Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

KANKER OVARIUM
Pengertian
Kanker ovarium adalah terjadinya pertumbuhan sel-sel abnormal (kanker) pada satu
atau dua bagian indung telur. Kanker ovarium merupakan tumor dengan histogenesis yang
beragam, tumor tersebut dapat berasal dari ketiga dermoblast (ectodermal, endodermal,
mesodermal) memiliki sifat-sifat histologis maupun biologis yang beraneka ragam (Smeltzer
& Bare, 2002).
Faktor Resiko Kanker Ovarium
Faktor resiko umum

1.

Diet tinggi lemak

Merokok

Alkohol

Riwayat kanker kolon, endometrium

Nulipara

Infertilitas

Menstruasi dini

Tidak pernah melahirkan

Faktor genetik
Riwayat keluarga menjadi salah satu faktor seorang wanita bisa terkena kanker

ovarium. Pada umumnya kanker ovarium epitel bersifat sporadis, 5-10% dan meningkat
menjadi 7% apabila saudara kandung telah menderita kanker ovarium. Data lain
menyebutkan riwayat keluarga dapat mempengaruhi sebesar 10% (American Cancer Society,
2011)
2.

Usia
Angka kejadian kanker ovarium meningkat dengan seiringnya pertambahan usia.

Kanker ovarium umumnya ditemukan pada usia 40 tahun ke atas. Sebanyak 60% penderita
kanker ovarium penderita berusia 40 tahun ke atas dan sebanyak 60% berusia lebih muda.
Kanker ovarium banyak diderita setelah memasuki masa monopause. (American Cancer
Society, 2011)

3. Paritas
Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh seorang wanita. Ibu
yang mengalami paritas banyak, memiliki kecenderungan untuk resiko kanker ovarium
(Dewi, 2008). Adapun klasifikasi paritas, yaitu:
Nullipara (wanita yang belum pernah melahirkan sama sekali)
Primiara (wanita yang telah melahirkan seorang anak)
Multipara (wanita yang pernah melahirkan bayi hidup beberapa kali)
Grandemultipara (wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih)
4. Faktor hormonal
Penggunaan hormon estrogen pada terapi hormone yang dilakukan oleh wanita
menjelang menopause maupun yang sedang mengalami menopause berhubungan dengan
peningkatan risiko kanker ovarium baik dari insidensi maupun tingkat mortalitasnya.
Peningkatan risiko secara spesifik terlihat pada wanita dengan penggunaaan hormon estrogen
tanpa disertai progesteron karena peran progesteron yaitu menginduksi terjadinya apoptosis
sel epitel ovarium. Pada kehamilan, tingginya kadar progesteron akan membantu menurunkan
risiko tumor ganas ovarium. (Cannistra SA, 2009)
5. Faktor Reproduksi
Riwayat reproduksi terdahulu serta durasi dan jarak reproduksi memiliki dampak
terbesar pada penyakit ini. Infertilitas, menarche dini (sebelum usia 12 tahun), memiliki anak
setelah usia 30 tahun dan menopause yang terlambat dapa tjuga meningkatkan risiko untuk
berkembang menjadi kanker ovarium.
Pada kanker ovarium, terdapat hubungan jumlah siklus menstruasi yang dialami
seorang perempuan sepanjang hidupnya, di mana semakin banyak jumlah siklus menstruasi
yang dilewatinya maka semakin tinggi pula risiko perempuan terkena kanker ovarium.
(Coughlinn SS, 2009)
6. Pil Kontrasepsi
Kontrasepsi berarti mengurangi kemungkinan atau mencegah konsepsi.Penggunaan
kontrasepsi merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang cukup penting pada
wanita saat ini. Pada tahun 2005, megacu kepada United Nation di mana lebih dari 660 juta
wanita yang menikah atau hidup bersama pada usiaproduktif (15-49 tahun) menggunakan
beberapa metode kontrasepsi dan 450 juta orang menggunakan kontrasepsi oral dan
Intrauterina Devices (IUD).
Penelitian dari Center for Disease Control menemukan penurunan risiko terjadinya
kanker ovarium sebesar 40% pada wanita usia 20-54 tahun yang memakai pil kontrasepsi,

