Anda di halaman 1dari 7

KebijakanBerwawasanKesehatan(HealthPublicPolicy)

Adalah kegiatan yang ditujukan kepada para pembuat keputusan/ penentu kebijakan yang
berwawasan kesehatan. Setiap kebijakan pembangunan di bidang apa saja harus
mempertimbngkan dampak kesehatannya bagimasyarakat. Misalnya,orangyang mendirikan
pabrik/industri,sebelumnyaharusdilakukananalisisdampaklingkunganagartidaktercemar
dan tidak berdampak kepada masyarakat. Dalam proses pembangunan adakalanya aspek
kesehetan sering diabaikan, oleh karena itu adanya kebijakan yang berwawasan kesehatan,
diharapkanbisamengedepankanprosespembangunandengantetapmemperhatikanaspekaspek
kesehatan. Kegiatan ini ditujukan kepada para pengambil kebijakan ( policy makers) atau
pembuat keputusan (decision makers) baik di institusi pemerintah maupun swasta. Sebagai
contoh;adanyaperencanaanpembangunanPLTNdidaerahjepara,parapenagmbilkebijakan
dan pembuat keputusan harus benarbenar bisa memperhitungkan untung ruginya. harus
diperhatikan kemungkinan dampak radiasi yang akan ditimbulkan, serta kemungkinan
kemungkinanlainyangbisaberdampakpadakesehatan.
KESEHATAN merupakan salah satu bidang strategis dalam pembangunan. Oleh karena itu,
pembangunan bidang kesehatan harus ditunjang secara sinergis oleh pembangunan bidangbidang lain. Atas dasar ini pula, pemerintah telah menetapkan wawasan kesehatan sebagai asas
pokok program dan misi pembangunan nasional. Maka, partisipasi dan kerjasama lintas sektoral
mutlak diperlukan untuk mewujudkan upaya peningkatan kualitas dan derajat kesehatan
masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan Edwin Effendi mengatakan, pembangunan kesehatan
merupakan salah satu upaya memenuhi hak dasar manusia. Oleh karena itu, masalah kesehatan
harus dipahami sebagai investasi dan menjadi tanggungjawab lintas sektoral. Untuk mewujudkan
masa depan kota yang sehat dan berkualitas, kesadaran seluruh pihak merupakan kunci utama,
sebab sumberdaya kesehatan sesungguhnya hanya bagian kecil dari sistem pembangunan
kesehatan.
Kesehatan harus dipandang sebagai investasi. Maka setiap program pembangunan yang terkait
dengan kesehatan, harus memberikan kontribusi positif. Keberhasilan pembangunan kesehatan
tidak semata-mata ditentukan hasil kerja keras sektor kesehatan, tetapi sangat dipengaruhi oleh
kerja keras dan kontribusi positif berbagai sektor, ujarnya.
Oleh karena itu, kata Edwin, kebijakan Pemerintah Kota Medan dalam pembangunan kesehatan
akan melibatkan berbagai pihak untuk mengelola bidang kesehatan secara optimal, sehingga
pembangunan berwawasan kesehatan bisa terlaksana dan dikedepankan untuk mewujudkan
peningkatan kesejahteraan masyarakat yang sehat.
Sebetulnya, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJPK) tahun 20052025 yang berisi visi, misi dan arah pembangunan kesehatan. Ini menjadi pedoman bagi

pemerintah dan masyarakat termasuk swasta dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di


