Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN KASUS

ELECTRICAL BURN

Disusun oleh:
Syahreza M. Harahap
Khairul Ihsan Siregar
Melvitha Y.C. Siahaan
Nelly Rahayu
Indah Juliana Harahap
Amanda Sulistiani
Christella Caroline
Fina Fadilla
Suci Intan Fatrisia

090100351
090100165
090100025
090100145
090100237
090100032
090100127
090100185
090100065

Pembimbing:
dr. Eddy Sutrisno, Sp. BP-RE(K)
DEPARTEMEN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini dengan judul Electrical burn. Penulisan makalah ini adalah salah
satu syarat untuk menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Senior Program Pendidikan
Profesi Dokter di Departemen Ilmu Bedah Umum, Fakultas Kedokteran,
Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada dokter
pembimbing, dr. Eddy Sutrisno, Sp.BP-RE(K) yang telah meluangkan waktunya
dan memberikan banyak masukan dalam penyusunan makalah presentasi ini
sehingga penulis dapat menyelesaikan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, baik isi maupun susunan bahasanya, untuk itu penulis
mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sebagai koreksi dalam penulisan
makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat, akhir kata penulis
mengucapkan terimakasih.

Medan, November 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................................

DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB 1 Pendahuluan...........................................................................................

BAB 2 Tinjauan Pustaka...................................................................................

2.1 Luka Bakar.....................................................................................................

2.1.1. Definisi ............................................................................................

2.1.2. Etiologi.............................................................................................

2.1.3. Epidemiologi ...................................................................................

2.1.4. Patofisiologi......................................................................................

2.1.5. Penilaian Luka Bakar.......................................................................

2.1.6. Gambaran Klinis...............................................................................

2.1.7. Diagnosa........................................................................................... 10
2.1.8. Penatalaksanaan................................................................................ 11
2.1.9. Komplikasi....................................................................................... 15
2.1.10. Prognosis........................................................................................ 16
2.2 Electrical burn................................................................................................ 16
2.2.1. Definisi ............................................................................................ 16
2.2.2. Etiologi............................................................................................. 14
2.2.3. Patofisiologi ..................................................................................... 17
2.2.4. Manifestasi klinis.............................................................................. 18
2.2.5. Penatalaksanaan................................................................................ 19
2.3 Compartement syndrome............................................................................... 20
BAB 3 Laporan Kasus....................................................................................... 21
BAB 4 Kesimpulan............................................................................................. 28
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 29

BAB I
PENDAHULUAN
Kulit adalah pelindung atau barrier pada permukaan luar tubuh manusia
yang terpapar langsung dengan lingkungan luar tubuh. Apabila kulit mengalami
luka, maka jaringan internal yang dilindungi kulit dapat rusak akibat trauma,
radiasi ultraviolet, temperatur, toksin, maupun bakteri. Penyebab terjadinya luka
pada kulit bermacam-macam, salah satu penyebab yang sering ditemukan adalah
luka bakar.1,2
Luka bakar adalah kerusakan kulit tubuh yang disebabkan oleh api, atau
oleh penyebab lain seperti oleh air panas, listrik, bahan kimia dan radiasi. Di
Amerika Serikat, lebih dari 2 juta orang mengalami luka bakar, dimana kira-kira
1,4 juta orang mengalami luka bakar setiap tahunnya dan diperkirakan sekitar
54.000-180.000 pasien luka bakar memerlukan perawatan di rumah sakit.
Penderita yang paling sering ditemukan adalah pada usia 20-29 tahun. Luka bakar
juga merupakan masalah besar di negara berkembang, seperti di India dimana
setiap tahunnya ditemukan lebih dari 2 juta kasus luka bakar. Di Indonesia sampai
saat ini belum ada laporan tertulis mengenai jumlah penderita luka bakar secara
keseluruhan. Data terakhir yang dikeluarkan unit luka bakar RSCM Januari 1998Mei 2001 menunjukkan bahwa 60% karena kecelakaan rumah tangga, 20%
karena kecelakaan kerja, dan 20% sisanya karena sebab-sebab lain. Berdasarkan
data di RSUP DR Sardjito Yogyakarta, kasus luka bakar yang dirawat inap
mengalami peningkatan, dimana terdapat 76 kasus pada tahun 2005, dan
kemudian menjadi 82 kasus pada tahun 2006.2,3,4,5
Selain angka morbiditas yang tinggi, luka bakar juga memiliki angka
mortalitas yang tinggi. Di Amerika Serikat, sekitar 5% pasien luka bakar yang
dirawat inap meninggal. Berdasarkan data American Burn Association (ABA)
tahun 2002, dari 50.000 kasus luka bakar yang dirawat inap,

4.500 pasien

meninggal akibat komplikasi luka bakar. Angka mortalitas di negara berkembang


lebih tinggi di banding negara maju, seperti di Nepal tercatat 1700 kematian per
tahun untuk 20 juta penduduk, dengan angka kematian sekitar 17 kali dibanding

AS. Di Indonesia, angka mortalitas penderita luka bakar juga cukup tinggi, yaitu
38,59% (2001) di RSCM dan 26,41% (2000) di RS Dr. Soetomo.2,4
Berdasarkan hal tersebut di atas, pengetahuan mengenai luka bakar,
khususnya dalam menentukan derajat keparahan luka bakar dan tatalaksana yang
cepat dan tepat penting untuk diketahui oleh tenaga kesehatan. Prognosis pasien
luka bakar akan lebih baik apabila pasien menerima tatalaksana awal berupa
primary survey yang baik serta diikuti dengan tatalaksana luka lebih lanjut.6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.1.