yaitu dengan risiko relatif 0,6. Penelitian ini juga melaporkan bahwa pemakaian pil
kontrasepsi selama satu tahun menurunkan risiko sampai 11%, sedangkan pemakaian pil
kontrasepsi sampai lima tahun menurunkan risiko sampai 50%. Penurunan risiko semakin
nyata dengan semakin lama pemakaiannya.
7. Kerusakan sel epitel ovarium (Incessant Ovulation )
Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Fathalla tahun 1972, yang menyatakan
bahwa pada saat ovulasi, terjadi kerusakan pada sel-sel epitel ovarium. Untuk penyembuhan
luka yang sempurna diperlukan waktu. Jika sebelum penyembuhan, terjadi lagi ovulasi atau
trauma baru, proses penyembuhan akan terganggu dan tidak teratur sehingga dapat
menimbulkan proses transformasi menjadi sel-sel tumor. (Cannistra SA, 2009)
8. Obat-Obat yang Meningkatkan Kesuburan (Fertility Drugs )
Obat-obat yang meningkatkan fertilitas seperti klomifen sitrat, yang diberikan secara
oral, dan obat-obat gonadotropin yang diberikan dengan suntikan seperti follicle stimulating
hormone (FSH), kombinasi FSH dengan Luteinizing hormone (LH), akan menginduksi
terjadinya ovulasi atau multiple ovulasi. Pemakaian obat penyubur tersebut dapat
meningkatkan resiko relatif terjadinya kanker ovarium. (Kurageorgi, et al, 2010)
9. Penggunaan Bedak Tabur
Penggunaan bedak tabur langsung pada organ genital atau tissue pembersih bersifat
karsinogenik (menyebabkan kanker) terhadap ovarium. Selain itu, bedak tabur juga
mengandung asbes yaitu bahan mineral penyebab kanker. (Huncharek M. et al, 2003).
Tanda dan Gejala Kanker Ovarium
Tanda dan gejala terjadinya kanker ovarium seringkali tidak terlihat sampai masa
perkembangan akhir. Keluhan yang sering muncul terkait dengan kanker ovarium yaitu,
keluhan ketidaknyamanan pada perut, ketidaknyamanan panggul, nyeri, atau pembesaran,
sakit punggung, gangguan pencernaan, ketidakmampuan untuk makan normal, perut terasa
penuh setelah makan dengan porsi sedikit, rasa kembung, sembelit, inkontinensia urin, atau
penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan. Terjadinya tanda kanker ovarium
cenderung progresif, terus-menerus, sering dan berat. dan mungkin terjadi selaras dengan
gejala lainnya. Tanda yang paling umum adalah pembesaran di perut akibat akumulasi cairan
(asites). Kanker ovarium merupakan neoplasma yang berkembang pesat, sehingga diagnosis
tidak dibuat sampai terjadi penyebaran kanker.

