Anda di halaman 1dari 3

Nama : Indah Ratnasari

NIM : 145070301111029
Kelas : 5A
Obesitas dan Dislipidemia
Obesitas merupakan perubahan komposisi di dalam tubuh yaitu meningkatnya jumlah
lemak yang terdistribusi di dalam tubuh, hal tersebut bisa berakibat meningkatnya lemak sentral
yang terakumulasi di abdomen yang bisa berdampak pada obesitas sentral. Obesitas sentral bisa
diukur dengan pemeriksaan antropometri dan lingkar perut. Seseorang dapat dikatakan menderita
obesitas jika nilai IMT yang dimiliki 25 atau lebih dari 25. Di Indonesia merupakan populasi
yang memiliki bentuk tubuh yang kecil, hal itu dapat beresiko mengalami obesitas sentral,
karena IMT yang dimiliki lebih rendah tetapi lingkar perutnya lebih besar (Kamso, 2007).
Prevalensi obesitas yang ada di Indonesia pada laki-laki usia lebih dari 18 tahun yaitu
jumlahnya 19,7 persen, jumlah tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun-tahun
sebelumnya yaitu dari tahun 2007 sebanyak 13,9 persen dan tahun 2010 sebanyak 7,8 persen.
Sedangkan pada perempuan usia lebih dari 18 tahun sebanyak 32,9 persen, jumlah tersebut naik
sebesar 18,1 persen dari tahun 2007 yaitu 13,9 persen, dan naik menjadi 17,5 persen dari tahun
2010 yaitu sebanyak 15,5 persen (Riskesdas, 2013). Dari prevalensi tersebut bisa disimpulkan
prevalensi obesitas yang terjadi di Indonesia dari tahun ke tahun jumlahnya semakin meningkat,
sehingga masalah harus dilakukan penanganan karena akan berdampak pada terjadinya penyakit
degenerative.
Faktor penyebab terjadinya obesitas yaitu kebiasaan pola makan kurang baik. Selain itu
fasilitas seperti gadget akan menyebabkan aktifitas fisik yang rendah. Hal tersebut dapat
menyebabkan terjadinya PJK (Penyakit Jantung Koroner) serta AMI (Angina pektoris dan akut
miokard infark). AMI juga akan menyebabkan terjadinya Dislipidemia. Dislipidemia adalah
kadar lemak di dalam dalam darah mengalami perubahan yang dapat ditandai dengan fraksi lipid
mengalami penurunan maupun peningkatan di dalam plasma (Hermawanto dkk, 2012). Obesitas
berhubungan dengan kadar profil lipid seperti terjadinya peningkatan kadar kolesterol, LDL

(Low Densitry Lipoprotein), kadar trigliserida, dan kadar HDL (High Densitry Lipoprotein)
menurun. Hal itu bisa berdampak terjadinya arterosklerosis coroner (Kamso, 2007).
Penderita dyslipidemia dapat ditangani dengan diet yang bertujuan untuk mencegah
rseiko penyakit kardiovaskuler dengan cara menurunkan total kadar kolesterol dan LDL. Untuk
asupan lemak dalam sehari direkomendasikan 25 persen dari total energy dalam sehari. Selain itu
dianjurkan lebih mengkonsumsi ikan daripada daging sapi atau daging ayam, karena kandungan
asam lemak tak jenuh pada ikan lebih tinggi daripada daging sapi atau daging ayam dan
menggunakan minyak nabati yang tidak jenuh seperti pada kacang kedelai dan jagung. Aktifitas
fisik juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kegemukan atau terjadinya
obesitas dan dislipidemia. Jika seseorang mempunyai berat badan yang berlebih tetapi aktifitas
fisiknya tinggi resiko terjadinya dislipidemia lebih rendah daripada seseorang yang mempunyai
berat badan yang normal tetapi aktifitas fisiknya rendah (Kamso, 2007).

DAFTAR PUSTAKA

Kamso, Sudijanto. 2007. Dislipidemia dan Obesitas Sentral pada Lanjut Usia di Kota Padang.
http://jurnalkesmas.ui.ac.id/kesmasphj/article/download/274/274. Diakses pada 26
September 2016
Hermawanto Sony, dkk. 2012. Hubungan Antara Obesitas Sentral dan Dislipidemia terhadap
Kejadian Akut Miokard Infark (AMI) di RS Telogorejo Semarang.
http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=183402&val=6378&title+HUBUNGAN %20ANTARA%20%200OBESITAS
%20SENTRAL%20DAN%20DISLIPIDEMIA%20TERHADAP%20KEJADIAN
%20AKUT%20MIOKARD%20INFARK%20(AMI)%20DI%20RS%20TELOGOREJO
%20SEMARANG. Diakses pada 26 September 2016
Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar.
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/hasil%20Riskesdas%202013.pdf.
Diakses pada 27 September 2016