Anda di halaman 1dari 56

http://sarosthadairygoatfarm.blogspot.co.id/2010/03/sifat-dan-perilakudasarkambing-yang.

html

SIFAT DAN PERILAKU DASAR KAMBING

Pada dasarnya Kambing adalah binatang liar, sehingga insting serta sifat dasarnya tetap melekat sebagai binatang liar.
Kelebihan atau keunggulan binatang liar adalah Kekuatan atau Kemampuan untuk Menyesuaikan Diri (Adaptability) dengan
lingkungan hidup dimana dia berada.
Di alam bebas kambing menggunakan sifat dasar bawaannya untuk beradaptasi, agar mampu bertahan hidup pada
lingkungan hidupnya.
Adapun sifat dasar tersebut antara lain;
- Kambing bukanlah binatang pemangsa
- Kambing selalu bersikap waspada untuk menjaga dirinya dari serangan pemangsa
- Kambing selalu hidup berkelompok untuk menjaga keamanan dirinya.
- Kambing adalah pelari Sprint dan bukan pelari Jarak Jauh, dalam menghindari pemangsanya.
- Kambing jantan maupun Betina akan selalu menggunakan Tanduknya untuk membela dirinya.
- Kambing selalu berpindah-pindah tempat dalam mencari makan dan mencari tempat istirahatnya.

Hal ini mereka

lakukan agar selalu mendapatkan makanan yang terbaik, dan juga untuk menjaga kebersihan dan meningkatkan sistim
kekebalan tubuhnya (Immune).
- Kambing tidak pernah Tidur berdesak-desakan dengan sesamanya, hal ini dilakukan untuk menjaga agar tidak saling
melukai, tidak saling menulari penyakit dan juga agar mereka dapat tetap mewaspadai lingkungan sekitarnya, terutama
terhadap kemungkinan serangan pemangsa.
- Kambing jantan maupun betina akan saling berkompetisi dengan bertarung antar sesamanya, untuk mendapatkan posisi
atau ranking atau jabatan (?), di dalam kelompoknya. Hanya mereka yang terkuat yang mempunyai hak untuk menjadi
pimpinan kelompoknya, serta memilih pasangan untuk dikawininya. Dengan demikian Prioritasturunan yang di hasilkan
di kelompoknya akan merupakan turunan yang terbaik
- Kambing mempunyai jadwal / musim kain dan beranak, yang di sesuaikan dengan alam lingkungannya. Agar tidak
melahirkan di saat musim dingin/salju atau musim paceklik/kering
- Kambing yang melahirkan selalu memisahkan diri, dengan mencari tempat yang bersih dan aman, baik untuk dirinya
maupun untuk anaknya. Anak yang lemah akan dia biarkan mati dengan sendirinya, hal ini

penting untuk dilakukan guna

menjaga ketahanan genetika di kelompok kambing tersebut. Hanya yang


lemah akan dibiarkan mati, sehingga hanya tersisa kambing

sehat dan kuat yang akan tetap hidup, yang

yang sehat dan kuat untuk hidup bersama kelompoknya.

Dengan demikian generasi berikutnya akan tetap kuat dan sehat.


- Serta masih banyak lagi yang tidak mungkin di tulis semuanya. Yang pada umumnya di tulis dengan DLL atau Dalaisegai
artinya Dan Lain Sebagainya.

Saat Kambing mulai di pelihara oleh Manusia maka sifat dan perilaku dasar serta Kemampuan Menyesuaikan Diri
(Adaptability) tsb se-olah-olah terenggut hilang, dia menjadi sangat tergantung pada pola pemeliharaan yg di lakukan
oleh peternaknya.
Terlebih lagi bagi Kambing yang di pelihara di dalam kandang, sebagaimana umumnya di lakukan oleh para peternak di
Indonesia. Kambing tersebut tidak lagi mempunyai kebebasan memilih makanan yang dia butuhkan, tidak bisa lagi
memilih tempat yang lebih bersih dan sehat, tidak lagi bisa menentukan siapa yang terkuat dan terbaik, tidak lagi bisa
menyiapkan generasi penerus yang terbaik. Semua sifat dasarnya telah di renggut atau di intervensi oleh manusia yang
memeliharanya, guna mendapatkan keuntungan bagi pemeliharanya dan bukan bagi Kambing tersebut (maaf )
Sangatlah penulis sadari bahwa usaha peternakan juga harus menekan biaya serendah mungkin dan mencari keuntungan
sebanyak mungkin. Lakukanlah kedua hal tersebut dengan BENAR dan BAIK, karena peternak tidak hanya menangani
barang dagangan tetapi juga harus bertanggung jawab kepada masa depan Kambingnya..
Benar dalam hitungan Rupiahnya, dalam arti harus untung dalam melakukan usaha peternakan.
Baik dalam memelihara Kambingnya, dalam artian ketahuilah sifat dan perilaku dasar Kambing anda, sehingga anda dapat
melakukan kompromi (compromising) dalam mengambil tindakan dan keputusan.
Pertimbangkan juga kebutuhan dasar Kambing peliharaan anda, berikan juga keuntungan pada Kambing peliharaan anda,
karena pada ahirnya keuntungan tersebut akan kembali kepada anda sebagai peternaknya dengan berlipat ganda.

Tanpa mengetahui sifat dan perilaku dasar Kambing maka dampak negatip yang sudah pasti akan terjadi adalah
Menurunnya Kualitas Genetika Kambing.
Itulah sebabnya penulis memberanikan diri dengan sedikit nekat dan ngawur, menyampaikan masalah sifat dan perilaku
dasar ini, agar para peternak mengetahui dan menguasainya sehingga dapat dengan lebih tepat sasaran dalam berbagi
keuntungan dengan Kambing peliharaannya. Dan secara tidak langsung anda akan mempersiapkan masa depan bagi
turunan Kambing peliharaan anda.

Adapun tujuan tulisan ini bukan untuk mempersulit dan menyusahkan para peternak Kambing, tapi justru sebaliknya
untuk mempermudah dan menguntungkan para peternak, terutama untuk jangka waktu panjang dan masa depan kita
bersama (kita=Peternak dan Kambingnya)

Berikan yang terbaik buat Kambing Peliharaan anda, agar anda juga bisa meraih keuntungan yang terbaik.

PERNETH SAROSTHA

http://newspeternakan.blogspot.co.id/2013/12/makalahtingkah-laku-makan-pada-kambing.html

Makalah Tingkah Laku Makan Pada Kambing

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kambing adalah salah satu mamalia yang memeamah biak. Umumnya
kambing dapat memakan semua jenis rumput dan tumbuhan hijau lainnya, namun
tidak semua disukai. Rumput yang disukai kambing umumnya mempunyai rasan
yang lebih pahit dibandingkan dengan rumput yang dimakan domba. Rumput bagi
kambing berfungsi sebagai penetral bau pada susu. Kambing bisa mencari makan
sendiri dengan menggembalakannya atau dengan memberi pakan pada kandang.
Saat makanan di berikan oleh peternak, biasanya kambing bersuara. Rumput yang
dikunyah kambing sebagian di simpan dalam lambung dan dikembalikan lagi ke
mulut untuk dikunyah keduakalinya

B.

TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui tingkah laku
makan yang dilakukan oleh kambing

C. MANFAAT
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah agar pembaca mendapat
pengetahuan bagaimana tingkah laku kambing saat memakan makanannya.

BAB II
PEMBAHASAN

Salah satu kemampuan yang tidak dimiliki ternak lain (domba, sapi) bahwa
kambing dapat mengkonsumsi daun-daunan, semak belukar, tanaman ramban dan
rumput yang sudah tua dan berkualitas rendah. Jenis pakan tersebut dapat
dimanfaatkan secara efisien, sehingga kambing dapat beradaptasi pada lingkungan
yang kurang pakan (Devendra, 1978).
Kebanyakan orang percaya bahwa kambing akan makan hampir apa saja dan
ini tidak benar. Kambing memiliki bibir sangat sensitif dan rasa ingin tahu alami
mereka dan memberi mereka kebiasaan "mencium" dan "berbau" untuk makanan
yang bersih dan lezat. Kambing tidak akan makan makanan kotor (kecuali mereka
didorong ke titik kelaparan - sering memilih untuk kelaparan).
Rangkaian tingkah laku makan pada kambing diawali dengan mencium
makanan. Jika makanan cocok untuknya maka akan dimakan. Pada umumnya
kambing menyukai berbagai jenis hijauan, karenanya dapat membedakan antara
rasa pahit, manis, asam dan asin (Kilgour & Dalton, 1984).

Aktivitas makan pada kambing terdiri atas:


1) aktivitas mencium hijauan yaitu awal aktivitas mencium hingga kambing mulai
melakukan aktivitas lainnya,
2) aktivitas merenggut makanan yaitu awal perenggutan hijauan hingga diangkat
untuk dikunyah ,

3) aktivitas mengunyah makanan yaitu aktivitas yang dimulai dari hasil


perenggutan hijuauan yang telah dikumpulkan di dalam mulut, hingga melakukan
aktivitas menelan ,
4) aktivitas menelan makanan yaitu aktivitas yang dimulai dari menelan hasil
kunyahan hingga aktivitas lainnya.

Aktivitas ruminasi terdiri atas:


1) aktivitas mengeluarkan bolus yaitu aktivitas yang dimulai dari dikeluarkan bolus
dari rumen menuju ke mulut hingga kambing melakukan aktivitas mengunyah
bolus,
2) aktivitas mengunyah bolus, yaitu aktivitas yang dimulai dengan mengunyah
bolus yang telah dikeluarkan dari rumen ke mulut hingga aktivitas menelan
beberapa bolus,
3) aktivitas menelan bolus yaitu aktivitas yang dimulai dari bolus yang langsung
ditelan setelah dikeluarkan dari rumen ke mulut atau menelan bolus yang melalui
proses pengunyahan hingga aktivitas mengeluarkan bolus kembali.

Kambing merenggut dengan cara menarik dan mendorong mulut ke depanatas atau belakang-bawah. Jika daun-daunan terdapat pada tanaman yang tinggi,
kambing mempunyai kemampuan untuk meramban. Hewan ini meramban dengan
cara mengangkat kedua kaki depan pada batang tumbuhan dan bertumpu pada
kedua kaki belakang.
Kepala dijulurkan ke daun tumbuhan yang dipilihnya. Menurut Devendra &
Burns (1994), kambing mempunyai kebiasaan makan yang berbeda dengan
ruminansia lainnya. Bila tidak dikendalikan, kebiasaan makan dapat mengakibatkan
kerusakan. Bibirnya yang tipis mudah digerakkan dengan lincah untuk mengambil
pakan.
Kambing mampu makan rumput yang pendek, dan merenggut dedaunan.
Disamping itu, kambing merupakan pemakan yang lahap dari pakan yang berupa
berbagai macam tanaman dan kulit pohon. Setelah merenggut makanan ke dalam
mulutnya, kambing akan memulai aktivitas berikutnya yaitu mengunyah. Fungsi
pengunyahan selama makan yaitu untuk merusak bagian permukaan pakan
sehingga ukuran partikel menjadi lebih kecil yang memudahkan pakan untuk
dicerna.

Jika aktivitas makan telah selesai, maka dilanjutkan dengan aktivitas


ruminasi. Aktivitas ruminasi diawali dengan mengeluarkan bolus yang disimpan
sementara dalam rumen untuk dikunyah dan ditelan kembali. Frekuensi aktivitas
menelan bolus lebih banyak dilakukan dibanding aktivitas menelan makanan
sebelum ruminasi, hal ini diduga karena pakan yang telah dikunyah kemudian di
telan dan disimpan lama di dalam rumen. Menurut Wodzicka-Tomaszewska et
al. (1993),
Setelah kambing melakukan ruminasi, biasanya dilanjutkan dengan tingkah
laku istirahat. Tingkah laku ini adalah tingkah laku kambing pada saat tidak
melakukan apa-apa. Posisi yang dilakukannya saat istirahat ada tiga macam yaitu
bersimpuh, berdiri dan berbaring dengan meletakkan kepala ke atas tanah dengan
mata terpejam atau terbuka.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Kambing dapat memanfaatkan secara efisien makanannya, sehingga dapat
beradaptasi pada lingkungan yang kurang pakan. kambing dapat memakan semua
jenis rumput dan tumbuhan hijau lainnya, namun tidak semua disukai.

B.

KRITIK DAN SARAN


Kebanyakan orang percaya bahwa kambing akan makan hampir apa saja
dan ini tidak benar. Kambing memiliki bibir sangat sensitif dan rasa ingin tahu alami
mereka dan memberi mereka kebiasaan "mencium" dan "berbau" untuk makanan
yang bersih dan lezat. Kambing tidak akan makan makanan kotor (kecuali mereka
didorong ke titik kelaparan - sering memilih untuk kelaparan).

DAFTAR PUSTAKA

http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/43119 ,Tingkah laku makan kambing lokal


persilangan yang digembalakan di lahan gambut: studi kasus di Kalampangan,
Palangkaraya, Kalimantan Tengah
http://agusryansyah.wordpress.com/2010/04/08/perilaku-satwa/
http://fiascofarm.com/goats/feeding.htm

http://www.ilmuternak.com/2015/01/perbedaan-antarakambing-dan-domba.html

PERBEDAAN ANTARA KAMBING DAN DOMBA


THOMAS SAPUTRO ON KAMBING DAN DOMBA ON 10:08 AM

Ternak kambing/ domba atau sering disebut juga ternak ruminansia kecil
merupakan ternak yang sangat populer di kalangan petani di Indonesia terutama
yang berdomisili di areal pertanian/ perkebunan. Selain lebih mudah dipelihara,
cepat berkembang biak, dapat memanfaatkan limbah dan hasil ikutan pertanian,
ternak kambing/domba juga memiliki pasar yang selalu tersedia setiap saat dan
hanya memerlukan modal yang relatif sedikit bila dibandingkan ternak yang lebih
besar seperti ternak sapi. Pengetahuan akan perbedaan akan domba dan kambing
merupakan hal yang sangat penting dalam mendalami ilmu peternakan, karena
domba dan kambing memiliki bentuk yang hampir serupa dan cara hidupnya sama.
Domba dan kambing berkaitan erat karena keduanya berada dalam subfamili
Caprinae, Pada dasarnya kambing merupakan jenis yang berbeda, banyak
masyarakat yang masih menyebut domba adalah kambing dan sebaliknya. kambing
dan domba bias dibedakan dengan melihat siklus birahi, taksonomi, ekor,makanan,
perilaku, dan tanduk serta kambing biasanya memiliki bulu-bulu yang halus, serta
domba memiliki bulu yang kasar dan keriting.