Definisi

Luka bakar adalah kerusakan jaringan kulit tubuh yang disebabkan oleh api
atau oleh penyebab lain seperti oleh air panas, listrik, bahan kimia dan radiasi.
Kerusakan ini dapat menyertakan jaringan bawah kulit. Luka bakar juga dapat
menyebabkan koagulasi nekrosis pada kulit dan terpaparnya jaringan lapisan
dalam, juga mempunyai efek terhadap sistem organ lain.3
2.1.2.
Etiologi
Penyebab luka bakar selain terbakar api langsung atau tidak langsung, juga
pajanan suhu yang tinggi dari matahari, listrik maupun bahan kimia. Luka bakar
karena api atau tidak langsung dari api, misalnya tersiram air panas, banyak
terjadi pada kecelakaan rumah tangga.7
Bahan kimia, kontak dengan benda bersuhu panas, api, kilatan dari ledakan
materi eksplosif, gesekan dari benda ke kulit, radiasi dari matahari, radioterapi,
laser, radiasi panas dari pemanas ruangan atau perapian, cairan panas semacam air
panas atau minyak, sengatan listrik atau tersambar petir.3
2.1.3.

Epidemiologi

Di Amerika Serikat, lebih dari 2 juta orang mengalami luka bakar, dimana
kira-kira 1,4 juta orang mengalami luka bakar setiap tahunnya dan diperkirakan
sekitar 54.000-180.000 pasien luka bakar memerlukan perawatan di rumah sakit.
Penderita yang paling sering ditemukan adalah pada usia 20-29 tahun. Luka bakar
juga merupakan masalah besar di negara berkembang, seperti di India dimana
setiap tahunnya ditemukan lebih dari 2 juta kasus luka bakar. Di Indonesia sampai
saat ini belum ada laporan tertulis mengenai jumlah penderita luka bakar secara
keseluruhan. Data terakhir yang dikeluarkan unit luka bakar RSCM Januari 1998Mei 2001 menunjukkan bahwa 60% karena kecelakaan rumah tangga, 20% karena
kecelakaan kerja, dan 20% sisanya karena sebab-sebab lain. Berdasarkan data di
RSUP DR Sardjito Yogyakarta, kasus luka bakar yang dirawat inap mengalami

peningkatan, dimana terdapat 76 kasus pada tahun 2005, dan kemudian menjadi
82 kasus pada tahun 2006.2,3,4,5
Selain angka morbiditas yang tinggi, luka bakar juga memiliki angka
mortalitas yang tinggi. Di Amerika Serikat, sekitar 5% pasien luka bakar yang
dirawat inap meninggal. Berdasarkan data American Burn Association (ABA)
tahun 2002, dari 50.000 kasus luka bakar yang dirawat inap,

4.500 pasien

meninggal akibat komplikasi luka bakar. Angka mortalitas di negara berkembang


lebih tinggi di banding negara maju, seperti di Nepal tercatat 1700 kematian per
tahun untuk 20 juta penduduk, dengan angka kematian sekitar 17 kali dibanding
AS. Di Indonesia, angka mortalitas penderita luka bakar juga cukup tinggi, yaitu
38,59% (2001) di RSCM dan 26,41% (2000) di RS Dr. Soetomo.2,4
2.1.4.
Patofisiologi
Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan.
Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi. Sel
darah yang ada didalamnya ikut rusak sehingga terjadi anemia. Meningkatnya
permeabilitas kapiler menyebabkan udem dan menimbulkan bula yang banyak
mengandung elektrolit. Hal itu menyebabkan berkurangnya volume cairan
intravaskuler. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan
akibat penguapan yang berlebihan, masuknya cairan ke bula yang terbentuk pada
luka bakar derajat dua dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat
tiga. Bila luas luka bakar <20%, biasanya masih terjadi kompensasi tubuh, dan
>20% akan terjadi syok hipovolemik.7
Pada kebakaran di ruangan tertutup atau bila luka terjadi di wajah, dapat
terjadi kerusakan mukoa jalan nafas karena gas, asap atau uap panas yang
terhisap. Oedem laring yang ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan
nafas dengan gejala sesak nafas, takipnea, stridor, suara serak dan dahak berwarna
gelap akibat jelaga. Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun
lainnya. CO akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin tak
mampu lagi mengikat oksigen.7
Setelah 12-24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi
mobilisasi serta penyerapan kembali cairan edema ke dalam pembuluh darah. Ini
ditandai dengan peningkatan dieresis.7

