Anda di halaman 1dari 7

Resume halaman 108 - 116

Dwi Surya Artie (1401037)


1. Teori Sliding Filamen
Salah satu faktor penyebab otot dapat berkontraksi adalah ketika adanya
kenaikan konsentrasi Ca2+ dalam sitosol dan ketersediaan ATP yang ada di dalam sel.
Sewaktu otot berkontraksi, konsentrasi Ca2+ di dalam sel akan meningkat dan akan
diikat oleh protein troponin yang selanjutnya menyebabkan tropomiosin berkontraksi
dan membuka sisi actin yang memiliki binding site sebagai reseptor cross-bridge.
Setelah binding site terbuka, cross-bridge akan melekat pada reseptor. Proses ini
dipengaruhi oleh adanya ATP yang dihidrolisis menjadi ADP dan Phosphat,
menyebabkan cross-bridge memanjang dan dapat melakukan kontak dengan bindingsite pada actin dan menggerakkan actin selama proses kontraksi otot berlangsung.
Setelah ADP dan phosphat pada cross-bridge lepas, cross-bridge yang asalnya
berkontak dengan binding site actin, akan kembali pada posisi semulanya yang
tidakmemanjang berhubungan pada binding site actin.

Gambar 1. Mekanisme kontraksi otot


(sumber : deborafilifos.blogspot.com)
Pada setiap kali otot melakuka kontraksi, sebagian cross bridge kurang lebih
50% melakukan pendayungan dan sisanya melekat pada reseptor actin dan baru
melakukan pendayungan. Gerakan pendayungan inilah yang menyebabkan otot dapat
berkontraksi sehingga zona H mengecil dari kedua arah, dan garis Z saling mendekat.
Disini tidak terjadi pemendekan daripada myofilamen tipis maupun tebal, hanya

terjadi pergeseran antara myofilamen tipis maupun tebal sehingga otot dapat
berkontraksi.
2. Kontrol Kontraksi Otot
Dalam keadaan istirahat, protein tropomiosin yang ada pada actin akan
menutupi binding site atau reseptor cross-bridge miosin, tetapi bila kadar Ca 2+ dalam
sitosol meningkat (terjadi pada saat otot terangsang), maka Ca 2+ akan berikatan
dengan protein troponin menyebabkan protein tropomiosin tersingkap dan membuka
binding site, dengan demikian cross-bridge dapat melekatkan diri pada reseptor yang
sudah tidak terlindung tropomiosin dan terjadilah pendayungan sehingga otot dapat
berkontraksi.
Makin tinggi kadar Ca2+ dalam sitosol, makin banyak tropomiosin yang
tersingkap, makin kuat pula kontraksi otot yang terjadi, begitu juga sebaliknya. Otot
akan terangsang bisa mendapatkan impuls yang berasal dari sel syaraf, selanjutnya
akan timbul potensial aksi (depolarisasi) pada sarcolemma. Depolarisasi ini akan
menjalar melalui tubulus T dan mempengarhui retikulum sarcoplasma yang ada di
dekatnya untuk melepaskan Ca2+ ke dalam sitosol, sehingga kadar Ca2+ sitosol
meningkat dan otot berkontraksi.
3. Relaksasi Otot

Gambar 2. Keadaan relaksasi dan kontraksi dari sakromer


(sumber : thelifeofapremed.tumblr.com)
Pada membran dari retikulum sarcoplasma terdapat protein yang bertindak
sebagai carier dalam transport Ca2+ . Carier ini memompa kembali Ca2+ dari sitosol ke
dalam retikulum sarcoplasma dengan menggunakan ATP yang diambil dari sekitarnya
sehingga cross-bridge akan lepas dari binding site aktin, maka otot akan relaksasi
kembali.

4. Energi
ATP adalah sumber energi yang dapat segera digunakan oleh semua sel
termasuk sel otot untuk dapat berkontraksi. Proses pembentukan ATP melalui
phosporilasi oksidatif dari molekul glukosa, melewati berpuluh puluh reaksi (dari
glikolisis hingga rantai transport elektron) yang berkesinambungan di dalam sel untuk
merubah glukosa + O2 menjadi CO2 + H2O + energi. Energi yang dihasilkan sebagian
disimpan dalam bentuk molekul ATP. Di dalam sel otot ATP berikatan dengan crossbridge (zona M) membentuk sisi myosin aktif dan merubah ATP ADP + p. Bila sisi
Myosin aktif berikatan dengan reseprot pada aktin makan dilepaskan energi berupa
pergeseran myofilamen dan otot berkontraksi.

Gambar 3. Creatin Phosphat sebagai cadangan ATP


(Sumber : david-bender.co.uk)
Ketika pada saat berolahraga ataupun kerja fisik yang berat, maka cadangan
ATP memiliki kemungkinan tidak akan mencukupi, untuk itu untuk menambah
cadangan ATP dengan segera, tubuh mempunyai senyawa lain yang digunakan
sebagai cadangan yaitu creatin phosphat.
Creatinkinase
Creatin phosphat + ADP ==================== Creatin + ATP
Ketika sewaktu istirahat ATP akan dibentuk oleh sel otot, konsentrasi ATP
tinggi sehingga reaksi bergeser ke kiri maka akan dibentuk banyak creatin phosphat,
namun ketika olahraga dengan terbentuknya ADP maka reaksi akan bergeser ke kana,
sehingga akan terbentuk ATP dan creatin.
5. Rigor Mortis
Rigor mortis adalah keadaan dimana sel sel otot dari orang yang sudah mati
tidak lagi memproduksi ATP, sehingga cross-bridge yang ada masih memungkinkan
mampu mengikat diri dengan binding site actin, tetapi tidak dapat melakukan

pelepasan karena ATP yang tidak dihasilkan lagi sehingga actin dan myosin melekat
kuat satu sama lain, menyebabkan otot pada orang mati menjadi kaku. Biasanya
terjadi ketika 3 4 jam setelah meninggal dunia, dan akan mencapai puncak setelah
12 jam dan menghilang lagi setelah 48-60 jam.
6. Unit Motoris
Sel sel syaraf yang menginervasi (mensyarafi) otot skelet disebut dengan
neuron motoris yang terletak pada batang otak ataupun medulla spinalis, aksonnya
bermyelin. 1 sel syaraf motoris dapat menginervasi banyak sel otot skelet, tetapi
setiap otot hanya diinervasi oleh 1 sel syaraf motoris saja. Unit motoris adalah neuron
motoris ditambah dengan sel sel otot yang diinervasinya. Perangsangan 1 sel syaraf
motoris akan menyebabkan seluruh sel otot dalam 1 unit motoris berkontraksi penuh,
begitu juga sebaliknya ketika otot sedang beristirahat. Makin banyak unit motoris
yang berkontraksi, makin kuat pula kontraksi otot yang terjadi.
Sewaktu impuls mencapai ujung ujung akson, ujung ujung akson akan
mengeluarkan senyawa kimia (neurotransmitter) yang disebut Acetylcholin.
Acetylcholin ini akan berdifusi melewati celah antara akson dan motor end-plate,
kemudian akan berikatan dengan reseptor pada motor end-plate menyebabkan
terbukanya channel ion Na+ dan K+ menimbulkan depolarisasi membran otot yang
kemudian menimbulkan serangkaian reaksi yang menyebabkan terjadinya kontraksi
otot. Motor end-plate mengandung enzym acetylcholin-esterase yang memecahkan
acetylcholin. Bila kadar acetylcholin pada synaps menurun, maka membran plasma
sel otot kembali ke dalam keadaan potensial istirahat dan otot berhenti berkontraksi.
Curare
; merupakan sejenis anak panah orang indian yang
mengandung zat yang dapat berikatan erat dengan reseptor
acetylcholin tetapi tidak menimbulkan depolarisasi dan juga tidak
dapat diuraikan oleh acetylcholin esterase, menyebabkan kelumpuhan

otot dan kematian disebabkan oleh gagalnya otot pernapasan


Racun Botulinus : merupakan racun hasil produksi Clostridium
botulinum yang dapat menghalangi pelepasan acetylcholin dari ujung
ujung syaraf ke otot sehingga sering menimbulkan kematian pada

keracunan makanan.
Gas syaraf organophosphat : merupakan zat yang dapat menghambat
acetylcholin-esterase, hal ini akan menghalangi repolarisasi dari
membran plasma sel otot dan sel otot tidak akan berkontraksi lagi
terhadap impuls impuls baru sehingga menyebabkan kelumpuhan.

Myasthenia gravis : merupakan penyakit di mana reseptor


acetylcholin menurun jumlahnya sehingga otot menjadi lemah dan

lumpuh.
7. Kontraksi Isometris
Bila otot berusaha mengangkat benda berat yang tak mampu diangkatnya, otot
tersebut bertambah ketegangannya tetapi tidak mengalami pemendekan, dan energi
akan dikeluarkan ketika usaha dilakukan.
8. Kontraksi Isotonis
Bila waktu kontraksi, otot akan memendek dan mengangkat suatu beban,
ketegangan otot tetap dan energi akan dikeluarkan. Bila suatu otot dirangsang 1 kali,
setelah suatu periode laten akan timbul suatu periode kontraksi dilanjutkan dengan
periode relaksasi. Kontraksi ini disebut twitch.
Potensial aksi pada membran sel otot (depolarisasi) berlangsung 1-2 mili detik
tetapi respon (kontraksi) otot dapat sampai 100milidetik.
9. Jenis Otot Skelet
Tubuh manusia memiliki lebih dari 600 otot yang mencakup kurang lebih 45%
berat badan. Otot otot dalam tubuh mempunyai waktu lamanya untuk berkontraksi,
ada yang tergolong dalam otot cepat dan ada yang tergolong dalam otot lambat. Otot
mata merupakan contoh otot cepat karena memiliki waktu lamanya kontraksi kurang
lebih 1/100 detik, sedangkan otot gastronemius termasuk dengan otot lambat karena
memiliki kecepatan kontraksi 1/30 detik.
Otot cepat diduga mempunyai M-aktif ADP.Pi yang lebih cepat melakukan
pengikatan dan pelepasan cross-bridge dengan binding site. Otot cepat memiliki
banyak reticulum sarcoplasma sehingga akan lebih cepat dalam pengeluaran Ca2+,
mitokondrianya sedikit tetapi banyak mengandung glikogen dan enzim enzim
glikolisis untuk menghasilkan ATP secara cepat agar dapat secepatnya digunakan
dalam proses kontraksi otot. Otot cepat biasanya berwarna putih dan lebih mudah
lelah, sel sel otot ini disebut pula dengan serat glikolitik.
Otot lambat lebih banyak mengandung mitokondria, kapiler kapiler
darahnya banyak untuk menjamin suplai O2 dan bahan bakar. Sel sel mengandung
protein yang bisa mengikat O2 disebut dengan myoglobin sehingga memberi
cadangan O2. Otot otot ini dapat berkontraksi lama dan tidak mudah lelah. Otot ini
berwarna merah karena banyak mengandung myoglobin dan kapiler darah.

Sewaktu janin myoblast yang kecil berinti tunggal dan berdifusi menjadi sel
otot yang berinti banyak dan silindris, kemudian membentuk myofilamen actin dan
myosin. Setelah bayi dilahirkan sel sel otot ini tidak akan lagi dapat membelah
tetapi dapat bertambah diameter, panjang dan volumenya. Walau begitu sel sel otot
masih dapat dibentuk dari sel sel primitif yang ada di sekitar sel otot, namun dalam
kapasitas rendah. Maka kerusakan otot setelag lahir tidak dapat sembuh dengan
sempurna.
10. Otot dan Olahraga
Olahraga dapat mempertinggi kemampuan sistem sirkulasi darah dan sistem
pernapasan, juga membuat otot menjadi semakin kuat. Semua ini mempertinggi
kapasitas daya tahan dari otot itu sendiri dan agar tidak mudah cepat lelah. Olahraga
dalam intensitas yang rendah tetapi lama (aerobik) dapat memperbanyak kapiler
kapoler pada otot dan mitokondria dengan enzim enzim oksidatif phosphorilasi
untuk dapat menghasilkan ATP. Sering kali orang yang berolahraga aerobik memiliki
tubuh yang langsing dan kecil. Olahraga yang keras intensitasnya dan tidak lama
(anaerobik), misalnya angkat besi, bisa mempengaruhi otot otot cepat, actin myosin
dan myofibril bertambah, enzim enzim glikolisis yang cepat menghasilkan ATP
tanpa bantuan O2 bertambah. Otot otot ini membesar dan sangat kuar, tetapi tidak
tahan lama dan cepat lelah. Sering kali orang yang berolahraga anaerobik memiliki
tubuh yang besar dan kekar.
11. Kecapaian (Fatique)
Otot dapat mengalami kelelahan bila terus menerus berkontraksi secara cepat
dan kuat, lama lama akan berkurang kekuatan kontraksinya.
Beberapa faktor yang mempengaruhi kelelahan otot diantaranya :
Penimbunan zat zat sampah yang bersifat racun (CO2, asam laktat

dll)
Kekurangan glukosa dalam sel otot, katabolisme glukosa yang tidak

lancar.
Gangguan kardiovaskuler sehingga mengurangi suplai O2, bahan bakar

dan penurunan pengeluaran sampah sampah metabolisme.


Gangguan sistem respirasi yang mengurangi O2
12. Produksi Panas
Energi yang dilepaskan selama kontraksi otot hanya 20%-30% berbentuk kerja
mekanis, sisanya juga digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh.

OTOT JANTUNG
Sel otot jantung juga bersifat lurik dengan actin dan miosin yang tersusun secara
beraturan. Perbedaannya hanya sel jantung bersifat involunteer, dan memiliki struktur
anatomi yang berbeda (memiliki inti satu ditebfab, mengandung banyak sarcoplasma,
memiliki cabang, dll). Otot jantung kedua atria dan kedua ventrikel membentuk suatu
jaringan. Masing masing jaringan ini merupakan 1 unti fungsional, dimana jika 1 sel
otot dari atrium berkontraksi maka keseluruhan sel otot pada atrium akan berkontraksi
juga, begitu juga dengan otot yang ada di ventrikel. Hal ini disebabkan karena adanya
gap-junction diantara sel sel jantung.
OTOT POLOS
Otot polos memiliki bentuk seperti kumparan (spindel), berinti satu, berukuran tebal, dan
retikulum sarcoplasma nya kurang berkembang. Memiliki mikrofilamen actin dan miosin
yang tersusun tidak beraturan yang tersebar dalam sitoplasma. Terletak pada alat alat
dalam dan pembuluh darah, bersifat involunteer karena dirangsang oleh sistem syaraf
autonom.
a) Single unit
Sel sel ototnya dihubungkan oleh gap junction, sehingga rangsangan yang ada
impulsnya akan menjalar ke sel sel lainnya dengan cepat (5-10cm/detik). Sel
sel otot ini dapat membentuk impuls (potensial aksi) sendiri (pace maker) seperti
pada otot jantung, dalam hal ini syaraf autonom berfungsi menguranagi atau
memperkuar impuls impuls ini.
b) Multi unit
Masing masing sel otot disyarafi oleh serabut syaraf autonom (simpatis dan
parasimpatis), impuls atau rangsangan yang diberikan tidak akan menjalar ke sel
otot lainnya. Jenis sel otot ini terdapat pada arteri, bronchus, iris, musculus
errector pili, dll
Pertanyaan : mekanisme kontraksi otot dipengaruhi oleh konsentrasi Ca2+ yang ada pada sel,
maka bagaimana mekanisme dari relaksasi yang terjadi pada otot?