PadaCaovariuminibanyakyangtidakmenunjukkangejaladikarenakanovarium
yangkecil.Sebagianbesartandadangejalaakibatdaripertumbuhan,aktivitasendokrin,dan
komplikasitumor.
a. Adanya tumor di dalam perut bagian bawah bisa menyebabkan pembengkakan pada
perut. Tumor yang membesar dapat menekan oang-organ yang ada disekitar. Apabila
tumor membesar an mendesak kandung kemih maka akan mengakibatkan gangguan
miksi sedangkan tumor yng terletak di dalam rongga perut terkadang menimbulkan
rasa berat dalam perut dan mengakibatkan obstipasi edema pada tungkai.
b. Akibat aktivitas hormonal
1) Tumor ovarium tidak mengubah pola haid kecuali tumor itu sendiri mengeluarkan
hormon
c. Akibatkomplikasi
1) Perdarahandidalamkista
Biasanyaterjadisedikitdemisedikit yangkemudianmenyebabkanpembesaran
lukadanhanyamenimbulkan gejalagejala klinikyangminial. Akantetapibila
perdarahterjadidalamjumlahyangbanyakdapatmenimbulkannyeri.
2) Putarantangkai
Terjadipadatumorbertangkaidengandiameter5cmataulebih.Adanyaputaran
tangkai menibulkan tarikan melalui ligamentum infundibelopelvikum terhadap
peritoneumparietaldaninimenimbulkanrasasakit
3) Infeksipadatumor
Terjadibilatumorberadapadasumberkumanpathogen.Kistadermoidcenderung
mengalamiperadangandisusulpenanahan.
4) Robekdindingkista
Terjadipadatorsitangkai,tetaijugadapatterjadikarenatraumasepertijatuhatau
pukulanpadaperutdanjugapadasaatmelakukanhubunganseks.Jikarobekan
kistaterjadi
5) Perubahankeganasan
Setelahtumordiangkatperludilakukanpemeriksaanmikroskopisyangseksama
terhadap kemungkinan perubahan keganasan. Adanya asites dalam hal ini
mencurigakan,adanyametastasimemperkuatdiagnosakeganasan

Patofisiologi
Patofisiologi
Zat karsinogenik
Zat onkogen
Masuk ke tubuh
Aktivitas zat onkogen
Antionkogen inadekuat
Kanker ovarium
Kerusakan
intergritas jaringan

Merangsang zat vaso aktif


histamin, bradikininin
prostaglandin
Merangsang ujung
saraf bebas
nyeri

respon makrofag
terhadap kanker
Sekresi hormon

Mudah perdarahan

Perubahan ovarium dapat bermetastase ke


organ lain

anemia

kahektin
Hipermetabolik
penyimpanan lemak

Kurangnya
pembentukan
energi

BB turun

kelelahan

Gangguan pemenuhan
nutrisi

pertumbuhan sel abnormal

Perubahan
penampilan dan
peran
Gangguan citra
tubuh dan harga
diri

Perubahan fungsi organ

Perubahan fungsi
hormonal
Resiko disfungsi seksual

Stadium Kanker Ovarium


Stadium kanker ovarium menurut International Federation of Gynecology and Obstetrics
(FIGO), yaitu:
Stadium kanker

Kategori

ovarium primer
(FIGO, 2014)
Stadium I
Ia

Pertumbuhan terbatas pada ovarium


Pertumbuhan terbatas pada satu ovarium, tidak ada asites
yang berisi sel ganas, tidak ada pertumbuhan di permukaan

Ib

luar, kapsul utuh


Pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium, tidak ada asites
berisi sel ganas, tidak ada tumor di permukaan luar, kapsul

Ic

intak.
Tumor dengan stadium Ia atau Ib tetapi ada tumor di
permukaan luar satu atau kedua ovarium, atau dengan kapsul
pecah, atau dengan asites berisi sel ganas atau dengan

Ic1
Ic2

bilasan peritoneum positif.


Surgical spill
Kapsul mengalami rupture sebelum operasi tumor pada

Ic3
Stadium II

permukaan ovarium
Sel maligna pada ascites atau pembersihan peritoneal
Pertumbuhan pada satu atau kedua ovarium dengan

IIa

perluasan ke panggul.
Perluasan dan/atau metastasis ke uterus dan/atau tuba.

IIb

Perluasan ke jaringan pelvis lainnya.

IIc

Tumor stadium IIa atau IIb tetapi dengan tumor pada


permukaan satu atau kedua ovarium, kapsul pecah, atau
dengan asites yang mengandung sel ganas atau dengan

Stadium III

bilasan peritoneum positif.