PERBEDAAN ANTARA DOMBA DAN KAMBING ADALAH

Domba ( Ovis)

Kambing ( Capra)

Tidak Memiliki

kelenjar

terdapat di ke empat kakinya

bau yang Terdapat kelenjar bau di ke empat


kakinya

Tidak berbau tajam

Berbau

kuat

(prengus)

khususnya

pada yangjantan
Tidak berjenggot

Berjenggot pada yang jantan

Terdapat celah bibir atas

Tidak ada celah bibir atas

Tanduknya berputar (seperti sekrup) ke

Perputaran tanduknya ke kiri

arah kanan
Ekornya lurus ke bawah

Ekornya mencuat keatas

Jumlah kromosom 2n = 54

Jumlah kromosom 2n = 60

Lebih menyukai rumput (tidak selektif)

Lebih menyukai daun-daunan (selektif)

Menurut Devendra dan Burns (1994) kambing dan domba memiliki sistem saluran
pencernaan yang serupa, namun menurut Tomaszewska et al. (1993) terdapat
perbedaan antara kambing dan domba dalam tingkah laku dan fisiologi pencernaan
antara lain:
1. aktivitas dan cara makan kambing meramban, pemakan semak dan lebih banyak
memilih, sedangkan domba merumput dan kurang banyak memilih;

2. kambing memiliki alat perasa lebih tajam dari domba;


3. kambing memiliki tingkat sekresi saliva yang lebih besar dari domba;
4. kambing lebih efisien mencerna hijauan kasar dan waktu penyimpanan pakan
dalam saluran pencernaan lebih lama dibandingkan domba;
5. kambing memiliki konsentrasi NH dalam rumen lebih tinggi dari pada domba;
6. kambing lebih tahan terhadap tanin sedangkan domba kurang tahan.

Berdasarkan hasil penelitian Elita (2006) bahwa konsumsi bahan kering, bahan
organik, air minum, dan volume urine domba lebih tinggi dari pada kambing.
Kambing dan domba memiliki kemampuan yang sama dalam mencerna bahan
kering dan bahan organik dan memiliki kemampuan yang sama dalam pertambahan
bobot badan. Kambing lebih efisien dibandingkan domba. Berat jenis urine kambing
lebih tinggi dibandingkan domba. Perbedaan jenis kelamin pada kambing dan
domba tidak berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering, bahan organik, air
minum, kecernaan bahan kering dan bahan organik, pertambahan bobot badan,
konversi ransum, bahan kering feses, kadar air feses, volume urine dan bj urine.

Sumber :
Devendra, C dan M. Burns. 1994. Produksi kambing di Daerah Tropis. Penerbit
ITB Bandung. hlm: 12 35.
Elita, A. S. 2006. Studi Perbandingan Penampilan Umum Dan Kecernaan Pakan Pada
Kambing Dan Domba Lokal. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Tomaszewska, M. W., I.M. Mastika, A. Djajanegara, S. Gardiner, T. R. Wiradarya. 1993.
Produksi Kambing dan Domba di Indonesia. Universitas Sebelas Maret Press. hlm: 22
-30.

LAPORAN TINGKAH LAKU TERNAK

http://kambingcantik12.blogspot.co.id/2015/03/laporan-tingkah-lakuternak.htmlI.PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangSemua makhluk hidup didunia


ini mempunyai tingkah laku yang berbeda dan harus saling mengenali tingkah
masing-masing untuk tujuannya masing-masing.Termasuk pula para peternak,
untuk membuka usaha ternak yang sukses peternak harus mengetahui tingkah
laku pada ternaknya. Tingkah laku ternak adalah tingkah tanduk atau kegiatan
hewan yang terlihat dan saling berkaitan secara individual atau kolektif dan
merupakan cara hewan berinteraksi secara dinamik dengan lingkungannya.
Dari mengenal tingkah laku ternak itu lah peternak dapat dengan mudah
menangani ternak-ternaknya.Dari tingkah laku ini kita akan mendapatkan
informasi yang berkaitan dengan kedudukan manusia sebagai makhluk sosial,
mendapatkan informasi tentang indera hewan tersebut dan tentang mekanisme
homoestatik hewan supaya keadaan selalu seimbang atau adaptasi agar tetap
hidup. Jenis ternak yang banyak dikomsumsi adalah unggas ilmu pengetahuan
tentang unggas baik mengenai prinsip pemeliharaan secara teoritis ataupun
praktis, serta ilmu tentang prodksi, reproduksi, genetik, teknologi hasil unggas
dan pemasarannya sudah dimengerti tapi sedikit sekali yagn memahami
tentang tingkah laku dari jenis unggas ini. Sehingga masih ada masalh
sederhana yang belum bisa teratasi karena kurangnyapemahaman tentang
tingkah laku ternak ini. strategi apa yang belum di terapkan secara intensif
oleh peternak yaitu mengembangkan, mensosialisasikan, konsolidasi dan
perkembangan tingkah laku ternak unggas itu sendiri. Dari strategi ini seperti
tubuh manusia dengan posisi paling atas adalah konsumen. Peternak berada
diposisi leher yang menghubungkan dengan badan. Tangan kanan sebagai
gabungan perusahaan peternakan, tangan kiri perhimpunan peternakan
unggas serta kakinya adalah perusahaan pembibitan dan pakan unggas. Maka
semua itu haruslah berlangsung secara sinkron. Tingkah laku sering dianggap
sebagai proses penyesuaian terhadap perubahan lingkungan. Sebagian besar
hewan ternak mempunyai berbagai pola tingkah laku yang dapat dicobakan
dalam suatu situasi. 1.2 Tujuan dan ManfaatTujuan dari pratikum Tingkah Laku
Ternak ini adalah Praktikan mendapatkan dan mengkaji informasi tentang pola
tingkah laku makan, reproduksi dan adaptasi terhadap lingkungan. Dengan
manfaat praktikan dapat mengembangkan ilmu ternak serta mampu
menciptakan kondisi ternak didalam kandang merasa aman dan
nyaman.
II. TINJAUAN PUSTAKAKondisi tubuh sapi yang seimbang
adalah tidak terlalu gemuk atau kurus, langkah kakinya mantap dan teratur.
Bila sapi berjalan, gerakan kaki dilakukan dengan wajar, tidak sempoyongan
atau pincang(Akoso, 1996). sapi yang dominan akan menghambat tingkah laku
sapi yang tingkat dominasinya lebih rendah (subordinat) (Muchtar, 2006).
tingakah laku penyidikan ini akan muncul manakala ada sesuatu yang
dilihatnya aneh dan untuk mencari temannya (Thomas Zewska, 1991).Saat
birahi, induk betina mempunyai sifat libido atau ingin menaiki domba betina
lainnya. (Mulyono.S dan Sarwono, 2004) Realitas ini disebabkan oleh sifat
ternak domba yang merasa lebih senang dan cocok bila hidup secara bebas dari
setengah liar lebih jauh lagi gairah untuk kawin serta aktifitas kehidupan

lainnya akan lebih menonjol (Murtidjo, 1993). Ayam yang dipelihara di


lapangan bebas memperoleh kebutuhan nutrisi dengan pergi kesana-kemari
mencari biji-bijian, daun- daunan, sisa makanan, serangga-serangga sehingga
makanan yang diberikan harus terdiri dedak, sereal dan makanan karbohidrat
secukupnya agar tidak berebutan saat makan (Williamson dan Payne, 1993).
Pada ternak yang menderita stres panas, kalium yang disekresikan melalui
keringat tinggi menyebabkan pengurangan konsentrasi aldosteron (Anderson
dalam Sientje, 2003).Pemahaman mengenai tingkah laku ternak dapat
memberikan informasi mengenai apa saja yang dibutuhkan oleh ternak dalam
hidupnya. Informasi ini penting bagi peternak dalam upaya mengkondisikan
lingkungan dan mendesain manajemen yang sesuai dengan keperluan ternak.
Dengan demikian ternak dapat menghasilkan produksi yang optimal sesuai
potensi genetiknya. Kelebihan yang dimiliki ternak dapat dimanfaatkan sesuai
kondisi yang diperlukan agar kelebihan tersebut dapat ditampilkan. Laporan ini
menguraikan beberapa aspek tingkah laku ternak yang dihubungkan dengan
manajemen untuk optimalisasi produktivitasUntuk dapat hidup nyaman kerbau
memerlukan kondisi ideal dengan temperature lingkungan berkisar 1624C,
dengan batas toleransi hingga 27,6C (MARKVICHITR, 2006). Walaupun pada
kenyataannya kerbau ditemukan paling banyak di daerah tropis dan subtropis,
akan tetapi kerbau tidak mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap panas.
Kerbau akan menderita bila diletakkan dalam waktu lama yang langsung
terkena sinar matahari. Apalagi bila dikerjakan secara berlebihan selama siang
hari yang panas, yangmenyebabkan temperatur tubuh, denyut nadi dan laju
pernafasan akan meningkat lebih cepat dibandingkan sapi. Exposure langsung
sinar matahari selama 2 jam menyebabkan temperatur tubuh kerbau meningkat
1,3C,
sementara
sapi
hanya
meningkat
0,20,3C
(SMITH
dan
MANGKOEWIDJOJO, 1987; LIGDA, 1998).Kerapatan kelenjar keringat kerbau
hanyalah sepersepuluh dari yang dimiliki sapi, sehingga pelepasan panas
dengan cara berkeringat tidak banyak membantu. Selain itu, kerbau
mempunyai bulu yang sangat jarang, sehingga mengurangi perlindungannya
terhadap sinar matahari langsung. Hal inilah yang menyebabkan kerbau
kurang tahan terhadap sengatan sinar matahari atau udara yang dingin.
Penurunan temperatur yang tibatiba dapat menimbulkan pneumonia dan
kematian (HARDJOSUBROTO, 1994; LIGDA, 1998). Di bawah naungan atau di
kubangan, temperatur tubuh kerbau akan menurun lebih cepat daripada sapi,
mungkin karena kulit tubuh yang hitam kaya akan pembuluh darah yang
menghantarkan dan mengeluarkan panas secara efisien (LIGDA, 1998). Karena
tidak tahan dengan panas dan sinar matahari langsung, kerbau sangat suka
dengan air, mereka suka berkubang di dalam air yang tidak mengalir atau
lumpur, khususnya pada saat udara panas di siang hari dan pada malam hari
(SMITH dan MANGKOEWIDJOJO, 1987). Kerbau aktif terutama pada senja dan
malam hari, menghabiskan istirahat siang hari dengan berkubang di dalam
lumpur atau beristirahat di tanah yang dinaungi pepohonan (ANONIMOUS,
2008a). Karena kebiasaannya ini kerbau menjadi tidak mudah terserang kutu
atau ektoparasit lainnya (FAO, 2000).Karakteristik khas kulit dan kelenjar

keringat yang dimiliki kerbau menyebabkan kerbau kurang tahan terhadap


paparan sinar matahari langsung atau panas. Desain kandang perlu dibuat
untuk mengurangi panas lingkungan sehingga memberikan kenyamanan bagi
ternak. Stres akibat cekaman panas tidak menguntungkan kerbau. EWING et al.
(1999) menguraikan homeostasis pengaturan panas tubuh akibat stres panas,
yang menstimulir kelenjar adrenalin mensekresikan hormone epinephrine yang
merangsang kelenjar keringat untuk melakukan evaporasi. Namun demikian
karena kelenjar keringat kerbau Temperatur berhubungan dengan fungsi
kelenjar endokrin. Stres panas memberikan pengaruh yang besar terhadap
sistem endokrin ternak disebabkan perubahan dalam metabolisme
(Anderson dalam
Sientje,
2003).
Ternak yang mengalami stres panas akibat meningkatnya temperatur
lingkungan, fungsi kelenjar tiroidnya akan terganggu.Hal ini akan
mempengaruhi selera makan dan penampilan (MC Dowell dalam Sientje, 2003).
Stres panas kronik juga menyebabkan penurunan konsentrasi growth hormone
dan glukokortikoid.Pengurangan konsentrasi hormon ini, berhubungan dengan
pengurangan laju metabolik selama stres panas. Selain itu, selama stres panas
konsentrasi prolaktin meningkat dan diduga meningkatkan metabolisme air
dan elektrolit. Hal ini akan mempengaruhi hormon aldosteron yang
berhubungan dengan metabolisme elektrolit tersebut. Pada ternak yang
menderita stres panas, kalium yang disekresikan melalui keringat tinggi
menyebabkan pengurangan konsentrasi aldosteron (Andersondalam Sientje,
2009)
IV.
HASIL
DAN
PEMBAHASAN 4.4.
Tingkah
Laku
Kambing

Class : MammaliaOrdo : ArtiodactilaFamili : BovidaeGenus : Ovis (domba) ;


Capra (kambing)Spesies : Ovis aries (domba): Capra hircus (kambing)Kambing
Piaraan
: tidak
berbeda
jauh
dengan
kambing
liar

tanduk
:
lebih
sederhana
1. MERUMPUT:* BIBIR* GIGI SERI BAWAH merupakan alat-alat vital* GUSI
ATASKambing merumput bisa sampai ke dekat tanah daun-daun dan rumput
dijepit GISERBA dan GUSTAS gerakan moncong ke depan dan kepala ke atas
rumputterpotong. Kambing digembalakan siang hari, setelah tengah hari,
karena :a. pagi hari : larva cacing masih berada di pucuk rumput,rumput masih
basahkarena embun.b. digembalakan oleh anak petani setelah pulang sekolah.2.
RUMINASI Jumlah periode ruminasi kambing : 8 - 15 kali/24 jam
Lama
ruminasi
(total)
:
8
10
jam/24
jam.
Pusat
Ruminasi
:
Medula
oblongata
Dipengaruhi
oleh
emosi
:
keadaan tenang : ruminasi teratur*keadaan takut* : ruminasi tidak teratur,
jarak antara menelan dan regurgitasi diperpanjang3. MENYUSUIB. Anak mulai
menyusu : 2 - 3 jam post natalKedua puting dihisap bergantian : 2 - 3 kali @ 20 30 detik/putting Anak yang baru lahir sering kelaparan karena : * tidak berhasil
menemukan puting susu semangat turun induk belum berpengalaman*
menolak anak menyusuimerumput lebih tekun merumput kurang tekun jarak
jelajah pendek jarak jelajah lebih panjang/ jauh makan rumput banyak rumput
sedikit, daun-daunan lebih banyak selektif : protein tinggi dan SK rendah
kurang selektif tidak bisa membedakan rasa dapat membedakan rasa : pahit,
asam, asin, manis menyukai padang rumput datar menyukai daerah berbukitbukit Treshold (ambang rasa) terhadap rasa pahit : Kambing > Sapi. Kambing
masih mau makanan rumput/daun yang mempunyai rasa pahit sedangkan sapi
tidak mau. Kambing di padang penggembalaan membentuk kelompok-2 :
keluarga Merumput tidak kontinyu : diselingi ruminasi, istirahat dan bermalasmalasan Kegiatan merumput : pagi dan senja lebih intensif saat udara sejuk.
Fajar Tengah hari Sore Puncak aktivitas merumput terjadi pada saat SENJA.
Makin tua umur anak, aktivitas menyusu makin jarang : saat menyusu pagi
sore hari Anak baru lahir : menyusu lama Produksi susu induk dipengaruhi oleh
Faktor makanan, terutama menjelang partus Jumlah anak : anak banyak,
produksi susu lebih banyakii. tingkah laku seksualDi daerah tropis : polyestrus
Di daerah sub tropis : polyestrus bermusim. Musim kawin terjadi : akhir musim
panas, sepanjang musim gugur atau permulaan musim dingin.Jantan :Tidak
begitu dipengaruhi oleh musim Musim semi dan musim panas : kualitas semen
dan libido sedikit menurun Bisa kawin sebanyak 12 - 48 kali/hari selama 3
hari Dipengaruhi oleh : kondisi badan, umur, breed Terangsang melalui
penglihatan dan penciuman Lebih menyukai betina berahi yang belum dikawini.
BetinaDi Indonesia : polyestrus Tanda-tanda berahi : menggosokan badan dan
leher kepada jantan mencium penis mengikuti jantan menyiapkan diri untuk
dinaiki saling seruduk sesama betina : untuk menarik perhatian jantan Pubertas
terjadi pada umur 6 - 16 bulan, tergantung : breed, gizi, iklim Berahi pertama
biasanya tidak jelas. Berahi berikutnya baru jelas. Panjang siklus berahi 16 - 19
hari (rata-rata : 17 hari) Lama periode berahi 20 - 30 jam. Berahi biasanya
timbul pada pagi hari. Iii. Tingkah laku sosial1. Induk - anak Anak lahir
dibersihkan induk, plasenta dimakanoleh induknyaAnak menyusu : timbul

ikatan sosial. Bila anak dipisahkan dari induk induk mau menerima bila
pemisahan hanya selama 4 - 5 menit, anak dicium-ciumkan dahulu. induk
menolak kalau pemisahan lebih dari 4,5 jam. Makin tua umur anak, ikatan
sosial makin longgar. V. PENUTUP5.1. KesimpulanPerilaku hewan dan adaptasi
fisiknya merupakan dari usaha untuk hidup yang dipengaruhi oleh emosi, rasa
lapar, rasa sakit, rasa takut dan rasa marah. Faktor eksternal yang
mempengaruhi tingkah laku ternak adalah ingkunga, ketersediaan pakan dan
minum, tingkat sosial, suhu, ikim, hereditas. Perilaku dasar pada hewan seperti
makan, minum, tidur, istirahat, aktivitas seksual, eksplorasi, latihan, bermain,
ekplorasi, aktivitas melarikan diri, pemeliharaan dan sebagainya sangat
penting untuk diketahui dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan dan
memberi rasa nyaman serta aman terhadap diri mereka. Kondisi dimana
perilaku dasar tersebut tidak terpenuhi akan berdampak pada kinerja dan
produktivitas dari hewan 5.2. SaranSaran yang penulis harapkan yaitu untuk
kedepannya agar lebih baik lagi sehingga praktikum dapat berjalan dengan
lancar tanpa mengulang. Terima kasih
VI. DAFTAR PUSTAKAAbu Bakar.
2012. Pedoman Pelaksanaan Pengawalan Dan Koordinasi Perbibitan Tahun
2012. Direktorat Perbibitan Ternak Direktorat Jenderal Peternakan Dan
Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian 2012.Balai Besar Penelitian Veteriner
Bogor Barat. 2010. Syarat Kesehatan HewanFrandson, R.D. 1993. Anatomi dan
Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Philladelphia,
London.Hafes ESE. 1993. Reproduction in Farm Animal.6 th Ed. Lea and Febiger.
PhiladelphiaHidayaturrahmah. 2007. Waktu Motilitas Dan Viabilitas
Spermatozoa Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) Pada Beberapa Konsentrasi
Larutan
Fruktosa.Universitas
Lambung
Mangkurat,
Kalimantan
Selatan.Husnurrizal. 2008. Sinkronisasi birahi dengan preparat hormon
prostaglandin (pgf2a). Lab. Reproduksi. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas
Syiah Kuala.Iman dan Fahriyan., 2002Siklus Estrus Of Cow. Pusat Antar
Universitas Bioteknologi IPB. BogorFriend, T. 1991. Behavioral Aspect of
Stress.journalof
Dairy
Science,74:292-303.http://tonysapi.multiply.com.
Diakses pada tanggal 02 Oktober 2013 pukul16.20 WITA

https://febri22february.wordpress.com/2013/04/15/laporan-tlt/

PRAKTIKUM MATA KULIAH TINGKAH LAKU TERNAK (TLT)


PENGAMATAN TINGKAH LAKU TERNAK
DI LABORATORIUM LAPANG SUMBER SEKAR
Oleh :
Febri Puska Padang
NIM.125050101111123
PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan UU no 18 tahun 2009 menjelaskan bahwa : Ternak adalah
hewan peliharaan yang produknya diperuntukan sebagai penghasil
pangan, bahan baku industri, jasa, dan/atau hasil ikutannya yang
terkait dengan pertanian. Sedangkan Peternakan adalah segala urusan
yang berkaitan dengan sumber daya fisik, benih, bibit dan/atau
bakalan, pakan, alat dan mesin peternakan, budi daya ternak, panen,
pascapanen, pengolahan, pemasaran, dan pengusahaannya.
Adanya undang-undang ini menjadi satu hal yang perlu kita pelajari
dimana bila ingin beternak maka menajemen peternakannya sudah
selayaknya diketahui oleh peternak. Hal ini dapat diimplikasikan
melalui mengetahui tingkah laku dari ternak tersebut.
Tingkah laku hewan adalah suatu kondisi penyesuaian hewan terhadap
lingkungannya. Setiap hewan akan belajar tingkah lakunya sendiri
untuk beradaptasi dengan lingkungan tertentu. Satwa liar yang
didomestikasi akan mengalami perubahan tingkah laku yaitu
berkurangnya sifat liar dan agresif, musim kawin yang lebih panjang,
dan kehilangan sifat berpasangan (yamin,2013).

Perilaku merupakan suatu aktivitas yang perlu melibatkan fungsi


fisiologis. Setiap macam perilaku melibatkan penerimaan rangsangan
melalui panca indera. Perubahan rangsangan-rangsangan ini menjadi
aktivitas neural, aksi integrasi susunan syaraf dan akhirnya aktivitas
berbagai organ motorik, baik internal maupun eksternal untuk
mempertahankan proses keseimbangan agar proses metabolisme di
dalam tubuh dapat berlangsung secara normal (Frandson, 1996)
Setiap ternak mempunyai tingkah laku yang berbeda hal ini
melatarbelakangi kami untuk terjun langsung memperhatikan tingkah
laku perkomuniti, karena keberhasilan peternak dapat ditinjau dari
sistem peternakannya dan bagaimana peternak dapat memberi animal
welfare pada ternaknya. Berdasarkan hal untuk menghindari segala
ketidak nyamanan yang membuat ternak stress dan mengasilkan
produksi yang rendah maka sangat penting untuk mengtahui tingkah
laku ternak tersebut selanjutnya dapat menterapkannya dimasyarakat
umum.
1.2 Rumusan masalah
Dari latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah berupa:
1. Apakah yang dimaksud tingkah laku ternak?
2. Bagaimana tingkah laku ternak secara umum?
3. Bagaimana tingkah laku ternak saat melakukan aktivitasnya?
4. Apakah ada perbeadaan tingkah laku antar ternak?
1.3 Tujuan pengamatan
pengamatan ini bertujuan agar :
1. Mahasiswa mampu mengetahui dan faham tingkah laku ternak
secara umum.
2. Mahasiswa mampu mengetahui dan faham aspek apa saja yang
diamati untuk mengetahui tingkah laku ternak dan langkah
menyikapinya.
3. Mahasiswa mampu mengaplikasikan tentang pemahaman tingkah
laku ternak dalam dunia kerja dilapangan kedepannya.
4. Mahasiswa mampu belajar memberi kenyamanan pada aktivitas
ternak.
1.4 Manfaat Pengamatan
Manfaat pengamatan Bagi Mahasiswa adalah dengan terjun langsung

pada praktikum dapat memberi pengetahuan tentang apa yang


diperlukan ternak pada aktivitasnya dengan lingkungan dan diri ternak
sendiri sehingga menciptakan kenyamanan pada ternak.
BAB II
MATERI DAN METODE PENGAMATAN
2.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
pengamatan ini dilakukan pada:
hari dan tanggal : minggu 24 Maret 2013
waktu : jam 15.00 -17.00
2.2 Materi Pengamatan
Materi yang dijadikan acuan pengamatan tingkah laku ternak pada
praktikum ini meliputi delapan aspek, diantaranya adalah:
1. Ingestive behavior yaitu merupakan tingkah laku makan dan minum
pada ternak.
2. Eliminative behavior yaitu merupakan tingkah laku difacet atau cara
mengeluarkan faces, serta urinate atau cara ternak mengeluarkan
urine.
3. Agonistic behavior yaitu cara ternak berkelahi dengan sesamanya.
4. Shelter seeking behavior yaitu kebiasaan berteduh dimana
kebiasaan atau tingkah tersebut akan muncul dari ternak saat
merasakan panas matahari atau hujan.
5. Investigative behavior yaitu disebut juga dengan exploratory
merupakan reaksi pertama kali saat ternak didatangi oleh manusia,
atau juga merupakan upaya dari ternak mengenali seseorang.
6. Grouping behavior disebut juga dengan gregarious merupakan
keinginan berkelompok, tingkah laku ini berbeda antara ternak satu
dengan yang lainnya, tergolong jenisnya.
7. Social behavior
Komonikasi merupakan bagaimana ternak berkomunikasi dengan
sesamanya
Dominasi social, Hirarki social yaitu keinginan bertahan atau sifat
ingin diakui keberadaanya ditengah populasi,hal ini disebut juga
hubungan stratifikasi, misalnya antara indukan dan anakan, dominan
dan subordinat.
8. Body care behavior
Grooming, yaitu kegiatan membersihakan diri pada ternak.

Thermoregulatory, yaitu suatu usaha untuk mempertahankan suhu


tubuh untuk mencapai rasa nyaman, atau dapat pula disebut comfort
seeking yang artinya mencari kenyamanan.
Tingkah laku istirahat yaitu bagaimana ternak tersebut istirahat dan
mendapt kenyamanannya.
2.3 Metode Pengamatan
Pengamatan ini dilakukan secara singkat dengan mengamati delapan
aspek pengamatan tersebut diatas secara bergulir antar kelompok,
setiap kelompok memiliki waktu selama 20 menit untuk mengamati
setiap satu komoditi ternak, dan akan berpindah kekomoditi
selanjutnya setelah 20 menit, hingga begitu seterusnya.
2.4 Variabel Yang Diamati
Variabel yang diamati terdiri atas enam komoditi ternak, yaitu terbagi
atas:
1. Tingkah laku sapi potong
2. Tingkah laku sapi perah
3. Tingkah laku kambing peranakan etawah (PE)
4. Tingkah laku kambing boer
5. Tingkah laku domba
6. Tingkah laku Ayam
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Tingkah Laku Sapi Potong
Pada hasil pengamatan yang dilakukan didapatkan hasil sebagi berikut:
1. Ingestive behavior pada sapi potong yaitu:
Makan: mengambil makanan dengan menggenakan lidahnya, serta
gigi seri bawah yang merupakan penjepit makanannya dan rahang
atas menutup, rahang pada ternak akan bergeser dari kiri ke kanan
sehingga melumatkan pakan.
Minum: dengan mengunakan lidahnya dan memasukkan dalam
mulutnya (tidak terlihat saat pengamatan)
Suhu dan kelembaban dapat mempengaruhi kehidupan sapi khususnya
pada tingkah laku makan, jika suhu lingkungan tinggi sapi cenderung
lebih banyak minum dari pada merumput (makan). Iskandar (2011),

pada saat kami pengamatan suhunya rendah sehingga sapi lebih


banyak makan dan tak terlihat aktivitas minum.
2. Eliminative behavior
Defacet sapi potong yaitu dengan cara mengangkat ekor keatas serta
kaki belakang akan dilebarkan sedikit lalu mengeluarkan kotoran
setelah itu mengibaskan ekornya.
proses urinate yaitu dengan cara yang hampir sama namun kaki
belakang agak di tekuk sedikit.
Ini diperjelas oleh Junus(1995) yang menyatakan bahwa saat
mengeluarkan urine ataupun kotoran maka ekor sapi akan otomatis
naik.
3. Agonistic behavior yaitu sifat berkelahi, tidak nampak pada
pengamatan karena kandang yang disediakan merupakan kandang
individu. Setiap 1 ternak diikat masing masing sehingga tidak terjadi
interaksi berkelahi dengan sesamanya. Sifat berkelahi dijelaskan pada
pendapat Fraser (1991) yang menyatakan bahwa perkelahian dari
sapi selalu dipimpin oleh satu sapi yang dominan (besar) dan selalu
menunduk saat ada yang ingin menggantikan posisinya dan merebut
makanannya.
4. Shelter seeking behavior yaitu merupakan sifat berteduh dari panas
serta hujan, pada peternakan sumber sekar sapi potong telah
ditempatkan dikandang yang melindunginya dari panas dan hujan,
sehingga telah terasa kenyamanan pada ternak. Tapi bila ternak
berada di penggembalaan yang terbuka maka kerbau akan mencari
tempat teduh yang melindunginya dari panas dan hujan seperti
dibawah pohon. Chaniago (1991) menyatakan sapi merupakan ternak
yang sangat mudah beradaptasi dengan lingkungannya karena sapi
bisa mempertahankan suhu tubuhnya dengan panas maupun suhu
dingin.
5. Investigative behavior pada sapi potong ditunjukan dengan sifat
tergolong agresif saat baru saja didatangi kepalanya akan
mendongong untuk melihat siapa yang datang dan meninggalkan
aktivitas makannya, lama- kelamaan saat di elus kepalanya dia akan

