Anda di halaman 1dari 11

Kelompok

:1

Materi Diskusi

: Pancasila Sebagai Sistem Etika

Nama Kelompok : 1. ADE IRMA OKTAVIA


2. ERIN NADIA
3. NURUL MEILASARI
Kelas

:I A
PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA
Pancasila sebagai suatu sistem filsafat pada hakikatnya merupakan suatu nilai sehingga merupakan

sumber dari segala penjabaran norma baik norma hukum, norma moral maupun norma kenegaraan lainnya. Dalam
filsafat Pancasila terkandung di dalamnya suatu pemikiran-pemikiran yang bersifat kritis, mendasar, rasional,
sistematis dan komperhensif (menyeluruh) dan sistem pemikiran ini merupakan suatu nilai. Oleh karena itu, suatu
pemikiran filsafat tidak secara langsung menyajikan norma-norma yang merupakan pedoman dalam suatu tindakan
atau aspek praksis melainkan suatu nilai-nilai mendasar.
Sebagai suatu nilai, Pancasila memberikan dasar-dasar yang bersifat fundamental dan universal bagi
manusia baik dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Adapun nilai-nilai tersebut akan dijabarkan
dalam kehidupan yang bersifat praksis atau kehidupan yang nyata dalam masyarakat, bangsa maupun negara maka
nilai-nilai tersebut kemudian dijabarkan dalam suatu norma-norma yang jelas sehingga merupakan suatu pedoman.
Norma-norma tersebut meliputi (1) norma moral yaitu yang berkaitan dengan tingkah laku manusia yang dapat
diukur dari sudut baik maupun buruk. Sopan ataupun tidak sopan, susila atau tidak susila. Dalam kapasitas inilah
nila-nilai Pancasila telah terjabarkan dalam suatu norma-norma moralitas atau norma-norma etika sehingga
Pancasila merupakan sistem etika dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. (2) norma hukum yaitu suatu
sistem peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Dalam pengertian inilah maka Pancasila
berkedudukan sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Sebagai sumber dari segala sumber hukum
nilai-nilai Pancasila yang sejak dahulu telah merupakan suatu cita-cita moral yang luhur yang terwujud dalam
kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia sebelum membentuk negara. Atas dasar pengertian inilah maka nilai-nilai
Pancasila sebenarnya berasal dari bangsa Indonesia sendiri atau dengan kata lain bangsa Indonesia sebagai asal
mula materi (kausa materialis) nilai-nilai Pancasila.
Jadi, sila-sila Pancasila pada hakikatnya bukanlah merupakan suatu pedoman yang langsung bersifat
normatif atau praksis melainkan merupakan suatu sistem nilai-nilai etika yang merupakan sumber norma baik
meliputi norma moral maupun norma hukum, yang pada gilirannya harus dijabarkan lebih lanjut dalam norma-norma
etika, moral maupun norma hukum dalam kehidupan kenegaraan maupun kebangsaan.
1.Pengertian Etika
Sebagai suatu usaha ilmiah, filsafat dibagi menjadi beberapa cabang menurut lingkungan bahasannya
masing-masing. Cabang-cabang itu dibagi menjadi dua kelompok bahasan pokok yaitu filsafat teoritis dan filsafat