Tumor mengenai satu atau kedua ovarium, dengan bukti
mikroskopik metastasis kavum peritoneal di luar pelvis,
dan/atau metastasis ke kelenjar limfe regional.

IIIa

Tumor terbatas di pelvis kecil dengan kelenjar getah bening


negatif tetapi secara histologik dan dikonfirmasi secara
mikroskopik adanya pertumbuhan (seeding) di permukaan

IIIb

peritoneum abdominal.
Tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant di
permukaan peritoneum dan terbukti secara mikroskopik,
diameter tidak melebihi 2 cm, dan kelenjar getah bening

IIIc

negatif.
Implan di abdomen dengan diameter > 2 cm dan/atau

Stadium IV

kelenjar getah bening retroperitoneal atau inguinal positif


Pertumbuhan mengenai satu atau kedua ovarium dengan
metastasis jauh. Bila efusi pleura dan hasil sitologinya
positif dimasukkan dalam stadium IV. Begitu juga
metastasis ke parenkim liver.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang harus dilakukan, yaitu:
1.

Laparaskopi yaitu untuk mengetahui apakah sebuah kista berasal dari ovarium atau tidak,
serta untuk menentukan sifat-sifat kista,

2.

Ultrasonografi untuk menentukan letak dan batas kista, apakah kista berasal dari uterus,
ovarium, atau kandung kencing, apakah kista kistik atau solid, dan dapat pula dibedakan
antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang tidak,

3.

Foto Rontgen yaitu pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks.
Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat adanya gigi dalam kista,

4.

Parasentesis yaitu pungsi asites berguna untuk menentukan sebab asites. Perlu
diperhatikan bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan kavum peritonei dengan isi
kista bila dinding kista tertusuk.

Pencegahan Kanker Ovarium


Karena penyebabnya yang belum diketahui, pencegahan kanker ovarium pun tidak bisa
dilakukan secara pasti. Meski demikian, ada beberapa hal yang dapat menurunkan risiko Anda

terkena kanker ini, terutama metode yang bisa menghentikan proses ovulasi. Langkah-langkah
tersebut meliputi:
1. Menggunakan kontrasepsi dalam bentuk pil. Konsumsi pil kontrasepsi selama lima tahun
terbukti dapat mengurangi risiko kanker ovarium hingga setengahnya.
2. Menjalani kehamilan dan menyusui.
3. Menerapkan gaya hidup yang sehat agar terhindar dari obesitas. Contohnya, teratur
berolahraga dan memiliki pola makan yang sehat dan seimbang.
4. Pola makan seimbang, batasi makanan berlemak.
5. Pemeriksaan ginekologi atau USG secara rutin
6. Laktasi berkepanjangan.
7. Meningkatkan aktivitas fisik.
Penatalaksanaan
Sebagian besar kanker ovarium memerlukan pengobatan dengan kemoterapi. Hanya
kanker ovarium stadium awal saja (stadium 1a dan 1b dengan derajat diferensiasi sel yang
baik/sedang) yang tidak memerlukan kombinasi pengobatan. Kemoterapi diberikan sebanyak 6
seri dengan interval 3 - 4 minggu sekali dengan melakukan pemantauan terhadap efek samping
kemoterapi secara berkala terhadap sumsum tulang, fungsi hati, fungsi ginjal, sistem saluran
cerna, sistem saluran cerna, sistem saraf dan sistem kardiovaskuler.
1. Penatalaksanaan yang sesuai dengan stadium yaitu :
2. Operasi (stadium awal)
3. Kemoterapi (tambahan terapi pada stadium awal)
4. Radiasi (tambahan terapi untuk stadium lanjut)
Pengkajian Keperawatan
a. Identitas klien
- Nama, usia, tanggal lahir, suku bangsa, agama, diagnosa medis, pendidikan, pekerjaan,
lamanya perkawinan, tanggal pengkajian, alamat
- Nama suami/ penanggungjawab, pendidikan, pekerjaan, alamat
b. Keluhan utama (alasan datang ke RS)
- Nyeri akut atau kronis pada abdomen
c. Riwayat kesehatan sekarang