2.1.5.
Penilaian Luka Bakar
1. Kedalaman luka bakar
Kedalaman luka ditentukan oleh tingginya suhu dan lamanya pajanan suhu
tinggi. Selain api yang langsung menjilat tubuh, baju yang ikut terbakar juga
memperdalam luka bakar. Bahan baju yang paling aman adalah yang terbuat
dari bulu domba (wol). Bahan sintetis seperti nilon dan dakron, selain mudah
terbakar juga mudah lumer oleh suhu yang tinggi, lalu menjadi lengket sehingga
memperberat kedalaman luka bakar.7
Pembagian luka bakar menurut kedalaman luka bakar digolongkan sebagai
derajat pertama superfisial, derajat kedua ketebalan parsial superfisial, derajat
kedua ketebalan parsial dalam dan derajat ketiga ketebalan penuh.8
Luka bakar derajat pertama superfisial terbatas pada epidermis yang
ditandai dengan adanya nyeri dan eritema tanpa lepuh. Kulit sembuh
spontan dalam 3-4 hari dan tidak meninggalkan jaringan parut, biasanya
tidak menimbulkan komplikasi, misalnya tersengat matahari.8
Luka bakar derajat kedua ketebalan parsial dalam meluas ke epidermis dan
ke dalam lapisan dermis. Luka ini sangat nyeri dan menimbulkan lepuh
dalam beberapa menit. Luka bakar ini biasanya sembuh tanpa
meninggalkan jaringan parut, walaupun orang-orang tertentu terutama
orang Amerika keturunan Afrika, dapat mengalami jaringan parut akibat
luka ini. Penyebuhan memerlukan waktu sebulan. Komplikasi jarang
terjadi, walaupun mungkin timbul infeksi sekunder pada luka ini.8
Luka bakar derajat ketiga ketebalan parsial dalam meluas ke seluruh
dermis. Folikel rambut mungkin utuh dan akan tumbuh kembali. Luka
bakar jenis ini hanya sensitif parsial terhadap nyeri karena luasnya
destruksi saraf-saraf sensorik. Namun daerah di sekitarnya biasanya
mengalami luka bakar derajat kedua superfisial yang nyeri. Pada luka
bakar jenis ini, penyembuhannya memerlukan waktu beberapa minggu dan
pembersihan (debridement) secara bedah untuk membuang jaringan mati.
Biasanya diperlukan tandur kulit. Pada luka bakar ini selalu terjadi
pembentukan jaringan parut.8

Luka bakar derajat keempat ketebalan penuh meluas ke epidermis, dermis


dan jaringan subkutis. Kapiler dan vena mungkin hangus dan aliran darah
ke daerah tersebut berkurang. Saraf rusak sehingga luka tidak terasa nyeri.
Namun, daerah sekitar biasanya memperlihatkan nyeri seperti luka bakar
derajat kedua. Luka bakar jenis ini mungkin memerlukan waktu berbuuanbulan untuk sembuh dan diperlukan pembersihan secara bedah dan
penanduran. Luka bakar derajat ketiga membentuk jaringan parut dan
jaringan tampak seperti kulit yang keras.8
Tabel 2.1. Kedalaman luka bakar menurut Amerika Serikat9

2. Luas area luka bakar


Ada 3 metode yang biasa digunakan dalam menilai area luka bakar.
Perlu diketahui untuk menghindari overestimasi, area eritem tidak perlu
dimasukkan kedalam perhitungan, dengan cara menunggu sampai eritem
tersebut hilang.3
a. Metode Palmar Surface
Permukaan tangan palmar termasuk jari secara kasar meliputi 0,78%
dari total body surface area. Dapat digunakan untuk menghitung luka bakar
kecil (<15%) atau luka bakar besar (>85%). Tidak berguna untuk luka
bakar menengah. Untuk memudahkan perhitungan, luka telapak tangan
dapat dibulatkan menjadi 0,75%.3

Gambar 2.1. Metode Palmar Surface3


b. Metode Wallace Rules of Nine
Metode yang baik dan cepat untuk mengestimasi luas luka bakar dari
menengah ke besar pada dewasa. Tubuh dibagi menjadi beberapa area
bernilai 9%. Metode ini kurang akurat pada anak-anak.3

Gambar 2.2. Wallace Rules of Nine10


c. Metode Lund and Browder Chart
Metode ini jika digunakan secara tepat maka merupakan metode yang
paling efektif. Cara Lund and Browner ini mengikuti variasi bentuk tubuh
manusia dan juga akurat bagi anak-anak.

Gambar 2.3. Lund and Browder Chart10


2.1.6.
Gambaran Klinis
- Luka bakar derajat pertama superfisial ditandai dengan kemerahan dan
nyeri. Dapat timbul lepuh setelah 24 jam dan kemudian kulit mungkin
-

terkelupas.
Luka bakar derajat kedua ketebalan parsial superfisial ditandai oleh
terjadinya lepuh (dalam beberapa menit) dan nyeri hebat.

Luka bakar derajat kedua ketebalan parsial dalam ditandai oleh lepuh
atau jaringan kering yang sangat tipis yang menutupi luka yang

kemudian terkelupas. Luka kemudian tidak nyeri.


Luka bakar derajat ketiga ketebalan penuh tampak datar, tipis dan
kering. Dapat ditemukan koagulasi pembuluh darah. Kulit ttampak putih,

merah atau hitam dan kasar.


Luka bakar listrik mungkin mirip dengan luka bakar panas atau mungkin
tampak sebagai daerah keperakan yang menjadi gelebung. Luka bakar
biasanya timbul di titik kontak listrik. Kerusakan internal akibat luka
bakar listrik mungkin jauh lebih parah daripada luka yang tampak di
bagian luar.8

2.1.7.
Diagnosa
1. Anamnesis
Anamnesa riwayat trauma sangat penting dalam penanganan luka bakar.
Seaktu menyelamatkan diri dari tempat kebakaran, akan mungkin terjadi cedera
penyerta. Ledakan dapat melemparkan penderita, yang mengakibatkan
misalnya cedera otak, jantung, paru-paru, trauma abdomen dan fraktur. Catat
waktu terjadinya trauma. Luka bakar yang terjadi di ruangan tertutup harus
dicurigai terjadinya trauma inhalasi.11
Anamnesa dari penderita sendiri atau keluarga, hendaknya juga mencakup
riwayat singkat penyakit yang diderita sekarang, misalnya diabetes, hipertensi,
jatung, paru-paru dan atau ginjal serta obat-obatan yang sedang dipakai untuk
terapi. Pentiing juga diketahui riwayat alergi atau status imunisasi tetanus.10
2. Pemeriksaan Fisik
Untuk dapat merencanakan dan menangani penderita dengan baik, lakukan
hal berikut ini, yaitu tentukan luas dan dalamnya luka bakar, periksa apakah
ada cedera ikutan, dan timbang berat badan penderita.10
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Darah
Ambil contoh darah untuk pemeriksaan darah lengkap, golongan darah dan
crossmatch, kadar kaboksihemoglobin, gula darah, elektrolit dan tes kehamilan
pada wanita usia subur. Darah arteri juga diambil untuk analisa gas darah.10
b. Radiologi

10

Pemeriksaan foto thoraks bisa dilakukan secara seri beberapa kali bila diperlukan
dan bila dicurigai adanya cedera ikutan.10
2.1.8.
Penatalaksanaan
Pertolongan pertama dalam luka bakar bertujuan untuk menghentikan proses
bakar, mendinginkan luka bakar dan menutupi luka bakar. Menghentikan proses
bakar dengan cara menjauhkan/ mematikan sumber panas atau memutuskan
sambungan istrik pada luka bakar listrik atau dengan cara menyiramkan air pada
luka bakar untuk mendinginkan luka bakar. Mendinginkan luka bakar dengan
irigadi air dingin dengan suhu 150C selama 20 menit yang bermanfaat untuk
mendinginkan luka bakar, mengurangi nyeri dan mengurangi edema serta
bermakna pada reepitalisasi jaringan. Pemberian analgetik berguna untuk
mengurangi nyeri.3
Tindakan penyelamatan segera pada luka bakar dapat dilakukan dengan:
a. Airway
Adanya riwayat terkurung api atau terdapat tanda-tanda trauma jalan nafas,
memerlukan tindakan pemeriksaan jalan nafas dan tindakan pemasangan jalan
nafas definitif. Trauma bakar faring menyebabkan edema hebat jalan nafas
bagian atas, karenanya memerlukan pembebasan jalan nafas segera.
Manifestasi klinis trauma inhalasi perlahan-lahan dan mungkin nampak dalam
24 jam pertama.10 Indikasi klinis adanya trauma inhalasi antara lain:
- Luka bakar mengenai wajah dan atau leher
- Alis mata dan bulu hidung hangus
- Adanya timbunan karbon dan tanda peradangan akut orofaring
- Sputum yang mengandung karbon atau arang
- Suara serak
- Riwayat gangguan mengunyah dan atau terkurung dalam api
- Luka bakar kepala dan badan akibat ledakan
- Kadar kaboksihemoglobin >10% setelah berada ditempat kebakaran10
Bila ditemukan salah satu dari keadaan diatas, sangat mungkin terjadi
trauma inhalasi yang memerlukan penanganan dan terapi definitif termasuk
pembebasan jalan nafas. Sebelum dirujuk harus dilakukan dahulu intubasi
untuk menjamin jalan nafas. Selain itu stridor juga merupakan indikasi
untuk segera melakukan intubasi. Luka bakar yang melingkari leher

11

mengakibatkan pembengkakan jaringan sekitar jalan nafas, sehingga


merupakan indikasi pemasangan intubasi secara dini.10
b. Breathing
Penanganan awalnya didasarkan atas tanda dan gejala yang ada yang timbul
akibat trauma, sebagai berikut:
- Trauma bakar langsung menyebabkan edema dan atau obstruksi jalan nafas
-

bagian atas
Inhalasi hasil pembakaran dan asap beracun menyebabkan trakeobronkitis

kimiawi, edema dan pneumonia


Keracunan CO10
Diagnosis terjadinya keracunan CO ditegakkan bila seseorang berada

dilingkungan yang mengandung gas CO, sehingga penderita yang mengalami


luka bakar pada ruangan tertutup selalu dianggap keracuunan CO. Kadar CO
yang lebih tinggi menimbulkan sakit kepala dan mual (20-30%), kebingungan
(30-40%), koma (40-60%), dan kematian (>60%). Kulit yang berwarna merah
anggur (cherry-red) jarang ditemukan. Pelepasan CO sangat lambat, waktu
paruhnya 250 menit atau 4 jam bila penderita bernafas dengan udara ruangan,
tetapi bila bernafas dengan oksigen 100% waktu paryhnya menjadi 40 menit.10
Penanganan awal trauma inhalasi sering memerlukan intubasi endotrakeal
dan

ventilasi

mekanis.