lebih tenang.hal ini sesuai dengan pendapat Appleby (1993)


menyatakan sapi akan mudah stress membuat sapi selalu waspada .
6. Grouping behavior, tidak tampak pada sapi potong karena diikat
secara individu dan saat pengamatan mereka sedang makan, sehingga
fokus pada makanan dari pada sesamanya. menurut Chaniago (1991)
sapi hidupnya berkelompok untuk menjauhi predator yang ingin
memakan mereka sehingga mereka akan saling berkumpul
7. Social behavior
Komunikasi: mengau (mooooouuu) dan menggerakkan badan.
Dominasi social, hirarki social : sapi yang besar dan muda lebih
ditakuti, yang lebih kecil dan sapi tua lebih mengalah. Saat
pengamatan terlihat saat sapi besar mencoba mengambil makanan
sapi kecil, yang kecil akan menjauh. Pada menajemen peternakan
sumber sekar karna sapi diberi tempat perkamar sehingga semua
dapat menikmati pakan sendiri, tidak dapat dijangkau seluruhnya oleh
sapi lain.
8. Boddy care behavior, terbagi atas tiga sifat :
Grooming yaitu usaha membersihkan diri ditunjukan dengan cara
mengibas ngibaskan ekornya ketubuh disertai sifat menjilat
badannya saat merasakan gatal ditempat yang terjakau.
Thermoregulatory merupakan usaha ternak untuk mempertahankan
suhu tubuh agar mencapai rasa kenyaman atau Comfort seeking
(Mencari Kenyamanan). Hal ini Ditunjukan dengan lebih banyak
mengkomsumsi minuman agar dapat mempertahankan keadaan
tubuh, dan saat hari mulai sore dan matahari agak redup terlihat
ternak lebih banyak makan agar suhu badannya dapat hangat. Pada
anakan ditunjukan dengan sifat yang tergolong berbeda, pada anakan
sapi potong lebih banyak bermain dibawah matahari .
Tingkah laku istirahat ditunjukan dengan kegiatan sapi melipat kaki
belakangnya dan menjatuhkan pantatnya menahan badan dengan siku
kaki depannya serta menggangkat kepalanya, melihat sekelilingnya.
4.2 Tingkah Laku Sapi Perah
Pada hasil pengamatan yang dilakukan didapatkan hasil sebagi berikut:
1. Ingestive behavior pada sapi perah yaitu:
Makan: mengambil makanan dengan menggenakan lidahnya, serta

gigi seri bawah yang merupakan penjepit makanannya dan rahang


diatas menutup, rahang pada ternak akan bergeser sehingga
melumatkan pakan. sesuai dengan pernyataan dari Fraser (1991) yang
menyatakan sapi tidak gigi atas untuk melumatkan makanan tapi
dengan cara unik sapi akan makan dengan menggerakkan makanan
dengan cara melingkar dan mengikat rumput yang akan dimakan
menggunakan lidah kemudian di tarik berlahan.
Minum: dengan mengunakan lidahnya dan memasukkan dalam
mulutnya (tidak terlihat saat pengamatan).
2. Eliminative behavior
Defacet sapi potong yaitu dengan cara mengangkat ekor keatas serta
kaki belakang akan dilebarkan sedikit lalu mengeluarkan kotoran
setelah itu mengibaskan ekornya.
proses urinate yaitu dengan cara yang hampir sama namun kaki
belakang agak di tekuk sedikit lalu mengibaskan ekornya. Ini diperjelas
oleh Junus(1995) yang menyatakan bahwa saat mengeluarkan urine
ataupun kotoran maka ekor sapi akan otomatis naik.
3. Agonistic behavior yaitu sifat berkelahi, terlihat sapi lebih individual
namun sapi akan menandukkan kepalanya pada sapi yang lain bila
merasa terganggu.
4. Shelter seeking behavior yaitu merupakan sifat berteduh dari panas
serta hujan, semua ternak berada dalam kandang beratap, sehingga
sudah terlihat sifat nyaman dari panas dan hujan.
5. Investigative behavior pada sapi perah terlihat lebih agresif
dibandingkan dengan sapi potong, sifat ini semakin tampak saat
menjelang pemerahan susu sapi dan banyak orang disekitarnya ternak
akan merasa tidak nyaman dan memilih banyak melakukan gerakan
seperti berjalan atau sebagainya, namun setelah keadaaan sepi dan
tanpa banyak kerumunan maka sapi potong akan menunjukkan sikap
tenang.
6. Grouping behavior, tidak terlalu nampak pada sapi perah, lebih
terlihat individualis, hal ini ditunjukan dengan sifat tenang dan tidak
nampak ada komunikasi antara ternak satu dengan yang lainnya
meskipun ternak sebagian tidak ditali. Namun bila ada sapi yang

makan maka ternak yang lain akan mencari pakan yang disekitar sapi
tersebut (mengikuti).
7. Social behavior
Komunikasi: mengau (mooooouuu) dan menggerakkan badan.
Dominasi social, hirarki social : tidak terlihat perbedaan pada sapi
karna telah dipisahkan, yang terdiri dari sapi yang besar dan tidak
terlalu tua (dominan dan dominan) sehingga tidak ada sapi yang
menjadi subordinat. Jadi manajemen peternakan seperti ini telah bagus
yaitu membedakan hirarki sapi agar tidak terjadi stress pada ternak.
8. Boddy care behavior, terbagi atas tiga sifat :
Grouming yaitu usaha membersihkan diri ditunjukan dengan cara
mengibas ngibaskan ekornya saat terdapat lalat pada tubuhnya dan
menjilat tubuhnya untuk menghilangkan kuman yang dapat
menyakitinya. Jadi bila sapi telah melakukan tingkah yang tidak
nyaman perlu dilakukan pembersihan pada ternak.
Thermoregulatory yaitu usaha untuk mempertahankan suhu tubuh
untuk mencapai rasa nyaman atau Comfort seeking ( Mencari
Kenyamanan) Ditunjukan melalui lebih banyak minum saat matahari
benar benar panas, dan saat hari mulai sore dan matahari agak
redup terlihat ternak lebih banyak makan dan melakukan aktivitas
bergerak yang lebih banyak
Tingkah laku istirahat ditunjukan dengan kegiatan sapi melipat kaki
belakangnya dan menjatuhkan pantat nya menahan badan dengan
siku kaki depannya serta menggangkat kepalanya melihat
sekelilingnya.
4.3 Tingkah Laku Kambing Peranakan Etawah (PE)
Pada hasil pengamatan yang dilakukan didapatkan hasil sebagi berikut:
1. Ingestive behavior pada Kambing Peranakan Etawah (PE) yaitu
dengan mencium pakannya lalu merenggut dengan cara mengambil
makanan dengan menggenakan lidahnya, serta gigi seri bawah yang
merupakan penjepit makanannya lalu menutup dengan gigi atas,
rahang pada ternak akan bergeser dari kiri ke kanan hingga
melumatkan pakan lalu menelannya. Menurut Devendra & Burns
(1994), kambing mempunyai kebiasaan makan yang berbeda dengan
ruminansia lainnya. Bila tidak dikendalikan, kebiasaan makan dapat

mengakibatkan kerusakan. Bibirnya yang tipis mudah digerakkan


dengan lincah untuk mengambil pakan. Kambing mampu makan
rumput yang pendek, dan merenggut dedaunan. Disamping itu,
kambing merupakan pemakan yang lahap dari pakan yang berupa
berbagai macam tanaman dan kulit pohon.
cara ternak menganbil minuman adalah dengan memasukkan
sebagian mulutnya dalam kubangan air lalu memasukkan dalam mulut
dan meminumnya.
2. Eliminative behavior pada defacet Kambing Peranakan Etawah (PE)
Defacet sapi potong yaitu dengan cara mengangkat ekor keatas serta
yang kaki belakang akan dilebarkan sedikit lalu mengeluarkan kotoran
setelah itu mengibaskan ekornya sebanyak 3 kali.
proses urinate yaitu dengan cara yang hampir sama namun kaki
belakang agak di tekuk sedikit lalu mengibaskan ekornya.
3. Agonistic behavior yaitu sifat berkelahi ditunjukan dengan saling
membenturkan kepala/tanduk antara ternak, hal ini semakin sering
terlihat saat terjadi perebutan pakan antar ternak.
4. Shelter seeking behavior yaitu merupakan sifat berteduh dari panas
serta hujan, kandang ternak kambing didesain mempunyai tempat
memanjat karna kambing suka memanjat dan sebagian dilindungi
dengan atap sedangkan yang lain tidak maka saat panas terlalu tinggi
dan hujan kambing berkumpul ditempat yang teduh, kambing tidak
suka dengan air.
5. Investigative behavior pada Kambing Peranakan Etawah (PE) terlihat
lebih agresif, kambing akan lebih bersahabat dengan yang datang, dan
sangat berbeda saat diperah, sapi perah akan nampak lebih tenang
dan cukup satu orang yang memerah, namun pada Kambing
Peranakan Etawah (PE) perlu dua orang untuk memerah, satu orang
akan memerahnya, dan satu lagi akan menahan tubuh ternak agar
tidak melawan saat di perah.
6. Grouping behavior, atu sifat berkelompok pada kambing peranakan
etawah (PE) terlihat sama separti kambing umumnya, yaitu Nampak
individualis. Grouping dapat terlihat saat anak-anak kambing sedang

bermain maka mereka akan berkelompok.


7. Social behavior
Komunikasi: mengembek dan menggerakkan badan.
Dominasi social, hirarki social : kambing dominan adalah yang muda
dan besar terlihat saat perebutan makanan maka yang kecil dan
kambing tua lebih subordinat. Kambing anak-anak lebih dekat dengan
induknya, kambing anak-anak juga suka bermain dengan kambing
anak-anak lainnya seperti mengganggunya.
8. Boddy care behavior, terbagi atas tiga sifat :
Grooming yaitu usaha membersihkan diri ditunjukan dengan cara
mengibaskan badan dan menggosokan badan pada dinding kandang.
Jadi perlu menyiapkan kandang dengan dinding yang sedikit kasar dan
tak menyakitinya kita juga perlu memerhatikan kandang bila ada
dinding tajam atau paku di dinding.
Thermoregulatory yaitu usaha untuk mempertahankan suhu tubuh
untuk mencapai rasa nyaman atau Comfort seeking ( Mencari
Kenyamanan) Ditunjukan dengan cara saling menjauh dari krumunan,
bersandar dan duduk disamping dinding tersebut. Kambing muda lebih
suka beraktifitas.
Tingkah Laku Istirahat ditunjukan dengan bermain, berlarian atau
tertidur.
4.4 Tingkah Laku Kambing Boer
1. Ingestive behavior pada Kambing Peranakan Etawah (PE) yaitu
dengan mencium pakannya lalu merenggut dengan cara mengambil
makanan dengan menggenakan lidahnya, serta gigi seri bawah yang
merupakan penjepit makanannya lalu menutup dengan gigi atas,
rahang pada ternak akan bergeser sehingga melumatkan pakan lalu
menelannya. Kambing lebih suka mengambil makanan yang tinggi
karena sikap kambing suka memanjat. Paryadi (2004) menyatakan
bahwa cara kambing makan adalah 1) aktivitas mencium hijauan yaitu
awal aktivitas mencium hingga kambing mulai melakukan aktivitas
lainnya, 2) aktivitas merenggut makanan yaitu awal perenggutan
hijauan hingga diangkat untuk dikunyah , 3) aktivitas mengunyah
makanan yaitu aktivitas yang dimulai dari hasil perenggutan hijuauan
yang telah dikumpulkan di dalam mulut, hingga melakukan aktivitas

menelan , 4) aktivitas menelan makanan yaitu aktivitas yang dimulai


dari menelan hasil kunyahan hingga aktivitas lainnya.
cara ternak menganbil minuman adalah dengan memasukkan
sebagian mulutnya dalam kubangan air lalu memasukkan dalam mulut
dan meminumnya.
1. Eliminative behavior pada defacet Kambing Peranakan Etawah (PE)
yaitu dengan cara mengangkat ekor keatas serta kaki belakang akan
dilebarkan dan keluarnya sedikit-sedikit hingga 3 kali berturut-turut.
Sedangkan pada proses urinate yaitu dengan cara yang hampir sama
namun kaki belakang agak di tekuk sedikit lalu mengibaskan ekornya.
2. Agonistic behavior yaitu sifat berkelahi sifat ini tidak tampak pada
kambing Boer, hal ini juga mungkin tergantung karena sistim
menejemen kandang, dimana dalam 1 kandang besar ditempati oleh
beberapa ekor sehingga aktivittas berkelahi tidak nampak.
3. Shelter seeking behavior yaitu merupakan sifat berteduh dari panas
serta hujan, semua ternak berada dalam kandang beratap, sehingga
sudah terlihat sifat nyaman dari panas dan hujan.
4. Investigative behavior pada Kambing Boer ditunjukan dengan lebih
mudah akrab dengan kedatangan seseorang yaitu merespon baik saat
tangan kita memegang kepalanya maka kambing akan mengelus
kepalanya ketangan kita.
5. Grouping behavior, atau sifat berkelompok pada kambing Boer sama
dengan kambing peranakan etawah (PE) dan separti kambing
umumnya, yaitu nampak individualis.
6. Social behavior
Komunikasi: mengembek dan menggerakkan badan.
Dominasi social, hirarki social : kambing boer tidak terlihat yang
dominan dan subordinat karena sistem peternakannya telah
membedakan yang dominan dan subordinat
7. Boddy care behavior, terbagi atas tiga sifat :
Grooming yaitu usaha membersihkan diri ditunjukan dengan cara

mengibaskan badan dan menggosokan badan pada dinding kandang.


