Anda di halaman 1dari 4

2.1.

Pendekatan CASM
Permasalahan RHL adalah masalah sistematik yang memerlukan integrasi berbagai
disiplin ilmu untuk mencari solusinya. Perumusan konsep RHL harus berlandaskan
pendekatan sistem dan prinsip-pinsip dasar perencanaan yang mampu menjawab
tuntutan implementasi RHL di lapangan. Salah satu metode yang dapat digunakan
untuk merumuskan stratergi RHL adalah dengan menerapkan pendekatan CASM,
metode CASM merupakan metode untuk perencanaan RHL berbasis pendekatan sistem
yang mampu mengintegrasikan aspek biofisik dan aspek social secara sistematik dalam
penyusunan strategi RHL. Pendekatan ini merupakan perpaduan dari analisis Capability,
analisis Availability, analisis Suitability, analisis Manageability (soeprijadi, dkk., 2012)
2.1.1. Analisis Capability
Analisis capability merupakan

proses

identifikasi

dan

penilaian

tingkat

produkivitas lahan. Dalam proses ini, informasi yang digunakan adalah karakteristik
biofisik lahan. Identifikasi capability dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik biofisik
lahan dalam satuan kawasan di sekitarnya. Informasi yang diperlukan meliputi jenis
tanah, kelerengan,

dan tata guna lahan. Keluaran dari proses identifikasi capability

berupa klaster karakteristik lahan dalam bentuk LMU (Land Mapping Unit). LMU
merupakan peta hasil penggabungan dari peta tata guna lahan, peta jenis tanah, dan peta
kelerengan. Informasi LMU menunjukkan jenis karakteristik lahan meliputi jenis tanah,
tekstur

tanah, kelerengan, drainase, solum, kepekaan erosi, permeabilitas, dan tingkat

kekritisan lahan. Informasi yang diperoleh tersebut, kemudian dijadikan sebagai acuan
dalam menentukan strategi kelola biofisik, strategi kelola KTA, serta model teknik RHL
yang akan diterapkan pada setiap LMU (Soeprijadi, dkk., 2012).
2.1.2. Analisis Availability
Analisis availability bertujuan untuk menilai dan mengidentifikasi ketersediaan
lahan sasaran RHL. Tujuan dari analisis ini adalah untuk menilai keberadaan dan
potensi lahan kritis yang disesuaikan dengan ketersediaan teknologi RHL serta kesiapan
partisipasi dari berbagai pihak. Informasi yang diperlukan dalam analisis ini antara lain
partisipasi pemilik lahan untuk RHL, bentuk penggunaan lahan yang berasal dari pemilik
lahan, data kepemilikan lahan, dan luas lahan bebas konflik. Hasil dari analisis
availability berupa lokasi dan batasan definitif kawasan untuk RHL pada berbagai tingkat

ketersediaan sehingga memberikan detail informasi terkait batas dan luas lokasi RHL
(Soeprijadi, dkk., 2012).
2.1.3. Analisis Suitability
Analisis suitability terdiri dari proses identifikasi alternatif berbagai pola tanam
dan tingkat kesesuaian lahan di berbagai LMU dengan mempertimbangkan input teknologi
silvikultur dan KTA. Secara teknis, informasi yang diperlukan dalam analisis suitability
adalah tingkatan kesesuaian jenis tanaman dan pola tanam pada karakteristik LMU.
Keluaran dari analisis ini adalah desain berbagai alternatif pola tanam di tiap LMU
menurut tingkat kesesuaian lahan baik kesesuaian aktual maupun kesesuaian potensial
(Soeprijadi, dkk., 2012).
2.1.4. Analisis Manageability
Menurut Soeprijadi, dkk. (2012),proses identifikasi manageability bertujuan untuk
1. Menentukan klaster kawasan berdasarkan tingkat manageabilitas menurut kondisi
sosial, budaya, dan kelembagaan masyarakat pada kawasan alternatif RHL.
2. Mengoverlay klaster kawasan dan klaster kesesuaian jenis lahan, kemudian
memilih berbagai alternatif manipulasi lingkungan dan pengaturan pola tanam
berdasarkan tingkat manageabilitas.
3. Mengidentifikasi berbagai alternatif peluang rekayasa sosial ekonomi, rekayasa
kelembagaan, dan rekayasa budaya dalam menjamin keberhasilan program RHL.

2.2. Analisis SWOT


2.2.1. Pengertian Analisis SWOT
Analisis SWOT /TWOS merupakan salah satu analisis pilihan (strategic choice)
yang sudah sangat popular. Dalam proses pelatihan ini, analisis SWOT/TOWS akan
digunakan sebagai instrument analisis yang dapat memakai instrument lain yang dinilai
lebih sesuai atau memadai dengan lokus-fokus yang telah ditentukan dalam simulasi sub
kelompok atau kelompok. Karena tahapan ini merupakan kelanjutan dari tahapan
sebelumnya maka metode evaluasi dan analisis pada tahapan ini harus dapat
mengakomodasikan hasil analisis sebelumnya.Oleh karena itu analisis yang digunakan
pada

tahapan

sebelumnya,

juga

digunakan

pada

tahapan

ini.

SWOT adalah singkatan dari Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats

(kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman). Analisa SWOT sudah menjadi alat yang
umum digunakan dalam perencanaan strategis pendidikan, namun ia tetap merupakan
alat yang efektif dalam menempatkan potensi institusi. SWOT dapat dibagi ke dalam dua
elemen, analisa internal yang berkonsentrasi pada prestasi institusi itu sendiri,dan analisa
lingkungan.
Berikut

ini

merupakan

penjelasan

dari

SWOT)

yaitu

1. Kekuatan (Strenghts)
Kekuatan adalah sumber daya, keterampilan, atau keungulan-keungulan lain yang
berhubungan dengan para pesaing perusahaan dan kebutuhan pasar yang dapat
dilayani oleh perusahaan yang diharapkan dapat dilayani. Kekuatan adalah
kompetisi khusus yang memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan di pasar
2. Kelemahan (Weakness)
Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam sumber daya, keterampilan,
dan kapabilitas yang secara efektif menghambat kinerja perusahaan. Keterbatasan
tersebut daoat berupa fasilitas, sumber daya keuangan,kemampuan manajemen dan
keterampilan pemasaran dapat meruoakan sumber dari kelemahan perusahaan.
3. Peluang (Opportunities)
Peluang adalah situasi penting yang mengguntungkan dalam lingkungan perusahaan.
Kecendrungan kecendrungan penting merupakan salah satu sumber peluang,
seperti perubahaan teknologi dan meningkatnya hubungan antara perusahaan dengan
pembeli

atau

pemasokk

merupakan

gambaran

peluang

bagi

perusahaan.

4. Ancaman (Threats)
Ancaman adalah situasi penting yang tidak menguntungan dalam lingkungan
perusahaan. Ancaman merupakan pengganggu utama bagi posisi sekarang atau yang
diinginkan perusahaan. Adanya peraturan-peraturan pemerintah yang baru atau yang
direvisi

dapat

merupakan

2.2.2. Fungsi SWOT

ancaman

bagi

kesuksesan

perusahaan.

Menurut Ferrel dan Harline (2005), fungsi dari Analisis SWOT adalah untuk
mendapatkan informasi dari analisis situasi dan memisahkannya dalam pokok persoalan
internal (kekuatan dan kelemahan) dan pokok persoalan eksternal (peluang dan
ancaman). Analisis SWOT tersebut akan menjelaskan apakah informasi tersebut
berindikasi sesuatu yang akan membantu perusahaan mencapai tujuannya atau
memberikan indikasi bahwa terdapat rintangan yang harus dihadapi atau diminimalkan
untuk memenuhi pemasukan yang diinginkan. Analisis SWOT dapat digunakan dengan
berbagai cara untuk meningkatkan analisis dalam usaha penetapan strategi. Umumnya
yang sering digunakan adalah sebagai kerangka / panduan sistematis dalam diskusi untuk
membahas kondisi altenatif dasar yang mungkin menjadi pertimbangan perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA
Soeprijadi, D., Danarto, S., Kusumandari, A., Riyanto, S., Siswoko, B.W., dan
Wardhana,

W.

2012.

Petunjuk

Praktek

Manajemen

Hutan Perencanaan

Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Yogyakarta. Bagian Manajemen Hutan Fakultas


Kehutanan Universitas Gadjah Mada.
David, Fred R., 2006. Manajemen Strategis. Edisi Sepuluh, Penerbit Salemba Empat, Jakarta