Apabila

keadaan

hemodinamik

penderita

memungkinkan dan trauma spinal dapat disingkirkan, menaikkan kepala dan


dada 20-300 dapat mengurangi edema leher dan dada. Luka bakar derajat III
yyang mengenai dinding anterior dan lateral dapat menyebabkan terbatasnya
pergerakan dinding dada, sehingga perlu dilakukan eskarotomi.10
c. Circulation
Setiap penderita luka bakar >20% luas permukaan tubuh memerlukan cairan
infus karena pada penderita luka bakar sering mengalami syok hipovolemik.
Cara yang banyak dipakai adalah menggunakan rumus Baxter, yaitu : % x BB
x 4 ml.
Separuh dari jumlah cairan ini diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya
diberikan dalam 16 jam berikutnya. Hari pertama terutama diberikan elektrolit,
yaitu larutan RL, dan hari kedua diberikan setengah cairan hari pertama. Selain

12

itu, perhitungan cairan cairan harus disesuaikan dengan respon penderita,


seperti produksi urine, tanda vital dan keadaan umum. Gangguan irama jantung
merupakan tanda awal hipoksia, gangguan elektrolit dan keseimbangan asam
basa, karenanya monitor EKG perlu dipasang.7,10
d. Exposure
Lepaskan seluruh pakaian dan perhiasan dan jaga tubuh tetap pada suhu
optimal dan hindarkan dari hipotermi.3,10
e. Analgetik
Pemberian

analgetik

dapat

mengaburkan

tanda-tanda

terjadinya

hipoksemia dan hipovolemia, dan sebaiknya diberikan dalam dosis kecil,


diulang dan hanya diberikan secara intravena.10
f. Pemasangan NGT dan Pemberian Nutrisi
Pemasangan NGT bila penderita mual, muntah, perut kembung, atau luas
luka bakarnya melebihi 20% permukaan tubuh. Cara pemberian nutrisi sesuai
dengan persamaan Harris-Benedict, dengan kebutuhan kalori 24 jam = (25 kkal
x kg BB) + (40 kkal x % TBSA). Dengan kebutuhan protein 2,5-3 g/kg BB/hari
(dewasa) dan 3-4 g/kg BB/hari (anak), serta pemantauan kadar prealbumin
dilakukan pada pasien dengan luka bakar yang luas.3,10
g. Antibiotik
Pemberian antibiotik profilaksis tidak dianjurkan pada luka bakar yang
baru terjadi. Antibiotik ditujukan untuk terapi bila terjadi infeksi.10
h. Tindakan Bedah
Eskarotomi dilakukan pada luka bakar derajat tiga yang melingkar pada
ekstremitas atau tubuh karena pengerutan keropeng dan pembengkakan yang
terus berlangsung dapat mengakibatkan penjepitan yang membahayakan
sirkulasi sehingga bagian distal mati. Tanda dini penjepitan adalah nyeri,
kemudian kehilangan daya rasa sampai kebas pada ujung-ujung distal. Keadaan
ini dapat ditolong dengan membuat irisan memanjang yang membuka keropeng
sampai penjepitan bebas.7
Debrideman diusahakan sedini mungkin untuk membuang jaringan mati
dengan jalan eksisi tangensial.7

13

14

Gambar 2.4. Protokol resusitasi cairan pada luka bakar3


2.1.9.
-

Komplikasi
Infeksi
Sepsis
Gangguan elektrolit
Kongesti paru
Kecacatan8

2.1.10.
Prognosis
Penanganan dan prognosis ditentukan oleh derajat luka bakar, luas luka
bakar, daerah luka bakar, usia, dan keadaan kesehatan.7

15

2.2 Electrical burn


2.2.1 Definisi
Luka bakar elektrik terjadi akibat adanya arus listrik yang melewati tubuh,
mengganggu fungsi dari organ dalam, atau terkadang mencederai jaringan. Luka
bakar listrik pada orang dewas dapat terjadi akibat kontak dengan peralatan listrik
pada pekerjaan, sedangkan pada anak-anak sering terjadi akibat kabel pada alatalat rumah tangga. 11
2.2.2

Etiologi

2.2.2.1. Low-voltage Injuries


Luka bakar voltase rendah terjadi jika arus listrik kurang dari 1000 V.
Luka bakar ini umumnya kurang menyebabkan pengrusakan banyak jaringan.
Biasanya, luka bakan voltase rendah terjadi di rumah atau kantor. Pada kasus luka
bakar anak-anak akibat menggigit kabel, daerah yang terkena luka bakar bagian
bibir, wajah, dan lidah. 11,12,13

Gambar 2.5. low-voltage injuries14


2.2.2.2. High-voltage Injuries
Luka bakar voltase tinggi terjadi jika arus listrik lebih dari 100 V. Luka
bakar listrik voltas tinggi dapat disebabkan oleh salah satu dari tiga sumber:
percikan listrik, sambaran listrik, atau arus listrik itu sendiri. Pada luka bakar
voltase tinggi, kerusakan dapat terjadi secara subkutan hingga ke otot dan dapat

16

menyebabkan compartment syndrome. Pelepasan myoglobin juga dapat


menyebabkan myoglobinuria dan menyebabkan gangguan fungsi ginjal. 11,12

Gambar 2.6. high-voltage injury3


2.2.3

Patofisiologi

Secara umum, listrik adalah aliran elektron yang melewati potensial gradien dari
konsentrasi tinggi ke rendah melalui material konduktif. Voltase (V)
menggambarkan magnitud dari perbedaan potensial dan biasanya menggambarkan
bentuk sumber listriknya. Arus merupakan aliran dari listrik. Ada tiga mekanisme
utama dari luka bakar listrik, yaitu:
1
2

Energi listrik menyebabkan kerusakan jaringan langsung.