Kambing Boer lebih bersih di bandingkan kambing peranakan etawah
(PE).
Thermoregulatory yaitu usaha untuk mempertahankan suhu tubuh
untuk mencapai rasa nyaman atau Comfort seeking (Mencari
Kenyamanan) Ditunjukan dengan cara saling menjauh dari kerumunan
dan bersandar pada dinding.
Tingkah Laku Istirahat ditunjukan dengan tertidur dan duduk santai
dikandang masing masing.
4.5 Tingkah Laku Domba
1. Ingestive behavior pada Domba yaitu dengan
Makan : mencium makanan lalu mengambilnya dengan lidah dan
memasukkan dalam rahang bawah dan menutupnya dengan rahang
atas dan mengunyahnya dan memasukkan dalam rumen.
Minum : tidak terlihat saat pengamatan.
2. Eliminative behavior pada defacet Domba yaitu dengan cara
mengangkat ekor keatas serta kaki belakang akan dilebarkan.
Sedangkan pada proses urinate yaitu dengan cara yang hampir sama
namun kaki belakang agak di tekuk sedikit.
3. Agonistic behavior yaitu sifat berkelahi sifat ini tidak tampak pada
Domba, meskipun dalam satu kandang di isi oleh domba yang lebih
dari toga yang hanya terlihat sikap saling mendorong.
4. Shelter seeking behavior yaitu merupakan sifat berteduh dari panas
serta hujan, semua ternak berada dalam kandang beratap, sehingga
sudah terlihat sifat nyaman dari panas dan hujan.
5. Investigative behavior pada Domba ditunjukan dengan lebih mudah
akrab dengan kedatangan seseorang dan terlihat lebih merespon
orang yang datang.
6. Grouping behavior, atau sifat berkelompok pada Domba sangat
nampak, mereka bergerombol antara domba satu dengan yang lain,
dan saling mengendus meskipun tertutup oleh sekat sekat dinding,
bahkan anak domba yang berukuran tubuh kecil berlarian dari

kandang satu kekandang lain, yang memang terdapat lubang yang


muat untuk dimasuki. Sikap grouping tampak saat mereka
berkomunikasi dan saling bergelombor.
7. Social behavior, pada domba social behaviornya sangat Nampak,
bahkan dari kedua aspek:
Komonikasi : terbentuk komunikasi yang baik antara ternak satu
dengan ternak lainnya, karena mereka saling jawab menjawab
sehingga terdengar ribut
Dominasi Sosial atau Heirarki juga tampak, yaitu kecil maupun besar
terlihat sama, dan dapat berbaur.
Fraser (1991) yang menyatakan bahwa suara yang dikeluarkan oleh
seekor ternak adalah salah satu bentuk komunikasi antar ternak lain
maupun menunjukan komunikasinya terhadap peternak.
8. Boddy care behavior, terbagi atas tiga sifat :
Grooming yaitu usaha membersihkan diri ditunjukan dengan cara
mengibaskan badan dan menggosokan badan pada dinding kandang.
Namun Domba lebih Jorok hidupnya dibandingkan dengan kambing .
Thermoregulatory yaitu usaha untuk mempertahankan suhu tubuh
untuk mencapai rasa nyaman atau Comfort seeking (Mencari
Kenyamanan) Ditunjukan dengan cara mendekat. pada daerah yang
dekat dengan tumbuhan. Pada siang hari dengan suhu yang tinggi,
kambing akan merumput lebih sedikit, waktu yang digunakan untuk
ruminasi lebih singkat dengan istirahat yang relatif lama. ( Setianah,
2004)
Tingkah Laku Istirahat ditunjukan dengan tertidur dan duduk santai
dikandang masing masing.
4.6 Tingkh Laku Ayam
1. Ingestive behavior yaitu ditunjukan dengan sikap Anak ayam tidak
belajar minum, tetapi belajar makan, mematuk. Mula-mula mematuk
serpihan ringan (dedak) yang meng-apung di atas air, dari pengalaman
itu ayam belajar minum Praktis:
Makan dan minum diberikan dalam waktu 24 jam setelah menetas,
makin cepat belajar makin baik Ayam sangat membutuhkan air.

2. Eliminative behavior pada defacet ayam yaitu dengan cara berhenti


dari aktivitasnya dan mengeluarkan kotoran dan air urinate secara
bersamaan
3. Agonistic behavior yaitu sifat berkelahi sifat ini tidak tampak pada
ayam, mereka nampak sama dan saling menghempit dalam
mengambil makanan dan bermain-main.
4. Shelter seeking behavior yaitu merupakan sifat berteduh dari panas
serta hujan, semua ternak berada dalam kandang beratap, sehingga
sudah terlihat sifat nyaman dari panas dan hujan.
5. Investigative behavior pada ayam ditunjukan dengan lebih pemalu
karena bila didekati maka ayam akan menghindar dan saat seseorang
mengeluarkan suara keras maka ayam akan merespon seluruhnya
mencari arah suara dengan mengangkat kepalanya.
6. Grouping behavior, atau sifat berkelompok pada anak Ayam sangat
kompak mereka makan ditempat yang sama dan saling bermain satu
dengan yang lain.
7. Social behavior, pada domba social behaviornya sangat Nampak,
bahkan dari kedua aspek:
Komonikasi : saling menciut dan mendekati satu dengan yang lain
Dominasi Sosial atau Heirarki juga tampak, yaitu dapat berbaur dan
telah dipisahkan yaitu sesama anak ayam.
8. Boddy care behavior, terbagi atas tiga sifat :
Grooming yaitu usaha membersihkan diri ditunjukan dengan
mematuki diri sendiri hal ini sesuai dengan Appleby(1993) yang
menyatakan bahwa Antara lain mematuki bulunya sendiri (feathers
picking) dan mandi pasir (dust bathing).
Thermoregulatory yaitu usaha untuk mempertahankan suhu tubuh
untuk mencapai rasa nyaman atau Comfort seeking (Mencari
Kenyamanan) Ditunjukan dengan cara mendekat. pada daerah yang
hangat.
Tingkah Laku Istirahat ditunjukan dengan tertidur dan duduk santai
dikandang masing masing

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Tingkah laku ternak merupakan tingkah laku untuk mencapai
kenyamanannya dan menambah perkembanganya
Tingkah laku setiap ternak berbeda perkomuniti dan mempunyai
tujuan masing-masing dengan itu kita dapat menyiapkan fasilitas atau
hal yang dibutuhkan dari ternak contoh kandang yang nyaman, tempat
makan yang sesuai, memisahkan kolompok agar tidak ada terjadi
dominan dan subordinat yang merugikan subordinat (untuk komuniti
sapi), memberi obat yang tidak meringankan rasa gatal
(membersihkan/memberi obat) pada ternak bila mereka terlihat sangat
tidak nyaman dan kandang yang tidak terlalu sesak terhadap komuniti.
Cara peternak memberi fasilitas memberi dampak pada tingkah laku
ternak
4.2 Saran
Pada praktikum ini memiliki system yang tergolong bagus, yaitu
mengamati banya komoditi ternak, namun juga masih terdapat
kekurangan aspek yang diamati sangat kompleks sedangkan waktu
pengamatan hanya 20 menit perkomoditi, sedangkan tingkah laku
ternak antara pagi dan siang serta sore sudah berbeda, dimana ternak
juga merupakan mahluk hidup yang sama dengan manusia, tiap waktu
titik nyamannya berbeda, dengan pengamatan 20 menit belum
cukupuntuk mengtahui tingkat kenyamannya .
DAFTAR PUSTAKA
Farland D.M.C.1994. Animal Behavior Psychology, Ethology and
Evolution. Singapore :ELBS.
Fraser ,A.F. 1991. Spontaneously Occurring Form of Tonicimmobilty in
Farm Animal. J.comped. vol 32,no 24, hal 330-331.
Junus M. Ir, Ms. 1995. Kehidupan Ternak di Lingkungan Tropis. Fakultas
peternakan : UB press.
Paryadi, A. 2002. Tingkah laku makan kambing lokal dewasa yang
digembalakan
di lahan gambut hutan sekunder Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Satianah.2004. Tingkah Laku Makan Kambing Lokal Persilangan yang


Digembalakan di Lahan Gambut: Studi Kasus di Kalampangan,
Palangkaraya, Kalimantan Tengah. hlm. 111-122
UU_18_tahun_2009 TENTANG UPKH
Yamin.2013. Kesejahteraan domba Akibat Pencukuran : Tingkah Laku
Domba
Sebelum, Saat dan Setelah Pencukuran Bulu.vol 1(1) hal
Appleby, M.C. and wood . Gush , D.G.M. (1993).Development of
behavior in beef bulss : sexual behavior causes moreprobles than
aggressinion. J, animal produksi vol 42, no 465, hal 11.
Devendra, C. 1978. The digestive efficiency of goat.World Review of
Animal
Production. MalaysiaAgricultural Research and Development
Institute Serdang, Selangor. 14(1): 9-22.
http://www.animalbehaviour.net/for-kids/farm-animals/goats/

Vision and other special senses


Goats have prominent eyes, a panoramic field of 320340 and a binocular vision of 20
60. Testshave been done on male goats to determine their capacity for colour vision and
they have been found to distinguish yellow, orange, blue, violet and green from grey shades
of similar brightness (Buchenauer and Fritsch, 1980). They have a well-developed sense
of smell and a new food is investigated by sniffing it.

Social organisation, dominance and leadership


In a herd of feral goats it is a large male that is dominant and maintains discipline and
coherence of the flock (Mackenzie, 1980). He leads the group but shares leadership on a
foraging expedition with an old she-goat (flock queen), who will normally outlast a
succession of kings.
Horn size is a rank symbol and can designate dominance without combat. It has been
suggested thatscent urination, a ritual where a male goat urinates on his beard, is an
indicator of rank and physical condition. OBrien (1981) has reviewed some aspects of

social organisation and behaviour in the feral goat, including the importance of olfactory
communication.
Agonistic encounters can be non-contact threat which includes staring, a horn-threat with
chin down and horns forward, rush or rear as a challenge threat. Contact agonistic
encounters include pushing the forehead against another goat, butting (in which
interactants engage horns), and the rear-clash, which is a high intensity encounter.
In feral groups, the group size and composition is highly variable and unstable. Family
groups may include a dominant male, and a small number of adult females and their
offspring. Males form large bachelor herds during non-breeding periods.
It is almost impossible to drive goats and when danger approaches, goats scatter and face
the enemy,depending for safety on agility and manoeuvring (Mackenzie, 1980).
Alarm behaviour is highly developed. The female stands rigid in a typical nursing posture
with earstowards the source of alarm. This stimulates the young to run to the female. She
may snort loudly several times to alert other goats. Depending on the source of alarm, the
group may either take flight, move away slowly or return to previous activities.
Leadership. Early work (Stewart and Scott, 1947) showed that leadership orders did not
seem to be related to age or dominance. Donaldson et al. (1967) found milking order was
consistent, and that there was a correlation between entrance order and milk weight.

Sexual behaviour
The male tests the urine of the female and performs flehmen. He then approaches the
female with a slight crouch, head slightly extended, horns back and ears forward, the tail
vertical and often with the tongue extended (Coblentz, 1974). The female either remains still
as the male approaches or begins to move away depending on her state of receptivity. If she
is receptive the male does the rush-grumble, where he rushes towards the female and
vocalises. He then nuzzles her flank, back and anogenital area with his tongue extended.
The female signals her willingness to copulate by standing still with her head lowered and
tail to the side.

Maternal-offspring behaviour
Within a few minutes after parturition the mother begins actively licking and grooming the
kid. This not only cleans the kid but probably provides cues for neonate recognition by
mother. These cues are a complex interplay of vocal, visual, olfactory and gustatory stimuli.

The maternaloffspring bond is very individually specific and the female aggressively rejects
the suckling attempts of alien offspring.
Feral goats hide the neonate to prevent attack by a predator. This is similar to cattle
behaviour, but theyoung of the sheep are followers.

References
Buchenauer von, D. and Fritsch, B. 1980. Zum Farbsehverm6gen von Hausziegen (Capra
hircus L.). Z. Tierpsychol. 53:225-230.
Coblentz, B.E. 1974. Ecology, Behaviour and Range Relationships of the Feral Goat. Ph.D.
thesis. University of Michigan, Michigan.
Donaldson, S.L., Albright, J.L., Black, W.C., Ross, M.A. and Barth, K.M. 1967. Relationship
between entrance order and social dominance in dairy goats. Am. Zool. 7:809 abs.
MacKenzie, D. 1980. Goat Husbandry. 4th Edition. Revised and edited by Jean Laing. p.66-85.
Faber and Faber, London and Boston.
OBrien, P. 1981. Some aspects of social Organisation and behaviour in the feral goat, Capra
hircus L.: A review. University of Queensland, Psychology Dept., Brisbane, Australia.
Stewart, J.C. and Scott, J.P. 1947. Lack of correlation between leadership and dominance
relationships in a herd of goats. J. Comparative Physiological Psychology 40:255-264.

http://www.dummies.com/how-to/content/what-is-normalgoat-behavior.html

What Is Normal Goat Behavior?


By Cheryl K. Smith from Raising Goats For Dummies

Many people are choosing to raise goats as part of a sustainable lifestyle. If you're new
to raising goats, understanding goat behavior will help you keep your herd healthy and
happy. Goat herds are hierarchical. Might rules, but so does nepotism. Sometimes you
may feel inclined to intervene in your goats' bad behavior, but don't do it unless
someone is getting hurt.
Here are some key players in a goat herd:

Herd queen: Every goat herd has a dominant female. She usually leads the way
and decides when to go out to pasture. She gets the best sleeping spot, the primo
spot in front of the feeder and, if she is a dairy goat, she gets to be milked first. If
another goat tries to change things, beware! The herd queen won't like it.
The herd queen's kids are royalty by birth. The herd queen lets them share in the
best eating spot next to her. She will defend them if any other goats try to get them
out of the way.
The herd queen is responsible for testing new plants to determine whether they're
edible and she also stands off predators. She usually retains her position until she
dies or until she becomes old and infirm and another doe fights and wins the
position.

Head buck: He is usually the biggest and strongest (and often the oldest) buck.
Bucks also fight for the top position but, like the herd queen, a buck retains his
position as head buck until he dies or a younger, more dominant buck challenges
him and wins.

Here are some goat behaviors you should understand:

Biting: Goats sometimes communicate by biting. Some don't bite at all and
others bite a lot.