Indonesia 20 tahun ke depan.
RPJPK sendiri merupakan dokumen perencanaan pembangunan kesehatan nasional di bidang
kesehatan untuk jangka waktu 20 tahun ke depan, ditetapkan sebagai arah dan acuan bagi
pemerintah, masyarakat, swasta dalam mewujudkan tujuan pembangunan kesehatan, sehingga
seluruh upaya pembangunan kesehatan berjalan sinergis.
Pembangunan kesehatan diselenggarakan guna menjamin tersedianya upaya kesehatan, baik
upaya kesehatan masyarakat maupun upaya kesehatan per-orangan yang bermutu, merata, dan
terjangkau oleh masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pengutamaan pada upaya
pencegahan (preventif), dan peningkatan kesehatan (promotif) bagi segenap warga negara
Indonesia, tanpa mengabaikan upaya penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan
(rehabilitatif).
Kesehatan Tersistem
Untuk mendukung terwujudnya pembangunan berwawasa kesehatan, Pemerintah Kota Medan
melalui Dinas Kesehatan saat ini sedang mempersiapkan sistem kesehatan kota. Ini merupakan
implementasi visi dan misi Wali Kota Rahudman Harahap untuk meningkatkan kualitas
kesehatan masyarakat, juga menjadi bagian dari perwujudan amanah undang-undang.
Menurut Edwin, pembangunan kesehatan harus berjalan secara tersistem dan melibatkan seluruh
sektor dan juga harus didukung perangkat hukum. Oleh karena itu, Sistem Kesehatan Kota
Medan ini akan dirangkum dalam sebuah peraturan daerah (perda), yang rancangannya saat ini
sedang dibahas di legislatif. DPRD Medan juga sangat antusias menanggapi rancangan perda
tersebut dan berinisiatif membentuk panitia khusus (pansus) untuk membahas secara mendalam
masalah sistem kesehatan kota. Mudah-mudahan tahun ini selesai dan segera disahkan jadi
Perda, ujar Edwin.
Kepada wartawan beberapa waktu lalu, Ketua Komisi B DPRD Kota Medan Roma P Simaremare mengatakan, Ranperda tersebut diharapkan bisa meningkatkan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat, khususnya Jaminan Pelayanan Kesehatan Medan Sehat (JPKMS). Sebab, selama ini
tidak ada aturan baku terkait pelaksanaannya.
Kami akan membahas Ranperda ini lebih dalam lagi, sehingga ada peningkatan pelayanan
kesehatan bagi masyarakat di Kota Medan dengan satu aturan baku, katanya.
Sementara, ketika membacakan nota pengantar Ranperda sistem kesehatan, Wali Kota Medan
Rahudman Harahap mengatakan, Ranperda Sistem Kesehatan ini diharapkan untuk
memunculkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud

derajat kesehatan masyarakat. Hal ini merupakan investasi bagi pembangunan sumber daya
manusia, ucapnya.
Edwin menjelaskan, dalam Perda itu nantinya akan diatur sistem program pembangunan
kesehatan secara terpadu, sehingga penanganan masalah kesehatan harus bermula dari tindak
pencegahan, menemukan dan pemulihan (rehabilitasi). Sebagai contoh, Pemko Medan
mencanangkan program Medan Bebas Gizi Buruk 2015. Untuk mewujudkan ini, maka gizi
buruk harus dikenali, disentuh dan ditanggulangi oleh sektor-sektor terkait. Seperti saya katakan
tadi, gizi buruk hanya akibat. Jika sudah terjadi, satu-satunya pilihan hanya rehabilitasi. Padahal
penyakit ini bisa dihindari dengan program terpadu, menganut konsep pembangunan
berwawasan kesehatan itu, katanya.
Dia mengatakan, pihaknya akan memberdayakan seluruh potensi untuk mewujudkan tujuan itu.
Puskesmas, misalnya, harus digiatkan fungsinya sebagai penggerak pembangunan berwawasan
kesehatan, pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat, serta pusat pelayanan kesehatan strata
pertama. Selain itu, ada posyandu sebagai wadah potensial bagi masyarakat untuk ikut berperan
aktif mewujudkan kehidupan yang sehat.
Sebagai salah satu subsistem dalam sistem kesehatan, sumberdaya kesehatan, baik tenaga
maupun sarana, akan terus mengawal, mengenali dan mengurus warga yang memerlukan
perlakuan kesehatan. Hal ini akan didukung oleh sub sistem-sub sistem lainnya seperti upaya,
pembiayaan, regulasi, perbekalan dan obat-obatan, sistem informasi dan monitoring atau
evaluasi terhadap seluruh program yang telah dan akan dilaksanakan.
Memang, kata Edwin, konsep kota sehat tidak hanya fokus pada pelayanan kesehatan yang lebih
ditekankan kepada aspek menyeluruh yang mempengaruhi kesehatan masyarakat baik jasmani
maupun rohani. Perkembangan gerakan kota sehat di setiap tempat berbeda satu sama lainnya,
tergantung permasalahan yang dihadapi, sehingga perlu disesuaikan dengan local spesific
(kekususan tempat).
Dalam hal ini, kita akan memberdayakan kearifan lokal untuk mengenali masalah-masalah
kesehatan, katanya.
Pada akhirnya, Edwin berpesan, setiap orang dan masyarakat harus bersinergi dengan pemerintah
serta berkewajiban dan bertanggung jawab memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan
perorangan, keluarga, masyarakat, beserta lingkungannya. Pembangunan kesehatan harus
mampu membangkitkan dan mendorong peran aktif masyarakat. Pembangunan kesehatan harus
berdasar pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri, kepribadian bangsa, semangat
solidaritas sosial, dan gotong royong.

Kesehatan adalah tanggung jawab bersama dari setiap individu, masyarakat, swasta, dan
pemerintah. Kesadaran, kemauan dan kemampuan setiap individu, keluarga dan masyarakat
untuk menjaga kesehatan, memilih dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu sangat
menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan. Minimal, masing-masing pribadi mampu
menjaga agar tidak menjadi sumber penyakit, tutupnya. (pms)
Peran Lintas Sektoral
Dalam konsep pembangunan berwawasan kesehatan, maka secara makro setiap program
pembangunan diharapkan mampu memberikan kontribusi positif terhadap terbentuknya
lingkungan dan perilaku sehat tersebut. Sedang secara mikro, semua kebijakan pembangunan
kesehatan yang sedang dan atau akan diselenggarakan harus mendorong meningkatnya derajat
kesehatan seluruh anggota masyarakat. Di dalam kerangka strategi ini perlu dilakukan kegiatan
sosialisasi, orientasi, kampanye, dan advokasi serta pelatihan sehingga semua sektor
pembangunan berwawasan kesehatan.
Edwin Effendi mencontohkan, sektor pendidikan dalam menjalankan tugas-tugas kependidikan,
seyogianya mampu menciptakan suasana sehat di lingkungan sekolah. Lazim terjadi, toilet
sekolah selalu kotor dan kumuh, yang tentu saja bisa berdampak buruk pada kesehatan peserta
didik. Contoh lainnya, stakeholder pendidikan harus bertanggungjawab memonitoring siswa agar
tidak sembarang jajan di sekitar sekolah, sehingga tidak terjadi kasus keracunan makanan akibat
jajanan yang tidak hiegenis. Saya pikir, tidak salah kalau kita sebutkan bahwa keberhasilan
pendidikan sangat ditentukan oleh tersedianya out-put pendidikan yang sehat, cerdas dan
mandiri, ujar Edwin.
Sektor lain seperti pertanian dan ketahanan pangan, harus secara intensif mewujudkan
ketersediaan pangan, sehingga tidak terjadi gizi buruk. Hal terpenting dari penanganan gizi
buruk adalah tindakan preventif. Gizi buruk muncul dari sebuah kondisi dan itu tidak
sepenuhnya tanggungjawab bidang kesehatan. Setelah terjadi gizi buruk, dia sudah menjadi
penyakit, barulah kita obati atau dipulihkan. Tapi gizi buruk tak akan terjadi jika semua pihak
memiliki wawasan kesehatan. Di sinilah pentingnya paradigma sehat dan konsep kesehatan
mandiri, katanya.
Edwin mencontohkan, tempat yang sangat rentan terhadap pertumbuhan penyakit yakni tempat
pembuangan sampah. Warga perlu bersinergi dengan petugas kebersihan. Warga harus cermat
saat membuang sampah agar tidak berserak di luar tong yang sudah disediakan. Dilain sisi,
petugas kesehatan harus mengangkut sampah secara terjadwal dan tepat waktu, sehingga potensi
munculnya penyakit dapat ditekan sekecil mungkin.
Bukan hanya pemerintah, swasta dan pengusaha juga harus berperan. Kesehatan dan
kesejahteraan pekerja harus dipahami sebagai investasi. Lingkungan yang sehat, karyawan yang
dinamis, tentu itu akan berdampak pada peningkatan produktivitas. Kondisi ini tentu akan
membawa harapan segar bagi pembangunan ekonomi. Misalnya, tukang bengkel jangan

membuang sisa oli sembarangan. Guru mengajarkan pentingnya budaya sehat, wartawan menulis
tentang wawasan kesehatan. Jadi , semua pemangku harus terlibat, sehingga terwujud
pembangunan berwawasan kesehatan, mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat,
memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan terjangkau,
ujarnya. (pms)
JAMPERSAL
Menteri Kesehat an akhirnya mengeluarkan petunjuk teknis (juknis) mengenai jaminan
persalinan (jampersal). Juknis ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia nomor 631/Menkes/per/ iii/2011 Tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan.
Diterbitkannya Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan ini untuk digunakan sebagai acuan
penyelenggaraan program Jaminan Persalinan. Petunjuk Teknis ini merupakan bagian tak
terpisahkan dari Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).
Petunjuk Teknis ini telah disusun bersama-sama secara lintas sektor dan lintas program
serta masukan dari ikatan profesi dan pelaksana program di daerah. Kepada semua pihak yang
memberikan kontribusinya saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya. Semoga petunjuk
teknis ini bermanfaat dalam mendukung upaya kita untuk mewujudkan masyarakat sehat yang
mandiri dan berkeadilan.
Sebagaimana diketahui, dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan
kesehatan nasional serta Millennium Development Goals (MDGs), pada tahun 2011 Kementerian
Kesehatan meluncurkan kebijakan jampersal.
Dari beberapa pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta MDGs,
pihaknya menghadapi berbagai hal yang multi kompleks seperti masalah budaya, pendidikan
masyarakat, pengetahuan, lingkungan, kecukupan fasilitas kesehatan, sumberdaya manusia dan
lainnya.
Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan
tantangan yang lebih sulit dicapai dibandingkan target MDGs lainnya
Oleh karena itu, upaya penurunan AKI tidak dapat lagi dilakukan dengan intervensi biasa,
diperlukan upaya-upaya terobosan serta peningkatan kerjasama lintas sektor untuk mengejar
ketertinggalan penurunan AKI agar dapat mencapai target MDGs.
Salah satu faktor yang penting adalah perlunya meningkatkan akses masyarakat terhadap
persalinan yang sehat dengan cara memberikan kemudahan pembiayaan kepada seluruh ibu
hamil yang belum memiliki jaminan persalinan.

Jaminan Persalinan ini diberikan kepada semua ibu hamil agar dapat mengakses
pemeriksaan persalinan, pertolongan persalinan, pemerikasaan nifas dan pelayanan KB oleh
tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan sehingga pada gilirannya dapat menekan angka kematian
ibu dan bayi.
JAMKESMAS
Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) adalah program pelayanan kesehatan gratis
bagi masyarakat miskin yang sebelumnya disebut Asuransi Kesehatan untuk Masyarakat Miskin
(Askeskin).
Program yang dimulai pada tahun 2008 ini dilanjutkan pada tahun 2009 karena (menurut
pemerintah) terbukti meningkatkan akses rakyat miskin terhadap layanan kesehatan gratis.
Program itu nantinya terintegrasi atau menjadi bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional yang
bertujuan memberi perlindungan sosial dan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat. Jika
Sistem Jaminan Sosial Nasional(SJSN) efektif diterapkan di Indonesia, program Jamkesmas
akan disesuaikan dengan sistem itu. Salah satunya, pengaturan proporsi iuran pemerintah pusat
dan daerah untuk pembiayaan pemeliharaan kesehatan rakyat miskin.
Strategi kesehatan di Indonesia:

Mewyjudkan komitmen pembangunan kesehatan

Meningkatkan pertanggungjawaban dan pertanggunggugatan

Membina sistem kesehatan dan sistem hukum di bidang kesehatan

Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan

Melaksanakan jejaring pembangunan kesehatan


Dr. Wasis Budiarto, MS menyatakan perubahan paradigma sentralisasi menjadi
desentralisasi memberikan konsekuensi terhadap pergeseran orientasi pelayanan dari kuratifrehabilitatif menjadi preventif-promotif, pendekatan fisik organik menjadi pendekatan paradigma
sehat yang holistik dengan pendekatan masyarakat, pasif-reaktif dan individual centered menjadi
proaktif dan community centered. Lebih lanjut dikemukakan, perubahan paradigma pelayanan
kesehatan juga berdampak pada terjadinya pergeseran orientasi pembiayaan dan anggaran
kesehatan. Semula berorientasi pada pembiayaan out of pocket ke sistem prabayar dan asuransi.
Terlihat bahwa sistem kesehatan sekarang ini merupakan sistem yang terintegrasi antara

pelayanan, pembiayaan, jaminan mutu (quality assurance) dan pengendalian biaya (cost
containment).

KEBIJAKAN publik berwawasan kesehatan adalah seperangkat kebijakan, peraturan maupun


regulasi yang menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan. Adanya kebijakan publik
ini akan mendorong segera terwujudnya lingkungan fisik, maupun lingkungan sosial budaya
yang mendukung, yang memungkinkan setiap insan hidup dalam lingkungan dan perilaku yang
sehat.
Kebijakan publik yang berwawasan kesehatan diharapkan mampu mendorong setiap sektor,
utamanya sektor pemrintah untuk senantiasa mengedepankan pentingnya kesehatan dalam setiap
formulasi kebijakan.