Konversi energi listrik menjadi energi panas yang dapat menyebabkan

kerusakan jaringan masif dan nekrosis koagulasi.


Luka mekanik akibat terjatuh atau kontraksi otot yang berlebihan.11,13

Faktor yang mempengaruhi luka bakar aadalah besar energi, resistensi arus,
jalur arus, dan durasi kontak. Arus listriks sangat berhubungan dengan voltase dan
resistensi, sesuai dengan hukum Ohm (I=V/R; dimana I=arus, V= voltase, R=
resistensi).11
Hampir seluruh resistensi tubuh teretak di kulit. Semakin tebal kulit, maka
akan semakin tinggi resistensinya sehingga kerusakan jaringan tubuh akan
semakin sedikit. Sebaliknya, jika kulit rusak atau basah makan akan menurunkan
resitensinya, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada organ interna.11

17

Tabel 2.2. Urutan Jaringan Tubuh dengan Resistensi Rendah hingga Resistensi Tinggi11
Resistensi rendah
Saraf
Darah
Membran mukosa
Resistensi sedang

Otot
Kulit

Resistensi tinggi

Tendon
Tulang

2.2.4

Manifestasi klinis

Tabel 2.3 Kerusakan jaringan akibat luka bakar listrik


Bentuk kerusakan jaringan
Kulit
Otot
Pembuluh darah

Luka termal,luka percikan, luka linear, luka kontak listrik


Swell, nyeri, spasme, myonecrosis, compartment syndrome
Clotting, deteriorasi mikrovaskuler, myoglobinemia,

Jantung

vasokonstriksi, trombosis, iskemik


Aritmia, asistol, fibrilasi ventrikuler, sinus takikardi, cardiac

Saraf
Otak
Tulang
Ginjal
Telinga
Mata

arrest
Kelumpuhan, kebas,urine incontinence, nyeri kronik
Kejang, iskemik, penurunan kesadaran
Dislokasi sendi, fraktur
Myoglobinuria, gagal ginjal akut, nekrosis tubular akut
Perforasi gendang telinga
Katarak

18

Gambar 2.3. Manifestasi luka bakar listrik pada mata15


2.2.5

Penatalaksanaan
Resusitasi perlu dilakukan bagi pasien dengan electrical burn. Selain itu,

segera operasi harus dilakukan pada 2 kondisi yang unik. Nekrosis jaringan yang
dalam akan menyebabkan asidosis atau myoglobinuria. Keadaan ini tidak dapat
diatasi dengan resusitasi standard. Oleh sebab itu, debridement atau amputasi
perlu dilakukan.16
Selain itu, rusaknya jaringan yang dalam akan menyebabkan edema,
peningkatan risiko untuk terjadinya compartement syndrome, dan berpotensial
menyebabkan kehilangan jaringan yang lebih lanjut. Eschariotomy dan
fasciotomy harus dilakukan bila tekanan di dalam kompartemen di atas 30 mmHg
atau bila secara klinis terjadi compartement syndrome. Adanya defisit nervus
ulnar dan median yang progresif merupakan indikasi untuk dilakukan immediate
median and ulnar nerve release.16
2.3

Compartement syndrome
Compartement syndrome dapat terjadi di ekstremitas. Patofisiologinya

adalah peningkatan tekanan di dalam ruang tertutup secara tiba-tiba, yang


mengganggu aliran darah ke struktur di dalamnya. Penyebab dari compartement
syndrome di ekstremitas adalah arterial hemorrhage, ligasi vena atau thrombosis,
crush injuries, infeksi, crotalid envenomation, dan iskemia/ reperfusi. Pada pasien
yang sdara, gejala utamanya adalah nyeri. Nyeri tersebut akan meningkat dengan
adanya gerakan dari otot yang terlibat. Setelah itu, akan terjadi progresi ke
paralisis. Gejala awalnya adalah rasa kebas (parasthesia).17
Pada pasien yang tidak sadar, anamnesis, kekakuan dari kompartemen saat
palpasi, serta hilangnya mobilitas sendi dapat mengarahkan. Hilangnya nadi pada
bagian distal dari kompartemen, frozen joint, dan myoglobinuria merupakan tanda
lanjut dan menunjukkan prognosis yang buruk. Tekanan dalam kompartemen
dapat diukur dengan Stryker device. Tekanan di atas 45 mmHg membutuhkan
operasi sedangkan tekanan antara 30 sampai 45 mmHg dapat diobservasi.17

19

Penatalaksanaan untuk compartement syndrome adalah fasciotomy.


Fasciotomy harus tetap dilakukan walaupun infeksi dan amputasi sering terjadi.17

20

BAB III
LAPORAN KASUS
1.1.

1.2.

Identitas Pasien
Nama Pasien

: Junihar Lubis

Umur

: 27 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Desa Panei Tonga Kec. Panei

Status

: Belum kawin

Tanggal Masuk

: 11 November 2014

Anamnesis
Keluhan utama

: Luka bakar listrik di wajah, kedua lengan dan


kedua tungkai.

Telaah

: Hal ini dialami pasien sejak 1 hari sebelum masuk

RSHAM. Awalnya pasien ingin memperbaiki posisi antena, pasien pada saat itu
membawa payung di tangan kiri dan secara tidak sengaja menyenggol kabel listrik
yang terdapat di atas rumah pasien. Sehingga pasien tersengat arus listrik.
Kemudian pasien merasa hoyong dan terjatuh di atap rumah. Pasien dibawa ke
rumah sakit daerah Siantar untuk mendapatkan pertolongan pertama dan
mendapat perawatan ICU, kemudian pasien dirujuk ke RSUP HAM untuk
mendapatkan tindakan lanjutan.

Riwayat pingsan tidak dijumpai, mual

dan

muntah tidak dijumpai, riwayat jantung berdebar setelah tersambar petir tidak
dijumpai, riwayat penyakit jantung tidak dijumpai, BAB (+), BAK (+). Pasien
mendapatkan pencucian luka pada tanggal 12 November 2014

1.3.

RPT

: DM (-), Hipertensi (-), asma (-), operasi perut (-)

RPO

: Tidak jelas

Status Presens
Sensorium

: Compos Mentis

Keadaan Umum

: Kurang

21

Tekanan darah : 100/70 mmHg

1.4.

Nadi

: 91 x/i

Pernafasan

: 20 x/i

Suhu

: 36.8C

Keadaan Gizi

: Sedang

Pemeriksaan Fisik
Kepala
Mata

: reflex cahaya (+/+), pupil isokor 3mm,


konjungtiva palpebra inferior pucat (+/+), sklera
ikterik (-/-),

Telinga/ hidung/ mulut

: luka bakar derajat III 4,5%, bula (-), dasar putih

kemerahan, pus (-), tepi irreguler


Leher

: luka bakar derajat III 1%, bula (-), dasar putih, pus

(-), perdarahan (-), tepi irreguler


Toraks
Inspeksi : simetris fusiformis, luka bakar pada bagian aksilla derajat III 1%,
bula (-), dasar putih, pus (-), tepi irreguler
Palpasi
: stem fremitus kanan=kiri, kesan : normal
Perkusi : sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi
:Paru : Suara pernapasan: vesikuler, Suara tambahan: tidak
dijumpai. Jantung: S1 (N), S2 (N), murmur (-)
Abdomen
Inspeksi

: simetris

Palpasi

: soepel

Perkusi

: timpani ,

Auskultasi

: peristaltik (+)N

Genitalia

: Jenis kelamin laki-laki, kateter terpasang, urin kuning

jernih, tidak dijumpain kelainan


Ekstremitas
Superior
Kiri

:
: luka bakar derajat III 1% regio antebrachii, bula (-), dasar
putih, pus (-), perdarahan (-), tepi reguler

22

Luka bakar derajat III 4,5 %, regio manus, bula (-), dasar
putih , pus (-), perdarahan (-), tepi irreguler.
Pulse (-), pucat(+), parasthesia (-), paralysis (-), pain (+)
Kanan

: tidak dijumpai kelainan

Inferior

Kiri

: luka bakar derajat III 4%, regio pedis, bula (-), dasar
putih, pus (+), perdarahab (-), tepi irreguler

Kanan

: luka bakar derajat III 9%, regio femur, cruris, pedis, bula
9-), dasar putih, pus (+), perdarahan (-), tepi irreguler

Status Lokalisata
Kepala dan leher
Trunkus anterior
Trunkus posterior
Ekstremitas atas kanan
Ekstremitas atas kiri
Ekstremitas bawah kanan
Ekstremitas bawah kiri
Genitalia
Total
1.5.

: 5,5%
: 1%
: 0%
: 0%
: 5,5%
: 9%
: 4%
: 0%
+
: 25%

Hasil Laboratorium (30 September 2014)


Darah rutin
Hemoglobin

: 17,50 g%

Eritrosit

: 5,53 x 106/mm3

Hematokrit

: 49,00 %

Leukosit

: 24,92 x 103/mm3

Trombosit

: 238x 103/mm3

Kesan:
Fungsi Ginjal
Ureum

: 30,70 mg/dl

Kreatinin

: 0,83 mg/dL

23

Kesan:
Elektrolit
Na/K/Cl

: 135/4,7/105 mEq/L

KGD ad random

: 149.6 mg/dl

Albumin

: 2,9 g/dl

Hemostasis
PT (kontrol/pasien)

: 28,1/14,6 detik

INR

: 1,99

APTT

: 30,9/36,5 detik

TT

: 11,9/17,5 detik

1.6.

Pemeriksaan Radiologi
a. Thorax Erect

1.7.

Diagnosis
Electrical burn grade II 25% on the head, neck, axillary, (L) antebrachii, (L)
manus, (L) pedis, (R) femoralis, cruris dan pedis + compartement syndrome on
the (L) antebrachii

1.8.

Penatalaksanaan
- Bed rest
- Pasien dipuasakan
- IVFD RL20 gtt/menit
- Inj.Ceftriaxone 1 gr/12jam
- Inj.Ranitidine 50 mg/12 jam
- Inj. Ketorolac 30mg /8jam
-ATS 3.000 IU
- NGT (25 kkal x 65 kg) + (40 kkal x 25%) = 2625 kkal

3.9.

Rencana

- Foto thorax AP erect


- permeriksaan darah rutin, HST, RFT, elektrolit, albumin, AGDA, KGD adr
- urinalisis
- EKG
- fasiotomy

FOLLOW UP PASIEN
Tanggal

Hasil lab
-

BAB IV
KESIMPULAN
Laki-laki, 27 tahun datang ke IGD RSUP HAM bersama orang tuanya. Dari
alloanamnesa didapatkan keluhan utamanya adalah luka bakar listrik, yang telah
dialami os sejak 24 jam sebelum masuk rumah sakit. Awalnya os sedang
membetulkan posisi antenna saat gerimis sehingga os naik k atap dengan
memegang paying. Pada saat itu, payung yang os pegang mengenai kabel listrik.
Os kemudian dibawa ke RSUD namun setelah 1 hari di ICU, keluarga os meminta
os untuk dirujuk ke RSUPHAM.
Pada pemeriksaan fisik, dijumpai luka bakar di kepala, leher, ekstremitas
atas, serta ekstremitas atas. Total luas luka bakar sebesar 25%. Luka bakar terlihat
kering dengan dasar berwarna putih, nyeri tidak dijumpai pada luka. Pasien
didiagnosa dengan electrica burn grade III 25%, dimana pada luka bakar grade
III, luka bakar mencapai lapisan di bawah dermis bahkan dapat sampai ke organ
dalam.
Pada pasien ini dilakukan fasiotomy. Pasien ini dirawat di RR lantai 1 RSUP
HAM selama 1 hari lalu dipindahkan ke RB3. Pada pasien tidak dilakukan
resusitasi cairan yang agresif karena pasien telah melewati 24 jam pertama dan
produksi urin pasien baik.

DAFTAR PUSTAKA
1. Amirlak,

B.

et

al.

2013.

Skin

Anatomy.

Dikutip

dari:

http://emedicine.medscape.com/article/1294744-overview [Diakses tanggal 7


Oktober 2014]
2. Edlich,
R.F.
et

al.

2013.

Thermal

Burns.

Dikutip

dari:

http://emedicine.medscape.com/article/1278244-overview [Diakses tanggal 7


Oktober 2014]
3. Sudjatmiko, G., 2013. Petunjuk Praktis Ilmu Bedah Plastik Rekonstruksi, Ed. III.
Jakarta : Yayasan Khazanah Kebajikan.
4. Putro, B.C. 2013. Perbandingan Pemberian Saliva Manusia, Aloe vera, dan
Moist Dressing Secara Topikal terhadap Penyembuhan Luka Bakar Derajat
Dua

pada

Tikus

Putih

(Rattus

norvegicus).

Dikutip

dari:

http://etd.ugm.ac.id/index.php?
mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id
=68047&obyek_id=4 [Diakses tanggal 7 Oktober 2014]
5. Tribunnews. 2012. Kematian Akibat Luka Bakar Capai 40%. Dikutip dari:
http://www.tribunnews.com/kesehatan/2012/02/08/kematian-akibat-lukabakar-capai-40- [Diakses tanggal 7 Oktober 2014]
6. Sheridan, R.L. 2013. Initial Evaluation and Management of the Burn Patient.
Dikutip

dari:

http://emedicine.medscape.com/article/435402-overview

[Diakses tanggal 7 Oktober 2014]


7. Sjamsuhidajat, R., De Jong, W., 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed. 2. Jakarta:
EGC. p.73-83
8. Corwin, E.J., 2009. Buku saku Patofisiologi, Ed. 3. Jakarta: EGC. p.127-134
9. Thorne, C.H., et al. 2007. Grabbs and Smiths Plastic Surgery, Sixth Edition.
Philadelphia: Lippincott-Raven Publishers.
10. The American College of Surgeons, 2008. Advanced Trauma Life Support :
Student Course Manual, Ninth Edition. United States of America : American
College of Surgeons. p.230-245
11. Dzhokic, Gjorgje.et al.2008.Electrical Injuries: Etiology, Pathophysiology and
Mechanism

of

Injury.

Available

http://www.degruyter.com/view/j/mjms.2008.1.issue-2/MJMS.1857-

from:

5773.2008.0019/mjms.1857-5773.2008.0019.xml . Accessed November,14


2014.
12. Williams, Norman S. et al. 2008. Burns. In: Bailey & Loves Short Practice of
Surgery.25th ed. London: Hodder Arnold.p 391-392
13. Cushing, Tracy A.2014. Electrical Injuries in Emergency Medicine. Available
from: http://emedicine.medscape.com/article/770179-overview . Accessed
November, 14 2014.
14. Smith,M.L. 2000. Electrical Burn. Available from: http://www.medskills.eu/ .
Accessed November, 14.
15. Korn, Bobby S. 2014. Ocular Manifestasion of Electrical Burn. Available from:
http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMicm1213581

Accessed

November, 14.
16. Holmes JH, Heimbach DM. Burns. In Brunicardi FC, editor. Schwartz's Manual
of Surgery. 8th ed.: McGraw Hill; 2006.
17.

Burch JM, Franciose RJ, Moore E. Trauma. In Brunicardi FC, editor.


Schwartz's Manual of Surgery. 8th ed.: McGraw Hill; 2006.