Butting: Like biting, butting serves a role in the goat world. Goats butt to bully
others out of their way, to establish their place in the herd, as a form of play, or to
fight, often during rut.
Butting is one reason that keeping horned and dehorned goats together is unwise.
The dehorned goats are at a distinct disadvantage and can be seriously injured.
The most common reason for butting and biting is to establish a place (as high as
possible) in the herd. When you introduce a new goat to the herd, the lower-status
goats are usually the first to fight. They want to maintain or raise their position in the
herd.

Mounting: Goat kids start mounting each other even when they're only a few
days old. They are practicing to be grownup goats, but they're also attempting to

establish dominance. As they get a little older, the mounting takes on a sexual
connotation.
Watch bucks during rut to ensure that they're safe from each other and to separate
them when they aren't. You also need to make sure not to turn your back on a buck
during this time because they also can be aggressive toward humans.

http://www.acsedu.co.uk/Info/Pets/Animal-Behaviour/GoatBehaviour.aspx

Goat Behaviour
How to Handle Goats

Goats have a reputation for being stubborn and misbehaved; but if you
understand their behaviour, it can be far easier to manage their behaviours.
Goats are naturally a herd animal and a solitary goat may need company of a human or other
animal. A feral goat herd may be anything from 1 to 100 goats but on average, it will only be made
up of four goats.
Herds are led by a dominant female and a dominant male. The dominant female or queen generally
leads the way when the herd is foraging. She will also get the most comfortable sleeping spot and be
first in line for any food that is administered to the herd. She will also stand up to any predators and
protect the rest of the rest of the herd. Her kids are by birth, naturally high up in the herd pecking
order. The dominant female is most likely to retain her position until she dies or until she becomes
too old and infirm and another doe challenges her position and wins.
Male goats tend to be dominant according to age, up until six years old after which strength and
dominance can decline. Horns and body size are as important as age in determining a dominant
goat. He will mate with the females when they come into season and he also protects the herd from
predators. Again, he is most likely to retain his position until he dies or until he is challenged and
beaten by another buck.
Goats are more aggressive and inquisitive than sheep and tend to demonstrate dominance within a
social grouping more than sheep. Goats display their dominance by lowering the head and pointing
their horns at the subordinate animal. If animals are equal or undetermined dominance they will lock
horns repeatedly until dominance of one animal is established.
When a new goat is added to the herd fights may take place until the new member has established
their level in the pecking order. It is impossible to stop this fighting and they need to be left to their
own devices to work things out. It is also common for a doe who has just kidded to try and upgrade
her pecking order in the herd by fighting, in order to secure a higher status for her kids. Again, it is
difficult to prevent this from happening and the situation should be left to run its course.
Goats groom themselves by scratching the neck and head with the rear feet, and by licking other
parts of their body. They are sociable animals and also like to be petted by humans.

Myths about Goat Behaviour

Goats are dirty


Goats are actually fastidiously clean! They keep themselves very clean and are not keen on getting
wet. Again, if goats are visibly dirty then management issues may be the cause.

Goats eat everything


Goats are very inquisitive creatures and as they dont have hands, they use their mouths to
investigate novel objects. They are actually quite fussy eaters and prefer to browse on trees, shrubs
and weeds. They will not eat washing or tin cans and are more than likely investigating a novel
object with their mouth rather than attempting to eat it!

Goats are destructive


Goats are naturally a herd animal; they prefer to live with other goats and are generally unhappy if
forced to live in solitude. A goat kept on its own may well become destructive and try to escape by
breaking through fences and gates, but this is only to try and find other members of the herd and it is
not just being destructive for the fun of it. A goat raised by itself may perceive it's human owners as
it's herd.

http://www.woodgreen.org.uk/pet_advice/485_goats_behav
iour

Goats behaviour
A goat herd is very hierarchical, usually with a head male and a herd queen. When mixing a
new member into the herd expect disputes to occur for a few days, in the form of rearing
and butting. This is whilst the new goat establishes a position amongst the herd. Normally
the lower status goats will be the first to argue with the new comer. Although this can
appear rough, it is just natural goat behaviour. Obviously, from a distance, keep a watch on

the mix. If you are worried with the mix, allow them to live side by side for a while before
reintroducing them.
Goats dislike people grabbing, holding or tugging their horns. In a group, goats use their
horns to test strength and protect themselves. If you behave in this way your goat may think
you are challenging or threatening them.
Goats are ruminants, so will spend many hours contently chewing the cud. This involves
regurgitating and re-digesting their food.
On occasion you may notice your goat lift and tilt their head with the lips curled tightly
backwards. This is known as the flehmen posture. They do this to draw in scents to help
them detect the smells left by other animals. Has a member of the herd just walked by or

was it a predator?
Goats are intelligent so require plenty of environmental enrichment to keep their minds
occupied. They have great balance and in their natural environment would even climb trees.
Provide them with climbing/picnic tables, use half wooden barrels and tractor tyres to link
narrow walkways for your goats to play on. Goats can be great escapologists, so strong
fencing is extremely important. Ideally it should be 1.5m high, consist of post and rail with
stock fencing.
If trained from a young age goats can be trained to walk on a lead rein and are even able to
learn how to pull a small cart wearing a harness.
Goats dislike water and would rather leap over streams and puddles then step in them.
Provide shelters for your goats to use whenever they wish. You will know when it is about to
rain when you see your herd of goats race across a field to their shelter!
It is a common misconception that goats eat anything. A goat may try and taste anything,
so care must be taken to remove poisonous plants and items that may harm them.
Further information about goats and other animals is available.

http://www.merckvetmanual.com/mvm/behavior/normal_social_behavior_and_behavioral_probl
ems_of_domestic_animals/behavioral_problems_of_goats.html
Behavioral problems are not commonly reported in goats, perhaps because adult males are expected to
charge people if their turf is traversed. Behavioral problems may actually be more rare (as opposed to
less frequently reported) in this group, because their maintenance conditions more closely mimic those in
a free-ranging situation. Domestication may have had less of an impact on the social patterns of goats
than is true for other species.

Self-suckling
Goats that abort late in pregnancy or those that have a second pregnancy subsequent to nursing can selfsuckle. The latter situation may be illuminating, because the behavior did not occur when the nanny was
nursing. Treatment involves behavioral and environmental enrichment, social companionship that is
stable before pregnancy, and possibly some antianxiety medications.

Stereotypic Behaviors
Stereotypic behaviors in goats are similar to those in sheep (see Stereotypic Behaviors). Goats separated
from a group may develop competitive rearing or elevation.
Last full review/revision May 2014 by Gary M. Landsberg, BSc, DVM, MRCVS, DACVB

https://books.google.co.id/books?
id=hUgZMaNMsewC&pg=PA161&lpg=PA161&dq=goats+ethology&source=bl&ots=
RhuVScml3&sig=5QQagpUZ6xRYar4h0LTB7uvolKw&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwiB9Gsjo_LAhVGCo4KHffuAGQQ6AEILDAC#v=onepage&q=goats%20ethology&f=false

Pengaturan Perkawinan Pada Ternak Kambing


Author: ibnu_aqiqah
Wednesday, June 08th, 2011

Pada umumnya, ternak kambing sudah mulai dewasa kelamin (masak) pada umur 5-10 bulan.
Dewasa kelamin sangat tergantung dari ras atau tipe, jenis kelamin, dan lokasi pemeliharaan.
Kambing tipe kecil lebih cepat mengalami dewasa kelamin dibandingkan kambing tipe besar.
Perkawinan induk kambing betina sebaiknya dilakukan pada umur 9-12 bulan. Pada umur ini
secara fisik kambing sudah tumbuh dewasa sehingga mampu memproduksi susu dan menjalani
masa kebuntingan. Penggunaan

induk betina sebagai produsen anak berlangsung sampai

kambing berumur 5-6 tahun.


Siklus birahi seekor kambing betina antara 20-24 hari. Masa birahinya berlangsung selama 1-2
hari. Kambing betina tidak akan bunting bila dikawinkan dalam keadaan tidak sedang birahi.
Kambing yang sudah bunting tidak mengalami masa birahi lagi.
Kambing pejantan bisa dikawinkan sesekali mulai umur 10 bulan, tetapi tidak dibiarkan melayani
lebih dari 20 ekor induk betina sebelum umurnya genap satu tahun. Dalam tenggang waktu dua
bulan itu, kambing jantan hanya kawin 16-20 kali saja atau maksimal dua kali kawin dalam
seminggu. Pejantan dapat digunakan sebagai pemacek sampai umur 7-8 tahun.
1. Perkawinan di Tempat Terbuka
Perkawinan berlangsung di padang gembalaan atau tempat terbuka. Perkawinan dilakukan
dengan melepaskan induk kambing pejantan ke dekat sekelompok induk kambing betina
sepanjang waktu. Perbandinganny, satu ekor induk pejantan untuk 20-25 ekor induk betina.
2. Perkawinan di Kandang
Perkawinan yang paling baik berlangsung di dalam kandang dan diatur. Pejantan jangan sampai
kawin dua kali dalam seminggu. Dengan cara ini, seekor pejantan dapat melayani induk betina
sampai 100 ekor dalam jangka waktu dua tahun.
Induk betina tak akan mau dikawinkan bila tidak dalam keadaan birah. Masa birahi kambing
betina berlangsung antara 24 48 jam. Dalam satu kali kawin biasanya sudah cukup untuk

menghasilkan keturunan. Tetapi untuk lebih meyakinkan, kambing betina dapat dikawinkan
ulang setelah 6 12 jam sesudah perkawinan pertama.
Kambing betina yang sudah dikawinkan sebanyak tiga kali dalam masa subur tetapi belum juga
bunting, sebaiknya diafkir untuk ternak potong.
Sumber: Buku Penggemukan Kambing Potong

Category: Info Kambing | Tags: Kambing, Perkawinan Pada Kambing, Ternak Kambing | Leave a Comment

Pemilihan Induk Betina & Jantan Pada Ternak Kambing


Author: ibnu_aqiqah
Tuesday, May 17th, 2011

Induk betina berperan untuk melahirkan anak. Calon induk sebaiknya dipilih dari ternak yang
masih muda, memiliki bentuk tubuh bagus, dan berasal dari induk yang setiap kali beranak
melahirkan lebih dari satu ekor. Perilaku induk menunjukkan sifat keibuan dan menunjukkan
kasih sayang dalam memelihara dan mengasuh anaknya.
Berikut ini adalah ciri-ciri dari calon induk betina dan jantan yang baik untuk ternak kambing.
1. Calon Induk Betina Yang Subur
Ciri induk kambing betina yang subur bisa dilihat saat menjelang kawin (birahi), ditunjukkan
dengan adanya tanda-tanda sebagai berikut:

Bibir rahim sedikit membengkak, mengeluarkan lendir, dan berwarna kemerah-merahan.

Sering mengembik dan terlihat gelisah.

Kencing hampir setiap saat.

Nafsu makannya susah dan agak rewel.

Pada kambing susu yang sudah beranak, masa subur juga ditandai dengan berkurangnya
air susu yang dihasilkan.

2. Calon Pejantan Yang Ideal


Calon pejantan ideal sebaiknya dipilih salah satu dari sekelompok kambing jantan yang kondisi
pertumbuhan dan perkembangannya baik, serta memiliki penampilan tergagah dari calon
pejantan yang ada.
Dari penampilan fisik, calon pejantan memiliki dada yang bidang dan permukaan dada terlihat
lebar dari jarak antara kaki kiri dan kanan. Kedua buah pelir (testis) normal dan bergantung
erat. Buah zakar panjang dan sifat kejantanannya nyata. Badan tampak panjang. Badan
belakang berukuran besar dengan kaki yang kuat dan bertumit tinggi. Umur pejantan sebaiknya
tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua, yaitu sekitar 1-5 tahun.
Sumber: Buku Penggemukan Kambing Potong

Category: Info Kambing | Tags: Kambing Betina, Kambing Jantan, Ternak Kambing | Leave a Comment

Pemilihan Bibit Untuk Ternak Kambing


Author: ibnu_aqiqah
Monday, May 16th, 2011

Baik buruknya kualitas kambing yang diternakkan tergantung pada dua faktor, yaitu bibit dan
lingkungan hidup. Dalam pengembangbiakan kambing untuk tujuan pemeliharaan, bibit kambing
yang dipilih harus baik dan sehat. Tujuan pemilihan bibit untuk menghasilkan keturunan
sekaligus menghasilkan produksi yang baik.
Pembentukan bibit unggul kambing ternakan yang cocok dengan kondisi lingkungan setempat
merupakan hal yang ditekankan dalam pengembangbiakan ternak kambing. Kambing kacang
atau kambing lokal lain dapat digunakan sebagai salah satu parent stock(bibit indukan) untuk
pembentukan bibit unggul yang diharapkan.
Upaya pembibitan ditekankan pada pemurnian dan peningkatan produksi. Upaya ini dilakukan
dengan cara seleksi genetik yang memperhatikan sifat-sifat unggul yang diharapkan. Contoh
sifat unggul dari kambing yaitu kemampuan beranak kembarnya tinggi, pertumbuhannya cepat,
dan mutu produksinya sesuai yang diharapkan konsumen.
Sumber: Buku Penggemukan Kambing Potong

TINGKAH LAKU TERNAK ANTARA INDUK DAN ANAK


THOMAS SAPUTRO ON ARTIKEL ON 10:34 AM

Semua makhluk hidup, termasuk hewan memiliki ciri-ciri salah satunya yaitu
iritabilitas/ menanggapi rangsang. Adanya kepekaan hewan terhadap rangsangan
baik yang datangnya dari dalam maupun luar, maka hewan tersebut akan
memberikan prilaku/ respon yang berbeda-beda sesuai dengan rangsangan yang
diberikan. Ternak akan bertingkah laku karena menanggapi adanya rangsangan
tersebut, diantaranya adalah tingkah laku makan dan minum, tingkah laku indukanak, tingkah laku sexual, tingkah laku berlindung, tingkah laku berkumpul, dan
tingkah laku menyingkirkan kotoran. Perilaku merupakan suatu aktivitas yang perlu
melibatkan fungsi fisiologis. Setiap macam perilaku melibatkan penerimaan
rangsangan melalui panca indera. Perubahan rangsangan-rangsangan ini menjadi
aktivitas neural, aksi integrasi susunan syaraf dan akhirnya aktivitas berbagai organ
motorik,

baik

internal

maupun

eksternal

untuk

mempertahankan

proses

keseimbangan agar proses metabolisme di dalam tubuh dapat berlangsung secara


normal.
Tingkah laku hewan didefinisikan sebagai ekspresi dari sebuah usaha untuk
beradaptasi atau menyesuaikan diri perbedaan kondisi internal maupun eksternal.
Dapat juga didefinisikan sebagai respons hewan terhadap stimulus/rangsangan.
Tingkat kematian anak setelah kelahiran pada ternak ruminansa dan babi secara
nyata mempengaruhi tingkat keuntungan pada satu usaha peternakan dan juga
kemajuan genetika melalui pengaruhnya terhadap seleksi diferensial.
Kebanyakan kematian anak terjadi beberapa hari setelah kelahiran dan
mungkin dapat disebabkan oleh kombinasi dari beberapa faktor. Faktor-faktor ini
termasuk karakteristik induk dan anak yan dalam hal ini mungkin disebabkan oleh

faktor genetika atau pengaruh faktor lingkungan dan atau interaksi antara faktorfaktor tersebut. Faktor tersebut antara lain adalah : bobot lahir, litter size,
kemampuan induk, dan daya tahan anak yang baru dilahirkan. Kematian anak dapat
disebabkan

oleh

faktor

lingkungan

seperti

iklim,

jumlah

ternak

dalam

kandang/padang rumput, keadaan lokasi, tingkat pakan selama masa akhir


kebuntingan,

dan

interaksi

yang

kompleks

diantara

faktor

tersebut

yang

mempengaruhi kekuatan ikatan induk dan anak.


A. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan tingkah laku induk-anak?
2. Bagaimanakah tingkah laku induk-anak pada ternak terjadi?
B. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian tingkah laku induk anak.
2. Untuk mengetahui tingkah laku anatara induk dan anak pada masing-masing
ternak.

PEMBAHASAN
A. Tingkah Laku Induk-Anak
Perilaku (tingkah laku) adalah tindakan atau aksi yang mengubah hubungan
antara organisme dan lingkungannya. Hal itu merupakan kegiatan yang diarahkan
dari luar dan tidak mencakup banyak perubahan di dalam tubuh yang secara tetap
terjadi pada makhluk hidup. Perilaku dapat terjadi sebagai akibat suatu stimulus
dari luar. Reseptor diperlukan untuk mendeteksi stimulus itu, saraf diperlukan untuk
mengkoordinasikan respons, efektor itulah yang sebenarnya melaksanakan aksi.
Perilaku dapat juga disebabkan stimulus dari dalam. Hewan yang merasa lapar akan
mencari makanan sehingga hilanglah laparnya setelah memperoleh makanan. Lebih
sering terjadi, perilaku suatu organisme merupakan akibat gabungan stimulus dari
luar dan dari dalam (Suhara, 2010).

Mukhtar (1986) dalam Pandanwati (2009) menyatakan bahwa pola perilaku


dapat dikelompokkan ke dalam 9 sistem perilaku yaitu sebagai berikut :
1. Perlaku ingestive , yaitu perilaku makan dan minum
2. Shelter seeking (mencari perlindungan), yaitu kecenderungan mencari kondisi
lingkungan yang optimum dan menghindari bahaya.
3. Perilaku agonistik, yaitu perilaku persaingan atau persaingan antara dua satwa
sejenis, umum terjadi selama musim kawin.
4. Perilaku sexsual, yaitu perilaku peminangan (courtship behaviour), kopulasi dan
hal-hal lain yang berkaitan dengan hubungan antara satwa jantan dan betina satu
jenis.
5. Care

giving atau epimelitik atau

perilaku

pemeliharaan,

yaitu

pemeliharaan

terhadap anak (maternal behaviour) dan memberi bantuan kepada individu lain
yang menderita tekanan (succorant behaviour).
Tingkah laku hewan didefinisikan sebagai ekspresi dari sebuah usaha untuk
beradaptasi atau menyesuaikan diri perbedaan kondisi internal maupun eksternal.
Dapat juga didefinisikan sebagai respons hewan terhadap stimulus / rangsangan.
Tingkat kematian anak setelah kelahiran pada ternak ruminansia dan non
ruminansia secara nyata mempengaruhi tingkat keuntungan pada satu usaha
peternakan dan juga kemajuan genetika melalui pengaruhnya terhadap seleksi
diferensial. Kebanyakan kematian anak terjadi beberapa hari setelah kelahiran dan
mungkin dapat disebabkan oleh kombinasi dari beberapa faktor.

Faktor-faktor ini termasuk karakteristik induk dan anak yang dalam hal ini
mungkin disebabkan oleh faktor genetika atau pengaruh faktor lingkungan dan atau
interaksi antara faktor-faktor tersebut. Faktor tersebut antara lain adalah : bobot
lahir, litter size, kemampuan induk, dan daya tahan anak yang baru dilahirkan.
Kematian anak dapat disebabkan oleh faktor lingkungan seperti iklim, jumlah ternak
dalam kandang/padang rumput, keadaan lokasi, tingkat pakan selama masa akhir
kebuntingan,

dan

interaksi

yang

kompleks

diantara

faktor

tersebut

yang

mempengaruhi kekuatan ikatan induk dan anak. Maternal behaviour antara lain
adalah :
1. Perilaku induk Pra-Partus (sebelum melahirkan)
2. Perilaku induk ketika pastus (melahirkan)
3. Perilaku pasca partus (setelah melahirkan)
B. Tingkah Laku Induk-Anak pada Ternak (Maternal Behaviour)
1.

Kelinci

a. Perilaku induk kelinci pra-partus


Beberapa hari sebelum kelahiran anak-anak kelinci, sang induk akan terlihat
gelisah, keluar masuk kotak sarang, menggaruk-garuk kandang,nafsu makan sedikit
berkurang dan induk yang sangat protektif akan cenderung menyerang jika akan di
pegang. Ini merupakan perilaku alamiah kelinci, yang perlu di lakukan adalah cukup
memberi perhatian dan ketenangan, yang harus dilakukan adalah memberikan
rumput kering di dalam kotak sarang dan sedikit rumput kering di luar kotak sarang.
Dan membiarkan induk menyalurkan nalurinya mengangkat rumput kering tersebut
ke dalam kotak sarangnya.
b. Perilaku induk ketika partus
Beberapa jam sebelum kelahiran sang induk akan mencabuti bulu di bawah
perutnya dan di kumpulkan di kotak sarangnya. Perilaku ini mengindikasikan sang
induk sudah akan melahirkan anak-anaknya. Ini masa yang sangat penting, jadi
peternak yang baik akan membiarkan induk kelinci memiliki privasinya agar induk
menyelesaikan kelahiran anak-anaknya sendiri. Pada kondisi yang sekiranya kritis
pada induk barulah peternak

c. Perilaku induk ketika pasca-partus


Sesaat setelah di lahirkan anak-anak kelinci terlihat sangat tidak berdaya.
Peternak tidak perlu khawatir jika induk langsung meninggalkan kotak sarang
setelah membersihkan anak-anaknya. Pada kondisi ini naluri sang induk sangatlah
baik. Yang perlu di lakukan oleh peternak adalah memenuhi seluruh kebutuhan
kelinci pada masa ini dengan cara: memberikan ketenangan, makanan, keamanan
dan kenyamanan selama masa menyusui.
Namun pada praktiknya terdapat induk yang tidak mau menyusui anaknya.
Hal ini terjadi karena :
1) kebersihankandang, kandang yang besih menjadikan kelinci peliharaan kita
kerasan dan tidak mudah stres. Selain itu kandang yang kotor dan pengap dapat
menjadi tempat hidup bakteri dan parasit sehingga menjadi penyakit. Kalau induk
sudah tidak nyaman di dalam kandangnya mustahil akan merawat anak-anaknya
dengan baik.
2) Kurang pahamnya peternak akan waktu menyusui anak kelinci. Anak kelinci
menyusuhnya sebentar kira-kira 2-3 menit dan waktunyapun tertentu, paling
sering malam hari mulai lepas maghrib, tengah malam atau pada waktu
subuh. Biasanya peternak awal belum pernah melakukan pengamatan ini sehingga
menganggap anak kelinci tidak dirawat induknya.
3) peternak sering memegang anak kelinci dengan tangan telanjang, perlakuan
seperti ini kurang baik karena induk kelinci mempunyai indera pembau yang sangat
sensitive sehingga akan mengenali anak-anaknya. Andai anak kelinci dipegang
peternak

dengan

tangan

telanjang,

induk

akan

mengira

itu

bukan

anaknya. Sehingga dalam perkembangannya anak akan dibiarkan oleh induknya


sehingga anak kelinci mengalami kematian.
4) Karena ada induk yang bersifat kanibal, induk yang mempunyai sifat kanibal
mempunyai tanda-tanda sangat agresif dan suka melukai anak-anaknya hingga
berdarah sehingga anak kelinci ada yang mati. Saran mengatasi kanibal sebaiknya
ketika menyusui, induk diberi makanan/nutrisi yang bagus dan jangan pernah
kekurangan.

5) Karena sempitnya kotak anak kelinci. Kotak yang digunakan sebagai tempat
melahirkan anak-anak kelinci ini apa bila sempit akan berakibat fatal yaitu
seringnya terinjak-injak induk yang akan menyusui anaknya.
2.

Babi

a. Perilaku induk babi Pra-Partus


Membuat sarang ; tiga hari sebelum partus tiba, tempat diluar kandang
menggali tanah (lekukan), tempat didalam kandang membuat tumpukan jerami.
Induk babi biasanya melahirkan anaknya pada sarang yang telah dibangunnya.
b. Perilaku ketika partus
Jalinan induk-anak pada babi tidak sebaik ungulata, sehingga memungkinkan
pemeliharaan anak oleh induk lain (fostering) pada induk babi yang melahirkan
bersamaan tetapi terpisah apabila pengaturan jumlah anak dilakukan sebelum anak
berumur 1 minggu dan sebelum susunan anak pada putting terbentuk. Induk babi
tidak menjilati atau membersihkan anaknya. Secara alami setelah terengahengah karena belum bernafas beberapa saat setelah lahir, anak babi kemudian
akan terbatuk, bernapas dalam dan baru kemudian dapat bernafas dengan normal.
Terdapat persaingan yang sangat ketat antar anak untuk mendapatkan putting susu
terdepan yang memiliki produksi susu terbesar hingga terbentuk susunan anak
pada putting susu secara permanen.
c. Perilaku pasca-partus
1) Pemeliharaan anak.
Perlu perhatian terhadap anak yang berumur 1-4 hari post partus supaya
anak

tidak

terjepit

induk,

setelah

4-10

hari post

partus diasuh

keluar

kandang.kemampuan regulasi dan pertahanan suhu tubuh anak babi kurang


berkembang dibanding ternak ungulata sehingga memerlukan sarang untuk
membantu

mempertahankan

suhu

tubuh.

Mekanisme

bersarang

dapat

meningkatkan resiko kematian anak akibat tertndih induknya di sarang sebesar


20%. Terdapat beberapa kasus induk kanibal yang memakan anaknya.
2) Menyusui

Posisi induk menyusui berbaring/berdiri, biasa terjadi suckling order diantara


anak,

biasanya

ambing pectoral (dada)

lebih

besar

dari

pada

ambinginguinal (perut), anak dg. Berat badan tinggi dapat ambing yang pectoral,
frekwensi menyusui : 18-28 kali/hari 4-8 menit. Karakteristik khusus nursingpada
babi adalah menunjukkan tingkah laku komplek dalam mengasuh anak dan
menyusui (teat order). Menyusui dalam interval yang cukup pendek (50-60 menit).
Induk membutuhkan stimulasi piglet. Proses milk let down yaitu :
a) Fase 1
Pada awalnya piglet berdesakan di sekitar ambing, memassage ambing dan putting
dengan moncongnya. Induk bersuara grunt perlahan dengan interval teratur
sebagai tanggapan. Setiap seri grunt berbeda frekuensi, suara,dan keras lemahnya
yang mengindikasikan tahapan kesiapan menyusui dar induk bagi piglet. Fase
kompetisi dan menyodok ambing dengan moncong selama 1 menit berakhir ketika
susu mulai diekskresikan
b) Fase 2
Berikutnya adalah fase menyusu, dimana piglet menghisap putting melalui
mulutnya dengan gerakan lambat (1x/detik)
c) Fase 3
Setelah berjalan lebih dari 20 detik, interval grunt dari induk akan meningkat
dan suaranya mengeras, fase puncak tahap ini tidak diikuti dengan peningkatan
ekskresi susu bahkan ada kecenderungan menurun, piglet mengimbangi dengan
meningkatkan intensitas menghisap 3x/detik. Pada fase ini terjadi peningkatan
sekresi hormon oksitosin dari pituitary dan peningkatan ekskresi MLD, baru
kemudian selama 10 20 menit terjadi puncak ekskresi susu kemudian berhenti.
d) Fase 4
Piglet

tetap memassage ambing

dan

menghisap

putting

untuk

menginformasikan status kebutuhan nutrisinya kepada induk yang akan disediakan


pada saat ekskresi susu selanjutnya.
3) Tingkah laku anak babi

Piglet tidak dibersihkan oleh induknya, berebut putting , perlu potong gigi, strata
social, makan, bermain
4) Pembentukan teat order pada anak babi :
Dalam waktu beberapa jam setelah kelahiran hingga 2 minggu anak babi
menjadi mampu mengenali posisi putting dan lebih menyukai menyusu dari bagian
anterior

dibanding

posterior

Stimulasi

putting

bagian anterior berpengaruh

terhadap inisiasi milk let down, Sehingga penting untuk menjamin bahwa putting
susu anterior ditempati oleh anak babi yang sehat dan kuat Teat order berfungsi
sebagai tipe penguasaan territori, hingga terbentuk susunan keluarga yang relatif
stabil bagi anak babi. Perkelahian sering terjadi untuk memperebutkan teat order,
namun bisa terhensi dengan sendirinya ketika sudah tercipta siapa pemenang dan
hierarkhinya. Top order piglet bisa dipisahkan dari induk dan pigglet sekelahirannya
hingga 25 hari dan mash diterima dan mendapatkan teat order yang sama setelah
dikembalikan. Tetapi sebaliknya jika yang dipisahkan adalahbottom order piglet,
ketika dikembalikan dan jika telah terjadi rearrangement teat order maka piglet
akan dianggap bukan lagi sebagai anggotanya dan ditolak/diserang jika bergabung.
Direkomendasikan untuk tetap menggabungkan dan tidak merubah kelompok
sekelahiran hingga masa pemotongan/ penyembelihan
3.

Kuda
Masa bunting 340+-5 hari, kelahiran terjadi pada malam hari meskipun ada
juga kecenderungan terjadi pada dini hari. Setelah melahirkan mare akan tetap
rebah beberapa saat sambil menyodok-nyodok foal. Kontak tersebut merupakan
awal terbentuknya ikatan induk anak secara intensive yang bahkan lebih besar
dibanding kedekatan dengan kawanannya.2 jam setelah lahir anak kuda berdiri,
kemudian berjalan mengikut induknya. Mare seringkali menggigit, menyodok
bahkan menendang untuk menjauhkan foal dari kawanannya. Anak kuda suka
menggigit kaki induknya, pada umur 3-4 minggu suka berkelahi. Sebagian besar
anak

kuda

selalu

mengikuti

induknya

dan

kurang

bersosialisasi

dengan

kawanannya. Mare baru mengijinkan foal bergabung dengan kawanannya setalah


dirasa cukup memiliki kemampuan. Hubungan mengasuh anak pada kuda dapat
terjadi hingga kurun waktu 2 tahun.
4.

Ayam

a. Proses pembentukan telur


Proses ini berjalan selama 24-25 jam, melalui saluran reproduksi yang terdiri
dari infundibulum, magnum, isthmus, vagina dan cloaca. Dimana seluruh bagian
tersebut disebut sebagai oviduct.
b. Perilaku ketika bertelur
Tanda-tanda menjelang bertelur adalah : gelisah, mengeluarkan suara dan
mencari sarang atau tempat untuk bertelur. Anak ayam turun segera setelah 24
26 jam menetas. Memiliki sifat meniru induk maupun ayam lainnya. Kesendirian dan
rasa tercekam ditandai dengan menciap-ciap. Pada saat dewasa : kanibal, saling
bertengkar, patuk mematuk, berebut pakan (saat seperti ini sering muncul peck
order).
c. Pre laying behavior pada ayam
Pada sistem pemeliharaan beralas litter, tingkah laku sebelurm bertelur
hampir mirip dengan tingkah laku natural. Didahuli dengan fase mencari sarang
yang nyaman untuk bertelur; pemilihan bidang sarang untuk bertelur dan kemudian
diikuti dengan pembuataan nest hollow/cekungan untuk bertelur. Permasalahan
yang terjadi tergantung pada ukuran pen dan jumlah sarang yang tersedia.
Keterbatasan sarang dan interaksi aggressive merupakan faktor utama penyebab
banyaknya floor eggs. Ayam lebih menyukai bertelur di dekat tempat terjadi
kopulasi dibandingkan dengan tempat yang terisolasi, namun tetap membutuhkan
suana yang nyaman dan tenang
d. Tingkah laku pada saat oviposisi pada ayam
Ayam lebih menyukai bertelur dengan menghadap serong kedepan dengan
bidang miring kedepan. Inisiasi terjadinya kanibalisme lebih banyak terjadi jika
ayam

menghadap

ke

dalam nest

box.

Jika

terjadi

penundaan

oviposisi

akibat lighting inferior, ataupun keterbatasan nest box, retensi telur pada uterus
sering mengakibatkan deposisi ekstra calcium pada permukaan kulit telur. Hal
tersebut mengakibatkan tampak lapisan seperti debu pada permukaan kulit telur
dan tentunya menambah ketebalan telur dan mereduksi kemampuan pertukaran
udara jika telur akan ditetaskan.
e. Tingkah Laku Post Laying Ayam

Ayam menduduki telur yang telah dikeluarkannya selama + 0.5 jam.


Meningkatkan resiko pemendekan masa simpan telur konsumsi dengan mencegah
pendinginan telur secara cepat disamping peningkatan kontaminasi mikrobia. Pada
sistem roll way nest boxes hal ini dapat direduksi, karena telur akan segera
dikeluarkan dari sarang. Memberikan peluang untuk menduduki telur dapat
meningkatkan hasrat untuk mengeram, hal ini dapat terjadi meskpun pada jenis
ayam petelur yang sudah terseleksi secara genetis. Resiko lain yang muncul adalah
munculnya peluang bagi ayam untuk memakan telurnya sendiri. Pada awalnya
dapat terjadi dengan mengkonsumsi telur yang retak / pecah, namun ayam yang
memiliki pengalaman memakan telur biasanya akan terus berlanjut dengan
memakan telur yang retak bahkan jika tidak menemukan akan memecahkan telur
yang utuh. Solusi perbaikan management, pengurangan lighting.
f.

Tingkah laku anak ayam

1) Mengenal induk
Ikatan induk anak terbentuk dengan adanya panggilan / suara induk untuk
menunjukkan

makanan

peran

terbatas

induk

pada
pada

anak
proteksi

(maternal
dan

feeding

mengajarkan

call)

mengenal

pakan ediblemaupun inedible


2) Hubungan dalam kelompok
Agresi dilakukan dalam rangka membentuk hierarkhi / pecking order yang
stabil. Pecking order mulai muncul beberapa minggu setelah menetas dan baru
mulai stabil setelah berumur 6 8 minggu.
3) Makan
Tingkat

ketergantungan

terhadap

kebutuhan broodiness danbrooding

system.

induk
Pada

jenis

sebatas
unggas

lain

pada
tingkat

ketergantungan cukup tinggi (berbagai jenis burung contoh merpati, burung hantu
dsb.) Social

relationshipbisa

terbangun

dengan

sendirinya

(imprinting tidak

terfokus; jika didampingi induk imprinting fokus pada induk)


5.

Kambing
Secara umum tanda-tanda kelahiran induk kambing dan domba itu sama,
yaitu sebagai berikut

a. Induk sering bengong dan menggaruk-garukkan kakinya


b. Jika ada dalam kandang kelompok, induk biasanya akan meyendiri
c. Merejan dan keluar cairan dari vulva
Anak yang baru lahir dibersihkan induknya, plasenta dimakan oleh induknya.
Anak kambing yang menyusu akan timbul ikatan sosial. Bila anak dipisahkan dari
induk: induk mau menerima bila pemisahan hanya 4-5 menit, dengan terlebih
dahulu anak dicium-ciumkan dahulu. Makin tua umur anak, ikatan social makin
longgar. Anak mulai menyusu : 2-3 jam post natal. Kedua putting dihisap bergantian
2-3 kali (20-30 detik/putting). Anak yang lahir sering kelaparan sehingga rentan
kematian karena:
a. Tidak berhasil menemukan putting susu. Menyebabkan semangat menyusu dari
anak kambing turun.
b. Induk belum berpengalaman akan menolak anak menyusu.
Pada kambing liar, penjilatan atau pembersihan bulu oleh induk terhadap
anak yang baru lahir digunakan oleh induk untuk memberi tanda pada anaknya.
Jadi anak lain yang telah kontak dengan induk mereka tidak akan diterima oleh
induk lain, tetapi anak lain yang tidak pernah mengadakan kontak dengan induk
aslinya dapat diterima dengan baik.
6.

Domba
Tingkah Laku Induk selama dan sebelum Kelahiran terjadi hubungan timbal
balik yang intensif antara induk anak. Induk hewan ungulata menjilati membran
dan cairan plasenta anak yang baru lahir. Sedangkan anak itu sendiri berusaha
untuk berdiri dan mencari putting susu induk untuk mendapatkan kolostrum yang
sangat penting bagi pertumbuhannya. Induk tidak membutuhkan waktu cukup lama
untuk mengenali anaknya, tetapi anaknya memerlukan beberapa hari untuk
mengenal induknya dan jika lapar akan mendekati siapa saja dan bahkan bukan
induknya sendiri untuk menyusu selama berminggu-minggu.
Hal yang sangat kritis bagi anak adalah belajar menyusu untuk dapat minum
kolostrum, dan kemudian susu biasa dari induknya. Lama waktu yang diperlukan
sejak induk domba sejak pertama menunjukkan rasa gelisah hingga melahirkan dan
anaknya jatuh ketanah bervariasi antara 1 menit hingga 3 jam. Kegiatan dilanjutkan

dengan menjilati anaknya sering diikuti dengan suara bernada rendah dan berat.
Penjilatan dimulai dari kepala kemudian bergerak ke bagian punggung dan ekor.
Intensitasnya sangat tinggi sesaat setelah kelahiran, kemudan menurun menjadi 75
% dalam waktu 15 menit pertama, dan menjadi 10 % dalam waktu 4 jam setelah
kelahiran.
Penjilatan dengan diawali dari kepala memberikan kesempatan bagi anak
yang hidungnya telah bersih untuk mudah bernafas, disamping berfungsi untuk
membersihkan cairan amnion dan membentuk jalinan antara induk anak.
Intensitas jilatan yang diterima anak pertama domba biasanya lebih besar
dibanding anak kedua atau ketiga jika terjadi kelahiran kembar. Cairan amnion
mempunyai peranan penting dalam penerimaan anak oleh induk domba melalui
proses

penjilatan.

Tingkah

laku

dan

karakterstik

anak

tampaknya

juga

mempengaruhi perkembangan tingkah laku keindukan dengan mempengaruhi


timbulnya sifat menjilati dan tingkah laku keindukan. Pada beberapa kasus induk
domba lebih tertarik pada anak induk lain yang berumur 12-24 jam dibanding
anaknya sendiri.
Periode sensitif atau kritis untuk jalinan/ikatan induk-anak berlangsung kirakira

20-30

menit

pertama

setelah

kelahiran,

walaupun

beberapa

peneliti

menyatakan bahwa proses ini berlangsung sampai waktu 4 jam. Induk domba yang
dipisahkan dari anaknya setelah kontak selama 30 menit dapat membedakan
anaknya dari anak anak lainnya bila mereka dikumpulkan kembali. Jika pemisahan
dilakukan sesaat setelah kelahiran mengakibatkan induk kesulitan mengidentifikasi
anaknya, dan resiko ini dapat diturunkan jika pemisahan dilakukan 2 4 hari setelah
kelahiran pada saat ikatan sempurna telah terbentuk.
7.

Sapi
Anak sapi akan mulai berdiri setelah 45 menit dilahirkan, 2 s.d. 5 jam
kemudian akan mencari putting induknya, induk sudah harus pada posisi bisa
berdiri (karakter menyusui dengan berdiri). Mekanisme identifikasi anak induk
dilakukan melalui vokalisasi, olfactory (penciuman) and vision. Calf akan menyodok
ambing dan putting induknya untuk merangsang terjadinya mekaniasme laktasi.
Induk dengan permasalahan kelahiran membutuhkan waktu lebih lama untuk
berdiri, sehingga anak sulit mengakses susu butuh bantuan peternak. Mekanisme
menyusu biasa diawali dengan menyusu pada putting bagian depan, induk secara

aktif menolak menyusui anak sapi lain (sangat individualis). Nilai hertabilitas induk
dengan mothering ability yang baik pada sapi relatif rendah. Karakteristik tingkah
laku anak : melonjak, menendang, mencakar, mendengkur, bersuara dan mengadu
kepala (butting). sapi jantan lebih sering menunggangi dan mendorong anak sapi
betina (buller rider syndrome). Induk sapi menjilati urogenital dan rectal untuk
menstimulasi urinasi dan defekasi. Mekanisme ini diatur secara hormonal. Anak
kembar mendapatkan perlakuan grooming lebih sedikit dibanding anak tunggal.
Kontak yang terjadi 5 menit setelah kelahiran akan menciptakan ikatan yang sangat
kuat antara induk anak
Pada ternak sapi, jalinan antara induk dengan anak yang terlahir kembar
lebih lemah dibanding induk yang melahirkan anak tunggal yang ditunjukkan
dengan frekuensi menjilati kedua anaknya yang lebih rendah dibanding kelahiran
tunggal. Kontak induk anak pada sapi setelah 3 menit kelahiran sudah cukup
untuk membangun jalinan yang baik antara induk anak. Pemisahan sampai 5 jam
sesudah lahir memberikan suatu kemungkinan 50% penerimaan induk terhadap
anaknya sendiri, dan pemisahan lebih dari 24 jam menyebabkan penolakan secara
permanen oleh induk. Pengenalan induk oleh anak pada sapi sebagaimana ternak
lainnya membutuhkan waktu beberapa hari, dan bila lapar akan terus mendekati
induk lainnya sebelum mampu mengidentifikasi induknya.

Simpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan:
1. Tingkah laku ternak muncul karena rangsangan atau stimulus dari luar.
2. Rangsangan tersebut bisa berupa: ancaman, suhu dan kelembaban lingkungan,
pengaruh individu lain.
3. Perilaku suatu ternak merupakan akibat gabungan stimulus dari luar dan dari
dalam.
4. Setiap ternak mothering ability atau maternal behavior, namun tinggi rendahnya
berbeda-beda. Babi memiliki mothering ability yang rendah. Berbeda dengan ternak
ruminansia yang kebanyakan memiliki mothering ability yang tinggi.

5. Untuk mengatasi rendahnya mothering ability ini memerlukan peran/bantuan dari


manusia (peternak).

DAFTAR PUSTAKA
Suhara. 2010. Ilmu Kelakuan Hewan (Animal Behaviour). Jurusan Pendidikan Biologi
FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia
Mukhtar, A. S. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tingkah Laku Satwa (Ethologi). Direktorat Jenderal
Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam. Departemen Kehutanan, Bogor.
Pandanwati, Dayani. 2009. Perilaku yang Berhubungan dengan Aktivitas Makan Bajing Tiga
Warna (Callosciurus prevostii) pada Siang Hari di Penangkaran. Institut Pertanian
Bogor.
http://maulidayanti1.blogspot.com/2013/05/tingkah-laku-hewan-induk-anak.html.
pada tanggal 22 April 2014 pukul 09.30 WIB.

Diakses

http://kingsrabbit.blogspot.com/2010/10/persiapan-pra-dan-pasca-kelahiran-anak.html.
Diakses pada tanggal 23 April 2014 pukul 12.30 WIB
Teysar

Adi
S.,
S.Pt,
M.Si,
2007,
Diktat
Tingkah
Laku
Sub Kajian : Tingkah Laku Induk Anak, Universitas Diponegoro, Semarang.

Ternak

http://kelinci.wordpress.com/2008/01/01/saat-hendak-melahirkan/. Diakses pada tanggal


23 April 2014 pukul 12.45 WIB