praktis. Kelompok pertama mempertanyakan segala sesuatu yang ada, sedangkan kelompok kedua membahas
bagaimana manusia bersikap terhadap apa yang ada tersebut. Jadi filsafat teoritis mempertanyakan dan berusaha
mencari jawabannya tentang segala sesuatu, misalnya hakikat manusia, alam, hakikat realistas sebagai suatu
keseluruhan, tentang pengetahuan, tentang apa yang kita ketahui dan lain sebagainya. Dalam hal ini, filasafat
teoritispun juga mempunyai maksud-maksud dan berkaitan erat dengan hal-hal yang bersifat praktis, karena
pemahaman yang dicari menggerakkan kehidupannya.
Etika termasuk kelompok filsafat praktis dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu etika umum dan etika
khusus. Etika umum membahas prinsip-prinsip dasar bagi segenap tindakan manusia, sedangkan etika khusus
membahas prinsip-prinsip itu dalam hubungannya dengan kewajiban manusia dalam berbagai lingkup
kehidupannya. Etika khusus dibedakan menjadi pertama; etika individual yang membahas tentang kewajiaban
manusia sebagai individu terhadap dirinya sendiri, serta melalui suara hati terhadap Tuhannya, dan kedua; etika
sosial membahas kewajiban serta norma-norma moral yang seharusnya dipatuhi dalam hubungan dengan sesama
manusia, masyarakat, bangsa atau negara. Etika sosial memuat banyak etika yang khusus mengenai wilayahwilayah kehidupan manusia tertentu, misalnya etika keluarga, etika profesi, etika lingkungan, etika pendidikan, etika
seksual dan termasuk juga etika politik yang menyangkut dimensi politis manusia.
Etika berkaitan dengan berbagai masalah nilai karena etika pada pokoknya mebicarakan masalah-masalah
yang berkaitan dengan predikat niali susila dan tidak susila, baik dan buruk. Sebagai bahasan khusus etika
membicarakan sifat-sifat yang menyebabkan orang dapat disebut susila atau bijak. Kualitas-kualitas ini dinamakan
kebajikan yang dilawankan dengan kejahatan yang berarti sifat-sifat yang menunjukkan bahwa orang yang
memilikinya dikatakan orang yang tidak susila. Sebenarnya etika lebih banyak bersangkutan dengan prinsip-prinsip
pembenaran dalam hubungan dengan tingkah laku manusia (Kattsoff, 1986). Dapat dikatakan juga bahwa etika
berkaitan dengan dasar-dasar filosofis dalam hubungan dengan tingkah laku manusia.
1. Pengertian Nilai, Norma dan Moral
a. Pengertian Nilai
Nilai atau value (bahasa Inggris) termasuk bidang kajian filsafat. Persoalan-persoalan tentang nilai
dibahas dan dipelajari salah satu cabang filsafat yaitu Filsafat Nilai (Axilology, Theory of Value). Filsafat sering juga
diartikan sebagai ilmu tentang nilai-nilai. Istilah nilai di dalam bidang filsafat dipakai untuk menunjuk kata benda
abstrak yang artinya keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness), dan kata kerja yang artinya suatu tindakan
kejiwaan tertentu dalam menilai atau melakukan penilaian, (Frankena, 229).
Di dalam Dictionary of Sosciology And Related Sciences dikemukakan bahwa nilai adalah kemampuan
yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia. Sifat dari suatu benda yang menyebabkan
menarik minat seseorang atau kelompok, (The believed capacity of any object to satisfy a human desire). Jadi, niali
itu pada hakikatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek, bukan objek itu sendiri. Sesuatu itu
mengandung nilai artinya ada sifat atau kualitas yang melekat pada sesuatu itu. Misalnya, bunga itu indah,
perbuatan itu susila. Indah, susila adalah sifat atau kualitas yang melekat pada bunga dan perbuatan. Dengan

demikian maka nilai itu sebenarnya adalah suatu kenyataan yang tersembunyi di balik kenyataan-kenyataan
lainnya. Ada nilai itu karena adanya kenyataan-kenyataan lain sebagai pembawa nilai (wartrager).
Menilai berarti menimbang, suatu kegiatan manusia untuk menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang
lain, kemudian untuk selanjutnya diambil keputusan. Keputusan itu merupakan keputusan nilai yang dapat
menyatakan berguna atau tidak berguna, benar atau tidak benar, baik atau tidak baik, indah atau tidak indah.
Keputusan nilai yang dilakukan oleh subjek penilai tentu berhubungan dengan unsur-unsur yang ada pada manusia
sebagai subjek penilai, yaitu unsur-unsur jasmani, akal, rasa, karsa (kehendak) dan kepecayaan. Sesuatu itu
dikatakan bernilai apabila sesuatu itu berharga, berguna, benar, indah, baik dan lain sebagainya.
b. Hierarki Nilai
Terdapat berbagai macam pandangan tentang nilai hal ini sangat tergantung pada titik tolak dan sudut
pandangnya masing-masing dalam menentukan pengertian serta hierarki nilai.