- Klien datang dengan keluhan nyeri dan lingkar abdomen yang semakin membesar,
yang dapat dijabarkan dengan PQRST.
d. Riwayat kesehatan dahulu
- Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga, apakah pasien pernah mengalami hal yang
demikian. Selain itu juga ditanyakan siklus menstruasi, obstetric, dan perkawinan.
e. Riwayat kesehatan keluarga
- Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau
penyakit kanker lainnya.
f. Riwayat kontrasepsi
Jenis dan lamanya menggunakan alat kontrasepsi
Dimana pasangnya?
Apakah ada keluhan selama memakai kontrasepsi
g. Aktifitas hidup sehari-hari (ADL)

Nutrisi dan cairan : frekuensi, pola, porsi/ menu, pantangan


Eliminasi BAB dan BAK
Istirahat dan tidur : pola lamanya, keluhan yang mengganggu
Aktivitas
Personal hygiene

h. Riwayat psikososial
- Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan
bagaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker ovarium.
- Psikologis : status emosi, koping mekanisme, dan penerimaan.
- Spiritual : agama dan kepercayaan, pengaruh pemuka agama.
i. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : penampilan, GCS, lemah/ letih, BB dan TB
Tanda-tanda vital (RR, S, TD, nadi)
Kepala, muka, dan leher
Dada; jantung, paru, payudara
Abdomen
- Palpasi : nyeri abdomen, nyeri punggung bawah
Genitalia
- Inspeksi : Perdarahan, keputihan
- Pada pemeriksaan dalam bisa teraba ada benjolan bila tumor telah membesar.

Ekstremitas

Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


1.
2.

Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.


Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan

3.

hipermetabolik dan represi lemak.


Gangguan citra tubuh dan harga diri berhubungan dengan perubahan dalam penampilan
fungsi dan peran.

4.

Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur atau
fungsi tubuh, perubahan kadar hormon.

DAFTAR PUSTAKA
American Cancer Society. 2011. Cancer Facts And Figures
Bobak, Lowdermilk, & Jensen. (2004). Buku Ajar Keperawatan Maternitas, alih bahasa Maria A.
Wijayarini, Peter I. Anugrah (Edisi 4). Jakarta: EGC.
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta
Cannistra SA. 2009. Cancer of The Ovary. Nursing Eng Journal Medical
Coughlinn SS. 2009. Menopausal Hormone Therapy And Risk Of Ephitelial Ovarium Cancer.
Cancer Epidemiol Biomarkers Prev
Derek, Liewellyn-Jones.2001. Dasar-dasar Obstetri Dan Ginekologi. Alih Bahasa: Hadyanto,
Ed. 6. Hipokrates, Jakarta
Dewi. 2008. Rerata Usia Manarkhe Wanita Indonesia: Tinjauan Kesehatan Reproduksi Wanita
Indonesi. Journal UI
Heardman. (2011). Diagnosa Keperawatan. Jakarta. EGC.
Huncharek M. Greschwind JF, Kupelnick B. 2003. Perineal Application Of Cosmetic Talc And
Risk Of Invasive Ephitelial Ovarium Cancer. Anticancer Resources
Kurageorgi, et al. 2010. Reproductives Factors And Postmenopausal Hormone Use In Relation
To Endometrial Cancer Risk In The Nurses Health Study Cohort. Int Journal Cancer
Langseth H,et al. 2008. Perineal Use Of Talc And Risk Of Ovarium Cancer. Journal Epidemiol
Community Health
Prawirohardjo2005.IlmuKebidanan.Jakarta:yayasanBinaPustaka
Sjamjuhidayat & Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC.
Smelzer & Bare. (2002). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC