terdiri dari satu lapis epidermis, diikuti
beberapa lapis serabut sklerenkima yang berkelompok dilanjutkan dengan parenkima yang
berbentuk isodiametris dan terdiri dari beberapa lapis. Berkas pengangkut pada kosta
memiliki ukuran paling besar, bertike kolateral tertutup fibrofaskuler. Di beberapa tempat
tertentu, xilem terdiri dari dua trakea besar yang mengapit ruang reksigen dan satu buluh
cincin sedang di tempat lain buluh cincin dan ruang reksigen belum tampak jelas tetapi yang
ada trakea yang diameter lebih kecil diapit oleh parenkima. Floem terdiri dari buluh tapis
yang didampingi oleh sel pengiring yang berukuran lebih kecil dan parenkima floem. Berkas

pengangkut dikelilingi oleh selapis sel-sel yang berbentuk isodiametrik dan mengandung
sedikit kloroplas dan di luarnya sel-sel berbentuk palisade dan mengandung lebih banyak
kloroplas. Di bagian atas xilem dan di bawah floem ditemukan jaringan sklerenkima yang
menghubungkan epidermis atas dan bawah.

Lamina epidermis atas memiliki sel-sel kipas yang ukurannya lebih besar
disekelilingnya. Sel kipas terdiri dari 5 atau lebih, stomata ditemukan pada epidermis bawah
dan atas. Sel penutup berbentuk halter yang dikelilingi 2 sel tetangga. Stomata terdapat dalam
satu deretan. Trikoma kelenjar yang terdiri dari satu sel ditemukan pada epidermis yang
berada di tulang daun.
Adaptasi Daun Terhadap Lingkungan
Struktur anatomi daun disesuaikan dengan lingkungan tumbuh tumbuhan. Adaptasi
terjadi pada lingkungan yang kekurangan air dan air berlimpah. Adaptasi juga dilakukan
terhadap intensitas sinar. Sebagai contoh daun-daun yang memiliki struktur adaptasi
lingkungan kering yaitu daun Pinus merkusii dan Ficus benjamina; lingkungan banyak air di
antaranya melati air, daun Pinus merkusii, dan Xanthosoma.
1. Anatomi daun melati air
Daun ini memiliki urat-urat daun melengkung dan menonjol. Bagian kosta lebih
menonjol ke arah abaksial. Epidermis atas terdiri dari satu lapis dengan kutikula tipis, diikuti
oleh beberapa lapis sel sklerenkima. Berkas pengangkut berukuran kecil dengan tipe kolateral
tertutup fibrovaskuler langsung terdapat di bawah sklerenkima. Jaringan parenkima
membatasi antara berkas pengangkut yang berukuran kecil tadi dengan berkas pengangkut

yang berukuran lebih besar. Berkas pengangkut yang besar juga bertipe kolateral tertutup
fibrovaskuler. Berkas pengangkut ini dikelilingi oleh aerenkima yang memiliki ruang antra sel
yang luas. Sel-sel penyusun aerenkima berbentuk isodiametrik dan berukuran kecil. Di
sebelah bawah aerenkima ditemukan dua berkas pengangkut kecil lagi yang bertipe sama,
dikelilingi oleh aerenkima yang ruang antar selnya lebih kecil dibanding dengan ruang antar
sel di atasnya. Antara epidermis bawah dengan berkas pengangkut terdapat sklerenkima.

Lamina terdiri dari epidermis atas dan epidermis bawah. Di bawah epidermis atas
ditemukan satu lapis palisade yang mengandung kloroplas, diikuti sponsa yang tersusun oleh
sel-sel isodiametrik yang bersifat parenkimatik dengan ruang antar sel yang kecil. Stomata
ditemukan di bagian epidermis atas dan bawah, dengan sel penutup berbentuk ginjal.
2. Anatomi daun Pinus merkusii
Daun Pinus merkusii memiliki mesofil yang susunannya terpusat sehingga disebut
dengan daun yang bertipe sentris. Epidermis terdiri dari satu lapis dengan kutikula tebal dan
letak stomata tenggelam. Sklerenkima terdiri dari 2 sampai 3 lapis terdapat di bawah
epidermis. Parenkima dengan dinding yang berlipat-lipat terdapat di bawah sklerenkima.
Saluran hars dengan satu lapis epitel banyak dijumpai di daerah parenkima tadi. Endodermis
terdiri dari satu lapis dengan ukuran sel yang besar dengan bentuk oval diikuti oleh selapis
perisikel yang bersifat parenkimatis. Empulur terdiri dari sel-sel parenkimatis dan bagian
tengah terdapat berkas pengangkut dengan tipe kolateral terbuka. Daun ini menunjukkan
adaptasi terhadap lingkungan kering karena pada umumnya Pinus hidup di daerah yang tinggi
atau di kutub yang sumber airnya sangat dalam. Lapisan kutikula yang tebal dan letak stoma
tenggelam menunjukkan adaptasi terhadap lingkungan yang kurang air. Daun Pinus ini
dikatakan memiliki sifat xeromorfik.

3. Anatomi daun Ficus benjamina (beringin)


Daun Ficus benjamina memiliki epidermis yang terdiri dari 2 sampai 3 lapis. Lapisan
terluar memiliki ukuran paling kecil dan dilapisi oleh kutikula tebal. Litosis ditemukan pada
lapisan epidermis atas. Stomata terdapat di epidermis bawah dengan sel penutup stoma
berbentuk ginjal dan terletak tenggelam. Mesofil terdiferensiasi menjadi palisade dan sponsa.
Palisade ditemukan di permukaan atas dan bawah. Ukuran sel-sel palisade yang di atas lebih
besar dibandingkan dengan palisade di permukaan bawah. Palisade yang terdapat di bagian
atas terdiri dari dua lapis sedang yang di bawah hanya satu lapis, keduanya banyak
mengandung kloroplas. Sponsa terdiri dari sel-sel parenkimatik yang berbentuk segitiga yang
berujung tumpul dengan ruang-ruang antar sel yang banyak. Tipe berkas pengangkut
bikolateral fibrovaskuler tetapi sklerenkima hanya terdapat pada bagian bawah floem dalam.

4. Anatomi daun Xanthosoma sp.


Xanthosoma sp. biasanya ditanam di pematang sawah yang intensitas sinarnya tinggi
sepanjang hari. Xanthosoma termasuk monokotil yang pada umumnya parenkima mesofilnya
tidak mengalami diferensiasi. Struktur anatomi daun Xanthosoma meunjukkan adaptasi
terhadap intensitas sinar yang tinggi dengan membentuk lapisan palisade yang lebih dari satu
lapis. Bagian kosta daun Xanthosoma terdiri dari satu lapis epidermis atas yang berbentuk
kuboid dengan kutikula tipis. Di sebelah dalam epidermis ditemukan 2-3 lapis palisade yang
tersusun rapat dan mengandung kloroplas yang banyak. Epidermis bawah terdiri dari satu
lapis sel dengan bentuk kuboid dan dilapisi oleh kutikula tipis yang berombak. Di atas
epidermis bawah ditemukan sklerenkima yang berkelompok. Di sebelah dalam terdapat
parenkima yang berbentuk isodiametrik dan bersifat parenkimatik dan di bagian yang lebih
dekat dengan sisi adaksial terdapat aerenkima yang memiliki ruang udara yang luas. Berkas
pengangkut yang bertipe kolateral tertutup terdapat di dalam daerah yang terdiri dari
parenkima dan aerenkima kosta. Kristal kalsium oksalat yang berbentuk jarum terdapat di
dalam sel-sel parenkima tersebut.
Lamina terdiri dari selapis epidermis atas dan bawah yang memiliki bentuk yang sama
dengan epidermis kosta. Mesofil berdiferensiasi menjadi palisade dan sponsa. Rafida defensif
ditemukan di dalam mesofil. Stomata terdapat di epidermis atas dan bawah dengan sel
penutup berbentuk ginjal.

Struktur morfologis daun ada yang berasal dari tangkai daun yang memipih disebut
dengan filodia dan berasal dari batang yang memipih yang disebut kladodia. Salah satu

contoh filodia adalah daun Acasia auriculiformis, sedang contoh kladodia adalah daun
Muehlenbeckia platycada.
1. Anatomi Filodia Acasia auriculiformis
Penampang melintang tangkai filodia dari Acasia seperti pada penampang melintang
batang. Epidermis terdiri dari satu lapis melingkar dan di bawahnya terdapat 1 sampai 2 lapis
klorenkima diikuti berkas pengangkut yang bertipe kolateral terbuka fibrovaskuler yang
tersusun dalam satu lingkaran. Setiap berkas pengangkut terdiri dari floem yang berada di
sebelah luar xilem. Serabut sklerenkima terdapat di sebelah luar floem. Bagian paling dalam
tersusun dari sel-sel parenkimatik yang berbentuk isodiametrik.

Gambar 10. Irisan melintang tangkai daun Acasia auriculiformis. ep: epidermis, f: floem, klo:
kklorenkima, kt: kutikula, par: parenkima, skle: sklerenkima, x: xilem. Sumber: dokumen
pribadi.
Bagian yang tampak seperti lamina memiliki struktur anatomi yang sedikit yang
berbeda dengan bagian tangkai. Bagian ini memiliki struktur pipih ke arah horisontal dengan
ujung yang memiliki berkas pengangkut bersambungan dengan berkas pengangkut lain yang
berada di abaksial dan adaksial. Dua berkas pengangkut besar di bagian sentral menyatu
sehingga terlihat seperti satu berkas pengangkut dengan susunan sklerenkima-floem-xilemffloem-sklerenkima. Berkas pengangkut di dalam mesofil terletak berderet beraturan dengan
tipe kolateral terbuka fibrovaskuler. Epidermis tersusun dari satu lapis sel diikuti dengan 2
lapis palisade yang mengandung kloroplas. Dua berkas pengangkut berukuran kecil
dipisahkan oleh jaringan parenkimatik yang sel-selnya berbentuk isodiametrik dan tidak

mengandung kloroplas. sehingga terkesan seperti empulur pada batang. Kutikula yang
melapisi epidermis tebal, stomata terletak tenggelam.

2. Anatomi Kladodia Muehlenbeckia platycada


Epidermis membentuk lingkaran eliptik, terdiri dari satu lapis sel dengan lapisan
kutikula yang tebal. Palisade terletak di sebelah dalam epidermis membentuk kelompokkelompok yang diselingi oleh sklerenkima. Bagian terdalam terdiri dari sel-sel parenkimatik
yang berbentuk isodiametrik. Di dalamnya ditemukan berkas pengangkut yang tersusun
melingkar. Berkas pengangkut bertipe kolateral terbuka fibrovaskuler dengan floem terletak
di sebelah luar xilem dan dilindungi oleh sklerenkima. Kedua ujung elips memiliki daerah
sklerenkima yang lebih luas dibanding dengan bagian lain.

BAB VI
ORGAN GENERATIF

Kegiatan Pengantar
Perhatikanlah bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) atau bunga jenis lainnya yang ada di
sekitar saudara! Setelah saudara melakukan pengamatan jawablah pertanyaan berikut!
1. Dari bunga-bunga yang telah saudara amati adakah bagian bunga yang menyerupai daun
dan batang?
..................................................................................................................................................
..................................................................................................................................................
2. Sebutkan bagian-bagian bunga yang menyerupai daun dan batang?
..................................................................................................................................................
..................................................................................................................................................
3. Adakah bagian bunga yang tidak menyerupai daun? Sebutkan bagian-bagian bunga
tersebut!
..................................................................................................................................................
..................................................................................................................................................
4. Dari bagian bunga yang menyerupai batang dan daun tersebut apakah memiliki struktur
anatomi yang serupa? Jelaskan jawaban saudara setelah mempelajari materi organ
generatif!
..................................................................................................................................................
..................................................................................................................................................
6.1 Perkembangan Bunga
Bunga berasal dari perkembangan pucuk batang yang disebut dengan dasar bunga
(reseptakulum) yang merupakan ontogeni dari struktur fundamental dari pucuk vegetatif.
Reseptakulum terdiri dari beberapa buku dan ruas yang diduduki oleh alat-alat tambahan.
Buku-buku tersebut biasanya sangat banyak dengan ruas yang pendek. Bunga dimulai dari
perkembangan sumbu yang mengandung sel-sel meristematik kemudian meluas ke atas
membentuk reseptakulum. Alat-alat tambahan seperti daun kelopak (sepalum), daun mahkota
(petalum), benang sari (stamen), dan putik (pistilum) berkembang dari tonjolan sel-sel
meristematik.
Kumpulan daun kelopak (calyx) berfungsi untuk melindungi bagian-bagian bunga
yang muda. Benang sari muncul setelah kelopak, diikuti oleh putik kemudian pertumbuhan
berhenti. Pertumbuhan dilanjutkan dengan pembentukan daun mahkota yang mengumpul
membentuk corolla. Bakal benang sari berdiferensiasi menjadi tangkai sari (filamentum) dan

kepala sari (anthera) sedangkan bakal putik menjadi putik (pistilum) yang terdiri dari bakal
buah (ovarium), tangkai kepala putik (stilus) dan kepala putik (stigma).
Bunga yang primitif bersifat biseksual dengan banyak benang sari dan daun buah
tanpa perhiasan bunga dengan susunan spiral, masing-masing bagian bunga tidak menyatu
dan simetris. Bunga yang modern terdiri dari empat lingkaran yang terpisah tetapi berdekatan.
Dua lingkaran di luar diduduki oleh kelopak dan mahkota bunga kemudian dua lingkaran di
dalam diikuti oleh alat reproduksi yang terdiri dari benang sari dan putik.
6.2 Bagian-bagian Bunga

Gambar 1. Susunan bunga pukul 8 (Yusie sp.) yang tersusun dalam lingkaran, dimulai dari:
ca: calyx, co: corolla, st: stamen, dan p: pistil,. Sumber: dokumen pribadi (1990).
a) Kelopak (Calyx)
Lingkaran terluar dari bunga diduduki oleh daun kelopak yang berwarna hijau yang
berfungsi untuk melindungi bagian-bagian bunga yang lain pada saat bunga masih kuncup
terhadap sinar matahari dan hujan. Kelopak Malvaceae memiliki kelopak tambahan, disebut
epicalyx. Epicalyx terletak di luar lingkaran calyx. Calyx pada Impatiens balsamina dan
Tropaeolum majus membentuk tabung dan bertaji, tampak seperti gambar 2B dan C.

b) Mahkota (Corolla)
Corolla menduduki lingkaran kedua, terdiri dari sejumlah petala yang berwarna
terang. Fungsi utama dari corolla untuk menarik serangga saat polinasi. Corolla juga
melindungi stamen dan pistilum terhadap panas dan hujan. Mahkota bunga dapat terdiri dari
sepalum yang bebas dan tidak berlekatan. Sepalum juga ada yang saling berlekatan
membentuk struktur seperti tabung, tampak pada gambar 3A. Sepalum yang terlepas
susunannya dapat berselang-seling, atau tumpang tindih, terlihat pada gambar 3B dan C.

c) Alat Kelamin Jantan (Androecium)


Androecium menduduki lingkaran ketiga terdiri dari sejumlah benang sari atau
mikrosporofil. Setiap benang sari terdiri dari filamen, anthera, dan konektivum. Anthera
umumnya terdiri dari 2 ruang sari (teka) yang masing-masing terdiri dari 2 kotak sari
(lokulus) yang terlihat pada gambar 4Bl, kedua teka dihubungkan oleh konektivum. Kotak
sari dipenuhi oleh serbuk sari (polen) yang terlihat pada gambar 4Bp. Polen berasal dari
perkembangan dari mikrospora.

d) Alat Kelamin Betina (Gynaecium)

Gambar 5. Irisan membujur bunga Ipomoea pes-tigridis yang menunjukkan bagian-bagian


gynaecium, o: ovarium, stig: stigma, stil: stilus. Sumber: dokumen pribadi (2011).
Alat kelamin betina berada di lingkaran paling dalam, tersusun dari daun buah
(karpelum atau megasporofil). Gynaecium terdiri dari stilus (gambar 5stl) dan stigma (gambar
5stg). Ovarium terdiri dari satu atau beberapa ruang yang di dalamnya berisi ovulum. Ovarium
setelah proses pembuahan akan berkembang menjadi buah dan ovulum akan berkembang
menjadi biji.
6.3 Tipe Bunga Berdasar Letak Putik terhadap Dasar Bunga (Reseptakulum)

a. Hypogyni
Bunga yang bertipe hypogyny memiliki perhiasan bunga yang terletak di bawah ovarium.
Bakal buah menumpang pada reseptakulum. Ujung dari reseptakulum biasanya berbentuk
kerucut.

b. Perigyni
Bunga yang bertipe perigyni, jika ujung tangkai bunga membentuk suatu mangkuk yang
disebut dengan tabung kelopak yang tidak berlekatan dengan ovarium. Mahkota bunga
terletak di bibir mangkuk dan ovarium sebagian di dalam mangkuk sehingga kedudukan
ovarium setengah tenggelam.
c. Epigyni
Bunga bertipe epigyni, jika bagian tepi reseptakulum tumbuh menyelubungi seluruh
ovarium sehingga tampak perhiasan bunga berada di atas ovarium.
Pelajarilah istilah-istilah berikut sebelum mempelajari bagian anatomi bunga!

6.4 Struktur Anatomi Bunga


a. Struktur Anatomi Calyx
Calyx terdiri dari beberapa sepalum yang kedudukannya paling luar. Sepala dapat
saling berlekatan bahkan ada yang berbentuk tabung bagian bawah bersatu dan bagian atas
terpisah, ada pula yang saling terlepas sehingga tampak satu-persatu. Sepalum pada umumnya
berwarna hijau dan memiliki struktur anatomi sebagai berikut: bagian terluar dibatasi oleh
epidermis atas dan bawah, di antara keduanya terdapat sel-sel parenkimatis. Idioblas berupa
sel minyak, kristal, dan lendir ditemukan dalam jaringan parenkima sepalum. Berkas
pengangkut yang terdapat dalam sepala bertipe kolateral tetapi berukuran kecil-kecil. Tipe
berkas pengangkut konsentris memiliki kedudukan xilem dan floem sering berubah-ubah
sehingga dari yang bertipe konsentris amfivasal menjadi amfikribal. Berkas pengangkut
tersusun dalam satu garis sehingga mirip dengan struktur anatomi daun. Kloroplas yang
berwarna hijau dapat ditemukan tersebar dalam sel-sel parenkima sepalum.
Perhiasan bunga pada beberapa tumbuhan tidak terdiferensiasi sehingga kelopak dan
mahkota tidak dapat dibedakan. Perhiasan bunga, jika tidak berdiferensiasi menjadi kelopak
dan mahkota disebut dengan tenda bunga yang biasanya memiliki warna yang beragam dan
tidak berwarna hijau. Contoh struktur anatomi daun kelopak dapat dilihat pada gambar 7.

b. Struktur Anatomi Corola

Corola terdiri dari beberapa petalum. Petalum biasanya berwarna karena diperlukan
untuk menarik agensia penyerbukan seperti serangga, manusia, dan lain-lain. Struktur anatomi
dari petalum juga mirip dengan daun tetapi warnanya ditentukan oleh kandungan pigmen
yang terdapat di dalam sel-sel epidermis. Parenkima sepalum memiliki ruang antar sel yang
luas, dan mengandung idioblas yang berupa sel minyak, sel getah, sel lendir, dan idioblas
kristal yang berisi kristal kalsium oksalat. Pigmen dalam mahkota bunga terdapat dalam
vakuola atau plastida. Susunan berkas pengangkut petalum sama dengan sepalum. Beberapa
contoh struktur anatomi daun mahkota dapat dilihat pada gambar 8 dan 9. Epidermis yang
menyusun daun mahkota ada yang membentuk tonjolan-tonjolan yang disebut papila. Papila
menyebabkan sepalum terasa halus ketika diraba.

c. Struktur Benang Sari


Benang sari pada umumnya saling terlepas tetapi pada Malvaceae, filamentum saling
berlekatan dan di bagian anthera saling terlepas, benang sari demikian disebut benang sari
berberkas satu (monadelphus). Gambar filamentum pada Malvaceae dapat dilihat pada
gambar 10 berikut.

Lapisan terluar kepala sari disebut eksotesium, diikuti oleh endotesium, lapisan
tengah, dan tapetum. Lapisan-lapisan tersebut membatasi ruang sari. Eksotesium kadangkadang berlignin atau berkutin sehingga kaku. Sel induk mikrospora terdapat di dalam lokulus
yang dikelilingi oleh tapetum. Endotesium dari benang sari masih mengalami penebalan
sehingga disebut juga dengan lamina fibrosa. Dinding sel endotesium memanjang secara
radial dan membentuk dinding tangensial dalam, pita serabut berkembang ke atas dan ujung
yang dekat dengan dinding sel luar setiap sel. Perkembangan pita-pita serabut menyebabkan
endotesium bersifat higroskopik oleh karena itu endotesium berperan dalam pembukaan

anthera yang masak. Sel-sel endotesium yang berdinding tipis terdapat di sepanjang daerah
pembukaan kepala sari.

Daerah tempat membukanya kepala sari disebut stomium. Pembukaan anthera


disebabkan karena hilangnya kadar air dari sel-sel endotesium yang berdinding tebal yang
menyebabkan endotesium yang berdinding tipis robek sehingga ruang sari terbuka. Lapisan
terdalam dari dinding kepala sari berkembang menjadi satu lapis tapetum. Sel tapetal
memiliki sitoplasma yang penuh dan inti yang nyata. Inti sel tapetum mungkin membelah
sekali atau lebih kemudian bersatu sehingga terbentuk poliploidi.
Tapetum berfungsi memberi makan jaringan sporogen, mempengaruhi perkembangan
polen, dan memberi ornamen pada dinding polen. Tapetum ada 2 macam meliputi tapetum
sekretorik dan amoeboid, tampak pada gambar 12 A dan B. Tapetum sekretorik mengeluarkan
zat-zat ke ruang polen, dan sel-selnya tetap utuh. Tapetum amoeboid, sel-sel nya mengalami
disintegrasi,

isi

selnya

keluar

berada

di

sekeliling

mikrospora

dan

polen.

Sel sporogen dalam ruang sari akan berperan sebagai sel induk mikrospora
(mikrosporosit) pada saat mikrosporogenesis. Sel induk mikrospora mengalami pembelahan
meiosis menghasilkan empat sel anakan yang bersifat haploid disebut mikrospora tetrad. Keempat mikrospora yang terbentuk tersusun secara tetrahedral membentuk suatu tetrad tetrad.
Beberapa tumbuhan polen tetradnya setelah masak dapat memisah menjadi butiran
tunggal (monad) yang bebas di dalam kotak sari, tetapi ada pula yang tetap berlekatan seperti
pada polen bunga anggrek, polen yang demikian disebut polinium. Polen selain membentuk
butiran tunggal (monad) juga dapat berlekatan membentuk tetrad dan poliad.
Mikrospora akan berkembang menjadi polen muda. Susunan polen yang lain dapat
membentuk tetrad yang linier, tetrad bentuk T, tetraeder, dan berbentuk decusatus, seperti
yang tergambar pada gambar 13. Polen memiliki ornamen beraneka ragam di antaranya
berduri dan memata jala.

setelah polen masak, polen akan dikeluarkan dari kepala sari dan melekat di kepala
putik, peristiwa pelekatan polen di kepala putik dinamakan polinasi. Peristiwa polinasi
dipengaruhi bentuk dan ukuran polen. Polen yang berukuran kecil dapat disebarkan melalui
angin, polen yang memiliki tonjolan-tonjolan seperti duri dan berukuran besar untuk
mencapai putik memiliki perantara umumnya insekta. Tonjolan dari polen tersebut akan
menempel pada kaki serangga yang mengunjungi bunga sehingga akan terbawa ke kepala
putik bunga yang lain. Polinasi juga dipengaruhi oleh kedudukan kepala sari terhadap kepala
putik. Contoh-contoh letak kepala sari terhadap kepala putik dapat di lihat pada gambar 14.

Polinasi ada dua macam, yaitu polinasi sendiri (autogami) dan polinasi silang
(alogami). Polinasi pada bunga yang berkelamin dua dilakukan dengan perpindahan polen
dari anthera ke stigma pada bunga yang sama sedang pada bunga berkelamin tunggal polen
dari anthera bunga jantan menempel pada stigma bunga betina yang terdapat dalam satu
tumbuhan. Homogami terjadi apabila anthera dan stigma bunga berkelamin dua masak pada
waktu yang bersamaan, seperti pada Mirabilis jalapa. Kleistogami terjadi pada beberapa
bunga berkelamin dua yang tidak membuka. Polen disebarkan di kepala putik atau stigma
pada saat bunga tidak membuka. Polinasi silang kebanyakan memerlukan perantara yang akan
membawa polen dari satu bunga ke stigma bunga yang lain, meskipun kedua bunga terdapat
pada tumbuhan yang terpisah.
d. Struktur Polen
Dinding luar polen terdiri dari 2 lapis, dinding luar yang terdiri dari kutin yang
strukturnya kasar disebut eksin dan dinding dalam yang tipis terdiri dari pektin dan selulosa
disebut intin. Polen berdasarkan ornamen dari dinding eksin dibedakan menjadi psilate yang
eksinnya rata (psilate), misalnya pada Kalanchoe pinnata dan Punica granatum; berduri
(echinate), misalnya pada Hibiscus rosa-sinensis dan Ipomea pes-tigridis.; atau seperti jala
(reticulate), misalnya pada Lilium sp dan Belamcanda sinensis.

Polen memiliki celah sebagai tempat keluarnya buluh serbuk. Celah polen ada yang
sederhana dan kompleks. Celah yang panjang disebut kolpi sedang celah yang pendek dan
bulat disebut porus. Tipe polen berdasar bentuk celahnya dibedakan menjadi 4 seperti yang
terlihat pada gambar 16.

Polen kelompok tumbuhan Monokotil umumnya memiliki satu celah panjang


(monocolpate) sedang pada Dikotil terdapat tiga celah panjang (tricolpate). Celah yang
kompleks, pada daerah sentral terdapat porus dan di daerah luar ada celah panjangnya, disebut
colporate. Setiap polen memiliki 2 kutub yang berlawanan, sisi proksimal terdapat di tengah
permukaan yang dekat dengan sumbu sedang sisi distal terdapat di tengah permukaan yang
jauh terhadap pusat tetrad. Ukuran polen bervariasi antara 10 mikron sampai lebih dari 200
mikron
e. Struktur Anatomi Putik
Putik merupakan alat reproduksi betina pada bunga. Putik disusun dari 1 atau lebih
daun buah (karpela). Karpela merupakan modifikasi daun-daun yang membawa ovulum yang
disebut juga dengan megasporofil. Putik yang sederhana hanya terdiri satu karpelum saja dan
putik yang kompleks terdiri dari 2 atau lebih karpela. Masing-masing karpela dapat terlepas
satu sama lain yang disebut apriocarpous atau melekat satu sama lain disebut sincarpus.
Setiap karpela terdiri dari 3 bagian yang disebut dengan kepala putik (stigma), tangkai kepala
putik (stilus), dan bakal buah (ovarium). Stigma merupakan bagian bunga yang menerima
polen sehingga memiliki struktur yang berbagai macam. Masing-masing contoh stigma dapat
di lihat pada gambar 17.

Stilus ada yang masif dan berongga, dan ovarium ada yang bersekat dan ada yang
tidak bersekat. Sekat yang berasal dari karpelum disebut septum komplektus atau sekat asli
sedang septum yang berasal dari perluasan karpelum disebut septum inkomplektus atau semu.
Ovarium dapat terdiri dari satu daun buah atau lebih yang membentuk satu ruangan atau lebih.
Buluh serbuk yang masuk melalui stilus yang berongga melewati dinding dalam stilus sedang
pada stilus yang kompak buluh serbuk menerobos ruang antar sel untuk menuju ke mikropil.
Tipe berkas pengangkut dalam stilus mungkin sama atau terbalik, misalnya pada tumbuhan
yang memiliki berkas pengangkut konsentris amfivasal di dalam batang dapat berubah
menjadi konsentris amfikribal dalam stilus.

Lapis bagian terluar struktur anatomi ovarium disusun oleh epidermis yang terdiri dari satu
lapis, disusul oleh beberapa sel parenkimatis yang di dalamnya terdapat idioblas minyak,
kristal, lendir, dan getah. Di dalam dinding karpelum ditemukan ruang ovarium yang berisi
ovulum.

f. Struktur anatomi ovulum


Ovulum terdiri dari integumen dan nuselus. Integumen yang menyelimuti nuselus
tidak utuh tetapi membentuk suatu celah, yang disebut mikropil. Bagian dari mikropil yang
dibentuk dari integumen luar disebut eksostome sedang celah yang dibentuk integumen
dalam disebut endostome. Eksostome dan endostome biasanya tidak berada dalam satu garis.
Bagian dari ovulum yang mengarahkan pertumbuhan buluh serbuk yang menuju mikropil
disebut obturator. Obturator merupakan jembatan pendek bagi tabung polen atau buluh
serbuk (polen tube). Obturator biasanya berasal dari plasenta, funikulus, atau keduanya.
Nuselus merupakan megasporangium yang memiliki beberapa lapis sel. Sel induk
megaspora berasal dari salah satun sel nuselus, jika sel induk megaspora terletak berdekatan
dengan dinding nuselus disebut tenuicellus sedang jika sel induk megaspora terletak jauh dari
dinding nuselus disebut crassinuselus. Sel induk megaspora akan membelah meiosis menjadi
4 megaspora tetrad yang tersusun linier, tiga megaspora yang terletak dekat mikropil
mengalami degenerasi sehingga akan tertinggal satu megaspora fungsional yang akan
membesar, dan intinya akan membelah tiga kali, sehingga di dalam satu sel megaspora
ditemukan delapan inti. Tiga inti sel akan menuju ke arah kalaza dan yang tiga lagi menuju
mikropil, dan dua inti tetap tinggal di tengah disebut inti kutub. Masing-masing inti sel yang
berada dekat kalaza maupun mikropil diselubungi oleh dinding pemisah, tiga sel yang berada
dekat mikropil terdiri dari satu sel telur yang berukuran besar diapit oleh dua sel sinergida.
Tiga sel yang berada di kalaza disebut sel antipoda. Sel megaspora fungsional tadi akan
berkembang menjadi kantung lembaga yang terdiri dari tujuh sel dengan delapan inti.

6.5 Polen dan Perkecambahannya


Polen berkembang dari mikrospora yang terdiri dari satu sel yang kaya sitoplasma dan
memiliki inti yang terletak di tengah. Setelah sel membesar akan terbentuk vakuola dan
nukleus menepi, kemudian nukleus membelah tidak sama besar, inti yang kecil diselimuti
oleh dinding sel disebut sel generatif. Letak inti sel generatif berdekatan dengan dinding sel
asal. Inti sel yang besar terdapat dalam sitoplasma sel vegetatif atau sel buluh. Inti vegetatif
memiliki nukleolus yang tampak jelas sedang inti generatif memiliki nukleolus yang kecil.
Sitoplasma sel generatif transparan dan hampir tidak mengandung RNA sedang sel vegetatif
kaya RNA. Kandungan DNA pada kedua nuklei awalnya sama tetapi kemudian meningkat
pada inti generatif. Di dalam sel vegetatif tampak adanya butir amilum dan lemak. Sel
generatif tidak menempel pada dinding mikrospora tetapi mendekat ke arah sel vegetatif, inti
kemudian memipih menjadi oval atau berbentuk gelendong. Pada stadium dua sel ini, polen
dikeluarkan dari kantung sari untuk melakukan polinasi.
Polinasi merupakan suatu peristiwa menempelnya polen pada stigma. Polen-polen
yang kecil setelah keluar dari ruang sari dapat diterbangkan angin untuk mencapai stigma
sehingga kedudukan anthera terhdap stigma berperan di dalam polinasi. Bunga-bunga tertentu
memiliki stigma yang kedudukannya lebih tinggi dibandingkan dengan antheranya sehingga
untuk mencapai stigma polen memerlukan perantara. Peran dari mahkota bunga untuk
menarik perantara penyerbukan datang ke bunga dan mengambil polen untuk dipindahkan ke
stigma bunga lain. Mahkota bunga menarik perantara dengan warna-warni yang dimilikinya.
Kedatangan perantara ke bunga mungkin juga disebabkan oleh adanya manakan dari
perantara seperti madu dan sebagainya. Stigma pada bunga betina yang telah masak akan
mengeluarkan suatu cairan yang mengandung gom, gula, dan resin. Cairan tersebut berfungsi
untuk menangkap dan mencegah pengeringan polen yang telah menempel pada stigma.

Cairan dapat dihasilkan dari kelenjar nektaria floral atau ekstra floral serta trikoma glandular
yang terdapat pada pistil, misalnya pada pistil bunga Averrhoa carambola yang tampak pada
gambar 21. berikut.

Pada tumbuhan tertentu polen dilepaskan dari kantung sari dalam bentuk tiga sel. Sel
generatif membelah membentuk sel sperma tetapi kadang-kadang inti yang membelah tadi
tidak diikuti oleh dinding sel sehingga disebut inti sperma. Inti vegetatif atau inti tabung
memiliki peran penting untuk mengarahkan pembentukan tabung polen. Inti ini biasanya
terdapat di belakang inti sperma.

Polen yang menempel pada stigma ditangkap oleh larutan gula atau air. Polen
membesar dan eksin pecah, mengeluarkan isinya melalui porus, intin dan bagian yang
terkandung di dalamnya keluar membentuk tabung polen. Tabung polen tumbuh melalui stilus
mencapai ovulum di dalam ovarium. Masuknya tabung polen dapat melalui mikropil, kalaza,
atau sisi-sisi yang lain. Tabung polen setelah masuk ke dalam ovulum pecah dan
memuntahkan isinya ke kantung lembaga. Tabung polen mengandung beberapa enzima
seperti amilase, invertase, fosfatase, pektinase, lipase, dan sebagainya.

6.6 Pembuahan
Pembuahan merupakan peristiwa meleburnya inti telur dan inti sperma yang masingmasing bersifat haploid menjadi zigot yang terdiri dari satu sel satu inti dan bersifat diploid.
Histologi stilus dikelompokkan menjadi tiga: terbuka (berongga), setengah tertutup, dan
tertutup (kompak). Stilus yang terbuka disebabkan oleh adanya pelarutan dinding sel jaringan
yang berada di sebelah dalam stilus. Pelarutan dinding sel disebabkan oleh enzima pektinase
sehingga terbentuk rongga di tengah stilus. Stilus setengah tertutup memiliki saluran stilus
yang tetap diselubungi oleh dua atau tiga lapis jaringan penghubung yang rudimenter sedang
stilus tertutup bagian tengahnya terdiri dari jaringan kompak sehingga tidak bercelah.

Tabung polen masuk melalui mikropil, peristiwa tersebut dinamakan porogami, jika
polen masuk melalui kalaza disebut kalazogami, sedang jika polen masuk melalui bagian lain
seperti

funikulus

dan

integumen

disebut

mesogami.

Kebanyakan

polen

bersifat

monosiphonus, karena dari satu polen hanya menghasilkan satu tabung polen. Perkecambahan
polen tergantung dari beberapa faktor, in vitro dan in vivo. Faktor in vitro berupa nutrien yang
terdapat dalam medium sedang in vivo dipengaruhi oleh stigma, stilus, dan ovarium. Faktorfaktor lain yang diperlukan untuk perkecambahan polen meliputi karbohidrat seperti gula,
boron, kalsium, enzima seperti selulase, pektinase, kalase, dan hormon tumbuhan. Faktor fisik
yang juga berperan dalam perkecambahan polen di antaranya temperatur. Temperatur
optimum yang diperlukan untuk perkecambahan polen berkisar antara 20-300C. Tabung polen
masuk ke dalam kantung lembaga melalui sel-sel nuselus dan sinergida. Sinergida mengalami
disintegrasi atau degenerasi setelah tabung polen masuk ke kantung lembaga. Tabung polen
setelah menembus kantung lembaga mengeluarkan isinya, kemudian satu inti sperma bersatu
dengan inti telur membentuk zigot dan satu inti sperma yang lain bersatu dengan dua inti
kutub membentuk inti endopserma atau inti cadangan makanan. Inti endosperma membelah-

belah membentuk banyak inti yang selanjutnya diikuti dengan pembentukan dinding sel
sehingga menjadi jaringan endosperma. Endosperma memiliki dua macam berdasarkan
konsistensinya, yaitu endosperma cair atau nuklear dan endosperma padat atau seluler. Tipe
endosperma dikategorikan menjadi tiga berdasar cara pembentukannya, yaitu tipe nuklear
apabila inti endosperma membelah tetapi tidak diikuti dengan pembentukan dinding pemisah,
tipe seluler apabila setelah inti endosperma membelah diikuti dengan pembentukan dinding
pemisah, dan pada tipe helobial inti endopserma membelah tidak sama besar kemudian inti
yang terletak dekat dengan mikropil membelah terus tanpa diikuti dinding pemisah sedang
inti yang berada di dekat kalaza diselubungi oleh dinding sel tetapi tidak aktif membelah lagi.
Dua pembuahan terjadi pada waktu yang bersamaan dalam satu kantung lembaga, oleh
karena itu disebut dengan pembuahan ganda. Bakal buah akan berkembang menjadi buah dan
bakal biji menjadi biji serta zigot berkembang menjadi embrio serta akan terbentuk inti
endosperma setelah peristiwa pembuahan. Pembuahan yang didahului oleh pembentukan
buluh serbuk terjadi pada kelompok tumbuhan Gymnospermae dan Angiospermae, kelompok
tumbuhan tersebut dinamakan Embriophyta siphonogama.
6.7 Apogami
Peristiwa peleburan inti telur dan inti sperma yang terjadi dalam kantung lembaga
disebut amfimiksis. Peristiwa amfimiksis menghasilkan embrio yang bersifat diploid. Semua
sel dalam kantung lembaga memiliki potensi menjadi embrio meskipun tanpa didahului oleh
peristiwa fertilisasi. Pembentukan embrio dari sel telur yang tidak dibuahi disebut
partenogenesis. Embrio yang terjadi bersifat haploid dan umumnya tidak dapat bertahan
hidup. Peristiwa ini oleh Maheswari dikatakan sebagai apogami atau apomiksis. Peristiwa
apomiksis juga terjadi apabila sel sporogen dalam nuselus berkembang menjadi embrio.
Embrio ini bersifat diploid maka disebut juga dengan partenogenesis diploid karena tidak
didahului oleh pembelahan meiosis. Selain itu embrio juga dapat berasal dari sel-sel nuselus
di luar kantung lembaga atau sel integumen menembus kantung lembaga kemudian tumbuh
menjadi embrio. Peristiwa ini dinamakan dengan embrioni adventif atau sporophytic budding.
Peristiwa apogami juga terjadi pada perkembangan bunga atau bagian-bagian bunga yang
sebenarnya merupakan reproduksi vegetatif, sebagai contoh terjadinya bulbil, misalnya pada
daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata) yang tumbuh menjadi individu baru pada saat masih
menempel pada tumbuhan induknya.

Gambar 24. Bulbil yang sedang tumbuh pada Cocoe bebek (ditunjukkan dgn tanda panah).
Sumber: dokumen pribadi
Tugas
Setelah melakukan kegiatan praktikum bunga, lakukanlah analisis dengan mengikuti panduan
pertanyaan berikut!
1. Identifikasilah jaringan-jaringan yang menyusun organ:
a. sepalum Hibiscus rosa-sinensis
..................................................................................................................................................
b. petalum Hibiscus rosa-sinensis
..................................................................................................................................................
c. anthera bunga bakung
..................................................................................................................................................
d. filamentum bunga bakung
..................................................................................................................................................
e. bakal buah Hibiscus rosa-sinensis
..................................................................................................................................................
2. Dari jaringan- jaringan pada organ bunga yang telah saudara identifikasi, adakah
persamaan struktur antara bagian-bagian bunga dengan organ daun atau batang? Jelaskan
jawaban saudara!
..................................................................................................................................................
Evaluasi
I. Perhatikanlah Gambar dan Jawablah Pertanyaan yang Mengikutinya!
1. Berilah keterangan yang lengkap pada gambar irisan melintang petalum Sesbania
glandiflora berikut!

2. Dari gambar soal no. 1, jelaskan fungsi bagian a dan c!


..................................................................................................................................................
3. Carilah bagian-bagian anthera: eksotesium, lamina fibrosa, parenkima tertekan, tapetum
sekretorik, tapetum amoeboid, polen tetraeder, stomium, jaringan konektivum; pada
gambar A dan B berikut!

.......................................................................................................................................................
4. Jelaskan perbedaan polen tetrad dan tapetum pada irisan melintang anthera yang tergambar
di soal no. 3 A dan B!
..................................................................................................................................................
5. Deskripsikan ornamen eksin pada gambar polen berikut!

..................................................................................................................................................
6. Dari struktur stilus berikut, struktur yang manakah yang mendukung terjadinya pembuahan
dengan cepat? Berikan alasan saudara!

..................................................................................................................................................
..................................................................................................................................................
II. Jawablah Pertanyaan-pertanyaan Berikut untuk Memantapkan Saudara tentang
Bunga!
1. Jelaskan derivat-derivat epidermis yang terdapat pada sepalum atau petalum?
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
2. Jelaskan perbedaan antara sepalum dan petalum yang terdapat pada bunga
Hibiscus rosa-sinensis!
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
3. Sebutkan idioblas-idioblas yang terdapat di daun perhiasan bunga yang pernah saudara
amati!
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
4. Sebutkan derivat epidermis yang terdapat di petalum atau petalum yang memberikan rasa
halus ketika petalum atau sepalum diraba?
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
5. Jelaskanlah fungsi dari:
a. sepalum
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
b. petalum
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
6. Berikanlah alasan berdasarkan struktur anatomi dari petalum: mengapa petalum dapat
menarik serangga?

..................................................................................................................................................
........................................................................................................
7. Sebutkan bagian-bagian dari androecium!
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
8. Sebutkan lapisan dinding dari lokulus!
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
9. Jelaskan peran sel tapetum dalam perkembangan mikrospora!
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
10. Jelaskan perbedaan antara mikrospora dan polen?
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
11. Dinding mikrosporangium manakah yang berperan dalam pelepasan polen?
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
12. Jelaskan proses pelepasan polen!
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
13. Jelaskan fungsi dari porus atau celah pada dinding eksin dari polen!
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
14. Sel-sel apa sajakah yang terdapat dalam polen!
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
15. Sebutkan bagian-bagian dari ginecium!
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
16. Jelaskan struktur stigma dari bunga:
a. Mirabilis jalapa
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
b. Zea mays

..................................................................................................................................................
........................................................................................................
17. Jelaskan apa yang terjadi pada polen saat polen jatuh di kepala putik!
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
18. Sebutkan sel-sel yang menyusun kantung lembaga!
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
19. Setelah terjadi peristiwa fertilisasi apa yang terjadi pada:
a. inti vegetatif
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
b. sel telur
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
c. inti kantung lembaga
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
d. ovulum
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
e. dinding ovarium
..................................................................................................................................................
........................................................................................................
20. Berdasarkan struktur gynaecium, faktor-faktor apa sajakah yang menentukan terjadinya
pembuahan!
.......................................................................................................................................................
..............................................................................................

BAB VII
BUAH DAN BIJI

Kegiatan Pengantar
Jawablah Pertanyaan dan Lakukan Kegiatan Berikut sebelum Saudara Mempelajari
Buah dan Biji!
1. Pernahkah saudara melihat tumbuhan berbuah?
....................................................................................................................................
2. Buah apa saja yang saudara kenal dan sering saudara konsumsi? Sebutkan nama buah
tersebut!
....................................................................................................................................
3. Nasi sebagai makanan yang sering saudara konsumsi, berasal dari organ apa?
....................................................................................................................................
4. Perhatikanlah gambar berikut!

Gambar a-f di atas menggambarkan peristiwa perkembangan apa? Dan organ apa yang
dibentuk dalam peristiwa tersebut?
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
5. Setelah fertilisasi pada bunga berlangsung, akan terbentuk buah dan biji. Perhatikanlah
gambar buah dan biji kedelai (I), tomat (II), dan merica (III); kemudian jawablah
pertanyaan yang mengikutinya!

a. Kelompokkan ketiga buah itu berdasar kulit buahnya! buah manakah yang memiliki
kulit buah tebal, berair, dan lunak; sedang buah manakah yang memiliki kulit buah tipis
dan kering?
.............................................................................................................................................
...................................................................................................

b. Carilah buah kedelai, tomat, dan buah merica di sekitarmu; kemudian pisahkan antara
kulit buah dan biji dari masing-masing buah tersebut! Apa yang terlihat? Deskripsikan
hasil kerja saudara!
.............................................................................................................................................
.................................................................................................................
c. Adakah perbedaan struktur kulit buah antara buah: kedelai, tomat, dan merica; jelaskan
jawaban saudara?
.............................................................................................................................................
................................................................................................................
d. Organ apakah yang terdapat di dalam dinding buah yang telah saudara belah tersebut?
Jelaskanlah fungsi organ tersebut bagi tumbuhan!
.............................................................................................................................................
.................................................................................................................
6. Pernahkah saudara melihat buah manggis, jambu monyet, mangga, pisang, pepaya, jambu,
dan sebagainya; dapatkah saudara melihat perbedaanya! Rincilah perbedaan di antara
buah-buah tersebut!
.............................................................................................................................................
.................................................................................................................
7. Pernahkah kamu melihat bunga mangga? termasuk bunga apakah itu? Sekarang
bandingkan dengan bunga lombok! Setiap tangkai bunga lombok menghasilkan berapa
buah lombok? Kalau setiap satu tangkai bunga mangga menghasilkan berapa buah?
Carilah perbedaannya, tuliskan jawaban saudara!
.............................................................................................................................................
.................................................................................................................
8. Bagian buah mangga yang kita makan sehari-hari sebenarnya merupakan jaringan apa?
.............................................................................................................................................
.................................................................................................................
9. Biji sebagai alat perkembangbiakan memiliki jaringan pelindung untuk melindungi embrio
dari kerusakan mekanik dan mikroorganisme patogen serta dilengkapi cadangan makanan
untuk perkembangan embrio. Perhatikanlah di lingkungan sekitar saudara, apakah semua
biji memiliki kecepatan perkecambahan yang sama? Apakah biji jagung memiliki
kecepatan tumbuh yang sama dengan biji mangga? Berikanlah pendapat saudara sebelum
mempelajari struktur biji tentang fenomena tersebut!
..................................................................................................................................................
..........................................................................................

10. Bagian buah kelapa muda yang kita makan sehari merupakan jaringan apa?
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
Materi
7.1 Klasifikasi Buah
Buah diklasifikasikan berdasarkan asalnya menjadi tiga, yaitu buah tunggal, buah
ganda, dan buah majemuk. Buah tunggal berasal dari bunga tunggal atau bunga majemuk
yang masing-masing bunga akan membentuk satu buah. Buah tunggal dapat berupa buah
kering atau buah berdaging. Buah yang berasal dari pertumbuhan ovarium disebut dengan
buah sejati. Buah sejati contohnya pepaya (Carica papaya), mentimun (Cucumis sativus),
buncis (Phaseolus vulgaris), mangga (Mangifera indica), anggur (Vitis vinifera), dan lainlain. Buah berganda berasal dari bunga yang memiliki banyak putik dan membentuk satu
buah, contohnya buah sirsat (Annona muricata). Buah majemuk berasal dari bunga majemuk
yang menghasilkan satu buah, contohnya buah pace (Morinda citrifolia).

Buah yang berkembang dari bagian bunga yang lain atau berkembang dari ovarium
yang disertai bagian bunga yang lain dinamakan buah semu. Buah semu contohnya jambu
monyet (Anacardium occidentale) , jambu air (Eugenia aquea), ciplukan (Physalis
peruviana), dan buah nangka (Artocarpus integra) .

7.2 Struktur Anatomi Buah dan Biji


a. Struktur Anatomi Perikarpium
Buah terbentuk setelah terjadi peristiwa pembuahan. Dinding ovarium akan
berkembang menjadi dinding buah sedang bakal biji akan berkembang menjadi biji. Buah
memiliki dinding yang terdiri dari dua lapis atau tiga lapis. Dinding buah dinamakan
perikarpium. Buah yang memiliki dua lapis dinding bagian yang terluar dinamakan
eksokarpium dan di dalamnya disebut endokarpium. Buah yang memiliki tiga lapis dinding,
bagian terluar disebut eksokarpium, bagian tengah
dinamakan mesokarpium, dan bagian terdalam disebut endokarpium. Di dalam perikarpium
dapat juga ditemukan sklereida maupun serabut sklerenkima, terutama untuk biji-biji yang
disebarkan oleh air. Sklerenkima dalam perikarpium berfungsi sebagai pelindung biji dari
kondisi lembab sehingga tidak terjadi kebusukan.
Eksokarpium biasanya terdiri dari satu lapis sel dengan susunan rapat dan ada yang
memiliki kutikula seperti epidermis. Mesokarpium terdiri dari beberapa lapis jaringan
parenkimatis yang di dalamnya dapat ditemukan berkas pengangkut, idioblas minyak,
amilum, lendir, dan kristal kalium oksalat. Endokarpium biasanya terdiri dari satu lapis sel
yang berkembang dari epidermis dalam daun buah. Eksokarpium dan endokarpium buah yang
masak terdiri dari satu lapis epidermis atau beberapa lapis sel yang masing-masing dapat
dibedakan dengan jelas dengan mesokarpium. Jaringan yang menyusun perikarpium saling
berlekatan sehingga tidak dapat dipisahkan satu persatu. Eksokarpium beberapa tanaman
memiliki stomata, misalnya eksokarpium Cucurbita pepo. Eksokarpium Lycopersicon
esculentum dan Capsicum sp. tidak ditemukan stomata.

Gambar 3. Sayatan Paradermal Perikarpium Gtycinemax yang memiliki stomata


(tanda panah) dan trikoma. Sumber: dokumen pribadi (1996).
Perikarpium buah berdaging, seperti Lycopersicon esculentum terdiri dari perikarpium
yang di dalamnya terdapat jaringan yang merupakan perkembangan plasenta yang dilekati
banyak biji, eksokarpium terdiri dari satu lapis epidermis dan diikuti oleh 3-4 lapis sel
kolenkima. Sel epidermis berukuran besar dan tidak
memiliki stomata. Mesokarpium terdiri dari jaringan yang terdiri dari sel-sel berdinding tipis
dan memiliki banyak ruang antarsel.
b. Buah Buni
Buah buni memiliki perikarpium yang tebal dan berair. Perikarpium berdiferensiasi
menjadi eksokarpium, mesokarpium, dan endokarpium. Eksokarpium dapat mengandung
pigmen. Mesokarpium terdiri dari sel-sel parenkima yang berlapis-lapis dan kebanyakan dapat
dimakan, endokarpium merupakan lapisan yang tipis atau keras. Di dalam buah terdapat satu
atau banyak biji. Contoh buah buni di antaranya Lycopersicon esculentum, Carica papaya,
Averrhoa carambola, dan lain sebagainya. Buah Lycopersicon esculentum merupakan buah
tunggal dengan satu ruang, di dalamnya terdapat banyak biji. Perikarpium mengandung
pigmen kromoplas. Plasenta terletak di tengah ruang buah. Buah Carica papaya dibentuk dari
lima karpelum yang saling berlekatan di bagian tepi sehingga terbentuk satu ruang buah.
Plasenta terdapat di helaian daun buah. Buah Averrhoa carambola dibentuk 5 daun buah,
yang masing-masing berlekatan di bagian dalam saja dan di bagian luar daun buah tidak
berlekatan sehingga tampak seperti bintang dengan ruang buah yang sempit.

c. Struktur Anatomi Buah Buni dan Bijinya


Contoh buah berdaging misalnya pala, belimbing manis, dan lombok. Struktur
anatomi perikarpium buah berdaging memiliki jaringan parenkimatis yang tebal di bagian
mesokarpium atau endokarpiumnya.
1) Pala (Myristica fragrans)
Buah pala merupakan buah tunggal dengan satu ruang yang berisi satu biji. Struktur
anatomi buah pala dapat dilihat pada gambar 4 dan struktur biji dapat dilihat pada gambar 5.

Epidermis tersusun dari dua lapis yang berbentuk pipih berwarna coklat dan
berkutikula. Lapisan epidermis merupakan lapisan eksokarpium buah pala. Mesokarpium
terdiri dari jaringan parenkima yang berlapis-lapis dengan bentuk sel isodiametris, di
dalamnya ditemukan kelompok-kelompok brakhisklereida dengan bentuk bulat dan noktah
yang bercabang-cabang. Berkas pengangkut yang bertipe kolateral ditemukan di bagian
tengah mesokarpium. Di dalam mesokarpium juga ditemukan sel-sel minyak yang berbentuk
bulat dikelilingi oleh sel khusus yang tidak sama dengan sel-sel parenkima di sekitarnya.
Di sebelah dalam perikarpium terdapat satu ruangan yang berisi satu biji besar yang berkulit
keras, jika kering akan berwarna coklat kehitaman. Biji diselimuti oleh arilus yang pada
waktu muda berwarna kuning, setelah tua berwarna merah, dan jika kering berwarna coklat.
Arilus tidak menutup seluruh biji tetapi menutupi bagian tertentu dari biji sehingga tampak
seperti jala bermata lebar. Arilus mengandung banyak tetes-tetes minyak atsiri yang berbau
khas.

Kulit biji (spermodermis) pala disusun oleh lapisan epidermis, di sebelah dalamnya terdapat
jaringan parenkima. Lapisan makrosklereida ditemukan di sebelah dalam jaringan parenkima.
Biji pala termasuk biji yang berputih lembaga (albuminous seed) karena cadangan makanan
disimpan dalam endosperm. Endosperm biji pala yang mengandung minyak atsiri, butir
amilum, butir aleuron, dan sel oleoresin. Biji pala juga memiliki perisperm yang berkembang
dari jaringan di luar kantung lembaga. Perisperm berwarna coklat, tumbuh mendesak
endosperm sehingga perisperm dikatakan sebagai ruminate. Endosperm dan perisperm bagi
biji pala berperan dalam menyimpan cadangan makanan untuk perkembangan embrio.
2) Cabe Rawit (Capsicum fruetecens)
Perikarpium buah cabe rawit terdiri dari lapisan eksokarpium, mesokarpium, dan
endokarpium. Lapisan eksokarpium berupa jaringan epidermis yang tersusun rapat. Lapisan
mesokarpium disusun oleh jaringan parenkimatis. Di dalam jaringan parenkimatis tersebar
berkas pengangkut. Sel-sel raksasa (Giant Cell) ditemukan di bagian paling dalam dari
mesokarpium. Endokarpium terdiri dari sel epidermis dalam yang berbatasan langsung
dengan sel raksasa dan ruang ovarium. Buah cabe rawit memiliki dua ruangan yang dibentuk
dari sekat sempurna pada ruang buah. Susunan jaringan buah cabe rawit dapat dilihat pada
gambar 7.

3) Belimbing Manis (Averrhoa carambola)


Buah belimbing manis memiliki perikarpium yang terdiri dari dua bagian yang
meliputi eksokarpium dan endokarpium. Eksokarpium terdiri dari beberapa lapis sel yang
berbentuk isodiametris. Lapisan terluar dari kulit buah belimbing yang sangat muda memiliki
trikoma glanduler yang terdiri dari satu deret dengan tiga sel tangkai yang berbentuk
segiempat dengan satu sel kepala yang berbentuk bulat dan mengandung sekret yang
berwarna kuning. Sel kepala trikoma glanduler memilki lapisan kutikula. Trikoma non
glanduler juga ditemukan pada lapisan terluar dari eksokarpium. Trikoma non glanduler
terdiri dari satu deret sel dengan jumlah dua sampai tiga sel yang berujung runcing. Trikomatrikoma tersebut gugur saat buah masak.
Endokarpium disusun oleh jaringan parenkimatis yang berlapis-lapis. Di dalam
jaringan parenkima ditemukan berkas pengangkut. Parenkima yang menyusun endokarpium
banyak mengandung ruang antarsel yang luas. Ruangan yang terbentuk dari perikarpium
sangat sempit. Gambar irisan melintang perikarpium buah belimbing manis dapat dilihat pada
gambar 8.
d. Struktur Anatomi Buah Kering dan Bijinya
Buah kering contohnya buah adas (Foeniculum vulgare), ketumbar (Coriandrum
sativum), padi (Oryza sativa), jagung (Zea mays), pulutan (Urena lobata), lada hitam (Piper
nigrum), dan lain sebagainya. Buah adas dikatakan sebagai cremokarp yang tersusun dari dua
merikarp yang menempel pada karpofor yang terdapat di tengah buah. Karpofor merupakan
sumbu yang terdapat di tengah buah. Buah adas termasuk buah kering yang kulit biji tidak
dapat dipisahkan dari kulit buahnya. Setiap merikarp memiliki dua sisi yang mencolok. Sisi
luar cembung disebut dengan sisi dorsal dan bagian sisi dalam berbentuk datar dinamakan sisi
komisural. Sisi dorsal memiliki tiga rigi sedang sisi komisural memiliki dua rigi. Di

bagian sisi komisural di temukan rafe yang merupakan bekas funikulus. Berkas pengangkut
ditemukan di daerah rigi, di antara kedua berkas pengangkut ditemukan adanya vitae yang
merupakan kelenjar minyak yang terdiri dari satu ruang yang dikelilingi oleh sel-sel epitel.
Vitae berisi minyak menguap, berbau khas dan berwarna kuning. Eksokarpium disusun oleh
satu lapis epidermis yang berbentuk poligonal, memanjang ke arah tangensial dan diselubungi
oleh kutikula. Mesokarp disusun oleh beberapa lapis sel parenkima dengan dinding yang tidak
menebal atau menebal dengan bentuk jala. Sel-sel sklerenkimatik mengelilingi berkas
pengangkut yang bertipe kolateral dikelilingi sel-sel sklerenkimatik di bagian dalam.
Endokarpium terdiri dari sel-sel yang sempit memanjang, tersusun seperti lantai disebut sel
parket. Testa terdiri dari selapis sel yang berwarna kuning. Endosperm berisisi sel-sel
poligonal, bersifat parenkimatis, mengandung tetes-tetes minyak dan butir aleuron. Embrio
terletak pada bagian apikal dari merikarp. Di dalam rafe juga ditemukan berkas pengangkut.
Karpofor terdiri dari sel-sel sklerenkimatik. Struktur antomi buah adas dapat dilihat pada
gambar 9.
7.3 Struktur Biji
Setelah peristiwa pembuahan bakal biji akan berkembang menjadi biji. Berbagai
bentuk ovulum seperti orthotropus, anatropus, hemitropus, campylotropus, dan camptotropus
memperlihatkan suatu rangkaian antara bakal biji, funikulus, dan plasenta. Plasenta
merupakan tempat perlekatan ovulum pada buah. Bakal biji yang bertipe tropus setelah
berkembang menjadi biji, biji akan terlepas dari funikulus dan memberikan luka pada kulit
biji. Tempat terlepasnya funikulus dari biji atau luka disebut hilum atau hilus. Bakal biji yang
mengangguk, funikulusnya akan menempel pada ovulum, sehingga biji ketika terlepas tidak
memiliki hilus tetapi funikulus menjadi rafe yang di dalamnya berisi berkas pengangkut. Bijibiji tertentu, misalnya Ricinus communis memiliki jaringan yang tumbuh dari hilus disebut
dengan karunkula.

Integumen dari bakal biji setelah pembuahan akan menjadi kulit biji atau spermoderm.
Mikropil yang dibentuk oleh integumen pada perkembangan biji juga mungkin masih

membentuk celah yang kecil dan tetap melekat pada biji sehingga suatu biji kemungkinan
masih tampak memiliki mikropil. Suatu jaringan yang tumbuh dari hilus yang menyelubungi
biji disebut dengan arilus. Arilus dapat kompak dan tebal seperti yang terdapat pada biji
rambutan (Nephelium lappaceum), durian (Durio zibethinus), lengkeng (Euphoria longana),
leci (Litchi chinensis) tetapi arilus dapat juga sangat tipis dan tidak utuh berbentuk jala seperti
pada biji pala.
Biji memiliki berbagai macam bentuk, ada yang pipih seperti biji mentimun dan
waluh; bulat seperti pada biji kana (Canna indica), merica (Piper nigrum), kecipir
(Psophocarpus tetragonolobus); lonjong seperti pala, kedelai, kurma (Phoenix dactylifera),
jarak pagar (Jatropha curcas).
Kulit biji ada yang keras dan ada yang lunak dan tipis serta mudah terkelupas. Kulit
biji yang keras disebabkan oleh adanya jaringan sklereida yang tebal. Kulit biji yang lunak
contohnya pada kulit biji kacang hijau, kacang tanah, kedelai, dan sebagainya. Contoh kulit
biji yang keras misalnya pada biji merica, pala, klerak (Sapindus rarak), kana. Kulit biji yang
tipis dan lunak tetap memiliki jaringan sklerenkima berupa sklereida.

Embrio ditemukan dalam jaringan yang diselubungi oleh kulit biji. Embrio merupakan
perkembangan dari zigot yang dilengkapi oleh cadangan makanan yang merupakan
pembelahan dari inti endosperma. Endosperma dalam biji adakalanya habis digunakan untuk
perkembangan zigot menjadi embrio sehingga cadangan makanan berpindah ke kotiledon.
Biji yang memiliki cadangan makanan di dalam endosperm disebut biji berputih lembaga
(albuminous seed atau endosperm seed). Biji yang tidak memiliki cadangan makanan di
endosperm disebut biji tidak berputih lembaga (exalbuminous seed atau nonendosperm seed).
Contoh biji yang berputih lembaga di antaranya padi, jagung, adas, ketumbar, merica, kelapa.
Biji yang tidak berputih lembaga, misalnya kacang-kacangan, waluh, mentimun, dan lain

sebagainya; cadangan makanan disimpan dalam kotiledon yang merupakan bagian dari
embrio. Biji-bijian tertentu yang tidak memiliki cadangan makanan baik dalam endosperma
atau kotiledonnya sulit untuk tumbuh, misalnya pada biji anggrek.

Zigot akan berkembang menjadi embrio dan embrio berdiferensiasi menjadi plumula,
kaulikula, radikula, serta kotiledon. Plumula akan membentuk tunas ujung dan daun.
Kaulikula akan membentuk batang dan radikula akan membentuk akar. Bagian plumula dan
kaulikula embrio kelapa, jagung, dan anggota kelompok Monokotil lainnya berada dalam
koleoptil sedang bagian radikula berada dalam koleorhiza. Koleoptil berfungsi untuk
melindungi plumula sedang koleorhiza melindungi akar pada saat pertumbuhan.

Kotiledon memiliki fungsi yang berbeda-beda tergantung tumbuhannya, kotiledon pada


kacang tanah berfungsi sebagai cadangan makanan untuk pertumbuhan embrio menjadi
individu baru, kotiledon pada mentimun, tomat, lombok dapat berfungsi sebagai alat
fotosintesis, sedang pada kelapa atau jagung berfungsi menjadi alat penghisap cadangan
makanan dari endosperm, kotiledon demikian disebut dengan skutelum atau haustorium.

Cadangan makanan dapat berupa amilum, seperti pada padi, jagung, dan semua serealia; dapat
juga berupa lemak, misalnya pada kelapa, kelapa sawit, kacang tanah, kedelai; atau berupa
protein dalam bentuk butir-butir aleuron misalnya pada biji jarak.

Embrio di dalam biji berada dalam keadaan dorman, jika mendapatkan suplai air yang
cukup, embrio akan tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan baru hingga mampu
berfotosintesis sendiri. Perkecambahan biji ada yang cepat dan ada yang lambat. Biji yang
perkecambahannya lambat disebabkan oleh embrio yang belum matang, kulit biji yang keras,
atau karena jenis zat yang dikandung dalam cadangan makanannya. Embrio tumbuh melalui
penyerapan makanan yang disimpan dalam kotiledon atau endosperm. Embrio mula-mula
menyerap air kemudian membengkak, radikula memanjang menembus melalui mikropil dan
membentuk akar. Pertumbuhan radikula lebih cepat dari plumula. Pembengkakan biji
memunculkan sebagian atau keseluruhan kotiledon yang memberi jalan plumula yang berada
di dalamnya. Respirasi berjalan cepat pada saat perkecambahan biji diikuti dengan
pembentukan enzima-enzima hidrolitik yang memecah cadangan makanan dalam biji menjadi
molekul sederhana yang dapat digunakan oleh embrio untuk berkecambah sampai dapat
melakukan proses fotosintesis.
Perkecambahan biji ada dua tipe, yaitu epigeal dan hipogeal. Contoh biji yang
berkecambah secara epigeal di antaranya biji kacang-kacangan, biji waluh, biji mentimun, dan
lain sebagainya; hipogeal misalnya nangka, keluwih, mangga, mundu, alpukat, jambu biji,
rambutan, jagung. Perkecambahan epigeal pertumbuhan bagian hipokotilnya cepat sehingga
kotiledon terangkat sedangkan perkecambahan hipogeal, hipokotil tidak berkembang sehingga
kotiledon tetap berada di dalam tanah. Biji-biji yang memiliki kulit keras dan berukuran besar
biasanya memiliki waktu dormansi yang lama.

Tugas
Setelah melakukan kegiatan praktikum buah dan biji, lakukanlah analisis dengan
mengikuti panduan pertanyaan berikut!
1. a. Deskripsikan susunan jaringan perikarpium buah buncis, cabe rawit, adas, dan buah
jagung!
.............................................................................................................................................
.........................................................................................
b. Dari hasil deskripsi tersebut, kelompokkanlah buah buncis, cabe rawit, adas, dan buah
jagung menjadi kelompok buah kering, buah berdaging, dan berikan alasan yang tepat!
.............................................................................................................................................
..........................................................................................
2. a. Deskripsikan susunan jaringan kulit biji kacang hijau!
................................................................................................................................................
.............................................................................................
b. Golongkanlah kulit biji kacang hijau: apakah termasuk kulit biji yang keras atau kulit
biji yang lunak? Berikanlah alasan yang benar!
.............................................................................................................................................
.................................................................................................................
3. a. Bandingkanlah jaringan cadangan makanan yang terdapat pada biji adas, jagung, dan
buncis. Biji manakah yang memiliki cadangan makanan yang disimpan dalam
endosperm atau kotiledon?

.............................................................................................................................................
.................................................................................................................
b. Carilah kotiledon pada buah jagung dan jelaskan fungsi kotiledon pada biji jagung bagi
pertumbuhan embrio jagung!
.............................................................................................................................................
.....................................................................................
4. a. Deskripsikan bagian-bagian embrio yang terdapat pada biji kacang hijau dan biji jagung!
.............................................................................................................................................
.....................................................................................
b. Jelaskan perbedaan yang tampak dari hasil pengamatan saudara tentang perbedaan
antara bagian embrio yang terdapat pada biji kacang hijau dan biji jagung!
.............................................................................................................................................
.....................................................................................
c. Bagian embrio manakah yang berfungsi sebagai dasar pengelompokan tumbuhan Dikotil
dan Monokotil?
.............................................................................................................................................
.....................................................................................
Last modified: Sunday, 21 Mei 2012, 07:44 AM
Buku bacaan ini dibuat untuk memudahkan mahasiswa supaya lebih cepat memahami
tentang Anatomi Tumbuhan, buku ini dibuat oleh pengalaman dan pengetahuan pribadi dari
Dr. Endang Kartini A. M., M. S. Apt. Dan di edit oleh mahasiswa UM angkatan 2010 (M. Munzaini
Abdillah).

Anda mungkin juga menyukai