Misalnya kalangan materialis

memandang bahwa nilai yang tertinggi adalah nilai material. Kalangan hedonis berpandangan bahwa nilai yang
tertinggi adalah nilai kenikmatan. Pada hakikatnya segala sesuatu itu bernilai, hanya nilai macam apa yang ada serta
bagaimana hubungan nilai tersebut dengan manusia. Banyak usaha untuk menggolong-golongkan nilai tersebut dan
penggolongan tersebut amat beranekaragam, tergantung pada sudut pandang dalam rangka penggolongan
tersebut.
Max Sceler mengemukakan bahwa nilai-nilai yang ada, tidak sama luhrunya dan sama tingginya. Nilai-nilai
itu secara nyatanya ada yang lebih tinggi ada yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai-nilai lainnya. Menurut
tinggi rendahnya, nilai-nilai dapat dikelompokkan dalam empat tingkatan sebagai berikut :
1) Nilai-nilai kenikmatan: dalam tingkatan ini terdapat deretan nilai-nilai yang mengenakkan dan tidak
mengenakkan (die Wertreihe des Angenehmen und Unangehmen), yang menyebabkan orang senang atau
menderita tidak enak.
2) Nilai-nilai kehidupan: dalam tingkat ini terdapatlah nilai-nilai yang penting bagi kehidupan (werte de vitalen
fuhlens) misalnya kesehatan, kesegaran jasmani, kesejahteraan umum.
3) Nilai-nilai kejiwaan: dalam tingkat ini terdapat niali-nilai kejiwaan (geistige werte) yang sama sekali tidak
tergantung dari keadaan jasmani maupun lingkungan. Nilai-nilai semacam ini ialah keindahan , kebenaran, dan
pengetahuan murni yang dicapai dalam filsafat.
4) Nilai-nilai kerohanian: dalam tingkat ini terdapatlah modalitas nilai dari yang suci dan tak suci (wermodalitat des
Heiligen ung Unheiligen). Nilai-nilai semacam ini terutama terdiri dari niali-nilai pribadi.
Walter G. Everet menggolong-golongkan nilai manusiawi kedalam delapan kelompok yaitu :
1) Nilai-nilai ekonomis (ditujukan oleh harga pasar dan meliputi semua benda yang dapat dibeli).
2) Nilai-nilai kejasmanian (membantu pada kesehatan efisiensi dan keindahan dari kehidupan badan).

3) Nilai-nilai hiburan (nilai-nilai permanian dan waktu senggang yang dapat menyumbangkan pada pengayaaan
kehidupan).
4) Nilai-nilai sosial (berasal mula dari keutuhan kepribadian dan sosial yang diinginkan).
5) Nilai-nilai watak (keseluruhan dari keutuhan kepribadian dan sosial yang diinginkan).
6) Nilai-nilai estetis (nilai-nilai keindahan dalam alam dan karya seni).
7) Nilai-nilai intelektual (nilai-nilai penngetahuan dan pengajaran kebenaran).
8) Nilai-nilai keagamaan.
Notonagoro membagi nilai menjadi tiga macam , yaitu :
1) Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia atau kebutuhan material
ragawi manusia.
2) Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas.
3) Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatau yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerohanian ini dapat dibedakan
menjadi empat macam :
a. Nilai kebenaran, yang bersumber pada akal (ratio, budi, cipta) manusia.
b. Nilai keindahan atau nilai estetis, yang bersumber pada unsur perasaan (esthetis, gevoel, rasa) manusia.
c. Nilai kebaikan atau nilai moral, yang bersumber pada unsur kehendak (will, Wollen, karsa) manusia.
Nilai religius, yang merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak. Nilai religius ini bersumber kepada
kepercayaan atau keyakinan manusia.
Masih banyak lagi cara pengelompokan nilai, misalnya seperti yang dilakukan N.Rescher, yaitu pembagian
nilai berdasarkan pembawa nilai (trager), hakikat keuntungan yang diperoleh, dan hubungan antara pendukung nilai
dan keuntungan yang diperoleh. Begitu juga dengan pengelompokan nilai menjadi nilai intrinsik dan ekstrinsik, nilai
objektif dan nilai subjektif, nilai positif dan nilai negatif (disvalue), dan sebagainya.
Dari uraian mengenai macam-macam nilai di atas, dapat dikemukakan pula bahwa yang mengandung nilai
itu bukan hanya sesuatu yang berwujud material saja ,akan tetapi sesuatu yang berwujud non material atau
imaterial. Bahkan sesuatu yang immaterial itu dapat mengandung nilai yang sangat tinggi dan mutlak bagi manusia.
Nilai-nilai material relatif lebih mudah diukur, yaitu dengan menggunakan alat indra ataupun alat pengukur seperti
berat, panjang, luas, dan sebagainya. Sedangkan nilai kerokhanian atau spiritual lebih sulit mengukurnya. Dalam
menilai hal-hal kerokhanian atau spiritual, yang menjadi alat ukurnya adalah hati manusia yang dibantu oleh alat
indra, cipta, rasa, karsa dan keyakinan manusia.
Notonegoro berpendapat bahwa nilai-nilai Pancasila tergolong nilai-nilai kerokhanian, tetapi nilai-nilai
kerokhanian yang mengakui adanya nilai material dan nilai vital. Dengan demikian nilai-nilai lain secara lengkap dan

harmonis, baik nilai material, nilai vital, nilai kebenaran, nilai keindahan atau nilai estetis, nilai kebaikan atau nilai
moral, maupun nilai kesucian yang sistematika-hierarkis, yang dimulai dari sila Ketuhanan yang Maha Esa sebagai
dasar sampai dengan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai tujuan (Darmodiharjo,1978).
Selain nilai-nilai yang dikemukakan oleh para tokoh aksiologi tersebut menyangkut tentang wujud
macamnya, nilai-nilai tersebut juga berkaitan dengan tingkatan-tingkatannya. Hal ini kita lihat secara objektif karena
nilai-nilai tersebut menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Ada sekelompok nilai yang memiliki kedudukan
atau hierarki yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai-nilai lainnya ada yang lebih rendah bahkan ada tingkatan
nilai yang bersifat mutlak. Namun demikian hal ini sangat tergantung pada filsafat dari masyarakat atau bangsa
sebagai subjek pendukung nilai-nilai tersebut. Misalnya bangsa Indonesia nilai religius merupakan suatu nilai yang
tertinggi dan mutlak, artinya nilai religius tersebut hierarkinya diatas segala nilai yang ada dan tidak dapat
dijastifikasi berdasarkan akal manusia karena pada tingkatan tertentu nilai tersebut bersifat di atas dan di luar
kemampuan jangkauan akal pikir manusia. Namun demikian bagi bangsa yang menganut paham sekuler nilai yang
tertinggi adalah akal pikiran manusia sehingga nilai ketuhanan di bawah otoritas akal manusia.

NILAI DASAR , NILAI INSTRUMENTAL DAN NILAI PRAKSIS


Dalam kaitannya dengan derivasi atau penjabarannya maka nilai-nilai dapat dikelompokkan menjadi tiga
macam yaitu nilai dasar , nilai instrumental dan nilai praksis.
A. Nilai Dasar
Walaupun nilai memiliki sifat abstrak artinya tidak dapat diamati melalui indra manusia, namun realisasinya
nilai berkaitan dengan tingkah laku atau segala aspek kehidupan manusia yang bersifat nyata (praksis) namun
demikian setiap nilai memiliki nilai dasar (dalam bahasa ilmiahnya disebut dasar onotologis), yaitu merupakan
hakikat , esensi, intisari atau makna yang terdalam dari nilai-nilai tersebut. Nilai dasar ini bersifat universal
karena menyangkut hakikat kenyataan objektif segala sesuatu misalnya hakikat Tuhan, manusia atau segala
sesuatu lainnya. Jikalau nilai dasar itu berkaitan dengan hakikat Tuhan , maka nilai tersebut bersifat mutlak
karena hakikat Tuhan adalah kuasa prima (sebab pertama), sehingga segala sesuatu diciptakan (berasal) dari
Tuhan. Demikian juga jikalau nilai dasar itu berkaitan dengan hakikat manusia, maka nilai-nilai tersebut
bersumber pada hakikat kodrat manusia, sehingga jikalau nilai-nilai dasar kemanusiaan itu dijabarkan dalam
norma hukum maka diistilahkan sebagai hak dasar (hak asasi). Demikian juga hakikat nilai dasar itu dapat juga
berlandaskan pada hakikat sesuatu benda, kualitas, aksi, relasi, ruang maupun waktu. Demikianlah sehingga
nilai dasar dapat juga disebut sebagai sumber norma yang pada gilirannya atau direalisasikan dalam suatu
kehidupan yang bersifat praksis.
B. Nilai Instrumental
Untuk dapat direalisasikan dalam suatu kehidupan praksis maka nilai dasar tersebut diatas harus memiliki
formulasi serta parameter atau ukuran yang jelas. Nilai instrumental inilah yang merupakan suatu pedoman
yang dapat diukur dan dapat diarahkan. Bilamana nilai instrumental tersebut berkaitan dengan tingkah laku
manusia dalam kehidupan sehari-hari maka hal itu akan merupakan suatu norma moral. Namun jikalau nilai
instrumental itu berkaitan dengan suatu organiasasi ataupun negara maka nilai-nilai instrumental itu merupakan

suatu arahan, kebijaksanaan atau strategi yang bersumber pada nilai dasar. Sehingga dapat juga dikatakan
bahwa nilai instrumental itu merupakan suatu eksplisitasi dari nilai dasar.
C. Nilai Praksis
Nilai praksis pada hakikatnya merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai instrumental dalam suatu
kehidupan yang nyata. Sehingga nilai praksis ini merupakan perwujudan dari nilai instrumental itu. Dapat juga
dimungkinkan berbeda-beda wujudnya, namun demikian tidak bisa menyimpang atau bahkan tidak dapat
bertentangan. Artinya oleh karena nilai dasar, nilai instrumental dan nilai praksis itu merupakan suatu sistem
perwujudannya tidak boleh menyimpang dari sistem tersebut.
HUBUNGAN NILAI, NORMA DAN MORAL
Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa nilai adalah kualitas dari suatu yang bermanfaat bagi kehidupan
manusia, baik lahir maupun batin. Dalam kehidupan manusia nilai dijadikan landasan, alasan, atau motivasi dalam
bersikap dan bertingkah laku baik disadari maupun tidak.
Nilai berbeda dengan fakta dimana fakta dapat diobservasi melalui suatu verifikasi empiris, sedangkan nilai
bersifat abstrak yang hanya dapat dipahami, dipikirkan, dimengerti dan dihayati oleh manusia. Nilai berkaitan juga
dengan harapan, cita-cita, keinginan dan segala sesuatu pertimbangan internal (batiniah) manusia. Nilai dengan
demikian tidak bersifat konkrit yaitu tidak dapat ditangkap dengan indra manusia, dan nilai dapat bersifat subjektif
maupun objektif. Bersifat sujektif manakala nilai tersebut diberikan oleh subjek (dalam hal ini manusia sebagai
pendukung pokok nilai) dan bersifat objektif jikalau nilai tersebut telah melekat pada sesuatu terlepas dari penilaian
manusia.
Agar nilai tersebut menjadi lebih berguna dalam menuntun sikap dan tingkah laku manusia, maka perlu
lebih dikonkritakan lagi serta diformulasikan menjadi lebih objekif sehingga memudahkan manusia untuk
menjabarkannya dalam tingkah laku secara konkrit. Maka wujud yang lebih konkrit dari nilai tersebut adalah
merupakan suatu norma. Terdapat berbgai macam norma, dan dari berbagai macam norma tersebut norma
hukumlah yang paling kuat keberlakuannya, karena dapat dipaksakan oleh suatu kekuasaan eksternal misalnya
penguasa atau penegak hukum.
Selnjutnya nilai dan norma senantiasa berkaitan dengan moral dan etika. Istilah moral mengandug
integritas dan martabat pribadi manusia. Derajat kepribadian seseorang amat ditentukan oleh moralitas yang
dimilikinya. Makna moral yang terkandung dalam kepribadian seseorang itu tercermin dari sikap dan tingkah
lakunya. Dalam pengertian inilah maka kita memeasuki wilayah norma sebagai penuntun sikap dan tingkah laku
manusia.
Hubungan antara moral dengan etika memang sangat erat sekali dan kadangkala kedua hal tersebut
disamakan begitu saja. Namun sebenarnya kedua hal tersebut memiliki perbedaan. Moral yaitu merupakan suatu
ajaran-ajaran ataupun wejangan-wejangan, patokan-patokan, kumpulan peraturan, baik lisan maupun tertulis
tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik. Adapun di pihak lain etika
adalah suatu cabang filsafat yaitu suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandanganpandangan moral tersebut (Krammer, 1988 dalam Darmodiharjo, 1996). Atau juga sebagamana dikemukakan oleh

De Vos (1987), bahwa etika dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang kesusilaan. Adapun yang dimaksud
dengan kesusilaan adalah identik dengan pengertian moral, sehingga etika pada hakikatnya adalah sebagai ilmu
pengetahuan yang membahas tentang prinsip-prinsip moralitas.
Setiap orang memiliki moralitasnya sendiri-sendiri, tetapi tidak demikiannya halnya dengan etika. Tidak
semua orang perlu melakukan pemikiran yang kritis terhadap etika. Terdapat suatu kemungkinan bahwa seseorang
mengikuti begitu saja pola-pola moralitas yang ada dalam suatu masyarakat tanpa perlu merefleksikannya secara
kritis.
Etika tidak berwenang menentukan apa yang b0leh atau tidak boleh dilakukan oeh seseorang. Wewenang
ini dipandang berada di tangan piak-pihak yang memberikan ajaran moral. Hal inilah yang menjadi kekurangan dari
etika jikalau dibandingkan dengan ajaran moral. Sekalipun demikian, dalam etika seseorang dapat mengerti
mengapa dan atas dasar apa manusia harus hidup menurut norma-norma tertentu. Hal yang terakhir inilah yang
merupakan kelebihan etika jikalau dibandingkan dengan moral.
Hal ini dapat dianalogikan bahwa ajaran moral sebagai buku petunjuk tentang bagaimana kita
memperlakukan sebuah mobil dengan baik, sedangkan etika memberikan pengertian pada kita tentang struktur dan
teknologi mobil itu sendiri. Demikianlah hubungan yang sistematik antara nilai, norma, dan moral yang pada
gilirannya ketiga aspek tersebut terwujud dalam suatu tingkah laku praksis dalam kehidupan manusia.
KEDUDUKAN PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA
Pancasila yang memiliki fungsi sebagai dasar negara merupakan pedoman dan landasan dalam kehidupan
sehari hari dalam berpemerintahan. Pancasila dijabarkan dalam norma hukum dan norma moral. Norma hukum
tertuang dalam beberapa aturan-aturan hukum yang berlaku dalam masyarakat, hal ini berkaitan dengan fungsi
Pancasila sebagai dasar hukum nasional. Pancasila dipakai sebagai landasan bagi aturan-aturan hukum yang
berlaku bagi Bangsa Indonesia.Norma moral merupakan aturan-aturan di daam masyarakat yang merupakan adat,
kebiasaan, sopan santun, dan lain lain. Hal ini berhubungan dengan fungsi Pancasila sebagai sistem etika.
Pancasila dapat disebut moral Bangsa Indonesia dalam arti bahwa Pancasila meliputi apa yang disebut
dalam Bahasa Inggris public morality (Setiardja, 2004 : 41). Moral Pancasila memiliki peran sebagai pedoman
perilaku moral Bangsa Indonesia, berlaku untuk semua rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
Menurut Professor Driyarkara, Pancasila berakar pada kodrat manusia sehingga dengan menganalisa
kodrat manusia kita akan sampai pada Pancasila. Dari kodrat manusia dapat di simpulkan kelima sila itu sebagai
norma agama, sebagai pedoman untuk berbuat dan bertingkah laku (Setiardja, 2004 : 41). Hal tersebut semakin
menguatkan pernyataan bahwa Pancasila merupakan pedoman dan landasan dalam kehidupan berperilaku. Kodrat
manusia sebagai makhluk yang monopluralis (kedudukan kodrat, sifat kodrat, dan susunan kodrat), senentiasa harus
dapat dilaksanakan sesuai dengan nilai-nilai norma dalam kehidupan masyarakat. Kedudukan kodrat manusia
sebagai makhluk pribadi dan makhluk tuhan, sifat kodrat manusia sebagai makhluk sosial dan individu serta susunan
kodrat sebagai makhluk jasmani dan rohani, ketiga-tiganya harus senantiasa berjalan sesuai dengan prinsip prinsip

kemanusiaan yang ada di dalam masyarakat. Keharmonisan, keserasian dan keseimbangan bertindak akan
membawa perilaku ke arah yang lebih baik.
NILAI-NILAI PANCASILA SEBAGAI SUMBER ETIKA
Pancasila merupakan sistem etika dalam kehidupan Bangsa Indonesia. Sebagai suatu sistem, keseluruhan
sistem susunan Pancasila merupakan satu kesatuan yang utuh, tidak terpisahkan satu sama lain, masing-masing
saling berkaitan dan tidak saling meniadakan. Pancasila sebagai suatu sistem etika karena nilai-nilai dalam sistem
etika Pancasila secara keseluruhan merupakan satu kesatuan. Nilai yang satu merupakan bagian mutlak dari yang
lain.
Kesatuan sistem nilai Pancasila bersifat Hierarkis Piramida. Masing-masing nilai yang terkandung dalam
Pancasila memiliki bobot nilai yang berbeda akan tetapi saling menjiwai dan dijiwai. Pengertian Pancasila sebagai
suatu sistem artnya sila-sila pancasila merupakan satu kesatuan yang utuh, demikian juga akna yang terkandung di
dalamnya. Nilai sila pertama menjiwai nilai sila lainnya dan masing-masing sila saling mengualifikasikan dengan sila
yang lain.
Masing-masing sila Pancasila memiliki bobot nilai yang berbeda. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa memiliki
bobot nilai tertinggi dibanding dengan sila yang lainnya. Hal ini karena sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung
nilai yang relijius. sedangkan nilai-nilai sila yang di bawah nya merupakan nilai manusiawi yang artinya nilai manusiamanusia. Walaupun demikian antar sila-sila tersebut juga memiliki tata urutan yang demikian karena bobot nilai dari
masing-masing sila juga berbeda. Nilai kemanusiaan memiliki bobot yang lebih tinggi dibanding sila-sila di
bawahnya, dan seterusnya.
Nilai-nilai Pancasila bersifat universal dan dapat diterima oleh siapapun. Nilai digali dari budaya Bangsa
Indonesia artinya apa yang sudah ada sekarang merupakan warisan dari nenek moyang kita, berarti Pancasila
adalah milik Bangsa Indonesia yang menjadikannya memiliki ciri khas dibanding bangsa lain.
Nilai etika dalam Pancasila, dijabarkan sebagai berikut :
1. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.
Pada Prinsipnya mengandung makna bahwa negara kita adalah negara yang monotheisme, artinya
Bangsa Indonesia harus memeluk satu agama atau kepercayaan yang diyakininya dan dapat menjalankan
ibadahnya dengan baik. Negara melindungi kehidupan Bangsa Indoesia dalam menjalankan ibadahnya masingmasing.
2. Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beadab
Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang monopluralisme, yaitu manusia yang memiliki susunan
kodrat, sifat, dan kedudukan kodrat. Manusia sebagai makhluk jiwa raga, sosial individu, dan pribadi tuhan yang
maha esa. Perpaduan tersebut harus berjalan harmonis untuk mewujudkan suatu kehidupan yang baik.
Konsekuensi dari nilai kemanusiaan ini seluruh Bangsa Indonesia haruslah menjunjung tinggi nilai tersebut
tanpa meninggalkan sila-sila yang lain.
3. Nilai Persatuan Indonesia

Sila ini mengandung arti bahwa Bangsa Indonesia menjunjung tinggi persatuan dan kesatauan, dengan
mengutamakan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan pribadi atau golongan. Nilai persatuan banyak
mengandung implikasi bagi Bangsa Indonesia, artinya Bangsa Indonesia harus mampu mewujudkan perbedaan
yang ada menjadi suatu persatuan dan kesatuan.
4. Nilai Kerakyatan yang Dipimpin oleh Khidmad Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan
Kerakyatan menjadi ciri khas bagi Pancasila, nilai kerakyatan ini diwujudkan dalam berbagai segi
kehidupan, terutama dalam kehidupan politik. Kehidupan politik yang berlandaskan nilai kerakyatan tidak akan
mementingkan kepentingan pribadi dan golongan. Bukan berdasar egoisme dan individu tetapi berdasarkan
kepentingan bersama Indonesia.
5. Nilai Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Keadilan yang dimaksud dalam sila ini adalah seluruh masyarakat Indonesia, memiliki hak dan
kewajiban yang sama, untuk menciptakan keadilan. Hal ini berarti rakyat berkewajiban bersama-sama untuk
mengadakan keadilan. Nilai-nilai pancasila tersebut menjadi pedoman di landasan kehidupan di Indonesia. Etika
sangat penting dilakukan mengingat langkah dan tindakan tanpa dilandasi etika tidak akan berjalan dengan
baik. Etika berkaitan dengan nilai, norma, dan moral. Moral para penyelenggara negara akan menjadi lebih baik
bila menaati seluruh peraturan yang berlaku di dalam masyarakat maupun negara. Pancasila merupakan
landasan untuk berpolitik bagi bangsa Indonesia. Nilai-nilai Pancasila yang trkandung didalamnya begitu luhur
dan mencerminkan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Hal ini akan memudahkan bangsa Indonesia untuk
melaksanakan, karena nilai- nilai Pancasila diambil dari bangsa sendiri.
Etika politik mempertanyakan tanggung jawab dan kewajiban manusia sebagai manusia dan bukan
sebagai warga negara terhadap bangsa. Etika politik membantu agar pembahasan msalah-masalah politik dan
kenegaraan dapat dijalankan secara objektif. Hukum dan kekuasaan negara merupakan pembahasan utama
etika politik. Prinsip etik a politik yang menjadi acuan orientasi moral suatu negara adanya cita-cita untuk
mewujudkan suatu tatana yang baik bagi negara, partisipasi masyarakat yang demokratis , hak asasi manusia
dan lain-lain merupakan bagian dari etika politik.
Besarnya kekuasaan yang dimiliki seseorang seharusnya disertai tanggung jawab bagi diri sendiri,
masyarakat dan negara. Hal ini berarti apapun yang dilakukan oleh para penyelenggara negara atau pemegang
kekuasaan harus disertai rasa tanggung jawab terhadap masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam etika politik,
sikap penguasa ikut terbawa dalam masyarakat, artinya masyarakat merasakan dan melihat bagaimana sikap
dan perilaku penguasanya.
Sikap penguasa akan tampak dalam cara ia menjalankan pemerintahannya. Bila sikap pemerintah
sesuai dengan keinginan rakyat, akan lebih memudahkan rakyat ikut berpartisipasi terlibat dalam pembangunan
negara. Artinya rakyat bukan hanya melihat akan tetapi ikut merasa berkewajiban terlibat didalamnya.
Berbagai tindakan para elite politik secara tidak langsung maupun langsung menjadi teladan bagi
rakyat. Rakyat akan menjadi acuh tak acuh jika melihat berbagai pelanggaran yang dilakukan para
penyelenggara negara dibiarkan saja. Apalagi hukum seakan-akan memihak kepada penguasa dan yang
memiliki harta. Hal yang demikian akan mengakibatkan krisis kepercayaan rakyat terhadap pemerintah.
Etika politik bangsa Indonesia seharusnya mendasarkan diri pada Pancasila sebagai dasar negara.
1. Etika politik yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

Perilaku para penyelenggara negara seharusnya disarkan pada rasa takut terhadap Tuhan Yang Maha
Esa. Tanggung jawab terhadap tugasnya

bukan hanya menjadi menjadi kewajiban untuk

mempertanggunjawabkan dunia tetapi dalam kehidupan nanti.


2. Etika politik yang berdasarkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Rasa tanggung jawab terhadap tugasnya hanya diperuntukkan pada masyarakat. Artinya, tugas yang
disandangkan untuk kepentingan masyarakat Indonesia bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan.
3. Etika politik yang berdasarkan Persatuan Indonesia
Artinya perilaku para penyelenggara negara hanya untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bukan
perpecahan mengingat bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam perbedaan dan perbedaan itu
dimunculkan untuk mewujudkan persatuan.
Etika politik yang berdasarkan Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam

4.

Permusyawaratan / Perwakilan
Demokrasi yang menjadi inti dari perkembangan sila ini. Demokrasi yang dilaksanakan dengan baik
5.

akan menjadikan kehidupan politik di Indonesia akan lebih baik pula.


Etika politik yang Berkeailan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia
Tindakan dan perilaku dari para penyelenggara negara harus bisa mewujudkan keadilan bagi seluruh
bangsa Indonesia. Artinya semua lapisan masyarakat ikut menikmati keadilan itu. Penguasa tidak memihak
satu masyarakat tertentu. Semua diperlakukan dan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan keadilan.
Hukum positif yang berlaku di Indonesia tidak menjamin bahwa hak-hak politik warga negara telah
dilaksanakan. Beberapa kasus dapat kita lihat, seperti korupsi, pelanggaran pemilihan umum, politik uang
dalam merebut jabatan, dan lain sebagainya hanya dapat dirasakan, tetapi sangatlah sulit untuk dapat
dibuktikan secara hukum sehingga terjadi bermacam-macam ketidakadilan. Semua pelanggaran dan
kejahatan ini sangat sulit diberantas melalui jalur hukum, kecuali hanya etika berpolitik yang berasaskan
nilai-nilai Pancasila yang betul-betul ada keinginan dari setiap warga negara sebagai insan politik ingin
mengamalkan dalam kehidupan riil dalam masyarakat.
Etika politik lebih banyak bergerak dalam wilayah, di mana seseorang secara ikhlas dan jujur
melaksanakan hukum yang berlaku tanpa adanya rasa takut kepada sanksi daripada hukum yang berlaku.
Banyak pengamatan yang dapat dilihat bahwa kerusakan kronis dalam sistem berbangsa bernegara pada
masa awal reformasi di mana suatu pandangan jabatan yang diduduki sekadar bermakna kekuasaan untuk
meraih kepentingan, berupa status, politik, dan uang.
Pada hakikatnya etika politik diatur dalam hukum tertulis secara lengkap, tetapi melalui moralitas
yang bersumber dari hati nurani, rasa malu kepada masyarakat, dan rasa takut kepada Tuhan yang Maha
Kuasa. Pokok-pokok etika dalam kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran, amanah, keteladanan,
sportivitas, disipli, etos kerja, kemandirian, sikap toleransi, rasa malu, tanggung jawab, menjaga
kehormatan serta martabat diri sebagai warga negara.
Dalam uraian etika politik dan pemerintah dinyatakan bahwa untuk mewujudkan pemerintah yang
bersih, efisien, dan efektif serta menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang bercirikan
keterbukaan, rasa bertanggung jawab, tanggap akan aspirasi rakyat, menghargai perbedaan, jujur dalam
persaingan, kesediaan untukmenerima pendapat yang lebih benar, serta menjunjung tinggi hak asasi
manusia dan keseimbangan hak dan kewajiban dalam kehidupan berbangsa.

Daftar Pustaka
Kaelan. 2010. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma
Widisuseno, Iriyanto, dkk. 2005. Buku Ajar Pendidikan Pancasila. Semarang:
Universitas Diponegoro